Anda di halaman 1dari 14

/

(2) Presiden menetapkan peraturan pemerintah untuk menjalankan undang-undang


sebagaimana
mestinya.

UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, khususnya Paragraf 5 tentang


Keselamatan dan Kesehatan Kerja, pasal 86 dan 87. Pasal 86 ayat 1berbunyi:
Setiap Pekerja/ Buruh mempunyai Hak untuk memperoleh perlindungan atas (a)
Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Aspek Ekonominya adalah Pasal 86 ayat 2: Untuk melindungi keselamatan Pekerja/
Buruh guna mewujudkan produktivitas kerja yang optimal diselenggarakan upaya
Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Sedangkan Kewajiban penerapannya ada dalam pasal 87: Setiap Perusahaan wajib
menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang terintegrasi
dengan Sistem Manajemen Perusahaan.
Keempat, Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per-05/MEN/1996 tentang Sistem
Manajemen K3. Dalam Permenakertrans yang terdiri dari 10 bab dan 12 pasal ini,
berfungsi sebagai Pedoman Penerapan Sistem Manajemen K-3 (SMK3), mirip OHSAS
18001 di Amerika atau BS 8800 di Inggris.

UU No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja

UNDANG-UNDANG NO 1 TAHUN 1970


DASAR-DASAR K3
KELEMBAGAAN K3
PENDAHULUAN
Undang-Undang No. 1 tahun 1970 mengatur tentang Keselamatan Kerja. Meskipun judulnya
disebut sebagai Undang-undang Keselamatan Kerja, tetapi materi yang diatur termasuk masalah
kesehatan kerja.
Undang-undang ini dimaksudkan untuk menentukan standar yang jelas untuk keselamatan kerja
bagi semua karyawan sehingga mendapat perlindungan atas keselamatannya dalam melakukan
pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta produktifitas Nasional;
memberikan dasar hukum agar setiap orang selain karyawan yang berada di tempat kerja perlu
dijamin keselamatannya dan setiap sumber daya perlu dipakai dan dipergunakan secara aman
dan efisien; dan membina norma-norma perlindungan kerja yang sesuai dengan perkembangan
masyarakat, industrialisasi, teknik dan teknologi.

Ruang lingkup Undang-undang ini adalah keselamatan kerja di semua jenis dan tempat kerja,
baik di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di dalam air maupun di udara, yang berada di
dalam wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia.
Selain itu, dalam upaya pelaksanaan undang-undang tersebut, harus dipahami mengenai dasardasar keselamatan kerja. Struktur dan persyaratan kelembagaan yang mendukung pelaksanaan
undang-undang juga diuraikan secara jelas.
BAB I
UNDANG-UNDANG NO 1 TAHUN 1970
A. Pengertian Tempat Kerja
Yang dimaksud dengan tempat kerja dalam undang-undang (UU) ini adalah tiap ruangan atau
lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap dimana tenaga kerja bekerja, atau sering
dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber bahaya terhadap
pekerja.
Berikut adalah beberapa pengertian yang terkait dengan tempat kerja:
1. Pengurus: bertugas memimpin langsung suatu tempat kerja atau bagian tempat kerja yang
berdiri sendiri. Dalam Undang-undang Keselamatan Kerja, pengurus tempat kerja berkewajiban
dan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan semua ketentuan keselamatan dan kesehatan kerja
di tempat kerjanya.
2. Pengusaha: orang atau badan hukum yang memiliki atau mewakili pemilik suatu tempat kerja.
3. Direktur: adalah Direktur Jendral Bina Hubungan Ketenagakerjaan dan Pengawas Norma
Kerja (sekarang Direktur Jendral Bina Hubungan Industrial dan Pengawas Ketenagakerjaan).
4. Pegawai Pengawas. Seorang pegawai pengawas harus mempunya keahlian khusus yang dalam
hal ini adalah menguasai pengetahuan dasar dan praktek dalam bidang keselamatan dan
kesehatan kerja melalui suatu proses pendidikan tertentu.
5. Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja: personel yang berada di luar Departemen Tenaga
Kerja, dan mempunyai keahlian khusus di bidang keselamatan dan kesehatan kerja yang ditunjuk
oleh Menteri Tenaga Kerja.
B. Tujuan
Tujuan daripada UU Keselamatan Kerja adalah:
1. Agar tenaga kerja dan setiap orang lainnya yang berada dalam tempat kerja selalu dalam
keadaan selamat dan sehat.
2. Agar sumber produksi dapat dipakai dan digunakan secara efisien.
3. Agar proses produksi dapat berjalan tanpa hambatan apapun.
C. Dasar Hukum
1. Undang-Undang Dasar 1945, pasal 5, 20 dan 27
2. Undang-undang No. 14 tahun 1969 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok mengenai
Ketenagakerjaan.
Beberapa Peraturan yang Berkaitan dengan K3

