Anda di halaman 1dari 56

0

Chapter Report

Bab 10

REAKSI NUKLIR (I)


Nuclear Reactions (I)
Dosen Pembina : Prof. Dr. Prabowo, M.Pd.
Program Pascasarjana
Universitas Negeri Surabaya

Oleh:
Surya Arif Kartono
Rifky Nia Sarantie
Bagus Novianto Wibisono

(NIM 127795058)
(NIM 127795012)
(NIM 127795019)

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


PROGRAM PASCASARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SAINS
2013

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI
A. PENDAHULUAN

B. PEMBAHASAN

10.1 Penemuan Transmutasi Suatu Unsur Buatan : Eksperimen Rutherford 1


10.2 Jenis Reaksi Nuklir ...........................................................................

10.3 Hukum-hukum Kekakalan Reaksi Nuklir ........................................

10.4 Tumbukan Antarpartikel Subatomik ................................................

10.5 Energi Reaksi Nuklir ........................................................................

16

10.6 Eksperimen Penentuan Q .................................................................

21

10.7 Eksperimen Cockroft dan Walton pada Tramsmutasi Nuklir oleh


Proyektil Buatan yang Dipercepat ...................................................

23

10.8 Cross Section Reaksi Nuklir ............................................................

27

10.9 Cross Section Parsial ........................................................................

29

10.10 Hasil Reaksi ......................................................................................

31

10.11 Reaksi Induksi oleh Partikel ..........................................................

33

10.12 Penemuan Induksi Radioaktif ..........................................................

35

10.13 Reaksi Induksi Proton ......................................................................

36

10.14 Reaksi Induksi Deutron ....................................................................

39

10.15 Reaksi Induksi Neutron ....................................................................

43

10.16 Reaksi Induksi Sinar Gamma ...........................................................

47

10.17 Tipe Khusus Reaksi Nuklir ..............................................................

49

C. KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA

49

A. PENDAHULUAN
Dari awal peradaban, orang-orang di berbagai belahan dunia sangat
ingin mengetahui apakah logam seperti besi, tembaga dan lain-lain dapat
berubah menjadi logam mulia seperti emas atau perak. Ada banyak yang
mengira bahwa transformasi seperti itu mungkin terjadi. Di abad pertengahan,
Pseudosains (sebuah pengetahuan, metodologi, keyakinan, atau praktik yang
diklaim sebagai ilmiah tapi tidak mengikuti metode ilmiah) yang dikenal
sebagai alchemy, telah berkembang di Eropa. Para alchemist mengklaim
bahwa mereka dapat mengubah logam dasar menjadi logam mulia, meskipun
masih ada dasar ilmiahnya sedikit untuk klaim mereka. Pada kenyataannya
banyak dari mereka yang harus membayar mahal untuk kegiatan penipuan
mereka itu.
Penemuan radioaktivitas pada awal abad sekarang ini menyebabkan
kesadaran bahwa ternyata unsur-unsur radioaktif secara spontan berubah
menjadi unsur lainnya. Setelah penemuan ini, mimpi kuno para alchemist
kembali hidup di benak para ilmuwan sains mengenai kemungkinan
mengubah satu unsur menjadi unsur lain.
Berdasarkan pengetahuan mengenai struktur inti atom jelas bahwa jika
kita dapat mengubah jumlah proton atau neutron atau keduanya di dalam inti
atom, maka hal ini akan memungkinkan untuk mengantarkan ke sebuah proses
transformasi (perubahan) inti atom. Jika jumlah proton Z berubah, maka hal
itu memungkinkan untuk mentransformasi unsur satu ke dalam unsur yang
lain. Di sisi lain, jika jumlah neutron N berubah, maka isotop satu dari suatu
unsur akan ditransformasikan ke dalam isotop lain dari unsur yang sama.
B. PEMBAHASAN
10.1 Penemuan Transmutasi Suatu Unsur Buatan : Eksperimen Rutherford
Kesulitan utama dalam menghasilkan transformasi inti atom secara
buatan adalah ikatan yang terjadi antarpartikel inti (nukleon) dalam inti atom
(nukleus) sangatlah kuat. Untuk melepaskan ikatan nukleon dari sebuah
nukleus, kita harus menyediakannya sejumlah energi yang setidaknya sama

dengan energi ikat di dalam nucleus itu, biasanya dalam orde satuan MeV.
Energi ini dapat disediakan dengan cara menembakkan sebuah partikel inti
(misalnya, proton, neutron, deuteron atau partikel ) ke dalam inti dari luar.
Kecuali neutron, semuanya bermuatan positif dan oleh karenanya sangat
ditolak oleh muatan positif dalam inti. Jadi mereka harus sangat energik untuk
bisa masuk ke inti untuk membawa transformasi inti.
Lord Rutherford adalah yang pertama yang menghasilkan transformasi
buatan (transmutasi) dari inti pada tahun 1919, dengan menggunakan sangat
energik partikel dari bahan alami seperti radioaktif radium sebagai proyektil.
Peralatan yang digunakan oleh Rutherford ditunjukkan pada Gambar. 10.1.

Gambar 10.1 Peralatan yang digunakan Rutherford untuk memproduksi buatan


disintegrasi inti.

Sebuah ruang kaca kedap udara A yang dapat dievakuasi dengan bantuan
pompa vakum dan kemudian diisi dengan gas yang diinginkan, berisi D
merupakan contoh kecil dari zat radioaktif alami.
Partikel dari sumber D dijalankan melalui gas di dalam ruang menuju
celah tipis yang menutupi port di ujung lain pada dinding ruangan. Di luar
celah, ada F layar neon yang hasil sintilasi oleh partikel bermuatan energik
jatuh di atasnya. Foil tipis penyerap logam S terdapat sela antara celah dan F.
scintillations yang dapat diamati dengan bantuan mikroskop M.
Jarak dari D ke celah itu tetap lebih besar dari jangkauan partikel dari
sumber gas di dalam ruangan. Sintilasi Tidak dapat diamati ketika ruangan itu
penuh dengan CO2 atau oksigen. Namun, ketika ruang diisi dengan nitrogen
udara kering, sintilasi bisa diamati, bahkan ketika jarak antara sumber dan

layar F adalah 40 cm atau lebih yang bersetara dengan jarak tersebut.


Rutherford mengidentifikasi partikel memproduksi sintilasi sebagai
proton dengan membelokkan mereka dengan medan magnet. Jangkauan
mereka lebih lama dibandingkan dengan yang diharapkan untuk proton elastis
tersebar dari gas hidrogen (28 cm) dikecualikan kemungkinan asal mereka
dari gas hidrogen yang mungkin dicampur dengan nitrogen sebagai pengotor.
Rutherford menjelaskan pengamatannya dengan cara berikut. Ketika
kecepatan partikel yang sangat tinggi dibuat bertabrakan dengan inti
nitrogen 14N beberapa dari mereka terakhir ditangkap. Sistem komposit, yang
terbentuk sebagai hasil penangkapan tersebut ( dalam waktu 10-15 s) hancur
oleh emisi proton yang sangat tinggi kecepatannya. Proses ini adalah proses
transmutasi inti yang membawa muatan dengan bantuan sebuah partikel dari
zat radio aktif, meninggalkan inti sisa dari isotop oksigen

17

O. Persamaan

untuk reaksi kimianya sebagai berikut:


4
2

He 147 N 189 F * 178 O 11H

..

(10.1-1)

Langkah perantara/ menengah 18F dikenal sebagai nukleus campuran.


Ini memecah segera setelah pembentukannya. Dalam menulis suatu
persamaan reaksi nuklir, kita sering menghilangkan langkah perantara dan
menulis

hanya

langkah

awal

dan

akhir

dalam

proses.

Reaksi nuklir mengacu pada proses yang terjadi ketika sebuah partikel
nuklir (misalnya, nukleon, inti atau partikel dasar) datang ke dalam kontak
dekat dengan yang lain di mana energi dan momentum pertukaran terjadi.
Produk akhir reaksi adalah lagi beberapa partikel nuklir atau partikel yang
meninggalkan titik kontak (situs reaksi) dalam arah yang berbeda. Perubahan
yang dihasilkan dalam reaksi nuklir biasanya melibatkan gaya nuklir kuat.
Efek murni elektromagnetik (misalnya, Coulomb hamburan) atau proses yang
melibatkan interaksi lemah (misalnya, kerusakan -) biasanya dikeluarkan dari
kategori reaksi nuklir. Namun, perubahan dari keadaan-keadaan nuklir di
bawah pengaruh interaksi elektromagnetik disertakan.
Secara umum reaksi inti digambarkan sebagai berikut :

Xz + x

Yz + y

.....

(10.1-2)

Dimana X adalah inti target yang ditembaki dengan proyektil x. Inti


senyawa yang dihasilkan segera pecah dan menghasilkan partikel y dengan
meninggalkan inti sisa Y. Simbol kimia dari Z menunjukkan nomor atom
mereka, ini adalah sering diabaikan dalam penulisan persamaan reaksi inti.
Proyektil x dan y yang dipancarkan partikel dalam banyak kasus inti ringan
seperti proton (p), neutron (n), deuteron (d), partikel alfa (), sinar gamma ()
dan lain-lain, dan dalam persamaan reaksi nuklir, simbol-simbol ini biasanya
digunakan.
10.2 Jenis Reaksi Nuklir
Transmutasi buatan dari inti yang dihasilkan dalam percobaan perintis
Rutherford adalah jenis reaksi nuklir. Jenis-jenis reaksi inti yang dihasilkan
dalam percobaan perintis Rutherford adalah :
a. Hamburan Elastis
Dalam hal ini partikel yang dihasilkan y adalah sama dengan partikel yang
ditembakkan x. Ia keluar dengan energi yang sama dan momentum sudut
sebagai x, sehingga inti hasil reaksi Y adalah sama sebagai target X. Proses
dapat ditulis sebagai:
X(x, x) X
b. Hamburan Tidak Elastis
Dalam hal ini partikel yang dihasilkan y adalah sama dengan partikel yang
ditembakkan x. Ia keluar dengan energi yang sama dan momentum sudut
yang berbeda, sehingga inti hasil reaksi Y adalah sama sebagai target X.
Proses ini ditulis sebagai:
X (x, y) X*
c. Penangkapan Radiasi
Dalam hal ini penembakan partikel x diserap oleh inti target X untuk
membentuk senyawa (C*) yang kemudian turun ke keadaan dasar dengan
memancarkan satu atau lebih sinar gamma. Kita dapat tulis sebagai:
X (x,)Y*, (Y=C)

d. Proses Desintegrasi
Proses dimana X (x,y) Y, dimana X, x, Y dan y berbeda baik nomor massa
(A) maupun nomor atom (Z).
Contoh :

N (, p) 17O

14

e. Reaksi Benda Banyak


Ketika energi kinetik dari partikel berenergi tinggi, maka dua atau lebih
partikel dapat keluar dari inti atau senyawa. Jika Y1, Y2, Y3 dan lain- lain,
menggambarkan/ mewakili partikel yang berbeda. Kita dapat menulis
persamaan reaksinya sebagai berikut, X (x, y1, y2, y3 ... )Y.
Contoh :

16

O (p, 2p) 15N

16

O (p, pn) 15O

16

O (p, 3p) 14C

f. Foto Disintegrasi
Dalam proses ini inti target ditembaki dengan sinar gamma yang berenergi
sangat tinggi sehingga tereksitasi.
Dalam hal ini inti target adalah ditembaki dengan sinar yang berenergi
sangat tinggi, sehingga ia dipindahkan ke tempat dengan penyerapan yang
kedua. Inti senyawa C * = X *.
Reaksi dapat ditulis sebagai: X (, y) Y.
g.

