Anda di halaman 1dari 33

PERAWATAN GIGI PADA PASIEN ANAK DENGAN

KEBUTUHAN KHUSUS

Makalah

Disusun oleh :
Iga Tri Budiarti
Nim: 091611101017

Dosen Pembimbing:
drg. Berlian Prihatiningrum M.DSc. Sp.Kga

BAGIAN PEDODONSIA
RUMAHSAKIT GIGI DAN MULUT
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS JEMBER
2017

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan
makalah tentang Perawatan Gigi Pada Pasien Anak Dengan Kebutuhan Khusu ini
dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya.
Penulisan makalah ini tidak terlepas dari bantuan bimbingan dan
dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis
menyampaikan terimakasih kepada:
1. drg. Niken Probosari, M.Kes sebagai kepala bagian klinik Pedodonsia RSGM
Universitas Jember.
2. drg. Berlian Prihatiningrum, M.DSc. Sp.Kga sebagai dosen bagian klinik
Pedodonsia RSGM Universitas Jember.
3. Seluruh dosen pembimbing klinik Pedodonsia Universitas Jember.
4. Semua pihak yang sudah turut mendukung dalam penyusunan Makalah ini,
yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai Perawatan Gigi Pada Pasien Anak
Dengan Kebutuhan Khusus. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam
makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu,
kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah
kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna
tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami
sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila
terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan
saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.
Jember, Januari 2017
Penyusun

ii

DAFTAR ISI
Halaman Judul.........................................................................................................1
Kata Pengantar........................................................................................................2
Daftar Isi.................................................................................................................3
BAB 1
Pendahuluan............................................................................................................5
1.1 Latar Belakang..................................................................................................5
1.2 Rumusan Masalah.............................................................................................7
1.3 Tujuan...............................................................................................................7
1.4 Manfaat.............................................................................................................8
BAB 2
Tinjauan pustaka.....................................................................................................9
2.1 Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).................................................................9
2.2 Down Syndrome...............................................................................................9
2.3 Cerebral Palsy (CP)..........................................................................................11
2.4 Congenital Heart Diseases (CH D) .................................................................12
2.5 Epilepsi.............................................................................................................12
2.6 Autisme............................................................................................................14
2.7 Kesehatan Gigi pada Anak Berkebutuhan Khusus .........................................15
2.7.1 Kesehatan gigi pada anak berkebutuhan khusus temporer ...................15
2.7.2 Kesehatan gigi pada anak berkebutuhan khusus permanen ..................15
2.7.3 Macam masalah kesehatan gigi anak berkebutuhan khusus..................15
2.7.4 Perawatan gigi yang dapat dilakukan pada anak berkebutuhan
khusus....................................................................................................17
BAB 3
Pembahasan...........................................................................................................19
3.1 Perawatan gigi yang dapat dilakukan pada anak berkebutuhan khusus.........20
3.1.1 Perawatan kuratif dan rehabilitatif.......................................................20
a. Pencabutan gigi anak berkebutuhan khusus.....................................20
b. Penambalan gigi anak berkebutuhan khusus....................................22

iii

3.1.2 Perawatan Preventif...............................................................................24


a. Pemberian fluor..................................................................................24
b. Kontrol Plak.......................................................................................25
c. Penutupan pit dan fissure sealant.......................................................25
BAB 4
4.1 Kesimpulan......................................................................................................30
4.2 Saran................................................................................................................30
Daftar Pustaka.......................................................................................................32

iv

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Kesehatan gigi dan mulut sering kali menjadi prioritas kesekian bagi
sebagian orang. Padahal rongga mulut merupakan pintu gerbang masuknya
kuman dan bakteri, sehingga dapat mengganggu kesehatan organ tubuh
lainnya. Beberapa masalah gigi dan mulut bisa terjadi karena kurangnya
menjaga kebersihan gigi dan mulut misalnya karies atau lubang pada gigi,
karies dapat mengenai siapa saja tanpa mengenal usia. (Kemenkes RI, 2014).
Anak merupakan usia rentan terhadap karies dan penyakit mulut lainnya
karena masih memerlukan bantuan dari orang tua maupun keluarga untuk
membimbing dalam menjaga kebersihan gigi dan mulutnya begitu pula pada
anak berkebutuhan khusus yang memiliki resiko yang sangat tinggi pada
masalah kebersihan gigi dan mulutnya karena memiliki keterbatasan dalam
dirinya. (Indrawati, 2015).
Anak berkebutuhan khusus merupakan kelompok anak yang
mengalami keterbatasan baik secara fisik, mental, intelektual, sosial maupun
emosional, kondisi karakteristik seperti ini berpengaruh terhadap proses
pertumbuhan dan perkembangan anak (Permeneg PP&PA Nomor 10 Tahun
2011). Kondisi tersebut dapat disebabkan oleh kelainan bawaan, penyakit
yang didapat, trauma, ataupun faktor lingkungan. Karakteristik anak
berkebutuhan khusus sangat unik berbeda dengan kelompok anak pada
umumnya sehingga berdampak pada kebutuhan pelayanan yang didapatkan.
Pemberian pelayanan khusus pada kelompok ini bertujuan agar anak
mendapatkan kesempatan berkembang sesuai kondisi fisik, mental dan
potensi masing-masing (Kemenkes RI, 2010). Berlandaskan Pasal 7 Undang
Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang kesejahteraan anak, menyebutkan
bahwa anak berkebutuhan khusus berhak memperoleh pelayanan khusus yang

bertujuan untuk mencapai tingkat pertumbuhan dan perkembangan sesuai


batas kemampuan serta kesanggupan anak yang bersangkutan.
Data Badan Pusat Statistik tahun 2003 menyebutkan bahwa jumlah
anak berkebutuhan khusus di Indonesia sekitar 0,7% dari total jumlah
penduduk sebesar 211.428.572 atau sebanyak 1.480.000 jiwa. Tahun 2007
survei yang dilakukan oleh Pusat Data dan Informasi Departemen Sosial
menyebutkan bahwa jumlah populasi anak berkebutuhan khusus yaitu sekitar
3,11% dari total penduduk Indonesia (Kemenkes RI, 2010). Data-data
tersebut

memberikan

gambaran

adanya

peningkatan

jumlah

anak

berkebutuhan khusus di Indonesia dari tahun ke tahun.


