Anda di halaman 1dari 5

CHAPTER 22

THE RHETORIC OF ARISTOTLE


Pada masa Yunani Kuno, Kaum Sophist terkenal dengan ajaran berpidatonya yang mampu
menginspirasi banyak pengacara dan politikus dalam berpartisipasi di pengadilan dan dewan
pertimbangan. Namun Plato menyatakan sindiran atas ajaran Sophist yang tidak teoretis ini.
Yang dimaksud dengan tidak teoretis adalah ajaran oratoris Kaum Sophist yang penuh tipu
muslihat. Kita dapat melihat kenyataan itu sekarang dalam term negative mere rhetoric yang
dipakai untuk menyebut pidato pengacara yang tricky, janji-janji politikus, pidato pasturpastur yang menyentuh hati, maupun cara bicara cepat para sales.
Aristotle melihat bahwa rhetoric sebagai alat, adalah cara alami agar para orator dapat meraih
kemuliaan dan kemenangan meski dengan sedikit kecurangan.
Pelatihan Sophist tentang retorika memang sangat praktis, tetapi tidak disusun secara teliti.
Sebaliknya, Aristotle mengangkat rhetoric sebagai ilmu dengan mengeksplorasi secara
sistematis efek speaker, the speech, dan the audience. Ia menyebut penggunaan pengetahuan
ini oleh speaker sebagai sebuah seni.
RHETORIC: MAKING PERSUASION PROBABLE (Membuat Persuasi Menjadi Mungkin)
3 klasifikasi situasi pidato berdasarkan hakikat khalayak, yaitu:
Courtroom (forensic) speaking, digunakan oleh para juri yang berusaha memutuskan
fakta apakah seseorang bersalah atau tidak.
Political (deliberative) speaking, usaha untuk mempengaruhi legislatif atau pemilih
yang dapat mempengaruhi kebijakan di masa depan.
Ceremonial (epideictic) speaking, menghimpun pujian atau kesalahan pada pihak lain
untuk kebaikan penonton.
RHETORICAL PROOF: LOGOS, ETHOS, PATHOS
Menurut Aristotle, cara-cara yang tersedia pada persuasi berdasar pada tiga macam bukti,
yaitu:
Logical (logos) : datang dari garis argumen dalam pidato.
Ethical (ethos) : cara karakter speaker terlihat melalui pesan.
Emotional (pathos) : perasaan yang digambarkan speaker yang muncul pada
pendengar.
LOGICAL PROOF: LINES OF ARGUMENT THAT MAKE SENSE (Garis-Garis Penjelasan
Yang Masuk Akal)
Aristotle memfokuskan bahasannya pada dua bentuk logical proof, yaitu enthymeme dan
example (contoh). Menurutnya, enthymeme sebagai yang paling kuat dari bukti-bukti.
Sebuah enthymeme adalah versi tidak lengkap dari silogisme deduktif formal.
Enthymeme adalah semacam silogisme (penarikan kesimpulan) yang belum
sempurna. Enthymeme digunakan untuk menafsirkan premis yang dimaksudkan oleh
orator ke audience (pendengar).

Example (contoh) untuk memperkuat pembuktian -pembuktian sebelumnya


lalu diberikan contoh-contoh itu

ETHICAL PROOF: PERCEIVED SOURCE CREDIBILITY (Ketika Kredibilitas Sumber


Dapat Dirasakan Dengan Jelas)

Perceived Intelligence (kecerdasan yang dapat dilihat) ada tumpang tindih


(overlap) yang terjadi dalam penilaian kecerdasan speaker oleh khalayak. Tumpang
tindih itu terjadi antara kepercayaan mereka dengan ide yang disampaikan speaker.
Virtuous Character (karakter yang berbudi luhur) karakter berhubungan dengan imej
speaker sebagai orang yang baik dan jujur.
Goodwill (keinginan luhur) goodwill adalah penilaian positif atas maksud speaker
terhadap khalayak. Menurut Aristotle, sangat mungkin seorang orator memiliki
kecerdasan yang luar biasa dan karakter yang luhur, tetapi hal itu tetap tidak mampu
menjangkau ketertarikan terbesar dalam hati khalayak. Karenanya, perlu ada sebuah
goodwill bagi khalayak sehingga mampu menyentuh hati dan menggerakkan mereka.

