Anda di halaman 1dari 17

DEPARTEMEN SURGICAL

LAPORAN PENDAHULUAN ABSES SKROTUM


UNTUK MEMENUHI TUGAS PROFESI NERS DI RUANG 14
DI RSUD dr. SAIFUL ANWAR MALANG

OLEH:
YESSIE ROHAN
NIM. 125070218113036
KELOMPOK 4

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

A Pengertian

Abses Skrotum merupakan salah satu kasus dalam bidang urologi yang harus
segera ditangani untuk mencegah terjadinya kerusakan pada testis dan terjadinya
Fourniers gangrene. Abses Srotum adalah kumpulan purulen pada ruang diantara
tunika vaginalis parietalis dan viseralis yang berada mengelilingi Testis. Abses
skrotum,terjadi apabila terjadi infeksi bakteri dalam skrotum. Bakteri dapat
menyebar dari kandung kemih atau uretra atau dapat berasal dari penyakit menular
seksual (PMS). Apabila bila tidak diobati, infeksi dapat mengakibatkan terjadinya
abses skrotum.
Abses Skrotum terjadi akibat suatu infeksi,dan membutuhkan tindakan
pembedahan. Pembentukan abses merupakan suatu komplikasi dari abses
pelvis,dan komplikasi dari infeksi pada suatu luka. Abses Skrotum dapat terjadi
superficial maupun intraskrotal. Skrotum merupakan kelanjutan dari lapisan dinding
perut. Isi skrotum terdiri dari testis, epididimis, dan struktur korda spermatika.
B Anatomi Skrotum

Struktur

luar

dari

sistem

reproduksi

pria

terdiri

dari

penis

dan

skrotum( kantung zakar).Struktur dalamnya terdiri dari: sepasang testis,epididimis,vas


deferens. Sedangkan kelenjar tambahan terdiri dari: vesikula seminalis,kelenjar
prostat,dan bulbourethralis. Skrotum merupakan kantong longgar yang tersusun
dari: kulit,fasia,dan otot polos yang membungkus dan melindungi testis di luar tubuh
dan

pada suhu optimum berfungsi untuk memproduksi sperma. Skrotum juga

merupakan sebuah kantong dari jaringan fibromuskular yang terdapat septum atau
sekat dibagian tengahnya yang memisahkan skrotum kiri dan kanan. Setiap skrotum
terdiri dari: testis,epididimis dan bagian dari spermatic cord.

Gambar organ Reproduksi Pria:

Gambar lapisan kulit skrotum dan


testis
Lapisan pada skrotum terdiri dari: kulit skrotum,muskulus Dartos(kelanjutan
dari fasia colles),fascia spermatic external(kelanjutan dari apponeurosis dari
muskulus oblikus abdominus eksternus),fascia cremasteric(kelanjutan dari muskulus
oblikus abdominus internus),dan fascia spermatica internal(kelanjutan dari muskulus

transversalis),yang mana bagian luarnya berhubungan dengan lapisan parietal dari


tunika vaginalis,lapisan visceral dari tunika vaginalis yang melekat pada testis
Kulit dan muskulus dartos pada skrotum disuplai oleh cabang arteri pudendal
interna pada daerah perineal,dan pudendal external yang merupakan cabang dari
arteri femoralis. Bagian paling dalam dari muskulus dartos disuplai oleh arteri
cremasterica yang merupakan cabang

dari arteri epigastrika inferior.Vena pada

skrotum berjalan bersama-sama dengan arteri,yang menuju ke vena pudendal


externa dan setelah itu ke vena safena magna. Aliran sistim limfatik pada kulit
skrotum dimulai dari pembuluh darah pudendal externa ke pembuluh limfe secara
superficial pada inguinal medial. Pada skrotum banyak terdapat saraf sensorik yang
disuplai oleh saraf genitofemoralis(padapermukaan skrotum bagian

anterior dan

lateral),saraf ilioinguinal(permukaan anterior skrotum),dan oleh percabangan nervus


perineal(permukaan skrotum bagian posterior).Percabangan dari nervus cutaneus
femoral posterior(permukaan inferior skrotum).
C Etiologi

Epididimitis dan epididymo-orkitis adalah dua yang paling umum penyebab nyeri
skrotum akut pada orang dewasa. Infeksi biasanya berasal dari saluran
genitourinari,
khususnya kandung kemih, uretra, dan prostat. yang paling patogen adalah
Neisseria gonorrhea,Chlamydia trachomatis, Escherichia coli, Proteus atau mirabilis.
Penyebab umum dari infeksi skrotum, yang dapat menyebabkan abses, termasuk
penyakit menular seksual, seperti gonore dan klamidia. Infeksi virus,juga dapat
mengakibatkan infeksi skrotum.
Pada

umumnya

abses

skrotum

merupakan

komplikasi

dari

suatu

penyakit,seperti: appendisitis,epididimitis,orchitis,trauma,varikokeldan abses pelvis.


