Anda di halaman 1dari 7

AttanwirJurnal Kajian Keislaman dan Pendidikan

Volume 01, Nomor 01, April 2012


Hlm. 1320

PRINSIP-PRINSIP DASAR EKONOMI ISLAM


Sukardi
Dosen STAI Attanwir Bojonegoro

Abstrak :Agar manusia bisa menuju falah, perilaku manusia perlu diwarnai
dengan spirit dan norma ekonomi Islam, yang tercermin dalam nilai-nilai
ekonomi Islam.
Keberadaan prinsip dan nilai ekonomi Islam merupakan dua hal yang tidak
dapat dipisahkan. Implementasi prinsip ekonomi tanpa diwarnai oleh nilai
ataupun nilai tanpa prinsip dapat menjauhkan manusia dari tujuan hidupnya,
yaitu falah. Implementasi nilai tanpa didasarkan pada prinsip akan cenderung
membawa kepada ekonomi normatif belaka, yang akan menyebabkan
perekonomian yang bersangkutan terjerumus ke dalam ketidakadilan.
sementara penerapan nilai tanpa prinsip akan Bangunan ekonomi Islam
didasarkan atas lima nilai universal, yakni tauhid (keimanan), adl (keadilan),
nubuwwah (kenabian), khilafah (pemerintah), dan maad (hasil). Kelima dasar
inilah yang dijadikan dasar untuk membangun teori-teori ekonomi Islam.
Namun teori yang kuat dan baik tanpa diterapkan menjadi sistem, akan
menjadikan ekonomi Islam hanya sebagai kajian ilmu saja tanpa memberi
dampak pada kehidupan ekonomi. Karena itu, dari kelima nilai-nilai universal
tersebut, dibangunlah tiga prinsip derivatif yang menjadi ciri-ciri dan cikal
bakal sistem ekonomi Islam.membuat rusaknya tatanan ekonomi dan
menjauhkan dari tujuan ekonomi itu sendiri.
Sistem ekonomi Islami hanya memastikan bahwa tidak ada transaksi ekonomi
yang bertentangan dengan syariah. Tetapi kinerja bisnis tergantung pada man
behind the gun-nya.
Karena itu, pelaku ekonomi dalam kerangka ini bisa saja dipegang oleh non
muslim. Perekonomian Islam baru dapat maju apabila pola pikir dan perilaku
muslim sudah itqa>n (tekun) dan ihsan (profesional). Ini mungkin salah satu
rahasia sabda nabi yang artinya sesungguhnya aku diutus untuk
menyempurnakan akhlak. Karena akhlak menjadi indikator baik-buruknya
perilaku bisnis para pengusaha menentukan sukses-gagalnya bisnis yang
dijalankannya.
KataKunci: Prinsip dan nilai, ekonomi Islam

