Anda di halaman 1dari 16

PENEGAKAN DIAGNOSIS SYOK HIPOVOLEMIK PADA KASUS DEMAM BERDARAH

DENGUE

NAMA : NURFITRI AZHRI MIRANTI


NIM : 1102012204
BIDANG KEPEMINATAN : KEGAWATDARURATAN ( TRAUMA DAN NON TRAUMA )
PEMBIMBING : Dr. EDWARD SYAM

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI


2015-2016

ABSTRAK
Introduction : Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an infectious disease consists of four dengue virus serotypes,
namely DEN 1, DEN 2, DEN 3, and DEN 4. All four serotypes are founded in Indonesia. Dengue virus is
transmitted to humans through the bite of the mosquito Aedes aegypti and Aedes albopictus. There is still no vaccine
that can prevent all of the serotypes, which causes DHF is a serious problem in Indonesia.
Case Report : Mrs. S is 55 years old came with consciousness, anxiety and rapid breathing. The doctor then
checked vital signs and blood pressure was 90/80, temperature 34 oC, respiratory rate 28x/minute, pulse was not
palpable, acral feels cold, there is pain in the abdomen. According to alloanamnesis, Mrs. S are feeling body limp
and heat for about 4 days ago with vomiting, then tourniquet test were examined and the results were positive. The
laboratory tests were found Platelets 64,000, Potassium 96, Sodium 1.75, and Chlorine 75. Mrs. S was diagnosed
with Dengue Hemorrhagic Fever degree 4. Mrs. S immediately on the treatment of the liquid NaCl 0.9% (flush), and
the installation of oxygen 2-4 liters / minute. It is advisable to check blood lab redesign and electrolyte also consult
with the internist.
Discussion : Hypovolemic shock in DHF can be seen from the clinical manifestations which indicate that the patient
is experiencing shock as skin cold, the pulse is fast and weak, blood pressure cant be measured, the patient who
feels uneasy, abdominal pain and other conditions, decreased platelet level and increased hematocrit, it is proving an
increase in capillary permeability that causes intracellular dehydration. Compared to Mrs. Ss conditions which was
decreased consciousness, anxiety and rapid breathing, skin cold, blood pressure 90/80 can be said to be scalable to
say the patient was suffering from shock, the body temperature was already declining according to the theory goes
into shock phase, at any anamnesis it is clear that the patient had suffered about 4 days ago. Lab results that have
been carried out confirmed that the patient has been an increase in capillary permeability that causes shock.
Conclution : To diagnose cases of Dengue degree 4 or in a state of shock Hypovolemic can be seen from the
physical state of the patients who showed presence of shock supported by lab tests that show the state of decreased
platelet and hematocrit were increased.

PENDAHULUAN
Dengue Hemorragic Fever (DHF) atau Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit
menular yang disebabkan oleh virus dengue yang termasuk dalam genus Flavivirus, family
Flaviviridae. Virus dengue terdiri dari 4 serotype, yaitu DEN 1, DEN 2, DEN 3, DEN 4. Masing
masing saling berkaitan antigennya dan dapat menyebabkan sakit di tubuh manusia. Ke-empat
serotype tersebut terdapat di Indonesia. Terdapat tiga faktor yang memegang peranan pada
penularan infeksi virus dengue, yaitu manusia, virus, dan vector perantara. Virus dengue
ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus. Faktorfaktor yang mempengaruhi peningkatan dan penyebaran kasus DBD sangat kompleks, yaitu
pertumbuhan penduduk yang tinggi, urbanisasi yang tidak terencana dan tidak terkendali, tidak
adanya control vector nyamuk yang efektif di daerah endemis dan peningkatan sarana
transportasi. Vaksin pun belum bisa mencegah penyakit ini karena sebuah vaksin belum bisa
untuk melawan keempat serotype virus ini. Oleh karena itu, demam berdarah dengue merupakan
masalah yang serius di Indonesia karena pencegahannya pun belum dapat dilakukan secara
maksimal.
Demam berdarah dengue dapat diklasifikasikan menjadi yang dapat menyebabkan syok dan yang
tidak dapat menimbulkan syok. Syok yang terjadi pada penderita kasus demam berdarah dengue
dapat berujung kematian bila tidak segera ditangani dengan baik. Oleh karena itu untuk
menangani kasus ini bergantung pada diagnosis yang cepat, pengobatan yang segera serta
penanganan yang memadai. Dalam mendiagnosis pasien demam berdarah dengue dapat
dilakukan dengan anamnesis kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik dan dipertegas
dengan pemeriksaan penunjang atau pemeriksaan laboratorium. Gejala klinis yang ditimbulkan
dari demam berdarah dengue tidak jauh berbeda dengan demam dengue atau penyakit lainnya,
namun kita harus bisamembedakan derajat syok yang terjadi dalam kasus demam berdarah
dengue dibantu dengan pemeriksaan penunjang yang mendukung diagnosis sehingga dokter
dapat melakukan penatalaksanaan yang sesuai dan tepat.