1. UU No. 1 tahun 1951 tentang Pernyataan Berlakunya UU Kerja Tahun 1948 No. 1, yang
memuat aturan-aturan dasar tentang pekerjaan anak, orang muda dan wanita, waktu kerja,
istirahat dan tempat kerja.
2. UU UAP (Stoon Ordonantie, Stdl. No.225 tahun 1930), yang mengatur keselamatan kerja
secara umum dan bersifat nasional.
3. UU Timah Putih Kering, yang mengatur tentang larangan membuat, memasukkan, menyimpan
atau menjual timah putih kering kecuali untuk keperluan ilmiah dan pengobatan atau dengan izin
dari pemerintah.
4. UU Petasan, yang mengatur tentang petasan buatan yang diperuntukkan untuk
kegembiraan/keramaian kecuali untuk keperluan pemerintah.
5. UU Rel Industri, yang mengatur tentang pemasangan, penggunaan jalan-jalan rel guna
keperluan perusahaan pertanian, kehutanan, pertambangan, kerajinan dan perdagangan.
6. UU No. 3 Tahun 1969 tentang Persetujuan Konvensi ILO No. 120 mengenai Hygiene dalam
Perniagaan dan Kantor-kantor.
7. UU No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial:
a. Jaminan kecelakaan kerja
b. Jaminan kematian
c. Jaminan hari tua
d. Jaminan pemeliharaan kesehatan
D. Ruang Lingkup
Undang-undang Keselamatan Kerja memuat aturan-aturan dasar atau ketentuan-ketentuan umum
tentang keselamatan kerja dalam segala tempat kerja, baik di darat, di dalam tanah, di permukaan
air, di dalam air maupun di udara yang berada di wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia.
Azas-azas yang digunakan dalam UU No. 1 tahun 1970 adalah :
Azas nationaliteit memberlakukan UU keselamatan kerja kepada setiap warga negara yang
berada di wilayah hukum Indonesia (termasuk wilayah kedutaan Indonesia di luar negeri dan
terhadap kapal-kapal yang berbendera Indonesia).
Azas teritorial memberlakukan UU keselamatan kerja sebagaimana hukum pidana lainnya
kepada setiap orang yang berada di wilayah atau teritorial Indonesia, termasuk warga negara
asing yang tinggal di Indonesia (kecuali yang mendapat kekebalan diplomatik).
Dengan demikian, UU ini berlaku untuk setiap tempat kerja yang didalamnya terdapat 3 unsur,
yaitu:
Adanya tempat dimana dilakukan pekerjaan bagi suatu usaha
Adanya tenaga kerja yang bekerja
Adanya bahaya kerja
E. Syarat-syarat K3
Persyaratan tersebut ditetapkan dalam pasal-pasal di bawah ini:
Pasal 3 ayat 1 berisikan arah dan sasaran yang akan dicapai.
Pasal 2 ayat 3 merupakan escape clausul , sehingga rincian yang ada dalam pasal 3 ayat 1 dapat
diubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknik dan teknologi serta penemuanpenemuan di kemudian hari.

