Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tujuan pembangunan ekonomi nasional adalah sebagai upaya untuk membangun seluruh
kehidupan masyarakat, bangsa dan negara, yaitu memajukan kesejahteraan umum, seperti
yang tersurat pada alinea IV Pembukaan UUD 1945. Pembangunan sebagai salah satu
cermin pengamalan Pancasila terutama sila kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat
Indonesia, yaitu upaya peningkatan pembangunan dan hasil-hasilnya menuju kepada
tercapainya kemakmuran seluruh rakyat Indonesia. Arah dan kebijakan pembangunan
daerah adalah untuk memacu pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya dalam rangka
meningkatkan kesejahteraan rakyat, meningkatkan prakarsa dan peran serta aktif
masyarakat serta meningkatkan pendayagunaan potensi daerah secara optimal dan terpadu
dalam mengisi otonomi daerah yang nyata, dinamis, serasi dan bertanggung jawab serta
memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Karena itu penting dan sangat krusial untuk
mewujudkan tercapainya keselarasan, keserasian dan keseimbangan antara kemajuan
lahiriah dan kepuasan batiniah sehingga keadilan dan pemerataan hasil-hasil pembangunan
merata di seluruh tanah air. Hal tersebut tidak mungkin tercapai dalam waktu singkat
tetapi memerlukan waktu, karena itu yang paling penting adalah semua upaya harus
diarahkan sedemikian rupa sehingga proses-proses dan pelasanaan pembangunan setiap
tahun makin mendekatkan pada tujuan nasional. Berdasarkan UU No. 32 tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah, pemerintah daerah mempunyai kewenangan yang lebih luas
untuk mengatur dan mengelola berbagai urusan penyelenggaraan pemerintah bagi
kepentingan dan kesejahteraan masyarakat daerah yang bersangkutan. Sedangkan dalam
hal pembiayaan dan keuangan daerah diatur dalam UU No. 33 tahun 2004 tentang
Perimbangan Keuangan Antara Pusat dan Daerah tidak hanya kesiapan aparat pemerintah
saja tetapi juga masyarakat untuk mendukung pelaksaan otonomi daerah dengan
pemanfaatan sumber-sumber daya secara optimal.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian-uraian pada latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah
dalam penelitian ini adalah sektor-sektor ekonomi apa saja yang paling strategis dan
potensial untuk dikembangkan sebagai penunjang pertumbuhan ekonomi di Provinsi
Sulawesi Tenggara?
1

C. Tujuan dan Manfaat


Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
sektor-sektor ekonomi apa saja yang paling strategis dan potensial untuk dikembangkan
selain sektor-sektor yang sudah ada sebagai penunjang pertumbuhan ekonomi di Provinsi
Sulawesi Tenggara.
Manfaat Penelitian
Bagi Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara Memberikan informasi bahwa ada sektor
sektor lain yang dapat dikembangkan untuk kemajuan Provinsi Kalimantan Barat selain
sektor yang sudah ada.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Sektor Unggulan
Pembangunan ekonomi dapat tercermin dari timbulnya perbaikan dalam
kesejahteraan ekonomi masyarakat. Kesejahteraan masyarakat dapat dicapai jika
pertumbuhan ekonomi

yang dihasilkan cukup tinggi, akan tetapi jika pertumbuhan

ekonomi yang dihasilkan oleh suatu bangsa atau Negara itu rendah maka akan
memperlambat penyediaan berbagai sarana laju pembangunan ekonomi itu sendiri.
Pertumbuhan ekonomi modern dapat diartikan sebagai kenaikan dalam produk
perkapita dari

penduduk. Pertumbuhan ekonomi yang pesat mendorong prasarana

perekonomian yang dibutuhkan untuk mempercepat pembangunan ekonomi. Dengan


adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi.
Pembangunan ekonomi Sulawesi Tenggara salah satunya dicerminkan oleh output
regional Sultra ssebagaiamana Tabel 1 yang menunjukan

bahwa dari tahun

2011

sampai dengan tahun 2014 masih tetap didominasi oleh sektor pertanian. Hal ini dapat
dilihat dari peranan sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto
(PDRB) Sulawesi Tenggara atas dasar harga berlaku, serta untuk sektor ekonomi yang
lain dari tahun 2011-2014 selalu mengalami peningkatan.
Sulawesi

Tenggara

memiliki karateristik struktur penyerapan tenaga kerja

yang identik dengan provinsi yang lain di pulau Sulawesi. Sektor pertanian masih
merupakan sektor yang mempunyai peranan terbesar terhadap penyerapan tenaga kerja
dan PDRB di Provinsi Sulawesi Tenggara, sebagaimana disajikan pada Tabel 2.
Tabel 1 dan Tabel 2 menunjukkan bahwa Provinsi Sulawesi Tenggara baik dari aspek
output (PDRB) maupun tenaga kerja secara dominan ditopang oleh sektor pertanian.
Namun penyerapan tenaga kerja menunjukkan kodisi menurun jika dibandingkan tahun
2011, yang diikiti oleh peningkatan tenaga kerja untuk sektor lain. Dengan melihat
perkembangan

masing-masing

sektor

dalam

memberikan

kontribusi

terhadap

pembentukan PDRB Sulawesi Tenggara yang mengalami pasang surut, diperlukan


pengkajian

terhadap

sektor-sektor unggulan di Sulawei Tenggara dalam rangka

pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Dengan mengetahui dan memahami kinerja

sector unggulan dalam pembangunan maka pemerintah dapat menentukan kebijakan


khususnya yang terkait dengan lapangan pekerjaan pada sektor unggulan dalam upaya
peningkatkan kesejahteraan masyarakat.
3

