Anda di halaman 1dari 105

CHAPTER REPORT BAB 7

DETEKSI DAN PENGUKURAN RADIASI NUKLIR

Dosen Matakuliah: Prof. Dr. Prabowo, M.Pd

Oleh
Iwan Wicaksono

NIM. 127795011

Sally Edoxiana Untajana

NIM. 127795018

Irham

NIM. 127795022

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


PROGRAM PASCASARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SAINS
2013

DAFTAR ISI

Daftar Isi ......................................................................................................

Bab I Pendahuluan .......................................................................................

Bab II Pembahasan ......................................................................................

A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.
J.
K.
L.
M.
N.
O.
P.
Q.
R.
S.
T.
U.
V.
W.

Metode untuk Mendeteksi Pembawa Muatan Bebas .......................


Ruang ionisasi ..................................................................................
Pencacah Proporsional .....................................................................
Pencacah Geiger-Muller ..................................................................
Detektor Semikonduktor ..................................................................
Metode Berdasarkan Penginderaan Cahaya ....................................
Detektor Kilauan (Scintillation Detector) .......................................
Detektor Cherenkov .........................................................................
Metode untuk Visualisasi Jejak Radiasi Ion ....................................
Ruang Kabut Wilson ......................................................................
Ruang Gelembung (Bubble Chamber) ............................................
Ruang Percikan (Spark Chamber) ...................................................
Teknik Emulsi Nuklir ......................................................................
Detektor nuklir jejak zat padat .........................................................
Nuklir Elektronik .............................................................................
Pembentukan Pulsa ..........................................................................
Penguat Pulsa ...................................................................................
Diskriminator Tegangan ..................................................................
Penganalisis Tinggi pulsa ................................................................
Pencacah (Counter) .........................................................................
Rangkaian Coincidence ...................................................................
Rangkaian Elektrometer Arus Kecil ................................................
Penghitungan Statistik .....................................................................

3
5
13
18
26
37
37
45
50
51
56
59
61
66
68
68
71
75
78
79
83
88
91

Bab III Kesimpulan ..................................................................................... 103


Daftar Pustaka ............................................................................................. 105

BAB I
PENDAHULUAN

A. Pendahuluan

Perubahan teknik pendeteksian radiasi nuklir telah memainkan peran penting


untuk memecahkan misteri inti atomik. Radiasi yang keluar dari inti, seperti sinar
, sinar , atau sinar dalam bentuk transformasi spontan atau dalam berbagai
jenis partikel subatomik (baik partikel bermuatan dan partikel tak bermuatan)
dalam bentuk yang diubah berupa sinyal dimana sinyal-sinyal ini membawa
informasi tentang sifat-sifat inti. Oleh karena itu, deteksi dan pengukuran adalah
hal yang penting dalam memahami struktur inti. Instrumen yang sensitif telah
dikembangkan untuk tujuan ini selama bertahun-tahun yang membuat mata dan
telinga kita berusaha menyelidiki misteri inti atom.
Pada awalnya, banyak pekerjaan yang berkaitan dengan radiasi radioaktif
dilakukan dengan peralatan yang sangat sederhana. Sekarang alat-alat ini telah
dilengkapi dengan peralatan-peralatan lain yang lebih canggih.
Prinsip-prinsip dasar dalam deteksi radiasi nuklir secara garis besar dapat
dibagi menjadi tiga kelas:
a. Metode berdasarkan deteksi pembawa muatan bebas
Selama lintasan dari radiasi ionisasi melewati sebuah medium (padat, cair,
atau gas) akan dihasilkan ion positif dan ion negatif. Karena dalam radiasi
ionisasi terdiri dari partikel-partikel bermuatan yang bergerak dengan
kecepatan tinggi, metode ini terutama berlaku dalam kasus deteksi partikel
bermuatan. Radiasi pada partikel tak bermuatan seperti sinar gamma atau
neutron juga dapat dideteksi oleh instrumen berdasarkan metode ini karena
mereka

biasanya

mengeluarkan

partikel

bermuatan

yang

kemudian

menimbulkan ionisasi dalam medium. Instrumen berdasarkan metode ini


meliputi ruang ionisasi, pencacah proporsional, pencacah Geiger-Muller dan
detektor semikonduktor.
b. Metode berdasarkan penginderaan cahaya
1

Metode ini berlaku untuk deteksi radiasi partikel bermuatan dan deteksi
radiasi partikel tak bermuatan. Instrumen berbasis metode ini termasuk
pencacah kilauan (scintillation counter) dan detektor Cherenkov.
c. Metode berdasarkan visualisasi jejak radiasi
Metode ini berlaku untuk mendeteksi partikel bermuatan dan meliputi
beberapa instrumen, misalnya ruang kabut Wilson (Wilson cloud chamber),
ruang gelembung (bubble chamber), plat emulsi nuklir, ruang percikan (spark
chamber) dan detektor jejak bentuk padat (solid state track detector).
Detektor Hybrid telah digunakan untuk tujuan-tujuan khusus dimana detektor
ini menggabungkan dua metode yaitu metode ionisasi dan metode penginderaan
cahaya.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Metode untuk Mendeteksi Pembawa Muatan Bebas

Ketika sebuah partikel berenergi tinggi bergerak melalui suatu bahan, partikel
tersebut kehilangan energi karena terjadi tumbukan yang berulang-ulang dengan
atom-atom elektron dalam bahan. Dalam setiap tumbukan tersebut dihasilkan
sepasang ion positif dan negatif. Ion-ion negatif biasanya berupa elektronelektron. Dalam kasus medium padat, akan dihasilkan sebuah lubang (hole)
bermuatan positif. Ion positif dan negatif termasuk lubang positif adalah pembawa
muatan. Teori hilangnya energi oleh ionisasi telah dibahas pada subbab 4.12.
Angka hilangnya energi atau spesifik hilangnya energi S(E) diberikan oleh
persamaan 4.12-22 yang diturunkan untuk kasus partikel . Persamaan ini sangat
aplikatif pada energi beberapa puluh MeV. Persamaan ini juga sangat penting
untuk koreksi energi relativistik yang tinggi yang memberikan rumus yang telah
dimodifikasi pada 4.12-23.
Dalam kasus untuk elektron, relativistik memberi pengaruh pada nilai energi
beberapa MeV atau bahkan kurang dari itu.

Perubahan yang terjadi akibat

pengaruh tersebut harus menjadi pertimbangan seperti yang telah didiskusikan


dalam subbab 5.15. Pernyataan S(E) sangat aplikatif untuk elektron yang
dinyatakan dalam persamaan 5.15-1.
Proses ionisasi yang diuraikan di atas dikenal sebagai ionisasi primer.
Elektroda positif dan negatif yang ditempatkan dalam sebuah detektor menarik
ion-ion bermuatan yang dihasilkan di medium antara elektroda tersebut yang
menyebabkan munculnya arus ionisasi. Hal ini dapat direkam oleh alat ukur yang
cocok untuk merekam "peristiwa" (yaitu lintasan dari partikel saat melewati
medium). Sementara bergerak menuju elektroda, ion-ion mengalami tumbukan
berulang-ulang dengan atom-atom dalam medium. Jika perbedaan potensial antara
elektroda di detektor cukup tinggi, maka ion primer yang dihasilkan dalam
medium dapat memperoleh jumlah energi yang cukup tinggi untuk menghasilkan
pasangan ion lain yang juga akan bergerak menuju elektroda yang berlawanan.
Hal ini pada gilirannya dapat menghasilkan ionisasi yang disebabkan tumbukan.
3

Semua ion sekunder yang diproduksi akan meningkat bersama dengan ion primer
dan dengan demikian arus yang diperkuat dapat direkam oleh detektor. Proses ini
dikenal sebagai amplifikasi gas.

Perlu dicatat bahwa ketika sebuah elektron yang dihasilkan dalam proses
ionisasi mengalami tumbukan elastis dengan atom dalam medium, elektron akan
kehilangan energi yang sangat kecil karena massanya jauh lebih besar dari atomatom tersebut (lihat subbab 4.12). Namun, jika tumbukan tidak elastis seperti yang
terjadi dalam

kasus tumbukan

ionisasi, elektron hampir kehilangan seluruh

energinya. Kemudian, elektron ini mulai dengan kecepatan nol dan sementara
bergerak menuju elektroda positif akan kembali memperoleh energi yang cukup
untuk mengionisasi atom lain pada tumbukan berikutnya. Proses ini terjadi
berulang-ulang yang bertanggung jawab dalam menciptakan amplifikasi gas yang
dibahas di atas.
Terpisah dari deteksi partikel ionisasi bermuatan, metode ionisasi dapat
digunakan untuk mendeteksi foton dan neutron yang bermuatan listrik netral.
Foton dapat melepaskan elektron dari bahan dalam detektor dengan salah satu dari
tiga metode yang dibahas pada Bab VI. Jika elektron yang memiliki cukup energi,
maka mereka dapat menghasilkan ionisasi dalam medium sehingga dapat
dideteksi. Neutron dapat mengeluarkan inti bermuatan positif dengan salah satu
dari beberapa metode berikut: (a) selama hamburan elastis antara neutron dengan
inti atom dalam

medium, inti atom akan dihamburkan dan dikeluarkan, (b)

selama reaksi nuklir dipengaruhi oleh neutron, maka akan dipancarkan sebuah
partikel bermuatan, misalnya, proton, deuteron, partikel . Jika inti yang
dipancarkan oleh salah satu dari proses di atas memiliki energi yang cukup, maka
mereka akan menghasilkan ionisasi dalam medium dan dengan demikian akan
terdeteksi.
Kita akan membahas beberapa detektor berdasarkan metode ionisasi yang
umum digunakan dalam eksperimen fisika nuklir.

B. Ruang ionisasi
Ruang ionisasi merupakan sebuah tempat seperti bejana yang tertutup dan
diisi dengan gas tertentu yang didalamnya memiliki dua elektroda dengan beda
potensial beberapa ratus hingga beberapa ribu volt. Ruang ionisasi yang
digunakan umumnya memiliki bentuk plat paralel atau bentuk silinder. Pada

bentuk plat paralel, terdapat dua plat logam paralel yang dipisahkan oleh jarak
tertentu. Pada bentuk silinder, biasanya ada sebuah silinder yang menghubungkan
permukaan dengan sebuah batang logam koaksial (diameter 1 cm) sebagai dua
elektroda. Tekanan gas biasanya bernilai satu atmosfer atau lebih.
Medan listrik X dalam ruang ionisasi relatif rendah, ion-ion primer yang
diproduksi di ruang gas tidak mendapatkan energi yang cukup pada saat
mengalami tumbukan beruntun dengan molekul gas untuk menghasilkan ion
sekunder. Hal ini terutama terjadi karena lintasan bebas rata-rata antara
tumbukan beruntun bernilai sangat kecil pada tekanan gas yang relatif tinggi
dalam ruangan.
Dengan demikian tidak ada amplifikasi gas dalam ruang ionisasi dan faktor
amplifikasi A = 1.
Untuk sumber radiasi dan bentuk tertentu, variasi arus ion I terhadap
tegangan yang diberikan memiliki bentuk yang ditunjukkan pada Gambar 1. Pada
keadaan awalnya arus ion mengalami kenaikan terhadap kenaikan tegangan yang
diberikan dan pada akhirnya mencapai nilai saturasi Is ketika tegangan cukup
tinggi.

Gambar 1.

Arus ionisasi dalam daerah rekombinasi

Untuk sumber tertentu, tingkat produksi pasangan ion dalam gas adalah
konstan.
Alasan untuk perubahan arus ion terhadap tegangan V yang diberikan dapat
dipahami dengan cara berikut. Karena perbedaan potensial antara elektroda
meningkat secara bertahap, sebagian kecil ion positif dan negatif yang dihasilkan
dalam gas oleh aksi agen ionisasi (radiasi melewati gas) ditarik menuju elektroda

yang berlawanan. Pada tegangan rendah, kecepatan yang diperoleh ion karena
kerja medan listrik

adalah bernilai kecil. Dimana d adalah jarak antara dua

elektroda (dengan asumsi bentuk plat paralel). Dengan demikian ion


membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai elektroda dan karenanya mereka
memiliki kesempatan lebih besar untuk mengalami rekombinasi akibat tumbukan
antara ion positif dan negatif saat mereka melakukan perjalanan melalui gas.
Dengan demikian tidak semua ion yang dihasilkan oleh agen ionisasi dapat
mencapai elektroda dan oleh karenanya arus ion kurang dari arus maksimum yang
mungkin diperoleh seandainya semua ion yang dihasilkan mampu mencapai
elektroda.
Ketika V ditingkatkan sebagian besar dari ion mampu mencapai elektroda
karena kemungkinan rekombinasi menjadi kurang. Akhirnya ketika V cukup
tinggi, semua ion yang dihasilkan dalam gas ditarik ke elektroda dan I mencapai
nilai maksimum (saturasi).
Besar rapat arus ionisasi adalah ne vi ve di mana e adalah muatan ionik,
vi dan vs adalah kecepatan arus rata-rata dari dua jenis ion. Dengan tidak adanya
medan listrik eksternal, ion memiliki kecepatan termal acak. Ketika medan X
diterapkan, ion-ion dipercepat menuju elektroda yang berlawanan. Besar
percepatan adalah f

Xe
yang berlaku dimana kecepatan ion meningkat karena
m

ion bergerak dalam arah medan. Namun, peningkatan kecepatan ini tidak berlanjut
untuk waktu yang tak terbatas karena ion akan mengalami tumbukan berulangulang, waktu rata-rata antara tumbukan beruntun ini adalah

, di mana
c

adalah lintasan rata-rata dan c adalah kecepatan rata-rata termal. Karena ion
menempuh jarak s

1 2
s
ft dalam waktu t, kecepatan rata-rata adalah v
2
t

sehingga kecepatan yang dicapai ion diantara tumbukan beruntun adalah:

s f 2 Xe Xe
...................................................................(3.1)

2
2m 2mc

atau,

v kX ...................................................................................................(3.2)
dimana,

e
............................................................................................. (3.3)
2mc

k dikenal sebagai mobilitas ion yang merupakan kecepatan rata-rata yang


diperoleh ion (kecepatan melayang) per bidang unit (X = 1).
Dengan demikian besar dari arus ion ditentukan oleh mobilitas ion dari dua
jenis ion (+ dan -). Elektron yang lebih ringan memiliki mobilitas yang jauh lebih
besar, ke berkisar pada 100 m2/sV. Untuk ion positif, mobilitas jauh lebih kecil.
Untuk Ar+ gas argon, ki ~ 0.2 m2/s.V. Dengan demikian arus ion ditentukan
terutama oleh mobilitas elektron. Kerapatan arus ion dapat ditulis sebagai:

I ke ki Xne ke ki ne

V
.........................................................(3.4)
d

Untuk tegangan rendah n = no = konstan, karena hanya sebagian kecil ion yang
ditarik menuju elektroda. Sehingga
.................................................................................................... (3.5)
Ketika tegangan tinggi, semua ion yang dihasilkan oleh aksi dari radiasi ionisasi
ditarik oleh elektroda, sehingga terjadi rekombinasi yang sangat sedikit. Oleh
karena itu dalam hal ini I = Is = konstan.
Mode Operasi:
Sebuah ruang ionisasi beroperasi dengan produksi sebuah sinyal listrik dari
arus ionisasi yang dihasilkan dalam ruang gas dengan bantuan agen ionisasi. Ion
positif dan negatif letaknya terpisah, kemudian ion-ion ini tertarik oleh elektroda
yang berlawanan. Gerakan ion-ion ini menghasilkan arus yang menyebabkan
tegangan atau pulsa bermuatan dalam rangkaian eksternal yang dapat diperkuat
dan direkam oleh rangkaian elektronik yang sesuai.

10

Sebuah ruang ionisasi dapat dioperasikan baik dalam mode dc (mode arus
searah) atau dalam mode pulsa. Dalam kasus pertama kita mengintegrasikan tipe
dari ruang ionisasi sedangkan pada kasus kedua kita memiliki sebuah ruang pulsa.
Dalam mengintegrasikan ruang, arus rata-rata di rangkaian eksternal diukur
dimana merupakan suatu ukuran intensitas rata-rata dari radiasi yang
memproduksi ionisasi dalam gas. Dalam hal ini, partikel-partikel ionisasi tunggal
yang terdapat dalam radiasi merupakan suatu hal yang tidak dipisahkan. Jumlah
total radiasi ionisasi gas dalam volume sensitif dari ruang selama periode waktu
tertentu dapat diukur.
Dalam ruang pulsa, partikel-partikel tunggal dicatat dan dihitung dengan
merekam pulsa listrik yang diproduksi dalam rangkaian eksternal yang disebabkan
oleh ionisasi yang dihasilkan oleh masing-masing partikel dan setelah amplifikasi
yang tepat.
Karena tidak ada amplifikasi gas di ruang ionisasi, maka dapat dibedakan
antara partikel-partikel dengan daya ionisasi yang berbeda, misalnya sinar atau
sinar . Untuk deteksi partikel , sebuah jendela tipis harus disediakan untuk
partikel agar dapat memasuki gas. Untuk partikel , jendela dibuat tidak terlalu
tipis, karena mereka lebih kuat dalam melakukan penetrasi. Karena sinar
memiliki penetrasi sangat tinggi, tidak ada jendela yang diperlukan dan sinar
suapay dapat masuk ke ruang dinding yang kasar. Untuk meningkatkan arus
ionisasi, gas yang lebih berat, misalnya Argon atau Freon di bawah tekanan tinggi
umumnya digunakan sebagai ruang gas.
Gabungan ruang ion:
Dalam ruang gabungan (integrating chamber), hambatan yang sangat tinggi
(~1015 ohm) digunakan secara paralel pada elektroda. Rangkaian dasar dari sebuah
ruang ionisasi (seperti juga pencacahnya) ditunjukkan pada Gambar 2. B katoda
dan A adalah anoda dimana diantara keduanya terdapat suatu beda potensial
melalui hambatan R. C menunjukkan semua kapasitas didistribusikan dalam
rangkaian. Konstanta waktu RC dalam mode dc jauh lebih tinggi daripada waktu
pengumpulan ion-ion oleh masing-masing elektroda, bernilai pada kisaran 104
detik. Pengumpulan ion membuat elektroda mengalami perubahan potensial.

11

Potensial diukur pada interval yang sesuai dan dengan demikian menunjukkan
jumlah muatan q yang dikumpulkan selama interval tertentu.

Gambar 2.

Diagram rangkaian dasar dalam sebuah detektor ionisasi

Muatan yang sangat kecil yang dikumpulkan dalam sebuah ruang ionisasi
diukur dengan bantuan elektroskop atau elektrometer. Instrumen portabel dari
jenis elektroskop, misalnya elektroskop Lauritsen, dosimeter saku dan lain-lain
masih digunakan untuk berbagai keperluan. Alat-alat ini harus dikalibrasi ulang.
Elektrometer adalah instrumen yang sangat sensitif untuk pengukuran
kuantitas dari muatan tiap menit. Saat ini lebih umum untuk menggunakan jenis
khusus dari tabung hampa udara yang dikenal sebagai tabung elektrometer. Arus
ionisasi yang mengalir melalui hambatan yang tinggi ( 109 ohm atau lebih tinggi)
menyebabkan suatu perbedaan potensial sepanjang aliran yang terekam pada
jaringan (grid) tabung. Hasil perubahan arus pada plat diukur oleh
mikroamperemeter yang sensitif. Instrumen lain yang sering digunakan untuk
mengukur sejumlah kecil muatan adalah elektrometer getar (vibrating reed
electrometer) di mana kapasitansi C merupakan variasi kapasitansi karena getaran
elektroda pada frekuensi konstan. Dengan jumlah muatan yang konstan, beda
potensial berosilasi terhadap frekuensi getaran untuk memberikan sebuah sinyal
yang dapat diperkuat dan dicatat (lihat subbab V).
Karena arus ionisasi sangat lemah (10-13 A), ruang ionisasi kebanyakan
menggunakan cincin pelindung (guard ring) yang mengelilingi suatu bagian dari
elektroda pengumpul, yang biasanya disimpan pada potensial ditanahkan. Selain

12

untuk mencegah kebocoran permukaan dan kebocoran volume arus antara anoda
dan katoda dari ruangan, cincin tersebut juga berperan untuk menghentikan
fluktuasi akibat polarisasi dielektrik dan menjadi pelindung untuk kolektor.
Ruang pulsa:
Ruang pulsa dapat menghitung pulsa individual yang dihasilkan oleh partikel
ionisasi yang melewati ruangan. Jika partikel ionisasi menghabiskan sejumlah
energi E dalam ruang gas, maka jumlah pasangan ion yang dihasilkan dalam gas
adalah

di mana I adalah energi rata-rata yang dihabiskan dalam

menghasilkan pasangan ion. Nilainya kurang lebih sama untuk semua gas, sekitar
30 eV. Jika C adalah kapasitansi yang didistribusikan ruang dan sistem kabel,
maka tegangan pada elektroda ruang diubah dengan

berlaku untuk

lintasan berbagai jenis ion (+ atau -). Jadi ukuran pulsa sebanding dengan energi E
dari partikel dan karena itu adalah mungkin untuk mengukur energi partikel dari
ukuran pulsa. Untuk C = 10 F dan E = 5 MeV (untuk partikel ), V 2,5 x 10-3
volt.
Ukuran Pulsa:
Kita mengambil kasus dari sebuah ruang plat sejajar yang ditunjukkan pada
Gambar 3a. Dengan menganggap n pasangan ion-elektron terbentuk pada jarak x
dari katoda B, anoda-katoda terpisah sejauh d. Jika

adalah medan listrik

dan q adalah muatan masing-masing ion, maka terjadi penurunan


energi potensial dari elektron dan ion positif pada waktu t secara berturut-turut
Xnq x vet dan Xnq x vit dimana ve dan vi adalah kecepatan masing-masing. Dari
persamaan keseimbangan energi kita kemudian memiliki:

1
1
CV0 2 CV 2 Xnq ve vi t ........................................................(3.6)
2
2
dimana C adalah kapasitansi dari sistem kolektor elektroda

dan V adalah

potensial pada waktu t. Karena pengumpulan muatan potensial kolektor menurun

13

di bawah Vo yaitu V < V0. Karena penurunan potensial sangat kecil, kita dapat
menulis V0 V 2V0 sehingga kita dapatkan:

Vc V0 V
Karena, X

Xnq
ve vi t ...................................................(3.7)
CV0

V0
dan ve >> vi, kita memperoleh:
d
Vc t

nqv t
nq
ve vi t e ................................................(3.8)
Cd
Cd

Ini menunjukkan suatu perubahan linear dari Vc(t) dimana nilainya


sebanding dengan ve untuk t < te pada t te

d x
ve

, potensial pada kolektor

menjadi:

Vc te

nq
nq
x
d x 1 ...........................................(3.9)
Cd
C
d

Setelah t = te , potensial kolektor dapat ditulis sebagai:

nq
d x vt t ...................................................(3.10)
Cd
Jadi, peningkatan dari Vc untuk t > te ditentukan oleh suatu nilai yang sebanding
Vc t te

dengan vi << ve

x
, Vc menjadi:
vi
nq
Vc ti
Vc max .............................................................(3.11)
C

Pada t ti

Perlu dicatat bahwa potensial V0, V, Vc semuanya negatif. Oleh karena itu,
pembentukan pulsa memiliki bentuk tampilan yang ditunjukkan di bagian linear
awal Gambar 3b.

14

Gambar 3.

