Anda di halaman 1dari 25

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

REFERAT
JANUARI 2017

OBSTRUKSI DUKTUS NASOLAKRIMALIS

OLEH :
Suhriana
110 99 0086
SUPERVISOR :
dr. Moch. Iwan Kurniawan, Sp.M

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
2017

LEMBAR PENGESAHAN
Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa :
Nama

: Suhriana

NIM

: 110 210 0086

Judul referat

: Obstruksi Duktus Nasolakrimalis

Telah menyelesaikan tugas tersebut dalam rangka kepaniteraan klinik pada Bagian
Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia.

Makassar, Januari 2017

Supervisor

dr. Moch. Iwan Kurniawan, Sp.M

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas Rahmat dan Karunia-Nya
serta salam dan shalawat kepada Rasulullah Muhammad SAW beserta sahabat dan
keluarganya, sehingga penulis dapat menyelesaikan referat
Obstruksi

Duktus

Nasolakrimalis

sebagai

salah

ini dengan judul

satu

syarat

dalam

menyelesaikan Kepaniteraan Klinik di Bagian Ilmu Kesehatan Mata.


Selama persiapan dan penyusunan referat ini rampung, penulis mengalami
kesulitan dalam mencari referensi. Namun berkat bantuan, saran, dan kritik dari
berbagai pihak akhirnya referat ini dapat terselesaikan serta tak lupa penulis
mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada
semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian referat ini.
Semoga amal dan budi baik dari semua pihak mendapatkan pahala dan
rahmat yang melimpah dari Allah SWT. Penulis menyadari bahwa dalam
penulisan referat ini terdapat banyak kekurangan dan masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran untuk
menyempurnakan referat yang serupa dimasa yang akan datang. Saya berharap
sekiranya referat ini dapat bermanfaat untuk kita semua. Aamiin.
Makassar, Januari 2017
Hormat Saya,

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ........................................................................................ i


Daftar Isi .......................................................................................................ii
Daftar Gambar ...........................................................................................iii
Bab 1

Anatomi Sistem Lakrimalis .................................................... 1


1.1 Anatomi Sistem Lakrimalis ............................................... 1

Bab 2

Air Mata..................................................................................... 3
2.1 Air Mata.....................................................................

2.2 Sistem Sekresi Air Mata ................................................... 5


2.3 Sistem Ekskresi Air Mata ....................................................6
Bab 3

Bab 4

Obstruksi Duktus Nasolakrimal ........................................... 8


3.1

Definisi ............................................................................. 8

3.2

Etiologi dan Klasifikasi ................................................... 8

3.3

Patofisiologi dan Gejala Klinis ......................................... 8

3.4

Diagnosa ............................................................................9

3.5

Penatalaksanaan ...............................................................15

3.6

Komplikasi ......................................................................17

3.7

Prognosis .........................................................................18

Kesimpulan ............................................................................. 19
4.1 kesimpulan...........................................................................19
4.2 Saran....................................................................................20

Daftar Pustaka ...........................................................................................21

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Anatomi sistem lakrimalis................................................................ 1


Gambar 2.1 Komposisi Air Mata.......................................................................... 4
Gambar 2.2 Sistem Ekskresi Lakrimalis ............................................................. 7
Gambar 3.1 Obstruksi pada duktus nasolakrimalis kiri .........................................9
Gambar 3.2 Tes Probing .................................................................................... 10
Gambar 3.3 Tes Irigasi........................................................................................ 11
Gambar 3.4 Tes Warna Jones (Primer) Positif .....................................................12
Gambar 3.5 Tes Warna Jones (Primer) Negatif ...................................................12
Gambar 3.6 Tes Warna Jones (Sekunder) Positif .................................................13
Gambar 3.7 Tes Warna Jones (Sekunder) Negatif ...............................................13
Gambar 3.8 Digital Substraction Dacryocystography....................................... 14
Gambar 3.9 Lacrimal Scintigraphy .....................................................................14
Gambar 3.10 Teknik Dakriosistorinostomi Eksternal ..............................

15

Gambar 3.11 Teknik Dakriosistorinostomi Internal .................................

