Anda di halaman 1dari 49

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG
Penyakit Campak adalah penyakit yang bersifat akut dan menular yang

disebabkan oleh virus morbili. Campak merupakan penyakit yang ditandai dengan
adanya gejala seperti demam, pilek, batuk, mata yang sakit dan merah, serta ruam
yang meluas ke seluruh tubuh yang berlangsung selama 4 hingga 7 hari. Apabila
penyakit ini tidak tertangani dengan baik, maka komplikasi yang terjadi dapat
berupa infeksi telinga, diare, pneumonia dan radang otak.1
Penyakit campak merupakan salah satu penyebab kematian pada anak
anak di seluruh dunia yang meningkat sepanjang tahun. Pada tahun 2013 terdapat
145.700 kematian di dunia akibat penyakit campak dan sekitar 400 kematian
setiap hari terjadi pada anak-anak usia dibawah lima tahun. Pada tahun 2014
terdapat 242.000 kematian karena campak atau 27 kematian terjadi setiap jamnya.
Kematian campak yang meliputi seluruh dunia pada tahun 2015 adalah 197.000
dengan interval 141.000 hingga 267.000 kematian dimana 177.000 kematian
terjadi pada anak-anak usia dibawah lima tahun. Lebih dari 95% kematian campak
terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dengan infrastruktur kesehatan
lemah (WHO, 2015).
Pada

sidang

WHO

(World

Health

Organization)

tahun

1996

menyimpulkan bahwa campak dimungkinkan untuk dieradikasi, karena satu


satunya pejamu (host) atau reservoir campak hanya manusia. Eradikasi akan dapat
dicapai 10-15 tahun setelah di eliminasi. Menurut World Health Assembly (WHA)
pada bulan Mei 2010 menyepakati target pencapaian pengendalian penyakit
campak pada tahun 2015 yaitu : mencapai cakupan imunisasi campak dosis
pertama > 90% secara nasional dan minimal 80% diseluruh kabupaten/ kota.
Menurunkan angka morbiditas campak menjadi kurang dari 90% penduduk setiap
tahunnya dan menurunkan angka mortalitas menjadi kurang dari 95%. Beberapa
negara seperti Amerika, Australia dan beberapa negara lainnya telah memasuki

tahap eliminasi campak (cakupan imunisasi sangat tinggi dan kasus campak
jarang terjadi) (WHO, 2014).
Menurut regional and global summaries of measles incidence WHO tahun
2008, angka insidens campak di wilayah South-East Asia (SEARO) adalah 75.770
(WHO, 2008). Masalah kematian campak di dunia yang dilaporkan pada tahun
2008 sebanyak 777.000 dan 202.000 di antaranya berasal dari negara ASEAN
serta 15% dari kematian campak tersebut berasal dari Indonesia (Depkes RI,
2006). Menurut Profil Kesehatan Indonesia (2012), Indonesia merupakan Negara
ASEAN yang memiliki kasus penyakit campak terbanyak dengan jumlah 15.489
kasus, urutan kedua terbanyak adalah Thailand dengan 5.197 kasus, sedangkan 8
negara ASEAN lainnya memiliki jumlah lebih sedikit dan tidak lebih dari 3.000
kasus. Berdasarkan World Health Statistic, WHO (2013), di Indonesia ada
151.000 kematian anak-anak di bawah usia 5 tahun dan 5% nya disebabkan
karena penyakit campak. Pada anak-anak dalam kondisi garis batas kekurangan
gizi, campak sering kali sebagai pencetus terjadinya kwarshiorkor akut dan
eksaserbasi defisiensi vitamin A yang dapat menyebabkan kebutaan (Depkes RI,
2012). Berdasarkan riset kesehatan dasar Indonesia tahun 2007, prevalensi
nasional campak (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden)
adalah 1,8% (Depkes RI, 2007).
Indonesia pada saat ini berada pada tahap reduksi dengan pengendalian
dan pencegahan kejadian luar biasa (KLB). Tingkat penularan infeksi campak
sangat tinggi sehingga sering menimbulkan KLB. Jumlah kasus campak menurun
pada semua golongan umur di Indonesia terutama anak-anak di bawah lima tahun
pada tahun 1999 s/d 2001, namun setelah itu insidence rate tetap, dengan kejadian
pada kelompok umur < 1 tahun dan 1-4 tahun selalu tinggi daripada kelompok
umur lainnya. Pada umumnya- KLB yang terjadi di beberapa provinsi
menunjukkan kasus tertinggi selalu pada golongan umur 1-4 tahun (Depkes,
2006).
Gambaran ini menunjukkan bahwa balita merupakan kelompok rentan dan
perlu ditingkatkan imunitasnya terhadap campak. Hal ini menggambarkan
lemahnya pelaksanaan dari pemberian satu dosis sehingga perlu dilakukan
2

imunisasi campak pada semua kelompok umur tersebut di seluruh desa yang
mempunyai masalah cakupan imunisasi. Tanpa program imunisasi, attack rate
93,5 per 100.000 kasus campak dengan gizi buruk akan meningkatkan CFR (case
fatality rate) (Depkes RI, 2006).
Kejadian penyakit campak sangat berkaitan dengan keberhasilan program
imunisasi campak. Indikator yang bermakna untuk menilai ukuran kesehatan
masyarakat di negara berkembang adalah imunisasi campak. Pada tahun 2006
WHO bersama UNICEF (United Nations Childrens Fund) membuat rencana
strategi global maupun regional 2006-2010 yang memiliki tujuan program
pengendalian penyakit campak dengan mengurangi angka kematian campak
sebesar 90% (estimated) pada tahun 2010 dibanding tahun 2000. Untuk mencapai
tujuan tersebut diatas, perlu dilakukan beberapa upaya. Salah satu upayanya
adalah melaksanakan surveilans berbasis individu (case based surveillance)
dengan penguatan strategi imunisasi (Depkes RI, 2008). Bila cakupan imunisasi
mencapai 90%, maka dapat berkontribusi menurunkan angka kesakitan dan angka
kematian sebesar 80% - 90% (Depkes RI, 2004).
Di Indonesia, program imunisasi campak dimulai pada tahun 1982 dan
masuk dalam pengembangan program imunisasi. Pada tahun 1991, Indonesia
dinyatakan telah mencapai UCI (Universal Child Immunization) secara nasional
yang berdampak positif terhadap penurunan insidensi campak pada balita. Selama
periode 1992 1997 terjadi penurunan dari 20,08 per 10.000 orang menjadi 3,4
per 10.000. Walaupun imunisasi campak telah mencapai UCI, tetapi di beberapa
daerah masih mengalami KLB Campak, terutama di daerah dengan cakupan
imunisasi rendah (Depkes RI, 2006).
Menurut data yang tercatat di Dinas Kesehatan Kota Sukabumi, pada
bulan Agustus- Oktober tahun 2016 terdapat 70 anak yang terkena penyakit
campak. Namun, sebanyak 67 anak dinyatakan positif. Dari 67 anak yang
terjangkit penyakit campak terdapat 60 anak dari Kota Sukabumi dan tujuh anak
dari Kabupaten Sukabumi, tetapi mereka tinggal di wilayah Kota Sukabumi. Di
Puskesmas Pabuaran ditemukan 5 anak yang terkena penyakit campak mulai dari
bulan Agustus September tahun 2016. Kejadian tersebut mengalami penigkatan,

dimana pada tahun 2011 sampai 2015 tidak pernah ditemukan penyakit campak di
Puskesmas Pabuaran.
1.2

PERNYATAAN MASALAH
Dari latar belakang diatas diketahui adanya peningkatan kasus campak di

Puskesmas PABUARAN Kota Sukabumi, pada tahun 2016.


1.3

TUJUAN PENULISAN
A. Mengidentifikasi kejadian campak di lingkungan Puskesmas Pabuaran.
B. Menentukan solusi untuk menangani peningkatan kasus campak di
lingkungan Puskesmas Pabuaran.
C. Melaksanakan penyuluhan imunisasi Campak sebagai solusi terbaik
untuk menangani Campak di lingkungan Puskesmas Pabuaran.
D. Meningkatkan pencapaian target program imunisasi pada bayi dan
balita di lingkungan Puskesmas Pabuaran.

