Anda di halaman 1dari 115

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

LATAR BELAKANG
Petrologi adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan geologi yang

mempelajari batuan beku, batuan sedimen dan batuan metamorf, asal mula
pembentukan batuan, pembentuk kulit bumi, serta penyebarannya baik didalam
maupun dipermukaan bumi, mencakup aspek deskripsi dan aspek genesainterpretasi. Aspek pemberian nama antara lain meliputi warna, tekstur, struktur,
komposisi, berat jenis, kekerasan, kesarangan (porositas), kelulusan (permebilitas)
dan klasifikasi atau penamaan batuan. Aspek genesa interpretasi mencakup
tentang sumber asal (source) hingga proses atau cara terbentuknya batuan.
Batuan didefinisikan sebagai semua bahan yang menyusun kerak (kulit)bumi dan
merupakan suatu agregat (kumpulan) mineral-mineral yang telah menghablur
(mengkristal). Dalam arti sempit, yang tidak termasuk batuan adalah tanah dan
bahan lepas lainnya yang merupakan hasil pelapukan kimia, fisika maupun
biologis, serta proses erosi dari batuan. Namun dalam arti luas tanah hasil
pelapukan dan erosi tersebut termasuk batuan.
Batuan sebagai agregat mineral pembentuk kulit bumi secara genesa dapat
dikelompokkan menjadi tiga jenis batuan, yaitu :
1. Batuan beku (igneous rocks), adalah kumpulan mineral silikat sebagai hasil
pembekuan daripada magma yang mendingin (Huang, 1962).
2. Batuan sedimen (sedimentary rocks), adalah batuan hasil litifikasi bahan
rombakan batuan yang berasal dari proses denudasi atau hasil reaksi kimia
maupun hasil kegiatan organisme (Pettijohn, 1964).
3. Batuan metamorf atau batuan malihan (metamorphic rocks), adalah batuan
yang berasal dari suatu batuan yang sudah ada yang mengalami perubahan
tekstur dan komposisi mineral pada fasa padat sebagai perubahan kondisi
fisika (tekanan dan temperatur) (Winkler, 1967).

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

1.2.

MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud dari praktikum petrologi ini adalah memerikan dan mengelompokkan


batuan secara optis sehingga dapat diketahui pertologinya, hal ini akan sangat
terbatas tanpa bantuan dari cabang ilmu geologi lain, seperti mineralogi, mineral
optik, petrologi, dan petrografi. Kepentingan Petrogafi dalam hal ini merupakan
bagian sangat berarti dalam petrologi ( ilmu tentang pembentukan batuan ).
Pada pemerian petrografi, pertama-tama akan diamati mineral penyusun
batuan, selanjutnya tekstur batuan. Tekstur batuan sangat membantu dalam
pengelompokan batuan selain memberikan gambaran proses yang terjadi selama
pembentukan batuan dan beberapa pengklasifikasian berdasarkan jenis batuan
yang akan diamati. Adapun tujuan dari praktikum ini adalah :
a. Praktikan dapat mengetahui mineral pembentuk batuan( Rock forming
mineral)
b. Praktikan dapat mengetahui batuan beku intrusive dan ekstrusif.
c. Praktikan dapat mengetaui batuan sedimen klastik dan non klastik.
d. Praktikan dapat mengetahui batuan metamorf foliasi dan nonfoliasi.
1.3.

RUMUSAN MASALAH
A. Apakah yang dimaksud dengan rock forming mineral?
B. Apakah yang dimaksud dengan batuan beku dan bagaimana proses
terbentuknya?
C. Apakah yang dimaksud dengan batuan sedimen dan bagaimana proses
terbentuknya?
D. Apakah yang dimaksud dengan batuan metamorf dan bagaimana proses
terbentuknya?

BAB II
DASAR TEORI
2

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

2.1.

PENDAHULUAN

Petrologi sendiri merupakan kepentingan yang tak terbaras namun bila


mempertimbangkan sebagian dari petrologi kepentingan akan menjadi luas,
dimana petrografi memberikan data umum yang petrologi perjuangkan untuk
menginterpretasikan dan menerangkan asal-ususl batuan.
Batuan sebagai agregat mineral-mineral pembentuk kulit bumi secara
genesa dapat dikelompokan dalam tiga jenis batuan, yaitu :
1.

Batuan beku (Igneous Rock), adalah kumpulan interlocking agregat mineral-

mineral silikat hasil magma yang mendingin (Walter T. Huang, 1962).


2. Batuan Sedimen (Sedimentary Rock), adalah batuan hasil litifikasi bahan
rombakan batuan hasil denudasi atau hasil reaksi kimia maupun mengenai hasil
kegiatan organisme (Pettijohn, 1964).
3. Batuan Metamorf (Metamorphic Rock), adalah batuan yang berasal dari suatu
batuan induk yang mengalami perubahan tekstur dan komposisi mineral pada fase
padat sebagai akibat perubahan kondisi fisika (tekanan, temperatur, atau tekanan
dan temperatur, HGF. Winkler, 1967,1979).
2.2.

ROCK FORMING MINERAL

Mineral adalah padatan senyawa kimia homogeny, non-argonik, yang


memiliki bentuk teraktur (system kristal) dan terbentuk secara alami. Istilah
mineral termasuk tidak hanya bahan komposisi kimia tetapi juga struktur mineral.
Mineral termasuk dalam komposisi unsur murni dan garam sederhana sampai
silikat yang sangat kompleks dengan ribuan bentuk yang diketahui (senyawa
organik biasanya tidak termasuk). Ilmu yang mempelajari mineral disebut
mineralogy. Definisi mineral menurut beberapa ahli:

a. L.G. Berry dan B. Mason, 1959


3

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Mineral adalah suatu benda padat homo gen yang terdapat dialam
terbentuk secara anorganik, mempunyai komposisi kimia pada batas-batas tertentu
dan mempunyai atom-atom yang tersusun teratur.
b. D.G.A. Whitten dan J.R.V. Brooks, 1972
Mineral adalah suatu bahan padat yang secara struktural homogen
mempunyai komposisi kimia tertentu, dibentuk oleh proses alam yang anorganik.
c.

A.W.R. Potter dan H. Robinson, 1977

Mineral adalah suatu zat atau bahan yang homogen mempunyai


komposisi kimia tertentu atau dalam batas-batas tertentu atau dalam batas-batas
tertentu dan mempunyai sifat-sifat tetap, dibentuk dialam dan bukan hasil suatu
kehidupan.
Dari ketiga definisi tersebut para ahli geologi masih memberikan suatu
anomali atau suatu pengecualian beberapa zat atau bahan yang disebut sebagai
mineral, walaupun tidak termasuk didalam suatu definisi diatas. Dapat ditarik
kesimpulan bahwa mineral mempunyai sifat sebagai : bahan alam, mempunyai
sifat fisis dan kimia tetap, berupa unsur tunggal atau senyawa.
Semua mineral mempunyai susunan kimiawi tertentu dan penyusun atomatom yang beraturan, maka setiap jenis mineral mempunyai sifat-sifat fisik/kimia
tersendiri. Dengan mengenal sifat-sifat tersebut maka setiap jenis mineral dapat
dikenal, sekaligus kita mengetahui susunan kimiawinya dalam batas-batas tertentu
(Graha,1987). Sifat-sifat fisik yang dimaksudkan adalah:
1.

Kilap (luster)

2.

Warna (colour)

3.

Kekerasan (hardness)

4.

Cerat (streak)

5.

Belahan (cleavage)
4

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

6.

Pecahan (fracture)

7.

Bentuk (form)

8.

Berat Jenis (specific gravity)

9.

Sifat Dalam

10.

Kemagnetan

11.

Kelistrikan

12.

Daya Lebur Mineral


1. Kilap
Merupakan kenampakan atau cahaya yang dipantulkan oleh permukaan

mineral

saat

terkena

cahaya

(Sapiie,

2006)

Kilap ini secara garis besar dapat dibedakan menjadi jenis:


a. Kilap Logam (metallic luster): bila mineral tersebut mempunyai
kilap atau kilapan seperti logam. Contoh mineral yang
mempunyai kilap logam: Gelena, Pirit, Magnetit, Kalkopirit,
Grafit, Hematit.
b. Kilap Bukan Logam (non metallic luster), terbagi atas:
Kilap Intan (adamantin luster), cemerlang seperti
intan.
Kilap kaca (viteorus luster), misalnya pada kuarsa dan
kalsit.
Kilap Sutera (silky luster), kilat yang menyeruai
sutera pada umumnya terdapat pada mineral yang
mempunyai struktur serat, misalnya pada asbes,
alkanolit, dan gips.
Kilap Damar (resinous luster), memberi kesan seperti
damar misalnya pada spharelit.
Kilap mutiara (pearly luster), kilat seperti lemak atau
sabun, misalnya pada serpentin,opal dan nepelin.
5

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Kilap tanah, kilat suram seperti tanah lempung


misalnya pada kaolin, bouxit dan limonit.
Kilap mineral sangat penting untuk diketahui, karena sifat fisiknya ini
dapat dipakai dalam menentukan mineral secara megaskopis. Untuk itu perlu
dibiasakan membedakan kilap mineral satu dengan yang lainnya, walaupun
kadang-kadang akan dijumpai kesulitan karena batas kilap yang satu dengan yang
lainnya tidak begitu tegas (Danisworo 1994).

2. Warna

Warna mineral merupakan kenampakan langsung yang dapat dilihat, akan


tetapi tidak dapat diandalkan dalam pemerian mineral karena suatu mineral dapat
berwarna lebih dari satu warna, tergantung keanekaragaman komposisi kimia dan
pengotoran padanya. Sebagai contoh, kuarsa dapat berwarna putih susu, ungu,
coklat kehitaman atau tidak berwarna. Walau demikian ada beberapa mineral yang
mempunyai warna khas, seperti:

Putih

:Kaolin (Al2O3.2SiO2.2H2O), Gypsum (CaSO4.H2O), Milky

Kwartz (Kuarsa Susu) (SiO2)

Kuning

: Belerang (S)

Emas

: Pirit (FeS2), Kalkopirit (CuFeS2), Ema (Au)

Hijau

: Klorit ((Mg.Fe)5 Al(AlSiO3O10) (OH)), Malasit (Cu

CO3Cu(OH)2)

Biru

: Azurit (2CuCO3Cu(OH)2), Beril (Be3Al2 (Si6O18))

Merah

: Jasper, Hematit (Fe2O3)


6

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Coklat

: Garnet, Limonite (Fe2O3)

Abu-abu

: Galena (PbS)

Hitam

: Biotit (K2(MgFe)2(OH)2(AlSi3O10)), Grafit (C), Augit

3. Kekerasan
Adalah ketahanan mineral terhadap suatu goresan. Kekerasan nisbi suatu
mineral dapat membandingkan suatu mineral terentu yang dipakai sebagai
kekerasan yang standard. Mineral yang mempunyai kekerasan yang lebih kecil
akan mempunyai bekas dan badan mineral tersebut. Standar kekerasan yang biasa
dipakai adalah skala kekerasan yang dibuat oleh Friedrich Mohs dari Jeman dan
dikenal sebagai skala Mohs. Skala Mohs mempunyai 10 skala, dimulai dari skala
1 untuk mineral terlunak sampai skala 10 untuk mineral terkeras .

Skala Kekerasan Mohs


Skala
Kekerasan
1
2
3
4

Mineral

Rumus Kimia

Talc
Gypsum
Calcite
Fluorite

H2Mg3 (SiO3)4
CaSO4. 2H2O
CaCO3
CaF2
CaF2Ca3

Apatite

6
7
8
9
10

Orthoklase
Quartz
Topaz
Corundum
Diamond

(PO4)2
K Al Si3 O8
SiO2
Al2SiO3O8
Al2O3
C

(Tabel 1)
7

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Sebagai perbandingan dari skala tersebut di atas maka di bawah ini


diberikan kekerasan dari alat penguji standar :
Tabel 2
Alat Penguji

Derajat
Kekerasan

Kuku manusia
Kawat

Mohs
2,5
3

Tembaga
Paku
Pecahan Kaca
Pisau Baja
Kikir Baja
Kuarsa

5,5
5,5 6
5,5 6
6,5 7
7

4. Cerat
Cerat adalah warna mineral dalam bentuk hancuran (serbuk). Hal ini dapat
dapat diperoleh apabila mineral digoreskan pada bagian kasar suatu keping
porselin atau membubuk suatu mineral kemudian dilihat warna dari bubukan
tersebut. Cerat dapat sama dengan warna asli mineral, dapat pula berbeda. Warna
cerat untuk mineral tertentu umumnya tetap walaupun warna mineralnya berubahubah. Contohnya :

Pirit : Berwarna keemasan namun jika digoreskan pada plat porselin akan
meninggalkan jejak berwarna hitam.

Hematit : Berwarna merah namun bila digoreskan pada plat porselin akan
meninggalkan jejak berwarna merah kecoklatan.

Augite : Ceratnya abu-abu kehijauan

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Biotite : Ceratnya tidak berwarna

Orthoklase : Ceratnya putih

Warna serbuk, lebih khas dibandingkan dengan warna mineral secara


keseluruhan, sehingga dapat dipergunakan untuk mengidentifikasi mineral
(Sapiie,

2006).

5. Belahan
Balahan merupakan kecenderungan mineral untuk membelah diri pada
satu atau lebih arah tertentu. Belahan merupakan salah satu sifat fisik mineral
yang mampu membelah yang oleh sini adalah bila mineral kita pukul dan tidak
hancur, tetapi terbelah-belah menjadi bidang belahan yang licin. Tidak semua
mineral mempunyai sifa ini, sehingga dapat dipakai istilah seperti mudah terbakar
dan sukar dibelah atau tidak dapa dibelah. Tenaga pengikat atom di dalam di
dalam sruktur kritsal tidak seragam ke segala arah, oleh sebab itu bila terdapat
ikatan yang lemah melalui suatu bidang, maka mineral akan cenderung membelah
melalui suatu bidang, maka mineral akan cenderung membelah melalui bidangbidang tersebut. Karena keteraturan sifat dalam mineral, maka belahan akan
nampak

berjajar

dan

teratur

(Danisworo,

1994).

Contoh mineral yang mudah membelah adalah kalsit yang mempunyai tiga arah
belahan sedang kuarsa tidak mempunyai belahan. Berikut contoh mineralnya:
1. Belahan satu arah, contoh muscovite
2. Belahan dua arah, contoh feldspar
3. Belahan tiga arah, contoh halit dan kalsit
6. Pecahan
Pecahan adalah kecenderungan mineral untuk terpisah-pisah dalam arah yang
tidak teratur apabila mineral dikenai gaya. Perbedaan pecahan dengan belahan
dapat dilihat dari sifat permukaan mineral apabila memantulkan sinar. Permukaan
bidang belah akan nampak halus dan dapat memantulkan sinar seperti cermin
9

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

datar, sedang bidang pecahan memantulkan sinar ke segala arah dengan tidak
teratur

(Danisworo,

1994).

Pecahan mineral ada beberapa macam, yaitu:

Concoidal

:Bila memperhatikan gelombang yang melengkung

di permukaan pecahan, seperti kenampakan kulit kerang atau pecahan


botol. Contoh Kuarsa.

Splintery/fibrous

: Bila menunjukkan gejala seperti serat, misalnya

asbestos, augit, hipersten

Even: Bila pecahan tersebut menunjukkan permukaan bidang pecahan


halus, contoh pada kelompok mineral lempung. Contoh Limonit.

Uneven: Bila pecahan tersebut menunjukkan permukaan bidang pecahan


yang kasar, contoh: magnetit, hematite, kalkopirite, garnet.

Hackly: Bila pecahan tersebut menunjukkan permukaan kasar tidak teratur


dan runcing-runcing. Contoh pada native elemen emas dan perak.
7. Bentuk
Mineral ada yang berbentuk kristal, mempunyai bentuk teratur yang

dikendalikan oleh system kristalnya, dan ada pula yang tidak. Mineral yang
membentuk kristal disebut mineral kristalin. Mineral kristalin sering mempunyai
bangun

yang

khas

disebut

amorf

(Danisworo,

1994).

Mineral kristalin sering mempunyai bangun yang khas, misalnya:


a.
b.
c.
d.

Bangun kubus
Bangun pimatik
Bangun doecahedon
Mineral amorf misalnya

: galena, pirit.
: piroksen, ampibole.
: garnet
: chert, flint.

Kristal dengan bentuk panjang dijumpai. Karena pertumbuhan kristal sering


mengalami gangguan. Kebiasaan mengkristal suatu mineral yang disesuaikan
dengan kondisi sekelilingnya mengakibatkan terjadinya bentuk-bentuk kristal
10

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

yang khas, baik yang berdiri sendiri maupun di dalam kelompok-kelompok.


Kelompok tersebut disebut agregasi mineral dan dapat dibedakan dalam struktur
sebagai berikut:

Struktur granular atau struktur butiran yang terdiri dari butiran-butiran


mineral yang mempunyai dimensi sama, isometrik. Dalam hal ini
berdasarkan

ukuran

butirnya

dapat

dibedakan

menjadi

kriptokristalin/penerokristalin (mineral dapat dilihat dengan mata biasa).


