Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN WALK-THROUGH SURVEY

(CV. Nanda/Konveksi)
Oleh:
Kelompok 4
Amalia Rasydini S.

1318011008

Andre Panjaitan P.

1318011013

Claudia Hutauruk

1318011043

Khairul Anam

1318011093

Nabila Luthfiana

1318011114

Putri Adelina Shazari

1318011129

Ridho Pambudi

1318011140

Tesia Iryani

1318011166

Tri Novita Sari

1318011169

Uliana Nur Melin

1318011172

Wage Nurmaulina

1318011175

Yulia Cahya K.

1318011180

Pembimbing
dr. Oktafany, M.Pd.Ked

Fakultas Kedokteran
Universitas Lampung
Bandar Lampung
2016

HALAMAN PENGESAHAN
Judul Kegiatan

: Walk-through Survey di CV. Nanda Konveksi

Penyusun

: Kelompok 4

1. Amalia Rasydini S.
2. Andre Panjaitan P.
3. Claudia Hutauruk
4. Khairul Anam
5. Nabila Luthfiana
6. Putri Adelina Shazari
7. Ridho Pambudi
8. Tesia Iryani
9. Tri Novita Sari
10. Uliana Nur Melin
11. Wage Nurmaulina
12. Yulia Cahya K.
1318011008

1318011013
1318011043
1318011093
1318011114
1318011129
1318011140
1318011166
1318011169
1318011172

1318011175

1318011180
Bandar Lampung, 14 November 2016
Menyetujui,
Dosen Pembimbing

dr. Oktafany, M.Pd.Ked


NIP. 197610162005011003

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur, penulis ucapkan ke hadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan
rahmat, anugrah, dan hidayah-Nya yang tak terhingga sehingga penulis dapat
menyelesaikan laporan walkthrough survey pada Blok Agromedicine.
Laporan walkthrough survey yang berlokasi di Konveksi Nanda, Way Halim
merupakan salah satu tugas dalam Blok Agromedicine di Fakultas Kedokteran
Universitas Lampung. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih
yang tulus kepada dr. Oktafany, M.Pd.Ked selaku pembimbing laporan ini, yang
telah bersedia meluangkan waktunya untuk membimbing hingga terselesaikannya
laporan ini.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan pada laporan ini, akan tetapi
dengan kerendahan hati penulis berharap laporan ini dapat bermanfaat.

Bandar Lampung, 14 November 2016

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI...........................................................................................................ii
DAFTAR TABEL..................................................................................................iii
DAFTAR GAMBAR.............................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN
1.1................................................................................................Latar Belakang
......................................................................................................................1
1.2..............................................................................................Tujuan Kegiatan
......................................................................................................................1
1.3............................................................................................Manfaat Kegiatan
......................................................................................................................2
BAB II HASIL KEGIATAN
2.1.......................................................................................................Identifikasi
2.2.....................................................................................................Pemantauan
2.3...........................................................................................................Evaluasi
2.4...............................................................................................Penatalaksanaan
BAB III PEMBAHASAN........................................................................................
BAB IV PENUTUP..................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

1. ...............................................................................................................................
2. ...............................................................................................................................
3. ...............................................................................................................................

DAFTAR GAMBAR

Gambar
1.
2.
3.
4.
5.

Halaman

...............................................................................................................................
...............................................................................................................................
...............................................................................................................................
...............................................................................................................................
...............................................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Industri konveksi merupakan perusahaan yang menghasilkan pakaian jadi,
baik itu pakaian wanita, pria, anak, pakaian olahraga maupun pakaianpakaian politik. Perusahaan konveksi umumnya menggunakan bahan baku
berupa tekstil dari bermacam-macam jenis diantaranya yaitu katun, kaos,
linen, polyester dan rayon. Alatalat yang biasanya digunakan pada industri
konveksi yaitu berupa mesin potong, mesin jahit, jarum jahit, alat sablon,
strika dan meja pengepakan. Bahan-bahan dan alat yang digunakan pada
industri konveksi dapat menjadi faktor terjdinya gangguan kesehatan dan
keselamatan kerja sehingga akan berpengaruh pada tingkat produktivitas
kerja.
Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan suatu usaha dan upaya untuk
menciptakan perlindungan dan keamanan dari risiko kecelakaan dan bahaya
baik fisik, mental maupun emosional terhadap pekerja, perusahaan,
masyarakat, dan lingkungan. Data menunjukan bahwa di dunia terjadi 270
juta kecelakaan kerja, 2,2 juta meninggal dunia dan kerugian yang dialami
sebesar 1,25 triliun USD. Sementara itu, di Indonesia dalam periode 20022005 telah terjadi lebih dari 300 ribu kecelakaan kerja, 5.000 kematian dan
500 cacat tetap. Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan bagian yang
sangat penting bagi ketenagakerjaan. Undang Undang Nomor 14 Tahun
1969 pasal 9 menyatakan bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapatkan
perlindungan atas keselamatan, kesehatan dan pemeliharaan moril kerja serta
perlakuan yang sesuai dengan harkat, martabat, manusia, moral dan agama
(Djatmiko, 2016).

