Anda di halaman 1dari 5

PAPER (TUGAS AKHIR)

KAJIAN SAINS FISIKA IV (NUCLEAR PHYSICS)


PENDIDIKAN SAINS PROGRAM PASCASARJANA UNESA 2012

PERAN PENDIDIKAN FISIKA NUKLIR UNTUK PEMANFATAN ENERGI


NUKLIR DI INDONESIA
Rifky Nia Sarantie
NIM 127795012
Program Studi Pendidikan Sains Program Pascasarjana, Universitas Negeri Surabaya
Jl. Ketintang Kampus Ketintang Gedung K.9 Surabaya 60231

Abstract
The world power energy crisis in 1973 had endorsing construction of nuclear power plant. But,
Three Miles and Chernobyl nuclear power plant accidents blamed the development of nuclear
industry. The accident also decreasing tend to study in the nuclear engineering at universities in
many countries, in the place which becomes human resource supply for preparation and
development in the nuclear area. This paper will examine the role of nuclear physics education in
Indonesia. Based on these studies, nuclear physics education is the education that aims to steer
graduates have the necessary professional ability in the nuclear industry. The role of nuclear
physics education for the utilization of nuclear energy in Indonesia include: to provide knowledge
to the agencies involved in the utilization of nuclear energy systems that support the development of
nuclear technology in Indonesia, can produce human resources (HR) who have expertise in using
nuclear energy in Indonesia, and can provide experts who can support the development of
Indonesian non-ministerial government agencies tasked to implement the tasks of government in the
areas of research, development, and utilization of nuclear energy (ie BATAN).
Keyword: education objective, nuclear engineering department, nuclear physics.
Abstrak
Krisis energi listrik mendorong pembangunan PLTN. Namun, terjadinya kecelakaan yang menimpa
industri nuklir terutama Three Miles Island dan Chernobyl mengakibatkan penolakan masyarakat
dunia yang berimbas pada menurunnya minat untuk studi tentang teknik nuklir. Hal ini dapat
menghambat permintaan pasar mengenai ketersediaan SDM yang handal untuk persiapan dan
penguasan serta pengembangan bidang teknik nuklir. Pada makalah ini akan dilakukan kajian
peran pendidikan fisika nuklir di Indonesia. Berdasarkan kajian ini, pendidikan fisika nuklir adalah
sebagai pendidikan yang bertujuan untuk mengarahkan lulusannya memiliki kemampuan
ketrampilan profesional di bidang industri nuklir. Peran pendidikan fisika nuklir untuk
pemanfaatan energi nuklir di Indonesia diantaranya adalah: dapat memberikan pengetahuan
kepada instansi terkait dalam sistem pemanfaatan energi nuklir sehingga mendukung upaya
pengembangan teknologi nuklir di Indonesia, dapat menghasilkan sumber daya manusia (SDM)
yang memiliki keahlian dalam pemanfataan energi nuklir di Indonesia, dan dapat menyediakan
tenaga ahli yang mampu mendukung perkembangan lembaga pemerintah non kementerian
Indonesia yang bertugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang penelitian, pengembangan,
dan pemanfaatan tenaga nuklir (yaitu BATAN).
Kata Kunci: tujuan pendidikan, perguruan tinggi teknik nuklir, fisika nuklir
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Ketika mendengar kata energi, maka ada beberapa bentuk energi yang telah dikenal seperti:
energi potensial dan energi kinetik (disebut energi mekanik), energi panas (misal energi surya,
energi panas bumi), energi listrik, dan energi nuklir. Kebutuhan energi terus meningkat seiring