Bila kelompok kristal berukuran butir sebesar gula pasir, disebut
mempunyai sakaroidal.

Struktur kolom: terdiri dari prisma panjang-panjang dan ramping. Bila


prisma tersebut begitu memanjang, dan halus dikatakan mempunyai
struktur fibrous atau struktur berserat. Selanjutnya struktur kolom dapat
dibedakan lagi menjadi: struktur jarring-jaring (retikuler), struktur bintang
(stelated) dan radier.

Struktur Lembaran atau lameler, terdiri dari lembaran-lembaran. Bila


individu-individu mineral pipih disebut struktur tabuler,contoh mika.
Struktur lembaran dibedakan menjadi struktur konsentris, foliasi.

Sturktur imitasi : kelompok mineral mempunyai kemiripan bentuk dengan


benda lain. Mineral-mineral ini dapat berdiri sendiri atau berkelompok.
Bentuk kristal mencerminkan struktur dalam sehingga dapat dipergunakan
untuk pemerian atau pengidentifikasian mineral (Sapiie, 2006).

8. Berat Jenis
Adalah perbandingan antara berat mineral dengan volume mineral. Cara yang
umum untuk menentukan berat jenis yaitu dengan menimbang mineral tersebut
terlebih dahulu, misalnya beratnya x gram. Kemudian mineral ditimbang lagi
11

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

dalam keadaan di dalam air, misalnya beratnya y gram. Berat terhitung dalam
keadaan di dalam air adalah berat miberal dikurangi dengan berat air yang
volumenya

sama

dengan

volume

butir

mineral

tersebut.

9. Sifat Dalam
Adalah sifat mineral apabila kita berusaha untuk mematahkan, memotong,
menghancurkan, membengkokkan atau mengiris. Yang termasuk sifat ini adalah

Rapuh (brittle): mudah hancur tapi bias dipotong-potong, contoh kwarsa,


orthoklas, kalsit, pirit.

Mudah ditempa (malleable): dapat ditempa menjadi lapisan tipis, seperti


emas, tembaga.

Dapat diiris (secitile): dapat diiris dengan pisau, hasil irisan rapuh, contoh
gypsum.

Fleksible: mineral berupa lapisan tipis, dapat dibengkokkan tanpa patah


dan sesudah bengkok tidak dapat kembali seperti semula. Contoh mineral
talk, selenit.
Blastik: mineral berupa lapisan tipis dapat dibengkokkan tanpa menjadi
patah dan dapat kembali seperti semula bila kita henikan tekanannya,
contoh: muskovit.
10. Kemagnitan
Adalah

sifat

mineral

terhadap

gaya

magnet.

Diatakan

sebagai

feromagnetic bila mineral dengan mudah tertarik gaya magnet seperti magnetik,
phirhotit. Mineral-mineral yang menolak gaya magnet disebut diamagnetic, dan
yang tertarik lemah yaitu paramagnetic. Untuk melihat apakah mineral
mempunyai sifat magnetik atau tidak kita gantungkan pada seutas tali/benang
12

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

sebuah magnet, dengan sedikit demi sedikit mineral kita dekatkan pada magnet
tersebut. Bila benang bergerak mendekati berarti mineral tersebut magnetik. Kuat
tidaknya bias kita lihat dari besar kecilnya sudut yang dibuat dengan benang
tersebut dengan garis vertikal.
11. Kelistrikan
Adalah sifat listrik mineral dapat dipisahkan menjadi dua, yaitu pengantar
arus atau londuktor dan idak menghantarkan arus disebut non konduktor. Dan ada
lagi istilah semikonduktor yaitu mineral yang bersifat sebagai konduktor dalam
batas-batas tertentu.
12. Daya lebur mineral
Yaitu meleburnya mineral apabila dipanaskan, penyelidikannya dilakukan
dengan membakar bubuk mineral dalam api. Daya leburnya dinyatakan dalam
derajat keleburan.

13

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

2.3.

BATUAN BEKU INTRUSIF

Batuan beku terbentuk karena pendinginan dan pembekuan magma.


Magma adalah cairan silikat pijar didalam bumi, bersuhu tinggi (900 - 13000 C),
terbantuk alamiah dan berasal dari dalam perut bumi atau bagian atas selimut atau
cenderung bergerak kebagian permukaan bumi. Karena hasil pembekuan, maka
ada

unsur kristalisasi

material

penyusunnya.

Komposisi

mineral

yang

menyusunnya merupakan kristalisasi dari unsur-unsur secara kimiawi, sehingga


bentuk kristalnya mencirikan intensitas kristalisasinya.
Dalam mempelajari, menganalisa dan menginterprestasikan batuan beku
terdapat beberapa hal yang sangat mendasar yang harus diperhatikan yaitu
kenampak secara optik dan makronya.Dalam penamaan batuannya juga
menggunakan persentasi mineral primer sebelum terjadi ubahan, namun dapat
digunakan kata terubah lajut dibelakangnya.Dalam mempelajari sayatan tipis
:Thin Section juga dipelajari bersama-sama contoh setangannya,dikarenakan
sayatan tipisnya tidak mewakili batuan secara menyeluruh, juga persentasi
kehadiran mineraloginya.
Batuan beku intrusive adalah batuan beku yagterjadi dibawah permukaan
bumi, proses pengkristalisasian mineral dekat dengan dapur magma. Batuan beku
intrusive atau plutonik terdiri dari beberapa kelompok, batuan hypabisaldan
batuan plutonik. Batuan hypabisal adalah batuan beku yang terbentuk pada
kedalaman menegah dangkal sehingga memiliki teksturantarakasar halus.
Sedangkan batuan plutonik adalah batuan yang membeku jauh didalam bumi
sehingga bertekstur kasar sangat kasar.beberapa kenampakkan struktur dari batu
beku intrusive adalah :
1. Konkordan
Tubuh batuan beku intrusif yang sejajar dengan perlapisan disekitarnya
Sill, tubuh batuan yang berupa lembaran dan sejajar dengan perlapisan

batuan disekitarnya.
Laccolith, tubuh batuan beku yang berbentuk kubah (dome), dimana
perlapisan batuan yang asalnya datar menjadi melengkung akibat
penerobosan tubuh batuan ini, sedangkan bagian dasarnya tetap datar.
14

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Diameter laccolih berkisar dari 2 sampai 4 mil dengan kedalaman ribuan

meter.
Lopolith, bentuk tubuh batuan yang merupakan kebalikan dari laccolith,
yaitu bentuk tubuh batuan yang cembung ke bawah. Lopolith memiliki
diameter yang lebih besar dari laccolith, yaitu puluhan sampai ratusan

kilometer dengan kedalaman ribuan meter.


Paccolith, tubuh batuan beku yang menempati sinklin atau antiklin yang
telah terbentuk sebelumnya. Ketebalan paccolith berkisar antara ratusan
sampai ribuan kilometer.
2. Diskordan
Tubuh batuan beku intrusif

yang memotong perlapisan

batuan

disekitarnya. Jenis-jenis tubuh batuan ini yaitu:


Dike, yaitu tubuh batuan yang memotong perlapisan disekitarnya dan
memiliki bentuk tabular atau memanjang. Ketebalannya dari beberapa

sentimeter sampai puluhan kilometer dengan panjang ratusan meter.


Batolith, yaitu tubuh batuan yang memiliki ukuran yang sangat besar yaitu

> 100 km2 dan membeku pada kedalaman yang besar.


Stock, yaitu tubuh batuan yang mirip dengan Batolith tetapi ukurannya
lebih kecil yaitu< 100 km2

Gambar 1. Struktur Batuan Beku Intrusif


a) Batuan beku basa dan ultra-basa
Kelompok batuan ini terbentuk pada suhu 1000-1200 o C, dan melimpah
pada wilayah dengan tatanan tektonik lempeng samudra, antara lain pada zona
pemekaran lantai samudra dan busur-busur kepulauan tua. Dicirikan oleh
warnanya gelap hingga sangat gelap, mengandung mineral mafik (olivin dan
piroksen klino) lebih dari 2/3 bagian; batuan faneritik (plutonik) berupa gabro dan
15

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

batuan afanitik (intrusi dangkal atau ekstrusi) berupa basalt dan basanit.
Didasarkan atas tatanan tektoniknya, kelompok batuan ini ada yang berseri toleeit,
Kalk-alkalin maupun alkalin, namun yang paling umum dijumpai adalah seri
batuan toleeit.
b) Batuan beku asam intermediet
Kelompok batuan ini melimpah pada wilayah-wilayah dengan tatanan tektonik
kratonik (benua), seperti di Asia (daratan China), Eropa dan Amerika. Kelompok
batuan ini membeku pada suhu 650-800oC. Dapat dikelompokkan dalam tiga
kelompok, yaitu batuan beku kaya kuarsa, batuan beku kaya feldspathoid (foid)
dan batuan beku miskin kuarsa maupun foid. Batuan beku kaya kuarsa berupa
kuarzolit, granitoid, granit dan tonalit; sedangkan yang miskin kuarsa berupa
syenit, monzonit, monzodiorit, diorit, gabro dan anorthosit
Dalam pengamatan/deskripsi batuan beku, hal-hal yang harus diperhatikan antara lain :warna
batuan, komposisi mineral, tekstur dan struktur batuan.
1. Warna Batuan
Warna batuan beku berkaitan erat dengan komposisi mineral penyusunnya.Mineralpenyusun
batuan dipengaruhi oleh komposisi magma asalnya, sehingga dari warnadapat diketahui jenis
magma pembentuknya, kecuali untuk batuan yang berteksturgelasan.

Batuan beku yang berwarna cerah, umumnya adalah batuan beku asam yangtersusun

oleh mineral-mineral felsik


Batuan beku yang berwarna gelap-hitam, umumnya

adalah batuan beku

intermedieryang tersusun oleh mineral-mineral felsik dan mineral

mafik hampir sama banyak


Batuan beku yang berwarna hitam kehijauan, umumnya adalah batuan

beku basayang tersusun oleh mineral-mineral mafik


Batuan
beku yang berwarna hijau kelam
dan biasanya monomineralik, umumnyaadalah batuan beku ultrabasa yang
tersusun oleh hampir seluruhnya mineral-mineral mafik.
16

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

2. Komposisi Mineral

(Gambar 2. Persentase Mineral)


Berdasarkan mineral penyusunnya batuan beku dapat dibedakan menjadi 4
yaitu:

Kelompok Granit RiolitBerasal dari magma yang bersifat


asam,terutama tersusun olehmineral-mineral kuarsa ortoklas,
plaglioklas Na, kadang terdapathornblende,biotit,muskovit dalam

jumlah yang kecil.2.


Kelompok Diorit AndesitBerasal dari magma yang bersifat
intermediet,terutama tersusun atasmineral-mineral plaglioklas,
Hornblende, piroksen dan kuarsa biotit,orthoklas dalam jumlah

kecil3.
Kelompok Gabro BasaltTersusun dari magma yang bersifat basa
dan terdiri dari mineral-mineral olivine,plaglioklas Ca, piroksen

dan hornblende.4.
Kelompok Ultra BasaTersusun oleh olivin dan piroksen.mineral
lain yang mungkin adalah plagliokals Ca dalam jumlah kecil.
17

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Biasanya hadir dalam jumlah yang cukup banyak dan menentukan


nama/sifatbatuan. Contoh : mineral-mineral Seri Bowen (olivin, piroksen,
hornblenda, biotit,plagioklas, k-felspar, muskovit, kuarsa) dan felspathoid.
Mineral tambahan (accessory minerals) : mineral yang terbentuk dari
kristalisasimagma, tetapi kehadirannya relatif sedikit (< 5%), dan tidak
menentukan nama/sifatbatuan. Contoh : apatit, zirkon, magnetit, hematit, rutil, dll.
Mineral sekunder (secondary minerals) : mineral hasil ubahan dari
mineral-mineralprimer karena pelapukan, alterasi hidrotermal atau metamorfosa.
Contoh : klorit,epidot, serisit, kaolin, aktinolit, garnet, dll.
Tabel 3. Pengenalan mineral dan sifatnya
Nama Mineral

Warna

Bentuk dan

Belahan

Keterangan

Olivine

Hijau

Perawakan Mineral
Tak teratur membutir

Tidak

Kilap kaca

Hijau tua

massif
Prismatic pendek

sempurna
2 arah saling

Kilap kaca,

Prismatic panjang,

tegak lurus
2 arah,

permukaan halus
Kilap arang

Piroksen
Amfibol
(Hornblende)

Hitam, coklat
Hitam, coklat

Biotit
Alkali feldspar

Plagioklas

Muskovit

menyerat, membutir
Tabular, berlembar

membentuk sudut
Kilap kaca
2 arah

Prismatic / tabular
Merah jambu,

panjang , massif,

putih

membutir
Prismatic/tabular

Putih susu, abu-

panjang , massif ,

abu

membutir
Tabular, berlembar,

Putih,

Kilap kaca/arang
2 arah
Kilap kaca/arang
3 arah
Kilap kaca/
1 arah

transparan
Kuarsa

terdapat dalam
Tidak teratur, massif,

Tak berwarna,

mutiara sering

Tidak ada

granit pegmite
Kilap kaca /

membutir

pembuih

Rhombohedral,

Membuih bila

putih
Kalsit
Tak berwarna,

massif, membutir

Sempurna

ditetesi HCL,
18

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

putih
Klorit
Serisit

Hijau
Tak berwarna,

kilap kaca
Umum pada
Berlembar
Tabular, berlembar

Sempurna
Sempurna

batuan metamorf
Kilap kaca

putih
Terutama
Asbes

Putih

Menyerat

tersusun atas

Garnet

Coklat merah

Polygonal, membutir

Tidak ada

antopilit
Kilap

Halite

Tak berwarna,

Kubus, massif,

Sempurna

kaca/mutiara
Sebagai garam

putih merah

membutir
Memapan, membutir

Gypsum

Tak berwarna,

Anhidrit

putih
Putih, abu-

Massif, membutir

evaporit
Lembar-lembar
Sempurna

tipis terjadi dari

Sempurna

evaporit
Karena evaporit

abu,biru pucat

umumnya

Tahapan sifat - sifat fisik yang perlu diketahui adalah:


1.

Warna.
Bila suatu mineral dikenai sinar/cahaya, maka cahaya yang jatuh

dipermukaanmineral sebagian diserap (diabsorbsi) dan sebagian dipantulkan


(refleksi).Mineral

yang berwarna gelap

adalah mineral

yang secara

merata

dapat menyerapseluruh panjang gelombang pembentuk cahaya putih tadi. Jadi


cahaya dipantulkan ini akantimbul sebagai warna dari mineral.Faktor - faktor
yang mempengaruhi warna :

2.

a. Komposisi kimia
contoh : Chlorite : hijau
Albite : putih
b. Struktur kristal dan ikatan atom
Contoh : Intan : tidak berwarna : isometrik
Grafit : hitam : heksagonal
c. Pengotoran dari mineral
Contoh : Silika : tidak berwarna
Jasper : merah
Kilap

19

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Kilap ditimbulkan oleh cahaya yang dipantulkan dari permukaan mineral.


Macam - macam kilap :
a. Kilap metalik/logam
Contoh : pyrite, tembaga
b. Kilap non metalik/non logam
Contoh : kuarsa, talk
Bentuk Kristal/Perawakan

3.

KristalApabila dalam pertumbuhan tidak mengalami gangguan apapun,


maka mineral akanmempunyai bentuk kristal yang sempurna. Tetapi bentuk yang
sempurna ini jarang sekali kitadapatkan karena gangguan tersebut di alam selalu
ada.

Mineral

di

alam

yang

dijumpai

sering pula bentuknya tidak berkembang sebagaimana mestinya, sehingga sulit u


ntk mengelompokkannya ke dalam sistem kristal. Sebagai gantinya dipakai
istilah perawakankristal.
Perawakan kristal dibedakan menjadi 3 (tiga) golongan besar
menurut Richard M.Pearl (1975), yaitu :

a. Elongated Habits (meniang/berserabut)


Tabel 4. Elongated habits
Jenis

Mineral

Columnar
( meniang )

Tourmaline

Columnar
(meniang )

Fibrous
( menyerat )

Gambar

Tourmaline

Asbestos

20

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Acicular
( menjarum )

Natrolite

Raticulated
( menjaring )

Rutile

Filiform
( membenang )

Nat silver

Capilery
( merambut )

Bysolite

Stout ( mondok )

Zircon

Stelated
( membintang )

Phyropyllite

Radiated
( mrnjari )

Marcasite

b. Flattened Habits (lembaran tipis)


Tabel 5. Flattened habits
Jenis

mineral

Blede ( membilah )

Kynite

Gambar

21

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Tabular ( memapan )

Barite

Bloky ( membata )

microclie

Foliated ( mendaun )

Mika

Lammelar ( melapis )

Mika

Bladed ( membilah )

Stilbite

Divergent ( memencar )

Gypsum

Plumose ( membuluh)

mika

Plumuse ( membuluh )

mika

c. Rounded Habits (membutir)


Tabel 6. Round habits
Jenis

mineral

gambar

22

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Mammilery ( mendada )

Malachite

Colloform ( membulat )

glauconite

Colloform radial

Pyromorphyte

( membulat jari )

Granular ( membutir )

Olivine

Pisolitic Opal

Pisolitic Oapl

Stalictid

Reniform ( mengginjal )

3. Tekstur
Tekstur adalah kenampakan dari batuan (ukuran, bentuk dan hubungan
keteraturanmineral dalam batuan) yang dapat merefleksikan sejarah pembentukan
danketerdapatannya.Pengamatan tekstur batuan beku meliputi :
a. Derajat Kristalisasi
23

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Derajat kristalisasi batuan beku tergantung dari proses pembekuan magma.


