Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perawat merupakan salah satu sumber daya manusia khususnya
sumber tenaga medis yang dimiliki rumah sakit, dimana jumlah dan
peranannya cukup menentukan standar mutu pelayanan rumah sakit. Perawat
memiliki tugas yang bervariasi, contohnya perawat memiliki tugas
mengangkat pasien, memindahkan pasien dari tempat tidur, membantu
mobilisasi, berdiri diruang operasi pada waktu yang lama, menunduk dalam
waktu yang lama, dan kegiatan lain di instalasi gawat darurat yang bebannya
cukup berat. Dengan beban kerja perawat yang berat sering kali menyebabkan
keluhan low back pain.
Low back pain adalah keluhan yang sering dijumpai yang memerlukan
perhatian medis. Low back pain adalah salah satu gangguan muskulosceletal
yang umum terjadi. (Bin Homaid et al., 2016)
Low back pain adalah masalah yang umum yang terjadi diseluruh
dunia yang terjadi pada petugas kesehatan khususnya perawat. Low back pain
menjadi alasan terbesar yang menyebabkan perawat absen atau cuti sakit lebih
dari 50% (Bin Homaid et al., 2016).
Di Negara London sekitar 75 % perawat yang masih bekerja di rumah
sakit mengalami keuhan low back pain (Indri Sarwili, 2015)
Di Arab Saudi terutama di King Abdullah Medical City (KAMC) dari
14 perawat ruang operasi sebanyak 74,2% mengalami low back pain yang di
faktori oleh kegiatan asuhan keperawatan pada pasien di kamar operasi seperti

mengankat pasien di atas pinggang, memutar badan dengan tumpuan tinggi


dan berat badan, memindahkan pasien dari bed ke kursi, menarik pasien di
atas bed, memidahkan posisi pasien di tempat tidur.
Di Indonesia, sebuah penelitian di Rumah Sakit Umum Daerah
(RSUD) Bhakti Darma Husada Surabaya tahun 2012 menunjukan sebanyak
86,76% penderita low back pain pada tenaga medis yang berkaitan dengan
kesalahan posisi tubuh saat bekerja (Wicaksono, 2012).
Di Jawa Tengah tahun 2013 dengan hasil 77,3% pekerja sektor
informal memiliki risiko terkena low back pain karena adanya postur tubuh
yang salah (Wulandari, 2013).
Di Jakarta, sebanyak 65% perawat di UGD RS Fatmawati Jakarta
didiagnosis menderita low back pain, sedangkan rekam medik di RS Prikasih
pada Januari Desember 2010 menunjukkan bahwa perawat yang terkena low
back pain sebanyak 59 orang (34,7%) (Kurniawidjaja, 2014).

1.2 Rumusan masalah


Sebagaimana yang telah diuraikan dalam latar belakang bahwa low
back pain merupakan masalah serius yang sering dialami oleh perawat dan
menyebabkan absensi yang cukup tinggi pada perawat. Dimana perawat sering
melakukan tindakan keperawatan yang cukup berat dan dalam waktu yang
lama seperti mengangkat pasien, memindahkan pasien dari tempat tidur,
membantu mobilisasi, berdiri diruang operasi pada waktu yang lama,
menunduk dalam waktu yang lama, dan kegiatan lain yang bebannya cukup

berat yang dilakukan di instalasi gawat darurat. Dengan itu dapat dirumuskan
permasalahannya adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan low back
pain pada perawat di kamar operasi dan di instalasi gawat darurat di rumah
sakit.

1.3 Pertanyaan Penelitian


Apakah factor-faktor yang berhubungan dengan low back pain pada
perawat di kamar operasi dan di instalasi gawat darurat Rumah Sakit x di
Jakarta Tahun 2017?

1.4 Tujuan
1.4.1 Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor
yang berhubungan dengan low back pain pada perawat di kamar operasi
dan di instalasi gawat darurat di Rumah Sakit X di Jakarta tahun 2017.
1.4.2 Tujuan Khusus
a. Mengetahui gambaran aktivitas tindakan keperawatan pada perawat
di kamar operasi dan di instalasi gawat darurat di Rumah Sakit X di
Jakarta tahun 2017.
b. Mengetahui distribusi frekuensi faktor-fakor yang berhubungan
dengan low back pain pada perawat di kamar operasi dan di instalasi
gawat darurat di Rumah Sakit X di Jakarta tahun 2017.
c. Mengetahui hubungan sikap manual handling dengan low back pain

pada perawat di kamar operasi dan di instalasi gawat darurat di


Rumah Sakit X di Jakarta tahun 2017.
d. Mengetahui hubungan antara sikap kerja dengan low back pain pada
perawat di kamar operasi dan di instalasi gawat darurat di Rumah
Sakit X di Jakarta tahun 2017.
e. Mengetahui hubungan antara postur tubuh janggal dengan low back
pain pada perawat di kamar operasi dan di instalasi gawat darurat di
Rumah Sakit X di Jakarta tahun 2017.
f. Mengetahui hubungan antara beban kerja dengan low back pain pada
perawat di kamar operasi dan di instalasi gawat darurat di Rumah
Sakit X di Jakarta tahun 2017.
g. Mengetahui hubungan antara pekerjaan yang kurang variasi/repetisi
dengan low back pain pada perawat di kamar operasi dan di instalasi
gawat darurat di Rumah Sakit X di Jakarta tahun 2017.
h. Mengetahui hubungan antara jenis kelamin dengan low back pain
pada perawat di kamar operasi dan di instalasi gawat darurat di
Rumah Sakit X di Jakarta tahun 2017.
i. Mengetahui hubungan antara tinggi dan berat badan (IMT) dengan
low back pain pada perawat di kamar operasi dan di instalasi gawat
darurat di Rumah Sakit X di Jakarta tahun 2017.