dengan tingkat kemapaman ekonomi masyarakat dan kemajuan teknologi serta industri yang
dikuasai oleh suatu bangsa.
Pada saat awal implementasi teknologi nuklir untuk pembangkit listrik sekitar dekade 1970an, profesi sebagai insinyur nuklir sangat bergengsi. Namun sejalan dengan isu kecelakaan yang
menimpa industri nuklir terutama Three Miles Island dan Chernobyl, serta penolakan sebagian
masyarakat di beberapa penjuru dunia, maka banyak kaum muda tidak lagi tertarik pada profesi ini.
Teknik nuklir adalah penerapan praktis bidang ilmu inti atom yang disarikan dari prinsip-prinsip
fisika nuklir dan interaksi antara radiasi dan material. Bidang keteknikan ini mencakup
perancangan, pengembangan, percobaan, operasi dan perawatan sistem dan komponen fisi nuklir,
khususnya reaktor nuklir, PLTN dan/atau senjata nuklir. Bidang ini juga dapat mencakup studi
tentang fisi nuklir, aplikasi radiasi pada kedokteran nuklir, keselamatan nuklir, perpindahan panas,
teknologi pengelolaan bahan bakar nuklir, proliferasi nuklir, dan efek limbah radioaktif atau
radioaktivitas lingkungan.
Bjung-Joo-Min dari KAERI dalam IAEA Knowledge Management Workshop tahun 2007
menjelaskan bahwa dengan tumbuhnya industri nuklir di negara-negara Asia berdasarkan survei,
maka pada tahun 2010 diperlukan SDM di Korea Selatan sebanyak 35.000 orang. Di Jepang tahun
2030 dengan terpasangnya PLTN dengan kapasitas 371.000 GWh diperlukan 47.474 orang. Di
Vietnam jika pada tahun 2017 akan dikonstruksi satu buah PLTN, maka diperlukan 1000 orang
SDM. Sedangkan di Indonesia jika pada tahun 2025 akan terpasang 4 buah PLTN, maka diperlukan
SDM sebanyak lebih dari 4.000 orang (Nugroho, 2008).
Kebutuhan akan SDM di atas jelas memerlukan dukungan dari pihak-pihak yang terlibat
dalam bidang akademik, khususnya pendidikan fisika nuklir. Berdasarkan latar belakang tersebut,
maka dalam makalah ini akan dilakukan kajian mengenai peran pendidikan fisika nuklir untuk
pemanfaatan energi nuklir di Indonesia.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, dirumuskan sebuah rumusan masalah sebagai berikut:
Bagaimanakah peran pendidikan fisika nuklir untuk pemanfaatan energi nuklir di Indonesia?
3. Tujuan
Tujuan kajian ini adalah mengetahui peran pendidikan fisika nuklir untuk pemanfaatan energi
nuklir di Indonesian guna mempersiapkan lulusan pendidikan tinggi dalam upaya memenuhi
permintaan pasar global.
PEMBAHASAN
1. Tujuan Pendidikan
Setiap orang tentu memiliki tujuan, demikian pula dengan pendidikan. Tujuan pendidikan
seringkali diungkapkan sangat umum seperti misalnya menjadi manusia yang baik, menjadi
manusia yang bertanggung jawab, dan sebagainya. Namun tujuan dalam bentuk normatif seperti
itu sulit untuk dicapai. Tujuan pendidikan meurut beberapa tokoh pendidikan antara lain:
1). Herbet Spencer (1860) menganalisis tujuan hidup menjadi lima bagian yang sangat berpengaruh
pada perencana kurikulum abad 20, sebagai berikut :
a. Kegiatan demi kelangsungan hidup,
b. Usaha mencari nafkah,
c. Pendidikan anak,
d. Pemeliharaan hubungan dengan masyarakat dan negara,
e. Penggunaan waktu senggang
2). Franklin Bobbit (1924) menguraikan tujuan pendidikan menjadi sepuluh bidang kegiatan yang
mirip dengan uraian Herbert Spencer
3). Ralph Tyler (1951) meninjau hubungan yang erat antar unsur-unsur kurikulum, antara lain
tujuan, bahan, proses belajar-mengajar, dan evaluasi
4). Bloom dan Krathwohl (1956) menguraikan tujuan dalam tiga kategori kognitif, afektif, dan
psikomotor. Tujuan kognitif terkait dengan kemampuan individu mengenali dunia di sekitarnya
yang meliputi perkembangan intelektual dan mental. Tujuan afektif terkait dengan perkembang-

