Anda di halaman 1dari 18

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Jalan merupakan prasarana yang sangat menunjang bagi
kebutuhan hidupmasyarakat,kerusakan jalan dapat berdampak
pada kondisi sosial dan ekonomi terutama padasarana
transportasi darat. Dampak pada konstruksi jalan yaitu
perubahan bentuk lapisan permukaan jalan berupa lubang
(potholes), bergelombang (rutting), retak-retak dan pelepasan
butiran (ravelling) serta gerusan tepi yang menyebabkan kinerja
jalan
menjadi
menurun.
Komprehensifitas
perencanaan
prasarana jalan di suatu wilayah mulai dari tahapan prasurvey,
perencanaan
dan
perancangan
teknis,
pelaksanaan
pembangunan fisiknya hingga pemeliharaan harus integral dan
tidak terpisahkan sesuai kebutuhan saat ini dan prediksi umur
pelayanannya di masa mendatang agar tetap terjaga ketahanan
fungsionalnya.
Perkerasan jalan merupakan lapisan perkerasan yang terletak
diantara lapisan tanah dasar dan roda kendaraan yang berfungsi
memberikan
pelayanan
kepada
sarana
transportasi
dimanadiharapkan selama masa pelayanan tidak terjadi
kerusakan yang berarti. Maka dari itu sudahkewajiban kita untuk
mengetahui mulai dari penyebab kerusakan dan cara
pemeliharaan jalan tersebut. Agar tercipta jalan yang
aman,nyaman dan memberikan manfaat yang signifikan bagi
kesinambungan dan keberlangsungan hidup masyarakat luas
dan menjadi salah satu factor menjadikannya peningkatan
kehidupan masyarakat dari beberapa aspek aspek kehidupan.
Jika kita kaji secara teori dan realita yang sudah berjalan
selama ini, dalam pembangunan jalan ada banyak hal yang
harus diperhatikan lebih mendetail dan teliti baik itu dari
perencanaan jalan itu sendiri maupun pelaksanaan tentunya.
Kita sebagai pengguna jalan pastinya menginginkan jalan yang
kita pakai itu aman, nyaman, bersih dll. Maka dari itu kerusakan

1| P a g e

yang terjadi dijalan tersebut harus ditanggulangi dan diperbaiki


dengan sungguh-sungguh.
Dalam tugsa ini menganalisa Kerusakan di Jalan Bangorejo
km.... sepanjang 1 km yang nantinya dicari macam macam
kerusakan, penyebab dan solusi tiap tiap 25 m.

1.2. SITE PLAN SURVEY JALAN BANGOREJO

T B
U

2| P a g e

Gambar 1.2. Site Plan Jl


Bangorejo
1.3. Rumusan Masalah
1. Apa saja Kerusakan yang ada di jalan Bangorejo?
2. Apakah penyebab dari kerusakan jalan tersebut?
3. Dan bagaimanakah solusi penanganan kerusakan jalan
tersebut?

1.4. Tujuan
1. Mengetahui jenis-jenis kerusakan jalan yang ada di jalan Bangorejo.
2. Mengetahui faktor-faktor penyebab kerusakan jalan.
3. Mampu untuk memberikan solusi terhadap kerusakan jalan tersebut.

1.5. Manfaat
Manfaat dari Tugas ini, yaitu tentang survey kerusakan jalan
adalah untuk memenuhi dan Tugas Besar Perkerasan Jalan dan
sekaligus untuk pengetahuan Mahasisiwa tentang Kerusakan Jalan,
Jenis jenis Kerusakan Jalan,Penyebab Kerusakan jalan dan
Mengetahui Solusi penanganan dari Kerusakan Jalan tersebut.