Tabel 1
Jumlah PDRB SULTRA Sektor Ekonomi (juta) Atas Dasar Harga BerlakuTahun 20112014
PDRB
Primer
Sekunder

Tersier

2011

Pertanian
Pertambangan
12.17887
Industri
3.16127
Listrik, Gas, & Air
2.49512
Kontruksi
43962
Perdagangan
3.63070
Transportasi
& komunikasi
8.05416

9.41418
1.39127
2.02606
26256
2.34417
5.14182
2.63652

Keuangan
3.60303
Jasa-Jasa
2.54640
Sumber : BPS Sultra
2013, 2015
4.66403

2012

2013

10.23458
1.94832
2.21759
29636
2.74211
5.96373
2.95008

11.17059
2.83845
2.32680
35994
3.21692
6.98544
3.28785

1.56923

1.90573

2.18399

3.58577

3.85456

4.23076

2014

Tabel 2
JumlahTenaga Kerja Menurut Lapangan Pekerjaan (jiwa) SULTRA Tahun 2011
- 2014
Primer
Sekunder

Tersier

TenagaKerja
2014
Pertanian
178
Pertambangan
241
Industri
423
Listrik, Gas,& Air
546
Kontruksi
169
Perdagangan
476
Transportasi & komunikasi
597
Keuangan
787

2011

2012

2013

467 200
38 159
51 782
1 901
54 277

394 225
31 608
63 469
1 983
62 430

402 377
29 818
55 217
2 533
53 269

442
26
53
2
61

169 917

180 974

176 665

193

54 418
11 538

47 715
11 749

47 501
15 711

45
16

Sumber : BPS Sultra 2013, 2015

Terlebih lagi, di era ekonomi saat ini pembangunan ekonomi lokal mesti
dijalankan di atas basis potensi lokal yang ditopang oleh basis pengetahuan (knowlege).
Dalam konteks ekonomi berbasis potensi lokal ini, penentuan sektor unggulan sebagai
prioritas patut dipertimbangkan. Dengan demikian kiranya perlu untuk dilakukan suatu

kajian terhadap sektor unggulan di provinsi Sulawesi Tenggara, sekaligus bagaimana


penyerapan tenaga kerja pada sektor unggulan tersebut.
B. Teori Basis Ekonomi
Perekonomian regional dapat dibagi menjadi dua sektor, yaitu kegiatan-kegiatan
basis dan kegiatan-kegiatan bukan basis.Kegiatankegiatan basis adalah kegiatankegiatan yang mengekspor barang-barang atau jasa-jasa ke tempat di luar batas-batas
perekonomian masyarakat yang bersangkutan atau yang memasarkan barang-barang
atau jasa-jasa mereka kepada orang-orang di luar perbatasan perekonomian masyarakat
yang bersangkutan. Kegiatan-kegiatan bukan basis adalah kegiatan-kegiatan yang
menyediakan barang-barang yang dibutuhkan oleh orang-orang yang bertempat tinggal
di dalam batas-batas perekonomian masyarakat yang bersangkutan. Kegiatan-kegiatan
ini tidak mengekspor barang-barang, jadi luas lingkup produksi mereka dan daerah
pasar mereka yang terutama adalah bersifat lokal (Glasson, 1977). Teori ekonomi
basis menyatakan bahwa faktor penentu utama pertumbuhan ekonomi suatu daerah
adalah berhubungan langsung dengan permintaan akan barang dan jasa dari luar daerah.
Pertumbuhan industri-industri yang menggunakan sumber daya lokal, termasuk tenaga
kerja dan bahan baku untuk diekspor akan menghasilkan kekayaan daerah dan
penciptaan peluang kerja (Arsyad, 1999).
Salah satu metode yang dapat diterapkan untuk mengidentifikasikan apakah suatu
sektor atau sub sektor ekonomi tergolong kategori basis atau non basis adalah dengan
menggunakan metode Location Quotient (LQ), yaitu dengan membandingkan antara
pangsa relatif pendapatan (tenaga kerja) sektor i pada tingkat wilayah terhadap
pendapatan total wilayah dengan pangsa relatif pendapatan sektor i pada tingkat
nasional terhadap pendapatan total nasional. Apabila nilai LQ suatu sektor ekonomi 1
maka sektor ekonomi tersebut merupakan sektor basis dalam perekonomian daerah yang
bersangkutan, sedangkan bila nilai LQ suatu sektor atau sub sektor ekonomi < 1 maka
sektor atau sub sektor ekonomi tersebut merupakan sektor non basis dalam
perekonomian daerah yang bersangkutan.
Logika dasar LQ adalah teori basis ekonomi yang intinya adalah karena industri
basis menghasilkan barangbarang dan jasa untuk pasar di daerah maupun di luar daerah
yang bersangkutan, maka penjualan keluar daerah akan menghasilkan pendapatan bagi
daerah tersebut. Selanjutnya, adanya arus pendapatan dari luar daerah ini menyebabkan
terjadinya kenaikan konsumsi (consumption, C) dan investasi (investment, I) di daerah
5

