Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN KASUS

Ischialgia Sinistra

Oleh :
dr. Ivan Rayka
Pembimbing:
dr. Yunni Diansari, Sp. S
Pendamping:
dr. Siti Rusmawardani
dr. Tri Susanti

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KAYU AGUNG


OGAN KOMERING ILIR SUMATERA SELATAN
2016

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb.
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan
hidayah yang diberikan oleh-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan Laporan
Kasus Ischialgia Sinistra
Dalam penyusunan laporan ini saya menyadari bahwa masih banyak
kekurangan dan juga banyak menemui berbagai macam hambatan dan kesulitan
karena masih terbatasnya ilmu pengetahuan yang saya miliki, namun berkat
adanya bimbingan, bantuan serta pengarahan dari berbagai pihak maka, saya
dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya. Oleh karena itu dengan
terselesaikannya penyusunan laporan kasus ini saya mengucapkan terimakasih
dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada berbagai pihak yang telah
membantu dalam menyelesaikan laporan kasus ini kepada yang terhormat, Dokter
Yunni Diansari, Sp.S selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan,
bantuan, serta pengarahan.
Kayu Agung,

Mei

2016

Penulis

I.

IDENTITAS PENDERITA
Nama
Umur
Agama
Suku
Pekerjaan
Alamat
Status
Dirawat diruang
Tanggal masuk
No RM

II.

: Tn. U
: 54 tahun
: Islam
: Sumatera
: Karyawan
: Pematang Panggang
: Menikah
: Pavilliun Bende Seguguk
: 10 Mei 2016
: 365087

ANAMNESA
Riwayat Penyakit Sekarang
1. Keluhan Utama

: Nyeri pada pinggang dan tidak bisa duduk

2. Riwayat Penyakit Sekarang


o Lokasi
o Onset
o Kualitas

:
: Pinggang bawah dan tungkai sebelah kiri
: Sejak 14 hari SMRS, semakin memberat
: Nyeri seperti disayat-sayat yang menjalar

ke tungkai kiri.
o Kuantitas

: Nyeri dirasakan terus menerus, baik saat

beraktivitas maupun beristirahat sehingga pasien membutuhkan


bantuan orang lain untuk melakukan kegiatan sehari-hari
o Kronologis
:
Pasien mengeluh nyeri pada pinggang bawah dan tungkai kiri sejak 14
hari SMRS. Nyeri dirasakan menjalar hingga tungkai kiri, nyeri seperti
disayat-sayat dan dirasakan terus-menerus, semakin lama semakin
berat. Nyeri dirasakan pasien setelah os menyetir dari Palembang ke
Jakarta. Nyeri dirasakan memberat jika melakukan gerakan pada
bagian pinggul seperti membungkuk, mengangkat barang, mengejan,
atau berjalan. Dan nyeri berkurang jika dalam posisi istirahat tidur
terlentang. Nyeri pada pinggang tidak diikuti rasa kesemutan atau rasa
baal. Rasa lemah pada salah satu anggota gerak (-). Riwayat demam
sebelumnya (-), penurunan berat badan (-), batuk lama (-), riwayat

jatuh (+) 2 tahun lalu. BAK dan BAB tidak ada keluhan. Kemudian
oleh keluarga pasien dibawa ke RSUD Kayu Agung.
o Faktor memperberat
o Faktor memperingan
o Gejala penyerta

III.

: saat membungkuk, jongkok,


duduk, berjalan, batuk, mengejan
: posisi tidur
: -

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat sakit serupa
Riwayat stroke
Riwayat hipertensi
Riwayat diabetes mellitus
Riwayat penyakit jantung
Riwayat trauma panggul
Riwayat demam
Riwayat asam urat

: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat sakit yang sama seperti ini
Riwayat hipertensi
Riwayat diabetes melitus
Riwayat penyakit jantung

: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal

PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 10 Mei 2016, pukul 12.30 WIB di
IGD RSUD Kayu Agung
Keadaan Umum
: tampak sakit sedang
Kesadaran
: Compos mentis
GCS: E4 M6 V5 = 15
Tekanan Darah
: 110/70 mmHg, isi tegangan cukup
Nadi
: 84 kali/menit, reguler
RR
: 22 kali/menit, reguler
Suhu
: 36 0C
Status Gizi
Berat Badan : 74 Kg
Tinggi Badan : 172 cm
Status Internus

Kepala
Mata

: kesan mesosefal, rambut putih bergelombang, luka (-)


: Nistagmus (-/-), lesi (-/-), conjungtiva palpebra anemis(-/-)
sklera ikterik (-/-), reflek cahaya direk (+/+) indirek (+/

Hidung
Telinga
Mulut

+), pupil isokor 2,5mm/2,5mm, bulat sentral, reguler.


