Anda di halaman 1dari 25

I.

PENDAHULUAN
A. Tujuan
1. Mengenal gejala defisiensi tanaman kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis) .
2. Mengenal

karakter berbagai macam

pupuk

komersial yaitu pupuk

EM14, hyponex biru, hyponex merah, gandasil D, gandasil B, KCl, SP36,


dan urea.

II. METODE
A. Tanda defisiensi/kekahatan tanaman
Larutan hara dibuat dengan cara larutan garam di campurkan dengan
pupuk. Larutan garam tersebut diambil dengan menggunakan propipet dan pipet
ukur kemudian dimasukkan

kedalam

erlenmeyer. Setelah

larutan garam

dimasukkan kedalam erlenmeyer, kemudian dicampurkan dengan pupuk sesuai


dengan perlakuan. Campuran larutan garam dan pupuk yang ada di erlemeyer
kemudian dimasukkan kedalam botol gelap lalu ditambahkan aquades hingga
250 ml dengan menggunakan propipet dan pipet ukur.
Tanaman kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) diukur tinggi nya
menggunakan penggaris, jumlah daun serta warna daun diamati,kemudian
tanaman kembang sepatu tersebut (Hibiscus rosa-sinensis) dimasukkan kedalam
botol gelap. Tanaman disanggah dengan kertas karton pada permukaan botol.
Pengamatan dilakukan selama 7 hari, yaitu pada hari ke-nol, 2, 4 , 5, dan 7. Setiap
kali pengamatan, tinggi tanaman, jumlah daun warna daun dan kondisi daun di
ukur dan diamati.
B. Aneka macam pupuk tanaman komersial
Sampel pupuk EM14, Hyponex biru, Hyponex merah, gandasil D,
gandasil B, pupuk KCl, pupuk SP36, dan pupuk urea yang tersedia diamati dan
dicatat

bau, warna, bentuk, kandungan

hara dan cara pemakaiannya. Hasil

tersebut dicatat dengan membuat tabel perbandingan.

III.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Tanda defisiensi/kekahatan tanaman


Tanda defisiensi/kekahatan tanaman dengan masing-masing perlakuan dapat
dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Tanda defisiensi atau kekahatan tanaman
Hari

