Anda di halaman 1dari 15

Kualitas Air yang Mempengaruhi

Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis sp.)


di Kolam Beton dan Terpal

Fajar
Rifki A.
Vies. M. Aryoputro
Makalah Manajemen Kualitas Air

USNI Jakarta 2016


ABSTRAK

Oreochromis sp) yang dipelihara di kolam beton dan kolam terpal. Dimana
dalam penelitian ini diberikan dua perlakuan, yaitu pemeliharaan ikan Nila
di kolam beton dan di kolam terpal dengan tiga ulangan. Untuk
mengetahui perbedaan pengaruh dari perlakuan yang diberikan dilakukan
Uji-t dan untuk mengetahui pengaruh kualitas air terhadap pertumbuhan
dilakukan penghitungan koefisien korelasi (r hitung). Parameter kualitas
air yang yang diamati meliputi suhu, DO, pH, kecerahan dan NH3.
Hasil Uji-t menunjukan bahwa t hitung (0,048) < t tabel (4,303), hal ini
berarti tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua perlakuan.
Sedangkan hasil koefisien korelasi antara kualitas air dan pertumbuhan
menunjukan bahwa tidak ada pengaruh yang nyata antara parameter
kualitas air yang diamati terhadap pertumbuhan ikan Nila.

BAB I
PENDAHULUAN
Ikan nila (Oreochromis sp) sudah lama dikenal oleh masyarakat luas
sebagai ikan konsumsi dan mengandung gizi yang hampir sama dengan
jenis ikan air tawar lainnya (Sangihe, 2010). Selain itu ikan nila memiliki
keunggulan antara lain mudah dikembangbiakan dan daya kelangsungan
hidup tinggi, pertumbuhan relatif cepat dengan ukuran badan relatif
besar, serta tahan terhadap perubahan kondisi lingkungan (Taftajani,
2010).
Ikan nila dapat hidup di perairan yang dalam dan luas maupun di kolam
yang sempit dan dangkal, nila juga dapat hidup di sungai yang tidak
terlalu deras alirannya, di waduk, danau, rawa, sawah, tambak air payau,
atau di dalam jaring terapung di laut. Termasuk di kolam beton dan kolam
terpal (Sangihe, 2010) Kualitas air yang kurang baik mengakibatkan
pertumbuhan ikan menjadi lambat. Dalam usaha budidaya ikan nila
(Oreochromis sp) ketersediaan air dan kualitas air merupakan salah satu
faktor yang menentukan keberhasilan dalam usaha budidaya ikan
(Suyanto, 1993). Kolam beton dan kolam terpal dipilih sebagai media
pemeliharaan ikan karena media ini lebih praktis, murah dan dapat
memanfaatkan lahan yang sempit dari pada menggunakan kolam tanah
mengingat kondisi lingkungan perairan kita yang bersifat asam. Kolam
beton merupakan kolam yang dasar sisisisinya terbuat dari beton
sedangkan kolam terpal adalah kolam yang dasar serta sisinya terbuat
dari terpal. Dimana keduanya dapat digunakan untuk kegiatan budidaya
ikan dengan memanfaatkan lahan yang sempit. Namun kolam terpal
memiliki keunggulan yaitu biaya lebih murah, dapat dipindah-pindahkan
serta ikan yang dipelihara tidak berbau (Kordi, 2010).
Walaupun ikan nila merupakan jenis ikan yang memiliki toleransi tinggi
terhadap perubahan
lingkungan perairan, namun kualitas air dalam wadah budidaya harus
tetap dikelola dengan baik agar pertumbuhannya tetap optimal. Oleh

sebab itu dirasakan perlu untuk mengadakan penelitian mengenai


pengaruh kualitas air terhadap pertumbuhan ikan nila (Oreochromis sp),
yang merupakan unsur yang sangat berperan penting terhadap
pertumbuhan. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui kualitas
air yang lebih baik antara kolam beton dan kolam terpal untuk
pertumbuhan ikan nila (Oreochromis sp). Adapun manfaat dari penelitian
ini diharapkan ini dapat menjadi masukkan dan informasi bagi masyarakat
dibidang perikanan mengenai kualitas air terhadap pertumbuhan ikan nila
(Oreochromis sp) yang dipelihara dalam kolam beton dan kolam terpal.