17

BAB I
ANATOMI SISTEM LAKRIMALIS
1.1

Anatomi Sistem Lakrimalis


Sistem lakrimal terdiri dari dua bagian, yaitu sistem sekresi yang berupa

kelenjar lakrimalis dan sistem ekskresi yang terdiri dari punctum lakrimalis,
kanalis lakrimalis, sakus lakrimalis, duktus nasolakrimalis, dan meatus inferior.1

Gambar 1.1. Anatomi sistem lakrimalis


(Dikutip dari Lang G, 2006. Ophthalmology, A Pocket Textbook Atlas. New York:
Thieme; 2nd Ed.)
Kelenjar lakrimalis terletak pada bagian lateral atas mata yang disebut
dengan fossa lakrimalis. Bagian utama kelenjar ini bentuk dan ukuranya mirip
dengan biji almond, yang terhubung dengan suatu penonjolan kecil yang meluas
hingga ke bagian posterior dari palpebra superior. Dari kelenjar ini, air mata
diproduksi dan kemudian dialirkan melalui 8-12 duktus kecil yang mengarah ke
bagian lateral dari fornix konjungtiva superior dan di sini air mata akan disebar ke
seluruh permukaan bola mata oleh kedipan kelopak mata.2
Selanjutnya, air mata akan dialirkan ke dua kanalis lakrimalis, superior
dan inferior, kemudian menuju ke punctum lakrimalis yang terlihat sebagai
penonjolan kecil pada kantus medial. Setelah itu, air mata akan mengalir ke
1

dalam sakus lakrimalis yang terlihat sebagai cekungan kecil pada permukaan
orbita. Dari sini, air mata akan mengalir ke duktus nasolakrimalis dan bermuara
pada meatus nasal bagian inferior. Dalam keadaan normal, duktus ini memiliki
panjang sekitar 12 mm dan berada pada sebuah saluran pada dinding medial
orbita.2
Secara

embriologis,

glandula

lakrimalis

dan

glandula

lakrimalis

assessorius berkembang dari epitel konjungtiva. Sistem lakrimasi glandula yang


berupa kanalikuli, sakus lakrimalis dan duktus nasolakrimalis juga merupakan
turunan ektoderm permukaan yang berkembang dari korda epitel padat yang
terbenam di antara prosessus maksilaris dan nasalis dari struktur-struktur muka
yang sedang berkembang. Korda ini terbentuk salurannya sesaat sebelum lahir.3
Duktus nasolakrimalis biasanya terbentuk pada usia 8 bulan usia janin,
tapi pada umumnya penundaan dalam proses perkembangan yang dapat
mengakibatkan sisa jaringan membran atau stenosis pada setiap tingkat dalam
sistem nasolakrimal dari kanalikuli ke ujung dari duktus nasolakrimal bawah.
Persistent membran di bagian bawah duktus nasolakrimal terjadi sehingga 70%
dari neonatus (dacryostenosis). Namun, hanya 2-4% dari bayi yang baru lahir
menunjukkan gejala klinis penyumbatan saluran nasolakrimal.3

BAB II
AIR MATA
2.1

Air Mata
Permukaan bola mata yang terpapar dengan lingkungan dijaga tetap

lembab oleh air mata. Air mata tersebut disekresikan oleh aparatus lakrimalis dan
disertai dengan mukus dan lipid oleh organ sekretori dari sel-sel pada palpebra
serta konjungtiva. Sekresi yang dihasilkan inilah yang disebut sebagai film air
mata atau film prekorneal. Analisis kimia dari air mata menunjukkan bahwa
konsentrasi garam didalamnya mirip dengan komposisi di dalam plasma darah.3
Selain itu, air mata mengandung lisozim yang merupakan enzim yang
memiliki aktivitas sebagai bakterisidal untuk melarutkan lapisan luar bakteri.
Walaupun air mata mengandung enzim bakteriostatik dan lisozim, menurut, hal
ini tidak dianggap sebagai antimikrobial yang aktif karena dalam mengatasi
mikroorganisme tersebut, air mata lebih cenderung memiliki fungsi mekanik yaitu
membilas mikroorganisme tersebut dan produk-produk yang dihasilkannya.3
K+, Na+, dan Cl- terdapat dalam konsentrasi lebih tinggi dalam air mata
dari dalam plasma. Air mata juga mengandung sedikit glukosa (5 mg/dL) dan urea
(0,04 mg/dL) dan perubahannya dalam konsentrasi darah akan diikuti perubahan
konsentrasi glukosa dan urea air mata. pH rata-rata air mata adalah 7,35, meski
ada variasi normal yang besar (5,20-8,35). Dalam keadaan normal, cairan air mata
adalah isotonik. Osmolalitas film air mata bervariasi dari 295 sampai 309
mosm/L. Berikut adalah ilustrasi dari elektrolit, protein dan sitokin dalam
komposisi air mata.3
Air mata akan disekresikan sebagai respon dari berbagai rangsangan.
Rangsangan tersebut dapat berupa rangsangan iritatif pada kornea, konjungtiva,
mukosa hidung, rangsangan pedas yang diberikan pada mulut atau lidah, dan
cahaya terang. Selain itu, air mata juga akan keluar sebagai akibat dari muntah,
batuk dan menguap.3

