Anda di halaman 1dari 43

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1

Pendahuluan
Bayi berat lahir rendah ialah bayi baru lahir dengan berat badan lahirnya

pada saat kelahiran kurang dari 2500 gram, dimana morbiditas dan mortalitas
neonatus tidak hanya bergantung pada berat badannya tetapi juga pada tingkat
kematangan (maturitas) bayi tersebut. (1,6)
Angka bayi berat lahir rendah (BBLR) masih cukup tinggi, terutama di
negara dengan sosio ekonomi rendah. dikarenakan keadaan sosial ekonomi yang
rendah, dimana para ibu yang hamil menderita kekurangan gizi, anemia, dan
komplikasi kehamilan. Selain itu dari segi sarana peralatan, tenaga ahli, dan dana
yang tidak memadai untuk antenatal care. Data statistik menunjukkan sekitar 90
kasus BBLR terjadi di negara berkembang. Di negara berkembang, angka
kematian BBLR mencapai 35 kali lebih tinggi dibandingkan bayi dengan berat
lahir di atas 2500 gram. (1)
Berat Badan Lahir Rendah (kurang dari 2.500 gram) merupakan salah satu
faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal. BBLR
dibedakan dalam 2 kategori yaitu BBLR karena premature atau BBLR karena
Intrauterine Growth Retardation (IUGR), yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetapi
berat badannya kurang. Sejak tahun 1981, frekuensi BBLR telah naik, terutama
karena adanya kenaikan jumlah kelahiran preterm. Sekitar 30% bayi BBLR di
Amerika Serikat mengalami dismaturitas, dan dilahirkan sesudah 37 minggu. Di
negara-negara yang sedang berkembang sekitar 70% bayi BBLR tergolong
dismaturitas.
Di Negara maju, angka kejadian kelahiran bayi prematur adalah sekitar 67%. Di Negara sedang berkembang, angka kelahiran ini lebih kurang tiga kali
lipat. Di Indonesia, kejadian bayi prematur belum dapat dikemukakan, Jumlah
BBLR yang dilaporkan di Kabupaten Jombang tahun 2010 sebanyak 885 (4,25%)
dari 21.426 kelahiran hidup. Jumlah bayi BBLR ini meningkat dibandingkan
tahun 2009 yang terdapat 814 bayi BBLR. Bayi yang lahir dengan BBLR perlu
perawatan khusus karena kondisinya rentan terkena masalah kesehatan.

Sepsis pada bayi baru lahir (BBL) atau yang biasa disebut sepsis neonatal
merupakan masalah yang belum dapat terpecahkan. Hampir sebagian BBL yang
dirawat

di

negara

berkembang

memiliki

keterkaitan

dengan

sepsis.

Angkamortalitas BBL yang cukup tinggi, yaitu 42%, dapat disebabkan oleh
infeksisaluran

pernapasan,

tetanus

neonatorum,

sepsis,

dan

infeksi

gastrointestinal.Sepsis neonatal memiliki case fatality rateyang cukup tinggi


terkait faktor risikoinfeksi pada masa perinatal yang belum dapat dicegah secara
optimal.1
Angka kejadian sepsis neonatal di negara berkembang mencapai 1,818/1000 kelahiran.2 Bayi laki-laki lebih berisiko mengalami sepsis dibandingkan
bayi perempuan, insidensinya pun meningkat pada bayi kurang bulan (BKB)
danBayi Berat Lahir Rendah (BBLR).3 Belum ada data mengenai insidensi
sepsisneonatal di Indonesia. Laporan angka kejadian di rumah sakit menunjukkan
angka yang lebih tinggi pada rumah sakit rujukan. Data di RSCM menyatakan
bahwa angka kejadian sepsis neonatal mencapai 13,7% dengan angka kematian
14%

BAB II
STATUS PASIEN
2.1 Identitas Pasien
Nama
Tanggal lahir
Umur
Alamat
Jenis kelamin
Nama Ayah
Tanggal pemeriksaan

: By. A
: 28 desember 2016
: 20 Hari
: Sukorejo blitar
: perempuan
: Tn. S
: 16 januari 2017

2.2 Anamnesis
1. Riwayat Penyakit Sekarang : Bayi lahir secara spontan. Lahir pada
tanggal 28 desember 2016, pukul 00.25. Pada saat lahir bayi langsung
menangis dengan sisa ketuban jernih. Apgar score 5-6. Ibu memiliki
riwayat G4P20012, UK 34-35 minggu.
2. Riwayat kelahiran :
cara kelahiran : spontan
sisa ketuban : jernih
berat badan : 1500 gr
panjang badan : 41 cm
lingkar kepala : 29 cm
linggkar dada : 27 cm
new baalard score: 29 skor .34-36 minggu
2.3 Pemeriksaan Fisik
- Keadaan Umum
Apgar Score : 5-6
Kesadaran compos mentis (GCS 456), status gizi kesan kurang. Pasien
-

tampak lemas.
Tanda Vital
Nadi : 145 x/menit, reguler
RR
: 41 x/menit
Suhu : 37,1oC
SpO2 : 95%
GDA : 71
Kepala
Bentuk kepala normocephali, simetris, ubun-ubun besar terbuka, teraba
datar

Mata
Conjunctiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-).
Hidung
Nafas cuping hidung (-), sekret (-), epistaksis (-).

Mulut
Bibir pucat (-), mukosa bibir kering (-), bibir sianosis (-)

Leher
pembesaran KGB (-)
Thoraks
Simetris (+) Retraksi (+)
Cor :
Bunyi jantung III regular, Gallop (-), Murmur (-)
Pulmo :
pengembangan dada simetris kanan kiri, penggunaan otot-otot

nafas tambahan (sternocleidomastoideus, scalenus, intercostalis,


diafragma)
gerakan dinding dada simetris, krepitasi (-)
Auskultasi: vesikular(+/+) ronkhi (-/-) wheezing (-/-)
-

Abdomen:
Inspeksi: dinding perut tampak datar
Palpasi : supel, nyeri tekan (-), hepar tidak teraba, pembesaran lien (-).
Auskultasi : bising usus (+) normal
Ektremitas
CRT < 2 detik

Akral Hangat
+ +
+ +

Oedem
- - -

Apgar Skor

Appearance (warna
kulit)
Pulse rate
(prekuensi nadi)
Grimace
(reaksi
rangsangan)
Activity
(tonus otot)
Respiration
(pernapasan)

0
pucat
Tidak
ada
Tidak
ada
Tidak
ada
Tidak
ada

1
Badan
merah,
ekstremitas biru
< 100

2
Seluruh
tubuh
kemerah-merahan
> 100

Sedikit
gerakan
mimic
Exstremitas dalam
sedikit pleksi
Lemah/ tidak teratur

Batuk/bersin

NA

Gerakan aktif
Baik/menangis

1 Menit:5
2 Menit:6
1MENIT:5
5MENIT:6

Ballard Skor

Score = 29
Usia kehamilan 34 36 minggu

Penilaian Pertumbuhan Bayi Berdasarkan Klasifikasi Neonatus Menurut Battaglia


& Lubchenco

Bayi kecil masa kehamilan (KMK)


2.4 Pemeriksaan Penunjang
Hasil Pemeriksaan Darah Lengkap tanggal 16-01-2017
Jenis Tes
Darah lengkap
Hb
Hitung Leukosit
Led/Bbs
Hitung Jenis
Eritrosit
Trombosit
Hematokrit
Mcv/Mch/Mchc

2.4

Hasil Tes

Nilai Normal

22,2
23.400
#
-/-/-/24/53/23
7.070.000
228.000
57.8%
81.8/31.4 /38.4

13-17,0 g/dL
4000-11000/CMM
L:0-15/jam; P:0-20/jam
1-2/0-1/3-5/54-62/25-33/3-7
L:4.5-6.5jt/CMM, P:3.0-6.0jt/CMM
150.000-450.000/cmm
40-54%
80-97fL/ 27-31pg/ 32-36%

Resume

Bayi lahir secara spontan. Lahir pada tanggal 28 desember 2016, pukul 00.25.
Pada saat lahir bayi langsung menangis dengan sisa ketuban jernih. Apgar score 56. Ibu memiliki riwayat G4P20012, UK 34-35 minggu.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum cukup dan kesadaran alert
kemudian, BB 1500 gr, Pernapasan : 41 x/mnt, Suhu : 37,1 C, HR : 145 x/mnt,
SpO2 : 92%, GDA : 71, dan hasil pemeriksaan fisik di temukan retraksi dinding
dada.
Pemeriksaan penunjang dilakukan pemeriksaan skor ballard 29. Usia
kehamilan 34-36 minggu. Kurva lubchenco menunjukkan kecil masa kehamilan
(KMK).
2.7 Working diagnosis
BBLR + KMK + SEPSIS
2.8 Penatalaksanaan
-

Termoregulasi (inkubator dengan suhu 340C)

O2 CPAP

D10% 0,18 NS 6 TPM

Injeksi : ampi 2x100 mg

Injeksi : genta 2x 3,5 mg

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1.1 BBLR
3.1.1 Definisi
Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir yang berat badan
lahirnya pada saat kelahiran kurang dari 2500 gram. dulu bayi baru lahir yang
berat badannya kurang atau sama dengan 2500 gram (2500 gram) disebut bayi
prematur. Tetapi ternyata morbiditas dan mortalitas neonatus tidak hanya
bergantung pada berat badannya, tetapi juga pada maturitas bayi itu.(1)
3.1.2

