Anda di halaman 1dari 13

Kesehatan mental pada hipertensi: menilai gejala anxietas,

depresi, dan distress pada kepatuhan terhadap pengobatan antihipersensiti.


Irene A Kretchy1,2*, Frances T Owusu-Daaku1 and Samuel A Danquah3
Abstrak
Latar belakang: Para pasien dengan keadaan kronis seperti hipertensi dapat
mengalami banyak emosi negatif yang meningkatkan risiko berkembangnya
gangguan kesehatan mental terutama cemas (anxietas) dan depresi. Bagi para
pasien berkebangsaan Ghana yang menderita hipertensi, interaksi antara hipertensi
dan gejala cemas, depresi, dan distress tetap tidak tereksplorasi secara luas. Untuk
mengisi terjadinya kesenjangan ini penelitian diperlukan untuk mengetahui
meratanya dan peran dari emosi-emosi negatif tersebut terhadap kepatuhan
pengobatan antihipertensi pada sistem kepercayaan pasien.
Metode: Penelitian cross sectional berbasis rumah sakit yang melibatkan 400
pasien hipertensi yang diadakan di dua rumah sakit tersier di Ghana. Data
dikumpulkan berdasarkan karakteristik sosio-demografis pasien, gejala cemas
(anxietas), depresi, distress, kepercayaan spiritual, dan kepatuhan pengobatan.
Hasil: Para pasien hipertensi mengalami gejala anxietas (56%), distress (20%),
dan depresi (4%). Sebagai sebuah mekanisme koping, hubungan yang signifikan
diantara kepercayaan spiritual dan cemas diobservasi (x2 = 13.352, p = 0.010),
depresi (x2 = 6.205, p = 0.045) dan distress (x2 = 14.833, p = 0.001). Distress
pada pasien meningkatkan kemungkinan ketidakpatuhan terhadap pengobatan
mereka [odds ratio (OR) = 2.42 (95% CI 1.06 5.5), p = 0.035].
Kesimpulan: Penelitian telah menunjukkan perlunya dokter klinik untuk
memperhatikan emosi negatif dan peranannya pada ketidakpatuhan pasien
terhadap pengobatan. Sarannya adalah perhatian harus diarahkan pada jalur
spiritual sebagai mekanisme yang memungkinkan emosi-emosi negatif itu dapat
terjadi di antara pasien hipertensi.
Kata kunci: Hipertensi, emosi negatif, ketidaktaatan terhadap pengobatan,
spiritual, Ghana.

Latar belakang
Seperti kelompok penyakit yang bersifat infeksi hingga tidak menular,
hipertensi merupakan prekursor pokok penyakit kardiovaskular dan penyebab
utama kematian secara global [1,2]. Sekitar 80% penyakit ini, terekam di negaranegara dengan pendapatan rendah dan menengah dan proyeksi mengindikasikan
bahwa angka kematian penyakit tidak menular paling tinggi akan terekam di
negara-negara tersebut tahun 2020 [3]. Pengaruh hipertensi kira-kira 25% pada
populasi bangsa Ghana di pedesaan dan 20% di perkotaan [4] dan 11% - 42%
kebangsaan Afrika [2,5-7]. Meratanya hipertensi global dari 26% diperhitungkan
naik hingga 29% tahun 2025 [8].
Seperti pasien dengan kondisi medis kronis, pasien hipertensi mengalami
banyak emosi yang sangat dalam yang meningkatkan risiko perkembangan
gangguan kesehatan mental terutama kegelisahan dan depresi [9,10]. Pentingnya
penanganan hipertensi diperlukan pasien untuk mengikuti terapi farmakologis dan
non-farmakologis dan emosi-emosi negatif tersebut dapat berlawanan dengan
sikap kepatuhan terhadap pengobatan [11].
Cemas dan angka kepatuhan yang lebih rendah telah diobservasi berupa
asma, gagal jantung, hemodialisis, dan penggunaan kontrasepsi [12-15], meskipun
Kim el al. [16] memperlihatkan kepatuhan yang lebih besar pada mayoritas pasien
mereka yang mengalami gangguan cemas.
Depresi secara global dikatagorikan sebagai suatu penyakit yang berat [17]
dan meskipun umum, sebagian besar tidak terdiagnosis pada pasien hipertensi
[18]. Beberapa hubungan telah diobservasi di antara depresi dan ketidakpatuhan
terhadap terapi serta terhadap terapi medis [19,20] pengobatan dalam jumlah yang
besar terdaftar sebagai salah satu faktor yang berkontribusi untuk perkembangan
gejala depresi pada hipertensi [21]. Tetapi tidak semua penelitian berhasil
menunjukkan hubungan di antara gejala-gejala depresi dan kepatuhan pengobatan
[14,22].
Distress karena kondisi medis kronis berpotensi mempengaruhi tingkah
laku kepatuhan terhadap pengobatan; namun, penelitian-penelitian sebelumnya
terhadap faktor-faktor emosional kepatuhan sangat terfokus pada depresi dan

