Anda di halaman 1dari 23

Madzhab Sahabat

Pendapat sahabat dapat dijadikan hujjah, bila pendapat sahabat tersebut diduga keras
bahwa pendapat tersebut sebenarnya berasal dari Rasulullah SAW.
1. Pengertian
Semasa RasululIah SAW masih hidup, semua masalah yang muncul atau timbul dalam
masyarakat langsung ditanyakan para sahabat kepada RasululIah SAW, dan RasululIah
SAW memberikan jawaban dan penyelesaiannya. Setelah RasululIah SAW meninggal
dunia, maka kelompok sahabat yang tergolong ahli dalam mengistinbathkan hukum, telah
berusaha sungguh-sungguh memecahkan persoalan tersebut, sehingga kaum muslimin
dapat beramal sesuai dengan fatwa-fatwa sahabat itu. Kemudian fatwa-fatwa sahabat ini
diiwayatkan oleh tabi'in, tabi'it tabi'in dan orang-orang yang sesudahnya, seperti
meriwayatkan hadits. Karena itu timbul persoalan, apakah pendapat sahabat itu dapat
dijadikan hujjah atau tidak?
2. Pendapat-pendapat ulama
Sebagian ulama menyatakan bahwa ada dua macam pendapat sahabat yang dapat
dijadikan hujjah, yaitu:
• Pendapat para sahabat yang diduga keras bahwa pendapat tersebut sebenarnya
berasal dari Rasulullah SAW, karena pikiran tidak atau belum dapat
menjangkaunya, seperti ucapan Aisyiah RA:

• Pendapat sahabat yang tidak ada sahabat lain yang menyalahkannya, seperti
pendapat tentang bahwa nenek mendapat seperenam (1/6) bagian waris, yang
dikemukakan oleh Abu Bakar, dan tidak ada sahabat yang tidak sependapat
dengannya.
Sedang pendapat sahabat yang tidak disetujui oleh sahabat yang lain tidak dapat dijadikan
hujjah. Pendapat ini dianut oleh golongan Hanafiyah, Malikiyah dan Ahmad bin Hanbal
dan sebagian Syafi'iyah, dan didahulukan dari qiyas. Bahkan Ahmad bin Hanbal
mendahulukannya dari hadits mursal dan hadits dha'if.
As-Syaukani menganggap pendapat sahabat itu seperti pendapat para mujtahid yang lain,
tidak harus kita mengikutinya.
http://qashthaalhikmah.blogspot.com/2010/01/madzhab-sahabat.html,12-03-10
Pendapat sahabat dapat dijadikan hujjah, bila pendapat sahabat tersebut diduga keras
bahwa pendapat tersebut sebenarnya berasal dari Rasulullah SAW.
1. Pengertian
Semasa RasululIah SAW masih hidup, semua masalah yang muncul atau timbul dalam
masyarakat langsung ditanyakan para sahabat kepada RasululIah SAW, dan RasululIah
SAW memberikan jawaban dan penyelesaiannya. Setelah RasululIah SAW meninggal
dunia, maka kelompok sahabat yang tergolong ahli dalam mengistinbathkan hukum, telah
berusaha sungguh-sungguh memecahkan persoalan tersebut, sehingga kaum muslimin
dapat beramal sesuai dengan fatwa-fatwa sahabat itu. Kemudian fatwa-fatwa sahabat ini
diiwayatkan oleh tabi'in, tabi'it tabi'in dan orang-orang yang sesudahnya, seperti
meriwayatkan hadits. Karena itu timbul persoalan, apakah pendapat sahabat itu dapat
dijadikan hujjah atau tidak?
2. Pendapat-pendapat ulama
Sebagian ulama menyatakan bahwa ada dua macam pendapat sahabat yang dapat
dijadikan hujjah, yaitu:
a. Pendapat para sahabat yang diduga keras bahwa pendapat tersebut sebenarnya berasal
dari Rasulullah SAW, karena pikiran tidak atau belum dapat menjangkaunya, seperti
ucapan Aisyiah RA:

Artinya:
"Kandungan itu tidak akan lebih dari dua tahun dalam perut ibunya, (yaitu tidak akan)
lebih dari sepanjang bayang-bayang benda yang ditancapkannya." (HR. Daraquthni)
c. Pendapat sahabat yang tidak ada sahabat lain yang menyalahkannya, seperti pendapat
tentang bahwa nenek mendapat seperenam (1/6) bagian waris, yang dikemukakan oleh
Abu Bakar, dan tidak ada sahabat yang tidak sependapat dengannya.
Sedang pendapat sahabat yang tidak disetujui oleh sahabat yang lain tidak dapat dijadikan
hujjah. Pendapat ini dianut oleh golongan Hanafiyah, Malikiyah dan Ahmad bin Hanbal
dan sebagian Syafi'iyah, dan didahulukan dari qiyas. Bahkan Ahmad bin Hanbal
mendahulukannya dari hadits mursal dan hadits dha'if.
As-Syaukani menganggap pendapat sahabat itu seperti pendapat para mujtahid yang lain,
tidak harus kita mengikutinya.