Menurut Shyam (2014) kelompok anak dengan Disabilitas intelektual
(DI) memiliki kebutuhan perawatan gigi dan mulut lebih besar dibandingkan
dengan anak normal pada umumnya, sebagian besar memiliki permasalahan
pada rendahnya status kebersihan gigi dan mulut dan tingginya penyakit
periodontal. Carranza (2006) menyebutkan bahwa penyebab utama penyakit
periodontal yaitu adanya penumpukan bakteri plak pada permukaan gigi.
Produk dari bakteri tersebut dapat menyebabkan kerusakan jaringan epitel
dan jaringan ikat serta sel-sel yang didalamnya.
Menggosok gigi merupakan salah satu bahasan materi pokok
pembelajaran bina diri di SLB (Departemen Pendidikan Nasional, 2007).
Tujuan pembelajaran bina diri atau merawat diri yaitu siswa diharapkan
mampu mengembangkan sikap dan kebiasaan mengurus kebutuhan dasar
secara mandiri dan tidak bergantung pada orang lain atau pengasuh
(Departemen Pendidikan Nasional, 2007).
Perawatan preventif adalah tindakan pencegahan untuk penyakit gigi
dan mulut yang terjadi pada anak berkebutuhan khusus. Pemberian fluor
untuk anak berkebutuhan khusus bisa diberikan secara topikal atau sistematik
dalam bentuk gel. (Susanti, 2014). Penutupan fissure sealant dan pit
merupakan perawatan pencegahan karies pada gigi anak-anak. Sealant
vi

merupakan bahan tambal cair yang digunakan untuk mengisi alur-alur yang
terdapat pada permukaan gigi geraham yang dalam, sehingga sealant tersebut
bisa mencegah partikel makanan masuk ke dalam. Penutupan fissure
sealant dan pit tersebut sangat efektif untuk mencegah terjadinya gigi
berlubang. (Susanti, 2014).
Penambalan maupun pencabutan gigi untuk anak berkebutuhan
khusus atau anak normal pada dasarnya adalah sama, namun jika disertai
dengan adanya kelainan sitematik pada anak maka cara penanganan yang
dilakukan

pun

akan

berbeda

secara multidisipliner dengan

dokter anestesia dan dokter anak. (Susanti. 2014). Kesuksesan perawatan gigi
pada anak berkebutuhan khusus ini juga sangat dipengaruhi oleh kerjasama
antara terapi wicara dan ahli gizi. Penggunaan alat orthodonsi juga bisa
dilakukan pada anak berkebutuhan khusus melalui pertimbangan yang tepat.
(Susanti. 2014).
1.2 Rumusan Masalah
Apakah perawatan yang dilakukan untuk merawat gigi anak dengan
kebutuhan khusus?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Menjelaskan perawatan gigi anak dengan kebutuhan khusus,

pada

orang tua, pengajar dan semua pihak yang berhubungan dengan anak
yang berkebutuhan khusus.
1.3.2 Tujuan khusus
Menjelaskan perawatan yang dilakukan oleh dokter gigi pada anak
dengan kebutuhan khusus.

vii

1.4 Manfaat
1.4.1 Manfaat untuk masyarakat
Memberikan pemahaman perawatan gigi anak dengan kebutuhan
khusus, pada orang tua, pengajar dan semua pihak yang berhubungan
dengan anak yang berkebutuhan khusus.
1.4.2 Manfaat untuk IPTEK
Memberikan informasi kepada para peneliti untuk mengembangkan
ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga dadpat meningkatkan
kesehatan gigi anak dengan kebutuhan khusus.
1.4.3 Manfaat untuk praktisi
Memberikan pemahaman cara perawatan gigi
berkebutuhan khusus pada dokter gigi.

viii

anak dengan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
Anak berkebutuhan khusus adalah yang termasuk anak yang mengalami
hambatan dalam perkembangan perilakunya. Perilaku anak-anak ini, yang
antara lain terdiri dari wicara dan okupasi, tidak berkembang seperti pada
anak yang normal (Muslim, 2006). Macam-macam Anak Berkebutuhan
Khusus (ABK) ABK terdiri dari dua kelompok, yaitu: ABK temporer
(sementara) dan permanen (tetap). Adapun yang termasuk kategori ABK
temporer meliputi: anak- anak yang berada di lapisan strata sosial ekonomi
yang paling bawah, anak-anak jalanan (anjal), anak-anak korban bencana
alam, anak-anak di daerah perbatasan dan di pulau terpencil, serta anak-anak
yang menjadi korban HIV-AIDS. Sedangkan yang termasuk kategori ABK
permanen adalah anak-anak tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa,
tunalaras, Autis, ADHD (Attention Deficiency and Hiperactivity Disorders),
Anak Berkesulitan Belajar, Anak berbakat dan sangat cerdas (Gifted), dan
lain-lain (Hidayat, 2009).
2.2 Down Syndrome
Sindrom Down atau Trisomi 21 merupakan suatu kelainan yang
disebabkan oleh gangguan kromosom dengan manifestasi klinik yang
bervariasi. Mayoritas memperlihatkan kario tipe-tipe penuh (Full Trisomy).
Full trisomymemperlihatkan adanya ekstra kromosom pada kromosom 21, 47
kromosom terdapat pada setiap sel. Sindrom Down tipe mosaik mempunyai
jumlah kromosom normal (46) pada beberapa sel tertentu, sehingga
memperlihatkan karakteristik fisik yang lebih ringan, dan keadaan mental
yang lebih balk. Sindrom Down tipe penuh memperlihatkan tanda klinis yang
lebih berat. Tanda-tanda klinis Sindrom Down, yaitu berat badan lahir rendah,
pendek, mikro cephali, kepala datar, wajah datar, lows etear, ranbut halus
ix

lurus, mata memperlihatkan up slanting of the eye, tangan nenunjukkan meta


karpal

dan

phaangares

sindaktili,

klinodaktili

simian

crease

kaki

memperlihatkan adanya celah (sandal gap)diantara jaripertama dan kedua.


