Anda di halaman 1dari 78

Chapter Report

BAB IX

MODEL NUKLIR
Dosen Penanggung Jawab Mata Kuliah
Prof. Dr. H. Prabowo, M.Pd.

Oleh

Arman Kalean

127795056

Rahma Pancawati

127795076

Agustina Elizabeth

127795077

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI


SURABAYA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SAINS
2013

DAFTAR ISI
Hal.
DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN
BAB II. PEMBAHASAN
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.
J.
K.
L.
M.
N.
O.
P.
Q.
R.
S.
T.
U.
V.

Aturan inti atom; hipotesis neutron-proton


Sifat-sifat gaya inti
Penemuan nuklida-nuklida stabil
Model-model inti atom
Model Tetes Cairan
Rumusan Bethe-Weizsacker
Aplikasi Formula Semi-Empiris Energi Ikat
Model Inti Gas Fermi
Struktur kulit inti
Keadaan partikel tunggal dalam inti.
Aplikasi dari Model Kulit Partikel Tunggal Ekstrim.
Model Kulit Partikel Tunggal.
Model Partikel Individu.
Model Kolektif (bersama).
Spektrum Getaran.
Getaran yang tetap didalam inti yang terdeformasi
Rotasi Nuklir.
Pemasangan Partikel dan Gerakan kolektif
Momen Listrik Kuadrupol untuk inti terdeformasi kuat
Model Terpadu Nilsson untuk potensial deformasi
Model Super Fluida.
Resonansi Raksasa.

2
6
7
10
11
12
18
25
28
32
41
52
55
58
60
63
65
69
70
71
74
75

BAB III. KESIMPULAN


DAFTAR PUSTAKA

iii

ii

BAB I
PENDAHULUAN
Telah kita lihat bahwa massa-massa atom isotop-isotop yang berbeda yang
dinyatakan dalam skala massa atom

12

C, mempunyai nilai-nilai mendekati bilangan-

bilangan bulat yang merepresentasikan nomor-nomor massa mereka. Hal ini dikenal
sebagai Kaidah Bilangan Bulat dari Aston. Ahli-ahli kimia sebenarnya sejak lama telah
menemukan bahwa berat atom unsur-unsur yang berbeda adalah mendekati nomornomor bulat, yang mendasari W. Prout pada awal abad ke-19 mengajukan hipotesis
bahwa atom-atom dari unsur-unsur yang berbeda terbentuk dari atom-atom hidrogen
dengan jumlah-jumlah yang berbeda. Namun begitu, terdapat beberapa inkonsistensi
dalam hipotesis Prout. Contohnya, unsur-unsur seperti khlorin dan tembaga mempunyai
berat atom yang cukup berbeda dari nomor-nomor bulat (berturut-turut 35,45 dan
63,54). Hasil-hasil pengamatan ini memaksa untuk mengabaikan hipotesis Prout. Akan
tetapi, dengan penemuan Kaidah Bilangan Bulat dari Aston tentang massa-massa
isotopik, ketertarikan kepada hipotesis Prout dihidupkan kembali di awal-awal abad ini.

BAB II
PEMBAHASAN
9.1 Aturan inti atom; hipotesis neutron-proton
Berat atom kimia dari sebuah unsur sesungguhnya adalah berat atom rata-rata dari
isotop-isotop yang berbeda, yang selalu hadir dalam unsur didalam proporsi-proporsi

yang telah pasti. Isotop-isotop yang berbeda tersebut tentu saja mempunyai berat atom
(massa atom) yang hampir integral. Karena massa atom dari isotop hidrogen 1H
(1.007825) hampir bulat, maka cukup wajar untuk mengasumsikan bahwa inti atom dari
sebuah isotop bernomor massa A terbentuk dari inti sejumlah A atom hidrogen
bernomor massa 1 (1H) yang tak lain adalah proton-proton. Karena setiap proton
membawa sebuah satuan elektronik bermuatan positif (+e) hal ini menjadikan muatan
total dari proton-proton A sama dengan +Ae. Namun begitu, muatan muatan dari sebuah
inti atom sesungguhnya sama dengan +Ze, Z merupakan nomor atom yang biasanya
lebih kecil daripada A. Jadi tentu saja inti atom tersebut tidak dapat terbentuk hanya dari
proton-proton saja.
Untuk menangani kesulitan diatas, diasumsikan bahwa selain dari proton-proton
A, inti tersebut mengandung elektron-elektron (A-Z), masing-masing membawa muatan
e. Hal ini akan menjadikan muatan total inti atom tersebut +Ze. Karena massa elektron
jauh lebih kecil daripada massa proton, massa total inti atom akan tetap mendekati
massa total proton-proton A didalamnya.
Namun demikian hipotesis proton-elektron dari aturan inti atom ini mempunyai
banyak kekurangan. Ada beberapa alasan untuk meyakini bahwa elektron-elektron tidak
dapat tetap berada didalam inti atomnya yang mempunyai radius dengan orde 10 -14 m
atau kurang. Menurut prinsip ketakpastian Heisenberg, ketakpastian dalam momentum
p dari elektron dalam inti atom dengan demikian akan menjadi
p

10 34
14 10 20 kg.m/s
x R 10

Sebuah elektron dengan momentum berorde sebesar ini akan mempunyai energi
3x108 x10 20
E c.p
20 Mev
1.6x10 13
Tidak ada bukti eksperimental dari keberadaan elektron-elektron berenergi tinggi
seperti itu didalam inti-inti dari atom-atom. Sebuah elektron berenergi tinggi yang
demikian akan tetap berada di suatu sumur potensial yang sangat dalam didalam inti
atom. Menurut teori elektron Dirac, sebagian elektron dari keadaan energi negatif
nantinya dapat bertransisi ke keadaan energi positif didalam sumur ini, sebagai akibat
dari pasangan-pasangan elektron-positron yang akan terbentuk. Namun demikian tidak
ada bukti untuk pembentukan pasangan elektron-positron yang demikian. Jadi
keberadaan permanen dari elektron-elektron didalam inti atom tidaklah mungkin.
Mereka sesungguhnya terbentuk pada saat peluruhan-.

Kemudian, dari tinjauan-tinjauan momentum anguler inti atom inti atom,


hipotesis proton-elektron akan menghadapi kesulitan-kesulitan yang serius. Elektron
dan positron adalah partikel-partikel dengan spin . Jumlah total mereka didalam inti
atom seharusnya adalah A + A - Z = 2A - Z. Jika jumlah totalnya genap, maka spin total
dari inti atom (l) haruslah integral (bilangan yang bulat), sedangkan jika jumlah totalnya
ganjil, l haruslah setengah-integral (bilangan bulat dibagi dua). Hal ini karena l = L + S
dimana L adalah momentum anguler orbital (dalam satuan ) yang semestinya integral,
sementara S adalah momentum anguler spin intrinsik resultan dari semua partikel dalam
inti atom yang bisa jadi integral atau setengah-integral, tergantung pada apakah jumlah
total partikel-partikel adalah genap atau ganjil. Sebagai contoh, jika kita mengambil
kasus dari inti atom

14

N (Z = 7), maka jumlah proton-proton dan elektron-elektron

adalah 2A - Z= 28 - 7 = 21 yang mana adalah ganjil. Jadi inti atom

14

N harus

mempunyai spin setengah-integral. Namun pengukuran memberikan l = 1 untuk inti


atom ini, yang berlawanan dengan harapan dari hipotesis proton-elektron. Masih ada
contoh-contoh lainnya dari anomali jenis ini.
Tinjauan momen magnetik dan tinjauan statistik inti atom inti atom juga
mengarah pada anomali-anomali yang serupa.
Momen magnetik intrinsik dari elektron kira-kira 1000 kali lebih besar daripada
nukleon-nukleon. Jika inti atomnya mengandung elektron-elektron, maka momen
magnetiknya harus dari orde momen magnetik elektronik. Namun begitu, nilai-nilai
yang diukur adalah jauh lebih kecil, karena merupakan orde dari momen-momen
magnetik nukleon-nukleonnya.
Kita ketahui bahwa semua partikel elementer di alam dapat dikelompokkan
sebagai fermion atau boson berdasarkan sifat simetri fungsi-fungsi gelombang mereka.
Untuk partikel-partikel ber-spin intrinsik setengah-integral (1/2, 3/2, 5/2 dst), fungsigelombangnya adalah antisimetris. Mereka mematuhi statistik Fermi-Dirac (F-D) dan
dikenal sebagai fermion. Elektron, proton dan neutron termasuk dalam kelas ini. Untuk
partikel-partikel, dengan spin integral (0, 1, 2, dst), fungsi-gelombangnya adalah
simetris. Mereka mematuhi statistik Bose-Einstein (B-E) dan dikenal sebagai boson.
Foton (S = 1), meson (S = 0), dst. termasuk dalam kelas ini.
Sebuah sistem terisolasi gabungan yang mengandung N fermion akan mematuhi
statistik F-D atau B-E, tergantung pada apakah N adalah ganjil atau genap secara
berurutan. Sebagai contoh, dalam kasus inti atom 14N, karena akan terdapat 21 proton

dan elektron yang mana jumlahnya ganjil, statistik yang harus dipatuhi haruslah F-D.
Namun demikian, bukti eksperimental menunjukkan bahwa ia mematuhi statistik B-E.
Jadi semua bukti diatas menunjukkan bahwa hipotesis proton-elektron dari aturan
inti atom tidaklah benar.
Mengingat kesulitan-kesulitan diatas, Rutherford mengajukan hipotesis (1920)
bahwa sebuah proton dan sebuah elektron didalam inti atom membentuk sebuah partikel
netral gabungan. Pada 1932, murid dari Rutherford, James Chadwick mengamati emisi
sebuah partikel netral dari inti atom saat sedang melangsungkan sebuah eksperimen
pada trasmutasi buatan dari unsur-unsur. Partikel-partikel ini ditemukan mempunyai
massa yang hampir sama seperti proton-proton dan disebut neutron. Neutron
sesungguhnya adalah sebuah jenis baru dari partikel elementer dan bukan suatu
gabungan dari sebuah proton dan sebuah elektron sebagaimana yang disangkakan oleh
Rutherford. Spin dari neutron adalah dan karenanya ia adalah fermion.
Setelah penemuan Chadwick, W. Heisenberg mengajukan (1932) bahwa inti atom
inti atom terbentuk dari proton-proton dan neutron-neutron dan bukan dari protonproton dan elektron-elektron. Dalam gambaran ini, sebuah inti atom bernomor massa A
dan nomor atom Z tersusun dari Z proton dan N = A Z neutron, sehingga jumlah total
partikel-partikel didalam inti atom adalah sama dengan nomor massanya A. Karena
massa proton dan neutron tersebut keduanya hampir menyatu massa atomnya akan
mendekati nomor massanya yang kemudian akan menjelaskan Kaidah Bilangan Bulat
Aston. Dengan begitu inti atom sudah tentu akan membawa Z satuan muatan elektronik
positif.
Spin yang diamati, momen magnetik dan statistik dari inti atom inti atom dapat
dijelaskan berdasarkan hipotesis proton-neutron. Karena terdapat sejumlah A proton dan
neutron didalam inti atom, setiap spin intrinsik (dalam satuan ), spin nuklir total l
haruslah 0 atau bulat jika A adalah genap dan akan menjadi setengah bilangan bulat
ganjil jika A adalah ganjil, dengan momentum anguler orbital dari nukleon-nukleonnya
selalu bulat. Sebagai contoh, dalam kasus inti atom 14N, jumlah total neutron dan proton
adalah 14 yang tak lain adalah sebuah bilangan genap. Karenanya spin l dari inti atom
seharusnya bulat, yang sesuai dengan pengamatan-pengamatan (lihat atas).
Momen-momen magnetik dari proton dan neutron berada pada orde magnitudo
yang sama.
p = 2.7927 N
n = - 1.9131N

dimana N =e/2MP adalah magneton nuklir, Mp adalah massa proton. Jadi sebuah
inti atom yang hanya terbentuk dari proton-proton dan neutron-neutron harus
mempunyai sebuah momen magnetik dari orde magnitudo yang sama sebagai N. Hal
ini dikuatkan oleh pengukuran-pengukuran eksperimental.
Akhirnya, statistik yang dipatuhi oleh inti atom inti atom tersebut dapat
dijelaskan berdasarkan hipotesis proton-neutron. Karena nukleon-nukleonnya adalah
fermion-fermion, sebuah inti atom dengan A genap harus mematuhi statistik B-E,
sementara sebuah inti atom dengan A ganjil harus mematuhi statistik F-D. Hal ini sesuai
dengan pengamatan-pengamatan. Sebagai contoh, dalam kasus inti atom 14N, karena A
adalah genap, ia harus mematuhi statistik B-E.
Neutron sedikit lebih berat daripada proton. Dalam keadaan bebas diluar inti
atomnya, ia ditemukan bersifat radioaktif dan meluruh oleh emisi- menjadi sebuah
proton:
1
0

n 11H v

Waktu paruh dari neutron bebas adalah 10,6 menit. Energi kinetik maksimum
partikel- yang diemisikan olehnya (oleh neutron) adalah 0,782 MeV.
Seperti telah dinyatakan sebelumnya, proton-proton dan neutron-neutron secara
bersama-sama dikenal sebagai nukleon-nukleon. Diyakini bahwa mereka mewakili dua
keadaan muatan yang berbeda dari entitas yang sama.
Hipotesis proton-neutron dapat dengan mudah menjelaskan keberadaan lebih dari
satu isotop dari suatu unsur. Sifat kimia dari suatu unsur ditentukan oleh jumlah proton
didalam inti atomnya. Jika jumlah protonnya Z tetap sama, tetapi jumlah neutronnya N
= A Z berubah, sifat kimia dari atom tersebut tetaplah sama, namun massa-massa
atomnya berubah. Nuklida yang demikian dikenal sebagai isotop.
9.2 Sifat-sifat gaya inti
Proton-proton dan neutron-neutron terikat dengan sangat kuat di dalam inti
atom. Sifat gaya yang mengikat mereka bersama pada dasarnya berbeda dari tipe-tipe
gaya yang lebih familiar, misalnya gaya-gaya gravitasional atau elektromagnetik. Gaya
gravitasional jauh lebih lemah untuk dibandingkan dengan ikatan nuklir (inti).
Contohnya, energi potensial dari interaksi gravitasional antara dua nukleon di dalam inti
atom pada suatu jarak 2 x 10-15m (2 fm) dari yang satu ke yang lainnya adalah
(1,66 x 10 27 )
Vg G
6,672x10 11 x 1,3778x10 39
15
(2 x 10 )
9,193 x 10 50

5,75x10 32 MeV
1,6 x 10 12

Ini adalah jauh lebih kecil daripada energi ikatan per nukleon, yang berorde beberapa
juta elektron volt.
Sejauh gaya elektromagnetik yang ditinjau, dua buah proton akan saling tolakmenolak satu sama lainnya karena muatan-muatan mereka yang sama. Karena neutronneutronnya netral dalam hal kelistrikan maka tidak ada interaksi elektromagnetik
diantara mereka sendiri ataupun dengan proton-proton.
Jadi kita mesti mengasumsikan sebuah tipe gaya lainnya selain dari dua gaya
diatas yang bekerja diantara nukleon-nukleon di dalam inti atom. Gaya ini menarik
dengan sangat kuat hingga suatu jarak maksimum tertentu diantara nukleon-nukleon
yang berorde sekitar 2 fm. Jarak yang demikian dikenal sebagai jangkauan gaya. Diluar
dari jarak tersebut maka gayanya adalah kecil (dapat diabaikan). Hal ini dikenal sebagai
interaksi yang kuat. Sifat yang pasti dari gaya ini tidak sepenuhnya dimengerti. Namun
begitu, beberapa gagasan mengenai sifatnya dapat disimpulkan dari sifat-sifat keadaan
dasar dari deuteron, sistem ikatan proton-neutron yang paling sederhana. Selain itu,
eksperimen-eksperimen hamburan internukleon pada energi-energi yang berbeda
memberikan pencerahan yang berarti pada sifat dari gaya internukleon. Hal ini akan
didiskusikan pada bab XVII.
Sebuah teori medan dari gaya internukleon pertama kali dikembangkan oleh
fisikawan Jepang H. Yukawa pada tahun 1935, yang berasumsi bahwa gaya bekerja
melalui pertukaran sebuah partikel dari massa yang berada ditingkat menengah antara
sebuah elektron dan sebuah proton, sebagaimana interaksi elektromagnetik yang bekerja
melalui perantara dari sebuah foton sebenarnya. Partikel ini, dikenal sebagai sebuah
meson- atau pion, namun tidak diketahui kapan Yukawa mengajukan teorinya. Partikel
ini kemudian ditemukan dalam sinar-sinar kosmis (1947). Keduanya, pion positif dan
negatif () seperti juga halnya pion-pion netral (0) telah dikenal. Menurut Yukawa,
sebuah pion secara kontinyu bertukaran diantara dua nukleon ketika mereka berada
pada suatu jarak kira-kira kurang dari 2 fm. Gaya jenis ini yang dikenal sebagai gaya
pertukaran telah lebih awal dipostulatkan oleh W. Heisenberg untuk menjelaskan ikatan
dari dua atom hidrogen dalam molekul H2.
9.3 Penemuan nuklida-nuklida stabil
Dari sekitar 1000 nuklida yang diketahui ada, hanya sekitar 25% yang stabil.
Sisanya bersifat radioaktif dan pada dasarnya diproduksi secara artifisial. Terkecuali

beberapa nuklida peluruhan- yang lebih berat, kebanyakan dari mereka adalah
peluruhan-. Beberapa nuklida berat juga melangsungkan fisi (pembelahan) spontan.
Elemen-elemen yang ada secara alamiah dapat dikelompokkan kedalam dua
kelas berdasarkan pada apakah mereka mempunyai nilai Z yang genap atau ganjil.
Elemen-elemen dengan Z genap umumnya mempunyai isotop stabil dengan jumlah
yang lebih besar daripada elemen-elemen dengan Z ganjil. Yang disebut belakangan
biasanya mempunyai satu atau dua isotop stabil. Diantara elemen-elemen Z genap,
jumlah isotop stabil umumnya lebih besar. Sebagai contoh kalsium (Z = 20), selenium
(Z = 34), krypton (Z = 36), dsb. masing-masing mempunyai enam isotop stabil; zink (Z
= 30), germanium (Z = 32), zirconium (Z = 40) dsb. masing-masing mempunyai lima
isotop stabil; kadmium (Z = 48) mempunyai delapan isotop stabil. Jumlah terbesar
muncul untuk tin (Z = 50) yakni sepuluh.
Gambar 1 menunjukkan grafik jumlah neutron (N = A Z) terhadap jumlah
proton Z untuk inti atom inti atom stabil dari elemen-elemen yang berbeda.
Sebagaimana dapat dilihat dari gambar, rasio N/Z untuk nuklida-nuklida stabil dibatasi
di dalam suatu rentang sempit di sekitar garis tebal mean yang digambar melalui titiktitiknya (garis kestabilan). Untuk inti atom inti atom yang lebih ringan, jumlah protonproton dan neutron-neutronnya hampir sama sehingga N/Z = 1 untuk mereka dan garis
kestabilan mencondong (miring) ke sumbu Z dan sumbu N secara sama. Untuk inti
atom inti atom yang lebih berat, jumlah neutronnya lebih tinggi daripada jumlah
protonnya sehingga N/Z menjadi lebih besar daripada 1 untuk Z yang lebih tinggi. Nilai
tertingginya adalah sekitar 1,6 untuk inti atom inti atom yang sangat berat. Karenanya
garis kestabilan lebih curam pada Z yang lebih tinggi.
Dalam Gambar 1, isotop-isotop dari elemen-elemen yang berbeda (Z = konstan)
terletak pada garis-garis vertikal yang berbeda. Disisi lain, nuklida-nuklida dengan Z
yang berbeda, mempunyai nomor massa yang sama (A = konstan) yang terletak di
sepanjang garis yang miring pada sudut 135o terhadap sumbu Z. Yang demikian ini
dikenal sebagai isobar-isobar. Akhirnya, nuklida-nuklida dengan jumlah neutron yang
sama (N = konstan) terletak di sepanjang garis-garis horizontal yang berbeda. Mereka
dikenal sebagai isoton-isoton. Plot dari inti atom inti atom dalam grafik N vs Z
dikenal sebagai diagram Segre. Diagram tersebut telah diperluas untuk memasukkan
semua inti atom yang stabil dan tidak stabil.

Gambar 1. Grafik N versus Z untuk Inti atom inti atom Stabil

Jumlah isobar stabil untuk A yang berbeda biasanya satu atau dua. Dalam
beberapa kasus tiga isobar stabil ditemukan. Mereka terdapat pada A = 96, 124, 130 dan
136.
Isotop-isotop dari semua elemen dapat dibagi kedalam empat kelompok: Z
genap N genap (e-e), Z genap N ganjil (e-o), Z ganjil N genap (o-e) dan Z ganjil
N ganjil (o-o). Jumlah maksimum isotop stabil yang teramati berada diantara kelompok
genap-genap yakni sekitar 60% dari jumlah total isotop stabil. Kelompok genap-ganjil
dan ganjil-genap berjumlah kira-kira sama dan tiap kelompok mengandung sekitar 20%
dari jumlah total. Jumlah isotop stabil ganjil-ganjil adalah yang terkecil. Hanya empat
darinya yang diketahui berada diantara nuklida-nuklida teringan. Mereka ini adalah
isotop 2H (Z = 1), 6Li (Z = 3), 10B (Z = 5) and 14N (Z = 7). Tidak ada isotop stabil yang
diketahui berada pada A = 5 dan A = 8. Dalam Tabel 1 terdaftar jumlah isotop stabil
yang dimiliki oleh kelompok-kelompok berbeda yang tersebut diatas.
Tabel 9.1
Jumlah isotop stabil
Genap-genap
Genap-ganjil
Ganjil-genap
Ganjil-ganjil
164
54
50
4

Total
272

Kesamaan dari Z dan N untuk inti atom inti atom yang lebih ringan
menunjukkan bahwa gaya proton-proton dan neutron-neutron adalah hampir sama di
dalam inti atom inti atom tersebut. Hal ini dikenal sebagai simetri-muatan dari gaya

inti. Dalam inti atom inti atom yang lebih berat, tolakan Coulomb diantara protonproton cenderung melemahkan ikatannya. Untuk mengimbangi hal ini, jumlah neutron
didalamnya haruslah relatif lebih tinggi, yang akan meningkatkan kekuatan ikatannya.
Kestabilan sebuah inti atom diperoleh ketika sejumlah tertentu proton dan sejumlah
tertentu neutron terdapat didalamnya. Ketika proporsi mereka diganggu terlalu banyak,
kestabilan inti atom juga terpengaruh.
Jika jumlah neutron N bertambah, menjaga jumlah proton konstan, maka inti
atom kemudian bergerak ke sebelah kiri garis kestabilan, dalam inti atom yang
demikian, sebuah neutron dapat bertransformasi secara spontan menjadi sebuah proton
dan inti atom menjadi aktif -. Disisi lain, jika jumlah proton meningkat, dan menjaga N
konstan, maka inti atom yang baru kemudian jatuh ke sisi kanan garis kestabilan. Dalam
inti atom yang demikian, sebuah proton dapat bertransformasi dengan spontan menjadi
sebuah neutron dan inti atom menjadi aktif + (atau penangkapan-elektron).
Kita ketahui bahwa selama transformasi-, nomor massa A tetap tak berubah.
Hanya Z yang berubah. Jadi transformasi- berlangsung di sepanjang garis-garis
isobaric. Karena perubahan-perubahan Z dengan sebuah satuan dalam kasus tersebut,
tidak mungkin terdapat dua isobar stabil yang bertetangga yang berbeda Z nya dengan
sebuah satuan. Isobar-isobar dengan massa atom yang lebih tinggi akan bertransformasi
menjadi sebuah isobar dengan massa atom yang lebih rendah oleh transformasi-.
Untuk alasan ini, jika lebih dari satu isobar stabil terdapat pada suatu nomor massa yang
diketahui, mereka pasti berbeda Z nya dengan dua satuan. Sebuah contoh yakni 40Ca (Z
= 20) dan 40Ar (Z = 18), yang mana keduanya stabil.
9.4 Model-model inti atom
Untuk memahami sifat-sifat yang teramati dari inti suatu atom diperlukan
pengetahuan yang memadai mengenai sifat interaksi internukleon. Kita telah lihat diatas
bahwa sebuah gaya berjangkauan pendek yang kuat bekerja diantara nucleon-nukleon.
Bentuk matematika yang eksak dari interaksi ini masih belum diketahui. Teori Yukawa
memberi kita beberapa ide mengenainya, yang berdasarkan pada pertukaran sebuah
pion diantara dua nukleon, ketika mereka berada pada suatu jarak kurang dari jangkauan
interaksi tersebut. Namun begitu, ada beberapa pendekatan alternatif dimana lebih dari
satu pertukaran pion juga diperhitungkan. Teori-teori yang telah diajukan tidak ada yang
memberikan kita sebuah pemahaman yang penuh tentang sifat interaksi internukleon.