Sumber-Sumber Hukum Islam


17:18
Diposkan oleh zakky amarullah
PENGERTIAN DAN PEMBAGIANNYA Sumber-sumber hukum islam (mashadir
al-syari’at) adalah dalil –dalil syari’at yang darinya hukum syari’at digali. Sumber-
sumber hukum islam dalam pengklasifikasiannya didasarkan pada dua sisi
pandang. Pertama, didasarkan pada sisi pandang kesepakatan ulama atas
ditetapkannya beberapa hal ini menjadi sumber hukum syari’at. Pembagian ini
menjadi tiga bagian : 1. Sesuatu yang telah disepakati semua ulama islam
sebagai sumber hukum syari’at, yaitu al-Qur’an dan al-Sunah. 2. Sesuatu yang
disepakati mayoritas (jumhur) ulama sebagai sumber syari’at,yaitu ijma’ dan
qiyas. 3. Sesuatu yang menjadi perdebatan para ulama, bahkan oleh
mayoritasnya yaitu Urf (tradisi), istishhab(pemberian hukum berdasarkan
keberadaannya pada masa lampau) maslahah mursalah (pencetusan hukum
berdasarkan prinsip kemaslahatan secara bebas), syar’u man qablana (syari’at
sebelum kita), dan madzhab shahabat. Tentang pembagian ketiga ini, al-Nabhani
menyatakan bahwa hal-hal yang disangka sebagai sumber hukum adalah hal-hal yg
ditemukan sisi argumentasinya bahwa hal-hal tersebut adalah hujjah,tetapi status dalil
tersebut adalah dzanni atau tidak sesuai dengan apa yg ditunjukkannya. Diantaranya yang
terpenting adalah syari’at kaum sebelum kita, madzhab sahabat, istihsan dan maslahah
mursalah. Selanjutnya mengenai istishhab, an-Nabhani mengomentari bahwa ia
bukan dalil syara’. Karena penetapan sesuatu sebagai dalil syara’ haruslah
dengan hujjah yg qath’i. Sedangkan dalam istishhab tidak ada hujjah qath’I yg
menetapkannya menjadi dalil syara’. Istishhab tak lebih hanyalah hukum syara’
sehingga dalam penetapan hukumnya cukup menggunakan dalil dzanni. Ia
adalah metode pemahaman dan istidlal (metode pencarian dalil) bukan sebuah
dalil. Senada dengan pernyatan ini, al-‘Amudi tidak menganggap istishhab
sebagai sumber hukum. Sedangkan sadd al-dzara’I (langkah antisipasi)
al-‘Amudi tidak menganggapnya sebagai bagian dari dalil yang mu’tabarah
(diperhitungkan legalistasnya) ataupun mauhumah (yang dipersangkakan
legalistasnya). Ia bukanlah sumber hukum melainkan hanya sekedar kaidah yg
menjadi subordinat dari kaidah dasar ma’alat al-af’al (orientasi kemudian). kaidah
ini beserta kaidah-kaidah subordinatnya semisal sadd al-dzara’I , kaidah al-hiyal
(rekayasa hukum) dan kaidah mura’at al-khilaf (menghindarkan ketidaksesuaian
dengan apa yg disyari’atkan) dan yg lain,sumbernya adalah bahwa syari’at
datang dengan tujuan mengedepankan maslahah dan menghindarkan
mafsadah. Pembagian kedua, didasarkan pada cara pengambilan dan
perujukannya,sumber hukum islam dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama
yaitu sumber-sumber hukum yg dirujuk secara naql (dogmatic) yakni al-Qur’an
dan al-Sunah. Hal lain yg disamakan dengan bagian ini adalah ijma’, madzhab
sahabat,dan syar’u man qablana. Bagian kedua adalah sumber-sumber hukum
islam yg diruju’ secara ‘aql (penalaran logis) yakni qiyas. Hal lain yg disamakan
dengan bagian ini adalah istihsan,maslahah mursalah,dan istishhab. Wahbah al-
Zuhaili memaparkan analisisnya mengenai sumber-sumber islam secara ringkas.
Menurutnya batasan ringkas mengenai dalil ini bahwasanya dalil-dalil
adakalanya merupakan wahyu dan bukan wahyu. Dalil yg merupakan wahyu
adakalanya dibacakan dan tidak dibacakan. Wahyu yg dibacakan adalah al-
Qur’an dan wahyu yg tidak dibacakan adalah al-sunah. Sedangkan dalil yg
bukan merupakan wahyu bila merupakan kesepakatan pendapat atau analisis
mujtahid disebut ijma’, bila meruapakan analogi suatu hal terhadap hal lain
mengenai status hukumnya Karena adanya persamaan dalam ‘illatnya maka
disebut qiyas. Sedangkan bila tidak memiliki criteria-kriteria di atas maka
dinamakan istidlal,dan klasifikasi ini memiliki bermacam-macam jenis.
Selanjutnya ia mengulas sisi independensi dalil-dalil ini menjadi dua klasifikasi.
Dalil –dalil ini adakalanya merupakan sumber hukum mandiri dalam
pensyari’atan yaitu al-Qur’an, al-sunah,ijma’ dan sumber-sumber yg berkaiatn
dengannya sebagaimana istihsan,’urf dan madzhab sahabat. Adakalanya dalil-
dalil ini merupakan sumber hukum islam yg memiliki ketergantungan, tidak
mandiri yaitu qiyas. Yang dimaksud dalil mandiri adalah bahwa sumber hukum
ini dalam penetapan hukumnya tidak membutuhkan pada yang lain. Sedangkan
qiyas diklasifikasikan tidak mandiri karena dalam penetapan hukum ia masih
membutuhkan pada ashl (kasus lama) atau maqis ‘alaih (sumber analogi) yg
terdapat dalam al-Qur’an,al-sunah,dan ijma’. Selain itu dalam penggunaannya
qiyas membutuhkan pengetahuan dan analisis yg mendalam tentang ‘illat dari
hukum ashl. Sedangkan ijma’ walaupun dalam penggunaannya masih
membutuhkan sandaran namun hal ini tidak mencegah keberadaanya sebagai
dalil mandiri karena hal tersebut dibutuhkan sebagai legalitas dan keabsahan
ijma’ sebagai sumber hukum,bukan dari sisi istidlal (penggalian hukumnya) nya,
berbeda dengan qiyas. TERTIB URUTAN SUMBER-SUMBER HUKUM Bila
ditelusuri lebih jauh,sumber-sumber hukum islam baik yg telah disepakati para
ulama dalam penetapannya maupun yang masih manjadi perdebatan pada
dasarnya terkonsentrasi pada sumber uhukum naqliyah(dogmatic) yakni al-
Qur’an dan al-sunah. Karena sumber –sumber hukum tidaklah ditetapkan
keabsahannya melalui potensi akal namun bergantung kepada adanya legitimasi
dari la-Qur’an dan al-sunah. Karena itulah al-Qur’an dan al-sunah adalah dalil
primer dalam perujukan hukum-hukum syari’at. Hal ini didasarkan pada dua sisi :
1. Muatan al-Qur’an dan al-sunah mencakup keterangan hukum-hukum parsial
dan cabangan secara detail sebagaimana hukum-hukum zakat,perdagangan,dan
sanksi-sanksi pelanggaran. 2. Muatan al-Qur’an dan al-sunah yg mencakup
kaidah universal yg menjadi sandaran hukum-hukum parsial dan cabangan
sebagaimana ijma’ adalah hujjah dan merupakan sumber hukum,begitu pula
qiyas dan lain sebagainya. Legalitas al-Sunah sebagai sumber hukum juga
tertera dalam al-Qur’an. Hal ini juga didasarkan pada dua sisi pandang: 1. Al-
Qur’an memerintahkan untuk mengamalkan dan berpedoman kepada al-sunah.
2. Al-Sunah memiliki fungsi sebagai penjelas dari kandungan al-Qur’an.
Berdasarkan alasan-alasan di atas maka al-Qur’an adalah sumber dari segala
sumber hukum islam. Karenanya dalam perujukan hukum-hukum syari’at al-
Qur’an haruslah dikedepankan. Bila di al-Qur’an tidak ditemui maka beralih
kepada al-Sunah karena al-sunah adalah penjelas bagi kandungan al-Qur’an.
Apabila di al-sunah tidak ditemukan maka beralih kepada ijma’ karena sandaran
ijma’ adalah nash-nash al-Qur’qn dan al-Sunah. Bila dalam ijma’ tidak ditemukan
maka haruslah merujuk kepada qiyas. Dengan demikian maka tertib urutan
hukum islam adalah al-Qur’an, al-Sunah, ijma’ dan qiyas. Hal ini berdasarkan
hadits yg diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal ketika ia diutus oleh Rasulullah
SAW menjadi qadli di Yaman. Rasulullah bertanya : “Ketika dihadapkan suatu
permasalahan, dengan cara bagaimana engkau member putusan? Mu’adz
menjawab “ Saya akan memutusinya berdasarkan kitab Allah. Rasulullah
bertanya lagi “ Bila engkau tidak menemuinya di dalam kitab Allah?” Mu’adz
menjawab” Saya akan memutusinya dengan sunah Rasulullah”. Rasul kembali
bertanya” Bila tidak engkau temukan di dalam sunah Rasulullah?” Mu’adz
menegaskan “ Saya akan berijtihad berdasarkan pendapat saya dan saya akan
berhati-hati dalam menerapkannya.”kemudian Rasulullah menepuk dada Mu’adz
dan berkata” Segala puji bagi Allah yg memberi petunjuk pada utusan Rasulullah
dengan apa yg diridlai oleh Allah dan rasul-Nya”. Diriwayatkan dari Abu Bakar
ra,ketika beliau menjumpai suatu permasalahan, maka beliau merujuk kepada
kitabullah. Bila tidak dijumpai di dalam kitabullah maka beliau memutusinya
dengan sunah Rasulullah SAW. Bila beliau kesulitan menemukannya,maka
beliau mengumpulkan beberapa tokoh pilihan dari sahabat kemudian
mengajaknya musyawarah. Bila forum bersepakat maka Abu Bakar
memutusinya dengan kesepakatan itu. Demikian pula langkah Umar bin Khathab
serta sahabat yg lain dan diikuti oleh kaum muslimin setelahnya. Wallau a’lam bi
al-shawab.
http://senyawa-kimia.blogspot.com/2010/02/sumber-sumber-hukum-islam.html
Hujjiyah Qaul As-Shahabi Dalam Penetapan Hukum Islam

Oleh Sarah Abdurrohmah, Lc.

Mukaddimah

Rasulullah Saw, bersabda,” Bahwa sebaik-baiknya generasi adalah generasi pada


zamanku kemudian genersi sesudahnya lalu generasi sesudahnya…”. Generasi
dimana Nabi Saw, diutus adalah generasi para sahabat. Mereka adalah sebaik-
baiknya generasi, dari aspek keimanan mereka sangat memegang teguh ajaran
Islam, dan mencintai Allah swt dan RasulNya melebihi dari segalanya. Hal ini bisa
dilihat dari kisah para sahabat dalam mempertahankan aqidah mereka, meskipun
harus disiksa dan didera oleh berbagai siksaan dan cacian dari kafir quraisy. Mereka
adalah generasi yang patut kita jadikan teladan, baik dari kuatnya keimanan,
pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari dan usaha para sahabat untuk tidak
menjadi shaleh sendiri saja tapi merekalah yang menyebarkan ajaran islam (aqidah,
akhlak dan syari’ah) kepada yang lainnya.

Terlepas dari segala keutamaan yang dimiliki oleh para sahabat. Para ulama berbeda
pendapat mengenai keabsahan segala hal yang sampai pada kita dari sahabat baik
itu berupa perkataan, perbuatan ataupun fatwa sebagai salah satu sumber
pengambilan hukum dalam Islam.

Para ulama mengkategorikan qaul as-shahabi sebagai salah satu sumber


pengambilan hukum yang masih dipertentangkan keabsahannya. Berbeda dengan
Al-Qur’an, sunnah, ijma’ dan qiyas yang jumhur ulama telah menyepakatinya sebagai
sumber pengambilan hukum dalam islam. Yang dimaksud dengan jumhur ulama
disini adalah empat Imam mazhab yang mu’tabar. Oleh karena itu untuk mengetahui
pendapat dari para ulama yang berbeda pendapat terhadap keabsahan qaul as-
shahabi, penulis mencoba memberi sedikit gambaran mengenai hal ini dalam
makalah yang sederhana ini.

Definisi Sahabat

Sebelum mengetahui definisi qaul as-shahabi terlebih dulu penulis akan


membahas mengenai definisi dari as-shahabi itu sendiri. Secara etimologi As-shahabi
adalah mufrad dari shahabat, yang diambil dari kata-kata shahiba-yashahabu-
shuhbatan dan shahabatan yang bermakna bergaul dengan seseorang.

Adapun secara terminologi, para ulama memiliki sudut pandang yang berbeda
dalam mendefinisikannya. Menurut para muhadditsin as-shahabi adalah orang yang
bertemu dengan Nabi Saw., beriman kepadanya dan mati dalam keadaan Islam. Dari
definisi ini dapat diambil beberapa poin bahwa:

1. Sahabat adalah orang yang bertemu dengan Nabi Saw. secara mutlak, baik
itu bertemu sekali saja ataupun sering, baik itu lama atau sebentar.

2. Seseorang yang bertemu dengan Nabi Saw. sebelum beliau diutus menjadi
rasul tidak disebut sahabat. Akan tetapi disebut sahabat apabila bertemu
dengan Nabi Saw. setelah beliau diutus menjadi Rasul.