Pasal 4 ayat 2, mengatur tentang kodifikasi persyaratan teknis keselamatan dan kesehatan kerja
yang memuat prinsip-prinsip teknis ilmiah menjadi suatu kumpulan ketentuan yang disusun
secara teratur, jelas dan praktis.
F. Pengawasan K3
Direktur melakukan pelaksanaan umum terhadap UU Keselamatan Kerja, sedangkan pegawai
pengawas dan ahli keselamatan dan kesehatan kerja ditugaskan menjalankan pengawasan
langsung terhadap ditaatinya UU ini dan membantu pelaksanaannya.
G. Pembinaan K3
Undang-undang Keselamatan Kerja mengatur tentang kewajiban pengurus dalam melaksanakan
keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerjanya. Undang-undang Keselamatan Kerja juga
mengatur kewajiban tenaga kerja. Hal ini juga berlaku pula bagi orang lain yang memasuki
tempat kerja tersebut.
H. Ketentuan Pelanggaran
Ancaman hukuman dari pelanggaran ketentuan UU Keselamatan Kerja adalah hukuman
kurungan selama-lamanya 3 bulan atau denda setingginya Rp. 100.000,-. Proses projustisia
dilaksanakan sesuai dengan UU No. 8 tahun 1981 tentang KUHAP.
I. Peraturan Pelaksanaan
Dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
1. Peraturan pelaksanaan yang bersumber dari Velleigheidsreglement (VR) 1910 berupa
peraturan khusus yang masih diberlakukan berdasarkan pasal 17 UU Keselamatan Kerja.
2. Peraturan pelaksanaan yang dikeluarkan berdasarkan UU Keselamatan Kerja sendiri sebagai
peraturan organiknya.
BAB II
DASAR-DASAR KESELAMATAN DAN
KESEHATAN KERJA (K3)
A. Tujuan K3
Seperti yang sudah dijelaskan dalam UU Keselamatan Kerja, tujuan K3 adalah untuk mencegah
dan mengurangi terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja dan menjamin:
Setiap tenaga kerja dan orang lainnya yang berada di tempat kerja mendapat perlindungan atas
keselamatannya.
Setiap sumber produksi dapat dipakai dan dipergunakan secara aman dan efisien.
Proses produksi berjalan lancar.
B. Pengertian
1. Pengertian K3
Secara Filosofi :
Suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah
maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya, hasil karya dan
budayanya menuju masyarakat adil dan makmur.

Secara Keilmuan :
Ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan
dan penyakit akibat kerja.
Secara Praktis :
Upaya perlindungan agar tenaga kerja selalu dalam keadaan selamat dan sehat selama melakukan
pekerjaan di tempat kerja serta bagi orang lain yang memasuki tempat kerja maupun sumber dan
proses produksi secara aman dan efisien dalam pemakaiannya.
2. Potensi bahaya (Hazard) adalah suatu keadaan yang memungkinkan atau dapat menimbulkan
kecelakaan dan kerugian berupa cedera, penyakit, kerusakan atau kemampuan melaksanakan
fungsi yang telah ditetapkan.
3. Tingkat bahaya (Danger) adalah ungkapan adanya potensi bahaya secara relative.
4. Risiko (Risk) adalah menyatakan kemungkinan terjadinya kecelakaan atau kerugian pada
periode waktu tertentu atau siklus operasi tertentu.
5. Insiden adalah kejadian yang tidak diinginkan yang dapat dan telah mengadakan kontrak
dengan sumber energi melebihi nilai ambang batas badan atau struktur.
6. Kecelakaan adalah suatu kejadian yang tidak diduga semula dan tidak dikehendaki yang
mengacaukan proses yang telah diatur dari suatu aktivitas dan dapat menimbulkan kerugian baik
korban manusia dan atau harta benda.
7. Aman dan selamat adalah kondisi tiada ada kemungkinan malapetaka (bebas dari bahaya).
8. Tindakan tidak aman adalah suatu pelanggaran terhadap prosedur keselamatan yang
memberikan peluang terhadap terjadinya kecelakaan.
9. Keadaan yang tidak aman adalah suatu kondisi fisik atau keadaan yang berbahaya yang
mungkin dapat langsung mengakibatkan terjadinya kecelakaan.
C. Prinsip Dasar Pencegahan Kecelakaan
Pada dasarnya semua hampir semua kecelakaan dapat dicegah dan dapat diidentifikasi
penyebabnya. Dalam usaha pencegahan kecelakaan, penyebab dasar atau akar permasalahan dari
suatu kejadian harus dapat diidentifikasi, sehingga tindakan koreksi bisa tepat dilaksanakan
untuk mencegah kejadian yang sama. Teori domino, merupakan salah satu teori yang dapat
dipakai sebagai acuan dalam proses tersebut.
Rangkaian faktor-faktor penyebab kejadian kecelakaan dalam teori domino dapat diurutkan sbb:
1. Kelemahan pengawasan oleh manajemen (Lack of control management)
2. Penyebab Dasar
3. Sebab yang Merupakan Gejala (Symptom): Kondisi dan Tindakan Tidak Aman
4. Kecelakaan
5. Biaya Kecelakaan
D. Metode Pencegahan Kecelakaan
Dalam upaya pencegahan kecelakaan, ada 5 tahapan pokok yaitu:
1. Organisasi K3
2. Menemukan fakta atau masalah: survey, inspeksi, observasi, investigasi dan reviu record
kecelakaan.
3. Analisis

