Anda di halaman 1dari 27

1

PENGARUH CEKAMAN SALINITAS TERHADAP PERKECAMBAHAN


DAN PERTUMBUHAN DUA VARIETAS JAGUNG (Zea mays L.) DAN
KEDELAI (Glycine Max L. Merill)

LAPORAN

OLEH:
IRMA HANDAYANI SIHOMBING/130301117
AGROEKOTEKNOLOGI VA

LAB O R AT O R I U M

EKOLOGI

TAN AM AN

PR O G R AM S T U D I AG R O E K O T E K N O LO G I
F A K U L T A S

P E R T A N I A N

U N I V E R S I TAS S U M AT E R A U TAR A
2016

2
PENGARUH CEKAMAN SALINITAS TERHADAP PERKECAMBAHAN
DAN PERTUMBUHAN DUA VARIETAS JAGUNG (Zea mays L.) DAN
KEDELAI (Glycine Max L. Merill)

LAPORAN
OLEH:
IRMA HANDAYANI SIHOMBING/130301117
AGROEKOTEKNOLOGI VA
Laporan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Mengikuti Praktikal Tes di
Laboratorium Ekologi Tanaman Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara, Medan

Disetujui Oleh :
Dosen Penanggung Jawab Laboratorium

(Dr. Nini Rahmawati, SP. MSi)


NIP:19650518 1999203 2 001

LAB O R AT O R I U M

EKOLOGI

TAN AM AN

PR O G R AM S T U D I AG R O E K O T E K N O LO G I
F A K U L T A S

P E R T A N I A N

U N I V E R S I TAS S U M AT E R A U TAR A
2016

3
KATAPENGANTAR
Puji dan Syukur Penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
berkatNyasehinggapenulisdapatmenyelesaikanlaporanini.
Juduldarilaporaniniadalah Pengaruh Cekaman Salinitas Terhadap
Perkecambahan Dan Pertumbuhan Dua Varietas Jagung (Zea mays L.) dan
Kedelai (Glycine Max L. Merill) sebagaisalahsatusyaratuntukdapatmemenuhi
komponen penilaian di Laboratorium Ekologi Tanaman Fakultas Pertanian
UniversitasSumateraUtara,Medan
Pada kesempatan ini Penulis mengucapkan terima kasih kepada
Dr. Nini Rahmawati, SP. M.Si., Dr. Ir. Dra. Chairani Hanum, MP; Ir. Irsal, MP;
Dr.YayaHasanah,SP.M.Si. Ir.Haryati.MP dan serta para asisten yang telah
membimbingPenulissehinggadapatmenyelesaikanlaporanini.
Penulismenyadaribahwapembuatanlaporaninijauhdarisempurna,oleh
karenaituPenulissangatmengharapkankritikdansaranyangsifatnyamembangun.
AkhirkataPenulismengucapkanterimakasih.

Medan,Mei2016

4
Penulis
DAFTARISI
KATAPENGANTAR..............................................................................

DAFTARISI.............................................................................................

ii

PENDAHULUAN
LatarBelakang...............................................................................
TujuanPercobaan...........................................................................
KegunaanPercobaan......................................................................
TINJAUANPUSTAKA
BotaniTanamanKedelaiGlycine max L. Merril) ......................
SyaratTumbuh...............................................................................
Iklim...................................................................................
Tanah..................................................................................
BotaniTanamanJagung (Zea mays L.)..........................................
SyaratTumbuh...............................................................................
Iklim...................................................................................
Tanah..................................................................................
Salinitas...........................................................................................
BAHANDANMETODE
TempatdanWaktuPercobaan.......................................................
BahandanAlat...............................................................................
MetodePercobaan..........................................................................

1
2
2

3
4
4
4
5
6
6
8

10
10
10

PELAKSANAANPERCOBAAN
PersiapanBahan..............................................................................
Pengukuran DHL (ds/m)................................................................
PenanamanBenih...........................................................................
PemberianGaram...........................................................................
PengamatanParameter...................................................................
PersentasePerkecambahan................................................
TinggiTanaman..................................................................
JumlahDaun........................................................................

12
12
13
13
13
13
13
13

HASILDANPEMBAHASAN
Hasil .............................................................................................
Pembahasan....................................................................................
KESIMPULANDANSARAN

14
17

5
Kesimpulan....................................................................................
Saran..............................................................................................

