Anda di halaman 1dari 6

RESONANSI R-L-C

Muhammad Akbar Pratama*), Asrianti BT. Sunardi, Gina Hasanah Hidayah, Muh.
Arief Fitrah I.A.
Laboratorium Elektronika Dan Instrumentasi
Jurusan Fisika
Universitas Negeri Makassar
Tahun 2015
LATAR BELAKANG
Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan tekhnologi, membuat manusia
kian hari semakin tidak puas dengan pencapaian yang diperoleh. Hingga mereka berlombalomba dalam menemukan teknologi baru. Teknologi yang berkembang sangat pesat saat ini
adalah alat telekomunikasi.
Alat telekomunikasi saat ini mencapai puncak kejayaannya dan mendapat tempat dihati
hampir diseluruh manusia dibumi. Kecanggihan alat telekomunikasi ini tidak pernah terlepas
dari rangkaiyan penyusun yang ada didalamnya.
Semakin canggihnya sebuah tekhnologi, semakin banyak pula komponen-komponen
yang dibutuhkan dalam rangkaiannya, Seperti misalnya resistor. Namun, ada cara yang bisa
digunaka dalam menghemat sebuah komponen. Yaitu dengan cara merangkainya dengan
menggunakan prinsip thevenin dan norton.
Prinsip thevenin-norton merupakan salah satu prinsip eletronika yang berfungsi sebagai
rangkaian pengganti dimana pada rangkaian ini kita lebih muda menganalisis jika
dibandingkan denga rangkaian laiannya serka ada sebagian rangkaian yang rumit yang tidak
bisa diselesaikan kecuali dengan ragkaan thevenin dan norton.
TUJUAN
Mahasiswa diharapkan dapat:
1. Menyelidiki pengaruh perubahan frekuensi sumber terhadap karakteristik rangkaian R
L C seri,
2. Menginterpretasi kurva respon frekuensi rangkaian R L C seri,
3. Menentukan frekuensi resonansi dan faktor kualitas rangkaian R L C seri.
KAJIAN TEORI
Rangkaian R L C adalah suatu rangkaian listrik yang terdiri atas komponen resistor
(R), induktor (L), dan kapasitor (C) yang disusun secara seri atau paralel. Konfigurasi ini
membentuk suatu sistem osilator harmonik. Rangkaian R L C sering disebut rangkaian
penala (tuner) dan rangkaian resonansi.
Rangkaian R L C banyak digunakan dalam perangkat-perangkat osilator harmonik
dan pesawat radio penerima. Rangkaian R L C berfungsi untuk memilih suatu rentang
frekuensi yang cukup sempit dari spektrum total gelombang radio yang sangat lebar.
Tinjau sebuah sebuah rangkaian yang terdiri atas hambatan R, induktansi L dan kapasitor
C yang terhubung secara seri dan dihubungkan dengan sebuah sumber tegangan yang
berubah terhadap waktu vs (t) seperti pada Gambar 4.1.

Arus , dengan VS adalah tegangan rms kompleks sumber.


Dalam rangkaian seri RLC impedansi total rangkaian dapat dituliskan sebagai berikut:
Ztot = R + j (XL XC)
Dari hubungan ini akan terlihat bahwa reaktansi induktif dan kapasitif selalu akan saling
mengurangi. Bila kedua komponen ini sama besar, maka akan saling meniadakan, dan
dikatakan bahwa rangkaian dalam keadaan resonansi. Resonansinya adalah resonansi seri.
Keadaan resonansi dicapai pada saat XL = XCmaka Ztot= R merupakan Zmin, sehingga
akan diperoleh arus atau tegangan yang maksimum pada suatu harga frekuensi khusus yang
disebut frekuensi resonansi (fo).
1
1
o
fo
2 L C
LC
atau
[4.1]
Pada waktu resonansi, sangat mungkin terjadi bahwa tegangan pada L atau pada C lebih
besar dari tegangan sumbernya. Pembesaran tegangan pada L atau pada C pada saat
resonansi ini didefinisikan sebagai faktor kualitas Q.Makin besar nilai Q, makin sempit
lengkung resonansinya, dan berarti makin tinggi kualitas resonansinya. (Q berasal dari kata
quality).
Plot antara kuat arus (efektif) sebagai fungsi dari frekuensi sumber pada rangkaian RLC seri
untuk berbagai nilai R ditunjukkan pada gambar berikut.

