Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH LINGKUNGAN

PENGENDAPAN MARINE

DISUSUN OLEH:
1.
2.
3.
4.
5.

GENTA RIER LENNO .A.


RAY PRAYOGA
RYAN IMISTIAR
YOHANES FRANCISCUS .P.
WIDYA PUSPA DWI .H.
PRODI TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

LATAR BELAKANG
Lingkungan pengendapan merupakan tempat mengendapnya material sedimen

beserta kondisi fisik, kimia, dan biologi yang mencirikan terjadinya mekanisme
pengendapan tertentu (Gould, 1972). Lingkungan pengendapan merupakan
keseluruhan dari kondisi fisik, kimia dan biologi pada tempat dimana material
sedimen

terakumulasi.

(Krumbein

dan

Sloss,

1963).

Jadi,

lingkungan

pengendapan merupakan suatu lingkungan tempat terkumpulnya material sedimen


yang dipengaruhi oleh aspek fisik, kimia dan biologi yang dapat mempengaruhi
karakteristik sedimen yang dihasilkannya. Lingkungan pengendapan terbagi
menjadi 2 macam yaitu continental dan lingkungan transisi. Macam-macam
lingkungan pengendapan continental yaitu: fluvial, eolian, lacustrine, glacial. Pada
lingkungan pengendapan transisi yaitu: delta, beach and barrier, lagoonal, tidal
flat, neritik, dan oceanic.
1.2.

TUJUAN
1. Untuk mengetahui proses terjadinya sedimentasi pada lingkungan laut
2. Untuk mengetahui macam - macam dstruktur sedimen yang terbentuk

1.3.

RUMUSAN MASALAH
1. Apa saja pembagian lingkungan pengendapan laut?
2. Bagaimana proses terjadinya sedimentasi pada lingkungan laut?

BAB II
DASAR TEORI

Lingkungan pengendapan laut adalah lingkungan pengendapan yang


beralokasi di daerah laut atau samudera. Batuan hasil pengendapan oleh air laut
disebut sedimen marine. Pengendapan oleh air laut dikarenakan adanya
gelombang. Bentang alam hasil pengendapan oleh air laut, antara lain pesisir, spit,
tombolo, dan penghalang pantai. Arus yang terdapat di laut berasal dari pengaruh
angin, densitas air, temperatur, variasi salinitas dan gaya pasangsurut. Pengaruh
gelombang ini berdampak kepada kedalaman air sampai beberapa meter mencapai
tingkatan yang lebih dalam, selama energi yang lebih tinggi mempengaruhi dasar
laut.
Lingkungan laut mencakup semua wilayah di samudera dan di lautan.
Lingkungan ini dapat diklasifikasikan berdasarkan kedalaman air laut serta tipe
sedimen yang mengendap (Gore, 2003).

Lingkungan Pengendapan Laut

Arus yang terdapat di laut berasal dari pengaruh angin, densitas air,
temperatur, variasi salinitas dan gaya pasangsurut. Pengaruh gelombang ini
berdampak kepada kedalaman air sampai beberapa meter mencapai tingkatan
yang lebih dalam, selama energi yang lebih tinggi mempengaruhi dasar laut.
a. Lingkungan Pengendapan Laut Dangkal
Lingkungan pengendapan ini mencakup akumulasi dari sedimen klastik
yang tertransport dari daratan serta sedimentasi batuan karbonat yang berasal dari
keterdapatan organisme yang hidup di laut. Sedimen yang terendapkan di
lingkungan laut dangkal sangat beraneka ragam. Material sedimen klastik
terdistribusi dan terpisahkan pada fasies pengendapan yang berbeda oleh arus
pasangsurut, gelombang, badai dan arus laut Proses yang sama juga berpengaruh
terhadap sedimen karbonat yang banyak keterdapatannya pada kondisi iklim,
kedalaman air, dan produksi organisme tertentu (Nichols,1999).

Lingkungan Laut Dangkal Siliklastik

Lingkungan ini dicirikan dengan adanya pengendapan detritus pada


kedalaman sedang (10-200m), atau dekat dengan daratan, dipengaruhi
pasangsurut, gelombang, angin atau badai yang mendominasi gaya gerak
sedimen. Sedimen yang terendapkan termasuk bersal dari estuarin, dataran
pasangsurut, endapan badai, pulau penghalang, dan garis pinggir pantai
(Satyana, 2005).

Lingkungan Laut Dangkal Karbonat

Lingkungan ini dicirikan dengan pengendapan karbonat yang dipengaruhi


oleh proses biokimia pada laut dangkal (<100m). Wilayah dengan
sedimentasi kabonat dikenal dengan carbonat platform. Platform terdapat
pada wilayah di paparan daratan yang terbentang di garis pantai sampai pada
wilayah epikontinental laut

b. Lingkungan Pengendapan Laut Dalam


Lingkungan laut dalam merupakan daerah terbesar yang menyusun
permukaan bumi dengan kedalaman lebih dari 200m. Sekitar 65% dari permukaan
bumi mencakup continental slope, continental rise, palung laut dalam, dan dasar
laut yang dalam (Nichols, 2001).
Pada lingkungan laut dalam, dipermukaannya banyak terdapat
organisme namun dibawah zona photik organismenya lebih sedikit. Sedimen laut
dalam memang lebih sedikit keterdapatannya dibandingkan dengan sedimen laut
dangkal. Namun perkecualian untuk lingkungan kipas laut dalam yang dekat
dengan kemiringan, dimana rata-rata sedimen terderivasi oleh arus turbidit yang
dapat bergerak 10m/1000tahun dan produk arus turbidit dapat mencapai ketebalan

ribuan meter. Sedimen yang terendapkan pada lingkungan ini adalah tubuh pasir
yang sangat tebal.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, lingkungan laut dalam dapat
terbagi menjadi :

Continental Slope, terbentang mulai dari paparan dengan kedalaman 130m


sampai permulaan dasar laut. Batas bawahnya terletak pada kedalaman
1500-4000m, tetapi pengecualian pada palung dalam dapat terbentang
mencapai 10000m dan semakin kearah laut kedalamannya semakin
bertambah (Boggs, 1995).