19
19

DAFTARPUSTAKA
LAMPIRAN
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Di Indonesia kedelai mulai dilaporkan pada zaman Rumphius (abad ke17). Pada waktu itu kedelai dibudidayakan sebagai tanaman makanan dan pupuk
hijau. Sampai saat ini di Indonesia kedelai banyak ditanam di dataran rendah yang
tidak banyak mengandung air, misalnya di pesisir Utara Jawa Timur, Jawa
Tengah, Jawa Barat, Gorontalo (Sulawasi Utara), Sulawesi Tenggara dan
Lampung Sumatera Selatan dan Bali (Andrianto dan Indarto, 2004)
Pemanfaatan kedelai oleh masyarakat kita misalnya sebagai bahan
makanan dan ransum ternak peliharaan seperti ayam. Sebagai bahan makanan
pada umumnya kedelai tidak langsung dimasak melainkan diolah terlebih dahulu,
sesuai dengan kegunaannya, misalnya dibuat tempe, tahu, kecap, tauco, dan taoge.
Selain itu, di era industrialisasi saat ini kedelai sudah diolah menjadi aneka bahan
makanan, susu kedelai dan minuman sari kedelai yang kemudian dikemas dalam
botol serta penyedap rasa makanan dengan kandungan prootein yang tinggi (
Andrianto dan Indarto, 2004).
Produksi kedelai dalam negeri dari tahun ke tahun terus merosot. Tahun
1992 luas panen kedelai lokal 1.665.706 hektar dan sembilan tahun kemudian,
tahun 2001 turun menjadi 723.029 hektar. Pada tahun 2005, atau empat tahun
kemudian, luas penen turun lagi menjadi 621.541 hektar dengan produksi 808.353
ton. Tahun 2006 menjadi 580.534 hektar dengan produksi 747.611 ton dan tahun
2007 menjadi 56.824 hektar dengan produksi 598.029 ton atau hanya

6
tinggal 27,4% dari luas panen 1992 (Harian Kompas, 2008).
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Sumatera Utara(2006),
produksi kedelai Sumatera Utara tahun 2005 sebesar15.793 ton atau menurun
40.18 % dibanding produksi tahun 1997 sebanyak 93.303 ton, namun mengalami
kenaikan bila dibandingkan produksi tahun 2003 dan 2004 yang hanya sebesar
10.466 ton dan 12.333 ton.Luas panen juga mengalami kenaikan sejak tahun 2003
dari total 9.910hektar menjadi 13.787 hektar dengan rata-rata produksi per hektar
pada tahun 2003 sebesar 10,56 kw/ha menjadi 11,48 kw/hapada tahun 2005
Lahan pasang surut dan lahan sulfat masam, terutama yang mengalami
reklamasi, umumnya mengandung kadar garam yang tinggi sebagai akibat dari
luapan pasang secara langsung atau resapan penyusupan air laut. Lahan sulfat
masam yang terletak dekat dengan muara laut atau pesisir pantai umumnya
mengandung salinitas tinggi. Kelarutan sulfat yang dihasilkan dari oksidasi pirit
pada lahan yang telah direklamasi akan diikuti oleh peningkatan salinitas
(Noor, 2004)
Jagung adalah bahan pangan bijian yang sangat penting bagi manusia dan
ternak dan memiliki banyak kegunaan sebagai pangan dan non pangan. Di
Amerika Serikat, Kanada, dan Australia tanamaan ini umumnya disebut jagung.
Semula jagung (corin) adalah istilah umum untuk bijian atau sercalia. Sebagian
terbesar penduduk dunia mengenal zea mays sebagai jagung. Dalam hal volume
jagung hanya diungguli oleh gandum dan padi (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).
Dalam upaya peningkatan produksi jagung menghadapi beberapa kendala.
Kendala teknik yang secara umum sering terjadi adalah penerapan komponen
teknologi produksi yang belum dilakukan sesuai anjuran. Hal lain yang

7
mendorong petani menanam jagung adalah jaminan harga yang cukup baik.
Melemahnya rupiah terhadap dollar amerika serikat menyebabkan harga jagung
impor

relatif

mahal

dibanding

harga

jagung

dalam

negeri

(Adisarwanto dan Widyastuti, 2003).


Ekologi merupakan disiplin baru dari biologi yang merupakan mata rantai
fisik dan proses biologi serta bentuk-bentuk yang menjembatani ilmu alam dengan
ilmu sosial. Ekologi mempunyai perkembangan yang berangsur-angsur. Dari
perkembangan itu semakin terlihat bahwa ekologi mempunyai hubungan dengan
hamper semua ilmu-ilmu lainnya. Guna memahami ruang lingkup dan sangkut
pautnya ekologi, persoalannya harus dipandang dari sudut pandang global
(Irwan, 1998).
Salinitas didefinisikan sebagai adanya garam terlarut dalam konsentrasi
yang berlebihan dalam larutan tanah. Pengaruh utama salinitas adalah
berkurangnya pertumbuhan daun yang langsung mengakibatkan berkurangnya
fotosintesis tanaman. Salinitas mengurangi pertumbuhan dan hasil tanaman
pertanian penting dan pada kondisi terburuk dapat menyebabkan terjadinya gagal
panen. Pada kondisi salin, pertumbuhan dan perkembangan tanaman terhambat
karena akumulasi berlebihan Na dan Cl dalam sitoplasma, menyebabkan
perubahan metabolisme di dalam sel. Aktivitas enzim terhambat oleh garam.
Kondisi tersebut juga mengakibatkan dehidrasi parsial sel dan hilangnya turgor sel
karena berkurangnya potensial air di dalam sel. Berlebihnya Na dan Cl
ekstraselular juga mempengaruhi asimilasi nitrogen karena tampaknya langsung
menghambat penyerapan nitrat (NO3) yang merupakan ion penting untuk
pertumbuhan tanaman (Yuniati, 2004).