3| P a g e

BAB 2
DASAR TEORI
2.1. Definisi Kerusakan Jalan
Perkerasan jalan adalah campuran antara agregat dan bahan ikat yang
digunakan untuk melayani beban lalu lintas. Agregat yang dipakai antara lain
adalah batu pecah, batu belah, batu kali dan hasil samping peleburan baja.
Sedangkan bahan ikat yang dipakai antara lain adalah aspal, semen dan tanah
liat.
Lapisan perkerasan sering mengalami kerusakan atau kegagalan sebelum
mencapai umur rencana. Kerusakan pada perkerasan dapat dilihat dari kegagalan
fungsional dan struktural.
Secara teknis, kerusakan jalan menunjukkan suatu kondisi dimana
struktural dan fungsional jalan sudah tidak mampu memberikan pelayanan
optimal terhadap lalu lintas yang melintasi jalan tersebut. Kondisi lalu lintas dan
jenis kendaraan yang akan melintasi suatu jalan sangat berpengaruh pada desain
perencanaan konstruksi dan perkerasan jalan yang dibuat.
Kegagalan fungsional adalah apabila perkerasan tidak dapat berfungsi lagi
sesuai dengan yang direncanakan dan menyebabkan ketidaknyamanan bagi
pengguna jalan. Sedangkan kegagalan struktural terjadi ditandai dengan adanya
rusak pada satu atau lebih bagian dari struktur perkerasan jalan yang disebabkan
lapisan tanah dasar yang tidak stabil, beban lalu lintas, kelelahan permukaan, dan
pengaruh kondisi lingkungan sekitar (Yoder, 1975).
Sama dengan bangunan gedung, dimana konstruksinya direncanakan
berdasarkan dengan beban-beban yang nantinya bekerja sesuai pada fungsi
bangunan gedung itu sendiri. Konstruksi jalan harus direncanakan mampu
menahan beban lalu lintas di atasnya tanpa mengalami kegagalan
2.2.Faktor-Faktor Penyebab Kerusakan Jalan Secara Umum
Kerusakan pada konstruksi perkerasan lentur dapat disebabkan oleh:
a.Lalu lintas, yang dapat berupa peningkatan beban, dan repetisi beban.
b.Air, yang dapat berasal dari air hujan, sistem drainase jalan yang tidak baik dan
naiknya air akibat kapilaritas.
c.Material konstruksi perkerasan. Dalam hal ini dapat disebabkan oleh sifat
4| P a g e

material itu sendiri atau dapat pula disebabkan oleh sistem pengolahan bahan
yang tidak baik.
d.Iklim, Indonesia beriklim tropis, dimana suhu udara dan curah hujan umumnya
tinggi, yang dapat merupakan salah satu penyebab kerusakan jalan.
e.Kondisi tanah dasar yang tidak stabil. Kemungkinan disebabkan oleh sistem
pelaksanaan yang kurang baik, atau dapat juga disebabkan oleh sifat tanah
dasarnya yang memang kurang bagus.
f.Proses pemadatan lapisan di atas tanah dasar yang kurang baik.
Umumnya kerusakan-kerusakan yang timbul itu tidak disebabkan oleh satu
faktor saja, tetapi dapat merupakan gabungan penyebab yang saling berkaitan.
Sebagai contoh, retak pinggir, pada awalnya dapat diakibatkan oleh tidak baiknya
sokongan dari samping. Dengan terjadinya retak pinggir, memungkinkan air
meresap masuk ke lapis dibawahnya yang melemahkan ikatan antara aspal
dengan agregat, hal ini dapat menimbulkan lubang-lubang disamping dan
melemahkan daya dukung lapisan dibawahnya.
2.3.Jenis Kerusakan Jalan Menurut Metode Bina Marga
Menurut Bina Marga No. 03/MN/B/1983 tentang Manual
Pemeliharaan Jalan, Jenis Kerusakan jalan dibedakan atas ;
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Retak (cracking)
Distorsi
Cacat permukaan (disintegration)
Pengausan (polished aggregate)
Kegemukan (bleeding or flushing)
Penurunan pada bekas penanaman utilitas.