3. Seseorang yang sezaman dengan Nabi Saw., tetapi tidak bertemu dengannya
maka tidak disebut sahabat tetapi mukhadharam.

Sedangkan menurut para Ushuliyyin bahwa sahabat adalah setiap orang yang
beriman kepada Nabi Saw., bergaul dengannya dalam waktu yang lama dan mati
dalam keadaan Islam. Adapun menurut Al-Baqilani dan beberapa ulama lainnya,
seperti Ibnu Faruk dan Ibnu Sam’an bahwa sahabat adalah orang yang lama
pergaulannya dengan Nabi Saw. dan banyak berguru pada Nabi Saw. dengan cara
mengikutinya dan mengambil pengajarannya.

Perbedaan Definisi Sahabat Menurut Para Muhadditsin dan Ushuliyyin

Dari definisi diatas dapat kita lihat bahwa terdapat perbedaan yang sangat tipis
antara para muhadditsin dan Ushuliyyin dalam mendefinisikan sahabat. Semuanya
sepakat bahwa sahabat adalah orang yang beriman kepada Nabi Saw. dan mati
dalam keadaan Islam. Namun mereka berbeda pendapat dalam lama-tidaknya
pertemuan antara seseorang yang dianggap sahabat dengan Nabi Saw.. Para
muhadditsin tidak mensyaratkan keharusan seringnya bertemu dengan Nabi Saw.,
sekali saja sudah cukup, hal ini dikarenakan para ulama muhadditsin memandang
para sahabat sebagai periwayat bagi hadits-hadits Nabi Saw.. Dan hal ini tidak
menuntut harus seringnya bertemu dan bergaul dengan Nabi Saw.. Oleh karenanya
para sahabat berbeda antara satu dengan yang lainnya dalam jumlah hadits yang
diriwayatkannya dari Rasulullah Saw.

Sedangkan para ulama Ushuliyyin mensyaratkan lamanya pergaulan para


sahabat dengan Nabi Saw., karena memandang bahwa para sahabat adalah generasi
yang akan menyampaikan hukum-hukum dalam Islam dan hal ini menuntut adanya
pergaulan yang lama dengan Nabi Saw. sehingga bisa menghasilkan ilmu dan
pehaman yang mendalam.

Oleh karenanya tidak semua sahabat menjadi ahli hukum atau mufti.
Sebagaimana perkataan Ibnu Hazm yang dikutip oleh Dr. Ali Jum’ah dalam bukunya
bahwa, fatwa mengenai hukum dan ibadah tidak diriwayatkan kecuali dari seratus
orang sahabat lebih, baik dari laki-laki atau perempuan, dan hal ini berdasarkan
penelitian yang dalam. Lebih lanjutnya Dr. Ali Jum’ah menerangkan bahwa di antara
para sahabat yang banyak mengeluarkan fatwa sebanyak tujuh orang yaitu: Umar
bin Khattab, ali bin abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, Zaid bin tsabit, Abdullah bin
Abbas, Abdullah bin Ummar dan Aisyah Ummul Mukminin.

Definisi Qaul As-Shahabi

Terdapat beberapa definisi mengenai qaul as-shahabi ini, di antaranya:

1. Perkataan seorang sahabat yang tersebar pada sahabat-sahabat yang lainnya


tanpa diketahui ada sahabat lain yang menentangnya.

2. Fatwa seorang sahabat atau madzhab fiqihnya dalam permasalahan ijtihadiyah.


3. Madzhab sahabat dalam sebuah permasalahan yang termasuk objek ijtihad.

4. Dr. Musthafa Daib Al-Bugha, mengistilahkan qaul as-shahabi dengan madzhab


shahabi, yaitu segala hal yang sampai kepada kita dari salah seorang sahabat Rasul
baik berupa fatwanya atau ketetapannya dalam permasalahan yang berkaitan
dengan syari’at, yang tidak terdapat dalam nash Al-Qur’an dan As-Sunnah dan belum
ada ijma’ dalam permasalahan tersebut.

Dari beberapa defini qaul as-shahabi di atas, penulis menyimpulkan bahwa qaul
as-shahabi adalah hal-hal yang sampai kepada kita dari sahabat baik itu berupa
fatwa atau ketetapannya, perkataan dan perbuatannya dalam sebuah permasalahan
yang menjadi objek ijtihad yang belum ada nash yang sharih baik dari Al-Qur’an atau
As-Sunnah yang menjelaskan hukum permasalahan tersebut.

Macam-Macam Qaul As-Shahabi

Para ulama membagi qaul as-shahabi ke dalam beberapa macam, di antaranya


Dr. Abdul karim Zaedan yang membaginya ke dalam beberapa macam:

1. Perkataan sahabat terhadap hal-hal yang tidak termasuk objek ijtihad. Dalam hal
ini para ulama semuanya sepakat bahwa perkataan sahabat bisa dijadikan hujjah.
Karena kemungkinan sima’ dari Nabi Saw. sangat besar. Sehingga perkataan sahabat
dalam hal ini bisa termasuk dalam kategori As-Sunnah, meskipun perkataan ini
adalah hadits mauquf. Pendapat ini dikuatkan oleh Imam As-Sarkhasi dan beliau
memberikan contoh perkataan sahabat dalam hal-hal yang tidak bisa dijadikan objek
ijtihad, seperti, perkataan Ali bahwa jumlah mahar yang terkecil adalah sepuluh
dirham, perkataan Anas bahwa paling sedikit haid seorang wanita adalah tiga hari
sedangkan paling banyak adalah sepuluh hari.

Namun contoh-contoh tesebut ditolak oleh beberapa ulama As-Syafi’iyah, bahwa


hal-hal tersebut adalah permasalahan-permaslahan yang bisa dijadikan objek ijtihad.
Dan pada kenyataannya baik jumlah mahar dan haid wanita berbeda-beda
dikembalikan kepada kebiasaan masing-masing.

2. Perkataan sahabat yang disepakati oleh sahabat yang lain. Dalam hal ini perkataan
sahabat adalah hujjah karena masuk dalam kategori ijma’.

3. Perkataan sahabat yang tersebar di antara para sahabat yang lainnya dan tidak
diketahui ada sahabat yang mengingkarinya atau menolaknya. Dalam hal inipun bisa
dijadikan hujjah, karena ini merupakan ijma’ sukuti, bagi mereka yang berpandapat
bahwa ijma’ sukuti bisa dijadikan hujjah.

4 Perkataan sahabat yang berasal dari pendapatnya atau ijtihadnya sendiri. Qaul as-
shahabi yang seperti inilah yang menjadi perselisihan di antara para ulama mengenai
keabsahannya sebagai hujjah dalam fiqh Islam. Dr. Muhammad Sulaiman Abdullah
Al-Asyqar menambahkan bahwa perkataan yang berasal dari ijtihad seorang sahabat
yang tidak diketahui tersebarnya pendapat tersebut di antara para sahabat lainnya
juga tidak diketahui pula ada sahabat lain yang menentangnya dan perkataan
tersebut tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pada perkataan
sahabat seperti ini para ulama berbeda pendapat mengenai statusnya.

Adapun Dr. Muhammad Sulaiman Abdullah Al-Asyqar menambahkan beberapa


poin mengenai macam-macam qaul as-shahabi ini, di antaranya:

1. Perkataan Khulafa Ar-Rasyidin dalam sebuah permasalahan. Dalam hal ini para
ulama sepakat untuk menjadikannya hujjah. Sebagaimana diterangkan dalam
sebuah hadits,” Hendaklah kalian mengikuti Sunnahku dan Sunnah para Khulafa Ar-
Rasyidin setelahku…

2. Perkataan seorang sahabat yang berlandaskan pemikirannya dan ditentang oleh


sahabat yang lainnya. Dalam hal ini sebagian ulama berpendapat bahwa perkataan
sahabat ini tidak bisa dijadikan hujjah. Akan tetapi sebagian ulama lainnya dari
kalangan Ushuliyyin dan fuqaha mengharuskan untuk mengambil perkataan satu
sahabat.

Beberapa Macam Qaul As-Shahabi yang Menjadi Perselisihan Para Ulama

Setelah dijelaskan di atas bahwa perkataan sahabat memiliki beberapa macam


variasi, semua ulama sepakat bahwa perkataan sahabat yang diperselisihkan
keabsahannya sebagai hujjah adalah :

1. Perkataan sahabat yang berasal dari pendapat dan ijtihadnya sendiri

2. Perkataan sahabat terhadap permasalahan yang bisa dijadikan objek ijtihad

3. Perkataan sahabat yang tidak tersebar di antara para sahabat yang lainnya dan
tidak ada sahabat yang mengingkari pendapat tersebut.

4. Perkataan sahabat terhadap suatu permasalahan yang tidak ada nash yang sharih
baik Al-Qur’an ataupun As-Sunnah.

5. Perkataan sahabat yang sampai kepada generasi sesudahnya, seperti tabi’in dan
berlanjut hingga ke zaman sekarang.

Adapun perkataan sahabat selain dari keadaan yang sudah disebutkan di atas
dapat dijadikan hujjah dalam pengambilan hukum Islam.

Keabsahan Qaul As-Shahabi Sebagai salah satu dari Masdar Tasyri’

Ketika terjadi perbedaan pendapat mengenai keabsahan qaul as-shahabi sebagai


salah satu dari masdar tasyri’ dalam Islam, maka kita harus bisa langsung
memahami bahwa qaul as-shahabi yang dimaksudkan di sini adalah macam qaul as-
shahabi yang masih diperselisihkan mengenai kehujjiahannya dan tidak termasuk
macam yang lainnya. Dengan kata lain tidak semua qaul as-shahabi diperselisihkan
keabsahannya sebagai hujjah.

