Anda di halaman 1dari 2

KERACUNAN TEMPE BONGKREK

Keracunan akibat memakan tempe bongkrek sudah seringkali kita dengar, khususnya yang terjadi di
wilayah Karesidenan Banyumas. Tempe bongkrek adalah tempe yang terbuat dari bahan ampas
kelapa atau bungkil kelapa. Makanan ini merupakan makanan yang disukai masyarakat Banyumas
khususnya dan masyarakat Jawa Tengah pada umumnya. Walaupun sebenarnya kandungan gizinya
tidak seberapa disamping resikonya yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Namun faktor murah dan
rasa yang khas mampu memikat selera masyarakat kelas bawah pada umumnya. Pembuatan tempe
bongkrek sebenarnya telah dilarang sejak tahun 1969, namun kenyataannya masih saja ada
penduduk yang memproduksi maupun mengkonsumsi makanan yang sangat berbahaya tersebut.
Tragedi paling buruk telah menewaskan 37 orang penduduk kecamatan Lumbir, Banyumas yang
terjadi pada tahun 1988. Peristiwa tragis ini memaksa aparat pemerintah setempat untuk bertindak
lebih tegas dalam hal larangan memproduksi dan mengkonsumsi tempe bongkrekTempe bongkrek
dibuat dari ampas kelapa, yang diperoleh dari sisa pembuatan minyak kelapa, sisa pembuatan dodol,
atau bungkil kelapa dari pabrik. Dari kandungan nutrisi tiap 100 gram tempeh bongkrek bernilai 119
kalori, kandungan proteinnya 4,4 gram, lemak 3,5 gram, karbohidrat 18,3 gram, kalsium 27 milligram,
fosfor 100 milligram, zat besi 2,6 milligram. Disamping itu tempe bongkrek juga mengandung vitamin
B1 0,08 milligram. Akan tetapi konsumsi tempe bongkrek yang berlebihan sangat berbahaya dan
dapat menyebabkan mematikan karena adanya kontaminasi oleh sejenis bakteri yang tumbuh lebih
cepat daripada kapang bongkrek. Bakteri yang mengeluarkan racun itu adalah Pseudomonas
cocovenenans, ilmuwan yang pertama kali mempelajari penyebab keracunan tempe bongkrek adalah
Mertens dan van Veen dari Institut Eijkman. Bakteri bongkrek hanya dapat tumbuh pada tempe
bongkrek dan membentuk racun jika bahan dasar tempe adalah kelapa parut, ampas kelapa atau
bungkil kelapa, sedangkan tempe dari kedele atau oncom dari bungkil kacang tanah tidak beracun
walaupun terinokulasi dengan bakteri tersebut. Namun bungkil kacang tanah yang belum diberi ragi
oncom, bisa beracun jika terinokulasi dengan bakteri itu. Tempe bongkrek yang dibuat dari bungkil
kelapa pabrik jarang ditumbuhi bakteri mematikan itu karena kadar lemaknya rendah. Sementara itu
tempe bongkrek yang terbuat dari kelapa parut dan ampas kelapa sisa perasan penduduk sendiri
sering ditumbuhi bakteri itu karena masih mengandung banyak lemak.Bakteri Pseudomonas
cocovenenans bila tumbuh pada ampas kelapa akan memproduksi racun toksoflavin dan asam

bongkrek. Kedua racun itulah yang mematikan pemakan tempe bongkrek. Asam bongkrek adalah
racun yang tidak berwarna. Toksoflavin merupakan antibiotik yang berwarna kuning, senyawa ini
tampak jelas jika tempe bongkrek terkontaminasi racun itu. Asam bongkrek daya toksisitasnya lebih
tinggi dibanding toksoflavin. Asam bongkrek bekerja secara akumulatif dan akan menyebabkan
kematian mendadak setelah racunnya terkumpul didalam tubuh. Racun tersebut tidak mudah
diinaktifkan atau didetoksifikasi maupun diekskresi oleh tubuh. Di dalam tubuh manusia, asam
bongkrek dapat menyebabkan peningkatan kadar gula dalam darah akibat mobilisasi glikogen dari hati
dan otot. Setelah glikogen dalam otot dan hati habis segera gula dalam darah dihabiskan juga sampai
yang keracunan meninggal.
Upaya Untuk Mencegah Produksi Toksoflavin dan Asam BongkrekSebenarnya ada beberapa langkah
alternatif yang dapat dilakukan untuk mencegah produksi toksoflavin dan asam bongkrek oleh bakteri
Pseudomonas cocovenenas selama produksi tempe bongkrek: a) Dengan penambahan fungi Monilla
sitophila sebagai pengganti kapang bongkrek, namun bukan tempe bongkrek yang dihasilkan
melainkan oncom.b) Dengan penambahan garam dapur (NaCl) 1.5 2 persen pada ampas kelapa,
juga dapat menghambat pertumbuhan bakteri bongkrek, sehingga bisa mencegah pembentukan asam
bongkrek.c) Dengan penambahan daun calincing (Oxalis sepium) yang sering digunakan untuk
membuat sayur asam. Daun calincing ini selain dapat menghambat pertumbuhan bakteri bongkrek,
juga merupakan antidotum (penawar racun) keracunan asam bongkrek. Akan tetapi, penambahan
daun segar pada pembuatan tempe bongkrek ini menyebabkan timbulnya warna hijau, dan rasanya
agak asam, sehingga kurang disukai.d) Dengan penambahan antibiotik Aureomycin dan Terramycin
untuk mencegah pertumbuhan bakteri Pseudomonas cocovenenans penghasil asam bongkrek.