1.4

MANFAAT
1. Bagi Puskesmas
a. Untuk

mendapatkan

informasi

yang

dapat

memberikan

masukan agar terjadi penurunan jumlah kasus campak di


Puskesmas PABUARAN Kota Sukabumi.
b. Diharapkan dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan
meningkatkan kemampuan petugas dalam melakukan diagnosa
dini, pengobatan yang tepat, rujukan dan upaya untuk mengurangi
faktor risiko serta penularan penyakit campak.
2. Bagi masyarakat
a. Mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik di Puskesmas.
b. Memperoleh pengetahuan dan informasi tentang penyakit campak
sehingga dapat mengubah perilaku masyarakat untuk hidup sehat.
c. Mengetahui pentingnya imunisasi campak dan pemberian vitamin
A.
d. Sebagai media komunikasi, informasi dan edukasi tentang Penyakit
campak.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

DEFINISI
Campak adalah suatu penyakit akut yang sangat menular, disebabkan oleh

infeksi virus yang umumnya menyerang anak. ditandai oleh tiga stadium: (1)
5

stadium inkubasi sekitar 10 14 hari; (2) stadium prodromal dengan enantem


(bercak koplik ) pada mukosa bukkal dan faring, demam ringan sampai sedang,
konjungtivitis ringan, coryza, dan batuk yang semakin berat; dan (3) stadium
akhir dengan ruam macular yang muncul berturut turut pada leher dan muka,
tubuh, lengan dan kaki yang disertai oleh demam tinggi.1
Morbili adalah penyakit anak menular yang lazim biasanya ditandai
dengan gejala gejala utama ringan, ruam serupa dengan campak ringan atau
demam scarlet, pembesaran dan nyeri kelenjar limfe.2
2.2

EPIDEMIOLOGI
Penyakit campak dikenal juga sebagai Morbili atau measles, merupakan

penyakit yang sangat menular (infeksius) yang disebabkan oleh virus moblili, 90
% anak yang tidak kebal akan terserang peyakit campak.2
Di seluruh dunia diperkirakan terjadi penurunan 56% kasus campak yang
dilaporkan yaitu 852.937 kasus pada tahun 2000 menjadi 373.421 kasus pada
tahun 2006. Sejak vaksinasi campak diberikan secara luas, terjadi perubahan
epidemiologi campak terutama di negara berkembang. Dengan tingginya cakupan
imunisasi, terjadi penurunan campak.2
Pada 24 Mei 2011 Centers for Disease Control melaporkan bahwa
Amerika Serikat telah memiliki 118 kasus campak sejauh tahun ini. Dari 118
kasus, 105 (89%) dari 118 pasien belum divaksinasi.5
Di Indonesia, menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) morbili
menduduki tempat ke-5 dalam urutan macam penyakit utama pada bayi (0,7%)
dan tempat ke-5 dalam urutan 10 macam penyakit utama pada anak usia 1-4 tahun
(0,77%).1
Kejadian luar biasa morbili lebih sering terjadi di daerah pedesaan
terutama daerah yang sulit dijangkau oleh pelayanan kesehatan, khususnya dalam
program imunisasi1
Angka kejadian campak di Indonesia sejak tahun 1990 sampai 2002 masih
tinggi sekitar 3000-4000 per tahun demikian juga frekuensi terjadinya kejadian
luar biasa tampak meningkat dari 23 kali per tahun menjadi 174, namun case
fatality rate telah dapat diturunkan dari 5,5% menjadi 1,2%. Umur terbanyak
menderita campak adalah <12 bulan, diikuti kelompok umur 1-4 dan 5-14 tahun.3
Bayi mendapat imunitas transplasenta dari ibu yang telah menderita
campak atau imunisasi campak. Imunitas ini biasanya sempurna selama umur 4
6

6 bulan pertama dan menghilang pada frekuensi yang bervariasi. Walaupun kadar
antibodi ibu secara umum tidak dapat dideteksi pada bayi dengan uji yang biasa
dilakukan sesudah umur 9 bulan, beberapa proteksi menetap, yang mengganggu
pemberian imunisasi sebelum umur 15 bulan. Walau cakupan imunisasi cukup
tinggi, KLB campak mungkin saja masih akan terjadi yang diantaranya
disebabkan adanya akumulasi anak-anak rentan ditambah 15 % anak yang tidak
terbentuk imunitas.2
Daerah risiko campak 2,9 :
Yang dimaksud daerah risiko campak yaitu daerah yang berpotensi
terjadinya KLB campak, dilihat dari:
a.
b.
c.
d.
e.
2.3

Daerah dengan cakupan imunisasi yang rendah (<80%)


Lokasi yang padat dan kumuh
Daerah rawan gizi
Daerah sulit dijangkau atau jauh dari pelayanan kesehatan
Daerah dimana budaya masyarakatnya tidak menerima imunisasi

ETIOLOGI
Virus berada di sekret nasofaring dan di dalam darah, minimal selama

masa tunas dan dalam waktu yang singkat sesudah timbulnya ruam. Virus tetap
aktif minimal selama 34 jam pada temperatur kamar, 15 minggu di dalam
pengawetan beku, minimal 4 minggu disimpan dalam temperatur 35C, dan
beberapa hari pada suhu 0C. Virus tidak aktif pada pH rendah.7
a. Bentuk Virus
Virus morbili termasuk golongan paramyxovirus berbentuk bulat dengan
tepi yang kasar dan bergaris tengah 140 nm, dibungkus oleh selubung luar
yang terdiri dari lemak dan protein. Di dalamnya terdapat nukleokapsid yang
berbentuk bulat lonjong, terdiri dari bagian protein yang mengelilingi 12 asam
nukleat (RNA) yang merupakan struktur heliks nukleoprotein dari
myxovirus. Pada selubung luar sekali terdapat tonjolan pendek. Salah-satu
protein yang berada di selubung luar berfungsi sebagai hemaglutinin.1
b. Ketahanan Virus
Virus morbili adalah organisme yang tidak memiliki daya tahan tinggi.
Apabila berada di luar tubuh manusia, keberadaannya tidak kekal. Pada
temperatur kamar ia akan kehilangan 60% sifat infektivitasnya setelah 3-5
hari, pada suhu 37C waktu paruh usianya 2 jam, sedangkan pada suhu 56C
7

hanya satu jam. Sebaliknya virus ini mampu bertahan dalam keadaan dingin.
Pada suhu - 70C dengan media protein ia dapat bertahan hidup selama 5,5
tahun, sedangkan dalam lemari pendingin dengan suhu 4-6C, dapat hidup
selama 5 bulan. Tetapi bila tanpa media protein, virus ini hanya mampu
bertahan selama 2 minggu, dan dapat dengan mudah dihancurkan dengan sinar
ultraviolet.1
Oleh karena selubungnya terdiri dari lemak maka virus campak termasuk
mikroorganisme yang bersifat ether labile. Pada suhu kamar, virus ini akan
mati 20% ether setelah 10 menit dan dalam 50% aseton setelah 30 menit.
Virus campak juga sensitif terhadap 0,01% betapropiacetone pada suhu
37C dalam 2 jam, ia akan kehilangan sifat infektivitasnya namun tetap
memiliki antigenitas penuh. Sedangkan dalam formalin 1 / 4.000, virus ini
menjadi tidak efektif setelah 5 hari, tetapi tetap tidak kehilangan
antigenitasnya. Penambahan tripsin akan mempercepat hilangnya potensi
antigenik.1

c. Pertumbuhan Virus
Virus morbili dapat tumbuh pada berbagai macam tipe sel, tetapi untuk
isolasi primer digunakan biakan sel ginjal manusia atau kera. Pertumbuhan
virus morbili lebih lambat daripada virus lainnya, baru mencapai kadar
tertinggi pada fase larutan setelah 7-10 hari. Virus tidak akan tumbuh dengan
baik pada perbenihan primer yang terdi dari continuous cell lines, tetapi dapat
diisolasi dari biakan primer sel manusia atau kera terlebih dahulu dan
selanjutnya virus ini akan dengan mudah menyesuaikan diri dengan berbagai
macam biakan yang terdiri dari continuous cell lines yang berasal dari sel gana
maupun sel normal manusia. Sekali dapat menyesuaikan diri pada perbenihan
tersebut, ia dapat tumbuh dengan cepat dibandingkan dalam perbenihan
primer, dan mencapai kadar maksimumnya dalam 2-4 hari.1
Virus morbili menyebabkan dua perubahan sitopatik. Perubahan sitopatik
yang pertama berupa perubahan pada sel yang batas tepinya menghilang
sehingga sitoplasma dari banyak sel akan saling bercampur dan membentuk
anyaman dengan pengumpulan 40 nukleus di tengah. Inclusion bodies tampak
8

pada kedua sitoplasma dan intinya. Efek sitopatik yang kedua menyebabkan
perubahan bentuk sel perbenihan dari poligonal menjadi bentuk glondong.
Efek pada sel gelondong lebih sering terjadi pada sub-kultur yang berurutan,
terutama apabila virus telah menyesuaikan diri dalam sel amnion manusia.1
Ada atau tidak adanya glutamin dalam media mungkin menentukan efek
sitopatik utama mana yang akan timbul, terutama bila virus ditumbuhkan
dalam sel H.Ep2. Tipe efek sitopatik yang bervariasi ini tergantung pada tipe
sel penjamu, media, jalur virus yang dilalui dan genetik strain virus itu sendiri,
struktur serat dan pipa kecil terlihat dalam inti sel yang terinfeksi virus
morbili, namun struktur tersebut bukan merupakan partikel virus melainkan
tanda istimewa dari infeksi virus morbili. Struktur serupa juga terlihat pada
kasus subacute sclerosing encephalitis.1