Padapembekuan magma yang berlangsung lambat maka akan terbentuk kristalkristal yangberukuran kasar-sedang, bila berlangsung cepat akan terbentuk kristalkristal yangberukuran halus, dan bila berlangsung sangat cepat akan terbentuk
gelas. Derajatkristalisasi batuan beku dapat dibagi menjadi 3 yaitu :

Holokristalin : batuan beku terdiri dari kristal seluruhnya


Hipokristalin : batuan beku terdiri dari sebagian kristal dan sebagian gelas
Holohyalin : batuan beku terdiri dari gelas seluruhnya

b. Granulitas/Besar butir
Granulitas/besar butir batuan beku dapat dibagi menjadi 3 yaitu :

Fanerik : kristal-kristalnya dapat dilihat dengan mata biasaUkuran

butir/kristal untuk batuan bertekstur fanerik dapat dibagi menjadi 4 yaitu :


Halus
: besar butir < 1 mm
Sedang
: besar butir 1 mm - 5 mm
Kasar
: besar butir 5 mm - 30 mm
Sangat kasar
: besar butir > 30 mm
Afanitik : kristal-kristalnya sangat halus, tidak dapat dilihat dengan mata
biasa,hanya dapat dilihat dengan mikroskop. Jika batuan bertekstur porfiritik maka

ukuranfenokris dan masa dasar dipisahkan.


Gelasan (glassy) : batuan beku semuanya tersusun oleh gelas.

4. Kemas / fabric
Kemas / fabric batuan beku dapat dibagi menjadi 2 yaitu :

Equigranular : ukuran besar butir/kristal relatif sama.


Inequigranular : ukuran besar butir/Nristal tidak sama.

Equigranular dapat dibedakan menjadi 2 tekstur yaitu :

Panidiomorfik apabila sebagian besar mineral


didalam batuan beku tersebut berukuran butir relatif seragam dan berbentu

k euhedral.
Hipidiomorfik apabila sebagian besar mineral didalam batuan beku
tersebut berukuran butir relatif seragam dan berbentuk subhedral.3.

24

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Gambar 3. Hipidiomorfik
Allotriomorfik apabila sebagian besar mineral
didalam batuan beku tersebut berukuran butir relatif seragam dan berbentu
k anhedral.

Gambar 4. Allotriomrfik
inequigranular dapat dibedakan menjadi 2 tekstur yaitu :

Porfiritik : kristal-kristal yang lebih besar (fenokris) tertanam dalam


masa dasar(matriks) kristal yang lebih halus.

Gambar 5. Porfiritik
Vitrofirik : kristal-kristal yang lebih besar (fenokris) tertanam dalam
masa dasar(matriks) gelas/amorf.

5.

Struktur Batuan Beku

Struktur yang dimaksud adalah struktur primer, yang terjadi saat terbentuknya
batuanbeku tersebut. Struktur batuan beku sebagian besar hanya dapat dilihat di
25

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

lapangan(dimensinya sangat besar), tetapi kadang-kadang dapat dilihat juga


dalamhandspecimen.
Tabel 7. Bentuk Kristal :
Bentuk

Tekstur

keterangan

Panidiomorfik

Senagian Kristal

Gambar

Kristal

Euhedral

mempunyai batas
sempurna

Batas Kristal
Subhedral

Hypidiomorfik

peralihan antara
sempurna dan
tidak beraturan

anhedral

Allotrimorfik

Batas Kristal tak


beraturan

Gambar 6. Bentuk Kristal


26

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Struktur batuan beku yang berhubungan dengan aliran magma :

Schlieren : struktur kesejajaran yang dibentuk mineral prismatik, pipih

ataumemanjang atau oleh xenolith akibat pergerakan magma.


Segregasi : struktur pengelompokan mineral (biasanya mineral

mafik)

yangmengakibatkan

batuan

perbedaan

komposisi

mineral

dengan

induknya. Lava Bantal (pillow lava) : struktur yang diakibatkan oleh pergerakan
lava akibatinteraksi dengan lingkungan air, bentuknya menyerupai bantal, di mana bagian

atascembung dan bagian bawah cekung.


Blok Lava (Lava aa) : aliran lava yang permukaannya sangat kasar,

merupakanbongkah-bongkah.
Lava Ropy (Lava
Pahoehoe) : aliran

lava yang permukaannya

halus dan berbentukseperti pilinan tali, bagian depannya membulat, bergaris


tengah samapai beberapameter.
Struktur batuan beku yang berhubungan dengan pendinginan magma :

Masif

monoton, seragam, tanparetakan atau lubang-lubang bekas gas.


Vesikuler : lubang-lubang bekas gas pada batuan beku (lava)
Amigdaloidal : lubang-lubang bekas gas pada batuan beku (lava), yang telah diisioleh

mineral sekunder, seperti zeolit, kalsit, kuarsa.


Kekar kolom (columnar joint) : kekar berbentuk tiang

sumbunya tegak lurusarah aliran.


Kekar berlembar (sheeting joint)

bila

batuan secara

keseluruhan terlihat

kekar

berbentuk

pejal,

dimana
lembaran,

biasanya padatepi/atap intrusi besar akibat hilangnya beban.


A. Klasifikasi Batuan Beku
Batuan beku di alam sangat banyak jenisnya, oleh karena itu untuk memudahkanbatuan
beku

perlu dikelompokan/diklasifikasikan.Batuan beku

ada yang

diklasifikasikanberdasarkan kandungan SiO2, indeks warna, alumina saturation, silica


saturation, danlalin-lain, tetapi terutama diklasifikasikan berdasarkan komposisi
mineral dan teksturnya.
Golongan Fanerik
27

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Batuan bertekstur fanerik, dapat teramati secara megaskopik (mata biasa),


berbutirsedang-kasar (lebih besar dari 1 mm).Golongan fanerik dapat dibagi atas
beberapa jenis batuan, seperti terlihat pada diagram segitiga Gambar 7a, 7b, dan 7
c. Dasar pembagiannya adalah kandungan mineral kuarsa (Q), atau mineral
felspatoid (F), felsfaralkali (A), serta kandungan mineral plagioklas (P). Cara
menentukan nama batuan dihitung dengan menganggap jumlah ketiga mineral
utama (Q+A+P atau F+A+P) adalah 100%. Contoh : suatu batuan beku diketahui Q =
50%, A = 30%, P = 10% dan muskovit danbiotit = 10%. Jadi jumlah masingmasing mineral Q, A, dan P yang dihitung kembali untuk di plot dibagian adalah sebagai
berikut :Jumlah mineralQ+A+P = 50% + 30% +10% =100% 10% (jumlah mineral mika) = 90%,
maka : Mineral Q = 50/90 x100% = 55,55% Mineral A= 30/90x100% =33,33% Mineral P =100% (Q + A) = 100% - 88,88% = 11,12% Bila diplot pada diagram 7a, hasilnya adalah batuan granitoid. : Berikut
klasifikasiIUGS batuanbekufaneritik

28

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

(Gambar 7) Diagram Klasifikasi Batuan Beku Fanerik (IUGS, 1973)


(a) Klasifikasi umum, (b)Batuan ultramafik, gabroik & anortosit, (c) Batuan
ultramafikI. Granitoid; II.Syenitoid; III.Dioritoid; IV.Gabroid; V. Foid Syenitoid;
VI.Foid Dioritoid&Gabroid; VII.Foidolit; VIII.Anortosit; IX.Peridotit; X.
Piroksenit; XI.Hornblendit; II-IV.The Qualifier FoidBearing, digunakan bila
feldspatoid hadir;IX-XI. Batuan Ultramafik.

29

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Gambar 8. DIAGRAM DESKRIPSI BATUAN BEKU INTRUSIF


No Batuan:
BB01/BB 02 dst
Warna:
Hitam bintik-bintik putih / putih kemerahan ( dan warna representatif)
Struktur :
Masif/Vasikular/Amigoidal/kekar akibat pendinginan dll
Tekstur
Granulitas / Besar Butir
Sangat Kasar >3cm,Kasar 5mm-3mm,Sedang 1-5mm

Halus < 1mm

Faneritik

Afanitik
Derajat kristalisasi

holokristalin

Holohialin

Hipokristalin / Hipohialin

Keseragaman antar butir/ Kristal


Equigranular

Panidiomorfik
granular (Euhedral)

Inequigranular

Hipodiomorfik
granular

Porfiritik/ Vitrofir

Alotrimorfik
granular

Fenokris

Komposisi Mineral:
Kuarsa % cirri-cirinyadll. (Untuk % digunakan perbandingan secara visual )
Nama Batuan:
Granitoid/Syenitoid/Dioritoid dll. (Gunakan diagram IUGS)
TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

30

2.4.

BATUAN BEKU EKSTRUSIF & PIROKLASTIK

Batuan Beku adalah Kumpulan interlocking agregat mineral-mineral


silikat hasil magma yang mendingin ( Walter T. Huang, 1962 ). Sedangkan
menurut Graha (1987) adalah batuan yang terjadi dari pembekuan larutan silika
cair dan pijar, yang kita kenal dengan magma. Batuan beku terbagi 2 kelompok,
yaitu batuan beku intrusive dan ekstrusif.
Batuan beku ekstrusi merupakan batuan beku yang membeku di
permukaan/di dekat permukaan bumi, yang menghasilkan batuan beku volkanik yang
bertekstur sangat halus-halus.
Batuan piroklastik adalah suatu batuan yang berasal dari letusan
gunungapi, sehinggamerupakan hasil pembatuan daripada bahan hamburan atau
pecahan magma yang dilontarkandari dalam bumi ke permukaan. Itulah sebabnya
dinamakan sebagai
Piroklastik, yang berasaldari kata pyro berarti api (magma yang
dihamburkan ke permukaan hampir selalu membara, berpendar atau berapi), dan
clast artinya fragmen, pecahan atau klastika.
Secara genetik, batuan piroklastik dapat dibagi menjadi 4 jenis yaitu :
1. Endapan jatuhan piroklastik ( pyroclastic fall deposits),

dihasilkan

dari

letusaneksplosif yang melemparkan material-material vulkanik dari lubang


vulkanik keatmosfer dan jatuh ke bawah dan terkumpul di sekitar gunung api.Endapan ini
umumnya menipis dan ukuran butir menghalus secara sistimatismenjauhi
pusat erupsi, sebaran mengikuti topografi, pemilahannya baik, strukturgradded
bedding normal & reverse, komposisi pumis, scoria, abu, sedikit lapili danfragmen litik,
komposisi pumis lebih besar daripada litik.Contoh endapaniniadalah :
Agglomerate, breksi, piroklastik, tuff dan lapili.
2. Endapan aliran piroklastik ( pyroclastic flow deposits),

dihasilkan

dari

pergerakanlateral di permukaan tanah dari fragmen-fragmen piroklastik yang


31

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

tertransport dalammatrik fluida (gas atau cairan yang panas) yang dihasilkan oleh erupsi
volkanik,material vulkanik ini tertransportasi jauh dari gunung api.Endapan ini umumnya
pemilahannya buruk, mungkin menunjukan grading normalfragmen litik dan butiran litik yang
padat, yang semakin berkurang menjauhi pusaterupsi, sortasi buruk dan butiran
menyudut, sebaran tidak merata dan menebal dibagian lembah.Contoh : lahar yaitu
masa piroklastik yang mengalir menerus antara alirantemperatur tinggi (> 1000C) di
mana material piroklastik ditransportasikan oleh fasegas dan aliran temperatur
rendah yang biasanya bercampur dengan air.
3. Endapan surge piroklastik ( pyroclastic surge deposits), pergerakan lateral
material-material piroklastik (low concentration volcanic particles, gases, and
water; rasiopartikel : gas rendah; konsentrasi partikel relatif rendah) yang
mengalir dalamturbulent gas yang panas.
4. Lahar Pada suhu di atas 100 oC material piroklastik cenderung tertransport
oleh media berfasegas. Jika media pembawa berupa air bersuhu rendah maka
terbentuk semacam aliranlumpur yang disebut lahar. Istilah lahar ini berasal
dari bahasa Indonesia yang kinidigunakan secara internasional.
Tiga jenis fagmen yang ditemukan dalam endapan piroklastik yaitu :

Fragmen

dari

lava baru

atau

disebut

fragmen

juvenil,

berupa

material padat tidakmempunyai vesikuler sampai fragmen lava yang

banyak vesikulernya.
Kristal individu, yang dihasilkan dari fenokris yang lepas dalam lava

juvenil sebagaihasil fragmentasi.


Fragmen litik, termasuk batuan yang lebih tua dalam endapan piroklastik, tetapisering
terdiri dari lava yang lebih tua.
Klasifikasi batuan piroklastik berdasarkan besar butir/ukuran klast
Schmid (1981) membuat klasifikasi batuan piroklastik berdasarkan besar
butir/ukuranklast
(Tabel 8. Klasifikasi batu piroklastik)

Ukuran

Piroklast

Klast
( pecahan )

Endapan Piroklast Non-

Endapan Piroklastik

Konsolldasi : Tefra

Konsolidasi : batuan
piroklstik
32

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Blok (menyudut)

Aglomerat,lapisan blok/bom

Bom

ataublok/bom tefra

Aglomerat,Breksi

(membundar)

Piroklastik
Lapisan Lapili atauTefra

64 mm
2 mm
1/16 mm

Lapili
Butiran debu (ash)

Lapili

Batuan lapili

kasar

Debu (ash) kasar

Tuff kasar

Butiran debu (ash)

Debu (ash) halus

Tuff halus

halus

bom
Lapili

Debu

(Gambar 9. Jenis batuan piroklastik)

Klasifikasi batuan piroklastik berdasarkan jenis material dan ukuran


fragmen volkanik
Fisher (1984) membuat klasifikasi batuan piroklastik berdasarkan jenis material
dan ukuran fragmen volkanik .

33

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

(Gambar 10. Klasifikasi piroklastik berdasar jenis material dan ukuran fragmen
volkanik)
Hal-hal yang perlu dideskripsi dalam pengamatan batuan piroklastik yaitu :
1. Warna, deskripsikan warna batuan yang representatif.
2. Besar

butir,

deskripsikan mengunakan besar

butir/ukuran

klast batuan

piroklastik.
3. Komponen, deskripsikan komponen batuan piroklastik :

Kristal, fragmen Kristal


Fragmen litik : vulkanik atau non vulkanik, polimik atau monomik
Pumice atau scoria
Shards, lapili akresionari, vitriklas
Semen : siliceous, karbonat atau zeolit

4. Lithofasies :

Masif (tidak berlapis) atau berlapis


Berlapis :
- Laminasi
: < 1 cm
- Berlapis sangat tipis
: 1-3 cm
- Berlapis tipis
: 3-10 cm
- Berlapis sedang
: 10-30 cm
- Berlapis Tebal
: 300 100 cm
- Berlapis sangat tebal
: > 100 cm

Masif (tidak bergradasi) atau bergradasi :normal


Kemas : - clast-supported atau matrix-supported- terpilah baik, terpilah

sedang, terpilah buruk


Kekar : blocky, prismatik, columnar, platy
Ketebalan seragam atau tidak seragam
Ketebalan lateral rata atau tidak rata
Secara lateral menerus atau tidak menerus
34

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Cross-bedded, cross-laminated
5. Alterasi :
Mineralogi : klorit, serisit, silika, pirit, karbonat, felspar, hematite
Distribusi : disseminated, nodular, spotted, pervasive, patchy

Klasifikasi batuan beku afanitik (ekstrusif)

Gambar 11. Diagram Klasifikasi


Batuan Beku Afanitik

Gambar 12. DIAGRAM DESKRIPSI BATUAN BEKU EKSTRUSIF

No. Batuan
35

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Warna : warna yang representatif


Tekstur: Ukuran Butir, Pemilahan, Kebundaran Butiran, Kemas(Clast/Matrix Supported),
Kontak Antar Butiran
Butiran : Jenis ( Kristal, Fragmen Litik, Gelas), Presntase

Matriks/Semen : Jenis ( Gelas, Karbonat, Silika, Zeoloit ), Presntase


Struktur: Masif/Berlapis (Tebal, Tebal lateral seragam/Tidak seragam, Menerus/Tidak menerus),
Normal/Reverse Gradded Bedding, Cross Bedding/Lamination.
Altresi: Mineralogi (Klorit, serisit, pirit, silika, karbonat, feldspar, hematit), Distribusi
(Disseminated, nodular, spotted, pervasive, patchy)

Nama Batuan : Tuff halus/Kasar, Batu Lapili, Aglomerat, Breksi piroklastik, dll.