Dapat dicatat bahwa bahkan jika sifat eksak dari interaksi internukleon
diketahui, masih akan sangat sulit untuk mengembangkan sebuah teori yang
memuaskan akan struktur inti atom yang terbentuk dari sejumlah besar neutron dan
proton, karena hampir mustahil untuk memecahkan persamaan Schrodinger secara
eksak untuk suatu sistem benda banyak yang demikian. Beragam metode telah
dikembangkan untuk memecahkan masalah tersebut dengan tingkat aproksimasi yang
berbeda-beda. Akan tetapi, masalahnya masih jauh dari terpecahkan secara sempurna.
Situasinya cukup berbeda jika kita meninjau teori struktur atom. Sifat dari gayagaya yang bekerja pada elektron-elektron dalam atom tersebut adalah elektromagnetik
yang mana telah dipahami dengan baik. Teori mekanika kuantum dari struktur atom
telah dikembangkan secara luas dan cukup sesuai dengan data eksperimental.
Karena kesulitan-kesulitan diatas dalam mengembangkan sebuah teori yang
memuaskan dari struktur inti, model-model yang berbeda telah diajukan untuk inti
atom, yang masing-masingnya dapat menjelaskan beberapa karakteristik berbeda dari
inti atom.
Kegunaan dari sebuah model bergantung pada sejauh mana prediksinya dapat
dikonfirmasi oleh eksperimen-eksperimen.
Beragam model yang telah diajukan untuk inti atom yakni model-model kolektif
yang berbeda (dimana model tetes cairan adalah salahsatunya), model gas Fermi dan
model-model kulit dengan tipe-tipe perangkai yang berbeda.
9.5 Model Tetes Cairan
Sifat-sifat makroskopis inti, seperti kerapatan materi inti yang konstan dan
energi ikatan per nukleon yang konstan adalah sangat mirip dengan yang ditemukan
dalam sebuah tetes cairan. Interaksi yang sangat kuat dalam jangkauan yang pendek
antara nucleon-nukleon memungkinkan kita untuk meninjau prilaku kolektif mereka
dalam menentukan sifat-sifat inti tersebut. Sebagai contoh, jika ada energi ekstra yang
dipasok ke inti, maka daripada meninjau bagaimana pengaruhnya terhadap gerakan
nukleon-nukleon individual, cukuplah meninjau pengaruhnya pada perilaku kolektif
nukleon-nukleon didalam inti sebagai suatu kesatuan.
Model tetes cairan pertama kali diajukan oleh N. Bohr dan F. Kalckar pada 1937
dan kemudian digunakan oleh C.F. von Weizsacker dan H.A. Bethe untuk
mengembangkan sebuah formula semi-empirik untuk energi ikat inti.
Ada beberapa alasan untuk meyakini bahwa tiap molekul individual didalam
sebuah tetes cairan mengerahkan sebuah gaya tarik kepada sekelompok molekul di

10

lingkungan terdekatnya. Gaya interaksi tidak meluas ke semua molekul di dalam


tetesan. Hal ini dikenal sebagai saturasi (kejenuhan) gaya. Untuk menghitung potensial
interaksi, perlu untuk mengetahui jumlah pasangan molekul yang berinteraksi di dalam
tetesan. Jika setiap molekul berinteraksi dengan semua molekul di dalam tetesan,
jumlah pasangan yang berinteraksi haruslah N(N-1)/2 dimana N adalah jumlah total
molekul. Untuk N yang besar, jumlah pasangan akan menjadi N2/2 sehingga energi
potensial menjadi sebanding dengan N2. Di sisi lain, jika setiap molekul berinteraksi
dengan sejumlah molekul yang terbatas di sekitarnya, jumlah pasangan yang
berinteraksi akan berbanding lurus dengan N sehingga potensial interaksinya akan
sebanding dengan N. kesimpulan ini didukung oleh bukti eksperimental. Jumlah panas
total yang dibutuhkan untuk menguapkan 2 g cairan adalah dua kali yang dibutuhkan
untuk menguapkan cairan 1 g.
Kita telah lihat sebelumnya (Bab II) bahwa energi ikat EB dari sebuah inti
berbanding lurus dengan jumlah nucleous didalamnya, sehingga binding fraction fB
(yaitu, energi ikat per nukleon) hampir konstan (~8, MeV) untuk sebagian besar inti
atom. Fakta ini menunjukkan kemiripan yang dekat antara inti dengan sebuah tetes
cairan. Jadi kita sampai pada kesimpulan bahwa gaya internukleon di dalam inti
mencapai sebuah nilai saturasi, sehingga setiap nukleon hanya dapat berinteraksi
dengan sejumlah terbatas nukleon di sekitarnya. Diluar dari ini, ada beberapa poin
tertentu lainnya dari kemiripan antara inti sebuah atom dan sebuah tetes cairan:
i. Gaya tarik di dekat permukaan nuklir adalah serupa dengan gaya dari tegangan
permukaan dari tetes cairan (lihat nanti);
ii. Seperti dalam kasus sebuah tetes cairan, kerapatan materi nuklir tidak bergantung
dari volumenya. Kita telah lihat di Bab II bahwa radius nuklir R~ A1/3 dimana A
adalah nomor massanya. Karenanya volume nuklir V ~ A. karena massa nuklir M ~
A, kerapatan materi nuklir m=M/V tidak bergantung dari A. Hal ini juga
menunjukkan kejenuhan gaya nuklir;
iii. Sebagaimana akan tampak dalam Bab X partikel-partikel yang berbeda, seperti
neutron, proton, deuteron, partikel- dsb. Diemisikan selama reaksi-reaksi nuklir.
Proses-proses ini adalah analog dengan emisi molekul-molekul dari tetes cairan
selama penguapan;
iv. Energi dalam inti adalah analog dengan energi panas di dalam tetes cairan;
v. Pembentukan sebuah inti majemuk berumur pendek oleh absorpsi sebuah partikel
nuklir dalam sebuah inti atom ketika terjadi sebuah reaksi nuklir, adalah analog

11

dengan proses kondensasi dari fase uap ke cairan dalam kasus tetes cairan.
Model tetes cairan tidak begitu berhasil dalam menjelaskan keadaan-keadaan inti
yang tereksitasi di tingkat yang rendah. Karena gerakan-gerakan kolektif sejumlah besar
nukleon dilibatkan, model ini menyebabkan level-level energi tersebut didapati berruang sangat lebar pada energi-energi eksitasi rendah.
9.6 Rumusan Bethe-Weizsacker
Formula semi-empirik untuk massa nuklir (atau nuclear binding energies) ini,
menghubungkan antara teori2 materi nuklir dgn informasi eksperimental & didasarkan
pd model tetes cairan dari inti atom. Formula semi-empirik untuk massa nuklir (atau
nuclear binding energies) ini, menghubungkan antara teori-teori materi nuklir dgn
informasi eksperimental dan didasarkan pada model inti tetes cairan. Jika M (A,Z)
adalah massa atom dari isotop sebuah elemen X dgn no. atom Z & no. massa A, maka
dapat kita tulis

M ( A, Z ) ZM H NM n E B ........................................................

(9.6-1)

dimana EB adalah energi ikat nuklir; MH dan Mn berturut-turut adalah massa atom
hidrogen (1H) dan neutron, N = A-Z adalah jumlah neutron di dalam inti.
Energi ikat EB dapat dinyatakan sebagai penjumlahan dari sejumlah faktor di
bawah ini:
(i) Volume Energi (Energi volume):
Terlihat dalam Bab II, bahwa EB hampir berbanding lurus dengan A. sehingga
kita dapat menuliskan faktor pertama dalam ekspresi untuk EB sebagai
E v a1 A ........................................................................................ (9.6-2)
Dimana a1 adalah sebuah konstanta. Ev disebut energi volume, volume nuklirnya
adalah sebanding dengan A
(ii) Energi permukaan (Surface energi):
Karena inti diasumsikan menyerupai sebuah tetes cair yang bundar dari radius
R=ro A1/3, kita dapat asumsikan bahwa sebuah gaya yang serupa dengan tegangan
permukaan suatu cairan bekerja pada nukleon-nukleon di dekat permukaan bebas bola
nuklir. Nukleon-nukleon ini dikenai gaya-gaya tarikan yang disebabkan oleh nukleonnukleon yang berada didalam bola. Tidak ada gaya yang bekerja dari luar. Sebagai
hasilnya, inti tersebut mengasumsikan suatu bentuk yang bulat. Gaya permukaan ini
sebanding dengan luas permukaan inti tersebut yang sama dengan 4R 2 4ro2 A 2 / 3 .
Keberadaan gaya permukaan cenderung mengurangi energi ikat inti dengan
dengan jumlah yang sebanding dengan luas permukaan yang terakhir.

12

Jadi kita dapat tuliskan energi permukaan total sebagai


E s a 2 A 2 / 3 .................................................................................. (9.6-3)
Dimana a2 adalah sebuah konstanta.
(iii) Energi Coulomb (Coulomb energi):
Tolakan Coulomb diantara proton-proton di dalam inti juga cenderung
melemahkan ikatan nuklir. Gaya tolakan ini adalah tipe jangkauan panjang, dapat
bekerja di antara semua pasangan proton dalam inti. Jumlah pasangan tersebut adalah Z
(Z-1)/2 ~ Z2/2 untuk Z yang besar. Energi potensial Coulomb untuk semua proton di
dalam inti dapat dihitung sebagai berikut:
Jika kita asumsikan muatan nuklir total Q = +Ze terdistribusi seragam, maka
rapat muatan akan menjadi
3Ze
3Ze
c

....................................................................... (9.6-4)
3
4R
4r03 A
Energi potensial bola bermuatan beradius R dapat dihitung dengan membangun
bola tersebut, lapis demi lapis, menggunakan fakta bahwa medan di luar sebuah
distribusi muatan bola adalah sama seperti jika semua muatan terkonsentrasi di
pusatnya. Anggap bola tersebut telah dibangun hingga suatu radius r. Muatan total di
dalamnya adalah
4 3
r c
3

Mari sekarang kita tambahkan kepadanya sebuah muatan kulit yang sangat kecil
dengan ketebalan dr. Kerja yang dilakukan untuk membawa muatan dq = 4 r2c dr di
dalam kulit dari radius tak berhingga ke r terhadap medan bola bermuatan yang berjarijari r diatas adalah:
dW

4r 2 c dr
q dq
4
r 3 c
4 o r 3
4 o r

1 16 2 2 4
c r dr
4 o 3
Disini o adalah permitivitas ruang hampa; o = 10-9/36 F/m.
Karena itu kerja total yang dilakukan dalam membentuk bola bermuatan dengan

radius R adalah
1 16 2 2 4
1 16 2 2 R 5
W
c r dr
c
4 o 3
4 o 3
5
0
R

1 3 Q2
4 o 5 R

Karena energi potensial adalah negatif dari kerja yang dilakukan, energi
Coulomb dari muatan bola adalah

13

Ec

3 Q2
3 ( Ze) 2

5 4 0 R
5 4 0 R

3
( Ze) 2
Z2

a
...................................................
3
5 4 0 r0 A1/ 3
A1/ 3
Dimana a3 adalah sebuah konstanta yang diberikan oleh
Ec

a3

3 e2
...............................................................................
5 4 0 r0

(9.6-5)

(9.6-6)

Dalam literature lama, energi Coulomb diambil sebanding dengan Z (Z-1)


ketimbang Z2. Namun demikian Persamaan (9.6-5) tampak sebagai sebuah representasi
yang lebih baik. (lihat Physics of the Nucleus oleh M. A. Preston).
Persamaan (9.6-5) untuk energi Coulomb tidaklah eksak. Ia memerlukan koreksi
karena (a) ketidak-seragaman dari distribusi muatan nuklir; (b) disyaratkannya
pengaturan muatan-muatan diskrit dari proton-proton; (c) pengaruh ketakpastian dlm
lokalisasi proton-proton; (d) ketakbulatan (bentuk) inti; (e) koreksi thd posisi protonproton. Koreksi tentang Energi Coulomb Total telah dihitung oleh D.C. Peaslee (lihat
referensi di atas).
(iv) Energi Asimetri (Asymmetry energi):
Di dalam inti-inti ringan, ada sebuah kecenderungan jumlah neutron dan proton
untuk sama (N = Z) untuk membentuk konfigurasi yang paling stabil. Ketika membahas
inti yang lebih berat, peningkatan jumlah proton cenderung melemahkan ikatan mereka
karena gaya tolak coulomb diantara mereka. Jadi beberapa neutron ekstra harus hadir
untuk memberikan tambahan ikatan n-n untuk mengkompensasi hal ini. Namun, ini
mengganggu kondisi kesetaraan Z dan N untuk membentuk konfigurasi yang paling
stabil ketika efek Coulomb diabaikan. Jadi karena adanya asimetri dalam jumlah
neutron-proton, aka nada pengurangan energi ikat oleh sejumlah Ea yang sebanding
dengan (N - Z)2 yang menunjukkan bahwa efeknya adalah sama, terlepas dari apakah
jumlah neutron lebih besar atau kurang dari jumlah proton. Selanjutnya efeknya harus
menurun untuk inti-inti berat.
Karena N - Z = A - 2Z, kita kemudian dapat menulis energi asimetri
E a a 4

( A 2Z ) 2
.......................................................................
A

(9.6-

7)
(v) Energi Pemasangan (Pairing energi):
Sebuah studi tentang sistematika energi-energi ikat dari inti-inti yang berbeda
menunjukkan bahwa untuk A (genap) yang diberikan, inti-inti Z genap-N genap (e-e)

14

terikat dengan lebih kuat daripada inti-inti Z ganjil-N ganjil. Lebih lanjut jika energienergi ikat dari inti-inti ini dibandingkan dengan energi-energi ikat inti-inti A ganjil
tetangganya, yakni Z genap-N ganjil (e-o) dan Z ganjil-N genap (o-e), ditemukan bahwa
ikatan-ikatan dari inti-inti A ganjil adalah di kisaran menengah antara inti-inti e-e dan oo. inti-inti A ganjil terikat dengan lebih kuat daripada inti-inti o-o sementara ikatan
mereka kurang kuat dibandingkan dengan inti-inti e-e.
Pengamatan-pengamatan ini menunjukkan bahwa kita harus menambahkan
sebuah faktor energi pemasangan (pairing energi) kepada ekspresi EB yang muncul
karena pemasangan nukleon-nukleon bertipe sama dengan spin-spin yang berlawanan.
Pemasangan yang demikian cenderung meningkatkan kekuatan ikatan yang kemudian
menjadi maksimum untuk inti-inti e-e di mana semua nukleon dari kedua tipe (p dan n)
dipasangkan dengan spin-spin yang dijajarkan berlawanan. Dalam inti-inti A ganjil, ada
sebuah nukleon yang tak berpasangan yakni sebuah neutron untuk inti-inti o-e dan
sebuah proton untuk inti-inti o-e. Hal ini melemahkan ikatan di dalam inti-inti tersebut
sekitar 2 hingga 3 Mev. Akhirnya dalam inti-inti o-o, terdapat dua nukleon tak
berpasangan, satu proton dan satu neutron. Akibatnya, ikatan-ikatan dari inti-inti
tersebut semakin melemah sekitar 2 hingga 3 Mev.
Faktor energi pemasangan (pairing energi) (A, Z) hanya bergantung pada A
dan menjadi nol untuk inti-inti A ganjil, positif untuk inti-inti e-e dan negatif untuk intiinti o-o. Hal ini diberikan oleh
a5 A 3 / 4 ................................................................................... (9.6-8)
Dengan demikian kita dapat menulis energi ikat sebagai:
E B ( A, Z ) Ev E s Ec E a
............... (9.6-9)
( A 2Z ) 2
E B ( A, Z ) a1 A a 2 A 2 / 3 a3 Z 2 / A1 / 3 a 4

A
Dalam persamaan di atas, S ditambahkan untuk inti-inti e-e dan dikurangi untuk
inti-inti o-o. Untuk inti-inti A ganjil, kita mengambil = 0.
Ini adalah formula semi-empiris untuk energi ikat nuklir dan dikenal sebagai
formula Bethe-Weizsacker.
Nilai a3 menentukan energi Coulomb yang diberikan oleh Persamaan. (9.6.5).
dengan mengambil r0 = 1,22 fm, kita peroleh
a3

3 e2
3
(1.602 10 19 ) 2

5 4 0 r0
5 4 (10 9 / 36 ) 1.22 10 15

0.000761u

Sebuah nilai yang lebih akurat dari a3 diperoleh dari perbedaan energi inti (lihat
9,7 C).

15

Konstanta lain yang muncul dalam persamaan. (9,6-9) dapat diperkirakan dengan
menyesuaikan rumus dengan energi ikat yang diukur dari sejumlah isotop di berbagai
daerah nilai-A.
Nilai-nilai yang diterima saat ini dinyatakan dalam skala massa terpadu atom
yaitu:
a1 = 0.016919 u; a2= 0.019114 u;
a3 = 0.0007626 u; a4 = 0.02544 u;
as = 0.036 u....................................................................................... (9.6-10)
Massa atom dari isotop dapat ditulis sebagai
M ( A, Z ) Z M H NM n E B ( A, Z )

M ( A, Z ) ZM H ( A Z ) M n a1 A a 2 A 2 / 3 a3 Z 2 / A1 / 3 a 4

( A 2Z ) 2

..

(9.6-11)
Dalam Persamaan (9.6-11) faktor energi pemasangan () dikurangi untuk intiinti e-e dan ditambahkan untuk inti-inti o-o. Ini adalah rumusan massa semi-empiris
yang memberikan energi-energi ikat (binding energies) sekitar 1% dari nilai-nilai yang
ditentukan secara eksperimen untuk A> 40.
Hal yang relatif penting dari faktor-faktor yang berbeda dalam Persamaan (9.69) menjadi jelas dari perhitungan-perhitungan numerik yang menggunakan Persamaan
(9.6-2), (9.6-3), (9.6-5), (9.6-7) dan (9.6-8) di berbagai daerah massa yang berbeda.
Pada Tabel 2 tercantum rasio untuk energi permukaan, Coulomb dan asimetri terhadap
energi volume untuk beberapa inti yang khas di daerah massa yang berbeda, ringan,
menengah dan berat.
Tabel 9.2
A

A-2Z

6
12
20
50
100
160
200
250

3
6
10
24
44
64
80
100

0
0
0
2
12
32
40
50

Ev
(MeV)
94.8
189.6
316
790
1580
2528
3160
3950

Es/Ev
(%)
62
49
41
30.5
24.3
20.8
19.3
18

Ec/Ev
(%)
3.7
5.9
8.2
14
19
21.2
24.6
28.5

Ea/Ev
(%)
0
0
0
0.24
2
6
6
6

EB/A
(MeV)
5.4
7.1
7.95
8.71
8.66
8.22
7.92
7.52

Dari Tabel tersebut jelaslah bahwa untuk inti-inti yang sangat ringan, Hal ini
terbukti dari tabel bahwa untuk inti sangat ringan, faktor yang memberikan konstribusi
utama dalam pengurangan energi volume adalah faktor energi permukaan. Hal ini
disebabkan oleh fakta bahwa rasio luas permukaan terhadap volume untuk inti-inti

16

sangat ringan ini relatif jauh lebih besar daripada untuk inti-inti berat. Pengaruh faktor
energi permukaan berkurang dengan cepat dengan peningkatan A dalam kasus inti-inti
yang sangat ringan, yang bertanggung jawab untuk peningkatan pesat dalam nilai Ev/A
dengan kenaikan A, seperti dapat dilihat dari kurva binding fraction pada Gambar. 2.2
di Bab II.
Pengaruh Energi Coulomb (Ec/EV), yang kecil untuk inti-inti yang lebih ringan,
menjadi cukup dominan untuk inti-inti yang lebih berat yang mengandung sejumlah
besar proton. Hal inilah yang bertanggung jawab untuk penurunan yang lambat dalam
nilai EB/A untuk inti-inti yang lebih berat (A> 90) setelah sebuah nilai maksimum yang
besar ditunjukkan pada Gambar. 2.2 (Bab II).
Pengaruh asimetri tidak cukup signifikan pada nilai-nilai A yang rendah dimana
N dan Z tidak berbeda jauh. Untuk inti-inti yang lebih berat, peningkatan N-Z (= A2Z), menjadi penting.
9.7 Aplikasi Formula Semi-Empiris Energi Ikat
A. Peluruhan Alpha:
Jika inti ZA X mengalami peluruhan- menjadi inti
A
A 4
4
Z X Z 2 Y 2 He
Energi peluruhan- adalah (Lihat bab 1):

A 4
Z 2

Y , kita dapat menulis:

Q M ( A, Z ) M ( A 4, Z 2) M ( 4 He)

Ditulis dalam faktor-faktor energi ikat (EB) dari inti-inti yang terlibat maka untuk A dan
Z yang besar, ini menjadi
Q E B ( A 4, Z 2) E B ( 4 He) E B ( A, Z )

Z2
( Z 2) 2


1/ 3
( A 4)1 / 3
A

Q E B ( 4 He) 4a1 a 2 A 2 / 3 ( A 4) 2 / 3 a3
1
1

A A 4

a4 ( A 2Z ) 2

4 a3 Z
4a 4 ( A 2 Z ) 2
8
Z
1 / 3
28.3 4a1 a 2 A
1/ 3 1
....................(9.7 1)

3
3A
A( A 4)
A

Disini faktor energi pemasangan telah diabaikan. Energi ikat partikel- telah
diambil menjadi 28,3 MeV. Jika nilai-nilai numerik dari a1, a2, a3, dan a4 dinyatakan
dalam MeV (lihat Persamaan 9.6-10) digunakan, Persamaan (9.7-1) memberikan Q>0
untuk A>160. Jadi inti-inti dengan A>160 harus mengalami peluruhan-. Sebenarnya
peluruhan- diamati terutama di wilayah A>200. Untuk inti-inti yang lebih ringan
(A<200), pelepasan energinya sangat kecil sehingga probabilitas penetrasi hambatan
menjadi sangat kecil (Lihat 4.9).

17

(B) Parabola massa: stabilitas inti terhadap Peluruhan-


Persamaan (9.6-11) tanpa komponen dapat ditulis ulang sebagai:
M ( A, Z ) f A p Z qZ 2 ...............................................................
dimana f A A( M n a1 a 4 ) a 2 A 2 / 3
p 4a 4 ( M n M H ) ...................................................................

(9.7-2)

1
(a3 A 2 / 3 4a 4 ) .......................................................................
A

(9.7-3)

(9.7-3)

Persamaan (9.7-2) adalah persamaan sebuah parabola untuk sebuah nilai A yang
diberikan. Dengan menurunkan M(A,Z) terhadap Z untuk sebuah nilai A yang diberikan
(yakni sebuah garis isobarik) kita dapatkan
M

p 2qZ ............................................................................