Continental Rise dan Cekungan Laut Dalam, wilayah ini mencakup bagian
laut dalam yang berada di bagian distal dari continental slope. Wilayah ini
mencakup 80% lingkungan lantai samudera. Bagian terdalam dari
samudera terbagi menjadi dua komponen fisiografis yakni : lantai
samudera dan oceanic ridge.

Lingkungan Laut Dalam

Tipsword, Setzer dan Smith (1966) membagi menjadi 4, yaitu:


A. Continental Shelf

Continental shelf merupakan lingkungan pengandapan laut yang


terpengaruh oleh gelombang dan pasang surut yang memiliki derajat kemiringan
<10 dan memiliki ke dalam < 200 m.

Adapun karakteristik dari pada continental shelf dipengaruhi oleh:

Aktivitas gelombang
Organisme
Evaporasi
Vulkanisme

B. Continental Slope dan Continental Rise


Daerah continental slope bisa mencapai kedalaman 1500 m dengan
sudut kemiringan biasanya tidak lebih dari 5 derajat.Kedalaman lereng benua
lebih dari 200 meter.Lebar dari lereng ini mencapai 100 km. Tidak hanya
submarine canyon, lereng benua ini merupakan jalan bagi sedimen untuk
tertransportasi menuju ke continental rise dan lantai samudera.Penampakan lereng
benua yang sekarang ini memilki banyak sekali variasi dan beberapa lereng
terakumulasi oleh tebalnya susunan sedimen.Lereng benua secara relatif
merupakan bagian yang terjal dari tepi landasan benua. Beberapa lereng benua
terbentuk oleh aktivitas tektonik seperti faulting dan folding dimana disertai
dengan erosi yang luas.
Continental Rise adalah dasar laut dengan sudut kemiringan landai
sekitar 0.1% dan merupakan bagian batas benua yang sesungguhnya yang
langsung berbatasan dengan dasar samudera. Continental rise memiliki lebar
hingga ratusan kilometer dari dasar slope hingga ke dataran abisal. Relief
continental rise umumnya kurang dari 20 m kecuali di sekitar gunung laut.
Continental rise tersusun dari sedimen yang diturunkan dari benua dan
batas yang bersebelahan. Arus membawa sedimenmenuruni slope dan menumpuk
di dasarnya. Arus yang bekerja pada continental rise ini adalah arus turbidit.
Perpindahan material sedimen yang tersuspensidi bawah laut karena pengaruh
gravitasi menyebabkan terjadinya arus turbidit.
Adapun endapan turbidit yang terbentuk pada continental rise ini adalah

Sortasi yang buruk


Komponen sedimen sangat beragam dan saling bercampur

Sedimen berukuran dari mud hingga gravel


Adapun struktur sedimen yang terbentuk pada endapan turbidit ini adalah
graded bedding, , plane pararel lamination, tool marks, ripple dan
bioturbation.

C. Reef
Reef adalah lingkungan pengendapan dengan fertilisasi organisme yang
sangat tinggi pada lingkungan laut. Lingkungan reef dapat dibedakan menjadi:
1. Forereef
2. Reef Crest
3. Backreef

D. Oceanic Basins atau Abyssal Plain


Abyssal Plain atau Oceanic basin adalah permukaan dari oceanic crust yang
datar akibat deposisi sedimen yang terus-menerus menutupi relief dasar laut.
Terbentu biogenic sedimentary structures seperti trails, burrows, borring akibat
aktivitas organisme yang hidup di dasar laut.

Tabel Klasifikasi Sedimen Pada Subklasifikasi Lingkungan Pengendapan Laut


REEF

CONTINENTAL

CONTINENTAL

ABYSSAL

SHELF

SLOPE &

PLAIN

CONTINENTAL RISE

ROCK TYPE

Limestone

Sandstone,

Siltstone and shale

Shale and

Carbonate

Limestone, Oolitic,
Carbonate

Carbonate

diatomite
Carbonate

COMPOSITION
COLOR

Gray to

Gray to Brown

Gray, Green, Brown

Back, White

Grain Size

White
Framework

Clay to Sand

Clay to Sand

red
Clay

Sorting

Poor to Good

Poor

Good

Lamination, Cross

Graded Bedding,

Lamination

bedding

Cross bedding,

INORGANIC
SEDIMENTARY
STRUCTURE
ORGANIC OR
BIOGENIC
EDIMENTARY

Lamination, Flute
-

Trails, Burrow

Marks, Tool marks


Trails, Burrow

Trails,
Burrow

STRUCTURE
FOSSILS

Coral

Marine shells

Rare plants

Marine

(Microscopic)

Shells

Tool Marks

Marine shells

Flute Marks

Paralel Laminasi

Cross Bedding

BAB III
PENUTUP

Lingkungan pengendapan laut adalah lingkungan pengendapan yag berlokasi


di daerah laut atau samudera. Secara sistematis, subklasifikasi lingkungan
pengendapan laut dibedakan berdasar morfologi dasar laut, yaitu:
a.
b.
c.
d.

Continental shelf
Reef
Continenta slope & Continental rise
Oceanic basin/Abyssal pain

DAFTAR PUSTAKA
http://dokumen.tips/documents/lingkungan-pengendapan-laut.html
http://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/laut/zona-laut