d. Struktur antigenik
Virus morbili menunjukkan antigenitas yang homogen, berdasarkan
penemuan laboratorik dan epidemiologik. Infeksi dengan virus morbili
merangsang pembentukan neutralizing antibody, complement fixing antibody
dan haemaglutinine inhibition antibody. Imunoglobulin kelas IgM dan IgG
distimulasi oleh infeksi morbili, muncul bersama-sama diperkirakan 12 hari
setelah infeksi dan mencapai titer tertinggi setelah 21 hari. Kemudian IgM
menghilang dengan cepat sedangkan IgG tinggal tidak terbatas dan jumlahnya
terukur. Keberadaan imunoglobulin IgM menunjukkan pertanda baru terkena
infeksi atau baru mendapatkan vaksinasi, sedangkan IgG menunjukkan bahwa
pernah terkena infeksi walaupun sudah lama. Antibodi IgA sekretori dapat
dideteksi dari sekret nasal dan terdapat di seluruh saluran nafas. Daya
efektivitas vaksin virus morbili yang hidup dibandingkan dengan virus morbili
yang mati adalah adanya IgA sekretori yang hanya dapat ditimbulkan oleh
vaksin virus morbili hidup.1
Seluruh virion penting untuk infeksi, tetapi antibodi protektif sudah dapat
terbentuk dengan penyuntikan antigen hemaglutinin murni. Bila lebih dari satu
9

bagian virus muncul, dapat menyebabkan hemaglutinasi pada sel darah merah
kera dan baboon. Antigen ini dapat dipisahkan dari antigen lainnya yang
terbawa bersama virus, dengan membubuhkan Tween 80 ether. Dengan
pemberian Tween 80 ether, terlepaslah inti kapsul yang bertanggungjawab
terhadap terbentuknya complement fixing antibody. Hemolisin mungkin
berasal dari selubung luar yang dapat menyebabkan perubahan sitopatik,
namun tidak ditularkan. 1
2.4

CARA PENULARAN
Campak menyebar melalui respirasi (kontak dengan cairan dari hidung

orang yang terinfeksi dan mulut, baik secara langsung atau melalui transmisi
aerosol), dan sangat menular. Masa inkubasi terjadi asimtomatik 10-14 hari dari
paparan awal. Penderita campak biasanya dapat menularkan penyakit dari saat
sebelum gejala timbul sampai empat hari setelah ruam timbul.7
2.5

PATOGENESIS
Penularannya sangat efektif, dengan sedikit virus yang infeksius sudah

dapat menimbulkan infeksi pada seseorang. Penularan campak terjadi secara


droplet melalui udara, sejak 1-2 hari sebelum timbul gejala klinis sampai 4 hari
setelah timbul ruam. Di tempat awal infeksi, penggandaan virus sangat minimal
dan jarang dapat ditemukan virusnya. Virus masuk ke dalam limfatik lokal, bebas
maupun berhubungan dengan sel mononuklear, kemudian mencapai kelenjar
getah bening regional. Di sini virus memperbanyak diri dengan sangat perlahan
dan dimulailah penyebaran ke sel jaringan limforetikular seperti limpa. Sel
mononuklear yang terinfeksi menyebabkan terbentuknya sel raksasa berinti
banyak (sel Warthin), sedangkan limfosit-T (termasuk T supressor dan T2-helper)
yang rentan terhadap infeksi, turut aktif membelah.1
Gambaran kejadian awal di jaringan limfoid masih belum diketahui secara
lengkap, tetapi 5-6 hari setelah infeksi awal, terbentuklah fokus infeksi yaitu
ketika virus masuk ke dalam pembuluh darah dan menyebar ke permukaan epitel
orofaring, kunjungtiva, saluran nafas, kulit, kandung kemih dan usus.1
Pada hari ke-9-10, fokus infeksi yang berada di epitel saluran nafas dan
konjungtiva, akan menyebabkan timbulnya nekrosis pada satu sampai dua lapis
10

sel. Pada saat itu virus dalam jumlah banyak masuk kembali ke pembuluh darah
dan menimbulkan manifestasi klinis dari sistem saluran nafas diawali dengan
keluhan batuk pilek disertai selaput konjungtiva yang tampak merah. Respons
imun yang terjadi ialah proses peradangan epitel pada sistem saluran pernafasan
diikuti dengan manifestasi klinis berupa demam tinggi, anak tampak sakit berat
dan tampak suatu ulsera kecil pada mukosa pipi yang disebut bercak Koplik, yang
dapat tanda pasti untuk menegakkan diagnosis.1
Selanjutnya daya tahan tubuh menurun. Sebagai akibat respons delayed
hypersensitivity terhadap antigen virus, muncul ruam makulopapular pada hari ke14 sesudah awal infeksi dan pada saat itu antibodi humoral dapat dideteksi pada
kulit. Kejadian ini tidak tampak pada kasus yang mengalami defisit se1-T.1
Fokus infeksi tidak menyebar jauh ke pembuluh darah. Vesikel tampak
secara mikroskopik di epidermis tetapi virus tidak berhasil tumbuh di kulit.
Daerah epitel yang nekrotik di nasofaring dan saluran pernafasan memberikan
kesempatan infeksi bakteri sekunder berupa bronkopneumonia, otitis media dan
lain-lain. Dalam keadaan tertentu pneumonia juga dapat terjadi, selain itu campak
dapat menyebabkan gizi kurang.1

Tabel 1. Patogenesis campak tanpa penyulit


Hari

Manifestasi

Virus campak dalam droplet kontak dengan permukaan epitel


nasofaring atau kemungkinan konjungtiva infeksi pada sel epitel dan
multipikasi virus.

1-2

Penyebaran infeksi ke jaringan limfatik regional

2-3

Viremia primer

3-5

Multiplikasi virus campak pada epitel saluran nafas di tempat infeksi


pertama dan pada RES regional maupun daerah yang jauh

5-7

Viremia sekunder

7-11

Manifestasi pada kulit dan tempat lain yang bervirus, termasuk


saluran nafas
11

11-14

Virus pada darah, saluran nafas dan organ lain

15-17

Viremia berkurang lalu hilang, virus pada organ menghilang.

Gambar 1. Patogenesis campak

2.6

MANIFESTASI KLINIS
Diagnosis campak biasanya dapat dibuat berdasarkan kelompok gejala

klinis yang sangat berkaitan, yaitu koriza dan mata meradang disertai batuk dan
demam tinggi dalam beberapa hari, diikuti timbulnya ruam yang memiliki ciri
khas, yaitu diawali dari belakang telinga kemudian menyebar ke muka, dada,
tubuh, lengan dan kaki bersamaan dengan meningkatnya suhu tubuh dan
selanjutnya mengalami hiperpigmentasi dan mengelupas. Pada stadium prodromal
12

dapat ditemukan enantema di mukosa pipi vang merupakan tanda patognomonis


campak (bercak Koplik).1
2.7

ANAMNESIS5
1.

Adanya demam tinggi terus menerus


38,5C atau lebih disertai batuk, pilek, nyeri menelan, mata merah dan

2.

silau bila terkena cahaya (fotofobia), seringkali diikuti diare.


Pada hari ke 4-5 demam timbul ruam
kulit, didahului oleh suhu yang meningkat lebih tinggi dari semula.

3.

Pada saat itu anak mulai mengalami kejang demam.


Saat ruam timbul, batuk dan diare
dapat bertambah parah sehingga anak mengalami sesak nafas atau
dehidrasi. Adanya kulit kehitaman dan bersisik (hiperpigmentasi) dapat
merupakan tanda penyembuhan.

2.8

PEMERIKSAAN FISIK 6
Gejala klinis terjadi setelah masa tunas 10-12 hari terdiri dari 3
stadium:
1. Stadium prodromal : berlangsung 2-4 hari, ditandai dengan demam
yang diikuti dengan batuk, pilek, faring merah, nyeri menelan,
stomatitis

dan

konjungtivitis.

Tanda

patognomonik

timbulnya

enantema mukosa pipi depan molar tiga disebut bercak koplik


2. Stadium erupsi : ditandai dengan timbulnya ruam makulopapular yang
bertahan selama 5-6 hari. Timbulnya ruam dimulai dari batas rambut
dibelakang telinga kemudian menyebar ke wajah, leher dan akhirnya
ekstremitas.
3. Stadium penyembuhan (konvalesen): setelah 3 hari ruam berangsurangsur menghilang sesuai urutan timbulnya. Ruam kulit menjadi
kehitaman dan mengelupas yang akan menghilang setelah 1-2 minggu.

13

Gambar 2. Morbili
2.9

PEMERIKSAAN PENUNJANG 6
Pada umumnya tidak diperlukan. Pada pemeriksaan sitologi dapat

ditemukan sel datia berinti banyak pada sekret. Pada kasus tertentu, mungkin
diperlukan pemeriksaan serologi IgM anti-Rubella untuk mengkonfirmasi
diagnosis. Pada darah tepi jumlah leukosit normal atau meningkat apabila ada
komplikasi infeksi bakteri
Pemeriksaan untuk komplikasi :
1. Ensepalopati dilakukan pemeriksaan cairan serebrospinal, kadar
elektrolit darah dan analisis gas darah
2. Enteritis : feses lengkap.
3. Bronkopneumonia : dilakukan pemeriksaan rontgen thorak dan
analisa gas darah.