(a) Formasi pasangan ion dalam gas antara dua plat elektroda yang paralel
(b) Variasi tegangan kolektor terhadap waktu menunjukkan bentuk pulsa

Setelah muatan dikumpulkan pada kolektor A, muatan tersebut mulai bocor


melalui resistor R dengan waktu yang konstan RC. Jika peristiwa ini sangat besar
dibandingkan dengan te tapi kecil jika dibandingkan dengan ti (yang 103 detik
atau lebih), maka tegangan pulsa, setelah mencapai nilai maksimum jatuh secara
eksponensial seperti ditunjukkan pada Gambar 3b: Vc Vc 0 e

RC

Karena ion positif bergerak jauh lebih lambat dibandingkan dengan elektron,
waktu transit mereka 10-3 detik yang menentukan total waktu efektif untuk
mengumpulkan muatan. Jadi, ruangan tidak dapat merekam lebih dari beberapa
ratus hitungan per detik. Jika yang dimanfaatkan hanya pulsa pengumpulan
elektron, maka tingkat perhitungan dapat meningkat menjadi 105 per detik atau
lebih. Namun, ini akan mengalami kesulitan yaitu tinggi pulsa bergantung pada
posisi dalam ruang di mana ionisasi dihasilkan. Ini menurunkan resolusi energi
ruangan.
Untuk menghindari kesulitan di atas, digunakan sebuah kotak ruang ionisasi
dimana ketinggian pulsa karena pengumpulan elektron bebas dari posisi ionisasi.
Dengan asumsi bentuk plat sejajar, kotak ditempatkan sejajar dengan anoda dan
katoda dimana potensial Vg negatif yang diterapkan memiliki besar kurang dari
tegangan katoda negatif, anoda ditanahkan melalui hambatan R. Kotak
melindungi kolektor secara elektrostatis dari ion positif.
Pulsa output dari ruang ionisasi harus diperkuat secara benar. Untuk
memastikan bahwa pulsa proporsional secara linear terhadap ionisasi yang

15

dihasilkan, digunakan penguat linier. Baik penguat yang lambat dan cepat telah
dirancang. Pada penguat lambat, konstanta waktu RC lebih besar dibandingkan
dengan te dan ti. Penguat ini memiliki beberapa kelemahan, termasuk keterbatasan
dalam menghitung nilai maksimum, gangguan amplifikasi pada frekuensi rendah
dan kemiringan pulsa yang dihasilkan kurang tepat.
Penguat cepat memiliki respon frekuensi tinggi yang baik sehingga potensial
bervariasi dengan cepat. Hanya pulsa elektronik yang menarik dalam kasus ini,
RC menjadi jauh lebih pendek daripada ti, dan sebanding dengan te. Sinyal
tegangan pada masukan penguat adalah RC ( ) dalam kasus di mana

adalah

turunan dari pulsa untuk konstanta waktu yang singkat.


C. Pencacah Proporsional
Kita telah membuktikan bahwa faktor amplifikasi gas dalam sebuah ruang
ionisasi adalah satu kesatuan. Dalam sebuah pencacah proporsional, medan listrik
antara elektroda cukup tinggi untuk menyebabkan amplifikasi gas. Namun,
ionisasi masih bergantung pada sifat-sifat dan energi dari partikel yang datang.
Oleh karena itu memungkinkan untuk membedakan tipe-tipe antar partikel yang
berbeda. Selain itu juga memungkinkan untuk mengukur energi dari partikel
dengan sebuah desain pencacah yang sesuai.
Sebelum kita membahas dasar operasi dari pencacah proporsional, mari kita
melihat bagaimana ukuran pulsa dari sebuah rancangan penghitungan pulsa yang
bergantung pada tegangan yang bekerja diantara dua elektroda, dengan anggapan
rancangan berbentuk silinder, sifat dari variasi ini diperlihatkan pada Gambar 4.

16

Gambar 4.

Variasi tinggi pulsa output terhadap tegangan yang bekerja dalam detektor
berbentuk silinder yang diisi gas. Beberapa daerah pada grafik dijelaskan
dalam teks

Seperti yang telah dijelaskan pada subbab A, penggandaan jumlah pasangan


ion menyebabkan terjadinya produksi ion-ion sekunder sebagai akibat dari
tumbukan. Energi yang diperoleh antara tumbukan-tumbukan yang berulang
adalah Xe dimana X adalah medan listrik dalam tabung dan e merupakan muatan
elektron. Jadi X dan lintasan rata-rata harus cukup tinggi. Oleh karena itu,
tekanan dalam gas harus cukup rendah untuk membuat yang cukup tinggi.
Peristiwa produksi ion sekunder dalam gas dimana terjadi pengurangan
tekanan telah dipelajari oleh J.S. Townsend pada permulaan abad ini. Peningkatan
ion secara kumulatif oleh tumbukan dikenal sebagai ionisasi Townsend atau
longsoran ionisasi (avalanche ionization).
Pada saat tegangan rendah, tidak ada longsoran ionisasi sepanjang wilayah A
dan B. Ini merupakan wilayah operasi dari ruang ion. Pada saat tegangan
meningkat secara bertahap, longsoran ionisasi terjadi pada wilayah dimana
terdapat medan listrik yang sangat tinggi yaitu sangat dekat ke pusat kawat. Ini
adalah permulaan dari wilayah proporsional yang ditandai dengan C pada gambar
dimana tegangan hanya cukup untuk elektron menghasilkan ion-ion sekunder
pada akhir lintasan bebas sebelum memasuki pusat kawat. Dengan semakin
meningkatnya tegangan, formasi longsoran mulai menjauh dan semakin menjauh
dari pusat kawat dan jumlah ion-ion sekunder yang dihasilkan oleh tiap pasangan

17

ion primer juga meningkat secara bertahap. Dalam daerah proporsional, faktor
amplifikasi gas A, yang didefinisikan sebagai jumlah ion sekunder yang
dihasilkan dari tiap ion primer, adalah sekitar 10 3 dan bernilai konstan untuk
tegangan tertentu. Berikutnya adalah daerah proporsional terbatas (limited
proportionality) ditandai dengan D dimana A bernilai 10 5 sampai 107 dan
bergantung pada ukuran pulsa. Semakin meningkatnya tegangan menghasilkan
nilai A yang besar yaitu 108 dalam daerah Geiger ditandai dengan E. Ukuran
pulsa dalam kasus ini bebas dari jumlah ion-ion primer yang dibentuk dalam
peristiwa ionisasi awal. Tegangan masih tinggi, A menjadi terlalu tinggi sehingga
terjadi pelepasan (discharge). Ini merupakan daerah yang ditandai dengan F pada
gambar.
Sebagaimana yang telah dinyatakan di atas, dalam daerah proporsional, A
adalah konstanta pada tegangan tertentu dan akan meningkat dengan naiknya
tegangan. Dengan asumsi A = 103, sebuah partikel memproduksi 105 ion primer
dalam gas dari pencacah proporsional menghasilkan pulsa dengan amplitudo yang
terkait dengan pengumpulan 108 elektron di anoda. Di sisi lain, partikel
memproduksi 102 ion primer dalam pencacah gas memberikan kenaikkan pulsa
yang dihasilkan dari pengumpulan 105 ion di anoda. Untuk sinar , elektron
dikeluarkan dari bahan dalam ruangan yang menghasilkan ionisasi dalam gas,
ukuran pulsa adalah sama dengan yang dihasilkan oleh partikel .
Dengan menggunakan diskriminator elektronik yang sesuai, memungkinkan
untuk merekam pulsa karena partikel secara selektif berlawanan terhadap sinar
dan sinar . Pencacah proporsional secara umum memiliki bentuk silinder dengan
sebuah silinder katoda sepanjang sumbu yang dilengkapi dengan kawat anoda
tipis (diameter 0,1 mm) dalam tabung gelas yang disegel dan disertai dengan
beberapa gas inert

(misalnya Ar atau He) yang dicampur dengan suatu uap

organik. Campuran, misalnya 90% Ar +10% metana atau 96% He + 4%


isobutana, biasanya digunakan pada tekanan total pada rentang di bawah satu
atmosfer sampai sedikit di atasnya. Tegangan 1500 sampai 5000 volt diperlukan
untuk mendapatkan amplifikasi gas yang tepat pada tekanan atmosfer.

18

Pada pencacah proporsional tipe aliran, sampel dimasukkan ke dalam volume


sensitif sehingga tidak ada jendela penyerapan radiasi yang akan dideteksi.
Bersama dengan sampel dalam posisinya, gas diperbolehkan untuk mengalir
dengan cepat melalui pencacah selama beberapa saat di bagian dalam (interior).
Selama menghitung, gas mengalir lebih lambat, mungkin pada nilai 10-6 m3 per
menit. Radiasi sangat lemah, misalnya telah dilakukan pengujian pada partikel
dari 3H (Em = 18,6 keV).
Dalam tabung pencacah dengan bentuk silinder, medan listrik pada jarak r
dari sumbu adalah:

V
r
r ln c

ra

..............................................................................(4.1)

di mana V adalah beda potensial antara anoda dan katoda yang memiliki jari-jari
masing-masing ra dan rc. Dengan demikian medan sangat kuat di dekat kawat
anoda. Untuk alasan ini, produksi longsoran terjadi di dekat anoda. Dapat dicatat
bahwa dalam pencacah proporsional, longsoran diproduksi pada titik dimana
ionisasi primer terjadi dan tidak menyebar secara menyeluruh di sepanjang kawat
anoda, seperti dalam kasus pencacah Geiger-Muller yang dijelaskan dalam subbab
D.
Dengan menuliskan sebagai jumlah pasangan pasangan ion sekunder yang
dibentuk oleh sebuah elektron per satuan panjang lintasan dalam gas (koefisien
Townsend), jumlah elektron baru dn yang diproduksi oleh n elektron dalam jarak
dx adalah:

dn ndx
Dengan integral diperoleh:

n n0 exp dx

Faktor amplifikasi menjadi:

n
exp
n0

dx

...............................................................(4.2)

19

Telah ditunjukkan oleh Townsend bahwa bergantung pada tekanan p dari


daerah pada medan listrik X:

a exp bp
X .......................................................................(4.3)
p

dimana a dan b adalah konstanta yang telah ditentukan untuk tipe-tipe tertentu.
Karena ion positif bergerak perlahan, produksi longsoran oleh elektron sudah
selesai sebelum ion positif bergerak melalui jarak yang cukup jauh.
Persamaan (4.2) dapat digunakan untuk menghitung faktor amplifikasi A.

Banyak ahli menyarankan variasi dinyatakan dengan . Hal ini mengikuti apa
yang dilakukan M.E. Rose dan S.A. Korff yang menjelaskan data eksperimen

pada faktor amplifikasi yang lebih baik daripada yang lain melalui nilai :

p 2

X
.............................................................................(4.4)
p

Berawal dari kesepakatan untuk nilai A > 104 menunjukkan bahwa harus ada
beberapa efek yang ditambahkan selain longsoran Townsend yang terjadi pada
tegangan lebih tinggi. Ini termasuk produksi foton ultraviolet dalam longsoran
yang mencapai silinder katoda dalam waktu ~10-6 detik dimana terjadi
pembebasan elektron foto yang melakukan perjalanan ke kawat. Hal ini membuat
ukuran pulsa menjadi lebih besar. Efek yang paling penting adalah berasal dari
gerakan ion positif. Karena penggandaan berlangsung dekat dengan pusat kawat,
jumlah informasi pulsa menjadi sangat kecil. Ion positif membentuk lapisan tipis
pada permukaan kawat anoda pada t = 0. Dengan asumsi bahwa selubung ion
positif tidak mengubah medan, efek geraknya pada amplitudo pulsa tegangan
dapat dihitung. Amplitudo ini naik ke nilai maksimum secara logaritmik terhadap
waktu. Oleh karena itu, pulsa harus dibentuk dalam penguat utama untuk dipotong
dengan konstanta waktu yang kecil.
Perhitungan neutron

20

Pencacah proporsional secara luas digunakan untuk menghitung neutron.


Untuk neutron yang bergerak lambat, boron trifluorida (BF3) digunakan sebagai
gas pencacah, karena terjadi penyerapan neutron dengan energi termal yang besar
dalam isotop

10

B. Gas 3H

juga digunakan sebagai gas pengisi pencacah

proporsional untuk deteksi neutron yang lambat.


Neutron yang cepat juga dapat dideteksi, menggunakan pencacah
proporsional dengan hidrogen sebagai gas pengisi. Proton yang terpental
dipancarkan karena hamburan elastis neutron dengan hidrogen menghasilkan
pulsa ionisasi di pencacah ini.
D. Pencacah Geiger-Muller
Wilayah proporsional pada Gambar 4 terdapat wilayah D yang merupakan
wilayah proporsionalitas terbatas (limited proportionality) dimana tidak ada
aplikasi di daerah tersebut. Selanjutnya kita beralih ke wilayah Geiger E yang
muncul ketika medan sangat tinggi di dekat pusat kawat dan lintasan rata-rata
juga besar karena tekanan gas rendah. Di sini longsoran tidak terbatas pada
wilayah di mana ionisasi primer terjadi, tapi menyebar di sepanjang pusat kawat.
Ukuran dari pulsa output adalah bebas dari jumlah ion primer dan oleh karenanya
tabung tidak dapat membedakan berbagai jenis radiasi. Longsoran mungkin berisi
108 sampai 109 elektron.
Pencacah Geiger-Muller yang beroperasi di wilayah Geiger merupakan
salah satu detektor radiasi yang paling banyak digunakan sampai saat ini,
meskipun alat ini diciptakan di bagian awal abad ini. Pencacah Geiger-Muller
digunakan untuk merekam dan menghitung kedatangan partikel ionisasi.
Dalam bentuk yang paling sederhana, pencacah G-M terdiri dari tabung kaca
berbentuk silinder tertutup B dengan radius 2 sampai 3 cm ditutupi silinder logam
koaksial C berperan sebagai katoda, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 5a.
Sepanjang sumbu silinder dilengkapi dengan kawat logam yang sangat tipis,
biasanya tungsten (diameter 0,1 mm) yang berfungsi sebagai anoda. Sambungan
listrik disediakan C dan A dengan ditutupi logam timah melalui tabung gelas.

21

Gambar 5.

(a) Dinding kaca pencacah Geiger-Muller


(b) Pencacah G-M dengan sebuah jendela

Tabung B diisi dengan gas inert seperti Argon dicampur dengan senyawasenyawa yang mudah menguap seperti etil alkohol (pendingin uap) dengan rasio
10 : 1 pada tekanan total 10 cm air raksa. Beda potensial antara anoda dan
katoda dari tabung biasanya sekitar 1000. Dalam beberapa pencacah, gas neon
dicampur dengan sedikit halogen. Tekanan gas total rendah dan beda potensial
yang diperlukan untuk operasi beberapa pencacah jauh lebih rendah (300 sampai
400 volt). Gas-gas yang digunakan harus bebas dari kemurnian elektronegatif
(misalnya, oksigen, uap air, CO2 dan lain-lain) karena hal ini cenderung untuk
membentuk ion negatif yang akan bergerak perlahan-lahan menuju katoda dan
longsoran sekunder.
Karena radiasi ionisasi harus masuk ke dalam gas yang dihitung supaya dapat
dideteksi, hanya gas-gas yang mampu menembus dinding kaca pencacah
(ketebalan 1 mm) yang dapat dideteksi dan dicatat oleh tipe pencacah di atas
misalnya sinar , muon berenergi tinggi dalam sinar kosmik, dan lain-lain. Untuk
menghitung penetrasi radiasi yang kecil, misalnya, sinar dan sinar , sebuah
jendela elektroda W tipis yang terbuat dari mika atau bahan lainnya harus
disediakan di salah satu ujung dimana mereka bisa masuk pencacah gas (lihat
Gambar 5b).

22

Karena bentuk silinder, medan listrik X

diberikan oleh persamaan (4.1).

Sehingga medan sangat tinggi di dekat permukaan pusat kawat. Longsoran


Townsend dihasilkan pada medan yang tinggi ini di dekat pusat kawat oleh sebuah
elektron tunggal yang dapat memicu longsoran kedua di beberapa titik lain dalam
tabung G-M. Hal ini menimbulkan yang dikenal sebagai pelepasan Geiger.
Longsoran kedua dipicu oleh pancaran foton ultraviolet (atau cahaya tampak)
selama deeksitasi molekul gas aktif dalam longsoran pertama. Foton ini, pada saat
mencapai permukaan katoda, memancarkan elektron, yang sementara bergerak
menuju kawat pusat, memulai longsoran kedua. Penyerapan dari foton uv juga
dapat terjadi pada gas dari pencacah. Longsoran kedua ini kemudian dapat
memulai longsoran ketiga dengan mekanisme yang sama, yang pada gilirannya
dapat memulai lagi longsoran yang lain, dan seterusnya sehingga dalam pelepasan
Geiger, sebuah elektron tunggal yang dibentuk dalam ionisasi awal menghasilkan
jumlah longsoran yang berulang dalam waktu yang sangat pendek ( 1 detik).
Ini menimbulkan semacam selubung (envelope) padat dari pasangan elektron-ion
yang mengelilingi pusat kawat secara menyeluruh, bebas dari posisi awal
peristiwa ionisasi. Elektron sangat cepat dikumpulkan oleh kawat anoda. Ion-ion
positif yang berat tidak bergerak dengan cepat selama waktu ini dan tetap berada
di sekitar pusat kawat, menghasilkan selubung ruang muatan yang mengelilingi
pusat kawat. Ini akan mengurangi medan dekat kawat pusat yang menurunkan
penggandaan gas, akhirnya menghentikan proses pelepasan Geiger. Untuk
tegangan tertentu yang diberikan pada anoda, pulsa tegangan yang dihasilkan pada
anoda ditentukan oleh ruang muatan yang dikumpulkan di sekitar kawat anoda
untuk menghentikan pelepasan. Ini tidak tergantung pada ukuran ionisasi primer
dan ditentukan oleh tegangan yang diberikan. Ukuran pulsa dengan demikian
tergantung pada kelebihan tegangan di atas ambang batas untuk memulai
pelepasan Geiger.
Pulsa tegangan yang dihasilkan pada anoda meningkat sangat cepat selama
waktu pengumpulan elektron oleh anoda. Ion-ion positif yang berat kemudian
mulai menjauh perlahan-lahan menuju katoda silinder. Mereka mencapai katoda
dalam waktu 104 detik di mana mereka dapat menangkap elektron dari anoda.

23

Dalam proses tersebut, sejumlah energi Ei - W (energi ionisasi minus fungsi kerja
katoda), biasanya foton dilepaskan dalam bentuk uv. Jika peristiwa ini melebihi
W, sebuah elektron dari permukaan katoda dapat dikeluarkan karena
penyerapannya yang kemudian memulai lagi pelepasan Geiger. Dengan demikian,
pengulangan pelepasan Geiger mungkin dapat diproduksi pada interval 10-4
detik yang harus segera dihentikan agar pencacah dapat beroperasi dengan baik.
Kita akan bahas metode penghentian ini pada bagian selanjutnya.
Banyaknya elektron yang dikumpulkan di anoda meningkatkan jumlah
elektron di anoda bersama dengan kapasitansi didistribusikan yang dihubungkan
ke anoda yang kemudian bocor melalui resistor eksternal R ( 1 mega-ohm) yang
terhubung antara anoda dan terminal positif dari suplai tegangan (biasanya
ditanahkan) seperti ditunjukkan pada Gambar 2. Aliran muatan negatif melalui R
menimbulkan arus listrik sesaat yang menghasilkan potensial RI di R. Perubahan
potensial mendadak di anoda ini muncul sebagai pulsa tegangan yang diperkuat
dan dicatat secara elektrik. Nilai kedatangan radiasi ionisasi di pencacah dapat
dihitung.
Karakteristik Pencacah:
Jika tabung pencacah GM dikenai sumber dengan intensitas radiasi konstan
dan laju penghitungan dicatat sebagai fungsi dari tegangan pada tabung pencacah,
sebuah grafik didapatkan yang dikenal sebagai kurva karakteristik untuk
pencacah. Sifat dasar kurva ditunjukkan pada Gambar 6. Ketika tegangan rendah,
pencacah beroperasi di wilayah ruang ionisasi di mana tidak ada amplifikasi gas.
Pulsa tegangan akan menjadi kecil dan rangkaian elektronik yang terkait tidak
akan dapat merekam dan menghitung pulsa ini. Jadi jika tegangan V pada tabung
tidak melebihi nilai minimum tertentu Vs, yang dikenal sebagai tegangan ambang
tidak ada penghitungan yang akan direkam. Ketika tegangan ini meningkat di atas
Vs, tingkat penghitungan meningkat secara bertahap karena sekarang amplifikasi
gas telah dibentuk dan ukuran pulsa output meningkat secara bertahap. Ini adalah
wilayah penghitungan proporsional di mana akan lebih banyak lagi partikel
berenergi rendah dihitung sampai titik C tercapai. Dari titik ini dan seterusnya,
tingkat penghitungan menjadi konstan. C menunjukkan awal wilayah Geiger di

24

mana semua peristiwa utama dihasilkan dalam pencacah direkam, tanpa


memperhatikan energi. Daerah datar CD (tingkat hitung konstan) dikenal sebagai
dataran tinggi pencacah.

Gambar 6.

Karakteristik pencacah G-M

Pencacah GM harus dioperasikan di daerah dataran tinggi. Oleh karena itu


diharapkan untuk memiliki dataran tinggi yang lebih panjang dan datar.
Sebenarnya ada peningkatan kecil dalam tingkat penghitungan bahkan di daerah
dataran tinggi. Untuk pencacah yang baik seharusnya kenaikan tingkat
penghitungan tidak lebih dari 1% untuk kenaikan 100 volt dalam tegangan
pencacah. Panjang dan kemiringan dataran tinggi tergantung pada sifat dari
kondisi gas, kondisi pusat kawat dan sifat permukaan silinder. Pencacah yang baik
memiliki dataran tinggi dengan luas rentang 100 sampai 200 volt.
Penghentian Pelepasan:
Untuk menghentikan pelepasan berulang pada pencacah karena produksi
longsoran baru oleh ion-ion positif yang datang pada di katoda, pencacah gas
inert biasanya dicampur dengan beberapa uap organik (misalnya etil alkohol).
Selama perjalanan ion positif dari pencacah atom gas (misalnya, Ar+) dan molekul
organik menuju katoda, ion-ion argon dinetralkan oleh tumbukan dengan molekulmolekul alkohol netral yang menjadi terionisasi dalam proses. Hal ini terjadi
karena argon memiliki potensial ionisasi lebih tinggi dari etil alkohol. Energi yang
dibebaskan dalam netralisasi ion argon (15,7 eV) sudah cukup untuk mengionisasi
molekul alkohol yang hanya memerlukan energi 11,3 eV. Proses balikan tidak
bisa dilakukan. Ion positif yang pada akhirnya mencapai katoda sebagian besar
berupa ion-ion alkohol yang telah memisah dalam proses yang telah dinetralkan

25

dengan menangkap elektron dari katoda. Hal ini untuk mencegah pancaran foton
ultraviolet yang dapat menimbulkan pelepasan elektron foto dari katoda untuk
memulai pelepasan Geiger kedua.
Dapat dicatat bahwa kelebihan energi 4.3 eV yang dibebaskan selama
netralisasi ion argon, biasanya dalam bentuk radiasi uv, diserap oleh uap alkohol
dan karenanya tidak melepaskan semua elektron foto dari katoda untuk memulai
pelepasan lain.
Karena pemisahan molekul alkohol, pencacah memiliki kehidupan terbatas.
Pada pencacah penghentian halogen, molekul halogen (misalnya Br2) terdisosiasi
menjadi atom halogen yang kemudian bergabung kembali. Jadi pencacah ini akan
memiliki kehidupan yang sangat panjang.
Pencacah menggunakan campuran gas inert dan pendinginan uap dikenal
sebagai self-quenching. Pelepasan berulang dalam pencacah self-quenching, yang
tidak menggunakan pendinginan uap dapat dicegah oleh resistensi yang sangat
tinggi ( 109 ohm) di rangkaian anoda. Penurunan IR pada resistor sangat besar
dan tegangan pada tabung pencacah mengalami penurunan begitu besar sehingga
faktor amplifikasi gas berada di bawah tingkat yang diperlukan untuk memulai
pelepasan Geiger kedua. Namun, dengan resistensi yang tinggi, konstanta waktu
(RC) sangat besar, sehingga penghitungan cepat tidak mungkin dilakukan dengan
pengaturan ini. Rangkaian elektronik khusus telah dirancang untuk menghentikan
pelepasan Geiger yang berulang dalam pencacah non self-quenching. Dalam hal
ini resistansi seri R anoda dapat memiliki nilai rendah 106 ohm. Pencacah dapat
menanggapi sekitar 104 partikel per detik dalam kasus ini.
Dead Time pencacah G-M:
Dead time didefinisikan sebagai interval waktu antara produksi dari pulsa
pertama dan dimulainya pelepasan Geiger kedua. Hal ini biasanya 50 sampai
100 mikrodetik. Dengan demikian ada batas untuk tingkat di mana pencacah dapat
merekam kedatangan partikel ionisasi, yang kurang dari beberapa ribu per detik.
Dead time muncul karena gerakan lambat ion-ion positif yang lebih berat dari
daerah anoda ke katoda. Sejak kehadiran selubung ion positif di sekitar anoda
yang menurunkan medan listrik di bawah ambang batas Geiger, pencacah dapat

26

merekam partikel ionisasi hanya setelah medan telah dikembalikan ke nilai di atas
ambang Geiger VTh = Vs. Sebenarnya, waktu pemecahan (resolving time) pencacah
lebih lama dari dead time yang didefinisikan di atas, meskipun kedua istilah
sering dipertukarkan.
Waktu pemulihan pencacah menentukan interval waktu setelah pencacah
kembali ke kondisi semula untuk menghasilkan pulsa berukuran penuh lagi.
Ketiga waktu interval di atas terkait dengan pengoperasian pencacah GM
diilustrasikan pada Gambar 7.