tersebut. Hal terebut selanjutnya akan menaikkan pendapatan dan menciptakan


kesempatan kerja baru. Peningkatan pendapatan tersebut tidak hannya menaikkan
permintaan terhadap industri basis, tetapi juga menaikkan permintaan akan industri non
basis (lokal). Kenaikan permintaan (demand) ini akan mendorong kenaikan investasi
pada industri yang bersangkutan dan juga industri lain (Robinson Tarigan, 2005).
Kelemahan dari metode LQ adalah bahwa kriteria ini bersifat statis karena hanya
memberikan gambaran pada satu titik waktu. Artinya bahwa sektor basis (unggulan)
tahun ini belum tentu akan menjadi unggulan pada masa yang akan datang, sebaliknya
sektor yang belum menjadi basis pada saat ini mungkin akan unggul pada masa yang
akan datang. Untuk mengatasi kelemahan LQ sehingga dapat diketahui reposisi atau
perubahan sektoral digunakan analisis varians dari LQ yang disebut DLQ(Dinamic
Location Quotient) yaitu dengan mengintroduksikan laju pertumbuhan dengan asumsi
bahwa setiap nilai tambah sektoral ataupun PDRB mempunyai rata-rata laju
pertumbuhan pertahun sendiri-sendiri selama kurun waktu tahun awal dan tahun
berjarak.

Prinsip

DLQ

sebenarnya

masih

sama dengan

LQ,

hanya

untuk

mengintroduksikan laju pertumbuhan digunakan asumsi bahwa nilai tambah sektoral


maupun PDRB mempunyai rata-rata laju pertumbuhan sendiri-sendiri selama kurun
waktu antara tahun (0) dan tahun (t).
Tafsiran atas DLQ sebenarnya masih sama dengan LQ, kecuali perbandingan ini
lebih menekankan pada laju pertumbuhan. Jika DLQ = 1, berarti laju pertumbuhan
sektor I terhadap laju pertumbuhan PDRB daerah n sebanding dengan laju pertumbuhan
sektor tersebut terhadap PDB nasional. Jika DLQ < 1, artinya proporsi laju pertumbuhan
sektor I terhadap laju pertumbuhan PDRB daerah n lebih rendah dibandingkan laju
pertumbuhan sektor tersebut terhadap PDB nasional.Sebaliknya, jika DLQ > 1, berarti
proporsi laju pertumbuhan sektor i terhadap laju pertumbuhan PDRB daerah n lebih
cepat dibandingkan laju pertumbuhan sektor tersebut terhadap PDB nasional. Pada masa
depan, kalau keadaan masih tetap sebagaimana adanya saat ini, maka dapat diharapkan
bahwa sektor ini unggul pada masa mendatang (Robinson Tarigan,2005).
Teori dan Konsep Keunggulan Komparatif
Keunggulan adalah kelebihan yang melekat pada suatu komoditi yang dihasilkan
suatu negara dibandingkan dengan komoditi serupa yang diproduksi di negara lain. Ada
beberapa faktor yang dapat menjadikan suatu komoditi mempunyai keunggulan tertentu
yaitu

fakyor alam, faktor biaya produksi, dan faktor teknologi. Pada dasarnya
6

keunggulan komparatif adalah usaha untuk memaksimalkan pendapatan suatu


negara/daerah melalui spesialisasi komoditi-komoditi lain. Jenis komoditas mana yang
seharusnya diutamakan produksinya oleh suatu perekonomian.
Prinsip keunggulan komparatif merupakan salah satu gagasan dalam ilmu
ekonomi yang lahir untuk kemudian menjadi landasan oleh berbagai teori perdagangan
internasional.Teori perdagangan internasional Yang mengacu pada prinsip keunggulan
komparatif mencoba menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi pola perdagangan
antara negara yang menyangkut dua aspek. Pertama, aspek normatif, yaitu usaha untuk
mencapai pola perdagangan dan produksi yang optimal dipandang dari sudut masingmasing negara maupun dunia secara keseluruhan, clan yang kedua, aspek positif yang
menyangkut pertanyaan mengenai pola perdagangan dan produksi yang akan terjadi bila
dibuka perdagangan antara negara dengan kondisi pasar tertentu. Pada dasarnya
konsepnya keunggulan komparatif merupakan cara yang dapat menolong kita untuk
memahami bagaimana perbedaan diantara negara-negara (daerah-daerah) menimbulkan
perdagangan dan mengapa perdagangan ini saling menguntungkan.
Dalam teori ekonomi, keunggulan komparatif mempunyai peran dalam proses
realokasi sumber-sumber, dimana hubungan berdasarkan perbandingan biaya dapat
diperkirakan dalam menentukan sampai tingkat tertentu pola spesialisasi internasional.
Dalam perdagangan yang didasarkan pada keunggulan komparatif ini mekanisme pasar
diharapkan dapat berjalan efektif, sehingga pengendoran dari pembatasan-pembatasan
dalam perdagangan akan mendorong realokasi sumber-sumber, kearah struktur produksi
dan perdagangan yang lebih baik, yang didasarkan pada keunggulan komparatif.
Ricardo, merupakan orang pertama yang menjabarkan keunggulan komparatif
dalam suatu kerangka teori. Disusul oleh Heckscher dan Ohlin dengan faktor
produksinya, teori keunggulan ini selanjutnya terus berkembang (Syafril Hadis, 1996).
Pada mulanya teori perdagangan internasional dikemukakan oleh Adam Smith (aliran
klasik) yang menyebutkan perdagangan internasional berdasarkan spesialisasi dan
opembagian kerja antar negara, akibatnya terdapat keuntungan absolut. Menurut Adam
Smith tiap negara tersebut menghasilkan salah satu saja agar adanya spesialisasi dan
pembagian kerja antar negara, dimana negara A tetap memproduksi barang X karena
biaya produksinya lebih murah daripada biaya produksi barang X di negara B.
Sebaliknya negara B tetapmemproduksi barang Y karena biaya produksinya lebih
murah dibandingkan dengan negara A. Sehingga kedua negara tersebut sama-sama