Gambar 2.1. Komposisi Air Mata


(Dikutip dari Lang G, 2006. Ophthalmology, A Pocket Textbook Atlas. New York:
Thieme; 2nd Ed.)
Sekresi juga dapat dipicu oleh kesedihan emosional. Kerusakan pada
nervus trigeminus akan menyebabkan refleks sekresi air mata menghilang. Hal ini
dapat dibuktikan dengan pemberian kokain pada permukaan mata menyebabkan
penghambatan hantaran impuls pada ujung nervus sensoris yang mengakibatkan
penghambatan refleks sekresi mata. Jalur aferen pada hal ini adalah nervus
trigeminus, sedangkan eferen oleh saraf autonom, dimana bahagian parasimpatis
dari nervus fasialis yang memberikan pengaruh motorik yang paling dominan.
Oleh sebab itu, pemberian obat yang parasimpatomimetik (seperti asetilkolin)
dapat meningkatkan sekresi sedangkan pemberian obat antikolinergik (atropin)
akan menyebabkan penurunan sekresi.3
Refleks sekresi air mata yang berlebihan dapat diinterpretasikan sebagai
respon darurat. Pada saat lahir, inervasi pada aparatus lakrimalis tidak selalu
sempurna, hal ini menyebabkan neonatus sering menangis tanpa sekresi air mata.3

Air mata mengalir dari lakuna lakrimalis melalui pungtum superior dan
inferior dan kanalikulus ke sakus lakrimalis yang terletak di dalam fossa
lakrimalis. Duktus nasolakrimalis berlanjut ke bawah dari sakus lakrimasi dan
bermuara ke dalam meatus inferior dari rongga nasal. Air mata diarahkan ke
dalam pungtum oleh isapan kapiler, gaya berat, dan berkedip. Kekuatan gabungan
dari isapan kapiler dalam kanalikuli, gaya berat, dan kerja memompa dari otot
Horner yang merupakan perluasan muskulus orbikularis okuli ke titik di belakang
sakus lakrimalis, semua cenderung meneruskan air mata ke bawah melalui duktus
nasolakrimalis ke dalam hidung.3
2.1.1

Sistem Sekresi Air Mata


Permukaan mata dijaga tetap lembab oleh kelenjar lakrimalis. Sekresi

basal air mata perhari diperkirakan berjumlah 0,75-1,1 gram dan cenderung
menurun seiring dengan pertambahan usia. Volume terbesar air mata dihasilkan
oleh kelenjar air mata utama yang terletak di fossa lakrimalis pada kuadran
temporal di atas orbita. Kelenjar yang berbentuk seperti buah kenari ini terletak
didalam palpebra superior. Setiap kelenjar ini dibagi oleh kornu lateral
aponeurosis levator menjadi lobus orbita yang lebih besar dan lobus palpebra
yang lebih kecil. Setiap lobus memiliki saluran pembuangannya tersendiri yang
terdiri dari tiga sampai dua belas duktus yang bermuara di forniks konjungtiva
superior. Sekresi dari kelenjar ini dapat dipicu oleh emosi atau iritasi fisik dan
menyebabkan air mata mengalir berlimpah melewati tepian palpebra (epiphora).3
Persarafan pada kelenjar utama berasal nukleus lakrimalis pons melalui
nervus intermedius dan menempuh jalur kompleks dari cabang maksilaris nervus
trigeminus. Kelenjar lakrimal tambahan, walaupun hanya sepersepuluh dari massa
utama, mempunya peranan penting. Kelenjar Krause dan Wolfring identik dengan
kelenjar utama yang menghasilkan cairan serosa namun tidak memiliki sistem
saluran. Kelenjar-kelenjar ini terletak di dalam konjungtiva, terutama forniks
superior. Sel goblet uniseluler yang tersebar di konjungtiva menghasilkan
glikoprotein dalam bentuk musin. Modifikasi kelenjar sebasea Meibom dan Zeis
di tepian palpebra memberi substansi lipid pada air mata. Kelenjar Moll adalah
modifikasi kelenjar keringat yang juga ikut membentuk film prekorneal.3