Dengan faktor kualitas yang ditentukan oleh :

L
Q 0 0

R
Di mana :
Q = faktor kualitas,
o = 2 fo = frekuensi resonansi (Hz),
= lebar pita frekuensi (Hz),
L = induktansi induktor (H),
R = resistansi resistor ().
METODE PERCOBAAN
Alat dan Bahan
1. Audio Function Generator
2. Multimeter AC
3. Papan Rangkaian
4. Resistor
5. Kapasitor
6. Induktor
7. Kabel Penghubung
Identifikasi Variabel
1. Variabel manipulasi
2. Variabel respon
3. Variabel kontrol

[4.2]

1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
4 buah

: Frekuensi (Hz)
: Arus (mA)
: Resistansi (), Induktansi (H), Kapasitif (F)

Definisi Operasional Variabel


1. Frekuensi merupakan nilai penunjukkan AFG yang diatur dengan selang sebesar 300 Hz
dan dinyatakan dalam satuan Hertz (Hz)
2. Arus merupakan penunjukkan multimeter yang berubah seiring dengan perubahan
frekuensi, arus diukur dengan menggunakan multimeter dan dinyatakan dalam satuan
mili Ampere (mA).
3. Resistansi merupakan nilai hambatan dari potensiometer yang diukur dengan
menggunakan multimeter dan dinyatakan dalam satuan ohm ().
4. Induktansi mrupakan besarnya nilai induktansi dari suatu induktor yang dapat dihitung
dengan menggunakan persamaan

L=

o N 2 A
l

dimana L merupakan induktansi; o

sebesar 4 x 10-7Wm/A; Induktansi dinyatakan dalam satuan Henry (H).


5. Kapasitansi merupakan besarnya nilai kapasitor / kemampuan menampung muatan dari
sebuah kapasitor dari sebuah kapasitor yang nilainya tertera pada badan kapasitor dan
dinyatakan dalam satuan Farad (F). untuk kapasitor non polar, umumnya nilai
kapasitasnya dinyatakan dalam satuan piko farad (pF).
Prosedur Kerja
a. Merakit rangkaian seri RLC berikut di atas papan kit.

vi
_

a
R

b. Menghubungkan vi rangkaian dengan output Audio Function Generator (AFG) pada


gelombang sinus dengan amplitudo 2 Vrms (meukur secara langsung dengan
menggunakan digital AC voltmeter).
c. Menghubungkan digital AC voltmeter pada keluaran rangkaian (titik a dan b).
d. Untuk mengamati perubahan arus I (= VR/R) sebagai fungsi frekuensi dan pada
frekuensi berapa terjadi keadaan resonansi, yaitu nilai arus (atau tegangan pada R)
menjadi maksimum, maka hal yang dilakukan adalah menaikkan frekuensi AFG dengan
cepat sambil mengamati besar tegangan pada digital AC voltmeter, setelah itu
meturunkan kembali ke frekuensi 100 Hz. Perlu diingat bahwa : Pada keadaan resonansi
untuk RLC seri, impedansi rangkaian menjadi minimum atau arus menjadi maksimum.
Namun dalam praktek, lebih mudah mengukur tegangan pada rangkaian daripada
mengukur arus. Amperemeter AC yang peka sukar diperoleh apalagi yang mampu
bekerja pada frekuensi tinggi.
e. Untuk mendapatkan besar arus, maka hal yang dilakukan adalah menaikkan frekuensi
AFG dengan interval 200 Hz dan mencatat besar tegangan pada R untuk setiap interval
tersebut hingga memperoleh nilai tegangan yang kurang lebih sama pada saat frekuensi
mula-mula.