EMOTIONAL PROOF: STRIKING A RESPONSIVE CHORD (Menyerang Perasaan yang


Responsif)
Aristole mengerti bahwa public rhetoric, apabila dipraktikkan secara etis, dapat memberikan
manfaat bagi masyarakat. Oleh karena itu, ia menyusun teori lanjutan dari pathos. Ia
menawarkan ini tidak untuk mengambil manfaat dari emosi khalayak yang destruktif, tetapi
sebagai ukuran korektif yang bisa menolong tuntutan emosional keahlian speaker yang
menginspirasi decision making untuk umum yang beralasan. Untuk itu, ia membuat daftar
seperangkat perasaan yang berlawanan, menjelaskan dalam kondisi seperti apa perasaanperasaan itu dialami seseorang, kemudian menggambarkan bagaimana speaker dapat
membuat khalayak merasa seperti itu.
1. Anger (versus mildness)kemarahan vs kelembutan
Diskusi Aristotle mengenai anger, adalah versi awal dari hipotesis frustration-aggression dari
Freud. Orang akan marah jika mereka dihalangi dalam usaha memenuhi kebutuhan mereka.
Mereka akanmarah jika didingatkan akan kelalaian interpersonal. Jika si penghalang
menyesal, pantas menerima pujian, atau memiliki kekuasaan, maka khalayak akan tenang.
2. Love or friendship (versus hatred)cinta atau persahabatan vs rasa benci
Seiring dengan penelitian masa kini tentang ketertarikan, Aristotle menganggap persamaan
(similarity) sebagai kunci kehangatan satu sama lain. Speaker haruslah menunjukkan tujuan,
pengalaman, perilaku, dan semangat mereka. Ketika tidak ada persamaan antara speaker
dengan khalayak, musuh bersama dapat digunakan untuk menciptakan solidaritas.
3. Fear (versus confidence)ketakutan vs kepercayaan
Rasa takut muncul dari imej mental tentang malapetaka yang potensial. Seorang speaker
haruis mampu menggambarkan gambaran kata-kata yang nyata tentang tragedi itu, untuk
menunjukkan bahwa hal itu mungkin terjadi. Kepercayaan dapat dibangun dengan
mendeskripsikan bahaya adalah hal yang jauh dan memiliki kemungkinan kecil untuk terjadi.
4. Shame (versus shamelessness)rasa malu vs tanpa rasa malu
Kita merasa malu atau bersalah ketika kekalahan berasal dari kelemahan dan sifat buruk kita.
Emosi kita akan besar ketika speaker mengatakan kegagalan dan keburukan kita di hadapan
keluarga, teman, atau orang-orang yang kita kagumi.
5. Indignation (versus pity)kejengkelan vs berbelas kasih

Kita semua punya rasa keadilan. Mudah menggerakkan rasa ketidakadilan dengan
menggambarkan kesewenang-wenangan penggunaan kekuasaan atas orang-orang yang tidak
berdaya.
6. (versus envy)kekaguman vs kecemburuan
Orang menyukai sifat yang baik, kekuasaan, kesejahteraan, dan keindahan. Dengan
menunjukkan bahwa seseorang mampu memenuhi kebutuhan hidupnya melalui kerja keras,
bukannya keberuntungan, kekaguman akan meningkat.
THE FIVE CANONS OF RHETORIC
1. Invention (penemuan)
Pada tahap ini, pembicara menggali topik dan meneliti khalayak untuk mengetahui metode
persuasi yang paling tepat. Bagi Aristoteles, retorika tidak lain dari kemampuan untuk
menentukan, dalam kejadian tertentu dan situasi te rtentu, metode persuasi yang ada. Dalam
tahap ini juga, pembicara merumuskan tujuan dan mengumpulkan bahan (argumen) yang
sesuai dengan kebutuhan khalayak.
2. Arrangement (penyusunan)
Pada tahap ini, pembicara menyusun pidato atau mengorganisasikan pesan.
Aristoteles menyebutnya Taxis yang berarti pembagian. Pesan harus dibagi ke dalam
beberapa bagian yang berkaitan secara logis. Susunan berikut ini mengikuti kebiasaan
berpikir manusia : pengantar, pernyataan, argumen, dan epilog. Menurut Aristoteles,
pengantar berfungsi menarik perhatian, menumbuhkan kredibilitas (ethos), dan menjelaskan
tujuan.
3. Style (gaya)
Pada tahap ini pembicara memilih kata-kata dan menggunakan bahasa yang tepat untuk
mengemaspesannya. Aristoteles mengatakan agar menggunakan bahasa yang tepat, benar
dan dapat dite rima, pilih kata-kata yang jelas dan langsung, sampaikan kalimat yang indah,
mulia, dan hidup, dan sesuaikan bahasa dengan pesan, khalayak dan pembicara.
4. Delivery (penyampaian)
Pada tahap ini, pembicara menyampaikan pesannya secara lisan. Disini akting sangat
berperan. Pembicara harus memperhatikan suara (vocis) dan gerakan-gerakan anggota
badan.
5. Memory (memori)
Pada tahap ini pembicara harus mengingat apa yang ingin disampaikannya, dengan mengatur
bahan-bahan pembicaraannya. Aristote le s menyarankan jembatan keledai untuk
memudahkan ingatan.