2.5.

BATUAN SEDIMEN KLASTIK

Batuan sedimen sangat banyak jenisnya dan tersebar sangat luas ( 75%
dari luaspermukaan bumi) dengan ketebalan beberapa centimeter sampai beberapa
36

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

kilometer.Berdasarkan proses pembentukan, batuan sedimen dapat dikelompokan menjadi 5yaitu :


Batuan Sedimen Detritus (Klastik), Batuan Sedimen Karbonat, Batuan SedimenEvaporit, Batuan
Sedimen Batubara, dan Batuan Sedimen Silika. Batuan sedimen terbagi menjadi
2, yaitu batuan sedimen klastik dan non klastik. Batuan sedimen klastik terbentuk
oleh proses sedimentasi mekanis.
Komponen pembentuk batuan sedimen klastik:

Butiran (grain) : butiran klastik yang tertransport yang berupa mineral,

fosil ataufragmen batuan (litik).


Masa dasar (matrix) : berukuran lebih halus dari butiran (< 1/16 mm)

dandiendapkan bersama-sama dengan butiran.


Semen (cement) : material berukuran halus yang mengikat butiran dan
matrik,diendapkan setelah fragmen dan matrik, contoh : semen karbonat,
silika, oksidabesi, lempung, dll.
(Gambar 13. Komponen Batuan Sedimen Klastik)

Komponen pembentuk batuan sedimen klastik : butiran (clasts),masa dasar


(matrix), dan semen (semen oksida besi berwarna coklat kemerahan)

Tekstur Batuan Sedimen Klastik

37

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Tekstur batuan sedimen adalah segala kenampakan yang menyangkut butir sedimenseperti
besar butir, kebundaran, pemilahan dan kemas. Tekstur batuan sedimenmempunyai
arti penting karena mencerminkan proses yang telah dialami batuantersebut (terutama proses
transportasi dan pengendapanannya) dan dapat digunakanuntuk menginterpretasikan lingkungan
pengendapan batuan sedimen.

Pemilahan (sorting)
Pemilahan (sorting) adalah derajat keseragaman besar butir. Istilah yang dipakai

dalampemilahan adalah terpilah sangat baik, terpilah baik, terpilah sedang, terpilah buruk dan terpilah
sangat buruk .

(Gambar 14. Pemilahan)


Kebundaaran ( Roundness )
Kebundaaran ( Roundness ) adalah tingkat kebubdaran atau ketajaman sudut butir, yang
mencerminkan tingkat abrasi selama transportasi. Kebundaran dipengaruhi oleh komposisi butir, besar
butir, jenis transportasi, jarak transportasi dan resistensi butir. Istilah yang dipakai dalam kebundaran
adalah very angular ( sangat menyudut ), angular ( menyudut ), sub angular ( menyudut tanggung ),
sub rounded ( membundar tanggung ), rounded ( membundar ), dan well rounded ( sangat
membundar )

(Gambar 15. Kebundaran)

Besar Butir (Grain Size)

38

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Besar Butir adalah ukuran/diameter butiran, yang merupakan unsur utama dari
batuansedimen klastik, yang berhubungan dengan tingkat energi pada saat transportasi
danpengendapan. Klasifikasi besar butir menggunakan skala Wentworth .Besar
butir

ditentukan

oleh

Jenis pelapukan : - pelapukan kimiawi (butiran halus)- pelapukan mekanis (butiran


asar), Jenis transportasi, Waktu/jarak transportasi, Resistensi

39

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Nama partikel

Ukuran

Bongkah

>256 mm

Berangkal

64 - 256 mm

Kerakal

4 - 64 mm

Kerikil

2 - 4 mm

Pasir sangat kasar

1 - 2 mm

Pasir kasar

0.5 - 1 mm

Pasir sedang

0.25 - 0.5 mm

Pasir halus

0.125 - 0.25 mm

Pasir sangat halus

0.0625

Istilah

Nama

Sedimen lepas

batuan

Gravel

Konglomera
t - breksi

Pasir

Batupasir

lanau

Batulanau

0.125

mm
Lanau kasar

0.031 - 0.625 mm

Lanau sedang

0.016 - 0.031 mm

Lanau halus

0.008 - 0.016 mm

Lanau
halust
lempung

sangat 0.004 - 0.008 mm


<0.004 mm

lempung

Batulempung,
batulumpur, serpih

Tabel 9. Besar butir sedimen klastik

Porositas
Porositas adalah perbandingan antara volume rongga dengan volume total

batuan(dinyatakan dalam persen). Porositas dapat diuji dengan meneteskan cairan


(air) kedalam batuan. Istilah yang dipakai adalah porositas baik (batuan menyerap air),porositas
sedang (di antara baik-buruk), dan porositas buruk (batuan tidak menyerapair).
Jenis-jenis porositas : intergranular, microporosity, dissolution dan fracture.
40

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Warna
Warna pada batuan sedimen mempunyai arti yang penting karena

mencerminkankomposisi butiran penyusun batuan sedimen dan dapat digunakan


untukmenginterpretasikan lingkungan pengendapan. Warna batuan merah menunjukanlingkungan
oksidasi,sedangkan warna batuan hitam atau gelap menunjukan lingkunganreduksi. Secara umum
warna pada batuan sedimen dipengaruhi oleh :
Warna mineral pembentuk

batuan sedimen, contoh

: bila mineral

pembentuk batuansedimen didominasi oleh kuarsa maka batuan akan


berwarna putih (misal batupasirquartz arenite).
Warna matrik
atau semen, contoh
: bila matriks/semen mengandung
oksida besi,maka batuan akan berwarna coklat kemerahan.
Warna material yang meyelubungi (coating material), contoh : batupasir
kuarsa yangdiselubungi oleh glaukonit akan berwarna hijau
Derajat kehalusan butir penyusunnya, contoh : pada batuan dengan
komposisisama jika makin halus ukuran butir maka warnanya akan cenderung lebih gelap.

Kekompakan

Kekompakan adalah sifat fisik dari batuan. Beberapa istilah yang dipakai
dalamkekompakan batuan adalah :

Dense
: sangat padat
Hard
: keras dan padat
Medium hard : agak keras tetapi masih dapat digores dengan jarum baja
Soft
: lunak, mudah tergores dan dipecahkan.
Friable
:keras tetapi dapat diremas dengan tangan
Spongy
: berongga
Struktur Sedimen
Struktur sedimen termasuk ke dalam struktur primer yaitu struktur yang

terbentuk padasaat pembentukan batuan (pada saat sedimentasi). Struktur sedimen


dapat dibagimenjadi 4 yaitu : Struktur Sedimen Pengendapan, Struktur Sedimen
Erosional, Struktur Sedimen Pasca Pengendapan dan Struktur Sedimen Biogenik.
Struktur Sedimen Pengendapan (Depositional Sedimentary Strucures)
Adalah struktur sedimen yang terjadi pada saat pengendapan batuan sedimen.
41

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Perlapisan/Laminasi

Perlapisan adalah bidang kesamaan waktu yang dapat ditunjukan oleh perbedaanbesar butir atau
warna dari bahan penyusunnya. Disebut perlapisan bila tebalnya>1cm dan laminasi bila tebalnya <1
cm..
Macam-macam perlapisan/laminasi :
Perlapisan/laminasi sejajar (Paralel Bedding/Lamination) : bentuk
lapisan/laminasi batuan yang tersusun secara horisontal dan saling sejajar satu denganyang
lainnya.
Perlapisan/laminasi silang siur (Cross Bedding/Lamination) : bentuk
lapisan/laminasi yang terpotong pada bagian atasnya oleh lapisan/laminasi
berikutnyadengan sudut yang berlainan dalam satu satuan perlapisan.
Perlapisan bersusun (Graded Bedding) : perlapisan batuan yang dibentuk olehgradasi butir
yang makin halus ke arah atas (normal graded bedding) ataugradasi butir yang makin
kasar ke arah atas (reverse graded bedding). Normalgraded bedding dapat

dipakai untuk menentukan top atau bottom lapisanbatuan.


Gelembur gelombang (current ripple) :

bentuk permukaan perlapisan bergelombangkarena adanya arus sedimentasi.


Mud crack : bentuk retakan poligonal pada permukaan lapisan lumpur (mud).
Rain mark : kenampakan pada permukaan sedimen karena tetesan air hujanbaik, terpilah
baik, terpilah sedang, terpilah buruk danterpilah sangat buruk .

Struktur Sedimen Erosional (Erosional Sedimentary Strucures)


Adalah struktur sedimen yang terjadi akibat proses erosi pada saat pengendapanb
atuan sedimen.

Flute cast : struktur sedimen berbentuk seruling dan terdapat pada dasar

suatulapisan, dapat dipakai untuk menentukan arus purba.


Groove Marks, Gutter Cast, Impack Marks, Channels and Scours, dll

Struktur

Sedimen

Pasca

Pengendapan

(Post-Depositional

SedimentaryStrucures)
Adalah struktur sedimen yang terjadi setelah pengendapan batuan sedimen.

Load cast : struktur sedimen terbentuk pada permukaan lapisan akibat pengaruhbeban
sedimen di atasnya.
42

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Convolute Bedding: bentuk liukan pada batuan sedimen akibat proses deformasi.
Sandstone
dike : lapisan pasir
yang terinjeksikan pada lapisan

sedimen di atasnyaakibat proses deformasi.


Contoh lain :
Ball-and-Pillow Structures, Dish-andPillar Structure, Stylolites, dll.

Struktur Sedimen Biogenik (Biogenic Sedimentary Strucures)


Adalah struktur sedimen yang terjadi akibat proses biogenik/organisme.

Fosil Jejak (Trace Fossils) :


- Tracks (jejak berupa tapak organisme)
- Trails (jejak berupa seretan bagian tubuh organisme)
- Burrows (lubang atau bahan galian hasil aktivitas organisme)
- Mold : cetakan bagian tubuh organism
- Cast : cetakan dari mold
- Resting, Crawling and Grazing Traces Dwelling, Feeding and Escape Burrows
Boring : lubang akibat aktivitas pengeboran organisme pada lapisan batua
n (batuanrelatif lebih keras dibandingkan pada burrows).
Klasifikasi Batuan Sedimen Klastik
Batuan sedimen klastik berdasarkan ukuran besar butirnya dapat dibagi menjadi 2 yaitu :

Batuan sedimen detritus (klastik) halus, terdiri dari batulempung, batulanau danserpih.
Batuan sedimen detritus (klastik) kasar, terdiri dari batupasir, konglomerat
danbreksi.

a. Batupasir
Tekstur batupasir

ukuran

bentuk butiran(menyudut,

butiran

membundar,

(pasir
dll.),

0.125

sorting,

2.00 mm),

kemas

butiran

(mencakup orientasi, grainpacking, grain contact, hubungan butiran dan

matriks), textural maturity, porositas,permeabilitas, struktur sedimen.


Textural maturity :
Texturally immature sediment : matriks dominan, sortasi

buruk,

butiranmenyudut.
Texturally mature sediment : matriks sedikit,, sortasi sedang-baik,

butiranmembundar tanggung-membundar.
Komposisi : butiran (fragmen batuan/litik, kuarsa, felspar, dan mineral-

minerallainnya), matrik dan semen.


Klasifikasi batupasir
Parameter : - butiran (stabil dan tak stabil) : kuarsa, felspar, fragmen litik
43

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

matriks lempung (hasil rombakan atau alterasi batuan)


batupasir arenite : bila kehadiran matriks lempung <15%
batupasir wacke : bila kehadiran matriks lempung >15%

Pembagian secara umum (Gilbert, 1982; Pettjohn, 1987; dan Folk, 1974) :
batupasirkuarsa, batupasir arkose, batupasir litik, batupasir greywacke .
Gambar 16. Klasifikasi Batupasir (Gilbert, 1982)

Gambar 17. Klasifikasi Batupasir (Pettijohn, 1987)

44

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Gambar 18. Klasifikasi batupasir (Folk, 1970)


b. Konglomerat dan Breksi
Kenampakan yang penting untuk mendiskripsi batuan ini adalah jenis klastik yang hadirdan
tekstur batuan tersebut.Berdasarkan asal-usul klastik penyusun konglomerat
dan breksi :

Klastik intraformasi, berasal dari dalam cekungan pengendapan, banyak


fragmenmudrock atau batugamping mikritik yang dilepaskan oleh erosi

atau pengawetansepanjang garis pantai.


Klastik ekstraformasi, berasal dari luar cekungan pengendapan dan lebih
tua daripada sedimen yang melingkupi cekungan tsb.
Jenis konglomerat berdasarkan macam klastik :

Konglomerat polimiktik :terdiri dari bermacam-macam

jenis klastik yang berbeda.


Konglomerat monomitik/oligomiktik : terdiri dari satu jenis klastik.
Konglomerat berdasarkan litologi fragmen (clast) dan jenis kemas (fabric support)

dapatdiklasifikasikan menjadi 4 yaitu: igneous-clast conglomerates, sedimentaryclast

conglomerates,

metamorphic-clast

conglomerates

dan

polymictconglomerates.
45

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Gambar 19. Klasifikasi Konglomerat (Boggs, 1992)

Untuk interpretasi mekanisme pengendapan konglomerat harus dideskripsikanteksturnya


(apakah

teksturnya

clast-supported

conglomerates

atau

matrix-

supportedconglomerates), bentuk, ukuran dan orientasi fragmen batuan, ketebalan


dan geometrilapisan dan struktur sedimen.Konglomerat dan breksi terutama diendapkan
pada lingkungan glasial, alivial fan danbraided stream. Konglomerat yang re-sedimen diendapkan
dalam lingkungan deep water biasanya berasosiasi dengan turbidit.
c. Mudrock
Mudrock adalahistilah umum untuk batuan sedimen yang disusun terutama olehpartikel
berukuran lanau-lempung, mineral lain mungkin juga hadir. Mudrockdiendapkan
terutama dalam lingkungan river floodplain, lake, low energy shoreline,delta, outer marine shelf dan
deep ocean basin.Untuk klasifikasi batuan sedimen klastik selain mengunakan klasifikasi besar
butirmenurut Wentworth, juga dapat menggunakan klasifikasi berdasarkan
komposisi ataubesar butir dari penyusun batuan sedimen yang sudah ditentukan lebih dahulu.

46

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Gambar 20. Klasifikasi batuan sedimen klastik berbutir halus (Picard, 1971).

Gambar 21 DIAGRAM DESKRIPSI BATUAN SEDIMEN KLASTIK

No. Batuan

Warna : warna yang representatif


Tekstur: Ukuran Butir, Pemilahan, Kebundaran Butiran, Kemas(Clast/Matrix Supported),
Kontak Antar Butiran
Butiran : Jenis ( Kristal, Fragmen Litik, Gelas), Presntase

Matriks/Semen : Jenis ( Gelas, Karbonat, Silika, Zeoloit ), Presntase


TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

47

Struktur: Perlapisan/Laminasi (Strike-Dip, Tebal), Gradded Bedding, Cross Bedding,


Load/Flute Cast, Organic Tracks& Trails, Organic Burrow, Mud Crack, dll.
Porositas: Baik (Menyerap air), sedang (diantara baik-buruk), buruk (tidak menyerap air);
kekompakan: keras, kompak, lunak, dll.

Nama Batuan : Batu lempung, Batulanau, Batupasir Halus/Sedang/Kasar (Arenite/Wacke),


Konglomerat, Breksi, dll.

2.6.

BATUAN NONKLASTIK

Batuan karbonat adalah batuan sedimen yang fraksi karbonatnya (aragonit,


kalsit,dolomit, magnesit, ankerit dan siderit) lebih besar dari fraksi non karbonat
(Pettijohn,1975).Batuan karbonat terbentuk oleh proses sedimentasi organik,
sedimentasi mekanis,sedimentasi kimiawi atau kombinasi dari proses-proses
tersebut. Batuan karbonat yangterbentuk oleh proses sedimentasi organik
(kumpulan cangkang moluska, alga,foraminifera, coral, dll) akan menghasilkan
batugamping terumbu; oleh prosessedimentasi mekanis (hasil rombakan batuan
karbonat yang terbentuk lebih dahulu)akan menghasilkan batugamping klastik
atau kalkarenit; oleh proses sedimentasikimiawi (dolomitisasi) akan menghasilkan
batugamping yang kaya dolomit (dolostone);oleh proses sedimentasi organik dan mekanis
48

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

akan menghasilkan batugampingbioklastik; oleh proses sedimentasi organik dan


kimiawi akan menghasilkanbatugamping oolit; oleh proses sedimentasi mekanis dan kimiawi
akan menghasilkanbatugamping kristalin.
Dua jenis batuan karbonat yang utama adalah batugamping (limestone) dan
dolomite(dolostone). Suatu batuan karbonat disebut batugamping (limestone) bila tersusun olehkalsit
90%

dandisebut

dolomite

(dolostone)

bila

tersusun

olehdolomit

90% (Boggs,1987).Batuan karbonat terutama terbentuk di lingkungan laut dangkal (supratidal


subtidal)seperti batugamping terumbu. Selain itu, dapat juga terbentuk di laut
dalam sebagaiendapan pelagik atau turbidit seperti chalk dan cherty limestone, dan terbentuk di
danaudan pada tanah (soil) seperti caliche (vadose pisoid) (Tucker, 1982).
Batuan karbonat dipelajari secara tersendiri karena : terbentuk pada cekungan dimanadia
diendapkan

(intrabasinal),

tergantung

pada

aktivitas

organisme,

mudah

berubaholeh proses diagenesa akhir, hampir 50% menyusun endapan-endapan


laut,

mewakiliseluruh zaman geologi dari Proterozoic sampai Cenozoic, proses

pembentukannyatidak sama dengan proses pembentukan batuan sedimen klastik, tekstur dan
komposisimineral karbonat tidak menunjukan provenance batuan asal, dan batuan
karbonatberasal dari subtidal carbonate factory (middle-outer shelf).
Klasifikasi Batuan Karbonat
Klasifikasi batuan karbonat ada bermacam-macam, diantaranya :
Klasifikasi Grabau (1904)
Grabau mengklasifikasikan batugamping berdasarkan ukuran butir menjadi 5 yaitu :
Calcirudite
: batugamping yang ukuran butirnya lebih besar

dari pasir (>2 mm).