BAB II
METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan selama dua bulan setengah, dari bulan Juni
2010 sampai dengan bulan Agustus 2010. Lokasi penelitian ini
dilaksanakan di kolam beton dan terpal yang dibuat di pekarangan jalan
Bukit Raya IX-A No. 06 Palangka Raya Provinsi Kalimantan Tengah.
Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan selama penelitian ini adalah
thermometer, DO meter, pH meter, secchi disk, timbangan digital, mistar,
aerator, pompa air, ember, kamera dan alat tulis serta benih ikan nila
(Oreochomis sp) ukuran 3-5 cm (60 ekor), kolam pembesaran dengan
konstruksi beton dan terpal, hapa dan pakan merk Comfeed dengan
kandungan protein 32-34 %.
Manajemen Pemeliharaan
Dalam melaksanakan penelitian, ikan uji terlebih dahulu diaklimatisasikan
selama 1 (satu) minggu dengan padat penebaran masing - masing 10
ekor/hapa. Selama diaklimatisasikan ikan uji diberikan pakan yang sama
pada setiap perlakuan dengan jenis makanan berupa pellet merk Comfeed
Indonesia Ltd dengan kandungan protein 32 % - 34 % dan jumlah
makanan yang diberikan pada setiap perlakuan yaitu 2 % dari berat total
tubuh ikan. Makanan diberikan dua kali sehari yaitu pada pagi hari pukul
08.00 WIB sebanyak 1/2 bagian dan pada sore hari pukul 16.00 WIB
sebanyak 1/2 . Untuk mengetahui panjang baku dan berat total ikan uji
selama penelitian setiap 2 (dua) minggu dilakukan sampling. Selain itu

juga dilakukan pengukuran parameter kualitas air yang meliputi suhu, DO,
pH dan kecerahan, sedangkan pengukuran NH3 dilakukan pada awal dan
akhir penelitian.

BAB III
Analisa Data
Untuk membedakan atau membandingkan dua macam perlakuan
digunakan pegujian dengan Uji-t berpasangan (Sastrosupadi, 1999).
Kriteria uji t :

Adapun layout penelitian adalah seperti pada Gambar 2

Ketera
ngan : A dan B adalah perlakuan 1 dan 2 adalah ulangan

Gambar 1. Layout penelitian

Untuk mengetahui hubungan antara kualitas air dan pertumbuhan ikan


nila yang dipelihara di kolam beton dan terpal dihitung dengan

menggunakan model regresi berganda (Walpole, 1982 dalam Maryani dkk,


2007) dengan rumus sebagai berikut :

Yi = o + 1X1i + 2X2i + ..... + 5X5i +


i
Dimana :
Yi = Pertumbuhan relatif ikan nila
k = Koefisien regresi untuk peubah bebas Xk yang diperoleh dari
pengamatan satuan
X1 = Suhu
X2 = DO
X3 = pH
X4 = Kecerahan
X5 = NH3

percobaan ke-i

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil pengamatan mengenai Pengaruh Kualitas Air Terhadap


Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis sp) di kolam beton dan kolam terpal
selama 70 hari masa pemeliharaan diperoleh data meliputi : data berat
rata-rata populasi, panjang baku rata-rata populasi, kecepatan
pertumbuhan relatif (%) dan kualitas air yang meliputi suhu air, derajat
keasaman (pH), oksigen terlarut (DO), kecerahan dan amoniak (NH3).
1. Kualitas Air
Air sebagai media hidup ikan harus memiliki sifat yang cocok bagi
kehidupan ikan, karena kualitas air dapat memberikan pengaruh terhadap
pertumbuhan mahlukmahluk hidup di air (Djatmika, 1986). Kualitas air
merupakan faktor pembatas terhadap jenis biota yang dibudidayakan di
suatu perairan (Kordi dan Tancung, 2007). Pengukuran terhadap para
parameter kualitas air yang di ukur dalam media penelitian antara lain :
Suhu
Data hasil pengukuran suhu yang dilakukan pada pagi dan sore hari setiap
2 (dua) minggu sekali selama pemeliharaan didapatkan nilai rata-rata
suhu air yaitu pada perlakuan A sebesar 29,40C sedangkan pada
perlakuan B yaitu pada 29,20C. Pergolakan suhu yang demikian dianggap
cukup baik, karena menurut Kordi dan Tancung (2007), bahwa kisaran