Gambar 7.

Perkembangan waktu dari pulsa tegangan


dalam Pencacah G-M

Penting untuk mengetahui waktu pemecahan dari pencacah untuk


menentukan tingkat penghitungan yang benar. Karena nilai terbatas, pencacah
tidak merespon semua peristiwa ionisasi yang terjadi di dalamnya. Jika N adalah
tingkat aktual kedatangan partikel ionisasi dalam pencacah, maka tingkat
penghitungan n dimana pencacah mampu merekam kurang dari N karena tidak
dapat merespon partikel untuk interval n per detik. Jadi Jumlah partikel yang
tidak terekam oleh pencacah per detik adalah N n yang demikian harus
disamakan dengan N - n:

Nn N n
Ini memberikan

n
.....................................................................(5.1)
1 n

27

Sehingga dari pengetahuan tentang nilai , sangat mungkin untuk


menentukan tingkat penghitungan N dari penghitungan yang diamati n.

dapat ditentukan dengan mengukur tingkat penghitungan n1 dan n2


menggunakan dua sumber radioaktif yang berbeda 1 dan 2 dengan kekuatan yang
kurang lebih sama, satu per satu. Penghitungan total nilai n1' ketika kedua sumber
ditempatkan dalam posisi yang sama seperti sebelumnya juga ditentukan. Jika laju
nb yang merupakan tingkat menghitung ketika tidak ada sumber hadir, maka
tingkat penghitungan di atas dikoreksi menjadi
n1 n1 ' nb , n2 n2 ' nb ,

n1 n1 ' nb ....................(5.2)

Jika tingkat sebenarnya dari kedatangan partikel dalam pencacah dalam tiga
kasus di atas adalah N1, N2, dan Nt, kita dapat menulis, dengan menggunakan
Persamaan (5.1)
N1

n1
n2
, N2
,
1 n1
1 n2

Nt

nt
................(5.3)
1 nt

Kita juga memiliki kondisi Nt = N1 + N2. Maka bentuk persamaan (5.3)


dapat dipecahkan untuk . Anggap bahwa bentuk 2 dapat diabaikan, kita peroleh:

n1 n2 nt
..............................................................(5.4)
2n1n2

Efisiensi penghitungan:
Efisiensi intrinsik dari pencacah Geiger-Muller adalah sama dengan
probabilitas bahwa setidaknya satu pasangan ion akan diproduksi oleh partikel
ionisasi memasuki volume aktif pencacah. Jika rata-rata n pasangan primer ion
diproduksi oleh sebuah partikel, kemungkinan bahwa tidak ada pasangan ion akan
diproduksi sama dengan exp (-n). Dalam hal ini pencacah jelas akan gagal untuk
merekam berlalunya partikel. Kemudian efisiensi intrinsik akan 1 exp (-n).
Untuk n = 5, efisiensi intrinsik menjadi 99,3%. Karena partikel atau
memasuki volume aktif pencacah hampir dipastikan untuk menghasilkan
setidaknya satu pasangan ion di dalamnya, efisiensi intrinsik menghitung partikelpartikel ini dapat dibuat hampir 100%.

28

Efisiensi intrinsik pencacah diberikan oleh 1 exp slp dimana s adalah


ionisasi spesifik, l adalah panjang lintasan melalui pencacah dan p adalah tekanan
gas pencacah di atmosfer. s adalah jumlah ion per m per atmosfer.
Efisiensi intrinsik penghitungan dengan pencacah G-M jauh lebih sedikit,
menjadi hanya sekitar 0,1%. Sinar gamma yang dihitung harus menolak elektron
baik dari dinding pencacah atau dari gas pencacah oleh salah satu dari tiga proses
dibahas di Bab VI yang selama perjalanan melalui volume sensitif akan
menghasilkan ionisasi. Jadi efisiensi penghitungan sinar tergantung pada hasil
dari kemungkinan pelepasan elektron dalam pencacah dan produksi ionisasi oleh
elektron dalam volume sensitif dari pencacah. Untuk meningkatkan efisiensi ,
lebih diharapkan untuk menggunakan pencacah katoda yang terbuat dari bahan
dengan Z tinggi. Untuk sinar energi rendah (atau sinar x), jendela tipis harus
disediakan bagi foton untuk masuk ke pencacah, yang biasanya diisi dengan gas
dengan Z tinggi (misalnya Kr atau Xe) ke tekanan yang cukup tinggi untuk
meningkatkan kemungkinan pelepasan elektron.
E. Detektor Semikonduktor
Jika sebuah isolator kristal, misalnya permata atau kadmium sulfida,
diletakkan diantara dua elektroda yang memiliki beda potensial besar, maka
susunan seperti ini dapat digunakan sebagai sebuah detektor energi radiasi tinggi.
Kombinasi ini berperan seperti sebuah ruang ionisasi yang padat. Pita valensi
pada isolator diisi penuh oleh elektron-elektron sedangkan pita konduksi kosong.
Di antara dua pita terdapat sebuah daerah terlarang dengan lebar Eg dengan nilai
beberapa elektron volt (untuk permata Eg = 5,2 eV).
Ketika suatu radiasi berenergi tinggi melewati kristal maka akan
menghasilkan

pasangan-pasangan

lubang-elektron

(electron-hole

pairs).

Beberapa elektron dalam pita valensi akan mendapat energi yang cukup untuk
masuk ke pita konduksi. Elektron-elektron ini bebas bergerak di dalam kristal
di bawah pengaruh aksi medan listrik. Lubang yang bermuatan positif yang
berada di bawah pita valensi juga bergerak bebas dan menambah
konduktivitas kristal. Jadi, pada kondisi tersebut terjadi perubahan seketika

29

dari potensial pada elektroda (seperti pada kasus pencacah G-M) yang
muncul sebagai sebuah pulsa listrik yang bisa direkam dan dihitung dengan
rangkaian listrik yang sesuai.
Detektor kristal ini memiliki kecenderungan menjadi terpolarisasi untuk
sementara, karena elektron naik ke pita konduksi dan tidak kembali ke pita
valensi. Lebih jauh lagi, hubungan antara energi dan tinggi pulsa pada
detektor ini tidaklah linier. Karena alasan ini maka kegunaan detektor ini
sangat terbatas. Detektor ini secara luas telah digantikan oleh detektor
semikonduktor dimana telah menemukan aplikasi yang lebih luas yaitu
digunakan dalam spektrometri dan penghitungan foton dan partikel.
Detektor semikonduktor merupakan sambungan bias mundur (reversebiased junction) dari dioda. Detektor ini memiliki beberapa keuntungan
dibandingkan dengan detektor-detektor yang lain. Detektor ini memiliki
resolusi energi yang lebih baik, respon linier sepanjang rentang energi radiasi
yang datang dan respon yang sangat cepat.
a. Difusi pada sambungan detektor
Dalam dioda jenis p-n, elektron-elektron dari wilayah n dan lubang dari
wilayah p berdifusi ke dalam wilayah p dan n masing-masing melewati
sambungan dan membentuk sebuah lapisan ganda bermuatan yang mencegah
difusi lebih lanjut dan membentuk penghalang potensial disambungan. Jika
wilayah p dihubungkan dengan terminal negatif dari sebuah baterai dan
wilayah n dihubungkan pada terminal positif, susunan ini disebut bias
mundur (reverse-biased) (Gambar 8b). Sebagai hasil, elektron-elektron dan
lubang ditarik lebih jauh dari daerah sambungan dan sebuah daerah
pengosongan (depletion layer) dibentuk pada sambungan yang tidak memiliki
pembawa muatan (Gambar 8a). Karena bias mundur, tidak ada arus yang
mengalir melalui sambungan dan dioda mengalami cut off. Ketebalan daerah
pengosongan bergantung pada sifat pengotoran dan tegangan yang digunakan.
Biasanya dalam rentangan ratusan mikron sampai beberapa milimeter.
Karena konduktivitas dari daerah pengosongan rendah, suatu beda potensial
yang besar dapat diberikan melewatinya. Jadi daerah ini bekerja seperti
sebuah ruang ionisasi.

30

Jika suatu partikel berenergi tinggi melewati daerah pengosongan, maka


memunculkan pasangan-pasangan elektron. Elektron-elektron naik pada pita
konduksi dan bebas bergerak melewati kristal dibawah pengaruh kerja medan
listrik. Lubang yang berada di belakang pita valensi juga bergerak melalui
kristal. Berdasarkan dua alasan ini, sebuah pulsa arus sesaat sebanding
dengan jumlah elektron dan lubang yang dihasilkan. Jadi detektor
semikonduktor bekerja seperti sebuah bentuk ruang ionisasi padat. Karena
energi yang dibutuhkan untuk menghasilkan pasangan elektron dan lubang
hanya sekitar 3 eV dibandingkan sekitar 30 eV yang dibutuhkan untuk
menghasilkan pasangan elektron dalam sebuah ruang gas ionisasi, pembuatan
pulsa listrik pada detektor semikonduktor lebih mudah dan ketepatan
pengukuran

energi

lebih

baik

(lebih

dari

beberapa

persen).

Pada

kenyataannya detektor memiliki resolusi energi yang baik diantara semua tipe
detektor radiasi. Hal ini disebabkan daerah pengosongan yang sempit dengan
waktu kenaikan yang sangat kecil (10-8 detik) untuk detektor ini.

Gambar 8.

(a) Detektor sambungan p-n, (b) Diagram skematik rangkaian untuk


detektor sambungan bias mundur

Amplitudo pulsa listrik yang dihasilkan di output pada detektor


semikonduktor bergantung pada energi yang disimpan oleh radiasi yang datang
dalam daerah pengosongan. Detektor ini sangat sesuai untuk mendeteksi ion-ion
partikel berat, seperti partikel , susunan fisi, dan ion-ion berat lainnya. Jika
semikonduktor dilapisi dengan lapisan boron, maka dapat digunakan untuk
mendeteksi neutron. Pasangan elektron-lubang yang dibentuk dalam daerah
pengosongan karena melewati radiasi, dikumpulkan oleh dua elektroda yang

31

berlawanan untuk menghasilkan sebuah pulsa arus dalam waktu yang pendek
pada suatu rangkaian eksternal yang ditunjukkan pada gambar. Jumlah total
pasangan-pasangan elektron-lubang memberikan suatu pengukuran dari energi
yang diberikan oleh nilai radiasi dalam daerah pengosongan. Tinggi pulsa
sebanding dengan energi awal partikel jika energi ini nantinya dihentikan total
dalam daerah pengosongan.
Ketebalan d dari daerah pengosongan bergantung pada beda potensial
yang bekerja (V b), beda potensial yang ada pada sambungan karena difusi
pembawa muatan (Vo) dengan ketiadaan potensial yang bekerja, dan
perbedaan konsentrasi potensial dari atom akseptor dan atom donor (na nd)
dan diberikan dengan:

2k 0 Vb V0
d

e na nd

1
2

................................................. (5.1)

keterangan, k adalah perbandingan dari permitivitas bahan dan vakum.


Untuk silikon
V 0 = 0,7 volt, k = 11,8
Untuk germanium
V 0 = 0,2 volt, k = 16
(dapat dicatat bahwa detektor semikonduktor secara eksklusif terbuat
dari silikon dan germanium)
Biasanya daerah n lebih banyak dikotori daripada daerah p sehingga nd
<< na. Kemudian untuk V b >> V0, baik nd dan V 0 dalam persamaan (5-1) dapat
diabaikan. Ketebalan daerah pengosongan menjadi
1

d a p pVb 2 ............................................................(5.2)
Dimana p adalah resitivitas bahan tipe p dan ap adalah konstanta untuk medium
tertentu. Kapasitansi daerah pengosongan adalah

Cd bp pVb

1
2

..........................................................(5.3)

dimana bp adalah konstanta.


Untuk silikon tipe p, ap = 0,32 dan bp = 3,5 x 104. Untuk germanium tipe p
ap= 0,65 dan bp = 2,10 x 104. Nilai-nilai ini memberikan d dalam mikrometer
(m) dan Cd dalam pF.
Jika daerah p lebih banyak dikotori, persamaan yang sesuai adalah
1

d an nVb 2 ,

Cd bn nVb

Untuk silikon tipe n, an = 0,5 dan bn = 2,1 x 104.

1
2

.........................(5.4)

32

Detektor seperti ini dikenal sebagai detektor sambungan difusi (diffused


junction detectors) yang harus selalu disimpan di ruangan yang gelap untuk
mencegah aliran arus elektron- foto. Karena daerah pengosongan pada detektor ini
hanya memiliki ketebalan beberapa millimeter, maka dapat digunakan untuk
spektrometri partikel yang berenergi rendah dan menengah (1.5 MeV untuk
elektron, 20 MeV untuk proton dan 80 MeV untuk partikel ). Karena sinar x dan
sinar memiliki daya tembus yang lebih kuat, pengukuran energi dapat diperluas
sampai beberapa MeV saja.
Jika daerah pengosongan diperluas sepanjang ketebalan detektor, maka akan
kita peroleh sebuah detektor yang total dikosongkan.
Ketebalan Jendela:
Radiasi ionisasi umumnya memasuki detektor melalui sebuah daerah yang
dikenal sebagai jendela (window). Jendela ini merupakan sebuah daerah yang
tidak sensitif (dead layer). Energi yang hilang (Ew) pada jendela harus diketahui
untuk penentuan energi yang akurat. Secara eksperimen dapat ditentukan Ew
dengan membandingkan ketinggian pulsa untuk dua sudut peristiwa (00 dan 450).
Jika partikel tepat melewati dead layer pada kedua peristiwa tersebut, maka
perbedaan dalam energi partikel yang ditunjukkan oleh dua peristiwa tersebut
untuk energi yang sama adalah E Ew

2 1 0.414Ew .

Detektor difusi sambungan umumnya dihasilkan oleh difusi dari konsentrasi


tinggi pengotor tipe n, misalnya fosfor (pentavalen) pada permukaan silikon
kristal tipe p. Bentuk sambungan p-n ini pada kedalaman sekitar 0,1 sampai 0,2
m di bawah permukaan. Kontak balikan diberikan melalui sebuah lapisan difusi
boron (trivalen) p+. Sebuah lapisan emas pada sisi yang lain memberikan kontak
listrik. Lapisan n+ banyak dikotori sehingga daerah pengosongan diperluas sampai
ke dalam silikon tipe p.
Detektor ini memiliki kerusakan radiasi yang kecil. Namun alat ini memiliki
dead layer yang besar pada jendelanya yang merupakan kerugian bagi beberapa
aplikasi.
b. Detektor Penghalang Permukaan (Surface barrier detectors)
Detektor ini biasanya terbuat dari silikon tipe n. Pada saat ini silikon tipe p
dengan resistivitas tinggi telah digunakan untuk menghasilkan detektor
penghalang permukaan yang tipis.

33

Detektor jenis ini memiliki dead layer yang tipis pada jendelanya (0.1 m).
Sebagai hasilnya detektor ini memliki kehilangan energi yang kecil untuk radiasi
yang masuk melalui jendela yang sesuai untuk mempelajari partikel dengan energi
relatif rendah. Detektor ini tidak terlalu berat dan harus dirawat dengan baik.
Sensitivitas cahaya sangat tinggi sehingga sebaiknya disediakan pelindung cahaya.
Detektor penghalang permukaan dihasilkan dengan menggoreskan silikon
tipe n yang tipis dengan resistivitas 1000 sampai 80000 ohm-cm dengan CP4A
(HNO3 + HF + CH3COOH dengan perbandingan 5 : 3 : 3) dan ditempelkan pada
keramik atau ditempelkan teflon. Kontak listrik dihasilkan oleh lapisan emas pada
permukaan p dan oleh lapisan aluminium pada permukaan n.
Perlu diperhatikan beberapa karakteristik dari detektor penghalang permukaan
sebagai berikut:
(i) Respon energi linear pada energi yang berbeda untuk berbagai jenis partikel
yang berbeda;
(ii) Resolusi energi tinggi yang menyebabkan kemunculan pulsa yang mengecil.
Biasanya, lebar total diperoleh pada setengah maksimum (full width at half
maximum/FWHM) sekitar 10 keV untuk partikel beberapa MeV, yang
lebih tinggi dari proton atau neutron. Pendinginan meningkatkan resolusi;
(iii) Respon waktu sangat cepat dalam daerah nano-detik karena pergerakan
jarak yang pendek oleh pasangan lubang-elektron sebelum dikumpulkan;
(iv) Perbedaan sensitivitas, karena ketidakmampuan detektor untuk mendeteksi
neutron dan foton, yang membuat kemungkinan deteksi partikel bermuatan
terhadap radiasi;
(v) Efisiensi konversi yang tinggi, karena dibutuhkan energi yang cukup kecil
untuk menghasilkan pasangan lubang-elektron ( 3 eV) yang kurang dari
sepersepuluh dari yang dibutuhkan dalam kasus detektor ionisasi gas. Hal ini
membuat jumlah pasangan elektron-lubang yang cukup besar.
c. Detektor Si (Li)
Sangat sulit untuk mencapai lapisan pengosongan yang ketebalannya lebih
dari 2 mm pada permukaan silikon detektor penghalang permukaan karena
konsentrasi pengotor yang relatif tinggi, sebagai hasilnya pada tegangan bias
tinggi tidak bisa digunakan. Detektor silikon tipis dapat dibuat dengan teknik
drifting litium. Detektor seperti ini dikenal sebagai detektor silikon yang
ditimbuni litium (lithium drifted silicon detectors) atau secara sederhana

34

detektor Si (Li). Penimbunan litium membentuk pencapaian tingkat tegangan


bias yang tinggi.
Detektor Si(Li) umumnya digunakan untuk spektroskopi dari partikel
bermuatan yang berenergi tinggi. Untuk tujuan seperti ini, detektor Si (Li)
biasanya dioperasikan pada pada suhu ruangan. Untuk foton, detektor harus
didinginkan untuk mencapai resolusi energi yang tinggi.
d. Detektor Ge (Li)
Untuk spektroskopi sinar X and sinar , detektor germanium yang dilapisi
litium Ge (Li) disiapkan karena nomor atom germanium lebih tinggi (Z = 32)
daripada silikon (Z = 14), efisiensi puncak-foto (photo-peak efficiency) sebanding
terhadap Z5. Prosedur untuk mempersiapkan detektor ini sama seperti pada
detektor silikon, yang membedakan adalah rinciannya. Baik konfigurasi planar
dan koaksial tersedia untuk detektor Ge (Li). Konfigurasi planar sesuai untuk
sinar berenergi rendah (< 500 keV) karena resolusi energi yang lebih baik
dan konfigurasi koaksial berkaitan dengan hamburan Compton. Untuk energi sinar
yang tinggi, konfigurasi koaksial lebih cocok karena tersedia dalam volume yang
besar mencapai 120 cm3 yang membantu menyerap sinar yang berenergi tinggi.
Detektor Ge (Li) harus didinginkan pada temperatur nitrogen cair,
baik selama operasi dan perawatan , untuk mengurangi kebocoran arus termal.
Perawatan harus dilakukan untuk menjaga suhu tetap rendah, karena temperatur
yang tinggi akan merusak detektor secara permanen.
e. Detektor HPGe:
Sampai saat ini, baik silikon dan germanium tersedia dengan konsentrasi
pengotor yang tidak dapat dikurangi dibawah 10 16 atom per m3. Namun, sejak
tahun 1971, germanium dengan kemurnian tinggi telah tersedia, dimana
konsentrasi pengotor cukup rendah 10 15 atom per m3. Pada konsentrasi ini, tidak
lama lagi dibutuhkan pembaruan dengan menggunakan teknik drifting litium
dalam uranium untuk membuat detektor tipis dengan ketebalan pengosongan
1 cm. Detektor seperti ini dikenal sebagai detektor germanium dengan
kemurnian tinggi (high purity germanium detector/ HPGe).
Keuntungan khusus dari detektor HPGe adalah dapat ditempatkan pada
temperatur ruang. Namun, detektor ini harus dioperasikan pada temperatur
nitrogen cair, walaupun alat ini dapat disimpan pada temperatur ruang.
Germanium dengan kemurnian tinggi, dengan konsentrasi pengotor yang
rendah sekitar 1015 atom per m3,merupakan salah satu bahan dengan kemurnian

35

tinggi yang pernah dihasilkan. Semua detektor germanium saat ini dibuat dengan
germanium yang kemurniannya tinggi, kecuali detektor dengan volume koaksial
tinggi untuk spektrometri sinar x dan sinar . Ketebalan detektor HPGe pada saat ini
umumnya digunakan dalam teleskop multidetektor untuk partikel bermuatan
berenergi tinggi.
Kegunaan dari detektor semikonduktor:
Detektor semikonduktor telah digunakan secara luas dalam sains nuklir dan
juga digunakan pada bidang-bidang lainnya, misalnya bidang geologi, penelitian
bahan, monitoring radiasi, sains lingkungan, penelitian luar angkasa, sains dan industri
biologi. Aplikasi-aplikasi dalam fisika nuklir sangat penting dalam hubungannya dengan
partikel bermuatan, spektroskopi sinar X dan sinar .

Gambar 9.

Tipe spektrum alfa dicapai dengan detektor penghalang permukaan


resolusi tinggi dengan luas 25 mm 2 pada suhu ruang.

36

Spektoskopi Partikel bermuatan: Pekerjaan awal di bidang ini berkaitan


dengan spektroskopi . Kemudian, dengan pengembangan detektor yang telah
dibahas di atas, pengukuran resolusi tinggi dengan partikel berenergi tinggi
menjadi sangat memungkinkan. Disamping itu, identifikasi tipe-tipe yang
berbeda, termasuk ion-ion berat yang diproduksi dalam energi tinggi reaksi nulir,
juga sangat dimungkinkan dengan menggunakan detektor ini.
Untuk spektroskopi pada energi rendah (beberapa MeV), detektor
penghalang permukaan umumnya digunakan. Tipe spectrum ditunjukkan pada
Gambar 9. Kalibrasi dari spektrometer menggunakan sumber terstandar sangat
penting untuk menciptakan hubungan antara energi dengan jumlah channel dari
MCA (multi channel analyzer).
Resolusi energi bergantung pada sejumlah faktor, termasuk statistik dari
proses ionisasi, penguraian energi di jendela dan tumbukan nuklir akibat proses
rekombinasi lubang-elektron, arus bocor detektor, noise elektronik dan lain-lain.
Untuk partikel yang lebih berat efek dari tumbukan menjadi sangat penting karena
membuat detektor ini menjadi lebih rendah daripada detektor ionisasi gas.
Identifikasi Partikel: Metode yang umum dipelajari menggunakan
perhitungan E (energi total) dan E (kehilangan sebagian energi) pada teleskop,
seperti diperlihatkansecara sistematik dalam Gambar 10a. Pencacah E (yang
seluruhnya dikosongkan) umumya tipis, sehingga partikel hanya kehilangan
sebagian energi saat melaluinya dan kemudian kehilangan energi totalnya di
dalam penghitung E. Sebuah metode sederhana dikembangkan oleh M.W. Sachs,
C. Chasman dan D .A. Bromley berdasarkan pada kenyataan bahwa
E E E Mz 2 .........................................................(5.5)
dimana M adalah massa dan z merupakan muatan partikel. Hubungan di atas
adalah bentuk dari persamaan Bethe-Bloch untuk energi yang hilang dan
persamaan energi total non-relativistik (lihat subbab 4.12).
Metode kedua mengacu pada S. Goulding dan kawan-kawan, juga
menggunakan sebuah teleskop EE berdasarkan hubungan rentang energi
empirik R = aEb dimana a dan b adalah konstanta. Hal ini memberikan
1
b
R a E E E b 2 .................................(5.6)
Mz

37

Untuk inti ringan (Z < 6), metode pertama kelihatannya sangat cocok.
Untuk 8 < Z < 20, metode kedua lebih cocok.
Banyak meode-metode lain juga telah dikembangkan.
Tipe spektrum partikel ditunjukkan pada Gambar 10b.

Gambar 10.