an emosional dan moral. Sedangkan tujuan psikomotor terkait dengan perkembangan keterampilan yang terkait dengan unsur motorik manusia.
Pengetahuan dan keahlian terkait dengan teknologi maju pada umumnya terkait dengan dua
komponen utama yaitu eksplisit dan implisit yang harus dikelola secara terpisah. Pengetahuan
eksplisit terkandung dalam dokumentasi informasi teknis atau dalam data sedangkan pengetahuan
implisit terkandung dalam SDM sebagai keahlian khusus. Pengetahuan eksplisit lebih mudah untuk
dikelola melalui pengumpulan semua informasi penting dalam bentuk elektronik atau dokumen
sebagai bahan untuk membuat manual, basis data, dan sebagainya. Pengetahuan eksplisit mudah
untuk ditransfer, sedangkan pengetahuan implisit sulit untuk ditransfer.
Kualitas lulusan perguruan tinggi di Indonesia dinilai oleh BAN (Badan Akreditasi Nasional)
Dikti Departemen Pendidikan Nasional, sedangkan akreditasi di Amerika Serikas berdasarkan
standar ABET (Accreditation Board for Engineering and Technology). Pemastikan kualitas lulusan
perguruan tinggi menuju pasar global, maka beberapa Prodi/jurusan di ITB Bandung telah meminta
akreditasi ke ABET.
2. Hal- hal penting menuju implementasi pemanfatan tenaga nuklir menjadi pusat tenaga listrik
di Indonesia
Perkembangan rencana pembangunan PLTN yang pertama adalah membentuk Komisi
Persiapan Pembangunan PLTN pada tahun 1972. Rentang waktu 1974 sampai dengan 1979
dilakukan seminar-seminar dalam penetapan tapak PLTN. Selanjutnya dari tahun 1991 sampai
dengan tahun 1996 telah dilakukan pemilihan tapak PLTN. Sedangkan tahun 2002 sampai dengan
tahun 2003 studi comprehensive mengenai kehadiran PLTN, kemudian pada tahun 2005 diterbitkan
Blue Print tentang kebijakan energi nasional. Akhirnya pada tahun 2007 diterbitkan UU nomor 17
thn 2007 tentang RP JPN (2015- 2019), yakni masuknya kebijakan nasional tentang pemanfatan
tenaga nuklir untuk pembangkit listrik. Namun memang kita akui bahwa kendala utama yang
muncul adalah keterbatasan pemahaman masyarakat mengenai nuklir.
Beberapa hal riil yang sudah dan terus dilakukan dalam upaya pemanfaatan tenaga nuklir
sebagai pembangkit listrik untuk memenuhi kebutuhan listrik nasional kini dan yang akan datang
dapat disampaikan berikut:
1). Kesadaran para peneliti bidang energi Indonesia, bahwa dari sisi kebutuhan energi nasional,
energi nuklir wajib terus disiapkan untuk implementasi pemenuhan kebutuhan energi nasional di
masa kini dan masa yang akan datang. Sumber- sumber energi lain tidak mungkin dapat
memenuhi kebutuhan energi nasional dengan laju pertumbuhan kebutuhan energi sebesar 18%
pertahun.
2). Langkah-langkah nyata menuju realisasi pemanfatan tenaga nuklir untuk pembangkit tenaga
listrik sudah dilakukan dengan payung hukum yang sudah jelas. Oleh karena itu, perlu
konsistensi para peneliti bidang energi dan perguruan tinggi untuk mengawal implementasi
payung hukum di atas.
3). Sumber daya alam berupa tapak PLTN sudah dimiliki, dana awal pembangunan sangat mudah
diperoleh ketika kebutuhan energy sudah sangat mendesak dan menjadi prioritas utama, sumber
tenaga manusia yang dimilikipun telah mampu mempersiapkan pemanfatan energy tersebut
4). Persepsi masyarakat Indonesia terhadap pemanfatan tenaga nuklir yang masih beragam, masih
banyak masyarakat yang kontra dengan kehadiran tenaga nuklir ini. Hal ini karena pemahaman
masyarakat terhadap nuklir masih sangan minim ditambah informasi yang sangat gencar dengan
membesar- besarkan tentang bahaya nuklir yang menimpa kehidupan seperti bom atom yang
dijatuhkan tentara sekutu di Jepang , kecelakan Chernobyl dan lain-lain.
5). Sosialisasi tentang apa itu teknologi nuklir masih perlu terus dilakukan agar masyarakat paham
tentang nuklir dari berbagai sudut pandang keilmuan yang mudah dipahami oleh masyarakat
luas. Lebih-lebih pengetahuan tentang nuklir diberikan dalam bentuk cabang keilmuan
IPA/Fisika, sehingga seluruh peserta didik di Indonesia dari berbagai tingkat pendidikan paham
tentang nuklir.