: nafas cuping hidung (-), sekret (-)
: serumen (-/-), nyeri tekan (-/-)
: bibir kering (-), bibir sianosis (-), lidah kotor (-), gusi
berdarah (-).

Leher

: pembesaran kelenjar limfe (-), pembesaran kelenjar


tyroid (-), deviasi trakea (-), kaku kuduk (-)

Thorax

Jantung :

Inspeksi

: Ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: Ictus cordis teraba di SIC V LMCS

Perkusi

: Batas atas jantung

: ICS II Linea parasternal


sinistra

Pinggang jantung

: ICS III Linea parasternal


sinistra

Batas kiri bawah jantung

: ICS V 2 cm medial Linea


mid clavicula sinistra

Batas kanan bawah jantung : ICS V Linea sternalis dextra


Auskultasi

: Bunyi jantung I & II normal & murni, bising jantung (-).

Paru :
Dextra

Sinistra

Depan
Inspeksi

Palpasi
Perkusi

Warna sama dengan warna

Warna sama dengan warna

sekitar, simetris statis &

sekitar, simetris statis &

dinamis, retraksi (-).

dinamis, retraksi (-).

Stem fremitus normal kanan

Stem fremitus normal kanan

= kiri.

= kiri.

Sonor seluruh lapang paru.

Sonor seluruh lapang paru.

Auskultasi SD paru vesikuler (+), suara

SD paru vesikuler (+), suara

tambahan paru: wheezing (-),

tambahan paru: wheezing (-),

ronki (-).

ronki (-).

Warna sama dengan warna

Warna sama dengan warna

sekitar, simetris statis &

sekitar, simetris statis &

dinamis

dinamis

Palpasi

Stem fremitus sulit dinilai

Stem fremitus sulit dinilai

Perkusi

Sulit dinilai

Sulit dinilai

Auskultasi

SD paru vesikuler (+), suara

SD paru vesikuler (+), suara

tambahan paru : wheezing (-),

tambahan paru: wheezing (-),

ronki (-).

ronki (-).

Belakang
Inspeksi

Abdomen

Inspeksi

: Permukaan datar, warna sama seperti sekitar

Auskultasi : Bising usus 10 kali/menit (normal)

Perkusi

: Timpani seluruh regio abdomen, pekak sisi (+)

normal, pekak alih (-), nyeri ketok ginjal dextra/sinistra (-)

Palpasi

: Nyeri tekan epigastrum (-), Tidak teraba

pembesaran organ
Ekstremitas
Superior

Inferior

Akral pucat
Akral hangat
Capillary Refill
IV.

-/+/+
< 2 detik/< 2 detik

-/+/+
< 2 detik/< 2 detik

STATUS NEUROLOGIS
I. Fungsi Luhur
Kesadaran
:
Kualitatif
: compos mentis

Kuantitatif GCS
: E4M6V5

- Orientasi
: tempat, waktu dan situasi baik
- Daya ingat
Baru
: baik
Lama
: baik
- Gerakan abnormal
: tidak ditemukan
- Gangguan berbahasa
:
Afasia motorik : Afasia sensorik : Akalkuli
:2. Fungsi Vegetatif
Miksi
: Dalam batas normal
Defekasi
: Dalam batas normal
3. Nervi Cranialis
Nervus Kranialis
N. I (Olfactorius)
Daya Penghidu
N.II (Opticus)
a. Daya penglihatan
b. Lapang pandang
c. Fundus okuli
N.III (Oculomotorius)
a. Ptosis
b. Gerak mata keatas
c. Gerak mata kebawah
d. Gerak mata media
e. Ukuran pupil
f. Bentuk pupil
g. Reflek cahaya langsung
h. Reflek cahaya konsesuil
i. Reflek akmodasi
j. Strabismus divergen
k. Diplopia

Kanan

Kiri

Tidak diperiksa

Tidak diperiksa

baik
baik
t.d.l

baik
baik
t.d.l

(-)
(+)
(+)

(-)
(+)
(+)
(+)
2,5 mm
Bulat, reguler
(+)
(+)
(+)
(-)
(-)