CASE REPORT
Ny. S berusia 55 tahun, bersuku ras Jawa, datang ke IGD RS Bakti Yudha sekitar pukul 12.00
diantar oleh suaminya dan saudaranya. Ny. S datang dengan keadaan kesadaran menurun, gelisah
dan nafas cepat. Dokter lalu mengecek tanda vital dan didapat Tekanan Darah 90/80 suhu 34
derajat celcius, respiratory rate 28 kali per menit, nadi tidak teraba, akral pun terasa dingin,
terdapat nyeri di bagian abdomen. Dokter melakukan alloanamnesis kepada suaminya dan
didapat informasi bahwa Ny. S sudah merasa badan lemas dan panas selama 4 hari yang lalu
disertai dengan muntah, pasien pernah melakukan pemeriksaan uji tourniquet di klinik dan
hasilnya positif. Ny. S sebelumnya sudah melakukan pemeriksaan Lab dan ditemukan Trombosit
64.000 Natrium 96 Kalium 1,75 Clorin 75. Beberapa hari sebelumnya Ny. S juga melakukan
pemeriksaan Darah rutin. Ny. S didiagnosis terkena Dengue Hemmoragic Fever derajat 4. Ny. S
segera di tatalaksana dengan cairan NaCl 0.9% (guyur) ditambah dengan pemasangan oksigen 24 liter/menit. Dianjurkan untuk melakukan cek Lab darah ulang dan elektrolit juga konsul
dengan internist.
DISKUSI
Infeksi virus dengue tergantung dari factor yang mempengaruhi daya tahan tubuh dengan factor
yang mempengaruhi virulensi virus. Dengan demikian infeksi virus denge dapat menyebabkan
keadaan yang bermacam-macam, mulai dari tanpa gejala, demam ringan yang tidak spesifik,
demam dengue atau bentuk
lebih

berat

yang

yaitu

demam
berdarah dengue dan sindrom syok dengue (Sri Rezeki dkk,

Perjalanan
Penyakit
Dengue

2004)

Pasien datang dengan demam tinggi mendadak yang tidak sembuh dengan pengobatan. Hati 1-3
terjadi dehidrasi, mengalami mual muntah. Bila melakukan pemeriksaan Lab akan ditemukan
penurunan Trombosit dan peningkatan hematokrit, dapat pula dilakukan pemeriksaan serologi
NS1. Setelah hari ke 3-6 suhu tubuh menurun fase shock. Pemeriksaan IgM dan IgG bisa
dilakukan setelah hari ke 5.

Patogenesis Demam Berdarah Dengue


Virus merupakan mikroorganisme yang hanya dapat hidup didalam sel hidup. Maka demi
kelangsungan hidupnya, virus harus bersaing dengan sel manusia sebagai pejamu terutama dalam
mencukupi kebutuhan akan protein. Persaingan tersebut sangat tergantung pada daya tahan
pejamu, bila daya tahan baik maka akan terjadi penyembuhan dan timbul antibody, namun bila
daya tahan rendah maka perjalanan penyakit menjadi makin berat dan bahkan dapat
menimbulkan kematian.
Pathogenesis DBD dan DSS masih merupakan masalah yang controversial. Dua teori yang
banyak dianut pada DBD dan DSS adalah hipotesis infeksi sekunder atau hipotesis immune
enhancement. Hipotesis ini menyatakan secara tidak langsung bahwa pasien yang mengalami
infeksi yang kedua kalinya denganserotipe virus dengue yang heterolog mempunyai resiko berat
yang lebih besar untuk menderita DBD berat. Antibody heterolog yang telah ada sebelumnya