Fisi Inti
Bila X adalah inti berat dan y, Y mempunyai perbandingan massa maka
reaksi ini dikenal dengan nama fisi inti.
Sebagai contoh :

238

U (n, f)

h. Reaksi partikel Dasar


Hasil reaksi ini melibatkan partikel dasar selain nukleon atau inti sebagai
hasil reaksi atau menggunakan mereka berdua sebagai proyektil.
Contoh:

p + p p + n + +

-+p 0+n
p + 0 K0 + 0

Reaksi ini biasanya dihasilkan pada energi sangat tinggi yang mungkin
beberapa ratus MeV atau lebih.
i. Reaksi Ion Berat
Pada reaksi ini inti sasaran (X) di tembaki dengan partikel yang lebih berat
dari partikel alfa. Reaksi ini biasanya berlangsung pada energi yang cukup
tinggi ( beberapa ratus MeV) dari proyektil.
Contoh :

10

B (16O, 4He) 22 Na

14

N (14N, 15N) 13 N

10.3 Hukum-hukum Kekekalan Reaksi Nuklir


Terjadinya reaksi inti biasanya diatur oleh undang-undang konservasi tertentu.
a.

Hukum kekekalan nomor massa


Dalam suatu reaksi inti jumlah nomor massa sebelum reaksi = jumlah
nomor massa setelah reaksi. Jumlah nomor massa X dan x harus sama
dengan jumlah nomor atom Y dan y.
Ditulis :

b.

A + a = A + a

..... (10.3-1)

Hukum kekekalan nomor atom


Dalam suatu reaksi inti jumlah nomor atom sebelum reaksi = jumlah
nomor atom setelah reaksi
Ditulis :

c.

Z + z = Z + z

..... (10.3-2)

Hukum kekekalan energi


Dalam suatu reaksi inti jumlah energi total sebelum reaksi = jumlah
energi total setelah reaksi.
Ditulis : MX c2+ Mx c2 + EX + Ex = MY c2 + Mx c2 + EY + Ey
Untuk inti target yang diam EX = 0, maka :
MX c2+ Mx c2 + Ex = MY c2 + Mx c2 + EY + Ey
Dimana :

..(10.3-3)

M = massa diam
E = energi kinetik

d.

Hukum kekekalan Momentum linier


Dalam suatu reaksi inti jumlah momentum linier sebelum reaksi =
jumlah momentum linier setelah reaksi.

Ditulis : PX + Px = PY + Py

..... (10.3-4)

Untuk inti target yang diam PX = 0, maka :


Px = PY + Py
e.

..... (10.3-5)

Hukum kekekalan Momentum Anguler


Dalam suatu reaksi inti jumlah momentum anguler sebelum reaksi =
jumlah momentum anguler setelah reaksi,
Ditulis :

IX + I x + l X = I Y + I y + l Y

Dimana :

I = momentum anguler spin


l = momentum anguler orbital

f.

Hukum kekekalan paritas


Karena reaksi inti yang dibahas dalam bab ini terjadi karena interaksi
yang kuat di mana paritas adalah kekal, maka paritas sebelum reaksi ( i)
harus sama dengan paritas setelah reaksi ( f)
i = X x (-1)lx
f = Y iy (-1)ly
Maka hukum kekekalan paritas ditulis sebagai :
X x (-1)lx

= Y y (-1)ly

g. Hukum kekekalan spin isotop


Isotop spin melambangkan vektor untuk keadaan awal dan akhir yang
dinyatakan oleh Ti dan Tf.
Ti = Tf
TX + T x = T Y + T y
Dalam partikel jika Tx = Ty = 0 maka
TX = T Y
10.4 Tumbukan Antarpartikel Subatomik
Ketika terjadi reaksi nuklir ( reaksi inti) berlaku hukum kekekalan
tertentu seperti hukum kekekalan momentum dan hukum kekekalan energi
(lihat sub bab 10.3). Tanpa masuk ke rincian mekanisme reaksi, adalah

mungkin untuk menyimpulkan energi dan momentum dari partikel yang


dihasilkan dalam reaksi dari pertimbangan kinematikal sederhana.
Pada saat sebuah partikel ditembakkan pada inti target, maka akan terjadi
tumbukan elastik atau mungkin terjadi reaksi yang menghasilkan partikelpartikel baru. Dalam tumbukan elastis tidak ada perubahan-perubahan. Oleh
karena itu hanya berlaku hukum kekekalan momentum dan hukum kekekalan
energi kinetik. Sedangkan untuk tumbukan tidak elastis terjadi perubahan
internal sehingga perlu memperhatikan hukum kekekalan energi.
Dalam pengaturan eksperimental, sinar mono-energik partikel, yang
disebut Proyektil, dibiarkan jatuh pada target yang mengandung inti yang pada
saatdiam.
Tabrakan antara proyektil dan inti target dapat dianalisis dari sudut
pandang pengamat yang diam di laboratorium. Hal ini dikenal sebagai
kerangka referensi atau laboratorium sistem L. Atau, tumbukan dapat
dianalisa dari sudut pandang sebuah partikel, yang dikenal sebagai sistem C.

Gambar 10.2 Tumbukan elastik partikel subatomik

Tumbukan elastis dalam sistem L (non-relativistik):


Memperhatikan tumbukan elastis antara partikel massa M1 dan kecepatan
v1 dan terletak pada satu garis lurus M2 ( v2 = 0 ). Setelah tumbukan, kedua
partikel terbang terpisah dari titik tabrakan dengan sudut 1 dan 2.
Dengan memperhatikan gambar di atas, dari hukum kekekalan momentum
kita peroleh :

p1 p1 'cos 1 p2 'cos 2

(10.4-1)
(10.4-2)

0 p1 'sin 1 p2 'sin 2
Penjumlahan dan pengkuadratan dari dua persamaan diperoleh :
... (10.4-3)

p2 '2 p12 p1 '2 2 p1 p1 'cos 1

Kita gunakan hukum kekekalan energi :


E1 = E1 + E2

... (10.4-4)

Dalam bentuk momentum, kita peroleh :


p12
p1 '2 p2 '2

2M 1 2M1 2M 2

... (10.4-5)

Subsitusikan dari p22 dari persamaan (10.4-3)


p12
p '2 p '2 p '2 2 p p '
1 2 1 1 1 cos 1
2 M 1 2M 1 2 M 2 2 M 2 2 M 2
Atau

M
M 2
p1 '2 1 2 2 p1 p1 'cos 1 p12 1
0
M 1
M

(10.4-6)

Jika kita ambil r = M2/ M1, persamaannya menjadi :

p1 '2 1 r 2 p1 p1 'cos 1 p12 1 r 0

.(10.4-7)

Dalam bentuk energi adalah :


E '1 1 r 2 E1 E '1 cos 1 E1 1 r 0
atau

E '1
E'
1 r 2 1 cos 1 1 r 0
E1
E1
Persamaan 10.4-8 bila dikuadratkan diperoleh

(10.4-8)

. Solusi persamaannya

dapat dituliskan sebagai berikut:

2
2
E '1 cos 1 cos 1 r 1

E1
1 r

... (10.4-9)

10

Jika partikel target lebih berat, maka r > 1. Karena

E '1 p '1

E1
p1

kita
,

harus memilih tanda dalam Persamaan (10.4-9) sehingga p'1 / p1 > 0.


Kemudian harus mengambil tanda (+) sebelum simbol akar kuadrat. Dalam
kuadrat kita mendapatkan:
2
2
2
2
2
E '1 2 cos 1 r 1 2 cos 1 r 1 cos 1 r 1

2
E1
1 r

Jadi rasio energi yang diterima oleh partikel (M 2) menuju kejadian energy
partikel menjadi:
2
2
2
E1 E '1 2 r 1 cos 1 2 cos 1 cos 1 r 1 .... (10.4-10)

2
E1
1 r

Energi maksimum yang diterima untuk 1 = , kita memperoleh dalam


kasus ini untuk r >>1 (misalnya M2 >>M1) adalah :
E1 E '1
4r
4 4M 1


2
E1
1 r r M 2

(10.4-11)

Sebenarnya semua nilai 1 mungkin dalam kasus ini. Jenis hamburan


diamati ketika partikel - yang tersebar oleh inti ketika mereka melalui materi.
Energi yang diterima oleh inti di tumbukan tersebut sangat kecil
>>

M nuc
? 1
r

me

Ketika r < 1 (seperti dalam tumbukan partikel inti dengan sebuah


elektron), solusi yang diberikan oleh Persamaan (10.4-9) dapat menjadi nyata
hanya jika :
cos 2 1 1 r 2

... (10.4-12)

Kedua tanda (+) dan (-) yang mungkin dalam persamaan (10.4-9). Terbukti

, karena r < 1. Untuk


karena sin 1 r
r 1, 1 0 . Jadi
, atau 1 2

11

proyektil berat tersebar oleh target yang sangat ringan, seperti elektron,
berlangsung hampir kelurusan.
Sedangkan energi yang diberikan ke inti target untuk = 0 adalah :

E1 E '1 2r 2 r 2
4r

2
2
E1
1 r
1 r

or 0

atau 0

(10.4-13)

Dalam hal ini energi yang diberikan kepada target menjadi


E1 E '1 4rE1

4 M 2 E1
E1
M1

. (10.4-14)

Dengan demikian kehilangan energi oleh kejadian partikel dalam tabrakan


kecil dibandingkan dengan kejadian energi.
Kedua tanda-tanda sebelum akar kuadrat dalam Persamaan (10.4-9)
menunjukkan bahwa untuk setiap 1 ada dua nilai yang mungkin dari E'1
kecuali untuk sin 1 r . Dalam hal ini cos 2 1 1 r 2 , sehingga untuk di
bawah akar adalah nol.
Tumbukan elastis dalam sistem C (non-relativistik).
Kita sekarang mempertimbangkan tumbukan antara dua partikel dari
sudut pandang pengamat yang diam relatif terhadap pusat massa C dari
partikel (Gambar 10.3). Kita akan menotasikan kecepatan dan momentum
dalam sistem C dengan huruf kapital (V dan P), sedangkan pada sistem L
dengan huruf kecil (v dan p). Energi dan sudut hamburan akan dinotasikan
dengan E dan dalam sistem C dan oleh dan dalam sistem L.
Partikel M2 dalam keadaan diam dalam sistem L sebelum tumbukan
(v2=0). Kecepatan pusat massa dalam sistem adalah :
vc

M 1v1 M 2 v2
M 1v1

M1 M 2
M1 M 2

... (10.4-15)

Kecepatan M1 dan M2 dalam sistema sebelum tumbukan adalah :


V1 v1 vc

M 2v1
M1 M 2

M 1v1
V2 v2 vc
M1 M 2

... (10.4-16)
... (10.4-17)

12

Momentum yang sesuai adalah:


P1 M 1V1

P2 M 2V2

Dimana

... (10.4-18)

M 1M 2 v1
v1
M1 M 2

... (10.4-19)

M 2 M 2 v1
v2
M1 M 2

M 1M 2
adalah massa berkurang. Dengan demikian dua
M1 M 2

partikel memiliki momentum yang sama dan berlawanan sebelum tumbukan,


sehingga jumlah momentum mereka P1 + P2 = 0. Hukum kekekalan
momentum kemudian mensyaratkan bahwa momentum total kedua partikel
setelah tumbukan juga sama dengan nol.

P '1 P '2 P1 P2 0
Kami

telah

melambangkan

momentum

setelah

tumbukan

dengan

menempatkan tanda aksen (') di atas jumlah yang sesuai sebelum tumbukan.
Jumlah dari energi kinetik sebelum dan setelah tumbukan adalah
E1 E2

p12
p2
p2
2
2M 1 2 M 2 2

p '12 p '2 2 p '2


E '1 E '2

2M1 2M 2 2

... (10.4-20)
... (10.4-21)

Dimana : P1 = P2 = P dan P1 = P2 = P
Sedangkan hukum kekekalan energi adalah :

E '1 E '2 E1 E2
Kita peroleh bahwa P = P, jadi besarnya momentum dari partikel sebelum
dan setelah tumbukan sama dengan :

P1 P2 P '1 P '2
Momentum dari gambar partikel ditunjukkan gambar berikut:

... (10.4-22)

13

Gambar 10.3 Diagram momentum dari dua partikel yang bertumbukan di sistem pusat
massa.