Glandula lakrimalis terdiri dari struktur berikut :


1. Bagian orbita berbentuk kenari yang terletak di dalam fossa lakrimalis di
segmen temporal atas anterior dari orbita, dipisahkan dari bagian palpebra
oleh kornu lateralis dari muskulus levator palpebra.
2. Bagian palpebra yang lebih kecil terletak tepat di atas segmen temporal dari
forniks konjungtiva superior. Duktus sekretorius lakrimalis, yang bermuara
melalui kira-kira 10 lubang kecil, menghubungkan bagian orbital dan
palpebral

glandula

lakrimalis

dengan

forniks

konjungtiva

superior.

Pembuangan bagian palpebra dari kelenjar memutuskan semua saluran


penghubung dan dengan demikian mencegah kelenjar itu bersekresi. Glandula
lakrimalis assesorius (glandula Krause dan Wolfring) terletak di dalam
substansia propia di konjungtiva palpebra.3
2.1.2

Sistem Ekskresi Air Mata


Sistem ekskresi terdiri atas punkta, kanalikuli, sakus lakrimalis, dan duktus

nasolakrimalis. Setiap berkedip, palpebra menutup mirip dengan windshield


mulai di lateral, menyebarkan air mata secara merata di atas kornea, dan
menyalurkannya ke dalam sistem ekskresi pada aspek medial palpebra.3
Setiap kali mengedip, muskulus orbikularis okuli akan menekan ampula
sehingga memendekkan kanalikuli horizontal. Dalam keadaan normal, air mata
dihasilkan sesuai dengan kecepatan penguapannya, dan itulah sebabnya hanya
sedikit yang sampai ke sistem ekskresi. Bila memenuhi sakus konjungtiva, air
mata akan masuk ke punkta sebagian karena hisapan kapiler.3
Dengan menutup mata, bagian khusus orbikularis pre-tarsal yang
mengelilingi ampula mengencang untuk mencegahnya keluar. Secara bersamaan,
palpebra ditarik ke arah krista lakrimalis posterior, dan traksi fascia mengelilingi
sakus lakrimalis berakibat memendeknya kanalikulus dan menimbulkan tekanan
negatif pada sakus. Kerja pompa dinamik mengalirkan air mata ke dalam sakus,
yang kemudian masuk melalui duktus nasolakrimalis karena pengaruh gaya berat
dan elastisitas jaringan ke dalam meatus inferior hidung. Lipatan-lipatan miripkatup dari epitel pelapis sakus cenderung menghambat aliran balik air mata dan
udara. Yang paling berkembang di antara lipatan ini adalah katup Hasner di

ujung distal duktus nasolakrimalis. Berikut adalah ilustrasi dari sistem ekskresi air
mata yang berhubungan dengan fungsi gabungan dari muskulus orbikularis okuli
dan sistem lakrimal inferior.3

Gambar 2.2. Sistem Ekskresi Lakrimalis


(Dikutip dari Lang G, 2006. Ophthalmology, A Pocket Textbook Atlas. New York:
Thieme; 2nd Ed.)

BAB III
OBSTRUKSI DUKTUS NASOLAKRIMALIS
3.1

Definisi
Obstruksi

duktus

nasolakrimalis

adalah

penyumbatan

duktus

nasolakrimalis (saluran yang mengalirkan air mata dari sakus lakrimalis ke


hidung). Duktus nasolakrimalis termasuk dalam sistem lakrimalis sebagai
komponen dari sistem ekskresi / drainase air mata.3
3.2

Etiologi dan Klasifikasi


Beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya obstruksi duktus

nasolakrimalis:3

Terdapat benda yang menutupi lumen duktus, seperti pengendapan kalsium,

atau koloni jamur yang mengelilingi suatu korpus alienum.