CHAPTER 23

DRAMATISM
Teori dramatisme adalah teori yang mencoba memahami tindakan kehidupan manusia
sebagai drama. Dramatisme, mengonseptualisasikan kehidupan sebagai sebuah drama,
menempatkan suatu focus kritik pada adegan yang diperlihatkan oleh berbagai pemain.
Dramatisme adalah istilah yang tepat yang digunakan oleh Burke untuk mendeskripsikan
setiap kali seseorang membuka mulutnya untuk berkomunikasi.
Identification: Without It, There Is No Persuasion
Burke menyebutnya dengan substance yang diibaratkan sebagai an umbrella,
substance ini adalah pengetahuan mengenai karakter fisik, bakat, pekerjaan, latar
belakang, kepribadian, kepercayaan serta kemampuan yang dimiliki oleh seseorang.
Hal ini sangat penting untuk dimiliki para pembicara dan pendengar agar mereka
saling memiliki pengetahuan tentang satu sama lain sehingga pada saat speaker
berbicara, para audiens memiliki rasa kesamaan atau koneksi dengan pembicara,
begitu juga sebaliknya.
Apabila tingkat identifikasinya rendah maka akan semakin besar pemisah antara
pembicara dalam arti bahwa audiens tidak akan tertarik dengan topik pembicaraan
yang akan disampaikan sehingga tidak akan ada proses persuasi , hal yang sama juga
terjadi dengan sebaliknya
The Dramatistic Pentad

Dramatistic pentad adalah alat yang menganalisa bagaimana pembicara melakukan persuasi
sehingga audiens menerima ide dari pesan yang akan disampaikan. Burke merekomendasikan
analisis konten yang mengidentifikasi istilah kunci atas dasar intensitas evaluasi mereka

God term : kata yang menunjukkan bahwa segala hal positif atau kebaikan,
terkandung di dalamnya

Devil term : kata yang menunjukkan bahwa segala hal yang jahat, buruk, dan salah
terkandung di dalamnya

Dalam hal ini, Burke memusatkan pada 5 elemen yang sangat penting dalam human drama
yaitu:

Act: sesuatu yang dilakukan oleh seseorang


Scene: konteks yang mencakup act
Agent: orang yang melakukan tindakan
Agency: cara/teknik yang digunakan untuk melakukan act,

Purpose: tujuan akhir yang dimiliki agent

Guilt-Redemption Cycle
Burke menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang perfeksionis, maka manusia
seringkali menginginkan sesuatu berjalan sesuai dengan maunya. Burke sangat percaya
bahwa motivasi terakhir dari semua pembicara adalah membersihkan diri dari rasa guilt yang
pernah dialami.
Guilt adalah segala rasa tertekan, kemarahan, rasa malu, yang membuatnya tidak percaya diri.
Ada 2 cara menghilangkan guilt :

self-blame (menyalahkan diri sendiri) dalam agama disebut dengan mortification


yaitu pengakuan dosa dan permohonan ampun atas hal yang telah dilakukan.

redemption through victimage atau dengan menghadirkan orang lain sebagai pihak
yang

bertanggung jawab atas guilt yang dimilikinya, dalam arti lain adalah

menyalahkan orang lain

A Rhetorical Critique Using Dramatistic Insight


Dengan melihat retorika publik sebagai upaya untuk membangun tatanan sosial tertentu,
Kenneth Burke membantu mengungkapkan kekuatan The Ballot or the Bullet. Malcolm
menggambarkan Amerika sebagai bangsa yang menjanjikan kesetaraan penuh, martabat, dan
kebebasan untuk semua warganya, namun Afrika Amerika tidak pernah menerima mereka
hak kelahiran.
Menggambarkan komitmennya untuk Black Nationalism, Malcolm mendesak nya saudarasaudara untuk memulai bisnis mereka sendiri dan memilih pemimpin mereka sendiri. Judul
pidato, "The Ballot or Bullet," mengacu pada cara, atau lembaga, dimana agen - African
Amerika- dapat bertindak sebagai warga negara untuk mencapai tujuan kesetaraan, martabat,
dan kebebasan. Malcolm menempatkan secara strategis pendengarnya dalam konteks yang
lebih besar dari sejarah Amerika dan internasional berjuang untuk hak asasi manusia.