cemas[12,14]. Pada lingkungan kedokteran, distress telah berulang digunakan


sebagai eufemisme untuk emosi-emosi negatif, utamanya untuk memberikan
penamaan diagnostik psikiatrik yang tak diinginkan [23]. Distress secara negatif
mempengaruhi sikap patuh terhadap pengobatan pada HIV/AIDS [24] dan
sindrom koroner akut [25]. Bukti secara empiris menunjukkan distress pada
serangan dan keadaan buruk hipertensi esensial [26], namun terdapat kekurangan
informasi yang menghubungkan stres dan kepatuhan terhadap pengobatan pada
penanganan hipertensi.
Gambaran hubungan kausal antara kegelisahan, depresi, dan distress, pada
hipertensi dan kepatuhan terhadap pengobatan mungkin sulit [19]; tetapi di sisi
lain, dengan melihat hubungannya, dapat menurunkan usaha lebih jauh untuk
menangani pokok ketidakpatuhan pada pengobatan. Bagi pasien kebangsaan
Ghana yang menderita hipertensi, interaksi di antara hipertensi dan gejala-gejala
kegelisahan, depresi, dan distress tetap tidak tereksplorasi dengan luas dan tidak
dipahami secara lengkap tentang kelaziman dan dampak ketaatan terhadap
pengobatan. Untuk mengisi kesenjangan pengetahuan ini, penelitian diperlukan
untuk mengungkap 1) apakah pasien hipertensi menunjukkan gejala-gejala
kegelisahan, depresi, dan distress; 2) apakah individu yang mengalami gejalagejala kegelisahan, depresi, dan distress lebih mungkin tidak mentaati pengobatan
dibandingkan pasien tanpa gejala-gejala tersebut; dan 3) apakah sistem
kepercayaan pasien mempunyai hubungan dengan gejala-gejala kegelisahan,
depresi, dan distress.

Metode
Rancangan penelitian dan tata cara
Penelitian cross-sectional berbasis rumah sakit digunakan. Penelitian
dilakukan pada dua dua rumah sakit pendidikan besar di Ghana; Korle-Bu
Teaching Hospital (KBTH), Accra dan Komfo Anokye Teaching
Hospital (KATH), Kumasi. Penjelasan tempat penelitian telah
dilaporkan sebelumnya [27].