Abses skrotum yang superficial,biasanya berasal dari infeksi pada folokel
rambut,ataupun luka bekas operasi pada skrotum. Abses intrascrotal paling sering
muncul dari epididimitis bakteri, tetapi juga mungkin terkait dengan infeksi dari
epididimitis TB,selain itu dapat timbul dari abses testis yang pecah melalui tunika
albuginea, atau drainase usus buntu ke dalam skrotum melalui prosesus vaginalis.
Abses skrotum dapat juga terjadi sebagai akibat dari ekstravasasi urin yang
terinfeksi dari uretra yang terjadi pada pasien dengan striktur uretra dan kandung

kemih neurogenik menggunakan perangkat koleksi eksternal. [3] Penyebab paling


umum adalah postneglected testis torsi atau epididymo orchitis necrotizing.
penyebab lain termasuk infeksi hidrokel atau TB infeksi.
Penyebab yang sangat jarang adalah apendisitis akut, dengan kurang dari 25
kasus yang dilaporkan dalam literatur. Kebanyakan pasien datang dengan tandatanda skrotum akut akibat apendikular patologi memiliki riwayat PPV(Paten
Procesus Vaginaliss).
Pada pria yang aktif secara seksual, organisme yang utama adalah Chlamydia
trachomatis dan Neisseria gonorrhea, klamidia yang menjadi lebih umum. Pada pria
homoseksualengan usia kurang dari 35 tahun, dan bakteri coliform yang menjadi
penyebab

utama. Pada

laki-laki

tua

yang

biasanya

kurang

aktif

secara

seksual,bakteri patogen saluran kemih adalah organisme yang paling umum, seperti:
Escherichia coli dan pseudomonas menjadi lebih umum, namun, patogen. Trauma
biasanya

bermanifestasi sebagai pembengkakan skrotum dengan hematoma

intratesticular dan skrotum dan berbagai tingkat ekimosis dinding skrotum.


D Tanda dan Gejala
Dalam kasus ini abses yang terjadi adalah pada skrotum, tanda dan gejala abses
biasanya Paling sering, abses akan menimbulkan Nyeri tekan dengan massa yang
berwarna merah, hangat pada permukaan abses, dan lembut. Hingga terjadi nekrosis
pada jaringan permukaan skrotum.
Menurut Smeltzer & Bare (2001), gejala dari abses tergantung kepada lokasi dan
pengaruhnya terhadap fungsi suatu organ saraf. Gejalanya bisa berupa:
a

Nyeri

Nyeri tekan

Teraba hangat

Pembengkakan

Kemerahan

Demam
Pada pasien yang mengalami abses skrotum mungkin memiliki gejala yang

berkaitan dengan etiologi abses seperti gejala infeksi saluran kemih atau penyakit
menular seksual, seperti frekuensi, urgensi, disuria,dan ukuran penis.[3] Diagnosis abses
skrotum sering ditegakan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik. Skrotum sering
eritema dan terjadi peradangan selain itu dapat teraba fluktuasi pada skrotum.

Anamnesis
Dari anamnesis dapat di temukan: pasien yang baru menderita epididimitis atau

orchitis namun

tidak menjalani pengobatan secara teratur,komplikasi dari perforasi

appendisitis, komplikasi dari operasi,sirkumsisi,vasektomi dan Chrons disease. Pasien


datang dengan keluhan nyeri dan dapat pula disertai dengan demam. Hal ini juga dapat
terjadi pada pasien yang telah di drainase atau pada pasien dengan gejala massa pada
testis.
Pasien biasanya mengeluh rasa sakit skrotum yang hebat, kemerahan, panas,
nyeri dan toksisitas sistemik termasuk demam dan leukositosis. Pasien mungkin atau
tidak mengeluh muntah.
Gambar abses skrotum pada anak:

Apabila terjadi trauma pada skrotum maka dapat ditemukan gambaran klinis :
Nyeri akut pada skrotum, pembengkakan, memar, dan kerusakan akibat cedera kulit
skrotum yang merupakan gejala

klinis utama. Bahkan dapat terjadi pada luka

terisolasi/tertutup, sakit perut, mual, muntah, dan dapat menimbulkan kesulitan


berkemih.