akan mengenai virus lain yang akan menginfeksi dan kemudian membentuk kompleks antigen
antibody yang kemudian berkaitan dengan Fc reseptor dari membrane sel leukosit terutama
makrofag. Oleh karena antibody heterolog maka virus tidak dinetralisasikan oleh tubuh sehingga
akan bebas melakukan replikasi dalam sel makrofag. Dihipotesiskan juga mengenai antibody
dependent enhancement (ADE),suatu proses yang akan meningkatkan infeksi dan replikasi virus
dengue didalam sel mononuclear. Sebagai tanggapan terhadap infeksi tersebut, terjadi sekresi
mediator vasoaktif yang kemudian menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah,
sehingga mengakibatkan keadaan hipovolemik dan syok.
Sebagai akibat infeksi sekunder oleh tipe virus dengue yang berlainan pada seorang pasien,
respon antibiotic anamnestik yang akan terjadi dalam waktu beberapa hari mengakibatkan
proliferasi dan transformasi limfosit dengan menghasilkan titer tinggi antibody IgG antidengue.
Disamping itu, replikasi virus dengue terjadi juga dalam limfosit yang bertransformasi dengan
akibat terdapatnya virus dalam jumlah banyak. Hal ini akan mengakibatkan terbentuknya virus
komplek antigen antibody yang selanjutnya akan mengakibatkan aktivasi system komplemen.
Pelepasan C3a dan C5a akibat aktivasi C3 dan C5 menyebabkan peningkatan permeabilitas
dinding pembuluh darah dan merembesnya plasma dari ruang intravascular ke ruang
ekstravaskular. Pada pasien dengan syok berat, volume plasma dapat berkurang sampai lebih
dari 30% dan berlangsung selama 24-48 jam. Perembesan plasma ini terbukti dengan adanya
peningkatan kadar hematokrit, penurunan kadar natrium, dan terdapatnya cairan didalam rongga
serosa (efusi pleura, asites). Syok yang tidak ditanggulangi secara adekuat, akan menyebabkan
asidosis dan anoksia, yang dapat berakhir fatal. Oleh karena itu, pengobatan syok sangat penting
guna mencegah kematian.

Sebagai tanggapan terhadap infeksi virus dengue, kompleks antigen antibody selain
mengaktivasi system komplemen, juga menyebabkan agregasi trombosit dan mengaktivasi
system koagulasi melalui kerusakan sel endotel pembuluh darah. Kedua factor tersebut akan
menyebabkan perdarahan pada DBD. Agregasi trombosit terjadi sebagai akibat dari perlekatan
kompleks antigen antibody padamembran trombosit semngakibatkan pengeluaran ADP
(adenosine di phospat) sehingga trombosit melekat satu sama lain. Hal ini kan menyebabkan
trombosit dihancurkan oleh RES (reticulo endothelial system) sehingga terjadi trombositopenia.
Agregasi trombosit iniakan menyebabkan pengeluaran platelet factor III mengakibatkan
terjadinya koagulopati konsumtif ditandai dengan peningkatan FDP (fibrinogen degredation
product) sehingga terjadi penurunan factor pembekuan.
Agregasi trombosit ini juga mengakibatkan gangguan fungsi trombosit, sehingga walaupun
jumlah trombositmasih cukup banyak, tidak berfungsi baik. Disisi lain, aktivasi koagulasi akan
menyebabkan aktivasi factor Hageman sehingga terjadi aktivasi system kinin sehingga memacu
peningkatan permeabilitas kapiler yang dapat mempercepat terjadinya syok. Jadi, perdarahan
massif pada DBD diakibatkan oleh trombositopenia, penurunan factor pembekuan (akibat KID)

kelainan fungsi trombosit dan kerusakan dinding endotel kapiler. Akhirnya, perdarahan akan
memperberat syok yang terjadi. (Sri Rezeki dkk, 2004)

Klasifikasi Demam Berdarah Dengue


Demam Berdarah Dengue diklasifikasikan menjadi empat tingkatan keparahan, dimana derajat
III dan IV dianggap Dengue Shock Syndrome. Adanya Trombositopenia dengan disertai
hemokonsentrasi membedakan derajat I dan II DBD dengan DD.
Derajat I :

Demam disertai dengan gejala konstitusional non spesifik. Satu satunya


manifestasi perdarahan adalah tes tourniquet positif dan/atau mudah

memar.