(a) Pencacah teleskop E- E, (b) Tipe spektrum partikel

Spektroskopi Sinar Gamma: Detektor Germanium yang didinginkan pada


suhu rendah banyak digunakan digunakan untuk spektroskopi sinar .
Detektor yang bekerja dengan ini termasuk detektor tipe p dan tipe n serta
detektor HPGe dan Ge(Li). Bentuk bidang dan koaksial digunakan. Ion yang
dimasukkan pada detektor germanium sudah tersedia pada saat ini, memiliki
jendela tipis yang dapat digunakan dalam rentang energi dari beberapa keV
sampai beberapa MeV. Pada Gambar 11 spektrum energi sinar

60

Co

diukur dengan spektrometer detektor germanium yang memiliki resolusi


tinggi. Sebagai pembanding, spektrum yang sama diukur dengan detektor
kilauan (scintillation) NaI(TI) yang menunjukkan keunggulan detektor
germanium.
Detektor germanium dengan resolusi energi 2 keV sekarang tersedia.
Resolusi hampir sama pada rentang temperatur 90 sampai 130 K. Di atas 150 K,
resolusi menjadi tidak baik.

38

Gambar 11.

Spektrum sinar gamma dari sebuah sumber 60 Co diukur dengan


detektor germanium yang dibandingkan dengan spektrum yang
diperoleh dengan detektor kilauan NaI(TI)

F. Metode Berdasarkan Penginderaan Cahaya


Pada metode ini sebuah partikel bermuatan melewati detektor menghasilkan
kilatan cahaya (tampak atau ultraviolet) yang dapat dideteksi dengan tabung foto
cahaya khusus yang sensitif yang mengubah sinyal cahaya menjadi sinyal listrik
dapat diperkuat dan dideteksi oleh rangkaian elektronik. Metode ini juga dapat
diterapkan untuk mendeteksi radiasi netral seperti sinar atau neutron. Kita akan
mendiskusikan dua instrumen penting berdasarkan metode penginderaan cahaya;
yaitu detektor kilauan (scintillation detector) dan detektor Cherenkov.
Mekanisme produksi cahaya pada dua tipe detektor sangat berbeda dan akan
dibahas pada bagian yang berlainan.
G. Detektor Kilauan (Scintillation Detector)
Ini merupakan salah satu bentuk awal dari detektor radiasi yang digunakan
oleh Rutherford dan kawan-kawannya yang menciptakan penemuan penting
dengan bantuan alat ini. Sekarang ini, kilauan tampak (kilatan sesaat dari cahaya
tampak) dihasilkan oleh radiasi datang yang diamati melalui sebuah mikroskop
yang dilengkapi sebuah layar dari beberapa bahan berkilau seperti fosfor dan
jumlahnya dihitung secara manual. Metode ini sangat rumit dan diperlukan waktu
adaptasi mata dalam ruang yang gelap. Sebuah layar seng sulfida (ZnS)
digunakan untuk deteksi partikel .

39

Saat ini perangkat elektronik berkecepatan tinggi telah dikembangkan untuk


mendeteksi kilauan yang terjadi dalam waktu nanosekon (10-9 detik) dan
menyeleksinya berdasarkan pada ukuran pulsa listrik dari spektrometrinya.
Selain digunakan sebagai pendeteksi partikel-partikel bermuatan seperti
sinar atau sinar , proton berkecepatan tinggi , deuteron, dan lain-lain,
metode ini telah digunakan secara khusus untuk deteksi sinarr dengan efisiensi
tinggi. Jika efisiensi intrinsik dari pencacah G-M hanya 0,1%, maka detektor
kilauan dapat mencapai 20%. Metode ini juga dapat digunakan untuk mendeteksi
neutron.
ZnS (biasanya diaktifkan dengan perak) merupakan kristal yang sangat
berguna yang digunakan seperti fosfor untuk mendeteksi partikel . Kristal organik
anthracene umumnya digunakan seperti fosfor untuk mendeteksi partikel . Kristal
ionik seperti sodium iodida diaktifkan dengan thallium, ditulis sebagai NaI(Tl),
banyak digunakan untuk deteksi sinar . Kristal-kristal lain yang biasa digunakan
adalah slilbene untuk mendeteksi partikel , CsI(Tl) untuk mendeteksi . Beberapa
bahan yang biasa digunakan skintilator disajikan pada Tabel 1.
Model Transfer Energi: seperti yang diketahui, dalam sebuah kristal, atomatom tersusun dalam susunan teratur dalam bentuk kisi. Pada kristal ionik,
tempat-tempat kisi secara bergantian didiami oleh ion positif dan ion negatif
(misalnya Na+ dan I-). Disana terdapat interaksi elektrostatis antara ion-ion yang
berdekatan. Sebagai hasilnya, tingkat energi dari elektron-elektron valensi tunggal
bergabung untuk menghasilkan pita energi yang besar. Ini dikenal sebagai pita
valensi (valence bands) yang merupakan karakteristik dari keseluruhan kristal. Ada
pita lain di atas pita valensi yang dikenal sebagi pita konduksi (conduction band)
yang dipisahkan dari pita valensi oleh celah energi, yang disebut daerah
terlarang (forbidden zone) dimana tidak terdapat elektron (lihat Bab XV, Vol I). Pada
kristal halogen, celah ini kemungkinan 6 sampai 8 eV.
Ketika partikel bermuatan dengan kecepatan tinggi melewati kisi kristal,
partikel tersebut akan mentransfer sedikit energi kepada elektron di pita valensi
dimana pada akhirnya akan mengisi pita konduksi yang biasanya kosong. Elektron
bergerak melalui kristal sampai elektron tersebut terperangkap atau cacat kristal yang
diakibatkan kerusakan pada struktur kristal atau akibat pengotor yang ditambahkan.

40

Lubang akan ditinggalkan pada pita valensi (yang berperilaku seperti partikel
bermuatan positif) juga bergerak melewati kisi Kristal.
Elektron yang terperangkap di dalam pita konduksi kemudian kembali ke
pita valensi terbawah. Dalam prosesnya, cahaya diemisikan dalam bentuk radiasi
fluoresensi (fluorescence radiation). Keseluruhan proses terjadi di dalam waktu
108 detik atau lebih kecil. Cahaya yang diemisikan bagaimanapun memiliki energi
yang terlalu tinggi (6 sampai 8 eV) yang termasuk dalam daerah tampak. Kehadiran
dari aktivator (seperti thallium dalam Nal) mengubah spektrum emisi menjadi
daerah tampak dalam proses deeksitasi. Beberapa tingkat pengotor sekarang
hadir dalam daerah terlarang dimana elektron dapat tereksitasi ke pita valensi .
Sebagai hasilnya foton memliki energi cukup rendah dan temasuk dalam daerah
tampak (lihat Gambar 12).

41

Tabel 1

42

Gambar 12.

Mekanisme kerja sebuah detektor kilauan dengan bahan inorganik

Untuk skintilator NaI (Tl), cahaya ouput sekitar satu foton per pasangan
elektron-lubang yang dibentuk sehingga proses cukup efisien. Spektrum emisi juga
diubah ke gelombang panjang (daerah tampak) untuk kristal yang transparan
(tembus cahaya). Jadi fluoresensi cahaya yang dipancarkan lepas dari
penyerapan dalam kristal dan dapat digunakan untuk membentuk pulsa listrik
dengan alat bantu yang sesuai. Untuk fosfor organik dengan struktur elektronik
dan , merupakan transisi antara bentuk elektronik yang menyebabkan
pendaran (luminescence) yang dapat diamati dalam proses kilauan.
Terpisah dari kristal inorganik dan organik, beberapa cairan telah dibuktikan
berguna sebagai skintilator. Cairan ini biasanya terdiri dari senyawa berkilau
(misalnya hidrokarbon aromatik) dilarutkan dalam sebuah pelarut organik (misalnya
toluene atau dioxane) pada kosentrasi sekitar 5 gram per liter. Diphenyl oxazole
atau p-Terphenyl juga biasa digunakan sebagai solusi untuk skintilator.
Beberapa gas inert, misalnya argon, krypton dan xenon telah ditemukan
sebagai skintilator. Gas-gas ini berguna untuk mendeteksi partikel bermuatan.
Gas-gas ini memiliki respon waktu yang cepat. Mereka memiliki keuntungan
karena ketiadaan kerusakan radiasi. Inilah yang membuat gas-gas ini memiliki
kegunaan khusus untuk fragmen fisi dan deteksi ion-ion berat dan pengukuran
energi yang hilang.
Biasanya spektrum emisi termasuk dalam daerah ultraviolet hampa udara.
Penambahan sejumlah kecil Xe ke Ar atau Kr mengubah spektrum asli menjadi
gelombang panjang untuk dicocokkan dengan tabung photomultiplier yang
digunakan. Sinyal keluaran skintilator ini merupakan fungsi linier dari energi
yang disimpan. Gas-gas mulia dalam bentuk dikondensasikan (misalnya Xe cair
atau Xe padat) juga berguna untuk diaplikasikan sebagai skintilator.

43

Deteksi sinar : Salah satu aplikasi penting dari detektor kilauan adalah dalam
medan deteksi sinar dan spektrometri. Karena bentuk skintilator yang dipadatkan,
peluang deteksi sinar lebih besar dari detektor menggunakan gas, misalnya
pencacah G-M. Sinar dilepaskan elektron dalam skintillator dengan salah satu
dari tiga proses yang dibahas dalam Bab VI, yaitu emisi fotoelektron, hamburan
Compton dan produksi pasangan elektron. Elektron-elektron berenergi tinggi
ini kemudian menghasilkan kilauan dengan mekanisme yang telah dibahas
sebelumnya. Karena peluang emisi fotoelektron (atau produksi pasangan)
meningkat cepat terhadap kenaikan jumlah atom, kehadiran elemen Z besar
dalam skintillator meningkatkan efisiensi deteksi . Untuk alasan ini, diantara
anorganik, iodida (misalnya NaI) lebih cocok karena nilai Z yang besar untuk
iodin (Z = 53). Untuk alasan yang sama CsI(Na) dan CsI(Tl) berguna sebagai
detektor setelah NaI(TI). Cs memiliki Z = 55. Bismuth germanat Bi4Ge 3012
merupakan krital lain dengan Z yang besar sekarang tersedia dengan volume besar
(Z untuk Bi adalah 83) dan berguna untuk mendeteksi dengan energi
menengah.
Tabung Photomultiplier:
Metode
pengembangan

modern
tabung

dari

pencacah

photomultiplier

kilauan
sejak

telah
tahun

difasilitasi
1945.

melalui

Gambar

13

menggambarkan diagram skematik sebuah tabung photomultiplier. T tutup tabung


yang terbuat dari kaca atau kuarsa pada salah satu ujung dilapisi sebuah lapisan
semitransparan dari semacam bahan photosensitive

seperti

Cs 3Sb dimana

merupakan sebuah senyawa sejenis logam caesium dan antimony.

Gambar 13.

Tabung photomultilier

44

Ini dikenal sebagai fotokatoda yang dilambangkan dengan C dalam


gambar. Ketika kilauan foton jatuh pada fotokatoda, elektron-foto dipancarkan
dengan efisiensi kuantum 20 sampai 30 persen. Efisiensi kuantum didefinisikan
sebagai perbandingan jumlah elektron yang dipancarkan terhadap jumlah foton
datang.
Di depan fotokatoda C, ada serangkaian elektron sekunder yang memancar
dipermukaan D1, D2, D3 dan seterusnya dikenal sebagai dynode. Kehadiran dynode
menimbulkan penggandaan jumlah elektron akhir yang dikumpulkan pada anoda A
untuk masing-masing elektron yang dipancarkan dari fotokatoda yang diakibatkan
kilauan foton sebelumnya. Dynode yang pertama D, diletakkan pada potensial positif
sekitar 80 sampai 100 volt terhadap fotokatoda C. Dynode berturut-turut diletakan
pada potensial positif yang sama terhadap dynode sebelumnya. Anoda A berada
pada potensial yang sama seperti dynode terakhir.
Ketika sebuah elektron yang aktif jatuh pada sebuah permukaan sensitif
dari dynode, elektron-elektron sekunder dipancarkan dari permukaan tersebut
dengan proses yang mirip dengan proses emisi fotoelektron. Perbandingan
jumlah elektron yang dipancarkan dari permukaan sensitif dynode untuk masingmasing elektron yang menumbuknya dikenal sebagai koefisien emisi elektron
sekunder (secondary electron emission coefficient). Jika koefisien emisi elektron
sekunder adalah N dan jumlah faktor penggandaan (jumlah dynodes) adalah n,
faktor penggandaan adalah Nn, dibuktikan disini bahwa tidak ada pengurangan
jumlah elektron pada perjalanannya dari satu dynode ke dynode lainnya.
Photomultiplier modern dengan menggunakan dynode berbahan misalnya

BeG,

MgO, Cs3Sb, memiliki nilai N dengan rentangan dari 5 sampai10. Anggap N = 5 dan
n = 10, kita peroleh faktor penggandaan untuk jumlah elektron
Nn = 510 = 107................................................................(6.7)
Jadi untuk masing-masing elektron yang dipancarkan fotokatoda, jumlah
elektron yang dikumpulkan pada anoda A adalah 107. Pada beberapa tipe terakhir
dari faktor penggandaan photomultiplier bernilai 109 atau lebih. Dengan beberapa
pengembangan bahan dynode akhir-akhir ini, misalnya gallium phosphide
yang dikotori dengan bahan tipe p seperti seng, nilai N = 40 dapat mencapai

45

tegangan interdynode 800 volt. Jadi penggandaan yang sangat tinggi hanya dapat
dicapai dengan beberapa bagian dynode.
Karakteristik waktu dari tabung photomultiplier ditentukan oleh waktu transit
elektron antar dynode yang sekitar 30 sampai 80 nanosekon. Penyebaran di waktu
transit ini disebabkan oleh sebaran kecepatan elektron dan perbedaan lintasan yang
dilaluinya diantara dynode. Penyebaran ini memberikan peningkatan batas waktu
kenaikan dari pulsa keluaran photomultiplier.
Rancangan Penghitungan Kilauan:
Sebuah detektor kilauan harus digandengkan dengan photomultiplier dalam
upaya untuk mengubah pulsa cahaya yang dihasilkan menjadi bentuk pulsa listrik
yang kemudian dapat diperkuat dan direkam oleh alat elektronik yang sesuai. Untuk
tujuan spektrometri, pulsa yang diperkuat diberikan ke penganalisa ketinggian
pulsa elektronik yang dapat berupa tipe multichanel (MCA) atau tipe chanel
tunggal. Pada bentuk MCA, pulsa dalam rentang amplitude yang berbeda direkam
secara bersamaan dan jumlahnya dihitung. Dalam MCA modern ada pengaturan
untuk merekam grafik/gambar otomatik yang juga diperlihatkan pada layar
oskiloskop katoda dimana amplitudo pulsa dalam rentang yang berbeda. Jadi hal
ini memungkinkan untuk menemukan puncak dalam kurva distribusi intensitas
seperti kasus foto-puncak dalam spektrometri yang didiskusikan dalam subbab
6.7f.
Sebagai pembanding, penggunaan penganalisa chanel tunggal memiliki
metode yang lebih sederhana.
Sebuah tipe susunan untuk menggandeng skintilator dengan tabung
photomultiplier ditunjukkan dalam Gambar 14a. Diagram balok dari rangkaian
ditunjukkan dalam Gambar 14b. Ini sangat menguntungkan untuk menyejajarkan
gandengan skintilator dengan permukan katoda dari photomultiplier, seperti yang
ditunjukkan dalam gambar. Dengan menggunakan reflektor misalnya sebuah
aluminium foil mengelilingi skintilator membantu meminimalkan cahaya yang
mencapai fotokatoda. Semua skintilator harus ditempatkan dalam kotak cahaya
yang sempit untuk mencegah cahaya yang jatuh pada fotokatoda. Selanjutnya,

46

sebuah kristal higroskopik, misalnya Kristal NaI(TI) harus diletakkan dalam kotak
tertutup untuk mencegah masuknya uap yang lembab.
Ketika pengaturan sejajar skintilator pada tipe photomultiplier tidak
memungkinkan, sebuah pipa ringan biasanya dibuat dari polimer metal metaklirat,
dapat digunakan untuk memandu cahaya secara efisien menuju ke fotokatoda.
Pulsa cahaya yang lemah ditransmisikan sepanjang pipa oleh refleksi internal
yang berulang-ulang terhadap dinding.

Gambar 14.

(a) Sebuah skintilator yang digandeng dengan sebuah tabung


photomultiplier, (b) diagram balok rangkaian pencacah kilauan

Bentuk Pulsa Listrik:


Pada Gambar 15 ditunjukkan sebuah susunan untuk bagian tegangan untuk
dynodes yang berbeda. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, dynode yang
berturut-turut diletakkan pada 80 sampai 100 volt positif. Elektron-elektron
dikumpulkan pada anoda akibat masing-masing kilauan jatuh pada fotokatoda
mencipakan kebocoran melewati hambatan yang besar sekitar 1 M. Jika C
adalah kapasitansi anoda dan kawat serta Q adalah muatan yang dkumpulkan pada
titik output, ketinggian pulsa V akan menjadi:

Q
C

Q dapat dikorelasikan dengan energi partikel bermuatan yang datang dari


sinar yang melewati fosfor.

47

Gambar 15.

Rancangan bagian-bagian tegangan untuk menyalurkan tegangan


dynode dalam sebuah tabung photomultiplier

Penjelasan lengkap spektrometri sinar menggunakan detektor kilauan akan


ditemukan pada subbab 6.7f.
H. Detektor Cherenkov
Ketika partikel bermuatan tinggi bergerak melewati sebuah medium
transparan yang indeks biasnya n dengan kecepatan v lebih besar dari kecepatan
radiasi elektromagnetik medium (v > c/n), kemudian diamati bahwa cahaya
tampak atau ultraviolet dipancarkan dalam arah tertentu terhadap arah gerak
partikel dalam medium. Pancaran radiasi tipe baru ini telah ditemukan oleh
ilmuwan Rusia P.A. Cherenkov (seorang mahasiswa pascasarjana) dan kemudian
dinamakan radiasi Cherenkov.
Meskipun Cherenkov menemukan radiasi baru dari cahaya garam uranyl
dibawah pengaruh sinar dari radium, dia sebenarnya telah menetapkan bahwa
kilauan cahaya itu disebabkan oleh partikel bermuatan (elektron yang
dilepaskan oleh sinar ) dari perubahan polarisasi dari radiasi yang dipancarkan
oleh medan magnet. Dia menemukan bahwa kerapatan radiasi bebas dari Z
medium sehingga tidak akan ada radiasi yang hilang.
Teori klasik radiasi Cherenkov dikaji ulang oleh Frank dan Tamm pada tahun
1937. Untuk penemuan dan penjelasan radiasi Cherenkov, ketiga orang ini
(Cherenkov, Frank dan Tamm) meraih Nobel pada tahun 1958.
Ketika sebuah partikel bermuatan yang memiliki energi tinggi bergerak
melewati sebuah medium, atom-atom atau molekul-molekul akan terpolarisasikan
pada lintasannya karena pengaruh medan listrik. Setelah partikel meninggalkan
medium, atom-atom atau molekul-molekul terpolarisasi ini akan kembali ke
bentuk asalnya. Sepanjang proses ini, partikel-partikel ini mengalami getaran
harmonik

teredam

(damped

harmonic

oscillation)

karena

radiasi

48

elektromagnetik. Jika medium bersifat transparan terhadap radiasi yang dipancarkan


dan jika gelombang yang dipancarkan saling berinterferensi konstruktif, maka radiasi
dapat dilepaskan dari medium. Ini terjadi hanya jika kecepatan partikel melebihi batas
yang telah diberikan. Pada kecepatan tinggi, kedua kutub (dipole) yang dihasilkan
diorientasikan sepanjang arah gerak partikel, yang memberikan kenaikan
koherensi gelombang yang dipancarkan oleh kedua kutub sepanjang lintasan
partikel dalam arah tertentu yang dapat dengan dengan mudah ditemukan.

Gambar 16. Muka gelombang yang dihasilkan selama terjadi energi radiatif yang
hilang oleh partikel berkecepatan tinggi. (a) v > c/n. (b) v < c/n

Mengacu pada Gambar 16, kita mempertimbangkan gerak sebuah partikel


bermuatan sepanjang garis lurus ABC. Dengan menganggap kecepatan v partikel
adalah tetap tidak berubah ketika bergerak antara titik A, B dan C yang sama
jaraknya, kita dapat menggambarkan gelombang sferik yang dipancarkan dari
dua posisi berurutan A dan B berdasarkan pada metode Huyghen. Kita notasikan
dengan lingkaran 1 dan 2 dengan masing-masing berpusat pada A dan B, dengan
jarak AB = vAt = BC. Disini t adalah waktu yang diperlukan oleh partikel
untuk bergerak antara dua posisi berturut-turut. Titik A ke titik B dan titik B ke
titik C. Kemudian kita dapat menggambar suatu permukaan menutupi gelombang
sferik yang berbeda pada waktu sesaat partikel mencapai C untuk menunjukkan
muka gelombang yang dipancarkan oleh partikel yang bergerak. Muka gelombang
ini memiliki bentuk kerucut dengan titik verteks di C seperti yang ditunjukkan
pada Gambar

16a ditunjukkan oleh dua garis lurus CE dan CG. Jika kita

menggmbar BE tegak lurus terhadap CE dari posisi partikel di B pada waktu


sesaat t, kemudian kita peroleh dari geometri,

49

BE
sin cos

BC

c n t
vt

1 .......................................(9.1)
n

dimana = v/c. BE adalah jarak yang dilalui gelombang sferik yang bergerak dari
B dalam waktu t dengan kecepatan c/n.
Karena cos harus kurang dari 1, keadaan dibawah permukaan kerucut
yang menghasilkan

yang telah ditunjukkan yaitu

1
atau v > c/n. Jadi
n

pancaran radiasi Cherenkov hanya mungkin terjadi jika v > c/n.


Kasus v < c/n ditunjukkan dalam Gambar 16b yang menunjukkan tidak ada
permukaan tangensial yang menutupi gelombang sferik 1 dan 2 berasal dari posisi
partikel berturut-turut di A dan B.
Untuk partikel dengan kecepatan tertentu, arah sinar tegak lurus terhadap
arah muka gelombang (sejajar terhadap BE dalam Gambar 16a). Karena ada
kemiringan dengan sudut tertentu terhadap arah gerak partikel dengan kecepatan
v, memungkinkan untuk menentukan v dari nilai , menggunakan persamaan 9.1.
Rentang nilai dari = v/c diberikan oleh:
1
1 ...................................................................(9.2)
n
Untuk

, = 0 sedangkan = 1, = max diberikan oleh:


1
max cos 1 ..............................................................(9.3)
n

Teori dari Tamm dan Frank memberikan pernyataan untuk jumlah foton
dalam interval frekuensi v ke v + dv yang dipancarkan oleh sebuah partikel dari
muatan ze untuk kecepatan tertentu v = c dalam sebuah medium berindeks bias
n:

ze
N v dv
0 hc 2

1
dv .............................................(9.4)
n 2
2

Pernyataan di atas menunjukkan bahwa (a) spektrum adalah sama untuk


partikel dari muatan ze yang sama (misalnya e, , , p); (b) untuk muatan yang
lebih tinggi N(v) meningkat terhadap z 2; (c) N(v) meningkat terhadap kecepatan

50

mulai dari 0 pada

1
sampai maksimum untuk = 1; (d) N(v) adalah tidak
n

bergantung padai v. Ini berarti karena energi foton E = hv, maka ada konsentrasi
energi dari frekuensi radiasi yang tinggi dalam spektrum yang menjelaskan
sejumlah besar warna biru keunguan yang dipancarkan oleh radiasi Cherenkov.
Intensitas radiasi umumnya lebih lemah. Ditemukan bahwa I cos2 yang
berarti bahwa intensitas besar untuk nilai yang kecil. Kecepatan partikel tinggi
1. Ini berarti bahwa intensitas meningkat dengan meningkatnya indeks bias n
medium. Jadi sangat penting untuk memilih medium berindeks bias tinggi
untuk memperoleh intensitas yang cukup. Hampir semua media yang
transparan terhadap cahaya tampak bersifat menyerap pita inframerah. Jadi
hanya radiasi cahaya tampak atau radiasi ultraviolet yang keluar dari media ini.
Radiasi Cherenkov yang keluar dari medium dapat dideteksi dengan bantuan
tabung

photomultiplier, seperti

pada

kasus

pencacah

kilauan.

Hal

ini

memungkinkan untuk mengidentifikasi partikel bermuatan dan mengukur


kecepatannya dengan bantuan pencacah Cherenkov. Berdasarkan arah emisi
radiasi, sangat mungkin untuk menentukan lintasan yang ditempuh oleh
partikel.
Persamaan (9.1) menentukan kecepatan minimum vmin= minc untuk emisi
radiasi Cherenkov. Dalam kasus ini nmin = 1 yang terjadi untuk = 0. Untuk
medium dengan indeks bias n = 1,5, kita temukan
vmin

c 3 108

2 108 m / s
n
1.5

Sehingga energi kinetik minimum dari sebuah partikel dengan massa M


untuk emisi radiasi Cherenkov adalah

1 min 2

Tmin Mc 2

1
.......................................(9.5)

Untuk n = 1,5, dengan min = 0,667 kita mendapatkan


Tmin = 0,342 Mc2 ..............................................................(9.6)
Untuk proton (Mc 2 = 938,3 MeV), kita peroleh Tmin = 321 MeV. Untuk poin
(c2 = 139,57 MeV), kita peroleh Tmin = 47,7 MeV.

51

Karena energi kinetik minimum untuk emisi radiasi Cherenkov berbeda


untuk tiap partikel, maka sangat mungkin untuk mengidentifikasi tipe-tipe
partikel dengan bantuan gerbang pencacah Cherenkov yang ditunjukkan pada
Gambar 17.

Gambar 17. Gerbang (threshold) pada detektor Cherenkov

Seperti yang diperlihatkan gambar, media radiasinya adalah silinder sepanjang


sumbu gerakan partikel. Jika kecepatan partikel adalah seperti > 1/n, emisi
radiasi Cherenkov dipancarkan pada sudut = cos -1 (1 /n) terhadap sumbu
silinder. Cahaya datang pada permukaan silinder dengan sudut
>

dimana

= /2 - . Jika

= sin-1 (1/n), keseluruhan cahaya direfleksikan secara total

menuju bagian kerucut dari radiator, dimana arah jatuhnya diarahkan pada
tabung katoda dari tabung photomultiplier dengan bantuan sebuah cermin datar.
Untuk melihat bagaimana pintu pencacah dapat mengidentifikasi partikelpartikel tertentu, anggap seberkas sinar yang terdiri dari n+ and proton yang
memiliki momentum sama: pn = pp = p.
Elektron-elektron terpisah yang bermomentum sama dapat dibuat oleh
sebuah medan magnetik, karena BR adalah adalah pengukuran momentum.
Kecepata n+ dan proton akan berbeda: (n+) > vp. Jika medium diseleksi sehingga
memiliki indeks bias yang memenuhi kondisi 1/ < n < 1/p, then n > I namun
p < 1. Ini berarti bahwa n+ akan menghasilkan radiasi Cherenkov dalam medium,
tetapi proton tidak. Jadi photomultiplier akan mencatat pulsa cahaya hanya jika
sebuah n+ melewati medium. Proton tidak akan tercatat.

52

Pemilihan medium untuk menghasilkan radiasi Cherenkov bergantung pada


rentang dari yang diperlukan untuk pengukuran. Plastik transparan sangat cocok
sebagai media. Cairan dan gas juga dapat digunakan. Bentuk lain dari pencacah ,
dikenal sebagai pencacah diferensial (differential counter) yang memiliki
kemampuan mengisolasi partikel dengan kecepatan tertentu.
I. Metode untuk Visualisasi Jejak Radiasi Ion
Partikel berenergi tinggi meninggalkan jejak berupa ion sepanjang
lintasan geraknya dalam sebuah medium. Dalam kondisi tersebut, kehadiran
ion-ion ini dapat diamati. Melalui kilauan yang baik, jejak ini dapat di foto
kemudian dipelajari perlahan-lahan untuk membuat suatu pengukuran yang
penting, misalnya jarak partikel, kerapatan ion sepanjang jejak tersebut,
hamburan, dan lain-lain. Jika suatu medan magnetik bekerja, maka jejak akan
mengalami kelengkungan. Jari-jari kelengkungan dari jejak ini akan
memberikan momentum partikel. Peralatan berdasarkan pada metode ini
yaitu ruang awan Wilson, ruang gelembung (bubble chamber) dan ruang
berpijar (spark chamber).
Pada detektor jenis lainnya, partikel ionisasi, saat melintasi suatu medium,
akan mengionisasi atom-atom medium sepanjang lintasan yang ditempuhnya
dan menghasilkan bayangan yang tersembunyi (latent image) dari jejak partikel.
Setelah mengalami proses kimia, bayangan tersembunyi tersebut akan
terlihat. Jenis ini termasuk detektor emulsi nuklir (nuclear emulsion
detector) dan detektor bentuk jejak padat (solid state track detectors).
Metode ini memiliki keuntungan yaitu memberkan rekaman permanen dari
suatu peristiwa. Bayangan tersembunyi dapat dihasilkan lama setelah
merekam peristiwa dilakukan. Jadi, detektor dapat dipergunakan pada tempat
yang berbeda dan proses dapat kembali dilakukan setelah alat tersebut
diistirahatkan.
J. Ruang Kabut Wilson
CTR Wilson dari Laboratorium Cavendish di Cambridge, Inggris,
merupakan orang pertama yang mengembangkan metode visualisasi jejak
dari partikel ion (pada tahun 1911). Alat yang dibuatnya pada mulanya

53

disebut ruang ekspansi (expansion chamber), sekarang ini dikenal sebagai


ruang kabut Wilson atau biasa disebut ruang kabut. Kerja ruang kabut ini
didasarkan pada penemuan Wilson pada tahu 1897 bahwa ion-ion bermuatan
dapat berperan seperti inti kondensasi air yang dimasukkan ke dalam debu
atmosfer bebas yang berasal dari pencampuran udara dan uap air di bawah
pengaruh kondisi super jenuh.
Diagram

skematik

mengilustrasikan

prinsip

kerja

ruang

kabut

ditunjukkan pada Gambar 18. A adalah ruang tertutup sempit yang berisi
udara atau sejenis gas yang dicampur dengan uap dari cairan-cairan yang
mudah menguap. Bagian depan dan bagian samping dari ruang ini terbuat
dari bahan kaca. Gas yang berada di dalam ruang ditekan atau diekspansi
dengan bantuan piston P. Permukaan piston umumnya dilapisi dengan bahan
berwarna hitam sehingga tidak ada cahaya yang dipantulkan dari permukaan
ini menuju kamera yang menghadap bagian depan ruang.

Gambar 18.

Diagram skematik dari sebuah Ruang Kabut Wilson

54

Jika piston tiba-tiba digerakkan, gas di dalam ruang akan mengalami ekspansi
adibatik, karena adanya perubahan suhu. Pada saat suhu turun, gas menjadi super
jenuh dengan uap air dan akan tetap seperti itu tanpa ada kondensasi uap, selama tak
ada inti yang muncul untuk kondensasi di dalam ruang gas. Tentu saja ini bukanlah
kondisi setimbang (equilibrium) dan kondensasi akan akan segera dimulai jika
beberapa inti kondensasi seperti debu partikel hadir di dalam campuran gas-uap.
Hal ini mengacu pada fakta bahwa kondensasi akan mungkin terjadi jika butiranbutiran tumbuh dari ukuran yang terentu. Jika tidak ada inti kondensasi yang muncul
maka butiran-butiran akan menunjukkan ukuran atomik.
Hasil pemikiran termodinamika menunjukkan bahwa tekanan uap jenuh
(saturation vapour pressure/S.V.P) pada permukaan melengkung lebih besar dari
permukaan datar dan diberikan dengan (Lord Kelvin, 1870)

2 M

r MT ....................................................

pr p exp

(10.1)

dimana r adalah jari-jari dari kelengkungan dari permukaan melengkung


(dianggap berbentuk sferik), adalah tegangan permukaan zat cair, M dan
adalah molekul-molekul ringan dan kerapatan zat cair. R adalah konstanta gas.
Perhitungan numeric untuk air pada 300 K, pr = 3 x 104 p untuk r = 10-10 m
(ukuran atomik), pr = 3p untuk r = 10-9 m, and pr = 1.1 p untuk r = 10-8 m. Ini
menunjukkan bahwa S.V.P. pada permukaan butiran sferik dari ukuran atomik
adalah sangat besar yang akan berevaporasi sesegera mungkin saat dibentuk
dalam atmosfer yang sangat jenuh. Butiran-butiran tersebut akan tumbuh dengan
ukuran yang besar. Di sisi lain, S.V.P. pada permukaan sferik yang besar
(misalnya sebuah partikel debu dengan jari-jari 10-8 m) adalah sebanding dengan
permukaan bidang. Oleh sebab itu, jika dianggap butiran cair dimulai dari ukuran
ini, butiran akan tumbuh besar dengan tingkat kejenuhan sekitar 1,1.
Misalkan V0 adalah volume dan T0 adalah temperatur dari campuran gas-uap
pada tekanan awal p0.Dengan menganggap uap dijenuhkan p0 adalah tekanan uap

55

jenuh pada tempertaur T0. Jika jumlah mol uap jenuh adalah

n0, kita dapat

menuliskan:
p0V0 n0 RT0 ..................................................................(10.2)
Anggap ruang diekspansikan dari V0 menjadi V sehingga temperatur turun
menjadi T. dari hukum adibatik gas, kita tuliskan:
T0V0 1 TV 1 ...............................................................(10.3)

dimana

. Jika tidak ada kondensasi uap setelah ekspansi (kondisi sangat

jenuh), kita dapat menuliskan:


p 'V n0 RT .................................................................(10.4)
dimana p adalah tekanan setelah ekspansi. Misalkan S.V.P. saat T adalah p maka
p < p. Jika sekarang ada kondensasi uap pada T, maka tekanan turun dari p
menjadi p sehingga kita dapatkan:
pV nRT ....................................................................(10.5)

dimana n adalah jumlah mol uap yang tersisa dalam campuran setelah kondensasi.
Dengan tidak adanya partikel-partikel debu dalam campuran gas-uap,
kondensasi akan mulai dari ukuran atomik yang umumnya tidak terjadi seperti
yang kita bahas di atas. Bagaimanapun jika ada beberapa ion-ion bermuatan
dibentuk di dalam campuran gas-uap segera setelah ekspansi, maka ion-ion ini
akan memfasilitasi terjadinya kondensasi.
Dapat dibuktikan bahwa untuk ion-ion bermuatan berjari-jari r, tekanan uap
jenuh pada permukaan melengkung berbeda dari persamaan (10.1) yaitu:
2
M 2 q k 1
pr p exp

....................(10.6)

2
4
RT r 32 0 kr
Ini diturunkan pada persamaan (10.1) untuk butiran tak bermuatan (q = 0).
disini k adalah konstanta dielektrik medium.
Gambar 19 menunjukkan gambaran dari log pr/p terhadap ukuran penuruan
(log r). Jika penurunan bertambah besar, tekanan uap harus lebih besar dari pr
seperi dalam persamaan (10.6).

56

Gambar 19.

Plot dari log pr/p terhadap penurunan ukuran

Hal ini akan terjadi bila perbandingan supersaturasi lebih besar dari ordinat yang
sesuai dalam Gambar 19. Menggunakan persamaan (10.4) dan (10.5) kita peroleh:
n
p'
S 0
...................................................................(11.7)
n
p
Jika s lebih besar dari maksimum dalam Gambar 19 ( 4,2), maka kondisi
tepat untuk pertumbuhan butiran-butiran bermuatan dari ukuran apa saja.
Untuk campuran udara-air dengan tekanan awal 1,5 atm dan temperatur
awal 22oC jika V/V0 = 1,26 maka kemudian dapat ditunjukkan sekitar 76% dari
uap akan memadat (condense) dimana rasio kejenuhan rata-rata adalah s = 4,2.
Akhir-akhir ini metode yang menggunakan ruang kabut Wilson didalamnya
memasukkan pengontrolan operasinya dengan pencacah Geiger-Muller, pertama
kali diperkenalkan oleh P.M.S. Blackett dan G.P.S. Occhialini pada tahun 1933.
Bahkan ada ruang ekspansi yang dikontrol dengan bantuan dua pencacah G-M,
satu diletakkan di atas dan satu lagi di bawah ruang yang saling dihubungkan
berdekatan. Lihat Gambar 19.10 dalam Bab XIX. Pulsa keluaran coincidence dari
pencacah digunakan untuk menyebabkan ekspansi ruang. Jadi, hanya ketika
partikel-partikel ionisasi melewati dua pencacah hampir bersamaan, maka akan
ada ekspansi ruang dan cahaya otomatis dari jejak partikel-partikel ionisasi di
dalamnya untuk tujuan fotografi. Setalah foto diambil, ion-ion akan dibersihkan
dari ruang dan kamera akan siap untk peristiwa berikutnya.
Ruang kabut telah digunakan bersama dengan kepingan baja didalamnya
untuk pengukuran partikel dan hilangnya energi partikel dan pengamatan
peristiwa nuklir, produksi sinar kosmik, dan lain-lain.
Ruang Difusi Kabut
Hal lain dari ruang kabut Wilson adalah ruang difusi kabut, dimana ada
kondensasi uap yang berdifusi karena ada gradien temperatur. Difusi ruang kabut
diilustrasikan

pada

Gambar 20. Pada

daerah hangat, uap

tidak

keadaan

jenuh,

sedangkan

daerah dingin, uap

mengalami

dalam
di

57

kejenuhan tinggi. Sebagian besar ruang terdapat difusi. Uap dimasukkan pada
bagian ujung yang hangat (bagian atas). Lokasi dan luasnya daerah
kejenuhan bergantung pada bentuk desain dan gradien temperatur dalam
ruang. Ruang difusi sangat mudah dibuat.

Gambar 20. Diagram skematik dari sebuah ruang difusi kabut

Daerah sensitif dalam ruang kabut tidak dapat diperluas sampai tempat
permukaannya.

Untuk

alasan

yang

sama,

sangat

tidak

mungkin

menempatkan penyerap kepingan lain untuk merekam reaksi nuklir didalam


ruang difusi. Lapisan sensitif dari ruang difusi memiliki ketebalan kurang
dari 3" dan tidak dapat dibuat vertikal untuk mendeteksi sinar kosmik .
Ruang difusi dapat dioperasikan denga gas hidrogen dengan kerapatan
relatif tinggi yang memungkinkan untuk digunakan untuk menghasilkan
eksperimen meson.
Ruang kabut Wilson memiliki sejarah yang besar dalam bidang energi
fisika. Untuk pertama kalinya rekaman jejak dari partikel bermuatan dalam
pemisahan yang direkayasa, jejak lompatan proton yang diatur gerakannya
oleh neutron, positron, percobaan sinar kosmik dan muon.
K. Ruang Gelembung (Bubble Chamber)
Meskipun ruang kabut Wilson telah memainkan peran penting dalam bidang
fisika energi tinggi, namun masih memiliki kekurangan. Kelemahan yang paling
penting adalah kenyataan bahwa jejak partikel-partikel ionisasi dibentuk dalam
gas yang memiliki kerapatan sangat rendah. Hanya ada sebagian jejak yang
terlihat sehingga peluang mengamati peristiwa nuklir sangat kecil.

58

Untuk mengatasi ini, Donold A. Glaser pada tahun 1952 mengembangkan


ruang gelembung dimana jejak dibentuk dalam cairan yang memiliki kerapatan
1000 kali lebih tinggi dari gas dan memiliki daya penghentian yang cukup tinggi.
Ruang gelembung ditunjukkan pada Gambar 21 yang di dalamnya
menggunakan cairan super panas dimana gelembung-gelembung tumbuh dari
ion-ion yang tertinggal pada jejak partikel-partikel ionisasi ketika melewati cairan.
Cairan dapat dipanaskan sampai temperatur di atas titik didihnya tanpa
mendidihkan, yaitu dengan menyimpannya pada tekanan tinggi. Ketika tekanan
dikurangi, gelembung-gelembung mulai terbentuk, terutama ion-ion yang dekat
pada jejak partikel ionisasi.

Gambar 21.

Diagram skematik dari sebuah ruang gelembung

Gaya yang bekerja pada sebuah gelembung tak bermuatan merupakan


tekanan luar p, tegangan permukaan mencoba mengurangi ukuran gelembung
dan tekanan uap pv mencoba mengekspansi gelembung. Teori pembentukan
gelembung menunjukkan bahwa suatu jari-jari kritis gelembung adalah
rc

2
pv p

Gelembung yang terbentuk di bawah jari-jari kritis akan berukuran kecil dan
menghilang, sedangkan gelembung yang dibentuk di atas jari-jari kritis akan terus
tumbuh. Gelembung-gelembung dimulai dengan pemanasan lokal karena
mendapatkan sinar pendek (elektron sekunder) yang dihasilkan dari ionsisasi
primer. Proses ini seperti menembus cairan dengan jarum panas.

59

Siklus operasional ruang gelembung terdiri dari beberapa langkah: (a) cairan
pada awalnya dipanaskan sampai temperatur di atas titik didihnya. (b) kemudian
disimpan dalam bentuk cair dengan menerapkan tekanan yang lebih besar dari
tekanan uap jenuh cairan. (c) tekanan diturunkan sehingga cairan menjadi super
panas. (d) ruang menjadi sensitif terhadap pembentukan gelembung pada ion-ion
selama beberapa detik sampai keadaan mulai normal. (e) dalam praktiknya, waktu
sensitif

dihentikan

selama

beberapa

milidetik

dengan

menekan

ulang

(recompressing) cairan yang akan menjaga proses mendidih. (f) siklus diulang
kembali.
Pertumbuhan gelembung terjadi sekitar 10 ms dan gelembung akan bertahan
selama waktu yang sama. Karena siklus kerja ruang gelembung tidak terlalu
cepat, kontrol pencacah tidak mungkin disertakan dalam operasinya, tidak sama
dengan ruang kabut. Bagaimanapun, ruang gelembung dapat dioperasikan dengan
cukup cepat dengan menggunakan pulsa sinar dari akselerator. Dalam kasus ini,
sinar partikel memasuki ruang tepat sebelum tekanan turun menjadi minimum.
Cahaya yang kuat kemudian dinyalakan selama beberapa milidetik untuk memoto
jejak.
Berbagai cairan telah digunakan dalam ruang gelembung. Pada mulanya
Glaser menggunakan etil eter untuk mengisi ruang yang kecil. Kemudian, cairan
hidrogen, deuterium dan helium telah digunakan. Ini memiliki beberapa
keuntungan yaitu memiliki inti sederhana, namun titik didihnya sangat rendah.
Ruang hidrogen harus dioperasikan pada temperatur 26 K. Cairan berat seperti
pentane, propane, dan xenon juga digunakan karena daya penghentian yang
tinggi, meskipun masing-masing intinya kompleks.
Beberapa karakteristik yang penting dari beberapa cairan ruang gelembung
disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2
Liquid used
H2
D2
He
Propana

Operating
temperature (oC)

Density
(kg/m3)

Pressure
(atm)

dE
(MeV/m)

dx min

-246
-241
-269
58

60
130
130
430

5
7
1
21

24
22
21
100

60

Pentane
Xenon

157
-20

500
2300

23
26

11.000

Ruang gelembung hidrogen dengan ukuran yang luas telah dibuat untuk
eksperimen fisika partikel. Pada tahun 1959, L.W. Alvarez di Laboratorium
Lawrence Barkeley, membangun sebuah ruang gelembung sepanjang 72 dengan
diameter 30 terdiri dari 520 liter cairan hidrogen. Dalam beberapa tahun terakhir
ini ruang gelembung yang besar, dengan diameter beberapa meter, telah dibuat
dengan terdiri dari ribuan liter hidrogen cair telah dibuat. Salah satu contohnya
dibuat di Prancis pada tahu 1970an yang memang dirancang untuk pengukuran
neutrino dan digunakan untuk verifikasi teori elektro lemah. Ruang gelembung ini
hampir dua puluh kali lebih besar dari ruang-ruang lain yang sebelumnya ada di
Eropa. Ruang ini dinamakan Gargamelle. Gargamelle terdiri dari sebuah tangki
freon yang dilapisi dengan ribuan ton kawat baja dan tembaga (panjang beberapa
kilometer) yang menghantarkan arus dari generator enam megawatt untuk
menguatkan elektromagnet dalam membelokkan jejak partikel yang dibentuk di
dalam ruang.
Ruang gelembung umumnya digunakan dengan menghubungkannya dengan
elektromagnet untuk menentukan tanda dari partikel dan momentum partikel.
Medan magnet yang digunakan harus tinggi (2 T atau lebih). Dalam beberapa
tahun terakhir magnet superkonduksi telah digunakan.
Ruang gelembung modern sangatlah kompleks dan sangat mahal. Biayanya
sangat besar dan sebanding dengan harga akseleratornya.
Ruang gelembung menjadi alat yang sangat diperlukan dalam penelitian
fisika partikel. Untuk penggunaan yang efektif, jutaan gambar harus direkam
dengan cepat oleh metode semiotomatis. Keluaran dari alat perekam dihubungkan
ke ckomputer dan dianalisis. Untuk memfasilitasi kerja alat perekam dan analisis,
gambar dihasilkan dalam laboratorium besar yang sekarang ini didistribusikan
pada pekerja-pekerja di seluruh dunia yang merekam gambar dan menganalisis
peristiwa untuk informasi yang berguna.
Fotografi dari beberapa jejak partikel ionsiasi yang dihasilkan dalam ruang
gelembung ditunjukkan pada Gambar 22.

61

Gambar 22. Foto dari beberapa jejak partikel yang diambil dari ruang gelembung

L. Ruang Percikan (Spark Chamber)


Ruang percikan merupakan alat lain yang digunakan untuk visualisasi jejak
partikel ionisasi. Dalam ruang percikan, terdapat setumpuk kepingan baja sejajar
disusun dengan jarak yang berdekatan dan dikelilingi dengan semacam gas mulia,
misalnya neon, pada tekanan sekitar 1 atmosfer (lihat Gambar 23). Impuls
tegangan 10 sampai 15 kilovolt dihubungkan pada kepingan yang berupa sinyal
dipicu oleh sebuah teleskop pencacah sekitar 0,3 s. Sekitar 0,1 s kemudian
sebuah longsoran elektron dibangun sepanjang jejak ionisasi yang dihasilkan oleh
partikel ionisasi yang datang. Peristiwa ini memberikan kenaikan percikan yang
terang yang bisa di foto. Waktu sensitif adalah sekitar 0,5 s. Pulsa tegangan
tinggi diputus seketika oleh pelepasan yang menghilang dalam waktu 0,1 s.

Gambar 23. Diagram skematik sebuah ruang percikan

62

Medan ( 10 kV/m) kemudian diterapkan untuk menyapu bersih ion dari gas
dan ruang siap digunakan untuk peristiwa berikutnya.
Karena waktu sensitif yang sangat singkat, ruang percikan dapat dioperasikan
dalam sinar yang kuat (sekitar 106 partikel tiap detik) dan masih dapat merekam
partikel-partikel tunggal.
Foto-foto dari percikan dapat dianalisis, seperti dalam kasus ruang
gelembung. Koordinat jejak dapat didigitalkan dengan bantuan sebuah tabung
gambar. Metode lain koordinat jejak adalah dengan menggunakan transduser
untuk mengambil bunyi percikan di tepi ruangan.
Dalam beberapa alat lain, kepingan-kepingan digantikan oleh dua kawat
parallel yang diletakkan saling tegak lurus. Arus mengalir di dalam kawat yang
dekat dengan percikan memberikan koordinat jejak. Dalam contoh ini, fotografi
ruang sangat dihindari.
Dua ilmuwan Jepang, Fukui dan Miyamoto, telah menunjukkan bahwa
dengan gas mulia yang digunakan untuk mengisi ruang percikan, adalah sangat
mungkin untuk mencatat jejak karena pelepasan percikan mengikuti lintasan
partikel yang sebenarnya.
Jejak dalam ruang kepingan-kepingan umumnya terputus-putus. Namun,
dengan jarak yang cukup lebar antar kepingan (sekitar 0,4 meter) jejak akan
muncul tidak terputus. Ini memungkinkan untuk mengidentifikasi puncak dari
kejadian-kejadian yang berbeda.
Analisis magnetik jejak menghasilkan informasi tentang muatan partikel
ionisasi dan momentumnya. Namun, informasi yang dihasilkan ruang percikan
tidaklah seakurat ruang gelembung.

63

Gambar 24. Jejak partikel dalam sebuah ruang percikan

M. Teknik Emulsi Nuklir


Salah satu teknik awal untuk mendeteksi radiasi nuklir dalah menggunakan
emulsi fotografi. Bahkan Becquerel menemukan radioaktivitas dengan bantuan
emulsi fotografi. Ketika keping fotografi terkena radiasi nuklir, butir perak
bromida menjadi berkembang. Sebenarnya ada tiga teknik berbeda yang bisa
digunakan. Yang pertama (dan paling awal) didasarkan pada penghitaman emulsi
yang telah terkena radiasi. Dengan metode pertama hanya dapat mendeteksi
keberadaan radiasi. Tidak ada pengukuran secara kuantitatif. Metode kedua,
dikenal sebagai autoradiografi, menunjukkan distribusi bahan radioaktif dalam
jaringan biologi dan bahan-bahan lain.
Pada saat ini, teknik emulsi nuklir menarik perhatian ilmuwan fisika
berdasarkan pada perekaman jejak partikel ionisasi tunggal dalam emulsi
fotografi, dimana bahan fotosensitif (AgBr) dimunculkan dalam konsentrasi besar
(sekitar 3 sampai 4 kali) lebih dari keping fotografi. Emulsi juga dibuat sedikit
tebal (antara 25 sampai 2000 mikron dibandingkan 2 atau 3 mikron dalam keeping
biasa). Lebih lanjut lagi, butir perak bromida berukuran cukup kecil dalam emulsi
nuklir (diameter 0,1 sampai 0,6 ) lebih dari keeping biasa.
Ketika partikel ionisasi berenergi tinggi melewati emulsi, partikel ini akan
meninggalkan bekas berupa ion-ion sepanjang lintasannya. Ionisasi ini akan
memberikan efek butir AgBr dan menghasilkan bayangan jejak yang tersembunyi,
yang akan terlihat pada perkembangan keping. Salah satu sifat penting dari keping
emulsi nuklir dibandingkan terhadap emulsi optikal disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3
Characteristics of the emulsion
Ratio of AgBr to gelatin (by mass)
Ratio of AgBr to gelatin (by volume)

Nuclear emulsion
80 : 20
45 : 55

Optical emultion
47 : 53
15 : 85

64

Grain diameter ()
Grain separation (
Thickness ()
Light sensitively
-particle response
-particle response
-ray response

0.1 to 2000
Well separated
25 to 2000
Poor
Individual tracks
Faint fogging
Very little

1 to 3.5
Interlocking
2 to 3
Very height
Dense blackening
Moderate blackening
Slight blackening

Sensitivitas emulsi untuk mendeteksi partikel-partikel berbeda jenis


bergantung pada ukuran butir. Partikel memerlukan keping yang tidak terlalu
sensitif untuk merekam jejaknya. Jadi, bagian fisi, memerlukan sedikit emulsi
sensitif, sedangkan elektron berenergi tinggi memerlukan emulsi sensitif yang
tinggi.
Ilford dari Inggris dan Kodak dari Amerika merupakan dua perusahaan
yang memiliki spesialisasi meproduksi keeping emulsi nuklir. Emulsi Ilford D-1
(diameter butir 0,12 ) umumnya digunakan untuk mendeteksi potongan fisi dan
partikel . Emulsi Ilford C-2 cocok untuk merekam jejak proton dan meson.
Emulsi Ilford G-2 (diameter butir 0,18 ) digunakan untuk merekam elektron
berenergi tinggi. Sensitivitas emulsi untuk tipe-tipe partikel tertentu juga sangat
bervariasi maka sangat penting mengontrol perkembangan proses.
Karena jejak partikel dihasilkan dalam emulsi itu sangat pendek, maka harus
dilihat menggunakan mikroskop berdaya tinggi (tipe imersi-minyak). Mikroskop
khusus telah dikembangkan untuk tujuan seperti ini.
Karena emulsi nuklir cukup tebal, maka diperlukan pengembangan yang
memakan waktu cukup lama. Teknik khusus digunakan untuk mengembangkan
dan menentukan keping. Selama fiksasi, emulsi mengalami penyusutan. Faktor
penyusutan harus dilibatkan dalam upaya mengukur panjang jejak yang tepat.
Emulsi dapat diisi dengan bahan-bahan radioaktif dan panjang jejak partikelpartikel yang dipancarkan oleh bahan-bahan ini dapat diukur setelah
pengembangan. Sebagai contoh, dalam emulsi yang diisi oleh uranium atau
thorium, partikel dari bahan radioaktif ini dan produknya, menghasilkan jejak
yang memiliki rentangan panjang pada kisaran 20 sampai 50 mikron. Di lain
pihak, partikel sinar kosmik berenergi tinggi akan memiliki rentang beberapa ribu
mikron. Emulsi yang dipotong biasanya digunakan untuk merekam jejak-jejak
partikel. Tumpukan potongan emulsi diletakkan pada lintasan partikel. Setelah

65

eksposur, potongan-potongan dibuka dan emulsi tunggal diletakkan di atas keping


kaca.
Metode emulsi fotografi memiliki keuntungan selain penggunaan metode
ruang kabut yaitu emulsi bersifat padat, jejak partikel berenergi tinggi memiliki
bentuk yang cukup pendek. Oleh karena itu jejak partikel sepanjang rentang
keseluruhannya dapat dipelajari dengan menggunakan metode ini.
Teknik emulsi nuklir berguna untuk mendeteksi partikel bermuatan. Teknik
ini juga dapat diadaptasikan untuk mempelajari neutron. Neutron berenergi tinggi
menurunkan proton dalam emulsi. Proton-proton ini menghasilkan jejak dalam
emulsi. Dari studi arah pancaran proton terhadap arah pancaran neutron sangat
memungkinkan untuk memperkirakan energi neutron dengan mengukur rentang
proton (yang akan memberikan energi proton). Untuk mendeteksi neutron yang
lemah, emulsi diisi dengan litium atau boron yang memiliki neutron bersuhu
tinggi untuk reaksi 6Li (n, ) 3H dan 10B (n, ) 7Li. Dari pengukuran pada jejak
dari hasil reaksi, sangat mungkin untuk mendapatkan informasi tentang sinar
neutron yang datang. Energi sinar gamma lebih besar dari 2,7 MeV dapat
dideteksi melalui reaksi foto-disintegrasi pada deuteron menggunakan emulsi
yang dimuati senyawa deuterium.
Pengukuran dilakukan pada jejak partikel ionisasi dalam rentang emulsi,
variasi kerapatan butir sepanjang jejak dan sudut kecil dari hamburan partikel
akibat tumbukan dengan inti atom di dalam emulsi.
Dari pengukuran ini, sangat mungkin untuk mendapatkan informasi tentang
muatan, massa, dan energi partikel. Hubungan empiris telah disusun dari
eksperimen antara besaran yang diukur dan beberapa besaran-besaran fisika yang
sesuai.
Jadi variasi kerapatan butir sepanjang jejak, dn/dx, dihubungkan terhadap
energi yang hilang dari partikel dE/dx, oleh persamaan

dn
dE
A 1 exp z

dx

dx

........................................(13.1)

dimana A, , dan merupakan konstanta dan ze muatan pada partikel.

66

Jika m adalah massa partikel dinyatakan dalam satuan massa proton, maka
energi kinetiknya E dihubungkan terhadap jangkauan R dengan hubungan
E Cz 2 m1 R .....................................................................(13.2)

dimana C dan konstanta. Hubungan jangkauan-energi umumnya digambarkan


secara grafik untuk tipe-tipe emulsi partikel tertentu. Dari kurva proton, satu per
satu partikel bermuatan dapat ditentukan, menggunakan hubungan yang telah kita
ketahui (lihat subbab 4.12). Grafik jangkauan-energi sedikit bervariasi dari satu
tip eke tipe yang lain. Gambar 25 menunjukkan tipe grafik jangkauan-energi
untuk proton, partikel , deuteron, dan triton dalam emulsi Ilford C-2.
Jumlah akhir total butir yang diamati pada jejak n adalah
n Bz 2 v m1v R v ......................................................................(13.3)

dimana B dan v dua konstanta.


Persamaan lain yang berguna berhubungan dengan nilai rata-rata sudut
hamburan yang diproyeksikan jejak pada sebuah bidang tegak lurus terhadap garis
pengamatan untuk panjang jejak muatan t dengan momentum partikel p.

kz t kz t
.................................................(13.4)

pv
W2

dimana k adalah konstanta dan v

adalah kecepatan partikel. <> adalah

pengukuran yang mengikuti sebuah jejak dan mengukur arahnya pada interval
jarak yang sama (ditentukan oleh energi partikel). Untuk ketepatan, digunakan
busur derajat. Perpindahan jejak untuk panjang tertentu dapat menghasilkan nilai
<>. Untuk pengukuran kerja energi tinggi dari <> adalah sangat penting
karena memberikan informasiyang dipercaya tentang energi total partikel yaitu W
= E + m0c2.

67

Gambar 25.

Kurva rentangan energi dari berbagai partikel dalam


emulsi Ilford C2

Beberapa keuntungan dari teknik emulsi nuklir adalah:


a. Metode ini sangat sederhana dan murah dan tidak memerlukan elaborasi
elektronik dan mekanika yang rumit.
b. Kesensitifannya permanen.
c. Menjadi medium padat, jejak yang padat dengan variasi energi tinggi partikel
dapat dicapai melalui emulsi nuklir.
d. Jejak dari tipe-tipe partikel berbeda memiliki karakteristik yang berbeda pula
dan dapat dibedakan satu sama lain.
e. Cocok untuk mempelajari sinar kosmik pada ketinggian tertentu.
Aplikasi Emulsi Nuklir
Teknik emulsi nuklir telah digunakan untuk mempelajari eksperimen
hamburan. Sifat-sifat, jumlah partikel yang dihamburkan dan orientasi sudutnya,
dan lain-lain. Aktivitas alfa dan beta pada bahan-bahan telah direkam dan
dipelajari dengan menggunakan emulsi nuklir. Dalam beberapa kasus lain, inti
dianggap sebagai sesuatu yang stabil menggunakan teknik ini.
Aplikasi teknik emulsi nuklir telah diterapkan dalam penelitian sinar kosmik.
Teknik ini secara khusus menyesuaikan dengan mudah terhadap balon yang
terbang pada ketinggian. Bintang nuklir dihasilkan oleh sinar kosmik dan partikel
berenergi tinggi dari akselerator telah dipelajari dengan teknik emulsi nuklir.
Teknik emulsi nuklir telah digunakan untuk mempelajari meson. Banyak
penemuan penting dengan teknik ini terutama dalam bidang sinar kosmik.
Banyak studi penting yang telah dilakukan dalam bidang fisika neutron
menggunakan emulsi nuklir, termasuk hamburan spektrum energi neutron dan
pengukuran fluks neutron.

68

Emulsi nuklir dalam auto-radiografi


Emulsi nuklir digunakan secara ekstensif dalam auto-radiografi. Elemenelemen dalam studi ini ditandai dengan adanya radioisotop. Posisi radioisotop di
dalam sistem diindikasikan oleh jejak dalam emulsi nuklir yang dihubungkan
langsung dengan sistem. Auto-radiografi digunakan dalam bidang botani, biologi,
kristalografi, dan metalurgi.
N. Detektor nuklir jejak zat padat
Saat sebuah partikel bermuatan dengan energi tinggi bergerak melewati zat
padat, eksitasi dan ionsiasi atom-atom dalam medium menyebabkan kerusakan
bahan sepanjang lintasan yang dilalui partikel.
Dalam beberapa bahan, daerah kerusakan dapat dilacak dengan asam yang
kuat atau basa yang cocok untuk memecahkan masalah kerusakan ini sehingga
jejak akan terlihat. Jenis detektor ini dikenal sebagai detektor nuklir jejak zat
padat.
Bahan-bahan yang digunakan pada detektor ini adalah zat padat inorganik
misalnya mika, kaca, dan beberapa bahan mineral. Beberapa zat padat organik
juga bisa digunakan. Beberapa diantaranya dijual dalam bentuk plastik, misalnya
nitrat selulosa, selulosa asetat butirat, polietilen trepalat, dan polikarbonat. Dalam
beberapa tahun terakhir, beberapa plastik khusus telah dikembangkan yang
mendukung kerja detektor (misalnya CR 39).
Sifat jejak yang terekam pada bahan-bahan yang berbeda bergantung pada
energi partikel yang hilang dalam medium. Bahan yang berbeda memiliki
perbedaan batas pelacakan (etching threshold) yang khusus dari energi yang
hilang. Secara umum, bahan-bahan mineral memiliki batas yang tinggi sehingga
hanya ion-ion yang relatif berat yang dapat direkam jejaknya. Salah satu bahan
yang sering digunakan adalah plastic CR 39 yang dapat merekam partikel dengan
Z2/ yang memiliki rentangan nilai dari 6 sampai 100 dimana Ze merupakan
muatan ion, dan = v/c. Bahan ini biasanya tidak sensitif terhadap sinar , namun
berguna untuk spektroskopi sinar .
Bahan pereaksi yang digunakan untuk melacak meliputi HF untuk mika dan
kaca sedangkan untuk plastik sering menggunakan NaOH dan NaClO. Kegiatan

69

pelacakan dilakukan pada temperatur kontrol yang berlangsung selama beberapa


detik sampai beberapa menit untuk kaca dan mika, sedangkan perlu waktu
beberapa jam untuk plastik.
Untuk CR-39 kegiatan melacak dilakukan selama 8 sampai 32 jam pada
temperatur 700C dalam 6 N NaOH. Waktu lacak sangat penting. Harus diingat
bahwa kegiatan pelacakan ini menyerang medium pada bagian yang rusak dan
bagian yang tidak rusak dengan kelajuan yang berbeda. Pada akhirnya, kelajuan
pelacakan akan menjadi lambat.
Metode pelacakan lain dikenal dengan metode elektrokimia yang membuat
jejak di plastik cukup jelas untuk diamati dengan mata telanjang.
Jejak yang dilacak dapat diamati melalui mikroskop optik. Untuk pemindaian
yang cepat, metode pencacahan percikan digunakan dimana sebuah percikan
dilewatkan melewati bagian yang akan dilacak dan menghasilkan pulsa listrik
yang secara elektronik dapat dihitung. Detektor nuklir jejak zat padat dapat
digunakan untuk identifikasi partikel nuklir dan pengukuran energi partikel
dengan resolusi tinggi. Detektor jejak ini memiliki keuntungan yaitu dapat
digunakan untuk lingkungan yang berbeda. Alat ini memberikan rekaman
peristiwa yang tetap. Harganya murah dan mudah digunakan.
O. Nuklir Elektronik
Hampir semua keluaran (output) dari detektor radiasi berupa sinyal listrik.
Didalamnya terdapat rangkaian listrik yang sangat bervariasi untuk dirangkai
dengan detektor radiasi nuklir. Pada awalnya, peralatan ini dibuat berdasarkan
pada tabung hampa udara yang sekarang telah digantikan oleh transistor dan dioda
semikonduktor. Pada saat sekarang ini, chip mikroprosesor telah diperkenalkan
yang melaksanakan fungsi zat padat dalam rangkaian elektronik.
Sinyal keluaran dari hampir semua detektor merupakan sifat dasar dari pulsa
listrik dengan waktu naik (rise time) yang sangat cepat. Karena amplitudo yang
dimiliki sangat kecil, maka pulsa tersebut harus diperkuat oleh

sebuah

preamplifier yang dipasang dekat ke detektor diikuti oleh penguat utama yang
diletakkan lebih jauh. Preamplifier harus mampu mengirimkan pulsa keluaran
menuju penguat utama melalui kabel koaksial yang panjangnya beberapa meter.

70

P. Pembentukan Pulsa
Pulsa keluaran (output) dari detektor radiasi bertindak menurut pulsa
masukan (input) pada suatu rangkaian elektronik. Pulsa-pulsa ini biasanya
memiliki waktu naik (rise-time) yang sangat cepat, diikuti oleh waktu luruh
(decay-time) yang lebih lama. Dalam banyak kasus, waktu naik cukup cepat untuk
didekati oleh kenaikan pembagi yang dihasilkan oleh fungsi step. Pembagian ini
bertahan untuk beberapa mikrodetik yang sangat penting untuk sinyal akhir.
Sistem penguat mengkonversi step masukan menjadi sederetan pulsa yang
mempertahankan waktu kejadian dan mempertahankan ukuran sinyal detektor.
Sistem ini juga mencegah kelebihan gain tinggi dari suatu penguat.
Penguat pulsa tidak hanya memperkuat pulsa, tetapi juga mempertajam
bentuk sinyal masukan. Pembentukan pulsa diperlukan untuk mempersingkat
waktu respon pulsa dan untuk mencegah adanya tumpang tindih pada perhitungan
dengan kelajuan tinggi, sehingga efek penimbunan dapat dikurangi. Penguat juga
meningkatkan sinyal menjadi rasio noise dan membuat penguatan yang bebas dari
variasi waktu naik pulsa masukan.
Pencegahan tumpang tindih pulsa pada perhitungan dengan kelajuan tinggi
memerlukan daya pemutusan yang tinggi, yaitu terkait dengan waktu pemutusan
yang sangat pendek. Waktu pemutusan adalah waktu minimum yang harus
dilewati antara dua pulsa berurutan yang datang jika keduanya dihitung sebagai
bagian yang terpisah. Penurunan waktu naik, waktu luruh dan durasi pulsa,
kesemuanya meningkatkan waktu pemutusan. Waktu pemutusan juga naik
terhadap tinggi pulsa.
Metode pembentukan pulsa:
(a) Pembentukan pulsa RC
Pembentuk RC menggunakan sebuah diferensiator pada ujung input dan
sebuah integrator pada ujung output. Dasar rangkaian diferensiasi dan integrasi
ditunjukkan pada Gambar 26 a dan b. Bentuk pulsa output untuk step masukan
dan kotak masukan (square input) juga ditunjukkan pada gambar tersebut.
Metode pembentukan pulsa RC diilustrasikan pada Gambar 26c. Pada bagian
input penguat A, rangkaian pendiferensiasi RC melakukan cut off komponen pada
frekuensi rendah. Nilai R1 dan C1 menentukan cut off pada frekuensi rendah.

71

Waktu pemotongan dari suatu penguat adalah 1 = R1C1. Bagian output


memiliki rangkaian integrasi RC, nilai R2 dan C2 menentukan cut off pada
frekuensi tinggi. Hal ini juga mempengaruhi waktu naik dan waktu luruh pulsa.
Konstanta waktu dari rangkaian integrasi adalah 2 = R2C2.
Untuk sinyal step input Vo berhubungan dengan pulsa sinyal input berasal
dari muatan CoVo yang ada pada detektor. Sinyal keluaran adalah
t
t
GV0 1
e0
exp exp
1 2
1
2
persamaan di atas mengakibatkan konstanta waktu rangkaian input adalah sebesar
o = R0C0 lebih lama dari 1. G adalah gain. Bentuk sinyal output ditunjukkan pada
Gambar 26d.

Gambar 26.

(a) Rangkaian diferensiasi.


(b) Rangkaian integrasi

(c) Rangkaian pelemah RC


(d) Pulsa output sebuah step input untuk
pembentuk pulsa RC

(b) Pembentukan pulsa menggunakan delay line


Sifat dasar dari delay line adalah ketika rangkaian ini dihubungkan dengan
hambatan Ro, sebuah tegangan pulsa diberikan pada salah satu ujung maka tidak
akan terjadi perubahan pada ujung lainnya setelah waktu LC, dimana L dan C
adalah induktansi dan kapasitansi per satuan panjang dari delay line. Jika terminal
luar dihubungkan dengan hambatan R maka sinyal dipantulkan dengan koefisien r
= (R Ro)/(R+Ro) dan akan muncul kembali pada ujung input. Untuk rangkaian
yang terbuka, pada ujung terluar (R = ), r = 1 maka akan ada pemantulan
sempurna dan pulsa dipantulkan ke atas pulsa input.
Pembentukan pulsa menggunakan delay line tunggal
Rangkaian delay line tunggal yang ditunjukkan pada Gambar 27. Dengan
menganggap sebuah fungsi step input dikerjakan pada delay line (DL) melewati

72

Ro dan ujung lain dihubung singkat. Fungsi step input dan fungsi step yang
dipantulkan ditunjukkan di sebelah kanan, TD adalah waktu delay total. Sinyal
yang dihasilkan adalah pulsa kotak (abcd) yang terjadi karena superposisi input
dan fungsi step dipntulkan (abe dan dfg) yang ditunjukkan pada gambar.
Pulsa yang dibentuk delay line berguna ketika sinyal detektor ada di atas
noise penguat. Metode ini sangat bermanfaat untuk pencacah kilauan (pencacah
scintillation).

Gambar 27.

Rangkaian pembentukan pulsa dengan menggunakan delay line

Q. Penguat Pulsa
Sinyal yang diterima dari detektor harus memiliki penguatan yang sesuai
untuk

dapat memfungsikan rangkaian pencacah. Persyaratan khusus yang

diperlukan untuk penguat pulsa adalah pembentukan pulsa, sinyal tinggi terhadap
rasio noise, gain, amplitudo maksimum sinyal output, polaritas, stabilitas,
linearitas, toleransi overload dan susunan fisik alat.
Gain salah satunya meliputi tegangan sensitif penguat atau sensitivitas
muatan yaitu tegangan output per satuan muatan input untuk sebuah penguat
muatan sensitif. Gain akan diperoleh bila tingkat noise lebih rendah dibandingkan
sinyal utama. Gain maksimum umumnya bernilai 106. Harus ada suatu
perencanaan untuk mengontrol gain untuk kemanfaatan dari penguat.
Impedansi output penguat harus diusahakan rendah yang seringkali kurang
sesuai dengan tegangan tinggi pada output. Sehingga dalam praktiknya biasanya
diberikan dua rangkaian output, yang satu dengan impedansi rendah dan yang satu
lagi dengan impedansi tinggi.
Stabilitas penguat merupakan syarat penting. Balikan negatif umumnya
digunakan untuk mencapai stabilitas. Pengaturan power supply juga sangat
penting dalam menciptakan stabilitas.

73

Linieritas antara sinyal output dan input (lebih dari 0,5%) adalah sangat
penting dengan memilih titik kerja dari tabung penguatan atau transistor dalam
daerah linier dan dengan menggunakan balikan negatif.
Persyaratan utama diperlukan untuk meminimalkan efek kerusakan yang
disebabkan produksi sinyal yang berlebih 100 sampai 1000 kali lebih besar dari
pulsa normal.
Kontrol gain penguat umumnya diletakkan beberapa bagian di belakang
input. Kontrol gain diletakkan antara preamplifier dan penguat utama. Letak
pembentukan pulsa juga sangat penting untuk dipertimbangkan. Biasanya
diletakkan sekitar 100 antara preamplifier dan penguat utama.
Rangkaian penguat pulsa
Meskipun penggunaan tabung hampa udara telah berkurang, kita akan tetap
menjelaskan prinsip dasar dari penguat dengan menganggap sebuah penguat pulsa
berdasarkan pada penggunaan tabung hampa udara.
Penguat pulsa merupakan penguat linier. Penguat ini selalu tersusun dari satu
atau lebih loop balikan negatif. Prinsip dasarnya diilustrasikan dalam Gambar 28.

Gambar 28.

Loop balikan negatif

Sebuah faktor dari output Vo merupakan balikan untuk menambah tegangan


sinyal input Vs dalam fase berlawanan sehingga tegangan input bersihnya adalah
Vi = Vs V0 dimana V0 = GVi, G adalah gain tanpa balikan. Oleh karena itu, kita
memiliki

GVs GVi G V0 V0 1 G
Oleh karena itu, gain balikan adalah G = V0/Vs = G/(1+G). Untuk G besar,
G 1/ yang hanya bergantung pada elemen rangkaian pasif dan tidak
bergantung pada nilai ketidakpastian dan ketidaklinieran dari transkonduktansi

74

tabung atau transistor. Sebagai hasilnya, peningkatan stabilitas dan linieritas dapat
dicapai.

Gambar 29.

Penguat linier dengan tiga tabung rangkaian balikan

Gambar 29 menunjukkan tiga tabung rangkaian balikan untuk penguat linier.


Rangkaian ini tersusun atas dua penguat gandengan RC dengan tabung T 1 dan T2
diikuti oleh penyokong katoda (cathode-follower) T3. Faktor balikan

R4
R3 R4

Rangkaian penyokong katoda sebagian besar digunakan dalam penguat


pulsa untuk detektor radiasi nuklir. Penyokong ini memberikan kesesuaian
impedansi alat ketika pulsa dengan waktu naik cepat dipindahkan dari satu bagian
ke bagian lain melalui kabel koaksial yang panjang.
Preamplifier
Ada dua tipe rangkaian preamplifier yang digunakan bersama detektor
radiasi, yaitu tipe tegangan sensitif dan tipe muatan sensitif.
Preamplifier tegangan sensitif umumnya digunakan dengan ruang gas
ionisasi dan pencacah proporsional dan juga dengan detektor semikonduktor.
Rangkaian ekivalen ditunjukkan pada Gambar 30a. Tegangan output preamplifier

75

sebanding dengan tegangan output yaitu Q/Co, Q merupakan muatan dan Co


kapasitansi input preamplifier. Co = Cd + Cr dimana Cd merupakan kapasitansi
detektor dan Cr kapasitansi total input yang tersisa.