2.10

DIAGNOSIS 6
Diagnosis dibuat dari gambaran klinis, selama stadium prodromal, sel

raksasa multinuklear dapat ditemukan pada apusan mukosa hidung. Virus dapat
diisolasi pada biakan jaringan. Angka leukosit cenderung rendah dengan
limfositosis relatif. Pungsi lumbal pada penderita dengan ensefalitis campak
14

biasanya menunjukkan kenaikan protein dan sedikit kenaikan limfosit. Kadar


glukosa normal. Bercak koplik dan hiperpigmentasi adalah patognomonis untuk
rubeola/campak.
DIFERENSIAL DIAGNOSIS 2
Diagnosis banding penyakit campak yang perlu dipertimbangkan adalah:
1. Rubella (Campak Jerman), terdapat pembesaran kelenjar getah bening di

2.11

belakang telinga.
2. DHF atau DBD, dalam 2-3 hari bisa terjadi mimisan, turniket test (Rumple
Leede) positif, perdarahan diikuti shock, laboratorium menunjukkan
trombosit < 100.000/ml dan serologis positif IgM DHF.
3. Varisella (cacar air), ditemukan vesikula atau gelembung berisi cairan.
4. Alergi obat, kemerahan di tubuh setelah minum obat/ disuntik, serta gatalgatal.
5. Miliaria atau keringat buntet : gatal-gatal, bintik kemerahan.
6. Eksantema subitum (campak mini) karena sangat mirip, kelainannya
bersifat diskrit makulopapular berwarna merah tua dan biasanya timbul di
daerah dada pada awalnya kemudian menyebar ke muka dan ekstremitas.
Beda utama dengan campak adalah tidak adanya bercak koplik.
2.12

KOMPLIKASI 2,5,6
Sebagian besar penderita campak akan sembuh, komplikasi sering terjadi

pada anak usia < 5 tahun dan penderita dewasa usia >20 tahun. Kasus campak
pada penderita malnutrisi dan defisiensi Vitamin A serta imun defisiensi (HIV),
campak dapat menjadi lebih berat atau fatal. Komplikasi yang sering terjadi yaitu:
1.

Laringitis akut
Laringitis timbul karena adanya edema hebat pada mukosa saluran nafas,
yang bertambah parah pada saat demam mencapai puncaknya. Ditandai
dengan distres pernafasan, sesak, sianosis dan stridor. Ketika demam turun
keadaan akan membaik dan gejala akan menghilang.1

2.

Bronkopneumonia
Dapat disebabkan oleh virus campak maupun akibat invasi bakteri.
Ditandai dengan batuk, meningkatnya frekuensi nafas, dan adanva ronki
basah halus. Pada saat suhu turun, apabila disebabkan oleh virus, gejala
15

pneumonia akan menghilang, kecuali batuk yang masih dapat berlanjut


sampai beberapa hari lagi. Apabila suhu tidak juga turun pada saat yang
diharapkan dan gejala saluran nafas masih terus berlangsung dapat diduga
adanya pneumonia karena bakteri yang telah mengadakan invasi pada sel
epitel yang telah dirusak oleh virus. Gambaran infiltrat pada foto toraks
dan adanya leukositosis dapat mempertegas diagnosis. Di negara sedang
berkembang dimana malnutrisi masih menjadi masalah, penyulit
pneumonia bakteri bisa terjadi dan dapat menjadi fatal bila tidak diberi
antibiotik. 1
3.

Kejang demam
Kejang dapat timbul pada periode demam, umumnya pada puncak demam
saat ruam keluar. Kejang dalam hal ini diklasifikasikan sebagai kejang,
demam.1

4.

Ensefalitis
Merupakan penyulit neurologik yang paling sering terjadi, biasanya terjadi
pada hari ke-4-7 setelah timbulnva ruam. Kejadian ensefalitis sekitar 1
dalam 1.000 kasus campak, dengan mortalitas antara 30-40%. Terjadinya
ensefalitis dapat melalui mekanisme imunologik maupun melalui invasi
langsung virus campak ke dalam otak. Gejala ensefalitis dapat berupa
kejang, letargi, koma dan iritabel. Keluhan nyeri kepala, frekuensi nafas
meningkat, twitching, disorientasi juga dapat ditemukan. Pemeriksaan
cairan serebrospinal menunjukkan pleositosis ringan, dengan predominan
sel mononuklear, peningkatan protein ringan, sedangkan kadar glukosa
dalam batas normal.1

5.

SSPE (Subacute Sclerosing Panencephalitis)


Subacute sclerosing panencephalitis merupakan kelainan degenerative
susunan saraf pusat yang jarang disebabkan oleh infeksi virus campak
yang persisten. Kemungkinan untuk menderita SSPE pada anak yang
sebelumnya pernah menderita campak adalah 0,6-2,2 per 100.000 infeksi
campak. Risiko terjadi SSPE lebih besar pada usia yang lebih muda,
dengan masa inkubasi rata-rata 7 tahun. Gejala SSPE didahului dengan
gangguan tingkah laku dan intelektual yang progresif, diikuti oleh
16

inkoordinasi motorik, kejang umumnya bersifat mioklonik. Laboratorium


menunjukkan peningkatan globulin dalam cairan serebrospinal, antibodi
terhadap campak dalam serum (CF dan HAI) meningkat (1:1280). Tidak
ada terapi untuk SSPE. Rata-rata jangka waktu timbulnya gejala sampai
meninggal antara 6-9 bulan.1
6.

Otitis media
Invasi virus ke dalam telinga tengah umumnya terjadi pada campak.
Gendang telinga biasanya hiperemis pada fase prodromal dan stadium
erupsi. Jika terjadi invasi bakteri pada lapisan sel mukosa yang rusak
karena invasi virus akan terjadi otitis media purulenta. Dapat pula terjadi
mastoiditis.1

7.

Enteritis
Beberapa anak yang menderita campak mengalami muntah dan mencret
pada fase prodromal. Keadaan ini akibat invasi virus ke dalam sel mukosa
usus. Dapat pula timbul enteropati yang menyebabkan kehilangan protein
(protein losing enteropathy).1

8.

Konjungtivitis
Pada hampir semua kasus campak terjadi konjungtivitis, yang ditandai
dengan adanya mata merah, pembengkakan kelopak mata, lakrimasi dan
fotofobia. Kadang-kadang terjadi infeksi sekunder oleh bakteri. Virus
campak atau antigennya dapat dideteksi pada lesi konjungtiva pada hari
pertama sakit. Konjungtivitis dapat memburuk dengan terjadinya hipopion
dan pan-oftalmitis hingga menyebabkan kebutaan. Dapat pula timbul
ulkus kornea.1

2.13

PENATALAKSANAAN 2,5,6
1. Pasien campak tanpa penyulit dapat berobat jalan. Anak harus
diberikan cukup cairan dan kalori, sedangkan pengobatan bersifat
simtomatik, dengan pemberian cairan yang cukup, suplemen nutrisi,
antipiretik, antitusif, ekspektoran, dan antikonvulsan bila diperlukan.
17

Sedangkan pada campak dengan penyulit, pasien perlu dirawat inap.


Di rumah sakit pasien campat dirawat di bangsal isolasi sistem
pernafasan,

diperlukan

perbaikan

keadaan

umum

dengan

memperbaiki kebutuhan cairan dan diet yang memadai.


2. Diet makanan cukup cairan, kalori yang memadai. Jenis makanan
disesuaikan dengan tingkat kesadaran pasien dan ada tidaknya
komplikasi.
3. Indikasi rawat : hiperpireksia (suhu > 39C), dehidrasi, kejang,
asupan oral sulit, atau adanya komplikasi.
4. Tanpa komplikasi:
a. Tirah baring di tempat tidur
b. Vitamin A 100.000 IU per oral diberikan satu kali, apabila
terdapat malnutrisi dilanjutkan 1500 IU tiap hari
1) Usia 6 bulan 1 tahun : 100.000 unit dosis tunggal p.o.
2) Usia > 1 thn : 200.000 unit dosis tunggal p.o.
3) Dosis dapat diulang pada hari ke-2 dan 4 minggu
kemudian bila telah didapat tanda defisiensi vitamin A.
4) Vitamin A diberikan untuk membantu pertumbuhan epitel
saluran

nafas

yang

rusak,

menurunkan

morbiditas

campak juga berguna untuk meningkatkan titer IgG dan


jumlah limfosit total.
5. Dengan komplikasi :
a. Bronkopneumonia
1) Ampisilin 100 mg/kgBB/hari dalam 4 dosis intravena
dikombinasikan

dengan

kloramfenikol

75

mg/kgBB/hari

Intravena dalam 4 dosis, sampai gejala sesak berkurang dan


pasien dapat minum obat per oral selama 7-10 hari.
2) Oksigen 2 liter/menit.
3) Koreksi gangguan analisis gas darah dan elektrolit
b. Enteritis: koreksi dehidrasi sesuai derajat dehidrasi
c. Otitis media: disebabkan oleh karena infeksi sekunder,
sehingga

perlu

diberikan

antibiotik

kotrimoksazol-

sulfametokzasol (TMP 4 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2


dosis)
d. Ensefalopati,
1)
Ampisilin 100 mg/kgBB/hari dalam 4 dosis intravena
2)

dikombinasikan dengan kloramfenikol 75 mg/kgBB/hari


Kortikosteroid : deksametason 1 mg/kbb/hari sebagai
dosis awal dilanjutkan 0,5 g/kgbb/hari dibagi dalam 3 dosis
sampai kesadaran membaik (bila pemberian lebih dari 5
18

3)

hari dilakukan tappering off).