1.5 Manfaat Penelitian


1.5.1 Bagi Penulis

a. Mampu menerapkan mata kuliah yang telah diajarkan, menambah


pengalaman dan wawasan mengenai penelitian khususnya penelitian
tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan low back pain pada
perawat di kamar operasi di Rumah Sakit X di Jakarta tahun 2017.
b. Sebagai sarana aplikasi ilmu pengetahuan dalam menentukan suatu
permasalahan

serta

merumuskan

permasalahan

tersebut

di

lingkungan masyarakat.
c. Mendapatkan informasi tentang faktor-faktor yang berhubungan
dengan low back pain pada perawat di kamar operasi di Rumah Sakit
X di Jakarta tahun 2017.
1.5.2 Bagi Tempat Penelitian
a. Menambah wawasan kepada tempat penelitian tentang faktor-faktor
yang berhubungan dengan low back pain pada perawat di kamar
operasi di Rumah Sakit tersebut.
b. Sebagai rekomendasi intervensi bagi perawat yang mengalami low
back pain.
c. Sebagai

rekomendasi

intervensi

bagi

jajaran

direksi

untuk

direksi

untuk

menigkatkan kesejahteraan perawat di kamar operasi.


d. Untuk

rekomendasi

intervensi

bagi

jajaran

meingkatkan mutu pelayanan rumah sakit kepada pasien.


1.5.3 Bagi Institusi Pendidikan
a. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi masukan untuk
memperluas wawasan mahasiswa tentang low back pain dan sebagai

referensi untuk penelitian selanjutnya.


b. Melaksanakan tri darma perguruan tinggi dalam melaksanakan fungsi
atau tugas perguruan tinggi sebagai lembaga yang menyelenggarakan
pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
1.5.4 Bagi Responden
a. Menambah wawasan kepada perawat-perawat di kamar operasi
tentang low back pain dan factor penyebabnya.
b. Memberikan rekomendasi pencegahan low back pain pada perawat di
kamar operasi.

1.6 Ruang Lingkup


Penelitian ini difokuskan untuk mengetahui hubungan low back pain
dengan tindakan-tindakan keperawatan berisiko low back pain. Dengan
rancangan penelitian yang menggunakan metode cross sectional. Adapun
variabel independen adalah faktor pekerjaan dan faktor individu.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi Tulang Belakang
Tulang

punggung atau vertebra adalah tulang tak

beraturan

yang

membentuk punggung yang mudah digerakkan. terdapat 33 tulang punggung


pada manusia, 5 di antaranya bergabung membentuk bagian sacral, dan 4
tulang membentuk tulang ekor (coccyx).
Tiga bagian di atasnya terdiri dari 24 tulang yang dibagi menjadi
7 tulang cervical (leher), 12 tulang thorax (thorax atau dada) dan, 5 tulang
lumbal. Banyaknya tulang belakang dapat saja terjadi ketidaknormalan.
Bagian terjarang terjadi ketidaknormalan adalah bagian leher.
2.1.1

Tulang Vertebrae
Unit fungsi dari tulang punggung adalah tulang vertebrae yang
secara anatomis dibagi menjadi 2 bagian, yaitu bagian anterior yang
terdiri

dari badan

bagian posterior yang

tulang atau corpus


terdiri

dari

vertebrae,

dan

arcus vertebrae. Arcus

vertebrae dibentuk oleh dua "kaki" atau pediculus dan dua lamina, serta
didukung

oleh

penonjolan

atau

procesus

yakni procesus

articularis, procesus transversus, dan procesus spinosus. Procesus


tersebut membentuk lubang yang disebut foramen vertebrae. Ketika
tulang punggung disusun, foramen ini akan membentuk saluran sebagai
tempat sumsum tulang belakang atau medulla spinalis. Di antara dua

tulang

punggung

dapat

ditemui

celah

yang

disebut foramen

intervertebrae.

Gambar 2.1 Gambar kolumna vertebralis (Wikipedia, 2016).

Gambar 2.2 Gambar segmen anterior posterior kolumna vertebralis


(Wikipedia, 2016).

1. Tulang punggung cervical

Secara umum memiliki bentuk tulang yang kecil dengan


spina atau procesus spinosus (bagian seperti sayap pada belakang
tulang) yang pendek, kecuali tulang ke-2 dan 7 yang procesus
spinosusnya pendek. Diberi nomor sesuai dengan urutannya dari C1C7 (C dari cervical), namun beberapa memiliki sebutan khusus
seperti C1 atau atlas, C2 atau aksis. Setiap mamalia memiliki 7
tulang punggung leher, seberapapun panjang lehernya.
2. Tulang Punggung Thorax
Procesus spinosusnya akan berhubungan dengan tulang
rusuk. Beberapa gerakan memutar dapat terjadi. Bagian ini dikenal
juga sebagai 'tulang punggung dorsal' dalam konteks manusia.
Bagian ini diberi nomor T1 hingga T12.
3. Tulang Punggung Lumbal
Bagian

ini

tegap konstruksinya dan

(L1-L5)

merupakan

bagian

menanggung beban terberat

dari

paling
yang

lainnya. Bagian ini memungkinkan gerakan fleksi dan ekstensi tubuh,


dan beberapa gerakan rotasi dengan derajat yang kecil.
4. Tulang Punggung Sacral
Terdapat 5 tulang di bagian ini (S1-S5). Tulang-tulang
bergabung dan tidak memiliki celah atau diskus intervertebralis satu
sama lainnya.
5. Tulang Punggung Coccygeal

Terdapat 3 hingga 5 tulang (Co1-Co5) yang saling bergabung


dan tanpa celah. Beberapa hewan memiliki tulang coccyx atau tulang
ekor yang banyak, maka dari itu disebut tulang punggung
kaudal (kaudal berarti ekor).