Terjadi striktur atau kongesti pada dinding duktus.
Penekanan dari luar oleh karena terjadi fraktur atau adanya tumor pada sinus

maksilaris.
Obstruksi akibat adanya deviasi septum atau polip.
Penyumbatan bisa bersifat parsial (sebagian) atau total. Obstruksi duktus

nasolakrimal kongenital (ODNLK) merupakan gangguan sistem lakrimal yang


terjadi pada 2-4% bayi baru lahir. Biasanya akibat tidak terbukanya membran
nasolakrimal, sedangkan pada orang dewasa akibat adanya penekanan pada
salurannya, misal adanya polip hidung.3
3.3

Patofisiologi dan Gejala Klinis


Obstruksi duktus nasolakrimal primer sering dikaitkan dengan fibro-

inflammatory process yang tidak diketahui penyebabnya. Sedangkan obstruksi


duktus nasolakrimal sekunder dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok
penyebab seperti berikut:
a) Infeksi: bakteri, jamur, dan virus
b) Inflamasi: sarcoides dan radiasi
c) Neoplastik: squamous cell carcinoma, dan squamous cell papiloma

d) Trauma iatrogenik: lakrimal probe, operasi sinus atau non iatrogenik


seperti laserasi kanikular
e) Mekanik: kemasukan benda asing.1
Manifestasi obstruksi duktus nasolakrimalis yang paling lazim adalah mata
berair (tearing), yang berkisar dari sekedar mata basah (peningkatan di cekungan
air mata), sampai banjir air mata yang jelas (epifora), penimbunan cairan mukoid
atau mukopurulen, dan kerak. Mungkin ada eritema atau maserasi kulit karena
iritasi dan gesekan yang disebabkan oleh tetes - tetes air mata dan cairan.1
3.4

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan dibutuhkan anamnesis, pemeriksaan

fisik, dan pemeriksaan penunjang.3


Pemeriksaan penunjang sebagai berikut:
1. Dye dissapearance test (DDT) dilakukan dengan meneteskan zat warna
fluorescein 2% pada kedua mata, masing - masing 1 tetes. Kemudian
permukaan kedua mata dilihat dengan slit lamp. Jika ada obstruksi pada salah
satu mata akan memperlihatkan gambaran seperti di bawah ini.4

Gambar 3.1. Obstruksi pada duktus nasolakrimalis kiri


Sumber: http://www.djo.harvard.edu

2. Fluorescein clearance test


Dilakukan untuk melihat fungsi saluran ekskresi lakrimal. Uji ini dilakukan
dengan meneteskan zat warna fluorescein 2% pada mata yang dicurigai
mengalami obstruksi pada duktus nasolakrimalisnya. Setelah itu pasien
diminta berkedip beberapa kali dan pada akhir menit ke-6 pasien diminta

untuk beringus (bersin) dan menyekanya dengan tissue. Jika pada tissue
didapati zat warna, berarti duktus nasolakrimalis tidak mengalami obstruksi.4,5
3. Tes Probing dan Tes Anel (Irigasi)
Probing test bertujuan untuk menentukan letak obstruksi pada saluran
ekskresi air mata dengan cara memasukkan sonde ke dalam saluran air mata.
Pada tes ini, punctum lakrimal dilebarkan dengan dilator, kemudian probe
dimasukkan ke dalam sackus lakrimal. Jika probe yang bisa masuk
panjangnya lebih dari 8 mm berarti kanalis dalam keadaan normal, tapi jika
yang masuk kurang dari 8 mm berarti ada obstruksi. Bila probe ini telah
berhasil masuk, maka disusul dengan tes Anel.4,5

Gambar 3.2. Tes Probing


(Dikutip dari Lang G, 2006. Ophthalmology, A Pocket Textbook Atlas. New York:
Thieme; 2nd Ed.)
Tes Anel dilakukan dengan menggunakan semprotan yang diisi dengan
larutan garam fisiologis.
Tes Anel (+): Bila terasa asin di tenggorokan, berarti salurannya berfungsi
baik.
Tes Anel (-): Bila tidak terasa asin, berarti ada kelainan di dalam saluran
ekskresi tersebut.