Pengenalan dari berbagai bahaya dan faktor risiko kesehatan di lingkungan


kerja dapat dilakukan dengan melakukan Walk-through Survey, yaitu
merupakan langkah dasar pertama yang harus dilakukan dalam upaya
program kesehatan lingkungan kerja. Walk-through Survey dilakukan untuk
mendapatkan informasi yang relatif sederhana tapi cukup lengkap dalam
waktu yang relatif singkat. Teknik ini merupakan teknik yang penting untuk
mengidentifikasi dan mengevaluasi potensi bahaya di lingkungan kerja yang
dapat memberikan efek atau gangguan pada kesehatan pekerja yang terpajan
(Buraena, 2004).
Walk-through Survey merupakan suatu kegiatan yang terdapat dalam Blok
Agromedicine Fakultas Kedokteran Unila. Blok ini terdiri dari beberapa
macam kegiatan, salah satunya melakukan Walk-through Survey ke tempat
industri. Walk-through Survey adalah kegiatan lapangan yang bertujuan untuk
mengidentifikasi bahaya potensial dan bagaimana upaya yang harus
dilakukan sebagai pencegahan dari bahaya potensial tersebut sehingga
terhindar dari kecelakaan kerja dan meningkatkan keselamatan kerja.
1.2. Tujuan
Tujuan diadakannya kegiatan Walk-through Survey adalah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi bahaya potensial yang mencakup fisik, kimia,
2.

ergonomis biologi dan psikologis di lingkungan kerja


Menggambarkan macam-macam bentuk pengendalian bahaya yang

3.

meliputi Alat Pelindung Diri (APD)


Melakukan upaya pencegahan dari bahaya potensial yang dapat
ditimbulkan

1.3.

Manfaat
Manfaat diadakannya kegiatan Walk-through Survey adalah sebagai berikut:
1. Dapat mengidentifikasi bahaya potensial yang ada di lingkungan kerja
2. Mengetahui upaya pencegahan dari bahaya potensial yang dapat
dilakukan

BAB II
HASIL KEGIATAN

2.1. Identifikasi
2.1.1. Identifikasi Lokasi Kegiatan Walk-through Survey
Lokasi walkthrough survey adalah sebuah persekutuan komanditer atau
CV Nanda yang terletak di Jalan Semeru IV Perumnas Way Halim Kota
Bandar Lampung, Lampung. CV Nanda merupakan bisnis konveksi
swasta yang sudah berdiri selama 18 tahun. Bisnis konveksi merupakan
bisnis pembuatan busana atau bahan lain yang membutuhkan jahitan.
Konveksi Nanda memiliki banyak cabang yang tersebar di Bandar
Lampung.

Gambar 1. Lokasi Konveksi Nanda cabang Way Halim


Pada salah satu cabang CV Nanda yang telah dilakukan survey, terdapat
25 orang jumlah pekerja dengan onset penjualan mencapai 25 50
Juta/bulan. Diantara 25 orang karyawan tersebut, masing-masing
memiliki tugas dan pekerjaan yaitu:
a.
b.
c.
d.
e.

Karyawan bagian desain


Karyawan bagian pemotongan kain
Karyawan bagian obras dan jahit
Karyawan bagian pasang kancing
Karyawan bagian sablon

5
f. Karyawan bagian pengemasan
Dari seluruh pembagian tugas untuk karyawan, tugas inti terdapat pada
karyawan bagian sablon, karyawan bagian pemotongan kain, serta
karyawan bagian obras dan jahit.
Jenis produk yang dihasilkan konveksi Nanda diantaranya seragam
sekolah, seragam kantor dan kemeja. Pihak konveksi juga mampu
membuat pakaian organisasi dan jaket. Bordir, bahan, sablon, dan variasi
lainnya dapat menyesuaikan kebutuhan konsumen.
2.1.2. Identifikasi Alur Produksi, Alat, dan Bahan yang Digunakan
Alur produksi di tempat Konveksi Nanda adalah sebagai berikut.
a. Pembuatan desain produksi baju yang akan dijahit
b. Kain dan bahan yang terpilih akan dipotong sesuai ukuran konsumen
atau dalam ukuran all size
c. Kain dan bahan tersebut akan diobras dan dijahit sesuai desain atau
sesuai format standar untuk seragam sekolah, kantor, dan seragam
formal lainnya. Baju tersebut dipasangi kancing
d. Jika didesain dengan sablon, maka baju tersebut dicat dengan cat
sablon dan dijemur minimal dalam 1-2 hari
e. Packing/pengemasan baju terdiri dari

proses

penyetrikaan,

pembungkusan baju dengan plastik, pemberian tanda ukuran dan


perhitungan jumlah baju yang sudah diproduksi
Pembuatan Desain
Pemotongan dan Pemilihan kain
Obras, Penjahitan, Bordir dan Pemasangan kancing
Penyablonan
Pengemasan baju, crosscheck jumlah order
Gamber 2. Bagan Alur Produksi di Konveksi Nanda
Bahan yang dipakai dalam proses produksi adalah sebagai berikut.
a. Bahan baku berupa tekstil dari bermacam-macam jenis kain:
1) Katun

6
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)

Kaos
Linen
Polyester
Rayon,
Bahan-bahan sintesis lain ataupun campuran
Benang jahit
Bordir/logo/badge

b. Bahan penunjang (sablon):


1) Screen
Saringan sablon atau biasa disebut dengan Screen, Screen ini
terbuat dari bahan kain gasa kain yang berpori-pori, fungsi screen
ini adalah untuk menyaring tinta yang akan kita keluarkan pada
media yang akan kita sablon, semakin besar angka atau nomor
screen nya pori-pori dari screen semakin rapat hasilnya tinta yang
dikeluarkan akan semakin halus.
2) Obat Afdruk
Obat afdruk ini digunakan untuk memindahkan desain yang kita
buat kedalam screen yang akan menghasilkan sebuah gambar,
merk-merk obat afdruk ini juga bermacam-macam contohnya :
Ulano TZ, Super Emulsion 5, Rainbow dan lain-lain.
3) Obat Penghapus
Obat penghapus ini biasa digunakan untuk menghapus gambar
yang sudah ada didalam screen atau menghapus gambar afdruk
yang ada si screen agar screen suatu saat dapat digunakan kembali.
4) Pelapis Tinta (Penguat Tinta)
Agar hasil sablonan yang telah disablon dapat bertahan lama tidak
mudah luntur dan rusak, banyak juga jenis pelapis tinta ini seperti
Top Coat.
5) Rakel

7
Rakel digunakan untuk memberikan tinta ke screen dengan cara
ditekan dan didorong agar tinta dari screen tersalurkan kedalam
media yang kita sablon.
6) Meja Sablon
Meja sablon untuk memudahkan kita dalam proses sablon, posisi
meja sablon harus datar meja sablon ini juga digunakan pada saat
penyinaran atau pemindahan gambar ke screen bila menggunakan
pemindahan gambar dengan cara penyinaran cahaya lampu.

7) Gelas
Gelas ini banyak kegunaanya di sablon adalah untuk mencampur
tinta, sebagai tempat tinta dan lain-lain.
8) Kaca
Kaca digunakan pada saat proses afdruk berfungsi untuk menekan
gambar atau desain yang telah kita buat agar erat pada screen pada
saaat proses afdruk, kaca ini penting pada saat penyinaran dengan
bantuan baik itu penyinaran cahaya matahari ataupun penyinaran
dengan cahaya lampu.
9) Hair Dryer atau Kipas Angin
Hair dryer atau kipas angin ini berguna untuk mempercepat
pekerjaan kita dalam menyablon jika kita menyablon lebih dari 1
warna agar cepat selesai kita gunakan hair dryer atau kipas angin
untuk mengeringkan warna sebelumnya agar warna berikutnya bisa
mulai di cetak dan hair dryer ini juga berguna pada saat kita ingin
mengeringkan cairan Afdruk agar cepat kering kita bisa
menggunakan hair dryer ini.
10) Desain atau Gambar

8
Ini yang paling penting, jika semua sudah disiapkan tapi tidak ada
gambar yang ingin di sablon ya percuma dong, jangan lupa siapkan
gambar yang ingin kita sablon.
11) Catok
Berguna untuk menjepit screen di meja screen agar tidak bergerak
dan ini juga dapat memudahkan kita dalam proses sablon bisa juga
agar bingkai screen tetap presisi pada saat memasukan warna
berikutnya.

12) Tinta
Tinta sablon berbasis minyak dan tinta sablon berbasis air. Tinta ini
terdiri dari warna dasar yaitu merah, kuning, biru.
2.2. Pemantauan
Pada industri konveksi yang kami observasi terdapat beberapa proses
produksi yang dilakukan di tempat tersebut. Proses tersebut antara lain
pembuatan desain, pemotongan, penjahitan, penyablonan, dan penyetrikaan
serta packing. Masalah yang mungkin dapat teridentifikasi berdasarkan proses
produksi yang telah dijelaskan sebelumnya adalah sebagai berikut.
Dari beberapa kemungkinan tersebut terdapat beberapa bahaya potensial pada
setiap proses produksi tersebut yang telah kami paparkan dalam Tabel 1.
yang berisi matriks bahaya potensial yang tertera pada lampiran.
Dari banyak bahaya potensial yang ada, kami berfokus pada bahaya potensial
pada proses penyablonan, karena penggunaan bahan kimia dan beberapa hal
lain yang kami nilai memiliki bahaya potensial yang perlu mendapat
perhatian lebih.
2.3. Evaluasi

9
Berdasarkan bahaya potensial yang dapat terjadi akibat penjahitan maka dapat
dilakukan evaluasi yang akan dilakukan untuk menghindari bahaya tersebut,
sebagai berikut :
a. Memberikan penyuluhan terhadap para pekerja tentang pentingnya
pemakaian APD pada saat melakukan proses pekerjaan seperti masker
dan alas kaki
b. Menggunakan meja pada saat melakukan pembuatan pola, penjahitan,
dan pembordiran
c. Posisi pekerja yang terlalu lama duduk. Memberikan informasi untuk
diletakkannya tempat duduk dengan bantalan di dalam ruangan
penjahitan.
d. Ruangan berventilasi kecil menyebabkan ruangan tempat penjahitan
terasa panas dan pengap saat siang hari.
e. Memberikan pengetahuan kepada pekerja untuk membuka jendela
tertutup yang ada di ruangan penjahitan agar ventilasi semakin banyak
dan mengurangi panas serta ruangan tidak pengap.
f. Menggunakan bantalan atau peredam pada alat mesin jahit untuk
meredam getaran yang ditimbulkan mesin jahit.
g. Membersihkan sisa kain yang masih banyak tergeletak pada saat
proses penjahitan.
2.4. Penatalaksanaan
a. Koreksi Tempat Kerja
Koreksi tempat kerja seperti menggunakan tempat duduk beralaskan
bantal dan meja untuk menjahit.
b. Mengatur Ventilasi
Ventilasi pada tempat kerja sudah baik tetapi pada bagian penjahitan
ventilasi udara masih kurang akibat ruangan yang sempit, padat dan
pendek sehingga dilakukan intervensi untuk membuka jendela pada area
penjahitan dan penyesuain jumlah orang yang bekerja agar terjadi sirkulasi
udara yang optimal.
c. Pekerja

10
Pada tempat penjahitan Dewi Yanti terdapat banyak pekerja dengan
masing-masing pekerja memliki tugasnya masing-masing seperti menjahit,
membuat pola, menyusun payet, dan menyusun desain. Adapun ha-hal
yang diintervensikan pada pekerja adalah sebagai berikut:
1) Alat Pelindung Diri (APD)
Pekerja tidak memakai alat pelindung diri saat bekerja hal tersebut
dapat menimbulkan masalah kesehatan akibat zat kimia yaitu debu
yang terhirup setiap hari. Sehingga, dilakukan intervensi kepada
pekerja untuk memakai APD seperti masker. Masker berguna agar
serpihan bahan baku yaitu kapas tidak terhirup langsung oleh pekerja
sehingga dapat mengurangi gangguan saluran pernapasan akibat kerja.
Pemakaian alas kaki juga diperlukan, terutama pada pekerja penjahit
yang menggunakan mesin jahit untuk mengurangi getaran yang
ditimbulkan oleh mesin.

11

BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Pembahasan
Bahan kimia berbahaya banyak ditemukan pada dunia industri. Polutan yang
dapat, minyak, dan tinta. Paparan dari zat-zat ini dapat menimbulkan
kelelahan, sakit kepala, pusing dan iritasi mata dan gangguan pernafasan,
sehingga menghasilkan penurunan dari produktivitas dan kualitas produk dan
peningkatan absensi serta perpindahan staf (ILO, 2009).
Sablon merupakan salah satu teknik pencetakan yang menggunakan bahan
kimia seperti cat dan pelarut. Terdapat beberapa cara menggunakan bahan
kimia agar tidak menimbulkan masalah kesehatan pada pekerja yaitu: (a)
memisahkan bahan kimia dengan barang lain, meletakkannya pada tempat
tertutup, dan diberi label, (b) memisahkan ruangan yang berisi bahan kimia
dengan ruang lain, serta memberi label peringatan penggunaan Alat
Pelindung Diri (APD) pada pintu untuk mengingatkan pekerja, (c)
membersihkan debu dengan benar menggunakan mesin penghisap, (d)
menggunakan kipas angin dengan benar, (e) memberikan ruangan bahan
kimia, ventilasi untuk membuang udara, (f) mengingatkan pekerja untuk
mengganti baju dan mencuci tangan sebelum makan dan minum (ILO, 2009).

12
Industri non-formal yang kami dapatkan merupakan industri konveksi yang
salah satunya memproduksi pakaian sablon. Pada pengamatan yang kami
lakukan ruangan sablon diletakkan pada lantai paling atas dari industri
tersebut dimana terdapat satu ruangan untuk kegiatan penyablonan. Ruangan
ini digunakan oleh para pekerja untuk menyimpan bahan-bahankimia,
menyablon dan menjemur hasil sablon. Penggunaan ruangan ini kurang baik,
karena pekerja terpapar terus-menerus dengan bahan kimia yang dijadikan
satu tempat dengan tempat bekerja.
Pekerja dalam melakukan penyablonan hanya menggunakan baju rumah,
tidak dilengkapi dengan APD, hal ini akan meningkatkan resiko penghirupan
bahan kimia dan mengiritasi kulit. Pekerja sudah pernah mengeluhkan batukbatuk, pusing, dan tangan yang panas akibat keterpaparan secara terusmenerus dengan bahan kimia. Ruangan tempat bekerja juga dipenuhi debu
sisa penyablonan yang tidak dibersihkan, sebaiknya perusahaan menyiapkan
alat penghisap debu dan menjaga ruangan bersih dari debu untuk mengurangi
penghirupan debu sisa cat.
Ventilasi dalam ruangan tempat bekerja ada dua, yaitu ventilasi yang
mengarah keluar rumah industri dan yang mengarah ke dalam rumah industri.
Ventilasi yang ada cukup mengalirkan udara sehingga dapat mengganti udara
yang mengandung bahan kimia dengan udara segar, namun ventilasi yang
mengarah ke dalam rumah industri menyebabkan bahan kimia tersebar dalam
rumah sehingga dapat terhirup oleh pekerja lain. Ruangan tempat bekerja juga
tidak dilengkapi dengan kipas angin sehingga bahan kimia yang menguap
tidak teralirkan keluardari ruangan tempat bekerja dan mengakibatkan
terhirupnya bahan kimia tersebut.
Pekerja padas aat bekerja mengkonsumsi minuman, namun minuman tersebut
diletakkan dalam cangkir terbuka disebelah cat, mengakibatkan kemungkinan
terpaparnya minuman tersebut dengan bahan kimia sangat besar. Pekerja
tidak mengganti baju dan mencuci tangan sebelum makan dan minum
sehingga mengakibatkan paparan bahan kimia secara oral dapat masuk ke
dalam tubuh.

13

BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
4.2. Saran

14

DAFTAR PUSTAKA

Buraena, S. 2004. Program Kesehatan Lingkungan dalam: Pedoman Kesehatan


dan Keselamatan Kerja (K3) RSUP. Dr. Wahidin Sudirohusodo. Makassar:
RSUP. Dr. Wahidin Sudirohusodo. hlm:1-5.
Djatmiko RD. 2016. Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Yogyakarta: Penerbit
Deepublish.
International Labour Organization. 2009. Work improvement in small enterprises:
action manual.Ganewa: International Labour Office.
Kementrian Ketenagakerjaan RI. 1999. Keputusan Menteri Tenaga Kerja R.I.
No.Kep. 187/Men/1999 Tentang Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya di
Tempat Kerja.
Notoatmodjo, S. 2010. Promosi Kesehatan-Teori dan Aplikasi. Jakarta: Penerbit
Rineka Cipta.. 2007. Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku. Jakarta: Penerbit
Rineka Cipta.

15

LAMPIRAN

16

Tabel 1. Matriks Bahaya Potensial/Risiko Kecelakaan Kerja.


Jenis Industri: Konveksi

Kecelakaan

Proses

yang

Produksi

mungkin

1. Pembuatan Tersengat
Desain

Gangguan

Bahaya Potensial

Kesehatan

Jumlah

Alat/

Pekerja
Fisik
1

listrik

Yang Sudah Dilakukan

Biologi

Kimia

Radiasi

Ergonomi
Posisi meja

Psikologik
-

Lingkunga
- Kelelahan

cahaya dari

computer

pada mata

layar

kurang

- Nyeri pada

monitor

ergonomis

bahu dan

komputer

serta posisi

leher

Peratura
n

n Kerja
-

APD
-

duduk yang
2.

- Low Back

Pemotongan

Penggunaan

Debu

alat kerja

kendaraan

selalu berdiri

gunting dan

bermotor

6 jam

teriris atau

pemotong

dan

terpotong

kain

lingkunga

pengukuran - Stress

Suhu

n sekitar

dan

dengan

ruangan

pemotong

pemotongan

deadline

panas

an kain

kain yang

Pain

- Jari tangan

- Sakit kepala
Maag

1 orang

terlalu lama
- Posisi kerja - Sistem

- Cara

Sirkulasi

kurang

udara sediki

ergonomis

Kram atau

Penyediaan

Jam

kerja tidak

pegal

bermacam

istirahat

tentu dan

ekstremitas

alat potong

yang

sebagai

teratur

borongan -

cadangan

17
tpengap
Tidak
tersedia
3.

- Low Back

3-8 orang

kipas angin
Paparan

Penjahitan

Pain
- Kram pada

tergantu

getaran yang

saat

ng

terlalu lama

penjahitan

bahu dan
pantat
-

- Posisi tubuh

kebutuh

yang terlalu

an

lama dapat

Urothiliasis

beresiko
menyebabkan
terjadinya
low back
pain
- Frekuensi
kerja yang
terus
menerus
dapat
menyebabkan
terjadinya
kram pada
-

bahu
Posisi duduk
yang terlalu

18
lama dapat
menyebabkan
resiko
terjadinya
urothiliasis

4.
Penyablona
n

- Terhirup

terlalu

Cat

pewarna

sering dapat

Batuk,

Ventilasi

pusing

cukup baik

sablon

menyebab
kan
keracunan.
- Dermatitis
5.

kontak iritan
- Low back pain 3-5 orang

Penyetrikaa - Kram
n

tergantun

pergelangan

g shift

tangan

pekerja

- Resiko
kesetrum
- Varises akibat
berdiri terus
menerus

Terkena uap

Kurangny

panas
Kabel yang

a sirkulasi

menyetrika

menyebab

dapat

yang

kan udara

meningkatka

teratur

yang

n resiko

pengap

terjadinya

dan

low back

lembab

pain dan

sehingga

varises

putus dapat
menyebabka
n setruman
listrik
Udara yang
panas dan
ventilasi

- Posisi

Stress dan
jenuh

Jam
istirahat

19
yang kurang

bakteri

memadai

dapat

dapat

tumbuh

menerus

menyebabka

dengan

dapat

n gangguan

baik

menyebabkan

pernafasan

- Bekerja terus

kram pada
pergelangan
tangan

20

Foto Kegiatan Walkthrough Survey

Gambar 3. Kegiatan penyablonan konveksi nanda

Gambar 4. Tempat penyimpanan warna penyablonan

Gambar 5. Tempat pencampuran warna penyablonan

21

Gambar 6. Kegiatan menjahit Konveksi Nanda

Gambar 7. Mengedukasi dan memberikan APD

Gambar 8. Memberikan bingkisan tanda terima kasih.

22

Media Intervensi

23

Denah?