suhu yang optimal bagi kehidupan ikan adalah 28oC-32oC. Sedangkan


menurut Anonim (2010) kisaran suhu yang baik untuk budidaya ikan nila
adalah 25 30oC.
Berdasarkan analisis korelasi suhu terhadap pertumbuhan relatif (%) ikan
nila (Oreochromis sp) selama masa penelitian dihasilkan R2 = 38,9% atau
0,389, hal ini menunjukan bahwa tingkat hubungan yang rendah antara
suhu dan pertumbuhan relatif.
Oksigen Terlarut (DO)
Oksigen terlarut merupakan faktor terpenting dalam menentukan
kehidupan ikan, pernapasan akan terganggu bila oksigen kurang dalam
perairan. Hasil pengukuran kandungan oksigen terlarut rata-rata selama
penelitian pada perlakuan A = 5,4ppm dan pada perlakuan B = 5,2ppm.
Menurut Kordi dan Tancung (2007), beberapa jenis ikan mampu bertahan
hidup pada perairan dengan konsentrasi oksigen 3 ppm, namun
konsentrasi oksigen terlarut yang baik untuk hidup ikan adalah 5 ppm.
Pada perairan dengan konsentrasi oksigen dibawah 4 ppm, beberapa jenis
ikan masih mampu bertahan hidup, akan tetapi nafsu makannya mulai
menurun. Untuk itu, konsentrasi oksigen yang baik dalam budidaya
perairan adalah antara 5-7 ppm. Pada penelitian ini kandungan oksigen
terlarut umumnya sudah cukup baik, dengan demikian dapat dinyatakan
bahwa kandungan oksigen terlarut selama masa penelitian dalam 10
minggu cukup baik dalam menunjang pertumbuhan ikan. Berdasarkan
analisis korelasi DO terhadap pertumbuhan relatif (%) ikan nila
(Oreochromis sp) selama masa penelitian dihasilkan R2 = 38,9% atau
0,389, hal ini menunjukan bahwa tingkat hubungan yang rendah antara
DO dan pertumbuhan relatif.
Derajat Keasaman (pH)
Derajat keasaman (pH) rata-rata setiap 2 (dua) minggu pada setiap
perlakuan selama penelitian menunjukan bahwa pH perairan pada
perlakuan A adalah 5,1, sedangkan perlakuan adalah B 5,3.

Menurut Kordi dan Tancung (2007), menyatakan bahwa dalam budidaya


pada pH 5 masih dapat ditolerir oleh ikan tapi pertumbuhan ikan akan
terhambat. Namun ikan dapat mengalami pertumbuhan yang optimal
pada pH 6,5-9,0. Menurut Asmawi (1983), bahwa derajat keasaman yang
masih dapat ditolerir oleh ikan air tawar adalah 4,0. Sedangkan
menurut Anonim (2010), pH air yang baik untuk budidaya ikan nila adalah
6 8,5 dengan kisaran optimum 7 8. Dengan demikian, kisaran derajat
keasaman selama penelitian masih berada dalam batas yang cukup baik
bagi ikan.
Berdasarkan analisis korelasi pH terhadap pertumbuhan relatif (%) ikan
nila (Oreochromis sp) selama masa penelitian dihasilkan R2 = 38,9% atau
0,389, hal ini menunjukan bahwa tingkat hubungan yang rendah antara
pH dan pertumbuhan relatif.
Kecerahan
Kecerahan yang diukur setiap 2 (dua) minggu pada setiap perlakuan
selama penelitian menunjukan bahwa kecerahan rata-rata perairan
berkisar antara 20 30 cm.
Kekeruhan pada kolam beton maupun terpal diduga disebabkan oleh
fitoplankton karena terlihat dari air yang berwarna hijau muda.
Menurut Kordi dan Tancung (2007), kekeruhan yang baik adalah
kekeruhan yang disebabkan oleh jasad-jasad renik atau plankton. Adapun
tingkat kecerahan yang baik untuk kehidupan ikan adalah 30-40 cm yang
di ukur dengan menggunakan secchi disk. Apabila kedalaman kurang dari
25 cm, maka pergantian air harus cepat dilakukan sebelum fitoplankton
mati
berurutan yang diikuti penurunan oksigen terlarut secara drastis.
Ditambahkan oleh Anonim (2010), bahwa kisaran kecerahan yang disukai
oleh ikan nila

adalah 20 - 35 cm. Berdasarkan analisis korelasi kecerahan terhadap


pertumbuhan relatif (%) ikan nila (Oreochromis sp) selama masa
penelitian dihasilkan R2 = 38,9% atau
0,389, hal ini menunjukan bahwa tingkat hubungan yang rendah antara
kecerahan dan pertumbuhan relatif.
Amoniak (NH3)
Menurut Kordi dan Tancung (2007), kadar amoniak (NH3) yang terdapat
dalam perairan umumya merupakan hasil metabolisme ikan berupa
kotoran padat (faces) dan terlarut (amonia), yang dikeluarkan lewat anus,
ginjal dan jaringan insang. Kotoran padat
dan sisa pakan tidak termakan adalah bahan organik dengan kandungan
protein tinggi yang diuraikan menjadi polypeptida, asam-asam amino dan
akhirnya amonia sebagai produk akhir dalam kolam. Makin tinggi
konsentrasi oksigen, pH dan suhu air makin tingi
pula konsentrasi NH3. Asmawi (1983), menyatakan bahwa amoniak
terlarut yang baik untuk kelangsungan hidup ikan kurang dari 1 ppm.
Hasil pengukuran dari kadar amoniak (NH3) pada perlakuan A awal adalah
3 mg/l dan pada akhir penelitian adalah 5 mg/l, sedangkan pada
perlakuan B awal adalah 1 mg/l dan pada akhir penelitian adalah 3 mg/l.
Hal ini berarti kadar amoniak mengalami peningkatan dari awal sampai
akhir penelitian baik pada perlakuan A maupun perlakuan B kadar
amoniak juga mengalami peningkatan, hal ini disebabkan karena adanya
sisa-sisa makanan yang tidak termakan oleh ikan uji selama penelitian
serta kotoran yang dihasilkan. Berdasarkan analisis korelasi NH3 terhadap
pertumbuhan relatif (%) ikan nila (Oreochromis sp) selama masa
penelitian dihasilkan R2 = 38,9% atau 0,389, hal ini menunjukan bahwa
tingkat hubungan yang rendah antara NH3 dan pertumbuhan relatif.
2. Pertumbuhan
Pertumbuhan berat ikan nila (Oreochromis sp) selama pemeliharaan,
diperoleh dari hasil penimbangan setiap 2 (dua) minggu sekali. Kecepatan