Klasifikasi Berat Bayi Lahir Rendah(1)

Bayi dengan berat lahir rendah sering diklasifikasikan berdasarkan:


1. Berat badan lahir
a. Bayi berat lahir amat sangat rendah (BBLASR), dengan berat lahir <1000
gram.
b. Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR), dengan berat lahir 1001-1500
gram.
c. Bayi berat lahir rendah (BBLR), dengan berat badan 1501-2499 gram.
2. Usia kehamilan
a. Bayi premature adalah bayi yang lahir dengan usia kehamilan belum
mencapai 38 minggu.
b. Bayi cukup bulan adalah bayi yang lahir dengan usia kehamilan 38-42
minggu.
c. Bayi lebih bulan adalah bayi yang lahir dengan usia kehamilan lebih dari
42 minggu.
3. Usia kehamilan dan berat badan lahir
a. Masa kehamilan kurang dari 38 minggu dengan berat yang sesuai dengan
berat badan untuk usia kehamilan (sesuai untuk masa kehamilan=SMK),
dimana masa kehamilan dihitung mulai hari pertama haid terakhir dari
haid yang teratur.
b. Bayi yang beratnya kurang dari berat semestinya menurut masa
kehamilannya (kecil untuk masa kehamilan=KMK)

Untuk mendapatkan keseragaman, maka pada kongres uropean perinatal


Medicine ke II di London (1970) telah diusulkan definisi sebagai berikut:
- bayi kurang bulan ialah bayi dengan masa kehamilan mulai dari 37 minggu
-

bayi cukup bulan ialah bayi dengan masa kehamilan mulai 37 minggu sampai
dengan 42 minggu

bayi lebih bulan ialah bayi dengan masa kehamilan lebih dari 42 minggu.

Dari pengertian diatas, bayi BBLR dapat dibagi menjadi 2 golongan yaitu:
1. Prematuritas murni
Masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan berat badannya sesuai
dengan berat badan pada masa gestasi tersebut, atau biasa disebut dengan
neonatus kurang bulan-sesuai dengan masa kehamilan (NKB-SMK)
2. Dismaturitas
Bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya
pada masa gestasi. Berarti bayi mengalami retardasi pertumbuhan
intrauterine dan merupakan bayi yang kecil untuk masa kehamilannya
(KMK)
Penyebab kelahiran bayi berat lahir rendah dan gangguan pertumbuhan
intrauterine dapat disebabkan oleh faktor ibu, janin, dan plasenta.(1)
a. Faktor Ibu:
-

Toksemia gravidarum, yaitu preeklampsi dan eklampsi

Kelainan bentuk uterus (contoh: uterus bikornis, inkompeten serviks)

Tumor (contoh: mioma uteri, cystoma)

Ibu yang menderita penyakit, seperti tifus abdominalis, malaria (akut),


TBC, penyakit jantung, glomerulonefritis kronis (kronis)

Trauma pada masa kehamilan, fisik (jatuh/terbentur), psikologis (stress)

Usia ibu pada waktu hamil kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun

b. Faktor Janin :
-

Kehamilan ganda

Hidramnion

Ketuban pecah dini

Cacat bawaan

Infeksi transplasenta (contoh: rubeolla, sifilis, toxoplasmosis)

Insufisiensi plasenta

Inkompatibilitas darah ibu dan janin (faktor rhessus, golongan darah ABO)

c. Faktor Plasenta :
-

Plasenta previa

Solusio plasenta

Plasentitis Villus (ec. Bakteri, virus, parasit)

Berat plasenta berkurang atau berongga

Tumor (contoh: chorioangima, mola hidatidosa)

Tanda dan Gejala Bayi Berat Lahir Rendah:(1)

Umur kehamilan kurang dari 38 minggu

Berat badan lahir kurang dari 2500 gram

Panjang badan lahir kurang dari 46 cm

Kuku panjangnya belum melewati ujung jari

Batas dahi dan rambut kepala tidak jelas

Lingkar kepala lahir kurang dari 33 cm

Lingkar dada lahir kurang dari 30 cm

Rambut lanugo masih banyak

Jaringan lemak subkutan tipis atau kurang

Tulang rawan daun telinga belum sempurna pertumbuhannya, sehingga


seolah-olah tidak teraba tulang rawan daun telinga

Tumit mengilap, telapak kaki halus

Alat kelamin pada bayi pigmentasi dan rugae pada skrotum kurang, testis
belum turun ke dalam skrotum. Untuk bayi perempuan klitoris menonjol, labia
minora belum tertutup oleh labia mayora

Tonus otot lemah, sehingga bayi kurang aktif dan pergerakannya lemah

Fungsi saraf yang belum matang, mengakibatkan reflek hisap, menelan dan
batuk masih lemah atau tidak efektif, dan tangisannya lemah

Jaringan kelenjar mammae masih kurang akibat pertumbuhan otot dan


jaringan lemak masih kurang

Verniks kaseosa sedikit atau tidak ada


Penilaian umur kehamilan sangat penting karena angka kematian dan

kesakitan menurun dengan meningkatnya umur kehamilan, selain itu terdapat


hubungan antara umur kehamilan dan tingkat maturitas fisiologis neonatus.
Menurut Dubowitz taksiran maturitas neonatus ditetapkan melalui penilaian
11 tanda fisik luar dan 10 tanda neurologik, sedangkan Ballard menilai maturitas
neonatus

berdasarkan

tanda

kematangan

dan

tanda

kematangan

neuromuskular.
Stadium Bayi Berat Lahir Rendah dengan tanda wastingatau insufisiensi plasenta (Clifford):

Stadium I

Bayi tampak kurus dan relatif lebih panjang, kulitnya longgar, kering seperti perkamen, tetapi belum terdapat noda
mekonium.

Stadium II

Terdapat tanda stadium I, ditambah warna kehijauan pada kulit plasenta dan umbilikus, hal ini disebabkan oleh mekonium
yang tercampur dalam amnion yang kemudian akan mengendap ke dalam kulit, umbilikus dan plasenta sebagai akibat
anoksia intrauteri.

Stadium III

Terdapat tanda stadium II ditambah dengan kulit, kuku dan tali pusat yang berwarna kuning, ditemukan juga anoksia
intrauterin yang lama.

3.1.3 Penentuan Status BBLR Dalam Kurva Pertumbuhan

Untuk menentukan status BBLR digunakan kurva pertumbuhan


janin Lubchenko, 1966 Pediatrix, 2001. Kurva ini menggunakan patikan
berat badan yang seharusnya pada umur kehailan tertentu. Kriteria yang
digunakan adalah BMK (Besar Masa Kehamilan), SMK (Sesuai Masa

Kehamilan), dan KMK (Kecil Masa Kehamilan). Berat badan kurang dari
presentil ke 10 memiliki makna KMK (Kecil Masa Kehamilan) atau PJT
(Pertumbuhan Janin Terhambat).9

3.1.4 Diagnosis
Menegakkan diagnosis BBLR adalah dengan mengukur berat lahir bayi dalam
jangka waktu 1 jam setelah lahir, dapat diketahui dengan dilakukan anamesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.8
A. Anamnesis
Riwayat yang perlu ditanyakan pada ibu dalam anamesis untuk
menegakkan mencari etiologi dan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap
terjadinya BBLR:(3)
1. Umur ibu
2. Riwayat hari pertama haid terakir
3. Riwayat persalinan sebelumnya
4. Paritas, jarak kelahiran sebelumnya
5. Kenaikan berat badan selama hamil
6. Aktivitas
7. Penyakit yang diderita selama hamil
8. Obat-obatan yang diminum selama hamil
B. Pemeriksaan Fisik.
Yang dapat dijumpai saat pemeriksaan fisik pada bayi BBLR antara lain:3

1. Berat badan > 2500 gram


2. Tanda-tanda prematuritas (pada bayi kurang bulan)
3. Tanda bayi cukup bulan atau lebih bulan (bila bayi kecil untuk masa
kehamilan).
C. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain 3:
1. Pemeriksaan Skor Ballard

2. Tes kocok (shake test), dianjurkan untuk bayi kurang bulan


3. Darah rutin, glukosa darah, kalau perlu dan tersedia fasilitas diperiksa
kadar elektrolit dan analisa gas darah.

4. Foto dada ataupun babygram diperlukan pada bayi baru lahir dengan
umur kehamilan kurang bulan dimulai pada umur 8 jam atau
didapat/diperkirakan akan terjadi sindrom gawat nafas.