Derajat II :

Perdarahan spontan selain manifestasi pasien pada derajat I, biasanya pada bentuk
perdarahan kulit atau perdarahan lain.

Derajat III :

Gagal sirkulasi dimanifestasikan dengan nadi cepat dan lemah serta penyempitan
tekanan nadi atau hipotensi, dengan adanya kulit dingin dan lembab secara
gelisah.

Derajat IV :

Syok hebat dengan tekanan darah atau nadi tidak terdeteksi.

(Monica, 1999)
Kriteria Diagnosis Demam Berdarah Dengue
Diagnosis DBD ditegakkan berdasarkan criteria diagnosis menurut WHO tahun 1997 terdiri dari
criteria klinis dan laboratories. Penggunaan criteria ini dimaksudkan untuk mengurangi diagnosis
yang berlebihan.
Criteria klinis
a. Demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus menerus selama 2-7
hari.
b. Terdapat manifestasi perdarahan ditandai dengan :
Uji tourniquet positif
Ptekie, ekimosis, purpura
Perdarahan mukosa, epistaksis, perdarahan gusi
Hematemesis dan atau melena
c. Pembesaran hati
d. Syok, ditandai nadi cepat dan lemah serta penurunan tekanan nadi, hipotensi, kaki dan
tangan dingin, kulit lembab dan pasien tampak gelisah.
Kriteria laboratories
a. Trombositopenia (100.000/ul atau kurang)
b. Hemokonsentrasi, dapat dilihat dari peningkatan hematokrit 20% atau lebih
Trombositopenia dan hemokonsentrasi merupakan kelainan yang selalu ditemukan pada DBD.
Penurunan jumah trombosit < 100.000/ul biasa ditemukan pada hari ke 3-8, sering terjadi
sebelum atau bersamaan dengan perubahan nilai hematokrit. Hemokonsentrasi yang disebabkan
oleh kebocoran plasma dinilai dari peningkatan nilai hematokrit. Penurunan nilai trombosit yang

disertai atau segera disusul dengan peningkatan nilai hematokrit biasanya terjadi pada saat suhu
turun atau sebelum syok terjadi. Perlu diketahui bahwa nilai hematokrit dapat dipengaruhi oleh
pemberian cairan dan perdarahan. Jumlah leukosit bisa menurun atau leukositosis, limfositosis
relative dengan limfosit atipik sering ditemukan pada saat sebelum suhu turun atau syok.
Hipoproteinemi akibat kebocoran plasma biasa ditemukan. Adanya fibrinolisis dan gangguan
koagulasi tampak pada pengurangan fibrinogen, protombin, factor VIII, factor XII dan
antitrombin III. PTT dan PT yang memanjang kadang ditemukan. Fungsi trombosit terganggu.
Asidosis metabolic dan peningkatan BUN ditemukan pada syok berat. Efusi pleura bilateral
dapat ditemukan pada pasien yang syok dengan pemeriksaan radiologis. (Sri Rezeki dkk, 2004)
Pemeriksaan darah tepi
Pemeriksaan darah tepi dilakukan untuk mengetahui adanya perubahan yang terjadi dalam darah
baik secara seluler maupun perubahan komposisi darah. Jenis pemeriksaan yang dilakukan
sebagai berikut :
a. Pemeriksaan hematokrit (Ht)
Tujuannya, untuk mengetahui adanya hemokonsentrasi yang terjadi pada penderita DBD.
Nilai hematokrit adalah besarnya volume total sel-sel darah, khususnya eritrosit
dibandingkan volume keseluruhan darah dan dinyatakan dalam %. Pada penderita DBD
hematokrit meningkat sampai lebih dari 20%. Peningkatan nilai hematokrit merupakan
petunjuk adanya peningkatan permeabilitas kapiler dan bocornya plasma. Namun, kadar
ini diengaruhi oleh adanya penggatian cairan awal dan perdarahan. Oleh karena itu, perlu
dilakukan evaluasi pada perawatan penderita dengan pemeriksaan hematokrit.
b. Pemeriksaan trombosit
Pemeriksaan trombosit mempunyai 2 tujuan, yaitu menghitung jumlah trombosit secara
kuantitatif dan mengukur kemampuan fungsi trombosit secara kualitatif, kususnya dalam
hubungannya dengan transfusi darah yang nantinya diperlukan.
c. Pemeriksaan leukosit
pada umumnya yang diperiksa dalam pemeriksaan leukosit adalah limfosit dan monosit.
Nilai rujukan jumlah leukosit adalah 4000-11000/ul darah. Hasil pemeriksaan leukosit
pada DBD menunjukan adanya jumlah menurun (leukopeni) pada awal penyakit, namun
kemudian dapat normal dengan dominasi dari sel netrofil. Mendekati fase akhir penyakit