untung, karena masing-masing mempunyai keuntungan absolut pada satu jenis barang
tertentu.
Dengan kata lain spesialisasi internasional yang dilakukan dimana masingmasing akan berusaha untuk menekankan produksinya pada barang-barang tertentu
yang sesuai dengan keuntungan yang dimilikinya, baik itu keuntungan alamiah ataupun
keuntungan yang diperkembangkan. Keuntungan alamiah adalah keuntungan yang
diperoleh karena suatu negara memiliki sumber daya alam yang tidak dimiliki oleh
negara lain, baik dalam kualitas maupun dalam kuantitas. Keuntungan yang
diperkembangkan adalah keuntungan yang diperoleh karena suatu negara telah mampu
mengembangkan kemampuan dan keterampilan dalam menghasilkan produk-produk
yang diperdagangkan dimana belum dimiliki oleh negara lain. Dengan demikian,
masing-masing negara yang melakukan spesialisasi dalam produksi barang-barang yang
mempunyai keuntungan mutlak. Keuntungan mutllak diartikan sebagai keuntungan
yang dinyatakan dengan banyaknya jam/hari kerja yang dibutuhkanuntuk membuat
barang-barang tersebut, Keuntungan ini akan diperoleh apabila masingmasing negara
mampu memproduksi barang-barang tertentu dengan jam/hari yang lebih sedikit
dibandingkan dengan seandainya barang-barang itu dapat dibuat oleh negara lain.
Spesialisasi menurut Smith, juga memungkinkan terjadi pertukaran barangbarang yang diproduksikan secara berlebihan (surplus) dengan barang-barang lain yang
dibutuhkan.Spesialisasi dapat menyebabkan produksi suatu barang melampaui jumlah
yang diminta di dalam negeri. Melalui perdagangan luar negeri surplus ini dapat
ditukarkan dengan barang lain yang dihasilkan oleh negara lain juga berada dalam
keadaan surplus, sehingga masing-masing negara dapat memperoleh keuntungan karena
bertambahnya macam barang-barang yang dapat di konsumsi. Teori Adam Smith
memang masih sangat sederhana. Smith tidak mempersoalkan kemungkinan adanya
negara-negara yang sama sekali tidak memiliki keuntungan mutlak dalam produksi
suatu barangpun terhadap negara-negara lain. Demikian pula Smith tidak menjelaskan
berapa besar dasar tukar yang akan terjadi seandainya negara-negara itu jadi melakukan
perdagangan internasional. Serta berapa besamya manfaat yang akan diperolehmasingmasing negara dari perdagangan tersebut. Dari kelemahan-kelemahan inilah akhirnya
muncul perbaikan-perbaikan yang datang dari beberapa ahli seperti Ricardo dan Mill.
Ricardo memperbaiki kelemahan-kelemahan dalam analisa Adam Smith dengan
membedakan dua keadaan, yaitu pertama, didalam negeri perdagangan akan dijalankan
atas dasar ongkos tenaga kerja saja. Kedua, perdagangan luar negeri, dilain pihak, tidak
8

mungkin dilakukan atas dasar keuntungan/ongkos mutlak, menurut Ricardo aturan yang
sama mengatur nilai relatif komoditi-komoditi dalam suatu negara tidaklah mengatur
nilai relatif komoditi-komoditi yang dipertukarkan antara dua negara atau lebih. Teori
keunggulan komparatif yang di kemukakan oleh Ricardo mencoba melihat keuntungan
atau kerugian dalam perbandingan relative. Teori ini berlandaskan pada asumsi
1)

Labor Theory Of Value, yaitu bahwa nilai suatu barang ditentukan oleh jumlah
tenaga kerja yang dipergunakan untuk menghasilkan barang tersebut, dimana nilai
barang yang ditukar seimbang dengan jumlah tenaga kerja yang dipergunakan
untuk memproduksinya.

2) Perdagangan internasional dilihat sebagai pertukaran barang dengan barang.


3) Tidak diperhitungkan biaya dari pengangkutan dan lain-lain dalam halpermasaran.
4)

Produksi dijalankan dengan biaya tetap, hal ini berarti skala produksi tidak
berpengaruh.