PEMBAHASAN
Pada percobaan yang berjudul Resonansi RLC ini kita mempelajari pengaruh frekuensi
terhadap karakteristik rangkaian RLC seri. Adapun hasil dari percobaan yang ada pada tabel
pengamatan menunjukkan bahwa semakin besar frekuensi sumber dari Audio Function
Generator (AFG) maka nilai tegangan yang terukur atau yang ditunjukkan oleh Multimeter
juga semakin meningkat. Namun, pada suatu titik frekuensi sumber tertentu (f o), tegangan
yang ditunjukkan oleh alat ukur mulai berkurang nilainya hingga keposisi tegangan
minimum ketika frekuensi sumber minimum. Adapun alat ukur yang digunakan dalam
rangkaian adalah multimeter yang disusun secara seri dengan hambatan dan kapasitor.
Dalam percobaan resonansi RLC ini kita mengambil data sebanyak 3 (tiga) kali dengan
hambatan yang berbeda yaitu 100 , 200 , dan 300 , serta mengukur arusnya
menggunakan multimeter. Sehingga diperoleh grafik hubungan antara frekuensi terhadap
arus dimana semakin besar frekuensi sumber maka nilai kuat arus dalam rangkaian RLC seri
juga akan semakin besar hingga suatu titik frekuensi sumber tertentu (f o) pada posisi I
maksimum dan kuat arus kembali ke titik minimum. Hal ini sesuai dengan teori yang
menyatakan jika ditinjau sebuah rangkaian yang teridiri atas hambatan R, induktansi L dan
kapasitansi C yang terhubung secara seri dan dihubungkan dengan sebuah tegangan yag
berubah terhadap waktu maka akan diperoleh persamaan atau dimana jika dituliskan secara
grafik akan diperoleh grafik yang membentuk seperti sebuah bukit, dimana nilai arus yang
terus meningkat hingga mencapai suatu titik yang disebut Imaksimum dengan frekuensi
sumber tertentu (fo) dan arus kembali ke titik minimum.
Pada percobaan, kita hanya merangkai RLC seri dimana kita menggunakan 3 hambatan
dengan tiga kali pengambilan data dengan nilai hambatan yang berbeda, prinsip kerja yang
menggunakan hambatan yang berbeda sama halnya dengan merangkai parallel rangkaian
RLC karena dari hasil pengamatan ditunjukkan bahwa kurva respon frekuensi rangkaian
RLC seri untuk R1, R2 dan R3 menunjukkan bahwa Q1 > Q2 > Q3 dimana R1 < R2 < R3.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin besar hambatannya maka nilai Q akan semakin
kecil, dengan kata lain nilai hambatan berbanding terbalik dengan nilai Q.
KESIMPULAN

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:


a. Semakin besar frekuensi sumber maka semakin besar nilai tegangan dan arus dalam
rangkaian RLC hingga suatu titik frekuensi sumber tertentu (f o) dan tegangan serta arus
kembali ketitik minimum.
b. Kurva respon frekuensi rangkaian RLC seri untuk R 1, R2 dan R3 menunjukkan bahwa
Q1 > Q2 > Q3 dimana R1 < R2 < R3. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin besar
hambatannya maka nilai faktor kualitas akan semakin kecil,
c. Hubungan frekuensi resonansi dan factor kualitas dapat dilihat dari persamaan dimana .
Besaran ini dikenal sebagai faktor kualitas dinyatakan dengan Q. Jadi , dimana fo adalah
frekuensi resonansi.

DAFTAR PUSTAKA
Sutrisno. (1986). Elektronika, Teori dan Penerapannya, Jilid 1.Bandung : Penerbit ITB.
Tim Elektronika Dasar, 2015. Penuntun Praktikum Elektronika Dasar 1. Makassar:
Laboratorium Unit Elektronika & Instrumentasi Jurusan Fisika FMIPA UNM.
Tipler, P.A. (1991). Fisika, Untuk Sains dan Teknik, Jilid 2.Jakarta : Penerbit Erlangga.