(+)
2,5 mm
Bulat, reguler
(+)
(+)
(+)
(-)
(-)

N.IV (Trochlearis) :
a. Gerak mata lateral bawah
b. Strabismus konvergen
c. Diplopia
N.V (Trigeminus)
a. Menggigit
b. Membuka mulut
c. Sensibilitas
d. Reflek kornea
e. Reflek bersin
f. Reflek masseter
g. Reflek zigomatikus
h. Trismus
N.VI (Abducens) :
a. Pergerakan mata (ke lateral)
b. Strabismus konvergen
c. Diplopia
N. VII (Facialis)
a. Kerutan kulit dahi
b. Mengerutkan dahi
c. Mengangkat alis
d. Menutup mata
e. Lipatan nasolabia
f. Sudut mulut
g. Meringis
h. Tik fasial
i. Lakrimasi
j. Daya kecap 2/3 depan
N. VIII (Vestibulocochlearis)
a. Mendengarkan suara berbisik
b. Mendengarkan detik arloji
c. Tes rinne
d. Tes weber
e. Tes schwabach

(+)
(-)
(-)

(+)
(-)
(-)

(+)
(+)
(+)
(+)
t.d.l
t.d.l
t.d.l
(-)

(+)
(+)
(+)
(+)
t.d.l
t.d.l
t.d.l
(-)

(+)
(-)
(-)

(+)
(-)
(-)

(+)
(+)
(+)
(+)
(+)
(+)
(+)
(-)
(+)
t.d.l

(+)
(+)
(+)
(+)
(+)
(+)
(+)
(-)
(+)
t.d.l

N
t.d.l

t.d.l
t.d.l
t.d.l

t.d.l
t.d.l
t.d.l
t.d.l

N IX (Glossopharyngeus)
a. Arkus faring
b. Uvula
c. Daya kecap 1/3 belakang
d. Reflek muntah
e. Sengau
f. Tersedak
N X (Vagus)
a. Arkus faring
b. Daya kecap 1/3 belakang

Simetris
Simetris
(+)
t.d.l
(-)
(-)

Simetris
Simetris
(+)
t.d.l
(-)
(-)

Simetris
(+)

Simetris
(+)

c. Bersuara
d. Menelan
N XI (Accesorius)
a. Memalingkan muka
b. Sikap bahu
c. Mengangkat bahu
d. Trofi otot bahu
N XII (Hypoglossus)
a. Sikap lidah
b. Menjulurkan lidah
c. Artikulasi
d. Tremor lidah
e. Trofi otot lidah
f. Fasikulasi lidah

ANGGOTA GERAK ATAS


Inspeksi:
Drop hand
Claw hand
Kontraktur
Warna kulit
Sistem motorik :
Gerakan
Kekuatan
Tonus
Trofi
Sensibilitas
Nyeri
Reflek fisiologik :
Bisep
Trisep

(+)
(+)

(+)
(+)

(+)
(+)
(+)
N

(+)
(+)
(+)
N

N
N
N
(-)
(-)
(-)

N
N
N
(-)
(-)
(-)

Kanan

Kiri

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Normal

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Normal

+ normal
5
Normal
(-)
+ normal
+ normal

+ normal
5
Normal
(-)
+ normal
+ normal

+ normal
+ normal
+ normal

+ normal
+ normal
+ normal

(-)
(-)

(-)
(-)

Radius
Reflek Patologi :
Hoffman
Tromer

ANGGOTA GERAK BAWAH

Kanan

Kiri

Inspeksi:
Drop foot
Claw foot

Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada

Pitchers foot
Kontraktur
Warna kulit
Sistem motorik
Gerakan
Kekuatan
Tonus
Trofi
Klonus
Reflek fisiologik (patella)
Sensibilitas
- Taktil
- Nyeri

Keterangan
Reflek Patologis

Tidak ada
Tidak ada
Normal

Tidak ada
Tidak ada
Normal

(+) normal
4
(+) normal
(-)
(-)
(+) normal
(+)normal
Normal
Normal

(+) normal
4
(+) normal
(-)
(-)
(+) normal
(+) normal
Normal
Normal

Kanan

Kiri

Babinski

Chaddock

Oppenheim

Gordon

Schaeffer

Mendel Bechterew

Rossolimo

Gonda

Klonus patella

Klonus kaki

Kernig sign

Brudzinski I

Brudzinski II

Rangsang Meningeal
V. Kaku Kuduk

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Urinalisa
Warna
: Kuning

Leukosit

: 0-1 /LP

Kejernihan: Jernih
Protein
:Urobilin : Reduksi : Bilirubin : Keton
:-

Eritrosit
Sel Epitel

: 0-1/LP
: 0-1/LP

Radiologi

VI.

