Anda di halaman 1dari 5

Hukum Khitan Perempuan

Oleh
TENGKU MUHAMMAD

2010
Hukum Khitan Perempuan
Pertanyaan
Selama ini di masyarakat telah berlangsung sunat bagi anak laki-laki, sedangkan
sunat bagi anak perempuan ada yang melakukannya tapi juga ada yang tidak
melakukannya. Sebenarnya bagaimana hukumnya sunat bagi perempuan?
Jawaban
Ajaran Islam (syari’ah Islamiyah) yang diturunkan Allah SWT adalah merupakan
bentuk dari kasih-sayangNya kepada umat manusia. Ajaran tersebut pada umumnya
sesuai dan sejalan dengan fitrah umat manusia. Salah satu contohnya adalah ajaran
tentang khitan, yang sangat sejalan dengan fitrah manusia, sesuai sabda rasul SAW

‫ب‬ ' ‫ش‬+ ‫ ال‬0‫ص‬2‫وق‬2 ‫ار‬


' ‫ار‬ 6 2‫ال‬6 ‫م‬9 ‫قل'ي‬6 2‫وت‬2 ‫ط‬6' ‫الب‬
' 2 ‫ظف‬ '6 ‫ف‬
9 ‫ت‬6 2‫ون‬2 ‫د‬9 ‫ا‬2‫ د‬6‫ست'ح‬6 ‫و 'ال‬2 ‫ان‬ 6 '‫الف‬6 ‫ن‬6 ‫ 'م‬Q‫مس‬6 ‫خ‬2
9 2‫ال 'خت‬6 ‫ر 'ة‬2 ‫ط‬

“Lima perkara yang merupakan fitrah manusia : 1. sunat (khitan), 2. al-Istihdad


(mencukur rambut pada sekitar kemaluan), 3. memotong kumis, 4. mencukur bulu ketiak,
dan 5. menggunting kuku. (HR Jama’ah dari Abu Hurairah r.a.).
Khitan yang juga sebagai salah satu syi’ar agama Islam mempunyai banyak
hikmah; misalnya dari sisi medis, khitan bisa membersihkan organ tubuh kita. Daerah
kemaluan yang cenderung lembab dan ‘rawan tidak bersih’ karena kemungkinan
tertinggalnya sisa air kencing, dapat diminimalkan dengan dikhitan, sehingga bisa lebih
bersih, dan dengan begitu dapat terhindar dari penyakin kulit. Selain itu, dengan dikhitan
umat manusia juga semakin bisa merasakan nikmatnya, maaf, bersenggama. Karena
saraf-saraf sensitif di sekitar kemaluan tidak terhalang oleh kulit katup kemaluan,
sehingga dapat menimbulkan sensasi lebih ketika bersetubuh (iltiqa al-khitanain).
Pada mulanya, ajaran berkhitan adalah syariat yang dibawa oleh nabi Ibrahim
‘alaihis salam. Kemudian diteruskan oleh agama Islam. Perlu diketahui, bahwa setiap
ajaran yang dibawa oleh nabi terdahulu (syar’u man qablana), kemudian disyariatkan lagi
dengan dimuat dalam al-Quran ataupun as-Sunnah, maka ajaran tersebut juga menjadi
ajaran umat Islam. Dalam hal khitan ini, rasulullah SAW. telah menganjurkannya
sebagaimana termuat dalam hadis di atas, sehingga syariat berkhitan yang awalnya
menjadi syariat umat nabi Ibrahim AS. dengan begitu juga menjadi syariat umat
Muhammad SAW.
Sedangkan dari sisi hukumnya, para ulama sepakat bahwa berkhitan wajib
hukumnya bagi laki-laki, dan sangat dianjurkan hingga mendekati wajib (makramah)
bagi perempuan. Ketentuan hukum khitan ini sebagaimana disebutkan oleh Ibnu
Qudamah sbb :

. ‫ن‬+ ‫ي 'ه‬6 2‫عل‬2 ‫ب‬ 2 ‫ي‬2‫ول‬2 ، ‫سا 'ء‬2 p‫ق الن‬


i ‫وا 'ج‬2 '‫س ب‬6 9 2‫ال 'خت‬6 ‫ما‬+ 2 ‫أ‬2‫ف‬
p ‫ح‬2 ‫ ف'ي‬Q‫مة‬2 ‫ر‬9 ‫ك‬6 ‫م‬2 ‫و‬2 ، ‫جا 'ل‬2 ‫ر‬p ‫ى ال‬2‫عل‬2 Q‫وا 'جب‬2 2‫ان ف‬