3.1.5 Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada bayi berat lahir rendah:(2)
a. Enterokolitis nekrotikans neonatal
Enterokolotis nekrotikan merupkan penyakit salurann cerna yang serius pada
bayi yang baru lahir dan ditandai dengan bercak nekrosis atau nekrosis difus pada
mukosa tau submukosa usus serta vaskularisasi usus. Insidensi terjadinya
dihubungkan denga umur kehamilan yang kurang, dan merupakan komplikasi
yang penting yang terjadi pada kelahiran premature. Terhitung 7,5 % kasus EKN
sebagai penyebab kematian neonatal.
Ileum bagian distal dan kolon proksimal sangat sering terlibat. Beberapa
stress perinatal , terutam asfiksia dan hipotermia dianggap sebagai factor
predisposisi terjadinya EKN. Permulaan penyakit biasanya pada 2 minggu
pertama tetapi dapat terlam bat sampai umur 2 bulan.
Dapat menimbulkan gejala seperti apneu, bradikardi, dan distensi abdominal.
Mekonium keluar secara normal dan sebagai tanda pertama ialah distensi perut
dengan retensi lambung. Timbulnya penyakit ini nsering tidak jelas, dan dapat
terjadi sepsis sebelum dicurigai terjadi lesi pada usus. Sekali terkena kondisi anak
biasanya buruk, dengan cepat menjadi lemah

dan asidosis serta dapat

berkembang kearah syok dan DIC.


b. Hipotermia
Perbedaan suhu di dalam kandungan dan lingkungan akan memberi pengaruh
pada kehilangan panas tubuh bayi, selain itu hipotermia dapat terjadi karena
kemampuan untuk untuk mempertahankan panas dan kesanggupan menambah
produksi panas sangat terbatas, karena pertumbuhan otot-otot yang belum
cukup matang, lemak subkutan yang sedikit, belum matangnya sistem saraf

pengatur suhu tubuh, luas permukaan tubuh relatif lebih besar dibanding
dengan berat badan sehingga mudah kehilangan panas.
Tanda klinis hipotermia:
-

Suhu tubuh dibawah normal


Kulit dingin
Akral dingin
Sianosis

c. Sindrom Gawat Nafas


Sampai saat ini penyakit membrane hyaline dianggap terjadi karena defisiensi
pembentukan surfaktan pada paru bayi yang belum matang. Surfaktan adalah zat
yang penting dalam pangembangan paru dan merupakan suatu kompleks yang
terdiri dari protein, karbohidrat dan lemak. Senyawa utama zat tersebut adalah
lesitin dan mulai terbentuk pada kehamilan 22 24 minggu dan berjumlah
lengkap dan mulai berfungsi normal pada minggu ke-35 kehamilan.
Defisiensi Surfaktan menyebabkan gangguan kemampuan paru untuk
mempertahankan stabilitasnya, alveolus akan kembali kolaps setiap akhir
ekspirasi sehingga untuk pernafasan berikutnya dibutuhkan tekanan negatif
intratoraks yang lebih besar yang disertai usaha inspirasi yang kuat.
Pada aspirasi mekonium terjadi hipoksia intrauterin akan mengakibatkan janin
mengalami gasping dalam uterus, selain itu mekonium akan dilepaskan dan
bercampur dengan cairan amnion, cairan amnion yang mengandung mekonium
tersebut akan masuk ke dalam paru janin karena inhalasi. Ketika bayi lahir akan
menderita gangguan pernafasan karena melekatnya mekonium dalam saluran
pernafasan.
Tanda klinis sindrom gawat nafas :
-

Pernafasan cepat
Sianosis perioral
Merintih sewaktu ekspirasi
Retraksi substernal dan interkostal

d. Hipoglikemia.
Penyelidikan kadar gula darah pada 12 jam pertama menunjukkan bahwa
hipoglikemia dapat terjadi sebanyak 50% pada bayi matur. Kecepatan glukosa
yang diambil janin tergantung dari kadar gula darah ibu karena terputusnya
hubungan plasenta dan janin yang menyebabkan terhentinya pemberian glukosa.
Bayi aterm dapat mempertahankan kadar gula darah 50-60 mg/dL selama
72 jam pertama, sedangkan bayi berat badan lahir rendah dalam kadar 40 mg/dL.

Hal ini disebabkan cadangan glikogen yang belum mencukupi. Hipoglikemia


terjadi bila kadar gula darah 20 mg/dL
Tanda klinis hipoglikemia :
Gemetar

Kelumpuhan atau letargi

Sianosis

Kesulitan minum

Apatis

Terdapat gerakan putar mata

Kejang

Keringat dingin

Apnea Intermiten

Hipotermia

Tangisan

Gagal

lemah

atau

melengking

jantung

dan

henti

jantung

e. Perdarahan Intrakranial
Pembuluh darah pada bayi prematur masih sangat rapuh dan mudah pecah,
sehingga perdarahan intrakranial dapat terjadi karena trauma lahir, diseminated
intravascular coagulopathy atau trombositopenia idiopatik. Matriks germinal
epidimal yang kaya pembuluh darah merupakan wilayah yang sangat rentan
terhadap perdarahan selama minggu pertama kehidupan.
Tanda klinis perdarahan intrakranial :
-

Kegagalan umum untuk bergerak normal

Tonus otot menurun

Refleks moro menurun atau tidak ada

Tangisan

Letargi

Pucat dan sianosis

Kejang

Apnea

Fontanela

Kegagalan menetek dengan baik

tegang

Muntah yang kuat

cembung

bernada

tinggi dan tajam


mayor
dan


f. Hiperbilirubinemia
Terjadi karena belum maturnya fungsi hepar, dimana terjadi kekurangan
enzim glukoronil transferase sehingga konjugasi bilirubin indirek menjadi
bilirubin direk belum sempurna, dan kadar albumin darah yang berperan dalam
transportasi bilirubin dari jaringan ke hepar berkurang. Kadar bilirubin normal
pada bayi prematur 10 mg/dL. Jika terjadi hiperbilirubinemia pada bayi prematur,
bila tidak segera diatasi dapat menjadi kern ikterus yang akan menimbulkan gejala
yang permanen.

Tanda klinis hiperbilirubinemia :


-

Sklera, puncak hidung, sekitar mulut, dada, perut dan ekstremitas


berwarna kuning

Letargi

Kemampuan mengisap menurun

Kejang

Ikterus yang kemungkinan menjadi patologi atau dapat dianggap sebagai


hiperbilirubinemia adalah :
-

Ikterus terjadi pada 24 jam pertama sesudah kelahiran.

Peningkatan konsentrasi bilirubin 5 mg% atau lebih setiap 24 jam.

Konsentrasi bilirubin serum sewaktu 10 mg% pada neonatus kurang bulan dan
12,5 mg% pada neonatus cukup bulan.

Ikterus yang disertai proses hemolisis (inkompatibilitas darah, defisiensi


enzim G6PD dan sepsis).

Ikterus yang disertai berat lahir kurang dari 2000 gram, masa gestasi kurang
dari 36 minggu, asfiksia, hipoksia, sindrom gangguan pernafasan, infeksi
hipoglikemia, hiperkapnia, hiperosmolalitas darah.

g. Lebih rentan terhadap infeksi :


Bayi prematur mudah menderita infeksi karena imunitas humoral dan
seluller masih kurang, sehingga bayi mudah menderita infeksi. Selain itu pada
kulit dan selaput lendir membran tidak memiliki perlindungan seperti pada bayi
cukup bulan. Sensitivitas yang kurang akan memudahkan terjadinya kerusakan
integritas kulit, terutama pada daerah yang sering tertekan dalam waktu yang
lama.

Defisit in uteri mengakibatkan gawat janin, dan dalam arti luas gawat janin
dibagi menjadi 3 golongan, yaitu :
1. Gawat Janin Akut, defisit mengakibatkan gawat perinatal tetapi tidak
mengakibatkan retardasi pertumbuhan dan pelisutan (wasting).
2. Gawat Janin Subakut, bila defisit tersebut menunjukkan tanda pelisutan
(wasting) tetapi tidak mengakibatkan retardasi pertumbuhan.
3. Gawat Janin Kronik, bila bayi jelas menunjukkan retardasi pertumbuhan.

3.1.6 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Bayi Berat Lahir Rendah(1,3)

Bayi berat bayi lahir rendah biasanya tampak haus dan harus diberikan
makanan dini (early feeding), hal ini sangat penting untuk menghindari
terjadinya hipoglikemia, kadar gula darah harus diperiksa setiap 8-12 jam.

Frekuensi pernafasan terutama dalam 24 jam pertama harus selalu

diawasi untuk mengetahui adanya sindrom aspirasi mekonium atau sindrom


gangguan pernafasan idiopatik, sebaiknya setiap jam dihitung frekuensi
pernafasan lahir dan bila frekuensi lebih dari 60 x/menit dibuat foto thoraks.

Pencegahan terhadap infeksi sangat penting, karena bayi sangat

rentan terhadap infeksi, yaitu karena pemindahan IgG dari ibu ke janin terganggu.

Temperatur harus diperbaiki, jangan sampai kedinginan karena

mudah terjadi hipotermik, hal ini disebabkan oleh karena luas permukaan tubuh
bayi relatif lebih besar dan jaringan lemak subkutan kurang.