RINGKASAN
Pasien mengeluh nyeri pada pinggang bawah sejak 14 hari SMRS.
Nyeri dirasakan menjalar hingga tungkai kiri, nyeri seperti disayat-

sayat, semakin lama semakin berat. Nyeri dirasakan memberat jika


melakukan gerakan pada bagian pinggul seperti membungkuk,
mengangkat barang, mengejan, atau berjalan. Dan nyeri berkurang jika
dalam posisi istirahat terlentang. Ada riwayat jatuh 2 tahun lalu, Nyeri
dirasakan setelah menyetir dari Palembang ke Jakarta. Pada
pemeriksaan fisik didapati kesadaran compos mentis. GCS: E4M6V5 =
15, keadaan umum tampak sakit sedang.
Tanda vital: TD = 110/70 mmHg, N= 84 x/menit, RR= 22 x/menit,
Suhu= 36
Pemeriksaan fisik : pada palpasi didapatkan nyeri pada daerah
pinggang, pada pemeriksaan motorik ektremitas bawah sinistra
didapatkan penurunan kekuatan : 4.
Pemeriksaan Radiologi didapatkan Fraktur kompresi di L2-L3
VII.

DIAGNOSIS
Diagnosis Klinis
: Ischialgia sinistra
Diagnosis Topis
: n. Ischiadicus sinistra
Diagnosis Etiologi
:
- Suspek Fraktur Kompresi L2-L3
- Suspek HNP
Diagnosis Sekunder
:-

VIII. RENCANA AWAL


Daftar Masalah
Ischialgia sinistra

Rencana Diagnosis
Usulan pemeriksaan:

CT Scan / MRI

Rencana Terapi
Farmakologi
-

Infus RL 20 tpm
Injeksi Ketorolac 2 x 30 mg

- Injeksi Ranitidine 2x1 amp


Peroral
- Sirdalud 3X2mg
- Paracetamol 3X500mg
Non farmakologi
a. Bed rest
b. Fisioterapi
Monitoring:
Keadaan umum
Tanda vital
Edukasi

IX.

Menjelaskan kepada penderita dan keluarga mengenai penyakit yang

diderita
Jangan mengangkat beban berat dan melakukan aktivitas berat
Minum obat dan kontrol teratur
Ikuti program latihan fisioterapi secara rutin

PROGNOSIS
Ad vitam
Ad fungsionam
Ad sanationam

: dubia ad bonam
: dubia
: dubia

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. ANATOMI DAN FISIOLOGI

Saraf spinalis L4-S3 pada fossa poplitea membelah dirinya menjadi saraf
perifer yakni N. tibialis dan N. poreneus. N ischiadicus keluar dari foramen
ischiadicus mayor tuberositas anterior 1/3 bawah dan tengah dari SIPS kebagian
dari tuberositas ischii.

Tengah 2 antara tuberositas ischii dan trochanter yaitu pada saat n. ischiadicus
keluar dari gluteus maximus berjalan melalui collum femoris. Sepanjang paha
bagian belakang sampai fossa poplitea.
Cakupan dari regio pinggang sebagai berikut :
o Thoraco lumbal ( Th 12-L1 )
o Lumbal ( Pinggang Atas )
o Lumbal sacral ( Pinggang bawah )
o Sacroiliaca Joint ( tulang pantat )
o Hip Joint ( Sendi Bongkol Paha )

Perjalanan Nervus Ischidicus di mulai dari L4-S3, dan saraf ini memiliki
percabangan antara lain:

N.