Tujuan Percobaan
Adapun tujuan percobaan ini adalah untuk mengetahui toleransi tanaman
Kedelai (Glycine max L. Merill) dan tanaman jagung (Zea mays L.) terhadap
cekaman salinitas.
Kegunaan Penulisan
-

Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium
Ekologi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.

TINJAUAN PUSTAKA
BotaniTanamanKedelai(Glycine max L. Merril)
Menurut Sharma (1993)tanaman kedelai diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom : Plantae,Divisio : Spermatophyta, Subdivisio : Angiospermae, Class,
Dicotyledoneae, Ordo : Polypetales Family : Papilionaceae ,Genus : Glycine
Species : Glycine max (L.) Merill
Sistem perakaran kedelai adalah akar tunggang yang terdiri dari akar
utama dan akar cabang. Selain sebagai penyerap unsur hara dan penyangga
tanaman, pada perakaran kedelai iniadalah merupakan tempat terbentuknya
bintil/nodul akar yang berfungsi sebagai tempat bakteri Rhizobium
(Rahman dan Tambas, 1986).
Kedelai adalah tanaman setahun yang tumbuh tegak (tinggi 70-150 cm).
Menyemak

berbulu

halus

(pubescens),

dengan

sistem

perakaran

luas

(Rubatzkydan Yamaguchi, 1998).Waktu tanaman kedelai masih sangat muda,


atau setelah fase menjadi kecambah dan saat keping biji belum jatuh, batang dapat
dibedakan menjadi dua. Bagian batang di bawah keping biji yang belum lepas
disebut hypokotil, sedangkan bagian di atas keping biji disebut epycotyl.
Batang kedelai tersebut berwarna ungu atau hijau (Andrianto dan
Indarto,2004).Terdapat empat tipe daun yang berbeda, yaitu kotiledon atau
daunbiji, daun primer sederhana, daun bertiga, dan daun profila. Daun
primersederhana berbentuk telur (oval) berupa daun tunggal (unifoliat) dan
bertangkai sepanjang 1-2 cm, terletak berseberangan pada buku pertama di atas

10
kotiledon. Daun-daun berikutnya daun bertigatrifoliat), namun adakalanya
terbentuk daun berempat tau daun berlima
(Hidayat dalam Somaatmadja dkk, 1985).
Kultivar kedelai memiliki bunga bergerombol terdiri atas 3-15 bunga yang
tersusun pada ketiak daun. Karekteristik bunganya seperti famili Papilionaceae
lainny, yaitu corolla (mahkota bunga) terdiri atas 5 petal yang menutupi sebuah
pistil dan 10 stamen (benang sari). 9 stamen berkembang membentuk seludang
yang mengelilingi putik, sedangkan stamen yang kesepuluh terpisah bebas
(Poehlman andSleper, 1995)
Banyaknya polong bergantung pada jenisnya. Ada jenis kedelai yang
menghasilkan banyak polong, ada pula yang sedikit. Berat masing-masing biji pun
berbeda-beda, ada yang bisa mencapai berat 50-500 gram per 100 butir biji. Selain
itu warna biji jug aberbeda-beda. Perbedaan warna biji dapat dilihat pada belahan
biji ataupun pada selaput biji, biasanya kuning atau hijau transparan (tembus
cahaya). Ada pula biji yang berwarna gelap kecoklat-coklatan sampai hitam, atau
berbintik-bintik (Andrianto dan Indarto, 2004).
Semua varietas kedelai mempunyai bulu pada batang, cabang, daun dan
polong-polongnya. Lebat atau tidaknya bulu serta kasar atau halusnya
bulutergantung dari varietas masing-masing. Begitu pula warna bulu berbedabeda, ada yang berwarna coklat dan ada pula yang putih kehijauan
(Andrianto dan Indarto, 2004).

11

Syarat Tumbuh
Tanah
Kedelai dapat tumbuh baik pada berbagai jenis tanah asal drainase dan
aerasi tanah cukup baik. Tanah-tanah yang cocok yaitu alluvial, regosol,
grumosol, latosol, dan andosol. Pada tanah-tanah padzolik merah kuning dan
tanah yang mengandung banyak pasir kwarsa, pertumbuhan kedelai kurang baik,
kecuali bila diberi tambahan pupuk organik atau kompos dalam jumlah yang
cukup (Andrianto dan Indarto, 2004).
Kedelai tidak menuntut struktur tanah yang khusus sebagai suatu
persyaratan tumbuh. Bahkan pada kondisi lahan yang kurang subur dan agak asam
pun kedelai dapat tumbuh dengan baik, asal tidak tergenang air yang akan
menyebabkan busuknya akar
(http://www.warintek.bantul.go.id/web.php?mod=basisdata, 2008).
Kedelai termasuk tanaman yang mampu beradaptasi terhadap berbagai
agroklimat, menghendaki tanah yang cukup gembur, tekstur lempung berpasir dan
liat. Tanaman kedelai dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang mengandung
bahan organik dan pH antara 5,5-7 (optimal 6,7). Tanah hendaknya mengandung
cukup air tapi tidak sampai tergenang (Departemen Pertanian, 1996).
BotaniTanamanJagung (Zea mays L.)
Menurut Rukmana (1997), tanaman jagung (Zea mays L.) diklasifikasikan
menjadi sebagai berikut : Kingdom :

Plantae;

Divisio

Spermathopyta;

12
Subsdivisio

Angiospermae;

Kelas

Monocotyledoneaea;

Ordo

:Poales;Famili: Poaceae; Genus: Zea; Spesies: Zea mays L.