Perlakuan

Tinggi

Jumlah

H. Lengkap
H. Tanpa P
H. Tanpa N

Tanaman(cm)
25,5
30,5
23

Daun
17
16
13

ke -

H. Tanpa K

29,2

14

Warna Daun

Kondisi

Hijau
Menguning
Hijau

Daun
Sedikit layu
Ada yang

Terdapat

rusak
-

bercak
H. Minimal

27

10

kuning
Agak

H. Maksimal
Pupuk Hyponex
H. Lengkap

26,5
29,6
25,5

14
14
17

menguning
Hijau
Menguning
Hijau

Segar
-

H. Tanpa P

31

16

kekuningan
Hijau

Beberapa

H. Tanpa N

23,5

11

Tepi daun

layu
-

mulai
2

H. Tanpa K

30,1

14

mengunging
Terdapat

bercak
H. Minimal
H. Maksimal
Pupuk Hyponex
4

H. Lengkap

27,8
26,5
34
25,7

10
14
14

kuning
Menguning
Hijau
Hijau

Segar
Sedikit layu

18

kekuningan
Hijau

Sedikit layu,

tumbuh
kuncup
H. Tanpa P
H. Tanpa N

31,2
23,5

17
11

Hijau
Hijau

bunga
Layu
Mulai layu

H. Tanpa K

30,5

14

Kekuningan
Hijau

Layu, ada

kekuningan

bekas

11

Ujung daun

terbakar
Segar

15
18

menguning
Hijau
Hijau

Segar
-

H. Minimal
H. Maksimal
Pupuk Hyponex

28
27
33

kekuningan,
dan ada
bercak
5

H. Lengkap

H. Tanpa P

25,7

31,2

17

16

kekuningan
Pangkal daun

Sedikit layu,

menghitam

tepi daun

Hijau

mengkerut
-

kekuningan,
pangkal daun
H. Tanpa N

23,7

11

menghitam
Hijau

Ada yang

kekuningan

layu, muncul
daun kecil

H. Tanpa K

30

14

Hijau
kekuningan,
bercak

dan tunas
Sedikit keras

H. Minimal

29

11

terbakar
Hijau bercak

Daun

H. Maksimal
Pupuk Hyponex

27,1
33,5

15
14

kuning
Hijau
Menguning,

mengkerut
Segar
Daun

pangkal daun

mengkerut

17

menghitam
Hijau bercak

Sedikit layu

16

kuning
Hijau

Layu

H. Lengkap
H. Tanpa P

25,7
31,2

kekuningan,
pangkal daun
H. Tanpa N

23,9

11

menghitam
Hijau

H. Tanpa K

30,9

14

kekuningan
Hijau bercak

Daun gugur
Layu

kuning
H. Minimal

H. Maksimal
Pupuk Hyponex

29

27,3
33,6

11

15
18

kehitaman
Hijau

Agak layu

kekuningan

dan daun

bercak hitam
Hijau
Hijau
kekuningan
dan bercak
hitam

mengkerut
Segar
Layu

Unsur hara merupakan unsur yang sangat dibutuhkan bagi tanaman baik
untuk pertumbuhan dan untuk perkembangan tanaman. Unsur hara memiliki fungsi
yang berbeda pada setiap tubuh tanaman yaitu termasuk ionik, peran enzimatik,
struktural dan juga pengaturan. Unsur hara dibagi menjadi 2 jenis yaitu unsur hara
essensial dan

non essensial yang semua tergantung penyerapan dari tanaman

terhadap kebutuhannya (Christin, 2009).

Unsur hara esensial merupakan unsur hara yang memiliki peran secara
langsung dalam proses metabolisme tumbuhan, fungsi dari unsur hara tersebut tidak
bisa digantikan dengan unsur hara lainnya, dan mempunyai fungsi yang khusus.
Tidak terpenuhinya salah satu unsur hara esensial atau lebih akan berakibat siklus
pertumbuhan tanaman tertentu tidak bisa berlangsung sehingga tanaman akan mati.
Selain unsur hara esensial juga dikenal unsur hara non esensial atau beneficial yakni
unsur hara yang mempunyai fungsi tertentu dan hanya bermanfaat bagi tanaman
tertentu dengan dosis tertentu pula. Contoh dari unsur beneficial adalah Si pada tebu,
Al pada jagung, Se dan lain sebagainya (Arifin, 2002).
Berdasarkan perbedaan konsentrasinya yang dianggap berkecukupan dalam
jaringan tumbuhan, maka unsur hara essensial dibedakan menjadi unsur makro dan
unsur mikro. Yang tergolong unsur makro adalah unsur essensial dengan konsentrasi
0,1 % (1000 ppm) atau lebih, sedangkan unsur dengan konsentrasi kurang dari 0,1 %
atau unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang sedikit namun esensial
bagi tanaman digolongkan sebagai unsur mikro. Berdasarkan batasan ini maka yang
tergolong unsur makro adalah C, H, O, N, P, K, Ca, Mg, dan S. Unsur-unsur Cl, Fe,
B, Mn, Cu, dan Mo tergolong unsur mikro (Lakitan, 2001).
Berdasarkan mobilitasnya sendiri, unsur hara pada tanaman dibagi atas
unsur mobil dan yang tak mobil (imobil). Unsur hara mobil sendiri ialah suatu
unsur hara yang dapat ditranslokasikan atau di pindah tempatkan dari jaringan tua
tanaman ke jaringan muda tanaman apabila pada jaringan mudanya mengalami
kekurangan hara (defisiensi hara) sehingga gejala defisiensinya sendiri dimulai
pada bagian (daun) yang tua karena unsur haranya telah di translokasikan ke yang
muda. Macam-macam unsur hara yang tergolong pada unsur hara Mobil yaitu N
(Nitrogen), P (Phospor), K (Potassium), dan Mg (Magnesium) (Puspitasari dkk,
2012).
Sebaliknya unsur hara yang tak mobil (imobil) ialah suatu unsur hara yang
tidak dapat ditranslokasikan atau di pindah tempatkan dari jaringan tua tanaman
ke jaringan muda tanaman sehingga gejala defisiensinya sendiri dimulai pada

bagian (daun) yang muda karena tidak terjadi translokasi unsur hara dari tua ke
muda seperta pada unsur hara mobil. Macam-macam unsur hara yang tergolong
pada unsur hara Imobil yaitu Ca (Calcium), S (Sulfur), Fe (Besi), Zn (Zink), Cu
(Tembaga), B (Boron),dan Mo (Molibdenum) (Puspitasari dkk, 2012).
Imobilitas unsur hara pada tanaman dicirikan dengan munculnya gejala
defisiensi dimana defisiensi unsur mobil selalu dimulai dari daun tua (bawah),
sedangkan imobil pada daun muda. Unsur mobil: N, K, Mg; unsur imobil: unsure
mikro B, Zn, Cu, Fe (Puspitasari dkk, 2012).
Apabila salah

satu

dari unsur tersebut tidak dipenuhi baik kekurangan

maupun kelebihan dapat menimbulkan permasalahan bagi tanaman. Permasalahan


ini dapat berupa gangguan fisiologis tanaman, gangguan ini dapat terlihat dari gejala
yang ditunjukkan oleh tanaman (Widyati, E., 2011). Defisiensi didefinisikan sebagai
kondisi dimana