(9.7-4)

Titik terendah dari parabola Z = ZA dapat diperoleh dengan memasukkan


(M/Z)A = 0. Hal ini memberikan
p 2qZ A 0

p ( M n M H 4a 4 ) A

............................................ (9.7-5)
2q
2(a3 A 2 / 3 4a4 )
Memasukkan Z = ZA dalam Persamaan (9.7-2) kita peroleh
M ( A, Z A ) f A p 2 / 4q ................................................................. (9.7-6)
Maka
Atau

ZA

M ( A, Z ) M ( A, Z A )

p2
pZ qZ 2 q ( Z Z A ) 2 ......................
4q

(9.7-7)

Ini membuktikan bahwa parabola massa untuk sebuah isobar (A = konstan) yang
diberikan mempunyai titik terendah pada Z = Z A karena sisi kanan Persamaan (9.7-7)
adalah positif. Karena M(A,Z) mempunyai nilai terkecil untuk sebuah nilai A yang
diberikan ketika Z = ZA, inti ini akan mempunyai energi ikat terbesar diantara isobarisobar untuk A yang diberikan tersebut, yakni ZA akan memberikan nilai Z untuk isobar
yang paling stabil. Menempatkan nilai-nilai numerik dari Mn, MH, a3 dan a4 dalam
Persamaan (9.7-5) kita mendapatkan
A
................................................................... (9.7-8)
1.98 0.015 A 2 / 3
Perhitungan menggunakan Persamaan (9.7-8) biasanya tidak menghasilkan
ZA

sebuah nilai integral (bulat) untuk ZA. Dalam kebanyakan kasus, nilai Z yang terdekat
dengan ZA dapat disamakan dengan inti stabil yang sebenarnya untuk sebuah A yang
diberikan. Sebagai contoh, untuk A = 63, Persamaan (9.7-8) memberikan ZA = 28,4.
Sebenarnya isotop 63Cu pada Z = 29 ditemukan menjadi stabil. Juga untuk A = 109, ZA =

18

46.94. Ditemukan bahwa isotop

109

Ag dengan Z = 47 adalah stabil untuk nomor massa

ini.
Parabola-parabola massa untuk isobar-isobar yang berbeda yang ditentukan oleh
Persamaan (9.7-2) jatuh ke dalam dua kategori yang berbeda ketika 19actor energi
pemasangan diperhitungkan, berdasarkan apakah A adalah ganjil atau genap. Untuk A
ganjil kita mendapatkan parabola tunggal untuk masing-masing A, karena = 0 dalam
kasus ini. Untuk A genap, kita mendapatkan dua parabola untuk nomor massa yang
sama, satu untuk Z genap (e-e) dan yang lainnya untuk Z ganjil (o-o). Karena 19actor
energi pemasangan dalam Persamaan (9.6-11) dikurangi untuk inti-inti e-e dan
ditambahkan untuk inti-inti o-o, maka untuk A yang sama parabola untuk inti-inti o-o
terletak di atas parabola untuk inti-inti e-e sebesar 2.
Dalam Gambar 9.2 a ditunjukkan plot M(A,Z) terhadap Z untuk isobar-isobar A
ganjil dengan A = 135 (garis putus-putus). Ini adalah parabola dimana titik terendahnya
berada pada ZA = 56,85. Isobar stabil yang sebenarnya diamati pada nomor massa ini
adalah

135

Ba dimana Z = 56. Nuklida-nuklida yang jatuh di kedua sisi isobar stabil

semuanya adalah tak stabil. Mereka yang berada di sisi bawah Z, (yakni Z < 56), adalah
- aktif sementara mereka yang berada di sisi Z yang lebih tinggi (Z > 56) adalah +
aktif atau bersifat menangkap elektron. Masing-masing dari inti-inti ini mengalami
transformasi - menjadi inti produk dengan Z yang satu unit lebih tinggi atau lebih
rendah berturut-turut, seperti yang ditunjukkan dalam gambar. Transformasi - tersebut
terus terjadi langkah demi langkah sampai produk akhir yang stabil tercapai.

Gambar 9.2 Massa parabola

Gambar. 9.2 b menunjukkan dua parabola massa untuk isobar-isobar A genap


dengan A = 102. Parabola yang atas adalah untuk isobar-isobar Z ganjil N ganjil,
sedangkan parabola yang lebih rendah adalah untuk isobar-isobar Z genap N genap.

19

Isobar yang paling stabil dalam hal ini jatuh pada parabola yang lebih rendah. Dengan
menggunakan Persamaan (9.7-8), kita dapatkan ZA = 44,2. Sebenarnya sebuah nuklida
stabil
lain,

102

Ru Z = 44 teramati pada nomor massa ini. Selain itu, nuklida e-e stabil yang

102

Pd (Z = 46), juga ada pada A ini. Kedua isobar stabil tersebut berbeda dalam Z

sebesar dua satuan. Isobar o-o

102

Rh dengan Z = 45 diantara kedua isobar ini jatuh di

parabola yang atas dan memiliki massa atom lebih besar daripada salah satu dari dua
isobar di atas. Oleh karena itu 102Rh adalah tidak stabil. Hal ini menunjukkan aktivitas +
dan -. Emisi + mengubahnya menjadi
menjadi

102

Ru sementara oleh emisi - ia berubah

102

Pd. Contoh-contoh dari inti yang sama menunjukkan aktivitas - dan +

teramati dalam banyak kasus serupa di antara isobar-isobar A genap. Contohnya adalah
40

K, 64Cu, dll.
Gambar. 9.2 b menunjukkan dua isobar o-o lainnya 102Tc (Z = 43) dan 102Ag (Z =

47) pada parabola yang atas. Massa atom mereka lebih tinggi daripada yang daripada
isobar-isobar e-e tetangganya,

102

Ru dan

102

Pd. Oleh karena itu tidak ada dari kedua

isobar yang disebut belakangan ini yang dapat menjadi -aktif. Transformasi-
mengubah Z sebanyak satu satuan. Namun, inti-inti produk o-o yang akan diproduksi
oleh transformasi + atau - dari

102

Ru (masing-masing 102Tc atau

102

atom yang lebih tinggi masing-masingnya dibandingkan dengan

102

Rh) memiliki massa

Ru. Hal yang serupa

dengan situasi dalam kasus 102Pd.


Dari uraian di atas, jelaslah bahwa bisa terdapat dua isobar stabil genap-genap
(A genap) di mana Z berbeda dua satuan. Secara keseluruhan diketahui terdapat 57
kasus pasangan isobarik genap-genap stabil. Selain itu sedikit kasus untuk keberadaan
tiga isobar genap-genap stabil (isobaric-triad) pada suatu nomor massa tertentu telah
diketahui. Ini tercantum dalam Tabel 9.3. Seperti yang akan terlihat, masing-masing
nuklida milik empat triad isobarik stabil pada nomor massa 96, 124, 130 dan 136 adalah
genap-genap. Mereka jatuh di parabola-parabola massa yang bawah pada nomor-nomor
massa yang berhubungan. Di antaranya, ada sebuah isobar ganjil-ganjil dalam setiap
kasus yang jatuh di parabola atas sehingga massa atomnya lebih tinggi daripada massa
atom kedua isobar tetangganya di kedua sisi yang berbeda dalam Z sebesar dua satuan
diantara mereka. Karenanya, dalam setiap triad, nomor atom nuklida-nuklida stabil
yang berurutan berbeda sebesar dua satuan.
Tabel 9.3
Nomor Massa
50
number

22Ti

Isobaric triad
23V

24

Cr

20

96
124
130
136
138

Zr
50Sn
52Te
54Xe
56Ba

Mo
52Te
54Xe
56Ba
57La

40

Ru
54Xe
56Ba
58Ce
58Ce

42

44

Dalam dua kasus lain yang tercantum dalam Tabel 9.3 di A = 50 dan 138
nuklida-nuklida yang berada di tengah 50V (Z = 23) dan

138

La (Z = 57) adalah dari jenis

ganjil-ganjil. Masing-masingnya diapit oleh dua inti genap-genap di kedua sisi. Nilainilai Z-nya berbeda satu satuan di antara anggota-anggota yang berurutan di masingmasing triad. Dari diskusi di atas jelaslah bahwa nuklida-nuklida tengah o-o tidak
mungkin merupakan -stabil dalam kasus ini. Sangat mungkin dikarenakan waktu paruh
mereka yang sangat panjang, aktivitas- mereka belum teramati. Mereka ditandai
dengan tanda bintang (*).
Dua kasus keberadaan pasangan-pasangan isobarik stabil pada nomor massa
ganjil telah diketahui. Mereka adalah pada A = 113 dan 123. Pasangan-pasangan
isobariknya adalah 113Cd (Z = 48) - 113In (Z=49) dan 123Sb (Z=51) - 123Te (Z=52). Nomornomor atomnya berbeda satu satuan untuk setiap pasangan. Kita tahu bahwa menurut
aturan stabilitas inti, kedua anggota dari masing-masing pasangan tidak mungkin stabil.
Anggota dengan massa atom yang lebih tinggi pastilah -aktif. Sangat mungkin karena
waktu paruh mereka yang sangat panjang sehingga aktivitas- nya belum terdeteksi.
(C) Energi Peluruhan- dari inti cermin:
Dalam bab II kita telah membahas secara singkat tentang metode inti cermin
untuk menentukan radius muatan inti. Inti-inti cermin merupakan pasangan-pasangan
dari inti-inti isobarik di mana jumlah proton dan neutron dipertukarkan dan berbeda
sebesar satu satuan sehingga Z N = 1. Karena Z + N = A, kita kemudian mendapatkan
A = 2Z 1. Contoh-contohnya adalah pasangan-pasangan seperti (13H , 23He) ,
( 37 Li ,

7
4

Be) , (11
5 B,

11
6

C ) , (13
6 C,

13
7

N ) , (15
7 N,

15
8

O ) , dll. Anggota dari pasangan-

pasangan dengan Z yang lebih tinggi biasanya ditemukan sebagai pemancar-pemancar


+ seperti:
11
6

11
5

B v

Energi maksimum + yang dipancarkan dalam hal ini adalah 0,96 MeV, tidak
ada sinar- yang dipancarkan dalam transisi ini.
Dengan menggunakan rumus massa semi-empiris kita dapat menulis untuk inti A
ganjil ( = 0):

21

Z2
( A 2Z ) 2

a
4
A1 / 3
A
2
a
Z
ZM H ( Z 1) M n a1 A a 2 A 2 / 3 a3 1 / 3 4
A
A

M ( A, Z ) ZM H NM n a1 A a 2 A 2 / 3 a3

Untuk anak atom


M ( A, Z 1) ( Z 1) M H ZM n a1 A a 2 A 2 / 3 a3

( Z 1) 2 a 4

A
A1 / 3

Jadi kita dapatkan

( 2Z 1)
M ( A, Z ) M ( A, Z 1) M H M n a3
A1 / 3
Q M ( A, Z ) M ( A, Z 1) 2me
( 2Z 1)
M H M n a3
2me
1/ 3
A
a3 A2 / 3 ( M n M H 2me )
a3 A2 / 3 1.804 MeV ......................................................... (9.7 9)

dimana a3 = 3e2/20 0 r0 yang dinyatakan dalam MeV (Lihat pers. 9.6-6)


Persamaan (9.7-9) menunjukkan bahwa plot dari energi distingration Q+
terhadap A2/3 haruslah sebuah garis lurus dengan kemiringan a3 seperti yang
diilustrasikan pada Gambar. 9.3. Dari a3, parameter radius inti ro dapat ditemukan yang
besarnya sekitar 1,44 m x 10-15 m. Perkiraan ini lebih pada sisi yang tinggi karena
keterbatasan dari persamaan (9.6-5) seperti yang dibahas sebelumnya. Dengan koreksi
yang didiskusikan dalam 9.6, ekspresi yang lebih teliti untuk energi Coulomb Ec dapat
disimpulkan. Parameter jari-jari inti yang dihitung dengan menggunakan formula yang
lebih tepat mempunyai kesesuaian yang lebih baik dengan hasil-hasil yang ditentukan
oleh metode-metode lain (ro = 1,27 x 10-15 m).

Gambar 9.3. Perbedaan energi antara inti cermin


Penerapan rumus massa semi-emipirical untuk menjelaskan fenomena fisi inti
akan dibahas di Bab XIV.
Gambar. 9,4 menunjukkan batas-batas stabilitas diprediksi oleh rumus massa
semi-empiris di mana rasio N/Z diplot terhadap A. Garis stabilitas maksimum diprediksi

22

oleh Persamaan. (9,7-8) dikelilingi oleh wilayah isobars stabil yang ditentukan oleh
diagram jenis dari 9.2a dan 9.2b.

Gambar 9.4. Batas Stabilitas Inti

9.8 Model Inti Gas Fermi


Model gas Fermi adalah

model

statistik

yang

gambar

inti

sebagai

degenerasi/penurunan gas dari proton dan neutron seperti gas elektron bebas dalam
logam dibahas di Bab XV, Vol. I. Suatu gas dikatakan menurun jika jumlah negara
energi yang bisa ditempati sebanding dengan jumlah partikel. Dalam hal ini sifat
partikel mikroskopis sepenuhnya tercermin dalam efeknya pada ensambel secara
keseluruhan.
Karena nukleon adalah partikel dengan spin , mereka adalah fermion. Oleh
karena itu perilaku proton atau neutron gas akan ditentukan dengan statistik FermiDirac, seperti dalam kasus gas elektron dalam logam. Dalam gas di 0 K, semua tingkat
energi mencapai maksimum, yang dikenal sebagai energi Fermi Ef, ditempati oleh
partikel, setiap tingkat yang ditempati oleh dua partikel dengan spin berlawanan. Energi
Fermi pada 0 K dihitung pada Vol. I (lihat 15,7, Vol. I) dan diberikan oleh
Ef

2
2M

3 2 N t

2/3

......................................................................

(9.8-1)

di mana M adalah massa nukleonik dan = (4/3) ro3.A adalah volume inti, yang
berisi Nt partikel.
Sebenarnya ada dua jenis gas Fermi yang berbeda pada inti, gas proton dan gas
neutron, Jumlanya berturut-turut adalah Z dan A - Z.
Dengan asumsi jumlah keadaan nukleonik sama dengan jumlah nukleon di
setiap kasusnya, kita mendapatkan kerapatan dari keadaan untuk kedua gas sebagai
Z
Z
3Z
np

.......................................................... (9.8-2)
3
4 / 3r0 A 4r0 A
np

A Z 3( A Z )

....................................................................

4r0 A

(9.8-3)

23

Dengan mengambil parameter jari-jari inti r0 = 1,2 fm kita kemudian dapat


mengasumsikan N = A Z = A/2,
n p nn

3/ 2
0,069 nukleon/m 3
3
4 (1,2)

Ini memberikan kerapatan nukleon total sebagai


nt = np + nn = 0,138 nukleon per/m3.
Jika nilai ini disubtitusikan dalam Pers. (9,8-1) kemudian mengingat bahwa
setiap keadaan dapat ditempati oleh dua nukleon dengan spin berlawanan, kita dapatkan
energi Fermi untuk masing-masing dari kedua gas di atas (proton dan neutron) sebagai
2 3 2
Ef
np
2M 2

2/3

21 MeV

Dalam sebuah inti yang sebenarnya, jumlah proton (Z) dan neutron (N = A-Z)
tidaklah sama, N adalah lebih besar daripada Z. Ini berarti bahwa energi Fermi dari
kedua jenis nukleon adalah berbeda. karena N > Z, (Ef)n > (Ef)p. Ini menyiratkan bahwa
sumur potensial untuk proton dan neutron memiliki kedalaman yang berbeda, sumur
yang pertama adalah kurang dalam daripada yang terakhir. Sebenarnya kedalaman
sumur potensial diberikan oleh
E
v0 E f B E f f B ...................................................................... (9.8-4)
A
dimana fB = EB/A adalah energi ikat rata-rata per nukleon (binding fraction) yaitu
sekitar 8 MeV per nukleon untuk kedua proton dan neutron. Hal ini diilustrasikan pada
Gambar. 9.5

Gambar. 9.5 Gambar Sumur Potensial nukleon model gas Fermi


n
p
p
Dalam gambar ini energi Fermi untuk proton-proton
dan neutron-neutron
(a)
n
(b)
diwakili oleh garis horizontal yang sama, yaitu sekitar
8 MeV dibawah bagian atas

sumur potensial, dan mengabaikan efek Coulomb. Bahwa hal ini harus demikian dapat
dipahami dari fakta bahwa jika keduanya ini berada pada kedalaman yang berbeda
dibawah bagian atas sumur, maka nukleon-nukleon yang berjenis sama dari level Fermi
yang lebih tinggi (katakanlah, neutron-neutron) akan membuat transisi secara spontan

24

ke level Fermi yang lebih rendah untuk nukleon-nukleon jenis lainnya (proton-proton)
oleh transformasi-. Sehingga pada akhirnya level-level tersebut menjadi sama.
Dari diskusi di atas, kedalaman sumur potensial adalah sekitar
V0 = 21 +8 = 29 MeV
kedalaman neutron ternyata sedikit lebih besar daripada kedalaman proton.
Jika kita sekarang meninjau sebuah medium tak hingga hipotetis dari materi inti
dengan kerapatan yang seragam di mana jumlah neutron dan proton adalah sama (N=Z),
dengan interaksi Coulomb dari proton seluruhnya diabaikan, maka rumus energi ikat
semi-empiris (Persamaan 9.6-9) memberikan
E
EB

V 15.9 MeV / nucleon ...................................................


A
A

(9.8-5)

Jika ini ditambahkan ke kedalaman sumur potensial dibawah tingkat Fermi, maka
kedalaman sumur potensial akan menjadi
V0 = 21 +15,9 =36,9 MeV.
Beberapa teori sukses materi inti mampu mengkorelasikan nilai atas V0 dengan
sifat kekuatan internucleon.
Dalam pembahasan di atas, suhu inti telah diasumsikan sebagai T = 0 K yang
dapat disamakan dengan keadaan dasar. Ketika beberapa energi eksitasi dipasok ke inti,
energi panas dari inti dapat disamakan dengan T > 0 K. Jika perhitungan dilakukan
dengan menggunakan rumus yang diberikan dalam 15.7, Vol. I untuk energi kinetik
rata-rata pada T > 0 K, maka ditemukan bahwa energi eksitasi total adalah
Et E p E n 11 (kT ) 2 MeV ..........................................................

(9.8-6)

Jadi untuk sebuah eksitasi dari 11 MeV, kT 1 MeV.


Kerapatan energi dari level-level inti untuk sebuah energi eksitasi yang diberikan
dapat dihitung dari definisi mekanik statistik entropi, S = k ln W. Kemudian dengan
menggunakan pernyataan termodinamika untuk entropi, kerapatan level energi dari
keadaan-keadaan inti untuk sebuah energi eksitasi yang diberikan dapat dihitung.
Model gas Fermi memiliki kegunaan yang sangat terbatas. Ia gagal untuk
menjelaskan sifat keadaan-keadaan inti yang berada di level rendah. Model ini berguna
dalam menggambarkan fenomena yang sensitif terhadap bagian momentum yang tinggi
dari spektrum nukleon. Transfer-transfer momentum yang kecil dalam tumbukantumbukan inti tidak diizinkan dalam model ini, karena semua keadaaan dasar telah
terpenuhi. Namun demikian, keterbatasan ini tidak mempengaruhi tumbukan-tumbukan

25

di mana transfer momentum yang besar terjadi. Jadi sifat-sifat inti dalam keadaan
tereksitasi dapat dijelaskan dengan model statistik ini. Bahkan keadaan inti-inti berat
yang tak terikat dapat diolah dengan metode ini.
9.9 Struktur kulit inti
Model-model inti yang berbeda yang telah diusulkan dari waktu ke waktu dapat
menjelaskan fitur-fitur yang terbatas dari inti. Dengan model tetes cairan dapat
dijelaskan perubahan yang teramati dari energi ikat inti terhadap nomor massa dan fisi
inti berat. Namun begitu, model ini memprediksi level-level energi yang ber-ruang
sangat sempit (rapat) dalam inti-inti yang mana bertentangan dengan pengamatan pada
energi-energi rendah. Keadaan-keadaan tereksitasi ditempat yang rendah dalam inti-inti
sebenarnya ber-ruang cukup luas, yang mana tidak dapat dijelaskan oleh model tetes
cairan. Hal ini dan sifat-sifat tertentu lainnya dari inti mengharuskan kita untuk
meninjau gerakan nukleon-nukleon individual di dalam sebuah sumur potensial yang
akan menyebabkan hadirnya suatu struktur kulit inti, yang mirip dengan kulit-kulit
elektronik dalam atom.
Kita tahu bahwa elektron ekstranuklir dalam atom tersusun dalam sejumlah kulit
misalnya K, L, M, N dll dengan mengikuti bilangan kuantum utama n = 1, 2, 3, 4 dll
Masing-masing kulit memiliki sejumlah subkulit yang ditandai dengan nilai
yang berbeda dari bilangan kuantum azimut l = 0, 1, 2, 3, ............. (n-1). Sebuah
subkulit l dapat berisi maksimal 2 (2l + 1) elektron, yang berarti bahwa s, p, d, f dll.
subkulit dengan l = 0, l, 2, 3 dll dapat menampung masing-masing sampai 2, 6 , 10, 14
dst.
Dalam gas-gas lembam Ne (Z = 10), Ar (Z = 18), Kr (Z = 36), Xe (Z = 54) dan
Rn (Z = 86), subkulit terluar harus terisi penuh, sedangkan gas ringan He (Z = 2),
subkulit 1s diisi dengan 2 elektron. Dalam semua unsur, elektron sangat terikat erat,
potensi ionisasi pertama mereka yang relatif cukup tinggi.
In the alkali elements, which follow immediately the inert gases in the periodic
table, there is one electron in s subkulit just outside the inert gas core. This electron is
very weakly bound in all of these elements (see Fig. 9.6a). The sudden drop in the first
ionization potentials after the inert gases is evident from the figure.
Dalam unsur alkali, sesuai dengan aturan gas inert dalam tabel periodik, ada satu
elektron di subkulit s di luar inti. Elektron ini sangat lemah ikatannya dalam semua
unsur (lihat Gambar. 9.6a). Penurunan yang tiba-tiba dalam potensial ionisasi pertama
setelah gasnya lambat terlihat dari gambar.

26

Gambar 9.6 (a) Potensial ionisasi pertama dari atoms dalam tabel periodik.
(b) Diskontinuitas energi pemisahan neutron pada N = 82.

Ada alasan kuat untuk percaya bahwa seperti dalam kasus pengikatan elektron
dalam atom, nukleon dalam inti diatur dalam kulit diskrit tertentu.
W.M. Elasser, pada tahun 1933, adalah yang pertama untuk menunjukkan ini.
Kemudian, Maria Gopert Meyer (1948) dan O Haxel, JHD Jensen dan H.E. Suess
(1949) menunjukkan bahwa inti terisi dengan jumlah proton dan neutron dengan
stabilitas yang sangat tinggi:
Proton
2
8
20
28
50
82
Neutron
2
8
20
28
50
82
126
Angka-angka di atas dikenal sebagai nomor ajaib dan analog dengan nomor
atom dari gas-gas inert. Selain di atas, ada sejumlah semi-ajaib untuk N dan Z = 40.
Beberapa inti berisi nomor ajaib dari proton dan neutron keduanya. Contoh4He
(Z = 2, N.= 2), 16O (Z = 8, N=. 8), 40Ca (Z = 20, N = 20), 48Ca (Z = 20, N= 28), 208Pb (Z
= 82, N = 126). Mereka ajaib ganda dan menunjukkan stabilitas yang sangat tinggi.
Berikut ini adalah bukti utama untuk menunjukkan adanya struktur kulit dalam
inti atom.
a. Inti yang berisi nomor ajaib proton atau neutron menunjukkan stabilitas yang
sangat tinggi, dibandingkan dengan inti yang mengandung satu nukleon lebih dari
jenis yang sama. Pengukuran menunjukkan bahwa energi pemisahan Sn neutron dari
inti yang berisi jumlah ajaib neutron besar dibandingkan dengan bahwa untuk inti
mengandung satu neutron lagi. Demikian pula energi pemisahan SP dari proton dari
inti yang berisi jumlah ajaib proton besar dibandingkan dengan bahwa untuk inti
yang mengandung satu proton lebih. (Dengan pemisahan energi berarti energi
minimum yang diperlukan untuk memisahkan satu neutron atau proton dari inti).
Nilai diskontinuitas Sn yang tiba-tiba pada jumlah neutron ajaib ditunjukkan pada
Gambar. 9.6b.