Dari hasil analisis dapat saja dihasilkan satu atau lebih alternatif pemecahan.
4. Pemilihan / Penetapan alternatif / Pemecahan
5. Pelaksanaan
Menurut International Labour Organization (ILO), langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk
menanggulangi kecelakaan kerja antara lain:
1. Peraturan Perundang-undangan
2. Standarisasi
3. Inspeksi
4. Riset teknis, medis, psikologis, statistik
5. Pendidikan dan Pelatihan
6. Persuasi
7. Asuransi
E. Analisis Kecelakaan Kerja
Menurut peraturan perundangan, setiap kejadian kecelakaan kerja wajib dilaporkan kepada
Departemen Tenaga Kerja selambat-lambatnya 2 x 24 jam setelah kecelakaan tersebut terjadi.
Kecelakaan kerja yang wajib dilaporkan adalah kecelakaan kerja yang terjadi di tempat kerja
maupun kecelakaan dalam perjalanan yang terkait dengan hubungan kerja.
Tujuan dari kewajiban melaporkan kecelakaan kerja adalah :
Agar pekerja yang bersangkutan mendapatkan haknya dalam bentuk jaminan dan tunjangan
Agar dapat dilakukan penyidikan dan penelitian serta analisis untuk mencegah terulangnya
kecelakaan serupa
Dari hasil laporan kecelakaan kerja, harus dilakukan analisis yang mencakup beberapa hal di
bawah ini:
1. Tujuan
2. Apa yang dianalisis
3. Siapakah petugas analisis
4. Langkah-langkah analisis
5. Cara analisis
Laporan analisis kecelakaan harus dapat menggambarkan hal-hal sbagai berikut :
Bentuk kecelakaan tipe cidera pada tubuh
Anggota badan yang cidera akibat kecelakaan
Sumber cidera
Type kecelakaan peristiwa yang menyebabkan cidera
Kondisi berbahaya kondisi fisik yang menyebabkan kecelakaan
Penyebab kecelakaan objek, peralatan, mesin berbahaya
Sub penyebab kecelakaan bagian khusus dari mesin, peralatan yang berbahaya
Perbuatan tidak aman
BAB III
KELEMBAGAAN K3
-A. Kelembagaan K3

Adalah sebuah organisasi / badan swasta independent, non pemerintah yang bergerak di bidang
pengelolaan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), beranggotakan perusahaan dan lembaga
usaha berbadan hukum di Indonesia. Lembaga K3 yang ada di Indonesia pada saat ini adalah :
P2K3, DK3N dan PJK3.
P2K3 (Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja) adalah suatu lembaga yang
dibentuk di perusahan untuk membantu melaksanakan dan menangani usaha-usaha keselamatan
dan kesehatan kerja yang keanggotaannya terdiri dari unsure pengusaha dan pekerja.
DK3N (Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional) adalah suatu lembaga yang
dibentuk untuk membantu memberi saran dan pertimbangan kepada Menteri tentang usaha-usaha
keselamatan dan kesehatan kerja.
PJK3 (Perusahaan Jasa Keselamatan dan Kesehatahn Kerja) adalah suatu lembaga usaha
berdasarkan surat keputusan penunjukkan dari Depnakertrans yang bergerak di bidang jasa
keselamatan dan kesehatan kerja yang mempunyai ahli K3 di bidangnya.
B. Dasar Hukum
Dasar hukumnya adalah UU No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja pasal 10 ayat 1 dan 2
dengan peraturan pelaksanaannya, yaitu :
1. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep. 125/Men/1984 tentang pembentukan, susunan dan
tata kerja DK3N, DK3W dan P2K3.
2. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep. 04/Men/1987 tentang P2K3 serta tata cara
penunjukkan ahli K3
3. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Per. 04/Men/1995 tentang PJK3.
C. Ruang Lingkup
Meliputi latar belakang kebijakan, dasar hokum, tugas dan fungsi serta prosedur pembentukan
lembaga P2K3, DK3N dan PJK3.
D. Tugas Pokok dan Fungsi P2K3 DK3N dan PJK3
1. P2K3 (Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja)
Tugas pokok:
Memberikan saran dan pertimbangan kepada pengusaha mengenai K3
Fungsi:
- menghimpun dan mengolah data tentang K3 di tempat kerja
- membantu menuunjukkan dan menjelaskan K3 pada setiap tenaga kerja
- membantu pengusaha dalam mengevaluasi K3
Persyaratan, Pembentukan dan Penunjukan diatur dalam Peraturan Menaker No.: Per04/MEN/1987.
2. DK3N (Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional)
Tugas pokok:
Memberikan saran dan pertimbangan kepada menteri mengenai K3
Fungsi:
Menghimpun dan mengolah data K3 di tingkat nasional dan membantu menteri dalam
memasyarakatkan K3.