Pendahuluan

14

Sukardi

Islam yang diwahyukan kepada nabi Muhammad SAW adalah mata rantai terakhir
agama Allah yang diwahyukan kepada semua rasulNya. Sebagai mata rantai terakhir,
Islam yang diwahyukan kepada nabi terakhir itu merupakan agama Allah yang telah
disempurnakan dan ditujukan kepada seluruh umat manusia sepanjang zaman, hingga
datangnya hari qiyamat nanti.
Sebagai agama Allah yang telah disempurnakan, Islam memberikan pedoman
dalam seluruh aspek kehidupan manusia, spiritual-materiil, individual-sosial, jasmanirohani dan dunia-ukhrawi.Bidang ekonomi juga diperoleh pedoman-pedomannya dalam
Islam, pada umumnya dalam bentuk garis besar, guna memberi peluang perkembanganperkembangan kehidupan ekonomi di kemudian hari.
Islam mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk Allah yang disiapkan untuk
mampu mengemban amanatNya, memakmurkan kehidupan di bumi dan diberi
kedudukan terhormat sebagai wakilNya (khalifah) di bumi dengan tetap
memperhatikan beberapa koridor (asas, prinsip) yang telah ditetapkan dalam Al-Quran
dan hadith.
Prinsip merupakan suatu mekanisme atau elemen pokok yang menjadi struktur
atau kelengkapan suatu kegiatan atau keadaan.Sedangkan prinsip ekonomi dalam Islam
merupakan kaidah-kaidah pokok yang membangun struktur atau kerangka ekonomi
Islam yang digali dari Al-Quran dan hadith.Prinsip ekonomi ini berfungsi sebagai
pedoman dasar bagi setiap individu dalam berperilaku ekonomi. Namun, agar manusia
bisa menuju falah, perilaku manusia perlu diwarnai dengan spirit dan norma ekonomi
Islam, yang tercermin dalam nilai-nilai ekonomi Islam.
Keberadaan prinsip dan nilai ekonomi Islam merupakan dua hal yang tidak dapat
dipisahkan.Implementasi prinsip ekonomi tanpa diwarnai oleh nilai ataupun nilai tanpa
prinsip dapat menjauhkan manusia dari tujuan hidupnya, yaitu falah. Implementasi nilai
tanpa didasarkan pada prinsip akan cenderung membawa kepada ekonomi normatif
belaka, yang akan menyebabkan perekonomian yang bersangkutan terjerumus ke dalam
ketidakadilan. sementara penerapan nilai tanpa prinsip akan membuat rusaknya
tatanan ekonomi dan menjauhkan dari tujuan ekonomi itu sendiri.
Analisis dan Pembahasan
Prinsip Ekonomi dalam Islam
Bangunan ekonomi Islam didasarkan atas lima nilai universal, yakni tauhid
(keimanan), adl (keadilan), nubuwwah (kenabian), khilafah (pemerintah), dan maad
(hasil). Kelima dasar inilah yang dijadikan dasar untuk membangun teori-teori ekonomi
Islam. Namun teori yang kuat dan baik tanpa diterapkan menjadi sistem, akan
menjadikan ekonomi Islam hanya sebagai kajian ilmu saja tanpa memberi dampak pada
kehidupan ekonomi. Karena itu, dari kelima nilai-nilai universal tersebut, dibangunlah
tiga prinsip derivatif yang menjadi ciri-ciri dan cikal bakal sistem ekonomi Islam.1Ketiga
prinsip derivatif itu adalah multitypeownership, freedomtoact, dan socialjustice.
Semua teori ekonomi Islam dan prinsip-prinsip sistem ekonomi Islam tersebut
tidak lain hanyalah untuk mencapai tujuan Islam dan dakwah para nabi, yaitu akhlak.
1Ali

Abd al-Rasul, al-Mabadi al-Iqtishadiyyah fi al-Islam, (Mesir: Dar al-Fikr al-Arabi,


1980), 61-78.
Attanwir, Vol. 1, No. 1,April 2012
ISSN: 2252-5238

Prinsip-prinsip Dasar Ekonomi Islam

15

Akhlak inilah yang menjadi panduan para pelaku ekonomi ekonomi dan bisnis dalam
melakukan aktivitasnya.
MultitypeOwnership (kepemilikan multijenis)
Nilai tauhid dan nilai keadilan melahirkan konsep MultitypeOwnership. Dalam
sistem kapitalis, prinsip umum kepemilikan yang berlaku adalah kepemilikan swasta;
dalam sistem sosial, kepemilikan negara; sedangkan dalam Islam, berlaku kepemilikan
multijenis, yakni mengakui bermacam-macam bentuk kepemilikan, baik oleh swasta,
negara maupun campuran.
Prinsip ini adalah terjemahan dari nilai tauhid: pemilik primer langit, bumi dan
seisinya dalah Allah, sedangkan manusia diberi amanah untuk mengelolanya. Jadi,
manusia dianggap sebagai pemilik sekunder.2Hal ini terangkum dalam QS.Al-Najm; 31:




" !
. $ !
%
$!
#

Artinya: Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada
di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat
jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan
kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik
(syurga).
Sumber daya menyangkut kepentingan umum atau yang menjadi hajat hidup
orang banyak harus menjadi milik umum.Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam
QS.Al-Baqarah; 284, dan QS.Al-Ma>idah; 17:

( ) *
+ ,- !
) . / 0 + .
'

" !
.8 /
; >=
?
6 2
. 4

6 7 4
8 ) 9 .2
" ,- 0 %

Artinya: Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di
bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau
kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan
dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa
yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan
Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah, 284).

