Anda di halaman 1dari 28

STUDI KRITIK HADIS

Makalah dibuat untuk memenuhi tugas mata Kuliah Studi Hadis


yang dibimbing oleh Dr. Kasman, M.Fil.I

Oleh:
Khairuddin, S.Sos.I
NIM: 0829116002

ISNTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER


PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN KEPENYIARAN ISLAM
OKTOBER 2016

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sumber hukum Islam yang kedua setelah al-Quran, adalah hadis Nabi
yang memiliki ciri dan karakter berbeda dari al-Quran. Untuk al-Quran,
seluruh riwayatnya mutawtir, sedangkan hadis terkadang diriwayatkan
dengan dua cara, secara mutawtir dan secara ahad1. Al-Quran dari aspek
periwayatannya memiliki kedudukan yang qati al-tsubt (kebenaran
beritanya absolut). Hal ini berbeda dengan hadis yang kadang qati dan
bahkan banyak yang dzanni al-tsubt (kebenaran beritanya relatif dan nisbi).
Maka dari itu, dapat dikatakan bahwa seluruh ayat al-Quran tidak perlu
diteliti orisinalitas periwayatannya, sedangkan hadis nabi berlaku sebaliknya,
terlebih hadis yang berkategori ahad, perlu ditelaah dan diteliti orisinalitasnya.
Sehingga dengan begitu bisa mengetahui apakah hadis tersebut benar-benar
dapat dipertanggungjawabkan periwayatannya dari Nabi atau tidak.
Pada umumnya untuk memahami suatu hadits memang umat islam
sebaiknnya kritis, karena pada dasarnya tidak semua hadis telah ditulis pada
zaman nabi. Selanjutnya berangkat dari realitas historis transmisi hadits ke
dalam teks-teks hadits, yaitu pertama hadits sebagai bentuk ideal teladan
Nabi yang harus diikuti, telah diformulasikan dalam bentuk verbal, yakni
laporan sahabat tentang Nabi kepada generasi semasa dan sesudahnya.
Kedua, umat Islam dalam meneladani Nabi merujuk pada teks-teks hadits.
Sebagaimana teks-teks yang lain, teks hadits tidak bisa merepresentasikan
seluruh realitas keteladanan Nabi yang dinamis dan kompleks secara utuh2.
Ketiga, Nabi tidak pernah memberikan teks-teks hadits dan pemahamannya

Penjelasan ini disarikan dari buku yang ditulis oleh M. Syuhudi Ismail. Arti harfiah
mutawatir ialah tatabu, (berurut) sedangkan menurut istilah berita atau kabar yang diriwayatkan
oleh orang banyak pada setiap tingkat periwayat, mulai dari sahabat sampai dengan mukharij.
Sedangkan ahad secara harfiah artinya satu. Arti istilahnya menurut ilmu hadis adalah apa yang
diberitakan oleh orang-seorang yang tidak mencapai tingkat mutawatir.
2
Komaruddin Hidayat, Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutik. (Jakarta :
Paramadina, 1996), 17. Dalam Jurnal Penelitian Nur Kholis..

dalam bentuk baku untuk diteladani. Keempat teks-teks hadits juga memuat
tradisi praktikal dan verbal para sahabat dan generasi awal Islam yang
dianggap merujuk pada keteladanan Nabi sebelum terkodifikasi ke dalam
kitab-kitab hadits.3 Kelima, subyektifitas interpretasi dan adanya perbedaan
pemahaman hadits yang dipengaruhi perbedaan metode, latar belakang syarih
al-hadits, perbedaan dalam melihat fungsi dan kedudukan Nabi, maupun
perbedaan dalam melihat fungsi hadits dikaitkan dengan al-Quran.
Selain itu juga realitas pengucapan dan perilaku nabi yang
ditransmisikan ke dalam teks-teks hadis tidak selalu terjadi di hadapan orang
banyak. Kemudian, tidak setiap hadis yang ditulis para sahabat telah melalui
uji validitas di hadapan Nabi. Hal ini berimplikasi pada asumsi bahwa hadis
Nabi yang di masa-masa mendatang dijadikan sebagai hujjah dan pandangan
hidup umat islam tidak luput dari kemungkinan adanya kesalahan
periwayatan.
Rentangan waktu setalah nabi wafat yang cukup jauh pada tahun 11
H/632 H, dapat menyebabkan terjadinya hal-hal yang membuat periwayatan
hadis itu menyalahi apa yang sebenarnya berasal dari nabi. Hal ini terbukti
pada pada tahun 40-an H. Di masa khalifah Ali Bin Abi Tahlib, pernah terjadi
pemalsuan hadis. Yang pasti motif kepentingan politik adalah pemicunya.
Puncaknya ketika terjadi pertentangan politik antara Ali dan Mu`awiyah.
Tidak hanya itu, bahkan meluas pada faktor kepentingan ekonomi, perilaku
pejabat yang suka menjilat dan lain sebagainya turut andil dalam kontek
pemalsuan hadis. Dengan adanya pemalsuan hadis, akan sulit sekali
memisahkan mana yang benar-benar berasal dari Nabi dan mana yang bukan.
Maka di sinilah urgensinya kenapa penelitian hadis itu diperlukan.
Penghimpunan hadis secara resmi dan massal baru di prakarsai oleh
khalifah Umar Bin Abdul Aziz yang wafat pada tahun 101 H ketika ia menjadi
kepala negara. Selain itu, juga Khalifah Umar memerintahkan para gubernur
dan ulama hadis pada zaman itu untuk melakukan penghimpunan hads.
3

Musahadi Ham, Evolusi Konsep Sunnah : Implikasinya pada Perkembangan Hukum Islam.
(Semarang : Aneka Ilmu, 2000), 120-124. Dalam Penelitin yang dilakukan oleh Nur Kholis.

Barulah kemudian pada pertengahan abad ke 2 Hijriah muncul karya-karya


himpunan hadis yang tersebar di beberapa kota besar seperti Makkah,
Madinah dan Basrah. Dan puncak penghimpunan Hadis ini terjadi sekitar
pertengahan abad ke 3 Hijriah.4
Berdasar fakta tersebut, sejatinya penulisan kitab-kitab hadis yang
menjadi rujukan dan pandangan hidup umat muslim ditulis jauh setelah Nabi
wafat. Dengan rentang waktu antara penulisan dan wafatnya Nabi, tidak
menutup kemungkinan adanya hal-hal yang menjadikan riwayat itu tidak
sesuai dengan apa yang datang dari Nabi. Untuk itulah, perlu dilakukannya
telaah dan penelitian untuk mengetahui apakah hadis itu sah digunakan
sebagai hujjah ataukah tidak.
Setelah tahap penghimpunan hadis dilakukan tentunya kitab-kitab hadis
yang ada pastinya menggunakan metode penyusunan yang berbeda-beda.
Keberadaan kitab hadis yang ditulis para ulama sangat banyak hal ini
ditengarai karena jumlah mukharrij al-hadis yang juga banyak jumlahnya.
Selain itu, ada pula seorang penghimpun hadis yang menghasilkan kitab
himpunan hadis lebih dari satu.
Penggunaan metode penyusunan kitab-kitab tersebut beraneka ragam,
merupakan hal yang lazim mengingat penekanan penulisan tersebut terletak
pada pengumpulan dan penghimpunan hadis, bukan pada penyusunannya.
Realitas tersebut, membuat kualitas hadis yang ada tidak semuanya sama.
Berdasarkan latar belakang sejarah periwayatan hadis di atas, M.
Syuhudi Ismail5 menyebutkan ada dua aspek hadis yang menjadi objek kajian
dalam penelitian hadis agar sebuah hadis dapat dipertanggungjawabkan
orisinalitas dan otentisitasnya (keaslian). Kedua aspek tersebut adalah materi
berita dalam hadis yang disebut dengan matn dan berbagai hal yang
berkaitan dengan periwayatannya yaitu dikenal dengan istilah sanad hadis.
Berkenaan dengan konteks periwayatan hadis, diatas telah dipaparkan
beberapa tokoh muslim yang melakukan penelitian hadis. Selanjutnya penulis
4

http://personalsadarkelas.blogspot.co.id/2013/01/metodologi-penelitian-hadis-nabitelaah.html. (Oktober, 2016), 1.