2.3.1. Retak (Cracking)


Retak adalah suatu gejala kerusakan permukaan
perkerasan sehingga akan menyebabkan air pada permukaan
perkerasan masuk ke lapisan dibawahnya dan hal ini
merupakan salah satu factor yang akan membuat luas/parah
suatu (Departemen Pekerjaan Umum, 2007). Jenis-jenis
retakan terdiri dari retak halus, retak kulit buaya, retak
pinggir, retak sambungan bahu dan perkerasan, retak
5| P a g e

sambungan jalan, retak sambungan pelebaran jalan, retak


refleksi, retak susut dan retak slip.
a. Retak halus atau retak garis (hair cracking), yaitu retakan
dengan lebar celah lebihkecil atau sama dengan 3 mm,
yang disebabkan oleh bahan perkerasan yang kurang baik,
tanahdasar atau bagian perkerasan di bawah lapis
permukaan kurang stabil.Retak halus ini dapat meresapkan
air ke dalam permukaan dan dapat menimbulkankerusakan
yang lebih parah seperti retak kulit buaya bahkan
kerusakan sepertilubang dan amblas. Retak ini dapat
berbentuk melintang dan memanjang,dimana retak
memanjang terjadi pada arah sejajar dengan sumbu
jalan,biasanya pada jalur roda kendaraan atau sepanjang
tepi perkerasan ataupelebaran, sedangkan untuk retak
melintang terjadi pada arah memotongsumbu jalan, dapat
terjadi pada sebagian atau seluruh lebar jalan.

(Contohgambarretakhalus)
Penyebab :
1.
Bahan perkerasan/ kualitas material kurang baik.
2.
Pelapukan permukaan.
3.
Air tanah pada badan perkerasan jalan.
4.
Tanah dasar/ lapisan dibawah permukaan kurang
Solusi :
1.
Untuk retak halus (< 2 mm) dan jarak antara retakan renggang,
dilakukan metode perbaikan P2 (laburan aspal setempat).
2.
Untuk retak halus (< 2 mm) dan jarak antara retakan rapat,
dilakukan metode perbaikan P3 (penutupan retak).
6| P a g e

3.

Untuk lebar retakan (> 2 mm) lakukan perbaikan P4 (pengisian


retak).

b. Retak kulit buaya (alligator crack), lebar celah lebih besar atau sama
dengan 3 mm. Saling berangkai membentuk serangkaian kotak-kotak kecil
yang menyerupai kulit buaya. Retak ini disebabkan oleh bahan perkerasan
yang kurang baik, pelapukan permukaan, tanah dasar atau bagian
perkerasan di bawah lapisan permukaan kurang stabil, atau bahan pelapis
pondasi dalam keadaan jenuh air (air tanah naik). Umumnya daerah dimana
terjadi retak kulit buaya tidak luas. Jika daerah dimana terjadi retak kulit
buaya luas, mungkin hal ini disebabkan oleh repetisi beban lalu lintas yang
melampaui beban yang dapat dipikul oleh lapisan permukaan tersebut.
Retak kulit buaya dapat diresapi oleh air sehingga lama kelamaan akan
menimbulkan lubang-lubang akibat terlepasnya butir-butir.
Untuk retak kulit buaya dilakukan metode perbaikan laburan aspalsetempat
dan penambalan lubang/patching sesuai dengan tingkatkerusakan retak
yang terjadi. Perbaikan juga harus disertai dengan perbaikan drainase
disekitarnya,sehingga nantinya air tidak tergenang di badan jalan yang
dapatmempengaruhi umur jalan.

( Contohgambarretakkulitbuaya)

Penyebab :
1. Bahan perkerasan/ kualitas material kurang baik.
2. Pelapukan permukaan.
3. Air tanah pada badan perkerasan jalan
4. Tanah dasar/ lapisan dibawah permukaan kurang stabil.

Solusi :
1. Dilakukan metode perbaikan laburan aspal setempat
2. penambalan lubang/patching sesuai dengan tingkatkerusakan retak
yang terjadi.