tanaman kekurangan material berupa unsur hara yang

dibutuhkannya. Unsur yang dibutuhkan tanaman beda-berbeda tergantung jenis


tanamannya. Kebutuhan unsur hara ini berpengaruh terhadap metabolisme tanaman
dan fisiologis tanaman. Tanaman memerlukan unsur hara dengan porsi yang berbedabeda, kekurangan maupun kelebihan unsur hara menimbulkan permasalahan dalam
pertumbuhan tanaman, permasalahan ini dapat diketahui dengan gejala yang terlihat
atau nampak pada tanaman (Champbell, Reece dan Mitchell, 2007).
Menurut Harwati (2009), nitrogen merupakan unsur hara utama bagi
pertumbuhan tanaman yang pada umumnya sangat diperlukan untuk pembentukkan
atau pertumbuhan bagian-bagian vegetatif tanaman seperti daun, batang, dan akar.
Pemberian nitrogen terlalu banyak bagi tumbuhan akan menghasilkan buah yang
sedikit, karena nitrogen dapat melambatkan masaknya biji atau buah. Gejala
kekurangan nitrogen ditandai dengan warna daun berubah dari hijau muda menjadi
kuning sempurna. Jaringan daun mati dan mengering berwarna merah kecoklatan,
kemudian berguguran sebelum waktunya. Pembentukan buah tidak sempurna, kecil,
kekuningan, dan masak sebelum waktu nya.

Menurut Marschner (1986), fosfor terdapat dalam bentuk phitin, nuklein, dan
fosfatide yang merupakan bagian dari protoplasma dan inti sel. Fosfor (P) termasuk
unsur hara makro yang dibutuhkan oleh tumbuhan. Jika kekurangan unsur fosfor
maka pertumbuhan tanaman akan terhambat, daun menjadi tipis kecil dan pucat,
buah akan rontok sebelum waktunya, terdapat bercak hitam pada ujung dan tepi
daun. Pemberian

pupuk fosfat tidak seluruhnya tersedia untuk tanaman, karena

terikat pada partikel tanah, agar tanaman dapat memperoleh fosfat yang sesuai
kebutuhan, maka pemberian fosfat harus melampaui daya fiksasi tanah.
Kalium sangat penting dalam proses metabolisme tanaman, kalium juga
penting di dalam proses fotosintesis. Bila kalium kurang pada daun, maka kecepatan
asimilasi karbondioksida akan menurun. Gejala kekurangan kalium ditandai dengan
mengerutnya daun terutama daun tua meski tidak merata, tepi daun dan ujung daun
menguning yang kemudian menjadi bercak coklat. Bercak daun ini akhirnya gugur,
sehingga daun tampak bergerigi dan akhirnya mati (Harwati, 2009).
Kadar unsur hara pada pupuk daun terbatas sehingga penggunaannya lebih
sering dibanding pupuk akar. Pupuk daun kini banyak beredar di pasaran dan
diantaranya seperti pupuk daun Hyponex. Hyponex merupakan jenis pupuk daun
komersial, pupuk ini berbentuk kristal, mudah larut dalam air dan mengandung
unsur makro yaitu N, P, dan K. Hyponex terdiri dari tiga jenis yaitu Hyponex hijau,
pupuk anorganik makro berbentuk kristal untuk pertumbuhan vegetatif dengan
perbandingan

N-PK

seimbang, Hyponex

merah, pupuk

anorganik

makro

berbentuk Kristal untuk perkembangan vegetatif memiliki kandungan N dan K


besar sedangan P kecil, dan Hyponex biru pupuk anorganik dengan kandungan
Phosfor tinggi berbentuk kristal berfungsi untuk pertumbuhan generative (Evita,
2009).
Gejala kahat hara yang timbul disebabkan karena kebutuhan hara tidak
terpenuhi. Tanaman yang kekurangan unsur hara, maka gejala defisiensi yang spesifik
akan muncul. Ketika sebuah tanaman mengalami kahat nitrogen, maka diseluruh

permukaan daun berwarna hijau kekuningan. Gejala Nampak pada daun bagian
bawah karena N sifatnya mobile dalam tanaman. Daun tua akan mati dan tanaman
akan

tumbuh

kerdil, pembungaan

terhambat dan akar

akan tumbuh dengan

terbatas.kahat fosfor umumnya sudah tampak waktu tanaman masih muda, daun akan
berwarna ungu merah. Kahat P juga akan menyebabkan pemasakan biji menjadi
lambat dan produksi rendah.
Pada percobaan unsur hara tanaman, medium percobaan yang digunakan
terdiri dari 7 macam yaitu hara

lengkap, tanpa P, tanpa N, tanpa K, medium

minimal, medium maksimal, dan Hyponex merah. Medium hara lengkap dibuat
dengan mencampurkan