2.2 Definisi Low Back Pain


Low back pain (LBP) adalah nyeri di daerah punggung antara tulang
kosta/tulang rusuk paling bawah sampai sakral/ tulang ekor termasuk lumbal.
Nyeri juga bisa menjalar kedaerah lain seperti punggung bagian atas dan
pangkal paha. Low back pain atau nyeri punggung bawah merupakan salah
satu gangguan muskuloskeletal yang disebabkan oleh aktivitas tubuh yang
kurang baik. Gejala yang dirasakan pada orang yang menderita low back pain
bermacam-macam seperti nyeri rasa terbakar, nyeri tertusuk, nyeri tajam,
hingga kelemahan pada tungkai (Indri Sarwili, 2015).
Low back pain adalah keluhan rasa nyeri, ketegangan otot, atau rasa
kaku di daerah pinggang, yaitu di pinggir bawah iga sampai lipatan bawah
bokong (plica glutea inferior), dengan atau tanpa disertai perjalanan rasa nyeri
ke daerah tungkai (sciatica) (Harrianto, 2010)

2.3 Klasifikasi Low Back Pain


Penyakit ini diklasifikasikan menurut Harrianto, 2010, menjadi dua, yaitu:
a. Nyeri pinggang/low back pain spesifik

10

Low back pain spesifik ini adalah nyeri pinggang yang dapat
diidentifikasi penyebabnya. Tetapi kenyataannya hampir 90% kasus
low back pain tidak dapat teridentifikasi penyebabnya.
b. Nyeri pinggang nonspesifik
Low bak pain spesifik ini adalah nyeri pinggang yang tidak
dapat diidentifikasi penyebabnya. Hampir 90% kasus low back pain
tidak dapat teridentifikasi penyebabnya.

2.4 Etiologi Low Back Pain


Umumnya low back pain disebabkan oleh masalah pekerjaan berat
yang berhubungan dengan manual handling, seperti mengangkat, menurunkan,
mendorong, dan menarik beban yang berat, juga berkaitan dengan sering atau
lamanya membengkokan badan, membungkuk, dudUk dan berdir terlalu lama
atau postur batang tubuh lainnya yang janggal. Faktor psikososial di
lingkungan kerja dan faktor individual, seperti tinggi dan tinggi dan berat
badan berlebih, laki-laki, usia tua, kurangnya olahraga, merokok, dan
pengetahuan sikap kerja merupakan faktor resiko untuk terjadinya low back
pain. (Harrianto, 2010)

2.5 Jenis-Jenis Low Back Pain


Disebutkan oleh (Harrianto, 2010), jenis-jenis low back pan adalah:
1. Low back strain

11

Oleh karena lokasi pusat masa tubuh terletak sedikit disebelah


muka dari lokasi diskus intervetrebalis L5-S1, walaupun tanpa membawa
beban, posisi tubuh cenderung akan jatuh ke muka. Dengan demikian,
untuk mempertahankan sikap tegak tubuh, otot-otot erector batang tubuh
(m.

sacrospinalis,

m.glutealis,

dan

otot-otot

harmstring)

harus

berkontraksi.pada pkerjaan dengan aktivitas fisik yang berat, cedera otot


dapat terjadi karena kontraksi otot-otot tersebut menjadi sangat
berlebihan dalam jangka waktu yang lama. Situasi ini mencetuskan
timbulnya low back strain, yaitu rasa nyeri mendadak atau mulai dengan
nyeri pinggang ringan yang berangsur-angsur menjadi berat, biasanya
dengan menetap pada salah satu sisi pinggang. Nyeri tekan jelas sekali di
region glutea dan/atau paralumbal. Pada pemeriksaan dengan tes Patrick
hasilnya akan positif.

Gambar 2.3 Gambaran klinis lokasi nyeri pada jenis low back strain
2. Disgogenic Pain
Pada saat

mengangkat beban, vertebra lumbalis digunakan

sebagai pengukit, aka kontraksi otot-otot punggung dan bokong akan

12

menciptakan stress kompresi dan stress putaran pada cakram antar ruas,
terutaa dis ekitar diskus intervtrebalis L5-S1. Stress tersebut dapat
mengakibatkan robeknya annulus fibrosus, hingga terjadi hernia nucleus
pulposus, sampai akhirnya akan menekan radiks N. spinalis. Pada kasus
ini, nyeri tekan terasa di garis tengah pada satu atau dua ruas vertebra
lumbalis, tetapi rasa nyeri tidak seberat pada kasus back strain. Rasa
nyeri akan berkurang bila dilakukan gerak ekstensi lumbalis, karena
nucleus pulposus akan kedorong ke muka.
Gambar 2.4 Gambaran klinis discogenic pain dimana rasa sakit yang
berasal dari disk tulang belakang yang rusak, terutama karena penyakit

cakram yang mengalami degeneratif


3. Hernia Nukelus Pulposus
Pada kasus-kasus yang lebih berat, cedera cakram antar-ruas akan
mengakibatkan degenerasi annulus fibrosus akibat robekan multiple atau
robekan tunggal annulus fibrosus. Robekan

dapat berpola marginal,

tagensial, atau radial, tetapi untungnya robekkan tersebut biasanya dapat


cepat sembuh dengan sendirinya. Akan tetapi, poses degenerasi robekan

13

pada

nucleus

fragmentasi

pullposus

dimanifstasikan

sebagai

dehidrasi

dan

menjadi skuestrum, yang konsistensinya berubah dari

seperti daging kepiting menjadi lunak bercampur gas. Robekan annulus


fibrosus, terutama pada pola radial, akan memudahkan terjadinya
prolapse skuestrum nucleus polposus.
Gambar 2.5 Gambaran hernia nucleus pulposus. Dimana nucleus pecah
dan keluar menjepit saraf. Untuk itu hnp sering juga disebut sebagai
saraf kejepit.
4. Sindrom Sakroiliaka

14

Pada

sindrom

sakroiliaka,

pergeseran

sacrum

ke

muka

mengakibatkan regangan ligamentum pengikat os sacum, yaitu lig.