(Welbury, 2001).
Tanda oral yang paling umum adalah, makroglosia fissured dart
geographic tongue, palatum tinggi dan hipotomia. Gigi memperlihatkan
adanya beberapa gigi yang missing, terhambatnya erupsi gigi sulung Juga
terhambatnya exfoliasi gigi. Ukuran gigi lebih kecil beberapa kromoson atau
phalanges. Hipotonia mengakibatkan lidah terjulur, rnulut cenderung terbuka,
dan drooling. Anak sindrom down mengalami delayed dental development.
Perawatan gigi pada anak sindrom Down ditekankan pada preventif penyakit
gigi mulut. (Syarif, 2002).

Gambar 2.1: Ciri-ciri anak dengan down syndrom.


(http://www.beritakeperawatan.com/2016/05/apa-yangmembuat-anak-mengalami.html)

2.3 Cerebral Palsy (CP)


Cerebral

palsy

adalah

istilah

luas

yang

digunakan

untuk

menggambarkan sekelompok gangguan statik nonprogresif yang disebabkan


kerusakan otak yang terjadi pada saat prenatal, selama kelahiran, atau dalam
periode postnatal sebelum sistem saraf pusat mencapai kematangan.
(Welbury: 2001)
Etiologi cerebral palsy Faktor prenatal sebanyak 70% adalah faktor
infeksi, anoksia, toksik, kelainan vaskular, Rh disease, genetik, congenital
malformation of brain. Faktor natal sebanyak 5-10% disebabkan oleh
Anoksia, trauma lahir, dan gangguan metabolik. Faktor Pasca natal
disebabkan oleh trauma, dan infeksi. Masalah gigi yang sering terjadi pada
pasien CP adalah hipoplasia email gigi sulung, index karies dan penyakit
periodontal yang lebih tinggi dari anak normal. Bruxism banyak pada tipe
athetoid dan spastik. Prosedur perawatan gigi preventif harus dilakukan sedini
mungkin dan dokter gigi harus menyediakan waktu lebih, kehati-hatian dan
kesabaran yang lebih dari anak normal. Perawatan gigi pada anak dengan
handicapped umumnya sama dengan perawatan gigi anak normal, dilanjutkan
pemeriksaan berkala 3x dengan program preventif dan home care. (Syarif:
2002).

Gambar 2.2: Gejala cerebral palsy.


(http://www.terapisehat.com/2010/09/cerebral-palsy.html)

xi

2.4 Congenital Heart Diseases (CH D)


Anak dengan penyakit jantung kongenital merupakan kelompok
medically compromised children yang paling banyak dijumpai dokter gigi.
Kelainan jantung dibagi ke dalam dua kelompok utama; penyakit jantung
kongenital yaitu yang dapat terjadi sebelum atau scat kelahiran dan kelainan
jantung dapatan yang dapat terjadi pasca natal. Hampir semua penyakit
jantung pada anak terjadi secara kongenital dengan prevalensi 8-10 per 1000
kelahiran hidup. Etiologi penyakit jantung kongenital dapat merupakan
kombinasi faktor genetik dan lingkungan prenatal, tennasuk infeksi trimester
pertama kehamilan. 35% penderita sindrom down biasanya memiliki penyakit
jantung kongenital dengan derajat ringan sampai berat. (Welbury: 2001)
Perawatan gigi yang dapat mengakibatkan perdarahan seperti
perawatan

endodonlik,

ekstraksi

gigi,

skeling

dapat

rnenimbulkan

bakteriemia. Jika akan dilakukan perawatan yang dapat rnenimbulkan


bakteriemia, maka terapi profilaksis antibiotikdankumurkumur antiseptik
seperti klorheksidin 0,2% harus dilakukan perawatan pulpotomi merupakan
kontraindikasi untuk pasien dengan CHD. (Syarif: 2002).
2.5 Epilepsi
Epilepsi merupakan salah satu gangguan neurologic dengan gejala
adanya serangan yang timbul berulang, yang disebahkan oleh lepasnya
muatan listrik abnormal sel saraf otak. Serangan (Seizure) merupakan gejala
yang dapat terjadi tiba-tiba dan merghilang tiba-tiba pula. Frekwensi serangan
dapat terjadi tiba tiba secara berkala misalnya minimal dua Kali setahun.
Gejala epilepsi dapat berupa kejang yang bersifat tonik maupun klonik,
ataupun Tonik-Klonik ( Grand Mal Seizures), dimana jenis serangan ini
paling banyak terjadi. Serangan ini menunjukan hilangnya kesadaran
penderita, diikuti fase klonik, mengorok atau lidah tergigit. (Syarif: 2002).