Gambar 30.

Rangkaian preamplifier. (a) Tegangan sensitif. (b) Muatan sensitif

Preamplifier muatan sensitif ditunjukkan pada Gambar 30b. Disini tegangan


output senbanding dengan Q yaitu muatan pada input detektor yang bebas dari
kapasitansi. Tegangan output adalah Q/Cf dimana Cf merupakan kapasitansi
balikan yang bebas dari kapasitansi detektor sepanjang rentangan wilayah kondisi
kerjanya. Cf memiliki nilai beberapa pikofarad.
Preamplifier tegangan sensitif memiliki waktu naik yang sangat cepat dan
sinyal rasio noise yang tinggi. Namun demikian, ukuran pulsa output bergantung
pada kapasitansi detektor Cd dan waktu luruh bergantung pada Rd. Karena variasi
Cd mengubah Co yang berakibat pada tinggi pulsa output. Perubahan R d mengubah
Ro dan mengakibatkan waktu naik pulsa.
Pada preamplifier muatan sensitif, aksi balikan akan mengurangi Cd dan Rd.
Oleh karena itu, tegangan output hanya Q/Cf dan waktu luruh pulsa sama dengan
CRf.
Preamplifier

tegangan

sensitif

dapat

digunakan

dengan

detektor

semikonduktor yang kapasitansinya relatif konstan, misalnya detektor yang


diselipkan litium. Jika kapasitansinya besar, maka tegangan output Q/Co

76

kemungkinan terlalu rendah. Dalam kasus ini, preamplifier muatan sensitif lebih
cocok digunakan.
Pencacah kilauan dan pencacah GM umumnya menghasilkan sinyal output
beberapa volt yang ada di atas tingkat noise penguat. Sehingga bagian input
penguat tidak memerlukan pengaturan khusus. Kebanyakan detektor memberikan
sinyal output yang kecil sehingga memerlukan noise yang rendah, oleh karena itu
harus diletakkan dekat dengan detektor.
Untuk input noise rendah, kebanyakan alat saat ini menggunakan field effect
transistor (FET). Detektor digandeng dengan FET sehingga bagian input bekerja
seperti penguat tegangan sensitif. Penggunaan FET yang diinginkan memberikan
noise menjadi rendah.
R. Diskriminator Tegangan
Operasional dari rangkaian diskriminator tegangan adalah berdasarkan pada
rangkaian pemicu.
Rangkaian Pemicu
Gambar 31a menunjukkan diagram skematik dari rangkaian Eccles-Jordan
menggunakan tabung hampa udara.

Gambar 31.

Rangkaian pemicu Eccles-Jordan. Gambar di kanan adalah deskripsi proses


regeneratif

Rangkaian memiliki dua keadaan stabil. Pada satu bagian, tabung T1


terhubung, sementara T2 terputus. Bentuk yang lain adalah kebalikannya.
Dengan menganggap dua tabung dari komponen rangkaian adalah identik.
Arus yang mengalir di dalam T1 dan T2 adalah sama. Fluktuasi sesaat dalam
keping tegangan Eb menyebabkan peningkatan arus ib1 dalam T1. Peristiwa ini
menyebabkan kondisi regeneratif yang menciptakan i b1 meningkat sementara ib2

77

menurun dengan nilai sangat kecil. Jadi, kondisi awal pada dasarnya dianggap
stabil.
Prinsip dasar dari proses regeneratif dapat dipahami dengan melihat pada
Gambar 31b. Penguat dengan gain G memiliki faktor pada tegangan output
ditambahkan ke input sehingga membentuk balikan positif.
Jadi proses regeneratif yang berkembang dalam rangkaian ditunjukkan
sebagai arus ib1 yang meningkat sehingga ada tegangan besar di R1 yang
menyebabkan arus ib2 di T2 menurun. Kecenderungan ini menaikkan tegangan T1
yang lebih meningkatkan arus ib1.
Keadaan terhubung dan tak terhubung dapat saling dipertukarkan dengan
mengerjakan sinyal pemicu yang sesuai. Jadi, pulsa negatif dikerjakan pada T 1
menyebabkan keadaan terhubung yang dipindahan dari T1 ke T2.
Diskriminator dioda
Diskriminator amplitudo pulsa merupakan diskriminator sederhana. Ada tipe
lain yaitu diskriminator diferensial yang memiliki pulsa dengan amplitudo terletak
pada dua batas tertentu.
Akurasi diskriminator ini ditentukan oleh stabilitas tingkat bias ambang dari
diskriminator atau posisi dari batas ambang, faktanya ada perbedaan antara
tingkat bias dan letak batas ambang dalam diskriminator diferensial. Tinggi pulsa
output pada diskriminator harus bebas dari tinggi pulsa input.
Sebuah diskriminator sederhana yang berdasarkan pada dioda bias mundur
ditunjukkan pada Gambar 32. Ketika tak ada sinyal masukan, bias mundur
melewati D1 yaitu karena perbedaan antara tegangan bias Va dan tegangan di D2
tetap karena arus konstan I mengalir didalamnya. Jika sinyal input melebihi
ambang bias mundur, maka arus yang mengalir melewati D 1 menyebabkan arus di
D2 berkurang. Ini akan menyebabkan tegangan menurun pada input rangkaian
pemicu.

78

Gambar 32.

Diskriminator dioda bias mundur

Diskriminator Schmitt:
Diskriminator ini diilustrasikan pada Gambar 33a. Operasinya berdasarkan
pada prinsip kerja penguat yang berbeda. Rangkaian dimodifikasi dengan
multivibrator ganda yang stabil. Katoda digandengkan.
T1 atau T2 terhubung bergantung pada potensial Ecc1 dari jaringan kontrol T1.
Misalnya, pada awalnya T2 terhubung. Ketika Ecc1 dinaikkan sampai nilai ritis
sekitar +100 volt, maka akan menyebabkan transfer cepat konduksi dari T2 ke T1.
T1 melanjutkan terhubung selama Ecc1 di atas nilai kritis.

Gambar 33.

(a) Diskriminator tinggi pulsa


(b) Rangkaian diskriminator dengan transistor

Potensiometer P1 dan P2 digunakan untuk mengatur tingkat bias


diskriminator. Rangkaian dapat digunakan dengan pulsa input positif atau negatif.
Jadi, jika semua pulsa positif yang tinggi di atas 30 volt akan dilewatkan, maka
tingkat diskriminator harus dirancang pada tegangan 30 volt di bawah tegangan
kritis untuk menaikkan tegangan.

79

Bentuk pulsa output bergantung pada durasi pulsa input. Jika durasi pulsa
input melampaui waktu yang lebih dari 1s, maka pulsa output tegak lurus pada
skala waktu (pulsa logic). Untuk durasi pulsa input yang lebih pendek (1s),
tegangan output tidak mencapai bentuk yang stabil. Pemendekan waktu
pemecahan rangkaian akan membantu mempertahankan kestabilan bentuk pulsa
output walaupun pulsa input memiliki durasi yang pendek.
Rangkaian diskriminator dengan transistor yang memiliki prinsip kerja yang
mirip dengan rangkaian pemicu Schmitt ditunjukkan pada Gambar 33b.
S. Penganalisis Tinggi pulsa
a) Penganalisis chanel tunggal
Penganalisis tinggi pulsa digunakan untuk menentukan jumlah total pulsa
dimana ketinggiannya berada pada interval atau chanel tertentu sepanjang
rentangan tinggi pulsa yang menjadi perhatian.
Pada penganalisis chanel tunggal, analisis dibuat dengan membaca pada satu
chanel pada suatu waktu tertentu. Oleh karena itu, akan memakan waktu yang
lebih lama. Pada penganalisis ini terdapat dua rangkaian diskriminator yang
menyerupai rangkaian pemicu Schmitt yang memiliki penyesuaian perbedaan V
(jendela) yang relatif kecil dalam rangkaian pemicunya. Prinsip dasar
diskriminator diferensial ditunjukkan pada Gambar 34.

Gambar 34.

Dasar diskriminator diferensial

Dua output logik dari dua rangkaian diberikan ke dalam gerbang rangkaian
anti-coincidence yang hanya melewatkan sebuah sinyal ketika sebuah pulsa
dikirimkan oleh diskriminator pada rangkaian dengan tingkat pemicu rendah,
tetapi tidak berlaku untuk tingkat pemicu yang tinggi.
Pencacah hanya mencatat pulsa dengan tinggi antara V dan V+V. Tingkat V
disesuaikan sehingga keseluruhan spektrum pulsa dapat diamati dengan
meningkatnya V perlahan-lahan.
b) Penganalisis tinggi pulsa
analyzer/MCA)

multichanel

(multichannel

pulse-height

80

Dengan bantuan penganalisis multichanel memungkinkan akumulasi data di


tiap-tiap chanel secara bersamaan.
Pada dasarnya, MCA ekivalen terhadap banyak penganalisis diferensial
dengan jendela yang disusun berdekatan. Chanel MCA umumnya disusun untuk
memindai suatu daerah terpilih dari spektrum pulsa. Jika daerah terpilih berada
pada 2 sampai 6 volt maka dalam 400 chanel penganalisis diperoleh lebar chanel
(yaitu lebar jendela tiap-tiap chanel) adalah 10 mV. Penempatan pulsa input pada
salah satu dari banyak chanel MCA berdasarkan pada proses konversi analog
menjadi digital (analog to digital conversion/ADC). Sebagai tambahan, MCA
juga merekam jumlah kejadian di tiap-tiap chanel. Keseluruhan pulsa dalam
bentuk histogram antara 2 sampai 6 volt direkam secara bersamaan. Ini
merupakan keuntungan MCA dipandang dari keefektifan waktu yang digunakan.
Karena keseluruhan spektrum direkam pada waktu yang sama, maka pengaruh
perubahan intensitas selama waktu perekaman data dapat dieliminasi atau akan
sama untuk semua spektrum.
Keuntungan utama MCA adalah memiliki waktu mati (dead time) yang lebih
lama dibandingkan dengan penganalisis chanel tunggal. Oleh karena itu, MCA
memiliki kelajuan cacah yang rendah.
Idealnya semua chanel MCA memiliki lebar jendela yang sama. Dalam
praktiknya, lebar jendela harus sama 1 % yang diletakkan pada desain ADC.
Segera setelah pulsa input telah diklasifikasi ke dalam chanel berbeda oleh
ADC, beberapa metode perekaman klasifikasi ini sangat penting. Banyak MCA
menggunakan komputer dengan tipe memori terbatas yang dimasukkan dalam
alat. Tiap-tiap chanel, jumlah core dialokasikan, yang menentukan letaknya dalam
memori. Jumlah kejadian dalam chanel terkait disimpan dalam memori. Ada
banyak metode alternatif perekaman ouput ADC termasuk penggunaan komputer,
sistem pita magnetik, dan lain-lain.
T. Pencacah
Peristiwa yang direkam oleh detektor radiasi biasanya dikonversi menjadi
sinyal listrik, dimana setelah penyesuaian penguatan, pembentukan, dan
pemisahan, sinyal-sinyal ini harus dihitung oleh alat elektronik yang dikenal
sebagai pencacah atau scaler. Sebelumnya bentuk scaler telah digunakan pada
nuklir elektronik, tetapi sekarang telah banyak digantikan oleh bentuk pencacah.

81

Bentuk awal dari alat pencacah adalah sebuah perekam elektrokimia yang
digerakkan rangkaian elektronik. Alat ini pada dasarnya merupakan peristiwa
elektromagnet oleh sinyal yang diperkuat dari detektor. Ketika alat ini dipengaruhi
oleh energi sinyal datang, elektromagnet untuk sementara dekat sakelar kontak
yang menyebabkan perputaran sejumlah teromol (drum). Perubahan ini terjadi
pada satu waktu, kemudian mengubah angka yang terlihat pada teromol oleh satu
unit. Terdapat 10 angka sepanjang lingkaran teromol (0 sampai 9) dan revolusi
penuh dari teromol disebabkan oleh pulsa yang datang berulang-ulang. Setelah
melakukan satu revolusi penuh, teromol menyebabkan sebuah teromol yang
berdekatan bergerak maju melewati satu unit, seperti pada kasus sebelumnya.
Umumnya terdapat empat teromol yang berdekatan sehingga perekam bisa
mencatat maksimum 9999 sinyal. Kerja dari perekam ini lambat dan tidak dapat
bekerja pada pulsa yang berulang dengan kelajuan lebih dari lima per detik.
Dalam alat pencacah radiasi, tipe perekam elektomagnetik ini dilengkapi oleh
sebuah satuan skala yang mengukur kelajuan pulsa yang datang dari detektor
dengan sebuah rasio yang diketahui, sehingga perekam elektromagnetik ini dapat
diaktifkan tanpa kehilangan perhitungan.
Scaler Ganda (Binary Scaler)
Kebanyakan pencacah elektronik memanfaatkan elemen-elemen yang dapat
bekerja dalam dua bentuk alternatif. Ada beberapa cara dimana jumlah hitungan
dapat dikode dalam bentuk tertentu. Salah satu cara termudah adalah dengan
menggunakan kode ganda lurus.
Sebuah pencacah yang bekerja dalam kode ganda dapat dikonstruksikan
dengan memasang sederetan rangkaian ganda yang stabil, misalnya rangkaian
flip-flop. Rangkaian flip-flop ganda ditunjukkan pada Gambar 35. Kerja
rangkaian ini berdasarkan pada rangkaian pemicu Eccles-Jordan yang telah
didiskusikan pada subbab 7.18. Tabung hampa udara dengan dasar rangkaian flip
flop telah digantikan dengan rangkaian transistor.

82

Gambar 35.

Sebuah diskriminator flip-flop bistable

Dua dioda D1 dan D2 dihubungkan berhadapan antara kolektor dari dua


transistor X1 dan X2. Pulsa yang datang bekerja di antara dua dioda.
Dengan menganggap pada mulanya X1 terhubung dan X2 cut off, seperti pada
rangkaian pemicu Eccles-Jordan. B lebih positif dari A. Karena bias yang
dihasilkan pada dioda, sebuah pulsa negatif yang datang akan melewati arus di D2,
dan tidak melewati D1. Sebagai hasilnya, arus yang melewati R2 ditanahkan di B
yang menjadi pemicu switch dari X1 ke X2. Pulsa datang berikutnya kembali ke
keadaan terhubung lagi. Output diperoleh untuk pulsa yang datang bergantian.
Jadi, jumlah pulsa output memiliki skala dengan faktor 2.
Jika pulsa output dari scaler ganda pertama dikirimkan ke chanel input scaler
ganda kedua, maka pulsa output dari scaler kedua ini akan memiliki faktor 22 atau
4. Jadi dengan memasang sejumlam (n) scaler ganda, bagian per bagian, diperoleh
skala yang cukup baik dengan faktor 2n.
Ketika pulsa pertama datang pada input di bagian pertama, konten dari
pencacah secara visual ditunjukkan oleh nyala lampu. Ketika pulsa kedua datang,
nyala ini hilang dan diperoleh pulsa output yang menyebabkan lampu yang sama
menyala pada bagian kedua. Pulsa ketiga akan menyebabkan lampu menyala lagi
pada bagian pertama. Dari nyala lampu pada kedua bagian ini kita memperoleh
perhitungan angka 22-1 + 12-1 yaitu menghasilkan 3. Pulsa keempat mematikan

83

nyala dan pulsa output dikirimkan ke bagian ketiga yang ditandai oleh nyala
lampu di bagian ini (23-1 atau 4). Dengan cara ini, nyala lampu pada bagian-bagian
berurutan mengindikasikan jumlah total pulsa yang diterima ujung input.
Decade Scaler
Scaler ganda sangat cocok dirancang untuk menghasilkan setiap sepuluh
pulsa sebagai pulsa output. Jumlah susunan semacam ini memberikan rasio skala
10n.
Namun, sekarang ini kebanyakan memperlihatkan perhitungan sebagai
sebuah angka desimal dengan menggunakan alat indikator numerik dalam bentuk
tabung katoda yang diisi gas dingin atau tabung sinar elektron (electron beam
tube/EIT). Dalam Gambar 36 menunjukkan kerja tabung dekatron yang diisi gas
GC10A dari Perusahaan Telepon Ericsson.

Gambar 36.

Tabung dekatron

Dalam penambahan pada anoda A, tabung memiliki 30 elektroda (hanya


diperlihatkan 10) dimana 10 disebut sebagai pemandu elektroda 1 (g1) dan 10
lagi disebut sebagai pemandu elektroda 2 (g2). Sembilan katoda dihubungkan
secara internal seperti yang diperlihatkan (K1, K2, dan lain-lain) sedangkan

84

sepuluh lagi diletakkan terpisah terhadap pulsa output. 10 pemandu elektroda 1


(g1, g1a, dan lain-lain) dan juga 10 pemandu elektroda 2 (g2, g2a, dan lain-lain)
dihubungkan secara internal.
Dengan menganggap terdapat pelepasan antara anoda A dan kotoda K 2. Jika
sebuah pulsa negatif (-120 V) dikerjakan pada kelompok pemandu elektroda 1,
dimana katoda (K) memiliki tegangan +60 V, maka nyala ditransfer menuju g1a.
Peristiwa ini mengembalikan g1a menjadi +60 V. Jika pada waktu yang sama
pulsa -120 V dikerjakan pada g2, nyala ada pada g2a. ketika g2 dikembalikan ke
+60 V, nyala selanjutnya berada pada K3. Pasangan-pasangan dua pulsa yang
berurutan menyebabkan gerakan pelepasan searah jarum jam menuju katoda.
Pada EIT yang diproduksi oleh Philip Co, sinar-sinar elektron bergerak dan
difokuskan pada sebuah layar dengan 10 posisi sinar stabil. Jumlah spot pada
layar fluoresensi menunjukkan sebuah cahaya fluoresensi pada saat sinar
mengenai spot. Saat sinar menyapu sepanjang slot-slot, arus akan berfluktuasi,
pulsa yang besar terbentuk ketika pulsa tersebut mencapai sepuluh atau mencapai
posisi ouput.
Tabung lain yang dikenal sebagai trochotron memiliki sinar elektron yang
diaktifkan oleh sebuah medan magnet untuk mencapai bentuk melingkar. Sinarsinar ini dapat dihitung dengan sangat cepat ( < 1s) dan biasanya digunakan
sebagai decade pertama dari sebuah scaler yang cepat.
U. Rangkaian Coincidence
Dalam banyak percobaan adalah sangat penting untuk mengetahui kapan dua
pulsa terjadi secara bersamaan. Dalam praktiknya, kita hanya bisa mengatakan
bahwa hal itu terjadi dalam satu waktu satu dengan yang lainnya. dikenal
sebagai waktu pemisahan (resolving time) dari rangkaian coincidence. Jika pulsa
datang dari detektor radiasi, misalnya pencacah GM yang memiliki waktu
pemisahannya sendiri (lihat subbab D). haruslah lebih besar dari waktu
pemisahan pencacah.
Dalam kerja fisika nuklir, coincidence diukur antara dua sinar yang
dipancarkan dalam tabung (coincidence -) atau antara partikel dengan sebuah

85

sinar (coincidence - ) dan seterusnya. Tipe pencacah coincidence -


ditunjukkan pada Gambar 37.

Gambar 37.

Tipe rancangan penghitungan coincidence -

Dengan menganggap N1 dan N2 merupakan nilai perhitungan dari dan dari


dua pencacah. Jika dan sinar dipancarkan dari sebuah sumber dengan jangka
waktu yang pendek, maka dalam beberapa kasus partikel dan sinar akan
bergerak hampir bersamaan melalui pencacah 1 dan 2. Jika keduanya dideteksi
oleh masing-masing pencacah dan pulsa outputnya datang dalam waktu pada
masing-masing ujung input rangkaian coincidence, peristiwa coincidence akan
terekam. Nilai hitung coincidence N12 adalah:
N12 N N ac N cos

dimana N merupakan nilai coincidence sebenarnya, Nac merupakan nilai


peristiwa coincidence dan Ncos merupakan perhitungan coincidence oleh sinar
kosmik. Nilai oleh sinar kosmik ini biasanya kecil dalam eksperimen fisika nuklir.
Nac dapat ditemukan sebagai berikut. Karena nilai perhitungan rata-rata pencacah
1 adalah N1 dimana suatu perhitungan tunggal akan terjadi dalam waktu yaitu
N1. Karena nilai rata-rata perhitungan pencacah 2 adalah N2 maka jumlah
peristiwa yang terekam oleh pencacah 2 adalah 2N1N2 per detik, yang
memberikan nilai Nac = 2N1N2.

86

Faktor 2 muncul karena kita harus melakukan perhitungan jumlah peristiwa


yang terekam oleh pencacah 2 dalam selang waktu dari peristiwa yang
direkam oleh pencacah 1 (Gambar 38). Harus dicatat bahwa peristiwa
coincidence terjadi karena kedatangan yang hampir bersamaan pada 1 dari
partikel dari satu sumber terpisah dan sinar di 2 dari sumber lain yang hampir
terpisah.

Gambar 38.

Waktu pemecahan coincidence

harusnya tidak besar sebagai akibat dari nilai peristiwa coincidence akan
menjadi sangat besar.
Rangkaian Coincidence
Rangkaian paralel Rossi: Bentuk awal rangkaian coincidence diciptakan oleh
Bruno Rossi. Dasar rangkaian Rossi menggunakan dua tabung hampa udara
ditunjukkan pada Gambar 39a. Ini merupakan rangkaian coincidence lipat dua
(two-fold).
Tabung T1 dan T2 biasanya terhubung dengan arus I yang mengalir pada
masing-masing tabung. Sehingga tegangan 2Ri sepanjang keping yang memuat
resistor R. Sinyal input adalah berupa pulsa negatif. Sebuah input negatif tunggal
pada salah satu tabung akan memutuskan arus dalam tabung tersebut, sehingga
arus yang melalui R berkurang. Jika R lebih besar dari hambatan dalam tabung,
pengurangan ini kecil dan hanya perubahan yang sangat kecil pada tegangan yang
bekerja sepanjang R. Jadi bagaimanapun, dua pulsa negatif yang datang
bersamaan pada dua tabung, arus yang lewat R dihentikan total dan perubahan
besar terjadi pada tegangan, menghasilkan pulsa output positif yang besar. Jika

87

pulsa output dilewatkan pada sebuah diskriminator dengan ambang bias yang
sesuai, maka pulsa ouput coincidence akan direkam.

Gambar 39.

Rangkaian coincidence Rossi menggunakan: (a) tabung hampa


udara; (b) transistor

Gambar 39b menunjukkan sebuah versi transistor dengan rangkaian


coincidence Rossi lipat tiga. Rangkaian dilengkapi dengan transistor T1, T2, dan
T3. Jika tidak ada pulsa input, ketiga transistor akan mengalami kondisi saturasi,
sehingga hambatan kolektor sangat rendah. Jika satu atau dua transistor menerima
sinyal input positif, maka rangkaian masih mengalami saturasi. Jika ketiga
transistor menerima sinyal input, maka ketika transistor akan mengalami cut-off
sehingga sinyal output muncul.
Rangkaian anticoincidence
Terkadang menjadi sangat penting untuk merekam kedatangan satu (atau
lebih) pulsa dan melarang beberapa peristiwa yang membuat tabung pada
rangkaian Rossi menerima pulsa input pada masing-masing jaringannya. Susunan
semacam ini dikenal sebagai rangkaian anti coincidence. Pada rangkaian Rossi

88

lipat dua, susunan semacam ini dapat dicapai jika satu dari dua tabung (katakanlah
T2) pada awalnya cut-off dengan mengerjakan bias negatif pada jaringan tabung
ini. Lalu sebuah pulsa input negatif pada T1 menghentikan arus yang lewat di R,
menghasilkan kemunculan pulsa pulsa output positif pada kepingan. Jika pulsa
positif muncul bersamaan pada T2, maka tabung ini menjadi terhubung, sehingga
arus melewati R hampir sama. Oleh karena itu, tidak ada pulsa output dalam kasus
ini. Susunan anti coincidence sangat penting dalam kerja diskriminator diferensial
dan penting juga untuk aplikasi lain.
Rangkaian coincidence tipe aditif
Rangkaian ini ekivalen terhadap dua deret sakelar, keduanya harus ditutupi
terhadap aliran arus yang terjadi. Sakelar ditutupi oleh pulsa input negatif. Kerja
rangkaian aditif dapat dipahami dengan bantuan Gambar 40a.

Gambar 40.