.8 / ; >=
?
6 2 . 4 C
*
. A $
'

! B
"
Artinya: Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara
keduanya. Dia menciptakan apa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha
Kuasa atas segala sesuatu.(QS. Al-Ma>idah, 17).
2Muhammad,

Ekonomi Mikro dalam Perspektif Islam, (Yogyakarta: BPFE Yogyakarta,

2004), 111.
Attanwir, Vol. 1, No. 1,April 2012
ISSN: 2252-5238

16

Sukardi

Dengan demikian, konsep kepemilikan swasta diakui.Namun untuk menjamin


keadilan, yakni supaya tidak ada proses pendzaliman segolongan orang terhadap
segolongan yang lain, maka cabang-cabang produksi yang penting dan yang berkaitan
dengan hajat hidup orang banyak dikuasai negara. Dengan demikian, kepemilikan
negara dan nasionalisasi juga diakui.Sistem kepemilikan campuran.
Sedangkan untuk dapat melaksanakan tugasnya sebagai khalifah Allah, manusia
wajib tolong menolong dan saling membantu dalam melaksanakan kegiatan ekonomi
yang bertujuan ibadah kepada Allah.3Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. AlMa>idah, 2:

D

/A D
8%
8 A 4 D
2
8 E F7>
G%
+ D
$ H A G
,N #
.. K
,A 6 6 L
M

9 N 0 8%
O
0 6 H D
/ E PQ
8%
/ !
, /G T
;
F$>
,- $ 8 D
VT
Q +
/7 , W X . 7+ D
Q N 86 0 . 7 + /N 7 +
.
Q 7 / / >
2
.2

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar
Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan
(mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaaid, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi
Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keridaan dari Tuhannya
dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah
berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian (mu) kepada sesuatu kaum
karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam,
mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka).Dan tolong-menolonglah
kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolongmenolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.Dan bertakwalah kamu
kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.
Semua konsep ini berasal dari filosofi norma dan nilai-nilai Islam.
Freedom to Act (Kebebasan untuk bergerak/usaha)
Penerapan nilai nubuwwah, akan melahirkan pribadi-pribadi yang profesional
dalam segala bidang, termasuk dalam bidang ekonomi dan bisnis. Para pelaku ekonomi
dan bisnis menjadikan nabi sebagai teladan dan model dalam melakukan aktivitasnya.
Keempat nilai nubuwwah (siddiq, ama>nah, fatha>nah, dan tabligh) apabila
digabungkan dengan nilai keadilan dan khilafah (goodgovernance) akan melahirkan
konsep freedomtoact pada setiap muslim, khususnya pelaku bisnis dan ekonomi.
Freedomtoact bagi setiap individu akan menciptakan mekanisme pasar dalam

3P3EI

UII Yogyakarta, Berbagai Aspek Ekonomi Islam, (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana
Yogya, 1992), 13.
Attanwir, Vol. 1, No. 1,April 2012
ISSN: 2252-5238