Persyaratan, Pembentukan dan Penunjukan diatur dalam Peraturan Menaker No.: Kep.
155/MEN/1994.
3. PJK3 (Perusahaan Jasa Keselamatan dan Kesehatan Kerja)
Tugas pokok:
Membantu pelaksanaan pemenuhan syarat-syarat K3 sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Fungsi:
Melakukan kegiatan yang berhubungan dengan masalah K3.
Persyaratan, Pembentukan dan Penunjukan diatur dalam Peraturan Menaker No.: Per04/MEN/1995.
BAB IV
PENUTUP
Materi mengenai Undang-undang No. 1 tahun 1970, Dasar-dasar K3 dan Kelembagaan K3 sudah
cukup memadai untuk diberikan kepada para Ahli K3 di perusahaan.
Kaitannya dengan sosialisasi UU Keselamatan Kerja dan peraturan-peraturan yang terkait, harus
melibatkan manajemen paling tinggi di suatu perusahaan dan mengharapkan komitmen mereka
terhadap UU dan peraturan yang sudah dibuat

Salam kupret saudara-saudara!!


Kesempatan pertama ini saya akan menjelaskan sedikit tentang apa itu UU 1/1970. Kalau gak
ngerti silahkan tanya ya tapi tanyanya di batin saja haha :D . Saya sengaja tidak menuliskan pasal
terlalu banyak karena ini hanya sebagai penjelasan agar tidak bingung.
Kalian pasti sering banget mendengar ungkapan Safety First. Tujuan dari kalimat tersebut adalah
agar tidak tejadinya kecelakaan kerja. Siapa sih yang mau kerja cari celaka yak toh. begitupun
perusahaan juga tidak menghendaki terjadinya kecelakaan
Tapi karena adanya perbedaan sosial antara pekerja dan pengusaha dalam melakukan hubungan
kerja maka dibutuhkanlah intervensi pemerintah untuk memberikan batas/ standart yang harus
dipenuhi dalam persyaratan Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang dituangkan dalam UU
Keselamatan Kerja No. 1/1970.
Untuk mengerti lebih dalam lagi, para hadirot harus mengerti dulu istilah yang di pakai:
1. Tempat Kerja

2. Pengurus
3. Pengusaha
4. Direktur
1. Tempat Kerja
Merupakan tiap ruangan, tertutup atau terbuka, bergerak dan tetap dimana tenaga kerja bekerja,
atau yag sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumbersumber bahaya. Termasuk tempat kerja ialah semua ruangan, lapangan, halaman dan
sekelilingnya yang merupakan bagian-bagian atau yang berhubungan dengan tempat kerja.
2. Pengurus
Merupakan orang yang mempunyai tugas memimpin langsung suatu tempat kerja atau bagian
tempat kerja yang berdiri sendiri.--->merupakan pimpinan tertinggi di tempat kerja yang
mempunyai wewenang untuk memutuskan apa yang ada di tempat kerja tersebut.
3. Pengusaha
Orang atau badan hukum yang memiliki atau mewakili pemilik suatu tempat kerja.
4. Direktur
Pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja unutk melaksanakan UU ini.
A. TUJUAN:
Tujuannya yak jelas:

Setiap tenaga kerja berhak mendapatkan perlindungan keselamatannya dalam melakukan


pekerjaan untuk kesejahteraan dan meningkatkan produktivitas nasional.

Untuk menjamin keselamatan orang lain yang berada di tempat kerja

Agar perlatan yang dipakai dan dipergunakan aman dan efesien.