lateral poplital yang terdapat pada caput fibula


N. Medial popliteal yang terdapat pada fossa polpliteal
N. Tibialis Posterior yang terdapat pada sebelah bawah
N. Suralis/Saphenus yang terdapat pada tendon ascilles
N. Plantaris Yang berada pada telapak kaki
Tulang belakang merupakan bangunan yang kompleks yang dapat dibagi

menjadi 2 bagian. Dibagian ventral terdiri dari korpus vertebra yang dibatasi satu
dengan lainnya oleh diskus intervertebra dan ditahan satu dengan lainnya oleh
ligamentum longitudinal ventral dan dorsal. Bagian dorsal tidak begitu kuat dan
terdiri atas arkus vertebra dengan lamina dan pedikel yang diikat satu dengan
lainnya oleh berbagai ligamen diantaranya ligamen interspinal, ligamen
intertranversa dan ligamen flavum. Pada procesus spinosus dan tranversus
melekat otot-otot yang turut menunjang dan melindungi kolum vertebra. Seluruh
bangunan kolum vertebra mendapat inervasi dari cabang-cabang saraf spinal yang
sebagian besar keluar dari ruangan kanalis vertebra melalui foramen intervertebra
dan sebagian dari ramus meningeal yang menginervasi duramater. Diskus
intervertebra dan nukleus pulposus tidak mempunyai inervasi sensibel biarpun
berbatasan langsung dengan ligamen longitudinal yang mengandung serabut
sensibel.
Bagian lumbal merupakan bagian tulang punggung yang mempunyai
kebebasan gerak yang terbesar. Tarikan tekanan dan torsi yang dialami pada
gerakan-gerakan antara bagian toraks dan panggul menyebabkan daerah ini dapat
mengalami cedera lebih besar daripada daerah lain, biarpun tulang-tulang vertebra
dan ligamen di daerah pinggang relatif lebih kokoh. Perbedaan hentakan antara
tulang dengan jaringan dalam peranan mereka sebagai sendi pendukung akan
menyebabkan penyakit yang karakteristik unik pada daerah yang bersangkutan.
Sebagian besar lesi pada diskus lumbal adalah mengenai jaringan lunak dan sering
sekali menghasilkan protrusi inti (nucleus) yang kemudian menekan akar saraf.

N. Ischiadicus mempersarafi:
o M. Semitendinosus
o M. Semimbranosus
o M. Biceps Femoris
o M. Adduktor Magnus
N. Poroneus Mempersarafi
o M. tibialis anterior
o M. ekstensor digitorum longus
o M. ekstensor halluci longus
o M. digitorum brevis
o M. poroneus tertius
N. Tibialis Mempersarafi
o M. gastrocnemius
o M. popliteus
o M. soleus
o M. plantaris
o M. tibialis posterior
o M. fleksor digitorum longus
o M. fleksor hallucis longus
B. ISCHIALGIA
Ischialgia merupakan nyeri menjalar sepanjang perjalanan n.ichiadicus L4S2. Ischialgia yang terasa bertolak dari lokasi foramen infrapiriformis dan
menjalar menurut perjalanan nervus ischiadicus. Nervus poroneus dan nervus
tibialis harus di curigai sebagai manifestasi ischiadicus primer atau entrapment
neuritis dengan tempat jebakan di daerah sacroiliaka.
Ischialgia yang dirasakan bertolah dari vertebra lumbosacralis atau daerah
paravertebralis lumbosacralis dan menjalar sesuai dengan salah satu radiks yang
ikut menyusun nervus ischiadicus. Sebelum terjadi ischialgia selalu di dahului
dengan Low Back Pain atau Nyeri Pinggang Bawah itu sendiri seperti perasaan

nyeri, pegal, linu atau terasa tidak enak di daerah pinggang, pantat yang factor
pencetusnya oleh berbagai sebab, mulai dari yang paling jelas seperti salah posisi,
kuman, stress sampai penyebab yang tidak jelas. NPB dapat di klasifikasikan
menjadi Traumatik maupun Non traumatic dengan atau tanpa kelainan neurologis
primer atau sekunder, dengan atau tanpa kelainan neurologis akut ataupun kronik.
Nyeri atau rasa tidak enak yang menjalar harus diartikan sebagai
perwujudan hasil perangsangan terhadap saraf sensori. Nyeri saraf itu terasa
sepanjang perjalanan saraf tepi. Ia bertolak dari tempat saraf sensorik terangsang
dan menjalar berdasarkan perjalanan serabut sensorik itu ke perifer. Perangsangan
terhadap berkas saraf perifer biasanya berarti perangsangan pada saraf motorik
dan sensorik. Gangguan sensibilitas yang terasa sepanjang parjalanan saraf tepi
dan biasanya juga disertai gangguan motorik yang di sebut Neuritis. Neuritis di
tungkai dapat terjadi oleh karena berkas saraf tertentu terkena infeksi atau terkena
patologik di sekitarnya.
Adapun penyebab-penyebab dari ischialgia adalah:
1.

