Anda di halaman 1dari 2

Kepatuhan Pajak dan Teori Penghindaran Pajak

Dua hal yang (mungkin) tidak terhindarkan di dunia ini: Death and Taxes. Yang
pertama kita tahu bahwa pasti tidak dapat terhindarkan karena berhubungan
dengan otorias Tuhan sebagai pemilik terbesar nyawa kita. Yang kedua? Pajak.
Pajak pasti ada dan setiap warga negara (Wajib Pajak) pasti dikenakan beban
membayar pajak. Pajak mungkin tak bisa dihindari, yang bisa dilakukan Wajib
Pajak adalah meminimalkan nilai pajak yang mesti mereka tanggung atau
dengan kata lain mengatur sehingga jumlah pajak yang dikeluarkan tidak lebih
dari yang seharusnya.
Keputusan pengungkapan pajak adalah keputusan dengan ketidakpastian.
Artinya adalah dengan adanya pengungkapan kewajiban perpajakan oleh Wajib
Pajak ada 2 kemungkinan: 1. Wajib Pajak mengungkapkan nilai pajak yang
sebenarnya, atau 2. Wajib Pajak mengungkapkan nilai pajak yang lebih kecil dari
seharusnya. Dalam pengungkapan jumlah pajak yang dikeluarkan , terdapat
istilahTax Evasion dan Tax Avoidance. Tax Evasion adalah penghindaran pajak
dengan cara ilegal (melanggar peraturan), sedangkan Tax Avoidance adalah
penghindaran pajak dengan memanfaatkan celah dari Undang Undang
Perpajakan yang ada. Kedua cara di atas dilakukan dengan cara memperkecil
jumlah penghasilan atau dengan memperbesar jumlah pengeluaran.
Wajib Pajak memiliki kesempatan untuk menghindari atau memperkecil jumlah
pajak yang seharusnya mereka bayar. Hal tersebut memiliki risiko yaitu
dilakukan pemeriksaan oleh petugas pajak. Jika pemeriksaan dilakukan dan
terbukti bahwa Wajib Pajak melakukan pelanggaran terhadap peraturan, risiko
bisa berkembang menjadi penyitaan bahkankurungan. Namun risiko tersebut
bisa diterima oleh Wajib Pajak asal Wajib Pajak memiliki pengetahuan yang
cukup sehingga mengerti celah Undang-Undang perpajakan yang ada dan bisa
memanfaakannya untuk memperkecil jumlah pajak yang disetorkan.
Pertanyaanya sekarang, Mengapa orang memilih untuk tetap membayar pajak
padahal mereka punya kesempatan untuk menghindarinya?. Penelitian yang
dilakukan oleh James Alm, McClelland dan Schulze menunujukkan bahwa
masyarakat cenderung tetap membayar pajak walau sanksi atau denda jika tidak
membayar pajak dikurangi atau diturunkan. Hal ini dikarenakan masyarakat aau
Wajib Pajak rela membayar pajak karena mereka tahu uang yang mereka bayar
itu dikelola dan disalurkan dengan baik. Jika mereka tahu dan mengerti bahwa
uang pajak yang disetorkan ternyata disalurkan dengan baik, maka penegakkan
hukum seperti penambahan dan pengurangan jumlah sanksi tidak begitu
berpengaruh.
Strategi dari Pemerintah lebih tepat kepada sosialisasi dan pembinaan kepada
Wajib Pajak dengan memberikan contoh nyata pelayanan publik yang dihasilkan
dari uang pajak yang disetor tersebut. Peningkatan level penegakkan hukum
memang akan memberikan efek jera, tetapi mungkin tidak akan berpengaruh
signifikan pada peningkatan kepatuhan pajak karena kebanyakan Wajib Pajak
enggan melakukan kewajibannya karena masih belum jelas uang yang disetor

mereka disalurkan ke mana, bukan karena ingin melakukan Tax Evasion. Di


samping itu diperlukan sumber daya manusia yang besar untuk meningkatkan
atau menggalakan penegakkan hukum. Pada akhirnya, kepatuhan pajak terjadi
karena Wajib Pajak mengerti dan menghargai nilai dari pelayanan publik dari
hasil pembayaran pajak mereka. Peningkatan pembayaran pajak berarti
peningkatan nilai kepatuhan Wajib Pajak, dan juga berarti peningkatan kulaitas
pelayanan publik.
Referensi:
Alm, James. 1991. WHY DO PEOPLE PAY TAXES?. Journal of Public Economics 48
(1992) 21-38
Michael G. Allingham and Agnar Sandmo. 1972. INCOME TAX EVASION: A
THEORETICAL ANALYSIS.Journal of Public Economics 1 (1972) 323-338.