Sakroiskhiadkum dan lig. Sakrotuberosum sehingga menimbulkan rasa
nyeri yang menyebar dari art. Sakroiliaka ke pinggang dan paha bagian
belakang secara mendadak. Berbeda dengan discogenic pain, rasa nyeri
pada sindrom sakroiliaka tidak pernah terasa ditengah batang tubuh,

biasanya selalu disatu sisi tubuh. Pada penyakit ini, timbul rasa nyeri bila
berdiri pada satu kaki, terbatasnya gerak-gerak di art. Sakroiliaka, nyeri
tekan pada sendi tersebut, dan tes patrik menunjukan hasil positif.
Gambar 2.6 Gambaran klinis lokasi nyeri pada jenis sindrom
sakroiliaka.
5. Facet Join Syndrome
Posisi art. Intervetrebalis yang membentuk sudut 45 dengan
bidang horizontal, pada posisi tegak, mengakibatkan kedua permukaan
sendi ini akan menderita beban yang berat, akibat beban tekanan. Pada
degenerasi cakram antar ruas, jarak antara kedua vertebrae menyempit,
sehingga beban pada permukaan sendi art. Intervetrebalis bertambah,
rongga sendi menyempit, terjadi gesekan permukaan sendi yang

15

berulang dan memudahkan timbulnya osteoarthritis pada sendi tersebut


sehingga menimbulkan rasa nyeri di punggung.

16

Gambar 2.7 Gambaran klinis lokasi nyeri pada jenis facet joint
syndrome.

2.6 Faktor-Faktor Penyebab Low Back Pain


2.6.1

Faktor Pekerjaan
1. Manual handling
Banyak jenis pekerjaan yang membutuhkan aktivitas fisik
yang berat seperti mengangkat, menurunkan, mendorong, menarik,
melempar, menyokong, memindahkan beban atau memutar beban
dengan tangan atau bagian tubuh lain. Aktivitas semacam ini sering
kali disebut manual handling (Harrianto, 2010).
Penelitian Kelin (1984) dalam Harrianto (2010) menyatakan
bahwa pekerja angkat beban, seperti tukang sampah, pekerja di
sektor konstruksi, gudang, dan perawat, mengajukan klaim asuransi
kesehatan 10x lebih tinggi dibandingkan dengan pekerjaan dengan
tenaga fisik yang lebih ringan.

17

Kramer (1973) dalam Harrianto (2010) menyatakan bahwa


20% angka absensi dan 50% pension dini di sektor industry Jerman
Barat diakibatkan oleh nyeri pinggang akibat kerja.
2. Sikap Kerja
Sikap kerja tidak alamiah adalah sikap kerja ang
menyebabkan posisi bagian-bagian tubuh bergerak menjauhi posisi
alamiah, misalnya pergerakan tangan terangkat, punggung terlalu
membungkuk, kepala terangkat, dsb. Semakin jauh posisi bagian
tubuh dari pusat grafitasi tubuh, maka semakin tinggi pula resiko
terjadinya keluhan sistem muskuloskeletal (Tarwaka, 2015).
3. Postur Tubuh Janggal
Postur janggal adalah posisi tubuh yang menyimpang secara
signifikan terhadap posisi normal saat melakukan pekerjaan. Bekerja
dengan posisi janggal meningkatkan jumlah energi yang dibutuhkan
untuk bekerja. Posisi janggal menyebabkan kondisi dimana
perpindahan tenaga dari otot ke jaringan rangka tidak efisien
dehingga mudah menimbulkan lelah. Termasuk ke dalam postur
janggal adalah pengulangan atau waktu lama dalam posisi
menggapai, berputar (twisting), memiringkan badan, berlutut,
jongkok, memegang dalam kondisi statis, dan menjepit dengan
tangan. Postur ini melibatkan beberapa area tubuh seperti bahu,
punggung dan lutut, karena bagian inilah yang paling sering

18

mengalami cidera (Straker, 2000 dalam Kurnianto dan Mulyono,


2014).

Gambar 2.7 Gambar A menunjukan potur tubuh yang normal.


Gambar B menunjukan postur tubuh janggal.
Pekerjaan-pekerjaan dan postur kerja yang statis sangat
berpotensi mempercepat timbulnya kelelahan dan nyeri pada otototot yang terlibat. Jika kondisi seperti ini berlangsung setiap hari dan
dalam waktu yang lama (kronis) bisa menimbulkan sakit permanen
dan kerusakan pada otot, sendi, tendon, ligamen dan jaringanjaringan lain. Selain itu, bekerja dengan rasa sakit dapat mengurangi
produktivitas serta efisiensi kerja dan apabila bekerja dengan
kesakitan ini diteruskan maka akan berakibat pada kecacatan yang
akhirnya menghilangkan pekerjaan bagi pekerjanya. (Aprilia, 2009
dalam Kurnianto dan Mulyono, 2014 ).
Kriteria penilaian sikap tubuh (Keyserling, 1986 dalam 2010) :
a. Sikap tubuh normal : tegak / sediit membungkuk 0 - 20 dari
garis vertikal.

19

b. Sikap tubuh fleksi sedang : membungkuk 20 45 dari garis


vertikal.
c. Sikap tubuh fleksi berlebih : membungkuk > 45 dari garis
vertikal.
d. Sikap tubuh fleksi ke samping atau berputar : menekuk ke
samping kanan atau kiri atau berputar > 15 dari garis vertikal.
2.6.2

Faktor Psikologis
1. Beban Kerja
Pekerjaan yang melakukan aktivitas mengangkat beban berat
memiliki kesempatan 8 kali lebih besar untuk mengalami low back
pain dibandingkan pekerja yang bekerja statis (Yonansha, 2012).
Meurut Worksafe Australia (2002) dalam Yonansha (2012),
resiko cidera punggung akan meningkat jika beban yang ditanggung
lebih dari 16 kg pada posisi berdiri dan lebih dari 4,5 kg pada posisi
duduk. Tidak seorang pun dperbolehkan mengangkat, menurunkan
atau membawa beban lebih dari 55 kg. beban seberat lebih dari 55 kg
harus menggunakan alat bantu trolley atau forklift, tetapi tidak untuk
diangkat. Batasan angkat tersebut dibuat agar dapat mengurangi
nyeri pada punggung bawah pada pekerja dengan beban yang berat.
2. Repetisi
Aktivitas berulang adalah pekerjaan yang dilakukan secara
terus menerus seperti pekerjaan mencangkul, membelah kayu,
angkat-angkat, dsb. Keluhan otot terjadi karena otot menerima

20

tekanan akibat beban kerja secara terus menerus tanpa memperoleh


kesempatan untuk relaksasi (Tarwaka, 2015).
Gerakan lengan dan tangan yang dilakukan secara berulangulang terutama pada saat bekerja mempunyai resiko bahaya yang
tinggi terhadap timbulnya CTDs. Tingkat resiko akan bertambah jika
pekerjaan dilakukan dengan tenaga besar, dalam waktu yang sangat
cepat dan waktu pemulihan kurang (Maijunidah, 2010).
2.6.3

Faktor Individu
1. Jenis Kelamin
Jenis kelamin adalah pensifatan/karakteristik individu yang
terbagi menjadi 2 jenis, yaitu laki-laki dan perempuan (Zar, 2012).
Walaupun masih ada perbedaan pendapat dari beberapa ahli
tentamg pengaruh jenis kelamin terhadap resiko keluhan sistem
muskuloskeletal, namun beberapa hasil penelitian secara signifikan
menunjukkan bahwa jenis kelamin sangat mempengaruhi tingkat
resiko keluhan otot. Hal ini terjadi karena terjadi secara fisiologis,
kemampuan otot wanita memang lebih rendah dari pria (Tarwaka,
2015).
Menurut Astrand & Rodahl (1996) dalam Tarwaka (2015),
menjelaskan bahwa kekuatan otot wanita hanya sekitar dua pertiga
dari kekuatan otot pria, sehingga daya tahan otot pria pun lebih tinggi
dibandingan dengan wanita.

21

Menurut Michael (2001) dalam Zulfiqor (2010), dalam hasil


studinya menemukan bahwa pekerja wanita memiliki asosiasi kuat
dalam munculnya keluhan MSDs. Berdasarkan laporan yang
diterimanya, pekerja wanita mempunyai resiko lebih dari dua kali
lipat.
2. Tinggi dan berat badan (IMT)
Pada orang yang memiliki berat badan yang berlebih, risiko
timbulnya nyeri punggung bawah lebih tinggi karena beban pada
sendi penumpu berat badan akan meningkat, sehingga dapat
memungkinkan terjadinya nyeri pada punggung bawah. Tinggi badan
juga berkaitan dengan panjangnya sumbu tubuh sebagai lengan
beban anterior maupun lengan posterior untuk mengangkat beban
tubuh (Diwa, 2015)
KLASIFIKASI
IMT (Kg/m2)
UNDERWEIGHT
< 18.50
Severe thinness
< 16.00
Moderate thinness
16.00 - 16.99
Mild thinness
17.00 - 18.49
NORMAL
18.50 24.99
OVERWEIGHT
25.00
Pre-obesitas
25.00 29.99
OBESITAS
30.00
Obesitas Kelas I
30.00 34.99
Obesitas Kelas II
35.00 39.99
Obesitas Kelas III
40.00
Tabel 2.1 Klasifikasi IMT (WHO, 2004 dalam Diwa, 2015).

22

BAB III
KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL
DAN HIPOTESIS
3.1 Kerangka Teori
Faktor Pekerjaan :
1. Manual handling
2. Sikap kerja
3. Postur janggal

Faktor Psikologis :
1. Beban Kerja
2. Pekerjaan yang kurang
variasi (repetisi)
3. Kurangnya kontrol
atasan
4. Selisih paham dengan
teman kerja

LOW BACK PAIN

Faktor Individu :
1.
2.
3.
4.
5.

Usia
Tinggi dan berat badan
Jenis kelamin
Kurang olahraga
Merokok

6.
Sumber : Modifikasi Harrianto 2010, Buku Ajar Kesehatan Kerja.. Jakarta : EGC

3.2 Kerangka Konsep

23

Variabel independen

Variabel dependen

Sumber : Modifikasi Harrianto 2010, Buku Ajar Kesehatan Kerja.. Jakarta : EGC

Faktor Pekerjaan:
1. Manual handling
2. Sikap kerja perawat
3. Postur janggal perawat
Faktor Individu:
1. Jenis kelamin
2. Tinggi dan berat badan
(IMT)

LOW BACK PAIN

Faktor Psikologis
1. Beban Kerja
2. Pekerjaan yang kurang
variasi (repetisi)

3.3 Definisi Operasional


Variabel

Definisi Operasional

Cara dan Alat

Hail Ukur

Skala

Ukur
Keluhan

Depeneden
Low back pain adalah keluhan - Wawancara dgn - 0= Ada

Low Back

rasa nyeri, ketegangan otot,

pedoman

Pain

atau rasa kaku di daerah

wawancara

Ordinal

- 1= Tidak

pinggang, yaitu di pinggir - Kuisioner


bawah

iga

sampai

lipatan - Medical Record

bawah bokong (plica glutea


inferior), dengan atau tanpa
disertai perjalanan rasa nyeri

24

ke daerah tungkai (sciatica)


(Harrianto, 2010).
Manual

Independen
Banyak jenis pekerjaan yang Pengisia

handlng

membutuhkan aktivitas fisik kuisioner yang

rata-rata

yang berat seperti mengangkat, disediakan.

lebih dari 2

menurunkan,

aktivitas

mendorong,

menarik,

melempar,

menyokong,

memindahkan

- 0= melakukan

Ordinal

manual
handling

beban atau memutar beban

dalam sehari.

dengan tangan atau bagian

- 1= melakukan

tubuh lain. Aktivitas semacam

rata-rata

ini sering kali disebut manual

kurang dari 1

handling (Harrianto, 2010).

aktivitas
manual
handling

Sikap

Sikap

Kerja

adalah

kerja

tidak

sikap

alamiah Observasi

kerja

ang kamera digital

menyebabkan posisi bagianbagian


menjauhi

tubuh
posisi

dalam sehari.
- 0= tidak

Ordinal

alamiah
- 1= alamiah

bergerak
alamiah,

misalnya pergerakan tangan


terangkat,

punggung

membungkuk,

terlalu
kepala
25

terangkat, dsb. Semakin jauh


posisi bagian tubuh dari pusat
grafitasi tubuh, maka semakin
tinggi pula resiko terjadinya
keluhan

sistem

muskuloskeletal

(Tarwaka,

2015).
Postur

Postur janggal adalah posisi Observasi

Janggal

tubuh

yang

secara

signifikan

menyimpang menggunakan
terhadap kamera digital,

posisi normal saat melakukan busur derajat

- 0= Fleksi

Ordinal

sedang
hingga
berlebih

pekerjaan. Termasuk ke dalam (software MB - 1= Fleksi


postur

janggal

adalah ruler).

pengulangan atau waktu lama


dalam

posisi

berputar

menggapai,

berputar
- 2= Fleksi
tubuh normal

(twisting),

memiringkan badan, berlutut,


jongkok,

memegang

dalam

kondisi statis, dan menjepit


dengan

tangan.

melibatkan

Postur

beberapa

ini
area

tubuh seperti bahu, punggung


dan lutut, karena bagian inilah
26

yang paling sering mengalami


cidera (Straker, 2000 dalam
Kurnianto

dan

Mulyono,

2014).
a. Sikap tubuh normal : tegak /
sedikit membungkuk 0 - 20
dari garis vertikal.
b.Sikap tubuh fleksi sedang :
membungkuk 20 45 dari
garis vertikal.
c. Sikap tubuh fleksi berlebih :
membungkuk > 45 dari
garis vertikal.
d.Sikap tubuh fleksi ke samping
atau berputar : menekuk ke
samping kanan atau kiri atau
berputar > 15 dari garis
Beban

vertikal.
Beban yang ditanggung lebih

Pengisian

Kejra

dari 16 kg pada posisi berdiri

kuisioner yang

dan lebih dari 4,5 kg pada

tlah disediakan. - 1= beban <55

posisi duduk. Total beban yg

- 0= Beban >55

Ordinal

kg

kg

diangkat lebh dari 55 kg


(Meurut Worksafe Australia
27

Repetisi

(2002) dalam Yonansha (2012)


Aktivitas berulang adalah Pengisian
pekerjaan

yang

dilakukan Kuisioner yang

secara terus menerus seperti telah


pekerjaan
membelah

mencangkul, disediakan.
kayu,

angkat-

Jenis

kelamin

Kelamin

pensifatan/karakteristik

Ordinal

lebih dari 2
kali.
- 1= tidak
berulang atau

angkat, dsb. (Tarwaka, 2015).


Jenis

- 0= Berulang

kurang dari 2

adalah Pengisian
Kuisioner yang

kali.
- 0 = Perempuan
- 1 = Laki-laki

Nomina

- 0= obesitas

Ordinal

individu yang terbagi menjadi telah


2 jenis, yaitu laki-laki dan disediakan.
IMT

perempuan (Zar, 2012)


Hasil berat bdan dalam kg/

Pengisian

tinggi badan dalam m2 (diwa,

kuisioner yang - 1=

2015)

telah

underweight

- Underweight <18.50

disediakan dan - 2= overweight

- Normal 18.50- 24.99

perhitungan

- Overweight 25.00

menggunakan

- Obesitas 30.00

kalkulator

- 3= normal

3.4 Hipotesis
1. Ada hubungan antara manual handling dengan low back pain pada
perawat di kamar operasi dan di instalasi gawat darurat di Rumah Sakit
X di Jakarta tahun 2016.

28

2. Ada hubungan antara sikap kerja dengan low back pain pada perawat di
kamar operasi dan di instalasi gawat darurat di Rumah Sakit X di
Jakarta tahun 2016.
3. Ada hubungan antara postur tubuh janggal dengan low back pain pada
perawat di kamar operasi dan di instalasi gawat darurat di Rumah Sakit
X di Jakarta tahun 2016.
4. Ada hubungan antara beban kerja perawat dengan low back pain pada
perawat di kamar operasi dan di instalasi gawat darurat di Rumah Sakit
X di Jakarta tahun 2016.
5. Ada hubungan antara pekerjaan yang kurang variasi (repetisi) dengan
low back pain pada perawat di kamar operasi dan di instalasi gawat
darurat di Rumah Sakit X di Jakarta tahun 2016.
6. Ada hubungan antara jenis kelamin dengan low back pain pada perawat
di kamar operasi dan di instalasi gawat darurat di Rumah Sakit X di
Jakarta tahun 2016.
7. Ada hubungan antara tinggi dan berat badan dengan low back pain pada
perawat di kamar operasi dan di instalasi gawat darurat di Rumah Sakit
X di Jakarta tahun 2016.

29

BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
4.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik yaitu penelitian
yang dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel independen
(manual handling, sikap kerja, postur tubuh janggal, beban kerja,
pekerjaan yang kurang variasi/repetisi, jenis kelamin, dan IMT) dan
variabel dependen (low back pain). Penelitian ini menggunakan metode
kuantitatif non eksperimen dengan pendekatan cross-sectional artinya
suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor
risiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan
data sekaligus atau pada waktu yang bersamaan (Notoatmodjo, 2012).
Sehingga untuk mengetahui hubungan antara low back pain dengan
tindakan-tindakan keperawatan pada perawat di kamar operasi dan di
instalasi gawat darurat di Rumah Sakit X di Jakarta tahun 2017. Data yang
dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder,
dengan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data dan data
lainnya yang didapat dari Rumah Sakit.