27

b. Isotop alami, yang berisi nomor ajaib neutron atau proton, memiliki kelimpahan
relatif umumnya lebih besar (> 60%). Sebagai contoh, 88Sr (N = 50), 138Ba (N = 82)
and

140

Ce (N = 82) memiliki kelimpahan relatif masing-masing 82.56%, 71.66%

and 88.48%.
c. Jumlah isotop stabil dari elemen yang berisi angka ajaib proton biasanya besar
dibandingkan dengan mereka untuk elemen lainnya. Misalnya, kalsium dengan Z =
20 memiliki 6 isotop stabil dibandingkan dengan 3 dan 5 untuk argon (Z = 18) dan
titanium (Z = 22) masing-masing. Sekali lagi dengan Z = 50 memiliki jumlah
terbesar dari isotop stabil. Jumlah ini adalah 10 dibandingkan dengan 8 untuk
kadmium (Z = 48) dan telurium (Z = 52)
d. Jumlah alami isoton dengan nomor ajaib dari neutron biasanya besar dibandingkan
dengan atom terdekatnya. Sebagai contoh, jumlah isotones stabil pada N = 82,
adalah 7 dibandingkan dengan 3 dan 2 di masing-masing N = 80 dan N = 84.
Serupa adalah situasi di N, = 20 28 dan 50 yang memiliki masing-masing 5 dan 6
isoton. Angka-angka ini lebih besar dari pada kasus-kasus isoton didekatnya.
e. Produk akhir stabil dari semua tiga deret radioaktif alami dijelaskan di Bab II
adalah tiga isotop timbal (206Pb,

207

Pb dan

208

Pb) yang kesemuanya memiliki angka

ajaib Z = 82 proton dalam inti mereka.

Gambar

9.7. Variasi penangkapan neutron dengan N menunjukkan


diskontinuitas pada nomor atom yang ajaib.

f. Inti dengan nomor ajaib neutron atau proton memiliki keadaan tereksitasi pertama
pada energi yang lebih tinggi daripada di kasus inti terdekatnya.
g. Penangkapan neutron lintas-bagian dari inti dengan nomor ajaib dari neutron
biasanya rendah. Karena kulit neutron diisi dalam inti ini, probabilitas menangkap
neutron pada kondisi ini adalah kecil (lihat Gambar. 9,7). Demikian inti dengan
nomor ajaib proton memiliki menangkap proton rendah yang melintasi bagian ini.

28

h. Jika energi peluruhan- dari inti berat yang diplot sebagai fungsi nomor massa A
untuk Z diberikan, maka biasanya variasi biasa diamati sampai jumlah ajaib
neutron N = 126 tercapai bila ada diskontinuitas mendadak (lihat Gambar 9.8.). Ini
menegaskan karakter ajaib dari jumlah neutron 126.
i. diskontinuitas serupa teramati diantara pemancaran- pada jumlah ajaib neutron
atau proton.

Gambar 9.8. Diskontinuitas dalam energi peluruhan- pada N = 126 untuk nuklida berat

Kesimpulan hasil percobaan diatas memberikan dukungan kuat untuk proposisi


struktur kulit untuk inti.
Untuk mengembangkan teori struktur kulit inti, perlu untuk menganggap
keberadaan sumur potensial dalam nukleus. Hal ini diketahui dari mekanika kuantum
bahwa sistem ikatan fisis dalam potensial tarikan juga bisa eksis di sejumlah keadaan
kuantum diskrit. Ini adalah kasus untuk elektron dalam atom yang ditindaklanjuti oleh
medan Coulomb inti. Jika interaksi antara elektron diabaikan, maka kita dapat
menganggap medan berbentuk sebuah bola simetris. Menyelesaikan persamaan
Schrodinger dengan potensial yang diberikan untuk medan semacam itu adalah
mungkin untuk menemukan tingkat energi untuk yang berbeda dari bilangan kuantum
yang menentukan kulit elektronik dalam atom.
9.10

Keadaan partikel tunggal dalam inti.


Pemahaman teoritis tentang asal-usul struktur kulit nuklir didasarkan pada

asumsi adanya sebuah pusat medan gaya berbentuk sferis simetris yang dominan
mengatur gerakan nukleon individu dalam inti atom.
Tidak seperti dalam kasus atom, tidak ada perwakilan pusat yang diketahui
berada dalam inti. Pusat medan gaya dalam hal ini diyakini sebagai suatu medan rata-

29

rata karena semua nukleon-nukleon dalam inti. Dalam teori yang akan dikembangkan di
bawah ini, diasumsikan bahwa tidak ada residu interaksi diantara nukleon-nukleon.
Apapun yang mungkin menjadi sumber gaya, jika kita mengasumsikan bahwa
potensial rata-rata pusat V(r) menimbulkan kekuatan semacam itu, maka ini
memungkinkan untuk mendapatkan persamaan gelombang Schrodinger yang mengatur
gerak dari nukleon individu dalam medan ini , membuat asumsi yang cocok mengenai
bentuk matematis dari potensial

Gambar 9.9 Potensial Osilator Harmonik

Berbagai bentuk potensial telah digunakan untuk perhitungan tingkat/level


energi nuklir, yaitu, sumur potensial persegi dan sumur osilator harmonik dan lain-lain.
Tidak ada dari hal ini yang bersesuaian dengan potensial sebenarnya yang mungkin
memiliki bentuk perantara antara keduanya. Oleh karena itu jenis potensial WoodsSaxon (lihat Bab XI) juga telah diasumsikan oleh beberapa ahli. Dalam diskusi berikut,
kita akan mengasumsikan bentuk potensial osilator harmonik tiga dimensi yang terbatas
(lihat Gambar. 9.9).
V ( r ) V0 1 / 2 M 2 r 2 ............................................................... (9.10-1)

Disini M adalah massa nukleon, V0 adalah kedalaman sumur dan adalah


frekuensi sirkular dari osilasi harmonik sederhana dari nukleon. r bergantung pada
potensial yang ditunjukkan pada Gambar 9.9.
Persamaan Schrodinger tiga dimensi untuk osilator harmonik dapat diselesaikan
dengan menggunakan koordinat kartesian persegi panjang dengan generalisasi dari
metode yang digunakan di Bab XI, Vol. I.
Namun untuk tujuan saat ini, adalah lebih tepat untuk menggunakan koordinat
polar bola. Jika potensial yang diberikan oleh (Persamaan (9.10-1) disubtitusikan
kedalam persamaan Schrodinger tiga dimensi, maka pemisahan variabel menghasilkan
persamaan radial berikut:

30

1 d 2 dR1 2M
l (l 1) 2
r

V
(
r
)

Rl 0 ......................... (9.10-2)
dr
r 2 dr
2
2 Mr 2
dimana Rl (r) adalah fungsi radial. Komponen di l (l + 1) adalah potensial sentrifugal.

Bagian sudut dari fungsi gelombang ini adalah harmonik sferis Yl m ( , ) sehingga
fungsi gelombang totalnya adalah:
nlm Rnl ( r ) Yl m ( , ) .................................................................. (9.10-3)
di mana kita telah tuliskan Rnl (r) pada tempat Rl (r).
Jika disubtitusi
E ( 3 / 2) ........................................................................... (9.10-4)
maka dapat ditunjukkan bahwa solusi yang baik dari persamaan radial (9.10-2) adalah
mungkin, asalkan kondisi berikut terpenuhi (lihat Mekanika Quantum oleh Powell dan
Crasema):

2n l 2 ................................................................................... (9.10-5)
n dan l adalah dua bilangan bulat: n = 1, 2, 3, ... dan l = 0, 1, 2 .... Maka

dapat diasumsikan bernilai 0, 1, 2, 3 ...


n merupakan bilangan kuantum radial dan (n - 1) memberikan jumlah perut
dalam fungsi radial Rnl, l adalah bilangan kuantum azimut.
Dengan demikian osilator harmonik tiga dimensi dapat memiliki satu paket
diskrit energi yang bernilai Enl

yang diberikan oleh Persamaan. (9.10-4).

Tingkatan/level energi biasanya degenerasi. Fungsi eigen dapat diklasifikasikan


menurut n dan l seperti yang ditunjukkan pada Tabel 9.4. Data dalam tabel adalah nilainilai yang diberikan oleh Persamaan. (9,10-5).

Garis diagonal putus-putus menghubungkan level-level dengan kemungkinan


kombinasi yang berbeda dari nilai-nilai n dan l.
Karena bagian anguler dari fungsi gelombang Yl m ( , ) dalam Persamaan.
(9.10-3) memiliki degenerasi (2l + 1) untuk l yang diberikan dengan bilangan kuantum

31

magnetik m = l, l - 1. . . , -l, masing-masing level dengan sebuah paket yang diberikan


bernilai (n, l) memiliki degenerasi (2l+1). Selanjutnya, setiap level energi yang
diberikan (diberikan ) mengandung beberapa nilai keadaan (n, l) yang berbeda. Jadi
degenerasi keadaan sebenarnya adalah jumlah 2(2l+1) atas nilai l yang berbeda yang
mungkin untuk berikan. Faktor 2 adalah karena dua orientasi spin yang mungkin dari
neutron atau proton. Nilai maksimum yang mungkin untuk l diperoleh dengan
memperpanjang garis diagonal pada Tabel 9.4 menuju baris paling atas. Untuk yang
diberikan kita mendapatkan lmax = Jadi kita mendapatkan kemungkinan jumlah
nukleon untuk yang diberikan sebagai:
-genap : Ne = 2 (1+5+9+..+2 +1) = ( + 1)( + 2)
-ganjil : No = 2 (3+7+11+. +2 +1)=( +1)( + 2)................... (9.10-5a)
Jumlah total dari nukleon sampai nilai maksimum yang diberikan m dari
adalah
m

N (i 1)(i 2) 1 / 3(m 1)(m 2)(m 3) .......................(9.10-5b)


0

Keadaan degenerasi (2l+1) untuk energi yang diberikan memiliki kombinasi


yang berbeda pada nilai-nilai

n, l, ml dan ms menentukan sublevel energi yang

diberikan. Menurut prinsip larangan Pauli, masing-masing keadaan dapat ditempati oleh
nukleon dari jenis tertentu. Ketika semua sublevel dari level energi osilator yang
diberikan telah terisi penuh, kita memiliki sebuah nukleus dengan kulit tertutup oleh
neutron-neutron atau proton-proton. (Dengan kulit yang dimaksudkan sebagai
kelompok level-level energi berjarak dekat yang terpisah dari kelompok lain oleh
interval energi yang jauh lebih besar daripada jarak antara level-level dalam kelompok
yang sama).
Pemeriksaan terhadap

Tabel 9.4 memungkinkan kita untuk menemukan

kombinasi yang berbeda dari nilai-nilai (n, l) yang bersesuaian dengan level energi yang
diberikan. Kemungkinan-kemungkinan perbedaan tercantum dalam Tabel 9.5 untuk
semua keadaan osilator sampai = 7 yang juga menunjukkan jumlah nukleon pada
level dengan yang diberikan (Kolom 4) seperti halnya jumlah total nukleon sampai
pada yang diberikan (Kol 5 ).
Tabel 9.5

Energi
dalam
satuan

Keadaan degenerasi
(n, l)

Jumlah nukleon
yang memenuhi
kulit (2 (2l+1))

Jumlah total
nukleon untuk
kulit tertutup

32

0
1
2
3
4
5
6
7

3/2
5/2
7/2
9/2
11/2
13/2
15/2
17/2

(1, 0)
(1, 1)
(2, 0) (1, 2)
(2, 1) (1, 3)
(3, 0) (2, 2) (1,4)
(3, 1) (2, 3) (1, 5)
(4, 0) (3, 2) (2, 4) (1, 6)
(4, 1) (3, 3) (2, 5) (1, 7)

2
6
12
20
30
42
56
72

2
8
20
40
70
112
168
240

Seperti yang terlihat dari tabel, level energi osilator dengan nilai genap dari
hanya mengandung keadaan paritas genap (l genap). Demikian pula semua level dengan
ganjil hanya mengandung keadaan paritas ganjil (l ganjil). Ini mengikuti Persamaan.
(9.10-5) untuk . Karena (2n - 2) selalu genap, l adalah genap atau ganjil tergantung
pada yang genap atau ganjil.
Urutan dari level osilator, yang berjarak sama, ditunjukkan pada Gambar. 9,9,
pemisahan antara level berturut-turut menjadi . Rata-rata jarak level/tingkatan dapat
2
2
ditemukan dengan memilih sehingga jari-jari nuklir rata-rata kuadrat r 35 AR .

Ini memberikan:
40 A 1 / 3 MeV ....................................................................... (9.10-5c)
Untuk inti ringan (A <100) ini memberikan jarak antar level ~ 10 MeV atau
lebih. Untuk inti yang sangat berat adalah ~ 6 sampai 7 MeV. Level-level dengan
bilangan kuantum azimut yang berbeda ditunjukkan oleh simbol yang biasa digunakan
dalam spektroskopi atom, seperti yang diberikan di bawah ini:
l
:
0
1
2
3
4
5
6
Simbol :
s
p
d
f
g
h
i
Tingkat energi terendah dari osilator harmonik adalah tingkat 1s dengan n, = 1,
l = 0, energinya

diberikan oleh

3
2

yang merupakan energi titik nol. Struktur

tingkat/level untuk neutron dan proton adalah sama.


Tabel 9.5 menunjukkan bahwa tingkat terendah dengan E 32 diisi dengan 2
nukleon, tingkat yang lebih tinggi berikutnya dengan E 52 diisi dengan enam
nukleon. Tingkat ketiga dengan E 72 adalah kombinasi dari dua (n, l) tingkat,
yaitu tingkat (2, 0) dan (1, 2), yang dapat berisi masing-masing maksimal 2 dan 10
nukleon. Oleh karena itu tingkat ketiga diisi dengan 2 + 10 atau 12 nukleon. Jumlah
nukleon yang mengisi berbagai tingkat osilator ditampilkan dalam kolom keempat dari
Tabel 9.5. Ketika semua tingkat sampai pada energi yang diberikan, mulai dari bawah
ke atas, benar-benar penuh dengan nukleon, kita mengatakan bahwa kulit tertutup telah

33

terjadi. Ketika ini terjadi, harus ada peningkatan mendadak dan besar dalam energi ikat
nukleon dalam inti, seperti yang terjadi dalam kasus inti ajaib. Jumlah nukleon untuk
kulit tertutup yang berbeda ditunjukkan pada kolom terakhir dari tabel 9.5. Angkaangka ini harus sesuai dengan angka ajaib yang diamati.
Pemeriksaan nomor yang diberikan dalam kolom terakhir dari Tabel 9.5
menunjukkan bahwa kecuali untuk tiga angka pertama (2, 8, 20), tidak ada kesesuaian
dengan nomor ajaib yang diamati.
Dapat dicatat bahwa situasi ini tidak dapat diperbaiki dengan menggunakan
bentuk-bentuk lain dari potensial disebutkan sebelumnya
Interaksi orbit-spin
Dalam rangka untuk menjelaskan ketidaksesuaian pada nomor ajaib yang tinggi,
Mayer dan independently Haxel, Jensen dan Suess menyarankan bahwa komponen
interaksi orbit-spin harus ditambahkan pada potensial pusat V(r) yang diberikan oleh
Persamaan. (9.10-1). Potensial orbit-spin, yang tidak sentral, dapat ditulis sebagai
Vls ( r ) l .s
dimana

1 f
(r ) b
................................................................................ (9.10-6)
r r
Disini l dan s adalah momentum sudut azimut dan spin dari nukleon di bawah

pertimbangan. f(r) adalah fungsi simetris berbentuk bola yang memberikan profil dari
potensial. Hal ini lebih lemah dari V(r) pada Pers. (9,10.1). b adalah sebuah konstanta.
Kita asumsikan pemasangan kuat antara spin dan momentum sudut orbital dari setiap
nukleon individu sehingga menimbulkan momentum total sudut j untuk masing-masing
sehingga kita dapat menulis.
j = l + s............................................................................................ (9.10-7)
Karena s = 1/2 untuk setiap nukleon, dua nilai yang mungkin dari j adalah
j=l+1/2 dan j=l-1/2. Sekarang Kedua level telah memiliki energi yang berbeda karena
pemasangan orbit-spin yang kuat. Pemisahan dari dua level dapat dikalkulasi dengan
menghitung nilai harapan dari potensial orbit-spin (9.10-6) pada dua keadaan yang
berbeda dari j. Hal ini dengan mudah dilihat bahwa (lihat 6,7 Vol. I)
2l . s j ( j 1) l (l 1) s ( s 1) ................................................ (9.10-8)
yang memberikan dua nilai l. s berikut:
j l 1/ 2
l s l / 2 .............................................................. (9.10-9)
j l 1/ 2
l s (l 1) / 2 .................................................. (9.10-10)
Nilai harapan dari potensial interaksi orbit-spin adalah:

Vls ls (l . s ) nl* (r ) ( r ) nl (r ) dr (l . s ) (r ) (9.10-11)


0

34

di mana < (r)> adalah nilai harapan dari (r) yang muncul dalam Pers. (9.10-6). Kita
kemudian memiliki untuk dua keadaan:

j l 1/ 2

ls l / 2 (r ) ............................................ (9.10-12)

j l 1/ 2

ls

l 1
(r ) .............................................. (9.10-13)
2

Pemisahan spin-orbit dari dua level ini kemudian


ls ls (l 1 / 2) ls (l 1 / 2)

(l 1 / 2) ( r ) ................................................................. (9.10-14)
Pengamatan jarak-level diberikan oleh rumus emperis berikut:
ls 10(2l 1) A 2 / 3 MeV ........................................................ (9.10-14a)
Karena sisi kanan dari persamaan (9.10-14) adalah positif, jelas bahwa keadaan
dengan j l 12 terletak dibawah keadaan j l 12 . Pemisahan dari urutan yang
meningkat beberapa MeV dengan meningkatnya nilai l. Untuk keadaan s (l = 0), hanya
ada satu nilai j (= 1/2) yang mungkin.
Potensial orbit-spin yang diasumsikan diatas menyerupai apa yang akan timbul
akibat efek magnetik sederhana (lihat 6.3, Vol. 1). Namun, pemisahan orbit- spin
dalam hal ini jauh lebih besar daripada pemasangan magnet yang agak lemah antara l
dan s. Jadi harus lebih erat kaitannya dengan potensial pusat V(r) dalam Pers. (9.10-1)
menimbulkan struktur kulit. Analogi dengan kasus atomik, hal ini dapat ditulis sebagai
V
(r )
................................................................................ (9.10-15)
r r

dimana adalah konstanta orbit-spin


Ada bukti keberadaan gaya orbit-spin yang kuat diantara nukleon-nukleon dari
eksperimen polarisasi berenergi tinggi (lihat bab XVII Yang membenarkan asumsi di
atas)
Urutan tingkatan energi, memperhitungkan interaksi orbit-spin yang ditunjukkan
pada Gambar. 9.10. Karena sekarang kita harus mempertimbangkan tiga bilangan
kuantum n, l dan j, level yang ditetapkan sebagai berikut: ls1/2 ; 1p3/2 ;1p1/2 ; 1d5/2 ; 1d3/2 ;
. 2s1/2 ; 2p3/2 ; 2p1/2 ; . 2f1/2 ; 2f5/2 ; etc.; dan seterusnya
Sesuai dengan prinsip larangan Pauli, masing-masing sublevel dari j yang
diberikan dapat menampung maksimal (2j+1) nukleon dari salah satu jenis dengan
bilangan kuantum magnetik mj yang berbeda. Nilai-nilai yang mungkin adalah mj = j,
j-1, ...... j. Ketika sublevel j yang diberikan benar-benar penuh dengan (2j+1) nukleon

35

dari jenis tertentu, nukleon tambahan dari jenis yang sama harus menuju ke keadaan
yang lebih tinggi berikutnya untuk j yang berbeda.
Kelompok sublevel (n, l, j) memiliki nilai energi yang dekat satu sama lain yang
sekarang merupakan kulit. Jumlah nukleon yang dibutuhkan untuk mengisi kulit adalah
2j + 1. Jumlah total dari semua nukleon-nukleon mengisi penuh sublevel-sublevel
berbeda dari yang terendah sampai kulit tertinggi yang diberikan. Sisi paling kanan
yang ditunjukkan pada gambar. 9.10, dapat dilihat sesuai dengan angka ajaib yang
diamati.

4s
3d
2g
11i

3d 3 2
2g 7 2
1i 11 2
2g 9 2

3p

3p 1 2

2f

2f 5 2
1h 9 2

4s 1 2
3d 5 2
1i 13 2

126

3p 3 2
2f 7 2

1h

1h 11 2

3s
2d
1g

2d

1g

82

1f

2s 1 2
2p 3 2
1f 7 2

2s

1d 5 2

2p

3s 1 2
2d 5 2

1g 9 2
1f

50

28

Gambar. 9.10. Urutan untuk level/tingkatan nuklir berdasarkan model kulit


1d
20
1d 3 2 orbit-spin.
dengan
memperhitungkan interaksi
2

2s 1 2

Level terendah ( = 0 pada Tabel 9.4), sesuai dengan skema baru adalah 1s1/2
1
dengan j = 1/2
yang 1p
berisi (2 x + 1) atau 21pnukleon.
Level lebih8 tinggi berikutnya
2
1
1p 3 2
dengan = 1 sekarang merupakan kombinasi dari dua sublevels 1 p3/2 dan 1 p1/2, yang

1s pembentuk. Jumlah maksimum


terakhir berada0di
atas
nukleon yang2 dapat menempati

1s 1 2
sublevel-sublevel
adalah karena
4 dan 2, sehingga jumlah total nukleon
Level ini masing-masingPemisahan
Osilator

gaya

dalam kelompok
sublevels
inisi) adalah
(4- orbit
+ 2) atau 6. Jadi penutupan kulit yang terjadi
Harmonik
(aproksima
spin
dalam kasus ini dengan (2 + 6) atau 8 nukleon seperti sebelumnya.
Kelompok berikutnya dengan = 2 adalah 2s dan 1d yang terpisah ke dalam
sublevels 2s1/2, 1d5/2, 1d3/2, yang terakhir dengan j = l - (l = 2) terletak di atas 1d1/2,
dengan j = l +1/2.