xii

Kondisi gigi dan mulut penderita epilepsi tidak mengalami suatu


kelainan khusus yang disebabkan oleh penyakit epilepsy itu sendiri melainkan
disebabkan oleh efek samping obat antikonvulsan, trauma berupa fraktur
gigi/rahang selama serangan terjadi serta terabaikannya perawatan gigi. Efek
samping terapi epilepsy yang sering terjadi adalah xerostomia, hal ini
menyebabkan berkurangnya self cleansing sehingga terjadi penumpukan plak
sehingga mengakibatkan karies. Efek samping lainnya adalah adanya
hiperplasia gusi yang disebabkan oleh penggunaan dilantin. Perawatan gigi
dan mulut pada pasien dengan epilepsy tidak banyak berbeda dengan
perawatan anak normal dengan tatalaksana yang lebih komplek. Sebelum
merawat pasien epilepsi sebaiknya dokter gigi mempelajari dulu jenis
epilepsinya, seringnya serangan dan macamobat yant digunakan. Hal-hal
yang perlu diperhatikan dalam perawatan gigi pasien dengan epilepsy adalah
penyediaan alat mouth props, fingerstd untuk mencegah tergigitnya lidah bila
terjadi serangan dan sebaiknya bracket table diletakkan jauh. (Syarif: 2002).

Gambar 2.3: Gejala epilepsi (Warino: 2017)

xiii

Gambar 2.4: Kejang Tonik dan Klonik pada pasien epilepsy (Syarif:
2011)

2.6 Autisme
Autisme adalah kondisi adanya gangguan perkembangan yang sangat
compleks, yang biasa terjadi di usia 3 tahun, yang menunjukkan gangguan
komunikasi, interaksi sosial dan perilaku. Mereka tidak mampu membentuk
hubungan sosial dan berkomunikasi normal, sehingga terisolasi dari kontak
manusia dan tenggelam dalam dunianya sendiri. Etiologi belum diketahui
pasti tetapi diduga multifactor, dengan gejala dapat ringan sampai berat.
Pencegahan penyakit gigi dan mulut merupakan hal utama yang harus
diterapkan dalam menangani kasus autis. Dianjur pada prang tua agar
melakukan pemeliharaan kesehatan dirumah. Anak autis tidak memiliki
masalah kesehatan gigi yang spesifik, tetapi cenderung memiliki index karies
dan penyakit periodontal yang tinggi. Penanganan di kedokteran gigi
tergantung dari berat ringannya autis. Pada kasus yang ringan bisa dilakukan
dengan pendekatan nonfarmakologis namun untukkasus berat, harus
denganpendekatanfarmakologis. (Syarif, 2002).

xiv

2.7 Kesehatan Gigi pada Anak Berkebutuhan Khusus


2.7.1 Kesehatan gigi pada anak berkebutuhan khusus temporer
Hygiene

adalah

suatu

pencegahan

penyakit

yang

menitikberatkan pada usaha kesehatan perseorangan atau manusia


beserta lingkungan tempat orang tersebut berada. Usaha yang dapat
dilakukan untuk mencegah datangnya penyakit pada hygiene personal
(kesehatan peseorangan) diantaranya sebagai berikut (Widyawati, dkk,
2002).
Rendahnya hygiene personal pada anak jalanan akibat tidur di
jalan dan bekerja di lingkungan tidak sehat merupakan alasan mengapa
anak jalanan mudah terkena penyakit. Salah satunya ialah penyakit gigi
(UNICEF, 2001).
2.7.2 Kesehatan gigi pada anak berkebutuhan khusus permanen
Salah satu kelompok anak berkebutuhan khusus permanen ialah
anak penderita Tuna netra dan penderita tuna netra di Indonesia kurang
lebih 1.5% dari jumlah penduduk. Berdasarkan ketentuan WHO,
dengan besarnya jumlah penderita tuna netra di Indonesia (lebih dari
1%) dapat menyebabkan permasalahan di bidang sosial dan kesehatan.
Kesehatan gigi dan mulut adalah merupakan bagian intregral dari
kesehatan secara umum. Status kesehatan gigi tuna netra sampai saat ini
belum banyak dilaporkan, pihak yang berkompeten (Depkes) sampai
saat ini belum memberikan laporan tentang status kesehatan gigi para
penyandang tuna netra.
2.7.3 Macam masalah kesehatan gigi anak berkebutuhan khusus
Gigi berlubang dan radang gusi dapat terjadi pada semua anak,
namun anak-anak berkebutuhan khusus lebih sering mengalaminya. Hal
ini disebabkan adanya keterbatasan kemampuan kognitif dan mobilitas,

xv

gangguan perilaku dan otot, refleks muntah dan gerakan tubuh tidak
terkontrol. Keadaan inilah yang membatasi anak-anak tersebut untuk
dapat melakukan pembersihan gigi yang optimal dan menempatkan
mereka pada posisi berisiko mengalami masalah kesehatan gigi dan
mulut. (Susanti, 2014)
Masalah kesehatan gigi dan mulut yang sering dialami anak-anak
berkebutuhan khusus
1. Gigi berlubang (karies gigi) disebabkan antara lain oleh kelainan
bentuk dan struktur gigi (anomali), frekuensi muntah atau
gastroesophangeal refluks, jumlah air ludah kurang, pengobatan
yang mengandung gula atau diet khusus yang memerlukan
pemberian susu botol yang diperpanjang dan keterbatasan anak
ataupun kemauan dari orang-orang sekitar untuk membantu
membersihkan gigi dan mulut secara rutin setiap hari.
2. Penyakit jaringan penyangga gigi (periodontal) seperti gusi berdarah,
kegoyongan gigi dan karang gigi. Kondisi ini disebabkan oleh
kebersihan mulut yang kurang diperhatikan karena ketidakmampuan
menggunakan sikat gigi dengan benar, pola makan yang kurang baik
dan efek samping dari obat-obatan yang dikonsumsi. Radang pada
jaringan periodontal yang parah dapat mengakibatkan anak
kehilangan gigi.
3. Maloklusi terjadi karena adanya keterlambatan erupsi gigi, tidak ada
benih gigi, gigi berlebih, gangguan fungsi hubungan otot-otot dalam
mulut dan periodontal sehingga rahang atas maju, gigitan terbuka
dan gigitan silang. Bruksism (ngerot) pada penderita cerebral palsy
mengakibatkan gigi rahang atas maju ke depan. Untuk menangani
bruksism dapat digunakan bite guard.
4. Bernafas melalui mulut (pernapasan mulut kronik) disebabkan oleh
jalan nafas yang lebih sempit sehingga anak berkebutuhan khusus