7| P a g e

3. Perbaikan juga harus disertai dengan perbaikan drainase


disekitarnya,sehingga nantinya air tidak tergenang di badan jalan
yang dapatmempengaruhi umur jalan.

c. Retak pinggir (edge crack), retak memanjang jalan, dengan atau tanpa
cabang yang mengarah ke bahu dan terletak dekat bahu. Retak ini
disebabkan oleh tidak baiknya sokongan dari arah samping, drainase
kurang baik, terjadinya penyusutan tanah, atau terjadinya settlement di
bawah daerah tersebut. Akar tanaman yang tumbuh di tepi perkerasan dapat
pula menjadi sebab terjadinya retak pinggir ini. Di lokasi retak, air dapat
meresap yang dapat semakinmerusak lapisan permukaan. Retak dapat
diperbaiki dengan mengisi celah dengan campuran aspal cair dan pasir.
Perbaikan drainase harus dilakukan, bahu diperlebar dan dipadatkan. Jika
pinggir perkerasan mengalami penurunan, elevasi dapat diperbaiki dengan
mempergunakan hotmix. Retak ini lama kelamaan akan bertambah besar
disertai dengan terjadinya lubang-lubang.

(Contohgambarretakpinggir)

Penyebab :
1. Bahan dibawah retak pinggir kurang baik atau perubahan volume
akibat
jenis ekspansif clay pada tanah dasar .
2. Sokongan bahu samping kurang baik.
3. Drainase kurang baik.
4. Akar tanaman yang tumbuh ditepi perkerasan dapat pula menjadi
sebab terjadinya retak tepi.

Solusi :
1. Retak dapat diperbaiki dengan mengisi celah dengan campuran
aspal cair dan pasir.
2. Perbaikan drainase harus dilakukan, bahu diperlebar dan
dipadatkan.

8| P a g e

3. Jika pinggir perkerasan mengalami penurunan, elevasi dapat


diperbaiki dengan mempergunakan hotmix.
d. Retak refleksi (reflection cracks), retak memanjang, melintang, diagonal
atau membentuk kotak. Terjadi pada lapis tambahan (overlay) yang
menggambarkan pola retakan dibawahnya. Retak refleksi dapat terjadi jika
retak pada perkerasan lama tidak diperbaiki secara baik sebelum pekerjaan
overlay dilakukan. Retak refleksi dapat pula terjadi jika terjadi gerakan
vertical / horizontal dibawah lapis tambahan sebagai akibat perubahan kadar
air pada jenis tanah yang ekspansif. Untuk retak memanjang, melintang dan
diagonal perbaikan dapat dilakukan dengan mengisi celah dengan campuran
aspal cair dan pasir. Untuk retak berbentuk kotak perbaikan dilakukan
dengan membongkar dan melapis kembali dengan bahan yang sesuai.

(Contohgambarretakrefleksi)

Penyebab :
1. Pergerakan vertikal/ horizontal di bawah lapis tambahan (lapisan
overlay) sebagai akibat perubahan kadar air pada tanah dasar yang
ekspansif .
2. Perbedaan penurunan (settlement) dari timbunan/ pemotongan
badan jalan dengan struktur perkerasan.

Solusi :
1. Untuk retak memanjang, melintang dan diagonal perbaikan dapat
dilakukan dengan mengisi celah dengan campuran aspal cair dan
pasir.
2. Untuk retak berbentuk kotak perbaikan dilakukan dengan
membongkar dan melapis kembali dengan bahan yang sesuai.

9| P a g e

e. Retak sambungan jalan (lane joint cracks), retak memanjang, yang terjadi
pada sambungan 2 lajur lalu lintas. Hal ini disebabkan tidak baiknya ikatan
sambungan kedua lajur. Perbaikan dapat dilakukan dengan memasukkan
campuran aspal cair dan pasir ke dalam celah-celah yang terjadi. Jika tidak
diperbaiki, retak dapat berkembang menjadi lebar karena terlepasnya butirbutir pada tepi retak dan meresapnya air ke dalam lapisan.

(Contohgambarretakrefleksi)

Penyebab :
1. Hal ini disebabkan tidak baiknya ikatan sambungan kedua lajur.

1.

Solusi :
Perbaikan dapat dilakukan dengan memasukkan campuran aspal
cair dan pasir ke dalam celah-celah yang terjadi.
Jika tidak diperbaiki, retak dapat berkembangmenjadi lebar karena
terlepasnya butir-butir pada tepi retak dan meresapnya air ke
dalam lapisan.