Jumlah cairan dikurangi menjadi kebutuhan serta koreksi
gangguan elektrolit.

2.14

PENCEGAHAN 1,7
Pencegahan terhadap penyakit campak diantaranya:
1.
2.
3.
Dosis

Menjaga kebersihan dan kesehatan


Menghindari kontak langsung dengan penderita lain
Imunisasi
baku minimal untuk pemberian vaksin campak yang dilemahkan

adalah sebanyak 0,5 ml. Cara pemberian yang dianjurkan adalah subkutan,
walaupun dari data yang terbatas dilaporkan bahwa pemberian secara
intramuskular tampaknya mempunyai efektivitas yang sama dengan subkutan.
Indikasi kontra pemberian imunisasi campak berlaku bagi mereka yang
sedang menderita demam tinggi, sedang mendapat terapi imunosupresi, hamil,
memiliki riwayat alergi, sedang memperoleh pengobatan imunoglobulin atau
bahan-bahan berasal dari darah.
Imunisasi tambahan MMR , vaksin MMR (Mumps Measles Rubella)
adalah campuran tiga jenis virus yang dilemahkan, yang disuntikkan untuk
imunisasi melawan campak (measles), gondongan (mumps) dan rubella (german
measles). Vaksin MMR umumnya diberikan kepada anak usia 12-15 bulan dengan
booster diberikan sebelum memasuki usia sekolah (4-6 tahun).
Pemberian imunisasi aktif diberikan pada bayi berumur 9 bulan atau lebih.
Program imunisasi campak secara luas baru dikembangkan plaksanaannya pada tahun
1982. Strategi reduksi campak terdiri atas :
a.
Pengobatan pasien campak dengan memberikan vitamin A.
b.
Imunisasi campak :
- PPI : diberikan pada umur 9 bulan, Imunisasi campak dapat diberikan
-

2.15

bersama vaksin MMR pada umur 12-15 bulan.


Mass campaign, bersamaan dengan Pekan Imunisasi Nasional.
Catch up immunization, diberikan pada anak sekolah dasar kelas 1-6.
Surveilans

PROGNOSIS 5,6

19

Prognosis baik pada anak dengan keadaan umum yang baik, tetapi
prognosis buruk bila keadaan umum buruk, anak yang sedang menderita penyakit
kronis, gizi kurang/buruk atau bila ada komplikasi.
Sebagian besar sering terjadi komplikasi termasuk bronkitis, dan
panencephalitis yang berpotensi fatal. Juga, bahkan jika pasien tidak peduli
tentang kematian, orang tersebut dapat menyebarkan penyakit ini kepada pasien
immunocompromised, yang mempunyai risiko kematian jauh lebih tinggi, karena
komplikasi seperti pneumonia.
Biasanya sembuh dalam 7-10 hari setelah timbul ruam. Bila ada penyulit
infeksi sekunder/malnutrisi berat akan menyebabkan penyakit berat. Kematian
disebabkan karena penyulit (pneumonia dan ensefalitis).
1.
2.
2.12
2.13
2.14
2.15
2.16

Definisi KLB Campak2,8


1. Tersangka KLB : adanya 5 atau lebih kasus klinis dalam waktu 4
minggu berturut-turut yang terjadi mengelompok dan dibuktikan
adanya hubungan epidemiologi.
2. Pasti KLB: apabila minimum 2 spesimen positif IgM campak dari hasil
pemeriksaan kasus pada tersangka KLB campak.
3. Penanggulangan KLB
a. Laporkan segera (dalam waktu 24 jam ) kasus-kasus tersangka
campak yang ditemukan dan lakukan kegiatan imunisasi yang
komprehensif bagi semua orang yang rentan untuk mencegah
penularan. Jika terjadi KLB campak di tempat penitipan anak,
sekolah dan perguruan tinggi, maka terhadap semua
orang yang tidak memiliki Catatan vaksinasi pada waktu
bayi dengan 2 dosis dengan interval minimal 1 bulan harus
diimunisasi, kecuali jika mereka memiliki Catatan dari dokter
bahwa mereka pernah menderita campak atau memiliki
bukti laboratorium tentang status imunisasinya.
20

b. Pemberian Vitamin A dosis tinggi diberikan pada penderita usia 6


bulan- 5 tahun sebanyak 2 kapsul, yaitu kapsul pertama diberikan
saat penderita ditemukan, kapsul kedua diberikan keesokan harinya
sesuai umur penderita.
c. Apabila KLB terjadi di suatu institusi, penghuni baru harus diberi
vaksinasi atau IG.
d. Di negara berkembang, CFR campak masih tinggi. Apabila vaksin
tersedia, pemberian vaksinasi pada awal suatu KLB membantu
mencegah penyebaran lebih lanjut. Apabila persediaan vaksin
terbatas, prioritas harus diberikan kepada anak-anak dengan risiko
yang paling tinggi.
e. Analisis data KLB
1) Attack Rate (AR) :
Attack Rate merupakan insiden rate, biasanya dinyatakan
dalam persen, digunakan pada populasi terpapar terhadap
campak

pada

periode

waktu

terbatas.

Attack

rate

menggambarkan jumlah kasus campak di populasi terpapar dan


luasnya epidemik
Cara Perhitungan :
Attack Rate = Jumlah kasus campak pada kelompok umur
Jumlah Populasi at risk (kelompok umur tersebut)

x100%

2) Case Fatality Rate (CFR)


Cara perhitungan Case Fatality Rate yaitu :
CFR = Jumlah kasus campak Meninggal

x 100 %

Jumlah kasus campak


3) Efikasi Vaksin
Data yang didapat dari penyelidikan epidemiologi
memberikan informasi tentang efikasi vaksin yang dihitung
dengan cara sebagai berikut :

Efikasi Vaksin = AR Tak Imunisasi AR Imunisasi

x 100 %

AR Tak Imunisasi
21

BAB III
METODE
3.1

Metode
Kegiatan dimulai dengan melakukan observasi dan wawancara. Hasil
observasi dan wawancara tersebut kemudian didiskusikan dengan
pembimbing

dokter

internship

di

Puskesmas

Pabuaran

untuk

mengidentifikasi permasalahan Campak di Puskesmas Pabuaran.


Proses identifikasi masalah didapatkan melalui metode-metode berikut.
1. Observasi langsung mengenai kelengkapan fasilitas, peralatan dan obatobatan di Puskesmas Pabuaran.
2. Wawancara dengan petugas kesehatan yang mempunyai peran dalam
penananganan campak dan pembimbing dokter internsip di Puskesmas
Pabuaran.
3. Data sekunder Puskesmas Pabuaran.

3.2

Identifikasi Masalah
Prioritas

masalah

ditentukan

berdasarkan

sistem

seleksi

yang

menggunakan dua unsur, yaitu kriteria (urgensi/kepentingan, solusi,


kemampuan anggota mengubah, dan biaya) dan skor (nilai 1, 2, dan 3).
1. Urgensi/kepentingan
a.

Nilai 1 tidak penting

b.

Nilai 2 penting
22

c.

Nilai 3 sangat penting

2. Solusi
a.

Nilai 1 tidak mudah

b.

Nilai 2 mudah

c.

Nilai 3 sangat mudah

3. Kemampuan anggota mengubah


a.

Nilai 1 tidak mudah

b.

Nilai 2 mudah

c.

Nilai 3 sangat mudah

4. Biaya
a.

Nilai 1 tinggi

b.

Nilai 2 sedang

c.

Nilai 3 rendah

Total skor dari masing-masing kriteria merupakan penentu prioritas masalah,


yaitu masalah dengan total paling tinggi sebagai ranking pertama dalam dan
menjadi prioritas masalah untuk dicari penyelesaian masalahnya.
Tabel 2. Penentuan Prioritas Masalah
No
1

Kriteria
masalah
Masih
rendahnya
pengetahuan
dan kesadaran
mengenai
pentingnya
manfaat
imunisasi pada
bayi dan balita,
khususnya
campak.
Kurangnya
peran serta
masyarakat
untuk ikut
berpartisipasi
dalam
bidang
kesehatan.
Tingginya
tingkat
mobilitas
penduduk

Urgensi

Solusi

Kemampuan
untuk
mengubah

Biaya

Total

Ranking

12

23

Kurangnya
jumlah tenaga
kesehatan

Berdasarkan penghitungan total skor masing-masing kriteria untuk setiap


masalah, didapatkan prioritas masalah yang menduduki rangking satu yaitu
masih rendahnya pengetahuan dan kesadaran mengenai pentingnya manfaat
imunisasi pada bayi dan balita, khususnya campak.
3.3

Analisis Penyebab Masalah


Setelah ditetapkan prioritas masalah berdasarkan sistem seleksi di atas,
dilakukan analisis penyebab masalah dari berbagai aspek, yaitu man,
material, method, money dan machine yang diperoleh melalui observasi,
wawancara, dan kuesioner awal. Berikut adalah penyebab-penyebab masih
rendahnya pengetahuan dan kesadaran mengenai pentingnya manfaat
imunisasi pada bayi dan balita, khususnya campak.