Prinsip-prinsip Dasar Ekonomi Islam

17

perekonomian. Karena itu, mekanisme pasar adalah keharusan dalam Islam, dengan
syarat tidak ada distorsi (proses pendzaliman) dan tidak ada kecurangan. 4
Potensi distorsi dikurangi dengan menghayati nilai keadilan. Penegakan nilai
keadilan dalam ekonomi dilakukan dengan melarang semua mafsadah, riba, gharar, dan
maisir.
Selain itu, dasar dari setiap usaha untuk menjadi orang kuat secara moral adalah
kejujuran. Kejujuran merupakan kualitas dasar kepribadian moral. Tanpa kejujuran,
keutamaan-keutamaan moral lainnya akan hilang. Menurut Prof. H. Ismail Nawawi
dalam bukunya ekonomi Islam, disebutkan bahwa kejujuran dalam ekonomi Islam
terwujud dalam berbagai aspek:
a) Kejujuran yang terwujud dalam pemenuhan syarat-syarat perjanjian dan kontrak.
b) Kejujuran yang terwujud dalam penawaran barang dan jasa dengan mutu yang baik.
c) Kejujuran menyangkut hubungan kerja.5
Salah satu ayat Al-Quran yang menjelaskan tentang konsep kujujuran adalah QS.
Al-Muthaffifi>n, 1-3:

, . , .
N !

$ N . ) )6 V
6 ?

.
8 !
*

Artinya: Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang


yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi,
dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka
mengurangi.

;/T
X ;8)N , *

7 6 0 ; , " 2 T =
6 0 $
. A 7 _ 8 OQ %
N A 7 = A
$
Dari nabi SAW. bersabda: Penjual dan pembeli boleh melakukan khiyar, apabila
keduanya jujur dan menjelaskan cacat barangnya niscaya Allah akan
menurunkan keberkahan, tetapi apabila keduanya saling berbohong dan
menyembunyikan cacat barangnya, niscaya Allah akan mencabut keberkahan
dari transaksi perdagangannya.6
Negara bertugas menyingkirkan atau paling tidak mengurangi distorsi pasar ini.
Dengan demikian, pemerintah/negara bertindak sebagai wasit yang mengawasi
interaksi pelaku-pelaku ekonomi dan bisnis dalam wilayah kekuasaannya untuk
4Akhmad

Mujahidin, EkonomiIslam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007), 26.


Ismail Nawawi, Ekonomi Islam; Perspektif Konsep, Model, Paradigma, Teori dan Aspek
Hukum, (Surabaya: Vira Jaya Multi Press, 2008), 141.
6Al-Bukhari, ShahihBukha>ri, (Riyadh: Riasat Idarat al-Buhuth al-Ilmiyyah wa al-Ifta wa
al-Dawah wa al-Irshad, tt). Hadith nomor 2825.
5H.

Attanwir, Vol. 1, No. 1,April 2012


ISSN: 2252-5238

18

Sukardi

menjami tidak dilanggarnya syariah, dan supaya tidak ada pihak-pihak yang dzalim atau
terdzalimi, sehingga tercipta iklim ekonomi dan bisnis yang sehat.
SocialJustice (keadilan sosial)
Keadilan (adl) merupakan nilai paling asasi dalam ajaran Islam. Menegakkan
keadilan dan memberantas kedzaliman adalah tujuan utama dari risalah para rasul-Nya.
Keadilan seringkali diletakkan sederajat dengan kebajikan dan ketakwaan.