2.

f. Retak sambungan bahu dan perkerasan (edge joint crack), retak


memanjang, umumnya terjadi pada sambungan bahu dengan perkerasan.
Retak dapat disebabkan oleh kondisi drainase di bawah bahu jalan lebih
buruk daripada di bawah perkerasan, terjadinya settlement di bahu jalan,
penyusutan material bahu atau perkerasan jalan, atau akibat lintasan truk /
kendaraan berat dibahu jalan. Perbaikan dapat dilakukan seperti perbaikan
retak refleksi.

10| P a g e

(Contohg
hudanper

1.
2.
3.
4.
5.

ambarretaksambunganba
kerasan)

Penyebab:
Perbedaan ketinggian antara bahu beraspal dengan perkerasan,
akibat penurunan bahu.
Penyusutan material bahu/ badan perkerasan jalan
Drainase kurang baik.
Roda kendaraan berat yang menginjak bahu beraspal.
Material pada bahu yang kurang baik/ kurang memadai.

Solusi :
1.
Perbaikan dapat dilakukan dengan mengisi celah dengan campuran
aspal cair dan pasir.
g. Retak susut (shrinkage cracks), retak yang saling bersambungan membentuk
kotak-kotak besar dengan susut tajam. Retak disebabkan oleh perubahan
volume pada lapisan pondasi dan tanah dasar. Perbaikan dapat dilakukan
dengan mengisi celah dengan campuran aspal cair dan pasir serta dilapisi
dengan burtu.

(Contohretaksusut)

Penyebab :
1. Perubahan volume perkerasan yang mengandung terlalu banyak aspal
dengan penetrasi rendah.
2. Perubahan volume pada lapisan pondasi dan tanah dasar.

11| P a g e

Solusi :
1. Perbaikan dapat dilakukan dengan mengisi celah dengan campuran
aspal cair dan pasir serta dilapisi dengan burtu.

h. Retak slip (slippage cracks), retak yang bentuknya melengkung seperti bulan
sabit. Hal ini terjadi disebabkan oleh kurang baiknya ikatan antar lapis
permukaan dan lapis dibawahnya. Kurang baiknya ikatan dapat disebabkan
oleh adanya debu, minyak air, atau benda non adhesive lainnya, atau akibat
tidak diberinya tack coat sebagai bahan pengikat antar kedua lapisan. Retak
selip pun dapat terjadi akibat terlalu banyaknya pasir dalam campuran lapisan
permukaan, atau kurang baiknya pemadatan lapisan permukaan. Perbaikan
dapat dilakukan dengan membongkar bagian yang rusak dengan dan
menggantikannya dengan lapisan yang lebih baik.

slip

(Contohgambarretak
)

Penyebab :
1. Ikatan antar lapisan aspal dengan lapisan bawahnya tidak bail yang
disebabkan kurangnya aspal/ permukaan berdebu
2. Pengunaan agregat halus terlalu banyak.
3. Lapis permukaan kurang padat/ kurang tebal

Solusi :
1. Perbaikan dapat dilakukan dengan membongkar bagian yang rusak
dengan dan menggantikannya dengan lapisan yang lebih baik.

2.3.2. Distorsi
Distorsi / perubahan bentuk dapat terjadi akibat lemahnya tanah dasar,
pemadatan yang kurang pada lapis pondasi, sehingga terjadi tambahan
pemadatan akibat beban lalu lintas. Sebelum perbaikan dilakukan
sewajarnyalah ditentukan terlebih dahulu jenis dan penyebab distorsi yang
terjadi. Dengan demikian dapat ditentukan jenis penanganan yang tepat.
Distorsi dapat dibedakan atas :
12| P a g e

a. Alur (ruts), yang terjadi pada lintasan roda sejajar dengan as jalan. Alur
dapat merupakan tempat menggenangnya air hujan yang jatuh di atas
permukaan jalan, mengurangi tingkat kenyamanan, dan akhirnya dapat
timbul retak-retak.
Terjadinya alur disebabkan oleh lapis perkerasan yang kurang padat,
dengan demikian terjadi tambahan pemadatan akibat repetisi beban lalu
lintas pada lintasan roda. Campuran aspal dengan stabilitas rendah dapat
pula menimbulkan deformasi plastis.
Perbaikan dapat dilakukan dengan melakukan metode perbaikan perataan
untuk kerusakan alur ringan. Untuk kerusakan alur yang cukup parah
dilakukan perbaikan penambalan lubang.