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan ini sangat membantu karena ditemukan skrotum teraba lembut atau

kenyal. Pada pemeriksan fisik dapat ditemukan: bengkak pada skrotum,tidak keras,dan
merah pada skrotum,dan dapat menjadi fluktuan.
Selain itu palpasi pada testis untuk menentukan epididimo-orchitis dan gejala
karsinoma

testis.

Pada

pemeriksaan

skrotum

dapat

juga

menggambarkan

ukuran,karakteristik,dan massa yang terjadi pada testis.


Adanya pembesaran pasa skrotum bisa berhubungan

dengan pembesaran

testis atau epididimis,hernia,varikokel,spermatokel,dan hidrokel. Pembesaran pada testis


dapat disebabkan oleh tumor atau peradangan. Pembesaran pada skrotum yang nyeri

dapat

disebabkan

oleh

peradangan

akut

epididimis

atau

testis,torsio

korda

spermatika,atau hernia strangulata. Apabila skrotum membesar dan dicurigai hidrokel


maka dapat dilakukan tes transluminasi.
E Pemeriksaan diagnostik
Laboratorium
1

Pada pemeriksaan laboratorium biasanya ditemukan peningkatan sel darah


putih (leukosit) yang diakibatkan oleh terjadinnya inflamasi atau infeksi pada
skrotum.

Selain itu dapat dilakukan Kultur urin dan pewarnaan gram untuk mengetahui
kuman penyebab infeksi.

Analisa urin untuk melihat apakah disertai pyuria atau tidak

Tes penyaringan untuk klamidia dan gonorhoeae.

Kultur darah bila dicurigai telah terjadi infeksi sistemik pada penderita

Ultrasonografi
Pada pemeriksaan Ultrasonografi pyocele akan memberikan gambaran yang
lebih parah, Hal itu membedakan dari hidrocele. Septa atau lokulasi, level cairan
menggambarkan permukaan dari hidrocele /pyocele,dan gas pada pembentukan
organisme. Pemeriksaan USG biasanya menunjukankan akumulasi cairan ringan
dengan gambaran internal atau lesi hypoechoic yang diserai dengan isi skrotum
normal atau bengkak.
USG skrotum sangat membantu dalam mendiagnosis abses intraskrotal
terutama jika ada massa inflamasi. USG skrotum dapat menggambarkan perluasan
abses ke dinding skrotum, epididimis, dan atau testis. USG skrotum adalah
tambahan yang berguna untuk mendiagnosis dan pemeriksaan fisik dalam penilaian
abses skrotum. Hal ini memungkinkan untuk lokalisasi abses skrotum serta evaluasi
vaskularisasi dari epididimis dan testis, yang mungkin terlibat.

Scrotal sonogram showing the testes adjacent to the inflamed epididymis with
a reactive hydrocele.

CT-Scan
CT Scan juga dapat digunakan untuk melihat adanya

penyebaran abses.

Pemeriksaan Real-time ultrasound harus dilakukan jika terjadi fraktur,dan harus


ditangani dengan eksplorasi skrotal. Testis yang mengalami kontusio biasanya
memberikan respon yang baik terhadap istirahat dan analgesia.
F

Penatalaksanaan
Manajemen abses intrascrotal, terlepas dari penyebabnya, memerlukan
drainase bedah dimana rongga abses harus dibuka dan dikeringkan, termasuk testis
jika terlibat. Rongga harus dibiarkan terbuka. Fournier gangren (necrotizing fasciitis)
membutuhkan resusitasi cepat dan eksplorasi bedah dan debridemen serta antibiotik
yang agresif. Abses Superficial juga memerlukan insisi dan drainase. Untuk
mengobati abses skrotum, diagnosis yang tepat dari penyebab infeksi diperlukan
untuk menentukan pengobatan yang cocok.
Dapat dilakukan drainase dan pertimbangan untuk orkidoctomy yang diikuti
dengan pemberian agen antimicrobial untuk abses intratestikular. Abses skrotum
yang terjadi superficial dapat ditangani dengan insisi dan drainase. Tidak ada
kontraindikasi terhadap drainase abses intrascrotal,selain pada pasien yang terlalu
sakit untuk menahan operasi. Pasien dengan gangren Fournier (necrotizing fasciitis)
membutuhkan penanganan yang cepat.
Abses skrotum Superfisial, yang terbatas pada dinding skrotum, sering dapat
diobati dengan infiltrasi kulit sekitar abses dan kemudian menggores diatas abses
dengan pisau sampai rongga dibuka dan dikeringkan. Rongga tersebut kemudian
dibiarkan untuk tetap terbuka dan dikeringkan.
Sayatan dan drainase abses intrascrotal biasanya dilakukan dengan anestesi
umum. Kulit yang, melapisi area fluktuasi massa.Pada Jaringan subkutan digunakan
elektrokauter sampai ditemui tunika vagina.[3].Jaringan devitalized, termasuk