5
M. Syuhudi Ismail. Metodologi Penelitian Hadis Nabi. (Jakarta : Bulan Bintang, 1992), 4.

menemukan skripsi yang ditulis oleh Benny Afwadzi. Dia melakukan


penelitian kepustakaan tentang pemikiran sarjana Barat G.H.A. Juynboll
(1935-2010) tentang teori hadis mutawatir dan metode apa yang digunakan
untuk menganalisisnya. Hasil penelitian tersebut diungkapkan secara
gamblang di dalam abstrak. Juynboll memandang bahwa kemutawatiran
sebuah hadis bukanlah jaminan hadis tersebut otentik dari nabi.6

B. Topik Bahasan
Mengacu pada paparan di latar belakang pentingnya penelitian hadis
maka dikerucutkan pada permasalah sebagai berikut:
1. Bagaimana Signifikansi kritik hadits?
2. Apa saja obyek kajian kritik hadis?
3. Seperti apa langkah-langkah kritik hadis?
4. Beberapa contoh kritik hadis?

C. Tujuan Penulisan
Penulis merasa kesulitan dalam pengumpulan bahan makalah ini
karena memang begron kompetensi penulis yang bukan ahli hadis atau pakar
hadis. Yang kedua karena keterbatasan literatur terjemahan, sehingga mungkin
makalah ini jauh dari harapan pembaca. Akan tetapi penulis berupaya
semaksimal mungkin dengan keterbatasan kompetensi dan literatur yang ada,
untuk mengurai bagaimana sejatinya penelitian hadis itu dilakukan. Hal ini
dilakukan dalam kontek pengkayaan khazanah dan pengetahuan tentang
penelitian hadis tersebut.
Bagi pembaca, penulis disini akan mendeskripsikan sejauh mana
signifikansi kritik hadis, kemudian ingin mengetahui apa yang menjadi obyek
dalam kritik hadis. Sehingga bagaimana langkah-langkah apa yang harus
dilakukan dalam penelitian hadis. Yang terakhir akan disajikan contoh kritik
dalam penelitian hadis.
6

Benny Afwadzi, Benny. Pemikiran GHA Juynboll tentang teori hadis mutawatir. Diss.
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2012.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Signifikansi Kritik Hadis


1. Hadis Nabi sebagai salah satu sumber ajaran Islam
Ayat al-Qur'an yang berisi perintah untuk beriman dan patuh
kepada Nabi Muhammad SAW seperti dalam al-Qur'an surah al-Hasyr
ayat 7:

Artinya :

Apa yang diberikan oleh Rasul kepadamu, maka hendaklah


kamu menerimanya; dan apa yang dilarangnya bagimu maka
hendaklah kamu meninggalkannya.7

Menurut para ulama ayat tersebut mengandung perintah bahwa


orang-orang yang beriman harus patuh dan meninggalkan larangan.
Hindarkanlah diri kalian dari murka Allah. Sesungguhnya Allah benarbenar kejam siksa-Nya.
Kedua, Surah Ali Imran ayat 32, sebagaimana Ismail8 menjelaskan
bahwa ayat ini memberi petunjuk mengenai bentuk ketaatan kepada Allah
dengan mematuhi petunjuk al-Qur'an, sedangkan bentuk ketaatan kepada
Rasulullah adalah dengan mengikuti sunnah atau hadis beliau.9 Begitu
juga dengan surah An-Nisa' ayat : 80, dijelaskan bahwa kepatuhan kepada
Rasulullah merupakan salah satu tolok ukur kepatuhan seseorang kepada
Allah.
Berbeda dengan surah al-Ahzab ayat 21 "bahwa telah ada pada diri
Rasulullah keteladanan yang baik bagimu, yakni bagi orang yang
mengharap rahmat Allah, meyakini akan kedatangan hari kiamat dan
banyak menyebut Allah. Ayat ini menjelaskan bahwa Nabi Muhammad
adalah uswah bagi orang-orang yang beriman.
7

Al-Qur'an, 59:7.
M. Syuhudi Ismail. Metodologi Penelitian Hadis Nabi. (Jakarta : Bulan Bintang, 1992), 8.
9
Idem.
8

Berdasar pada penjelasan dari ayat-ayat tersebut maka jelaslah


bahwa hadis atau sunnah nabi merupakan sumber ajaran Islam, selain alQur'an. Orang yang tidak mau terhadap sunnah berarti juga menolak alQur'an.
Dalam sejarah Islam diturunkan dan bahkan sampai saat ini, ada
sekolompok orang yang mengaku dirinya sebagai muslim, namun anti
terhadap sunnah nabi. Dalam beberapa literatur orang yang seperti ini
disebut orang yang inkar terhadap sunnah "inkarus-sunnah".10 Berikut
adalah beberapa ulama yang pada awalnya menggugat paham terhadap
sunnah sebagai salah satu sumber ajaran Islam.
a. Imam asy-Syafi'i dalam karya monumentalnya al-Umm
b. M. Syuhudi Ismail, Kaedah kesahihan Sanad Hadis, karyanya yang
lain juga adalah Sunnah Menurut para Pengingkarnya dan Upaya
Pelestarian Sunnah oleh Para Pembelanya.
c. Azami, Dirasat fil-Hadits an-Nabawi.
d. Hamadah, as-Sunnah an-Nabawiyah wa Makanatuha fi at-Tasyri'.
e. Abu Lubabah Husain, Mauqif al-Mu'tazilah min as-Sunnah anNabawiyah.

2. Tidak semua hadis ditulis pada zaman Nabi


Pernah suatu ketika Nabi melarang sahabat untuk menuliskan habis
beliau. Akan tetapi dalam kesempatan yang lain Nabi juga pernah
memerintah sahabat untuk menulis habis beliau.11
Umma Farida12 menjelaskan bahwa penulisan hadis Nabi Saw.
merupakan

kajian

yang

selalu

menarik

untuk

diperbincangkan.

Pembahasan tentang penulisan hadis tersebut menjadi semakin menarik

10

M. Syuhudi Ismail. Metodologi Penelitian Hadis Nabi. (Jakarta : Bulan Bintang, 1992), 9.
Lihat penjelasan selengkpanya dalam M. Syuhudi Ismail. Kaedah Kesahihan Sanad Hadis:
telaah kritis dan tinjauan dengan pendekatan ilmu sejarah. (Jakarta : Bulan Bintang, 1988) 89-90.
12
Umma Farida. Polemik Penulisan Hadis: Perspektif Michael a. Cook Dalam the Opponents
of the Writing of Tradition in Early Islam. (http://journal.stainkudus.ac.id/index.php/
riwayah/article/ view/1226.), diakses pada tanggal 10 Oktober 2016.
11

jika perspektif yang digunakan adalah perspektif orientalis yang sering kali
dicurigai sebagai penentang penulisan hadis.
Didalam artikelnya ia mengungkap pemikiran Michael A. Cook
memang bukan orang pertama yang mengangkat kajian tentang penulisan
hadis. Namun, dalam karyanya The Opponents of the Writing of Tradition
in Early Islam ia secara apik menggambarkan bagaimana polemik
penentangan terhadap penulisan itu muncul, kapan terjadinya, dan
kemungkinan apa yang melatarbelakanginya. Meskipun kritisisme tetaplah
harus dipegang untuk menjadi penyeimbang dari data yang ia sajikan.
Menurut Azami dalam penjelasan M. Syuhudi Ismail menguraikan
bahwa sejumlah sahabat nabi telah menulis hadis nabi, antara lain 'Amr
bin al-'Ash (w 65 H/685 M), Abdullah bin 'Abbas (w 68 H/687 H), 'Ali bin
Abi Thalib (w 40 H/661 M), Sumrah bin Jundab (w 86 H).13
Suriadi dkk dalam artikelnya yang mengutip pendapatnya AlKhatib menjelaskan bahwa yang menyebabkan perkara penulisan hadis
dilarang hanya pada awal-awal masa islam saja. Karena Nabi tidak mau
umat Islam sibuk dengan urusan selain dari al-Qur'an.14