pertumbuhan relatif (%) pada waktu pemeliharaan selama 2 minggu


dapat di lihat pada tabel 1 dibawah ini.
Dari Tabel 1 dapat terlihat bahwa kecepatan pertumbuhan relatif (%) ikan
nila (Oreochromis sp) sampai akhir masa pemeliharaan adalah pada
perlakuan A dan B mengalami pertumbuhan yang tidak jauh berbeda. Dari
hasil Uji t pertumbuhan relatif menunjukan bahwa pertumbuhan pada
pemeliharaan ikan antara perlakuan A dan B adalah thitung < t0,05(n - 1)
terima Ho : sehingga disimpulkan bahwa data menunjukan tidak ada
perbedaan yang nyata antara perlakuan A dan B.
Tabel 1. Kecepatan pertumbuhan relatif (%) ikan nila (Oreochromis sp)
selama pemeliharaan.

Tinggi pertumbuhan relatif ikan uji pada perlakuan A maupun perlakuan B


disebabkan oleh padat penebaran yang rendah sehingga tidak terjadi
kompetisi terhadap ruang gerak serta makanan yang diberikan dapat
dimanfaatkan secara optimal oleh ikan serta kondisi air yang cukup baik
bagi pertumbuhan ikan. Hal ini sesuai dengan pendapat Mantau (2005)
yang
menyatakan bahwa padat penebaran, kualitas pakan serta kualitas air
yang baik dapat menunjang pertumbuhan ikan.
Untuk jelasnya, kecepatan pertumbuhan relatif (%) selama masa
pemeliharaan dari kedua perlakuan dapat dilihat pada grafik gambar 2.
Dari grafik tersebut dapat terlihat dari setiap

perlakuan menunjukan pertumbuhan ikan nila (Oreochromis sp) yang


dipelihara masih meningkat pada setiap 2 (dua) minggu, dimana
pertumbuhan relatif perlakuan A lebih tinggi dibandingkan perlakuan B.

Gambar 2. Gambar kecepatan pertumbuhan relatif (%) ikan nila


(Oreochromis sp.) dari masing-masing perlakuan selama masa penelitian.
3. Mortalitas
Mortalitas merupakan persentase dari jumlah ikan yang mati dari
populasi. Selama berlangsungnya penelitian dalam waktu 10 minggu tidak
ada mortalitas (tingkat
mortalitas 0%). Tidak adanya mortalitas selama penelitian menunjukan
kemampuan dari ikan nila (Oreochromis sp) yang dipelihara dalam kolam
beton dan terpal mampu beradaptasi dengan lingkungan perairan.
Menurut Suyanto (1993), ikan nila terkenal sebagai
ikan yang sangat tahan terhadap perubahan lingkungan hidup dan
memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap berbagai jenis air.

BAB V
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan selama 10 minggu masa


pemeliharaan ikan nila maka dapat disimpulkan bahwa kualitas air yang
meliputi suhu, Oksigen terlarut (DO), Derajat keasaman (pH), Kecerahan,
dan Amoniak (NH3) masih masuk dalam kisaran yang dapat ditolerir oleh
ikan nila. Pertumbuhan relatif ikan nila pada perlakuan A lebih tinggi dan
dibandingkan dengan perlakuan B. Meskipun demikian namun hasil Uji t
menunjukkan
tidak ada perbedaan signifikan antara kedua perlakuan. Hubungan antara
kualitas air dan pertumbuhan relatif menunjukan tingkat hubungan yang
rendah.

Daftar Pustaka

Kualitas Air yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis


sp.) di Kolam Beton dan Terpal
Shinta Sylvia Monalisa 1 dan Infa Minggawati2
1

Staf Pengajar Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Palangka

Raya.
Email: shinta_monalisa@yahoo.co.id
2

Staf Pengajar Fakultas Perikanan Universitas Kristen Palangka Raya