Secara garis besar, terjadi beberapa pendapat mengenai hal ini, yaitu:

1. Ulama yang berpendapat bahwa qaul as-shahabi dapat dijadikan hujjah secara
mutlak dan didahulukan dari pada qiyas. Di antaranya Imam Malik dan Imam Ahmad
dalam satu riwayatnya.

Adapun dalil yang mereka pegang sehingga berpendapat bahwa qaul as-shahabi
adalah hujjah secara mutlak yaitu:

a. Al-Qur’an

- Firman Allah swt,”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk
manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan
beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi
mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-
orang yang fasik”. (QS. 3:110)

-“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara


orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan
baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga
yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-
lamanya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS. 9:100)

- Firman Allah swt yang menerangkan kelebihan para sahabat secara umum, di
antaranya: “Ikutilah orang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-
orang yang mendapat petunjuk”. (QS. 36:21)

- “Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-
Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.
(QS. 31:15)

b. As-Sunnah

- Rasulullah saw bersabda,” Sahabatku ibarat bintang, maka dimanapun kalian


mengikutinya kalian akan mendapatkan petunjuk”.

- Rasulullah saw bersabda,” Hendaklah kalian mengikuti Sunnahku dan sunah


khulafa ar-rasyidin setelahku…

- Diriwayatkan oleh tirmidzi dan huzaifah bahwa Rasulullah saw bersabda,”


ikutilah oleh kalian orang-orang setelahku: Abu baker dan Umar”.

- Rasulullah saw bersabda,” Sebaik-baiknya generasi adalah generasi pada


zamanku kemudian generasi setelahnya lalu genersi setelahnya lagi”. (HR. Muslim)

c. Ijma’

Ketika Abdurrahman bin ‘Auf menjadi ketua panitia pemilihankhalifah setelah


Umar. Ia pertama kali menawarkan kepada Ali untuk menjadi khalifah dengan syarat
mengikuti sunah kedua khalifah sebelumnya. Tapi Ali menolak. Kemudian ia
menawarkan pada Utsman dengan syarat yang sama, Utsman pun menerimanya.
Pada saat itu tidak ada seorang sahabatpun yang mengingkari syarat yang diajukan
Abdurrahman bin’Auf itu sehingga sampai pada derajat ijma’.

d. Dalil Akal

- Kemungkinan sima’ dan taukif dalam perkataan sahabat sangat kuat. Dan
secara kebiasaan tidak mungkin para sahabat berfatwa kecuali berdasarkan kepada
riwayat yang didengarnya. Dan tidaklah para sahabat berfatwa berdasarkan
pendapatnya kecuali dalam keadaan darurat.

- Bahwa perkataan sahabat meskipun bersumber dari akal atau ijtihad, maka
ijtihadnya lebih kuat dari pada yang lainnya. Karena para sahabat menyaksikan
langsung turunnya Al-Qur’an, dan mengetahui metode-metode Rasulullah Saw.
dalam menyampaikan dan menjelaskan berbagai hukum dalam suatu permasalahan.

- Bahwa qaul as-shahabi bisa dipandang ijma’ juga, karena apabila terjadi
perbedaan atau perselisihan pendapat dari kalangan sahabat yang lainnya pasti akan
tampak dan diketahui.

2. Ulama yang menolak qaul as-shahabi sebagai sebuah hujjah, di antaranya Imam
Al-Ghazali, jumhur Al-Asya’irah, Mu’tazilah dan sebagainya.

Adapun dalil yang mereka pakai adalah:

a.Al-Qur’an:
- Firman Allah swt,” Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai
orang-orang yang mempunyai pandangan”. (QS. 59:2)

Allah swt memerintahkan hambanya untuk mengambil pelajaran dan itu adalah
ijtihad. Dan ijtihad sangat berbeda dengan taklid, karena ijtihad usaha untuk mencari
dalil dalam sebuah permasalahan adapun taklid mengambil pendapat yang lain
tanpa ada dalil. Maka mengambil qaul as-shahabi termasuk dalam kategori taklid.

- Fiman Allah swt,” Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu,
maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (As-Sunnahnya), jika
kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu
adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS. 4:59)

b. Bahwa para sahabat ketika berfatwa terhadap suatu permasalahan berarti ia


telah berijtihad. Dan kemungkinan salah dalam ijtihadnya tetap ada karena para
sahabat bukanlah orang-orang yang dimaksum dari kesalahan. Oleh karenanya tidak
boleh mengikuti madzhab para sahabat (secara taklid).

c. Apabila qaul as-shahabi bisa dijadikan hujjah karena keadaan para sahabat
yang lebih mengetahui dan lebih utama dari yang lainnya. Kalaulah begitu maka
perkataan seseorang yang lebih paham dan mengetahui terhadap suatu
permasalahan selain dari para sahabat dapat pula dijadikan hujjah.

d. Para sahabat telah bersepakat bahwa ijtihad yang mereka lakukan boleh untuk
ditentang apabila tidak sesuai. Sebagaimana Abu Baker dan Umar tidak
menyalahkan orang yang menolak ijtihad mereka. Akan tetapi mewajibkan kepada
semua mujtahid untuk berijtihad pada permasalahan yang termasuk objek ijtihad.

3. Qaul as-shahabi adalah hujjah apabila bertentangan dengan qiyas. Maksudnya


qaul as-shahabi didahulukan dari pada qiyas jika keduanya bertentangan. Adapun
dalil mereka yang berpendapat bahwa qaul as-shahabi bias dijadikan hujjah apabila
bertentangan dengan qiyas adalah: Bahwa perkataan atau fatwa seorang sahabat
terhadap suatu permasalahan ada dua kemungkinan, kemungkinan pertama bahwa
perkataannya tidak bersandarkan pada dalil dan yang kedua bersandarkan pada
dalil. Kemungkinan yang pertama adalah batil, karena tidak mungkin seorang
sahabat berkata berlandaskan hawa nafsunya sendiri dan tidak mungkin mereka
berdusta atau mengada-ada dalam berfatwa. Maka pasti perkataan sahabat itu
berlandaskan pada dalil, meskipun mereka tidak secara sharih menjelaskan dalil
tersebut. Oleh karenanya qaul as-shahabi didahulukan dari pada qiyas, karena qaul
as-shahabi berlandaskan langsung kepada dalil (nash/hujjah ashliyah)), sedangkan
qiyas meskipun berlandaskan dalil juga namun qiyas berlandaskan kepada ‘illah yang
menjadi titik persamaan dengan al-ashl, sehingga qiyas disebut sebagai hujjah
muttabi’ah dan bukan hujjah ashliyyah..

4. Pendapat Imam As-Syafi’i terhadap hujjiyah qaul as-shahabi. Imam As-Syafi’i


memaparkan tentang hujjiyahnya qaul as-shahabi secara tafshili. Maksudnya ia tidak
menghukumi (menerima/menolak) hujjiyah qaul as-shahabi secara mutlak:

- Imam As-Syafi’i menjadikan qaul as-shahabi hujjah apabila para sahabat


bersepakat terhadap suatu permasalahan yang tidak ada dalil dalam Al-Qur’an atau
As-Sunnah, dan tidak ada sahabat yang menolak pendapat tersebut. Dalam hal ini
qaul as-shahabi didahulukan dari pada qiyas, karena termasuk dalam kategori ijma’.

Contohnya, wajibnya menyembelih satu ekor domba bagi mereka yang berburu
merpati dalam keadaan ihram. Hal ini mengikuti pekerjaan para sahabat yang
menyembelih domba bagi siapa yang berburu dalam kedaan ihram.
- Apabila terjadi perbedaan pendapat di antara para sahabat terhadap suatu
permasalahan maka diambil pendapat yang lebih dekat dengan Al-Qur’an, As-
Sunnah, ijma’ atau qiyas, atau pendapat yang didukung oleh dalil yang lain. Sebagai
contoh, Imam As-Syafi’i mengambil qaul as-shahabi dalam menentukan kapan
terakhir talbiyah dikumandangkan saat umrah. Atau perkataan Umar dalam khiyar
Aib dalam pernikahan atau perkataan Ali bin Abi Thalib dalam hukum wanita yang
ditinggal suami yang hilang.

- Apabila qaul as-shahabi tersebut munfarid (tidak ada yang menyepakati juga
tidak ada yang menyalahi), jika keadaannya demikian Imam As-Syafi’i mendahulukan
qiyas daripada qaul as-shahabi tersebut. Namun qaul as-shahabi seperti itu jarang
terdapat, karena biasanya qaul as-shahabi terkenal dengan ijma’nya atau ikhtilafnya.

- Menjadikan qaul as-shahabi sebagai penjelas dalam memahami Al-Qur’an dan


As-Sunnah. Dan ini yang paling banyak kita dapatkan dalam pendapat-pendapat
Imam As-Syafi’i mengenai qaul as-shahabi. Seperi penjelasan sahabat tentang
maksud al-jaza’ dalam ayat as-shaid (Al-Maidah: 95), kewajiban zakat pada harta
anak kecil dan orang gila, dan lain sebagainya.