36

Urutan sublevel ditunjukkan pada Gambar. 9.10. Jumlah nukleon dalam


sublevels berbeda masing-masing 2,6 dan 4, total menjadi 12. Penutupan kulit
berlangsung dengan (2 +8 +12) atau 20 nukleon yang sama seperti sebelumnya.
Berangkat dari teori sederhana tanpa komponen pemasangan spin-orbit yang
diperhitungkan mulai muncul dari kelompok berikutnya sublevel 2p dan 1f dengan =
3. Ini sekarang dibagi menjadi 2 p 3/2, 2p1/2, 1f7/2 dan 1f5/2. Karena nilai yang relatif lebih
besar dari l (= 3) untuk 1f, sublevel 1f7/2 (j = l + = 3 + = 7/2) yang ditekan ke dalam
energi jauh di bawah tiga sublevel lainnya dan terletak secara terpisah pada level di
antara kedua kelompok kulit = 2 dan = 3 . sublevel ini dapat diisi penuh dengan
(2 x 7/2 + 1) atau 8 nukleon dan penutupan kulit yang berlangsung pada saat ini dengan
(20 +8) atau 28 nukleon, seperti ditunjukkan pada Gambar. 9.10
Pada sublevels yang tersisa 2p3/2, 2p1/2 dan 1f5/2 dapat terisi maksimal 12 nukleon
yang ketika ditambahkan ke jumlah 28 yang diberikan di atas menimbulkan jumlah
setengah-ajaib 40 yang sesuai dengan pengamatan.
Untuk menjelaskan jumlah ajaib 50, kita harus mempertimbangkan kelompok
berikutnya level 3s, 2d dan 1g dengan = 4. Pemisahan ini sampai ke sublevel 3s1/2,
2d5/2, 2d3/2, 1g9/2, 1g7/2. Karena nilai l yang besar (= 4); sublevel 1g9/2 didorong turun
sampai ke sekitar kelompok sublevel sebelumnya (2p3/2, 2p1/2, 1f5/2) dan keempatnya
bersama-sama merupakan kulit yang dapat terisi maksimal (12 + 10) = 22 nukleon.
Jumlah nukleon yang diperlukan untuk mengisi sublevel 1g9/2 menjadi 10. Jadi
penutupan kulit terjadi pada (28 + 22) atau 50 nukleon yang sesuai dengan jumlah ajaib
yang diamati.
Demikian pula karena pemisahan spin-orbit yang besar pada level 1h milik =
5, sublevel 1h11/2 didorong turun sampai ke daerah sekitar sublevels yang tersisa di =
4. Kelompok ini dengan lima sublevel 3s1/2, 2d5/2, 2d3/2, 1g7/2

dan 1h11/2

dapat

menampung maksimal (2+6+4+8+12) atau 32 nukleon yang ketika ditambahkan ke 50


nukleon pada penutupan kulit sebelumnya dapat menjelaskan penutupan kulit baru pada
(50 + 32) atau 82 nukleon yang sesuai dengan pengamatan.
Akhirnya pemisahan yang besar dari level 1i pada = 6 menjadi 1i13/2 dan li11/2
yang terdorong ke bawah pada sublevel yang tersisa dari kelompok =5. Kelompok
baru yang terdiri dari enam sublevels 1h9/2, 2f7/2, 2f5/2, 3p3/2, 3p1/2 and l.i13/2 dapat
menampung maksimal (10+8+6+4+2+14) atau 44 nukleon yang ketika ditambahkan ke
jumlah perhitungan 82 untuk terjadinya jumlah ajaib 126 (lihat Gambar. 9.10).
9.11 Aplikasi dari Model Kulit Partikel Tunggal Ekstrim.

37

(a) Nuclear spin :


Salah satu aplikasi yang paling sukses dari model kulit partikel tunggal adalah
penjelasan tentang spin dan paritas keadaan dasar dari inti A ganjil. (Di sini kita
menggunakan komponen nuklir 'spin' untuk menunjukkan momentum sudut I dari inti
yang merupakan penjumlahan vektor I = L + S).
Spin intrinsik s dari masing-masing pasangan nukleon dengan momentum sudut
orbital l untuk membentuk total momentum sudut j = l + s. Momentum sudut total I dari
sistem nukleon kemudian diperoleh dengan pemasangan dari vektor j dari nukleon
individu dalam inti: I = ji. Skema pemasangan dikenal sebagai pemasangan j-j.
Dalam fisika nuklir adalah kebiasaan untuk menunjukkan momentum sudut
keseluruhan dengan simbol I di tempat J.
Dalam kasus atomik, ini adalah skema pemasangan L-S yang lebih sering
ditemui. Dalam skema ini, vektor l dari elektron individu bergabung untuk
menghasilkan resultan L = li. Demikian pula spin resultan dari sistem diperoleh
dengan pemasangan spin intrinsik dari elektron individu: S = Si. Momentum sudut
totalnya adalah J = L + S (lihat Bab VI, Vol. 1).
Dalam kasus inti, kita harus mempertimbangkan skema pemasangan j-j untuk
mengetahui spin inti pada keadaan dasar. Kita membuat asumsi tambahan berikut:
suatu jumlah genap dari nukleon berjenis apapun dalam keadaan j yang sama akan
selalu bergabung untuk memberikan spin resultan 0 dan paritas genap. Oleh karena
itu, momentum sudut total kulit apapun dengan jumlah nukleon yang genap adalah nol,
sedangkan momentum sudut dari kulit apapun dengan jumlah nukleon ganjil adalah
sama dengan momentum sudut dari nukleon ganjil terakhir yang tidak berpasangan.
Selanjutnya, diasumsikan bahwa neutron dan proton mengisi keadaan secara bebas,
sehingga keadaan di mana proton bergerak tidak bergantung pada jumlah neutron yang
ada di dalam inti dan sebaliknya.
Asumsi di atas merupakan dasar dari apa yang dikenal sebagai model kulit
partikel tunggal ekstrim. Atas dasar asumsi di atas kita mendapatkan hasil sebagai
berikut untuk spin nuklir I:
Untuk N atau Z genap: I = 0;
Untuk N genap, Z ganjil atau untuk N ganjil, Z genap: I bergantung pada
nukleon ganjil yang berjumlah p. p = Z dalam kasus pertama dan p = N dalam kasus
kedua.
Nukleon-nukleon ganjil p terdistribusi sedemikian rupa diantara kulit-kulit
tersebut dimulai dari yang terendah (1s) ke atas sampai semua kulit berikutnya terisi

38

sepenuhnya dengan suatu jumlah genap pe < p dari nukleon-nukleon yang memberikan
sebuah spin resultan 0, hingga suatu jumlah ganjil p - pe tertinggal yang jumlahnya
kurang dari yang diperlukan untuk mengisi kulit terakhir di mana mereka pergi. Diluar
dari ini, nukleon-nukleon genap p pe 1 tersusun sedemikian rupa berpasangpasangan di dalam kulit ini sehingga spin resultan mereka menjadi 0. Jadi spin inti
akhirnya ditentukan oleh momentum sudut total j dari nukleon tak-berpasangan terakhir
dalam kulit ini.
Sebagai sebuah contoh, jika p = 1, nukleon ganjil tunggal harus pergi ke kulit
terendah 1s1/2 dengan j = 1/2. Oleh karenanya, spin inti ini haruslah I = 1/2. Contohnya,
dalam kasus 3H dengan Z = 1, N = 2, kita memiliki p = Z = 1 dan proton tunggal dalam
kasus ini harus menempati level 1s dengan j = 1/2. Spin inti yang teramati ini adalah I =
1/2. Dalam sebuah potensial bulat simetris yang konsisten-diri (self-konsisten), levellevelnya mempunyai paritas tertentu yang ditentukan oleh nilai l; untuk l = 0 dan genap,
paritasnya adalah genap (+); untuk l ganjil, paritasnya adalah ganjil (-). Karena l = 0
untuk level 1s yang ditinjau diatas, paritasnya adalah genap sehingga keadaan dasar 3H
adalah +. Demikian pula dalam kasus 3He dengan Z = 2, N = 1, p = N = 1 sehingga
keadaan dasarnya juga + yang sesuai dengan pengamatan.
Untuk 2 < p <8, kulit terendah 1s terisi penuh dengan dua nukleon. Nukleonnukleon ganjil sisanya dapat pergi ke kulit 1p3/2 atau lp1/2. Sebagai contoh dalam kasus 7Li
dengan Z = 3, N = 4, kita mempunyai p = z = 3. Dari 3 proton ini, 2 proton mengisi level 1s1/2
sementara proton tunggal sisanya harus mengisi level 1p3/2 yang energinya lebih rendah
daripada lp1/2. Karena itu spin keadaan dasar haruslah I = 3/2 yang sesuai dengan pengamatanpengamatan. Karena l = 1 untuk keadaan p yang paritasnya ganjil keadaan dasarnya haruslah / 2
-

Juga untuk inti

13

C, p = N = 7. Dari 7 neutron ini, 2 neutron pergi ke level

terendah 1s1/2, 4 yang berikutnya ke 1p3/2 dan neutron tunggal sisanya pergi ke level lp1/2
sehingga I = yang memang seperti seharusnya. Keadaan dasarnya adalah -.
Untuk 8 < p < 20, level 1s1/2, 1p3/2, lp1/2 terisi sepenuhnya. Nukleon-nukleon ganjil

sisanya dapat pergi ke level 1d5/2, 2s1/2 atau 1d3/2, dalam urutan tersebut (lihat Gambar 9.10).
Sebagai contoh, dalam 25Mg (p = N = 13), 31P (p = Z = 15) dan 39K (p = Z = 19),
nukleon-nukleon ganjil terakhir pergi ke level 1d5/2, 2s1/2 dan 1d3/2 secara berurutan.
Keadaan dasar yang sesuai adalah 5/2+,

1/2+ dan 3/2+ berturut-turut, yang mana telah

dikonfirmasi dengan pengukuran eksperimental.

Pada umumnya aturan yang disebutkan di atas untuk penempatan spin dari intiinti A ganjil berlaku cukup baik. Beberapa pengecualian telah ditemukan. Dari inti-inti

39

ini, dua inti berikut 19F (Z = 9) dan 23Na (Z = 11) ditemukan memiliki spin dan 3/2
masing-masingnya, dan bukannya 5/2 seperti yang diharapkan dari model kulit partikel
tunggal yang ekstrim. Kasus ketiga adalah 55Mn (Z = 25) yang memiliki sebuah spin 5/2
dan bukannya 7/2 seperti yang diharapkan. Dalam kasus

19

F, proton kesembilan,

mungkin pergi ke level 2s1/2, dan bukannya pergi ke level 1d5/2, yang berarti dua level
cukup dekat. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan-perubahan kecil terjadi pada
potensial pusat yang efektif dari inti ke inti. Pada

23

Na, ada tiga proton dalam level

paling atas 1d5/2. Karena adanya interaksi residual di antara mereka, momentum sudut
mereka bergabung untuk menghasilkan sebuah total dari l = 3/2. Demikian pula dalam
55

Mn, momentum sudut dari 5 proton ganjil dalam level 1f72 bergandeng sedemikian

rupa untuk menghasilkan I = 5/2.


Pada jumlah nukleon p = 32, pengaruh lainnya menjadi jelas. Ambil kasus inti
75

As dengan Z = 33. Setelah penutupan kulit pada Z = 28,5 tertinggallah proton-proton

ganjil. Di antara proton-proton ini, 4 harus pergi ke level 2p3/2 dan proton ganjil tunggal
ke level 1f5/2 yang akan memberikan sebuah spin 5/2 untuk inti ini (lihat Gambar 9.10).
Namun demikian, spin teramati adalah I = 3/2. Diyakini bahwa dalam kasus ini level
yang lebih tinggi 1f5/2 diisi dengan 2 proton (sebuah nomor genap) sedangkan 3 sisanya
(sebuah nomor ganjil) pergi ke level 2p3/2. Hal ini terjadi karena efek pasangan. Karena
hal ini, kehadiran dari nukleon-nukleon bernomor genap di level atas mendorong energi
dari level ini ke bawah begitu banyaknya sehingga level lf5/2 berada di bawah level 2p3/2.
Jadi tiga proton terakhir pergi ke level 2p3/2. Karenanya keadaan dasar dari 75As adalah
3/2-. Efek ini juga teramati pada Z = 35 (seperti dalam 79Br) dan Z = 37 (seperti dalam
87

Rb). Demikian pula pada N = 33 (61Ni), spinnya menjadi 3/2 dan bukan 5/2. Efek yang

sama teramati di N = 56 di mana level 2f5/2 diharapkan terisi sepenuhnya. Namun spin
5/2 masih teramati pada N, = 57, 59 dan 61. Jelaslah bahwa keadaan momentum sudut
yang lebih tinggi 1g7/2 membentuk pasangan-pasangan dalam kasus ini dengan neutron
2, 4 dan 6 berturut-turut sementara keadaan momentum sudut yang lebih rendah 2f1/2
memiliki 5 neutron (sebuah nomor ganjil) di dalamnya. Nuklida-nuklidanya yang
relevan adalah 101Ru, 105Pd dan 109Cd.
Sumber energi pasangan antara dua buah neutron (atau proton) di kulit atas yang
sama dan di atas energi ikat neutron individu tidak dapat dijelaskan dengan memuaskan
oleh model partikel tunggal yang ekstrim. Ini muncul karena residu interaksi
antarnukleon sisa dan meningkat dengan bertambahnya j.

40

Residu Interaksi antarnukleon dalam kulit diperhitungkan dalam model kulit


partikel tunggal yang akan dibahas di bawah ini. Dengan bantuan tersebut, maka
memungkinkan untuk menjelaskan nilai I dari kebanyakan inti yang diamati. Terlepas
dari dua atau tiga kasus terisolasi, misalnya, 79Se dan

201

Hg, pengecualian semua nilai I

yang muncul untuk 155 A 5180 dan N> 140. Disini dan wilayah tertentu lainnya,
inti-inti mengalami deformasi yang cukup besar dari bentuk spheris (bulat) sehingga
urutan tingkat potensial sferisnya tidak dapat diharapkan lagi muncul dalam kasus
mereka.
Kasus-kasus seperti inti terdeformasi tersebut akan dibahas dalam 9.13.
(b) Momen magnetik nuklir:
Dalam 2.10, terlihat bahwa momen magnetik inti adalah penjumlahan vektor

dari momen magnetik spin s dan momen magnetik orbital L :

s L ....................................................................................... (9.11-1)

s adalah penjumlahan vektor momen magnetik intrinsik dari nukleon individu

dalam inti. Untuk proton dan neutron, momen intrinsiknya adalah


p g p N / 2 and n g n N / 2 ....................................................... (9.11-2)
dimana N = e/2Mp adalah magneton nuklir, Mp menjadi massa proton, gp dan gn
berturut-turut adalah rasio giromagnetik untuk proton dan neutron dan memiliki nilai
numerik
gp = 2 x 2,7927 and gn = -2 x 1.9131............................................ (9.11-3)
Momen magnetik dari sebuah inti A ganjil dapat dihitung dengan menggunakan
model kulit partikel tunggal ekstrim. Momen magnetik inti spin I (momentum sudut
total) dapat ditulis sebagai (lihat 6,7 Vol. I)
I gI (II 1)N ................................................................................................. (9.11-4)
Sementara pengukuran momen magnetik dilakukan, medan magnet
diaplikasikan dan dalam hal ini komponen I dalam medan berarah z ditentukan.
Dengan menggunakan aturan kuantisasi ruang, ini menjadi
I mI
Z I cos( I .B)
I ( I 1)

dimana mI adalah bilangan kuantum magnetik, dimana dapat diambil nilai-nilai mI = I, I1, ... -I. B adalah medan induksi magnetik. Komponen terbesar bersesuaian dengan mI
= 1 yang biasanya memberikan momen magnetik yang terukur.
Z

I I
g I I N .................................................................... (9.11-5)
I ( I 1)

41

Kita telah melihat di atas bahwa dalam model partikel tunggal yang ekstrim,
jumlah nukleon genap apapun selalu memberikan spin resultan (I = 0). Oleh karena itu
momen magnetik dari inti genap-genap akan menjadi 0: (I) ee = 0
Jadi dalam nukleus A ganjil, itu adalah nukleon ganjil terakhir (proton atau
neutron) yang menentukan momen magnetik. Seperti untuk inti, I = j dimana j adalah
momentum sudut total nukleon terakhir yang tidak berpasangan. momen magnetik
intrinsik (s) dan momen magnetik karena gerakan orbitnya (l) keduanya harus
ditambahkan secara vektor untuk mendapatkan momen magnetik total:

j l s

dimana s = p untuk proton dan s = n untuk neutron.


Gerak orbital dari nukleon memiliki momentum sudut azimut l yang menghasilkan
momen magnetik (lihat 2.10)
l g l N l (l 1) ............................................................................ (9.11-6)
Karena neutron merupakan partikel tak bermuatan, gerak orbitalnya tidak
menghasilkan momen magnetik (gl = 0), sehingga
(l)n = 0............................................................................................. (9.11-7)
Dalam kasus proton, kita dapat menuliskan gl = 1 sehingga kontribusi orbitalnya
adalah:
( lp ) N

l (l 1) ..........................................................................

(9.11-8)
Karena nukleon adalah partikel dengan spin kita bisa menuliskan nilai
kuantum mekanik momen magnetik intrinsik sebagai:
s g s N s ( s 1) .......................................................................... (9.11-9)
dimana gs = gp untuk proton dan gs = gn untuk neutron. s = adalah bilangan kuantum
spin.
Total Komponen momen magnetik dalam arah j adalah
I = j= l cos (l, j) + s cos (s, j)

I N g l l (l 1) cos (l , j ) g s s ( s 1) cos ( s, j ) .................... (9.11-10)

Dengan menggunakan persamaan (9.11-4), kita bisa pula menuliskan:


j g j j ( j 1) ............................................................................. (9.11-11)
Dari aturan cosinus, kita memperoleh:
cos (l , j )

j ( j 1) l (l 1) s ( s 1)
2 j ( j 1) l (l 1)

cos ( s, j )

j ( j 1) s ( s 1) l (l 1)
2 j ( j 1) s ( s 1)

Selanjutnya kita memperoleh:


j gl N

j ( j 1) l (l 1) s( s 1)
j ( j 1) s ( s 1) l (l 1)
gs N
2 j ( j 1)
2 j ( j 1)

(9.11-12)

42

Untuk partikel spin , j dapat memiliki dua nilai, j = l . Jadi untuk j


diberikan, l bisa memiliki dua nilai berikut:
Untuk j = l + , l = j - ; untuk j = l , l = j + .
Untuk kedua kasus, kita mendapatkan dua nilai yang berbeda dari j dari
Persamaan. (9,11-12).
Dengan Menggunakan Persamaan. (9.11-11) kita mendapatkan
g j gl

j ( j 1) l (l 1) s( s 1)
j ( j 1) s( s 1) l (l 1)
gs
............
2 j ( j 1)
2 j ( j 1)

(9.11-13)
Seperti disebutkan sebelumnya, momen magnetik Z yang diukur adalah
komponen yang mungkin terbesar dari j dalam arah medan magnet dan diberikan oleh
Persamaan. (9,11-5). Dengan menggantikan I dengan j kita akan mendapatkan
Z g j j N

...

j ( j 1) l (l 1) s ( s 1)
j ( j 1) s ( s 1) l (l 1)
gl
gs
N
2 j ( j 1)
2( j 1)

(9.11-14)
Dalam dua kasus tersebut di atas, kami akan mendapatkan

j 1/ 2 gs
Untuk l j 1 / 2
Z g l
j N ..............................(9.11-15)
j
2j

gs
j 3/ 2
j N ........................(9.11-16)
Z g l

j 1 2( j 1)

Dalam kasus A ganjil, baik jumlah proton ganjil (dalam inti o-e) atau jumlah
l l 1/ 2

neutron yang ganjil (dalam inti e-o). Jadi kita memiliki kemungkinan sebagai berikut.
proton ganjil (gl = 1, gs = gp)
l j 1/ 2
l j 1/ 2

1 gp
N ............................................... (9.11-17a)
; Z j
2 2

j
3 g
j p N ........................................ (9.11-17b)
; Z
j 1
2 2

Neutron ganjil (gl = 0, gs = gn):


l j 1/ 2
l j 1/ 2

gn N
.............................................................(9.11-18a)
2
j gnN
; Z
...................................................(9.11-18b)
; Z

j 1

Nilai-nilai numerik gp dan gn yang diberikan dalam Persamaan. (9.11-3), Pers.


(9.11-17) dan pers. (9,11-18) memberikan momen magnetik inti A ganjil sebagai fungsi
dari spin nuklir I yang diambil untuk menjadi sama dengan nilai j dari nukleon ganjil
terakhir. Nilai-nilai momen magnetik nuklir di atas dikenal sebagai nilai Schmidt.
Dalam Gambar. 9.11 nilai-nilai Schmidt ini diplot sebagai fungsi dari I = j untuk empat

43

kasus yang diberikan di atas. Grafik tersebut dikenal sebagai diagram Schmidt. Gambar.
9.11 yang menunjukkan plot Schmidt untuk kasus proton ganjil untuk j = l
memberikan dua garis seperti yang ditunjukkan. Dalam diagram yang sama, nilai-nilai
eksperimental dari momen magnetik untuk beberapa inti juga ditampilkan. Demikian
pula, Gambar. 9,11b menunjukkan dua garis Schmidt untuk kasus neutron ganjil untuk
j = l 1/2. Nilai-nilai eksperimental juga diperlihatkan

Gambar 9.11 Garis Schmidt (a) kasus proton ganjil (b) kasus neutron ganjil

Diagram di atas menunjukkan bahwa nilai-nilai eksperimental tidak sesuai


secara umum dengan nilai Schmidt. Namun, nilai-nilai eksperimental selalu terletak
diantara dua garis Schmidt yang membatasi, untuk inti Z ganjil dan N ganjil. Sedikit
pengecualian adalah 3H, 3He, 13C dan 15N dan dimana nilai-nilai eksperimental berada
sedikit di atas atau di bawah garis pembatas. Untuk inti ini dan sebagian kecil yang lain,
nilai-nilai eksperimental terletak dekat dengan satu atau garis Schmidt lainnya. Dalam
semua inti ini, nukleon ganjil terakhir berada di tingkat p. Sebagian besar dari momen
magnetik yang diukur secara eksperimental terletak lebih dekat ke salah satu dari dua

44

garis Schmidt dari yang lain yang memiliki nilai 1 dari yang diharapkan dari model
partikel kulit tunggal ekstrim.
Fakta ini memungkinkan kita untuk mengkonfirmasi keadaan dasar nuklir yang
diprediksi oleh model kulit dalam kasus ini. Sebagai contoh 7Li dengan Z = 3 dan N = 4
memiliki spin terukur I = 3/2. Prediksi model kulit untuk kasus proton ganjil
memberikan Z = 3,7927 untuk l = j - = 1 yang merupakan keadaan p3/2 sementara Z
= 0,1244 N untuk l = j + = 2 yang merupakan keadaan d3/2. Nilai eksperimental z =
3.2611N yang menegaskan penempatan dari 1p3/2 untuk keadaan dasar inti ini. Ketika
nilai-nilai eksperimental terletak tengah-tengah antara dua garis Schmidt yang
membatasi, tidak ada penempatan yang sudah jelas seperti ini yang mungkin.
Hal ini juga teramati bahwa ketika kulit disilangkan, ada perubahan yang drastis
yang diharapkan dalam momen magnetik dari nilai yang bersesuaian dengan j = l +
menuju kesesuaian dengan j = l + . Beberapa contoh diberikan di bawah:

Momen magnetik adalah dalam satuan magneton nuklir.


Berangkat dari nilai Schmidt adalah mungkin karena (i) kesalahan dalam
pernyataan untuk z yang diberikan di atas, (ii) kesalahan dalam fungsi partikel
gelombang partikel tunggal yang ekstrim yang digunakan dalam perhitungan.
Perhitungan kasar telah dibuat dengan koreksi karena (a) arus pertukaran meson, (b)
keberangkatan dari nilai-nilai p dan n dari nilai-nilai keadaan bebas mereka dan (c)
modifikasi fungsi gelombang karena adanya potensial spin-orbit.
Dapat dicatat bahwa dalam teori mekanika kuantum, ini adalah nilai harapan
<z> jj dari Operator mekanika kuantum z dari momen magnetik pada keadaan j dan
mj=j adalah nilai momen magnetik yang diharapkan. Hasilnya adalah sama seperti yang
diberikan di atas, dengan menggunakan pendekatan model vektor.
(c) kelompok isomerisme:
Dalam 6.10 kita telah bahas tentang waktu hidup relatif nuklir pada keadaan
tereksitasi, yang dikenal sebagai keadaan isomerik pada beberapa inti. Sebagaimana
dinyatakan sebelumnya, ini terjadi ketika ada perbedaan besar dalam momentum sudut
antara keadaan tereksitasi dan keadaan dasar, terutama ketika perbedaan energi antara
kedua keadaan relatif kecil.
Keadaan isomerik kebanyakan ditemukan di antara inti dimana baik N atau Z
dekat dengan akhir kulit. Daerah ini dikenal sebagai kelompok isomerisme (lihat

45

Gambar. 9.12). Pengelompokan inti dengan keadaan isomerik yang paling menonjol
tepat di bawah kulit tertutup mayor pada Z atau N yang sama dengan 50 dan 82.
Pengelompokan ini kurang ditandai di dekat Z atau N = 20 dan dekat N = 126.