Peserta
Dua ratus (200) pasien hipersensitif yang diobati di rumah sakit masingmasing direkrut dari KBTH dan KATH. Terpenuhinya syarat untuk ikut serta
dalam penelitian ini berdasarkan: diagnosis hipertensi saja atau hipertensi dengan
keadaan yang tidak wajar, melaporkan pemberian sedikitnya satu obat
antihipertensi selama paling sedikit dua bulan dengan usia paling rendah delapan
tahun. Sampel tidak melibatkan wanita hamil (karena kemungkinan hipertensi
gestasional yang dapat berubah setelah kelahiran), baru mendiagnosis pasien
seperti ketidakmampuan secara fisik dan mental [27].
Pengukuran
Setelah persetujuan tertulis, alat penilaian kuantitatif terstandardisasi
digunakan untuk mengumpulkan data secara bersamaan dari pasien-pasien
hipersensiti di KBTH dan KATH antara bulan Mei dan Oktober 2012. Informasi
mencakup tiga wilayah: i) karakteristik demografis; ii) pengukuran kegelisahan,
depresi, dan distress menggunakan Morisky Medication Ketaatan Scale [29]; dan
iv) Skala Perspektif Spiritual [30]. Peserta ditanyai usia, jenis kelamin, tempat
tinggal, keanggotaan religius, status pernikahan, tingkatan pendidikan, dan durasi
diagnosis hipersensiti.
DASS merupakan inventarisasi laporan diri 21 item yang mengukur
keadaan emosional negatif berupa depresi, kegelisahan, dan distress. Tiap ketiga
skala terdiri atas tujuh item dengan kandungan yang terhubung. Subskala depresi
menilai disforia, keputusasaan, devaluasi kehidupan, depresiasi diri, dan
kurangnya ketertarikan/keterlibatan, anhedonia, inersia. Subskala kegelisahan
menilai kemunculan autonom, dampak otot rangka, kegelisahan situasional, dan
pengalaman subjektif pada dampak kegelisahan. Subskala distress mengukur
kesulitan relaksasi, perasaan gugup, agitasi, irritabilitas, dan ketidaksabaran. Para
peserta diminta menggunakan skala keparahan 4 poin atau frekuensi untuk
menilai tingkat kondisi negatif yang mereka alami selama minggu sebelumnya.
Reliabilitas untuk tiga skala adalah 0.71 untuk depresi, 0.79 untuk cemas, dan
0.81 untuk distress [28]. Subskala kegelisahan DASS mempunyai koefisien

korelasi sebesar 0.81 dengan Beck Anxiety Inventory sedangkan subskala depresi
DASS sebesar 0.74 dengan Beck Depression Inventory [31,32].
MMAS merupakan skala 8 item untuk mengukur sikap kepatuhan terhadap
pengobatan pada pasien hipertensi dan responnya dikategorisasikan menjadi
kepatuhan rendah (<6), kepatuhan sedang (6-<8), dan kepatuhan tinggi (8). Skor
rendah dan sedang dikelompokkan sebagai tingkat kepatuhan lemah [33].
SPS sepuluh item mengukur persepsi kepercayaan para pasien berdasarkan
interaksi yang berhubungan secara spiritual. Skor di atas atau di bawah rerata
secara respektif menampilkan keterlibatan spiritual yang tinggi dan rendah. SPS
telah reliabel secara konsisten dengan Cronbachs alpha di atas 0.90 [34].
Analisis
Data yang dikumpulkan dari penelitian kemudian dianalisis menggunakan
Statistical Package for Social Sciences (SPSS) versi 20. Statistika deskriptif
digunakan untuk menampilkan karakteristik para peserta. Cemas, depresi, distress,
dan kepatuhan terhadap pengobatan demikian halnya tingkat spiritual dinilai
menggunakan uji chi-square dan model regresi logistik.
Etika
Izin etis dari komite etika institusional untuk KBTH dan KATH diperoleh
sebelum pelaksanaan penelitian. Kode persetujuan etis adalah NMIMR-IRB CPN
044/10-11and CHRPE/AP/022/12

secara respektif.

Hasil dan pembahasan


Karakteristik sampel
Ringkasan karakteristik sampel (rerata dan standar deviasi) pasien
hipertensi ditampilkan di Tabel 1. Kira-kira 63% adalah wanita, 33% berusia 50
hingga 59 tahun, 64% menikah, 90% Kristiani dan 54% mempunyai pendidikan
sekolah menengah. Dari ini kira-kira 80% telah menderita hipertensi selama 10
tahun, 42% memiliki faktor komorbiditas (Penyakit penyerta), dan 60% menderita
diabetes. Anxietas, depresi, dan stres tidak dilaporkan pada kondisi kesehatan
dengan (faktor komorbid) penyakit penyerta. Ini diharapkan bahwa emosi negatif