10

Bila cairan keluar lagi dari pungtum lakrimal superior, berarti ada obstruksi di
duktus nasolakrimalis. Kalau cairan kembali melalui pungtum lakrimal
inferior, berarti obstruksi terdapat di ujung nasal kanalikuli lakrimal inferior.4

Gambar 3.3. Tes Irigasi


(Dikutip dari Lang G, 2006. Ophthalmology, A Pocket Textbook Atlas. New
York: Thieme; 2nd Ed. dan Medscape, 2009. Obstruction Nasolacrimal Duct.)
4. Jones Dye Test 3,6,7
Jones dye test juga dilakukan untuk melihat kelainan fungsi saluran
ekskresi lakrimal. Uji ini terbagi menjadi dua yaitu Jones Test I dan Jones
Test II. Pada Jones Test I, mata pasien yang dicurigai mengalami obstruksi
pada duktus nasolakrimalisnya ditetesi zat warna fluorescein 2% sebanyak 12 tetes. Kemudian kapas yang sudah ditetesi pantokain dimasukkan ke meatus
nasal inferior dan ditunggu selama 3 menit. Jika kapas yang dikeluarkan
berwarna hijau berarti tidak ada obstruksi pada duktus nasolakrimalisnya.

11

Gambar 3.4. Tes Warna Jones (Primer) Positif


(Dikutip dari Lang G, 2006. Ophthalmology, A Pocket Textbook Atlas. New York:
Thieme; 2nd Ed.)
Hasil negatif bila tidak terdapat warna hijau dari hidung, mengindikasikan
obstruksi parsial atau kegagalan dari mekanisme pompa lakrimal.

Gambar 3.5. Tes Warna Jones (Primer) Negatif


(Dikutip dari Lang G, 2006. Ophthalmology, A Pocket Textbook Atlas.
New York: Thieme; 2nd Ed.)
Pada Jones Test II, mengindikasikan kemungkinan letak obstrukasi
parsial. Caranya hampir sama dengan Jones test I, akan tetapi jika pada menit
ke-5 tidak didapatkan kapas dengan bercak berwarna hijau maka dilakukan
irigasi dengan larutan salin pada sakus lakrimalisnya. Bila setelah 2 menit
didapatkan zat warna hijau pada kapas, mengindikasikan bahwa fluorecein
masuk ke dalam sakus lakrimalis, sehingga terdapat obstruksi parsial dari
duktus nasolakrimalis.

12

Gambar 3.6. Tes Warna Jones (Sekunder) Positif


(Dikutip dari Lang G, 2006. Ophthalmology, A Pocket Textbook Atlas. New York:
Thieme; 2nd Ed.)
Bila lebih dari 2 menit atau bahkan tidak ada zat warna hijau pada kapas sama
sekali setelah dilakukan irigasi, mengindikasikan tidak masuknya fluorescein
ke dalam sakus lakrimalis. Ini berarti obstruksi parsial dari pungtum,
kanalikuli atau kanalikuli komunis, atau tidak sempurnanya mekanisme
pompa lakrimalis.

Gambar 3.7. Tes Warna Jones (Sekunder) Negatif


(Dikutip dari Lang G, 2006. Ophthalmology, A Pocket Textbook Atlas. New York:
Thieme; 2nd Ed.)
5. Tes Radiografi
Menggunakan kontras khusus untuk menilai duktus nasolakrimalis (Digital
Subtraction Dacryocystography).3,7

13

Gambar 3.8. Digital Substraction Dacryocystography


(Dikutip dari Lang G, 2006. Ophthalmology, A Pocket Textbook Atlas. New York:
Thieme; 2nd Ed.)
6. Nuclear Lacrimal Scintigraphy
Merupakan teknik non-invasif untuk menilai efisiensi fungsional dari sistem
drainase lakrimal. Pelacak radioaktif (sulfur koloid atau Technitium)
ditanamkan ke dalam kantung konjungtiva dan perjalanannya melalui sistem
drainase lakrimal divisualisasikan dengan kamera Anger gamma.7