epididimis dan testis dilakukan debridement. Luka skrotum dibiarkan terbuka dan
dikeringkan untuk mencegah berulangnya abses.

Scrotal drainage following groin exploration.

Langkah-langkah penanganan abses skrotum:

Anestesi
Sayatan dan drainase abses skrotum yang dangkal sering dapat dilakukan
dengan infiltrasi daerah abses dengan anestesi intravena. Pengobatan bedah pada
abses intrascrotal sering memerlukan anestesi umum atau spinal. Pasien dengan
gangren Fournier(necrotizing fasciitis) sering dieksplorasi di bawah anestesi umum
sesuai keparahan penyakit dan luasnya potensi penyakit. Gangren Fournier
merupakan nekrosis dan fasikulitis pada perineum atau daerah kelamin lakilaki,yang merupakan tanda awal gangguan pada skrotum.[17] Pasien-pasien ini
memerlukan resusitasi agresif dan institusi antibiotik spektrum luas yang mencakup

kedua organisme aerobik dan anaerobik.


Peralatan
Instrumentasi yang diperlukan untuk pengobatan abses intrascrotal adalah
bahwa banyak digunakan untuk berbagai eksplorasi bedah. Rongga luka harus
dibiarkan terbuka dan dikemas atau dibersihkan. Cystoscopt A harus tersedia untuk
menyingkirkan patologi uretra sebagai sumber infeksi serta instrumentasi untuk

sigmoidoskopi /anoskopis untuk menyingkirkan sumber anorektal penyakit.


Posisi pasien
Pada kebanyakan kasus, posisi pasien dalam posisi terlentang dengan
skrotum dicukur dan alat kelamin ditutup dan dibungkus. Jika diduga
gangren

(necrotizing

fasciitis),

maka posisi litotomi

lebih berguna

Fournier
karena

memungkinkan akses ke dinding perut bagian bawah, genitalia, dan daerah perianal.
G Komplikasi
Tindakan bedah menjadi penanganan yang paling utama yang disertai dengan
pemberian Antibiotik spektrum luas untuk mencegah infeksi akibat flora genitourinari.
Sayatan, debridement,merupakan penanganan dari pengobatan abses intrascrotal, dan

kegagalan yang terjadi dapat menyebabkan tindakan debridement dan drainase harus
dilanjutkan. Fournier gangren (necrotizing fasciitis) adalah sebuah operasi darurat dan
membutuhkan resusitasi hemodinamik cepat, antibiotik spektrum luas, dan intervensi
bedah yang agresif. Hal ini membutuhkan ruang operasi untuk debridement. Bahkan di
era bedah modern, tingkat kematian untuk Fournier gangren (necrotizing fasciitis) tetap
tinggi, mendekati 50%. Cedera isi intrascrotal mungkin terjadi akibat eksplorasi. Selain
itu, epididimitis yang parah dapat menyebabkan nekrosis epididimis dan hilangnya
fungsi kemudian terjadi perluasan ke testis dapat menyebabkan abses testis dan
nekrosis.
Penanganan pasca-pembedahan:
Setelah eksplorasi bedah awal, luka skrotum di jaga secara teratur untuk
mencegah akumulasi materi purulen dan debridement jaringan devitalized. Menjaga
luka terbuka memungkinkan untuk granulat dari dasar, mencegah terjadinya luka
tertutup sehingga mencegah terjadinya infeksi sekunder. Terapi antibiotik pascaoperasi
harus disesuaikan dengan kultur urin dan sensitivitas luka dan harus dilanjutkan sampai
infeksi teratasi.
Apabila abses skrotum tidak ditangani dengan baik maka dapat menyebabkan
Fourniers gangrene,yaitu: nekrosis pada kulit skrotum,dan merupakan kasus
kegawatdaruratan. Fournier gangren (necrotizing fasciitis)

dapat menyebabkan

kehilangan jaringan yang signifikan memerlukan pencangkokan kulit berikutnya untuk


skrotum,serta

hilangnya kulit perut dan perineum. Individu mungkin memerlukan

penempatan tabung suprapubik untuk pengalihan cara berkemih serta kolostomi.