Mengingat belum sempurnanya kerja alat-alat tubuh yang perlu untuk


pertumbuhan, perkembangan, dan penyesuaian diri dengan lingkungan hidup
di luar uterus maka perlu diperhatikan pengaturan suhu lingkungan, pemberian
makanan dan bila perlu pemberian oksigen, mencegah infeksi serta mencegah
kekurangan vitamin dan zat besi.

a. Pengaturan Suhu

Untuk mencegah hipotermi, diusahakan lingkungan yang cukup hangat untuk


bayi, bila dirawat dalam inkubator, maka suhunya unuk bayi dengan berat
badan kurang dari 2000 gram adalah 35 C dan untuk bayi dengan berat badan
2000-2500 gram adalah 34 C, agar bayi dapat mempertahankan suhu tubuh
sekitar 37 C. Kelembaban inkubator berkisar antara 50-60%. Saat ini telah
digunakan inkubator yang dilengkapi dengan alat temperatur sensor, yang
ditempelkan pada kulit bayi.
Kelembaban yang tinggi diperlukan pada bayi dengan sindroma gangguan
pernafasan, suhu inkubator dapat diturunkan 1C per minggu untuk bayi dengan
berat badan 2000 gram dan secara berangsur-angsur ia dapat diletakkan di dalam
tempat tidur bayi dengan suhu lingkungan 27C - 29C.
Bila inkubator tidak ada, pemanasan dilakukan dengan membungkus bayi
dan meletakkan botol hangat di sekitarnya atau dengan memasang lampu pijar
atau petromaks di dekat tempat tidur bayi. Cara lain untuk mempertahankan suhu
tubuh bayi sekitar 36,5C-37,5C adalah dengan memakai alat perspexheat shield
yang diselimuti pada bayi di dalam inkubator, alat ini berguna untuk mengurangi
kehilangan panas karena radiasi.

b. Nutrisi Enteral

Pada bayi prematur reflek isap, telan dan batuk belum sempurna,

kapasitas lambung masih sedikit, daya enzim pencernaan terutama lipase masih
kurang, disamping itu kebutuhan protein 3-5 g/hari dan tinggi kalori (110
kal/kg/hari) agar berat badan bertambah baik.

Pemberian nutrisi enteral dimulai pada bayi dengan berat lebih dari

1500 gram, dan masa gestasi lebih dari 32 minggu serta tidak terdapat distres
dimulai saat berumur 2-4 jam agar bayi tidak menderita hipoglikemia dan
hiperbilirubinemia. Pada bayi lebih kecil, walaupun tidak distress, jangan
diberikan nutrisi enteral selama 12-24 jam pertama, lebih baik diberikan infus
larutan glukosa 5-10 % sejak lahir dan diobservasi, bila keadaan bayi stabil maka

pemberian nutrisi enteral dapat dimulai. Syarat lain untuk memulai nutrisi enteral
adalah keluarnya mekonium, yang menunjukkan adanya kontinuitas dan motilitas
traktus gastrointestinal.

Masalah yang sering menghambat pemberian nutrisi enteral adalah

sindrom distress pernafasan, sindrom aspirasi, pneumonia, apnea karena


prematuritas dan gagal jantung akibat duktus arteriosus paten

Sebelum pemberian minum pertama harus dilakukan pengisapan cairan


lambung, hal ini perlu untuk mengetahui ada tidaknya atresia esofagus dan
mencegah muntah. Pada umumnya bayi dengan berat lahir 2000 gram atau
lebih dapat menyusu pada ibunya, bayi dengan berat kurang dari 1500 gram
kurang mampu mengisap air susu ibu atau susu botol, terutama pada hari-hari
pertama, dalam hal ini bayi diberi minum melalui sonde lambung (orogastricintubation).

Sesudah 5 hari bayi dicoba menyusu pada anaknya, bila daya isap

cukup baik, maka pemberian air susu ibu diteruskan. Adakalanya daya isap bayi
kecil ini lebih baik dengan dot dibandingkan dengan puting susu ibu, pada
keadaan ini air susu ibu dipompa dan diberikan melalui botol, cara pemberian
melalui susu botol adalah dengan frekuansi pemberian yang lebih sering dalam
jumlah susu yang sedikit. Frekuensi pemberian minum makin berkurang dengan
bertambahnya berat bayi, jumlah cairan yang diberikan pertama kali adalah 1-5
ml/jam dan jumlahnya dapat ditambah sedikit demi sedikit setiap 12 jam.
Penambahan susu tersebut tergantung dari jumlah susu yang tertinggal pada
pemberian minum sebelumnya, untuk mencegah regurgitas (muntah) atau distensi
abdomen. Banyaknya cairan yang diberikan adalah 60 ml/kg/hari, dan setiap hari
dinaikkan sampai 200 ml/kg/hari pada akhir minggu kedua.

Bila air susu ibu tidak ada, susunya dapat diganti dengan susu

buatan yang mengandung lemak yang mudah dicerna bayi (middle chain
triglycerides) dan mengandung 20 kalori per 30 ml air atu sekurang-kurangnya
bayi mendapat 110 kal/kg berat badan perhari.

Kadang-kadang

diperlukan

pemberian

makanan

melalui

kateter

(polietilen) yang dapat tinggal di lambung selama 4-5 hari tanpa iritasi, kateter
no. 8 untuk bayi kurang dari 1500 gram dan no.10 untuk bayi diatas 1500

gram. Kateter yang telah dimasukkan ke dalam lambung dihubungkan dengan


botol infus yang berisi susu yang digantungkan setinggi 1 meter dari atas bayi,
susu diberikan dengan tetes yang teratur sebanyak 60 ml/kg berat badan
sehari, dan tiap hari dinaikkan sampai 200 ml/kg berat badan pada akhir
minggu kedua.

Bila daya isap dan menelan mulai baik, kateter secara

berangsur-angsur dapat diganti dengan pipet, sendok atau botol dengan dot.

c. Kebutuhan Cairan

Kehilangan air insensible secara tidak langsung terkait dengan umur


kehamilan, keadaan lingkungan, dan status penyakit, bayi preterm yang amat
imatur (<1000 gram) memerlukan sebanyak 2-3 mL/kg/jam. Bayi yang
premature akan kehilangan cairan insisible sebesar 0,6 0,7 ml/kgBB/jam,
bila dirawat dalam incubator. Jumlah cairan yang dianjurkan pada neonatus
yang memerlukan susu botol atau cairan intravena adalah 60-70 mL/kgBB
pada hari pertama dan dinaikkan sampai 100-120 mL/kgBB pada hari ke-2
dan ke-3, dan pada hari ke 4-5 mencapai 150 ml/kgBB, selanjutnya dapat
mencapai 160 - 180ml/kgBB/hari.

Bayi lebih prematur dan kecil dimulai dengan 70-100 mL/kgBB pada hari
pertama dan dilanjutkan sampai 150 mL/kgBB atau lebih pada hari ke-3 dan
ke-4.
Penimbangan badan setiap hari, pengeluaran urin, pemeriksaan fisik harus
dipantau secara cermat untuk mendeteksi adanya kelainan status hidrasi.

d. Nutrisi Parenteral Total

Bila pemberian makanan oral untuk masa waktu yang lama tidak
memungkinkan, makanan intravena total dapat memberikan cairan yang
cukup, kalori, asam amino, elektrolit dan vitamin untuk mempertahankan
pertumbuhan pada bayi BBLR.

Tujuan dari pemberian nutrisi parenteral adalah memasukkan

kalori nonprotein yang cukup, sehingga memungkinkan bayi menggunakan


sebagian terbesar proteinnya untuk pertumbuhan. Infus harus mengandung asam

amino sintetik 2,5-3 g/dL dan glukosa hipertonik pada kisaran antara 10-25 g/dL
sebagai tambahan disamping kuantitas elektrolit, mineral, dan vitamin yang
cukup.

Infus awal harian harus memasukkan 10-15 g/kgBB/24 jam

glukosa dan menambah sedikit demi sedikit sampai 25-30 g/kgBB/24 jam, bila
hanya glukosa saja yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan penuh nonprotein
100-120 kkal/kgBB/24 jam.

Jika

yang

digunakan

vena

perifer,

dianjurkan

untuk

mempertahankan kadar glukosa dibawah 12,5 g/dL. Emulsi lemak intravena


seperti 20% intralipid (2,2 kkal/mL) dapat digunakan untuk memberikan kalori
tanpa beban osmotik yang nyata, sehingga dapat mengurangi akan kebutuhan
infus dengan kadar glukosa yang lebih tinggi, melalui vena sentral atau perifer,
dan biasanya mencegah perkembangan defisiensi asam lemak essensial. Intralipid
dapat dimulai pada 0,5 g/kgBB/24 jam dan selanjutnya diberikan sampai 3
g/kgBB/24 jam.

Komplikasi makanan intravena terkait dengan kateter, sepsis

adalah masalah yang paling penting pada infus vena sentral dan dapat
diminimalkan dengan perawatan keteter yang cermat dan prefarat infus aseptic.

Komplikasi metabolic meliputi hiperglikemia yang berasal dari


kadar glukosa infus yang tinggi, yang dapat menyebabkan diuresis osmotic dan
dehidrasi, azotemia, hipoglikemia, hiperlipidemia, hipoksemia.

e. Infeksi

Bayi prematur mudah sekali diserang infeksi, hal ini disebabkan oleh
karena daya tahan tubuh terhadap infeksi berkurang, relatif belum sanggup
membentuk antibody dan daya fagositosis serta reaksi terhadap peradangan
belum baik. Oleh karena itu perlu dilakukan tindakan pencegahan yang
dimulai pada masa perinatal, yaitu dengan memperbaiki keadaan lingkungan,
kebersihan makanan, mencegah terjadinya infeksi silang para dokter, perawat,
bidan dan petugas lain.