biasanya tidak dilibatkan pada komorbiditas yang dilaporkan oleh pasien [35]; dan
mungkin secara terpisah berdasarkan kurangnya informasi medis yang memadai
yang diberikan ke pasien. Penemuan ini bahwasnya walaupun terinterpretasi
didalam keterbatasan pikiran , komorbiditas tersebut dilaporkan sendiri dan tidak
diperoleh dari dokter klinik atau dari rekaman kesehatan pasien.
Anxietas (cemas) dan ketaatan
Anxietas pada umumnya terjadi pada pasien hipertensi (57%). Hasil ini
memperkuat prevalensi Anxietas yang tinggi yang ditemukan pada pasien
hipertensi di negara-negara lainnya seperti Afrika Selatan, China, dan Argentina
[10,36,37]; sehingga hal tersebut menunjukkan adanya anxietas pada hipertensi
meskipun terdapat perbedaan secara budaya. Anxietas pada hipertensi dapat
mengakibatkan risiko morbiditas dan mortalitas sebagai hasil dari permasalahan
kardiovaskular [38]. Meskipun ini tidak diukur pada lingkup penelitian ini,
anxietas mungkin, sebagian, terhubung secara spesifik dengan pengobatan atau
kondisi kesehatan kronis [39]. Kira-kira 93% peserta kurang patuh terhadap
pengobatan anti-hipertensi mereka (Tabel 1). Meskipun penelitian sebelumnya
telah membahas tentang hubungan anxietas dan kepatuhan pengobatan [12,14-16]
penelitian ini tidak mengobservasi seberapa signifikan hubungan antara anxietas
dan kepatuhan pengobatan hipertensi (x2 = 3.887, p = 0.421), [(OR) = 1.6 (0.7
3.66), p = 0.262];
Tabel 1 Karakteristik sampel penelitian
Variabel
Jenis kelamin
Laki-laki
Perempuan
Usia
<20
20-29
30-39
40-49
50-59
60-69
70
Status pernikahan
Lajang
Menikah

Frekuensi

Persentase

149
251

37,25
62,75

1
12
20
71
130
105
61

0.25
3.00
5.00
17.75

39
254

9.75
63.50

26.25
15.25

Janda
Cerai/pisah
Co-habiting
Pendidikan
No formal
Dasar
Menengah
Atas
Kepercayaan
Kristian (spiritual)
Kristian (Kharismatik/Pantekosta)
Kristian (Ortodox)
Muslim
Kepercayaan Tradisional Afrika
Lainnya
Jumlah tahun menderita hipertensi
10 tahun
11-20 tahun
21-30 tahun
31-40 tahun
41-50 tahun
Tingkatan ketaatan
Rendah
Sedang
Tinggi

73
25
9

18.25
6.25
2.25

48
33
217
102

12.00
8.25
54.25
25.50

18
166
174
20
4
18

4.50
41.50
43.50
5.00
1.00
4.50

318
49
20
12
1

79.50
12.25
5.00
3.00
0.25

323
50
27

80.75
12.50
6.75

namun penemuan kita sehubungan dengan anxietas memanggil para dokter klinik
untuk mengambil tindakan kritis dalam mencari adanya gejala emosional negatif
pada pasien hipertensi yang mengalami anxietas (Tabel 2,3,dan 4).
Tabel 2 Distribusi derajat gejala depresi, kegelisahan, dan stres
Kondisi
emosional
Depresi
anxietas
Stres
Jumlah yang

Normal
N (%)
358 (89.50)
129 (32.25)
259 (64.75)
banyak/tinggi

Sedikit
N (%)
25 (6.25)
46 (11.50)
59 (14.75)
tampak pada

Sedang

Parah

Sangat parah

N (%)
N (%)
N (%)
12 (3.00)
4 (1.00)
1 (0.25)
140 (35.00) 44 (11.50)
41 (10.25)
52 (13.00) 26 (6.50)
4 (1.00)
pasien yang mengalami gejala anxietas

sedang hingga sangat parah (225), diikuti oleh stres (82) dan depresi (17).
Depresi dan kepatuhan
Tingkatan gejala depresif sedang hingga sangat parah yang mendapatkan
perhatian klinis ditemukan pada 17 peserta penelitian (4%) (Tabel 2). Informasi