xvi

cenderung bernafas melalui mulut. Pernafasan mulut kronis ini


menyebabkan ukuran lidah membesar (makroglosia) dan permukaan
lidah beralur dalam dan kering sehingga menimbulkan bau mulut
(halitosis) dan iritasi pada sudut bibir (angular cheilitis). Kondisi ini
akan mempengaruhi fungsi bicara dan pengunyahan.
5. Trauma atau benturan sering terjadi pada anak-anak dengan

gangguan psikososial dan perilaku karena jatuh ataupun kecelakaan.


(Susanti, 2014)
2.7.4 Perawatan gigi yang dapat dilakukan pada anak berkebutuhan
khusus
a. Perawatan Preventif.
Tindakan pencegahan penyakit gigi dan mulut pada anak
berkebutuhan khusus:
1. Pemberian fluor. Pemberian fluor pada anak berkebutuhan khusus
dapat diberikan secara sistemik atau topikal dalam bentuk gel.
2. Kontrol Plak dengan cara menyikat gigi yang tepat, mengatur
pola makan anak dan penggunaan obat kumur. Pada anak
berkebutuhan khusus yang disertai gangguan fungsi otot
pengunyahan biasanya sisa makanan sering kali masih terkumpul
disekitar giginya. Pemberian obat kumur yang tidak mengandung
alkohol dapat digunakan pada anak yang sudah dapat berkumur
untuk membantu membersihkan sisa makanan dan berfungsi
sebagai antiseptik. Pemberian antiseptik bentuk gel juga dapat
diberikan secara rutin.
3. Pembersihan karang gigi
4. Penutupan pit dan fissure sealant. Sealant adalah bahan tambal

cair yang mengisi alur-alur permukaan gigi geraham tetap anak


yang dalam sehingga mencegah partikel makanan masuk.
xvii

Penutupan pit dan fissure sealant efektif mencegah gigi


berlubang. (Susanti, 2014)

b. Perawatan Kuratif dan rehabilitatif.


Penambalan maupun pencabutan pada anak berkebutuhan
khusus maupun normal pada dasarnya sama, namun jika disertai
dengan adanya kelainan sistemik maka penanganannya dilakukan
secara multidisipliner dengan dokter anak dan dokter anestesia.
Kerjasama dengan terapis wicara dan ahli gizi sangat berpengaruh
pada kesuksesan perawatan. Penggunaan alat orthodonsi juga dapat
dilakukan pada anak berkebutuhan khusus dengan pertimbangan
yang tepat. (Susanti, 2014).

xviii

BAB 3
PEMBAHASAN
Untuk mencapai keberhasilan perawatan gigi anak khususnya anak-anak
berkebutuhan khusus diperlukan komunikasi dan kerjasama yang baik antara
dokter gigi, anak dan orang tua. Dokter gigi khususnya dokter gigi anak tidak
dapat bekerja sendiri dalam merawat gigi anak, begitu pula dengan orang tua.
Menjalin kerjasama antara dokter gigi anak dengan orang tua anak dapat
mewujudkan gigi yang sehat sepanjang hidup anak-anak. (Susanti, 2014).
Beberapa hal yang perlu diperhatikan apabila anak berkebutuhan khusus
datang ke dokter gigi antara lain:
1. Sebaiknya sebelum anak mendatangi dokter gigi anak, orang tua datang
terlebih dahulu berkonsultasi, sebab perawatan gigi anak berkebutuhan
khusus

membutuhkan

identifikasi

dini

mengenai

riwayat

medis,

kemampuan kooperatif, pemahaman, adanya tidaknya fobia dan hal-hal


spesifik lain yang penting. Hal ini akan menjadi dasar pemilihan teknik
manajemen tingkah laku yang diberikan pada anak. Pada kasus ringan
dokter gigi anak akan menerapkan teknik non farmakologi, yaitu Tell
Show Do, modelling, positive reinforcement, distraksi, desensitisasi.
Sedangkan pada kasus berat akan dipilih teknik farmakologi seperti sedasi
dan general anastesia.
2. Membuat perjanjian jadwal kunjungan dokter gigi anak terlebih dahulu.
Sebaiknya kunjungan dilakukan pada jam-jam yang tidak terlalu sibuk,
atau dijadwalkan pada urutan pertama agar anak tidak perlu menunggu.
3. Pada anak dengan gangguan psikososial dan perilaku membutuhkan waktu
untuk membiasakan diri dengan lingkungan baru. Oleh sebab itu perlu

xix

kerjasama orang tua dan dokter gigi anak. Pada kunjungan pertama, anak
diperkenalkan dengan dokter gigi anak dan lingkungan perawatannya. Alat
bantu visual seperti gambar sikat gigi, pasta, cara menggosok gigi dan alat
elektronik (kamera) dapat digunakan untuk menumbuhkan sikap positif
anak. (Shella, 2013).
3.1 Perawatan gigi yang dapat dilakukan pada anak berkebutuhan
khusus
3.1.1 Perawatan kuratif dan rehabilitatif.
Penambalan maupun pencabutan pada anak berkebutuhan
khusus maupun normal pada dasarnya sama, namun jika disertai
dengan adanya kelainan sistemik maka penanganannya dilakukan
secara multidisipliner dengan dokter anak dan dokter anestesia.
Kerjasama dengan terapis wicara dan ahli gizi sangat berpengaruh
pada kesuksesan perawatan. Penggunaan alat orthodonsi juga dapat
dilakukan pada anak berkebutuhan khusus dengan pertimbangan
yang tepat. (Susanti, 2014).
a. Pencabutan gigi anak berkebutuhan khusus
Salah satu hal penting untuk management prilaku pada
anak adalah bagaimana dokter gigi dapat mengkontrol rasa sakit
terutama pada saat pencabutan gigi anak. Perlunya kunjungan
berulang