6). Perubahan kurikulum bidang IPA di sekolah dari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi perlu
dilakukan agar suatu pelajaran/ mata kuliah berbicara secara eksplisit tentang nuklir dan
teknologi nuklir dengan berbagai kelebihan pemanfatan bagi kehidupan umat manusia.
7). Kebijakan tentang pemanfatan tenaga nuklir harus dikawal secara terus- menerus dan dikaji
secara mendalam agar terjadi sinkronisasi diantara seluruh penentu kebijakan energi nasional
dari beberapa departemen terkait
3. Peran Pendidikan fisika nuklir untuk pemanfatan energi nuklir di Indonesia
Tugas Pokok dan fungsi FMIPA di seluruh Indonesia pada umumnya adalah mengupayakan
pembinaan sumber daya manusia dalam bidang Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam (PMIPA). Pembinaan tersebut meliputi penguasaan materi dan metodelogi pembelajarannya,
riset pembelajaran MIPA serta tentu saja termasuk pengembangan bidang Ilmu Dasar yang
diperlukan dan relevan dalam dunia industri. FMIPA pada umumnya menaungi minimal 4 (empat)
jurusan dan minimal 8 (delapan) program studi. Keempat jurusan itu adalah Jurusan Pendidikan
Matematika, Jurusan Pendidikan Fisika, Jurusan Pendidikan Biologi, dan Jurusan Pendidikan
Kimia. Masing-masing jurusan menaungi dua program studi yaitu program studi kependidikan dan
program studi non kependidikan. Sebagai contoh, misalnya Jurusan Pendidikan Fisika memiliki dua
program studi yaitu Prodi Pendidikan Fisika dan Program Studi Fisika. Karena itulah FMIPA LPTK
memiliki jalinan institusional dengan dinas-dinas terkait sebagai penghasil guru Matematika, Kimia,
Fisika, dan Biologi pada Sekolah Menengah Atas (SMA) guru IPA bagi Sekolah Dasar (SD),
Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Sebagian besar dosen di MIPA, guru-guru IPA di semua tingkat pendidikan (SD/MI,
SMP/MTs, dan SMA/MA), dan para penentu kebijakan pendidikan belum melihat pentingnya
pemanfaatan energi nuklir. Hal ini terlihat dengan jelas pada kurikulum yang digunakan. Pada
pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama (SMP),
peserta didik belum dikenalkan kajian tentang nuklir, tentu saja sesuai dengan tingkat
pikiran/kemampuannya. Akibatnya lulusan sekolah pada tingkatan tersebut belum mengenal apa itu
tenaga nuklir dan hal-hal yang berkaitan dengan aplikasi nuklir. Sementara itu Kurikulum Fisika
SMA/MA misalnya, pembahasan mengenai nuklir persentasenya sangat sedikit. Pokok bahasan
tersebut sebatas meliputi pemahaman mengenai: mempelajari apa yang menyusun inti atom,
mempelajari l nuklida, memahami istilah Isotop, Isobar, dan Isoton, memformulasikan energi ikat
defek massa E=mc2, mempelajari gaya inti, memahami radioaktivitas, memahami kestabilan inti,
mengetahui pemancaran sinar , , dan sifat-sifatnya, memahami tahapan peluruhan suatu deret
radioaktif deret thorium, neptunium, uranium, aktinium, serta memformulasikan bahan radioaktif,
memformulasikan hukum peluruhan radioaktif, memformulasikan aktivitas radioaktif, memformulasikan waktu paruh dan jumlah atom belum meluruh, memahami reaksi penggabungan inti
(fusi), memahami bahaya radiasi, mempelajari dosis serapan, memahami efek biologis beberapa
dosis, menjelaskan prinsip kerja Geiger Counter, detektor sintilasi. Nyata sekali bahwa pengalaman
belajar bagi para siswa di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA) sebatas
pengetahuan mengenai atom dan inti dengan berbagai formulasi yang ada, dan belum menyentuh
pada pentingnya pengembangan/aplikasi tenaga nuklir untuk kesejahteraan umat manusia. Pada
Kurikulum Biologi dan Kimia porsi pembahasan terhadap pemanfatan nuklir lebih sedikit lagi, atau
bahkan mungkin tidak ada.
Pada level Perguruan Tinggi bidang IPA kajian tentang aplikasi tenaga nuklir dirasa juga
belum memadai. Hal ini disebabkan karena mungkin pemahaman tentang nuklir itu telah dipisahkan
diri dari pohon ilmu induknya yaitu Fisika. Teknologi nuklir telah memisahkan diri dari induk
ilmunya itu dan menyebutnya sebagai teknik nuklir. Sehingga teknik nuklir tersebut secara
struktural institusional tidak lagi bagian dari FMIPA, namun menjadi bagian dari ilmu teknik
sebagai teknik nuklir. Kesadaran atas pemahaman bahwa aplikasi teknologi nuklir merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dalam bidang Fisika.
Pemahaman yang menyeluruh tentang teknologi nuklir bagi calon guru bidang Fisika di
FMIPA penting, karena ketika mereka menjadi guru sudah paham tentang nuklir dan aplikasinya.
Oleh karena itu secara internal setiap FMIPA perlu adaptif terhadap tuntutan yang ada dengan