Pengaruh Perbedaan Pendapat Para Ulama Mengenai Qaul as-shahabi

Perbedaan pendapat para ulama mengenai hujjiyah qaul as-shahabi sebagai


salah satu masdar tasyri’, menyebabkan perbedaan pula dalam menghukumi suatu
permasalahan yang tidak ada nash sharih yang menjelaskannya. Di sini penulis
hanya memberikan beberapa contoh dari sekian banyak contoh yang ada, yang
penulis pandang erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.

a. Hukum sujud Tilawah, apakah wajib atau sunnah?

• Imam Malik, As-As-Syafi’i dan Ahmad berpendapat bahwa hukumnya adalah


sunnah dan tidak mencapai wajib.

Imam Malik dan Imam Ahmad berdalilkan pada qaul as-shahabi, yang
diriwayatkan Imam Malik dalam kitabnya Al-Muwatha dari Hisyam bin U’rwah dari
ayahnya, bahwa Umar bin Khattab membaca ayat sajdah ketika di atas mimbar pada
hari jum’at, maka Umar bersujud dan sujudlah semua yang hadir mengikuti Umar.
Kemudian Umar membacanya pada hari jum’at yang lain, maka para sahabat lain
bersiap-siap untuk bersujud, tetapi Umar berkata, ”Sesungguhnya Allah tidak
mewajibkannya kecuali jika kita mau”. Umar tidak bersujud dan melarang yang
lainnya untuk bersujud”.

Adapun Imam As-Syafi’i berdalilkan bahwa sujud dilakukan untuk shalat. Adapun
perintah untuk shalat telah dijelaskan secara global oleh Al-Qur’an dan telah
diterangkan oleh As-Sunnah secara terperinci. Maka hal ini menunjukkan bahwa
shalat yang diwajibkan adalah shalat yang lima, sedangkan selainnya tidaklah wajib.

Kemudian beliau berdalilkan hadits Nabi Saw. yang berbunyi, ”Bahwa Rasulullah
Saw. membaca ayat dalam surat an-najm maka beliau bersujud, lalu bersujud
pulalah yang lainnya kecuali dua orang.

• Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa hukum sujud tilawah adalah wajib. Imam
Abu hanifah berdalilkan dengan beberapa hadits Nabi Saw., di antaranya:

- Rasulullah Saw. bersabda, ”Sujud tilawah bagi siapa yang mendengarnya dan
bagi siapa yang membacanya”.

- Dari Abu Hurairah ra. dalam Kitab Al-Iman yang dimarfu’kan kepada Nabi Sw.,
”Apabila Ibnu Adam membaca ayat sajdah maka syaitan akan menyendiri dan
menangis sambil berkata, ”Celakalah! Telah diperintah Ibnu Adam untuk
bersujud maka dia bersujud dan baginya surga, sedangkan aku diperintah
untuk bersujud tapi enggan, maka bagiku neraka”. ( HR. Muslim)

b. Hukum shalat jum’at bagi yang shalat ‘id

• Imam As-Syafi’i berpendapat bahwa kewajiban shalat jum’at bagi ahli balad
adapun ahli qura dirukhsah. Imam As-Syafi’i berdalilkan:

Sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Imam malik dari Ibnu Syihab dari Abi
U’baid bekas hamba sahaya Ibnu Azhar, dia berkata, ”Saya melakukan shalat ‘id
bersama Utsman Bin Affan maka utsman shalat lalu berkhutbah dab berkata,
‘Sesungguhnya telah berkumpul pada hari ini dua ‘id, maka barang siapa yang
hendak menunggu dari ahli a’liyah maka tunggulah dan barang siapa yang hendak
pulang maka telah diizinkan baginya”.

• Imam Ahmad berpendapat bahwa shalat jum’at tidak usah dikerjakan bagi
mereka yang melaksanakan shalat ‘id baik ahli balad atau ahli qura kecuali Imam.
Adapun Imam ahmad berdalilkan:

- Apa yang diriwayatkan Iyas bin Abi Ramlah Asy-Syami, dia berkata, ”Saya
melihat Mu’awiyah bertanya kepada Zaid bin Arqam, ”Apakah engkau pernah
mendapatkan dua ‘id bersatu pada satu hari bersama Rasulullah Saw.?, maka
Zaid berkata, ”Iya”. “Maka bagaimana hukumnya?” Zaid menjawab, ”Shalat
‘Id kemudian dirukhsah pada shalat jum’at”. Lalu Zaid berkata,” Barang siapa
yang hendak shalat (baca: shalat jum’at) maka shalatlah”. ( HR. Abu Daud)

- Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda, ”Telah berkumpul pada hari
ini dua ‘Id, maka barang siapa yang ingin shalat jum’at shalatlah, karena
sesungguhnya kami shalat jum’at”. ( HR. Abu Daud)

• Adapun Imam Abu Hanifah dan Imam Malik berpendapat bahwa shalat jum’at
dan shalat ‘Id wajib keduanya untuk dilaksanakan. Abu Hanifah berdalilkan bahwa
hukum melaksanakan shalat jum’at adalah wajib adapun shalat ‘id maka bagi siapa
yang meninggalkannya berarti sesat dan bid’ah.

c. Hukum potong tangan bagi seorang pembantu

Jumhur ulama berpendapat bahwa hukum bagi seorang pembantu yang mencuri
harta tuannya tidak dipotong. Adapun dalilnya:

- Apa yang diriwayatkan oleh Imam Malik, beliau berkata, ”Telah bercerita kepada
kami dari Az-Zuhri dari As-Saib bin Yazid bahwa Abdullah bin Amar bin
Hadhrami datang kepada Umar bi Khattab dengan seorang hamba, lalu dia
berkata, ”Potong tangnya karena dia telah mencuri”. Umar bertanya, ”Apa
yang dicuri olehnya?”, dia menjawab, ”Cermin istriku yang berharga enam
puluh dirham”. Maka Umar berkata, ”Lepaskan saja karena tidak ada potong
tangan bagi pembantu yang mencuri hartamu”.

- Apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud bahwa seseorang datang kepadanya
lalu berkata, ”Budak saya mencuri harta milik budak saya yang lain”, lalu Ibnu
mas’ud berkata, ”Tidak ada potong tangan bagi “harta” (baca: budak) yang
mencuri “harta”(baca: budak).

Adapun Daud Adz-dzhahiri berpendapat bahwa potong tangan tetap berlaku


secara mutlak. Dengan berdalilkan Firman Allah Swt., ”Laki-laki yang mencuri dan
perempuan yang mencuri potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan dari
apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana. (QS. 5:38).

d. Status wanita yang ditinggal hilang suami

Imam malik dan Ahmad berpendapat bahwa wanita yang ditinggal hilang
suaminya hendaknya menunggu empat tahun, kemudian menjalani iddah selama
empat bulan sepuluh hari. Setelah itu baru diperbolehkan baginya untuk menikah
lagi.

Adapun dalil yang dipegang adalah apa yang dikeluarkan Sa’id bin Mansur dan
Ibnu Abi Syaibah dari sanad keduanya, bahwa Umar bin Khattab dan Utsman bin
Affan menetapkan bagi wanita yang ditinggal hilang oleh suaminya untuk menunggu
selama empat tahun, kemudian memanggil wali sang suami dan memintanya untuk
menceraikannya. Setelah itu sang wanita menjalani iddahnya selama empat bulan
sepuluh hari, setelah itu dia boleh menikah lagi jika berkehendak.

Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa bagi wanita yang ditinggal
hilang suaminya hendaknya menunggu seratus dua puluh tahun dari hari
kelahirannya, apabila telah mencapai seratus dua puluh tahun maka dihukumi bahwa
suaminya telah meninggal. Imam Abu Hanifah berpendapat pada hadits yang
diriwayatkan dari Mugirah bin Syu’bah mengenai wanita yang ditinggal hilang
suaminya, Nabi Saw. bersabda, ”Sesungguhnya wanita tersebut tetap istrinya
sehingga datang kepadanya bukti yang pasti (tentang hilangnya sang suami)”. Juga
perkataan Ali bin Abi thalib bahwa ia berkata, ”Wanita yang ditinggal hilang
suaminya sedang diuji maka bersabarlah sehingga jelas kematian suaminya atau
thalak”.

e. Status Pernikahan dalam masa ‘Iddah

Imam Malik, Al-Auza’I dan Al-Laits berpendapat bahwa mereka harus dipisahkan,
dan wanita itu menjadi haram bagi laki-laki tersebut selamanya.

Mereka berpendapat dengan perkataan Umar yang memisahkan antara Thalhah


Al-Asdiah dengan suaminya Rasyid Ats-Tsaqafi ketika mereka menikah pada masa
‘iddah dari suaminya. Dan berkata, ”Setiap wanita yang menikah dalam masa
iddahnya, apabila suami yang menikahinya itu belum menggaulinya maka harus
dipisahkan keduanya. Kemudian sang wanita menyempurnakan masa iddahnya. Lalu
jika pada masa iddah itu dia menikah lagi dengan yang lain dan sudah digauli maka
harus dipisahkan keduanya. Kemudian sang wanita menyempurnakan masa ‘iddah
dari suami yang pertama lalu dilanjutkan dengan menjalani masa iddah dari suami
yang kedua. Dan antara wanita tersebut dengan suaminya yang ketiga tidak boleh
bersatu selamanya”.