ini bersifat penting karena dampak depresi yang meningkat pada pokok penyakit
secara global [17]. Tetapi, depresi di antara pasien hipertensi biasanya tidak
terdiagnosis [35]. Sebagai konsekuensinya, pasien mungkin lepas dari pengobatan
klinis komprehensif yang mengambil kesehatan mental mereka sebagai suatu
pertimbangan. Berlawanan dengan penelitian-penelitian lain yang mengobservasi
para peserta dengan depresi menunjukkan kemungkinan ketidakpatuhan terhadap
pengobatan lebih tinggi [16,20,40], hubungan ini tidak diobservasi pada penelitian
sekarang (x2 = 0.004, p = 0.950) yang menarik kesimpulan yang sama seperti
penelitian Schweitzer et al. [14] dan Corvera-Tindel et al. [22]. Penelitianpenelitian ini menunjukkan tidak adanya hubungan antara dua variabel pada
pasien gagal jantung kronis. Hasil penelitian hubungan antara depresi dan
ketidakpatuhan mungkin tidak meyakinkan berdasarkan jumlah kecil peserta pada
penelitian ini yang menunjukkan gejala depresi. Tetapi, ini esensial bagi dokter
klinik untuk memperhatikan gejala-gejala emosional negatif ini karena dengan
lebih memperhatikan mereka akan lebih jauh memperkecil usaha untuk mengatasi
penyakit kronis secara global (umum).
Distress dan kepatuhan
Penelitian pada determinan emosional kepatuhan terhadap pengobatan
utama telah difokuskan pada gejala-gejala anxietas dan depresi; tetapi kejadian
distress yang signifika telah dilaporkan menjadi responsibel (berpengaruh)
terhadap hipertensi [41,42]. Kita melaporkan 82 pasien (20%) menunjukkan skor
sedang dan sangat parah akan gejala-gejala distress yang memerlukan perhatian
dan pengobatan klinis (Tabel 2). Sama dengan penelitian-penelitian sebelumnya
tentang HIV/AIDS [24] dan sindrom koroner akut [25], distress berhubungkan
dengan ketidakpatuhan terhadap pengobatan pada peserta penelitian (x2 = 5.936,
p = 0.037). Pasien yang mengalami distress lebih mungkin tidak patuh
dibandingkan dengan tingkat distress rendah atau tidak ada [(OR)= 2.42 (1.065.5), p = 0.035]. penjelasan yang mungkin adalah pasien yang menunjukkan
gejala-gejala distress lebih rentan terhadap dampak negatif pengobatan mereka
dan bisa menghentikan pengobatan. Observasi ini mendukung lebih jauh lagi
tentang

perlunya

penyedia

kesehatan

di

wilayah

ini

untuk

terutama

memperhatikan kepatuhan pasien yang mengalami distress terhadap pengobatan


atau secara potensial dapat dipengaruhi oleh distress tersebut.
Tabel 3 Hubungan di antara karakteristik emosional negatif dan
ketidakpatuhan terhadap pengobatan
Variabel
Chi-square
nilai p
Depresi
0.004
0.950
Anxietas
3.887
0.421
Distress
5.936
0.037
Pada p<0.05, distress berhubungan secara signifikan dengan ketidaktaatan
terhadap pengobatan. Depresi dan anxietas tidak menunjukkan suatu hubungan
yang signifikan terhadap ketidakpatuhan pengobatankarena p>0.05.
Hubungan di antara spiritualitas dan anxietas , depresi dan distress
Spiritualitas menunjukkan hubungan signifikan dengan tingkat anxietas
yang lebih rendah (x2 = 13.352, p = 0.010), depresi (x2 = 6.205, p = 0.045) dan
distress (x2 = 14.833, p= 0.001) (Tabel 5). Atribut spiritual yang kuat tersebut
mungkin telah memperbolehkan pasien lebih baik mengatasi dengan masalahmasalah emosional ketika mempunyai keadaan kronis, seperti hipertensi.
Kesehatan spiritual yang lebih besar telah ditemukan berhubungan dengan gejalagejala kegelisahan, depresi, dan distress yang lebih sedikit [43-46]. Sebagian
besar penelitian tersebut berhubungan dengan pasien yang sakit secara terminal
tetapi, hasil penelitian telah menunjukkan penerimaan terhadap peran spiritual
yang berkurang pada pengalaman emosional yang bisa diterapkan pada pasien
hipertensi dan melalui perluasan, pasien dengan kondisi kronis lainnya.
Beberapa batasan diakui. Pertama, penelitian ini dilakukan hanya pada
rumah sakit tersier, demikian pasien dengan hipertensi di Ghana yang mencari
pengobatan medis dari fasilitas kesehatan lain tidak diperoleh. Kedua, penggunaan
ukuran subyektif pada ketidakpatuhan terhadap pengobatan dapat memberikan
estimasi ketidakpatuhan yang salah. Penelitian selanjutnya dapat melengkapi
laporan kepatuhan pasien dengan penilaian kepatuhan yang objektif.
Tabel 4 Model regresi logistik untuk gejala-gejala emosional yang negatif dan
ketidaktaatan terhadap pengobatan