pada

anak

ternyata

dapat

mengurangi

ketidaknyamanan pada saat dilakukan pencabutan gigi. Dalam


hal mengurangi ketidaknyamanan dapat dilakukan dengan
penggunaan topical aplikasi sebelum dilakukan pencabutan
gigi. Sediaan Topical aplikasi bisa terbuat dari gel, liquid,
ointment dan spray, tetapi pada prakteknya banyak dokter gigi
yang lebih menggunakan topical aplikasi gel, liquid, ointment
karena sifatnya yang short acting. (Cristiono: 2012).

xx

Pencabutan gigi anak bisa dimulai dengan terlebih


dahulu menggunakan metode pendekatan baik itu metode tell
sho do, metode distraction, metode modeling dan lain-lain.
Penggunaan metode tidaklah sama diterapkan pada masingmasing anak. Beberapa anak cocok untuk metode tell show do
dan metode modeling tetapi yang lain tidak, factor kematangan
EQ dan IQ juga berpengaruh. Penggunaan kata sakit perlu
kita tekannkan pada anak, karena rasa sakit lebih bisa diterima
oleh anak dibandingkan dengan anak tersugesti bahwa cabut
gigi tidak sakit. (Cristiono: 2012).
Pengalaman cabut pada anak-anak terutama pada
kunjungan pertama sangatlah penting, mengingat kunjungan
pertama kita bisa merubah persepsi anak dari yang tidak
kooperatif menjadi kooperatif dan yang takut terhadap
perawatan dokter gigi akan menjadi tidak takut lagi. Sangat
memprihatinkan jika dokter gigi pada kunjungan pertama
memberikan efek rasa sakit yang berlebihan sehingga membuat
anak tidak bisa menyelesaikan dalam perawatan gigi, yang
akibatnya berbagai macam keluhan timbul dan tidak bisa untuk
dilakukan suatu tindakan. (Cristiono: 2012).
Metode pencabutan dalam mengurangi rasa sakit
bermacam, yang paling penting adalah teknik anestesi. Prinsip
anetesi tidak jauh berbeda dengan teknik anestesi pada orang
dewasa, tetapi pada anak-anak terdapat sedikit modifikasi pada
waktu injeksi ke jaringan. Dalam mengurangi rasa sakit teknik
injeksi difokuskan pada daerah labial dan dilanjutkan ke
palatal/lingual dengan melaui interdental. Penggunaaan citoject
dapat digunakan karena penetrasi ke jaringan sangat kecil
sehingga trauma jaringan dapat dikurangi yang akibatnya dapat

xxi

mengurangi

rasa

sakit

pada

waktu

prosedur anaestesi.

(Cristiono: 2012).
Management rasa sakit pada anak sangatlah penting
terutama pada saat pencabutan gigi, dengan management yang
bagus akan didapatkan hasil yang optimal sehingga anak akan
memperoleh perawatan yang optimal dengan sedikit trauma.
Penguasaan metode pendekatan pada anak dan prosedur anestesi
serta teknik pencabutan juga memegang peranan penting untuk
memperoleh hasil yang diharapkan. (Cristiono: 2012).
b. Penambalan gigi anak berkebutuhan khusus
Salah satu perawatan gigi yang biasanya dilakukan
untuk melindungi gigi susu adalah tambalan gigi susu.
Banyak orang yang menganggap prosedur ini tidak perlu
dilakukan, karena nantinya gigi susu akan tanggal dengan
sendirinya. (Santosa: 2010). Namun, ada beberapa hal yang
menyebabkan perawatan ini menjadi penting.
1. Gigi susu berfungsi sebagai panduan atau penjaga tempat
bagi bagi gigi permanen. Apabila gigi susu telah dicabut
atau tanggal sebelum gigi permanen tumbuh, maka gigi di
sekitarnya dapat berpindah ke posisi yang ditinggalkan
gigi tersebut. Sehingga, nantinya gigi permanen tidak
dapat tumbuh karena dihalangi oleh gigi lain.
2. Gigi susu berperan penting dalam perkembangan pola
bicara anak. Gigi susu yang rusak akibat karies gigi dapat
menyebabkan

masalah

seperti

lisp

(kesulitan

mengucapkan s dan z) atau whistling (bunyi s yang terlalu


panjang), terutama jika kerusakan terjadi pada gigi depan.

xxii

3. Gigi susu dibutuhkan untuk mengunyah makanan. Maka


dari itu, gigi ini sangat penting untuk memastikan anak
tetap mendapatkan gizi yang dibutuhkan. (Wikarna: 2012).
Ada

jangka

waktu

yang

panjang

antara

masa

pertumbuhan gigi susu dan saat gigi susu mulai tanggal. Gigi
susu dapat mulai tumbuh sejak usia 6 bulan sampai 3 tahun dan
mulai tanggal saat anak memasuki usia 5 tahun. Gigi susu yang
terakhir, yaitu geraham belakang, akan mulai tanggal saat anak
berusia sekitar 13 tahun. Maka dari itu, anak yang berusia 1-13
tahun akan membutuhkan tambalan gigi susu. Sebelum gigi
permanen

tumbuh,

ada

banyak

gangguan

gigi

yang

menyebabkan anak membutuhkan perawatan ini. (Wikarna:


2012).
Anak yang memiliki karies gigi akan memerlukan
tambalan gigi susu. Karies gigi biasanya disebabkan oleh
kebiasaan memakan makanan yang manis dan makanan cepat
saji. Gigi susu tidak hanya dimiliki oleh balita dan anak kecil,
namun juga remaja usia 12-13 tahun yang gigi geraham
belakangnya belum tanggal. Gigi geraham belakang lebih
beresiko terkena karies, karena gigi ini yang paling sering
digunakan untuk mengunyah dan gigi terakhir yang tanggal.
Sehingga, pasien juga akan membutuhkan tambalan gigi susu.
(Setiawan: 2016).
Komplikasi dapat terjadi, namun bukan karena prosedur
penambalan gigi, melainkan karena kecemasan anak. Anak yang
cemas dapat sulit dikendalikan dan melukai dirinya sendiri saat
penambalan

gigi.

Supaya

pasien

tidak

cemas,

orangtua

disarankan untuk datang ke klinik gigi lebih awal. Dengan

xxiii

begitu, anak dapat memiliki waktu untuk membiasakan diri


dengan suasana klinik. (Setiawan: 2016).
Di klinik gigi, dokter gigi spesialis anak akan memeriksa
gigi

dan

mencari

gigi

yang

harus

ditambal.

Sebelum

penambalan gigi, dokter gigi dapat memberikan bius lokal,


tergantung pada tingkat keparahan karies gigi. Ia juga dapat
mengoleskan

gel

penghilang

rasa

pada

gusi

sebelum

menyuntikkan obat bius. Setelah efek obat bius mulai terasa,


dokter gigi akan membersihkan karies gigi. Dokter gigi akan
menggunakan bor gigi dan alat pengikis, sedangkan perawat
akan

menyedot

air

dan

serpihan

gigi

dengan

alat

penyedot.Seusai pembersihan gigi, dokter gigi akan menambal


gigi susu yang berlubang. Tambalan gigi yang digunakan dapat
berwarna perak atau seperti warna alami gigi. (Setiawan: 2016).
Untuk memastikan tambalan gigi tidak terlalu tebal,
dokter gigi akan meminta anak untuk mengatupkan giginya dan
menilai apakah ada yang terasa mengganjal. Jika anak merasa
nyaman dengan tambalan giginya, ia akan diminta untuk
berkumur dan perawatan akan diakhiri. (Setiawan: 2016).
3.1.2 Perawatan Preventif.
Tindakan pencegahan penyakit gigi dan mulut pada anak
berkebutuhan khusus:
a. Pemberian fluor.
Pemberian fluor pada anak berkebutuhan khusus dapat diberikan
secara sistemik atau topikal dalam bentuk gel. (Susanti, 2014).
Fluoride sistemik adalah fluoride yang diperoleh tubuh melalui
pencernaan dan ikut membentuk struktur gigi. Fluoride sistemik
juga memberikan perlindungan topikal karena fluoride ada di
xxiv

dalam air liur yang terus membasahi gigi. Fluoride sistemik ini
meliputi fluoridasi air minum dan melalui pemberian makanan
tambahan fluoride yang berbentuk tablet, tetes atau tablet isap.
Namun di sisi lain, para ahli sudah mengembangkan berbagai
metode penggunaan fluor, yang kemudian dibedakan menjadi
metode perorangan dan kolektif. Contoh penggunaan kolektif
yaitu fluoridasi air minum (biasa kita peroleh dari air kemasan)
dan fluoridasi garam dapur. (Herdiyanti: 2010).
Penggunaan fluor sebagai bahan topikal aplikasi telah dilakukan
sejak lama dan telah terbukti menghambat pembentukan asam
dan pertumbuhan mikroorganisme sehingga menghasilkan
peningkatan yang signifikan dalam mempertahankan permukaan
gigi dari proses karies. Penggunaan fluor secara topikal untuk
gigi yang sudah erupsi, dilakukan dengan beberapa cara: Topikal
aplikasi yang mengandung fluor. Kumur-kumur dengan larutan
yang mengandung fluor. Menyikat gigi dengan pasta yang
mengandung fluor. (Herdiyanti: 2010).
b. Kontrol Plak
Kontrol plak dengan cara menyikat gigi yang tepat, mengatur
pola makan anak dan penggunaan obat kumur. Pada anak
berkebutuhan khusus yang disertai gangguan fungsi otot
pengunyahan biasanya sisa makanan sering kali masih
terkumpul disekitar giginya. (Susanti, 2014). Pemberian obat
kumur yang tidak mengandung alkohol dapat digunakan pada
anak

yang

sudah

dapat

berkumur

untuk

membantu

membersihkan sisa makanan dan berfungsi sebagai antiseptik.


Pemberian antiseptik bentuk gel juga dapat diberikan secara
rutin.

xxv

c. Penutupan pit dan fissure sealant.


Sealant adalah bahan tambal cair yang mengisi alur-alur
permukaan gigi geraham tetap anak yang dalam sehingga
mencegah partikel makanan masuk. Penutupan pit dan fissure
sealant efektif mencegah gigi berlubang. (J.H. Nunn et al, 2000).
Tujuan utama diberikannya sealant adalah agar terjadinya
penetrasi bahan ke dalam pit dan fisura serta berpolimerisai dan
menutup daerah tersebut dari bakteri dan debris. Bahan sealant
ideal mempunyai kemampuan retensi yang tahan lama,
kelarutan terhadap cairan mulut rendah, biokompatibel dengan
jaringan rongga mulut, dan mudah diaplikasikan. (Donna Lesser,
2001).
TAHAPAN APLIKASI FISSURE SEALANT BERBASIS
SEMEN IONOMER KACA (Gambar 1-6)
(Dr J. Lucas dalam www. gcasia.info, 2008)

Gambar 1. Gigi molar yang baru erupsi setelah dilakukan


penyikatan guna menghilangkan plak dan debris.