Calcarenite

batugamping

yang ukuran butirnya

sama dengan pasir (1/16 - 2 mm).


Calcilutite
:
batugamping

yang ukuran butirnya

lebih kecil dari pasir (<1/16 mm).


Calcipulverite
:

batugamping hasil presipitasi kimiawi seperti batugamping kristalin.


Batugamping organic :
batugamping
hasil pertumbuhan

organisme secara insituseperti batugamping terumbu dan stromatolite.


Klasifikasi Folk (1962)
49

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Berdasarkan perbandingan relatif antara allochem, micrite dan sparite serta


jenisallochem yang dominan, Folk mengklasifikasikan batugamping menjadi 4 yaitu
(gambar2.31) : batugamping tipe I allochemical rocks dengan sparry calcite
cement,batugamping tipe II allochemical rocks dengan microcrystalline calcite
matrix(allochemical >10%), batugamping tipe IIIorthochemical rocks (allochemical
10%), danbatugamping tipe IV autochthonous reef rocks. Batas ukuran butir yang
digunakan Folkuntuk membedakan antara allochem dan micrite adalah 4 micron (lempung).
Gambar 22. Klasifikasi batugamping menurut Folk (1962)

Klasifikasi Dunham (1962)


Dunham mengklasifikasikan batugamping berdasarkan tekstur pengendapan (yaituderajat
perubahan tekstur pengendapan, komponen asli terikat atau tidak terikat
selamaproses pengendapan, tingkat kelimpahan antara butiran dan lumpur
karbonat) menjadi5 yaitu : mudstone, wackestone, packstone, grainstone dan
boundstone, sedangkanbatugamping yang tidak menunjukan tekstur pengendapan disebut
crystalline carbonate(Gambar 2.32).
Batas ukuran butir yang digunakan Dunham untuk membedakan antara butiran danlumpur
karbonat adalah 20 micron (lanau kasar). Klasifikasi batugamping yangdidasarkan
50

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

pada tekstur pengendapan dapat dihubungkan dengan fasies terumbu dantingkat energi yang
bekerja sehingga dapat untuk menginterpretasikan lingkunganpengendapan.

Gambar 23. Klasifikasi Batugamping (Dunham, 1962)

Klasifikasi Embry & Klovan (1971)


Embry & Klovan mengklasifikasikan batugamping berdasarkan tekstur
pengendapandan merupakan pengembangan dari klasifikasi Dunham yaitu dengan
menambahkankolom khusus pada kolom boundstone, menghapuskan kolom
crystalline carbonate danmemb
edakan prosentase butiran yang berdiameter 2 mm dari butiran yangberdiameter >2 mm,
ukuran butir 0,03
-2 mm dan ukuran lumpur karbonat <0,03 mm.Embry & Klovan mengklasifikasikan batugamping
menjadi 2 kelompok yaitubatugamping autochthon dan batugamping allochthon (Gambar 2.33).
Batugamping autochthon adalah batugamping yang komponen penyusunnya berasaldari
organisme yang saling mengikat selama pengendapannya. Batugamping ini dibagimenjadi 3 yaitu
bafflestone (tersusun oleh biota berbentuk bercabang), bindstone(tersusun oleh biota berbentuk
mengerak atau lempengan) dan framestone (tersusunoleh biota berbentuk kubah).
51

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Batugamping allochthon adalah batugamping yang komponen penyusunnya berasaldari


fragmentasi

mekanik,

kemudian

tertransport

dan

diendapkan

kembali

sebagaipartikel padat. Batugamping ini dibagi menjadi 6 yaitu : mudstone,


wackestone,packstone, grainstone, floatstone dan rudstone. Klasifikasi Embry
& Klovan sangat baikuntuk mempelajari fasies terumbu dan tingkat energi pengendapan.

Gambar 24. Klasifikasi batugamping menurut Embry & Klovan (1971)


Komposisi dan Komponen Batuan Karbonat
Komposisi kimia/mineral batuan karbonat :

Aragonit CaCO3 (ortorombik) : hasil presipitasi langsung dari air laut secara
kimiawiatau berasal dari proses biogenic (ganggang hijau), bentuk serabut,

dan tidak stabil.


Kalsit CaCO3 (heksagonal) : mineral lebih stabil, berbentuk hablur yaang

baik/spar,kalsit bila diberi alizarin red menjadi merah


- High-Mg Calcite : kandungan MgCO34%, terbentuk pada daerah yang hangat
- Low-Mg Calcite : kandungan MgCO3<4%, terbentuk pada daerah yang dingin
Dolomit CaMg(CO3)2(heksagonal) : berbentuk belah ketupat, tidak bereaksi

denganalizarin red, kebanyakan hasil dolomitisasi dari kalsit


Magnesit MgCO3 (heksagonal): biasanya berasosiasi dengan evaporit
Siderit FeCO3 (heksagonal)
Ankerite Ca(Fe,Mg)(CO3)2(heksagonal)

Komponen pembentuk batuan karbonat :


1. Butiran karbonat (carbonate grain) (Gambar 29 & 30):

52

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Butiran skeletal : fragmen bagian yang keras dari organisme yang


kalkareousdan cangkang yang tidak pecah seperti moluska, echinoid, ostrakoda,

coral,algae, foraminifera, brachiopoda, dll.


Ooid : butiran karbonat yang berbentuk bulat atau elipsoid, berukuran 0,20,5mm yang mempunyai 1 atau lebih struktur lamina yang konsentris (dari aragonitatau
kalsit) dan mengelilingi inti partikel (fragmen cangkang, pelet atau
kuarsa).Ooid terbentuk karena agitasi (pengayakan) pada lingkungan laut
dangkal (<15m), arus dasar yang kuat, salinitas tinggi dan jenuh kalsium

bikarbonat.
Pisoid : butiran karbonat yang berbentuk bulat atau elipsoid, yang
mempunyaistruktur lamina yang konsentris dan mengelilingi inti partikel
(fragmen cangkang,pelet atau kuarsa) seperti ooid, tetapi berukuran >2 mm bahkan

beberapa puluhmm.
Peloid/pellet : butiran karbonat

yang

berbentuk

bulat,

elipsoid

atau runcing,tersusun oleh micrite tetapi tidak punya struktur dalam,


berukuran <0,1-0,5(lanau-pasir halus). Peloid berasal dari : sekresi
organisme terutama organismepemakan lumpur karbonat (deposit feeder)
seperti gastropoda atau crustacea,yang disebut faecal pellet; hasil
disintegrasi dari ooid atau fragmen cangkangyang bundar oleh organisme pembor
terutama endolithic (boring) algae; dan dariproses abrasi intraclast sehingga bagian pinggirnya
menjadi tumpul dancenderung berbentuk bulat. Pellet cenderung berukuran
kecil dan seragam,berbentuk teratur (oval-bundar) dan kandungan bahan
organiknya tinggi. Pelletbanyak dijumpai di lingkungan lagoon atau tidal flat (daerah

berenergi rendahdan relatif tenang).


Agregat (lump/grapestone)
: kumpulan dari

beberapa macam

butiran karbonatyang tersemen bersama-sama selama sedimentasi (Tucker, 1982).


Semennyabisa berupa semen mikrokristalin kalsit/aragonit atau semen
zat organik. Agregatterbentuk pada lingkungan laut dangkal dimana energi arus dan

gelombangrelatif rendah.
Litoklas : butiran karbonat yang berupa fragmen batuan karbonatIntraklas : fragmen batuan karbonat yang terbentuk lebih awal dan berasal
daricekungan yang sama (pada seafloor, tidal flat atau beach rock)-

53

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Ekstraklas : fragmen batuan karbonat dari umur yang berbeda atau


berasaldari cekungan yang berbeda
2. Matrik berupa microcrystalline calcite/micrite atau lumpur karbonat/lime
mud

: agregat

(kumpulan)

kalsit/aragonit yang

berukuran

<4m

(sangat halus/lempung).
3. Semen (sparry calcite/sparite) : kristal-kristal kalsit granular yang
terekristalisasidalam rongga-rongga pada endapan karbonat atau batugamping, terutama
dalam rongga-rongga antar butir dan dalam rongga fosil.

54

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Gambar 25. DIAGRAM DESKRIPSI BATUAN SEDIMEN KARBONAT

No. Batuan

Warna : warna yang representatif


Tekstur: Ukuran Butir, Pemilahan, Kebundaran Butiran, Kemas(Clast/Matrix Supported),
Kontak Antar Butiran
Butiran : Jenis (Butiran skeletal, ooid, pellets, litoklas, butiran terigen, Matrik: Mikrit,, Semen:
Sparry Calcite, prosentase

Struktur: Struktur sedimen fisika dan biogenic; perlapisan (strike-dip, tebal), organic tracks
&trails, organic burrow, stylolite, dll.
Porositas: Baik (menyerap air), sedang (diantara baik-buruk), buruk (tidak menyerap air); Jenis
porositas (vuggy, fracture, intercrystalline, moludic, dll), prosentase; kekompakan: getas, kompak,
lunakkeras, dll.
Diagenesis: Kompaksi, Dissolution, Dolomitisasi, Replacement, Neomorfisme, dll.

Nama Batuan : Batugamping bioklastik Kalkarenit, Mudstone, Wackstone, Packstone, Grainstone,


Boundstone, dll.

55

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

2.7.

BATUAN METAMORF FOLIASI

Batuan metamorf ialah batuan yang sifatnya telah berubah selepas


pembentukan asalnya melalui proses yang bertindak didalam bumi atau oleh
jasad-jasad dari planet lain. Perubahan ini mungkin merangkumi perubahan
didalam mineral yang membentuk batuan atau perubahan dalam berkaitan antara
mineral tersebut, yaitu tekstur batuan.
Pembentukan batuan metamorf sangat kompleks, akibat bergerak lempenglempeng tektonik dan tumbukan fragmen-fragmen kerak, batuan terkoyak,
tertarik, terlipat, terpanaskan dan berubah. Oleh karena perubahannya dalam
keadaan padat, umumnya jejak-jejak bentuk awalnya masih dapat dikenali,
meskipun telah mengalami perubahan lebih dari sekali. Batuan metamorf paling
menarik diantara batuan lainnya, karena di dalamnya tersimpan cerita semua yang
telah terjadi pada kerak bumi. Saat lempeng tektonik bertumbukan, terbentuklah
batuan

metamorf

tertentu

sepanjang

batas

lempeng.

Sehingga

dengan

mempelajarinya, kita dapat mengetahui dimana batas benua sebelumnya, serta


telah berapa lama tektonik berlangsung.
Proses metamorfisme adalah proses perubahan batuan yang sudah ada
menjadi batuan metamorf karena perubahan tekanan dan temperatur yang besar.
Batuan asal dari batuan metamorf tersebut dapat berupa batuan beku, batuan
sedimen dan batuan metamorf sendiri yang sudah ada. Kata metamorf sendiri
adalah perubahan bentuk. Agen atau media yang menyebabkan terjadinya proses
metamorfisme adalah panas, tekanan dan cairan kimia aktif. Sedangkan perubahan
yang terjadi pada batuan meliputi tekstur dan komposisi mineral.
Kadangkala proses metamorfisme tidak berlangsung sempurna, sehingga
perubahan yang terjadi pada batuan asal tidak terlalu besar, tapi hanya
kekompakannya yang bertambah. Proses metamorfisme yang sempurna
menyebabkan karakteristik batuan asal tidak terlihat lagi. Pada kondisi perubahan
56

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

yang sangat ekstrim, peningkatan temperatur mendekati titik lebur batuan, padahal
perubahan batuan selama proses metamorfisme harus tetap dalam keadaan padat.
Apabila peningkatan temperatur sampai meleburkan batuan, maka proses tersebut
sudah tidak termasuk pada proses metamorfisme lagi, tetapi sudah menjadi proses
aktivitas magma.
Proses metamorfisme terjadi apabila kondisi lingkungan batuan
mengalami perubahan yang tidak sama dengan kondisi pada waktu batuan
terbentuk,

sehingga

batuan

menjadi

tidak

stabil.

Untuk

mendapatkan

kestabilannya kembali pada kondisi yang baru maka batuan mengalami


perubahan. Perubahan tersebut terjadi pada kondisi tekanan dan temperatur
tekanan dan temperatur yang beberapa kilometer di bawah permukaan bumi.
Karena pembentukannya yang sangat jauh di bawah permukaan, maka proses
pembentukan batuan metamorf sangat sulit dipelajari oleh geologiawan.
Proses metamorfisme sering terjadi pada salah satu dari tiga fenomena
pembentukan batuan metamorf.
Pertama, pada proses pembentukan pegunungan, batuan yang menyusun
suatu daerah yang luas, mengalami tekanan dan perubahan temperatur bersamaan
dengan terjadinya deformasi pada batuan tersebut. Akibatnya terjadilah
pembentuan batuan metamorf pada daerah yang sangat luas. Proses ini disebut
dengan proses metamorfisme regional.
Kedua, ketika batuan bersentuhan atau dekat dengan aktivitas magma,
akan terjadi proses metamorfisme kontak. Pada proses ini perubahan disebabkan
terutama oleh peningkatan temperatur yang sangat tinggi dari magma, sehingga
terjadi efek pemanggangan (baking effect) pada batuan disekitar magma.
Ketiga, merupakan proses metamorfime yang sangat jarang, terjadi
perubahan sepanjang zona sesar. Pada proses ini batuan di sepanjang zona tersebut
mengalami penghancuran menjadi material yang sangat halus yang disebut
milonat, atau material yang kasar yang disebut breksi sesar, karena
kenampakannya seperti breksi pada batuan sedimen. Proses ini disebut proses
metamorfisme dinamik.

57

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Stuktur batuan metamorf adalah kenampakan batuan yang berdasarkan


ukuran, bentuk atau orientasi unit poli granular batuan tersebut, pembahasan
struktur juga meliputi susunan bagian masa batuan termasuk hubungan geometrik
antar bagian massa batuan serta bentuk dan kenampakan internal bagian-bagian
tersebut. Secara umum batuan metamorf dibedakan menjadi dua bagian yaitu
struktur foliasi dan struktur non foliasi.
Struktur foliasi merupakan struktur terpenting dari batuan metamorf, yaitu
struktur yang memperlihatkan adanya orientasi dari mineral. Struktur foliasi dapat
pula diartikan sebagai kenampakan struktur planar pada suatu batuan. Struktur
foliasi umumnya terbentuk dari hasil metamorfosa dinamotermal, metamorfosa
beban dan metamorfosa kataklastik. Struktur ini dapat terjadi karena adanya
penjajaran mineral-mineral penyusun batuan metamorf.
Struktur foliasi ini mencakup :
a. Struktur Slaty cleavage (slate), foliasi planar dijumpai pada bidang
belahan. Umumnya terdiri dari mineral pipih dan sangat halus (mineral
lempung). Nama batuannya disebut slate atau batu sabak.
b. Struktur Phylitic (fhilit), struktur ini hampir sama dengan struktur slaty
cleavage, tetapi terlihat rekristalisasi yang lebih kasar dan mulai terlihat
pemisahan mineral pipih dengan mineral granular, namun belum begitu
jelas dimana orientasi mineral pipih tidak menerus atau dipotong oleh
mineral granular. Batuannya lebih kasar dan lebih mengkilap dibanding
slate. Batuannya disebut Fhilit.
c. Struktur Gneisosa (gneiss), terbentuk oleh adanya perselingan lapisan
penjajaran mineral yang mempunyai bentuk yang berbeda, umumnya
antara mineral-mineral granular (feldspar dan kuarsa) dengan mineralmineral tabular dan prismatik (mineral feromagnesium). Penjajaran
mineral pipih umumnya tidak menerus melainkan terputus-putus, disebut
juga open schiscosity. Batuan nya disebut Gneiss.
d. Struktur Schistose (skiss), ditunjukkan oleh perulangan mineral-mineral
pipih (Biotit, muskovit) dengan mineral-mineral yang berbutir granular
(Kuarsa, Feldspard), dimanaorientasi mineral pipih dan granular secara
menerus Selang-seling antara tekstur lepidoblastik dan granoblastik),

58

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

disebut juga dengan close schistosity. Jadi adanya kesan sejajar dan
penjajaran mineral, nama batuannya adalah Skiss.
Tekstur di batuan metamorf ditentukan dari bentuk kristal dan hubungan antar
mineralnya, yang dibedakan atas:
1. Tekstur Kristaloblastik
Yaitu tekstur yang terbentuk dari proses metamorfosa, yang dibedakan atas:

Lepidoblastik : Terdiri dari mineral-mineral tabular atau pipih yang relatif

terorientasi, seperti mineral mika grup (muskovit, biotit).