akan terjadi penurunan jumlah total leukosit bersamaan dengan penurunan sel
polimorfonuklear.
Uji Torniquet
Uji tourniquet yang dikenal dengan pemeriksaan rumple leed merupakan salah satu pemeriksaan
penyaring untuk mendeteksi kelainan system vaskuler dan trombosit. Dengan melakukan
bendungan darah pada tekanan tertentu, dilengan atas akan terjadi perdarahan dibawah kulit
(petekhie) bila dinding kapiler kurang kuat resistensinya. Hasil positif bila dalam waktu 10 menit
timbul 10 atau lebih petekie didaerah voler lengan. Sebelum percobaan, harap diperhatikan
apakah ada bekas gigitan nyamuk pada daerah volar lengan bawah, atau noda hitam yang
mungkin menyebabkan hasil menjadi positif palsu. (Purwanto, 2002)

WHO pedoman dengue telah jelas kriteria untuk diagnosis dengue shock. Konfirmasi infeksi
dengue adalah dengan serologi atau deteksi bahan virus dengue di dalam darah oleh RT-PCR
(reverse transcriptase polymerase chain reaction) cara ini merupakan cara diagnosis yang sangat
sensitive dan spesifik terhadap serotype tertentu, hasil cepat didapat dan dapat di ulang dengan
mudah. Cara ini dapat mendeteksi virus RNA dari specimen yang berasal dari darah, jaringan
tubuh manusia dan nyamuk. Dengue-spesifik IgG dan IgM ELISA secara luas digunakan. Tes ini
relatif murah, dan menjadi positif untuk antibodi IgM pada atau setelah hari ke-5 demam. IgM
ELISA memiliki sensitivitas 83,9-98,4% dan spesifisitas 100% Kehadiran antibodi IgG
menunjukkan infeksi sebelumnya.; karenanya, kehadiran kedua IgG dan IgM menunjukkan
kemungkinan infeksi sekunder, meskipun ini belum divalidasi dalam studi klinis. Cordeiro et al
mengusulkan klasifikasi dua dimensi untuk membedakan infeksi dengue primer dan sekunder
berdasarkan dengue IgM ELISA dan jumlah hari sejak timbulnya gejala; metode menunjukkan
lebih spesifisitas 90% dan sensitivitas. Serotyping juga dapat dilakukan dengan menggunakan
ELISA RT-PCR untuk bahan virus dengue dapat membantu untuk mendiagnosa penyakit awal,
sebelum antibodi menjadi positif.; metode, meskipun relatif mahal, sangat sensitif dan
memungkinkan untuk serotyping. Sementara tes ini digunakan untuk diagnosis infeksi dengue,
mereka tidak akurat memprediksi pasien cenderung mengalami syok dengue. Hubungan antara
titer antibodi tinggi atau viral load tinggi dan manifestasi klinis dengue belum diteliti. Tidak ada
investigasi biokimia lain yang tersedia untuk memprediksi pasien yang akan mengalami syok,
yang sebagian besar merupakan diagnosis klinis. Hemokonsentrasi dan jumlah trombosit
menurun pemberita timbulnya shock. Ekstravasasi cairan akibat kebocoran pembuluh darah

dapat dideteksi radiologis (radiografi dada untuk efusi pleura, echocardiography untuk efusi
perikardial, ultrasonografi untuk ascites). Adanya cairan di sekitar kandung empedu, bersamasama dengan penebalan dinding kandung empedu, telah terbukti berhubungan dengan syok.
(Senaka, 2009)