6 ml Ca(NO) 3, 6 ml KNO3, 6 ml larutan MgSO4, 6 ml

larutan KH2(PO)4 dan 0,2 ml larutan FeCl3. Medium tanpa P dibuat dengan
mencampurkan 6 ml larutan Ca(NO)3, 6 ml larutan KNO3, 6 ml larutan NaNO3, 6
ml larutan KH2(PO)4, dan 0,2 ml larutan FeCl3. Medium tanpa N dibuat dengan
mencampurkan 6 ml larutan CaSO4, 6 ml larutan MgSO4, 6 ml larutan KH2(PO)4,
dan 0,2 ml larutan FeCl3. Medium tanpa K dibuat dengan mencampurkan 6 ml larutan
Ca(NO)3, 6 ml larutan NaNO3, 6 ml larutan MgSO4, 6 ml larutan NaH2(PO)4, dan
0,2 ml larutan FeCl3. Medium minimal dibuat dengan mencampurkan 6 ml larutan
CaSO4, 6 ml larutan MgSO4, dan 0,2 ml larutan FeCl3. Medium maksimal dibuat
dengan mencampurkan 12 ml larutan Ca(NO)3, 11,5 ml larutan KNO3, 12 ml larutan
MgSO4, 12 ml larutan KH2(PO)4, dan 0,5 ml larutan FeCl3.
Ketujuh medium ini digunakan untuk membandingkan pertumbuhan dan
gejala kahat yang terlihat pada setiap tumbuhan. Tumbuhan yang digunakan dalam
percobaan ini adalah kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis). Pada medium hara
lengkap, pada hari ke-7 tinggi tanaman tidak bertambah alias tetap yaitu 27,5 cm, dan
kondisi tanaman menjadi sedikit layu. Gejala kekahatan terlihat dengan adanya
perubahan warna yang awalnya hijau, semakin lama menjadi hijau bercak kuning.
Hal ini tidak sesuai dengan teori yang seharusnya pada medium hara lengkap
dimana semua kebutuhan unsur hara terpenuhi untuk tanaman membuat tanaman
tetap segar dan tetap bertambah tinggi.

Gambar 1. Kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) pada medium hara lengkap


(Dokumentasi pribadi, 2016).
Pada medium tanpa P, pada hari ke-7, tinggi tanaman tidak mengalami
pertambahan, yaitu tetap 31,2 cm. Gejala defisiensi juga terlihat pada perlakuan ini,
dimana tanaman

menjadi layu dan warna daunnya menjadi hijau kekuningan

dengan pangkal daun menghitam. Hal ini sesuai dengan teori Marschner (1986),
yang menyatakan bahwa salah satu ciri tanaman kekurangan P adalah terdapat
bercak hitam pada ujung dan tepi daun.

Gambar 2. Kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) pada medium hara tanpa P


(Dokumentasi pribadi, 2016).

Pada medium tanpa N, pada hari ke-7, tinggi tanaman mengalami


pertambahan, yaitu menjadi 23,9 cm. Gejala defisiensi juga terlihat pada perlakuan
ini, dimana daun dari tanaman ini berguguran dan warna daunnya menjadi hijau
kekuningan . Hal ini sesuai dengan teori Harwati (2009), yang menyatakan bahwa
salah satu ciri tanaman kekurangan N adalah warna daun yang awalnya hijau
akan berubab menjadi kekuningan, jaringan daun mati dan mengering berwarna
merah kecoklatan, kemudian berguguran sebelum waktunya.

Gambar 3. Kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) pada medium hara tanpa N


(Dokumentasi pribadi, 2016).
Pada medium tanpa K, pada hari ke-7, tinggi tanaman mengalami
pertambahan, yaitu menjadi 30,9 cm. Gejala defisiensi juga terlihat pada perlakuan
ini, dimana tanaman ini menjadi layu dan warna daunnya menjadi hijau bercak
kuning kehitaman. Hal ini sesuai dengan teori Harwati (2009), yang menyatakan
bahwa salah satu ciri tanaman kekurangan K adalah mengerutnya daun terutama
daun tua meski tidak merata, kemudian tepi daun dan ujung daun menguning yang
kemudian menjadi bercak coklat. Bercak daun ini akhirnya gugur, sehingga daun
tampak bergerigi dan akhirnya mati.

Gambar 4. Kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) pada medium hara tanpa K


(Dokumentasi pribadi, 2016).
Pada medium dengan hara minimal, pada hari ke-7, tinggi tanaman tidak
mengalami pertambahan lagi, yaitu tetap 29 cm. Gejala defisiensi juga terlihat pada
perlakuan ini, dimana

daun

tanaman

ini menjadi

agak layu dan

daunnya

mengkerut, warna daun menjadi hijau kuning ada bercak hitam. Hal ini terjadi
karena nutrisi pada medium yang diberikan terbatas sehingga daun menunjukkan
gejala kekahatan.

Gambar 5. Kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) pada medium hara minimal


(Dokumentasi pribadi, 2016).