Variabel
Gejala kegelisahan (ada: tidak ada)
Gejala depresif (ada: tidak ada)
Gejala distress (ada: tidak ada)
Diatur untuk karakteristik demografis dan klinis.

OR

95% CI

nilai

1.6
0.81
2.42

0.7-3.66
0.1-6.29
1.06-5.5

p
0.262
0.837
0.035

Tabel 5 Hubungan spiritualitas dengan gejala-gejala depresi, kegelisahan,


dan stres yang dialami oleh pasien hipersensitif
Variabel
Spiritualita

Depresi

Kegelisahan

Stres

X2

X2

X2

6.205

nilai p
0.045

13.352

nilai p
0.010

14.833

nilai p
0.001

Kesimpulan
Pasien hipertensi menunjukkan gejala-gejala anxietas, depresi, dan
distress. Ini secara tidak langsung menyatakan bahwa keadaan hipertensi pada
pasien dan perlunya kepatuhan terhadap pengobatan anti-hipertensi merupakan
suatu tuntutan psikologis pada kesehatan mereka. Demikian, meskipun hipertensi
dapat dilihat sendiri sebagai masalah biomedis, pengalaman pasien dengan
tuntutan hidup karena hipertensi mengakibatkan masalah kesehatan mental. Ini
mengilustrasikan hubungan di antara masalah biomedis dan perkembangan
gangguan psikologis. Lebih jauh, spiritualitas menolong pasien menanggulangi
gejala emosional ketika menderita hipertensi; penyakit kronis. Selain itu, perlunya
mengadopsi perspektif yang luas dari segala arah terkait permasalahan kesehatan
di Ghana menjadi sesuatu yang nyata seperti yang tercermin dalam penemuanpenemuan ini. Keterlibatan dokter klinik, farmasi, ahli psikologi klinis/kesehatan,
pemuka agama, dan perawat menjadi penting dalam meredakan masalah
ketidakpatuhan dan perkembangan kualitas hasil yang tidak variatif pada pasien
hipertensi. Perhatian dapat diarahkan pada spiritualitas sebagai mekanisme yang

memungkinkan menanggulangi kemunculan dari emosi negatif yang dialami


pasien hipertensi.

Tugas tambahan
Rannie kusuma (2011730086)
1.

Mekanisme terjadinya hipertensi pada Menopause :


Pada orangtua umumnya terjadi hipertensi dengan sistolik terisolasi yang

berhubungan dengan hilangnya elastisitas arteri dan merupakan bagian dari proses
penuaan. Pada masa menopause, terjadi pengurangan hormone esterogen, atau bahkan
beranjak pada defisiensi esterogen. Perubahan ini dapat meningkatkan risiko
kardiovaskuler secara tajam. Penurunan produksi esterogen ovarium biasanya terjadi pada
usia 50 tahunan, akibat hilangnya fungsi ovarium akan menyebabkan berkurangnya
sampai hilangnya hormone estradiol yang diproduksinya. Estradiol mempunyai potensi
ostrogenik

yang

paling

kuat

dan

merupakan

bagian

yang

terbesar

dari

esterogen.kehilangan estradiol ini akan menimbulkan penurunan fungsi alat tubuh,


gangguan penurunan metabolism diantaranya metabolism lipid. Perubahan metabolism
ini akan menyebabkan peningkatan aktivitas lipoprotein lipase, sehingga akan terjadi
penumpukan lipid, disamping itu juga akan terjadi penurunan aktivitas reseptor LDL.