“Khitan itu wajib bagi laki-laki, sedangkan bagi perempuan adalah suatu
kemuliaan/kebaikan, tidak wajib bagi mereka” (Ibnu Qudamah, al-Mughni, [Kairo :
Maktabah al-Qohiroh, TT], h. 64)
Khusus terkait dengan khitan bagi perempuan banyak kalangan yang menyatakan
bahwa hal tersebut bisa melanggar hak asasi manusia, karena bisa berdampak negatif
bagi si perempuan tersebut dan dapat menghalangi reaksi seksual bagi perempuan yang
dikhitan.
Sebenarnya persangkaan seperti itu muncul karena ketidak fahaman terhadap
ajaran Islam. Agama Islam mengajarkan kepada kita untuk berperilaku proporsional.
Salah satunya adalah bagaimana bisa mengendalikan diri, termasuk mengendalikan hawa
nafsu. Khitan bagi perempuan diharapkan bisa menjadi rem bagi perempuan untuk
mengontrol hawa nafsunya. Karena menurut riwayat yang shahih, hawa nafsu perempuan
berlipat lebih besar daripada laki-laki, walaupun hal tersebut bisa ditutupi oleh perasaan
malunya yang juga lebih besar daripada laki-laki. Seandainya rasa malu sudah menjadi
suatu hal yang dianggap tidak penting bagi perempuan, maka bisa dibayangkan akan
seperti apa jadinya tatanan sosial yang ada, karena pada dasarnya laki-laki adalah
makhluk yang rapuh sekali dalam menghadapi rayuan perempuan. Maka sekarang
hasilnya sudah mulai terlihat, di mana seks bebas telah menggejala di hampir semua
negara, terutama di kota-kota besar.
Di sisi lain, yang harus digaris bawahi, khitan bagi perempuan yang diajarkan
oleh syariat Islam bukanlah sebagaimana dipersepsikan orang yang menentangnya.
Khitan bagi perempuan menurut ajaran Islam cukup dilakukan dengan hanya
menghilangkan selaput (jaldah/colum/praeputium) yang menutupi klitoris, dan tidak
boleh dilakukan secara berlebihan, seperti memotong atau melukai klitoris (insisi dan
eksisi). Hal ini sebagaimana hadis rasul SAW:

‫ل‬2 ‫ا‬€2‫ق‬2‫ ف‬،2‫ة‬€+‫ع 'طي‬2 ‫م‬0 9‫ا أ‬€2‫ه‬2‫ل ل‬9 ‫ا‬€2‫ق‬9 ،‫ء‬2 ‫ ا‬€‫س‬2 p‫ الن‬9‫خف'ض‬6 2‫ ت‬Q‫ة‬2‫رأ‬2 ‫م‬6 ‫ 'ة ا‬2‫م 'دين‬2 ‫ال‬6 '‫ت ب‬
6 2‫كان‬2 :‫ل‬2 ‫ا‬2‫ ق‬،‫س‬
i ‫ي‬6 2‫اك بن ق‬+
' ‫ضح‬ + ‫ع 'ن ال‬2
‫ى‬€2‫ ظ‬6‫ح‬2‫وأ‬2 ،‫ 'ه‬6‫وج‬2 €‫ل‬6 '‫ر ل‬9 €‫ض‬ 2 ‫ن‬6 2‫ أ‬9‫ه‬+‫إ'ن‬€2‫ ف‬،‫ي‬€‫ن 'ه 'ك‬6 9‫ول ت‬2 ،‫ ي‬€‫ض‬ 6 ‫م‬2 +‫ ل‬€‫س‬2 ‫و‬2 ‫ 'ه‬€‫ي‬6 2‫عل‬2 €9‫ا‬
' '‫"اخف‬: + ‫ى‬+‫صل‬ 2 '‫ا‬+ ‫ل‬9 ‫و‬9‫رس‬2 ‫ا‬2‫ه‬2‫ل‬
."‫ج‬' ‫و‬6 ‫ز‬+ ‫د ال‬2 ‫ن‬6 ‫'ع‬
Dari adh-Dhahhak bin Qais bahwa di Madinah ada seorang ahli khitan wanita
yang bernama Ummu ‘Athiyyah, Rasulullah SAW bersabda kepadanya : “khifadhlah
(khitanilah) dan jangan berlebihan, sebab itu lebih menceriakan wajah dan lebih
menguntungkan suami”. (HR. at-Tabrani dari adh-Dhahhak)