Dengue Shock Syndrome


Kondisi pasien bisa berubah kea rah syok setelah demam selama 2-7 hati. Setelah terjadi
penurunan suhu terdapat tanda yang khas dari ke gagalan sirkulasi yaitu kulit menjadi dingin,
bintul-bintul dan kongesti, sianosis sirkumoral sering terjadi, nadi menjadi cepat. Pasien pada
awalnya bisa mengalami letargi lalu menjadi gelisah dan dengan cepat memasuki tahap kritis dan
syok. Nyeri abdominal akut sering dikeluhkan sebelum awitan syok. DSS biasanya ditandai
dengan nadi cepat, lemah dengan penyempitan tekanan nadi (<20mmHg) tanpa memperhatikan
tingkat tekanan atau hipotensi dengan kulit dingin, lembab dan gelisah.
Penatalaksanaan pasien DBD dengan syok tanpa perdarahan spontan
Pada kasus Dengue Shock Syndrome, ringer laktat adalah cairan kristaloid pilihan pertama yang
sebaiknya diberikan karena mengandung Na laktat sebagai korektor basa. Pilihan lainnya adalah
NaCl 0,9%. Selain resusitasi cairan, pasien diberikan oksigen 2-4 liter/menit dan pemeriksaan
elektrolit natrium, kalium, klorida serta ureum kreatinin. Pemeriksaan Hb, Ht dan trombosit
dilakukan setiap 4-6 jam. Pemeriksaan hemostasis diulang bila terdapat perdarahan. (Sri Rezeki
dkk, 2004)

Berdasarkan teori yang sudah dipaparkan diatas untuk mendiagnosis kasus syok hipovolemik
pada penderita demam berdarah dengue dilihat dari manifestasi klinik yang menunjukan bahwa
pasien sedang mengalami shock seperti akral yang dingin, nadi yang cepat dan lemah, tekanan
darah yang tidak bisa diukur, keadaan pasien yang merasa gelisah, nyeri abdomen dan keadaan
lainnya, pemeriksaan lab yang mendukung yaitu dengan melihat kadar trombosit didalam tubuh
yang menurun dan hematokrit yang meningkat, hal ini membuktikan adanya peningkatan
permeabilitas kapiler yang menyebabkan dehidrasi intraseluler. Bila kita cocokan keadaan pasien
Ny. S dengan literature yang ada kesadaran menurun, gelisah dan nafas cepat, akral terasa dingin,
terdapat nyeri abdomen, nadi tidak teraba, tekanan darah 90/80 yang bisa dikatakan tidak terukur

bisa dikatakan pasien sudah mengalami shock, suhu tubuh pun sudah menurun sesuai teori
masuk ke dalam fase shock, pada anamnesis pun jelas bahwa pasien sudah menderita sekitar 4
hari yang lalu. Uji tourniquet yang positif menunjukan bahwa pasien sudah menderita DBD.
Hasil Lab yang sudah dilakukan pasien menegaskan bahwa sudah terjadi peningkatan
permeabilitas kapiler yang menyebabkan terjadinya shock. Anjuran yang diberikan dokter yaitu
memeriksa lab darah rutin dan elektrolit sesuai dengan literature, dengan memeriksa lab tersebut
kita dapat mengetahui perkembangan setelah diterapi.
Seiring dengan kemajuan zaman, teknologi medis pun ikut berkembang pesat. Segala macam
penyakit seakan semakin mudah diatasi dengan terapi penyembuhan tertentu. Hanya saja, kaidah
klasik dalam dunia pengobatan masihlah berlaku; bahwa korelasi antara pengobatan dan
kesembuhan hanyalah bertaraf asumtif (dhann), sehingga, secanggih apapun teknologi
pengobatan, jika ajal seseorang telah tiba, tak akan mampu mengundurkannya. Atau, jika
kesembuhan

belum

ditakdirkan

maka

ia

tak

akan

kunjung

datang.

Karenanya, hal-hal tersebut menjadi pertimbangan penting dalam merumuskan ketentuan fiqh
terkait dengan kontrak jasa (ijrah) pengobatan, yakni bahwa maqud alaih (obyek transaksi)
adalah kegiatan pengobatan, bukan tercapainya kesembuhan. Karena hanya tindakan
pengobatanlah yang bisa dilakukan dokter, bukan tercapainya kesembuhan. Sehingga, jika dalam
kontrak awal, dokter (atau sejenisnya) yang ahli dijanjikan nominal bayaran tertentu oleh pasien
untuk mengobati, dan sejumlah uang sebagai pengganti harga obat pun telah diserahkan, lalu
sang dokter ahli melakukan tindakan pengobatan, dan ternyata pasien tak kunjung sembuh, maka
sang dokter tetap berhak mendapatkan nominal yang telah disepakati, jika status kontrak ijrahnya sah, dan akan mendapatkan bayaran standar (ujrah mitsl) jika ijrah-nya berstatus fsidah
(tidak

sah).