Adapun pendapat yang kedua bahwa dipisahkan keduanya dan sang wanita boleh
mendapatkan maharnya. Dan apabila telah habis masa iddahnya apabila sang wanita
berkehandak untuk menikahinya lagi maka tidak apa-apa. Sebagaimana dijelaskan
oleh Ali bin Abi Thalib.

Berkata Imam Al-Baihaqi dari As-Sya’abi bahwa Umar bin khattab datang kepada
seorang wanita yang menikah pada masa iddahnya, Umar mengambil maharnya lalu
menyimpannya di baitulmal lalu memisahkan keduanya. Dan Umar berkata, ”Tidak
boleh berkumpul keduanya selama-lamanya”. Ali bin Abi Thalib berkata, ”Tidaklah
seperti itu akan tetapi pisahkan keduanya kemudian sang wanita menyempurnakan
iddahnya lalu melanjutkan iddah dari suami yang kedua dan ia boleh menerima
mahar”. Kemudian As-Sya’abi berkata, ”Maka Umar memuji Allah dan berkata,
‘Wahai manusia kembalikanlah segala hal kepada As-Sunnah”.

Penutup

Dari pemaparan diatas penulis beberapa kesimpulan penting yang terbagi


kepada beberapa poin:

1. Bahwa tidak semua Qaul as-shahabi yang diperselisihkan keabsahannya


sebagai hujjah di antara para ulama. Tetapi qaul as-shahabi yang
diperselisihkan adalah berupa perkataan sahabat tentang suatu permasalahn
ijtihadiayah yang tidak tersebar di kalangan para sahabat yang lainnya dan
tidak ada nash sharih yang menjelaskan permasalahan tersebut.

2. Apabila terdapat nash sharih yang menjelaskan hukum tentang suatu


permasalahan maka qaul as-shahabi yang ada tentang permasalahan
tersebut berfungsi sebagai penjelas dan penafsir bagi nash tersebut.

3. Secara garis besar para ulama terbagi ke dalam dua pendapat mengenai
keabsahan qaul as-shahabi sebagai salah satu masdar tasyri’, yaitu:

- Yang menjadikannya sebagai hujjah

- Yang menolaknya sebagai hujjah

4. Apabila qaul as-shahabi bertentangan dengan qiyas maka didahulukan qaul


as-shahabi dari pada qiyas, bagi yang berpendapat bahwa qaul as-shahabi
adalah hujjah ketika bertentangan dengan qiyas.

5. Apabila qaul as-shahabi sejalan dengan qiyas maka qaul As-shahabi sebagai
penguat bagi qiyas tersebut.

6. Qaul as-shahabi mengenai suatu permasalahan tidak berlaku bagi para


sahabat yang lain yang berijtihad pula. Adapun bagi sahabat yang ‘awwam
maka terjadi perselisihan di dalamnya.

7. Apabila terjadi perbedaan fatwa antara satu sahabat dengan sahabat yang
lainnya, maka diambil pendapat salah satu darinya yang paling dekat
kebenarannya dengan Al-Qur’an, As-Sunah, ijma’ atau qiyas.

8. Apabila qaul as-shahabi berbeda dengan riwayatnya (yang marfu’) maka yang
diambil adalah riwayatnya (yang marfu’).

9. Apabila salah seorang sahabat ruju’ dari perkataannya terhadap suatu


permasalahan maka perkataannnya tidak bisa dijadikan hujjah. Sebagaimana
yang terjadi pada Ummar bin Khattab.
http://pwkpersis.wordpress.com/2008/03/22/hujjiyah-qaul-as-shahabi-dalam-penetapan-
hukum-islam/

AL-ISTISHAB, MAZHAB SHAHABI DAN 'AMALUL AHLI MADINAH:


KAJIAN FALSAFAH PERUNDANGAN ISLAM

BAB 1
PENDAHULUAN

Allah swt telah mewahyukan Al-qur'an kepada Nabi Muhammad SAW yang berisi
perintah dan larangan untuk menjadi pedoman hidup ummat manusia, barang siapa yang
mengikutinya akan selamat di dunia dan akherat dan bagi manusia yang tidak
menundukkan dirinya kepada aturan Al-qur'an akan dimurkai oleh Allah SWT.

Dalam Islam dalil utama yang digunakan oleh fuqaha untuk mengistimbat hokum-hukum
adalah Al-qur'an, bila dalam Al-quran tak di atur atau tidak di perdapatkan hokum maka
dalil berikutnya yang akan digunakan oleh mufassir adalah Al-Hadis. Sekiranya dalam
hadispun tak diperdapatkan ketentuan-ketentuan hokum yang dikaji maka dalil
berikutnya adalah Ijma dan Qias.

Al-qur'an, Hadis, Ijma' dan Qias merupakan dalil-dalil syara' yang sudah di sepakati oleh
para para jumhur fuqaha untuk menggali hokum-hukum syara' sebagai jawaban terhadap
hokum-hukum yang belum ada ketentuannya.

Di samping dalil-dalil syara' yang sudah disepakati oleh jumhur masih terdapat banyak
sangat dalil-dalil syara' yang masih di persilisihkan oleh jumhur ulamak apakah boleh
menjadi dalil syara' atau tidak boleh seperti Al- istihsan, Al-maslahah mursalah, Al-
Istishab, Al-Urf, Al- Mazhahib Shahabi, Al-Ahlul Madinah dan As-Syar'u man qablana.

Dalam tulisan ini akan diuraikan perkara-perkara tentang Al-Istishab, Al-MAzhahib


Shahabi dan Al-Ahlul Madinah. Tajuk ini disusun sebagai salah satu tugas subjek Filsafat
Hukum Islam.

BAB II

Al-ISTISHAB

1) Pengertian secara Bahasa

Adapun secara bahasanya pengertian Al-Istishab adalah menuntut bersahabat, atau


menuntut beserta atau mencari rakan dan menjadikannya sebagai sahabat.

2) Pengertian secara Istilah

Manakala secara istilahnya, Istishab menurut ulama ushul fiqh membawa maksud
menetapkan hokum pekerjaan yang ada pada masa yang lepas, karena disangka tidak ada
dalil pada masa yang akan datang .
Menurut imam as-syaukani bahawa erti Al-Istishab iaitu menghukumkan sesuatu hokum
sama seperti hokum pada masa lalu sehingga ada dalil yang mengubahnya. Sementara itu
Ibnul Qayyim memberikan erti Istishab iaitu menetapkan berlakunya suatu hokum yang
telah ada atau meniadakan sesuatu yang memang tiada sampai ada bukti yang
merubahkan kedudukannya .

Jadi daripada pengertian di atas dapatlah diperkatakan bahawa Istishab adalah


menjadikan hokum suatu peristiwa yang telah ada sejak semula tetap berlaku hingga
peristiwa yang berikutnya, kecuali ada dalil yang mengubah ketentuan hokum itu.

Misalnya: Harun telah mengahwini Fatimah secara sah, kemudian harun meninggalkan
isterinya tanpa proses perceraian selama 10 tahun, lalu ja'far nak mengahwini Fatimah
yang menurut zhahir tidak lagi bersuami. Perkahwinan Ja'far dengan Fatimah tidak dapat
di langsungkan kerana Fatimah menurut status hukumnya adalah isteri sah Harun. Contoh
lainnya seseorang tang telah yakin bahawa dia telah berwudhuk, dianggap tetap
berwudhuk selama mana tiada bukti yang membatalkan wudhuknya, keraguan atas was-
was tidak dapat membatalkan wudhuk tersebut.

3) Pembahagian Istishab.

Istishab terbagi kedalam empat (4) macam pembahagian, yaitu :

1. Istishab al- Bara'ah al-Ashliyyah ertinya kebebasan dasar yang oleh Ibnul Qayyim
diberi istilah : Bara'ah al-'adam al-ashliyyah" seperti bebas diri dari beban dan kewajiban
(taklif) syar'I sampai ada dalil yang menunjukan kepada adanya taklif. seperti orang kecil
terbebas dari taklif sampai mencapai umur usia dewasa . Sebagaimana firman Allah swt :

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti
berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila keadaan
mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat),
Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah Telah menghalalkan jual
beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang Telah sampai kepadanya larangan dari
Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah
diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah.
orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni
neraka; mereka kekal di dalamnya.

Dan firman Allah swt dalam surat yang lain, Iaitu:

Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi
petunjuk kepada mereka sehingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus
mereka jauhi Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.

Selepas turunnya ayat tentang hokum haramnya memakan riba orang islam bimbang
adakah harta yang didapati melalui cara riba sebelum turunnya ayat ini sama ada haram
atau halal. Maka dalam ayat ini telah dijelaskan bahawa perkara jual-beli sebelum
turunnya ayat ini tentang pengharaman riba iaitu di bolehkan berdasarkan prinsip bahawa
asal sesuatu iaitu terlepas daripada bebanan (taklif).

Ayat kedua pula menjelaskan tentang nabi dan orang Islam yang memohon kepada Allah
swt supaya di ampunkan untuk orang musyrikin, tetapi di tegur oleh Allah swt dalam ayat
tersebut di atas dan menerangkan bahawa permohonan ampun sebelum teguran daripada
Allah swt terlepas daripada kesalahan ini.

Selepas itu Itishab Al-Bara'ah Al-Ashliyyah juga selari dengan kaedah fiqh iaitu :

‫الصل في الذمة البر اءة من التلكليف و الحقو ق‬

Hukum asal pada setiap orang terbebas daripada taklif dan tanggung jawab.

Jadi daripada pengertian-pengertian tersebut dapatlah diperkatakan bahawa tidak berlaku


kewajiban kepada hamba, sehinggalah Allah swt dan Rasul saw mengharamkannya.

2. Istishab Al-Ibahah Al ashliyyah iatu berlandaskan kepada prinsip bahawa asal


sesuatu itu adalah mubah (harus). Keberadaannya diakui oleh syara' dan akal .

Istishab ini banyak berperan dalam mengistimbatkan hokum dalam perkara mua'malat.
Istishab ini mempunyai prinsip bahawa hokum asal sesuatu yang bermanfaat boleh
dilakukan dalam kehidupan ini selama ketiadaan dalil yang melarangnya.

Terdapat kaedah fiqh yang selari dengan istishab al-ibahah al-ashliyyah aiatuaa:

‫ال صل في ال شياء ا لبا حة‬

Hukum asal sesuatu adalaha harus

Terdapat firman Allah swt yang selari dengan ketentuan istishab al-assliyyah iaitu :

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan dia
berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan dia Maha
mengetahui segala sesuatu.

Ayat ini menjelaskan bahawa semua ciptaan Allah swt di dunia ini iaitu untuk
kemanfaatan bagi manusia. Maka bolehlah manunsia mengambil manfaatnya seperti
untuk di makan, atau di minum selagi ada dalil larangan kepada manusia untuk
menggunakannya dan sekiranya ada nas yang melarangnya maka ianya wajib
meninggalkan perkara tersebut.

Jadi, dengan berpegang kepada ketentuan di atas maka sama ada semua macam tumbuh-
tumbuhan, binatang, minuman,makanan, boleh di makan selagi belum ada dalil yang
mengharamkannya.

3. Istishab Al Hukm iaitu Istishab yang berdasarkan atas prinsip bahawa sesuatu hokum
tetap berjalan selama mana tidak ada dalil yang mengubahnya . selari dengan itu hokum
boleh atau larangan tentang sesuatu tetap akan berjalan sehinggalah ada dalil yang
melarangnya untuk yang mubah dan ada yang mengharuskannya perkara yang dilarang.

4. Istishab Al Wasf iatu Istishab yang didasarkan atas anggapan bahawa sifat yang
diketahui ada sabelumnya masih tetap ada sehingga ada bukti yang mengubahnya, seperti
sifat hidup bagi orang yang hilang . Sifat ini di anggap masih tetap melekat pada orang
yang hilang sampai ada indicator atas kematiannya. Kafalah (jaminan/tanggungan adalah
sifat syar'i yang melekat pada orang yang menanggung hingga ia membayar hutangnya.

4) Pendapat Fuqaha Tentang Istishab

Ulamak fiqh bersepakat menggunakan tiga macam istishab yang telah dibincangkan di
atas. Meskipun pada prinsipnya ketiga macam istishab ini telah diterima secara
consensus, namun untuk penerapannya pada kasus-kasus tertentu tetap tak terhindarkan
adanya perbezaan pendapat.

Adapun istishab macam yang keempat, yakni istishab Al-wasf, baik merupakan sifat
yang melekat pada setiap orang atau sifat yang baru datang, di antara ulamak fiqh masih
terjadi perbezaan pendapat mengenai criteria pemakaian istishab tersebut.

Ulamak mazhab Syafi'I dan Hanbali menggunakanya secara mutlak ertinya istishab ini
boleh di jadikan sebagai dalil dalam menetapkan hokum, baik dalam perkara yang
menimbulkan hak yang baru maupun dalam mempertahankan hak yang sudah ada .

Contohnya ialah orang yang hilang, bahawa menurut istishab al wasf seseorang yang
telah hilang dan tidak tahu tempatnya tetpa di anggap hidup sampai ada bukti yang
menunjukkan orang tersebut telah meninggal, kalau ia masih tetap hidup maka orang
tersebut akan mendapat haknya seperti mana hak orang hidup yang lain seperti harta dan
isterinya masih di anggap miliknya dan samada kalau ahli warisnya meninggal maka ia
tetap boleh mewarisi harta yang di tinggalkan.

Sementara itu, ulama mazhab Hanafy dan Maliky memakai istishab al-wasf sebagai sifat
terbatas pada hal yang bersifat penolakan, bukan yang bersifat penetapan. ertinya istishab
itu tidak menerima masuknya hak-hak baru bagi empunya sifatnya, akan tetapi
mempertahankan hak-hak yang telah dimilikinya .

Contoh yang paling jelas iaitu kasus orang hilang, selama masa raibnya ia masih tetap
dianggap hidup dalam kaitannya dengan harta bendanya hingga masih tetap menjadi hak
milikya dan isterinya masih tetap berada dalam tanggung jawabnya sampai ada indikasi
yang menunjukkan atas kematiannya. Akan tetapi ia tidak berhak mendapatkan hak-hak
baru selama dalam masa raibnya, dengan demikian sama ada apabila di tengah masa
raibnya ada seseorang yang meninggal dunia dan ia termasuk ahli waris yang meninggal
itu, maka dalam hal ini terdapat dua kemungkinan. Pertama bagian warisan yang hilang
ditangguhkan sampai diketahui kabar beritanya. Kalau ternyata ia masih hidup maka ia
berhak mengambil bagian itu.

Demikianlah pendapat mazhab Maliky dan Hanafy, Sedangkan mazhab Syafi'I dan
Hanafi mengambil dalil istishab sifat secara mutlak, baik bersifat penolakan atau
penetapan dalam kasus orang hilang mereka menganggapnya masih hidup selama masa
raibnya sampai ada kepastian/keputusan mengenai kematiannya.

Imam Ibnul Qayyim menjelaskan pengertian kata penolakan (daf) dan penetapan
(Itsbat)yang dipakai para ulamak yang berbeza pendapat mengenai kekuatan pemakaian
istishab sifat sebagai berikut :

Pengertian kata tersebut adalah bahawa istishab bisa dipakai untuk menolak orang yang
menganggap adanya perubahan keadaan, karena tetapnya perkara pada keadaan
semula. Tetapnya perkara pada keadaan semula disandarkan kepada adanya sebab
hokum, bukan kepada tiadanya hal yang merubah .

Jadi dari huraian di atas dapatlah di pahami maksudnya bahawa istishab itu bukanlah
menetapkan suatu hokum yang baru, tetapi melanjutkan berlakunya hokum yang telah
ada dan bukan untuk menetapkan yang belum ada.

5) Kedudukan Istishab Sebagai Metod Istinbat Hukum

Para ulamak telah berbeza penadapat dalam menyatakan kedudukan istishab sebagai dalil
syara' . kalangan ulamak dalam mazhab Maliki, Hambali, dan Syafi'I menjadikan istishab
sebagai dalil yang menetapkan hokum yang telah ada selama mana tidak ada dalil dalam
menetapkan hokum yang telah ada selama mana tidak dalil yang mengubahnya, baik
secara qath'I atau zhanni maka hokum itu tetap berlaku kerana di anadaikan belu ada
perubahan terhadapnya .

Manakala kalangan ulamak mutakallimin menyatakan bahawa istishab tidak boleh di


jadikan sebagai dalil kerana mereka menyatakan hokum yang telah ditetapkan pada masa
lalu mestilah bersandarkan kepada dalil, begitu juga dalam menetapkan hokum dalam
perkara sekarang dan yang akan datang.

Pendapat ulamak mutaakhirin menyatakan boleh menerima istishab sebagai hujjah untuk
menetapkan hokum yang telah ada sebelumnya dan menganggap hokum itu tetap berlaku
pada masa datang sehingga ada dalil mengubahnya, namun istishab tidak bolej digunakan
menetapkan hokum yang akan ada (baru).

Jadi berdasarkan pendapat ini sesuatu hokum yang telah berlaku dan tidak ada dalil yang
membatalkannya maka hokum tersebut terus berjalan, namun dalam ianya tidak di pakai
dalam menetapkan hokum yang baru.
BAB III

MAZHAB SHAHABY

Sepeninggal Rasulullah saw, maka pemberi fatwa dan pembentuk hukum-hukum Islam
untuk kepentingan ummat Islam adalah para shahabat yang benar-benar sudah mafhum
dengan fiqh dan ilmu agama lainnya serta lantaran lantaran akrabnya mereka dengan
Rasulullah di dalam pergaulan sehingga mampu memahami Al-qur'an dan hukumnya.
Para sahabat telah mengeluarkan berbagai fatwa mengenai berbagai kejadian dan
permasalahan yang sangat banyak.

Dari segi bahasa sahabat bererti berkawan, bergaul, ataupun bersama-sama, sama ada
lama atau sekejab .

Manakala pengertian sahabat dari segi istilah iaitu orang yang berjumpa dengan Nabi
saw, beriman dan mati dalam Islam .

Menurut ahli hadis iaitu setiap orang yang berjumpa dengan Nabi yang beriman dan mati
dalam Islam walaupun sekejab seperti al- Ashath bin Qiis yang memeluk Islam pada
tahun 10 hijriah dan Nabi saw meninggal selepas itu, dan pula tidak di syaratkan
menyertai peperangan bersama Nabi saw. Walaupun mereka berjumpa dengan Nabi saw
dalam masa yang sekejabjuga di anggap sebagai sahabat karena memandangkan kepada
kemuliaan dan ketinggian Rasulullah saw sehingga orang yang melihatnya di anggap
sebagai sahabat.