5) Faktor produksi sama sekali tidak mobile antar negara. Oleh karena itu .suatu
negaraakan

melakukan

spesialiasi

dalam

produksi

barang-barang

dan

mengekspornya bila mana negara tersebut mempunyai keuntungan dan mengimpor


barang-barang yang dibutuhkanjika mempunyai kerugian dalam memproduksi.
Pada sisi lain, teori proporsi faktor-faktor produksi H-O memiliki konsep bahwa
masing-masing negara memiliki faktor-faktor produksi (tanah, tenaga kerja, modal)
dalam perbandingan yang berbeda-beda, sedang untuk menghasilkan suatu barang
tertentu diperlukan kombinasi faktor-faktor produksi yangtertentu pula. Jadi untuk
menghasilkan sesuatu barang macam barang tertentu fungsi produksinya dimanapun
juga sama, namun proporsi masing-masing faktor produksi dapatlah berlainan (karena
adanya kemungkinan penggantian/subtitusi faktor yang satu dengan faktor yang lainnya
dalam batas-batas tertentu). Dengan demikian Ohlin menjelaskan bahwa perbedaan
harga yang terjadi untuk barang yang sama diantara dua/ lebih negara disebabkan
karena perbedaan dalam proporsi serta intensitas faktor-faktor yang digunakan untuk
menghasilkan barang tersebut.
Teori dan Konsep Keunggulan Kompetitif
Keunggulan kompetitif adalah kemampuan suatu komoditi yang memasuki pasar
Luar Negeri dan kemampuan untuk dapat bertahan dalam pasar itu. Daya saing suatu
komoditi dapat diukur atas dasar perbandingan Pangsa Pasar komoditi itu pada kondisi
pasar yang tetap. Lebih lanjut, faktor keunggulan komparatif dapat dianggap sebagai
9

faktor yang bersifat alamiah dan faktor keunggulan kompetitif dianggap sebagai faktor
yang bersifat acquired atau dapat dikembangkan/diciptakan (Tambunan, 2001). Selain
dua faktor tersebut, tingkat daya saing suatu negara sesungguhnya juga dipengaruhi
olehapa yang disebut Sustainable Competitive Advantage (SCA) atau keunggulan
kompetitif t berkelanjutan.Ini terutama menghadapi tingkat persaingan global yang
sedemikian lama menjadi sedemikian ketat/keras atau Hyper Competitive. Menurut
(Tambunan, 2001). Daya saing ditentukan oleh faktor langsung dan faktor tidak
langsung. Faktor langsung diantaranya: mutu komoditi, biaya produksi dan penentuan
harga jual, ketepatan waktu penyerahan (delivery time), intensitas promosi, penentuan
saluran pemasaran, dan layanan purna jual. Sementara faktor tidak langsung terdiri dari:
ondisi sarana pendukung ekspor, incentive atau subsidi pemerintah untuk ekspor,
kendala tarif dan non tarif, tingkat efisiensi dan disiplin nasional, dan kondisi ekonomi
global.
Konsep Ketenagakerjaan
Tenaga kerja menurut UU No.13 tahun 2003 adalah setiap orang

mampu

melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan atau jasa baik


memenuhi

kebutuhan

sendiri maupun

masyarakat.Berdasarkan

untuk

UU No.25

tahun,1997 tentang ketenagakerjaan yang di tetapkan tanggal 2 oktober 1998 telah


ditentukan bahwa batasan minimal usia seorang tenaga kerja di Indonesia adalah
10 tahun atau lebih. Namun Indonesia tidak menganut batasan maksimal usia
tenaga kerja karena Indonesia belum mempunyai jaminan sosial yang memadai.
Sedangkan BPS membagi tenaga kerja dalam tiga kelompok :
1) tenaga kerja belum bekerja atau sementara tidak bekerja adalah tenaga kerja
yang bekerja dengan jam kerja 0 1 jam dalam seminggu. Sedangkan menurut
payaman simanjutak mengatakan bahwa tenaga kerja atau manpower adalah
tenaga kerja yang mencakup penduduk yang sudah atau sedang berkerja, yang
sedang mencari kerja dan mengurus rumah tangga. Tiga golongan yang
disebut

terakhir walaupun

sedang tidak bekerja dianggap secara

fisik

mampu dan sewaktu waktu dapat ikut bekerja.


2) Tenaga kerja penuh adalah tenaga yang mempunyai jumlah jam kerja 35
jam dalam seminggu dengan hasil kerja tertentu sesuai uraian tugas.
3) Tenaga kerja tidak penuh atau setengah pengangguran adalah tenaga kerja
dengan jam kerja < 35 jam dalam seminggu.
10

Secara praktis pengertian tenaga kerja atau bukan tenaga kerja hanya
dibedakan oleh batasan umur. Pada tiap-tiap Negara mempuyai batasan-batasan
umur tertentu bagi setiap tenaga kerja. Tujuan dari penentuan batas umur ini adalah
supaya definisi

yang

diberikan dapat

sebenarnya.Tiap Negara memilih

batasan

menggambarkan kenyataan yang


umur

yang berbeda- beda karena

perbedaan situasi tenaga kerja di masing- masing Negara yang berbeda. Dari
beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan Bahwa tenaga kerja di Indonesia
adalah penduduk yang berusia 15 tahun ke atas yang ikut berpartisipasi dalam
proses produksi untuk Menghasilkan barang dan jasa guna memenuhi kebutuhan
masyarakat.
Selanjutnya,angkatan kerja dibedakan pula menjadi dua yaitu kelompok
pekerja

dan

penganggur. Pekerja adalah Orangorang yang mempunyai pekerjaan,

mencakuporangyangMempunyai

pekerjaan, dan

memang sedang

bekerkja, serta

orang yang Mempuyai pekerjaan namun untuk sementara waktu kebetulan sedang
tidak

bekerja. Adapun

yang

dimaksud

penganggur

adalah

orang yang tidak

mempunyai pekerjaan. Pertumbuhan lapangan kerja relatif lambat menyebabkan


masalah pengangguran di Negara sedang berkembang menjadi semakin serius. Tingkat
Pengangguran terbuka di perkotaan hanya menunjukkan aspek-aspek yang tampak
saja dari

masalah kesempatan

kerja

di Negara sedang Berkembang yang

bagaikan ujung sebuah gunung es. Hasil studi ditunjukkan

bahwa sekitar 30

persen dari penduduk perkotaan di Negara sedang berkembang bisa tidak bekerja
secara penuh. Untuk itu dalam mengurangi masalah ketenagakerjaan yang dihadapi
Negara sedang berkembang perlu

adanya solusi yaitu, memberikan upah yang

memadai dan menyediakan kesempatan kesempatan kerja kelompok orang miskin.


Oleh karena itu,

peningkatan kesempatan kerja merupakan

unsur

yang

paling

esensial dalam setiap strategi pembangunan yang menitikberatkan kepada penurunan


pengangguran. (Soebroto, 1996)
3.

Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan data sekunder berciri time series periode 2004-2013

yang diperoleh melalui publikasi Badan Pusat Statistik.

11

Data

dianalisis

dengan Location Quotient (LQ) baik dalam menentukan

sektor unggulan maupun sektor basis tenaga kerja. Analisis sektor unggulan dilakukan
dengan membandingkan besarnya peranan suatu sektor di suatu daerah terh
ya

peranan

sektor

tersebut

secara

nasional.

Variabel

yang

di

gunakan

kat pendapatan), dengan rumus:

LQ=

Xi/ PDRB
XI /PNB

Keterangan:
xi
PDRB
Xi
PNB

= Nilai tambah sektor i di suatu daerah


= Produk Domestik Regional Bruto daerah tersebut
= Nilai tambah sektor i secara nasional
= Produk Nasional Bruto atau GNP

Inter prestasi rumus adalah sebagai berikut :


1. Apabila LQ> 1 artinya peranan sektor tersebut di daerah itu lebih menonjol dari
pada peranan sektor itu secara nasional.
2. Apabila LQ < 1 artinya peranan sektor tersebut di daerah itu lebih kecil dari
pada peranan sektor itu secara nasional.
Analisis LQ penyerapan tenaga kerja melakukan membandingkan porsi lapangan
kerja terhadap nilai tamba dibandingkan dengan porsi lapangan kerja tambah
untuk sektor dengan rumus:
LQ=

li/e
Li / E

Keterangan :
li
e
Li
E

=
=
=
=

Banyaknya lapangan kerja sektor i di wilayah analisis


Banyaknya lapangan kerja di wilayah analisis.
Banyaknya lapangan kerja sektor i secara nasional
Banyak lapangan kerja secara nasional

Interprestasi rumus adalah sebagai berikut :


1. Apabila LQ > 1 berarti bahwa penyerapan tenaga kerja sektor i di wilayah lebih
besar di bandingkan dengan penyerapan tenaga lapangan kerja untuk sektor yang
sama secara nasional. Artinya sektor i di wilayah kita melebihi porsi sektor i
secara nasional.

12

2. Apabila LQ < 1 berarti bahwa penyerapan tenaga kerja sektor i di wilayah lebih
kecil di bandingkan dengan penyerapan tenaga kerja untuk sektor yang sama
secara nasional. Artinya penyerapan tenaga kerja sektor i di wilayah kita kurang
dari sektor i secara nasional.

C. Pembahasan
Sektor Unggulan dan Penyerapan Tenaga Kerja Propinsi Sulawesi Tenggara
Hasil analisis sektor unggulan dengan pendekatan LQ disajikan sebagaimana
Tabel 3 yang menunjukkaan bahwa sektor yang memiliki peranan lebih besar (LQ > 1)
yakni sektor pertanian dan sektor jasa secara umum kecuali sektor keuangan. Sektor
yang memiliki peranan lebih kecil (LQ < 1) di provinsi Sulawesi Tenggara sepanjang
tahun 2004-2013 antara lain: pertambangan, industri, dan keuangan.
Pada sisi lain, penyerapan tenaga kerja provinsi Sulawesi Tenggara disajikan
sebagaimana Tabel 4 menunjukkan bahwa sektor pertanian merupakan sektor dengan
penyerapa tenaga kerja yang lebih tinggi dibanding rata-rata nasional. Kondisi ini terus
konsisten sejak tahun 2004. Sementara sektor industri pengolahan, perdagangan, dan
keuangan merupakan sektor yang secara konsisten memiliki tingkat penyerapan tenaga
kerja selama periode 2004-2013 yang lebih rendah dibanding rata-rata nasional.

Tabel 3 Nilai LQ Sektor Perekonomian Sulawesi Tenggara Tahun 2004 2013

Sumber : BPS Sultra berbagai tahun, diolah


Tabel 4 Tenaga Kerja Sulawesi Tenggara Tahun 2004 - 2013

13

Sumber : BPS Sultra berbagai tahun, diolah


Penyerapan Tenaga Kerja Sektoral
Sektor pertaniandi Sulawesi Tenggara mempunyai peran yang sangat besar, hal
ini terlihat pada kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Sulawesi Tenggara secara
rata-rata selama 10 tahun terakhir yakni dari tahun 2004-2013 sebesar 128.221,4 milyar
rupiah. Peranan sektor pertanian terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Berdasarkan analisis LQ selama 10 tahun terakhir (2004 - 2013), sektor pertanian
menunjukkan nilai rata-rata LQ lebih besar dari satu (atau LQ>1) yaitu sebesar
2.31. hal ini mengimplikasikan bahwa sektor pertanian merupakan sektor basis yang
telah dapat memenuhi kebutuhan mayarakat baik di wilayah Sulawesi tenggara maupun
kebutuhan ekspor. Tingginya nilai LQ sektor pertanian dipengaruhi oleh kekayaan alam
pertaniandi Sulawesi Tenggara, baik aspek lua tanah, jenis tanah, maupun kelimpahan
tenaga kerja. Hal ini ditunjukkan pula oleh nilai LQ tenaga kerja yang secara konsiten
lebih besar dari satu (atau LQ>1) selama periode tahun yang diamati.
Pada sisi lain, sumbangan sector pertambangan terhadap PDRB pada tahun 2004
sebesar 422,5 milyar rupiah yang menempati
ekonomi Sulawesi Tenggara. Pada tahun 2006

urutan ketujuh dalam struktur


output sektor pertambangan sempat

mengalami penurunan namun meningkat kembali pada tahun 2007 sampai

2013.

Hasil perhitungan

sektor

LQ

selama

tahun

2004-2013

terlihat

bahwa

pertambangan dan penggalian menunjukkan nilai rata-rata di bawah angka satu yaitu
sebesar 0.49 yang
berarti bahwa sektor ini termasuk ke dalam sektor non basis atau masih harus
mengimpor untuk memenuhi kebutuhan domestik Sulawesi Tenggara.

Sementara

hasil analisis LQ tenaga kerja menunjukkan bahwa sektor pertambangan memiliki ratarata nilai LQ sebesar 0.49, ini berarti bahwa sektor tersebut bukan basis dari segi
14

tenaga kerja sehingga harus mendatangkan tenaga kerja sebesar 0.51 untuk memenuhi
kebutuhan tenaga kerjanya. Namun pada tahun 2005, 2006 dan 2013 nilai LQ tenaga
kerja menunjukkan sektor pertambangan merupakan sektor basiss tenaga kerja.
Sumbangan sektor industri pengolahan terhadap pembentukan PDRB Sulawesi
Tenggara sebesar 562,26 milyar rupiah dan menempati urutan kedelapan dalam
struktur ekonomi Sulawesi Tenggara. Halini menunjukkaan bahwa Sulawesi Tenggara
massih

lemah

dalam

pengembangan

industri

pengolahan.

Konsekwensinya,

masyarakat masih harus mengimpor kebutuhan industri dari luar daerah, sebagaimana
hasil analisis LQ sektor industri baik output maupun tenaga kerja yang menunjukkan
nilai LQ < 1, atau bukan merupakan sektor basis. Bahkan nilai LQ kedua indikator,
masih sangat rendah tidak mencapai 0,3.
Pada sisi lain, sektor listrik, gas, dan air bersih merupakan sektor penyumbang
urutan ke sembilan dalam struktur PDRB Sulawesi Tenggara, dan merupakan sektor
non basis baik dari aspek output maupun tenaga kerja. Kondisi ini tidak berbeda jauh
dengan sektor konstruksi dan bangunan. Berbeda halnya dengan sektor perdagangan,
hotel dan restoran yang menempati posisi kedua dalam urutan PDRB Sulawesi
Tenggara. Sektor perdagangan, hotel dan restoran merupakan sektor basis baik asspek
output maupun tenaga kerja. Hal ini mengimplikasikan bahwa Sulawesi

Tenggara

telah dapat memenuhi kebutuhan perdagangan, hotel dan resstoran dan bahkan dapat
mengekspor jasa tersebut ke luar daerah. Sejalan dengan hal tersebut, sektor
pengangkutan dan komunikasi juga telah mampu memenuhi kebutuhan masyarakat
daerah dan tidak perlu mendatangkan/mengimpor tenaga kerja maupun output dari
luar.
Namun untuk sektor keuangan tampaknya Sulawesi Tenggara masih harus
mengimpr dari luar daerah baik aspek output maupun tenaga kerja. Berbeda halnya
dengan sektor jasa-jas soial, pemerintahan dan kemasyarakatan yang tampak cukup
berkembang dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sebab merupakan sektor
basis baik aspek output maupun tenaga kerja.

15

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sektor ekonomi yang unggul di Provinsi Sulawesi Tenggara dari aspek output
yaitu sektor Pertanian, pengangkutan dan komunikasi, dan jasa-jasa. Sementara dari
aspek tenaga kerja maka sektor yang memiliki penyerapan tenaga kerja yang lebih besar
di Provinsi Sulawesi Tenggara dibanding penyerapan tenaga kerja secara nasional yaitu
sektor pertanian. Dengan demikian pemerintah perlu mempertahankan ssektor pertanian
dalam jangka panjang. Pada sisi lain, perlu menciptakan lapangan kerja khususnya bagi
sektor-sektor yang kurang menyerap tenaga kerja serta meningkatkan kualitas tenaga
kerja untuk memenuhi kekurangan tenaga kerja pada sektor tertentu guna menghindari
masuknya tenaga kerja terlatih pada sektor-sektor strategis di Sulawesi tenggara.
B. Saran
Sektor-sektor yang ada di Sulawesi Tenggara perlu ditingkatkan, dan diperhatikan. Agar
dapat lebih berkembang dan berfungsi sebagai penopang perekonomian Indonesia di
masa depan.

16

C. DAFTAR PUSTAKA
D.
E.

Arsyad, Lincolin, 1999. Pengantar Perencanaan dan Pembangunan Ekonomi

Daerah.
F.
G.

BPFE, Yogyakarta.

Darmawansyah. 2003. Maksimalisasi Sektor Ekonomi Unggulan untuk

Menunjang
H.
I.

Peningkatan Penerimaan Daerah: Kasus Kabupaten Takalar.

Glasson, John. 1977. Pengantar Perencanaan Regional. Terjemahan Paul

Sitohang.
J.
K.

LPFEUI: Jakarta.Graha Ilmu.

Herisman, Beni. 2007. Analisis

Struktur Ekonomi dan Identifikasi Sektor-

Sektor
L.
M.

Kepulauan Sangihe. www.detiknes.com

Limbong, Daud Lebok. 2009. Analisis Sektor Ekonomi Unggulan Kabupaten

Tanah
N.
O.

TorajaTahun 1997-2006. Universitas Hasanuddin Makassar.

Mulyadi, S. 2003. Ekonomi Sumber Daya Manusia: Dalam Perspektif

Pembangunan.
P.
Q.

Jakarta: PT Raja GrafindoPersada.

Nadira, St. 2012. Analisis Struktur Ekonomi dan Sektor Unggulan Kabupaten
Mamuju Provinsi Sulawesi Barat Periode 2004-2009. Skripsi, Universitas
Hasanuddin Makassar.

R.

Partadiredja, Ace. 1996. Perhitungan Pendapatan Nasional, LP3ES; Jakarta.

Penerbit
S.
T.

FEUI.

Rahardjo, H. Adisasmita. 2005. Dasar-Dasar Ekonomi Wilayah. Yogyakarta:

Graha
U.
V.

Ilmu

Robinson Tarigan. 2005. Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi. Jakarta: PT

Bumi
W.
X.

Aksara

Samuel, LandoSitorus. 2013. Analisis Sektor Basis dan Non-Basis Kabupaten

Kutai
17

Y.
Z.

Barat. Samarinda: UniversitasMulawarman.

Simanjuntak J. Payaman. 1985. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia.

Jakarta:
AA.

LPFE- UI.

AB. Soebroto,1996. Strategi Pembangunan, dan Perencanaan Tenaga Kerja.


Yogyakarta: UGM Press
AC. BPS Sultra. 2015. Sulawesi Tenggara DalamAngka Tahun 2014. Kendari: BPS
Sultra BPS Sultra. 2013. Sulawesi Tenggara DalamAngka Tahun 2012. Kendari:BPS
Sultra BPS Sultra. 2011. Sulawesi Tenggara DalamAngka Tahun 2010. Kendari:BPS
Sultra BPS Sultra. 2009. Sulawesi Tenggara DalamAngka Tahun 2008. Kendari:BPS
Sultra BPS Sultra. 2007. Sulawesi Tenggara DalamAngka Tahun 2006. Kendari:BPS
Sultra BPS Sultra. 2005. Sulawesi Tenggara DalamAngka Tahun 2004. Kendari:BPS
Sultra Subanti, Sri dan Arif Rahman Hakim. 2009. Ekonomi Regional Provinsi
Sulawesi
AD.

Tenggara: Pendekatan Sektor Basis dan Analisis Input-Output.

Surakarta: Universitas Sebelas Maret.


AE. Supangkat, 2002. Ananlisis Penentuan Sektor Prioritas dalam Peningkatan
Pembangunan Daearah Kabupaten Asahan. Tesis. ProgramPascasarjana USU,
Medan.
AF.

Suryana,2000. Ekonomi Pembangunan. Bandung: Alfabeta

AG. Syafril, Hadis. 1996. Ekonomi Internasional, Jakarta: Raja GrafindoPersada


AH. Tambunan, Tulus. 2001. Perdagangan Internasional dan Neraca PembayaranTeori dan Temuan Empiris. Jakarta: LP3ES
AI.

Tarigan, Robinson. 2003. Ekonomi Regional. Medan: BumiAksara.

AJ.

------------ 2007. Ekonomi.Regional, Teori dan Aplikasi, Jakarta: PT. Bumi Aksara

18