Jagung memiliki sistem akar serabut (radix adventica) yaitu akar lembaga.
Akar jagung dapat mencapai kedalaman 8 meter walaupun pada umumnya berada
pada kisaran 2 meter. Pada jagung yang cukup dewasa muncul akar adventif dari
buku-buku batang bagian bawah yang membantu untuk menyokong/menyangga
tegaknya tanaman (Hariyono, 2007)
Batang jagung tidak berlubang, tidak seperti batang padi, tetapi padat dan
berisi oleh berkas-berkas pembuluh sehingga makin memperkuat tegaknya
tanaman. Batang jagung beruas dan pada bagian pangkaal batang jagung beruas
pendeek dengan jumlah ruas berkisar antara 8-21. Jumlah ruas bergantung pada
varietas yang mempunyai panjang batang antara 50-60 cm. Naamun rata-rata
panjang batang pada umumnya antara 100-300 cm (AAK, 1993).
Daun jagung muncul dari buku-buku batang dan kelopak daunnya
menyelubungi ruas batang. Jumlah daun per tanaman berkisar antara 8-48 helai
atau rata-rata 12 helai. Daun berbentuk panjang seperti pita dengan posisi tegak
atau

mendatar

tetapi

bagian

ujungnya

sering

menjuntai

ke

bawah

(Rukmana, 1996).
Bunga jantan terbentuk pada ujung batang dan bunga betina terletak
dibagian tengah batang pada salah satu ketiak daun. Tanaman ini bersifat
potandry, dimana bunga jantan matang lebih dulu antara 1-2 hari dari pada bunga
betina. Letak bunga jantan dan bunga betina terpisah sehingga penyerbukannya
bersifat menyerbuk silang (AAK, 1993).

13
Buah jagung terdiri atas tongkol, biji dan daun pembungkus. Pada buah
jagung terdapat rambut-rambut yang memanjang hingga keluar dari pembungkus
(kelobot), dimana

pada setiap tanaman jagung

terdapat 1-2 tongkol

(Rukmana, 1997).
Biji jagung tersusun dalam barsisan yang melekat secara lurus atau
berkelok-kelok dan jumlahnya antara 8-10 baris biji, bijinya mempunyai bemntuk,
warna dan kandungan endosperm yang bervariasi tergantung pada jenisnya,
dimana terdiri dari 3 bagian utama, yaitu kulit biji, endosperm dan embrio
(AAK,1993).
Syarat tumbuh
Iklim
Tanaman jagung membutuhkan air sekitar 100-140 mm perbulan. Oleh
karena itu, waktu penanaman harus memperhatikan curah hujan dan
penyebarannya. Penanaman dimulai bila curah hujan sudah mencapai 100mm
perbulan. Untuk mengetahui ini perlu dilakukan pengamatan curah hujandan pola
distribusinya selama 10 tahun ke belakang agar waktu tanam dapat ditentukan
dengan baik dan tepat (Murni dan Arief, 2008).
Curah hujan yang ideal untuk tanaman jagung adalah antara 100mm150mm per bulan. Curah hujan paling optimum adalah sekitar 100mm-130mm
dengan distribusi merata. Oleh karena itu, jagung cenderung amat cocok ditanam
di daerah yang beriklim kering. Varietas unggul jagung yang telah di lepas (dirilis)
di Indonesia pada halnya dianjurkan untuk di tanam didataran rendah dibawah
150mdpl (Rukmana, 1997).

14
Suhu yang dikehendaki tanaman jagung untuk pertumbuhan terbaiknya
antara 27 C 30 C. Pada perkecambahan benih jagung memerlukan suhu sekitar
30C. Panen jagung yang jauh pada musim kemarau akan lebih baik daripada
musim hujan karena berpengaruh terhadap waktu pemasakan biji dan pengeringan
hasil (Purwono dan Hartono, 2005).
Jagung dapat ditanam di Indonesia mulai dari dataran rendah sampai
daerah pegunungan yang memiliki ketinggian antara 1.000-1.800 meter dari
permukaan laut. Dikenya jagung dapat tumbuh denagn baik pada ketinggian
antara 1.200 m dan 1.800 m dan di Asia jagung masih dapat tumbuh pada
ketinggian 2.000 m. Jagung yang ditanam di daerah dataran rendah dibawah 800
m dari permukaan laut dapat berproduksi dengan baik (AAK, 1997).
Pertumbuhan tanaman jagung sangat membutuhkan sinar matahari.
Intensitas sinar matahari sangat penting bagi tanaman terutama dalam masa
pertumbuhan. Sebaiknya tanaman jagung mendapatkan sinar matahari langsung.
Dengan demikian, hasil yang akan diperoleh akan maximal. Tanaman jagung yang
ternaungi

pertumbuhannya

akan

terhambat

atau

merana

(Purwono dan Hartono, 2005).