Gambar. 9.12 Pulau isomerisme

Keberadaan kelompok isomerisme siap memberikan penjelasan pada komponen


dari model kulit partikel tunggal. Variasi sublevel dalam satu kulit tidak membrikan
perbedaan yang besar dalam hal energi. Ketika inti tereksitasi dari keadaan dasar, inti
biasanya melibatkan transisi dari sebuah nukleon ganjil dalam sublevel yang tidak terisi
ke sublevel lebih tinggi pada kulit yang sama. Jika ada perbedaan besar dalam nilai j
diantara kedua keadaan ini, akan ada perubahan besar dalam spin nuklir I ketika inti
tereksitasi turun ke keadaan yang lebih rendah dengan memancarkan radiasi
elektromagnetik. Hal ini tepat dengan kondisi isomerisme. Pemeriksaan pada gambar.
9.10 menunjukkan bahwa perubahan besar pada nilai-j yang terjadi di dekat angka ajaib
50 dan 82. Dalam kasus pembentukan, sublevel terakhir adalah 1g9/2 (l = 4, j = 9/2)
sedangkan yang di bawahnya itu adalah 2p1/2 , 1f7/2 and 2p3/2. Untuk angka ajaib 82, tiga
sublevels yang terakhir adalah 1h1/2, 2d3/2 and 3s1/2.
Pertimbangkan untuk inti 115In dengan Z = 49 dan N = 66. Spin keadaan dasar
dan paritasnya adalah 9/2+ menunjukkan bahwa proton ganjil terakhir yang tidak
berpasangan menempati sublevel 1g9/2 sementara semua proton mengisi semua sublevels
rendah sampai 2P secara berpasangan. Ketika eksitasi, satu proton dari 2P dinaikkan
ke sublevel 1g9/2 untuk membentuk pasangan dengan proton ganjil di kedua
meninggalkan nukleon tidak berpasangan di sublevel 2P . Dengan demikian keadaan
tereksitasi memiliki spin-paritas -. Energinya relatif rendah, yang hanya 335 keV.

46

Transisi dari keadaan ini ke keadaan dasar adalah jadi M4 karena melibatkan perubahan
spin I = 4 dengan perubahan paritas. Ini sesuai dengan hasil eksperimen. Waktu hidup
keadaan tereksitasi adalah 14,4 jam.
keadaan isomerik dapat pula diamati dalam inti 86Rb (Z = 37, N = 49), 13Te (Z =
52, N = 79) dan

199

Hg (Z = 80, N = 119). Jumlah N = 49, 79 dan Z = 80 yang dekat

dengan nomor ajaib 50 dan 82 yang mendukung pengamatan yang telah dibuat di atas
mengenai keberadaan keadaan isomerik dalam inti yang mengandung jumlah nukleon
yang dekat (dan hanya di bawah) nomor-nomor ajaib.
(d) Momen kuadrupol dari inti:
Kita telah melihat dalam 2.11 bahwa momen kuadrupol listrik Q dari inti
adalah rata-rata jumlah (3Z2 - r2) untuk distribusi muatan dalam nukleus. Untuk
distribusi muatan berbentuk sebuah bola simetris rata-ratanya adalah 0 dan oleh karena
itu Q = 0 untuk inti genap-genap yang memiliki spin keadaan dasar I = 0. Dalam kasus
inti proton tunggal
kuadrupol sebagai

Qsp

yang ganjil pada keadaan j, rata-rata ini memberikan momen

2 j 1 2
r ...................................................................... (9.11-19)
2j2

dimana <r2> adalah radius kuadrat rata-rata dari distribusi muatan yang dalam kasus ini
adalah sama dengan rata-rata jarak proton dari pusat nuklir.
Tanda negatif pada sisi kanan dari Pers. (9.11-19) menunjukkan bahwa gerakan
orbital proton dalam bidang ekuator membuat distribusi muatan oblate spheroid. Di sisi
lain sebuah hole ganjil pada keadaan j akan membuat distribusi muatan yang prolate
spheroid dimana Q > 0. Jadi nilai Q yang positif dan negatif adalah diharapkan.
Dalam kasus inti neutron ganjil tunggal, seseorang biasanya tidak mengharapkan
momen kuadrupol yang manapapun. Namun, gerak orbital dari neutron menimbulkan
gerakan mundur dari seluruh inti yang mungkin bermuatan Z pada jarak rn/A (rn =
radius orbit neutron ganjil) dari pusat massa . Oleh Karena itu, momen kuadrupole Qsn
yang kecil bisa muncul, dan diberikan oleh:
Z
Qsn 2 Qsp ................................................................................... (9.11-20)
A
Ini jauh lebih kecil dari QSP.
Nilai <r2> harus agak lebih kecil dibandingkan dengan kuadrat jari-jari nuklir R2.
Jadi QSP harus pada orde 10-28 sampai 10-29 m2 dan harus meningkat dengan A, dalam
proporsi A2/3. Untuk inti neutron tunggal, Qsn harus sekitar seperseratus dari nilai di atas
atau kurang dan harus menurun kira-kira sebagai A-1/3.

47

Nilai-nilai terukur Q untuk inti A ganjil dalam banyak kasus jauh lebih tinggi
daripada perkiraan yang diberikan di atas. Selanjutnya ketika Q besar, QSP dan QSn
mempunyai orde yang sama besarnya.
Fakta di atas menunjukkan bahwa model kulit partikel tunggal tidak dapat
menjelaskan nilai-nilai Q yang sangat besar dalam beberapa inti. Inti ini tampaknya
memperoleh deformasi permanen. Hal ini akan dibahas lebih lanjut dalam 9.13.
9.12

Model Kulit Partikel Tunggal.


Kita telah menyebutkan tentang model ini dalam 9.11. Tidak seperti pada

model partikel tunggal yang ekstrim, satu hal yang harus dipertimbangkan tentang
pemasangan dari momentum sudut dari semua nukleon ganjil yang menduduki sublevel
terakhir di luar inti dari kulit tertutup. Kita berasumsi bahwa residu interaksi antara
nukleon yang terlepas pada sublevel terluar tidak menyebabkan perturbasi pada level
partikel tunggal yang ditentukan oleh (n, l, j).
Jika ada k partikel dalam sublevel terluar yang diberikan(n, l, j), maka keadaan
yang mungkin berbeda yang dapat dibentuk oleh mereka adalah degenerasi dalam
model partikel tunggal yang ekstrim, yang mengabaikan residu interaksi antar partikelpartikel ini. Ketika yang terakhir diperhitungkan, degenerasi akan terhapus dan levellevel akan sedikit berbeda dalam energi. Hal ini biasanya diasumsikan bahwa interaksi
residu adalah lemah dibandingkan dengan gaya spin-orbit sehingga j masih tetap
bilangan kuantum yang bagus,seperti level-level masih ditandai oleh nilai-nilai j yang
tertentu. Jika hal ini tidak terjadi, maka keadaan partikel dapat dianggap sebagai
superposisi dari keadaan energi yang berbeda (n, l, j) satu sama lain. Hal ini dikenal
sebagai pencampuran konfigurasi (configuration mixing).
Karena nukleon-nukleon adalah fermion, fungsi gelombang total dari sepasang
nukleon harus antisimetrik dalam pertukaran semua koordinat sepasang nukleon.
Kondisi ini membatasi keadaan yang dapat dibentuk untuk sejumlah nukleon dalam
keadaan j yang diberikan. Misalnya, untuk dua nukleon dari jenis yang sama dalam (n,
l, j) keadaan yang diberikan (nukleon setara), pertukaran partikel mengalikan fungsi
gelombang dengan (-1)J+1 dan karenanya hanya nilai-nilai I = J yang genap (dimana J =
j1 + j2 untuk dua partikel dengan j1 = j2) yang mungkin. Untuk dua nukleon non-ekivalen
nukleon yang berbeda satu atau lebih bilangan kuantum (n, l, j), fungsi gelombangnya
adalah dikalikan dengan (-1)j1+j2-J ketika dua partikel tersebut dipertukarkan. Prosedur

48

untuk peng-antisismetrian lebih dilibatkan dalam kasus ini. Semua kemungkinan nilai J
yang terletak diantara j1 - j2 dan (j1 + j2) diperbolehkan.
Untuk dua nukleon non-indentik (yaitu, proton dan neutron), semua nilai J
antara j1-j2 dan (j1+ j2) diperbolehkan. Tidak ada perbedaan yang diperlukan antara
kasus setara dan non-setara.
Untuk nukleon-nukleon yang lebih dari dua, (k > 2) prosedur untuk pengantisimetrian melibatkan pilihan operator antisimetris yang diperbolehkan untuk
beroperasi pada produk dari fungsi gelombang antisimetrik untuk nukleon pertama (k-1)
dan nukleon terakhir dari fungsi gelombang partikel tunggal. Dengan mengikuti
prosedur ini, dapat ditunjukkan bahwa untuk tiga nukleon tidak mungkin ada keadaan
dengan I = 1/2.
Keadaan anti-simetris yang mungkin untuk k nukleon identik dalam keadaan j
yang diberikan (konfigurasi jk) tercantum dalam tabel 9.6.
Keadaan-keadaan yang mungkin dari jumlah hole (lubang) yang diberikan
adalah sama dengan keadaan untuk jumlah nukleon yang sama pada keadaan yang
sama. Jika ada k

hole pada level j yang diberikan, maka jumlah partikel adalah

(2j+1- k). Dengan demikian keadaan yang mungkin untuk 3 hole yaitu 5 partikel untuk
keadaan j = 7/2 adalah 3/2, 5/2, 7/2, 9/2, 11/2, dan 15/2, sama dengan keadaan yang
mungkin untuk k = 5 partikel pada j yang sama. Huruf atau angka yang ditulis diatas
nilai-nilai I dalam beberapa kasus (misalnya 22 untuk k = 4 dan j = 7/2) menunjukkan
bahwa jumlah keadaannya adalah dua untuk I = 2. Penambahan bilangan kuantum
diperlukan untuk menentukan jenis keadaan secara lengkap.
Bilangan kuantum lainnya yang sangat penting adalah spin isotopik atau isospin
dibahas di Bab. II. Jika ti adalah vektor isospin dari i nukleon, maka vektor isospin total
untuk inti seluruhnya adalah penjumlahan vektor

T t i .......................................................................................... (9.12-1)
i

Komponen ketiga T3 dari T merupakan karakteristik dari keadaan nuklir (bilangan


kuantum yang baik) dan diberikan oleh

T3 12 ( Z N ) 12 ( N Z ) ........................................................... (9.12-2)
Tabel 9.6
j

3/2

k
1
2
1

0
3/2

49

5/2
7/2

9/8

2
1
2
3
1
2
3
4
1
2
3
4
5

0, 2
5/2
0, 2, 4
3/2, 5/2, 9/2
7/2
0, 2, 4, 6
3/2, 5/2, 7/2, 9/2, 11/2, 15/2
0, 22, 42, 5, 6, 8
9/2
0, 2, 4, 6, 8
3/2, 5/2, 7/2, (9/2)2, 11/2, 13/2, 15/2, 17/2, 21/2
02, 22, 3, 43, 5, 63, 7, 82, 9, 10, 12
, 3/2, (5/2)2, (7/2)2, (9/2)3, (11/2)2, (13/2)2, (15/2)2, (17/2)2, 19/2, 21/2, 35/2

Jika interaksi antarnucleon diasumsikan bebas-muatan, maka T2 juga merupakan


konstanta gerak. Asumsi bebas muatan adalah pendekatan yang valid untuk inti ringan
dimana efek Coulomb (yang tergantung pada muatan nukleon) adalah cukup kecil.
Nilai eigen dari T2 adalah T (T + 1). Untuk dua nukleon, T dapat bernilai 0 (isospin
singlet) atau 1 (isospin triplet) (lihat Bab XVII).
Dalam hal ini J harus genap untuk T = 1 dan ganjil untuk T = 0 untuk fungsi
gelombang total antisimetri.
Spin untuk A ganjil dan inti genap-genap diprediksi oleh model yang sama
seperti yang diprediksi oleh model partikel tunggal yang ekstrim. Hasil ini sama karena
asumsi yang dibuat dalam model ini bahwa gaya antar-partikel yang efektif antara
nukleon-nukleon pada orbit l yang berbeda adalah lemah dibandingkan antara dua
partikel dalam orbit yang sama. Ini berarti bahwa pemasangan momentum sudut dalam
kulit tidak dipengaruhi oleh interaksi dengan nukleon pada kulit lainnya.
Untuk inti ganjil-ganjil, kulit neutron terisi sebagian dengan neutron kn luar kulit
tertutup yang memiliki konfigurasi (Nn, ln, jn) kn memberikan momentum sudut resultan
jn. Untuk kulit proton dengan konfigurasi (Np, lp, jp)kp dengan kp ganjil, momentum sudut
resultannya adalah jp. Resultan J = I untuk inti keseluruhan dapat memiliki beberapa
nilai yang terletak di antara jn - jp dan (jn+jp). Nordheim telah menunjukkan bahwa
aturan berikut berlaku untuk menentukan spin untuk inti ganjil-ganjil.
Kita mendefenisikan jumlah Nordheim N = jp - lp + jn - ln. Dua kasus mungkin
timbul. Untuk jn = ln + dan jp = lp - atau sebaliknya, N = 0. Untuk jn = ln + dan
jp = lp + atau jp = lp - dan jn = ln - ; N = 1. Lalu I untuk inti ganjil-ganjil
diberikan oleh:
Aturan kuat : N = 0, I = jn - jp
Aturan lemah: N = l, I adalah salah satu dari jn - jp, atau jn + jp
Hal ini dikenal sebagai aturan Nordheim.

50

Sebagai contoh untuk penerapan aturan Nordheim, kita mempertimbangkan dua


inti

30
15

P15 dan

42
19

K 23 . ln

30

P, proton dan neutron ganjil terakhir, keduanya harus

berada di sublevel 2s sesuai dengan model kulit. Jadi N = - + 0 - 0 = 1. Oleh


karena itu sesuai dengan aturan lemah Nordheim, spin 30P seharusnya menjadi I = jn jp = 0 atau I = jn + jp = 1. Paritasnya harus genap. Hasil pengamatan, paritas-spinnya
adalah 1+ yang sesuai dengan nilai yang diharapkan.
Selanjutnya untuk 42K, proton dan neutron ganjil yang terakhir harus beradasa
dalam sublevel 2d3/2 and 1f7/2. Jadi N = 7/2- 3+ 3/2- 2= 0. Oleh karena itu sesuai dengan
aturan lemah, spin nuklir seharusnya menjadi I = jn - jp = 7/2 - 3/2 = 2 dan paritasnya
harus ganjil. Hasil pengamatan, paritas-spinnya adalah 2- yang sesuai dengan nilai yang
diharapkan.
Untuk dapat memprediksi nilai-nilai I dari inti ganjil-ganjil dengan benar,
penempatan proton dan neutron ganjil terakhir yang tepat pada sublevel adalah penting.
Kita dapat meringkas hasil dari model kulit partikel tunggal sebagai berikut:
i.

Untuk inti N genap Z genap, spin I = 0;

ii.

Untuk inti A ganjil, I ditentukan oleh nilai j dari nukleon ganjil terakhir.

iii.

Untuk inti N ganjil Z ganjil, nilai I ditentukan oleh aturan Nordheim yang
diberikan di atas

9.13

Model Partikel Individu.


Dalam model ini, juga dikenal sebagai model partikel bebas, semua nukleon-

nukleon A diasumsikan bergerak secara bebas satu sama lain dalam medan potensial
yang biasa. Model ini dapat pula digunakan untuk memperoleh fungsi gelombang dari
sistem yang pada dasarnya cukup akurat, meskipun dalam prakteknya ia bergantung
pada validitas aproksimasi model kulit sampai batas tertentu.
Sebagai contoh, mari kita perhatikan inti 7Li (Z = 3) dengan inti 2 proton dan 2
neutron pada kulit proton dan neutron 1s1/2. Dalam model partikel tunggal, kita
berasumsi bahwa sisa 2 neutron dalam pasangan kulit neutron 1p3/2 memberikan spin 0,
sementara proton ganjil pada kulit proton 1p3/2 menentukan spin resultan I = 3/2 untuk
inti. Dalam model partikel bebas, di sisi lain, tidak ada yang dibuat tentang pasangan
dari nukleon-nukleon. Jadi inti 7Li dianggap sebagai kulit tertutup ditambah tiga
nukleon yang lepas semua dalam keadaan yang sama 1p3/2 sehingga konfigurasinya
(p3/2)3.

51

Dalam model partikel bebas, fungsi paket gelombang i (i singkatan untuk


beberapa indeks) adalah diasumsikan dan matriks energi dibentuk dengan menghitung
<iHj> untuk sistem Hamiltonian. Matriks tersebut diagonal. elemen-elemen
diagonal memberikan nilai eigen energi Ek dari sistem. Fungsi gelombang i
diasumsikan tidak perlu dekat dengan fungsi gelombang yang sebenarnya k = ik.i
mana ik adalah vektor eigen. Namun, pilihan yang tepat dari itu i dapat membuat
perhitungan lebih sederhana.
Fungsi gelombang fungsi i adalah benar-benar produk antisimetris dari fungsi
gelombang partikel tunggal dalam beberapa asumsi medan gaya. Masing-masing adalah
superposisi linier dari n! fungsi yang bersesuaian dengan n! permutasi dari partikel n.
Mereka dapat dinyatakan dalam bentuk determinan Slater.
Fungsi dasar yang dipilih akan berbeda pada skema pemasangan L-S dan j-j.
Dalam skema L-S, keadaan dari partikel individu yang diberikan l, ml, s (=1/2), ms dan t
(spin-i) dapat ditulis sebagai:
( n, l , ml , ms , mt ) u nl ( r ) Yl ml ( , ) sms tmt ...............................(9.13-1)

dimana unl (r) adalah fungsi radial yang diperoleh untuk potensial pusat tertentu yang
diasumsikan (misalnya potensial osilator harmonik), Yl ml adalah harmonik sferis/bola.
Fungsi spin nukleon sms berupa atau tergantung pada apakah spin tersebut `naik '
(ms = +1/2) atau `turun' (ms = -1/2). tmt adalah fungsi isospin dari nukleon yang dapat
berupa (proton) atau (neutron), (lihat Bab XVII). Fungsi gelombang total (lk) untuk
k partikel dari bilangan kuantum l dapat dibentuk dengan menggunakan fungsi yang
diberikan oleh Persamaan. (9,13-1).
Fungsi gelombang total k ini bersesuaian dengan nilai-nilai tertentu dari L,ML,
S, Ms, T and MT. Beberapa bilangan kuantum extra [] mungkin diperlukan untuk
menentukan sifat simetri . didefinisikan sebagai berikut:
i k , where 1 2 3 ......
i

Dalam pemasangan j-j kita mulai dengan fungsi partikel tunggal (n, l, j, m, mt)
dimana j = l + s adalah momentum sudut total untuk masing-masing partikel. Aturan
pemasangan momentum sudut yang dibahas dalam Lampiran AV memberikan
u nl ( r ) tmt Cl 1 / 2 ( j , m ml , ms ) Yl ml ( , ) ........................... (9.13-2)
m
i

dimana mt=ml+ms dan s =1/2.

C l ;s ( j , m ml , ms ) C l ;1 / 2 ( j , m ml , m s ) adalah

koefisien Clebsch-Gordan. m adalah proyeksi dari j; mt yang menentukan muatan dari

52

nukleon, merupakan proyeksi dari t. Ini dikombinasikan untuk membentuk fungsi


gelombang total untuk k partikel, masing-masing memberikan j, (jk) untuk nilai-nilai
tetap J, M, T, MT, kedudukan tertinggi s dan mengurangi isospin t.
Suatu keadaan nuklir yang sebenarnya dapat diperluas baik dalam komponen
fungsi (lk) paket lengkap dalam kasus pemasangan L-S atau dalam dalam komponen
fungsi (jk) paket lengkap dalam kasus pemasangan j-j. Untuk gaya pusat murni, L
adalah bilangan kuantum yang baik sehingga skema pertama yang terkait lebih dekat
dengan keadaan nuklir yang sebenarnya. Di sisi lain untuk gaya spin-orbit murni, J
adalah bilangan kuantum yang baik dan skema kedua adalah lebih baik. Suatu Situasi
yang sebenarnya di mana gaya pusat dan gaya spin-orbit keduanya hadir, yang terkait
dengan apa yang dikenal sebagai pemasangan intermediate. Ini adalah masalah
kemudahan matematika, skema mana yang harus digunakan untuk perhitungan yang
sebenarnya.
Konfigurasi tingkat energi dan energi ikat yang diprediksi oleh model partikel
individu yang ditemukan sesuai dengan nilai yang diamati.
Komponen pemasangan spin-orbit dapat ditulis sebagai (l.s) per pasang
nukleon yang menentukan klasifikasi sesuai dengan skema pemasangan j-j. Jika k
menunjukkan kekuatan dari gaya pertukaran pusat yang menentukan klasifikasi
pemasangan L-S, maka spektrum energi tergantung pada rasio /K dan L/K di mana L
dan K menunjukkan elemen matriks tertentu. Level dari nuklida pada A = 7 sebagai
fungsi dari /K ditunjukkan pada Gambar. 9.13. Gambar tersebut juga menunjukkan
level energi dari 7Li (Z = 3) dan 7Be (Z = 4) yang benar-benar diamati dan yang
diperkirakan oleh model partikel individu untuk A = 7.

52

1 2 ,3 2

6
MeV

4
2

7 2

1 2 ,3 2

52
7 2

7 2

Fig. 9.13. Level dari Nuklida dengan A = 7

9.14

52

52

Model Kolektif (bersama).

12

32

Perhitungan

Li

12

32

Be

12

32

Eksperimen

Model kulit partikel tunggal dan model kulit partikel individual didasarkan pada
asumsi adanya potensial simetris berbentuk bola di dalam inti, ditambah komponen

53

pemasangan orbit-spin. Berbagai jenis pemasangan dari momentum sudut diasumsikan


untuk nukleon-nukleon yang lepas keluar inti menimbulkan berbagai bentuk model
kulit.

Gambar. 9.14. Momentum kuadrupol Nuklir dari momen inti genap-ganjil.

