Anda di halaman 1dari 8

Definisi K3, Sistem Kerja K3, Contoh dan Aplikasi K3

Sep 6
Posted by andi

3 Votes

Definisi K3

Sehat digambarkan sebagai suatu kondisi fisik, mental dan sosial seseorang yang tidak saja bebas
dari penyakit atau gangguan kesehatan melainkan juga menunjukan kemampuan untuk
berinteraksi dengan lingkungan dan pekerjaannya. Perhatian utama dibidang kesehatan lebih
ditujukan ke arah pencegahan terhadap kemungkinan timbulnya penyakit serta pemeliharaan
kesehatan seoptimal mungkin.

Menurut Blum, kesehatan seseorang ditentukan oleh empat faktor, yaitu:


1. Lingkungan.
Berupa lingkungan fisik (alami, buatan), lingkungan kimia (organik/anorganik,

logam berat, debu), biologis (virus, bakteri mikroorganisme) dan social


budaya (ekonomi, pendidikan, pekerjaan).
2. Perilaku.
Meliputi sikap, kebiasaan dan tingkah laku.
3. Pelayanan Kesehatan.
Meliputi perawatan, pengobatan, pencegahan kecacatan dan rehabilitasi.
4. Genetis
Faktor bawaan manusia sejak dilahirkan.

Menurut Sumamur kesehatan kerja merupakan spesialisasi ilmu kesehatan/kedokteran beserta


prakteknya yang bertujuan agar pekerja/ masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehatan
setinggi-tingginya baik fisik, mental maupun sosial dengan usaha preventif atau kuratif terhadap
penyakit/ gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh faktor pekerjaan dan lingkungan kerja serta
terhadap penyakit umum.
Konsep kesehatan kerja dewasa ini semakin banyak berubah, bukan sekedar kesehatan pada
sektor industri saja melainkan juga mengarah kepada upaya kesehatan untuk semua orang
dalam melakukan pekerjaannya (total health of all at work).
Keselamatan kerja atau Occupational Safety, dalam istilah sehari hari sering disebut dengan
safety, secara filosofi diartikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan
kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada
umumnya serta hasil budaya dan karyanya. Dari segi keilmuan diartikan sebagai suatu
pengetahuan dan penerpannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan
penyakit akibat kerja. Di Indonesia keselamatan kerja diatur dalam Undang-Undang Nomor 1
Tahun 1970.
Tujuan K3:
1. Melindungi tenaga kerja, sehingga lebih mampu berproduksi secara maksimal
dalam bekerja.
2. Melindungi orang lain, sehingga jika berada di tempat kerja orang lain yang
didatanginya ia akan selamat dan sehat dalam bekerja.
3. Mengamani barang, bahan dan peralatan produksi, sehingga barang, bahan,
serta alat produksi akan lebih awet dan tahan lama.
4. Mencegah dan mengurangi kecelakaan kerja, sehingga berkuranglah resiko
dalam bekerja misalnya terbakar, tersiram, tertumpah, tertindih, dan
sebagainya.

5. Keamanan lingkungan kerja, sehingga kita betah dan tidak was-was hati bila
berada di tempat kerja.

Sistem Kerja dari K3

Berkaitan dengan faktor yang mempengaruhi kondisi kesehatan kerja, dalam melakukan
pekerjaan perlu dipertimbangkan berbagai potensi bahaya serta resiko yang bisa terjadi akibat
sistem kerja atau cara kerja, penggunaan mesin, alat dan bahan serta lingkungan disamping
faktor manusianya. Istilah hazard atau potensi bahaya menunjukan adanya sesuatu yang
potensial untuk mengakibatkan cedera atau penyakit, kerusakan atau kerugian yang dapat
dialami oleh tenaga kerja atau instansi. Sedang kemungkinan potensi bahaya menjadi manifest,
sering disebut resiko. Baik hazard maupun resiko tidak selamanya menjadi bahaya, asalkan
upaya pengendaliannya dilaksanakan dengan baik.
Pada lingkungan kerja, kesehatan dan kinerja seorang pekerja dipengaruhi oleh:
1. Beban
Kerja.
Berupa beban fisik, mental dan sosial sehingga upaya penempatan pekerja
yang sesuai dengan kemampuannya perlu diperhatikan.
2. Spesifikasi
dan
Kuantitas
Pekerjaan.
Hal ini bergantung pada pendidikan, keterampilan, kesegaran jasmani,
ukuran tubuh dan sebagainya.
3. Lingkungan
Faktor fisik, kimia, biologik, ergonomik, maupun aspek psikososial.