Pada medium dengan hara maksimal,

pada hari ke-7, tinggi tanaman

mengalami pertambahan , yaitu menjadi 27,3 cm. Gejala defisiensi tidak terlihat
pada tanaman ini. Kondisi tanaman tetap segar dan warna daunnya tetap hijau. Hal
ini terjadi karena tanaman didukung oleh medium yang unsur hara nya lengkap
dan tercukupi.

Gambar 6. Kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) pada medium hara maksimal


(Dokumentasi pribadi, 2016).
Pada medium dengan Hyponex merah,

pada hari ke-7, tinggi tanaman

mengalami pertambahan , yaitu menjadi 33,6 cm. Gejala defisiensi terlihat pada
perlakuan ini, dimana tanaman menjadi layu dan pada ujung serta tepi daun warna
daunnya berubah menjadi menguning dan ada bercak hitam pada ujungnya. Hal ini
menurut Evita (2009) dikarenakan hyponex merah memiliki kandungan N dan K
besar sedangan P kecil. Kekurangan P, menurut teori Marschner (1986) salah satu
cirinya adalah terdapat bercak hitam pada ujung dan tepi daun. Dan hal ini sesuai
teori karena pada tanaman memiliki ciri yang sama dengan ciri-ciri tanaman yang
kekurangan P.

Gambar 7. Kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) pada medium Hyponex merah


(Dokumentasi pribadi, 2016).
B. Aneka Macam Pupuk Tanaman Komersial
Pupuk komersial adalah suatu bahan yang mengandung satu atau lebih
hara tanaman yang umumnya diperjual belikan dipasaran, baik yang organic
maupun anorganik. Contoh dari pupuk komersial adalah gandasil, TSP, KCl,
NPK, Hyponex merah, Hyponex biru, dan masih banyak lagi (Lingga dan
Marsono, 2008). Terdapat pupuk organik dan anorganik yang masing-masing
memiliki kelebihan dan kekurangan.
Menurut Reijntjes dkk (1999), kelebihan penggunaan pupuk organik yaitu,
sebagai berikut:
1. Pupuk organic mengandung unsur hara yang lengkap, baik unsur hara makro
maupun unsur hara mikro. Kondisi ini tidak dimiliki oleh pupuk buatan
(anorganik).
2. Pupuk organic mengandung asam-asam organik, antara lain asam humic,
asam fulfic, hormone dan enzim yang tidak terdapat pada pupuk buatan.
3. Pupuk organik mengandung makro dan mikro organisme tanah yang
mempunyai pengaruh yang sangat baik terhadap perbaikan sifat fisik tanah
dan terutama sifat biologis tanah.
4. Memperbaiki dan menjaga struktur tanah.

5. Menjadi penyangga pH dan unsur hara anorganik yang diberikan.


6. Membantu menjaga kelembaban tanah.
7. Aman dipakai dalam jumlah besar dan berlebihan sekalipun serta tidak
merusak lingkungan.
Sedangkan kekurangan dari pupuk organic adalah:
1. Kandungan unsur hara jumlahnya kecil, sehingga jumlah pupuk yang
diberikan harus relatif lebih banyak bila dibandingkan dengan pupuk
anorganik.
2. Karena jumlahnya banyak, menyebabkan memerlukan tambahan biaya
operasional untuk pengangkutan dan implementasi.
Menurut Reijntjes dkk (1999), kelebihan dari pupuk anorganik yaitu hasil
cepat

terlihat

pada

tanaman,

kandungan

unsur

hara

jelas,

mudah

pengaplikasiannya, tidak bau serta pengangkutannya mudah. Sedangkan


kekurangan dari pupuk anorganik yaitu mengakibatkan residu pada tanah,
penggunaan tidak bijaksana dapat merusak tanah, harga mahal dan bersifat
higroskopis.
Pada pengamatan yang telah dilakukan , digunakan 8 macam

pupuk

antara lain pupuk EM4, Hyponex biru, Hyponex merah, gandasil D, gandasil B,
KCl, SP36, dan pupuk urea. Pupuk EM4 merupakan pupuk organik, memiliki
bau yang menyengat (++), berbentuk cair, dan berwarna coklat. Pupuk EM4 ini
mempunyai kandungan unsur, yaitu C-organik: 1,88%, N: 0,68%, P 2O5: 136,78
ppm, K2O: 8403,70 ppm, Al: <0,01 ppm, Ca: 3062,29 ppm, Cu: 1,14 ppm, Fe:
129,38 ppm, Mn: 4,00 ppm, Mg: 401,58 ppm, Na: 145,58 ppm, Ni: <0,05 ppm,
Zn: 1,39 ppm, B: <0,00002 ppm, Cl: 2429,54 ppm, pH: 3,73. Cara pemakaian
pupuk ini yaitu dengan pembuatan pupuk organik Bokashi padat lalu campurkan
bahan-bahan organik secara merata, setelah itu siramkan larutan EM4 yang telah
dicampur dengan gula/molase dan air (1:1:50). Buat adonan dengan kadar air 3040%, selanjutnya fermentasi selama 1 minggu dalam keadaan tertutup. Sebelum
digunakan,diangin- anginkan terlebih dahulu. Dapat digunakan sebagai pupuk
dasar. Pengaruh pemberian pupuk EM4 terhadap tanaman adalah memperbaiki
sifat fisik kimia dan biologi tanah, meningkatkan produksi tanaman, menjaga

kestabilan produksi, dan menyediakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman


serta menyehatkan tanaman.