Nematoblastik : Terdiri dari mineral-mineral prismatik yang relatif

terorientasi, sepertimineral plagioklas, k-feldspar, piroksen.


Granoblastik : Terdiri dari mineral-mineral granular (equidimensional)
yang relatif terorientasi, seperti mineral kuarsa. Biasanya memperlihatkan

batas-batas sutura (tdak teratur) dengan bentuk mineral yang anhedral.


Porfiriblastik : Tekstur yang memperlihatkan beberapa mineral dengan
ukuran lebih besar dikelilingi oleh mineral yang lebih kecil (porfiritik).

2. Tekstur Palimset
Yaitu tekstur sisa atau tekstur yang masih memperlihatkan tekstur batuan asalnya,
yang dibedakan atas:
a. Blastopsefitik : Tekstur yang memperlihatkan ukuran butir lebih besar dari
pasir (gravel).
b. Blastopsamit : Tekstur dengan ukuran butir pasir (sand).
c. Blastopellitik : Tekstur dengan ukuran butir lempung (clay).
d. Blastoporfiritik : ekstur sisa dari batuan asal yang porfiritik.
Tekstur-tekstur lain pada batuan metamorf :
1) Heteroblastik : Bila batuan metamorf mempuyai lebih dari satu tekstur,
seperti lepidoblastik dan granoblastik.
2) Homeoblastik : Bila batuan metamorf hanya mempunyai satu tekstur saja.

59

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

2.8.

BATUAN METAMORF NONFOLIASI

Batuan metamorf ialah batuan yang sifatnya telah berubah selepas


pembentukan asalnya melalui proses yang bertindak didalam bumi atau oleh
jasad-jasad dari planet lain. Perubahan ini mungkin merangkumi perubahan
didalam mineral yang membentuk batuan atau perubahan dalam berkaitan antara
mineral tersebut, yaitu tekstur batuan.
Pembentukan batuan metamorf sangat kompleks, akibat bergerak
lempeng-lempeng tektonik dan tumbukan fragmen-fragmen kerak, batuan
terkoyak, tertarik, terlipat, terpanaskan dan berubah. Oleh karena perubahannya
dalam keadaan padat, umumnya jejak-jejak bentuk awalnya masih dapat dikenali,
meskipun telah mengalami perubahan lebih dari sekali. Batuan metamorf paling
menarik diantara batuan lainnya, karena di dalamnya tersimpan cerita semua yang
telah terjadi pada kerak bumi. Saat lempeng tektonik bertumbukan, terbentuklah
batuan

metamorf

tertentu

sepanjang

batas

lempeng.

Sehingga

dengan

mempelajarinya, kita dapat mengetahui dimana batas benua sebelumnya, serta


telah berapa lama tektonik berlangsung.
Proses metamorfisme adalah proses perubahan batuan yang sudah ada
menjadi batuan metamorf karena perubahan tekanan dan temperatur yang besar.
Batuan asal dari batuan metamorf tersebut dapat berupa batuan beku, batuan
sedimen dan batuan metamorf sendiri yang sudah ada. Kata metamorf sendiri
adalah perubahan bentuk. Agen atau media yang menyebabkan terjadinya proses
metamorfisme adalah panas, tekanan dan cairan kimia aktif. Sedangkan perubahan
yang terjadi pada batuan meliputi tekstur dan komposisi mineral.
60

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Kadangkala proses metamorfisme tidak berlangsung sempurna, sehingga


perubahan yang terjadi pada batuan asal tidak terlalu besar, tapi hanya
kekompakannya yang bertambah. Proses metamorfisme yang sempurna
menyebabkan karakteristik batuan asal tidak terlihat lagi. Pada kondisi perubahan
yang sangat ekstrim, peningkatan temperatur mendekati titik lebur batuan, padahal
perubahan batuan selama proses metamorfisme harus tetap dalam keadaan padat.
Apabila peningkatan temperatur sampai meleburkan batuan, maka proses tersebut
sudah tidak termasuk pada proses metamorfisme lagi, tetapi sudah menjadi proses
aktivitas magma.
Proses metamorfisme terjadi apabila kondisi lingkungan batuan
mengalami perubahan yang tidak sama dengan kondisi pada waktu batuan
terbentuk,

sehingga

batuan

menjadi

tidak

stabil.

Untuk

mendapatkan

kestabilannya kembali pada kondisi yang baru maka batuan mengalami


perubahan. Perubahan tersebut terjadi pada kondisi tekanan dan temperatur
tekanan dan temperatur yang beberapa kilometer di bawah permukaan bumi.
Karena pembentukannya yang sangat jauh di bawah permukaan, maka proses
pembentukan batuan metamorf sangat sulit dipelajari oleh geologiawan.
Proses metamorfisme sering terjadi pada salah satu dari tiga fenomena
pembentukan batuan metamorf.
Pertama, pada proses pembentukan pegunungan, batuan yang menyusun
suatu daerah yang luas, mengalami tekanan dan perubahan temperatur bersamaan
dengan terjadinya deformasi pada batuan tersebut. Akibatnya terjadilah
pembentuan batuan metamorf pada daerah yang sangat luas. Proses ini disebut
dengan proses metamorfisme regional.
Kedua, ketika batuan bersentuhan atau dekat dengan aktivitas magma,
akan terjadi proses metamorfisme kontak. Pada proses ini perubahan disebabkan
terutama oleh peningkatan temperatur yang sangat tinggi dari magma, sehingga
terjadi efek pemanggangan (baking effect) pada batuan disekitar magma.
Ketiga, merupakan proses metamorfime yang sangat jarang, terjadi
perubahan sepanjang zona sesar. Pada proses ini batuan di sepanjang zona tersebut
mengalami penghancuran menjadi material yang sangat halus yang disebut
milonat, atau material yang kasar yang disebut breksi sesar, karena
61

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

kenampakannya seperti breksi pada batuan sedimen. Proses ini disebut proses
metamorfisme dinamik.

Struktur non-foliasi adalah struktur pada batuan metamorf dimana tidak


memperlihatkan adanya penjajaran mineral penyusun batuan metamorf. Struktur
ini umumnya terbentuk dari hasil metamorfosa kontak atau thermal, terdiri dari
mineral-mineral yang berbentuk equidimensional atau mozaik dan tidak
menunjukkan cleavage. Struktur ini mencakup :
1) Struktur Hornfelsik, yaitu struktur yang dicirikan oleh adanya butiranbutiran mineral yang seragam.
2) Struktur Granulose, struktur ini hampir sama dengan hornfelsik, hanya
butirannya mempunyai ukuran yang tidak sama besar.

Tekstur di batuan metamorf ditentukan dari bentuk kristal dan hubungan


antar mineralnya, yang dibedakan atas:

Tekstur Kristaloblastik

Yaitu tekstur yang terbentuk dari proses metamorfosa, yang dibedakan atas:

Lepidoblastik : Terdiri dari mineral-mineral tabular atau pipih yang relatif

terorientasi, seperti mineral mika grup (muskovit, biotit).


Nematoblastik : Terdiri dari mineral-mineral prismatik yang relatif

terorientasi, sepertimineral plagioklas, k-feldspar, piroksen.


Granoblastik : Terdiri dari mineral-mineral granular (equidimensional)
yang relatif terorientasi, seperti mineral kuarsa. Biasanya memperlihatkan

batas-batas sutura (tdak teratur) dengan bentuk mineral yang anhedral.


Porfiriblastik : Tekstur yang memperlihatkan beberapa mineral dengan
ukuran lebih besar dikelilingi oleh mineral yang lebih kecil (porfiritik).

Tekstur Palimset

Yaitu tekstur sisa atau tekstur yang masih memperlihatkan tekstur batuan
asalnya, yang dibedakan atas:
62

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Blastopsefitik : Tekstur yang memperlihatkan ukuran butir lebih besar dari

pasir (gravel).
Blastopsamit : Tekstur dengan ukuran butir pasir (sand).
Blastopellitik : Tekstur dengan ukuran butir lempung (clay).
Blastoporfiritik : ekstur sisa dari batuan asal yang porfiritik.

Tekstur-tekstur lain pada batuan metamorf :

Heteroblastik : Bila batuan metamorf mempuyai lebih dari satu tekstur,

seperti lepidoblastik dan granoblastik.


Homeoblastik : Bila batuan metamorf hanya mempunyai satu tekstur saja.

Gambar 26. DIAGRAM DESKRIPSI BATUAN METAMORF


No Batuan

Warna :
Hitam Kekuningan / Putih bintik-bintik kemerahan dll ( dan warna representative )

Struktur

Struktur foliasi :

Struktur Non Foliasi:

Slaty/phitic/Schisosity/Gneisic

Granulose/hornfelsik

Tekstur

Homeoblastik: Lepidoblastik,
TEKNIKNematobalastik,
GEOLOGI
Granuloblastik/granoblastik
UNIVERSITAS
ISLAM RIAU

63

Heteroblastik: Lepidoblastik,
Nematoblastik, Granoblastik,
Granuloblastik.

Komposisi Mineral : Kuarsa (100%), cirri-cirinya dll. (Untuk % digunakan diagram


perbandingan secara visual)

Nama Batuan :
Hornfels/Sekis/Gneis/Marmer

BAB III
METODOLOGI
Metodologi merupakan cara-cara yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan
dengan teknik-teknik tertentu. Langkah-langkahnya sebagai berikut :
3.1.

Waktu praktikum

Praktikum ini dilaksanakan pada semester 2 tahun 2016 setiap hari sabtu
pukul 07:30-8:45 WIB.
3.2.
Tempat praktikum
Praktikum ini dilaksanakan di Labor Geologi Universitas Islam Riau.

3.3.
Teknik praktikum
Untuk mengetahui jenis mineralnya dapat diketahui dengan melihat warnanya

baik dengan kasat mata atau menggunakan alat bantu lup.


Untuk mengetahui bentuk mineralnya bisa dilihat dengan makroskopis atau
mikroskopis.

64

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Pada pendeskripsian batuan beku intrusif, dilakukan 2 cara untuk melihat


komposisi mineralnya, yaitu dengan kasat mata atau dengan menggunakan

alat bantu lup.


Untuk menentukan granulitasnya yaitu dengan merasakan butirannya dengan

perabaan tangan.
Struktur dapat dilihat dengan kasat mata.
Penamaan batuan beku intrusive bisa menggunakan diagram klasifikasi IUGS

faneritik.
Pada pendeskripsian batuan beku ekstrusif, dilakukan 2 cara untuk melihat
komposisi mineralnya, yaitu dengan kasat mata atau dengan menggunakan

alat bantu lup.


Untuk menentukan granulitasnya yaitu dengan merasakan butirannya dengan

perabaan tangan.
Struktur dapat dilihat dengan kasat mata.
Penamaan batuan beku ekstrusif bisa menggunakan diagram klasifikasi IUGS
afanitik, sedangkan untuk batuan piroklastik bisa menggunakan diagram
batuan piroklastik.

Pada pendeskripsian batuan sedimen klastik dan non klastik, dilakukan 2 cara
untuk melihat komposisi mineralnya, yaitu dengan kasat mata atau dengan

menggunakan alat bantu lup.


Untuk menentukan granulitasnya yaitu dengan merasakan butirannya dengan

perabaan tangan.
Struktur dapat dilihat dengan kasat mata.
Penamaan batuan sedimen klastik yang sering digunakan yaitu diagram
klasifikasi batu pasir dari Pettijhon, sedangkan batuan sedimen non klastik

yang sering digunakan klasifikasi dunham.


Dalam tes karbonatan dilakukan dengan meneteskan HCL atau jeruk nipis.
Pada pendeskripsian batuan metamorf, dilakukan 2 cara untuk melihat
komposisi mineralnya, yaitu dengan kasat mata atau dengan menggunakan

alat bantu lup.


Untuk menentukan granulitasnya yaitu dengan merasakan butirannya dengan

perabaan tangan.
Struktur dapat dilihat dengan kasat mata.
65

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Pengelompokkan batuan metamorf bisa dilihat dari strukturnya, yaitu non


foliasi ata foliasi.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.

ROCK FORMING MINERAL


Piroksin
Piroksin

merupakan

golongan

silikat. Memiliki warna gelap,


yaitu hitam. Sistem Kristal dari
piroksen

adalah

monoklin

kekerasannya 5-6 skala mohs,


memiliki
gr/cm.

berat
memiliki

jenis
kilap

2,9-3,6
kaca,

kadang-kadang berkilap mutiara.


Gores dari piroksen adalah putih.
Belahan yang dimiliki adalah 2
arah,

bersifat

paramagnetic.

Daya tahan terhadap pukulan


66

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

adalah

brittle.

Derajat

ketransparanan

adalah

opaquetransculent.

Terbentuk

pada batuan beku basa.


Dolomit
Dolomit memiliki warna bening
atau

putih

sempurna

Memiliki

krem.

system

Kristal

heksagonal. Goresan mineral ini


bening, memiliki belahan yang
sempurna. Berat jenis 4,5 gr/cm.
kekerasan mineral ini 2.85 skala
mohs. Perawakan mineral ini
menyerat. Sifatnya diamagnetic,
pecahannya uneven, belahannya
sempurna, daya tahan terhadap
pukulan yaitu brittle. Asosiasi
mineralnya kalsit, kegunaannya
untuk

bahan

baku

industry

semen.
Aragonit
Aragonite

merupakan

mineral

yang memiliki kenampakan warna


putih, coklat, abu-abu dan kuning.
Kekerasannya

mencapai

3,5-4

skala mohs. Mineral berkilap kaca,


minyak dan tanah. Belahannya
adalah 3 arah. Pecahannya adalah
subconchoidal

dan

bentuk

mineralnya adalah ollumnar. Berat


67

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

jenisnya

mencapai

2,9

- 3,9

gr/cm. biasanya terbentuk di


laut dangkal, system kristalnya
adalah monoklin.
Sulfur
Mineral sulfur memiliki warna
kuning sampai coklat kekuningan.
Ceratnya kuning tidak memiliki
belahan. Pecahannya conchoidaleven, kekerasannya 1,5 - 2,5
gr/cm, kilapnya adalah kilap
lemak. Derajat ketransparanan
adalah opaque. System Kristal
yang

dimiliki

orthorombik.

Daya

adalah
tahan

terhadap pukulan yaitu britle.


Massa jenis dari sulfur 2,07
gr/cm. sulfur tebentuk di daerah
gunung

api

mineralnya

aktif.

Asosiasi

dengan

sulfide-

sulfida metal, anhidrit, gypsum,


dan batu gamping.

68

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Orthoklas
Orthoklas

termasuk

kelompok

silikat.

ke

dalam

Biasanya

memiliki

warna

putih,

kekuningan,

coklat.

Kilapnya

kilap kaca, kadang mutiara atau


damar

jika

lapuk.

Derajat

ketransparanan

yaitu

translucentopaque.

System

kristalnya

adalah

triklin.belahannya sempurna satu


arah.

Pecahannya

Kekerasannya

conchoidal.

orthoklas

6-6,5

skala mohs. Berat jenisnya 2,5 5


gr/cm. goresnya putih, asosiasi
mineralnya

dengan

kuarsa,

muskovit, dan plagioklas.


Flourite
Fluorite merupakan mineral halid.
Memiliki sistem kristal isometric.
Warna dari mineral ini putih,
merah muda, ungu atau biru.
Kilapnya non logam. Memiliki
goresan

berwarna

putih.

Belahannya ada 4 arah. Daya


tahan terhadap pukulan adalah
brittle,

derajat

fluorite

ketransparanan

adalah

transparat-

transculent. Pecahannnya adalah


conchoidal.

Dapat

ditemukan
69

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

dibatuan beku, batuan sedimen


dan

batuan

metamorf.

Kekerasannya adalah 4 dari skala


mohs.
Korondum
Mineral ini termasuk ke dalam
kategori mineral oksida. System
kristal

korondum

adalah

hexagonal. Warna mineral ini


adalah putih merah, biru, kuning,
coklat atau abu-abu. Kilapnya
adalah kilap intan. Korondum
memiliki pecahan even-uneven.
Tidak

memiliki

belahan.

Kekerasan korondum adalah 9


skala mohs. Daya tahan terhadap
pukulan adalah brittle. Berat jenis
3,9

4,1

gr/cm,

sifat

diamagnetic,

asosiasi

mineral

silika dan feldspar.