H Prognosis

Abses skrotum dapat kambuh kembali apabila fokus infeksi primernya tidak
diatasi dengan baik. Kegagalan untuk mengidentifikasi sumber infeksi, seperti
striktur uretra yang mendasarinya, dapat menyebabkan terjadinya kekambuhan.
Meskipun resusitasi agresif, antibiotik spektrum luas, dan intervensi bedah
agresif, angka kematian dengan Fournier gangren tetap tinggi.
1. Asuhan Keperawatan pada Abses Skrotum
A. Pengkajian.
Pengkajian adalah usaha untuk mengumpulkan data-data sesuai dengan
respon klien baik dengan pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, wawacara,
observasi

dan

dokumentasi

secara

bio-psiko-sosio-spiritual

(Doenges,

2001).Data yang harus dikumpulkan dalam pengkajian yang dilakukan pada


kasus abses menurut Doenges, (2001) adalah sebagai berikut :
a. Aktifitas/istirahat
Data Subyektif : Pusing, sakit kepala, nyeri, mulas.
Data Obyektif : Perubahan kesadaran, masalah dalam keseimbangan cedera
(trauma).
b. Sirkulasi
Data Obyektif: kecepatan (bradipneu, takhipneu), pola napas (hipoventilasi,
hiperventilasi, dll).
c. Integritas ego
Data Subyektif: Perubahan tingkah laku/ kepribadian (tenang atau dramatis)
Data Obyektif : cemas, bingung, depresi.
d. Eliminasi
Data Subyektif : Inkontinensia kandung kemih/usus atau mengalami
gangguan fungsi.
e. Makanan dan cairan
Data Subyektif : Mual, muntah, dan mengalami perubahan selera makan.
Data Obyektif : Mengalami distensi abdomen.
f. Neurosensori.
Data Subyektif : Kehilangan kesadaran sementara, vertigo.
Data Obyektif : Perubahan kesadaran bisa sampai koma, perubahan status
mental, kesulitan dalam menentukan posisi tubuh.
g. Nyeri dan kenyamanan
Data Subyektif : nyeri pada rahang dan bengkak
Data Obyektif : Wajah meringis, gelisah, merintih.
h. Pernafasan
Data Subyektif : Perubahan pola nafas.
Data Objektif: Pernapasan menggunakan otot bantu pernapasan/ otot
aksesoris.
Keamanan
Data Subyektif : Trauma baru akibat gelisah.
Data Obyektif : Dislokasi gangguan kognitif. Gangguan rentang gerak.

i.

B. Prioritas keperawatan
a. Mengurangi ansietas dan trauma emosional
b. Menyediakan keamanan fisik
c. Mencegah komplikasi
d. Meredakan rasa sakit
e. Memberikan fasilitas untuk proses kesembuhan
f. Menyediakan informasi mengenai proses penyakit/prosedur pembedahan,
g.
h.
i.
j.
k.

prognosis dan kebutuhan pengobatan


Tujuan pemulangan
Komplikasi dicegah/diminimalkan
Rasa sakit dihilangkan/dikontrol
Luka sembuh/fungsi organ berkembang ke arah normal
Proses penyakit/prosedur pembedahan, prognosis, dan regimen terapeutik
dipahami

C. Diagnosa Keperawatan
Menurut T. Heather Herdman, et.al (2007), diagnosa keperawatan yaitu :

a. Nyeri Akut yang berhubungan dengan egen injuri biologi


b. Hipertermi yang berhubungan dengan proses penyakit
c. Kerusakan Intergritas kulit yang berhubungan dengan trauma mekanik.

D. Rencana Keperawatan
Menurut Johnson, Marion Meridean Maas dan Sue Moorhead, ed (2000)
rencana keperawatan terdiri dari :
1. Nyeri Akut yang berhubungan dengan Agen Injury Biologi
a. Tujuan
Level nyaman.
b. Kriteria hasil :
N

Indikator

o
1.
2.
3.
4.

Melaporkan secara fisik sehat


Meloporkan puas dapat mengontrol gejala
Mengekspresikan puas dengan fisiknya
Mengekspresikan
kepuasan
dengan

4 5

berhubungan
Sosial
5. Mengekspresikan kepuasan secara spiritua
6. Melaporkan puas dengan kemandiriannya
7. Melaporkan puas dengan kontrol nyeri
Keterangan :
1 : Sangat tidak sesuai
2 : Sering tidak sesuai
3 : Kadang tidak sesuai
4 : Jarang tidak sesuai
5 : Sesuai
c.