Tanah
Jagung menghendaki struktur gembur dan berdrainase baik. Oleh
karenanya, lahan yang akan ditanami perlu dibajak dan perlu digali 2 kali sedalam
15-20 cm dan diratakan. Pada tanah dengan struktur ringan (porus) seperti tanah
alfisol,negosol, etisol dan oxisol dapat dilakukan pengolahan tanah minimum
(minimum

fillagel)

yakni

(Wirawan dan Wahyuni, 2002).

mengolah

tanah

sepanjang

baris

tanaman

15
Keasaman tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman jagung antara 5,67,5. Kemasaman tanah erat hubungannya dengan ketersediaan unsur hara
tanaman. Pada tanah yang memiliki pH kurang dari 5,5 tanaman jagung tidak bisa
tumbuh maximal karena kerusakan aluminium (Purwono dan Hartono, 2005).
Salinitas
Salinitas atau kegaraman yaitu kadar garam yang dapat diukur secara tidak
langsung dari nilai daya hantar listrik (DHL) suspensinya dengan satuan
mho/cm yang ditera pada suhu 25 0C (Sutedjo, 2004).
Salinitas berkaitan erat dengan keadaan pengerasanyang buruk akibat dari
pengelolaan air yang kurang baik, seperti sistem jaringan pengerasan yang kurang
lancar, fungsi pintu-pintu air yang kurang baik, konstruksi tanggul yang kurang
pejal sehingga rembesan air dapat menembus dinding tanggul, dan kondisi tanah
lapisan bawah yang masih mentah sehingga mudah mengalami runtuhan
(Noor, 2004).
Notohadiprawiro (1999) menyatakan bahwa garam-garam yang ada dalam
tanah terdiri kebanyakan atas berbagai proporsi kation Na, Ca dan Mg serta anion
Cl dan SO4. Penyusun yang biasanya hanya terdapat dalam jumlah sedikit ialah
kation K dan anion bikarbonat, karbonat nitrat, dan borat. Hubungan daya hantar
listrik (DHL) dengan tekanan osmosis dan dengan kadar garam bergantung pada
macam

garam.

Pada

DHL

sama

tekanan

osmosis

meningkat

dalam

urutanMgS4<CaCl2<MgCl2<Na2SO4<NaCldan kadar garam dalam persen


meningkat dalam urutanMgCl2<CaCl2<Na2SO4<MgSO4<CaSO4<NaHCO3.
Rosmarkam dan Yuwono (2002), menyatakan bahwa sumber garam dalam
tanah adalah;

16
1.Hasil pelapukan, umumnya pelapukan menghasilkan klorida, nitrat, sulfat,
karbonat, dan bikarbonat. Proses ini jarang menyebabkan keracunan bagi tanaman
2.Salinasi
3.Pemupukan, pemupukan dengan dosis sangat tinggi mengakibatkan keracunan
tanaman karena kadar garam melebihi ambang batas toleransi tanaman
4.Air laut, air laut merupakan sumber kegaraman terbesar. Tanah yang dekat
dengan laut kadar garamnya tinggi.
Tanah garam adalah nama gabungan jenis-jenis tanah yang hanya
dibedakan atas tiga taraf evolusinya ialah: pada taraf pertama tanah Solonchak,
taraf kedua Solonetz, dan taraf ketiga Solodi. Sigmond menamakannya sodium
soil yang dibedakan atas: (1) saline soil untuk Solonchak (2) salty alkali soil untuk
campuran Solonchak dan Solonetz, (3) leached alkali soils untuk Solonezt
asli, dan (4) degraded alkali soil untuk Solidi. Tanah ini tersebar sebagai tanah
zonal di daerah kering (arid atau semiarid). Di Indonesia jenis-jenis tanah ini
diduga terdapat di Nusa Tenggara terutama di Timor (Darmawijaya, 1992)
Dingus (1999), menyatakan bahwa pada umumnya ada tiga kondisi kimia
yang selalu ada pada perkembangan tanah pada iklim arid.
Kondisi tersebut meliputi, salin, sodik dan salin sodik. Pada tabel berikut di
tunjukkan kriteriayang digunakan untuk mendefinisikan masing-masing kondisi
tersebut.
Suatu tanah disebut tanah alkali atau tanah salin jika kapasitas tukar kation
(KTK) atau muatan negatif koloid-koloidnya dijenuhi oleh >15% Na, yang
mencerminkan unsur ini merupakan komponen dominan dari garam-garam