Model kulit, dengan beberapa perbaikan, telah berhasil diaplikasikan untuk


menjelaskan banyak fitur inti dalam keadaan dasar dan dalam beberapa keadaan
tereksitasi. Namun, gagal dalam menjelaskan momentum kuadrupol listrik yang besar
(Q) dari inti dalam beberapa kasus (lihat 9,11) dan laju transisi quadrupole B (E2).
Seperti dalam kasus di mana Q adalah n kali nilai partikel tunggal (lihat Gambar. 9.14),
kita harus mengasumsikan bahwa partikel 2n terlibat dalam memproduksi Q yang
diamati karena neutron tidak dapat berkontribusi langsung terhadap Q. Ini adalah
gerakan kolektif nukleon-nukleon dalam jumlah yang cukup besar yang menentukan
besar nilai Q untuk inti yang jauh dari kulit tertutup.
J. Rainwater (1950) adalah orang pertama yang mencoba menjelaskan kegagalan
dari model kulit dengan memperkenalkan gagasan deformasi bentuk inti nuklir karena
gerakan nukleon ganjil yang lepas disebelah luar inti ganjil A. Menurut dia, gerakan
tersebut mengarah ke polarisasi inti ganjil-ganjil, yang dengan hal tersebut diasumsikan
bentuk bulat. Deformasi tersebut akan menyebabkan momentum kuadrupol lebih tinggi
daripada nilai partikel tunggal. Laju Transisi E2 juga meningkat. Aage Bohr (putra Niels
Bohr yang terkenal) dan B. Mottleson (1953) merinci lebih lanjut model,

54

menggabungkan partikel tunggal dan gerakan kolektif menjadi model terpadu yang
memberikan deskripsi yang lebih lengkap dari inti terdeformasi.
Dalam inti yang hampir bulat, pemasangan antara gerak kolektif nukleon dalam
inti dan gerakan nukleon yang lepas disebelah luar inti adalah lemah. Di sisi lain, untuk
pemasangan yang kuat, permukaan terdistorsi dan potensial yang dirasakan oleh partikel
yang terlepas tidak simetris berbentuk bola. Partikel-partikel ini, bergerak dalam
potensial model kulit non-speris simetris, mempertahankan bentuk nuklir yang
terdeformasi. Situasi ini mirip dengan yang di molekul linear. Kita kemudian dapat
menulis total energi sebagai jumlah dari energi rotasi, vibrasi dan energi nukleonik inti,
seperti dalam kasus molekul. Dalam kasus ini, energi nukleonik menggantikan energi
elektronik dari molekul (lihat (Bab XVI, Vol I).:
Etot = Erot + Evib + Enuc........................................................................ (9.14-1)
Gerakan Kolektif dari inti nuklir menimbulkan komponen rotasi dan vibrasi,
sedangkan komponen energi nukleonik adalah karena gerakan nukleon-nukleon yang
lepas.
Pemasangan gerak nukleonik eksternal dan gerak kolektif menimbulkan bentukosilasi pada permukaan nuklir. Gerak rotasi yang agak rumit dalam hal itu bukan
merupakan rotasi inti keseluruhan, dianggap sebagai benda tegar. Sebaliknya, itu adalah
rotasi bagian terdeformasi dari permukaan nuklir. Dengan kata lain, rotasi bentuk terjadi
dengan deformasi yang sedang dijaga. Momen inersia lebih rendah untuk rotasi seperti
ini daripada dalam kasus rotasi benda tegar.
Kita menganggap dibawah gerakan vibrasi dan rotasi inti genap-genap. Bukti
eksperimental menunjukkan bahwa jauh dari kulit tertutup, gerakan nukleon-nukleon
yang lepas menghasilkan deformasi permanen yang besar, ditandai dengan spektrum
rotasi. Inti ditemukan di pertengahan kulit 1d, 2s dalam rentang 145 < A <185 dan A >
226. Perbedaan Energi antara keadaan dasar 0 + dan keadaan tereksitasi pertama 2+
adalah 100 keV di dalamnya. Jauh dari daerah deformasi dan dekat dengan kulit
tertutup, bentuk kesetimbangannya adalah speris/bola. Energi Eksitasi yang rendah
menghasilkan karakteristik spektrum vibrasi. Pada kulit tertutup, keadaan tereksitasi
dapat dihasilkan dengan memisahkan inti, sehingga menimbulkan keadaan partikel
baru.
9.15

Spektrum Vibrasi/Getaran.

55

Kita mengambil kasus tetes cairan kontinyu yang ketika tereksitasi adalah
mengalami deformasi dari bentuk bulat (sferis), melakukan getaran permukaan. Lord
Rayleigh adalah orang pertama yang bekerja di luar teori getaran seperti dalam kasus
cairan mampat (inkompresibel) dengan aliran irrotasional (1877). Untuk inti ini adalah
sebuah aproksimasi yang baik. Namun, perlakuan Rayleigh harus terkuantisasi dalam
kasus ini.
Bentuk inti dapat dinyatakan sebagai

R ( , ) R0 1 Y ( , ) ........................................ (9.15-1)
0

Y, adalah harmonik sferis. Gerakan kolektif dinyatakan dengan memungkinkan


, bervariasi dengan waktu. Dalam pendekatan kuadrat, energi kinetik diberikan oleh
T

1
2

............................................................................ (9.15-2)

Untuk aliran irrotational dari kerapatan cairan yang konstan, Rayleigh


menyatakan
B

R05
........................................................................................ (9.15-3)

Disini adalah kepadatan. Energi potensialnya adalah:


V

1
2

............................................................................ (9.15-4)

Untuk cairan klasik dengan tegangan permukaan S dan membawa muatan Ze,
kita memiliki
C 5 R02 ( 1)( 2)

3Z 2 e 2 1
.
......................................... (9.15-5)
2R0 2 1

B dan C berturut-turut mewakili parameter inersia dan gaya pemulih. Keduanya


tergantung pada rincian dari struktur. Hamiltoniannya adalah:
H T V

1
2

1
2

Frekuensi melingkar terkait dengan variabel yang diberikan oleh


(C / B )1 / 2 ............................................................................... (9.15-6)
Persamaan. (9.15-3) memberikan B untuk = 0 dan karenanya o = 0.
Pers. (9.15-4) dan (9.15-5) juga memberikan C = 0 untuk = 1 sehingga 1 = 0. Jadi
= 0 untuk = 0 dan 1 yang masing-masing mewakili osilasi kerapatan muatan dan
getaran translasional dari cairan keseluruhan. Modus ini tidak terlihat.
Pertimbangan ini klasik. Untuk osilator harmonik, hasil terkuantisasi
memberikan energi eksitasi sebagai

56

2 1

E (n 12 ) n
......................................... (9.15-7)
2

n 0, 1, 2, 3 .... memberikan jumlah fonon dari urutan pada


Integer n

keadaan tereksitasi. Nilai yang sama dari n dikaitkan dengan masing-masing koordinat
untuk yang sama tetapi berbeda yang menunjukkan bahwa keadaan-keadaan
mengalami degenerasi. keadaan dengan n memiliki degenerasi (2+1) memiliki
momentum sudut . Untuk gerak irrotasional, sebuah Fonon dari jenis membawa
sebuah momentum kuantum berjumlah dengan komponen-z adalah dan paritas a
(-1). Fonon-fonon ini mematuhi statistik Bose-Einstein seperti foton-foton.
Energi meningkat pesat dengan . Dengan mengabaikan efek muatan, kita
temukan, menggunakan Persamaan. (9,15-3) dan (9,15-5)
3

30

2; 4
2
8
2

72
3
8

Dimana 2, 3, 4 dan seterusnya masing-masing berhubungan dengan


kuadrupol, oktopol dan 24 kutub fonon. Jadi 3 22 dan 4 = 32. Oleh karena itu
hanya nilai rendah yang perlu dipertimbangkan untuk menguji keadaan nuklir yang
rendah.
Jika ada getaran kolektif tentang bentuk sferis bulat ( = 0), keadaan tereksitasi
pertama akan menjadi salah satu keadaan fonon kuadrupol dengan = 2 dan karenanya
akan, menjadi keadaan 2+. Selanjutnya, karena fonon oktopol tunggal dengan = 3
memiliki dua kali energi fonon kuadrupol dengan = 2, keadaan fonon tunggal
(keadaan 3-) dengan = 2 memiliki kisaran energi yang sama seperti dua fonon = 2,
sehingga menimbulkan tiga keadaan 0+, 2+ dan 4+ oleh pemasangan dua momentum
sudut 2 satuan. Degenerasi-degenerasi pada keadaan ini dihapus (tidak dianggap) oleh
perturbasi yang melibatkan komponen anharmonik.

57

Gambar 9.15. Level-level vibrasi kuadrupol pada 106Pd. Energi (dalam MeV) dan
nilai paritas-spin dari setiap level diperlihatkan pada gambar.
Degenerasi dari dua fonon pada tiga keadaan (0 +, 2+, dan 4+)
dihilangkan oleh perturbasi.

Gambar. 9.15 menunjukkan keadaan vibrasi kuadrupol dari

106

Pd (Z=46) yang

ditentukan secara eksperimen, inti genap-genap yang menunjukkan keadaan vibrasi


fonon tunggal 2+ pada energi sekitar 0,5 MeV dan triplet 0+, 2+ dan 4+ dengan rata-rata
pendekatan energi dua kali lipat dari keadaan tereksitasi pertama. Secara berdampingan
juga ditunjukkan tingkat/level getaran yang diharapkan. Seperti urutan level rendah
yang diamati diantara banyak inti genap-genap, menunjukkan validitas asumsi kita
tentang keadaan vibrasi kolektif inti genap-genap. Energi Fonon pada 0,5 MeV adalah
jauh lebih rendah daripada kebanyakan energi yang lebih besar (~ 10 MeV) terkait
dengan level osilator partikel tunggal yang mengadakan jarak pada model kulit. Eksitasi
dari gelombang permukaan yang dibahas di atas tidak melibatkan perubahan jumlah
osilator partikel tunggal.
Eksitasi kuadrupol pada energi yang jauh lebih tinggi, yang berhubungan dengan
eksitasi partikel di dua kulit mayor juga telah diamati. Mereka menimbulkan resonansi
kuadrupol di wilayah keadaan terikat dekat dengan resonansi dipol raksasa (lihat
9.22).
9.16

Getaran yang tetap didalam inti yang terdeformasi.


Persamaan. (9.15-1) dalam kasus umum adalah cocok untuk mempelajari vibrasi

dari inti yang hampir bulat. Ketika inti memiliki bentuk keseimbangan bola, akan lebih
mudah untuk menggunakan satu set koordinat yang berbeda. dalam hal ini
menggambarkan perubahan bentuk sehubungan dengan set koordinat (x, y, z) yang tetap
di ruang angkasa. Jika (x', y', z') merupakan koordinat tetap dalam nukleus, maka

58

transformasi antara (x, y, z) dan (x', y', z') dapat dilakukan dengan bantuan sudut Euler
(1, 2, 3) pada sumbu utama inti (lihat Gambar 9.16 di sebelah kiri.).

Gambar 9.16. Transformasi antara sumbu benda-tetap dan sumbu ruang-tetap pada
deformasi nukleus. 1, 2, 3 adalah sudut Euler pada sumbu utama.
Gambar sebelah kanan menunjukkan pemasangan momentum sudut
pada inti deformasi.

Kita menganggap bentuk kesetimbangan kuadrupol dengan = 2. Kemudian


dapat mengambil nilai-nilai = 2, 1, 0, - 1, - 2. Kita memiliki

R R0 1 a 2 Y2 ( ' , ' )

dan

.......................................................... (9.16-1)

Y2 ( , ) 2 v Y2v ( ' , ' ) ............................................... (9.16-2)


v

Transformasi dari sumbu benda-tetap ke sumbu ruang- tetap dapat dilakukan


dengan menggunakan matriks rotasi yang Dv yang merupakan matriks satuan yang
digunakan dalam studi tentang momentum sudut (lihat Fisika Inti oleh MA Preston).
Karena sumbu benda yang dipilih adalah sumbu utama, produk-produk inersia
adalah nol, yang berarti a21 = a2, -1 = 0 dan a22 = a2, -2. Kita memperkenalkan dua variabel
baru yaitu dan sehingga
a 20 cos ; a 22 ( /
2

2 ) sin ................................................... (9.16-3)

Sehingga a20 2 a22 dan tan 2a22 / a20


Jadi , dan sudut Euleri (1, 2, 3) yang menggantikan lima variabel 2 dalam
2

menggambarkan sistem sepenuhnya.


Substitusi nilai-nilai dari harmonik sferis/bola Y20 ( ' , ' )

dan Y2 2 ( ' , ' )

5
(3 cos 2 '1)
16

15
sin 2 ' exp (2i ' ) . Kita akan mendapatkan dari (9.16-1) .
32

R R0

5
R0 cos (3 cos 2 '1)
16

3 sin sin 2 ' cos 2 ' .

(9.16-4)

memberikan deformasi total dan

59

2 2

................................................................. (9.16-5)

Energi potensial ini kemudian diberikan oleh


V

1
C 2
2

1
C 2 ..................................................................... (9.16-6)
2

Perubahan panjang dari tiga sumbu adalah (1, 2, 3 mengacu pada sumbu bendatetap x', y', z'):
R1 R( / 2,0) R0
5

R0 ( cos 3 sin )
16
5
3

R0 ( 12 cos
sin )
4
2
R1

5
R0 cos( 2 / 3) ................................................... (9.16-8)
4

demikian pula
R2 R( / 2, / 2) R0
R3 R (0, ' ) R0

(9.16-9)

5
R0 cos .......................................... (9.16-10)
4

Untuk = 0, kita memperoleh R3


Sedangkan R1 R2

5
R0 cos( 4 / 3) ...................
4

5
R0 0
4

5 R0
0
4 2

Elliposoid ini memanjang sepanjang sumbu z'. Jadi kita mendapatkan sebuah
prolate spheroid (berbentuk cerutu) dengan 3 sumbu sebagai sumbu simetri.
= 2/3 dan 4/3 memberikan prolate spheroid dengan sumbu 1 dan 2 masingmasing dengan sumbu simetri. Di sisi lain = , /3 dan 5/ 3 memberikan oblate
spheroid. Jika bukan kelipatan dari /3, tiga sumbu ellipsoid adalah tidak sama.
Jika perubahannya sesuai dengan waktu, kita memiliki sesuatu yang dikenal
sebagai vibrasi-. Jika adalah konstan dalam hal ini, inti mempertahankan sumbu
simetrinya. Eksentrisitas dari elips berubah. Untuk berubah dengan waktu (vibrasi-),
inti kehilangan kesimetrian sumbunya.
9.17

Rotasi Nuklir.
Energi kinetik diubah ke koordinat baru dengan bantuan matriks satuan Dv

yaitu:
T

1
1 3
B ( 2 2 2 ) I k k2 ...................................................... (9.17-1)
2
2 k 1

60

ks adalah kecepatan sudut dari sumbu utama w.r.t. sumbu-ruang tetap. Komponen
terakhir di Persamaan. (9.17-1) adalah bentuk energi kinetik rotasi dengan momen
inersia.

2k

I k 4 B 2 sin 2
................................................................. (9.17-2)
3

Jika ada sumbu simetri dari inti yang sesuai dengan = 0 atau , I3 = 0. Di sisi
lain I1 = I2 = 3B.2.
Karena kecil, sangat sedikit materi nuklir yang sebenarnya ikut serta dalam
rotasi. Rotasi dalam hal ini dapat dianggap sebagai gelombang yang berjalan disekitar
permukaan nuklir, yang menyebabkan arus irrotational dari nukleon lepas (lihat
Gambar. 9,17). Osilasi ini sebenarnya menimbulkan rotasi bentuk, tetapi bukan dari
partikel.

Gambar. 9.17. Materi nuklir di permukaan berputar sebagai sebuah gelombang.


Gambar di tengah dan di sebelah kanan berturut-turut berhubungan
dengan irrotasional dan rotasi benda tegar.

Momen inersia dalam kasus ini adalah:


3
MA( R ) 2
5

dimana

R 2 R1 2 R2 2 R3 2

15 2 2
R0 ..............................................(9.17-3)
8

yang dapat dihitung dengan bantuan pers. (9.16-8), (9.16-9) dan (9.16-10). M adalah
massa nukleon.
Jadi

9
MAR02 2
8

Pada sisi lain, untuk bola tegar beradius R0, momen inersianya adalah
I rig

2
MAR02
5

Kemudian kita peroleh:


45 2
I rig ............................................................................. (9.17-4)
16

Sebenarnya nilai-nilai dari I yang diamati terletak antara I yang dihitung diatas
dengan Irig, yang memberikan sekitar 30 - 50% dari yang terakhir. Hal ini hanya
menunjukkan perincian parsial dari model kulit. Tidak adanya beberapa keadaan rotasi
di inti bola pada eksitasi yang rendah menunjukkan bahwa tidak ada rotasi kuasi-benda

61

tegar pada sumbu simetri. Jadi I3, jika tidak nol, harus kecil dan rotasi pada sumbu
simetri, jika ada, hanya dapat terjadi pada tingkat eksitasi yang cukup tinggi.
Fakta bahwa momen inersia dari inti sebenarnya terletak antara I dan Irig yang
diberikan di atas menunjukkan bahwa materi nuklir adalah campuran dari fluida super
dan fluida kental. Dengan kata lain, substansi nuklir memperlihatkan superfluiditas
parsial.
Spektrum Rotasional
Persamaan. (9.17-1) bersama dengan Persamaan (9.16-16) memberikan
Hamiltonian dari inti terdeformasi permanen, dianggap sebagai tetes cairan deformasi:

1
1
1
H B ( 2 2 2 ) I k k2 C 2
2
2 k
2
H H vib H rot ............................................................................... (9.17-5)
1
1
H rot I k k2 L2k / 2 I k ..................................................... (9.17-6)
dimana
2 k
2 k
adalah Hamiltonian untuk gerak rotasi. Hvib adalah Hamiltonian untuk gerak vibrasi
(getaran) yang telah dipertimbangkan pada paragraf sebelumnya. Lk adalah komponen
momentum sudut sepanjang sumbu-k sampai ke bagian inti. Jika ada sumbu simetri,
momentum sudut terhadap sumbu itu adalah nol. Seperti yang terlihat di atas, rotasi
hanya melibatkan nukleon di daerah permukaan inti dan pertengahan antara rotasi
benda tegar dan gerak seperti gelombang permukaan.
Gambar. 9.16 menunjukkan pada bagian kanan dari sebuah inti terdeformasi
secara aksial simetris. OZ dan OZ bertutur-turut adalah sumbu tetap-ruang dan sumbu
tetap-benda. J adalah momentum sudut total. K adalah komponen J sepanjang
sumbu simetri OZ sementara M adalah komponen sepanjang sumbu ruang tetap OZ.
(J)2, K dan M adalah tiga konstanta gerak.
Setiap nukleon individual memiliki momentum sudut j dengan proyeksi j
sepanjang sumbu simetri sehingga J = ji dan K =jj. R adalah momentum sudut dari
rotasi kolektif yang tegak lurus dengan sumbu simetri.
Karena kesimetrian disekitar sumbu-3, kita dapat menulis I1 = I2 = I sebagai
momen inersia disekitar sumbu 1 dan sumbu 2. Jadi Hamiltonian untuk gerak rotasi
menjadi:
H rot
k

2 2 2
2 2
Jk
( J 12 J 22 )
J3
2I k
2I
2I 3

2
2 2
( J 12 J 22 )
J 3 .............................................(9.17 7)
2I
2I 3

Karena J2 and J3 keduanya adalah konstanta gerak, nilai eigen mereka diberikan
oleh:

62

J 2 J ( J 1) and J 3 K ................................................................ (9.17-8)

Jadi, energi untuk gerak rotasi adalah:


Er

2
2 2
J ( J 1) K 2
K
2I
2I 3

2 2 2
2

J ( J 1)
K .............................................. (9.17-9)
2I
2
I
3 2I
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, untuk inti dengan sumbu simetri,

momentum sudut disekitar sumbu simetri adalah kecil, jika tidak nol. Oleh karena itu
kita dapat mengabaikan komponen yang mengandung K2 yang memberikan
Er

2
J ( J 1) ...........................................................................(9.17-10)
2I

Dapat dicatat bahwa fungsi eigen rotasi adalah fungsi D yang digunakan dalam
transformasi harmonik bola yang telah disebutkan di atas.
Inti genap-genap deformasi memiliki sumbu simetri dan Persamaan (9.17-10)
berlaku bagi mereka. Bagi mereka kita memiliki pasangan partikel yang identik dengan
+ j dan - j yang ditambahkan untuk setiap pasangan yang membuat K = 0. Ada
kesimetrian disekitar sebuah bidang yang tegak lurus terhadap sumbu simetri OZ dan
fungsi gelombangnya harus invarian dibawah refleksi yang melalui 180. Momentum
sudut yang diperbolehkan dan paritasnya adalah 0 +, 2 +, 4 +, 6 + dan seterusnya.
seperti dalam rotasi molekul homopolar. Bagi kebanyakan inti genap-genap di daerah
terdeformasi kuat (A = 24; A = 145-185 dan A> 200), urutan tingkatan tersebut benarbenar diamati. Hal ini digambarkan untuk inti 180Hf pada Gambar. 9.18.

(1079)

(637)

(1116 )

(651)

310
Gambar. 9.18. Keadaan rotasional
kolektif pada (180
Hf) (Z = 72). Di sebelah kanan
(307)
4

4
diperlihatkan
level-level yang dihitung dengan menggunakan
Persamaan. (9.17-10).
Level
eksitasi
keV cocok
93(keV
)
(93) pertama pada 93
2
2
dengan
level
eksperimental

0
Dari Persamaan.
(9.17-10), rasio energi dari level-level 0rotasi yang berbeda

untuk E2 yang ditemukan menjadi


E 4 10 E6
E
,
7, 8 12
E2
3 E2
E2

63

Gambar. 9.18 menunjukkan keadaan rotasi dari

180

Hf

(Z = 72). Kita bisa

menghitung 2/2I dari energi eksitasi yang diamati untuk level 2 +. E2 = (2/2I) x 2 x 3 =
93 keV yang memberikan 2/2I = 15,5 keV. Di sini I adalah momen inersia.
Nilai ini telah digunakan untuk menghitung energi dari level 4+, 6+, dan 8+ pada
Gambar. 9.18. Kesesuaian dengan nilai-nilai eksperimental, meskipun cukup baik, tapi
menunjukkan perbedaan kecil yang sistematis antara dua kedudukan, nilai-nilai
eksperimental sedikit lebih kecil dari nilai teoritis. Perbedaannya meningkat dengan
meningkatnya J. Alasan untuk hal ini diyakini disebabkan oleh peningkatan dari nilai
momen inersia I karena efek dari gaya sentrifugal yang meningkat dengan
meningkatnya rotasi. Hal Ini akan menambah komponen yang proporsional menjadi
- J2(J+1)2 pada sisi kanan dari Persamaan (9.17-10). Dengan penambahan komponen
ini, kesesuaiannya menjadi lebih baik. Ada beberapa cara lain untuk menjelaskan
perbedaan tersebut.
9.18

Pemasangan Partikel dan Gerak Kolektif


Untuk A ganjil, pada wilayah/daerah inti deformasi, pemasangan dari gerak

partikel-partikel ganjil dengan gerak kolektif harus dipertimbangkan. Dalam hal ini,
partikel tidak lagi lebih panjang dalam potensial rata-rata yang sama dan gerakan dari
nukleon akan berubah. Disana mungkin keduanya pemasangan yang kuat dan
pemasangan yang lemah. Untuk inti berbentuk bola, pemasangannya adalah lemah dan
dapat diperlakukan sebagai perturbasi. Ketika gerakan partikel dan parameter kolektif
berpengaruh kuat satu sama lain, kita memiliki batas pemasangan kuat. Tingkat-tingkat
yang diamati menunjukkan metode mana yang tepat. Kita berasumsi bahwa nukleon
ganjil tunggal memberi kontribusi = K sebagai proyeksi momentum sudut pada
sumbu simetri, kehilangan nukleon yang bubar berpasangan menjadikan J = 0. Oleh
karena itu K adalah integral setengah. Energi dari keadaan nuklir untuk inti yang secara
aksial simetris diberikan oleh
E JK K

2
J ( J 1) K 2 K ,1 / 2 a (1) J 1 / 2 ( J 1 / 2) ................ (9.182I

1)
dimana K,1/2 = 0 untuk K 1/2 dan K,1/2 = 1 untuk K =

1
K adalah kontribusi energi
2

karena partikel Hamiltonian.


a adalah parameter decoupling dan diberikan oleh:

64

a (1) j 1 / 2 ( j 1 / 2) C j

dimana

Cj

adalah probabilitas bahwa partikel ganjil memiliki momentum sudut j.

Komponen yang menyebabkan ketidakhadiran a untuk K 1/2.


Pita-pita rotasi yang dibangun pada keadaan partikel dengan K berbeda adalah
sepenuhnya disebabkan oleh momentum sudut partikel dan konstan di seluruh pita.
Semua nilai yang lebih tinggi dari J > K adalah diizinkan. Untuk K = 1/2, keadaan
terendah memiliki K = J dan keadaan berturut-turut memiliki j = K + 1, K + 2 dan
seterusnya. Paritasnya adalah sama seperti untuk konfigurasi partikel ganjil.
Untuk K = 1/2, urutan tingkat ditentukan oleh nilai dari a, misalnya untuk
-3<a<-2, urutan tingkatannya adalah 3/2, , 7/2, 5/2, 11/2 , 9/2, dan seterusnya
9.19 Momen Listrik Kuadrupol untuk inti yang terdeformasi kuat.
Dengan menggunakan definisi parameter deformasi pada komponen (R/R0)
yang diberikan oleh Persamaan. (9,17-3), adalah mungkin untuk menemukan momen
kuadrupol listrik intrinsik Q0. Untuk pendekatan pertama, ini menjadi:
Q0

3
4
R
Z R02 Z R02
..................................................... (9.19-1)
5
R0
5

Disini R adalah perbedaan antara sumbu semi-mayor dan semi-minor sumur potensial
ellipsoidal. Q0 adalah momen kuadrupol w.r.t. dengan sumbu simetri. Pengukuran
momen kuadrupol berkaitan dengan kesimetrian distribusi muatan rata-rata. Dalam
model pemasangan kuat, kita peroleh untuk keadaan dasar (K = 0)
Q

I (2 I 1)Q0
.......................................................................... (9.19-2)
( I 1)(2 I 3)

Untuk inti genap-genap deformasi dengan I = 0 ini memberikan Q = 0, meskipun


Q0 mungkin memiliki nilai yang besar. Sebab I 0, Q < Q0 oleh faktor yang diberikan
dalam Persamaan. (9,19-2).
Model kolektif juga telah digunakan untuk menghitung momen magnetik inti
yang memberikan kesesuaian lebih baik dengan nilai-nilai yang diamati. Karena inti
berbagi momentum sudut, dia juga memberikan kontribusi untuk momen magnetik.
Untuk sebuah partikel tunggal yang dipasangkan pada permukaan, momen magnetiknya
diberikan oleh

g s s z g l l z g R Rz M J

..........................................................(9.19-3)

dimana gs, gl, sz, lz mengacu pada nukleon ganjil.

65

gR mengacu pada rotasi inti dan pendekatannya diberikan oleh gR = Z /A jika


neutron dan kepadatan proton adalah konstan sepanjang inti. Tuliskan J = gJ J untuk
nukleon ganjil pada nilai-nilai komponen model kulit, hal ini adalah mungkin untuk
menunjukkan deformasi inti yang sangat kuat untuk J = K 1/2, momen magnetik
keadaan dasar (K = 0) diberikan oleh:

J
( Jg g R ) ...........................................................................(9.19-4)
J 1

dimana g mengacu pada gerakan partikel tunggal. Perbandingan dengan nilai-nilai


eksperimental memberi dukungan terhadap model tersebut.
9.20

Model Terpadu Nilsson untuk potensial Deformasi


S.G. Nilsson (1955) adalah orang pertama yang menghitung gerakan partikel

tunggal dalam medan gaya yang bukan bola- simetris. Hal ini sebenarnya generalisasi
dari model kulit partikel tunggal dan dikenal sebagai model terpadu. Nilsson meninjau
kasus inti yang aksial simetris. Karyanya diperluas ke bentuk yang lebih umum oleh TD
Newton. (1960).
Nilsson memperkenalkan parameter distorsi yang aksial simetris sehingga:
1
2
1 2 , 3 ................................................................ (9.20-1)
3
3
Potensial deformasi yang ditinjau adalah potensial osilator harmonik

anisotropik:
V (r )

M
( x2 x 2 y2 y 2 z2 z 2 ) ...................................................... (9.21-2)
2

Untuk aksial simetri, kita bisa menuliskan x = y = , sehingga:


V (r )

M
( z2 z 2 2 2 ) .................................................................. (9.20-3)
2

dimana 2 = x2 + y2. Sebuah pemasangan spin-orbit komponen 2(r) l, s ditambahkan ke


potensial di atas. Selain itu, komponen tipe Dl2 ditambahkan untuk menyesuaikan
energi dari komponen momentum anguler yang lebih tinggi di bawah nilai osilator
mereka. Parameter tersebut ditentukan dari data eksperimen. Untuk deformasi yang
sangat kuat, komponen l.s dan l2 dapat dianggap kecil dibandingkan dengan potensial
osilator anisotropik. Kemudian urutan perhitungan perturbasi pertama dapat dilakukan.
Untuk deformasi kecil dan moderat, elemen matriks non-diagonal dari pemasangan
orbit-spin dan komponen lt2 harus disimpan di mana l digantikan oleh lt, operator
momentum sudut orbital dibangun dengan bantuan dari koordinat berdimensi dan
momentum i dan i ( / i ) seperti dalam kasus potensial osilator harmonik isotropik.

66

Karena kesimetrian sekitar sumbu-z, persamaan x dan y dapat diperlakukan bersamasama sementara persamaan-z diperlakukan secara terpisah.
Parameter deformasi didefinisikan oleh hubungan:
4
z 0 ( )(1 )1 / 2 ..................................................................... (9.20-4)
3
2
x y 0 ( )(1 )1 / 2 ...................................................... (9.20-5)
3
Frekuensi 0 berkaitan dengan konstanta osilator, yang pada gilirannya,

berhubungan dengan volume inti: o ~ A-1/3. Untuk distorsi yang besar, o juga
tergantung pada . Kondisi permukaan ekipotensial volume yang konstan memberikan:
x y z 03 ( )(1
~3

2
4
)(1 )1 / 2 = konstan
3
3

~
dimana
0 adalah konstanta deformasi-independen. Kita kemudian mendapatkan:

~ (1 2 ) 1 / 3 (1 4 ) 1 / 6
0 ( )
0
3
3
4
16
2
3
~ (1
0 ( )
) 1 / 6
0
3
27

berkaitan dengan parameter melalui hubungan

45
pada urutan pertama
16

pendekatan
Hal ini dimungkinkan untuk memisahkan osilator Hamiltonian anisotropik
menjadi dua bagian.
H H 0 H 'C (lt .s ) Dlt2

Bagian pertama H0 adalah osilator Hamiltonian isotropik yang dapat diselesaikan


dengan metode standar.

Keadaan Eigen yang ditentukan oleh N = n1+n2+n3 yang

merupakan jumlah kuanta getaran dan momentum sudut semu dalam sistem
transformasi (berdimensi). H adalah diagonal di n1, n2, n3 dan karenanya di N1. Dengan
demikian keadaan eigen H tergantung pada N1, l, , dan , dimana 2 = l (l +1), 3 =
dan komponen spin s3 = = 1/2.
Nilsson dan Newton telah memecahkan persamaan partikel gelombang tunggal
secara numerik dengan deformasi diberikan di atas. Hasil-hasilnya tergantung pada C,
D, 0 dan . Hasilnya diberikan dalam tabel dan grafik yang luas dalam makalah aslinya
untuk semua nomor partikel. Grafik menunjukkan energi dari masing-masing keadaan
sebagai fungsi dari distorsi . Ini ditunjukkan untuk Z <20 dan N <20 pada Gambar.
9.19; grafik yang sesuai daerah/wilayah dari inti deformasi lainnya dapat ditemukan
dalam Physics of the Nucleus oleh MA Preston.

67

Gambar. 9.19. Tingkatan-tingkatan partikel tunggal sebagai fungsi dari


deformasi nuklir, menurut model Nilsson.

Dalam Gambar. 9.19, garis mewakili masing-masing keadaan yang diberi label
nilai , paritas dan tiga parameter (N, n3, ). n3 hampir konstan untuk deformasi yang
sangat besar.
Dengan menggunakan fungsi gelombang Nilsson, adalah mungkin untuk
memprediksi sifat penting dari inti A ganjil sebagai fungsi deformasi, seperti
momentum kuadrupol listrik dan magnet, penurunan probabilitas transisi B (L) dan lainlain. Seperti disebutkan sebelumnya, momentum kuadrupol statis [ seperti halnya
probabilitas transisi kuadrupol B (E2)] memiliki bagian yang disebabkan gerakan
partikel tunggal dalam potensial non-bola dan bagian yang disebabkan efek kolektif.
Untuk inti ringan, dua efek tersebut adalah sebanding. Untuk inti yang lebih berat, efek
kolektif (~ Z) akan lebih dominan.
9.21 Model Super Fluida.
Rumus energi ikat semi-empiris yang diturunkan dalam 9,6 mengandung
istilah pasangan energi yang memberikan perbedaan EB antara inti A genap-genap, inti
A ganjil-ganjil dan inti A ganjil. Tidak satu pun dari model-model diatas yang bisa
menjelaskan terjadinya istilah ini atas dasar interaksi antar nukleon pada kulit yang

68

berbeda. Selain itu, model-model ini tidak dapat menjelaskan celah energi yang relatif
besar (~ 1 MeV) di sekitar keadaan dasar dari tingkat non-rotasi inti genap-genap, nilai
dari momen inersia yang kecil dari inti genap-genap dan kepadatan yang lebih besar
(sekitar dua kali) dari tingkat partikel tunggal dalam inti A ganjil yang terdeformasi
dibandingkan dengan nilai yang dihitung dengan menggunakan potensial Nilsson.
Untuk menjelaskan hal ini dan beberapa fitur-fitur lainnya, sebuah model
superfluida

inti telah diusulkan. Menurut model ini, interaksi pasangan yang

jangkauannya sangat pendek dianggap berbeda dari hasil interaksi internukleon , yang
dipertimbangkan dalam model-model sebelumnya. Dalam sebuah inti genap-genap,
gaya pasangan antara nukleon identik dengan spin berlawanan mendorong turunnya
energi. Untuk menghasilkan keadaan tereksitasi yang demikian dalam inti, perlu untuk
memutuskan ikatan, sehingga nukleon tidak berpasangan dapat melintasi celah energi
yang relatif besar diantara tingkat-tingkatan nukleon pasangan (keadaan dasar) dan
tingkat tereksitasi pertama.
Situasi ini mirip dengan pasangan dari elektron dengan spin berlawanan
(pasangan-pasangan Cooper) dalam superkonduktor (lihat Ch. XVIII di Vol. 1).
Pasangan membentuk struktur dari tingkat spasial yang cukup. Pergerakan pasangan
berlangsung dengan cara yang sesuai dalam materi nuklir. Karena prinsip larangan,
fungsi gelombang secara umum berubah drastis, meskipun gaya korelasi pasangan
mungkin lemah. Keadaan pasangan mungkin campuran dari keadaan partikel tunggal
yang berbeda dengan proporsi yang sebanding. Keadaan pasangan lain mungkin dalam
keadaan di mana partikel tunggal yang berbeda dapat hadir dalam proporsi yang
berbeda.
Pemahaman teoritis dari pasangan interaksi telah disediakan dengan melakukan
transformasi khusus yaitu sistem transformasi kuasi-partikel non-interaksi yang
menghasilkan spektrum baru dari keadaan partikel tunggal. Perhitungan menunjukkan
bahwa keadaan tereksitasi dari inti genap A ditandai dengan nomor genap dari kuasipartikel tersebut, yang memiliki besar celah energi minimum yang sebanding dengan
pasangan energi dari keadaan dasar. Di sisi lain, Inti ganjil A, memiliki keadaan
tereksitasi yang ditandai dengan nomor ganjil kuasi-partikel yang tidak memiliki celah
energi.
Perbedaan model-model yang dipertimbangkan dalam bab ini didasarkan pada
asumsi perbedaan radikal yang terlihat dan sering bertentangan satu sama lain. Mereka

69

menjelaskan aspek-aspek tertentu dengan cukup baik dari sifat nuklir. Hal ini jelas
bahwa mereka harus mewakili aspek yang berbeda dari beberapa prinsip dasar yang
mengatur sifat materi nuklir. Prinsip dasar ini adalah lemahnya interaksi dari nukleon
di dalam inti. Analisis tentang interaksi sisa yang lemah menyebabkan perbedaan
bentuk dari model kolektif seperti juga pada model superfluida.
9.22 Resonansi Raksasa.
Dalam 9.15 kita tidak mempertimbangkan getaran-getaran dengan = 0 dan
= 1 getaran. Getaran ini hanya dapat terjadi pada energi yang jauh lebih tinggi pada
kasus getaran kuadropol atau oktopol. Jadi ini tidak bisa pada getaran permukaan.
Modus yang mungkin berbeda dari getaran adalah mirip dengan yang ada pada gambar
14.86 di Bab. XIV.
Getaran dipol dan getaran dipol raksasa
Dalam hal ini,

= 1 merupakan representasi translasi pusat massa dari inti

tanpa mengalami deformasi bentuk. Getaran dipol hanya dapat terjadi di bawah
pengaruh gaya/kekuatan eksternal.
Gaya eksternal seperti yang disebabkan oleh vektor listrik pada kejadian radiasi
elektromagnetik (sinar-) membuat proton bergerak ke arah medan. Jika neutron dan
proton dalam fluida inti bergerak dengan fase berlawanan, ada pemisahan yang efektif
antara pusat muatan dan pusat massa dalam inti, yang menimbulkan peningkatan
momen dipol untuk mengembangkan variasi waktu. Dalam inti genap-genap, ini
keadaan eksitasi kolektif dari paritas-spin 1- dengan energi eksitasi ~ 20 - 25 MeV.
Keadaan kolektif

telah diamati dalam banyak reaksi inti, khususnya dalam

desintegrasi-foto dari inti A yang genap dan ganjil. Dalam plot penampang lintang
untuk emisi neutron terhadap E dalam desintegrasi-foto , puncak yang luas , yang
dikenal sebagai resonansi dipol listrik raksasa muncul. Puncak serupa telah diamati
dalam banyak inti mulai dari yang sangat ringan (misalnya, 12C) sampai ke inti sangat
berat (misalnya,

208

Pb). Energi-energi di mana puncak muncul dan lebar bervariasi

secara sistematis dengan A. Nama resonansi raksasa diberikan untuk puncak seperti itu
karena lebar mereka yang besar (beberapa MeV).
Resonansi raksasa ini juga sering disebut sebagai resonansi isovektor karena
neutron dan proton bergerak dalam fase yang berlawanan dan menggantikan posisi satu
sama lain, seperti sebelumnya. Perubahan isospin dalam kasus ini terjadi saat T = 1.

70

Momen dipol terinduksi akibat pemisahan antara fluida neutron dan proton dapat
dihitung dengan menggunakan aturan penjumlahan dipol. Untuk atom, aturannya
menyatakan bahwa total kekuatan dipol osilator

dijumlahkan dari tingkat diskrit,

seperti halnya dengan yang berada di tingkat kontinu, adalah sama dengan muatan total
Z sistem . Untuk inti, ini agak dimodifikasi untuk memperhitungkan gerakan relatif
antara nukleon dan inti terpental, sebagaimana juga efek dari gaya nuklir, dalam
penambahan gaya Coulomb.
Mengingat perpindahan dari proton bermuatan e melalui ri relatif terhadap pusat
massa dan pentalan dari muatan (Z - 1)e dan massa (A - 1), momen dipol induksi
menjadi
Pi eri

N
.................................................................................... (9.22-1)
A 1

dimana N = A - Z adalah jumlah neutron.


Energi di mana resonansi dipol raksasa muncul diberikan oleh
1/ 2
e 2 2 NZ
E0
.
.
.....................................................................(9.22-2)
A 0
M
dimana o adalah polarisabilitas dan adalah faktor koreksi karena gaya-gaya

pertukaran nuklir ( 1,4 untuk campuran yang sama dari gaya sederhana dan gaya
pertukaran). o merupakan momen dipol persatuan bidang yang telah diperkirakan
berdasarkan model tetes cairan dan diberikan oleh
o

e2 R2 A
......................................................................................(9.22-3)
40a 4

dimana a4 adalah parameter asimetri dalam rumus massa semi-empiris dan R adalah
jari-jari inti. Dengan menggunakan estimasi diatas untuk o energi resonansi menjadi Eo
~ 78/A1/3 MeV.
Ketergantungan yang diharapkan dari Eo pada A yang diberikan di atas cukup
sesuai dengan nilai-nilai eksperimental untuk A > 100. Untuk inti ringan, nilai-nilai
eksperimental dari E0 lebih rendah dari nilai teoritis.
Lebar dari resonansi raksasa terletak antara 3 sampai 8 MeV. Di dekat inti kulit
terluar, lebarnya lebih sempit, sedangkan untuk inti yang mengalami deformasi mereka
jauh lebih luas. Untuk inti-inti yang terdeformasi, ada superposisi dari dua resonansi
raksasa, karena osilasi disepanjang kedua sumbu pendek dan sepanjang sumbu yang
panjang dari sebuah inti yang bersumbu simetris. Adanya dua puncak tersebut telah
diamati dalam beberapa kasus (seperti di holmium dan erbium).
Penjelasan atas terjadinya resonansi dipol raksasa didasarkan pada perilaku
kolektif dari inti. Sebuah teori mikroskopis berdasarkan pada model kulit juga telah

71

diusulkan untuk menjelaskan penampilan resonansi ini. Perubahan-perubahan paritas


yang terlibat menunjukkan bahwa dalam kasus-kasus transisi antara dua kulit mayor
harus dipertimbangkan. Karena prinsip Pauli, hanya keadaan-keadaan di dekat bagian
atas Laut Fermi yang tersedia untuk penggabungan dengan keadaan-keadaan terikat
terikat di atas. Dipol transisi terjadi antara keadaan yang berbeda oleh lompatan
kuantum tunggal dan keadaan osilator harmonik yang disukai. Perhitungan yang rinci
menunjukkan bahwa transisi utama berlangsung dari kulit tertutup yang terletak dalam
satu spasi osilator di atas permukaan Fermi. Kecocokan telah diamati untuk inti diantara
oksigen ke kalsium.
Resonansi kuadrupol; Tipe lain dari resonansi, yang dikenal sebagai resonansi
kuadrupol raksasa (resonansi isoskalar) diamati pertama kali pada tahun 1971. Dalam
hal ini neutron-neutron dan proton-proton berosilasi dalam fase, sehingga tidak ada
perubahan dalam isospin (T = 0). Pada tipe yang lain, neutron-neutron dan protonproton berosilasi dalam fase yang berlawanan, sehingga T = 1 yang berarti bahwa
resonansi jenis isovector quadrupole dihasilkan.
Eksperimental resonansi kuadrupol raksasa pertama kali diamati dalam
eksperimen hamburan elektron inelastis dan kemudian eksperimen hamburan inelastik
dari proton. Dalam percobaan ini, Puncak resonansi dipol listrik raksasa diamati pada
tingkat energi yang sedikit lebih rendah. Pengukuran distribusi anguler menunjukkan
bahwa ini adalah resonansi kuadrupol ( = 2). Pada eksperimen terakhir, hamburan
inelastik partikel digunakan untuk mempelajari puncak ini untuk inti dengan A
berkisar 14 sampai 208. Energi puncak ini dapat dinyatakan dengan rumus (untuk
puncak isoskalar) Eo

63
A1 / 3

Lebar puncak bervariasi dari 6 MeV untuk A = 40 sampai 3 MeV untuk A =


208. Untuk puncak isovektor, energinya adalah sekitar dua kali lebih besar.
Resonansi monopole; resonansi raksasa yang pertama kali diamati pada tahun
1975 dalam eksperimen hamburan inelastik dari deuteron dengan energi 80 MeV oleh
inti 40Ca, 90Zr dan 208Pb. Selanjutnya, eksperimen pada hamburan inelastik dari partikel mengkonfirmasi temuan ini. Energi di mana resonansi-resonansi ini muncul diberikan
oleh E0 = 80/A1/3. Studi tentang distribusi anguler menunjukkan bahwa ini adalah
resonansi monopol ( = 0). Sifat osilasi dari neutron dan proton menunjukkan bahwa ini

72

adalah resonansi isoskalar resonansi (T = 0). Ada juga beberapa bukti untuk
penampilan isovektor tipe resonansi monopol raksasa (T = 1).
Karena sinar- melintang di alam, mereka tidak bisa mengeksitasi resonansi
monopol. Selain tiga jenis di atas, ada beberapa bukti untuk menunjukkan penampilan
resonansi oktopol raksasa.

BAB III
KESIMPULAN

Bab ini menjelaskan tentang model-model nuklir. Model-model tersebut


dikembangkan oleh para ahli kimia untuk memahami sifat-sifat yang teramati dari inti
sebuah atom. Pada awalnya, diasumsikan bahwa inti atom mengandung proton dan
elektron. Namun, hipotesis proton-elektron dari aturan inti ini mempunyai banyak
kekurangan. Pada 1932, Heisenberg mengajukan gagasan bahwa inti-inti terbentuk dari
proton-proton dan neutron-neutron (bukan dari proton dan elektron). Sebuah inti dari
nomor massa A dan nomor atom Z mengandung Z proton dan N = A Z neutron,
sehingga jumlah total partikel dalam inti sama dengan nomor massanya A.
Proton-proton dan neutron-neutron terikat dengan sangat kuat didalam inti. Sifat
gaya yang mengikat mereka pada dasarnya berbeda dari jenis-jenis gaya yang lebih
familiar misalnya, gaya gravitasional dan gaya elektromagnetik. Gaya gravitasional jauh
lebih kecil daripada gaya ikat inti. Sehingga ia jauh lebih kecil daripada energi ikat per
nukleon, yang berorde beberapa juta eV.
Dari sekitar 1000 nuklida yang dikenal, hanya sekitar 25% yang stabil. Unsurunsur dengan Z genap umumnya mempunyai jumlah isotop stabil yang lebih besar
daripada Z ganjil. Unsur-unsur yang berbeda yang mempunyai nomor atom yang sama

73

(Z = konstan) disebut isotop. Nuklida-nuklida dengan Z yang berbeda dan nomor


massanya sama (A=konstan) dikenal sebagai isoton. Isotop-isotop dari semua unsur
dapat dibagi dalam 4 grup: (e-e); (e-o); (o-e); (o-o).
Ada beragam model yang telah diajukan untuk inti atom, yakni model tetes
cairan, model gas Fermi, model-model kulit dengan tipe-tipe pemasangan yang berbeda.
Selain itu, ada alasan-alasan yang kuat untuk meyakini bahwa seperti dalam kasus
ikatan elektron-elektron dalam atom, nukleon-nukleon dalam inti diatur dalam kulitkulit diskrit tertentu. Beberapa teori bertujuan membuktikan eksistensi struktur kulit
inti adalah keadaan-keadaan partikel tunggal dalam inti, model kulit partikel tunggal,
model partikel individual, dan model kolektif. Juga ada model-model yang membahas
gerak nukleon-nukleon dalam inti, seperti spektra getaran dan rotasi inti.
Tidak satupun model-model diatas yang dapat menjelaskan permasalahan
berdasarkan interaksi-interaksi antara nukleon-nukleon dalam kulit-kulit yang berbeda.
Model-model ini tidak mampu menjelaskan gap (celah) energi yang relatif besar
(~ 1 MeV) dalam visinitas keadaan dasar dari level-level nonrotasional dari inti genapgenap, nilai yang kecil dari momen inersia inti-inti e-e dan kerapatan yang lebih besar
dari level-level partikel tunggal dalam penguraian A inti-inti ganjil dibandingkan
dengan nilai yang dihitung dengan menggunakan potensial Nilsson. Untuk menjelaskan
hal-hal ini dan fitur-fitur lainnya, telah diajukan sebuah model superfluida untuk inti.

74

75

DAFTAR PUSTAKA
Ghoshal, S.N. 2002. Nuclear Physics. New Delhi; S. Chand & Company LTD.

iii