Bila dua partikel saling berlawanan terbang bertabrakan dari titik tumbukan,
besarnya energi kinetik dari pusat massa adalah :
Ec

Dimana : 1

1
M1
1
M 1 M 2 vc 2
2
M1 M 2

(10.4-23)

1
M 1v12 adalah energi kinetik dari tumbukan partikel. Energi Ec
2

diberikan pada persamaan (10.4-23) bukan disediakan untuk hasil reaksi tidak
elastis. Jumlah energi yang tersedia untuk tujuan ini adalah :

1 Ec 1

M1
M2
1
1
1 v12
M1 M 2
M1 M 2
2

(10.4-24)

Dari pembahasan diatas, jelas bahwa tidak ada perubahan energi kinetik
dan momentum dari partikel setelah tumbukan dalam sistem C.
Kita sekarang menyimpulkan hubungan antara sudut hamburan dalam
dua sistem.
Dalam gambar di bawah ini, ditampilkan diagram kecepatan sesuai
dengan diagram momentum dari gambar di atas Karena besaran momentum
tetap tidak berubah oleh tumbukan elastis dalam sistem-C, besaran kecepatan
juga tetap tidak berubah. Oleh karena itu V1'= V1, V2' = V2 seperti ditunjukkan
pada Gambar.

14

Gambar 10.4 Kecepatan diagram untuk menunjukkan hubungan antara-sudut hamburan


dan dalam sistem C dan L masing-masing

Kecepatan v1 dan v2 setelah dua buah partikel bertumbukan dapat


dengan mudah diperoleh dengan penambahan vektor dari pusat kecepatan
massa vc (yang tetap tidak berubah setelah tumbukan) dengan V1 dan V2
masing-masing yaitu

v1 ' V1 vc ; v2 ' V2 vc
Ini diwakili oleh garis lurus CB dan CF pada Gambar masing-masing. 10.4.
Mengacu pada segitiga CAB, kita dapat menulis,
vc
V'
V
1 1
sin 1 1 sin 1 sin 1

Hal ini memberikan sudut hamburan dalam sistem L


(10.4-25)

M1

sin 1
M2

1 1 sin 1

Untuk M 1 M 2 , 1 2 2
Hubungan serupa dapat diperoleh antara 2 dan 2. Mengingat segitiga CDF,
kami mempunyai :
V '2
vc

sin 2 sin 2 2

Karena V2 = Vc kita rubah.

2 2 2
Kita peroleh :

.....

(10.4-26)

15

M1

sin 1
M2

1 2 1 2 2 sin 1
sin 1 2 2

M1
sin 1
M2

(10.4-27)

Kecepatan sebuah partikel dalam system L adalah:


v2 ' 2vc cos 2

2 M 1v1
cos 2
M1 M 2

(10.4-28)

Kasus Khusus
(i). Misal M1 = M2, seperti pada kasus hamburan netron- proton. Persamaan
(10.4-25) diberikan 1 21 dan persamaan 10.4-27 ) diberikan:

1 2 2 1
Atau

1 2

... (10.4-29)

Dengan demikian dalam sistem L-, sudut antara jalan dari dua partikel
massa yang sama setelah tumbukan selalu 90o.
(ii). Misal M1 >> M2. Ini adalah kasus hamburan dari partikel cahaya seperti
sebuah elektron dari partikel yang sangat berat (inti). Kita memiliki:

1 2 2


1
Yang berarti 2 2

Juga pada persamaan (11.4-28) memberikan yaitu v'2 << v1, partikel
tertumbuk mendapat energy sangat sedikit.
(iii) M2 << M1. Ini sesuai dengan hamburan partikel yang sangat berat (inti)
oleh partikel yang sangat ringan seperti elektron. Persamaan (11.4-27)
memberikan:
Oleh karena itu 1 = 0.

sin 1

M2
sin 1 2 2 0
M1

16

Partikel insiden terjadi di hampir bersamaan setelah tumbukan. Perhatikan


bahwa ini adalah salah satu asumsi yang dibuat untuk menurunkan rumus
untuk kehilangan energi oleh partikel bermuatan berat dalam melewati materi
(lihat bab XIV).
Tumbukan Tidak Elastis
Reaksi inti dari hamburan tidak elastik selama tipe hamburan ini, partikelpartikel yang dihasilkan biasanya berbeda dari sebelum tumbukan. Jika M 3
dan M4 adalah massa dua partikel yang dihasilkan oleh reaksi dan energi
kinetiknya adalah E3 dan E4, maka dapat kita tulis :
M1 + M2 + E1 + E2 = M3 + M4 + E3 + E4

.... (10.4.30)

Disini massa-massa dinyatakan dalam satuan-satuan energi, yang ditulis


sebagai:

Q = M 1 + M 2 M3 M4

Sedang jika E2 = 0, maka :


Q + E1 = E3 + E4

.... (10.4-31)

Persamaan di atas merupakan hukum kekekalan momentum yang


digunakan untuk menentukan besarnya energi yang dihasilkan dari reaksi.
Kita akan membahas secara detail di sub bab 10.5.
10.5 Energi Reaksi Nuklir
Dalam reaksi inti, energi dapat dilepaskan atau diserap. Reaksi di
mana energi dilepaskan dikenal sebagai reaksi pelepasan energi sedangkan
reaksi yang membutuhkan energi disebut reaksi penyerapan energi. Jumlah
total energi yang dilepaskan atau diserap selama reaksi inti disebut Q.
Didefinisikan sebagai :
Q = EY + Ey EX Ex
Q = EY + Ey Ex

.....(10.5-1)

Jika inti target X dalam keadaan diam.


Jika massa atom yang dinyatakan dalam satuan energi, persamaan. (10.3-3)
dapat ditulis kembali sebagai:
MX + Mx + Ex = MY + My + EY + Ey

17

Kemudian kita ambil dari persamaan 10.5-1


Q = M X + M x MY - M y

.....(10.5-2)

Ditulis dalam bentuk energi yang mengikat inti yang berbeda :


Q = BX + Bx BY - By

.....(10.5-3)

Menurut definisi Q > 0 untuk reaksi eksoergik, sementara Q <0 untuk


reaksi endoergik. Karena ada sebuah kekurangan bersih dari energi dalam
kasus yang terakhir beberapa energi harus diberikan untuk reaksi terjadi. Hal
ini biasanya berasal dari energi kinetik Ex dari proyektil.
Persamaan (10.5-2) menunjukkan bahwa untuk reaksi eksoergik MX + Mx
lebih besar dari MY + My sedangkan untuk reaksi endoergik MX + Mx kurang
dari MY + My.
Energi Ambang reaksi endoergik:
Persamaan (10.5-1) menunjukkan bahwa nilai
dinyatakan sebagai energi kinetik dari proyektil (
hasil

dan

dari suatu reaksi dapat

) dan eneri kinetik dari inti

Gambar 10. 5 (a) Gerak peluru (x) dan partikel-partikel hasil (y dan Y) dalam reaksi nuklir
(b) Diagram momentum

Berdasarkan hukum kekekalan energi dan hukum kekekalan momentum,


dapat dinyatakan dalam

dan

Mengacu pada Gambar 10.5, kita

dapatkan dari hukum kekekalan momentum sepanjang garis lurus dan tegak

lurus terhadap arah gerak proyektil p 2 ME

18

....(10.5-4)
....(10.5-5)
Persamaan (10.5-1), memberikan hukum kekekalan energi:

Penguadratan dan penambahan Persamaan (10.5-4) dan (10.5-5), kita dapat :

.... (10.5-6)
Kemudian dari persamaan (10.5-1) dan (10.5-6) diperoleh :
.... (10.5-7)
Jika kita misalkan

, maka

. Sehingga Persamaan (10.5-7)

adalah persamaan kuadrat. Jadi dapat ditulis:


........(10.5-8)
dengan :

dan

a 1

My
MY

M Y

, b

M x M y Ex cos

M
c Ex 1 x Q
M Y

Solusi Persamaan (10.5-8) adalah:


z

b b 2 4ac
2a

. (10.5-9)

Secara eksplisit akan didapatkan :


Ey

1
MY M y

M M E
x

cos M x M y Ex cos 2 M Y M y QM Y Ex M Y M y

.. (10.5-10)

19

Jika kita tulis Q = - Q kemudian untuk reaksi endoergik Q> 0 karena Q < 0.
Jika misalnya Ex = 0, kita punya :
b = 0 dan c = - Q = Q > 0
Solusi untuk nilai z dalam kasus ini menjadi

Karena

dan

bernilai positif, z E y bernilai imajiner dalam kasus ini.

Ini berarti bahwa reaksi tidak mungkin terjadi dengan


sebuah energi minimum sebesar

. Dibutuhkan

untuk memulai reaksi endoergik.

Oleh karena itu, pada reaksi endoergik nilai yang ada pada tanda akar kuadrat
dalam persamaan (10.5-9) harus nol sehingga kita mendapatkan: b 2 4ac 0
Substitusikan nilai a, b, dan c, maka kita dapat persamaan :

M y

4
2
M
M
E
cos

4
1

x
y
min
MY 2
M Y

M x
Q Emin 1
M Y

yang memberikan energi miimum sebesar:


Emin

MY Q

(10.5-11)

M x M y
2
M y MY M x
sin
M

Jika Q < 0, Emin > 0,


Dengan menggunakan persamaan (10.5-2), kita peroleh:
Emin

M y MY Q

.(10.5-12)

M x M y
2
sin
M

Mx Q

Berdasarkan persamaan (10.5-12) terlihat bahwa

bergantung pada sudut

(sudut yang terbentuk yang mana partikel y dipancarkan). Ketika


yaitu, y dipancarkan dalam arah yang sama (diteruskan),

memiliki nilai

terendah dan dikenal sebagai energi ambang untuk reaksi endoergik dan

20

biasanya ditulis sebagai Eth. Berdasarkan Persamaan. (10.5-12) kita


mendapatkan, besarnya energi ambang (Eth) :
Eth

MY Q

(10.5-13)

Mx Q

Karena Q<< Mx,


kita dapat mengabaikan nilai Q pada bagian penyebut persamaan (10.5-13),
selain itu, kita juga dapat mengganti My + MY dengan Mx + MX. Jadi, kita
dapatkan:
.... (10.5-14)

Jadi dengan mengukur energi minimum

reaksi endoergik ini akan

memungkinkan untuk dapat menentukan nilai

dari sebuah reaksi.

Persamaan (10.5-10) menunjukkan bahwa dalam keadaan tertentu, nilai


akan bernilai ganda dari energi proyektil
mungkin ada dua nilai-nilai

, yaitu, untuk Ex yang diberikan,

, energi dari partikel yang dipancarkan. Hal ini

hanya terjadi pada reaksi endoergik. Nilai ganda ini ditunjukkan pada Gambar
10.6 untuk reaksi endoergik 3H (p, n) 3He memiliki nilai Q = - 0,7638 MeV.
Persamaan. (10.5-10) juga menunjukkan
keadaan yang memenuhi:

bernilai tunggal jika berada dalam

21

Gambar 10.6 Grafik En dan Ep dari reaksi 3H (p,n) 3He. Sifat nilai ganda dari energi
neutron telah tercatat.

Jadi, terdapat batas energi dari proyektil, di mana energi partikel yang
dipancarkan akan memiliki nilai tunggal. Besarnya energi tersebut diberikan
diberikan oleh persamaan:
(10.5-15)

dengan
dari

MeV. Untuk energi proyektil yang berenergi lebih besar


, partikel y yang dihasilkan dapat dipancarkan seluruhnya pada sudut

antara 0o dan sudut maksimum

, yang dapat ditemukan dengan bantuan

Persamaan (10.5-10).
Reaksi Eksoergik.
Pada reaksi eksoergik, reaksi dapat terjadi untuk semua nilai
termasuk

. Untuk

, momentum kejadiannya adalah sama dengan

nol sehingga jumlah momentum partikel hasil reaksinya harus nol:

22

. Ini berarti bahwa Y dan y diteruskan dalam arah yang


berlawanan, sehingga

dan juga

Umumnya Persamaan (10.5-7) memberikan nilai Q > 0 untuk nilai


tunggal, energi dari partikel yang dipancarkan, untuk nilai

dan pada sudut

pancaran yang diberikan. Semua nilai memungkinkan. Oleh karena itu,


terdapat distribusi energi partikel yang dipancarkan antara titik maksimum
pada = 0 dan minimum pada = . Solusi Persamaan (10.5-7) diberikan
oleh Persamaan (10.5-9) tanda positif dipilih jika momentum

yang

diperoleh bernilai positif.


Sebagaimana akan kita lihat di sub bab 13.4c, pemanfaatan dari hubungan
yang keras antara

dan adalah satu-satunya cara untuk memperoleh energi

tunggal berkas neutron dari energi yang berbeda.


10.6 Eksperimen Penentuan Q
Nilai Q dari sebuah reaksi dapat ditentukan dengan bantuan Persamaan
(10.5-1) melalui pengukuran energi

, dan

secara akurat. Hal ini juga

dapat diperkirakan dari nilai presisi massa atom dari inti dalam sebuah reaksi,
menggunakan Persamaan (10.5-2). Jika salah satu dari inti produk (Y) adalah
partikel berat, maka biasanya sulit untuk mengukur energi kinetik (

) secara

akurat. Akan tetapi, hal tersebut dapat ditentukan dengan bantuan persamaan
(10.5-6) dari nilai massa yang diketahui serta melalui pengukuran energi
dan

secara akurat. Dalam hal ini nilai presisi massa seluruh partikel tidak

perlu digunakan. Akan tetapi cukup dengan nomor massa yang sesuai.
Jika partikel yang dipancarkan y adalah partikel bermuatan, maka kita
dapat menggunakan sebuah sensor pencacah (scintillation counter), sebuah

23

pencacah yang proporsional (penuh-gas). Sebuah counter (pencacah) zat padat


atau spektrograf magnet (magnetic spectrograph) untuk menentukan besar
energi zat tersebut.
Scintillation spectrometer dapat digunakan ketika daya pengurai
(resolving power) yang dibutuhkan tidak terlalu tinggi. Karena partikel
bermuatan memiliki jarak yg sangat dekat dalam suatu zat padat, scintillation
detector yg dipakai cukup tipis untuk mempelajari reaksi yg energinya rendah.
Sintilator ini dapat diletakkan dekat dengan target untuk meningkatkan sudut
sehingga membantu meningkatkan penghitungan statistik. Daya pengurai
biasanya rendah, antara 20 sampai 30.
Dengan spektrometer zat padat, daya pengurainya jauh lebih baik,
berkisar dari ~ 200 sampai dengan 300. Karena detektor zat padat dilengkapi
dengan lapisan aktif yang cukup tebal yang tersedia sekarang untuk beberapa
hari, orang dapat menghasilkan energi yang cukup tinggi.
Spektrometer magnetik yang jauh lebih baik dan yang paling cocok untuk
bekerja resolusi tinggi. Daya pengurai lebih dari 1000 telah dapat dicapai oleh
alat tersebut. Kedua fokus tunggal dan fokus ganda telah dikembangkan.
Instrumen jenis pertama, partikel muncul dari sebuah titik pada bidang median
difokuskan di sepanjang garis tegak lurus ke bidang tersebut, sementara pada
instrumen jenis kedua, titik-objek menghasilkan titik-gambar. Fokus ganda
dapat dicapai dengan cara yang berbeda. Salah satunya, medan magnet
homogen yang digunakan mirip dengan spektrometer sinar yaitu
spektrometer Svartholm-Seigbahn.

24

Gambar 10.7 Spektrum energi proton dari reaksi 45Sc (d,p) 46Sc pada = 37,50 dalam
spektrograf magnetik multigap (dari J. Rapoport, A. Sperdut & W.W Buechener)

Sebuah spektograf magnet sangat fleksibel multigap dengan pelat emulsi


nuklir sebagai detektor telah digunakan oleh H.A. Enge, dan W.W. Buechner
di Massachusetts Institute of technology (MIT) di Amerika Serikat (lihat Rev.
Sci. Instr. 34, 155, 1963). Alat ini sebenarnya adalah kumpulan dari dua puluh
empat instrumen dalam satu ruang vakum yang besar. Distribusi energi dan
sudut dari partikel dicatat secara bersamaan. Distribusi energi diperoleh pada
sudut yang berbeda pada interval sudut 7.5o.
Setelah proses pemaparan, pelat tersebut dikembangkan dan discan di
bawah mikroskop. Jumlah jaur dari partikel yang memiliki panjang dan arah
yang benar akan dihitung. Pada pengamatan eksposur berlangsung selama 1
sampai 10 jam jumlah titik data yang diperoleh adalah 36000.
Gambar 10.7 menunjukkan spektrum yang khas yang diperoleh melalui
alat ini untuk reaksi

45

Sc (d, p) 46Sc menggunakan balok deuteron yang

25

dipercepat dalam generator Van de Graaff 8 MeV. Puncak yang berbeda


menunjukkan kedudukan yang berbeda dari sisa inti 46Sc.
Bentuk differensial cross section

untuk puncak pada energi yang

berbeda merupakan fungsi dari sudut emisi juga ditentukan. Hal ini akan
dibahas secara detail pada bagian selanjutnya.
Posisi maksimal tersebut telah ditetapkan oleh momentum sudut orbital
dari kedudukan di mana neutron ditangkap dalam reaksi (d, p).
10.7 Eksperimen Cockroft dan Walton pada Transmutasi Nuklir oleh
proyektil buatan yang dipercepat
Pada tahun-tahun awal setelah penemuan Rutherford transmutasi
buatan inti, reaksi nuklir diproduksi dengan menggunakan energi tinggi
partikel- dari zat-zat radioaktif alami. Namun karena keterbatasan energi dan
intensitas, kebutuhan sumber lain proyektil itu sangat dirasakan. Keterbatasan
lain adalah bahwa sebuah partikel bermuatan ganda sangat kuat ditolak oleh
muatan positif inti dan karenanya tidak bisa menembus inti yang lebih berat
untuk menghasilkan reaksi nuklir. J.D. Cockroft dan E.T.S. Walton, dua rekan
Rutherford pada tahun 1932 mengembangkan sebuah pemercepat partikel
bermuatan dengan bantuan seberkas proton bisa dipercepat hingga mencapai
energi tinggi. Dengan bantuan ini berkas proton energi tinggi, mereka mampu
menghasilkan disintegrasi dari inti 7Li dan mempelajari reaksi berikut:
7
3

Li 11H 24 He 24 He

Alat pemercepat partikel dikembangkan oleh Cockroft dan Walton yang


dikenal sebagai pengganda tegangan atau hanya sebagai generator Cockroft
Walton. Di awal eksperimen mereka, mereka bisa menghasilkan sekitar
700.000 volt. Proton yang dipercepat melalui tegangan ini memiliki energi
kinetik 0,7 MeV. Sebenarnya reaksi nuklir di atas dapat dihasilkan oleh proton
yang dipercepat ke energi rendah sebesar 0,15 MeV, meskipun potensial

26

penghalang pada permukaan inti 7Li sekitar 1,5 MeV yang tinggi untuk proton
( = Ze2/40R).
Hal ini dimungkinkan karena ada probabilitas terbatas dari proton
penetrasi melalui potensial penghalang sebagaimana ditentukan oleh teori
Gamow (lihat Bab IV).
Intensitas berkas proton dipercepat jauh daripada yang tersedia dari
sumber- yang alami. Sebagai contoh, 1 gram

226

Ra memancarkan sekitar

3,7l010 partikel per detik ke semua arah (sudut 4). Sehingga sejumlah
partikel jatuh pada foil logam seluas 1cm 2 pada jarak 1 cm dari sumber
berorder 109 per detik. Di sisi lain, sangat mudah untuk mendapatkan arus
proton 1A dari pemercepat, yang setara dengan 6,25 10 12 per detik jatuh
pada sasaran.

Gambar 10.8 Eksperimen Cockroft dan Walton untuk disintegrasi 7Li oleh proton

Eksperimen Cockroft dan Walton ditunjukkan oleh Gambar 10.8. T


adalah target lithium) dari partikel- yang dipancarkan, ketika target
dibombardir oleh berkas proton. Partikel- yang terdeteksi melalui
pengamatan sensor (scintillation) dihasilkan pada layar ZnS dengan bantuan
mikroskop M. Jangkauan partikel alfa dapat diukur dengan bantuan penyerap
foil A.
Kemudian P.I Dee. dan E.T.S. Walton menghasilkan reaksi dalam kamar
awan dengan bantuan balok proton 0,25 MeV dan memperoleh foto dari dua
sebuah-partikel yang dihasilkan dalam reaksi. Seperti yang bisa dilihat dari
foto kamar awan mereka (Gambar 10.9). Kedua partikel- yang dikeluarkan
dalam arah yang berlawanan dari sasaran. Pengukuran tersebut diketahui

27

bahwa kedua partikel tersebut memiliki energi masing-masing sebesar 8,6


MeV. Dari energi ini nilai-nilai Q reaksi ditemukan 16,95 MeV.

Gambar 10.9 Disintegrasi inti 7Li oleh penembakan proton diamati dalam foto
ruang awan Dee dan Walton

Pengukuran berikutnya lebih akurat yaitu Q = 17,33 MeV. Dimana nilai ini
menunjukkan nilai yang diperoleh dari massa atom dari inti yang berbeda.
Dua buah partikel dalam eksperimen Cockroft dan Walton harus
dipancarkan dalam arah yang berlawanan dapat dipahami dari hukum
kekekalan momentum. Energi partikel sebesar 8,6 MeV memiliki
momentum sebesar:
p 2 M E 2 4 1.66 10 27 8.6 1.6 10 13
13.5 1020 kgms 1

Di sisi lain, energi proton sebesar 0,25 MeV memiliki momentum:


Pp 2 M p p p 2 4 1.66 10 27 0.25 1.6 1013

1.15 1020 kgms 1

Jadi, partikel alpha dipancarkan memiliki momentum jauh lebih tinggi dari
masing-masing proton insiden. Kekekalan momentum adalah mungkin dalam
hal ini jika kedua partikel alpha melanjutkan ke arah yang hampir berlawanan
(lihat gambar 10.10).

28

Gambar 10.10 Hukum Kekekalan Momentum pada eksperimen Cockroft Walton

Hal ini mungkin tercatat bahwa eksperimen Cockroft dan Walton


memberikan verifikasi eksperimental secara langsung dari prinsip kesetaraan
massa dan energi.
Alat pengganda tegangan dikembangkan oleh Cockroft dan Walton dapat
menghasilkan tegangan maksimum sampai sekitar 106 volt yang dapat
mempercepat

proton hingga 1 MeV dan partikel alpha hingga 2 MeV.

Partikel-partikel ini dapat menguraikan inti ringan. Untuk penguraian inti yang
lebih berat dengan menggunakan berkas partikel bermuatan, memerlukan
energi yang lebih besar. Untuk menghasilkan reaksi endoergik, diperlukan
proyektil yang energinya lebih tinggi. Guna mencapai tujuan ini, berbagai
jenis akselerator (alat pemercepat) partikel bermuatan telah dikembangkan
yang mana dapat mempercepat partikel berenergi sangat tinggi. Untuk
mempelajari energi reaksi nuklir hingga beberapa ratus MeV itu sudah cukup.
Namun, untuk eksperimen partikel elementer, diperlukan berkas partikel
bermuatan dipercepat hingga ribuan MeV (109 eV).
10. 8 Cross Section Reaksi Nuklir
Adanya kemungkinan terjadinya reaksi nuklir diukur melalui cross
section reaksi. Cross section biasanya disimbulkan simbol
reaksi nuklir

dapat ditulis sebagai

. Cross section

. Jika berkas proyektil N

ditembakkan secara paralel dalam selang waktu tertentu pada target foil (T) yg
tebalnya

dan luas permukaannya S, maka jumlah inti di dalam T

29

mengalami transformasi (perubahan) akibat jenis reaksi yang dipertimbangkan, yang mana intensitasnya sebanding dengan intensitas berkas
proyektil kejadiannya dan jumlah inti target dalam foil (lihat Gambar 10.11a).
Intensitas kejadian berkas proyektil (
permukaan foil (

) dan jumlah total inti target per luas

). Jadi, perubahan jumlah inti adalah:

N ( N/S)(nS x)
(10.8-1)

(b)
Gambar 10.11 (a) pemborbardiran target foil (T) oleh berkas partikel (b) Signifikansi
geometris dari cross section reaksi.

dengan

yaitu jumlah inti target per luas permukaan foil, dan n

adalah jumlah inti untuk tiap satuan volume. Persamaan (10.8-1)


menunjukkan bahwa karena
berlawanan dimensi dari luasan,

dan

adalah angka murni dan

berdimensi luasan. Oleh karena itu,

disebut cross section dan digunakan untuk mengukur probabilitas terjadinya


reaksi ketika sebuah partikel tunggal (N = 1) jatuh pada inti target tunggal per
satuan luas (

= 1). Karena jari-jari inti berorde 10-14 sampai 10-15 m, maka

30

cross section reaksi nuklir berorde 10-28 m2. Secara umum satuan yang
digunakan untuk cross section reaksi nuklir adalah barn.
1 barn = 10-28 m2
Walaupun cross section untuk sebagian besar reaksi nuklir memiliki orde
beberapa barn atau bahkan kurang, cross section sebagian besar reaksi nuklir
itu mungkin sangat tinggi (beberapa ribu barn) untuk beberapa jenis khusus
reaksi, seperti reaksi (n, ) yang diinduksi oleh neutron termal atau reaksi
resonansi yang diinduksi oleh neutron.
Pentingnya geometri dari cross section reaksi dapat dipahami dengan cara
berikut. Mengacu pada gambar 10.11(b), kita melihat bahwa jika R adalah
jari-jari efektif inti target untuk reaksi yang diberikan, maka proyeksi luas
permukaan pada permukaan yang tegak lurus terhadap arah gerak proyektil,
ditunjukkan diarsir pada gambar adalah
setiap inti target adalah

. Jadi jumlah proyektil untuk

dimana

adalah jumlah kejadian

proyektil per satuan luas target. Proyektil diasumsikan sebagai titik massa.
Karena inti

per satuan luas target, jumlah proyektil yang menembus oleh

inti target dalam foil adalah


...(10.8-2)
dimana

adalah jumlah total kejadian proyektil pada target. Oleh

karena itu peluang pertemuan antara proyektil tunggal (N = 1) dengan satu inti
per satuan luas (

= 1) dalam foil target adalah:

R 2 Nn1
R 2 N R2
n1

(10.8-3)

Sebenarnya probabilitas antara proyektil tunggal dan target inti


tunggal per satuan luas tidak ditentukan oleh

saja. Probabilitas ini

tergantung pada sifat interaksi antara proyektil dan inti target, faktor energi
proyektil, dan lain-lain. Selain itu, partikel kejadian bukan termassuk titik

31

massa seperti yang diasumsikan di atas. Jadi, besarnya cross section reaksi
juga bergantung pada ukurannya. Untuk energi proyektil yang sangat rendah,
panjang gelombang de Broglie

lebih panjang dari ekstensi

geometrinya, sehingga luasan interaksinya jauh lebih besar dari geometri


cross section-nya. Hal ini adalah sebuah alasan untuk penampang lintang dari
reaksi (n,) dengan suhu neutron biasanya menjadi sangat besar seperti yang
dinyatakan di atas.
Pada kasus partikel bermuatan, cross section-nya jauh lebih kecil karena
adanya gaya tolak elektrostatik yang kuat dari inti target.
Bahasan di atas, mengasumsikan bahwa luas proyeksi total semua inti
dalam foil yang mana (

) bernilai kecil dibandingkan dengan daerah S

foil. Hal ini benar hanya jika ketebalan foil kecil.


10.9 Cross section Parsial
Ketika sebuah proyektil inti x diserap oleh inti target

, akan terbentuk

sebuah susunan inti senyawa dalam waktu yang sangat singkat, dapat
memancarkan partikel inti (y), meninggalkan inti sisa yang lain (Y). Dengan
demikian, kita mungkin memiliki reaksi dari jenis

dan lain-lain. Selain itu, mungkin kita punya hamburan elastis dan
nonelastis. Perbedaan masing-masing reaksi disebabkan dengan proyektil x
yang sama dalam inti target X memiliki cross section yang berbeda, misalnya,
,

dan lain-lain, ditambahkan ke

Total cross section interaksi x dengan X, untuk energi

dan

yang diberikan dari x

dapat ditulis sebagai


= sc + r

(10.9-1)

32

Cross section untuk setiap jenis reaksi dikenal sebagai cross section
parsial. r memberikan jumlahan dari cross section parsial untuk seluruh
proses nonelastis termasuk hamburan nonelastis yang mana cross section
parsial-nya adalah

.
...(10.9-2)

Inilah yang biasanya disebut dengan cross section reaksi untuk


membedakannya dari cross section hamburan elastis sc = cl .
Cross section reaksi sering dinyatakan dalam bentuk saluran reaksi, yang
ditetapkan dalam bentuk energi, momentum sudut, dan jari-jari. Reaksi nuklir
dapat ditulis sebagai :
X+x C Y+y
Untuk nilai

tertentu, l.h.s. ini yaitu persamaan viz X + x, dikenal

sebagai saluran masuk atau entrance channel. (Di sini telah diasumsikan
bahwa inti target X dalam keadaan diam). Sisi kanan bagian reaksi adalah
hasil akhir yang dikenal sebagai saluran keluar atau exit channel. Untuk
hamburan elastis, saluran keluar sama dengan saluran masuk.
Definisi yang tepat dari saluran atau channel adalah sepasang inti
dari hasil reaksi, dimana masing-masing pasangan tersebut dalam keadaan
kuantum yang pasti. Meskipun reaksi pada persamaan (10.1-2) bukanlah
reaksi yang umum (yang melibatkan proses partikel emisi banyak), namun
persamaan itu cukup umum mencakup sebagian besar dari reaksi nuklir yang
diketahui pada energi rendah. Terdapat satu pengecualian, yaitu viz, sebuah
proses penangkapan radioaktif misalnya,

yang mana X dan x tetap

bersama-sama untuk membentuk inti C* dengan memancarkan sinar *


akibat proses deeksitasi dari senyawa inti C*.
Cross section total

yang menentukan koefisien serapan

untuk berkas kejadian partikel pada foil target. Menggunakan Persamaan


(10.8-1), kita dapat tulis untuk foil target yang memiliki n inti per satuan

33

volume untuk ketebalan yang sangat kecil dx yang mana intensitas sebuah
berkas partikel

adalah kejadian yang tegak lurus sebagaimana:


....(10.9-3)

di mana tanda minus menandakan adanya penurunan intensitas sinar yang


keluar dari foil. Integrasi yang diberikan untuk foil x dengan ketebalan
tertentu adalah:
....(10.9-4)
dengan

... (10.9-5)

adalah koefisien penyerapan total.


foil dan

adalah intensitas kejadian berkas pada

adalah intensitas yang muncul. Melalui pengukuran besarnya

maka kita dapat menentukan besarnya cross section total


persamaan (10.9-4) dan (10.9-5) jika

dengan bantuan

diketahui.

10.10 Hasil Reaksi


Jumlah inti hasil Y yang dihasilkan sebagai hasil reaksi
memberikan hasil reaksi. Jika Y stabil, maka jumlahnya terus meningkat
secara linear seiring waktu. Jumlah inti Y diproduksi dalam selang waktu dt
adalah sama dengan jumlah inti X yang ditransmutasikan sebagai akibat dari
reaksi di atas. Jika

dilambangkan sebuah cross section, dapat ditulis:


....(10.10-1)

dengan

adalah jumlah kejadian proyektil pada foil target per detik per

satuan luas dan

adalah jumlah inti target dalam foil. Kemudian pada waktu

t, jumlah inti hasil Y adalah:

NY x, y N 0 nst

(10.10-2)

34

Jika hasil inti Y adalah radioaktif dengan konstanta disintegrasi , maka laju
perubahan jumlah inti Y adalah sama dengan perbedaan antara tingkat
produksi

dan laju disintegrasinya

tersebut. Jadi, kita bisa

tulis:
dNY
x, y N 0 ns NY
dt

dNY

atau

NY x, y N 0

ns

dt

Hasil integrasi memberikan nilai: NY x, y N 0


A adalah konstanta integrasi. Jika

........(10.10-3)

ns
A exp t

pada t = 0, maka kita peroleh:

x, y N 0 ns

Jadi, kita punya hasil akhir:

NY t
Persamaan

x, y N 0 ns
1 exp t

(10.10-4)

menunjukkan

bahwa

(10.10-4)
meningkat

secara

eksponensial hingga mencapai nilai saturasi setelah menempuh waktu yang


sangat lama

dari awal penembakan:

x, y N 0 ns

Dalam prakteknya

(10.10-5)
menjadi setara dengan nilai saturasi setelah

sepuluh atau dua belas kali waktu paruh. N menjadi lebih besar untuk nilai
(x, y) yang besar. Karena (x, y) besar untuk neutron lambat (lihat pada bab
berikutnya),

nilai saturasi N dari inti hasil dapat ditingkatkan dengan

menggunakan neutron lambat sebagai proyektil. Selanjutnya N menjadi lebih


besar untuk nilai yang lebih kecil, yaitu untuk inti hasil yang tersisa.
Akhirnya N dapat ditingkatkan dengan meningkatkan intensitas dari kejadian

35

berkas proyektil (

). Hasil saturasi dari waktu paruh isotop pendek (

beberapa detik untuk beberapa hari) melalui penembakan neutron termal


dalam reaktor nuklir yang biasanya dalam orde 1012 - 1017 inti (10-4 sampai 10
g). Untuk isotop waktu paruh panjang (misalnya,

239

Pu) dengan waktu paruh

dari urutan 104y, hasilnya mungkin dalam orde kilogram.


Pengukuran dari inti produk hasil Y memberikan nilai cross secton reaksi
(x,y).
Jumlah atom Y yang tersisa dalam sampel setelah waktu t' di akhir
penembakan foil diberikan oleh persamaan:

NY t ' NY t exp t '

x, y N 0 ns
... (10.10-6)
1 exp t exp t '

Radioaktivitasnya adalah :
dNY
NY t ' x, y N 0 ns exp t exp t '
dt '

(10.10-7)

Jika penembakan berlangsung untuk waktu yang sangat lama

sehingga nomor atom Y mencapai nilai saturasi, kita mendapatkan pada saat t
setelah penghentian penembakan :

NY t '

x, y N 0 ns
exp t '

(10.10-8)

dan:
dNY
x, y N 0 ns exp t
dt '

(10.10-9)

10.11 Reaksi Induksi Oleh Partikel .


Ketika reaksi nuklir diinduksi oleh partikel , inti senyawa bisa pecah
oleh emisi proton, neutron, sinar foton dll.
Reaksi ( , p )
Dalam sub bab 10.1 kita telah membahas tentang transmutasi nuklir pertama
yang dihasilkan oleh Rutherford dengan penembakan inti nitrogen dengan

36

partikel dari zat radioaktif alami (Persamaan 10.10-1). Jenis reaksi ini
disebut reaksi (, p). Dalam reaksi umum dapat dinyatakan oleh persamaan
berikut:

Menggunakan persamaan (10.5-3), Q dari reaksi ini dapat dituliskan sebagai

dimana

menunjukkan fraksi mengikat. Sebagaimana telah kita lihat

hampir konstan untuk inti atom berat yang paling menengah, menjadi sekitar 8
MeV per nukleon. Jadi, kita mendapatkan

Q (, p) = 3 8 28 = 4 MeV.
Hal ini menunjukkan bahwa reaksi (, p) adalah reaksi endoergik untuk
inti atom tersebut. Untuk beberapa inti yang lebih ringan, reaksi (, p)
mungkin termasuk reaksi eksoergik. Reaksi di atas merupakan reaksi (, p)
yang membutuhkan energi.
Contoh lain reaksi ( , p ) adalah :
10
5

B 24 He 147 N * 136 C 11H

14
7

N He F O H
4
2

18
9

17
8

(Q 4.06 MeV )
(Q 1.2 MeV )

1
1

20
10

Ne He Mg Na H

(Q 2.38MeV )

26
12

Mg He Si

(Q 2.86 MeV )

64
30

67
Zn 24 He 3268Ge* 31
Ga 11H

4
2

4
2

24
12

30
14

23
11

29
13

1
1

Al H
1
1

(Q 4 MeV )

Reaksi pertama di atas merupakan reaksi pelepasan energi (eksoergik)


sedangkan reaksi yang lainnya adalah reaksi yang memerlukan energi
(endoergik). Hasil reaksi inti dalam tiga reaksi yang pertama adalah stabil,
sementara dua yang lainnya adalah radioaktif.
Reaksi ( , n )
Dalam beberapa kejadian, seperti untuk inti Berilium, boron dan lain-lain,
sebuah neutron yang dipancarkan dalam pecahnya senyawa inti. Reaksi ini
dikenal sebagai reaksi (, n).

37

Persamaan umum dari reaksi tersebut adalah:


A
Z

X 24 He ZA24C * ZA32Y 01n

Seperti pada reaksi (, p), reaksi (, n) juga merupakan reaksi yang


memerlukan energi untuk inti yang sedang.
Untuk beberapa inti ringan, mungkin melepaskan energi.
Contohnya adalah:
7
3

Li 24 He 115 B* 105 B 01n

(Q 2.79 MeV )

9
4

Be 24 He 136 C * 126 C 01n

(Q 5.7 MeV )

B 24 He 157 N * 147 N 01n

(Q 0.15MeV )

22
O 24 He 10
Ne* 1021 Ne 01n

(Q 0.7 MeV )

11
5
18
8

27
13

Al He P P n

65
29

Cu He Ga Ga n

4
2

4
2

31
15

69
31

30
15

(Q 2.65 MeV )

1
0

68
31

1
0

(Q 5.84 MeV )

Hasil reaksi inti dalam empat reaksi yang pertama adalah stabil,
sedangkan dalam dua reaksi yang lain adalah radioaktif. Kelima reaksi di atas
menyebabkan penemuan radioaktivitas buatan Irene Joliot-Curie dan Frederic
Joliot tahun 1934.
Reaksi (, n) ini biasanya digunakan dalam pembuatan sumber neutron
(lihat bab XIII).
Terlepas dari unsur alam yang radioaktif, energi tinggi partikel sinar
dapat diproduksi dengan mempercepat muatan ion helium ganda dalam
pemercepat partikel. Seperti partikel sinar secara ekstensif digunakan dalam
pelajaran induksi reaksi nuklir.
Reaksi (, )
Jenis reaksi ini juga dikenal sebagai penangkapan radiasi dari partikel- telah
diamati dalam beberapa kejadian, misalnya 7Li (, ) 11B.
Rumus umumnya adalah :
A
Z

X 24 He ZA24C * ZA24C

Jenis reaksi inti ini biasanya melepaskan energi.


Lebih dari satu partikel yang dipancarkan:

38

Untuk energi-- tinggi, lebih dari satu partikel bisa dipancarkan dari inti
kompleks, menghasilkan reaksi seperti: (, 2n), (, pn), (, 2p), (, 3n) dan
lain-lain.
10.12 Penemuan Induksi Radioaktivitas
Pada tahun 1933, Irene Joliot-Curie dan suaminya Frederic Joliot di
Paris menemukan induksi radioaktivitas. Mereka menembaki sebuah foil
aluminium dengan partikel dari zat radioaktif alami (polonium) dan
mengamati proses pemancaran neutron. Mereka juga menemukan bahwa
positron yang dipancarkan pada saat yang sama dan bahwa pancaran dari
positron terus menerus selama beberapa waktu bahkan setelah penghentian
penembakan dari foil oleh partikel Intensitas positron ditemukan menurun
seiring waktu eksponensial.
Untuk menginterpretasikan hasil mereka, Joliots mengasumsikan bahwa
penembakan pada aluminium dengan partikel menyebabkan produksi isotop
P oleh reaksi 27Al ( , n). Mereka selanjutnya berasumsi bahwa inti residu 30P

30

yang dihasilkan dalam reaksi itu adalah radioaktif dan hilang dengan pancaran
positron.

Dalam rangka memperkuat kesimpulan mereka, mereka memverifikasi


sifat kimia dari hasil radioaktif baru dengan memisahkan dari target dengan
metode radiokimia standar dan menunjukkan bahwa pancaran positron terjadi
dari pemisahan fosfor. Fenomena ini dikenal sebagai Induksi Radioaktivitas
Buatan. Waktu paruh dari P adalah 2,55 menit.
Fenomena yang sama ditemukan 'oleh Joliots dengan boron dan
magnesium. Dalam setiap kasus sifat produk radioaktif dibentuk oleh
pemisahankimia.
Penemuan radioaktivitas terinduksi sangat penting dan Joliots yang bersamasama diberikan hadiah Nobel pada tahun 1935 untuk itu. Sebagian besar

39

produk transmutasi buatan

dari

unsur

radioaktif.

Mereka mengalami

kerusakan terutama oleh emisi - atau + atau dengan penangkapan orbital


elektron. Dalam kasus beberapa elemen berat mereka ditemukan rusak oleh
emisi-atau dengan fisi spontan. Para radioelements buatan banyak digunakan
untuk

penelitian dalam fisika, kimia, ilmu pertanian, fisiologi dan ilmu

kedokteran.
10.13 Reaksi Induksi Proton
Proton dengan energi tinggi yang dikeluarkan dari akselerator partikel
dengan mempercepat ion hidrogen.
Ketika proton energi tinggi dan gagal pada menuju target inti, inti
senyawa yang terbentuk dapat hancur oleh emisi dari berbagai jenis partikel
inti, misalnya, proton, neutron, deuteron, partikel , sinar gamma ( ) dan
lain-lain.
Dalam kasus pertama, kita mendapatkan hamburan elastis atau inelastis
sementara, dalam kasus lain kita mendapatkan transmutasi nuklir.
Reaksi ( p , )
Dari ini, kita telah membahas tentang reaksi ( p , ) pada 7Li pertama yang
diproduksi oleh Cockroft dan Walton (lihat 10.7). Dari Persamaan. (10.5-3)
dapat ditunjukkan bahwa reaksi ( p , ) biasanya eksoergik.
Persamaan umum untuk Reaksi ( p , ) adalah :
A
Z

Kita peroleh :

X 11H

A1
Z 1

C*

A 3
Z 1

Y 24 He

Q p, A 3 f BY 4 f B Af BX
28 3 f BY 4MeV

Dengan asumsi fBY ~ 8 MeV untuk inti berat menengah.. Untuk inti atom
target dengan nilai lebih rendah dari A, Q mungkin jauh lebih tinggi. Reaksi
Reaksi ( p , ) merupakan reaksi yang melepaskan energi.
Beberapa contoh reaksi Reaksi ( p , ) adalah :

40

7
3

Li 11H 47 Be* 23 He 24 He

(Q 4 MeV )

7
3

Li 11H 48 Be* 22 He 24 He

(Q 17.35 MeV )

11
5

B 11 H 126 C * 48 Be 24 He

(Q 8.59MeV )

19
9

F H
1
1

23
11

20
10

Ne O He
*

16
8

1
1

24
12

Na H Mg

20
10

Cu H

64
30

Zn

60
28

63
29

1
1

(Q 8.12 MeV )

4
2

Ne He

(Q 2.38MeV )

Ni He

(Q 3.76 MeV )

4
2

4
2

inti sisa 8Be terbentuk dalam reaksi ketiga adalah sangat tidak

Dari ini,

stabil. Ini memecah segera setelah produksinya menjadi dua partikel


(8 Be

He + 4He). Dengan demikian produk akhir dari reaksi ini adalah

tiga partikel .
Reaksi ( p , n )
A
Z

Persamaan umum reaksi ini adalah :

X 11H

A1
Z 1

C*

Y 01n

A
Z 1

Dalam kasus ini, inti sisa Y isobarik (sama A) dengan inti sasaran dengan
nomor atom satu lebih tinggi. Sejak kedua isobars berbeda dalam nomor
atom Z keduanya akan stabil, inti sisa

Z+1

YA menjadi yang aktif, inti target

yang harus stabil. Karena sifatnya Z yang lebih tinggi, akan rusak oleh
emisi + (atau oleh tangkapan elektron) ke dalam Z XA:

Y
E.C

A
Z 1

A
Z

Beberapa contoh reaksi ( p , n ) adalah


11
5

B 11H 126 C * 116 C 01n

(Q 1.763 MeV )

Na 11H 1224 Mg * 1223Mg 01n

(Q 4.84 MeV )

Cr 11H

(Q 2.16 MeV )

23
11

54
24

55
25

Mn*

54
25

Mn 01n

Cu 11H 3064 Zn* 3063Zn 01n

(Q 4.15 MeV )

63
29

Inti-inti hasil reaksi yang radioaktif :

11
6

23
12

11
5

Mg

54
25
63
30

Mn

E .C

Zn
E.C

2.5 min

12.3s

Cr

310d

Cu

38.5 min

B
23
11

Na

54
24
63
29

Q dari reaksi (p, n) dapat ditulis sebagai :

41

Q M X M H MY M n

Karena Y adalah emitor + , kita memiliki :


Q M Y M X 2me
Q p, n Q 2me M n M H

Karena Mn > HH, Q(p,n) < 0 yaitu, untuk nucleus target stabil (p, n) reaksi
selalu endoergik.
Reaksi ( p , )
Dalam beberapa kasus, inti senyawa tereksitasi dibentuk oleh penyerapan
proton oleh inti target tidak hancur oleh emisi dari partikel nuklir, tetapi turun
ke keadaan dasar dengan emisi dari satu atau lebih foton sinar-.
Ini adalah kasus penangkapan radioaktif dari proton atau reaksi ( p , ) :
Bentuk umumnya :
A
Z

X 11H ZA11C * ZA11C

Contoh Reaksi ( p , )
7
3

Li 11H 48 Be* 48 Be

14
7

N 11H 158 O* 158 O

24
12

25
25
Mg 11H 13
Al * 13
Al

Sinar gamma dipancarkan dalam reaksi ini memiliki energi yang sangat tinggi
dalam beberapa kasus. Dalam reaksi pertama di atas energi yang dihasilkan
sebesar E = 17,2 MeV.
Reaksi ( p , d)
Bentuk umum reaksi ini :
A
Z

X 11H

A 1
Z

Y 12 H

Contoh reaksi ini:


7

Li (p, d) 6Li

Be (p, d) 8Be

Ini adalah contoh dari jenis reaksi langsung. Tidak ada inti senyawa
terbentuk. Mekanisme dari reaksi adalah berbeda (lihat bab XI).

42

Lebih dari satu emisi partikel: Jika berkas proton kejadian memiliki energi
yang sangat tinggi (Ep> 20 MeV), lebih dari satu partikel bisa mengeluarkan
dari inti senyawa untuk menghasilkan reaksi seperti (p, 2n), (p, pn), (p, 2p),
(p, 3n), dll.
10.14

Reaksi Induksi Deutron


Deuteron adalah inti hidrogen berat atau atom deuterium. Deutron ini

adalah isotop hidrogen dengan nomor massa 2 yang ada dalam alam dengan
kelimpahan relatif 0.015%. Deuterium diperoleh dengan elektrolisis air
berulang. Air biasa (H20) selalu dicampur dengan beberapa air berat (D20) di
semua sumber air alami. Selama elektrolisis, elektrolisisi air ringan (H 20)
lebih cepat daripada air berat. Akibatnya, jika elektrolisis ini dilakukan untuk
waktu yang sangat lama, proporsi air berat dalam residu yang tersisa menjadi
lebih tinggi. Elektrolisis berulang akhirnya menghasilkan air berat hampir
murni. Kuantitas besarnya energi listrik yang dibutuhkan untuk pemisahan
seperti D20 dari air biasa. Untuk mendapatkan 10-3 kg (1 g) air berat murni,
sekitar 30.000 ampere-jam energi listrik yang diperlukan. Di India, tanaman
air berat telah didirikan di Nangal, Rana Pratap Sagar, Baroda dan Tutikorin.
Jumlah air berat yang banyak dibutuhkan dalam reaktor inti sebagai moderator
(lihat bab XV).
Air berat memiliki sifat kimia yang sama seperti air biasa, tetapi sifat
fisik yang jauh berbeda dimana berat jenis adalah 1.108.
Elektrolisis menghasilkan air berat murni dari atom hidrogen berat
yang ketika terionisasi memberikan inti hidrogen berat atau deuteron (d) di
mana proton dan neutron terikat bersama-sama dengan energi 2.226 MeV.
Deuteron dapat dipercepat untuk energi tinggi dengan partikel pemercepat
seperti proton dan dapat digunakan sebagai proyektil untuk menginduksi
berbagai jenis reaksi inti. Selama reaksi tersebut, proton, neutron, partikel
dan lain- lain bisa dipancarkan.
Reaksi (d , )
Bentuk umum reaksi ini adalah :

43

A
Z

X 12 H

A 2
Z 1

C*

A 2
Z 1

C 24 He

Reaksi ini biasanya eksoergik seperti dapat dilihat dengan mudah. Untuk inti
berat menengah.

Q d , BY B BX Bd A 2 f BY 28 Af BX 2.2
25.8 2 f B 25.8 16 9.8MeV
Jadi Q (d, ) > 0. Beberapa contoh reaksi (d , ) adalah :
Li 12 H 48 Be* 24 He 24 He

(Q 22.4 MeV )

14
7

N H O C He

(Q 13.57 MeV )

23
11

Na H Mg Ne He

(Q 6.9 MeV )

24
12

26
22
Mg 12 H 13
Al 11
Na 24 He

(Q 1.96 MeV )

27
13

29
Al 12 H 14
Si 1225 Mg 24 He

(Q 6.7 MeV )

6
3

2
1

16
8

2
1

25
12

12
6

4
2

21
10

4
2

Karena hambatan potensialnya tinggi untuk dilewati oleh partikel keluar


dari inti senyawa, reaksi (d, ) diamati pada energi deuteron cukup tinggi dan
untuk inti sasaran Z rendah.
Reaksi (d , p)
Bentuk umum reaksi ini adalah
A
Z

X 12 H

A 2
Z 1

C*

A 1
Z

Y 11H

Inti produk adalah sebuah isotop dari inti target dengan nomor massa A
sebuah unit yang lebih tinggi. Reaksi (d, p) biasanya eksoergik., persamaan.
(10.5-3) memberikan untuk inti berat menengah.

Q d , p BY BX Bd

A 1 f BY Af BX 2.2
f B 2.2 8 2.2 5.8MeV

Jadi Q > 0. Untuk beberapa inti ringan,

Namun

Q mungkin negatif

(endoergik). Beberapa contoh reaksi (d , p) adalah :


7
3

Li 12 H 49 Be* 37 Li 11H

(Q 0.193 MeV )

C H N C H

(Q 2.72MeV )

24
Na 12 H 1225 Mg * 11
Na 11H

(Q 4.74 MeV )

32
P 12 H 1633S * 15
P 11H

(Q 5.71 MeV )

12
6

23
11

2
1

31
15

109
47

14
7

13
6

1
1

*
110
1
Ag 12 H 111
48 Cd 47 Ag 1 H

(Q 4.6 MeV )

44

Hasil reaksi (d, p) adalah sama dengan reaksi (n, ) (lihat sub bab 10.15) dan
biasanya radioaktif. Dan pada contoh kedua di atas, hasilnya stabil.
Reaksi (d , n)
Bentuk umum reaksi ini adalah
A
Z

X 12 H

A 2
Z 1

C*

A 1
Z 1

Y 01n

Inti hasil Y adalah sebuah isotop dari inti senyawa, reaksi (d, n) biasanya
eksoergik. Ada beberapa pengecualian. Beberapa contoh reaksi (d, n) di atas
adalah :
7
3

Li 12 H 49 Be* 48 Be 01n

(Q 15.024 MeV )

9
4

Be 12 H 115 B* 105 B 01n

(Q 4.36MeV )

C 12 H 147 N * 137 N 01n

(Q 0.283MeV )

O 12 H 189 F * 179 F 01n

(Q 1.625 MeV )

12
6
16
8

37
Cl 12 H 18
Ar * 1836 Ar 01n

(Q 6.28MeV )

35
17

Dapat dicatat bahwa keduanya reaksi (d, p) dan (d, n) dapat terjadi dengan
mekanisme alternatif bukan dengan pembentukan inti senyawa.
Mekanisme alternative ini dikenal sebagai proses pengupasan. Ini termasuk
kelompok yang dikenal sebagai reaksi langsung. Kita akan membahas tentang
hal itu di bab XI. Kedua reaksi yaitu (d, p) dan (d, n) dapat diamati dalam
tabrakan deuteron-deuteron.
2
1

H 12 H 24 H * 13 H 11H

(Q 4.03MeV )

2
1

H 12 H 24 H * 13 He 01n

(Q 3.26MeV )

Produk atom 1H3 dalam kasus pertama dikenal sebagai Tritium dan
merupakan
isotop hidrogen dari nomor massa 3. Intinya disebut Triton. Ini adalah - aktif
dengan titik akhir energi 0,019 MeV.
3
1

Produk

H
'

3
1

He

12.4 y )

He3 dalam kedua reaksi di atas adalah stabil. hal ini

sebuah isotop helium dari nomor massa 3. Hal ini hadir dalam helium alami
dengan
relatif kelimpahan 1,4 x 10-4 %.

45

Jika jumlah yang tritium cukup, akan dihasilkan reaksi inti lainnya, maka
tritium dapat ditembak dengan deuteron untuk menghasilkan reaksi (d, n).
Adapun reaksinya sebagai berikut:
3
1

H 12 H 25 He* 14 He 01n

(Q 17.6 MeV )

Semua dari tiga reaksi yang dibahas di atas dikenal sebagai fusi nuklir
dan adalah sangat penting dalam proses melepas energi termonuklir.
Reaksi di atas dikenal dengan nama reaksi fusi (lihat bab XV).
Reaksi (d , t)
Bentuk umum reaksi jenis ini adalah :
A
Z

X 12 H

A 2
Z 1

X*

A1
Z

Y 13 H

Inti Produk Y adalah inti sebuah isotop target X dengan nomor massa satu
unit yang lebih rendah. Penampang dari jenis reaksi agak rendah. Berikut ini
adalah beberapa contoh reaksi ini adalah :
7
3

Li 12 H 49 Be* 36 Li 13 H

9
4

Be 12 H 115 B* 48 Be 13 H

Q 0.996MeV
Q 4.59MeV

Lebih dari satu partikel emisi: Pada energi yang lebih tinggi dari deuteron (Ed
> 20MeV), reaksi (d, 2n), (d, 2p), (d, 3n), dll di mana dua atau lebih partikel
dipancarkan dari senyawa nukleus.
10.15

Reaksi Induksi Neutron


Sejak penemuan neutron oleh Sir James Chadwic,

neutron telah

digunakan secara intensif dalam memproduksi reaksi inti.


Neutron bersifat netral. Oleh karena itu penggunaan mereka sebagai
penembak untuk mendorong transmutasi inti adalah keuntungan khusus
karena mereka tidak ditolak oleh muatan listrik dari inti sasaran. Bahkan
energi neutron nol bisa masuk ke dalam inti, namun nomor atom tinggi yang
lebih besar di ambang reaksi.
Untuk menghasilkan reaksi inti dengan neutron, maka perlu memiliki
sumber intensitas neutron tinggi. Neutron-neutron diproduksi dalam reaksi
inti. Reaksi mereka dengan penampang tinggi, secara khusus cocok untuk

46

digunakan sebagai sumber neutron. Kita akan membahas tentang beberapa


yang umum digunakan sumber neutron dalam bab XIII.
Reaksi inti yang disebabkan oleh neutron berhubungan dengan pancaran
dari partikel , proton, sinar , deutrons dan lain-lain.
Reaksi (n , )
Persamaan umumnya adalah:
X 01n

A
Z

A 1
Z

C*

A 3
Z 2

Y 24 He

Beberapa contoh reaksi ini adalah :


6
3

Li 01n 37 Li * 13 H 24 He

10
5

R 01n 115 B* 37 Li 24 He
Cl 01n 1736Cl * 1532 P 24 He

35
17

Q 4.785MeV
Q 2.79MeV
Q 0.935MeV

Dari ini, dua yang pertama reaksi memiliki penampang cukup besar. Jadi
mereka digunakan dalam pembangunan detektor neutron (lihat bab XIII).
Reaksi (n, ) biasanya eksoergik, khusus untuk inti berat menengah. Reaksi
ini pada umumnya merupakan reaksi pelepasan energi, khusus untuk inti yang
berat sedang.
Reaksi (n ,p)
Persamaan umumnya adalah:
A
Z

X 01n

A 1
Z

C*

Y 11H

A
Z 1

Inti hasil reaksi Y merupakan isobar dari inti target X dengan nomor atom satu
lebih rendah. Oleh karena itu - aktif, peluruhan ke inti target sebagai berikut:
Y

A
Z 1

A
Z

Karena Q M Y M X Maka reaksi Q dari (n, p) adalah

Q n, p BY BX M X M n M Y M H
Mn MH Q
0.782 Q MeV

Jadi, jika Q (-) < 0.782 MeV , reaksinya adalah eksoergic. Untuk Q ( -) >
0.782 MeV, reaksinya endoergik. Beberapa contoh reaksi ini adalah :

47

3
2

Q 0.764MeV
Q 0.627 MeV
Q 1.83MeV

He 01n 24 He* 13H 11H

14
7

N 01n 157 N * 146 C 11H

27
13

Al 01n 1328 Al * 1227 Mg 11H

Metode Libby memperkirakan usia sampel arkeologi dan antropologi:


Dari reaksi di atas, reaksi yang kedua adalah penting. Produk inti 14C adalah
- aktif dengan waktu paruh = 5568 y. Energi maksimum adalah 0,155
MeV. Isotop

14

C terus diproduksi oleh reaksi (n, p) di atmosfer karena

penyerapan neutron sinar kosmik oleh inti

14

N di udara. Para fisikawan

Amerika W.F. Libby dan rekan kerja telah mengembangkan metode untuk
mengukur usia sampel antropologi dan arkeologi dengan memperkirakan
jumlah 14C yang hadir di dalamnya.
Semua sistem kehidupan, termasuk tanaman dan pohon, mencerna radiokarbon (14C) dengan proses pertukaran dan konsentrasinya dalam nilai
kesetimbangan

sistem

kehidupan

tercapai.

Setelah

kematian

sistem,

pertukaran berhenti dan jumlah radio-karbon menurun karena - peluruhan


dengan waktu paruh yang diberikan di atas. Libby dan rekan kerja telah
mengembangkan counter khusus, berdasarkan teknik perhitungan anticoencidence, untuk mendeteksi aktivitas sangat lemah dalam sampel
arcbeological lama (atau antropologi). Bandingkan ini dengan sebuah sampel
baru saja diperoleh (kehidupan atau baru saja mati), adalah mungkin untuk
memperkirakan umur dari sampel tua. Dengan metode ini adalah mungkin
untuk mengukur usia sampel beberapa ribu tahun.
Reaksi (n ,d) dan (n ,t)
Reaksi-reaksi ini dikenal sebagai reaksi pick-up yang hanya kebalikan dari
reaksi stripping yang sudah disebutkan sebelumnya dan termasuk dalam
kategori reaksi langsung. Mekanisme reaksi ini berbeda dari proses senyawa
inti.
Contoh dari jenis (n, t) dari reaksi pick up :
14
7

N 01n 126 C 13 H

48

Hal ini diyakini bahwa peluruhan tritium (3H) ditemukan di alam dalam
bentuk 3H20 dicampur dengan air biasa merupakan

pembentukan 3H di

atmosfer oleh interaksi antara sinar kosmis dan neutron inti nitrogen di udara
untuk menghasilkan reaksi di atas.
Reaksi (n , )
Yang paling penting dari Reaksi induksi neutron adalah reaksi (n, ), yang
dikenal sebagai penangkapan radioaktif neutron. Rumus umum untuk reaksi
tersebut adalah:
A
Z

Berikut,

X 01n

A1
Z

C*

A1
Z

inti produk adalah sama

dengan nukleus campuran dalam

keadaan dasar (Y = C). Reaksi (n, ) selalu eksoergik (Q> 0) dan dapat
didorong oleh hampir nol energi neutron . Q dari reaksi adalah:
Q(n, ) = MX + Mn - MY
Kecuali untuk beberapa inti Q cahaya (n, ) ~ 8 MeV. Dengan demikian
dalam reaksi (n, ) yang disebabkan oleh neutron energi nol, sinar dengan
energi sampai sekitar 8 MeV dipancarkan.
Pada tahun 1934 sekelompok ilmuwan E. Fermi, E. Amaldi, O.
D'Agostino, F. Rasetti dan E. Serge membuat penemuan yang sangat penting
dalam Universitas Roma bahwa kemungkinan terjadinya reaksi (n, ) sangat
ditingkatkan jika reaksi diinduksi oleh neutron sangat

lambat. Mereka

menempatkan sumber neutron Ra-Be di sebuah tangki besar berisi air atau di
dalam blok parafin. Neutron cepat keluar dari sumbernya mengalami tabrakan
diulang dengan proton dalam atom hidrogen dalam media (air atau parafin).
Karena massa mereka sama,

neutron kehilangan sebagian besar energi

mereka pada setiap dampak elastis dengan proton (lihat 10.4).

Energi

mereka dengan demikian direduksi menjadi energi kinetik gerak termal acak
(3/2) kT dari molekul dalam beberapa medium setelah tabrakan . Neutron
tersebut dikenal sebagai neutron termal. Pada suhu kamar biasa (T ~ 300 K),
energi itu adalah (~ 0,026 MeV).
Fermi dan rekan-rekannya terkena sejumlah besar. Unsur-unsur dalam
tabel periodik untuk aksi ini neutron termal dan mengamati bahwa dalam

49

banyak kasus mereka memunculkan produksi inti produk radioaktif. Dengan


membandingkan dengan radioaktivitas diinduksi dalam elemen yang sama
oleh neutron cepat yang keluar dari sumber, mereka menyimpulkan bahwa
produksi reaksi (n, ) sangat ditingkatkan dengan menggunakan neutron
termal. Dalam beberapa kasus, peningkatan ini dengan faktor 1000 atau lebih.
Penemuan mereka menyebabkan perkembangan dari metode produksi skala
besar bahan artifisial radioaktif.
Contoh reaksi ini adalah :
1
1

H 01n 12 H * 12 H

2
1

H 01n 13 H * 13 H

23
11

24
24
Na 01n 11
Na* 11
Na

Cu 01n 2964Cu * 2964Cu

63
29

103
45

*
104
Rh 01n 104
45 Rh 45 Rh

107
47

*
108
Ag 01n 108
47 Ag 47 Ag

115
49

*
116
In 01 n 116
49 In 49 In

197
79

*
198
Au 01n 198
79 Au 79 Au

Kecuali dalam kasus pertama, inti hasil dalam semua reaksi di atas
adalah radioaktif. Penangkapan neutron oleh inti target meningkatkan rasio
neutron-proton dan karenanya pergeseran inti ke kiri di atas garis kestabilan
(lihat bab IX). Oleh karena itu hasil inti ini biasanya menjadi - aktif, karena
memiliki kelebihan neutron dibandingkan dengan jumlah proton yang akan
membuatnya stabil. Namun dalam kasus beberapa inti produk ganjil- ganjil
Ag) keduanya ( - dan + (atau penangkapan elektron)

(misalnya, 64Cu dan

108

kegiatan yang diamati (lihat Bab IX) Skema peluruhan radioaktif dalam tiga
kasus di atas diberikan di halaman berikutnya:

64
30

Zn

64
28

Ni

Cu

64
29

EC
108
47

Ag

EC

108
48

Cd

108
46

Pd

12.8h

2.3min

50

Dalam beberapa kasus, penangkapan radiasi neutron menunjukkan


peluang yang sangat tinggi energi kinetik neutron tertentu. Hal ini dikenal
sebagai
resonansi penangkapan neutron. Dengan demikian, reaksi

115

In(n, )116 In

menunjukkan puncak di penampang kurva pada En = 1.44 MeV di mana


cross section adalah 3x104 barns (lihat Gambar 11.13a di bab XI).
Lebih dari satu emisi partikel:
Pada energi netron tinggi (En > 8 MeV), lebih dari satu partikel dapat
dipancarkan dari inti senyawa yang terbentuk oleh penangkapan neutron.
Reaksi yang sesuai adalah (n, 2n), (n, 3n), (n, pn), (n, p2n), dll. Untuk emisi
proton bersama dengan satu atau dua neutron, energi eksitasi

dari inti

senyawa harus cukup tinggi sehingga proton tersebut dapat menyeberangi


potensial penghalang untuk keluar.
10.16

Reaksi Induksi Sinar Gamma


Reaksi ini, juga dikenal sebagai reaksi foto-inti, terjadi jika energi foton

yang cukup tinggi masuk ke dalam inti. Energi dari sinar harus lebih besar
dari energi pengikatan inti (pemisahan energi Sy) misalnya, neutron, proton,
partikel- dan lain-lain, untuk partikel yang dipancarkan dari inti
menghasilkan reaksi dari jenis ( , n ), ( , p ), ( , ) dan lain-lain. Reaksi
ini merupakan reaksi endoergik.
Reaksi-reaksi ini adalah reaksi yang membutuhkan kalor/ panas.
Contoh reaksi ( , n ) adalah
2
1

H 11H 01n

Hal ini dikenal sebagai disintegrasi foto-dari deuteron. Energi dari sinar
yang dapat menginduksi reaksi ini harus lebih besar daripada energy pengikat
(2.226 MeV) dari deuteron. Bahkan reaksi ini telah digunakan adalah
pengukuran dari energi deuteron mengikat akurat. Dalam pengukuran ini
sinar dari isotop radioaktif alami ThC " E = 2.62 MeV dan yang berasal
dari

radioaktif

buatan

isotop

24

Na (E = 2.76MeV) yang digunakan.

51

Konservasi hukum untuk energi dan momentun digunakan untuk menentukan


Bd.
Contoh lain
reaksi ( , n ) adalah :
9
4

Be 49 Be* 48 Be 01n

Q = 1,66 MeV

Ambang reaksi ini adalh 1.66 MeV. Reaksi ini digunakan untuk penyusunan
sumber foto-neutron (lihat bab XIII). Sinar dari
pada isotop

24

Na lebih disukai dari

124

Sb dari antimon (Z = 51) adalah digunakan untuk tujuan ini

karena waktu paruh relatif lebih lama dari yang terakhir ( = 60d). Maksimum
-energi dari sumber ini adalah E = 2.04 MeV.
Beberapa contoh dari berbagai jenis reaksi foto-inti adalah:
Be ( , p ) 8 Li

Mg ( ,p ) 24Na

25

B ( , d ) 8Be

10

C ( , ) 8Be

Pada energy tinggi, emisi banyak partikel dari inti tereksitasi


X* mungkin terjadi. Reaksi dari jenis ini (, 2n), (, pn), (, 2p), dll telah
diamati.
Dapat dicatat bahwa deuteron dan 9Be adalah inti hanya yang mengalami
disintegrasi foto-oleh sinar dari bahan alami radioaktif. Untuk semua inti
lain, sinar dari reaksi nuklir (terutama proton-induksi) energi jauh lebih
tinggi (E > 2.62 MeV) harus digunakan untuk menghasilkan reaksi foto inti.
Beberapa contoh dari reaksi ini adalah:
7

Li (p, ) 8Be (E = 17.2 MeV);


11

B (p, ) 12C (E = 11.7 MeV)

19

F(p,)16O*, 16O*

16

O + (E = 6.13MeV).

Mekanisme reaksi foto- inti akan dibahas dalam 11,17.


10.17 Tipe Khusus Reaksi Nuklir

52

Terlepas dari reaksi yang telah dibahas di atas, kemungkinan besar


terjadi melalui pembentukan

senyawa inti, berbagai jenis reaksi khusus

dikenal untuk mekanisme reaksi yang berbeda. Ini termasuk reaksi langsung
yang telah disebutkan, yaitu reaksi foto-inti, reaksi ion berat, fisi inti, eksitasi
Coulomb dan lain-lain.
Beberapa akan dibahas kemudian (lihat bab XI).
C. KESIMPULAN
Penemuan radioaktivitas pada awal abad ini menyebabkan kesadaran
bahwa unsur-unsur radioaktif secara spontan berubah menjadi unsur lainnya.
Secara umum reaksi inti digambarkan sebagai berikut :
XA + x

YA + y

atau:
A

X (x,y) AY

dimana partikel yang ditembakkan dan partikel yang dipancarkan dapat


berupa: proton (p), neutron (n), deuteron (d), partikel alfa (), sinar gamma ()
dan lain-lain.
Jenis reaksi nuklir antara lain: hamburan elastis, hamburan tidak elastis,
penangkapan radiasi, proses desintegrasi, reaksi benda banyak, foto
desintegrasi, fisi inti, reaksi partikel dasar, reaksi ion berat.
Hukum-hukum dalam reaksi nuklir yaitu hukum kekekalan nomor
massa, hukum kekekalan nomor atom, hukum kekekalan energi, hukum
kekekalan momentum linier, hukum kekekalan momentum anguler. Dalam
suatu reaksi inti dapat berbentuk reaksi yang melepaskan energi (Q = +) atau
reaksi yang membutuhkan energi ( Q = - ).
Beberapa macam reaksi induksi :
REAKSI INDUKSI OLEH PARTIKEL ALFA :
Reaksi (, p)

Reaksi ( , n )

53

Reaksi ( , )

REAKSI INDUKSI OLEH PARTIKEL PROTON:


Reaksi ( p , )

Reaksi ( p , n )

Reaksi ( p , )

Reaksi ( p , d )

REAKSI INDUKSI OLEH PARTIKEL DEUTRON :


Reaksi (d , )

Reaksi (d , p)

Reaksi (d , n)

Reaksi (d , t)

REAKSI INDUKSI OLEH PARTIKEL NEUTRON:


Reaksi (n ,)

Reaksi (n ,p)

54

Reaksi (n ,t)

REAKSI INDUKSI OLEH SINAR GAMMA:


Reaksi ( ,n)

Contoh Reaksi ( ,n) yang lain :


Be ( , p ) 8 Li

Mg ( ,p ) 24Na

25

B ( , d ) 8Be

10

C ( , ) 8Be

12

DAFTAR PUSTAKA

Ghosal, S.N. 2002. Nuclear Physics. New Delhi. Chand & Company Ltd.