24

Tabel 3. Analisis Penyebab Masalah


No

Masalah
Masih rendahnya
pengetahuan dan
kesadaran mengenai
pentingnya manfaat
imunisasi pada bayi
dan balita, khususnya
campak.

Penyebab timbulnya
Evidence Based
Man
Laporan Tahunan Puskesmas
Kurangnya jumlah tenaga
Pabuaran tahun 2015
kesehatan untuk memberikan
penyuluhan mengenai manfaat
imunisasi terhadap penyakit
campak
Tingkat pendidikan masyarakat
yang relatif rendah, dimana
71,37% penduduk merupakan
tamatan SD-SLTP
Masih adanya masyarakat yang
percaya
bahwa
imunisasi
bertentangan dengan kepercayaan
yang dianut

1
Material
(-)
Method
(-)
Money
(-)
Machine
(-)

25

Berikut ini merupakan hubungan kelima faktor penyebab masalah yang


ditampilkan dalam bentuk Fishbone Analysis.

Man
Kurangnya
jumlah
tenaga
kesehatan untuk memberikan
penyuluhan mengenai manfaat
imunisasi
terhadap
penyakit
campak.
Tingkat pendidikan masyarakat
yang relatif rendah, dimana
71,37% penduduk merupakan
tamatan SD-SLTP
Masih adanya masyarakat yang
percaya
bahwa
imunisasi
bertentangan dengan kepercayaan
yang dianut

Material
(-)

Masih rendahnya
pengetahuan dan
kesadaran mengenai
pentingnya manfaat
imunisasi pada bayi
dan balita,
khususnya campak.

Method
(-)

Money
(-)

Machine
(-)

Gambar 3. Fishbone Analysis


3.4

Alternatif Pemecahan Masalah


Selanjutnya setelah analisis penyebab masalah adalah penetapan alternatif
pemecahan masalah untuk mendapatkan solusi terbaik dalam upaya
meningkatkan pengetahuan dan kesadaran mengenai pentingnya manfaat
imunisasi pada bayi dan balita, khususnya campak di Puskesmas
Pabuaran. Berikut adalah tabel alternatif pemecahan masalah.
26

Tabel 4. Strategi dan Alternatif Pemecahan Masalah


No

Masalah

Kurangnya jumlah
tenaga kesehatan untuk
memberikan penyuluhan
mengenai manfaat
imunisasi terhadap
penyakit campak.
Masih rendahnya
Tingkat
pendidikan
pengetahuan dan
masyarakat
yang
relatif
kesadaran mengenai
rendah,
dimana
71,37%
pentingnya manfaat
penduduk
merupakan
imunisasi pada bayi
tamatan SD-SLTP
dan balita, khususnya
campak.
Masih adanya
masyarakat yang percaya
bahwa imunisasi
bertentangan dengan
kepercayaan yang dianut

Penyebab Masalah

Alternatif Pemecahan
Masalah
Melakukan
penyuluhan kepada
kader-kader dari
daerah Puskesmas
Pabuaran

Tempat

Pelaksana
Kegiatan
Puskesmas Dokter
Pabuaran Internsip
Puskesmas
Pabuaran

27

BAB IV
HASIL
4.1
1.

PROFIL KOMUNITAS UMUM


DATA GEOGRAFIS
Puskesmas Pabuaran berlokasi di jalan Pabuaran No. 49 Kelurahan
Nyomplong Kecamatan Warudoyong kota Sukabumi. Wilayah kerja
Puskesmas Pabuaran meliputi dua wilayah kelurahan, yaitu kelurahan
Nyomplong dan kelurahan Warudoyong.
Batas wilayah Puskesmas Pabuaran adalah sbb.:
1. Sebelah utara, berbatasan dengan Kelurahan Gunung Parang Kecamata
Cikole.
2. Sebelah Barat, berbatasan dengan Kelurahan Benteng Kecamatan
Warudoyong.
3. Sebelah Selatan, berbatasan dengan Kelurahan Dayeuh Luhur Kecamatan
Warudoyong.
4. Sebelah Timur, berbatasan dengan Kelurahan Tipar dan Kelurahan
Cikondang Kecamatan Citamiang.
Puskesmas Pabuaran merupakan Puskesmas perkotaan, dengan kondisi
geografis sebagian besar mendatar. Pada umumnya semua wilayah Puskesmas
Pabuaran dapat dijangkau oleh kendaraan roda dua dan roda empat serta
angkutan umum. Peruntukan lahan di wilayah kerja Puskesmas Pabuaran
terdiri dari area pemukiman, pertokoan, perkantoran, sekolah, industri, lahan
pekuburan, dan sebagian kecil lapangan.

28

Luas wilayah Puskesmas Pabuaran adalah 97,1 km2, dengan jumlah


penduduk 14.794 jiwa, sehingga kepadaan rata-rata penduduknya adalah
152,4 penduduk per km2.

Kepadatan penduduk tertinggi terdapat di

Kelurahan Warudoyong yakni sebesar 154.79 jiwa per km2, sementara


kepadatan penduduk Kelurahan Nyomplong sebesar 150.44 jiwa per km2.
Tabel 5
Jarak Dan Waktu Tempuh
Puskesmas Pabuaran Tahun 2015
No

Kelurahan

Jarak ke
Puskesmas

Waktu Tempuh
Kondisi
ke Puskesmas Keterjangkauan

Warudoyong

0 1 Km

5 10 menit

Mudah

Nyomplong

0 1 Km

5 10 menit

Mudah

Jarak penduduk terjauh ke Puskesmas tidak lebih dari 1 km (0 1 km)


dengan waktu tempuh perjalanan selama 5 - 10 menit. Dari sisi
keterjangkauan, Puskesmas Pabuaran relatif mudah dijangkau karena terletak
di pusat kota dan berada di jalur utama kota, khususnya menuju wilayah
Kecamatan Lembursitu dan Kabupaten Sukabumi bagian selatan. Namun
demikian terdapat wilayah yang cukup sulit dari segi transportasi, karena tidak
dilalui oleh kendaraan angkutan umum, khususnya di RW 1 wilayah
Kelurahan Nyomplong.

2.

DATA DEMOGRAFIK
a.

Jumlah penduduk Kecamatan Wilayah Puskesmas Pabuaran adalah


14.794 jiwa, dengan kepadatan penduduknya adalah 152,4 penduduk
per km2 dengan kepadatan penduduk masing- masing yaitu :
1)

Warudoyong

: 154,79 jiwa per km2

2)

Nyomplong

: 150,44 jiwa per km2

29

b.

Jumlah penduduk di wilayah Puskesmas Pabuaran tersebar di 72 RT


dan 13 RW dengan jumlah Rumah tangga sebanyak 3.963.

Wilayah, administratif dan kependudukan di Puskesmas Pabuaran sbb.


Tabel 6
Data Wilayah
Puskesmas Pabuaran Tahun 2015
Luas Administratif
Penduduk
No Kelurahan Wilayah
(Km2) RT RW Jumlah Rumah
Tangga

X
Jiwa
/
Rmh
Tg

Kepadatan
Penduduk
/Km2

1 Warudoyong 43,1

32

6.670

1.490

4.48

154.79

2 Nyomplong

54,0

49

8.124

2.473

3.29

150.44

97,1

72

14

14.794

3.963

3.73

152.37

Puskesmas

Luas wilayah Puskesmas Pabuaran adalah 97,1 km2, dengan jumlah


penduduk 14.794 jiwa, sehingga kepadaan rata-rata penduduknya adalah 152,4
penduduk per km2.

Kepadatan penduduk tertinggi terdapat di Kelurahan

Warudoyong yakni sebesar 154.79 jiwa per km 2, sementara kepadatan penduduk


Kelurahan Nyomplong sebesar 150.44 jiwa per km2.

c.

Komposisi Penduduk Puskesmas Pabuaran

30

Grafik 1. Komposisi Penduduk Puskesmas Pabuaran Tahun 2015

Kelompok penduduk terbesar adalah kelompok usia produktif (15-44


tahun) yakni sebesar 48 %, disusul kelompok usia lansia (45-64 tahun)
sebesar 21%, disusul kelompok usia muda (5-14 tahun) sebesar 17%.
Sementara jumlah kelompok balita (0-4 tahun) sama dengan kelompok
lansia resti (>65 tahun) yakni sebesar 7%.

31

Grafik 2 . Piramida Penduduk Puskesmas Pabuaran Tahun 2015

Bila digambarkan bentuk piramida penduduk, maka terlihat seperti


grafik 2 di atas. Kelompok usia muda masih cukup besar dan memuncak pada
kelompok usia produktif, kemudian semakin bertambah usia maka semakin
mengecil jumlah penduduknya. Piramida penduduk di atas menunjukkan
masih besarnya beban masyarakat di kelompok muda khususnya diusia
sekolah, begitu juga bagi sektor kesehatan, kondisi tersebut menuntut kerja
lebih baik karena usia balita dan usia sekolah merupakan usia yang cukup
rawan tejadinya masalah kesehatan.
Bila dilihat dari rasio jenis kelamin, penduduk laki-laki lebih banyak
dari perempuan dengan rasio jenis kelamin sebesar 102.5, artinya bahwa
setiap 100 orang perempuan, terdapat 102,5 orang laki-laki.
Jumlah penduduk di wilayah Puskesmas Pabuaran pada tahun 2015
adalah sebanyak 14.794 jiwa. Usia muda (0-14 tahun) 3.450 jiwa, usia lanjut
(>= 65 tahun) 1.057, dan usia produktif (15-64 tahun) 10.287 jiwa, sehingga
Rasio Beban Tanggungannya sebesar 43,81.
32

3.