Gambar 2. Pencampuran bahan fissure sealant hingga merata.

xxvi

Gambar 3. Pemberian kondisioner setelah gigi dibersihkan dan


dikeringkan.

Gambar 4. Aplikasi bahan pada pit dan fisura.

Gambar 5. Aplikasi bahan varnish segera setelah aplikasi bahan


selesai.

Gambar 6. gigi molar yang telah dilakukan fissure sealant.

xxvii

TAHAPAN APLIKASI FISSURE SEALANT BERBASIS


RESIN (Gambar 7-12)
(Dr. Crist Bryant dalam Donna Lesser, RDH, BS. 2001)

Gambar 7. Pit dan fisura pada gigi.

Gambar 8. Gigi molar yang telah dilakukan fissure sealant dengan


fissure sealant berbasis resin.

Gambar 9. Bahan fissure sealant berbasis resin (light cure).

xxviii

Gambar 10. Aplikasi sinar tampak untuk membantu proses


polimerisasi fissure sealant berbasis resin

Gambar 11. Gigi-gigi yang telah dilakukan fissure sealant berbasis


resin berwarna pink sebelum polimerisasi.

Gambar 12. Gigi-gigi yang telah dilakukan fissure sealant berbasis


resin sewarna gigi setelah polimerisasi

xxix

BAB 4

4.1 Kesimpulan
1. Perawatan gigi pada anak berkebutuhan khusus maupun normal pada
dasarnya sama, namun jika disertai dengan adanya kelainan maka
penanganannya dilakukan secara multidisipliner.
2. Untuk dapat merawat anak dengan kebutuhan khusus maka dokter gigi
harus mengetahui dengan rinci mengenai riwayat penyakit anak serta
kemampuan anak dalam menerima perawatan.
3. Prosedur perawatan yang paling baik adalah pencegahan penyakit gigi dan
mulut agar dapat mencapai kesehatan gigi dan mulut yang optimal.
4. Keberhasilan perawatan gigi pada anak dengan kebutuhan khusus
diperlukan komunikasi dan kerjasama yang baik antara dokter gigi, anak
dan orang tua.
4.2 Saran
1. Melakukan penelitian lebih lanjut tentang perawatan gigi dan mulut yang
terbaik untuk pasien anak dengan kebutuhan khusus.
2. Pelayanan kesehatan untuk anak berkebutuhan khusus perlu dilaksanakan
melalui sistem pelayanan kesehatan yang ada seperti UKGS (Unit
Kesehatan Gigi Sekolah), puskesmas, dan pelayanan kesehatan lainnya.
3. Perlu diberikan penyuluhan tentang kesehatan gigi dan mulut, serta cara
pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut yang baik bagi anak berkebutuhan
khusus, guru, serta orang tua.

xxx

4. Anak dengan retardasi mental sebaiknya mendapat pendampingan oleh


orang tua/wali atau guru dalam upaya menjaga kebersihan gigi dan
mulutnya.

xxxi

Daftar pustaka

Carranza FA, Newman M.G., 2006, Carranzas Clinical Periodontology, 10th Ed,
St.Louis: W.B. Saunders Elsevier Company.
Christiono, Sandy. 2012. Management Pencabutan Gigi Anak. Semarang:
UNISSULA
Herdiyati, Yetty, dkk. 2010. Penggunaan Fluor Dalam Kedokteran Gigi. Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran
Kementerian kesehatan RI (2014). Pusat Data dan Informasi. Jakarta selatan.
Lesser, Donna, RDH, BS. 2001. An Overview of Dental Sealants. Diakses dari
http://www.adha.org/downloads/sup_sealant.pdf pada 8 Juni 2009
Lucas, J, Dr . 2008. Fuji VII Pink or White. Diakses dari
http://www.gcasia.info/australia/brochures/pdfs/7704_FUJI%20VII_NEW
%20FORMAT.pdf pada 8 Juni 2009
Nunn, J.H. 2000. British Society of Paediatric Dentistry: A Policy Document on
Fissure Sealants in Paediatric Dentistry. International Journal of
Paediatric Dentistry diakses dari http://www.bspd.co.uk/publication-19.pdf
pada 8 Juni 2009
Sentosa, Ivonne Teguh. 2010. http://mommiesdaily.com/2010/04/08/gigi-susuperlu-ditambal/
Setiawan, Harry. 2016. https://www.docdoc.com/id/info/procedure/penambalangigi-susu
Shella, dkk: 2013. kidzdentalcare.blogspot.com/2013/12/tips-merawat-gigi-anakberkebutuhan.html

xxxii

Susanti, Lila. 2014. Perawatan Gigi dan Mulut Bagi Anak Berkebutuhan Khusus.
mitrakeluarga.com/depok/perawatan-gigi-dan-mulut-bagi-anakberkebutuhan-khusus
Syarif, Willyanti. 2002. Kiat Suksesmenangani Pasien Handicapped Dalam
Praktek Dokter Gigi. Bandung: Bagian Ilmu Kedokteran Anak FKG
UNPAD
Shyam, R. Kavita & Govil, D. Stress and Family Burden in Mothers of Children
with Disabilities. International Journal of Interdisciplinary and
Multidisciplinar Studies (IJIMS), 2014, Vol 1, No.4, 152-159. ISSN: 2348
0343.
Welbury RP. 2001. Paediatric dentistry. 2nd ed. New York: Oxford University
Press
Wikarna, Nyoman. 2012. Fungsi Gigi Susu/Sulung. Diakses dari
ttps://denpasardentist.com/ /2012/11/15

xxxiii