17
larutyang ada. Pada tanah-tanah ini, mineral sumber utamanya adalah halit (NaCl)
(Hanafiah, 2005).
Tanah-tanah salin dan sodik, yang kini disebut Aridisol, adalah tanah-tanah
daerah iklim kering dengan curah hujan rata-rata kurang dari 500 mm
(20 in.) per tahun. Jumlah H2O yang berasal dari presipitasi tidak cukup untuk
menetralkan jumlah H2O yang hilang oleh evaporasi dan evapotranspirasi.
Sewaktu air luapan ke atmosfer, garam-garam tertinggal dalam tanah. Proses
penimbunan garam mudah larut dalam tanah ini disebut salinisasi. Garam-garam
tersebut terutama adalah NaCl, Na2SO4, CaCO3, dan/atau MgCO3. Dulu tanahtanah yang terbentuk disebut tanah salin, tanah alkali putih, atau solonchak.
Mereka termasuk tipe tanah zonal. Salinisasi dapat juga terjadi secara setempatdan
membentuk tanah salin tipe intrazonal, seperti misalnya tanah-tanah yang
direklamasi dari dasar laut dan tanah-tanah di daerah pantai yang dipengaruhi oleh
pasang surut (Tan, 2004).

18

BAHAN DAN METODE


Tempat dan Waktu Percobaan
Percobaan ini dilakukan di Laboratorium Ekologi Tanaman Fakultas
Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat 25 m
diatas permukaan laut pada 11 April 2016 sampai dengan 30 April 2016.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah benih kedelai
(Glycine max (L.) Merril) sebagai tanaman indikator, pasir yang sudah disterilkan
sebagai media tanam tanaman indikator, garam dapur sebagai sumber salinitas
bagi tanaman, dan air sebagai bahan perendam air dan mengencerkan garam
dapur.
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah cawan petri sebagai
tempat media perkecambahan, erlenmeyer sebagai tempat larutan garam,
handsprayer sebagai alat bantu penyiraman larutan garam, timbangan analitik
untuk menimbang jumlah garam, rol untuk mengukur tinggi perkecambahan,
buku data dan alat tulis untuk menulis hasil pengamatan.
Metode Percobaan
Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan metode Rancangan Acak
Kelompok (RAK) faktorial dengan 2 faktor perlakuan, yaitu:
Faktor 1 : Komoditi (B)
Taraf : V1 = Jagung
V2 = Kedelai

19
Faktor 2 : Konsentrasi garam (G)

Taraf : K0 = tanpa garam


K1 = 1000 ppm
K2 = 2000 ppm
K3 = 3000 ppm
K4 = 4000 ppm
K5 = 5000 ppm
Sehingga diperoleh kombinasi:
V2K0 = pemberian 0 gr (0 ppm)/ liter air pada varietas Kedelai
V2K0 = pemberian 1 gr (1.000 ppm)/ liter air pada varietas Kedelai
V2K0 = pemberian 2 gr (2.000 ppm)/ liter air pada varietas Kedelai
V2K0 = pemberian 3 gr (3.000 ppm)/ liter air pada varietas Kedelai
V2K0 = pemberian 4 gr (4.000 ppm)/ liter air pada varietas Kedelai
V2K0 = pemberian 5 gr (5.000 ppm)/ liter air pada varietas Kedelai

20

PELAKSANAAN PERCOBAAN
Persiapan Media
Media yang digunakan pada percobaan berupa pasir yang telah disterilkan
dengan mengadakan penggongsengan. Setelah disterilkan, pasir diisi ke dalam 20
cup plastik.
Pengukuran DHL (ds/m)

ds/m
NaCl

Air (ml)

(Salinitas)

10 gr

1000

4,51

11 gr

1000

9,67

12 gr

1000

4,66

Perlakuan S1

13 gr

1000

5,63

Perlakuan S2

14 gr

1000

6,59

Perlakuan S3

15 gr

1000

7,69

16 gr

1000

5,41

17 gr

1000

8,85

18 gr

1000

19 gr

1000

8,15

KONTROL

21

20 gr

1000

7,04

Penanaman
Penanaman dilakukan setelah pengisian media pada cup. Ditanam lima
benih masing-masing pada cup untuk setiap komoditi tanaman.
Pemberian garam
Pemberian larutan garam diberikan setelah penanaman benih. Pemberian
larutan garam dilakukan setelah 7 hst dengan menggunakan jarum suntik hingga
media perkecambahan lembab. Pemberian larutan garam dilakukan setiap hari
selama pengamatan parameter tanaman.
Pengamatan Parameter
Laju Perkecambahan (%)
Pengambilan parameter laju perkecambahan dilakukan pada hari ketujuh
setelah tanam. Penghitungan dilakukan dengan menghitung jumlah benih yang
berkecambah pada setiap harinya.
Tinggi tanaman (cm)
Pengambilan parameter tanaman dilakukan pada sembilan hari setelah
tanam hingga dua puluh sembilan hari setelah tanam. Pengukuran dilakukan dari
awal keluarnya kecambah hingga ujung perrkecambahan.
Jumlah Daun
Pengambilan parameter tanaman dilakukan pada sembilan hari setelah
tanam hingga dua puluh sembilan hari setelah tanam. Pengukuran dilakukan
dengan menghitung daun yang telah terbuka sempurna.