Gambar 3.9. Lacrimal Scintigraphy


(A: sistem ekskresi lakrimal normal; B: obstruksi pada batas sakus lakrimalis
dengan duktus nasolakrimalis)
(Dikutip dari Khurana, 2007. Comprehensive Ophthalmology. Delhi: Newage
Internasional: 4th Ed.)
3.5 Penatalaksanaan
Massage daerah lakrimal menjadi pilihan pertama. Massage dengan
tekanan pada pangkal hidung ke arah inferior dilakukan satu sampai dua menit
tiap hari. Bila dalam jangka waktu tiga bulan tidak menunjukkan perbaikan maka
irigasi berulang merupakan langkah berikutnya yang dilakukan sampai anak
14

berusia 1 (satu) tahun. Batas usia ini tidak mutlak, apabila tanda radang tidak ada,
maka irigasi dapat dilanjutkan sampai anak berusia dua tahun.7
Sumbatan nasolakrimal pada orang dewasa pada umumnya merupakan
indikasi suatu tindakan pembedahan yaitu dakriositorinostomi. Prosedur
pembedahan

yang

sering

dilakukan

pada

dakriosistitis

adalah

dacryocystorhinostomy (DCR).7

Gambar 3.10. Teknik Dakriosistorinostomi Eksternal


(Dikutip dari Orbit, Eyelid, and Lacrimal System, American Academy of
Ophtalmology)
Dimana pada DCR ini dibuat suatu hubungan langsung antara sistem
drainase lakrimal dengan cavum nasal dengan cara melakukan bypass pada
kantung air mata. Dulu, DCR merupakan prosedur bedah eksternal dengan
pendekatan melalui kulit di dekat pangkal hidung. Saat ini, banyak dokter telah
menggunakan teknik endonasal dengan menggunakan scalpel bergagang panjang
atau laser.8

15

Dakriosistorinostomi

internal

memiliki

beberapa

keuntungan

jika

dibandingkan dengan dakriosistorinostomi eksternal. Adapun keuntungannya


yaitu, (1) trauma minimal dan tidak ada luka di daerah wajah karena operasi
dilakukan tanpa insisi kulit dan eksisi tulang, (2) lebih sedikit gangguan pada
fungsi pompa lakrimal, karena operasi merestorasi pasase air mata fisiologis tanpa
membuat sistem drainase bypass, dan (3) lebih sederhana, mudah, dan cepat (ratarata hanya 12,5 menit).8
Kontraindikasi pelaksanaan DCR ada 2 macam, yaitu kontraindikasi
absolut dan kontraindikasi relatif. Kontraindikasi relatif dilakukannya DCR
adalah usia yang ekstrim (bayi atau orang tua di atas 70 tahun) dan adanya
mucocele atau fistula lakrimalis. Beberapa keadaan yang menjadi kontraindikasi
absolut antara lain:

Kelainan pada kantong air mata :


- Keganasan pada kantong air mata.
- Dakriosistitis spesifik, seperti TB dan sifilis
Kelainan pada hidung :
- Keganasan pada hidung
- Rhinitis spesifik, seperti rhinoskleroma
- Rhinitis atopik
Kelainan pada tulang hidung, seperti periostitis5

Gambar 3.11. Teknik Dakriosistorinostomi Internal

16

(Dikutip dari: Orbit, Eyelid, and Lacrimal System, American Academy of


Ophtalmology)
Ballon dacryocystoplasty biasa digunakan pada anak dengan obstruksi
duktus nasolakrimalis kongenital dan pada dewasa dengan obstruksi duktus
nasolakrimalis parsial.5,8
3.6 Komplikasi
Obstruksi pada duktus nasolakrimalis ini dapat menimbulkan penumpukan
air mata, debris epitel, dan cairan mukus sakus lakrimalis yang merupakan media
pertumbuhan yang baik untuk pertumbuhan bakteri sehingga menyebabkan
dakrisistitis.9
Dakriosistitis yang tidak diobati dapat menyebabkan pecahnya kantong air
mata sehingga membentuk fistel. Bisa juga terkadi abses kelopak mata, ulkus,
bahkan selulitis orbita.1
Komplikasi juga bisa muncul setelah dilakukannya DCR. Komplikasi
tersebut di antaranya adalah perdarahan pascaoperasi, nyeri transien pada segmen
superior os.maxilla, hematoma subkutaneus periorbita, infeksi dan sikatrik
pascaoperasi yang tampak jelas.1
3.7 Prognosis
Prognosis pada kasus ini pada umumnya baik karena angka keberhasilan
pada dacryocystorhinostomy (DCR) adalah 75 95 %.3