(a) Dasar penghitungan coincidence aditif; (b) Rangkaian


sederhana coincidence aditif

89

Dua pulsa input ditambahkan

bersama-sama

dalam satu wilayah,

memberikan kenaikan pulsa pada output. Jika ini melewati ambang rangkaian,
maka pulsa output akan dilewatkan. Waktu pemecahan hampir mendekati lebar
pulsa input.
Sebuah rangkaian tipe aditif sederhana menggunakan sebuah tabung hampa
udara ditunjukkan pada Gambar 40a.
Susunan coincidence dicapai melalui tabung 6BN6 yang memiliki sifat salah
satu dari jaringan G1 dan G3 dapat memutus arus, bebas dari tegangan jaringan
lain. Untuk pulsa input positif tunggal, baik G1 atau G2, tabung tetap cut-off. Oleh
karena itu, jika dua pulsa positif muncul hampir bersamaan pada dua jaringan,
tabung mendapat arus besar yang menghasilkan pulsa output karena keping
ditanahkan. Pulsa output diperkuat oleh tabung 6AK5.
Rangkaian ini memiliki waktu pemecahan yang pendek. Rangkaian ini juga
bekerja dengan pulsa beramplitudo kecil (beberapa volt).
V. Rangkaian Elektrometer Arus Kecil
a) Rangkaian elektrometer tabung hampa udara
Tipe khusus ini menggunakan tabung hampa udara, dimana arus yang
mengalir sangat kecil (< 10-15 A). Rangkaian ditunjukkan pada Gambar 41.
Rangkaian ini merupakan rangkaian stabil dalam hal ini tegangan turun dari
keping menuju katoda dibandingkan terhadap dengan tegangan sepanjang
potensiometer P1. Kekurangstabilan diindikasikan oleh amperemeter M. Untuk
menentukan titik nol pada alat, sakelar S dihubungkan pada posisi nol dan P1
disesuaikan untuk membuat M membaca nol. Sensitivitas arus dikontrol oleh
resistor input dengan nilai 109 sampai 1011 ohm. Tegangan yang dikerjakan
sepanjang resistor input, karena arus ionisasi yang mengalir melewatinya,
menghasilkan ketidakseimbangan dalam rangkaian sehingga terjadi penurunan di
M. Jika skala penuh penurunan M adalah 0,2 volt, maka rentang arus yang dapat
diukur adalah bernilai 2 x10-12 A sampai 1 x 10-10 A.

90

Gambar 41.

Tipe rangkaian elektrometer dengan tabung hampa udara

b) Penguat balikan DC
Elektrometer tabung hampa udara yang sederhana bergantung pada
karakteristik tabung dan tegangan power supply untuk menjaga stabilitas dan
linieritasnya. Untuk kerja yang reliabel, penguat balikan telah dikembangkan
dengan balikan negatif 100%. Rangkaian dasar diilustrasikan pada Gambar 42.
Sinyal output Eo untuk penguat diberikan dalam rangkaian dengan sinyal input
Esig. Jadi tegangan input menjadi

Ein Esig E0 Esig GEin

karena Eo = -GEin dimana G adalah gain. Ini memberikan


Esig
E0
1 1
G
untuk G >> 1 kita akan memperoleh E0 = -Esig dan
I in R0

I0
R

91

Gambar 42.

Penguat DC dengan balikan 100%

Rangkaian berperan sebagai penguat arus dan gain hanya bergantung pada
resistor output (Ro) dan resistor input (R). Ini akan menghasilkan stabilitas dan
linieritas yang baik. Karena kapasitansi input berkurang menjadi C/(1+G),
konstanta waktu rangkaian input akan berkurang yang menyebabkan respon yang
cepat.
c) Elektrometer vibrasi kapasitansi
Elektrometer ini merupakan salah satu alat yang paling sensitif untuk
pengukuran arus dc rendah. Alat ini lebih sensitif dari elektrometer tabung hampa
udara dengan faktor 100.
Diagram balok alat ini diperlihatkan pada Gambar 43. Tegangan IR 1
sepanjang resistor R1 yang disebabkan arus I diseimbangkan oleh kabel slide
potensiometer, seperti yang telah diperlihatkan. Kesalahan dalam kondisi
keseimbangan menghasilkan sebuah muatan q pada vibrasi kapasitansi C 1
(frekuensi 60 cps). Hambatan R2 dan R3 cukup besar untuk menjaga muatan pada
C1 untuk tetap selama vibrasinya. Jika d adalah jarak keseimbangan antara keping
dan a adalah amplitude getaran, maka G diberikan dengan
k
G
d a sin t
Tegangan yang bekerja sepanjang C1 karena muatan q adalah
q qd
sin t
V

qa
C1
k
k
Komponen ac dari tegangan eror ini diperkuat oleh empat bagian penguat.
Output

penguat

digerakkan

oleh

dua

motor

penyeimbang

fase

yang

mengembalikan keseimbangan dengan menggerakkan slide kabel, sehingga


menghilangkan sinyal eror dan menghentikan motor. Sebuah perekam gambar
dapat digunakan untuk perekaman selanjutnya. Penyimpangan skala penuh
umumnya sekitar 10 mV pada skala paling sensitif.
Dengan menerapkan metode drifting menggunakan rangkaian terbuka pada
posisi R1, arus rendah 10-16 A dapat diukur.
Pada perancangan alternatif, sebuah penguat AC digunakan untuk
memperkuat sinyal, yang muncul melalui C1. Namun pada servomotor, alat ini
mengerjakan sebuah pengaktif fase sensitif pada output penguat ac. Arus output

92

dc yang bekerja mengindikasikan panjang dan sebuah perekam gambar bidang.


Tegangan output dibalikkan 100% negatif ke input, sehingga ada kesamaan untuk
gain output yang tinggi dan sinyal input.
Meskipun alat ini cukup rumit, namun respon waktunya tidak secepat
balikan instrumen dc.

Gambar 43.

Rangkaian elektrometer vibrasi kapasitansi

W. Penghitungan Statistik
Peristiwa nuklir seperti transformasi radioaktif bersifat acak dan mematuhi
hukum-hukum statistik. Sebagai contoh, peluruhan atom-atom tertentu dalam
sebuah bahan radioaktif tertentu bebas dari kehadiran dari atom-atom lain atau
dari kondisi disekitarnya. Jadi tidak diketahui ketika sebuah atom tertentu akan
memisahkan diri. Namun bagaimanapun, pasti ada probabilitas dari atom yang
memisah dalam selang waktu tertentu (periode pengamatan) yang berbeda antara
satu bahan radioaktif dengan bahan radioaktif lainnya. Sebagai konsekuensinya,
masing-masing bahan radioaktif meluruh pada nilai rata-rata tertentu, yang hanya
bisa ditentukan dengan melakukan pengamatan (penghitungan partikel yang
meluruh) dalam jangka waktu yang tak terbatas. Untuk pengamatan pada waktu
yang pendek, angka perhitungan mungkin memiliki penyimpangan nilai rata-rata.
Walaupun dalam kasus ini pulsa-pulsa listrik dalam detektor tidak dipecah-pecah
dan dampak integrasi direkam (seperti pada ruang ionisasi, mengukur arus
ionisasi total), perlu diamati fluktuasi statistiknya.

93

Jika kita mengulangi pengukuran beberapa kali dengan jumlah perhitungan n


dalam waktu tertentu, jumlah yang diukur akan berbeda-beda. Untuk jumlah
perhitungan rata-rata <n> dari jumlah n, probabilitas jumlah diukur pada kejadian
tertentu akan menjadi n diberikan oleh distribusi Poisson.
p n

n n exp n
n!

..............................(23.1)

Permulaan Distribusi Poisson


Distribusi Binomial : Untuk menurunkan distribusi Poisson, pertama kita
harus menganggap distribusi binomial. Anggap p merupakan probabilitas atom
radioaktif yang meluruh dalam selang waktu t. Dari hasil eksperimen diketahui
bahwa

p 1 exp t
dimana adalah konstanta disintegrasi. Probabilitas sebuah atom tidak memisah
selama waktu t adalah q 1 p exp t .
Mempertimbangkan jumlah awal atom adalah N. Maka probabilitas bahwa n
keluar dari jumlah awal akan memisah dalam waktu t adalah pn sedangkan
probabilitas sisanya (Nn) tidak memisah dalam waktu t adalah qN-n. Oleh karena
itu, probabilitas yang keluar dari N atom hanya dipilih n yang akan memisah,
sedangkan probabilitas sisanya (Nn) tidak akan memisah dalam waktu t adalah
pn 1 p

N n

Pernyataan di atas dikalikan dengan banyak cara yang dapat dipilih untuk n
keluar dari N atom adalah

N!
n ! N n !
Oleh karena itu, probabilitas n atom yang keluar dari N total akan memisah
dalam waktu t adalah

N !
n
N n
above p 1 p
n
!
N

n
!

P n

94

..................(23.2)
Persamaan ini dikenal sebagai distribusi binomial.
Nilai rata-rata dan nilai rata-rata kuadrat dari perhitungan dalam interval
tertentu:
Persamaan (23.2) dapat digunakan untuk menghitung jumlah rata-rata atom
pemisahan <n> dalam waktu t :

n 0

n 1

n nP n np 1 p

N n

N!
....................................(23.3)
n ! N n !

Perlu dicatat bahwa telah batas bawah diubah dari penjumlahan di atas
menjadi n = 1 karena bentuk n = 0 tidak memiliki kontribusi pada penjumlahan.
Dengan menuliskan k = n 1 dan K = N 1, maka akan kita dapatkan

K 1 !
k 1 ! K k !
k 0

K 1 !
k 1
K k

k 1 p k 1 1 p
k ! K k !
k 0 k 1

n k 1 p k 1 1 p

K k

Menggunakan persamaan (23.3) kita peroleh

n K 1 p p k 1 p

K k

k 0

K 1 !

k 1 ! K k !

Np p k
k 0

Karena

p k 1 akhirnya kita dapatkan


k 0

n Np ..........................................................(23.4)

Dalam suatu cara yang hampir sama, kita dapat menghitung nilai kuadrat
rata-rata < n2 > dari n :
n 2 Np 1 N 1 p ......................................................................(23.5)

95

Dengan menggunakan Persamaan (23.4) dan (23.5) kita kemudian


memperoleh varian 2 dari n :

2 n 2 n 2 Np 1 N 1 p Np
Np Np 2 Np 1 p

2 Npq

.....................................(23.6)

Standar deviasi adalah


1

Npq 2 ..................................................................(23.7)

Distribusi Poisson
Sekarang kita mengasumsikan N sangat besar dan n << N. dalam
transformasi radioaktif kondisi ini sangat mudah diselesaikan.
Kita dapat mengubah distribusi binomial (Persamaan 23.2) dengan
menggunakan rumus Stirling untuk N! dan (N-n)! Berdasarkan ini, untuk jumlah
yang besar, kita dapat menuliskan.

N ! N N 2 N exp N ....................................................................(23.8)

N n ! N n

N n

2 N n exp N n ..............................(23.9)

Kemudian
P n

P(n)

N N exp N 2 N p n 1 p

n ! N n

N n

2 N n exp N n

N N exp n p n 1 p
n ! N

N n

N n

1
N

N n

N n

1
2

Tapi karena N >> n adalah sebuah jumlah yang besar, kita dapat menuliskan

n
1
N

Juga

N n

1
2

n
1

; exp n ................................................(23.10)

96

1 p

N n

1 p exp Np ......................................................(23.11)
N

N n exp n p n exp Np
P n
n !exp n

Np

exp Np
.....................................................................(23.12)
n!

Tetapi kita telah melihat di atas (Persamaan 24.4), Np = < n >, nilai rata-rata dari
n. Akhirnya kita mendapatkan
P n

n n exp n
n!

...............................................(23.13)

97

Gamb
ar 44.

(a) Distribusi Poisson untuk beberapa nilai yang berbeda dari < n >
(b) Distribusi Gauss untuk beberapa nilai berbeda dari

Ini merupakan persamaan distribusi Poisson diberikan oleh Persamaan (23.1).


Ini tidaklah simetris disekitar maksimum (lihat Gambar 44a). Distribusi Poisson
menggambarkan sebuah distribusi diskret dan valid untuk perhitungan jumlah
yang kecil (n kecil) dan saat n << N. Hal ini terjadi ketika probabilitas
perhitungan p sangat kecil, sehingga q = 1 p 1. Untuk distribusi Poisson, nilai
rat-rata dari n adalah < n > sedangkan standar deviasi adalah n
sehingga variannya adalah 2 n . Ini mengikuti Persamaan (23.4) dan (23.6)
dengan mengambil q = 1.
Untuk n yang kecil, distribusi Poisson mendekati distribusi binomial,
diberikan p bernilai kecil dan < n > = Np.

Distribusi Gauss :
Sekarang kita berganti pada kondisi n << N dalam menurunkan distribusi
Poisson. Dengan kata lain, baik N dan n merupakan jumlah yang besar. Oleh
karena itu, kita dapat menggunakan pendekatan Stirling untuk tiga faktorial
persamaan distribusi binomial (23.2) yang memberikan
N N exp N 2 N
N!
n
n ! N n ! n exp n 2 N N n N n exp N n 2 N n
N!
NN

n ! N n ! n n N n N n

Kemudian kita memperoleh:

N
............................................(23.14)
2 N n

98

P n

N
N N p n q N n
2 n N n n n N n N n
n

N
Nq
Np

2 n N n n N n

N n

.............................................(23.15)

Jika kita menuliskan x = n Np = n - < n > seperti pada penurunan jumlah n


yang diamati dari rata-rata < n >, kita memperoleh

N n N x Np N 1 p x Nq x
dan
n Np x

Sehingga kita memperoleh:

1
2

Np x

Np

N
P n

2 Np x Nq x Np x

x
x
2 Npq 1 1
Np
Nq

1
2

x
1
Np

x
Menuliskan A 2 Npq 1 x
1
Np
Nq

1
2

Nq

Nq x
Np x

Nq x

x
1
Nq

Nq x

.........(23.16)

...........................................(23.17)

Np x

Nq x

x
x
Kita memperoleh P n A 1
.........................(23.18)
1
Np
Nq

x
x
Maka P n A Np x ln 1 Nq x ln 1 .....................(23.19)
Np
Nq

x
x
1 and
1.
Kita mengasumsikan x Npq so that
Np
Nq
Kemudian mengembangkan logaritma dalam Persamaan (23.19), kita
memperoleh:

x
x
x2
x3
ln 1

.........
Np
Np 2 N 2 p 2 3N 3 p 3

x
x
x2
x3
ln 1

.........
Nq
Nq 2 N 2 q 2 3N 3 p 3

Dengan mensubstitusi ke dalam Persamaan (23.19) akhirnya kita


memperoleh (untuk x yang kecil)

99

x3 p 2 q 2 x 4 p3 q 3
x2
ln P n A

.........
2 Npq
6N 2 p2q2
12 N 3 p 3 q 3

x2
.............................................................................(23.20)
2 Npq

Juga A 2 Npq ........................................................................................(23.21)


Pada akhirnya kita akan memperoleh

P n

1
x2
exp
..............................................(23.22)
2 Npq
2 Npq

Persamaan (23.22) dikenal sebagai distribusi Gauss atau distribusi normal


dan bertahan ketika n bernilai besar. Distribusi ini memiliki nilai puncak pada
<n>, yaitu pada x = 0. Distribusi bernilai simetris di sekitar puncak. Karena
standar deviasi 2Npq (lihat Persamaan 23.7), kita dapat menuliskan:
n n
1
P n
exp
....................................(23.22a)
2
2

Ketajaman puncak Gauss bergantung pada . Jika kecil, maka puncak


2

berbentuk tajam dan probabilitas P (n) turun dengan cepat pada salah satu sisi
puncak. Untuk yang besar puncak lebih datar dan P (n) turun lebih lambat pada
bagian awal puncak. Hal ini digambarkan pada Gambar 44b.
Distribusi Gauss (23.22a), yang merupakan aksi berkelanjutan, dapat
digunakan untuk memperkirakan probabilitas kesalahan

dalam perhitungan

jumlah radiasi yang datang pada detektor. Persamaan (23.22a) dapat ditulis ulang
dalam bentuk kesalahan dalam menghitung x dalam waktu t sebagai:
x 2
1
P x dx
exp
dx .........................................................(23.22b)
2
2
2
Ini merupakan probabilitas menghitung kesalahan antara x dan x + dx.
Probabiltas menghitung kesalahan x n n dalam interval
sampai + diberikan oleh:

2
x2
exp

dx ........................................(23.23)

0
Perhitungan kesalahan tertentu yang sepertinya kesalahan tersebut tidak

terlalu

P x dx

berlebihan

disebut

kemungkinan

salah

(probable

error)

dilambangkan dengan r dan diperoleh dengan memecahkan situasi berikut:

yang

100

1
2
x2
Pr
exp 2 dx .......................................................(23.24)
2 2 0
2
Suatu pendekatan pemecahan masalah terhadap persamaan ini dapat

diperoleh dengan ekspansi deret eksponensial Taylor dan mengintegralkan tiaptiap bentuk yang dihasilkan. Hanya ada beberapa bentuk yang perlu dievaluasi.
Pemecahan masalah menghasilkan:
r
0.4769
2
r 0.4769 2 0.6743 ................................................................(23.25)
Kesalahan mutlak rata-rata didefinisikan sebagai:

x 2
2
x
x
exp
dx .......................................................(23.26)

2
2 0
2

2
0.8

Untuk sebuah bentuk m tertentu dari hitungan yang dimati ni, kesalahan

mutlak rata-rata dapat dihitung dengan mudah:


1 m
1 m
2
x obs ni n xi
m i 1
m i 1

x obs ........................................................(23.27)
2
Pada bagian lain, kesalahan kuadrat rata-rata (mean squared error) adalah

x 2
2
2
2
x
x exp
dx 2
2

2 0
2
.............................................(23.28)
Nilai yang diamati dari < x2 > diberikan oleh
Karena kita memiliki

x 2 obs

1 m
1 m
2
ni n xi 2 2

m i 1
m i 1

Ini memberikan x 2 obs ...................................................................(23.29)


Dua nilai dihitung dari data pengamatan tidak akan sama secara umum.
Namun jika ada perbedaan yang cukup besar diantara nilai-nilai tersebut, maka
data pengamatan tidaklah reliabel.
Rencana Perhitungan:
Dalam sebuah eksperimen menentukan nilai perhitungan dari sebuah
sumber radioaktif tertentu, detektor juga merekam radiasi background yang
terutama disebabkan oleh sinar kosmik. Nilai background dikurangi dari nilai
perhitungan total untuk mendapatkan nilai perhitungan sebenarnya yang
disebabkan oleh detektor itu sendiri..

101

Anggap perhitungan Ntot direkam dalam waktu t dari suatu sumber. Ntot
meliputi perhitungan background. Sehingga nilai perhitungan total
N
ntot tot
t
Angap suatu distribusi Poisson, kita memiliki standar deviasi dari Ntot
tot Ntot N not N not
Jika radiasi background dihitung untuk waktu tb memberikan pembacaan
hasil Nb kemudian nilai perhitungan background adalah
N
nb b
tb
Standar deviasi untuk Nb adalah b N b N b N b .
Jadi standar deviasi dalam dua nilai perhitungan adalah
N tot
N tot
n
ntot

tot .............................................................(23.30)
t
t
t

Nb
N b
n

b ...................................................................(23.31)
tb
tb
tb
Sehinggakita dapat menuliskan dua nilai sebagai
nb
n
...................................................................(23.32)
ntot tot and nb
tb
t
Nilai perhitungan yang hanya disebabkan oleh detektor adalah
nb

ns ntot nb

N tot N b

t
tb

Sekarang kita menggunakan beberapa teorema yang dibuktikan pada bukubuku statistik dasar.
Jika distribusi n1 memiliki rata-rata

<n1>, varian 12 dan distribusi n2

memiliki rata-rata <n2>, varian 2 2 , maka (n1 + n2) memiliki rata-rata <n1>+<n2>

2
2
dan varian 1 2 sedangkan (n1 n2) memiliki rata-rata <n1>-<n2> dan varian

2
1

22 . Standar deviasi dalam ns diperoleh dari akar kuadrat dari jumlah

standar deviasi untuk dua nilai di atas yaitu


1

ns ntot 2 nb2 2
1

n
n 2
tot b ..............................................................................(23.33)
tb
t

102

Selanjutnya kita akan melihat bagaimana waktu tertentu T harus dibagi


antara t dan tb untuk membuat kesalahan minimum ns dalam perhitungan nilai ns
untuk sumber saja. Karena t + tb = T adalah konstan, kita memiliki

Untuk membuat ns minimum kondisinya adalah

d ns

Pada dt
b

ntot nb

t 2 tb 2
1
2

dtb
1 .
dt

d ns
0
dtb

ntot nb

t
tb

t
nb
Ini memberikan b
t
ntot
Ini menggambarkan pembagian optimal dari waktu yang tersedia (T) utnuk
2

dua bentuk perhitungan. Sebagai contoh jika maka ntot = 100nb (background
kecil), maka hanya sepersepuluhthen only dari waktu total perhitungan yang harus
dibagikan ke perhitungan background. Di sisi lain, jika ntot = nb, maka keduanya
harus diberikan waktu yang sama.
Dari kondisi optimal pmbagian waktu yang disimpulkan di atas, sangat
mudah melihat bahwa standar deviasi untuk perhitungan nilai sebenarnya dalam
suatu kondisi adalah

n
n 2 1
ns tot b
T
T tb tb

ntot nb

1
2

.............................................(23.35)

Harus dicatat bahwa perhitungan nilai rata-rata cukup besar, baik distribusi
binomial atau Poisson dapat didekati oleh distribusi normal.

103

BAB III
KESIMPULAN

1. Prinsip-prinsip dasar dalam deteksi radiasi nuklir secara garis besar dapat
dibagi menjadi tiga kelas, yaitu metode berdasarkan pembawa muatan bebas,
metode berdasarkan penginderaan cahaya, dan metode berdasarkan visualisasi
jejak radiasi.
2. Metode berdasarkan deteksi pembawa muatan bebas meliputi instrumen
berdasarkan metode ini meliputi ruang ionisasi, pencacah proporsional,
pencacah Geiger-Muller dan detektor semikonduktor.
3. Metode berdasarkan penginderaan cahaya meliputi pencacah kilauan
(scintillation pencacah) dan detektor Cherenkov.
4. Metode berdasarkan visualisasi jejak radiasi meliputi beberapa instrumen,
misalnya ruang kabut Wilson (Wilson cloud chamber), ruang gelembung
(bubble chamber), plat emulsi nuklir, ruang percikan (spark chamber) dan
detektor jejak bentuk padat (solid state track detector).
5. Adapun detektor yang paling sering digunakan dalam pendeteksian radiasi
adalah

pencacah

Geiger-Muller

(G-M),

pencacah

kilauan,

detektor

semikonduktor, ruang kabut Wilson, dan ruang gelembung.


6. Pencacah Geiger Muller merupakan alat perekam data radiasi dengan
berdasarkan pada prinsip ionisasi atom-atom gas. Detektor ini berisi gas
bertekanan rendah, kawat halus yang berfungsi sebagai anoda dan selubung
silinder sebagai katoda.Tiap-tiap gas yang masuk tabung gas G-M akan
menyebabkan ionisasi dalam waktu singkat.
7. Pencacah kilauan merupakan pencacah yang berisi zat-zat fluoresensi
dipasang dipermukaan sebuah tabung (photomultiplier) dan terdiri atas
dynode-dynode yang berfungsi menghantarkan electron-elektron yang
nantinya akan mengalir sebagai pulsa arus.
8. Detektor semikonduktor merupakan detektor dengan bahan utama berupa
sambungan positif (p) dan negatif (n). Jika detektor tidak teradiasi maka tidak
akan mengalirkan arus listrik, sedangkan bila ada radiasi yang dapat
memberikan lubang (hole) pada sambungan akan dapat memunculkan arus

103

104

listrik. Alat ini cukup sederhana, hanya saja volume aktif yang dimiliki bahan
sangat kecil.
9. Ruang kabut Wilson digunakan untuk mendeteksi radiasi atau mengamati
jejak ion berdasarkan prinsip kondensasi (pengembunan).
10. Ruang gelembung serupa dengan ruang kabut hanya saja tekanan diatur
hingga zat cair di dalam ruang berubah menjadi uap.
11. Hampir semua keluaran (output) dari detektor radiasi berupa sinyal listrik.
Didalamnya terdapat rangkaian listrik yang sangat bervariasi untuk dirangkai
dengan detektor radiasi nuklir. Pada awalnya, peralatan ini dibuat berdasarkan
pada tabung hampa udara yang sekarang telah digantikan oleh transistor dan
dioda semikonduktor.

DAFTAR PUSTAKA

105

Ghoshal, S.N. 2002. Nuclear Physics. New Delhi: S. Chand & Company Ltd.