22

HASILDANPEMBAHASAN
Hasil
PARAMETER
WAKTU
PENGA
MATAN
(HST)
3 HST
4 HST
5 HST
6 HST
7 HST
8 HST
9 HST
10 HST
11 HST

: Tinggi Tanaman (cm)


PERLAKUAN

K1S0

K1S1

K1S2

K1S3

K2S0

K2S1

K2S2

K2S3

K3S0

K3S1

K3S2

K3S3

34
26.05
27.9
28.9
32.35
40.85
33.6
41.4
40.4

13.5
34.1
36.1
33.3
31.6
27.85
33.5
28.2
23.25

28.7
13.25
15.25
14.25
13.75
13.7
13.45
13.75
16.65

28.75
29.15
29.5
28.5
27.7
29.2
22.35
29.1
15.5

19.05
19.5
19.95
20.3
20.7
21.3
22.1
22.3
22.8

17.6
17.85
18.25
18.6
18.9
19.35
20.1
20.3
20.6

2.5
2.8
3.4
3.9
4.2
4.7
5.2
5.3
5.6

28.8
29.1
29.45
29.65
29.95
30.25
30.55
31.1
31.4

7.45
13.8
18.3
21.05
24.15
27.05
29.7
16.95
17.05

7.35
13.3
18.4
22.85
23.75
26.4
27.45
27.6
27.85

5.15
8.15
11.3
14.8
16.8
19.2
26.1
26.35
26.6

6.8
11.45
14.25
18.4
21.85
14.3
14.4
-

PARAMETER
WAKTU
PENGA
MATAN
(HST)
3 HST
4 HST
5 HST
6 HST
7 HST
8 HST
9 HST
10 HST
11 HST

: Jumlah Daun (helai)


PERLAKUAN

K1S0
2
2
2
2
2
2
2
2
2

K1S1 K1S2 K1S3 K2S0 K2S1 K2S2 K2S3 K3S0 K3S1


1
2
2
2
2
2
2
2
1

1
1
1
1
1
1
1
1
1

1
2
2
2
2
2
2
2
1

1
1
2
2
2
2
2
2
2

1
1
1
1
2
2
2
2
2

0
0
0
0
1
1
1
1
1

2
2
2
2
2
2
2
2
2

0
0
0
1
1
2
2
2
2

K3S2

K3S3

0
0
0.5
1
1
2
2
2
2

0
0
0
1
1
1
1
1
1

0
0
0.5
1
1
2
2
2
2

Pembahasan
Tinggi tanaman kedelai yang paling tinggi terdapat pada perlakuan K1S0
yaitu 40,4 cm dan yang terendah terdapat pada perlakuan K1S3 dengan tinggi
15,5 cm. Hal ini terjadi karena pada perlakuan K2S1 konsentrasi garam yang
diberikan adalah 13 mL dengan DHL 4,66 ds/m dimana konsentrasi ini termasuk

23
konsentrasi yang cukup tinggi sehingga tanaman kedelai tidak dapat mentolerir
pertumbuhannya. Hal ini sesuai dengan literatur Hasibuan (2010) yang
menyatakan bahwa kendala-kendala utama yang dihadapi dalam usaha
pemanfaatan tanah salin ialah kadar garam yang tinggi (salinitas) yang terlarut
dalam tanah, sehingga mengganggu proses penyerapan air dan unsur hara yang
pada akhirnya menghambat pertumbuhan tanaman.
Jumlah daun yang paling banyak Pada kedelai adalah 3 helai pada
perlakuan K1S0, K2S0, K2S3 dan yang paling sedikit adalah sebanyak 1 helai
yaitu pada perlakuan K2S1, K1S2,K1S3,K2S2.Hal ini terjadi karena cekaman
salinitas juga dapat mempengaruhi jumlah daun, sehingga semakin tinggi
konsentrasi salinitas maka jumlah daun atau pertumbuhan tanaman semakin
menurun. Hal ini sesuai dengan literatur

Mapegau (2006) yang menyatakan

bahwa berkurangnya serapan air mempengaruhi proses fotosintesis, metabolisme


karbohidrat, dan pergerakan fotosintat dalam tanaman. Perubahan-perubahan
tersebut dapat berakibat bagi rendahnya hasil.
Tinggi tanaman Jagung yang paling tinggi terdapat pada perlakuan K4S3
yaitu 36,25 cm dan yang terendah terdapat pada perlakuan K3S3 dengan tinggi
14,4

cm. Hal ini terjadi karena tanah bergaram (salinitas) yang tinggi

menyebabkan akar tidak maksimal menyerap unsur hara yang ada pada tanah
tersebut sehingga akar akan memanjang terus untuk mencari unsur hara yang akan
diserap pada tubuhnya. Hal ini sesuai dengan literatur Russel (1988) tanah salin
secara normal tidak menunjukkan perubahan terhadap penampilan penurunan
struktur tanah. Akan tetapi berimplikasi pada penyediaan unsure hara dalam tanah.

