Anda di halaman 1dari 31

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN

JAKARTA
LAPORAN KASUS
ODS KATARAK SENILIS IMATUR DAN ODS PRESBIOPIA
Disusun dan diajukan untuk memenuhi persyaratan tugas
Kepaniteraan Klinik Departemen Ilmu Penyakit Mata
Rumah Sakit Tk.II dr. Soedjono Magelang
Periode 3 Januari 3 Februari 2017
Disusun Oleh :
Ita Masitoh Ardi

1420221158

Pembimbing :
dr. Dwidjo Pratiknjo, Sp. M.
dr. YB. Hari Trilunggono, Sp.M

Kepaniteraan Klinik Departemen Mata


FAKULTAS KEDOKTERAN UPN VETERAN JAKARTA
RST dr. Soedjono Tingkat II Magelang
2017

LEMBAR PENGESAHAN
PRESENTASI KASUS
ODS KATARAK SENILIS IMATUR DAN ODS PRESBIOPIA
Disusun dan diajukan untuk memenuhi persyaratan tugas
Kepaniteraan Klinik Departemen Ilmu Penyakit Mata
Rumah Sakit Tk.II dr. Soedjono Magelang
Periode 3 Januari 3 Februari 2017

Oleh :

Ita Masitoh Ardi

Magelang,

1420221158

Januari 2017

Telah dibimbing dan disahkan oleh,

Pembimbing,

dr. YB. Hari Trilunggono, Sp.M

dr. Dwidjo Pratiknjo, Sp.M

BAB I
ILUSTRASI KASUS
I.

II.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. D

Umur

: 69 tahun

Jenis Kelamin

: Wanita

Alamat

: Mertoyudan

Pekerjaan

: Petani

Tanggal Periksa

: 11 Januari 2017

ANAMNESIS

Keluhan Utama : Penglihatan mata kanan dan kiri kabur.


Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang ke poli mata RST dr. Soedjono Magelang dengan keluhan
penglihatan kabur. Pasien mengeluh mata kanan dan kiri terasa kabur, namun
dirasakan lebih kabur mata kiri. Pasien mengaku sudah mengeluh penglihatannya
kabur dan melihat awan-awan pada mata kirinya sejak sekitar 9 bulan yang lalu
namun pada bulan puasa (7 bulan yang lalu) penglihatan semakin kabur, pasien
melihat orang jadi tidak jelas, pasien tidak berobat ke dokter karena merasa belum
terlalu parah. Mata kanan pasien tidak sekabur mata kiri, mata kanan hanya ada
bayangan awan namun masih dapat melihat lebih jelas dari pada mata kiri. Jika
mata pasien melihat sinar, mata kirinya tidak bisa melihat. Pasien mengatakan
lebih enak dan jelas melihat pada malam hari. Pasien tidak pernah memakai
kacamata sebelumnya. Riwayat trauma pada mata seperti terbentur, terkena pukul,
atau terkena benda tajam disangkal, riwayat sakit gula (DM) disangkal, riwayat
infeksi pada mata disangkal. Saat ini pasien tidak merasakan kedua matanya
nyrocos, tidak merah, tidak gatal, tidak ada kotoran, tidak lengket saat bangun
tidur, tidak silau jika melihat cahaya terang, tidak melihat pelangi disekitar lampu.

Pasien tidak merasakan sakit kepala, tidak mual ataupun muntah. Pasien tidak
merokok.
Pasien tidak dapat membaca, pasien hanya dapat mengenali angka-angka
sehingga pasien tidak menyadari adanya gangguan penglihatan jarak dekat.
Pasien tidak pernah memakai kacamata baca. Sekitar usia 45 tahun pasien
mengalami kesulitan saat menjahit baju dan memasang kancing, sampai saat ini
pasien hampir tidak pernah melakukan kegiatan itu lagi. Pasien merasa gangguan
penglihatan dekatnya tersebut tidak mengganggu pekerjaannya sebagai petani
sehingga pasien tidak pernah periksa ke dokter.
Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat penyakit mata sebelumnya : disangkal

Riwayat arthritis

: disangkal

Riwayat DM

: disangkal

Riwayat Hipertensi

: disangkal

Riwayat trauma

: disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat keluhan serupa

: disangkal

Riwayat DM

: disangkal

Riwayat Hipertensi

: disangkal

Riwayat Pengobatan

Pasien tidak mengkonsumsi obat-obatan kejang maupun obat-obatan nyeri


sendi. Riwayat mengkonsumsi obat-obatan tertentu dalam waktu lama disangkal
Riwayat Sosial Ekonomi

Pasien bekerja sebagai petani. Biaya pengobatan ditanggung oleh BPJS,


kesan ekonomi kurang.

III.

PEMERIKSAAN FISIK
Status Umum
Kesadaran
Aktifitas
Kooperatif
Status gizi

: Compos mentis
: Normoaktif
: Kooperatif
: Baik

Vital Sign
Tekanan darah : 150/90 mmHg
Nadi
: 83 x/menit
RR
: 20 x/menit
Suhu
: 36C

Status Ophthalmicus

Pemeriksaan

OD

OS

Visus
6/15 NC

6/60 NC

Add + 3,00 J (Tidak dapat dinilai)

Bulbus Oculi

Gerak bola mata

Strabismus
Eksoftalmus
Enoftalmus

Baik ke

Baik ke

Segala arah

Segala arah

Normal

Normal

Suprasilia

Palpebra Superior

Edema
Xantelasma
Hematom
Hiperemi
Entropion
Ektropion
Silia
Ptosis
Nyeri tekan
Abses

Trikiasis (-)

Trikiasis (-)
-

Palpebra Inferior

Edema
Xantelasma
Hematom
Hiperemi
Entropion
Ektropion
Silia
Nyeri tekan
Abses

Trikiasis (-)
-

Trikiasis (-)
-

Sistem Lakrimasi

Lakrimasi

Konjungtiva

Injeksi konjungtiva
Injeksi siliar
Sekret
Perdarahan subkonjungtiva
Bangunan patologis
Semblefaron
Jaringan Fibrovaskuler

Kornea

Kejernihan
Mengkilat
Edema
Infiltrat
Keratic Precipitat
Ulkus
Sikatrik
Bangunan
Patologis

Jernih

Jernih

Tidak Dangkal

Tidak Dangkal

Reguler

Reguler

3 mm

3 mm

COA

Kedalaman
Hipopion
Hifema

Iris

Kripta
Sinekia

Pupil

Bentuk
Diameter
Reflek pupi

Lensa

Kejernihan
Iris shadow

Keruh Sebagian
+

Keruh Sebagian
+

Corpus Vitreum

Floaters
Hemoftalmia

+ agak suram

+ agak suram

0
Papil bulat, batas
tegas, warna jingga,
papil tidak melebar
CDR 0,3

0
Papil bulat, batas
tegas,warna jingga,
papil tidak melebar
CDR 0,3

Fundus refleks
Funduskopi :
- Fokus
- Papil N. II

Vasa

Macula

AVR 2/3
Crossing sign (-)

Fovea reflek (+)

AVR 2/3
Crossing sign (-)
Fovea reflek (+)
Perdarahan (-)

Retina

TIO (palpasi)

IV.

Perdarahan (-)

Tidak meningkat

Tidak meningkat

PEMERIKSAAN PENUNJANG
ODS Katarak Imatur
Pemeriksaan GDS, GDP, GDPP.
ODS Presbiopi
Tidak dilakukan.
V.

DIAGNOSIS BANDING

ODS Katarak Senilis Imatur


ODS Katarak Senilis Imatur dipertahankan karena pada anamnesis terdapat
kontroversi katarak imatur dan pada pemeriksaan pasien ini didapatkan lensa
keruh sebagian, iris shadow (+)

ODS Katarak Senilis Insipien disingkirkan karena pada katarak insipien


tidak didapatkan penurunan visus, iris shadow (-), sedangkan pada pasien
didapatkan penurunan visus , iris shadow (+).
ODS Katarak Senilis Matur disingkirkan karena pada katarak senilis matur
didapatkan iris shadow (-), lensa keruh total, fundus refleks (-) sedangkan
pada pasien ini iris shadow (+), fundus reflek (+) suram.
ODS Katarak Senilis Hipermatur disingkirkan karena pada katarak
hipermatur didapatkan kekeruhan total lensadengan permukaan rata karena
lensa telah mencair, COA dalam, iris Shadow (-) sedangkan pada pasien ini
dari hasil pemeriksaan didapatkan COA tidak dangkal, iris shadow (+), lensa
keruh sebagian, fundus refleks +suram.
ODS Katarak Traumatika disingkirkan karena pada katarak matur
traumatika terdapat lensa keruh seluruhnya dan riwayat trauma terkena benda
tumpul sedangkan pada pasien ini lensa keruh sebagian bukan karena ada
riwayat trauma.
ODS Katarak Komplikata Diabetes Melitus disingkirkan karena pada
katarak komplikata diabetes melitus terdapat riwayat DM sedangkan pada
pasien ini tidak tedapat riwayat DM.
ODS Katarak akibat terinduksi obat Disingkirkan karena pada katarak ini
akibat obat kataraktogenesis sedangkan dari hasil anamnesis tidak ditemukan
adanya pengobatan tertentu yang dapat mengakibatkan kekeruhan lensa,
seperti penggunaan kortikosteroid jangka panjang

Presbiopi
ODS Presbiopi
Dipertahankan karena pasien berusia 48 tahun, memiliki keluhan jika
membaca harus dijauhkan agar lebih jelas, dan dapat dikoreksi pada usia 42
tahun dengan S+1.0 , pada usia 45 tahun dengan S+1.5.
ODS Presbiopi Prekok
Disingkirkan karena pasien mengeluh gangguan membaca saat usia diatas 40
tahun. Sedangkan pasien mengeluh penglihatan dekatnya berkurang mulai
usia 42 tahun.
ODS Hipermetropi
Disingkirkan karena pada hipermetropia terdapat gejala kabur bila melihat
jauh maupun lebih kabur lagi saat melihat dekat dan bisa terjadi di usia
berapapun, sedangkan pada pasien ini hanya mengeluhkan penglihatan kabur
saat melihat dekat dan pasien berusia 48 tahun .
VI.

VII.

DIAGNOSIS KERJA
ODS Katarak Senilis Imatur
ODS Presbiopi
Penatalaksanaan
A. ODS Katarak Senilis Imatur
Medikamentosa :
Oral
: Vitamin E 1x1
Topikal : Catarlent (CaCl anhidrat 0,075 gr, kalium iodide 0,075
gr, natrium tiosufa 0,00075 gr, fenil merkuri nitrat 0,3 mg) 3x1

tetes ODS
Parenteral : Operatif : Ekstraksi Katarak + IOL

EKEK ( Ekstraksi Katarak Ekstra Kapsuler) : dengan hanya


mengeluarkan isi lensa tanpa ekstraksi lensa keseluruhan.
Non Medikamentosa : B. Presbiopi
Non Medikamentosa : dengan kacamata Sferis +3 Dioptri sesuai
dengan umur pasien > 60 tahun.
Medikamentosa :
Oral / sistemik : Topikal : Parenteral : Operatif : -

VIII.

Komplikasi
Katarak
Glaukoma sekunder sudut tertutup
Presbiopi : -

IX.

X.
XI.

PROGNOSIS
Prognosis
Quo ad visam

Oculus Dexter
Dubia Ad Bonam

Oculus Sinister
Dubia AdBonam

Quo ad sanam

Dubia Ad Bonam

Dubia Ad Bonam

Quo ad functionam

Ad Bonam

Ad Bonam

Quo ad kosmetikan

Ad Bonam

Ad Bonam

Quo ad vitam

Ad Bonam

Ad Bonam

Rujukan
Dalam kasus ini tidak dilakukan rujukan ke disiplin ilmu kedokteran lain.
EDUKASI
Katarak
a. Menjelaskan kepada pasien bahwa penglihatan kabur pada mata kanan
dan kiri disebabkan oleh lensa yang keruh sebagian yang disebut
katarak. Dikarenakan pertambahan umur yang dialami oleh pasien.

b. Menjelaskan bahwa obat tetes yang diberikan tidak menyembuhkan


katarak yang dialami pasien namun hanya memperlambat menjadi
matur/matang.
c. Memberi penjelasan bahwa kekeruhan yang ada pada lensa semakin
lama akan semakin berat seiring berjalannya waktu, sehingga
penurunan tajam penglihatan dapat terus terjadi terutama pada mata
kanan yang saat ini tajam penglihatan masih cukup baik.
d. Menjelaskan bahwa bila katarak sudah matang pasien merasa
terganggu, maka harus dilakukan operasi supaya penglihatan pasien
membaik, apabila katarak tidak dioperasi akan berkembang menjadi
katarak yang terlalu matang

dan glaukoma sekunder yang dapat

membahayakan dan menyebabkan kebutaan yang tidak bisa diatasi.


e. Memberi tahu pasien jika pasien merasa mata merah,cekot-cekot,
pusing dan seperti melihat pelangi di sekitar maka segera ke dokter
Presbiopia
a. Menjelaskan kepada pasien bahwa kacamata yang digunakan bukan
untuk mengurangi kabur akibat proses katarak melainkan sebagai alat
bantu untuk melihat jarak dekat.
b. Menjelaskan bahwa kacamata baca ditanggung oleh BPJS sehingga
menjadi gratis, disarankan pasien menggunakan kacamata baca untuk
aktivitas seperti menjahit.
c. Menjelaskan rabun penglihatan dekatnya sudah tidak akan bertambah
karena sudah berusia > 60 tahun.
d. Menjelaskan bahwa kacamata baca yang disarankan untuk

pasien tidak perlu ganti lagi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Katarak
2.1 Anatomi, Histologi, dan Fisiologi Lensa
Lensa adalah struktur kristalin berbentuk bikonveks dan transparan. Tebalnya
sekitar 4 mm dan diameter 9 mm. Lensa memiliki dua permukaan, yaitu permukaan
anterior dan posterior. Permukaan posterior lebih cembung daripada permukaan
anterior Dibelakang iris lensa digantung oleh zonula yang menghubungkan dengan
korpus siliaris. Di anterior lensa terdapat humor aquaeus; disebelah posteriornya,
vitreus. Kapsul lensa adalah membran yang semipermeable (sedikit lebih permiabel
dari pada kapiler) yang menyebabkan air dan elektrolit masuk. Didepan lensa terdapat
selapis tipis epitel supkapsuler. Nucleus lensa lebih tebal dari korteksnya. Semakin
bertambahnya usia laminar epitel supkapsuler terus diproduksi sehingga lensa
semakin besar dan kehilangan elastisitas.

Gambar 1. Lensa

Secara histologis, lensa memiliki tiga komponen utama:


1. Kapsul lensa
Lensa dibungkus oleh simpai tebal (10-20 m), homogen, refraktil, dan kaya akan
karbohidrat, yang meliputi permukaan luar sel-sel epithel. Kapsul ini merupakan
suatu membran basal yang sangat tebal dan terutama terdiri atas kolagen tipe IV dan
glikoprotein. Kapsul lensa paling tebal berada di ekuatorr 14m) dan paling tipis pada
kutub posterior (3 m). Kapsul lensa bersifat semipermeabel, artinya sebagian zat
dapat melewati lensa dan sebagian lagi tidak.

2. Epitel subkapsular
Epitel subkapsular terdiri atas sel epitel kuboid yang hanya terdapat pada permukaan
anterior lensa. Epitel subkapsular yang berbentuk kuboid akan berubah menjadi
kolumnar di bagian ekuator dan akan terus memanjang dan
membentuk serat lensa. Lensa bertambah besar dan tumbuh seumur hidup dengan
terbentuknya serat lensa baru dari sel-sel yang terdapat di ekuator lensa. Sel-sel epitel
ini memiliki banyak interdigitasi dengan serat-serat lensa.
3. Serat lensa
Serat lensa tersusun memanjang dan tampak sebagai struktur tipis dan gepeng. Serat
ini merupakan sel-sel yang sangat terdiferensiasi dan berasal dari sel-sel subkapsular.
Serat lensa akhirnya kehilangan inti serta organelnya dan menjadi sangat panjang.
Sel-sel ini berisikan sekelompok protein yang disebut kristalin.

Gambar 2. Histologi Lensa (Junqueira, 2010)


Lensa dapat membiaskan cahaya karena indeks bias, biasanya sekitar 1,4
pada sentral dan 1,36 pada perifer, hal ini berbeda dari dengan aqueous dan vitreus
yang mengelilinginya. Pada tahap tidak berakomodasi, lensa memberikan kontribusi
sekitar 15-20 dioptri (D) dari sekitar 60 D kekuatan konvergen bias mata manusia
rata-rata. Lensa terdiri dari 65% air dan 35% protein (tertinggi kandungan nya di
antara seluruh tubuh) dan sedikit sekali mineral. Kandungan kalium lebih tinggi pada

lensa dibanding area tubuh lainnya. Asam askorbat dan glutation terdapat dalam
bentuk teroksidasi maupun tereduksi. Tidak ada serabut nyeri, pembuluh darah atau
saraf pada lensa. Fungsi utama lensa adalah memfokuskan berkas cahaya ke retina.
Untuk memfokuskan cahaya yang datang dari jauh otot siliaris berelaksasi,
menegangkan serat zonula dan memperkecil diameter anteroposterior lensa sampai
ukuran terkecil, dalam posisi ini daya refraksi lensa diperkecil sehingga berkas
cahaya akan terfokus pada retina. Sementara untuk cahaya yang berjarak dekat otot
siliaris berkontrasi sehingga tegangan zonula berkurang, artinya lensa yang elastis
menjadi lebih sferis diiringi oleh peningkatan daya biasnya. Kerja sama fisiologis
antara korpus siliaris, zonula dan lensa untuk memfokuskan benda jatuh pada retina
dikenal dengan akomodasi. Hal ini berkurang seiring dengan bertambahnya usia.
Gangguan pada lensa dapat berupa kekeruhan, distorsi, dislokasi dan
anomaly geometri. Keluhan yang di alami penderita berupa pandangan kabur tanpa
disertai nyeri. Pemeriksaan yang dapat dilakukan pada penyakit lensa adalah
pemeriksaan ketajaman penglihatan dan dengan melihat lensa melalui slitlamp,
oftalmoskop, senter tangan atau kaca pembesar, sebaiknya dengan pupil dilatasi.
2.2 Katarak
2.2.1 Definisi
Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi
akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa, atau terjadi akibat
kedua-duanya (Ilyas, 2009).
Katarak berasal dari yunani katarrhakies, inggris cataract dan latin
cataracta yang berarti air terjun. Dalam bahasa Indonesia disebut bular dimana
penglihatan seperti tertutup air terjun. Katarak adalah kekeruhan lensa yang mengarah
kepada penurunan ketajaman visual dan atau cacat fungsional yang dirasakan oleh
pasien (Khalilullah, 2010).
2.2.2 Epidemiologi

Menurut WHO, katarak adalah penyebab kebutaan terbesar di seluruh dunia.


Katarak menyebabkan kebutaan pada delapan belas juta orang diseluruh
dunia dan diperkirakan akan mecapai angka empat puluh juta orang pada tahun 2020.
Hampir 20,5 juta orang dengan usia di atas 40 yang menderita katarak, atau 1 tiap 6
orang dengan usia di atas 40 tahun menderita katarak (American Academy
Ophthalmology, 2007).
2.2.3 Etiologi dan Faktor Resiko
Penyebab

tersering

dari

katarak

adalah

proses

degenerasi,

yang

menyebabkan lensa mata menjadi keras dan keruh. Pengeruhan lensa dapat dipercepat
oleh faktor risiko seperti merokok, paparan sinar UV yang tinggi, alkohol, defisiensi
vit E, radang menahun dalam bola mata dan polusi asap motor/pabrik yang
mengandung timbal (Budiono, 2013).
Katarak juga dapat terjadi pada bayi dan anak-anak, disebut sebagai katarak
kongenital. Katarak kongenital terjadi akibat adanya peradangan/infeksi ketika hamil
atau penyebab lainnya. Katarak juga dapat terjadi sebagai komplikasi penyakit infeksi
dan metabolik lainnya seperti diabetes mellitus (Budiono, 2013).
2.2.4 Patogenesis
Katarak senilis adalah penyebab utama gangguan penglihatan pada orang
tua. Patogenesis katarak senilis bersifat multifaktorial dan belum sepenuhnya
dimengerti. Walaupun sel lensa terus bertumbuh sepanjang hidup, tidak ada sel - sel
yang dibuang. Seiring dengan bertambahnya usia, lensa bertambah berat dan tebal
sehingga kemampuan akomodasinya menurun. Saat lapisan baru dari serabut korteks
terbentuk secara konsentris, sel-sel tua menumpuk ke arah tengah sehingga nukleus
lensa mengalami penekanan dan pengerasan (sklerosis nuklear).
Crystallin (protein lensa) mengalami modifikasi dan agregasi kimia menjadi
high-molecular-weight-protein.

Agregasi

protein

ini

menyebabkan

fluktuasi

mendadak pada index refraksi lensa, penyebaran sinar cahaya, dan penurunan
transparansi. Perubahan kimia protein lensa nuklear ini juga menghasilkan pigmentasi
yang progresif sehingga seiring berjalannya usia lensa menjadi bercorak kuning

kecoklatan sehingga lensa yang seharusnya jernih tidak bias menghantarkan dan
memfokuskan cahaya ke retina. Selain itu, terjadi penurunan konsentrasi Glutathione
dan Kalium diikuti meningkatnya konsentrasi Natrium dan Kalsium.
2.2.5 Tipe Katarak Senilis
Katarak Nuklear
Dalam tingkatan tertentu sklerosis dan penguningan nuklear dianggap normal
setelah usia pertengahan. Pada umumnya, kondisi ini hanya sedikit mengganggu
fungsi penglihatan. Jumlah sklerosis dan penguningan yang berlebihan disebut
katarak nuklear, yang menyebabkan opasitas sentral. Tingkat sklerosis, penguningan
dan opasifikasi dinilai dengan menggunakan biomikroskop slit-lamp dan pemeriksaan
reflex merah dengan pupil dilatasi.
Katarak nuklear cenderung berkembang dengan lambat. Sebagian besar katarak
nuklear adalah bilateral, tetapi bisa asimetrik. Cirri khas dari katarak nuklear adalah
membaiknya penglihatan dekat tanpa kacamata, keadaan inilah yang disebut sebagai
penglihatan kedua. Ini merupakan akibat meningkatnya kekuatan focus lensa
bagian sentral, menyebabkan refraksi bergeser ke myopia (penglihatan dekat).
Kadang-kadang, perubahan mendadak indeks refraksi antara nukleus sklerotik dan
korteks lensa dapat menyebabkan monocular diplopia . Penguningan lensa yang
progresif menyebabkan diskriminasi warna yang buruk. Pada kasus yang sudah
lanjut, nukleusnlensa menjadi opak dan coklat dan disebut katarak nuklear
brunescent. Secara histopatologi, karakteristik katarak nuklearis adalah homogenitas
nukleus lensa dengan hilangnya lapisan tipis seluler.
Katarak Kortikal
Katarak kortikal adalah kekeruhan pada korteks lensa. Ini adalah jenis katarak
yang paling sering terjadi. Lapisan korteks lensa tidak sepadat pada bagian nukleus
sehingga lebih mudah terjadi overhidrasi akibat ketidakseimbangan elektrolit yang
mengganggu serabut korteks lensa sehingga terbentuk osifikasi kortikal, yang
ditunjukkan pada diabetes dan galaktosemia (Fong, 2008). Perubahan hidrasi serat
lensa menyebabkan terbentuknya celah celah dalam pola radial disekeliling daerah
ekuator. Katarak ini cenderung bilateral, tetapi sering asimetrik. Derajat gangguan
fungsi penglihatan bervariasi, tergantung seberapa dekat kekeruhan lensa dengan

sumbu penglihatan (Harper et al,2010). Gejala yang sering ditemukan adalah


penderita merasa silau pada saat mencoba memfokuskan pandangan pada suatu
sumber cahaya di malam hari (Rosenfeld et al, 2007).
Pemeriksaan menggunakan biomikroskop slitlamp akan mendapatkan
gambaran vakuola, degenerasi hiropik serabut lensa, serta pemisahan lamella kortek
anterior atau posterior oleh air. Kekeruhan putih seperti baji terlihat di perifer lensa
dengan ujungnya mengarah ke sentral, kekeruhan ini tampak gelap apabila dilihat
menggunakan retroiluminasi. Secara histopatologi, karakteristik dari katarak kortikal
adalah adanya pembengkakan hidrofik serabut lensa. Globula Morgagni (globulesglobulus material eosinofilik) dapat diamati di dalam celah antara serabut lensa
(Rosenfeld et al, 2007).
Katarak Subkapsularis Posterior
Katarak subkapsularis posterior terdapat pada korteks di dekat kapsul
posterior bagian sentral (Harper et al,2010). Katarak ini biasanya didapatkan pada
penderita dengan usia yang lebih muda dibanding kedua jenis katarak yang lain.
Gejalanya antara lain adalah fotofobia dan penglihatan yang buruk saat mata
berakomodasi atau diberikan miotikum. Ini dikarenakan ketika pupil konstriksi saat
berakomodasi, cahaya yang masuk ke mata menjadi terfokus ke sentral, dimana
terdapat katarak subkapsularis posterior, menyebabkan cahay menyebar dan
mengganggu kemampuan mata untuk memfokuskan pada makula (Rosenfeld et al,
2007).
Deteksi

katarak

subkapsularis

posterior

paling

baik

menggunakan

biomikroskop slitlamp pada mata yang telah ditetesi midriatikum. Pasda awal
pembentukan katarakakan ditemukan gambaran kecerahan mengkilap seperti pelangi
yang halus pada lapisan korteks posterior. Sedangkan pada tahap akhir terbentuk
kekeruhan granular dan kekeruhan seperti plak di kortek subkapsular
posterior (Rosenfeld et al, 2007). Kekeruhan lensa di sini dapat timbul akibat trauma,
penggunaan kortikosteroid (topical atau sistemik), peradangan atau pajanan radiasi
pengion (Harper et al, 2010).

Gambar 3 Tipe Katarak Senilis. A(katarak nuklear), B(katarak kortikal), C(katarak


subkapsularis posterior)

2.2.6 Stadium Katarak


Stadium katarak berdasarkan maturitasnya terbagi menjadi 4 (Khalilullah,
2010):
1. Katarak Insipien, kekeruhan mulai dari tepi ekuator berbentuk jeruji
menuju korteks anterior dan posterior (katarak kortikal). Katarak
subkapsular psoterior, kekeruhan mulai terlihat di anterior subkapsular
posterior, celah terbentuk, antara serat lensa dan korteks berisi jaringan
degeneratif (beda morgagni) pada katarak insipien Pada katarak
intumesen, kekeruhan lensa disertai pembengkakan lensa akibat lensa
yang degeneratif menyerap air. Pada keadaan ini dapat terjadi hidrasi
korteks hingga lensa akan mencembung dan daya biasnya bertambah,
yang akan memberikan miopisasi.
2. Katarak Imatur, sebagian lensa keruh atau katarak. Merupakan katarak
yang belum mengenai seluruh lapis lensa. Volume lensa bertambah
akibat meningkatnya tekanan osmotik bahan degeneratif lensa. Pada
keadaan lensa mencembung akan dapat menimbulkan hambatan pupil,
sehingga dapat terjadi glaukoma sekunder.
3. Katarak Matur, kekeruhan telah mengenai seluruh lensa. Kekeruhan ini
bisa terjadi akibat deposisi ion Ca yang menyeluruh. Bila katarak imatur
tidak dikeluarkan, maka cairan lensa akan keluar sehingga lensa kembali
pada ukuran normal dan terjadi kekeruhan lensa yang lama kelamaan

akan mengakibatkan kalsifikasi lensa pada katarak matur. Bilik mata


depan berukuran dengan kedalaman normal kembali, tidak terdapat
bayangan iris pada shadow test atau disebut negatif.
4. Katarak Hipermatur, merupakan katarak yang telah mengalami proses
degenerasi lanjut, dapat menjadi keras, lembek dan mencair. Masa lensa
yang berdegenerasi keluar dari kapsul lensa, sehingga lensa menjadi
kecil, berwarna kuning dan kering. Pada pemeriksaan terlihat bilik mata
depan dalam dan terlihat lipatan kapsul lensa. Kadang pengkerutan
berjalan terus sehingga hubungan dengan zonula zinii menjadi kendur.
(Kanski, 2007)

Gambar 4. Stadium Katarak


2.2.7 Manifestasi Klinis
Manifestasi dari gejala yang dirasakan oleh pasien penderita katarak terjadi
secara progresif dan merupakan proses yang kronis. Gangguan penglihatan bervariasi,
tergantung pada jenis dari katarak yang diderita pasien. Gejala pada penderita katarak
adalah sebagai berikut (Budiono, 2013):
1. Penurunan visus

2.
3.
4.
5.
6.

Silau
Perubahan miopik
Diplopia monocular
Halo berwarna
Bintik hitam didepan mata

Tanda pada penderita katarak adalah sebagai berikut:


1. Pemeriksaan visus berkisar antara 6/9 sampai hanya persepsi cahaya
2. Pemeriksaan iluminasi oblik
3. Shadow test
4. Oftalmoskopi direk
5. Pemeriksaan sit lamp
2.2.8

Diagnosis
Diagnosis pasien penderita katarak dapat dimulai dari anamnesis,

pemerikasaan visus, pemeriksaan segmen anterior dan segmen posterior (Budiono,


2013).
-

Anamnesis, dari anamnesis didapatakan keluhan pandangan kabur disertai

berkabut dan silau merupakan tanda klinis dari penderita katarak.


Pemeriksaan visus, menggunakan kartu snellen untuk melihat tajam

penglihatan pasien.
Pemeriksaan segmen anterior, refleks pupil terhadap cahaya pada katarak
masih normal. Tampak kekeruhan pada lensa terutama bila pupil dilebarkan,
berwarna putih keabu-abuan yang harus dibedakan dengan refleks senil.
Diperiksa proyeksi iluminasi dari segala arah pada katarak matur untuk
mengetahui fungsi retina secara garis besar. Diperiksa juga iris shadow pada

pasien yang diduga katarak.


Pemeriksaan segmen posterior, dapat digunakan oftalmoskop dan slit lamp.
Pada oftalmoskop, sebaiknya pupil dilebarkan. Pada stadium insipien dan
imatur tampak kekeruhan kehitam-hitaman dengan latar belakang jingga,
sedangkan pada stadium matur hanya didapatkan warna kehitaman tanpa latar
belakang jingga atau refleks fundus negatif. Pada slit lamp, dapat dievaluasi
luas, tebal dan lokasi dari katarak.

2.2.9 Penatalaksanaan
Katarak hanya dapat diatasi melalui prosedur operasi. Akan tetapi jika gejala
katarak tidak mengganggu, tindakan operasi tidak diperlukan. Kadang kala cukup
dengan mengganti kacamata. Sejauh ini tidak ada obat-obatan yang dapat
menjernihkan lensa yang keruh. Namun aldose reductase inhibitor diketahui dapat
menghambat konversi glukosa menjadi sorbitol sudah memperlihatkan hasil yang
menjanjikan dalam pencegahan katarak gula pada hewan. Obat anti katarak lainnya
sedang diteliti termasuk diantaranya agen yang menurunkan kadar sorbitol, aspirin,
agen glutathione-raising dan antioksidan vitamin C dan E (Khalilullah, 2010).
Penatalaksanaan definitif untuk katarak senilis adalah ekstraksi lensa. Lebih
dari bertahun-tahun, tehnik bedah yang bervariasi sudah berkembang dari metode
yang kuno hingga tehnik hari ini phacoemulsifikasi. Hampir bersamaan dengan
evolusi IOL yang digunakan yang bervariasi dengan lokasi, material dan bahan
implantasi. Bergantung pada integritas kapsul lensa posterior ada 2 tipe bedah lensa
yaitu intra capsuler cataract extraction (ICCE) dan extra capsuler cataract extraction
(ECCE). Berikut ini akan dideskripsikan secara umum tentang tiga prosedur operasi
pada ekstraksi katarak yang sering digunakan yaitu EKIK, EKEK dan
phacoemulsifikasi (Khalilullah, 2010).
1. EKIK, tindakan pembedahan dengan mengeluarkan seluruh lensa
bersama kapsul. Seluruh lensa dibekukan di dalam kapsulnya dengan
cryophake dan depindahkan dari mata melalui insisi korneal superior
yang lebar. Sekarang metode ini hanya dilakukan hanya pada keadaan
lensa subluksatio dan dislokasi. Pada ICCE tidak akan terjadi katarak
sekunder dan merupakan tindakan pembedahan yang sangat lama
populer. ICCE tidak boleh dilakukan atau kontraindikasi pada pasien
berusia kurang dari 40 tahun yang masih mempunyai ligamen hialoidea
kapsular. Penyulit yang dapat terjadi pada pembedahan ini astigmatisme,
glukoma, uveitis, endoftalmitis, dan perdarahan.

2. EKEK, tindakan pembedahan pada lensa katarak dimana dilakukan


pengeluaran isi lensa dengan memecah atau merobek kapsul lensa
anterior sehingga massa lensa dan kortek lensa dapat keluar melalui
robekan. Pembedahan ini dilakukan pada pasien katarak muda, pasien
dengan kelainan endotel, bersama-sama keratoplasti, implantasi lensa
intra ocular posterior, perencanaan implantasi sekunder lensa intra
ocular, kemungkinan akan dilakukan bedah glukoma, mata dengan
prediposisi untuk terjadinya prolaps badan kaca, mata sebelahnya telah
mengalami prolap badan kaca, sebelumnya mata mengalami ablasi
retina, mata dengan sitoid macular edema, pasca bedah ablasi, untuk
mencegah penyulit pada saat melakukan pembedahan katarak seperti
prolaps badan kaca. Penyulit yang dapat timbul pada pembedahan ini
yaitu dapat terjadinya katarak sekunder.
3. Phacoemulsifikasi, maksudnya membongkar dan memindahkan kristal
lensa. Pada tehnik ini diperlukan irisan yang sangat kecil (sekitar 23mm)

di

kornea.

Getaran

ultrasonic

akan

digunakan

untuk

menghancurkan katarak, selanjutnya mesin PHACO akan menyedot


massa katarak yang telah hancur sampai bersih. Sebuah lensa Intra
Okular yang dapat dilipat dimasukkan melalui irisan tersebut. Karena
incisi yang kecil maka tidak diperlukan jahitan, akan pulih dengan
sendirinya, yang memungkinkan pasien dapat dengan cepat kembali
melakukan aktivitas sehari-hari. Tehnik ini bermanfaat pada katarak
kongenital, traumatik, dan kebanyakan katarak senilis. Tehnik ini kurang
efektif pada katarak senilis padat, dan keuntungan incisi limbus yang
kecil agak kurang kalau akan dimasukkan lensa intraokuler, meskipun
sekarang lebih sering digunakan lensa intra okular fleksibel yang dapat
dimasukkan melalui incisi kecil seperti itu.
4. SICS, teknik operasi Small Incision Cataract Surgery (SICS) yang
merupakan teknik pembedahan kecil. Teknik ini dipandang lebih
menguntungkan karena lebih cepat sembuh dan murah.
2.2.10 Komplikasi

Komplikasi Pre Operatif


Komplikasi katarak matur adalah dapat berlanjut menjadi katarak
hipermatur.
Komplikasi Post Operatif
Berikut ini adalah komplikasi besar post operatif yang lambat, terlihat dalam
beberapa minggu atau bulan setelah operasi katarak :

Jahitan yang menginduksi astigmatismus

Desentrasi dan dislokasi IOL

Edem kornea dan keratopati bullous pseudopakia

2.2.11 Prognosis
Dengan tehnik bedah yang mutakhir, komplikasi atau penyulit menjadi
sangat jarang. Hasil pembedahan yang baik dapat mencapai 95%. Pada bedah katarak
resiko ini kecil dan jarang terjadi. Keberhasilan tanpa komplikasi pada pembedahan
dengan ECCE atau fakoemulsifikasi menjanjikan prognosis dalam penglihatan dapat
meningkat hingga 2 garis pada pemeriksaan dengan menggunakan snellen chart
(Ocampo, 2012).