BAB IV
PENUTUP
4.1

Kesimpulan

17

Obstruksi duktus nasolakrimal adalah sumbatan pada saluran yang


menghubungkan dari salah satu sakus lakrimal ke bagian anterior meatus inferior
dari hidung, tempat mengalirnya air mata ke hidung.
Obstruksi duktus nasolakrimal terbagi menjadi dua, yakni obstruksi duktus
nasolakrimal kongenital dan obstruksi duktus nasolakrimal didapat. Terdapat
banyak hal yang dapat menyebabkan obstruksi duktus nasolakrimal pada pasien
dewasa, antara lain infeksi, inflamasi, mekanik, traumatik, neoplasia. Namun pada
obstruksi duktus nasolakrimal kongenital sebanyak 50% disebabkan karenan
kegagalan katup Heissner untuk membuka pada waktu mendekati kelahiran.
Penegakan diagnosa pasien yang mengalami obstruksi duktus nasolakrimal
dimulai dari anamnesis.
Pada pasien yang mengalami obstruksi duktus nasolakrimal masalah yang
sering dikeluhkan antara lain epifora, kotoran mata yang purulen, atau masalah
infeksi yang sering berulang seperti konjungtivitis atau pemphigus dan nyeri dan
bengkak pada medial kantus.
Pemeriksaan fisik pasien yang mengalami obstruksi duktus nasolakrimal
akan ditemukan adanya aliran air mata yang lebih banyak, massa yang menonjol
pada sakus lakrimal atau area medial kantus, atau sekret bola mata yang mukoid
atau purulen. Pemeriksaan fisik yang dapat membantu penegakan diagnosis antara
lain melalui tes regurgitasi. Pada tes regurgitasi, akan keluar cairan mukoid
setelah penekanan pada lakrimal.
Beberapa pemeriksaan penunjang untuk membantu penegakan diagnosa
obstruksi duktus nasolakrimal antara lain: DDT (Dye Disappearance Test), tes
Jones I dan II, diagnostic probing, endoskopi hidung, contrast dracyosystograph,
dracyoscintiagraphy, CT-scan, dan MRI. Penatalaksanaan pasien yang mengalami
obstruksi pada duktus nasolakrimal antara lain melalui intubasi dan pemasangan
sten pada pasien yang mengalami obstruksi pada duktus nasolakrimal parsial dan
tindakan bedah dracyocystorhinostomy (DCR). Dacryocystorhinostomy adalah
suatu prosedur untuk membuat saluran yang membuat anastomosom antara sakus
lakrimal dan kavitas nasal melalui ostium tulang.
4.2

Saran

18

Obstruksi Duktus Nasolakrimalis merupakan penyakit pada mata yang


sering terjadi pada anak-anak. Pemeriksaan mata pada anak penting untuk
mengetahui kelainan pada bayi lebih awal untuk mencegah terjadinya komplikasi.
Oleh karena itu sangat penting untuk menangani kelainan ini secara tepat untuk
mendapat prognosis yang baik

DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas, Sidharta. 2008. Ilmu Penyakit Mata Edisi Ketiga. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Halaman 106-110
2. Ellis, Harold, 2006. Clinical Anatomy, A Revision and Applied Anatomy for
Clinical Students Eleventh Edition. Massachusetts, USA: Blackwell Publishing,
Inc.
3. Lang G, 2006. Ophthalmology, A Pocket Textbook Atlas. New York: Thieme; 2 nd;
Halaman 49-58
4. Ilyas, Sidharta, 2006. Dasar Teknik Pemeriksaan Dalam Ilmu Penyakit Mata Edisi
Kedua. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
5. Mamoun, Tarek, 2009. Chronic Dacryocystitis. [Diakses tanggal 15 Januari 2017].
http://eyescure.com/Default.aspx?ID=84.
6. Kanski J, 2007. Lacrimal Drainage System, Clinical Opthalmology. United States
of America: Butterworth Heinemann Elsiever; 5th Edition; Halaman 45-52

19

7. Khurana AK, 2007. Comprehensive Ophthalmology. Delhi: Newage International:


4th Edition; Halaman 367-376
8. Maheshwari R, 2005. Management of Congenital Nasolacrimal Duct Obstruction;
[Diakses tanggal 15 Januari 2017]. Available from:
9. http://www.oculist.net/downaton502/prof/ebook/duanes/pages/v6/v6c105.htmlAno
nim. 2006. Pedoman Diagnosis dan Terapi Bag/SMF. Ilmu Penyakit Mata Ed.III.
Surabaya: Rumah Sakit Umum Dokter Soetomo.

20