24
Tanah salin tidak bisa dilepaskan dari keadaan yang menyebabkan akar tanaman
sulit untuk menyerap unsur hara.
Jumlah daun yang paling banyak Pada jagung adalah 2 helai dan terendah
adalah 1 helai.. Hal ini terjadi karena pada konsentrasi salinitas yang tinggi
volume akar akan bertambah karena telah menyerap unsur hara mikro yang
berlebihan sehingga menyebabkan toksik pada akar tanaman kedelai. Hal ini
sesuai dengan literatur Fither dan Hay (1995) yang meyatakan bahwa pengaruh
ion spesifik-konsentrasi Na+ dan Cl- yang tinggi akan berakibat toksik untuk
banyak sel, dan Mg2+, SO42- dan banyak yang lain dapat juga menyebabkan
kematian. Untuk dapat mengambil air dari larutan tersebut suatu tanaman yang
resisten harus mencapai potensial intraselular yang lebih rendah lagi.

25

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
1. Tinggi tanaman kedelai yang paling tinggi terdapat pada perlakuan K1S0
yaitu 40,4 cm dan yang terendah terdapat pada perlakuan K1S3 dengan tinggi
15,5 cm.
2. Jumlah daun yang paling banyak Pada kedelai adalah 3 helai pada perlakuan
K1S0, K2S0, K2S3 dan yang paling sedikit adalah sebanyak 1 helai yaitu
pada perlakuan K2S1, K1S2,K1S3,K2S2.
3. Tinggi tanaman Jagung yang paling tinggi terdapat pada perlakuan K4S3
yaitu 36,25 cm dan yang terendah terdapat pada perlakuan K3S3 dengan
tinggi 14,4 cm.
4. Jumlah daun yang paling banyak Pada jagung adalah 2 helai dan terendah
adalah 1 helai.
5. Salinitas sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan suatu
tanaman.
Saran
Sebaiknya dalam pengambilan datanya dilakukan secara rutin agar
diperoleh data yang akurat.

26

DAFTAR PUSTAKA
AAK. 1993. Teknik Bercocok Tanan. Kanisius, Yogyakarta
Adisarwanto, T. 2005. Kedelai. Penebar Swadaya, Jakarta.
Adisarwanto, T dan Y. E. Widyastuti. 2003. Meningkatkan Produksi Kedelai
di Lahan Kering, Sawah, dan Pasang Surut. Penebar Swadaya, Jakarta.
Andrianto, T.T dan N. Indarto, 2004. Budidaya dan Analisis Usaha Tani Kedelai,
Kacang Hijau, Kacang Panjang. Absolut, Yogyakarta. hlm: 15-17
Fither, A.H., dan Hay, R.K.M. 1995. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Kanisius,
Jakarta.
Hasibuan, B. E., 2010. Pengelolaan Tanah dan Air. Universitas Sumatera Utara,
Medan.
Irwan, Z.D. 1998. Ekosistem Komunitas dan Lingkungan. Bumi Aksara, Jakarta.
Manahan, S.E. 1998. Environmental Chemistry. Fourth Edition. Brook/Cole
Publishing Company, California.
Mapegau. 2006. Pengaruh Salinitas Tanah Terhadap Hasil Dan Distribusi Bahan
Kering Pada Tanaman Jagung Kultnar Arjuna Selama Fase Pengisian Biji.
Diakses pada tanggal 2 April 2011.
Murni, A. M. dan R. W. Arief. 2008. Teknologi Budidaya Kedelai. Badan
Penelitian Dan Perkembangan Pertanian, Jakarta
Notohadiprawiro, T. 1998. Tanah dan Lingkungan. Direktorat Jendral Pendidikan
Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Medan.
Noor, M., 2004. Lahan Rawa, Sifat dan Pengelolaan Tanah Bermasalah Sulfat
Masam. Raja Grafindo Persada, Jakarta. hlm: 144-14
Purwono, M. S. dan R. Hartono. 2005. Bertanam Kedelai Unggul. Penebar
Swadaya, Jakarta.
Rubatzky, V.E., dan Yamaguchi, M. 1998. Sayuran Dunia. ITB Press, Bandung
Rukmana, R., dan Yuniarsih, Y. 1996. Kedelai Budidaya dan Pasca Panen.
Kanisius, Jakarta.

27
Rukmana, R . 1997. Usaha Tani Jagung. Kanisius, Yogyakarta.
Rukmi. 2009. Pengaruh Pemupukan Kalium Dan Fosfat Terhadap Pertumbuhan
Dan Hasil Kedelai. Diakses pada tanggal 2 April 2011.
Russel, E. 1988. Soil Condition and Plant Growth. Longmass, London
Suin, N.M. 2002 Metoda Ekologi. Universitas Andalas Press, Padang.
Sulistyowati, E. Sumartini, S. dan Abdurrakhman. 2010. Toleransi 60 Aksesi
Kapas Terhadap Cekaman Salinitas Pada Fase Vegetatif. Diakses pada
tanggal 2 April 2011.
Suprapto, H.S. 1992. Bertanam Kedelai. Penebar Swadaya, Jakarta.
Thompson, H.C., and Kelly, W.C. 1957. Vegetable Crops. McGraw-Hill Book
Company, New York.
Wirawan, B. dan S. Wahyuni. 2002. Memproduksi Benih Bersertifikat. Penebar
Swadaya, Jakarta