Gambar 1. Pupuk Organik EM4 (Dokumentasi pribadi, 2016).


Pupuk Hyponex biru merupakan pupuk kimia, memiliki bau tetapi tidak
menyengat (+), berbentuk kristal, dan berwarna biru pekat. Pupuk Hyponex biru
ini mempunyai kandungan unsur, yaitu B, Ca, Cu, Co, Fe, Mg, Mn, Mo, S, Zn,
N:10%. Cara pemakaian pupuk ini yaitu dengan melarutkan 1 g hyponex dalam
1 liter air hangat. Dalam pemakaian pupuk ini diberikan setiap minggu selama
periode pertumbuhan maksimum perkuncupan dan pembungaan. Lalu diberikan
setiap 4 minggu sekali selama pertumbuhan lambat tanpa periode pembunggaan.
Pengaruh pemberian pupuk Hyponex biru pada tanaman adalah membantu
pertumbuhan generatif.

Gambar 2. Pupuk Kimia Hyponex Biru (Dokumentasi pribadi, 2016).


Pupuk Hyponex merah

merupakan pupuk kimia, memiliki bau tetapi

tidak menyengat (+), berbentuk kristal (higroskopis), dan berwarna biru bening.
Pupuk Hyponex merah ini mempunyai kandungan unsur, yaitu B, Ca, Cu, Co,
Fe, Mg, Mn, Mo, S, Zn, N:25%. Cara pemakaian pupuk ini yaitu dengan
melarutkan 1 g hyponex dalam 1 liter air hangat. Dalam pemakaian pupuk ini
diberikan setiap minggu selama periode pertumbuhan maksimum perkuncupan
dan pembungaan. Lalu diberikan setiap 4 minggu sekali selama pertumbuhan
lambat tanpa periode pembunggaan. Pengaruh pemberian pupuk Hyponex biru
pada tanaman adalah membantu pertumbuhan vegetatif.

Gambar 3. Pupuk Kimia Hyponex Merah (Dokumentasi pribadi, 2016).


Pupuk gandasil D merupakan pupuk kimia, memiliki bau tetapi tidak
menyengat (+),

berbentuk bubuk lembut, dan berwarna hijau muda. Pupuk

gandasil D mempunyai kandungan unsur, yaitu N: 20%, P: 15%, K: 15%, Mg:


1%, Mn, B, Cu, Ca, Zn, vitamin. Cara pemakaian pupuk ini yaitu pupuk diberikan
segera setelah tanaman mulai membentuk kuncup bunga , sebanyak 10-30 g per
10 liter air setiap 8-10 hari sekali (tergantung keadaan setempat). Selain itu,
pupuk ini juga dapat dicampurkan dengan berbagai jenis pestisida, kecuali yang
bersifat alkalis. Pengaruh pemberian pupuk gandasil D terhadap tanaman adalah

membantu merangsang dan mempercepat pertumbuhan akar dan daun serta


memberi gizi pada tanaman.

Gambar 4. Pupuk Kimia Gandasil D (Dokumentasi pribadi, 2016).


Pupuk gandasil B

merupakan pupuk kimia, tidak memiliki bau (-),

berbentuk bubuk lembut, dan berwarna merah muda. Pupuk gandasil B


mempunyai kandungan unsur, yaitu N:6%, P: 20%, K: 30%, Mg:1%, Mn, B, Cu,
Co, Zn, vitamin. Cara pemakaian pupuk ini yaitu pupuk diberikan segera setelah
tanaman mulai membentuk kuncup bunga , sebanyak 10-30 g per 10 liter air
setiap 8-10 hari sekali (tergantung keadaan setempat). Selain itu, pupuk ini juga
dapat dicampurkan dengan berbagai jenis pestisida, kecuali yang bersifat alkalis.
Pengaruh pemberian pupuk gandasil B yaitu menunjang pembentukkan tunas
bunga.

Gambar 5. Pupuk Kimia Gandasil B (Dokumentasi pribadi, 2016).