Entrapment Radiculitis/ Radiculopati

2.

Entrapment Neuritis :

3.

a)

Neuritis primer

b)

Terjebak disekitar bursa m. Piriformis

Entrapment Neuritis yang terjebak di sekitar:


a)

Tuber Ischi

b)

Artikulatio koksae.

c)

Spondylosis

Diawali dengan proses degeneratif yang ditandai dengan menurunnya


sistem metabolik atau sirkulasi darah atau adanya faktor traumatik yang berulangulang . Akibatnya terjadi kerusakan (disorders) pada discus intervertebralis.
Elastisitasnya menurun diikuti berkurangnya cairan sendi dan penurunan sistem
difusi di Cartilago akan mengalami kerusakan yang pada akhirnya akan
berkurang. Inter space antar diskus semakin kecil yang berakibat mikro trauma
pada kedua fascies corpus vertebra . keadaan akan diikuti proliferasi jaringan
tulang baru yang akan berubah menjadi proses osifikasi dan calsifikasi tulang

yang pada akhirnya membentuk osteofit.


Dalam analisa klinis LBP yang berlanjut menjadi Ischialgia jika timbul
secara tiba- tiba ini akan di kaitkan dengan Neoplasma. Tapi apabila mempunyai
hubungan dengan trauma, maka secara simplisik data itu di asosiasikan dengan
HNP ( Hernia Nucleus Pulposus ). HNP merupakan jebolnya nukleus pulposus ke
korpus vertebrae di atas atau di bawahnya, dan bisa juga langsung jebol dari
nukleus pulposus ke dalam korpus vertebrae. Robekan circumferentia dan radial
pada anulus fibrosis discus intervertebralis yang kemudian di susul oleh nyeri
sepanjang tungkai yang dikenal sebagai iscialgia. Secara etiologi Ischialgia dapat
di bagi menjadi 3 perwujudan yaitu :
1.

Ischialgia sebagai perwujudan neuritis ischiadicus primer


Ischialgia ini dapat disembuhkan dengan menggunakan NSAID (nonsteroid anti inflammatory drugs). Gejala utama neuritis Ischiadikus primer
adalah adanya nyeri yang dirasakan berasal dari daerah antara sacrum dan
sendi panggul, tepatnya pada foramen infrapiriforme atau incisura ishiadika
dan menjalar sepanjang perjalanan n. Ischiadikus dan lanjutannya pada n.
peroneus communis dan n. tibialis. Neuritis ischiadikus primer timbul akut,
sub akut dan tidak berhubungan dengan nyeri punggung bawah kronik.
Ischialgia ini sering berhubungan dengan diabetes meilitus (DM), masuk
angin, flu, sakit kerongkongan dan nyeri pada persendian. Neuritis
ischiadikus dapat diketahui dengan adanya nyeri tekan positif pada n.
Ischiadikus, m. tibialis anterior dan m. peroneus longus.

2.

Ischialgia sebagai perwujudan entrapment radiculatis


Ischialgia ini dapat terjadi karena nucleus pulposus yang jebol ke dalam
kanalis vertebralis (HNP), osteofit, herpes zoster (peradangan) atau karena
adanya tumor pada kanalis vertebralis. Pada kasus ini pasien akan meraskan
nyeri hebat, dimulai dari daerah lumbosakral menjalar menurut perjalanan n.
Ischiadikus dan lanjutannya pada n. peroneus communis dan n. tibialis.
Data-data yang dapat diperoleh untuk mengetahui adanya Ischialgia
radikulopati, antara lain : (1) Nyeri punggung bawah (low back pain), (2)

Adanya peningkatan tekanan didalam ruang arachnoidal, seperti : nyeri batuk,


bersin dan mengejan, (3) Faktor trauma, (4) lordosis lumbosakral mendatar,
(5) Adanya keterbatasan lingkup gerak sendi (LGS) lumbosakral, (6) Nyeri
tekan pada lamina L4, L5 dan S1, (7) Tes laseque selalu positif.
3.