3. Muncul Hadis-Hadis Palsu


Ismail menjelaskan bahwa belum ada data yang valid tentang
pemalsuan hadis pada zaman nabi.15 Aktifitas pemalsuan hadis mulai
muncul dan berkembang pada zaman khalifah Ali bin Abi Thalib.
Faktor utama yang memotivasi seseorang melakukan pemalsuan
hadis adalah kepentingan politik penguasa pada masa itu. Pertentangan
politik antara kelompok Ali dan Mu'awiyah bin Abi Sufyan adalah salah

13

Syuhudi Ismail. Metodologi Penelitian Hadis Nabi. (Jakarta : Bulan Bintang, 1992), 11
Suriani Sudi, Rosni Wazir, Abur Hamdi Usman, Mohd Norzi Nasir, Zanariah Ismail,
Sakinah Salleh, Azman Abdul Rahman. Sejarah Penulisan Hadis: Pembetulan Fakta Dari Hujah
Anti Hadis. (http://conference.kuis.edu.my/imam2016/eproceeding/1017-imam-2016.pdf), diakses
pada tanggal 10 Oktober 2016.
15
M. Syuhudi Ismail. Kaedah Kesahihan Sanad Hadis: telaah kritis dan tinjauan dengan
pendekatan ilmu sejarah. (Jakarta : Bulan Bintang, 1988) 92-95
14

satu contoh terjadinya pemalsuan hadis. Para pendukung mereka


melakukan segala upaya untuk membuktikan kekuasaannya. 16

4. Rentangan Waktu Proses Penghimpunan Hadis


Ismail menyatakan bahwa dalam sejarah penghimpunan hadis
secara resmi dan massal baru dilakukan pada masa khalifah Umar bin
Abdul Aziz (w 101 H/720 M). 17
Sudi mengungkapkan penulisan hadis secara rasmi hakikatnya
telah pun dimulakan sebelum zaman Imam Syafei lagi. Menurut Ajaj
(1993), penulisan hadis secara rasmi telah mula digerakkan oleh Khalifah
Umar Abdul Aziz pada akhir abad kedua. Beliau telah melantik tokohtokoh

ulama

yang

berpotensi

untuk

melaksanakan

tugas

mengkodifikasikan hadis antaranya Abu Bakr bin Hazm, Ibn Shihab alZuhri, al-Qasim bin Muhammad dan Amrah binti Abdul Rahman.18
Selanjutnya dalam penjelasan sudi yang dikutip dari pendapat alKhatib menjelaskan sebenarnya Urwah bin Zubayr pernah bercerita pada
masa khalifah Umar bin Khattab pernah beliau bermaksud membukukan
hadis-habis Nabi dengan meminta pendapat para sahabat, kehendak Umar
ini didukung penuh oleh para sahabat. Namun beliau masih melakukan
istikharah selama sebulan karena beliau merasa ragu untuk memulainya. 19
Lebih lanjut ismail menyebutkan bahwa sekitar pertengahan abad
ke 2 Hijriah telah muncul karya-karya himpunan hadis di berbagai kota

16

Abdul Karim al-Khatib, al-Khilafah wa al-Imarah wa as-Siyasah, (Beirut : Dar al-Ma'rifah,


1993 M) dalam Syuhudi Ismail Metodologi Penelitian Hadis Nabi. (Jakarta : Bulan Bintang,
1992), 13.
17
Syuhudi Ismail Metodologi Penelitian Hadis Nabi. (Jakarta : Bulan Bintang, 1992), 16.
18
Suriani Sudi, Rosni Wazir, Abur Hamdi Usman, Mohd Norzi Nasir, Zanariah Ismail,
Sakinah Salleh, Azman Abdul Rahman. Sejarah Penulisan Hadis: Pembetulan Fakta Dari Hujah
Anti Hadis. (http://conference.kuis.edu.my/imam2016/eproceeding/1017-imam-2016.pdf), diakses
pada tanggal 10 Oktober 2016
19
Al-Khatib al-Baghdadi, Ahmad bin Ali bin Thabit. 1974. Taqyid al-Ilm. T.t: Dar Ihya
Sunnah al-Nabawiyyah dalam Suriani Sudi, Rosni Wazir, Abur Hamdi Usman, Mohd Norzi Nasir,
Zanariah Ismail, Sakinah Salleh, Azman Abdul Rahman. Sejarah Penulisan Hadis: Pembetulan
Fakta Dari Hujah Anti Hadis. (http://conference.kuis.edu.my/imam2016/eproceeding/1017-imam2016.pdf), diakses pada tanggal 10 Oktober 2016.

besar seperti Mekkah, Madinah, dan Basrah. Dan puncak penghimpunan


hadis terjadi pada abad ke 3 Hijriah.20
Berdasarkan uraian tersebut penulis menyimpulkan interval waktu
penghimpunan hadis setelah nabi wafat cukup lama. Hal ini menimbulkan
akibat hadis yang dihimpun dalam beberapa kitab menjadi penting untuk
diteliti dan dikaji ulang secara lebih detail, mengingat hadis-hadis ini akan
dijadikan hujjah dan dasar hukum oleh umat islam.

5. Banyak kitab hadis dengan metode penyusunan yang beragam


Dalam penjelasan pendahuluan dalam makalah ini telah disinggung
bahwa kitab hadis yang telah disusun oleh ulama cukup banyak. Dengan
begitu sulit dipastikan berapa jumlah kitab yang di tulis mengingat
mukhtarijul hadis (ulama yang meriwayatkan dan sekaligus menghimpun
hadis) tidak terhitung jumlahnya. Apalagi sebagian para penghimpun ada
yang menghaslikankarya lebih dari satu kitab.21
Diantara kitab-kitab hadis yang ditulis oleh para mukhtarijul hadis
itu. Sudah beredar luas di masyarakat hingga saat ini. Menurut
penelusuran Ismail kitab-kitab yang beredar hanya berjumlah belasan saja.
Antara lain:
a. Sahih al-Bukhari (Imam al-Bukhari wafat 256 H/870 M)
b. Sahih Muslim (Imam Muslim wafat 261 H/875 M)
c. Sunan Abi Daud (Imam Abu Daud Wafat 275 H/892 M)
d. Sunan at-Turmuzi (Imam at-Turmuzi wafat 279 H/889 M)
e. Sunan an-Nasai (Imam an-Nasai wafat 303 H/915 M)
f. Sunan Ibni Majah (Unan Ibnu Majah wafat 273 H/887 M)
g. Sunan ad-Darimi (Imam ad-Darimi wafat 255 H/868 M)
h. Musnad Ahmadb in Hambal (Imam Ahmad bin Hambal wafat 241
H/855 M)
i. Muatta Malik (Imam Malik bin Anas wafat 179 H/795 M)
20

M. Syuhudi Ismail. Kaedah Kesahihan Sanad Hadis: telaah kritis dan tinjauan dengan
pendekatan ilmu sejarah. (Jakarta : Bulan Bintang, 1988) 102.
21
Syuhudi Ismail Metodologi Penelitian Hadis Nabi. (Jakarta : Bulan Bintang, 1992), 18.

j. Sunan al-Baihaqi (Imam al-Baihaqi wafat 458 H/1066 M)


k. Mustadrak al-Hakim (Imam al-Hakim an-Naisaburi wafat 405 H/1014
M)
l. Musnad al-Humaidi (Imam al-Humaidi wafat 219 H/834 M)
m. Musnad Abi Awanah (Imam Abu Awanah wafat 316 H/928 M) 22
Penyusunan kitab-kitab hadis tersebut menggunakan metode yang
berbeda-beda karena secara logis mereka lebih menekankan pada aspek
penghimpunannya

bukan

pada

metode

penyusunannya.