B. DASAR HUKUM
1. UUD 1945--->pasal 27 ayat 2 mengatakan "Tiap-tiap warga negara berhak atas
pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan"
NB: yang dimaksudkan hidup layak adalah pekerjaan yang upahnya cukup dan tidak
menimbulkan kecelakaan atau penyakit. *(jadi kalau sudah bisa menabung, beli smartphone, beli
motor mungkin dianggap sudah hidup layak kali yak :p).
2. UU NO. 14/1969 ttg Ketentuan-ketentuan Pokok Mengenai Ketenagakerjaan

Tenaga kerja merupakan modal utama serta pelaksanaa dari pembangunan masyarakat untuk
mencapai tujuan terpenting dari pembangunan yaitu kesejahteraan termasuk tenaga kerja.

Pasal 9 ---> tiap tenaga kerja berhak mendapatkan perlindungan atas keselamatan,
kesehatan, kesusilaan, pemeliharaan moril kerja serta perlakuan yang sesuai dengan
martabat manusia dan moral agama.

pasal 10---> Pem. membina norma perlindungan tenaga kerja (norma keselamatan kerja,
kesehatan dan higiene perusahaan, norma kerja, pemberian ganti rugi, perawatan dan
rehabilitasi dalam hal kecelakaan.

Selain dasar hukum tersebut sebenarnya banyak peraturan yang berkaitan dengan K3, contohnya:
1. UU NO.1/1951--->Pernyataan berlakunya UU Kerja 1948 No.12--->mengatur aturan
dasar tentang pekerjaan anak, orang muda dan wanita, waktu kerja, istirahat, dan tempat
kerja.
2. UU Uap (Stoom Ordonantie. Stbl. No.225 tahun 1930)--->UU Khusus tentang Uap.
3. UU Timah Putih Kering (Loodwit Ordonantie, STBL No.509 tahun 1931)
4. UU Petasan (STBL No. 143, tahun 1932 jo STBL No. 9 tahun 1930)
5. UU Rel Industri (Industrie Baan Ordonantie, STBL No. 593 tahun 1938)
6. UU No. 3/1969---> Persetujuan Konvensi ILO No. 120 mengenai Higiene dlm
perkantoran dan perniagaan.
7. UU No.3/1992---> JAMSOSTEK

C. RUANG LINGKUP
Seperti yang sudah di jelaskan diatas maka ruang lingkup pemberlakuan UU ini dibatasi dengan
adanya 3 unsur yang harus dipenuhi, yaitu:
1. Tempat kerja dimana dilakukan pekerjaan bagi suatu usaha
2. Adanya tenaga kerja yang bekerja disana
3. Adanya bahaya kerja di tempat itu.
Maka setiap tempat kerja yang memenuhi unsur tersebut selama masih berada di wilayah NKRI

maka harus mematuhi UU Keselamatan Kerja.


D. SYARAT KESELAMATAN KERJA
Bicara tentang syarat maka bagi yang belum tahu, UU 1/970 ini sebenarnya menggantikan UU
yang lama (Veillgheids Reglement. STBL, No.406 tahun 1910) yang dianggap sudah tidak sesuai
lagi dan mulai berlaku 12 Januari 1970.
Perbedaan mendasar yang paling menonjol antara UU 1/1970 dan VR 1910 adalah UU1/1970
lebih bersifat preventif dan membina sedangkan VR 1910 sebaliknya.
Dalam UU 1/1970 Pasal 3 ditetapkannya berbagai syarat agar arah dan sasarannya kongkrit,
yaitu:

pencegahan kecelakaan (kebakaran, peledakan, pencemaran), dan Penyakit Akibat Kerja


(PAK).

Penyediaan sarana pengendalian sumber bahaya.

Adapun menurut UU 1/1970, syarat-syarat K3 diterapkan sejak tahap:


1. Perencanaan
2. Pembuatan
3. Pengangkutan
4. Peredaran
5. Perdagangan
6. Pemasangan
7. Pemakaian
8. Penggunaaan
9. Pemeliharaan
10. Penyimpanan bahan, barang, produk teknis, dan aparat produksi yang mengandung dan
dapat menimbulkan bahaya kecelakaan.
Sangat jelas bahwa UU 1/1970 diciptakan untuk mencegah terjadinya kecelakaan, kalaupun
masih ada kecelakaan biasanya karena Human Error atau takdir :p.