Pupuk KCl merupakan pupuk kimia, tidak memiliki bau (-), berbentuk
kristal, dan berwarna merah bata. Pupuk KCl mempunyai kandungan unsur, yaitu
Kadar K2O: 60%, (Mg, Ca, Mn, Fe, Ni, Cu, Zn, Mo). Cara pemakaian pupuk ini
yaitu pupuk diberikan dialur dengan jarak 2,5 cm disamping biji/bibit dan
kedalaman 25 cm dibawah biji/bibit. Cara lain adalah diberikan sebelum
penanaman namun cara ini kurang efisien. Dalam penggunaan pupuk KCl tidak
boleh terlalu banyak karena dapat berbahaya bagi tanaman (tergantung jenis tanah
dan tanaman). Pengaruh pemberian pupuk KCl terhadap tanaman adalah
membantu pembentukkan protein dan karbohidrat serta berperan memperkuat
tubuh tanaman agar daun, bunga, dan buah tidak mudah gugur.

Gambar 6. Pupuk Kimia KCl (Dokumentasi pribadi, 2016).


Pupuk SP36 merupakan pupuk kimia, memiliki bau yang menyengat (+
+), berbentuk granula (butiran), dan berwarna abu-abu. Pupuk SP36 mempunyai
kandungan unsur, yaitu P2O5: min 36%, P2O5 laryt asam sitrat: 34%, P2O5 larut
dalam air: min 30%, air: max 5%, asam bebas sebagai H 3PO4 max 6%. Cara
pemakaian pupuk ini yaitu untuk tanaman semusim digunakan sebagai pupuk
dasar. Untuk tanaman tahunan diberikan awal atau akhir musim hujan atau segera
setelah panen. Pengaruh pemberian pupuk SP36

terhadap tanaman adalah

merangsang pertumbuhan akar, khususnya akar benih dan tanaman muda. Selain
itu, juga dapat mempercepat pembentukkan bunga, pematangan biji dan buah.

Gambar 7. Pupuk Kimia SP36 (Dokumentasi pribadi, 2016).


Pupuk urea merupakan pupuk kimia, tidak memiliki bau (-), berbentuk
kristal, dan berwarna merah muda bening. Pupuk urea mempunyai kandungan
unsur, yaitu N: 46%, moisture: 0,5%, kadar biuret: 1%. Cara pemakaian pupuk
ini yaitu dapat ditebar langsung ke tanah atau dilarutkan terlebih dahulu dengan
air. Pengaruh pemberian pupuk urea terhadap tanaman adalah membuat daun
menjadi lebih hijau, rimbun, dan segar, serta mempercepat pertumbuhan tanaman
juga menambah kandungan protein dalam tanaman.

Gambar 8. Pupuk Kimia Urea (Dokumentasi pribadi, 2016).

IV.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan dari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:
1. Pada medium hara lengkap, terdapat gejala defisiensi yaitu tanaman agak
layu dan warna daun menjadi hijau bercak kuning. Pada medium tanpa P,
tanaman mengalami gejala defisiensi yaitu layu dan warna daun menjadi
hijau kekuningan serta pangkal daun menghitam. Pada medium tanpa N,
tanaman mengalami gejala defisiensi yaitu daun berguguran dan warna daun
menjadi hijau kekuningan. Pada medium tanpa K, tanaman mengalami
gejala defisiensi yaitu layu dan warna daun

hijau ada bercak kuning

kehitaman. Pada hara minimal, tanaman mengalami

gejala defisiensi yaitu

agak layu dan daun mengkerut, serta warna daun menjadi hijau kekuningan
ada bercak hitam. Pada medium hara maksimal, tanaman tidak mengalami
gejala defisiensi, daun tetap segar dan warnanya hijau. Pada medium Hyponex

merah, tanaman mengalami gejala defisiensi yaitu layu dan warna daun
menjadi hijau kekuningan serta pada pangkal dan tepi daun terdapat bercak
kehitaman.
2. Pupuk EM14 merupakan pupuk organik, memiliki bau yang menyengat (+
+),

berbentuk cair, dan berwarna coklat. Kegunaan pupuk EM4 adalah

memperbaiki sifat fisik kimia dan biologi tanah, meningkatkan produksi


tanaman, menjaga kestabilan produksi, dan menyediakan unsur hara yang
dibutuhkan

tanaman serta menyehatkan

merupakan

pupuk

tanaman. Pupuk Hyponex biru

kimia, memiliki bau tetapi tidak menyengat (+),

berbentuk kristal, dan berwarna biru pekat. Pupuk Hyponex biru mempunyai
kandungan unsur, yaitu B, Ca, Cu, Co, Fe, Mg, Mn, Mo, S, Zn, N:10%.
Kegunaan

pupuk Hyponex biru adalah adalah membantu pertumbuhan

generatif. Pupuk Hyponex merah merupakan pupuk kimia, memiliki bau


tetapi tidak menyengat (+), berbentuk kristal, dan berwarna biru bening.
Pupuk Hyponex merah mempunyai kandungan unsur, yaitu B, Ca, Cu, Co,
Fe, Mg, Mn, Mo, S, Zn, N:25%. Kegunaan pupuk Hyponex merah adalah
adalah membantu pertumbuhan vegetatif. Pupuk gandasil D