Intan
Intan termasuk mineral native,
memiliki warna putih bening.
Sistem kristal yang dimiliki adalah
isometric. Belahannya sempurna,
kekerasan intan adalah 10 skala
mohs. Berat jenis intan adalah 3,5
gr/cm,
Derajat
adalah

goresannya

putih.

ketransparanannya
transparent-transculent,

pecahan yang dimiliki adalah


70

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

conchoidal, intan terbentuk pada


pembentukan
ultrabasa
batuan

batuan

yaitu
ini

kimberlite.
sebagai

beku

porfirir-olivin

dikenal
Intan

sebagai
digunakan

mata

bor

dalam

eksplorasi.
Kalsit
Kalsit

merupakan

kategori mineral karbon. Warna


mineral ini putih, bening dan
transparan. System kristal kalsit
adalah heksagonal. Kilap yang
dimiliki intan adalah kilap kaca.
Memiliki gores putih, memiliki
belahan 3 arah, daya tahan yang
dimiliki terhadap pukulan adalah
brittle. Derajat ketransparanannya
opaque-transculent.
dari

kalsit

pecahannya
ditemukan
batuan

skala

mohs,

conchoidal.

Dapat

pada

sedimen,

metamorf.

Kekerasan

batuan

beku,

dan

batuan

Mineral

asosiasi

dengan dolomite.

71

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Talk
Talk merupakan kategori dari
mineral silikat. Warna dari mineral
ini putih, kelabu hijau biru atau
perak. Sistem kristal dari mineral
ini adalah monoklin. Kilapnya
seperti lilin atau mutiara, gores
putih, belahan sempurna arah.
Kekerasannya
Pecahannya
ketransparanan

skala

mohs.

uneven,

derajat

adalah

opaque-

transparant. Ditemukan dibatuan


metamorf jenis ultrabasa. Banyak
ditemukan

pada

altresi

hidrotermal.
Magnesite
Magnesit merupakan kategori dari
mineral

karbonat.

Mempunyai

warna putih kehitaman. Sistem


kristalnya adalah trigonal, gores
putih,

memiliki

kilap

kaca,

belahan yang sempurna, kekerasan


dari magnesite adalah 3,5-4,0
skala mohs. Daya tahan terhadap
pukulan adalah brittle, pecahan
conchoidal dan berat jenisnya 3,03,12 gr/cm. Sifat kemagnetan
magnesite

yaitu

diamagnetic.

Asosiasi mineral dengan kalsit.

72

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Gypsum
Gypsum

mempunyai

warna

transparan, gores putih, kilapnya


adalah

kilap

sempurna,

kaca,

belahan

pecahannya

even.

Kekerasan yang dimiliki gypsum 2


skala mohs. Daya tahan terhadap
pukulan yaitu sectile, berat jenis
yang

dimiliki

2,35

gr/cm.

berasosiasi dengan anhidrit dan


halite. Ditemukan pada batuan
sedimen dan sering berselingan
dengan batu gamping.
Amethyst
Mineral ini memiliki warna putih,
transparan dan ungu. Memiliki
kilap kaa dengan gores putih.
Amethyst memiliki kekerasan 5
skala mohs. Amethyst merupakan
altresi lamellae.
Biotit
Biotit

termasuk

ke

dalam

golongan mineral silikat. Warna


dari mineral ini adalah hitam.
Goresan putih, kekerasan biotit 2,5
skala mohs. Biotit memiliki kilap
kaca. Daya tahan terhadap pukulan
adalah sectile. Sistem kristal biotit
adalah monoklin dan memiliki
belahan
Berasosiasi

yang
dengan

sempurna.
muskovit,

klorit, albit dan kyanite.


73

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Muskovit
Muskovit

termasuk

ke

dalam

kategori mineral silica. Warna


mineral

ini

coklat

keputihan.

Sistem kristalnya monoklin, gores


putih, kekersannya 2,5-4 skala
mohs.

Daya

pukulan

yaitu

sempurna.

tahan

terhadap

elastic,

Muskovit

belahn
memiliki

berat jenis 2,8-2,9 gr/cm. dapat


terbentuk
pegmatite,

pada

batuan

beku,

lingkungan

mertamorfik. Berasosiasi dengan


kyanite, kuarsa dan orthoklas.

74

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

4.2.

BATUAN BEKU INTRUSIF


DESKRIPSI BATUAN BEKU

Hari/Tanggal

: Sabtu, 05-03-2016

Praktikum Ke

:1

No. Sampel

:1

Batuan gabro memiliki 2 warna yaitu warna lapuk abu-abu dan warna
segarnya hitam gelap. Batuan gabro ini memiliki tekstur yang terdiri dari
derajat kristalisasi yaitu hipokristalin, granulitas faneritik dan kemas
inequigranular dan panidiomorf. Struktur dari batuan gabro ini adalah massif.
Batuan gabro termasuk ked ala batuan beku intrusif.

FOTO BATUAN :

5 cm

plagiokl
as

Alkali
feldspar

Kuarsa

7 cm

7 cm

75

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

DESKRIPSI BATUAN BEKU

Hari/Tanggal

: Sabtu, 05-03-2016

Praktikum Ke

:1

No. Sampel

:2

Peridotit memiliki 2 warna yaitu warna lapuk abu kehijauan dan warna
segar hijau keputihan. Peridotit memiliki tekstur yang terdiri dari derajat
kristalisasi holokristalin, granulitas porfiritik sampai afanitik, dan memilik
kemas equigranular, allotrimof. Struktur yang dimiliki peridotite adalah
massif. Peridotit termasuk ke dalam batuan beku intrusif. Komponen mineral
yang dimiliki adalak plagioklas 10%, piroksin 70% dan olivine 20%.

FOTO BATUAN :

5 cm

Plagioklas
Piroksin

Olivin
5 cm

76

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

DESKRIPSI BATUAN BEKU

Hari/Tanggal

: Sabtu, 05-03-2016

Praktikum Ke

:1

No. Sampel

:3

Grano-Diorit memiliki 2 warna yaitu warna lapuk hitam dan warna segar
abu-abu keputihan. Grano-Diorit memiliki tekstur yang terdiri dari derajat
kristalisasi hipokristalin, granulitas faneritik, dan kemas inequigranular dan
allotrimof. Grano-Diorit memiliki struktur massif, dan merupakan batuan beku
intrusif. Grano-Diorit memiliki komponen mineral kuarsa 20%, alkali feldspar
20% dan piroksin 60%.
FOTO BATUAN :

4,5 cm

Plagioklas

Kuarsa

Alkali
asdFeldsparf

6 cm

77

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

DESKRIPSI BATUAN BEKU

Hari/Tanggal

: Sabtu, 05-03-2016

Praktikum Ke

:1

No. Sampel

:4

Diabas memiliki 2 warna yaitu warna lapuk abu-abu kehijauan dan warna
segar abu-abu. Diabas memiliki tekstur yang terdiri dari derajat kristalisasi
hipokristalin, granulitas faneritik, kemas equigranular dan panidiomorf.
Diabas memiliki struktur massif dan diabas merupakan batuan beku intrusif.
Adapun komponen mineral penyusun diabas yaitu olivine, kuarsa, hornblende
dan plagioklas.

FOTO BATUAN :

5 cm

Hornblende
Plagioklas

kuarsa
olivin

7cm
TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

78

DESKRIPSI BATUAN BEKU

Hari/Tanggal

: Sabtu, 05-03-2916

Praktikum Ke

:1

No. Sampel

:5

Granit memiliki 2 warna yaitu warna lapuk abu-abu dan warna segar abuabu kecoklatan. Granit memiliki tekstur yang terdiri dari derajat kristalisasi
hipokristalin,

granulitas

faneritik,

memiliki

kemas

equigranular

dan

panidiomorf. Granit memiliki struktur massif. Granit termasuk ke dalam


batuan beku intrusive. Komponen mineral penyusun granit kuarsa 60%, alkali
feldspar 15%, plagioklas 5% dan muskovit 20%.

FOTO BATUAN :

5 cm

plagioklas

Alkali
feldspar

kuarsa
79

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

7,5 cm
7 cm

4.3.

BATUAN BEKU EKSTRUSIF


DESKRIPSI BATUAN BEKU

Hari/Tanggal : Sabtu, 12-03-2016


Praktikum Ke : 2
No. Sampel

:1

Batuan dasit memiliki warna segar abu-abu keputihan. Batuan dasit


memiliki tekstur yang terdiri dari derajat kristalisasi hipokristalin, granulitas
porfiritik, kemas inequigranular dan allotrimorf. Struktur yang dimiliki batuan
dasit adalah masif. Batuan dasit termasuk ke dalam batuan beku intrusif. Adapun
komponen penysusun mineral batuan dasit adalah alkali feldspar 40%, plagioklas
10%, dan kuarsa 50%. Terdapat fragmen berukuran kecil berwarna putih berupa
alkali feldspar.

FOTO BATUAN :
4,5 cm

Fragmen
Alkali
feldspar
Plagioklas
80

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

7 cm

Kuarsa

81

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

DESKRIPSI BATUAN BEKU

Hari/Tanggal : Sabtu, 12-03-2016


Praktikum Ke : 2
No. Sampel

:2

Batuan obsidian memiliki warna segar hijau transparan. Batuan obsidian


memiliki tekstur yang terdiri dari derajat kristalisasi holohialin, granulitas
afanitik, kemas equigranular. Batuan obsidian memiliki struktur masif. Batuan
obsidian merupakan batuan beku ekstrusif. Komponen mineral penyusunnya
100% mineral gelas dan silika. Obsidian termasuk ke dalam batuan beku asam.
Obsidian merupakan salah satu batuan beku yang terbentuk langsung dari hasil
pembekuan magma. Magma yang membentuk batuan mengalami proses
pendinginan yang sangat cepat sehingga tidak terbentuk kristal atau bias disebut
gelasan.

FOTO BATUAN :

3 cm

Holohialin

Massif

7 cm

82

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

DESKRIPSI BATUAN BEKU

Hari/Tanggal : Sabtu, 12-03-2016


Praktikum Ke : 2
No. Sampel

:3

Batuan andesit memiliki warna lapuk kuning keabuan dan abu-abu. Batuan
andesit memiliki tekstur yang terdiri dari derajat kristalisasi hipokristalin,
granulitas afanitik, kemas equigranular dan panidiomorf. Batuan andesit memiliki
struktur masif. Batuan andesit memiliki komponen mineral kuarsa 10%, biotit 5%,
alkali feldspar 15%, plagioklas 65% dan hornblende 5%. Batuan andesit berasal
dari lelehan lava gunung berapi yang meletus, batuan andesit ini terbentuk ketika
temperature lava yang meleleh turun antar 900 sampai 1100 .

Foto Batuan:

4 cm

Plagioklas

masif

6 cm

83

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

DESKRIPSI BATUAN BEKU

Hari/Tanggal : Sabtu, 12-03-2016


Praktikm Ke : 2
No. Sampel

:4

Batuan andesit scoria coklat memiliki 2 warna yaitu warna lapuk coklat
kekuningan dan warna segar coklat gelap. Batuan andesit scoria coklat memiliki
tekstur yang terdiri dari derajat kristalisasi holohialin, granulitas faneritik, kemas
inequigranular. Andesit scoria coklat memiliki struktur vesicular Amigdaloidal.
Batuan andesit scoria coklat merupakan batuan beku ekstrusif. Koponen penyusun
mineral dari batuan ini adalah plagioklas 70%, kuarsa 10%, Ampibole 5% dan
biotit 15%. Batuan andesit scoria coklat terbentuk dari batuan piroklastik lava
yang dikeluarkan dari gunung api.

FOTO BATUAN :

9 cm

Plagioklas

vasikular
A.feldsp
ar

8 cm

84

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

DESKRIPSI BATUAN BEKU

Hari/Tanggal : Sabtu, 12-03-2016


Praktikm Ke : 2
No. Sampel

:5

Batuan andesit scoria hitam memiliki 2 warna yaitu warna lapuk abu-abu
dan warna segar hitam. Batuan andesit scoria hitam memiliki tekstur yang terdiri
dari derajat kristalisasi hipokristalin, granulitas afanitik, kemas equigranular dan
panidiomorf. Struktur yang dimiliki oleh batuan andesit scoria hitam adalah
amiglodial. Kenampakan dari batuan andesit scoria ini adalah batuan beku
ekstrusif. Komponen mineral dari batuan ini adalah kuarsa 5%, alkali feldspar
10%, plagioklas 70%, biotit 10% dan biotit 5%. Andesit scoria hitam merupakan
batuan beku vulkanik sehingga penurunan suhu pada lava yang sangat cepat, oleh
sebab itu kristal yang terbentuk tidak sempurna.

Foto batuan:
kuars
a

4 cm

masi
f

vesikular

8 cm

85

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

DESKRIPSI BATUAN BEKU

Hari/Tanggal : Kamis, 8-10-2015


Praktikm Ke : 2
No. Sampel

:6

Pumice memiliki 2 warna yaitu warna lapuk putih kekuningan dan warna segar
putih. Pumice memiliki tekstur yang terdiri dari derajat kristalisasi hiokristalin,
granulitas faneritik, kemas inequigranular dan panidiomorf. Struktur yang dimiliki
pumice adalah vesikuler. Kenampakan dari pumice ini adalah batuan beku
ekstrusif. Komponen mineral dari pumice ini sendiri adalah biotit 2%, lapilli
13%, ash 15% dan bomb 70%

FOTO BATUAN :

6 cm

vesikula
r

8 cm

86

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

DESKRIPSI BATUAN BEKU

Hari/Tanggal : Sabtu, 12-03-2016


Praktikm Ke : 2
No. Sampel

:7

Tuff memiliki 2 warna yaitu warna lapuk putih kelabu dan warna segar
putih. Tuff memiliki tekstur yang terdiri dari derajat kristalisasi hipokristalin,
granulitas afanitik, dan kemas equigranular. Struktur yang dimiliki tuff adalah
masif. Kenampakan dari tuff adalah batuan beku ekstrusif. Komponen mineral
dari tuff adalah ash 95%, lapilli 4 % dan bomb 1%. Tuff merupakan batuan beku
yang terbentuk dari gunung api yang telah mengalami konsolidasi dengan
kandungan abu mencapai 75%.

FOTO BATUAN :

7 cm

masi

7 cm

87

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

4.4.

BATUAN SEDIMEN KLASTIK


DESKRIPSI BATUAN SEDIMEN KLASTIK

Hari/Tanggal

: Sabtu, 19-03-2016

Praktikum Ke

: 3

No. Sampel

: 1

Batupasir hijau memiliki 2 warna yaitu warna lapuk hijau keputihan dan
warna segar hijau keputihan. Batupasir hijau memiliki tesktur yang terdiri dari
besar butir pasir halus-pasir sedang, kebundaran subangular dan memiliki
kemas tertutup. Struktur yang dimiliki batupasir hijau adalah masif. Pemilhan
dari batupasir hijau ini dalah well sorted dengan permeabilitas yang sedang.
Kekompakan dari batupasir hijau adalah keras. Komponen mineral yang
dimiliki adalah kuarsa 90%, Feldspar 55 dan lithic 5%. Batupasir hiajau
memiliki warana hiaju diakibatkan oleh adanya mineral glukonit.

FOTO BATUAN :

4 cm

Mineral glaukonit

9 cm

88

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

DESKRIPSI BATUAN SEDIMEN KLASTIK

Hari/Tanggal

: Sabtu, 19-03-2016

Praktikm Ke

:3

No. Sampel

:2

Batupasir memiliki 2 warna yaitu warna lapuk hijau keputihan dan warna
segar putih kehijauan. Batupasir memiliki tekstur yang terdiri dari besar butir
pasir halus, dengan kebundaran rounded, dan kemas tertutup. Struktur yang
dimiliki batupasir adalah struktur laminasi. Pemilahan dari batu pasir ini
adalah well sorted dengan permeabilitas yang sedang. Kekompakan batupasir
ini adalah kompak. Komponen mineral yang dimiliki adalah kuarsa.

FOTO BATUAN :

3 cm

Struktur laminasi

7 cm

89

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

DESKRIPSI BATUAN SEDIMEN KLASTIK

Hari/Tanggal

: Sabtu, 19-03-2016

Praktikm Ke

:3

No. Sampel

:3

Batu lempung memiliki 2 warna yaitu warna lapuk hitam bitnik putih dan
warna segar hitam gelap. Batu lempung memiliki tekstur yang terdiri dari
besar butir clay, dengan kebundaran well rounded, dan kemas tertutup.
Struktur sedimen yang dimiliki oleh batu lempung ini adalah masif. Pemilahan
dari batu lempung adalah well sorted dengan permeabilitas yang buruk.
Kekompakan dari batu lempung ini adalah dapat diremas.

FOTO BATUAN :

sand

massi
f

clay

6 cm

6 cm

90

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

DESKRIPSI BATUAN SEDIMEN KLASTIK

Hari/Tanggal

: Sabtu, 19-03-2016

Praktikum Ke

:3

No. Sampel

:4

Batu kalsiludit memiliki 2 warna yaitu warna lapuk coklat kekuningan dan
warna segar putih pucat. Batu kalsiludit memiliki tekstur yang terdiri dari
besar butir pasir halus, yang kebundarannya subrounded, dengan kemas
tertutup. Struktur sedimen pada kalsiludit adalah laminasi. Pemilahan dari
kalsiludit adalah well sorted dengan permeabilitas yang sedang. Kekompakan
dari kalsiludit ini adalah keras.