Ischialgia sebagai perwujudan entrapment neuritis


Ini terjadi karena dalam perjalanan menuju tepi n. Ischiadikus
terperangkap dalam proses patologik di berbagai jaringan dan bangunan yang
dilewatinya. Jaringan dan bangunan itu yang membuat n. Ischiadikus
terperangkap, antara lain : (1) Pleksus lumbosakralis yang diinfiltrasi oleh selsel sarcoma reproperitonial, karsinoma uteri dan ovarii, (2) garis persendian
sakroilliaka dimana bagian-bagian dari pleksus lumbosakralis sedang
membentuk n. Ischiadikus mengalami proses radang (sakrolitis), (3) Bursitis
di sekitar trochantor mayor femoris, (4) Bursitis m. piriformis (5) Adanya
metastasis karsinoma prostat di tuber ischii. Tempat dari proses patologi
primer dari Ischialgia ini dapat diketahui dengan adanya nyeri tekan dan nyeri
gerak. Nyeri tekan dapat dilakukan dengan penekanan langsung pada sendi
panggul, trochantor mayor, tuber ischii dan spina ischiadika. Sedangkan nyeri
gerak dapat diprovokasi dengan cara melakukan tes Patrick dan tes Gaenslen.

Nyeri yang dirasakan penderita secara tiba-tiba seperti rasa terbakar atau
bersifat tajam dan sakit pada malam hari. Sehingga penderita tidak dapat tidur.
Nyeri bertambah apabila saraf tersebut mengalami penekanan saraf. Penyebaran

rasa sakitnya dimulai dari daerah lumbal, hip joint kemudian menyebar kearah
bawah. Cara berjalan penderita dengan ujung jari kaki plantar flexi ankle, hip dan
knee dalam keadaan flexi juga sehingga nampak penderita jalan dalam keadaan
pincang. Pasien tidak bisa berdiri lama sehingga terjadi kelainan sikap berdiri
pada penderita (pelvic tilting) yang mengakibatkan terjadinya kompensasi lumbal.
C.

PATOLOGI

Vertebrae manusia terdiri dari cervikal, thorakal, lumbal, sakral, dan


koksigis. Bagian vertebrae yang membentuk punggung bagian bawah adalah
lumbal 1-5 denagn discus intervertebralis dan pleksus lumbalis serta pleksus
sakralis. Pleksus lumbalis keluar dari lumbal 1-4 yang terdiri dari nervus
iliohipogastrika, nervus ilioinguinalis, nervus femoralis, nervus genitofemoralis,
dan nervus obturatorius. Selanjutnya pleksus sakralis keluar dari lumbal4-sakral4
yang terdiri dari nervus gluteus superior, nervus gluteus inferior, nervus
ischiadicus, nervus kutaneus femoris superior, nervus pudendus, dan ramus
muskularis. Nervus ischiadicus adalah berkas saraf yang meninggalkan pleksus
lumbosakralis dan menuju foramen infrapiriformis dan keluar pada permukaan
tungkai di pertengahan lipatan pantat. Pada apeks spasium poplitea nervus
ischiadicus bercabang menjadi dua yaitu nervus perineus komunis dan nervus
tibialis. Ischialgia timbul akibat perangsangan serabut-serabut sensorik yang
berasal dari radiks posterior lumbal 4 sampai sakral 3, dan ini dapat terjadi pada
setiap bagian nervus ischiadicus sebelum sampai pada permukaan belakang
tungkai.
D. GEJALA

Sciatica atau ischialgia biasanya mengenai hanya salah satu sisi. Yang bisa
menyebabkan rasa seperti ditusuk jarum, sakit nagging, atau nyeri seperti
ditembak. Kekakuan kemungkinan dirasakan pada kaki.
Gejala yang sering ditimbulkan akibat Ischialgia adalah:
Nyeri punggung bawah
Nyeri daerah bokong

Rasa kaku/ terik pada punggung bawah


Nyeri yang menjalar atau seperti rasa kesetrum, yang di rasakan daerah
bokong menjalar ke daerah paha, betis bahkan sampai kaki, tergantung
bagian saraf mana yang terjepit.
Rasa nyeri sering di timbulkan setelah melakukan aktifitas yang
berlebihan, terutama banyak membungkukkan badan atau banyak berdiri
dan berjalan.
Rasa nyeri juga sering diprovokasi karena mengangkat barang yang
berat.
Jika dibiarkan maka lama kelamaan akan mengakibatkan kelemahan
anggota badan bawah/ tungkai bawah yang disertai dengan mengecilnya
otot-otot tungkai bawah tersebut.
Dapat timbul gejala kesemutan atau rasa baal.
Pada kasus berat dapat timbul kelemahan otot dan hilangnya refleks
tendon patella (KPR) dan Achilles (APR).
Bila mengenai konus atau kauda ekuina dapat terjadi gangguan
defekasi, miksi dan fungsi seksual. Keadaan ini merupakan kegawatan
neurologis yang memerlukan tindakan pembedahan untuk mencegah
kerusakan fungsi permanen.
Nyeri bertambah dengan batuk, bersin, mengangkat
E.