;
F$>
,- $ 8 D
.`
!
Q /A >
" ; . $ H AG
8 0 a
2
2
Q +. Q N
8 ; . / . / 7 +
.
7 +
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang
selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil.
Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum,
mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.Berlaku adillah, karena adil itu
lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. Al-Ma>idah; 8)
Terminologi keadilan dalam Al-Quran disebutkan dalam berbagai istilah, antara
lain; adl (persamaan balasan, persamaan kemanusiaan, persamaan di hadapan hukum
dan undang-undang, kebenaran, proporsional), Qist (distribusi yang adil, berbuat dan
bersikap adil dan proporsional), Qasd (kejujuran dan kelurusan, kesederhanaan, hemat,
keberanian), Qawwam (kelurusan, kejujuran), Hiss (distribusi yang adil, kejelasan,
terang), Mizan (keseimbangan, persamaan balasan), Wasat (moderat, tengah-tengah,
terbaik).7
Gabungan nilai khilafah dan nilai maad (kebangkitan) melahirkan prinsip keadilan
sosial. Dalam Islam, pemerintah bertanggung jawab menjamin pemenuhan kebutuhan
dasar (basicneeds) rakyatnya dan menciptakan keseimbangan sosial antara yang kaya
dan yang miskin.
Dalam Islam, keadilan sosial terefleksikan dengan pemberian jaminan sosial
kepada seluruh rakyatnya secara merata. Jaminan sosial dapat memberikan standar
hidup yang layak, termasuk penyediaan pangan, pakaian, perumahan, kesehatan,
pendidikan dan sebagainya kepada setiap anggota masyarakat.Menyediakan kebutuhan
hidup bagi setiap warganya adalah tugas negara.Namun demikian, bukan berarti negaralah yang menyediakan seluruh kebutuhan tersebut untuk warganya.8
Kesimpulan
Kita telah memiliki landasan teori yang kuat serta prinsip-prinsip sistem ekonomi
Islam yang mantap. Namun dua hal ini belum cukup, karena teori dan sistem menuntut
7Pusat

Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI), EkonomiIslam, (Jakarta: PT.


Raja Grafindo Persada, 2008), 60.
8Afzalurrahman, Doktrin Ekonomi Islam, (Yogyakarta: Dana Bakti Wakaf, 1995), jilid 4,
306-307.
Attanwir, Vol. 1, No. 1,April 2012
ISSN: 2252-5238

Prinsip-prinsip Dasar Ekonomi Islam

19

adanya manusia yang menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam teori dan sistem
tesebut. Dengan kata lain harus ada manusia yang berperilaku dan berakhlak secara
professional (ihsan dan itqa>n) dalam bidang ekonomi, terlebih lagi yang posisinya
sebagai pejabat pemerintah, Karena teori yag unggul dan sistem ekonomi syariah sama
sekali bukan merupakan jaminan bahwa perekonomian umat Islam akan secara
otomatis dapat berkembang. Sistem ekonomi Islami hanya memastikan bahwa tidak ada
transaksi ekonomi yang bertentangan dengan syariah. Tetapi kinerja bisnis tergantung
pada man behind the gun-nya.
Karena itu, pelaku ekonomi dalam kerangka ini bisa saja dipegang oleh non
muslim. Perekonomian Islam baru dapat maju apabila pola pikir dan perilaku muslim
sudah itqa>n (tekun) dan ihsan (profesional). Ini mungkin salah satu rahasia sabda
nabi yang artinya sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak. Karena
akhlak menjadi indikator baik-buruknya perilaku bisnis para pengusaha menentukan
sukses-gagalnya bisnis yang dijalankannya.

DaftarPustaka
Afzalurrahman, Doktrin Ekonomi Islam, 1995, jilid 4, Yogyakarta: Dana Bakti Wakaf.
Al-Bukhari, ShahihBukha>ri, tt, Riyadh: Riasat Idarat al-Buhuth al-Ilmiyyah wa al-Ifta
wa al-Dawah wa al-Irshad.
al-Rasul, Ali Abd, al-Mabadi al-Iqtishadiyyah fi al-Islam, 1980, Mesir: Dar al-Fikr alArabi.
Ismail Nawawi,H., M.Si., Dr. Prof.Ekonomi Islam; perspektif konsep, Model, Paradigma,
Teori dan Aspek Hukum, 2008, Surabaya: Vira Jaya Multi Press.
Muhammad, Drs, M.Ag, Ekonomi Mikro dalam Perspektif Islam, 2004, Yogyakarta: BPFE
Yogyakarta.
Mujahidin, Akhmad, Dr, M.Ag, EkonomiIslam, 2007, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI), Berbagai Aspek Ekonomi
Islam, 1992, Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya.
..,EkonomiIslam, 2008, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Attanwir, Vol. 1, No. 1,April 2012


ISSN: 2252-5238