Intervensi (Joane C, Mc.Closkey, 1996)


1) Manajemen Nyeri
a) Kaji nyeri secara komprehensif meliputi lokasi, karakteristik durasi,
frekuensi, dan faktor presipitas.
b) Observasi reaksi non verbal dari ketidak nyamanan
c) Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
d) Berikan analgesik untuk mengurangi nyeri, klabrasi dengan dokter jika
ada komplai dan tindakan nyeri yang tidak berhenti

e) Ajarkan teknik non farmakologi, lbiotedback, leahsasi, distraksi,


anagenh administrasi
f) Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas dan derajat nyeri sebelum obat
g) Cek riwayat alergi
h) Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama
kali
i) Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat sesuai
porgram
j) Evaluasi efektifitas analgesik tanda dan gejala efek samping
k) Laksanakan terapi dokter untuk pemberian obat
2. Hipertermi yang berhubungan dengan proses penyakit (Johnson, Marion
Meridean Maas dan Sue Moorhead, ed., 2000)
a. Tujuan :
Status termoregulasi
b. Kriteria hasil :
N

Indikator

o
1.
2.
3.
4.
5.

Suhu tubuh DBN


Perubahan warna kulit
Tidak ada kegelisahan kelelahan
Perubahan DBN
Tidak ada ditensi pernapasan

DBN : dalam batas normal


Keterangan : 1. Tidak pernah sesuai harapan
2. Jarang sesuai harapan
3. Kadang sesuai harapan
4. Sering sesuai harapan
5. Selalu sesuai harapan
c.

Intervensi (Joane C, Mc.Closkey, 1996)


1) Menangani panas
a) Monitor temperatur tiap 8 jam
b) Monitor warna kulit dan temperatur tiap 8 jam
c) Monitor TTV tiap 8 jam

4 5

d) Tingkatkan pemasukan cairan melalui mulut


2) Pengaturan suhu
a) Monitor suhu paling sedikit 2 hari sesuai kebutuhan
b) Monitor temperatur baru sampai stabil
c) Monitor gejala hipertermi
d) Monitor TTV
e) kolaborasi dalam pemberian antipiretik
f) Atur suhu lingkungan sesuai kebtuhan pasien
g) Berikan pemasukan nutrisi dan cairan yang adekuat.
3. Kerusakan Integritas kulit yang berhubungan dengan trauma mekanik
(Johnson, Marion Meridean Maas dan Sue Moorhead, ed., 2000)
a. Tujuan
Integritas kulit dan jaringan yang normal setelah dilakukan perawatan
b. Kriteria hasil :
Indikator
1. Temperatur jaringan
2. Sensasi
3. Elastisitas
4. hidrasi
5. Respiasi
6. warna
7. ketebalan
8. keutuhan kulit
Keterangan :

1. Tidak Pernah sesuai Harpan


2. Jarang Sesuai harapan
3. Kadang Sesuai Harpan
4. Sering Sesuai Harapan
5. Selalu Sesuai Harapan
c.

Intervensi (Joansone C, McCloskey, 1996)


1) Perawatan luka
a) Catat karakteristik luka
b) Catat karakteristik drainese
c) Gunakan saleb kulit atau isi
d) Pakaikan pakaian yang longgar

e) Gunakan prinsip steril untuk perawatan luka


f) Ajarkan keluarga dan pasien prosedur perawatan luka

Daftar Pustaka
1

Burner.david,Ellie L Ventura,Jhon J Devlin. Scrotal Pyocele:Uncommon Urologic


Emergency.[online Apr-Jun 2012].[cited 2013 February 09th]. Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3391854

Ellsworth,Pamela I. Scrotal Abscess Drainage. [online 2011].[cited 2013 January


22th]. Available from: www.medscape.com

Klaassen,Zachary W A. Male Reproductive Organ Anatomy.[online 2011].[cited 2013


January 22th]. Available from: www.medscape.com

Sloane,Ethel. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta :Penerbit Buku

Kedokteran. 1995.p:347-352.
Price,Sylvia A,Lorraine M Wilson. Patofisiologi 6th edition.Willson,Lorraine
M,Kathleen Branson Hillegas. Gangguan Sistem Reproduksi Laki-laki. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran.2003. chapter: 65.p:1311-1329.

Patofisiologi

Anda mungkin juga menyukai