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian


4.2.1

Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit X, Taman Mini,
Jakarta Timur. Yang menjadi alasan peneliti melakukan ditempat tersebut

30

karena belum pernah dilakukan penelitian mengenai factor-faktor yang


berhubungan dengan low back pain pada perawat di kamar operasi dan
di instalasi gawat darurat di Rumah Sakit X di Jakarta tahun 2017
berdasarkan hasil observasi.
4.2.2

Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan selama 3 bulan. Waktu penelitian dimulai
dari pengusulan judul penelitian, pencarian daftar pustaka, merancang
kuesioner. Pelaksanaan penelitian sampai dengan penyusunan laporan
akhir yang dimulai pada bulan Mei 2017 dan selesai pada bulan Juni
2017. Pengumpulan data dilakukan selama 1 bulan, yaitu pada bulan Juli
2017.

4.3 Populasi dan Sampel


4.3.1

Populasi
Populasi adalah sekumpulan objek atau subjek yang memiliki
karakteristik dan kuantitas yang akan diamati dan dapat memberikan
informasi kepada peniliti (Notoatmodjo, 2012). Berdasarkan pengertian
tersebut dapat disimpulkan bahwa populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh perawat yang bekerja di kamar operasi dan instalasi gawat
darurat di Rumah Sakit X, Jakarta Timur, baik yang sedang cuti ataupun
tidak. Total seluruh perawat yang bekerja di kamar operasi Rumah Sakit
X, Jakarta Timur adalah sebanyak 20 orang. Sedangkan total seluruh

31

perawat yang bekerja di instalasi gawat darurat Rumah Sakit X, Jakarta


Timur adalah sebanyak 25 orang.
4.3.2

Sampel
Sampel adalah bagian dari sekumpulan objek atau subjek yang
memiliki karakteristik dan kualitas yang memberikan informasi yang
sebenarnya untuk diteliti (Notoatmodjo, 2012).
Teknik pengambilan sampel yang dilakukan oleh peneliti adalah
dengan Total Sampling, yaitu teknik penentuan sampel bila semua
anggota populasi digunakan sebagai sampel (Susila dan Suyanto, 2014).
Sehingga sampel yang diambil ada seluruh perawat di kamar operasi
dan instalasi gawat darurat yang bekerja di Rumah Sakit X, Jakarta
Timur.
4.3.2.1 Kriteria Inklusi dan Eksklusi
Agar

karakteristik

sampel

tidak

menyimpang

dari

populasinya, maka sebelum dilakukan pengambilan sampelperlu


ditentukan kriteria inklusi, maupun kriteria eksklusi. Kriteria
inklusi adalah kriteria atau ciri-ciri yang perlu dipenuhi oleh
setiap anggota populasi yang dapat diambil sebagai sampel.
Sedangkan kriteria eksklusi adalah ciri-ciri anggota populasi
yang tidak dapat diambil sebagai sampel (Notoatmodjo, 2012).
Adapun kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut :

32

1. Perawat IGD dan OK RS X yang bersedia menjadi


responden.
2. Perawat IGD dan OK RS X yang sedang dinas pada saat
dilakukan penelitian.
3. Perawat IGD dan OK RS X yang tidak sedang cuti pada
saat dilakukan penelitian.

4.4 Alat Pengumpulan Data


4.4.1

Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini menggunakan data primer dan
data sekunder.
1. Data Primer
Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari subjek
penelitian dengan menggunakan alat pengukuran atau pengambilan
data langsung pada subjek sebagai informasi yang dicari (Susila
dan Suyanto, 2014). Data primer yang dikumpulkan adalah seluruh
data yang termasuk variabel independen (manual handling, sikap
kerja, postur tubuh janggal, beban kerja, pekerjaan yang kurang
variasi/repetisi, jenis kelamin, dan IMT) dan variabel dependen
(low back pain).
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang di peroleh atau di
kumpulkan dan di satukan oleh studi-studi sebelumnya atau yang di

33

terbitkan oleh berbagai instansi lain. Biasanya sumber tidak


langsung berupa data dokumentasi dan arsip-arsip resmi. Data
sekunder yang di kumpulkan dalam penelitian ini dari Rumah
Sakit, hasil penelitian orang lain dan instansi-instansi terkait.
4.4.2

Instrumen Penelitian
Menurut Notoatmodjo (2012), instrumen penelitian adalah alatalat yang akan digunakan untuk pengumpulan data. Instrumen penelitian
ini dapat berupa kuesioner, formulir observasi, formulir-formulir lain
yang berkaitan dengan pencatatan data dan sebagainya. Instrumen yang
digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner.
Ada berbagai jenis kuesioner, tergantung dari sudut pandangan
diantaranya:
1. Dipandang dari cara menjawab, maka ada:
a. Kuesioner terbuka, yang memberikan kesempatan kepada
responden untuk menjawab dengan kalimatnya sendiri.
b. Kuesioner tertutup, yang sudah disediakan jawabannya
sehingga responden memilih.
2. Dipandang dari jawaban yang diberikan, maka ada:
a. Kuesioner langsung, yaitu responden menjawab tentang
dirinya.
b. Kuesioner tidak langsung, yaitu jika responden menjawab
tentang orang lain.
3. Dipandang dari bentuknya, maka ada:

34

a. Kuesioner dipilih ganda, yang dimaksud adalah sama dengan


kuesioner tertutup.
b. Kuesioner isian, yang dimaksud adalah kuesioner terbuka.
c. Check list,

sebuah daftar dimana responden tinggal

membubuhkan tanda check () pada kolom yang sesuai.


d. Rating scale (skala bertingkat), yaitu sebuah pernyataan
diikuti oleh kolom-kolom yang menunjukkan tingkatantingkatan, misalnya mulai dari sangat setuju sampai sangat
tidak setuju.
Instrumen pada penelitian ini yang digunakan adalah
kuesioner. Pada kuesioner ini alat pengumpulan data yang
digunakan adalah kuesioner tertutup atau langsung, dan bentuknya
adalah check list () dan rating scale.