Pemberian Nutrisi pada BBLR;

Bayi dengan BBLR sering mengalami masalah pada nutrisi karena


fungsi saluran pencernaan yang belum sempurna, seperti reflex hisap
yang kurang, motilitas usus lambat sehingga bayi mudah kembung,
volume gaster yang kecil sehingga bayi mudah muntah, dan defisiensi
enzim. Penyakit lain seperti asfiksia, infeksi, dan sesak nafas juga sering
menyertai. Hal ini membuat masukan oral menjadi sulit dan tertunda.

Pemberian nutrisi pada bayi BBLR yang sehat sebaiknya dilakukan


sesegera mungkin dengan cara IMD (Inisiasi Menyusu Dini). Sedangkan
pada bayi BBLR yang sakit, sebagian besar dapat mengatasi penyakitnya
sendiri dengan cepat, sehingga hanya memerlukan cairan, elektrolit, dan
glukosa.

Pemberian

kolostrum

sebagai

minum

pertama

sangat

dianjurkan.
Keperluan Cairan dan Elektrolit BBLR Berat 1500-2500 g

Jumlah

Sodium

Potassium

cairan

(mEq/kg/ha

(mEq/kg/ha

elemental

(cc/kg/hari

ri)

ri)

(mg/kg/har

)
Hari ke

Kalsium

i)

60 D10 W

45

90-110

2-3

1-2

45

2-4

2-4

45

1
Hari ke
2
Hari ke
3-14

D10W
120-150
D10W

Cara menilai kecukupan cairan dan elektrolit:


1. Secara klinis: edematous atau dehidrasi
2. Berat badan
3. Jumlah urin (2-3 ml/kg/hari), warna urin, berat jenis (1.005-1.010)
4. Elektrolit Na 135-145 mEq/l, K: 3.5-5 mEq/l
5. Bila mendapat fototerapi, jumlah cairan + 20%

Pemberian nutrisi parenteral dipertimbangkan bila sampai hari


ketiga bayi masih memerlukan puasa. Garis besar program nutrisi
parenteral adalah:
1. Keperluan cairan dan elektrolit. Keperluan cairan setelah hari ketiga:
120-150 cc/kg.
2. Keperluan kalori dan glukosa. Kalori: 90-100 kkal/kg.
3. Keperluan protein dan lemak.
4. Tambahan vitamin/ mineral/ trace element.

Bayi dapat mulai diberikan minum bila keadaannya sudah

stabil, yaitu:
1. Kontrol suhu baik
2. Sesak nafas/ retraksi berkurang
3. Keperluan O2 berkurang
4. Frekuensi denyut jantung baik, ekstremitas hangat

5. Bising usus cukup


6. Menunjukkan tanda-tanda lapar

Masalah ASI pada BBLR Kurang Bulan

Masalah yang sering muncul dikarenakan reflex hisap dan

menelan yang belum kuat, sehingga rangsangan pada puting lemah. Hal ini
berakibat pada pengosongan payudara yang terhambat, produksi ASI
menjadi menurun dan lama-kelamaan menjadi habis.

Masalah ini dapat diatasi dengan pemberian Penguat ASI

(HMF: Human Milk Fortifier). HMF berisi protein, elektrolit, dan mineral.
HMF dapat ditambahkan pada ASI peras pada bayi < 1500 g setelah bisa
minum > 100 ml/kg. HMF diberikan sampai dengan berat 1800-2000 g. Bila
tidak terdapat HMR atau ASI peras ibu kurang, dapat diberikan susu
formula yang dimulai dengan pengenceran setengah.

Komposisi Berbagai Susu

Sus
u
Sapi

ASI
Mat
ur

ASI
Prem
atur

ASI
Form
Prem
ula
atur +
BBL
Fortifi
R
er

Form
ula
Biasa

Energy
/ 100
ml

67

70

67

74

80

66

Karbo
hidrat

4.6

8.5

6.9

Lemak

3.9

4.2

4.4

3.6

Protein

3.4

1.3

1.8-

3.7

2.2

1.5

2.4
Natriu
m

22

22

31

13-20

Kalium

39

15

18

18

17

Calciu
m

30

27

18-27

12-20

Phosph
or

30

38

11-17

12-18

Memulangkan Bayi

Sebelum pulang bayi harus sudah harus mampu minum sendiri, baik
dengan botol maupun dengan puting susu ibunya, selain itu kenaikan berat
badan berkisar antara 10-30 g/hari dan suhu tubuh tetap normal di ruang
biasa.bayi harus tidak menderita apneu atau bradikardi, dan tidak memerlukan
oksigen atau obat yang diberikan melalui pembuluh darah Biasanya bayi
prematur dipulangkan dengan berat badan lebih dari 2000 gram dan semua
masalah berat sudah diatasi.

Selanjutnya bayi harus dipantau secara teratur untuk melihat pertumbuhan dan
perkembangannya, serta menemukan kelainan yang mungkin baru timbul.

Perawatan di Rumah

Ibu bayi diajarkan cara merawat bayi baru lahir seperti cara memandikan,
merawat tali pusat, memberi ASI/PASI, mengganti popok, dan tidak lupa
untuk memberi tahukan agar tetap kontrol ke balai kesehatan terdekat.

3.1.7

PROGNOSIS(1,3,7)
Tergantung dari berat ringannya masalah perinatal, misalnya masa

gestasi (makin muda masa gestasi, makin rendah berat bayi makin tinggi angka
kematian), asfiksia, sindrom gangguan pernafasan, perdarahan intraventrikuler,
infeksi gangguan metabolik (asidosis, hipoglikemia, hiperbilirubinemia). Asfiksia

sendiri merupakan komplikasi yang paling serius dari bayi berat lahir rendah, bila
tidak segera diatasi maka prognosis neonatus menjadi buruk. Prognosis ini juga
tergantung dari keadaan sosial ekonomi, pendidikan orang tua dan perawatan pada
saat kehamilan, persalinan, post natal (pengaturan suhu lingkungan, resusitasi,
makanan).

Kematian perinatal pada bayi BBLR 8 kali lebih besar dari bayi

normal. Prognosis akan lebih buruk bila BB makin rendah, angka kematian sering
disebabkan karena komplikasi neonatal seperti asfiksia, aspirasi, pneumonia,
perdarahan intrakranial, dan hipoglikemi. Bila hidup, dapat dijumpai kerusakan
saraf, gangguan bicara, dan IQ rendah.

Pencegahan
Pada kasus bayi berat lahir rendah (BBLR) pencegahan adalah langkah yang
penting. Hal-hal yang dapat dilakukan adalah:
Meningkatkan pemeriksaan kehamilan secara berkala minimal 4 kali
selama kurun kehamilan dan dimulai sejak umur kehamilan muda. Ibu
hamil yang diduga berisiko, terutama faktor risiko yang mengarah
melahirkan bayi BBLR harus cepat dilaporkan, dipantau, dan dirujuk pada
institusi pelayanan kesehatan yang lebih mampu
Berikan penyuluhan kesehatan tentang pertumbuhan dan perkembangan
janin dalam rahim, tanda-tanda bahaya selama kehamilan, dan perawatan
diri selama kehamilan agar ibu hamil dapat menjaga kesehatannya dan
janin yang dikandungnya dengan baik
Hendaknya ibu dapat merencanakan persalinannya pada kurun umur
reproduksi sehat (20-34 tahun)

Tanda Kecukupan Pemberian ASI

BAK minimal 6 kali/ 24 jam


Bayi tidur lelap setelah pemberian ASI
BB naik pada 7 hari pertama sebanyak 20 gram/ hari
Cek saat menyusui, apabila satu payudara dihisap ASI akan menetes
dari payudara yg lain.

Indikasi Pulang BBLR


Suhu bayi stabil
Toleransi minum oral baik, terutama ASI
Ibu sanggup merawat BBLR di rumah

Cara Menghangatkan Bayi


Kontak kulit Untuk menghangatkan bayi dalam waktu singkat atau
menghangatkan bayi hipotermi (32-36,4oC) apabila cara lain tidak mungkin
dilakukan.
KMC Untuk menstabilkan bayi dengan berat badan <2.500 g, terutama
direkomendasikan untuk perawatan berkelanjutan bayi dengan berat badan
<1.800 g. Metode ini tidak untuk bayi sakit berat (sepsis, gangguan napas
berat) ataupun ibu yang menderita penyakit berat yang tidak dapat
merawat bayinya.
Pemancar panas Untuk bayi sakit atau bayi dengan berat 1.500 g atau
lebih. Dilakukan untuk pemeriksaan awal bayi, selama dilakukan tindakan,
atau menghangatkan kembali bayi hipotermi.
Inkubator Penghangatan berkelanjutan Untuk bayi dengan berat <1.500
g yang tidak dapat dilakukan KMC.
Ruangan hangat Untuk merawat bayi dengan berat <2.500 g yang tidak
memerlukan tindakan diagnostik atau prosedur pengobatan. Metode ini
tidak untuk bayi sakit berat.