Dengan demikian akan terdapat keadaan dyslipidemia, dimana terjadi gangguan


metabolism lipid yang ditandai dengan tingginya kadar kolesterol total, LDL, kolesterol
dan atau trigliserida plasma atau kombinasi dengan atau tanpa disertai rendahnya HDL.
Keadaan dyslipidemia ini adalah salah satu faktor penyakit jantung coroner.
Aorta dan arteri koronaria merupakan pembuluh darah yang paling sering
mengalami aterosklerosis. Aterosklerosis adalah suatu proses dimana terjadi penimbunan
lemak dan matriks tunika intima, yang diikuti oleh pembentukan jaringan ikat pada
dinding pembuluh darah arteri. Dalam keadaan ini aorta menjadi kaku dan akhirnya
menyebabkan peningkatan tekanan darah sistolik dan penurunan volume aorta, yang pada
akhirnya akan menurunkan volume dan tekanan diastolic. Pada orang-orang tua,
pengukuran tekanan sistolik yang meningkat ini lebih signifikan karena dapat
menunjukkan kekakuan arteri besar, terutama aorta, efeknya bisa menyebabkan
kerusakan jantung, ginjal serta otak.
Wanita, berusia 45 sampai 56 tahun yang sudah 6 tahun mengalami menopause
memiliki risiko paling tinggi untuk mengalami pulse wave velocity yang mengindikasikan
terjadinya kekakuan arteri yang menyebabkan peningkatan tekanan darah sistolik pada
wanita menopause. (Zaydun et all,2006)
Selain efek protektif hormone seks wanita, sensitifitas garam pada tekanan darah
meningkatkan risiko terjadinya hipertensi dan penyakit kardiovaskuler. Terjadi hubungan
terbalik antara pasca menopause antara hormone ovarium yang beredar dengan
sensitivitas garam. Berkurangnya kadar hormone ovarium dalam darah, meningkatkan
sensitifitas terhadap diet garam. Hal ini menjadi awal terjadinya hipertensi pasca
menopause. (Schulman,2006)
Pada wanita pasca menopause sensitivitas terhadap garam meningkat, karena
hormone seks wanita berperan dalam pengaturan natrium ginjal dan tekanan darah.
Terjadi keseimbangan (homeostatic) antara

Nitritoxide (NO), Angiotensin II,

dan

Reactive Oxygen Species terhadap natriuresis. (Schulman,2006)


Tekanan hemodinamik ginjal, reabsorbsi natrium di tubular, stress oksidatif
memainkan peranan penting dalam meningkatkan sensitivitas garam dan kerusakan organ
akibat hipertensi. Tres oksidatif merupakan keadaan yang tidak sseimbang antara jumlah
molekul radikal bebas dengan antioksidan didalam tubuh. Esterogen meningkatkan
aktivitas dan ekspresi nitritoxide serta angiotensin II. Setelah menopause , kekurangan

esterogen menyebabkan ketidakseimbangan antara nitritoxide dan angiotensin II sehingga


menyebabkan gangguan keluar masuknya natrium ginjal, stress oksidatif dan hipertensi
terutama yang bersifat genetic pada manusia. (Schulman,2006)
Menurut The WHO Cardiovascular Disease and Alimentary Comparison Study,
terdapat hubungan yang kuat antara kadar natrium dan tekanan darah perempuan pasca
menopause. Hal ini disebabkan karena sebelum menopause wanita sudah mempunyai
sensitivitas terhadap garam sehingga perubahan hormonal yang terjadi setelah menopause
meningkatkan sensitivitas garam. (Schulman,2006)
Esterogen endogen secara langsung dapat menyebabkan vasodilatasi renal dan
menurunkan efek filtrasidengan cara meningkatkan bioavabilitas nitritoxide dan
menghambat efek angiotensin II pada hemodinamik glomerular dan tonus arterio eferen.
Interaksi penting antara esterogen, nitritoxide, angiotensin II dan reactive oxygen species
di dalam pembuluh darah dan ginjal memegang peranan penting terhadap pathogenesis
dari peningkatan tekanan darah post menopausal. (Schulman,2006)