merupakan

pupuk kimia, memiliki bau tetapi tidak menyengat (+), berbentuk bubuk
lembut, dan berwarna hijau muda. Pupuk gandasil D mempunyai kandungan
unsur, yaitu N: 20%, P: 15%, K: 15%, Mg: 1%, Mn, B, Cu, Ca, Zn, vitamin.
Kegunaan pupuk gandasil D yaitu membantu merangsang dan mempercepat
pertumbuhan akar dan daun serta memberi gizi pada tanaman. Pupuk gandasil
B merupakan pupuk kimia, tidak memiliki bau (-), berbentuk bubuk lembut,
dan berwarna merah muda. Pupuk gandasil B mempunyai kandungan unsur,
yaitu N:6%, P: 20%, K: 30%, Mg:1%, Mn, B, Cu, Co, Zn, vitamin. Kegunaan
pupuk ini adalah menunjang pembentukkan tunas bunga. Pupuk KCl
merupakan pupuk kimia, tidak memiliki bau (-),

berbentuk kristal, dan

berwarna merah bata. Pupuk KCl mempunyai kandungan unsur, yaitu Kadar
K2O: 60%, (Mg, Ca, Mn, Fe, Ni, Cu, Zn, Mo). Kegunaan pupuk ini adalah

membantu

pembentukkan

protein dan

karbohidrat serta berperan

memperkuat tubuh tanaman agar daun, bunga, dan buah tidak mudah gugur.
Pupuk SP36 merupakan pupuk kimia, memiliki bau yang menyengat (++),
berbentuk granula (butiran), dan berwarna abu-abu. Pupuk SP36 mempunyai
kandungan unsur, yaitu P2O5: min 36%, P2O5 laryt asam sitrat: 34%, P2O5 larut
dalam air: min 30%, air: max 5%, asam bebas sebagai H 3PO4 max 6%.
Kegunaan pupuk ini adalah merangsang pertumbuhan akar, khususnya akar
benih dan tanaman muda. Selain itu, juga dapat mempercepat pembentukkan
bunga, pematangan biji dan buah. Pupuk urea merupakan pupuk kimia, tidak
memiliki bau

(-),

berbentuk kristal, dan berwarna merah muda bening.

Pupuk urea mempunyai kandungan unsur, yaitu N: 46%, moisture: 0,5%,


kadar biuret: 1%. Kegunaan dari pupuk ini adalah membuat daun menjadi
lebih hijau, rimbun, dan segar, serta mempercepat pertumbuhan tanaman juga
menambah kandungan protein dalam tanaman.
B. Saran
Berdasarkan percobaan dan data pengamatan yang dihasilkan, saran yang
akan diberikan adalah sebaiknya hari pengamatan ditambah, tidak hanya 7 hari
saja, karena gejala defisiensi nya belum terlalu terlihat.

DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Z. 2002. Bio-Teknologi Pupuk Organik. Universitas Muhamadiyah Press,
Sidoarjo.
Champbell, Reece dan Mitchell. 2007. Biologi. PT. Gelora Aksara Pratama, Jakarta.
Christin, H. 2009. Influence Of Iron, Potassium, Magnesium, and Nitrogen
Deficiencies On The Growth And Development Of Sorghum (Sorghum
Bicolor L.) and Sunflower (Helianthus Annuus L.) Seedling. Journal Of
Biotech Research (1): 64-71.
Evita. 2009. Pengaruh Berbagai Konsentrasi Pupuk Organik Cair Terhadap
Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Kacang Buncis (Phaseolus vulgaris,
L). Agronomi, 13(1):21-24.
Harwati, T. 2009. Fisiologi Tumbuhan. Gramedia Pustaka, Jakarta.
Lakitan, B. 2001. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Lingga, P. dan Marsono. 2008. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya,


Bogor.
Marschner, H. 1986. Mineral Nutrition in Higher Plants. Academic Press Inc,
London.
Puspitasari, D., Purwani, K.I. dan Muhibuddin, A. 2012. Eksplorasi Vesicular
Arbuscular Mycorrhiza (VAM) Indigenous pada Lahan Jagung di Desa
Torjun, Sampang Madura. Sains dan Seni ITS, 1(2): 19-22.
Reijntjes, C. Haverkort, B. dan Ann, W. B. 1999. Pertanian Masa Depan. Kanisius,
Yogyakarta.
Widyati, E. 2011. Optimasi Pertumbuhan Cunn. Ex Benth. Padatana Bekas Tambang
Batubara Dengan Ameliorasi Tanah Acacia crassicarpa. Penelitian Hutan
Tanaman, 8(1):24-62.