PEMERIKSAAN

Untuk mengetahui seorang pasien mengalami ishialgia atau tidak biasanya ahli
fisioterapi memberikan beberapa tes salah satunya terapis mengangkat kaki yang
mengalami nyeri jika nyeri dirasakan bertambah hebat pada sudut 60 70 derajat
orang tersebut dikatakan positif ischialgia. Tes ini disebut Straight Leg
Rising/Laseque sign. Adapun pemeriksaan penunjang nya berupa Foto roentgen,
lumbosakral Elektromielografi, Myelografi, CT scan, dan MRI.

F.

PENGOBATAN

Seringkali, nyeri tersebut hilang dengan sendirinya. Istirahat, tidur diatas kasur
yang keras, menggunakan obat-obatan anti peradangan nonsteroidal (NSAIDs),
dan mengompres panas dan dingin kemungkinan pengobatan yang cukup. Untuk
banyak orang, tidur pada sisi mereka dengan lutut ditekuk dan sebuah bantal
diantara lutut menghadirkan keringanan. Meluruskan otot yang lumpuh secara
pelan-pelan setelah pemanasan bisa membantu. Peran fisioterapi pada kasus
ischialgia ini dapat membantu meringankan nyeri yang dirasakan. Modalitas yang
digunakan bisa efektif dengan heating yakni SWD (short Wave Diathermi), bisa
juga ditambah TENS untuk membantu memblokir nyerinya.
Penatalaksanaan
1. Obat-obatan: analgetik, NSAID, muscle relaxan, dsb.
2. Program Rehabilitasi Medik.
3. Operasi: dilakukan pada kasus yang berat/ sangat mengganggu aktifitas dimana
dengan obat-obatan dan program Rehabilitasi Medik tidak dapat membantu.
Program Rehabilitasi Medik bagi penderita Ischialgia adalah :
1. Terapi Fisik: Diatermi, Elektroterapi, Traksi lumbal, Terapi manipulasi,
Exercise, dsb.
2. Terapi Okupasi: Mengajarkan proper body mechanic, dsb.
3. Ortotik Prostetik: Pemberian korset lumbal, alat bantu jalan, dsb.
4. Advis:
Tips untuk penderita Ischialgia:

Hindari banyak membungkukkan badan.

Hindari sering mengangkat barang-barang berat.

Segera istirahat jika telah merasakan nyeri saat berdiri atau berjalan.

Saat duduk lama diusahakan kaki disila bergantian kanan dan kiri atau
menggunakan kursi kecil untuk menumpu kedua kaki.

Saat menyapu atau mengepel lantai pergunakan gagang sapu atau pel yang
panjang, sehingga saat menyapu atau mengepel punggung tidak
membungkuk.

Jika hendak mengambil barang dilantai, usahakan punggung tetap lurus,


tapi tekuk kedua lutut untuk menggapai barang tersebut.

Lakukan Back Exercise secara rutin, untuk memperkuat otot-otot


punggung sehingga mampu menyanggah tulang belakang secara baik dan
maksimal.

5. Operasi Disektomi: dilakukan pada kasus yang berat/ sangat mengganggu


aktifitas dimana dengan obat-obatan dan program Rehabilitasi Medik tidak dapat
membantu.

DAFTAR PUSTAKA
1. Trihono. 2005. Manajemen Puskesmas Berbasis Paradigma Sehat. Jakarta :
CV. Sagung Seto
2. Wagiu, Samuel A.. 2005. Pendekatan Diagnostik Low Back Pain. Available at
http://neurology.multiply.com/journal/item/24
3. Tim Penyusun, 2010. Profil Kesehatan Puskesmas Kediri Tahun 2010. Dinas
Kesehatan Kabupaten Lombok Barat
4. Anonim. 2007. Nyeri Pinggang. FK UNSRI
5. Ngoerah, I Gusti Nengah Gde. 1995. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Saraf.
Surabaya : Airlangga University Press
6. WHO. 2003. The Burden of Muskuloskeletal Conditions At The Start of The
New Millenium. Geneva : WHO Library Cataloguing-in-Publication Data
7. Kent & Keating. 2005. The Epidemiology of Low Back Pain