Cara menghangatkan bayi


Cara
Kontak kulit

Petunjuk penggunaan
Untuk semua bayi

Untuk menghangatkan bayi dalam waktu singkat atau


menghangatkan bayi hipotermi (32-36,4 oC) apabila cara lain

KMC

tidak mungkin dilakukan.


Untuk menstabilkan bayi dgn berat badan <2.500 g, terutama
direkomendasikan untuk perawatan berkelanjutan bayi dengan
berat badan <1.800 g.

Tidak untuk bayi sakit berat (sepsis, gangguan napas berat)


Pemancar panas

dapat merawat bayinya.


Untuk bayi sakit atau bayi dengan berat 1.500 g atau lebih.

Inkubator

Tidak untuk ibu yang menderita penyakit berat yang tidak

Untuk pemeriksaan awal bayi, selama dilakukan tindakan, atau

menghangatkan kembali bayi hipotermi.


Penghangatan berkelanjutan bayi dengan berat <1.500 g yang

Ruangan hangat

tidak dapat dilakukan KMC.


Untuk merawat bayi dengan berat <2.500 g yang tidak
memerlukan tindakan diagnostik atau prosedur pengobatan.

Tidak untuk bayi sakit berat.

Jumlah cairan yang dibutuhkan bayi (ml/Kg)


Berat (g)
>1500
<1500

1
60
80

Umur (hari)
3
100
120

2
80
100

4
120
140

5+
150
150

Jumlah ASI untuk bayi sehat berat 1250-1499


Pemberian
Jumlah ASI tiap 3 jam
(ml/kali)

Umur (hari)
2
4

3
1

5
2

5 18

2 26

28

30

Kebutuhan cairan elektrolit bayi (ml/kg)


Berat badan

<1000

1000 -

1500

>2500

(g)
Hari I

120 cc

<1500
100 cc

Hari II

D5%
140 cc

D7,5%
120 cc

100 cc

90 cc D10%

Hari III

D5%
170 cc

D7,5%
130 cc

D10%
110 cc

100 cc

D5%

D7,5%

D10%

D10%

2500
80 cc D10% 80 cc D10%

Hari >IV
200 cc
140-150 cc 130-150 cc 120-150 cc
Pembuatan cairan D7,5% = 93 cc (D5%) + 7 cc (D40%) = 100
cc D7,5%.

3.2

SEPSIS NEONATAL

3.2.1

Definisi

Sepsis pada bayi baru lahir adalah infeksi aliran darah yang

bersifat invasif dan ditandai dengan ditemukannya bakteri dalam cairan


tubuh seperti darah, cairan sumsum tulang, atau air kemih. Keadaan sepsis
neonatal

sering ditemukan

pada

BKB,

BBLR,

bayi

dengan

sindrom

gangguan napas, dan bayi yang lahir dari ibu yang berisiko. Sepsis berat adalah
keadaan sepsis yang disertai disfungsi organ kardiovaskular dan gangguan napas
akut atau terdapat gangguan organ lain yaitu neurologi, hematologi, urogenital,
dan hepatologi.3

Dalam sepuluh tahun terakhir terdapat beberapa perkembangan baru

mengenai definisi sepsis. Salah satunya menurut


Definition

Conferences (ISDC,2001), sepsis

dengan adanya
infeksi. Sepsis

Systemic

Inflammatory Response

merupakan

suatu

The International Sepsis


adalah

sindrom

Syndrome

proses berkelanjutan

klinis

(SIRS)

dan

mulai

dari

infeksi,SIRS,sepsis, sepsis berat, renjatan/syok septik, disfungsi multiorgan,


dan akhirnya,kematian.8
3.2.2 Epidemiologi

Angka kejadian sepsis di negara yang sedang berkembang

masih cukup tinggi berkisar 1,8-18 per 1000 kelahiran, sedangkan di negara
maju hanya 1-5 pasien per 1000 kelahiran. Insidensinya mencapai 13-27 per
1000 kelahiran hidup pada bayi dengan berat <1500 gram. Angka kematian
13-50%, terutama pada bayi prematur (5-10 kali kejadian pada neonatus cukup
bulan) dan neonatus dengan penyakit berat dini. Angka kejadian sepsis neonatal
di Indonesia belum terdata. Data yang diperoleh dari Rumah Sakit Cipto
Mangunkusumo Jakarta periode

Januari-September 2005, angka kejadian

sepsis neonatal sebesar 13,68% dengan angka kematian sebesar 14,18%.


3.2.3 Etiologi dan Faktor Risiko

infeksi

neonatal

dapat

terjadi

intrauterin melalui transplasental, didapat intrapartum saat melalui jalan


lahir selama proses persalinan,atau pascapartum akibat sumber infeksi dari
luar setelah lahir. Infeksi intrapartum dapat

terjadi pada saat melalui

jalan lahir atau infeksi asendens bila terjadi partus lama dan ketuban pecah
dini yang paling sering menjadi penyebabnya adalah kelompok virus
yaitu herpes

simplex, HIV, cytomegalovirus (CMV), dan hepatitis B.

Sedangkan kelompok bakteri termasuk Streptokokus grup B Gram negatif,


kuman enterik Gram negatif (terutama Escheria coli),
klamidia. Infeksi pasca persalinan

terjadi

karena

gonokokus, dan

kontak dengan

ibu

yang terinfeksi secara langsung misalnya ibu yang menderita tuberkulosis


(meskipun dapat ditularkan intrauterin), melalui ASI

(HIV, CMV), kontak

dengan petugas kesehatan lain, atau kuman di lingkungan rumah sakit.


Terdapat perbedaan
berkembang

pola

kuman penyebab

sepsis

antar

negara

telah diteliti oleh World Health Organization Young Infants

Study Group pada tahun 1999, didapatkan kuman isolat yang tersering
ditemukan pada kultur darah adalah
Streptococcus pyogenes

(20%),

Staphylococcus aureus
dan

E.

(23%),

coli (18%). Faktor

risiko sepsis pada neonatus terbagi menjadi 3, yaitu faktor maternal, faktor
neonatal, dan faktor lainnya. Faktor maternal dibedakan lagi menjadi

faktor mayor dan minor. Faktor mayor meliputi ruptur


yang

lama

>

18 jam, ibu

korioamnionitis, heart rate

dengan

janin

demam

jam, ibu

rendah berat

> 160x/menit, dan ketuban berbau.

dengan demam intrapartum


badan

lahir

ibu

intrapartum > 38C,

Sedangkan faktor minor meliputi ruptur membran ibu


12

membran

>

yang

lama

>

37,5C, apgar skor

sangat rendah (BBLR < 1500 gram), usia

gravida < 37 minggu, kehamilan ganda, keputihan pada ibu yang tidak
diobati, dan ibu ISK atau tersangka ISK yang tidak diobati.

Faktor risiko dari neonatal antara lain prematuritas, berat lahir

rendah, asfiksia, resusitasi setelah persalinan, prosedur invasif, anomali


kongenital, nutrisi parenteral, dan rawat inap yang cukup lama di neonatal
intensive care unit (NICU). Sedangkan faktor lainnya meliputi jenis kelamin
laki-laki,

neonatus berkulit hitam, dan berasal dari tingkat sosial ekonomi

menengah ke bawah.

3.2.4 Klasifikasi
Sepsis neonatal biasanya dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu sepsis
awitan dini (SAD) dan sepsis awitan lambat (SAL). Pada awitan dini,
ditemukan kelainan pada usia < 3 hari dan infeksi terjadi secara vertikal
karena penyakit ibu atau infeksi yang diderita ibu selama persalinan atau
kelahiran. Sedangkan pada awitan lambat terjadi infeksi dari kuman yag
berasal dari lingkungan sekitar Bayi Tetelah hari ke-3 kelahiran, disebut
pula infeksi transmisi horisontal, termasuk infeksi nosokomial.Di negara
maju,

kuman

tersering

Streptokokus Grup

B (>40%

influenza, dan Listeria


termasuk

Indonesia,

yang

ditemukan pada

kasus

SAD adalah

kasus), Escherichia coli, Haemophilus

monocytogenes ,sedangkan di negara berkembang


mikroorganisme

penyebabnya

gram negatif. Angka kejadian SAD berkisar

3,5

kelahiran hidup dengan angka mortalitas sebesar 15-50%.

adalah
kasus

batang

per 1000

Sepsis awitan lambat (SAL) merupakan infeksi postnatal (lebih

dari 72 jam) yang diperoleh dari lingkungan sekita atau rumah sakit (infeksi
nosokomial). Angka mortalitas SAL lebih rendah daripada SAD yaitu kira-kira
10-20%. Di negara maju, Coagulase-negatif Staphilococci (CONS) dan Candida
albicans merupakan penyebab utama SAL, sedangkan di negara berkembang
didominasi oleh mikroorganisme batang Gram negatif (E. coli, Klebsiella,
dan Pseudomonas aeruginosa).
3.2.5 Patofisiologi

Sejak masa kehamilan sampai ketuban pecah, janin relatif

terlindungi dari flora normal

ibu oleh membran/dinding korioamniotik,

plasenta, dan faktor antibakteria dalam

air

ketuban. Beberapa tindakan

medis yang mengganggu integritas isi rahim seperti amniosintesis, cervical


cerclage, pengambilan contoh vili korialis transservikal, atau pengambilan
contoh darah perkutaneus, dapat memudahkan

organisme normal kulit atau

vagina masuk sehingga menyebabkan amnionitis dan infeksi sekunder pada


janin. Bila ketuban pecah lebih dari 24 jam, bakteri vagina dapat bergerak naik
dan pada beberapa kasus menyebabkan infamasi pada membran janin, tali pusat,
dan plasenta

Infeksi

pada

janin

dapat

disebabkan

oleh

aspirasi

air

ketuban yang terinfeksi yang mengakibatkan neonatus lahir mati, persalinan


kurang

bulan, atau sepsis neonatal. Infeksi pada ibu saat proses kelahiran

terutama infeksi genital adalah jalur utama transmisi maternal dan dapat
berperan

penting

pada kejadian

infeksi neonatal.