Kerja.

Manajemen resiko merupakan strategi penerapan kesehatan dan keselamatan kerja di tempat
kerja, dalam mewujudkan lingkungan kerja yang aman, nyaman dan sehat serta melindungi dan
meningkatkan pemberdayaan pekerja yang sehat, selamat dan berkinerja tinggi. Pada prinsipnya
manajemen resiko merupakan upaya mengurangi dampak negatif dari resiko yang dapat
mengakibatkan kerugian pada aset organisasi baik berupa manusia, material, mesin, metode,
hasil produksi maupun finansial.
Ditempat kerja, potensi bahaya sebagai sumber resiko akan selalu dijumpai baik yang berasal
dari faktor fisik, faktor kimia, faktor biologis, aspek ergonomi, stressor, listrik dan sumber energi
lain, mesin, sistem manajemen perusahaan bahkan pelaksana atau operator. Melalui analisis dan
evaluasi semua potensi bahaya dan resiko, diupayakan tindakan minimalisasi atau pengendalian
agar tidak terjadi bencana atau kerugian lainnya. Langkah-langkah yang biasanya dilaksanakan
dalam penilaian resiko, antara lain:
1. Menentukan tim penilai.
Penilai bisa berasal dari intern perusahaan atau dibantu pihak lain (konsultan)

di luar perusahaan yang memiliki kompetensi baik dalam pengetahuan,


kewenangan maupun kemampuan lainnya yang berkaitan.
2. Menentukan obyek atau bagian yang akan dinilai.
Obyek atau bagian yang akan dinilai dapat dibedakan menurut bagian atau
departemen, jenis pekerjaan, proses produksi dan sebagainya. Penentuan
obyek ini sangat membantu dalam sistematika kerja penilai.
3. Kunjungan atau inspeksi tempat kerja.
Kegiatan ini dapat dimulai melalui suatu walk through survey atau
inspection yang bersifat umum sampai kepada inspeksi yang lebih detail.
Dalam kegiatan ini prinsip utamanya adalah melihat, mendengar dan
mencatat semua keadaan di tempat kerja baik mengenai bagian kegiatan,
proses, bahan, jumlah pekerja, kondisi lingkungan, cara kerja, teknologi
pengendalian, alat pelindung diri dan hal lain yang terkait.
4. Identifikasi potensi bahaya.
Dapat dilakukan melalui informasi mengenai data kecelakaan kerja, penyakit
dan absensi. Laporan dari Panitia Pengawas Kesehatandan Keselamatan Kerja
(P2K3), supervisor dan keluhan yang dialami pekerja.
5. Mencari informasi atau data potensi bahaya.
Upaya ini dapat dilakukan misalnya melalui kepustakaan, mempelajari MSDS,
petunjuk teknis, standar, pengalaman atau informasi lain yang relevan.
6. Analisis resiko.
Dalam kegiatan ini, semua jenis resiko, akibat yang bisa terjadi, tingkat
keparahan, frekuensi kejadian, cara pencegahannya, atau rencana tindakan
untuk mengatasi resiko tersebut dibahas secara rinci dan dicatat selengkap
mungkin.
7. Evalusi resiko.
Memprediksi tingkat resiko melalui evaluasi yang akurat merupakan langkah
yang sangat menentukan dalam rangkaian penilaian risiko. Konsultasi dan
nasehat dari para ahli seringkali dibutuhkan pada tahap analisis dan evaluasi
resiko.
8. Menentukan langkah pengendalian
Apabila dari hasil evaluasi menunjukan adanya resiko membahayakan bagi
kelangsungan kerja maupun kesehatan dan keselamatan pekerja perlu
ditentukan langkah pengendalian, seperti :
a. Memilih teknologi pengendalian seperti eliminasi, substitusi, isolasi,
engineering control, pengendalian administratif, pelindung peralatan/mesin
atau pelindung diri.
b. Menyusun program pelatihan guna meningkatkan pengetahuan dan
pemahaman berkaitan dengan resiko.
c. Menentukan upaya monitoring terhadap lingkungan atau tempat kerja.
d. Menentukan perlu atau tidaknya survailans kesehatan kerja melalui
pengujian kesehatan berkala, pemantauan biomedik, audiometri dan lain-