SUMBER DAYA MANUSIA (SDM)


Salah satu faktor penting dalam terselenggaranya pelayanan kesehatan

adalah tersedianya sumber daya manusia kesehatan. Unsur SDM bidang


kesehatan ini merupakan unsur manajemen yang harus terpenuhi guna
terselenggaranya pelayanan kesehatan yang bermutu, profesional dan akuntabel.
Tabel 7
Data Ketenagaan Puskesmas Pabuaran
Tahun 2015

No
1

Jenis Ketenagaan

Yang Ada KekuSekarang rangan

Keterangan

Medis :
1. Dokter Umum

2. Dokter Gigi

Tenaga Keperawatan :
1. Perawat Umum

1 orang S1
2 orang D3
2 orang SPK

2. Perawat Gigi

1 orang D3

3. Bidan

3 orang D3

Tenaga
lainnya :

Kesehatan

1. Tenaga Gizi
2.
Lingkungan

1
Kesehatan

1 orang D3

3. Kesehatan Masyarakat

1 orang S1

4. Kefarmasian

5. Analis / Lab

6. Tenaga Elektromedis

1 orang SMF

33

7. Penata Rontgen

8. Penata Anestesi

9. Fisioterapis

Administrasi

S2 Kesehatan
S1 Non Kesehatan

Jumlah

16

15

Jumlah ketenagaan di Puskesmas Pabuaran berjumlah 16 Orang.


Jumlah tenaga tersebut relatif sedikit untuk Puskesmas dengan 2 Puskesmas
Pembantu. Jumlah kekurangan tenaga sebanyak 15 orang, terdiri dari 11 orang
tenaga baru, dan 4 orang tenaga dengan peningkatan kualifikasi (D3). Adapun
rincian kebutuhan tenaga tersebut adalah :
1 Orang tenaga medis (S1 - Kedokteran Gigi)
4 orang tenaga perawat umum (D3 - Keperawatan)
1 Orang tenaga program Gizi (D3 - Gizi)
1 Orang tenaga Farmasi (D3 - Farmasi)
1 Orang tenaga Laboratorium ( D3 Analis Kesehatan)
6 Orang tenaga Administrasi (SLA sederajat)
1 Orang sopir (SLA sederajat)
Tabel diatas menunjukkan, selain kekurangan tenaga, di puskesmas
Pabuaran dari sejumlah 16 orang tenaga, terdapat 4 orang tenaga dengan
kualifikasi yang kurang dan perlu ditingkatkan, yakni 1 orang asisten apoteker
(lulusan SMF), 2 orang perawat (lulusan SPK), dan 1 orang tenaga
laboratorium (lulusan PLK)

4.

SARANA DAN PRASANA KESEHATAN


Jenis sarana kesehatan yang berada di wilayah kerja Puskesmas Pabuaran :
Tabel 8

34

Sarana Kesehatan Puskesmas Pabuaran


NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21

SARANA PELAYANAN
KESEHATAN
Rumah Sakit Umum
Rumah Sakit Jiwa
Rumah Sakit Bersalin
Rumah Sakit Khusus lainnya
Puskesmas Perawatan
Puskesmas Non Perawatan
Puskesmas Keliling
Puskesmas Pembantu
Rumah Bersalin
Balai Pengobatan / Klinik
Praktek Dokter Bersama
Praktek Dokter Perseorangan
Praktek Pengobatan Tradisional
Poskesdes
Posyandu
Posbindu
Apotek
Toko Obat
GFK
Industri obat tradisional
Indstri kecil obat tradisional

JUMLAH KETERANGAN
1
1
1
1
2
2
4
3
18
8
1
1
-

Swasta
Swasta
Pemkot
Pemkot
Pemkot
Swasta
Swasta
Swasta
UKBM
UKBM
Swasta
Swasta

5.

DATA KESEHATAN MASYARAKAT


A. Angka Kematian Bayi
Di tingkat Puskesmas, Angka kematian dilihat dari jumlah kelahiran dan
kematian bayi. Adapun jumlah kelahiran dan kematian bayi di Puskesmas
Pabuaran pada tahun 2013 - 2015 sbb.

35

Grafik 3. Jumlah Kelahiran di Puskesmas Pabuaran Tahun 2013 2015


Pada grafik 3 diatas terlihat trend kelahiran cenderung meningkat, begitu
juga dengan trend lahir mati. Jumlah kelahiran pada tahun 2013 sebanyak
228 kelahiran, pada tahun 2014 sebanyak 240 kelahiran, dan pada tahun
2015 menjadi 248 kelahiran. Jumlah lahir mati cenderung meningkat dari 0
pada tahun 2013 dan 2014, menjadi 2 bayi lahir mati pada tahun 2015.
Jumlah kematian bayi, Anak Balita dan Balita di Puskesmas Pabuaran pada
tahun 2013 2015 seperti pada grafik 4 berikut.

Grafik 4. Jumlah Kematian Bayi Dan Balita di Puskesmas Pabuaran


36

Tahun 2013 2015


Jumlah kematian bayi (0-11 Bulan) di Puskesmas Pabuaran dalam 3 tahun
terakhir mengalami trend menurun, yaitu dari 2 kematian (Tahun 2013),
menjadi 5 kematian (Tahun 2014) dan terakhir 3 kematian (Tahun 2015).
Sementara jumlah kematian Balita (0-4 Tahun) di Puskesmas Pabuaran dalam
3 tahun terakhir juga mengalami trend menurun, yaitu dari 3 kematian (Tahun
2013), menjadi 7 kematian (Tahun 2014) dan terakhir 3 kematian pada tahun
2015.
Pada tahun 2015 yang lalu di wilayah Puskesmas Pabuaran terdapat 3
kematian bayi, ketiga-nya merupakan kematian bayi neonatal (kurang dari 28
hari). Penyebab kematian bayi neonatal tersebut ketiganya adalah Asfiksia
dengan riwayat BBLR.

Grafik 5. Kematian Bayi Neonatal Menurut Wilayah di Puskesmas


Pabuaran Tahun 2015
Pada grafik 5 diatas terlihat, 67% kematian bayi (2 kematian bayi)
merupakan penduduk keluarahan Warudoyong, dan 33% kematian bayi (1
kematian bayi) merupakan penduduk kelurahan Nyomplong.
B. Cakupan Imunisasi Campak
37

Target UCI per bulan untuk antigen campak adalah 6,7 % dan target UCI
per tahun adalah 80 %.
Berikut adalah cakupan imunisasi campak di Puskesmas Pabuaran bulan
Januari-Desember tahun 2016 :

Tabel 9. Cakupan Imunisasi Campak Perbulan Puskesmas Pabuaran


Tahun 2016
Bulan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
Total

Nyomplong
5,6 %
12,0 %
6,5 %
8,3 %
7,4 %
7,4 %
13,0 %
9,3 %
6,5%
3,7%
8,3%
0,0 %
88 %

Warudoyong
4,9 %
6,5 %
6,5 %
13,0%
8,1%
10,6%

49,6 %

Dari tabel di atas dapat di lihat bahwa cakupan imunisasi sudah mencapai target
UCI yaitu kelurahan Nyomplong dengan persentase 88 % ( melebihi targer UCI
per tahun yaitu 80%) dan kelurahan Warudoyong dari Januari-Juni 2016 dengan
persentase 49,6 % ( melebihi target perbulan (6,7 % x 6 = 40,2 %)).

38

C. Insiden Penyakit Campak


Penemuan Kasus campak di Wilayah Kerja di Puskesmas PABUARAN,
tahun 2013 2016 Menurut waktu :
Tabel 10. Distribusi Kasus campak Berdasarkan Waktu
Tahun 2013-2016
BULAN
2013
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September Oktober
November Desember Jumlah
0

2014
0

TAHUN
2015
0

2016
-----1
4
---5

Pada tabel di atas tampak bahwa ada peningkatan jumlah penyakit campak
sebanyak 6 orang dari bulan Agustus-September pada tahun 2016, di mana
dari tahun 2013 sampai tahun 2015 tidak ditemukan adanya insiden campak.

Tabel 11
Data Penderita Kasus Campak Pukesmas Pabuaran Tahun 2016
39

Nama
Frisa
Tabina
M. Rizki
M. Daffa
Nurlita

Jenis

Umur

Status Imunisasi

Wilayah

Kelamin
Perempuan
Perempuan
Laki-Laki
Laki-Laki
Perempuan

(Thn)
6
5
1
15
4

Campak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

(Kelurahan)
Warudoyong
Warudoyong
Warudoyong
Nyomplong
Warudoyong

Dari Tabel 11 di atas dapat dilihat bahwa penderita campak berjenis


kelamin perempuan berjumlah 3 orang dan laki-laki berjumlah 2 orang, usia 14 tahun 2 orang, usia 5-9 tahun 2 orang dan usia >14 tahun 1 orang, semua
penderita campak tidak mendapat imunisasi campak sebelumnya, dan 4 orang
bertempat tinggal di daerah Warudoyong sedangkan 1 orang bertempat tinggal
di Nyomplong.