‫م‬2 +‫ ل‬€‫س‬2 ‫و‬2 ‫ي 'ه‬6 2‫عل‬2 9‫ا‬ 6 2‫كان‬2 ”‫ة‬2‫رأ‬2 ‫م‬6 ‫ن ا‬+ 2‫ 'ة أ‬+‫اري‬
2 ‫ي‬0 '‫ب‬+‫ا الن‬2‫ه‬2‫ل ل‬2 ‫ا‬2‫ق‬2‫ 'ة ف‬2‫م 'دين‬2 ‫ال‬6 '‫ن ب‬9 '‫خت‬6 2‫ت ت‬
+ ‫ى‬+‫صل‬ ' ‫ص‬2 ‫ن‬6 2‫ال‬6 2‫ة‬+‫طي‬2' ‫م ع‬p 9‫ن أ‬26 ‫ع‬
‫ل‬6' ‫ع‬2‫الب‬6 ‫ى‬2‫ إ'ل‬0‫حب‬2 2‫وأ‬2 ‫ 'ة‬2‫ أ‬6‫مر‬2 ‫ل‬6 '‫ى ل‬2‫ ظ‬6‫ح‬2‫ك أ‬2 '‫ذل‬2 ‫ن‬+ ' ‫إ‬2‫ن 'ه 'كي ف‬6 9‫ل ت‬2

Dari Ummu ‘Athiyyah r.a. diceritakan bahwa di Madinah ada seorang perempuan
tukang sunat/khitan, lalu Rasulullah SAW bersabda kepada perempuan tersebut: “Jangan
berlebihan, sebab yang demikian itu paling membahagiakan perempuan dan paling
disukai lelaki (suaminya)”. (HR. Abu Daud dari Ummu ‘Atiyyah r.a.)
Tata cara khitan bagi perempuan juga telah dibahas oleh para ulama, misalnya
yang dijelaskan dalam kitab I’anah at-Thalibin:

‫ه‬€€‫ان وتقليل‬€€‫ والمرأة الخ( أي والواجب في ختان المرأة قطع جزء يقع عليه اسم الخت‬:‫)قوله‬
‫رأة‬€€‫ى للم‬€€‫إنه أحظ‬€€‫ي ف‬€€‫ أشمي ول تنهك‬:‫أفضل لخبر أبي داود وغيره أنه )ص( قال للخاتنة‬
،‫وأحب للبعل أي لزيادته في لذة الجماع‬

Yang diwajibkan dalam mengkhitan perempuan adalah memotong bagian yang


harus dikhitan. Diutamakan dalam mengkhitan perempuan untuk menggores sedikit saja
dari bagian yang harus dikhitan, berdasarkan hadis riwayat Abu Daud dan
lainnya: bahwa rasulullah SAW berkata pada tukang khitan perempuan: Khitanlah, dan
jangan berlebihan, sebab yang demikian itu paling membahagiakan perempuan dan
paling disukai lelaki (suaminya), karena menambah nikmatnya bersenggama.
Prof. Wahbah az-Zuhaili dalam bukunya “al-fiqh al-islami wa adillatuhu” juga
berpendapat senada :
“Khitan pada perempuan ialah memotong sedikit mungkin dari kulit yang terletak
pada bagian atas farj (klitoris). Dianjurkan agar tidak berlebihan, artinya tidak boleh
memotong jengger yang terletak pada bagian paling atas dari farj, demi tercapainya
kesempurnaan kenikmatan waktu bersenggama”. (Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami
wa Adillatuhu, [Damaskus : Daar al-Fikr al-Islami] Jilid I, h. 356)
Dengan begitu menjadi jelaslah, bahwa praktik khitan perempuan yang dilakukan
secara berlebihan, yang kemudian memicu reaksi PBB sehingga mengeluarkan
pelarangan praktik khitan seperti itu, sangatlah tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Majelis Ulama Indonesia juga telah mengeluarkan fatwa tentang Khitan
Perempuan ini. Karenanya, saya menganjurkan kepada Anda untuk melihat fatwa
tersebut secara lengkap.