lain.
e. Menyelenggarakan prosedur tanggap darurat atau emergensi dan
pertolongan pertama sesuai dengan kebutuhan.
9. Menyusun pelaporan.
Seluruh kegiatan yang dilakukan dalam penilaian risiko harus dicatat dan
disusun sebagai bahan pelaporan secara tertulis.
10.Pengkajian ulang penelitian.
Pengkajian ulang perlu senantiasa dilakukan dalam periode tertentu atau bila
terdapat perubahan dalam proses produksi, kemajuan teknologi,
pengembangan informasi terbaru dan sebagainya, guna perbaikan
berkelanjutan penilaian risiko tersebut.

Contoh dan Aplikasi K3

Alat Pelindung Diri (APD) adalah kelengkapan yang wajib digunakan saat bekerja sesuai bahaya
dan resiko kerja untuk menjaga keselamatan pekerja itu sendiri dan orang di sekelilingnya.
Kewajiban itu sudah disepakati oleh pemerintah melalui Departement Tenaga Kerja Republik
Indonesia Ada beberapa peralatan yang digunakan untuk melindungi seseorang dari kecelakaan
ataupun bahaya yang kemungkinan bisa terjadi. Peralatan ini wajib digunakan oleh seseorang
yang bekerja, seperti:
1. Pakaian Kerja
Tujuan pemakaian pakaian kerja adalah melindungi badan manusia terhadap
pengaruh yang kurang sehat atau yang bisa melukai badan.
2. Sepatu Kerja
Sepatu kerja (safety shoes) merupakan perlindungan terhadap kaki. Setiap
pekerja perlu memakai sepatu dengan sol yang tebal supaya bisa bebas
berjalan dimana-mana tanpa terluka oleh benda-benda tajam atau
kemasukan oleh kotoran dari bagian bawah. Bagian muka sepatu harus
cukup kerja supaya kaki tidak terluka kalau tertimpa benda dari atas.
3. Kacamata kerja
Kacamata digunakan untuk melindungi mata dari debu atau serpihan besi
yang berterbangan di tiup angin. Oleh karenanya mata perlu diberikan
perlindungan. Biasanya pekerjaan yang membutuhkan kacamata adalah
mengelas.
4. Sarung Tangan
Sarung tangan sangat diperlukan untuk beberapa jenis pekerjaan. Tujuan
utama penggunaan sarung tangan adalah melindungi tangan dari bendabenda keras dan mengangkat barang berbahaya. Pekerjaan yang sifatnya
berulang seperti mendorong gerobak secara terus menerus dapat
mengakibatkan lecet pada tangan yang bersentuhan dengan besi pada
gerobak.

5. Helm
Helm sangat penting digunakan sebagai pelindung kepala dan sudah
merupakan keharusan bagi setiap pekerja untuk menggunakannya dengan
benar sesuai peraturan.
6. Tali Pengaman (Safety Harness)
Berfungsi sebagai pengaman saat bekerja di ketinggian. Diwajibkan
menggunakan alat ini di ketinggian lebih dari 1,8 meter.
7. Penutup Telinga (Ear Plug / Ear Muff)
Berfungsi sebagai pelindung telinga pada saat bekerja di tempat yang bising.
8. Masker (Respirator)
Berfungsi sebagai penyaring udara yang dihirup saat bekerja di tempat
dengan kualitas udara buruk (misal berdebu, beracun, dsb).
9. Pelindung wajah (Face Shield)
Berfungsi sebagai pelindung wajah dari percikan benda asing saat bekerja
(misal pekerjaan menggerinda)