melakukan perubahan kurikulum. Perubahan ini tentu saja dalam rangka pemutakhiran silabus pada
mata kuliah yang berkaitan dengan persoalan tenaga nuklir. Pemutakiran yang dimaksud adalah
penyesuaian beberapa mata kuliah seperti pendidikan fisika nuklir yang memberikan pemahaman
yang menyeluruh tentang sistem pemanfatan energi nuklir untuk memenuhi kebutuhan energi bagi
kehidupan umat manusia.
Disamping itu, peran pendidikan fisika nuklir sebagai pelaku utama dalam kegiatan
peningkatan sistem pemanfaatan energi nuklir, maka sangat mungkin dilakukan kerja sama dalam
sosialisasi teknologi nuklir. Kerja sama melibatkan pendidikan fisika nuklir, Dinas Pendidikan, dan
BATAN, serta dengan sekolah, untuk mengadakan seminar/workshop dalam pemahaman teknologi
nuklir dalam beberbagai aspek kehidupan. Dengan demikian pada saatnya nanti ketika para peneliti
bidang energi siap mengembangkan teknologi nuklir, masyarakat juga siap menerima kebijakan
pemanfatan energi nuklir sebagai upaya pemenuhan kebutuhan energi bagi masa depan bangsa.
Peran-peran yang dapat dimainkan oleh pendidikan fisika nuklir dalam mempercepat
terlaksananya program aplikasi nuklir tersebut adalah sebagai berikut:
1). Pendidikan fisika nuklir dapat memberikan pengetahuan kepada instansi terkait dalam sistem
pemanfaatan energi nuklir sehingga mendukung upaya pengembangan teknologi nuklir di
Indonesia.
2). Pendidikan fisika nuklir dapat menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki
keahlian dalam pemanfataan energi nuklir di Indonesia.
3). Pendidikan fisika nuklir dapat menyediakan tenaga ahli yang mampu mendukung
perkembangan lembaga pemerintah non kementerian Indonesia yang bertugas melaksanakan
tugas pemerintahan di bidang penelitian, pengembangan, dan pemanfaatan tenaga nuklir (yaitu
BATAN).
SIMPULAN DAN SARAN
Peran pendidikan fisika nuklir untuk pemanfaatan energi nuklir di Indonesia diantaranya
adalah: dapat memberikan pengetahuan kepada instansi terkait dalam sistem pemanfaatan energi
nuklir sehingga mendukung upaya pengembangan teknologi nuklir di Indonesia, dapat
menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki keahlian dalam pemanfataan energi
nuklir di Indonesia, dan dapat menyediakan tenaga ahli yang mampu mendukung perkembangan
lembaga pemerintah non kementerian Indonesia yang bertugas melaksanakan tugas pemerintahan di
bidang penelitian, pengembangan, dan pemanfaatan tenaga nuklir (yaitu BATAN).
DAFTAR PUSTAKA
Nugroho, D.H. 2008. Studi Komparasi Tujuan Pendidikan pada Pendidikan Tinggi Teknik Nuklir
untuk Memenuhi Permintaan Pasar Global Seminar Nasional IV SDM Teknologi Nuklir
Yogyakarta. ISSN 1978-0176 : 741 - 748.
Ariswan. 2011. Peran Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Lembaga
Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) Menuju Implementasi Pemanfatan Energi
Nuklir di Indonesia. Seminar Nasional ke-17 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta
Fasilitas Nuklir Yogyakarta. ISSN 0854 2910 : 91 98.