Selanjutnya pendapat dari Ulamak Ushuliyyin tentang defenisi sahabat ialah setiap orang
yang hidup bergaul dengan Nabi saw dalam jangka yang panjang dan menimba ilmu dari
Nabi saw sepertri Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib,
Aisyah, Abdullah bin Umar, mereka adalah orang berjasa dalam menyampakan Islam
kepada genenrasi sesudahnya .

Setelah wafatnya Nabi saw banyak sahabat yang tampil memberi pendapat (fatwa) dalam
menjawab berbagai masalah hokum yang timbul, sebagian ahli usul fiqh menyebut
pendapat sahabat dengan qaul sahabi, sebagian yang lain menamakan dengan fatwa
sahabi dan sebagian lagi menyebut mazahab sahabi.

Mazhab sahabi bermaksud pendapat Nabi saw tentang sesuatu perkara yang tidak
dijelaskan hukumnya secara tegas dalam Al-qur'an atau hadis.

Abu zahrah menyatakan mazhab sahabi terdiri dari bebarapa bentuk, iaitu:

a. Apa yang disampaikan oleh sahabat itu adalah berita yang didengarnya daripada Nabi
saw, tetapi tidak menyataka bahawa berita itu sebagai sunnah Rasulullah saw.

b. Apa yang di sampaikan sahabat adalah sesuatu yang didengari dari orang pernah
mendengarnya daripada Nabi saw, tetapi orag itu tidak pernag menjelaskan bahawa yang
didengarnya berasal daripada Nabi saw.

c. Sesuatu yang disampaikan itu itu adalah hasil pemahaman sahabat terhadap ayat Al-
qur'an yang orang lain tidak memahaminya.

d. Sesuatu yang disampaikan oleh sahabat itu telah disepakati lingkungannya

e. Apa yang disampaikan oleh sahabat merupakan hasil pemahaman atas dalil-dalil
kerana kemampuannya dalam bahasa dan penggunaan dalil.

Dalam menentukan kehujjahan mazhab sahabi sebagai dalil syara' maka dapatlah
di bagi ke dalam empat jenis pendapat:

a. Pendapat sahabat yang bukan berasal dari pada hasil ijtihadnya. Ulamak bersepakat
bahawa boleh di jadikan sebagai hujjah dalam mentapkan hokum bagi generasi
sesudahnya.

b. Pendapat sahabat yang di sepakati secara tegas di kalangan mereka yang di kenali
dengan ijmak sahabat, pendapat sahabat seperti ini merupakan hujjah.

c. Pendapat sahabat secara individu tidak mengikat sahabat yang lain, oleh karenanya
sudah biasa di kalangan sahabat berbeza pendapat dalam suatu masalah.

d. Pendapat sahabat secara individu yang merupakan hasil ijtihadnya dan tidak mendapat
kesepakatan di antara para sahabat, dalam hal ini ulamak berselisih pendapat tentang
kehujjahannya.

Menurut imam Abu Hanifah beserta rakan-rakannya berpendapat bahawa perkataan


shahabat itu adalah hujjah. Kata Imam Abu Hanifah: Apabila saya mendapatkan
ketentuan dari kita Allah dan sunnah Rasullah saw maka saya mengambil pendapat dari
shahabat beliau yang saya kehendaki dan meninggalkan pendapat beliau yang tidak saya
kehendaki. saya tidak mau keluar dari pendapat shahabat-shahabat tersebut untuk
kemudian memilih pendapat selain shahabat .

Beliau membolehkan mengambil pendapat salah seorang shahabat yang di kehendaki


akan tetapi tidak boleh melawan keseluruhan pendapat shahabat.

Imam Syafi'I tidak sepakat jika salah seoarang pendapat shahabat menjadi hujjah. Beliau
membolehkan melawan pendapat seluruh shahabat untuk berijtihad menetapkan pendapat
yang berlainan. Karena pendapat para shahabat itu tidak lain adalah sekumpulan ijtihad
perseorangan yang tidak luput dari kesalahan.
Sebagaimana seorang shahabat boleh berbeza pendapat dengan shahabat lain, maka para
mujtahid setelah shahabatpun demikian halnya. Oleh karenanya Imam Syafi'I berkata
menetapkan hokum atau memberi fatwa tidak boleh melainkan berdasarkan pendapat
yang kuat yaitu Al-qur'an, Al-Hadis, pendapat para ahli yang tidak diperselisihkan lagi
atau qias kepada salah satu pendapat di atas .

Jadi, berdasarkan keterangan di atas maka Abu Hanifah membolehkan mengambil


pendapat salah satu sahabat sebagai hujjah dan tidak boleh meninggalkan keseluruhan
pendapat sahabat, sedangkan Imam syafi'I mengatakan tidak boleh menjadikan hujjah
pendapat seorang sahabat saja

BAB IV

AMAL AHLI AL-MADINAH

Amal ahli madinah merupakan perbuatan penduduk Madinah pada zaman sahabat dan
tabi'in yang di anggap warisan dari Rasulullah saw selama lebih kurang tiga kurun yang
pertama selepas hijrah Rasulullah ke Madinah, sebagaimana firman Allah swt:

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan
muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha
kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka
surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di
dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.

Amal Ahli Madinah adalah amalan dan perbuatan yang menjadi kebiasaan bagi penduduk
Madinah selepas kewafatan Rasulullah saw seperti : amalan ahli madinah yang
mensyaratkan kufu' dalam perkahwinan bagi wali mujbir yang hendak mengahwinkan
anak perempuan mereka, amal ahli madinah juga di sebut sebagai ijma' ahli Madinah .
Ulamak berbeza pendapat dalam menyatakan kehujatan berdasarkan amal ahli madinah
golongan yang pertama mengambil amal ahli madinah sebagai sumber hokum antaranya
iaitu imam Malik r.a, sementara golongan yang kedua menolak Amal ahli Madinah
sebagai hujjah syara' . Imam Syafi'I tidak mengakui amal ahli Madinah sebagai sumber
hokum kerana mereka juga sama dengan manusia tempat lain .

Imam Malik berpendapat bahawa Madinah ialah Darul Hirah yang mana Al-Qur'an
diturunkan, Nabi Muhammad saw dan sahabat hidup di Madinah, pendduduk madinah
lebih mengetahui tentang seba-sebab penurunan Al-qur'an, inilah keistimewaan penduduk
Madinah, maka dengan sebab ini amal ahli madinah di dahulukan daripada qiyas dan
khabar ahad .

Sesungguhnya hadis tentang keutamaan penduduk Madinah dari dari yang lain tidak
menafikan keutamaan yang lain dan tidak berarti ijma' khusus bagi penduduk Madinah
tetapi juga terbuka bagi untuk yang lain.

Penyaksian mereka terhadap wahyu tidak menunjukkan bahawa ahli ilmu hanya terbatas
kepada penduduk Madinah, melaikan juga terdapat di kota atau Negara lain.
Sesungguhnya amal ahli Madinah yang berasal dari ijtihad antara penduduk Madinah
yang lainnya sama kedudukannya, tetap tidak boleh di jadikan hujjah. Hadis Rasulullah
tidak hanya di dengar oleh penduduk Madinah karena kemungkinan orang yang
mendengar itu berasal dari penduduk lain dan tidak menetap di Madinah ataupun dia
hanya mendengar dari penduduk Madinah kemudian dia pergi ke Negara lain, sehingga
muncullahsuatu perkara, mereka tidak mampu memberikan pendapat sesuai hadist yang
di dengarnya.

BAB V

PENUTUP

ϖ Istishab merupakan ketetapan di masa lampau, berdasarkan hokum asal tetap terus
berlaku untuk masa sekarang dan masa yang akan dating, sehinggalah ada bukti yang
merubahnya.

Para ulama telahϖ bersepakat menyatakan bahawa tiga macam istishab yaitu al-istishab
bara'ah al-ashliyyah, istishab al ibahah al asliyyah, istishab al hukm boleh di gunakan
sebagai hujjah dalam menetapkan hokum, sedangkan istishab al wasf masih menjadi
perselisihan di kalangan para ulamak tentang kebolehannya sebagai dalil dalam
menetapkan hokum.

ϖ Mazhab sahabi iaitu pendapat sahabat Nabi saw tentang sesuatu perkara yang tidak
dijelaskan hukumnya secara tegas dalam Al-qur'an dan Al-Hadis

ϖ Tentang kehujjahan mazhab sahabi sebagai dalil imam Abu Hanifah membolehkan
mengambil pendapat salah satu sahabat sebagai hujjah dan tidak boleh meninggalkan
keseluruhan pendapat sahabat, sedangkan Imam syafi'I mengatakan tidak boleh
menjadikan hujjah pendapat seorang sahabat saja.

Amal ahlul madinah iaitu perbuatan pendudukϖ Madinah pada zaman sahabat dan
tabi'in yang di anggap warisan dari Nabi Muhammad saw lebih kurang tiga kurun yang
pertama selepas hijrah Rasulullah saw ke MadinahImam Malik mengatakan amal ahli
Madinah boleh di jadikan sebagai dalil dalam menetapkan hokum, sementara Imam
Syafi'I menolak menggunakan amal ahlul Madinah sebagai sumber dalam menetapkan
hokum.
http://mahir-al-hujjah.blogspot.com/2009/05/al-istishab-mazhab-shahabi-dan-amalul.html