4.5 Metode pengumpulan Data


Pengumpulan data yang langsung diambil dari responden yaitu melalui
wawncara dan kuesioner. Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang
digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan
tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui (Susila dan Suryadi, 2014).
4.5.1

Wawancara
Suatu metode yang dipergunakan untuk mengumpulkan data,
dimana Peneliti mendapat keterangan atau informasi secara lisan dari
seseorang responden (Notoatmodjo, 2010).

35

4.5.2

Kuisioner
Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan
untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang
pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui (Susila dan Suryadi, 2014). Hasil
kuesioner yang berupa angka-angka, tabel-tabel, analisa statistik, uraian
dan kesimpulan hasil penelitian dapat menjadi landasan bagi analisa data
kuantitatif.

4.6 Pengolahan Data


Menurut Notoatmodjo (2012) pengolahan data merupakan salah satu
langkah yang penting. Hal ini disebabkan karena data yang dieroleh langsung
dari penelitian masih mentah, belum memberikan informasi apa-apa, dan
belum siap untuk disajikan. Oleh karena itu, untuk memperoleh penyajian data
seagai hasil yang berarti dan kesimpulan yang baik, diperlukan pengolahan
data.
Pengolahan data melalui tahap-tahap berikut (Notoatmodjo, Soekidjo
2012):
1. Editing:
Adalah dimana hasil wawancara dan kuisioner dilakukan
penyuntingan (editing) terlebih dahulu. Apabila ada jawaban-jawaban
yang

belum

lengkap,

kalau

memungkinkan

perlu

dilakukan

pengambilan data ulang untuk melengkapi jawaban-jawaban tersebut.


Tetapi

apabila

tidak

memungkinkan,

maka

pertanyaan

yang

36

jawabannya tidak lengkap tersebut tidak diolah atau dimasukkan dalam


pengolahan data missing.
2. Coding:
Proses dimana setelah semua kuisioner diedit atau disunting,
selanjutnya dilakukan peng kodean atau coding yakni mengubah
data berbentuk kalimat atau huruf menjadi data angka atau bilangan.
3. Memasukkan data (data entry) :
Entry data yakni jawaban-jawaban dari masing-masing
responden yang dalam bentuk kode (angka atau huruf) dimasukkan ke
dalam program/software komputer.
4. Pembersihan data (cleaning) :
Apabila semua data dari setiap sumber data atau responden
selesai dimasukkan, perlu di cek kembali untuk melihat kemungkinankemungkinan adanya kesalahan-kesalahan kode, ketidaklengkapan,
dan sebagainya, kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi.

4.7 Analisis Data


4.7.1

Analisa Univariat
Analisis

univariat

bertujuan

untuk

menjelaskan

atau

mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian (Notoatmodjo,


2012). Analisis univariat dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil
penelitian ini untuk melihat distribusi frekuensi dan persentase yaitu
meliputi keluhan low back pain, manual handling, sikap kerja, postur
janggal, beban kerja, repetisi, jenis kelamin dan IMT.
4.7.2

Analisa Bivariat

37

Analisis bivariat adalah analisis yang dilakukan terhadap dua


variabel yang diduga berhubungan atau berkolerasi (Notoatmodjo, 2012).
Analisis bivariat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu untuk
menghubungkan variable manual handling, sikap kerja, postur janggal,
jenis kelamin, beban kerja, repetisi, jenis kelamin dan IMT dengan low
back pain. Jenis hipotesa yang digunakan untuk membuktikan hipotesis
dalam penelitian ini dengan menggunakan uji chi square untuk
menghubungkan variabel manual handling, sikap kerja, postur janggal,
jenis kelamin, beban kerja, repetisi, jenis kelamin dan IMT dengan low
back pain.
Persamaan chi square adalah sebagai berikut :
X2 =

( 0E ) 2

Keterangan :
X2 = Statistik Chi Square
E = nilai ekspektasi
0 = Nilai Observed
= jumlah
Interpretasi hasil pengujian ini terhadap masalah yang diteliti adalah
sebagai berikut :
1. Jika Pvalue > 0,05 maka tidak ada hubungan yang bermakna secara
statistik antara variabel manual handling, sikap kerja, postur

38

janggal, jenis kelamin, beban kerja, repetisi, jenis kelamin dan


IMT dengan low back pain.
2. Jika Pvalue 0,05 maka terdapat hubungan yang bermakna antara
variabel manual handling, sikap kerja, postur janggal, jenis
kelamin, beban kerja, repetisi, jenis kelamin dan IMT dengan
low back pain.

4.8 Penyajian Data


Penyajian data merupakan salah satu kegiatan dalam pembuatan
laporan hasil penelitian yang telah dilakukan agar dapat dipahami dan
dianalisis sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Penyajian data juga
dimaksudkan agar pengamat dapat denganmudah memahami apa yang kita
sajikan untuk selanjutnya dilakukan penilaian atau perbandingan dan lain-lain
(Nursalam, 2008). Data yang disajikan harus sederhana dan jelas agar mudah
dibaca. Dalam penelitian ini, teknik penyajian data yang digunakan ada 2,
yaitu:
1. Tabulasi
Penyajian data dalam bentuk tabel, yaitu suatu penyajian yang
sistematik daripada data numerik, yang tersusun dalam kolom atau
jajaran (Notoatmodjo, 2012). Tabel tersebut berisi angka-angka yang
menghasilkan hubungan antara variabel manual handling, sikap kerja,
postur janggal, jenis kelamin, beban kerja, repetisi, jenis kelamin dan
IMT dengan low back pain.

39

2. Naratif/textular
Penyajian data dalam bentuk teks (textular), yaitu penyajian
data hasil penelitian dalam bentuk uraian kalimat (Notoatmodjo, 2012)
yang menggambarkan hasil mengenai hubungan variabel manual
handling, sikap kerja, postur janggal, jenis kelamin, beban kerja,
repetisi, jenis kelamin dan IMT dengan low back pain.

40