Infeksi hematogen

transplasental selama atau segera sebelum persalinan (termasuk saat pelepasan


plasenta) dapat terjadi walaupun infeksi lebih mungkin terjadi saat neonatus
melewati jalan lahir. Saat bakteri mencapai aliran darah, sistem monositmakrofag dapat menyingkirkan organisme tersebut secara efisien dengan
opsonisasi oleh antibodi dan komplemen sehingga bakteriemi hanya terjadi
singkat. Bakteremia tergantung dari usia pasien, virulensi dan jumlah bakteri
dalam darah, status nutrisi dan imunologis, waktu dan asal intervensi terapi.
Tabel 1. Manifestasi Klinis dan Tahapan Sepsis pada Neonatus Bila ditemukan
dua atau lebih keadaan:

Laju nafas >60x/m dengan/tanpa retraksi dan desaturasi O2

Suhu

tubuh

tidak

stabil (<36C

atau Fetal Inflammatory Response

>37.5C)

Syndrome (FIRS) Waktu

pengisian kapiler > 3 detik


Hitung

leukosit

Atau

<4000x109/L

atau

Systemic Inflammatory

Response

>34000x109/L

Syndrome (SIRS)

CRP >10mg/dl IL-6 atau IL-8 >70pg/ml 16 S rRNA gene PCR : Positif

Terdapat

FIRS/SIRS disertai dengan gejala klinis

infeksi seperti terlihat dalam Tabel 2.

Sepsis

organ tunggal

Sepsis

berat

satu

atau

lebih

disertai hipotensi dan

disertai

hipotensi

kriteria
SEPSIS

disfungsi

dan

SEPSIS BERAT

syok septic

kebutuhan resusitasi cairan dan obat-obat inotropik


Terdapat disfungsi multi organ meskipun
telah mendapatkan pengobatan optimal

SINDROM DISFUNGSI
MULTIORGAN

Sumber : Haque KN.Pediatr Crit Care Med 200 6(3): 45-9

3.2.6 Diagnosis Manifestasi Klinis

Diagnosis dini sepsis ditegakkan berdasarkan gejala klinik dan

terapi diberikan tanpa menunggu hasil kultur. Tanda dan gejala sepsis
neonatal tidak spesifik dengan diagnosis banding yang sangat luas, termasuk
gangguan napas, penyakit
susunan

syaraf

metabolik,

penyakit

hematologik,

penyakit

pusat, penyakit jantung, dan proses penyakit infeksi lainnya

(misalnya infeksi TORCH ).

Bayi yang diduga menderita sepsis bila terdapat gejala :

Letargi, iritabel

Tampak sakit
Kulit berubah warna keabu-abuan, gangguan perfusi, sianosis,
pucat,

kulit bintik-bintik tidak rata, petekie, ruam, sklerema atau

ikterik

Suhu tidak stabil demam atau hipotermi

Perubahan metabolik hipoglikemi atau hiperglikemi, asidosis

metabolik

Gejala

gangguan

kardiopulmonal

gangguan

pernapasan

(merintih, napas cuping hidung, retraksi, takipnu), apnu dalam 24


jam pertama atau tiba- tiba, takikardi, atau hipotensi (biasanya timbul
lambat)

Gejala

gastrointestinal:

toleransi

minum

yang

buruk,

muntah, diare kembung dengan atau tanpa adanya bowel loop.


Pemeriksaan Penunjang

Hematologi berupa arah rutin, termasuk kadar hemoglobin,

hematokrit, leukosit, dan trombosit. Pada umumnya terdapat neutropeni PMN


<1800/l, trombositopeni <150.000/l (spesifisitas tinggi, sensitivitas rendah),
neutrofil muda meningkat >1500/l, rasio neutrofil imatur : total >0,2. Adanya
reaktan fase akut yaitu CRP (konsentrasi tertinggi dilaporkan pada infeksi
bakteri, kenaikan sedang didapatkan pada kondisi infeksi kronik), LED, GCSF
(granulocyte colony stimulating factor), sitokin IL-1, IL-6 dan TNF (tumour
necrosis factor).

Biakan darah atau cairan tubuh lainnya (cairan serebrospinalis)

serta uji resistensi, pelaksanaan pungsi lumbal masih kontroversi, dianjurkan


dilakukan pada bayi yang menderita kejang, kesadaran menurun, klinis sakit
tampak makin berat dan kultur darah positip. Apabila ada indikasi, dapat
dilakukan biakan tinja dan urin. Dapat pula dilakukan pemeriksaan apusan
Gram dari bahan darah maupun cairan liquor, urin, serta pemeriksaan bilirubin,
gula darah, dan elektrolit (natrium, kalium).
3.2.6 Tatalaksana

Eliminasi kuman merupakan piliha utama dalam tatalaksana

sepsis pada neonatus, dilakukan dengan cara pemberian antibiotik yang tepat.
Pemberian antibiotik secara empiris dapat dilakukan secara cepat selama
menunggu

hasil kultur

untuk

menghambat

laju

perjalanan

penyakit,

ditentukan dari pola kuman dan pola resistensi kuman di tempat tersebut.
Pemberian

antibiotik

kombinasi dilakukan untuk memperluas cakupan

miktoorganisme yang mungkin menyerang pasien, diupayakan agar kombinasi


tersebut sensitif terhadap bakteri Gram positif
sering

digunakan

ialah

dan negatif. Antibiotik yang

golongan ampisilin/kloksasilin/vankomisin dan

golongan aminoglikosid/sefalosporin. Lama pengobatan

dianjurkan

selama

10-14 hari untuk bakteri Gram positif, dan dilanjutkan hingga 2-3 minggu
untuk bakteri Gram negatif.

Selain itu, dapat pula diberikan terapi tambahan untuk mengatasi

berbagai defisiensi dan belum matangnya fungsi pertahanan tubuh bayi baru
lahir, serta mengatasi perubahan yang terjadi dalam perjalanan penyakit,
dan cascade inflamasi pada pasien sepsis neonatal. Terapi tersebut antara lain :

1. Pemberian immunoglobulin secara intavena (Intravenous

Immunoglobulin IVIG)

2. Pemberian fresh frozen plasma (FFP)

3. Tindakan transfusi tukar

BAB IV
PEMBAHASAN
Berdasarkan anamnesis Bayi lahir secara spontan. Lahir pada tanggal 28
desember 2016, pukul 00.25. Pada saat lahir bayi langsung menangis dengan sisa
ketuban jernih. Apgar score 5-6. Ibu memiliki riwayat G4P20012, UK 34-35 minggu.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum cukup dan kesadaran
alert kemudian, BB 1500 gr, Pernapasan : 41 x/mnt, Suhu : 37,1 C, HR : 145
x/mnt, SpO2 : 92%, GDA : 71, dan hasil pemeriksaan fisik di temukan retraksi
dinding dada.

Pemeri

ksaan penunjang dilakukan pemeriksaan skor ballard 29. Usia kehamilan 34-36
minggu. Kurva lubchenco menunjukkan kecil masa kehamilan (KMK).

Berdas

arkan pemeriksaan tersebut, maka dapat didiagnosis kelahiran prematur dengan


BBLR dan KMK. BBLR adalah bayi baru lahir dengan berat badan kurang dari
2.500 gram tanpa memandang masa gestasi. Pada kasus ini, bayi A berat badan
lahirnya 1500 gram, yang artinya termasuk dalam BBLR.

Penyebab BBLR dibagi menjadi persalinan kurang bulan/prematur

(BKB) dan bayi lahir kecil untuk masa kehamilan (KMK). Dari hasil perhitungan
nilai ballard didapatkan hasil masa gestasi 34-36 minggu. Masa gestasi normal
dikatakan cukup bulan yaitu pada 37-42 minggu. Dengan berat badan 1500 gram
dan masa gestasi 34-36 minggu, lalu dimasukkan ke dalam grafik Lubchenco,
maka bayi A dikatakan sebagai bayi kurang bulan (BKB) dan kecil masa
kehamilan (KMK).

Pada kasus ini di lihat dari hasil pemeriksaan fisik ke seluruhan

hasilnya hanya didapatkan retraksi postitif hasil dari pemeriksaan laboratorium


terjadi peningkatan leukosit (leukositosis) > 23.400 maka bayi ini mengalami
suatu sepsis awitan dini.