FOTO BATUAN :

Laminasi

Kalsit

8 cm

9 cm

91

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

DESKRIPSI BATUAN SEDIMEN KLASTIK

Hari/Tanggal

: Sabtu, 19-03-2016

Praktikm Ke

:3

No. Sampel

:5

Breksi polimik meiliki 2 warna yaitu abu-abu kekuningan dan warna segar
abu-abu keputihan. Breksi polimik memiliki tekstur yang terdiri dari
kebundarannya angular-subangular dan memiliki kemas terbuka. Struktur
yang dimiliki oleh breksi polimik ini adalah laminasi. Breksi polimik memiliki
pemilahan poorly sorted dengan permebilitas yang buruk. Kekompakan breksi
polimik adalah keras.

FOTO BATUAN :

Fragmen yang
menyudut

6 cm

5 cm

92

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

DESKRIPSI BATUAN SEDIMEN KLASTIK

Hari/Tanggal

: Sabtu, 19-03-2016

Praktikm Ke

:3

No. Sampel

:6

Breksi gampingan mmiliki 2 warna yaitu warna lapuk hijau keabuan dan
warna segar hitam kekuningan. Breksi gampingan memiliki tekstur yang
terdiri dari besar butir pebble, kebundarannya angular dan memiliki kemas
terbuka. Memiliki struktur sedimen current ripple. Pemilahan dari breksi
gampingan ini adalah poorly sorted dengan permebilitas yang buruk. Breksi
gampingan ini memiliki kandungn karbonatan. Kekompakan dari breksi
gampingan ini adalah kompak.

FOTO BATUAN :

Fragmen
batuan
semen

8 cm
matrik

9 cm

93

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

DESKRIPSI BATUAN SEDIMEN KLASTIK

Hari/Tanggal

: Sabtu, 19-03-2016

Praktikm Ke

:3

No. Sampel

:7

Konglomerat memiliki 2 warna yaitu warna lapuk abu kekuningan dan


warna segar abu-abu keputihan. Konglomerat memiliki tekstur yang terdiri
dari besar butir coarsesand, kebundaran fragmennya subrounded, dan
memiliki kemas tertutup. Pemilahan yang dimiliki oleh konglomerat ini adalah
poorly sorted dengan permeabilitas yang baik. Kekompakan konglomerat
adalah keras.

FOTO BATUAN :

Sedimenta
ry clast

8 cm

Metamorf
clast

8 cm

Igneous
clast

94

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

DESKRIPSI BATUAN SEDIMEN KLASTIK

Hari/Tanggal

: Sabtu, 19-03-2016

Praktikm Ke

:3

No. Sampel

:8

Mudfosil memiliki 2 warna yaitu warn lapuk abu-abu kecoklatan dan


warna segar abu-abu. Mudfosil memiliki tekstur yang terdiri dari besar butir
yaitu clay-silt, kebundarannya rounded dan memiliki kemas tertutup. Struktur
sedimen dari mudfosil adalah mud crack. Pemilahan dari mudfosil ini adalah
well sorted dengan permeabilitas buruk. Kekompakan dari mudfosil adalah
kompak-keras.

FOTO BATUAN :

masif

10 cm

15 cm

95

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

4.5.

BATUAN SEDIMEN NON KLASTIK


DESKRIPSI BATUAN SEDIMEN NON-KLASTIK

Hari/Tanggal

: Sabtu, 30-03-2016

Praktikm Ke

:4

No. Sampel

:1

Batu gamping numulites memiliki 2 warna yaitu warna lapuk putih


kekuningan dan warna segar kuning keputihan. Batu gamping numulites
memiliki tekstur yang terdiri dari besar butir clay, kebundaran subangular dan
memiliki kemas terbuka. Pemilahan dari batu gamping numulites ini adalah
medium sorted dengan permeabilitas baik dan memiliki kandungan
karbonatan. Kekompakan batu gamping numulites ini adalah keras. Batu
gamping numulites ini dpenuhi dengaan fosil foraminifera nummulites. Fosil
numulites petunjuk bahwa batuan ini diendapkan di laut dangkal dan berumur
hingga 55 juta tahun yang lalu.

FOTO BATUAN :

kuars
a

Butiran
( ooid )

Matriks
( mikirit
)

6 cm

plagiokla

9 cm

96

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

DESKRIPSI BATUAN SEDIMEN NON-KLASTIK

Hari/Tanggal

: Sabtu, 30-03-2016

Praktikm Ke

:4

No. Sampel

:2

Batu gamping algae memiliki 2 warna yaitu warna lapuk abu-abu dan
warna segar abu-abu kecoklatan. Batu gamping algae memiliki composite
ooid, dengan kebundaran rounded dan memiliki kemas tertutup. Pemilahan
dari batu gamping algae well sorted dengan permeabilitas buruk dan memiliki
kandungan karbonatan. Kekompakan dari batu gamping algae ini adalah agak
keras. Batu gamping algae memiliki komposisi mineral utama dari kalsit
terbentuk karena aktivitas dari coral pada perairan hangat dan dangkal dan
terbentuk sebagai hasil sedimentasi organik.

FOTO BATUAN :

5,5 cm
algae
Ooid

kalsi
t

7 cm

97

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

DESKRIPSI BATUAN SEDIMEN NON-KLASTIK

Hari/Tanggal

: Sabtu, 30-03-2016

Praktikm Ke

:4

No. Sampel

: 03

Batu gamping merah memiliki 2 warna yaitu warna lapuk merah gelap dan
warna segar merah keabuan. Batu gamping merah memiliki tekstur yang
terdiri dari besar butir clay, kebundaran well rounded dan kemasnya tertutup.
Pemilahan dari batu gamping merah adalah well sorted dengan permeabilitas
yang buruk dan memiliki kandungan karbonatan. Kekompakan dari batu
gamping merah ini adalah keras. Komponen penyusun mineralnya 100%
halite.

FOTO BATUAN :

Halite

5 cm

10 cm

98

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

DESKRIPSI BATUAN SEDIMEN NON-KLASTIK

Hari/Tanggal

: Sabtu, 30-03-2016

Praktikm Ke

:4

No. Sampel

: 04

Batu bioklastik memiliki 2 warna yaitu putih kecoklatan dan warna segar
putih kehijauan. Batu bioklastik memiliki tekstur yang terdiri dari ooid dengan
kebundarannya very angular dan memiliki kemas tertutup. Struktur yang
dimilki oleh batu bioklastik ini adalah biogenic. Pemilahan dari batu
bioklastik adalah medium sorted dengan permeabilitas baik dan memiliki
kandungan karbonatan. Kekompakan dari batu bioklastik ini adalah keras.
Pada batuan bioklastik ini terdapat pecahan-pecahan cangkang.

FOTO BATUAN :

Fragmen
cangkang

7 cm

6 cm
99

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

DESKRIPSI BATUAN SEDIMEN NON-KLASTIK

Hari/Tanggal

: Sabtu, 30-03-2016

Praktikm Ke

:4

No. Sampel

: 05

Batu rijang memiliki warna segar kuning kecoklatan. Batu rijang memiliki
tekstur yang terdiri dari kebundaran butirnya yang angular dan memiliki
kemas tertutup. Pemilahan dari batu rijang ini sendiri adalah well sorted
dengan

permeabilitas

buruk

dan

memiliki

kandungan

karbonatan.

Kekompakan dari batu rijang ini adalah keras. Batu rijang merupakan batuan
sedimen yang diendapkan di laut dalam, yang berdasarkan kandungan fosil
renik radiolarian menunjukan bahwa batuan ini berumur kapur atas.

FOTO BATUAN :

Fosil
radolaria
4 cm

8 cm
100

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

4.6.

BATUAN METAMORF
DESKRIPSI BATUAN METAMORF

Hari/Tanggal : Sabtu, 09-04-2016


PraktikmKe

:5

No. Sampel

: 01

Sekis mika memiliki 2 warna yang terdiri dari warna lapuk abu-abu
keputihan dan warna segar hitam keputihan. Sekis mika memiliki teksur
lepidoblastik dengan struktur foliasi schistose. Komponen mineral dari sekis mika
ini adalah mika.

FOTO BATUAN :

5 cm

Mika
Foliasi

4,5 cm
101

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

102

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

DESKRIPSI BATUAN METAMORF


Hari/Tanggal : Sabtu, 09-04-2016
PraktikmKe

:5

No. Sampel

: 02

Gneis memiiliki 2 warna yaitu warna lapuk hijau keputihan dan warna segar hijau
lumut. Gneis memiliki struktur granuloblastik dengan struktur gneistosa.
Komponen mineral dari gneiss adalah kuarsa, alkali feldspar dan amphibole.

FOTO BATUAN :

Mineral
6 cm granular

5 cm

103

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

DESKRIPSI BATUAN METAMORF


Hari/Tanggal : Sabtu, 09-04-2016
PraktikmKe

:5

No. Sampel

: 03

Slate memiliki 2 warna yang terdiri dari warna lapuk abu-abu kelabu dan
warna segar abu-abu keputihan. Slate memiliki tekstur biastopelit dengan struktur
foliasi slaty cleavage. Slate merupakan batuan metamorf yang terbentuk dari
proses metamorfisme berupa sedimen shale atau mudstone (Batu lempung). Ciri
khas mudah membelah menjadi lembar tipis.

FOTO BATUAN :

kuarsa

2,5 cm
10 cm

104

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

4.7.

BATUAN METAMORF NONFOLIASI


DESKRIPSI BATUAN METAMORF

Hari/Tanggal : Sabtu, 09-04-2016


PraktikmKe

:5

No. Sampel

: 04

Hornfels memiliki 2 warna yang terdiri dari warna segar kuning


kecoklatan. Hornfels memiliki tekstur granoblastik dengan tekstur nonfoliasi.
Adapun komponen mineral yang terkandung pada hornfels adalah kuarsa dan
mika. Hornfels terbentuk ketika shale dan claystone mengalami metamorfisme
oleh temperature dan intrusive beku.

FOTO BATUAN :

4 cm
Kuarsa

Oksida
besi

6,5 cm

105

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

DESKRIPSI BATUAN METAMORF


Hari/Tanggal : Sabtu, 09-04-2016
PraktikmKe

:5

No. Sampel

: 05

Eklogit memiliki 2 warna lapuk yang terdiri dari warnalapuk hitam


kusam dan warna segar hitam pekat. Eklogit memiliki tekstur biastoporfiritik
dengan struktur nonfoliasi. Adapun komponen mineralnya kuarsa dan feldspar.
Eklogit mempunyai komposisi kimia seperti basalt, beberapa eklogit berasal dari
batuan beku.

FOTO BATUAN :
Feldspar
3 cm

6 cm

106

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

DESKRIPSI BATUAN METAMORF


Hari/Tanggal : Sabtu, 09-04-2016
PraktikmKe

:5

No. Sampel

: 06

Kuarsit memiliki warna segar yaitu putih susu. Kuarsit memiliki tekstur
granoblastik dengan struktur nonfoliasi. Kuarsit hamper 90% komponen penyusun
mineralnya kuarsa. Kuarsit adalah batuan metamorf yang keras dan kuat.
Terbentuk ketika batupasir mendapat tekanan dan temperature yang tinggi.

FOTO BATUAN :

4 cm

kuarsa

7 cm

107

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

DESKRIPSI BATUAN METAMORF


Hari/Tanggal : Sabtu, 09-04-2016
PraktikmKe

:5

No. Sampel

: 07

Asbes memiliki 2 warna yang terdiri dari warna lapuk hijau muda dan
warna segar hijau keabuan. Asbes memiliki tekstur nematoblastik dengan struktur
nonfoliasi. Asbes memiliki komponen mineral plagioklas dan peridotite. Asbes
terbentuk karena pelapukan batu gamping magnesia (dolomit) perubahan bentuk
dari proses transformasi dari batu gamping.

FOTO BATUAN :

nematoblastik

4 cm

6 cm

108

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

DESKRIPSI BATUAN METAMORF


Hari/Tanggal : Sabtu, 09-04-2016
PraktikmKe

:5

No. Sampel

: 08

Marmer memiliki 2 warna yaitu warna lapuk putih susu dan warna segar
putih kekuningan. Marmer memiliki tekstur granoblastik dengan struktur
nonfoliasi. Marmer memiliki komponen mineral kalsit. Marmer terbentuk ketika
batu gamping mendapat tekanan dan panas sehingga mengalami perubahan dan
rekristalisasi kalsit.

FOTO BATUAN :

Kalsit

3 cm

6 cm

109

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

DESKRIPSI BATUAN METAMORF


Hari/Tanggal : Sabtu, 09-04-2016
PraktikmKe

:5

No. Sampel

: 09

Serpentinit memiliki 2 warna yang terdiri dari warna lapuk hitam coklat
kehijauan dan warna segar hitam kehijauan. Tekstur dari serpentinit adalah
granoblastik dengan struktur nonfoliasi. Serpentinit memiliki komponen mineral
serpentine. Serpentinit merupakan metamorfisme batuan beku basa. Ciri khas
kilap minyak dan lebih keras disbanding kuku jari.

FOTO BATUAN :

Serpentine

5 cm

8 cm

110

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

DESKRIPSI BATUAN METAMORF


Hari/Tanggal : Sabtu, 09-04-2016
PraktikmKe

:5

No. Sampel

: 10

Napal memiliki 2 warna yang terdiri dari warna lapuk coklatcoklat


kekuningan dan warna segar coklat keputihan. Napal tmemiliki komposisi
lempung dan lanau. Napal memiliki kandungan karbonatan. Komposisi mineral
dari napal hamper 75% adalah kalsit.

FOTO BATUAN :

Kalsit

5 cm

7 cm

111

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

DESKRIPSI BATUAN METAMORF


Hari/Tanggal : Sabtu, 09-04-2016
PraktikmKe

:5

No. Sampel

: 11

Nefrit memili 2 warna yaitu warna lapuk putih keabuan dan warna segar
putih kehijauan. Nefrit memiliki tekstur kristaloblastik-granoblastik dengan
struktur nonfoliasi mikrokristalin. Nefrit memiliki komponen mineral kuarsa.

FOTO BATUAN :

Kuarsa

10 cm

4 cm

112

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

DESKRIPSI BATUAN METAMORF


Hari/Tanggal : Sabtu, 09-04-2016
PraktikmKe

:5

No. Sampel

: 12

Amphibolit memiliki 2 warna yaitu warna lapuk hijau kecoklatan dan


warna segar hijau kebiruan. Amphibolit memiliki tekstur granoblastiklepidoblastik dengan struktur nonfoliasi granulose. Komponen mineral dari
amphibolite adalah plagioklas dan amphibole.

FOTO BATUAN :

Plagioklas

6 cm
Amphibole

5 cm

113

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

BAB V
PENUTUP

5.1. KESIMPULAN
Petrologi adalah suatu cabang ilmu geologi yang mempelajari tentang batuan
sebagai penyusun kerak bumi. Bumi yang kita tempati ini disusun oleh berbagai
jenis batuan. Mempelajari batuan merupakan pengetahuan dasar untuk
mempelajari geologi serta untuk mengetahui sifat dan sejarah bumi kita. Batuan
adalah agregat padat yang terdiri dari mineral-mineral, gelas, ubahan material
organic atau kombinasi dari komponen-komponen tersebut yang terjadi secara
alamiah. Pembentukan berbagai macam mineral di alamm akan menghasilkan
berbagai jenis batuan tertentu. Proses alamiah tersebut bias berbeda-beda dan
membentuk berbagai jenis batun. Pada praktikum yang telah dilakukan mahasiswa
dapat membedakan antara batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf.
Dan juga mampu mendeskripsikan batuan beku, batuan sedimen dan batuan
metamorf.
5.2. PENUTUP
Laporan resmi petrologi ini penulis buat semata mata agar dapat
menjadi refrensi bacaan tentang bagaimana suatu batuan tersebut dapat
terbentukserta dapat dijadikan bahan acuan dalam mata kuliah petrologi. Supaya
praktikum petrologi dapat berjalan dengan baik dimasa mendatang, penulis
menyaran kan agar fasilitas dilaboraturium petrologi diperlengkap lagi, misalnya
dengan menambah alat.

114

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

DAFTAR PUSTAKA

Modul Praktikum Petrologi, Prodi teknik geologi, universitas islam riau


https://wangsajaya.files.wordpress.com/2015/02/02-batuan-beku.pdf
https://www.scribd.com/doc/128199797/Modul-Petrologi-Batuan-Beku
http://www.scribd.com/doc/211439527/Modul-Petrologi-2008-Institut-Teknologi
Bandung#scribd
http://tambangunp.blogspot.co.id/2013/03/mineral-mineral-pembentuk-batuanreaksi.html
https://rheon10.wordpress.com/2012/12/23/mineral-pembentuk-batuan-rockforming-minerals
https://www.academia.edu/11813593/Mineralogi_Pembentuk_Batuan_Muskovit_
Rock_Forming_Mineral_Muscovite

115

TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU