Anda di halaman 1dari 3

Tugas Biosensor

Nama: Fitriani Indahsari


G451150101

Mekanisme Reaksi Untuk Biosensor Glukosa

Glukosa oksidase (GOD) merupakan enzim yang mengkatalisis oksidasi -D-glukosa


menjadi glukonolakton dan hidrogen peroksida, dengan molekul oksigen sebagai akseptor
elektron. Dengan kehadiran enzim glukosa oksidase maka senyawa glukosa dioksidasi menjadi
glukonolaktan dan hydrogen peroksida. Hidrogen peroksida selanjutnya dioksidasi pada
permukaan elektroda karbon gelas terplatinasi menghasilkan arus yang setara dengan konsntrasi
glukosa yang tekandung di dalam sampel.
Glukosa (sampel) akan mendifusi dari larutan ke lapisan film enzim yang selanjutnya
secara enzimatik dioksidasi menjadi glukonat dan H2O2 (pers. 1 dan 2). H2O2 yang terbentuk
kemudian direduksi secara katalitis oleh PW (pers. 3) dan pada saat yang bersamaan PW
kemudian teroksidasi menjadi PB (pers. 4). PB kemudian tereduksi menjadi PW secara
elektrokimia pada potensial yang diberikan (pers. 3).
GOD (FAD) + -D-glukosa
GOD (FADH2) + O2
Fe4[Fe(CN)6]3 + 4e- + 4K+

GOD (FADH2) + -gluconolactone

(1)

GOD (FAD) + H2O2

(2)

Fe4K4[Fe(CN)6]3

(3)

Fe4K4[Fe(CN)6]3 + 2H2O2
Ket:
-

Fe4[Fe(CN)6]3 + 4OH- + 4K+

(4)

PB memiliki karakteristik yang baik karena memiliki aktivitas elektrokatalik dan


stabilitas yang tinggi, serta mudah dibuat. Kemampuan PB untuk mendeteksi hidrogen
peroksida menyebabkan PB dapat digunakan untuk menggantikan enzim HRP (mediator
transfer elektron).
Prussian white (PW) yaitu bentuk PB tereduksi.

Pada elektrode kerja (elektrode pasta karbon) akan terjadi reaksi redoks, potensial
elektrode ini bergantung pada konsentrasi glukosa. Elektrode pembanding akan
menyeimbangkan transfer elektron yang terjadi pada elektrode kerja. Elektrode ini yang nilai
potensialnya tetap dan tidak bergantung dari konsentrasi analit yang diukur. Elektrode pembantu
(Ag/AgCl) atau (Hg/Hg2Cl2) membantu melewatkan semua arus yang diperlukan untuk

menyeimbangkan transfer elektron yang terjadi pada elektrode kerja sehingga arus yang bekerja
pada elektrode pembanding akan sangat kecil dan dinggap nol. Jika terjadi reduksi pada
elektrode kerja, maka oksidasi terjadi pada elektrode pembantu. Elektrode pembantu yang
digunakan harus bersifat inert, seperti kawat platina atau batang karbon yang berfungsi sebagai
pembawa arus.
Sensor glukosa yang dibuat, mendeteksi kadar glukosa dengan melacak elektron yang
ditransfer langsung melalui GOx ke permukaan elektroda. Realisasi komunikasi listrik langsung
dari GOx dengan permukaan elektroda tergantung pada jarak antara kofaktor redoks-aktif (FAD)
dan permukaan elektroda. Akibat adanya reaksi oksidasi-reduksi pada permukaan elektrode
maka arus dapat diukur pada voltametri, dimana menerapkan suatu potensial ke dalam sel
elktrokimia, kemudian respon arus yang dihasilkan dari proses reaksi redoks diukur. Respon arus
diukur pada daerah potensial yang telah ditentukan.
Sensor berbasis enzim oksidase membutuhkan oksigen sebagai ko-substrat untuk
terjadinya oksidasi sehingga konsentrasi oksigen dapat mempengaruhi respon arus. Pada nilai
optimumnya, kecepatan reaksi meningkat pada elektroda enzim. Konsentrasi substrat menjadi
jenuh setelah mencapai kecepatan maksimum dan menurun karena kekurangan oksigen