E. PENGAWASAN K3
Nah, bagaimana dengan pengawasan K3, siapa yang bertanggung jawab?
Berdasarkan UU 1/1970 maka dijelaskan bahwa:
1. Direktur--->sebagai Pelaksana Umum (79/men/1977)
2. Pegawai Pengawas---> Menjalankan pengawasan langsung (3/men/1978)
3. Ahli K3---> Menjalankan penagawasan langsung (2/men/1992)
Lha terus bedanya apa Pegawai Pengawas dengan AK3?? walaupun memilik kedudukan yang
sama namun dalam pelaksanaannya sehari-hari terdapat perbedaan wewenang.
Pegawai Pengawas merupakan pegawai teknis berkeahlian khusus dari Depnaker, sebagai
Pejabat Fungsional dan PPNS. Sedangkan AK3 merupakan tenaga teknis berkeahlian khusus dari
Depnaker yang ditunjuk olen Menakertrans.
Pegawai Pengawas sebagai PPNS memilik kewenangan :
1. Memeriksa
2. Menguji
3. Menyidik/BAP

1. PRINSIP PENGAWASAN
Terdapat prinsip yang harus dijalankan dalam melakukan pengawasan, yaitu:
1. Pengawasan Ketenagakerjaan merupakan fungsi negara
2. Bekerjasama secara erat dengan pengusaha dan pekerja serta institusi lain seperti
lembaga riset da Perguruan Tinggi
3. Berorientasi pada pencegahan
4. Cakupan inspeksi bersifat universal
5. Pengawasan Ketenagakerjaan bersifat independen

2. TANGGUNG JAWAB PENGAWASAN K3


1. Tanggung jawab secara nasional terhadap penyelenggaraan K3 adalah Menakertrans.

2. Pendelegasian Sektoral maupun Teknis tetap dipertanggungjawabkan oleh Menakertrans


selaku pemegang kebijakan nasional.
3. Kebijakan pengawasan K3 Nasional tetapmenjadi wewenang Menakertrans.

F. KEWAJIBAN DAN HAK TENAGA KERJA


Sebenarnya masih banyak yang harus dibahas kalau kita mau belajar tentang K3, namun bakalan
jadi kitab suci blog ane kalo di bahas semua :D
Baiklah kita bicarain tentang kewajiban dan hak tenaga kerja saja karena banyak tenga kerja
yang masih tidak mengerti hak dan tanggung jawabnya. Alih-alih tuntutan kerja dan kalo terjadi
kecelakaan dianggap resiko kerja.
Tenang aja keselamatan kerja kita sebenarnya dilindungi oleh UU kalau ada tempat kerja yang
melanggar yak laporin aja.
Pasal 12 UU 1/1970, kewajiban dan hak tenaga kerja meliputi:
1. Memberikan keterangan yang benar bila diminta oleh Pegawai Pengawas atau AK3.
2. Memakai Alat Pelindung Diri yang diwajibkan.
3. Memenuhi dan menaati semua syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang diwajibkan.
4. Meminta kepada pengurus agar dilaksanakan semua syarat keselamatan dan kesehatan
kerja yang diwajibkan.
5. Menyatakan keberatan kerja pada pekerjaan dimana syarat keselamatan dan kesehatan
kerja serta APD yang diwajibkan diragukan olehnya, kecuali dalam hal-hal khusus
ditentukan lain oleh Pegawai Pengawas dalam batas-batas yang masih bisa
dipertanggungjawabkan.

Sayangnya walaupun sudah ada aturan yang jelas mengenai K3 tapi kesadaran dalam
pelaksanaanya masih sangat minim atau malah dikesampingkan karena pola pikir yang masih
katrok (selama belum kejadian ya gpp keamanannya diminimalisir).
Sudah banyak contoh kecelakaan kerja karena Human Error, sadarlah anda bekerja demi
keluarga sedangkan keluarga menanti anda pulang dengan selamat. Jangan merasa sok hebat
dalam bekerja.
Pasal 5
(1) Presiden memegang kekuasaan membentuk undang- undang dengan

persetujuan Dewan
Perwakilan Rakyat.
(2) Presiden menetapkan peraturan pemerintah untuk menjalankan undang-undang
sebagaimana
mestinyasal 20
(1) Tiap-tiap undang-undang menghendaki persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.
(2) Jika sesuatu rancangan undang-undang tidak mendapat persetujuan Dewan
Perwakilan Rakyat, maka rancangan tadi tidak boleh dimajukan lagi dalam
persidangan Dewan Perwakilan Rakyat masa ituPasal 27
(1) Segala warga negara bersamaan kedudukannya dalam hukum dan
pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada
kecualinya.
(2) Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi
kemanusiaan.