Kasus Campak Menurut Kelompok


Umur 2016

Grafik 6. Distribusi Kasus Campak Berdasarkan Kelompok Umur Tahun


2016

40

Berdasarkan grafik diatas, pada tahun 2014 dan 2015 tidak ditemui
adanya kasus campak. Pada tahun 2016 kelompok usia yang banyak terkena
campak adalah usia 1-4 tahun dan usia 5-9 tahun dengan persentase masingmasing 40 %, dan sisanya umur >14 tahun sebanyak 20 %.

Kasus Campak Menurut Kelompok Jenis Kelamin


tahun 2016

Grafik 7. Distribusi Kasus Campak Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun 2016


Berdasarkan grafik diatas, didapatkan lebih banyak anak berjenis kelamin
perempuan yang menderita campak dibandingkan dengan anak berjenis kelamin
laki-laki.

41

Grafik 8. Distribusi Kasus Campak Berdasarkan wilayah Tahun 2016


Berdasarkan grafik di atas kasus campak terbanyak adalah di wilayah
Warudoyong .

Grafik 9. Distribusi Kasus Campak Berdasarkan Status Imunisasi


Tahun 2016
Berdasarkan grafik di atas semua anak yang terkena penyakit campak di tahun
2016 tidak mendapatkan imunisasi campak.

42

Gambar 4. Peta Kasus Campak Di Wilayah Puskesmas Pabuaran Tahun


2016

43

BAB V
DISKUSI
5.1

Gambaran Epidemiologi
a. Dari hasil penelitian didapatkan adanya peningkatan kasus campak pada
bulan Agustus-September 2016.
b. Dari data puskesmas, pada bulan Agustus September 2016 dari
kelompok usia yang terkena campak adalah usia 1-4 tahun 2 orang, usia
5-9 tahun 2 orang dan usia >14 tahun 1 orang.
c. Dari hasil penelitian yang menderita campak didapatkan 3 anak berjenis
kelamin perempuan dan 2 anak berjenis kelamin laki-laki.
d. Dari hasil penelitian bulan Agustus- September 2016 didapatkan 4 kasus
campak

terjadi di Kelurahan Warudoyong dan 1 orang di kelurahan

Nyomplong. Hal ini mungkin disebabkan karena tempat tinggal di daerah


tersebut merupakan lingkungan yang padat huni sehingga kesehatan dan
sanitasi di lingkungan rumah kurang terjaga.
e.

Dari hasil penelitian didapatkan bahwa semua anak yang terkena


penyakit campak tidak mendapatkan imunisasi campak.

f. Pencapaian imunisasi dari Januari September tahun 2016 di Puskesmas


Pabuaran sudah mencapai target yaitu 72,7 % dari target UCI bulan
Januari September 60 % , namun angka kasus campak di wilayah
Puskesmas Pabuaran meningkat, hal ini mungkin disebabkan oleh karena
mereka yang terkena penyakit campak tidak termasuk dalam cakupan
imunisasi campak tahun 2016.
5.2
1.

Hasil Wawancara
Dengan petugas Puskesmas
Menurut hasil wawancara dengan pengelola program campak,terjadinya
peningkatan kasus campak disebabkan oleh kurangnya sosialisasi yang
dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan mengenai penyakit campak
dan pentingnya imunisasi campak serta kurangnya kerjasama dengan

44

instansi kesehatan lain (praktek swasta, Rumah Sakit) sehingga kasus


2.

campak dan penanganannya tidak terdata.


Dengan orang tua pasien (responden)
Menurut hasil wawancara dengan orang tua pasien, banyaknya anak yang
menderita campak disebabkan oleh masyarakat belum mengetahui tentang
penyakit campak, gejala, bahaya dan pentingnya imunisasi campak serta
kurangnya sosialisasi dari petugas kesehatan.

5.3
a.

Faktor-Faktor Peningkatan Kasus Campak :


Daerah dimana budaya masyarakatnya tidak menerima imunisasi
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa anak yang tidak diimunisasi lebih
banyak terkena penyakit campak. Hal ini dipengaruhi oleh telah
terbentuknya antibodi terhadap virus morbili pada anak yang telah
diimunisasi sehingga ia akan menjadi lebih kebal terhadap infeksi virus
campak.
Berdasarkan hasil wawancara, di wilayah Warudoyong (banyak terjadi
kasus campak) warga di lingkungan tersebut tidak menerima imunisasi
mereka masih berkeyakinan bahwa campak adalah penyakit yang biasa
terjadi dan akan sembuh dengan sendirinya. Sebagian warga tidak
memberikan imunisasi karena takut anaknya akan demam setelah
diimunisasi.

b.

Lingkungan tempat tinggal yang padat dan kumuh


Perumahan yang memenuhi syarat kesehatan merupakan salah satu usaha
untuk memperbaiki kesehatan. Kriteria rumah sehat menurut Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, 2002, secara umum rumah dapat dikatakan
sehat apabila memenuhi kriteria sebagai berikut:
i. Memenuhi kebutuhan fisiologis antara lain pencahayaan,
penghawaan dan ruang gerak yang cukup, terhindar dari
kebisingan yang mengganggu.
ii. Memenuhi kebutuhan psikologis antara lain privasi yang
cukup, komunikasi yang sehat antar anggota keluarga dan
penghuni rumah.
iii. Memenuhi persyaratan pencegahan penularan penyakit antar
penghuni rumah dengan penyediaan air bersih, pengelolaan
45

tinja dan limbah rumah tangga, bebas vektor penyakit dan


tikus, kepadatan hunian yang tidak berlebihan, cukup sinar
matahari pagi, terlindungnya makanan dan minuman dari
pencemaran, disamping pencahayaan dan penghawaan yang
cukup. Luas bangunan yang optimum adalah apabila dapat
menyediakan 2,5 3 m2 untuk setiap orang (tiap anggota
keluarga).
Dari hasil kunjungan ke daerah Warudoyong (daerah kasus campak),
perumahan tidak memenuhi syarat kesehatan. Perumahan yang padat,
ventilasi yang kurang, pencahayaan yang kurang, dan luas bangunan yang
tidak optimal menyebabkan tempat tinggal di daerah warudoyong sangat
berpotensi untuk mempermudah penularan penyakit campak.
5.4

Kegiatan Yang Dilakukan


Pada bulan Agustus-September terjadi peningkatan kasus campak yang
signifikan di wilayah Puakesmas Pabuaran yaitu 5 kasus dalam waktu 2
bulan oleh karena itu dilakukan kunjungan rumah surveilans campak serta
diadakan penyuluhan pada wilayah tersebut.

46

Gambar 5. Kunjungan Rumah Surveilans Campak Di Daerah


Puskesmas Pabuaran

Gambar 6. Penyuluhan campak di wilayah Pukesmas Pabuaran

5.5

Hasil Kegiatan
Telah dilaksanakan kunjungan ke daerah campak dan penyuluhan di

wilayah Warudoyong yang di wilayah tersebut banyak terkena campak,


masyarakat telah paham mengenai penyakit campak dan pentingnya imunisasi
untuk mencegah penyakit campak.

47

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Dari mini project ini dapat diambil kesimpulan bahwa penyakit campak di
wilayah kerja Puskesmas Pabuaran, hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor,
yaitu :
1. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai penyakit campak dan
proses penularannya.
2. Kurangnya pengetahuan masyarakat akan pentingnya imunisasi lengkap.
3. Lingkungan tempat tinggal warga yang padat dan kumuh sehingga
memudahkan terjadinya penyakit campak dan penularannya.
B. SARAN
1. Mempersiapkan media dan cara penyajian yang menarik dan informatif
untuk penyuluhan mengenai campak.
2. Mempersiapkan media dan cara penyajian yang menarik dan informatif
untuk penyuluhan mengenai pentingnya imunisasi bagi bayi dan balita.

48

DAFTAR PUSTAKA

1. Behrman, et al. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Volume 2 Edisi 15. Jakarta. EGC
2. Dinas Kesehatan Kabupaten Pelalawan Bidang P2PL .2012. Petunjuk Teknis
Surveilans Campak.
3. http://ejournals1.undip.ac.id/index.php/jkm, Jurnal Kesehatan Masyarakat,
Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012, Halaman 293 304
4. Laporan Tahunan Puskesmas Pangkalan Kerinci 2010. Hal.5-12.
5. Maldonado, Y. 2002. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta. EGC
6. RSCM, 2007. Panduan Pelayanan Medis Departemen Ilmu Kesehatan Anak.
Jakarta. Hlm. 150-152
7. Soegeng Soegijanto. 2001. Vaksinasi Campak. Dalam: I.G.N. Ranuh, dkk. (ed)
Buku Imunisasi di Indonesia. Jakarta. Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak
Indonesia. Hlm. 105
8. www.dinkes-sulsel.go.id , Pedoman Pencegahan KLB Campak
9. www.jabarprov.go.id , Perumahan dan Sanitasis

49