Sehingga

kemudian para ulama berikutnya membuat kriteria dan mengklasifikasi


himpunan kitab hadis tersebut. Seperti al-Kutubul-Khamsah, al-KutubusSittah, dan al-Kutubus-Sabah.
Setelah himpunan kitab-kitab hadis tersebut terklasifikasi maka
untuk mengetahui kualitas hadis apakah sahih atau tidak diperlukan
penelitan hadis untuk menghindari penggunaan hujjah dalil-dalil hadis
sebagai dasar penentuan suatu hukum. Terlebih kualitas periwayat yang
terdapat di bebagai sanad bagi hadis yang terhimpun.23

6. Terjadinya periwayatan hadis secara makna


Beda pandangan tentang periwayatan hadis secara makna telah
terjadi pada masa sahabat, sebagian sahabat membolehkan periwayatan
secara makna dan sebagian yang lain menentang hal itu. Sahabat yang
membolehkan diantaranya Ali bin Abi Talib, Abdullah bin Abbas,
Abdullah bin Masud, Anas bin Malik, Abu Darda, Abu Hurairah, dan
Aisyah. Sedangkan sahabat yang melarang meriwayatkan secara makna
adalah Umar bin al-Khattab, Abdullah bin Umar al-Khattab, dan Zaid
bin Arqam.24

22

Syuhudi Ismail Metodologi Penelitian Hadis Nabi. (Jakarta : Bulan Bintang, 1992), 19.
Idem.
24
Penjelasan lebih lengkapnya bisa dilihat dalam M. Syuhudi Ismail. Kaedah Kesahihan Sanad
Hadis: telaah kritis dan tinjauan dengan pendekatan ilmu sejarah. (Jakarta : Bulan Bintang, 1988)
103.
23

10

Perbedaan periwayatan hadis tersebut tidak hanya terjadi pada


masa sahabat, tetapi juga terjadi di kalangan ulama sesudah para sahabat.
Ulamat yang membolehkan periwayatan hadis secara makna menekankan
pentingnya syarat yang harus dipenuhi, misalnya seperti seorang periwayat
harus menguasai bahasa secara mendalam, hadis yang diriwayatkan
bukanlah bacaan yang bersifat taabbudi, seperti bacaan shalat, dan
periwayatan secara makna karena sangat terpaksa. Dengan demikian
periwayatan hadis secara makna tidak berlaku longgar, tetapi cukup ketat.
Pendapat Ismail mengungkapkan bahwa walaupun periwayatan
hadis secara makna itu cukup ketat, faktanya sudah ada petunjuk bahwa
matn hadis yang diriwayatkan telah ada dan banyak. 25 Padahal, untuk
mengetahui kandungan petunjuk hadis tertentu, diperlukan terlebih dahulu
mengetahui susunan redaksi dari hadis yang bersangkutan, khususnya
hadis qauli yang berupa sabda nabi.

B. Obyek Kritik Hadis


Kritik hadis diambil dari istilah arab

seperti dalam kalimat

(dia telah mengkritik bahasa dan puisinya) sedangkan


secara istilah kritik hadis adalah ilmu yang membahas dan menetapkan
tsiqoh atau kecacatan pribadi periwayat sehingga dapat dipilah mana hadis
yang sahih dan hadis yang dhaif. Objek kritik hadis adalah sanad atau
naqd al-khariji (kritik ekstern), dan matan atau naqd al-dakhili (kritik
intern). Dalam karya hadisnya Azami meletakkan dasar kritik hadis untuk
menentukan kesahihan hadis baik dinilai dari sanad maupun matan
sebagaimana yang dilakukan oleh para ulama sebelumnya. 26

25

M. Syuhudi Ismail. Kaedah Kesahihan Sanad Hadis: telaah kritis dan tinjauan dengan
pendekatan ilmu sejarah. (Jakarta : Bulan Bintang, 1988) 71-72.
26
M. Musthafa Azami, Manhaj al Naqd Inda al Muhadditsin: Nasyatuhu wa Tarikhuhu,
(Riyadh: Syirkah al Tabah as Suudiyah al Mahdudah, 1402 H/1982 M), 5. Dalam Umayyah
Syarifah, "Kontribusi Muhammad Musthafa Azami Dalam Pemikiran Hadis (Counter Atas Kritik
Orentalis)", ULUL ALBAB : Jurnal Studi Islam,(Vol. 14 edisi. 2, 2014), 226.

11

Kritik hadis mengandung pengertian pemisahan dan seleksi


terhadap hadis. Kata "Kritik" dalam kamus bahasa Indonesia kecaman atau
tanggapan disertai dengan uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap
suatu hasil karya atau pendapat.27
Jadi dalam kontek ini kritik bisa diartikan sebagai sebuah usaha
untuk membedakan antara karya yang asli dan yang salah (palsu).

1. Kritik Sanad Hadis


Secara sederhana sanad dimaknai dengan sesuatu yang disandarkan
(al-Mutamad) atau juga dikenal dengan mata rantai periwayatan, dari
narasumber pertama yaitu Nabi sampai kepada narasumber yang terakhir
yang disebut rawi.28 Hal serupa juga ditegaskan oleh Azami penggunaan
sistem sanad atau isnad telah digunakan secara insidental dalam beberapa
literatur sebelum masa pra islam, mereka menggunakan misalnya dalam
periwayatan syair di masa pra islam.29
Akan tetapi dalam studi hadis, keberadaan sanad adalah suatu
keniscayaan, karena hal ini menuntut prinsip transparansi dan akuntabilitas
dari proses penyaluran hadis dari zaman Nabi sampai genenerasi saat ini
untuk menjamin otentisitas dan orisinilitas dari pelestarian sunnah dan
hadis Nabi sebagai bagian dari sumber ajaran Islam. Oleh karena itu, sanad
dianggap sebagai suatu bagian dari agama (daruri dalam prinsip maqasid
al-syariah untuk menjamin maslahah). Tanpa sanad, sangat sulit keaslian
dari sebuah hadis dapat dijamin, persis sebagaimana yang dikatakan oleh
Imam Ibn Mubarak, jika tidak adanya sistem sanad, niscaya orang akan
seenaknya (meriwayatkan) apa yang ia kehendaki30
27

Tim Penyusun, Kamus Bahasa Indonesia (Jakarta : Pusat Bahasa, 2008), 131.
Ali Mustafa Yaqub, Kritik Hadis. (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000), 96. Dalam Nasrullah.
Metodologi Kritik Hadis: Studi Takhrij al-Hadis dan Kritik Sanad, HUNAFA: Jurnal Studia
Islamika, (Vol 4 edisi 4 Desember, 2007), 410.
29
Muhammad Mustafa Azami, Metodologi Kritik Hadis, Alih bahasa A. Yamin. (Jakarta:
Pustaka Hidayah, 1997), 62. Dalam Nasrullah. Metodologi Kritik Hadis: Studi Takhrij al-Hadis
dan Kritik Sanad, HUNAFA: Jurnal Studia Islamika, (Vol 4 edisi 4 Desember, 2007), 410.
30
Nasrullah. Metodologi Kritik Hadis: Studi Takhrij al-Hadis dan Kritik Sanad, HUNAFA:
Jurnal Studia Islamika, (Vol 4 edisi 4 Desember, 2007), 410.
28

12

Kritik terhadap sanad hadis lazim pula disebut sebagai an-naqd azzahiri atau kritik eksternal. Untuk sampai kepada penentuan tolak ukur
kesahihan sanad hadis, sebelumnya harus mengetahui definisi dari hadis
yang disebut sebagai sahih itu. Sebagaimana diungkapkan oleh Ibn Salah31
hadis sahih ialah, hadis yang bersambung sanadnya sampai kepada Nabi,
diriwayatkan oleh (periwayat) yang adil dan dabit sampai akhir sanad, (di
dalam hadis itu) tidak terdapat kejanggalan (syuzuz) dan cacat (illat).
Menurut tolok ukur tersebut berimplikasi pada lemah atau kuatnya
suatu sanad. Menurut Ismail riawayat hadis yang sanadnya lemah belum
tentu hadis tersebut berasal dari Rasulullah. Padahal posisi hadis nabi
sebagai sumber ajaran islam tidak boleh ada keraguan di dalamnya.32
Oleh karena dalam periwayatan hadis tidak boleh mengandung
unsur keragu-raguan karena mengingat hadis itu nantinya akan dijadikah
rujukan dan sebagai hujjah dalam hukum islam. Maka aspek-aspek sanad
yang akan diteliti antara lain:
a. Nama-nama periwayat hadis yang terlibat dalam periwayatan hadis
yang bersangkutan.
b. Lambang-lambang periwayatan hadis yang digunakan seperti
dan

.33

Secara umum para ulama hadis dalam melakukan penelitian hanya


fokus pada keadaan para periwayat sanad itu saja, tanpa memperhatikan
simbol yang digunakan. Hal tersebut bisa dilihat dari skema sanad yang
dibuat dalam rangka kegiatan penelitian. Padahal kecacatan hadis kadang
terletak pada lambang atau simbol yang digunakan.34

31

Ibn Salah, Ulum al-Hadis. (Madinah: Maktabah al-Ilmiyyah, 1972), 10.


Syuhudi Ismail Metodologi Penelitian Hadis Nabi. (Jakarta : Bulan Bintang, 1992), 24.
33
Idem. 25.
34
Idem. 25
32

13

Abdurrahman35 menjelaskan Sementara, catatan tentang biografi


setiap perawi dalam rangkaian transmisi sanad belum cukup membuktikan
bahwa kabar tersebut otentik dan orisinil. Maka dari itu untuk memastikan
bahwa rangkaian transmisi perawi tersebut benar-benar valid, artinya
bahwa perawi pertama benar-benar memperoleh kabar Hadits itu dari
perawi kedua, dan perawi kedua mendapatkannya dari perawi ketiga,
demikian seterusnya sampai pada sumber berita Nabi Muhammad SAW.
Untuk memastikannya harus dilacak biografi para perawi itu, mulai dari
tempat dan tahun lahir, dimana ia tinggal, dimana ia belajar, kepada siapa
saja ia belajar, kepada siapa saja ia mengajar, sampai tempat dan tahun
kematian. Dengan demikian kita dapat memastikan kemungkinan perawi
pertama benar-benar mendapatkan data dari perawi kedua yang ia
sebutkan, atau bahwa perawi kedua benar-benar menyampaikan data itu
kepada perawi pertama. Kepastian ini disebut dengan ittishl alsanad.
Pokok pemikiran Azami dalam menentukan kaedah keshahihan
sanad hadits ada tiga kategori, yaitu; 1) kesinambungan mata rantai, 2)
tidak ada syaz dalam hadits tersebut, dan 3) tidak ada illat. Akan tetapi
Azami jauh mengelaborasi semua kaedah tersebut, ia lebih banyak
meneliti tentang kualitas pribadi perawi (adalah), kapasitas intelektual
perawi (dhabt), dan cara untuk menentukan ketersambungan sanad dengan
membahas tahammul wa al ada.36
Selanjutnya Azami menjelaskan prinsip tahammul wa al ada
memuat katagori yang telah disepakati oleh para ulama hadis diantaranya;
sima', ardh, ijazah, munawalah, mukatabah, ilam al syaikh, washiyah,
dan

wijadah.

Pencantuman

aspek

ini

selain

untuk

mengetahui

katersambungan sanad dengan melihat istilah yang digunakan, juga untuk


menunjukkan adanya proses periwayatan sejak masa awal Islam sampai
35

Abdurrahman Said, "Membangun Metodologi Penelitian Matan Hadits", JURNAL PUSAKA


(Vol 1 Edisi 1, September-Desember, 2013), 71.
36
M. Musthafa Azami, Manhaj al Naqd Inda al Muhadditsin: Nasyatuhu wa Tarikhuhu,
(Riyadh: Syirkah al Tabah as Suudiyah al Mahdudah, 1402 H/1982 M), 5. Dalam Umayyah
Syarifah, "Kontribusi Muhammad Musthafa Azami Dalam Pemikiran Hadis (Counter Atas Kritik
Orentalis)", ULUL ALBAB : Jurnal Studi Islam,(Vol. 14 edisi. 2, 2014), 227.

14

hadits dibukukan dalam kitab resmi. Prinsip ini digunakan untuk


mengetahui penyebaran hadits dan penerimaan baik dari guru maupun
murid.

2. Matn Hadis
Sebagaimana penjelasan Ismail dalam konteks penelitian matn
hadis tidak bisa dilepaskan dari pengaruh keadaan sanad saja, selain itu
juga karena dalam periwayatan hadis dikenal istilah periwayatan secara
makna (riwayah bil-ma'na). Ulama ahli hadis memang sudah menetapkan
syarat-syarat sahnya periwayatan secara makna.37
Pendapat lain disampaikan oleh Abdurrahman, bahwa perjalanan
matan hadits dimulai sejak adanya larangan kodifikasi data Hadits
langsung dari Rasulullah Saw. Secara tegas Nabi memerintahkan para
penulis dan sekretaris untuk tidak mencatat apa yang ia sampaikan, atau
penulisan selain Al-Quran. Oleh karena itu, wajar kemudian bila ada
penilaian tentang kemampuan daya ingat yang dimiliki oleh para Sahabat
ketika itu, tentang kabar yang diterima atau yang didengar atau dilihat
sendiri. Kondisi ini sebenarnya bukan hal yang aneh, jika didasarkan pada
penilaian data berupa keseharian, bukan data redaksional. Seperti halnya
seseorang yang menceritakan keluarganya yang sedang menikah atau
bepergian. Karena memang dalam penyampaian data Hadits, redaksi hanya
sebagai alat komunikasi antara perawi dalam tranformasi data Haditsnya.
seorang perawi dapat menggunakan bahasanya sendiri, dan dengan redaksi
yang ia gubah sendiri, ini disebut dengan legalitas penyampaian
kandungan informasi (riwyat bil mana).38
Kondisi ini menjadi lebih parah lagi, matan ternyata berkembang
sampai salah satu bagiannya berada di luar jalur. Banyak ditemukan

37

Muhammad 'Ajjaj al-Khatib, as-Sunnah Qabla at-Tadwin,(Beirut : Dar al-Kutub al-'Ilmiyah,


1400 H/1980 M), 126-132. Dalam Syuhudi Ismail Metodologi Penelitian Hadis Nabi. (Jakarta :
Bulan Bintang, 1992), 26.
38
Abdurrahman Said, Membangun Metodologi Penelitian Matan Hadis, (JURNAL PUSAKA,
Vol. 1 No. 1 September-Desember 2013), 72.

15

data-data palsu, imitasi dan gadungan. Bermotif kepentingan-kepentingan


sesaat dan berlatar belakang ideologis tertentu. Data palsu dari matan itu
disebutkan sebagai bagian dari data Hadits secara struktural yang kita
kenal dengan istilah hadits maudlu, walaupun sebenarnya bukan hadits
sama sekali.
Minimnya literatur yang secara khusus membahas ktiritk matn
membuat kesulitan penelitian matn itu sendiri. Berikut akan dijelaskan
beberapa faktor kesulitan dalam penelitian matn :
a. Adanya periwayatan secara makna
b. Beragamnya rujukan yang digunakan sebagai pendekatan.
c. Kesulitan mengidentifikasi latar belakang timbulnya petunjuk hadis
d. Masih adanya kandungan petunjuk hadis yang berkaitan dengan halhal yang berdimensi "supra rasional".
e. Kelangkaan kitab-kitab hadis yang secara khusus membahas penelitian
matn hadis.39
Selanjutnya al-Adlabi menyatakan, bahwa aspek-aspek dalam
metodologi studi kritik matn harus terhindar dari syuzuz dan 'illat.40
Sumber lain seperti yang ditulis oleh Muhammad Zuhri, membahas
tentang kritik matn dan pemahaman terhadap suatu hadis beserta langkah
dan pendekatannya, ruang lingkup pembahasannya juga menyampaikan
kritik matn yang terjadi pada masa sahabat disertai dengan contohcontohnya.41

C. Langkah-Langkah Kritik Hadis


Menurut Mahmud bahwa langkah awal kegiatan penelitian hadis
dikenal dengan istilah at-takhrij. Secara etimologi at-takhrij berarti

39

Penjelasan lebih lanjut lihat Salahuddin ibn Ahmad al-Adlabi. Manhaj Naqdil-Matn, (Beirut
: Dar al-Afaq al-Jadidah, 1403 H/1983M), 20-23. Dalam Ibid.
40
Ibid. dalam Harris Nur Ikhsan, "Kritik Matn Hadis Versi Muhaddisin dan Fuqaha: Studi
Kritis Atas Pandangan Hasjim Abbas", (Skripsi, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga,
Yogyakarta, 2008), 13.
41
Ali Nizar, Memahami Hadis Nabi, (Yogyakarta : Cesad YPI al-Rahmah, 2001). Dalam Ibid.
14.

16

"Berkumpulnya dua perkara yang berlawanan pada sesuatu yang satu". Kata
at-takhrij sering dipopulerkan dengan beberapa pengertian seperti; 1) alistimbat (hal mengeluarkan), 2) at-tadrib (hal melatih, hal pembiasaan), 3). Attaujih (hal memperhadapkan).42
Sedangkan menurut istilah menutup beberapa ulama hadis memiliki
arti sebagai berikut:
1. Mengemukakan hadis kepada orang banyak dengan menyebutkan para
periwayatnya dalam sanad yang telah menyampaikan hadis itu dengan
metode periwayatan yang mereka tempuh.
2. Ulama hadis mengemukakan berbagai hadis yang telah dikemukakan
oleh guru hadis, atau berbagai kitab, atau lainnya. Yang susunannya
dikemukakan berdasarkan riwayatnya sendiri, atau para gurunya, atau
temannya, atau orang lain, dengan menerangkan siapa periwayatnya
dari para penyusun kitab atau karya tulis yang dijadikan sumber
pengambilan.
3. Menunjukkan asal-usul hadis dan mengemukakan sumber
pengambilannya dari berbagai kitab hadis yang disusun oleh para
mukharrij-nya langsung (yakni para periwayat yang juga sebagai
penghimpun bagi hadis yang mereka riwayatkan)
4. Mengemukakan hadis berdasarkan sumbernya atau berbagai
sumbernya, yakni kitab-kitab hadis, yang didalamnya disertakan
metode periwayatannya dan sanad-nya masing-masing, serta
diterangkan keadaan para periwayatnya dan kualitas hadisnya.
5. Menunjukkan atau mengemukakan letak asal hadis pada sumbernya
yang asli, yakni berbagai kitab, yang di dalamnya dikemukakan hadis
itu secara lengkap dengan sanad-nya masing-masing; kemudian, untuk
kepentingan penelitian, dijelaskan kualitas hadis yang bersangkutan.43
Apabila kelima pengertian at-takhrij itu diperhatikan, maka penjelasan
butir pertama merupakan kegiatan yang telah dilakukan oleh para periwayat
seperti imam al-Bukhari dengan kitab Sahih-nya, Imam Muslim dengan kitab
Sahih-nya, dan Abu Daud dengan kitab Sunan-nya.
Uraian pada pengertian at-takhrij yang dikemukakan pada butir kedua
ini dilakukan oleh ulama hadis misalnya Imam al-Baihaqi, ia banyak

42

Mahmud at-Tahhan, Meode Takhrij dan Penelitian Sanad Hadis, Alih bahasa Ridlwan
Nasir. (Surabaya : Bina Ilmu, 1995), 4.
43
Idem. 9.

17

mengambil hadis dari kitab as-Sunan yang disusun oleh Abul-Hasan al-Basri
as-Saffar, lalu al-Baihaqi mengemukakan sanad-nya sendiri.44
Butir ketiga dari pengertian diatas bisa dijumpai pada kitab-kitab
himpunan hadis, seperti Bulughul Maram yang ditulis oleh Ibn Hajar al'Asqalani. Dalam melakukan pengutipan hadis pada karya tulis ilmiah,
mestinya diikuti pengertian at-takhrij pada butir ketiga tersebut, dengan
dilengkapi data kitab yang dijadikan sumber.
Pengertian at-takhrij pada butir keempat dipakai oleh ulama hadis
untuk menjelaskan berbagai hadis yang termuat dalam kitab tertentu, seperti
kitab Ihya' 'Ulumid-Din yang ditulis oleh al-Ghazali (wafat 505 H/1111 M),
yang dalam penjelasannya dikemukakan seacra detail sumber pengambilan
serta kualitas masing-masing hadis.
Dari

keempat

penjelasan

at-takhrij

tersebut

dapat

diperoleh

kesimpulan pengertian untuk melakukan kegiatan penelitian hadis dengan


metode takhrijul-hadis.
Maka yang dimakud takhrijul-hadis disini adalah "Penelusuran atau
pencarian hadis pada berbagai kitab sebagai sumber asli dari hadis yang
bersangkutan, yang di dalam sumber itu dikemukakan secara lengkap matn
dan sanad hadis yang bersangkutan.45

1. Urgensi Takhrijul-Hadis
Penting bagi seorang peneliti hadis untuk melakukan kegiatan
takhrij-hadis, karena tanpa melakukan takhrij-hadis akan sulit mengetahui
asal-usul riwayat hadis yang diteliti, serta ada atau tidaknya korroborasi
(syahid atau mutabi') dalam sanad bagi yang ditelitinya. Dengan demikian
Ismail menguraikan tiga hal pentingnya kegiatan takhrijul-hadis dalam
melakukan penelitian hadis.
a. Untuk mengetahui asal usul riwayat hadis yang akan diteliti
b. Untuk mengetahui seluruh riwayat bagi hadis yang akan diteliti
44

Lihat, idem, 11. az-Zahabi, Kitab Tazkirah al-Huffaz (Hai-derabad : The Dairah 'l-Ma'arif-il
Osmania, 1995 M), 876.
45
Syuhudi Ismail Metodologi Penelitian Hadis Nabi. (Jakarta : Bulan Bintang, 1992), 43.

18

c. Untuk mengetahui ada atau tidaknya syahid dan mutabi' pada sanad
yang diteliti.46
2. Metode Takhrijul-Hadis
Dalam konteks ini, penelusuran hadis tidak semudah menelusuri alQur'an. Penelusuran al-Qur'an cukup diperlukan sebuah kitab kamus alQur'an, seperti kitab al-Mu'jam al-Mufahras li Alfazil-Qur'anil Karim
yang ditulis oleh Muhammad Fu'ad 'Abdul-Baqi, dan sebuah kitab rujukan
berupa mushaf al-Qur'an. Sedangkan untuk menelusuri hadis seperti yang
diungkapan oleh Nasrullah47 bahwa penelusuran hadis diperlukan suatu
kitab kamus hadis yang bisa menjadi panduan praktis bagi penelusuran
sanad hadis. Adapun ke lima kitab tersebut adalah alMu jam al-Mufahras
li Alfaz al-Hadis al-Nabawi dan Miftah Kunuz al-Sunnah karya A.J.
Wensinck, Usul al-Takhrij wa Dirasah al-Asanid karya Mahmud atTahhan, Turuq Takhrij Hadis al-Rasul karya Abu Muhammnad Abdul
Mahdi, dan Cara Praktis Mencari Hadis karya M. Syuhudi Ismail.48
Setelah mengenal beberapa kitab kamus hadis tersebut, maka
langkah selanjutnya adalah mengetahui cara, teknik atau metode dalam
melakukan takhrij al-hadis, yang dapat diklasifikasikan ke dalam dua
macam teknik atau metode takhrij al-hadis.
a. Pertama, metode berbasis teknologi dan informatika (IT) dengan
menggunakan CD ROM Mausu ah al-Hadis al-Syarif dan CD Kitab
al-Alfiyah li al-Ahadis alNabawiyyah. Cara mencari hadis-hadis yang
terdapat dalam program ini relatif lebih gampang, praktis dan efisien,
asal terlebih dahulu harus diketahui prosedur dan arahan dan perintahperintah digital yang terdapat dalam program ini.
b. Kedua, adalah metode konvensional, diantaranya dapat dilihat dalam
model penelusuran yang ditawarkan oleh Ismail.49
46

Idem. 44.
Nasrullah. Metodologi Kritik Hadis: Studi Takhrij al-Hadis dan Kritik Sanad, HUNAFA:
Jurnal Studia Islamika, (Vol 4 edisi 4 Desember, 2007), 410
48
Idem, 408.
49
Syuhudi Ismail Metodologi Penelitian Hadis Nabi. (Jakarta : Bulan Bintang, 1992), 46.
Berikut penjelasannya:
47

19

3. Metode I'tibar
Menurut at-Tahhan kata al-i'tibar
dari kata

adalah bentuk masdar

. Arti i'tibar adalah "peninjauan terhadap berbagai hal

dengan maksud untuk dapat diketahui sesuatunya yang sejenis. 50


Jadi penggunaan metode i'tibar ini adalah untuk mengetahui
keadaan sanad hadis seluruhnya dilihat dari ada atau tidak adanya
pendukung (corroboration) berupa riwayat yang berstatus mutabi'
(periwayat yang berstatus pendukung pada periwayat yang bukan sahabat
nabi)

atau

syahid

(periwayat

yang

berstatus

pendukung

yang

berkedudukan sebagai dan untuk sahabat nabi). Hasilnya akan diperoleh


apakah sanad hadis yang diteliti memilki unsur mutabi' dan syahid atau
tidak.51
Agar langkah i'tibar ini mudah maka perlu dibuat suatu skema
sanad dalam bentuk tabel jalur periwayat sesuai dengan sumber yang
didapatkan dalam proses metode takhrijul-hadis.
Contoh berikut adalah riwayat hadis yang mukharrij-nya Muslim:

1.
Metode Takhrijul-Hadis bil lafz (Penelusuran hadis melalui lafal); kitab yang
dibutuhkan adalah seperti kitab yang ditulis oleh Dr. A.J. Wensinck dkk, alih bahasa
Muhammad Fu'ad 'Abdul Baqi dengan judul . Kitab-kitab
hadis yang menjadi rujukan kamis hadis tersebut adalah sembilan buah, sahih al-Bukhari,
Shahih Muslim, Sunan Abi Daud, Sunan at-Turmuzi, Sunan an-Nasa'i, Sunan Ibni Majah,
Sunan ad-Darimi, Muatta' Malik, dan Musnad Ahmad bin Hambal.
Contoh : Sebuah hadis yang diingat hanyalah bagian lafal matn saja yang berbunyi
. Dengan modal lafal , maka lafal itu ditelusuri melalui halaman kamus
yagn memuat lafal . Setelah diperoleh, lalu dicari kata .
2.
Metode Takhrijul-hadis bil maudu' (penelusuran hadis melalui topik masalah);
untuk saat ini, kitab kamus yang disusun berdasarkan topik masalah yang relatif agak
lengkap adalah kitab yang ditulis oleh Dr. A.J. Wensinck dkk, yang berjudul .
Kitab-kitab yang menjadi rujukan kitab kamus tersebut ada 14 macam, kesembilan kitabnya
sudah termaktub dalam ditambah lagi dengan Musnad Zaid bin 'Ali, Musnad Abi
Daud at-Tayalisi, Tabaqat Ibn Sa'ad, Sirah Ibn Hisyam, dan Magazi al-Waqidi.
50
Mahmud at-Tahan, Taisir Mustalah al-Hadis, (Cet IX. Riyad: Maktabah al Ma`arif, 1417)
140
51
Syuhudi Ismail Metodologi Penelitian Hadis Nabi. (Jakarta : Bulan Bintang, 1992), 52.

20

(Imam Muslim berkata) telah menyampaikan berita kepada kami (dengan


metode as-sama) Abu Bakr bin Abi Syaibah (yang dia menyatakab
bahwa) Waki telah menyampaikan berita kepada kami dengna metode assama, berita itu berasal dari Sufyan. Dan (Imam Muslim juga berkata
bahwa) telah menyampaikan berita kepada kami (dengan metode assama) Muhammad bin al-Musanna (yang dia itu menyatakan bahwa)
Muhammad bin Jafar telah menyampaikan berita kepada kami (dengan
metode as-sama, yang berita itu berasal) dari Syubah. Keduanya (yakni
Sufyan dan Syubah menerima berita) dari Qais bin Muslim (yang berita
itu berasal) dari Tariq bin Syihab. Dan (lafal) hadis ini berdasarkan
riwayat melalui sanad Abu Bakr (bin Abi Syaibah, yakni bahwa Tariq bin
Syihab) berkata: orang yang mula-mula memulai dengan khutbah pada
hari raya sebelum shalat ialah Marwan (bin Hakam). Maka seseorang
berdiri dan berkata: Shalat (harus dilaksanakan) sebelum khutbah.
Orang tadi berkata lagi: Telah ditinggalkan apa yang
seharusnyadilakukan. Abu Said (al-Khudri) menyatakan: Adapun
masalah (shalat dan khutbah hari raya) ini sesungguhnya telah ada
ketetapan padanya. Saya telah mendengar Rasulullah bersabda :
Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka hendaklah ia
mengubahnya dengan tangannya; bila tidak mampu (mengubah dengan
tangan) maka (hendaklah mengubahnya) dengan lisannya; dan bila tidak
mampu juga (mengubah dengan lisannya) maka (hendaklah
mengubahnya) dengan hatinya. Dan yang demikian itu selemahselemahnya iamn.
Hadis di atas diawali dengan

. yang menyatakan kata itu

adalah Imam Muslim yakni Muslim bin Hajjaj al-Qusyaeri al-Naisaburi


(wafat 261 H/875 M), penulis kitab sahih muslim. Karena Muslim sebagai

21

mukharrijul Hadis, maka kapasitasnya dalam hadis ini berkedudukan


sebagai periwayat terakhir untuk hadis tersebut di atas52.
Selanjutnya Ismail menjelaskan urutan periwayat dan urutan sanad
untuk hadis tersebut di atas dalam bentuk tabel.
Nama
Urutan sebagai Urutan sebagai
Periwayat
Periwayat
Sanad
1. Abu Said
Periwayat I
Sanad VI
2. Tariq bin Syihab
Periwayat II
Sanad V
3. Qais bin Muslim
Periwayat III
Sanad IV
4. Sufyan
Periwayat IV
Sanad III
5. Syubah
Periwayat IV
Sanad III
6. Waki
Periwayat V
Sanad II
7. Muhammad bin Jafar
Periwayat V
Sanad II
8. Abu Bakr bin Abi Syaibah
Periwayat VI
Sanad I
9. Muhammad bin al-Musanna Periwayat VI
Sanad I
10. Muslim
Periwayat VII Mukharrijul-hadis53
Lambang-lambang metode periwayatan yang dapat dicatat dari
kutipan riwayat hadis tersebut adalah

dan

. itu berarti

terdapat perbedaan metode periwayatan yang digunakan oleh para


periwayat dalam sanad hadis tersebut.
Huruf

yang terletak antara nama Sufyan dan kata

adalah

singkatan dari kata-kata at-tahwil min isnad ila isnad, artinya perpindahan
sanad yang satu ke sanad yang lain.
Dengan penjelasan di atas maka dapatlah dikemukakan skema
sanad Muslim sebagai berikut :

52
53

Syuhudi Ismail Metodologi Penelitian Hadis Nabi. (Jakarta : Bulan Bintang, 1992), 56.
Syuhudi Ismail Metodologi Penelitian Hadis Nabi. (Jakarta : Bulan Bintang, 1992), 56

22

Gambar 1
Skema Sanad Hadis Riwayat Muslim Tentang Mengatasi Kemungkaran

4. Meneliti Biografi Periwayat dan Metode Periwayatannya


Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya bahwa mengenai
kualitas pribadi periwayat, kriteria yang terpenting adalah adil dan dabit.
Mengenai tingkat kualitas sanad yang melekat dalam pribadi
periwayat, kaitannya erat dengan penelitian biografi periwayat, yang
menekankan pada kualitas pribadi periwayat dalam artian adil, bertakwa
dan sangat menjaga muru ah dalam parameter akhlak keislaman. Pada
ranah ini, perlu melibatkan ilmu jarh wa al-ta dil. Dengan diketahuinya
aspek ini, akan dapat diukur tingkat akuntabilitas periwayatannya. Hal lain
yang ditekankan adalah kualitas kapasitas intelektual periwayat.
Ismail mengungkapkan ada beberapa kriteria adl ada 4 :
a. Beragama islam
b. Mukallaf
c. Melaksanakan ketentuan agama

23

d. Memelihara muruah.54
Kriteria yang kedua adalah sifat ke-dabit-an seorang periwayat.
Periwayat yang dabit ialah periwayat yang hafal dan memahami dengan
sempurna hadis yang diterimanya dan mampu menyampaikan dengan baik
hadis yang dihafalnya kepada periwayat yang lain. Berdasarkan penelitian,
para periwayat yang melakukan periwayatan terhadap hadis mengatasi
kemungkaran melalui jalur Muslim, maka semuanya dipandang sebagai
berkategori siqah (adil dan dabit) dan sanadnya bersambung.55

54

Lihat M. Syuhudi Ismail. Kaedah Kesahihan Sanad Hadis: telaah kritis dan tinjauan dengan
pendekatan ilmu sejarah. (Jakarta : Bulan Bintang, 1988) 113-118.
55
Syuhudi Ismail Metodologi Penelitian Hadis Nabi. (Jakarta : Bulan Bintang, 1992), 108.

24

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Akhirnya, dapat diambil kesimpulan bahwa studi penelitian hadis
merupakan suatu pekerjaan intelektual yang menuntut pengetahuan yang luas,
dan harus didukung oleh referensi yang memadai. Hal ini karena penelitian
hadis, seperti signifikansi kritik hadis, obyek kritik hadis, langkah-langkah
kritik hadis, sangat terkait dengan disiplin studi-studi lain dan memerlukan
tingkat keseriusan dan ketelitian yang tinggi. Selain itu, harus ditopang oleh
aspek kritisisme yang kuat dan cermat, baik dalam lingkup studi historis
maupun ideologis.
Dari aspek signifikansi kritik hadis ini dapat ditarik benang merah
sebagai berikut :
1. Hadis Nabi sebagai salah satu sumber ajaran Islam
2. Tidak semua hadis ditulis pada zaman Nabi
3. Muncul Hadis-Hadis Palsu
4. Rentangan Waktu Proses Penghimpunan Hadis
5. Banyak kitab hadis dengan metode penyusunan yang beragam
6. Terjadinya periwayatan hadis secara makna
Sedangkan dari aspek obyek kritik hadis adalah sanad atau naqd alkhariji (kritik ekstern), dan matan atau naqd al-dakhili (kritik intern).
Untuk melengkapi metodologi penelitian hadis diperlukan langkahlangkah kritik hadis seperti;
1. Metode Takhrijul-Hadis
2. Metode I'tibar
3. Meneliti Biografi Periwayat dan Metode Periwayatannya

25

DAFTAR RUJUKAN

al-Khatib, 'Ajjaj, Muhammad, 1400 H/1980 M. as-Sunnah Qabla atTadwin, Beirut : Dar al-Kutub al-'Ilmiyah
al-Khatib, Karim, Abdul. 1993 M. al-Khilafah wa al-Imarah wa asSiyasah. Beirut : Dar al-Ma'rifah
at-Tahhan, Mahmud, 1995. Meode Takhrij dan Penelitian Sanad Hadis,
Alih bahasa Ridlwan Nasir. Surabaya : Bina Ilmu
Azami, M. Musthafa. 1402 H/1982 M. Manhaj al Naqd Inda al
Muhadditsin: Nasyatuhu wa Tarikhuhu. Riyadh: Syirkah al Tabah
as Suudiyah al Mahdudah
Benny, Afwadzi. 2012. Pemikiran GHA Juynboll tentang teori hadis
mutawatir. Diss. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
Yogyakarta
Farida, Umma. Polemik Penulisan Hadis: Perspektif Michael a. Cook
Dalam the Opponents of the Writing of Tradition in Early Islam.
(http://journal.stainkudus.ac.id/index.php/
riwayah/article/
view/1226.), diakses pada tanggal 10 Oktober 2016.
Hidayat, Komaruddin. 1996. Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian
Hermeneutik. Jakarta : Paramadina
http://personalsadarkelas.blogspot.co.id/2013/01/metodologi-penelitianhadis-nabi-telaah.html. (Oktober, 2016), 1
Ikhsan, Nur, Harris. 2008. Kritik Matn Hadis Versi Muhaddisin dan
Fuqaha: Studi Kritis Atas Pandangan Hasjim Abbas. Skripsi,
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga: Yogyakarta
Ismail, M. Syuhudi. 1988. Kaedah Kesahihan Sanad Hadis: telaah kritis
dan tinjauan dengan pendekatan ilmu sejarah. Jakarta : Bulan
Bintang, 1988
Ismail, Syuhudi, 1992. Metodologi Penelitian Hadis Nabi. Jakarta : Bulan
Bintang
Nasrullah. 2007. Metodologi Kritik Hadis: Studi Takhrij al-Hadis dan
Kritik Sanad, Hunafa: Jurnal Studia Islamika, Vol 4 edisi 4
Desember
Nizar, 2001. Memahami Hadis Nabi, Yogyakarta : Cesad YPI al-Rahmah
Said, Abdurrahman. 2013. Membangun Metodologi Penelitian Matan
Hadis. Jurnal Pusaka, Vol. 1 No. 1 September-Desember
salah, Ibn. 1972. Ulum al-Hadis. Madinah: Maktabah al-Ilmiyyah
Suriani Sudi, Rosni Wazir, Abur Hamdi Usman, Mohd Norzi Nasir,
Zanariah Ismail, Sakinah Salleh, Azman Abdul Rahman. Sejarah
Penulisan Hadis: Pembetulan Fakta Dari Hujah Anti Hadis.
(http://conference.kuis.edu.my/imam2016/eproceeding/1017-imam2016.pdf), diakses pada tanggal 10 Oktober 2016

26

Syarifah, Umayyah, 2014. Kontribusi Muhammad Musthafa Azami Dalam


Pemikiran Hadis (Counter Atas Kritik Orentalis). Ulul Albab: Jurnal
Studi Islam,Vol. 14 edisi.
Tim Penyusun, 2008. Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta : Pusat Bahasa
Yaqub, Mustafa, Ali. 2000. Kritik Hadis. Jakarta: Pustaka Firdaus

27