(Contoh gambar Distori Alur)


b.Keriting (corrugation), alur yang terjadi melintang jalan. Dengan
timbulnya lapisan permukaan yang berkeriting ini pengemudi akan
merasakan ketidaknyamanan dalam mengemudi.
Penyebab kerusakan ini adalah rendahnya stabilitas campuran yang dapat
berasal dari terlalu tingginya kadar aspal, terlalu banyak menggunakan
agregat halus, agregat berbentuk butiran dan berpermukaan licin, atau
aspal yang dipergunakan mempunyai penetrasi yang tinggi. Keriting
dapat juga terjadi jika lalu lintas dibuka sebelum perkerasan mantap
(untuk perkerasan yang menggunakan aspal cair).
Perbaikan terhadap kerusakan ini dapat dilakukan dengan melakukan
metode perbaikan perataan dan juga perbaikan penambalan lubang
jikakeriting juga disertai dengan timbulnya lubang-lubang pada permukaan
jalan.

13| P a g e

(Contoh gamabar

Distori Keriting)

Kerusakan ini juga dapat diperbaiki dengan :


a. Jika lapis permukaan yang berkeriting itu memiliki lapisan
pondasiagregat,perbaikan yang tepat adalah dengan mengaruk
kembali,dicampur dengan lapis pondasi, dipadatkan kembali dan diberi
lapispermukaan baru.
b. Jika lapis permukaan dengan bahan pengikat memiliki ketebalan > 5
cm,maka
lapis tipis yang mengalami keriting tersebut diangkat dan diberilapis
permukaanyang baru.
c. Sungkur (shoving), deformasi plastis yang terjadi setempat, ditempat
kendaraan sering berhenti, kelandaian curam, dan tikungan tajam.
Kerusakan terjadi dengan atau tanpa retak.
Penyebab kerusakan sama dengan kerusakan keriting. Perbaikan dapat
dilakukan dengan cara perbaikan perataan dan perbaikan penambalan
lubang.

(Contoh

gambar

sungkur

Shoving)
d. Amblas (grade depressions), terjadi setempat, dengan atau tanpa retak.
Amblas dapat terdeteksi dengan adanya air yang tergenang. Air yang
tergenang ini dapat meresap ke dalam lapisan permukaan yang
akhirnya menimbulkan lobang.
Penyebab amblas adalah beban kendaraan yang melebihi apa yang
direncanakan, pelaksanaan yang kurang baik, atau penurunan bagian
perkerasan dikarenakan tanah dasar mengalami settlement.
14| P a g e

(Contoh gambar Distori Amblas (grade depressions)

Perbaikan dapat dilakukan dengan :


a.Untuk amblas yang < 5cm, lakukan metode perbaikan perataan.
b.Untuk amblas yang > 5 cm, lakukan metode perbaikan penambalan
lubang.
c.Periksa dan perbaiki selokan dan gorong-gorong agar air lancar
mengalir.
d.Periksa dan perbaiki bahu jalan yang mengalami kerusakan.
e. Jembul (upheaval), terjadi setempat, dengan atau tanpa retak.
Hal ini terjadi akibat adanya pengembangan tanah dasar pada tanah
yang ekspansif.
Perbaikan dilakukan dengan membongkar bagian yang rusak dan
melapisnya kembali.