.
Pengalaman visual lebih tertanam dalam hati
Seringkali kita marah-marah pada seseorang hanya karena kata-kata kita tidak pernah
digubrisnya. Ternyata selama kita berkomunikasi semua kata-kata kita masuk telinga kiri dan
keluar lewat telinga kanan. Percuma saja mereka menganggap tidak ada arti semua kata kita.
Oleh karena itulah maka peringatan dalam bentuk visual sangat perlu kita lakukan. Sudah
saatnya kita tunjukkan kepada mereka apa yang terjadi jika mereka mengabaikan aspek
keselamatan kerja. Dan video keselamatan kerja merupakan aspek penting tersebut. Kita putar
berbagai kejadian yang merupakan akibat tidak menerapkan aspek keselamatan kerja. Video
keselamatan kerja merupakan visualisasi berbagai kondisi yang terjadi pada saat kita bekerja.
Dengan memutarkan video ini diharapkan mereka melihat betapa mengerikan setiap kejadian
dan dalam kondisi ini diharapkan muncul dan tumbuh kesadaran betapa mengerikan akibat
pengabaian keselamatan kerja.
Peringatan Harus Terus Diberikan
Berbagai upaya telah kita lakukan dilingkungan kerja untuk menciptakan gaya hidup kerja sehat.
Tetapi ternyata yang terjadi sangat berbeda dengan kenyataan yang kita hadapi. Berbagai alaat
dan simbol keselamatan kerja yang kita pasang yang kita pasang ternyata tidak mampu
menumbuhkan kesadaran atas keselamatan kerja.Itu kondisi yang selalu kita hadapi dilingkungan
kerja. Walaupun kita sudah sering mengatakan bahwa gaya hidup sehat, tetapi mereka tetap
seenaknya. Dalam hal ini termasuk di dalamya adalah penerapan aspek keselamatan kerja pada

saat melakukan sesuatu. Mereka seakan tidak peduli terhadap keselamatan dirinya, bahkan ketika
kita membicarakan mengenai keselamatan kerja. Mereka memang mendengarkan semua yang
kita katakan, tetapi ternyata masih banyak kecelakaan pada saat bekerja. Masih banyak dari
mereka yang tidak menerapkan aspek keselamatan kerja pada saat melakukan aktivitas kerjanya.
Oleh karena itulah, setiap saat kita harus selalu memperingatkan mereka untuk aspek
keselamatan kerja ini. Kita tidak boleh jemu-jemu memperingatkan mereka atas aspek
keselamatan kerja yang harus diterapkan pada saat bekerja. Untuk menjadi lebih baik, kita tidak
boleh enggan untuk secara terus menerus melakukan peringatan.
Aspek yang Ada Dalam Video Keselamatan Kerja
Pada saat kita menyaksikan isi video keselamatan kerja maka pada saat itulah kita melihat segala
hal akibat pengabaian keselamatan kerja. Dan segala yang kita saksikan merupakan gambaran
negatif yang akan kita alami. Dengan melihat gambaranvisual tersebut kita dapat menyimpulkan
bahwa semua karena pengabaian atas aspek keselamatan kerja di lingkungan kerja.
Efektivitas penggunaan video keselamatan kerja dalam proses penumbuhan kesadaran atas
pentingnya keselamatan kerja karena di daiamnya banyak contoh nyata. Contoh-contoh tersebut
adalah:
1. Kejadian mengerikan akibat pengabdian keselamatan kerja. Dengan
menyaksikan gambaran dalam video keselamatan ini maka kita dapat
memperoleh informasi atau contoh nyata segala hal yang terjadi. Bahkan
untuk hal-hal sekecil apapun yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja.
Dengan melihat secara langsung segala kejadian yang dapat dialami jika
tidak menerapkan keselamatan kerja, tentunya ada kekhawatiran dalam hatu
akan mengalami hal tersebut. Dan dengan demikian maka tumbuh kesedaran
untuk menerapkan aspek keselamatankerja secara benar dan baik.
2. Berbagai cara penerapan keselamatan kerja secara praktis. Selain gambaran
visual kejadian yang mengancam keselamatan kita dalam video keselamatan
kerja kerja ini pun kita dapat berbagai cara penerapan keselamatan kerja.
Dengan demikian maka kita dapat mengikuti segala petunjuk tersebut dalam
kegiatan kerja kita.

Setidaknya dalam hal ini kita mendapatkan bimbingan langsung terkait dengan keselamatan
kerja. Dan hal tersebut akan tetap tertanam dalam ingatan kita sebab semua ini kita dapatkan
secara visual. Gambar itu jauh lebih mudah tertanam dalam pikiran kita dibandingkan hanya
kata-kata.
Keselamatan kerja memang sangat penting dalam menciptakan suasana kerja yang kondusif
dalam menerapkan gaya hidup sehat. Dengan menerapkan aspek keselamatan kerja maka
setidaknyakita dapat terhindar dari kecelakaan yang sangat merugikan kita. Dan contoh visual

merupakan gambaran yang paling tepat untuk membangkitkan kesadaran terhadap keselamatan
kerja.