PRESBIOPIA
DEFINISI
Presbiopia merupakan kelainan refraksi pada mata yang menyebabkan
punctum proksimum mata menjadi jauh. Hal ini disebabkan karena telah terjadi
gangguan akomodasi yang terjadi pada usia lanjut. Presbiopia merupakan suatu
keadaan yang fisiologis, bukan suatu penyakit dan terjadi pada setiap mata.
ETIOPATOGENESIS
Gangguan daya

akomodasi akibat kelelahan otot akomodasi yaitu

menurunnya daya kontraksi dari otot siliaris sehingga zonulla zinii tidak dapat
mengendur secara sempurna. Gangguan akomodasi juga terjadi karena lensa mata
elastisitasnya berkurang pada usia lanjut akibat proses sklerosis yang terjadi pada
lensa mata. Pada mekanisme akomodasi yang normal terjadi peningkatan daya
refraksi mata karena adanya perubahan keseimbangan antara elastisitas matriks
lensa

dan

kapsul sehingga lensa menjadi cembung. Dengan meningkatnya umur

maka lensa menjadi lebih

keras (sklerosis) dan kehilangan elastisitasnya untuk

menjadi cembung. Dengan demikian kemampuan melihat dekat makin berkurang.


KLASIFIKASI
a. Presbiopi Insipien tahap awal perkembangan presbiopi, dari anamnesa didapati
pasien memerlukan kaca mata untuk membaca dekat, tapi tidak tampak kelainan bila
dilakukan tes, dan pasien biasanya akan menolak preskripsi kaca mata baca
b. Presbiopi Fungsional

Amplitud akomodasi yang semakin menurun dan akan

didapatkan kelainan ketika diperiksa


c.

Presbiopi Absolut

Peningkatan derajat presbiopi dari presbiopi fungsional,

dimana proses akomodasi sudah tidak terjadi sama sekali

d.

Presbiopi Prematur Presbiopia yang terjadi dini sebelum usia 40 tahun dan

biasanya berhungan dengan lingkungan, nutrisi, penyakit, atau obat-obatan


e. Presbiopi Nokturnal Kesulitan untuk membaca jarak dekat pada kondisi gelap
disebabkan oleh peningkatan diameter pupil
GEJALA KLINIK
Gejala yang timbul akibat gangguan akomodasi pada pasien berusia di atas 40
tahun ini adalah keluhan saat membaca atau melihat dekat menjadi kabur dan
membaca harus dibantu dengan penerangan yang lebih kuat (pupil mengecil), serta
mata menjadi cepat lelah.
Keadaan ini bila tidak dikoreksi akan menimbulkan gejala astenopia yaitu
mata lekas lelah, berair, pusing, cepat mengantuk. Pemeriksaan presbiopia
mempergunakan tes Jaeger.
DIAGNOSIS BANDING
Presbiopi oleh karena degenerasi lensa sehingga akomodasi menjadi lambat dan
perubahan pungtum proksimum
Hipermetropia oleh karena sinar sejajar jauh jatuh di belakang retina dan sinar
sejajar dekat jatuh lebih jauh di belakang retina.

PEMERIKSAAN PRESBIOPIA
1. Pasien duduk dengan jarak 6 meter dari kartu snellen
2. Pasien diukur visus jauhnya dengan kartu snellen bila dengan mata satu
per satu, mulai dengan mata kanan dan menutup mata yang tidak
diperiksa.
3. Pasien diukur visus dekatnya menggunakan kartu jaeger dengan
menggunakan dioptri yang sesuai dengan umur pasien (1.0 D untuk usia

40 tahun, +1.5 D untuk usia 45 tahun, +2.0 D untuk usia 50 tahun, +2.5 D
untuk usia 55 tahun,+3.0 D untuk usia 60 tahun) dan target yang bisa
terbaca yaitu pada J6, pemeriksaaan dilakukan satu per satu mulai dengan
mata kanan dan menutup mata yang tidak diperiksa.
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan pada penderita presbiopia adalah dengan menggunakan
kacamata sferis positif (S+), yang kekuatannya sesuai dengan umur pasien. Pada
kacamata baca diperlukan koreksi atau penambahan sesuai dengan bertambahnya usia
pasien biasanya adalah :

+1.0 D untuk usia 40 tahun

+1.5 D untuk usia 45 tahun

+2.0 D untuk usia 50 tahun

+2.5 D untuk usia 55 tahun

+3.0 D untuk usia 60 tahun

Komplikasi
-

DAFTAR PUSTAKA

The Eye M.D. Association. Fundamentals and Principles of ophthalmology. In: Basic
and Clinical Science Course American Academy of Ophthalmology. Section 2.
Singapore : LEO; 2008.
Crick RP, Khaw PT. Practical Anatomy and Physiology of The Eye and Orbit. In: A
Textbook of Clinical Ophtalmology. 3thEd. Singapore : FuIsland Offset Printing (S)
Pte Ltd; 2003. p 5-7.
Guyton AC, Hall JE. Fluid System of the Eye. In: Textbook of Medical Physiology.
11th Ed. Pennyslvania: Elsevier Inc; 2006. p 623-25.
Junqueira, Luiz Carlos.& Jose Carneiro. 2010. Histologi Dasar ;Teks dan Atlas .Edisi
10.
Jakarta. EGC.
American

Academy

of

Ophthalmology.

Fundamentals

and

Principles

of

Ophthalmology: Section 11. San Francisco. 2011.


Budiono S, Djiwatmo, Hermawan D, Wahyuni I. Lensa dan Katarak dalam
Buku Ajar Ilmu Kesehatan Mata. Surabaya: Airlangga University Press. 2013

Kanski JJ. Clinical Ophtamology: A systematic approach. Sixth Edition. China:


Elsevier. 2007.
Khalilullah SA. Patologi dan Penatalaksanaan pada Katarak Senilis. Jakarta. 2010.
Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan & Asbury: Oftalmologi Umum. Jakarta:
EGC. 2009.