(Contoh gambar DistoriJembul (upheaval)


3. Cacat permukaan (disintegration)
Yang termasuk dalam cacat permukaan adalah :
a. Lubang (potholes), berupa mangkuk, ukuran bervariasi dari kecil sampai
besar. Lubang-lubang ini menampung dan meresapkan air ke dalam lapis
permukaan yang menyebabkan semakin parahnya kerusakan jalan.

15| P a g e

(Contoh gambar DistoriCacat permukaan (disintegration)

Lubang dapat terjadi karena :


1) Campuran material lapis permukaan jelek, seperti :
- Kadar aspal rendah, sehingga film aspal tipis dan mudah lepas.
- Agregat kotor sehingga ikatan antara aspal dan agregat tidak baik.
- Temperatur campuran tidak memenuhi persyaratan.
2) Lapis permukaan tipis sehingga ikatan aspal dan agregat mudah lepas
akibat pengaruh cuaca.
3) Sistem drainase jelek, sehingga air banyak yang meresap dan
mengumpulpada lapis permukaan.
4) Retak-retak yang terjadi tidak segera ditangani sehingga air meresap
masuk dan mengakibatkan terjadinya lubang-lubang kecil.
Lubang-lubang tersebut diperbaiki dengan cara:
Untuk lubang yang dangkal ( < 20 mm ), lakukan metode
perbaikanperataan.
Untuk lubang yang > 20 mm, lakukan metode perbaikan penambalan
lubang.
b. Pelepasan butir (raveling), dapat terjadi secara meluas dan mempunyai
efek serta
Disebabkan oleh hal yang sama dengan lubang.
Dapat diperbaiki dengan memberikan lapisan tambahan diatas
lapisan yang mengalami pelepasan butir setelah lapisan tersebut
dibersihkan, dan dikeringkan.

16| P a g e

(Contoh gambar DistoriPelepasan butir (raveling)


c. Pengelupasan lapisan permukaan (stripping), dapat
disebabkan oleh kurangnya ikatan antar lapisan permukaan dan
lapis dibawahnya, atau terlalu tipisnya lapis permukaan.
Dapat diperbaiki dengan cara digarus, diratakan dan dipadatkan.
Setelah itu dilapis dengan buras.
d.

Pengausan (polished aggregate)


Permukaan menjadi licin, sehingga membahayakan kendaraan.
Pengausan terjadi karena agregat berasal dari material yang tidak
tahan aus terhadap roda kendaraan, atau agregat yang
dipergunakan berbentuk bulat dan licin, tidak berbentuk cubical.
Dapat diatasi dengan menutup lapisan dengan latasir, buras, atau
latasbum.

(Contoh gambar DistoriPengausan (polished aggregate)


5. Kegemukan (bleeding / flushing)
Permukaan jalan menjadi licin dan tampak lebih hitam. Pada temperatur
tinggi, aspal menjadi lunak dan akan terjadi jejak roda. Berbahaya bagi
kendaraan karena bila dibiarkan, akan menimbulkan lipatan-lipatan (keriting)
dan lubang pada permukaan jalan. Kegemukan (bleeding) dapat
Disebabkan pemakaian kadar aspal yang tinggi pada campuran aspal,
pemakaian terlalu banyak aspal pada pekerjaan prime coat atau tack
coat.
17| P a g e

Dapat diatasi dengan penanganan penebaran pasir yaitu dengan


menaburkan agrega
panas dan kemudian dipadatkan, atau lapis aspal diangkat dan kemudian
diberi lapisan penutup.

(Contoh gambar DistoriKegemukan (bleeding / flushing)


6. Penurunan pada bekas penanaman utilitas
Penurunan yang terjadi di sepanjang bekas penanaman utilitas.
Hal ini terjadi karena pemadatan yang tidak memenuhi syarat.
Dapat diperbaiki dengan dibongkar kembali dan diganti dengan lapis
yang sesuai.

(Contoh gambar Distori penanaman utilitas (Utility Cut Depression)


Terjadi disepanjang bekas penanaman utilitas.
Hal ini terjadi karena pemadatan yang tidak memenuhi syarat.
Hal ini dapat diselesaikan dengan dibongkar kembali dandiganti
dengan lapis yang sesuai.

18| P a g e