Sebelum pemberian obat pada pasien harus lakukan kultur darah

untuk tahu apa penyebab dari sepsis dan tidak salah untuk memberikan terapi
kepada pasien.

Pada pasien ini terapi yang diberikan yaitu terapi cairan dan

pemberianantibiotic melalui intra vena. Lakukan pemeriksaan laboratorium darah


ulang kedua untuk membandingkan hasil dengan pemeriksaan darah pertama
untuk melihat

kondisi

pemeriksaan laboratorium.

pasien

membaik

atau

masih

tetap

dari

hasil

BAB V
PENUTUP

A. Simpulan

BBLR (bayi baru lahir rendah) adalah bayi yang lahir dengan berat

kurang dari 2.500 gram tanpa memandang masa gestasi berat lahir adalah bayi
yang ditimbang dalam 1 jam setelah lahir.

a.

Persalinan kurang bulan/prematur (pada umur kehamilan 28-36 minggu)

b.

Bayi kecil masa kehamilan

Beberapa faktor predisposisi

a.

Faktor ibu

b.

Faktor plasma

c.

Faktor janin

Penyebab BBLR

Penatalaksanaan

a.

Mempertahankan suhu tubuh

b.

Memenuhi kebutuhan O2

c.

Memenuhi kebutuhan nutrisi

d.

Pencegahan infeksi

e.

Melibatkan orang tua

Sepsis

neonatorum

merupakan

infeksi

aliran

darah

yang

bersifat invasif dan ditandai dengan ditemukannya bakteri dalam cairan


tubuh

seperti

darah,sumsum

tulang

atau

air

kemih. Insiden

sepsis

neonatorum beragam menurutdefinisinya, dari 1-5/1000 kelahiran hidup , dan


angka sepsis neonatorummeningkat secara bermakna pada bayi dengan berat
badan lahir rendah dan bilaada faktor resiko ibu (obstetrik) atau tanda-tanda
korioamnionitis.

Sepsis biasanya akan dimulai dengan adanya respon sistemik

tubuh dengan gambaran proses inflamasi, koagulopati, gangguan fibrinolisis


yang selanjutnya menimbulkan sirkulasi dan perfusi yang berakhir dengan
gangguan fungsi organ. Untuk itu diagnosis dini sepsis neonatal sangat
penting

artinya dalam penatalaksanaan dan prognosis pasien. Keterlambatan

diagnosis berpotensi mengancam kelangsungan hidup bayi dan memperburuk


prognosis pasien. Dalam menentukan diagnosis diperlukan berbagai informasi
antara

lain: faktor

resiko, gambaran klinik, pemeriksaan penunjang. Ketiga

faktor ini perlu dipertimbangkansaat mengahadapi pasien, karena salah satu


faktor

saja

tidak

mungkin

dipakaisebagai pegangan dalam menegakkan

diagnosa pasien.

Pengobatan sepsis neonatorum dapat dibagi menjadi terapi

antimikrobiapada patogen yang dicurigai atau yang telah diketahui, dan perawatan
pendukung.Cairan, elektrokit, dan glukosa harus dipantau dengan teliti,
disertai

denganperbaikan hipovolemia,

hipoglikemia

hiponatremia,

hipokalsemia,

dan

serta pembatasan cairan. Eleminasi kuman merupakan pilihan

utama dalam manajemensepsis neonatal dan untuk memperoleh hasil yang


optimal
biasanya

pengobatan sepsisharus
dengan

cepat

dilaksanakan.

Pengobatan

pasien

memberikan antibiotik kombinasi yang bertujuan untuk

memperluas cakupan mikroorganisme patogen yang mungkin diderita pasien

DAFTAR PUSTAKA

1. Current : Pediatric Diagnosis and Treatment: Neonatal Intensive Care, page


22-30. Edition 15 Th 2001 Mc Graw Hill Companies.
2. Avery Gordon B : Neonatologi, Pathology and Management Of The New
Born,

Page

182-200.

Second

Edition.JB

Lippincott

Company

Philadelphia1981.
3. Rudolfs Fundamental Of Pediatric, Page 161-164 Mc Graw Hill Companies
2002.
4. eMedicine-Neonatal

Resuscitation

2001

Articel

by

Robin

Bissinger,MSN,RNC,NNP
5. Lara Mother Health Care Center : Asphyxia Neonatorum
6. Behrman, Kliegman : Nelson Essential Of Pediatric-Delivery Room Care,
Page 160-166, 204-206. W.B Saunders Company 1990.
7. CorbertAnthony,M.D : Disorders Of The Respiratory Tract In Children, Page
268-273. W.B Saunders Company1983
8. Wood David and Malan Atties : Notes On The Newborn Infant Fifth
Edition.1996.
9. Markum A.H. Prematuritas dan Retardasi Pertumbuhan Intrauterine. Dalam:
Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak, jilid I, cet.3, Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, 1996; 221-36
10. Surasmi A., Handayani S., Nurkusuma H.

Perawatan Bayi Berat Badan

Lahir Rendah. Dalam: Perawatan Bayi Resiko Tinggi, cet. 1. Jakarta: EGC,
2003; 30-56
11. Nelson. Bayi Dengan Berat Badan Lahir Rendah. Dalam: Ilmu Kesehatan
Anak, Ed. 15, Vol. 1, Jakarta: EGC, 1996; 562-72
12. Budjang R.F. Bayi Dengan Berat Lahir Rendah. Dalam: Ilmu Kebidanan, Ed.
3, cet. 5, Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, 1999; 771-84
13. Ananth C.V., Kramer M.S., Demissie K. Small-for-Gestasional Age Birth
Among Balck and White Women: Temporal Trends in the United States. In:
Research and Practice, Vol. 93. No. 4, American Public Health Association,
April 2003; Journal on 13 January 2005http://www.ajph.org/cgi/content/full/93/4/577

14. I.D.A.I. Perawatan Bayi Berat Lahir Rendah, artikel tanggal 13 Januari 2005.
Dalam: http://www.idai.or.id/web/topik/detil.asp?IDTopics=71
15. Child Health Research Project Special Report : Reducing perinatal and
neonatal mortality, report of a meeting. Baltimore, 1999; 3(1): 6-12.
16. Gerdes JS. Diagnosis and management of bacterial infections in the neonate.
Pediat Clin N Am 2004; 51: 939-59.
17. IDAI: Aminullah A. Sepsis pada bayi baru lahir. Kosim MS, Yunanto A,
DewiR, dkk. Dalam: Buku ajar neonatologi. Jakarta: Badan Penerbit IDAI
2009,170-187.
18. Departemen

Ilmu

Kesehatan

Anak

FKUI-RSCM.

Rohsiswatmo

R.

Kontroversi diagnosis sepsis nenatorum. Dalam: Update in neonatal


infection. Jakarta:Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM 2005, 3219. Yunanto A. Hipoglikemia pada neonatus. Dalam: Panduan praktik
klinikneonatologi. Danar Wijaya 2013, 189-192.
20. Gomella

TC.

TC,Cunningham

Seizure
MD,

activity
Eyal

FG.

in

neonatology.
Management,

Dalam:
procedure,

Gomella
on-call

problems and drugs. Edisi ke-5. New York: Lange medical publ 2004, 310-3.
21. Scher MS. Neonatal Seizures. Dalam: Taeusch HW, Ballard RA, Gleason
CA.Averys disease of the newborn. Edisi ke-8. Philadelphia: Elsevier
Saunders 2005, 1005-25.
22. Haque KN. Definitions of bloodstream infection in the newborn. Pediatr Crit
Care Med 2005; 6: 45-9.
23. Pusponegoro TS. Sepsis pada neonatus (sepsis neonatal). Sari Pediatri 2000;
96-102.
24. Kosim MS. Infeksi neonatal akibat air ketuban keruh. Sari Pediatri 2009;
11:212-8.
25. Osrin D, Vergnano S, Costello A. Serious bacterial infections in
newborn infants in developing countries. Curr Opin Infect Dis 2004;17: 217-.
26. Utomo MT. Risk factors of neonatal sepsis: a preliminary study in
dr.soetomo hospital. Indonesian Journal of Tropical and Infectious
Disease2010; 1: 23-6.

27. Sankar MJ, Agarwal R, Deorari AK, Paul VK. Sepsis in The
Newborn.Devision of Neonatology. Departement of Pediatrics. All India
InstituteSciences.New Delhi; 2008.
28. Yurdakok M. Antibiotic use in neonatal sepsis. Turk J Pediatr 1994; 40(1):1733.
29. Schuchat A, Zywicki SS, Dinsmoor MJ, Mercer B, Romaguera J, OSullivan
MJ, et al. Risk factors and opportunities for prevention of early-onset
neonatal sepsis: A multicenter case-Control Study. Pediatrics 2000;
105:21-6.
30. Rodrigo I. Changing patterns of neonatal sepsis. Sri Lanka J Child Health
2002; 31: 3-8.
31. Chiesa C, Alessandra PA, Osborn JF, Simonetti AF, Pacifco1 L. Diagnosis
of neonatal sepsis: a clinical and laboratory challenge. Clin Chem 20074;
50:
279-87.