Jika dokter atau orang yang menangani pengobatan bukan seorang yang ahli di bidangnya, maka
dia tidak berhak mendapatkan bayaran, baik dengan nominal yang disepakati ataupun dengan
nominal standar, karena dia telah berani melakukan sesuatu yang bukan menjadi keahliannya.
Pasien pun berhak mengambil kembali pengganti harga obat yang telah diberikannya. Yang
dimaksud dokter (atau sejenisnya) yang ahli adalah dokter yang telah teruji, jarang mengalami
kesalahan

penanganan,

meski

dalam

teori

medisnya

bukanlah

orang

yang

ahli.

Tetapi jika dalam kontrak ijrah disebutkan perjanjian, bahwa dokter akan mendapatkan nominal

bayaran tertentu sebagai imbal jasa kesembuhannya (bukan imbal jasa pengobatannya) maka
ijrah dihukumi tidak sah. Karena kesembuhan yang menjadi obyek transaksi yang harus
dilakukan dokter, adalah majhl (tidak diketahui). Hanya saja, kesembuhan sebagai obyek
transaksi (yakni amal) bisa dipraktikkan dalam pola transaksi julah, karena dalam julah,
amal

sebagai

obyek

transaksi

boleh

berupa

sesuatu

yang

majhl.

Selanjutnya tentang konsekwensi hukum tindak penanganan dokter atau semisalnya, fiqh telah
mengakomodirnya dalam konsep dlamn (ganti rugi, pertanggungjawaban). Dokter yang
melakukan tindakan pengobatan terhadap seorang pasien, akan bebas dari segala tuntutan terkait
apapun yang terjadi pada diri pasien pasca penanganan, jika telah memenuhi persyaratannya.
Karena jika dalam segala kondisi dokter dapat dituntut akibat tindak penanganannya, pastilah tak
seorangpun yang mau melakukan tindakan pengobatan yang merupakan kewajiban kolektif
(fardlukifyah) dalam sebuah komunitas umat. Sejumlah persyaratan tentang terlepasnya dokter
dari tuntutan akibat tindak penangannya, sebagaimana dirumuskan para ulama madzhahib, oleh
Abdul Qadir Audah disimpulkan dalam empat poin. Pertama, pelaku adalah dokter atau orang
yang dikenal sebagai orang yang memiliki pengetahuan tentang pengobatan. Sehingga jika
pelaku pengobatan bukan dokter atau ahli pengobatan yang telah dikenal memiliki pengetahuan
di bidangnya, maka jika pasca pengobatan pasien meninggal dunia atau penyakitnya semakin
parah, pelaku pengobatan harus bertanggung jawab.
Sebagaimana

sabda

Rasulullah

shallallhu

alaihi

wa

sallam,

( )

Barangsiapa melakukan pengobatan, akan tetapi tidak memiliki pengetahuan tentang
pengobatan, maka dia harus bertanggung jawab (HR. Abu Dawud, Turmudzi dan Ibnu Majah)
Kedua, melakukan tindak penanganan dengan tujuan pengobatan dan niat yang baik. Bukan
dengan niatan mencelakai. Ketiga, melakukan pengobatan sesuai prosedur penanganan yang
berlaku dalam disiplin ilmu kedokteran atau pengobatan. Keempat, dengan seizin pasien atau
orang-orang yang bertindak atas namanya.

Conclusion

Kesimpulan Mendiagnosis kasus Demam Berdarah Dengue derajat 4 atau dalam keadaan Syok
Hipovolemik dilihat dari keadaan fisik pasien yang menunjukan adanya syok yang didukung
oleh pemeriksaan lab yang memperlihatkan keadaan trombosit yang menurun dan hematokrit
yang meningkat.
Saran

Seorang dokter harus mengetahui klasifikasi derajat Demam Berdarah Dengue dan

mengetahui pemeriksaan apa saja yang harus dilakukan sehingga dapat mendiagnosis pasien
dengan cepat dan tepat sehingga pasien dapat segera di tangani.

DAFTAR PUSTAKA
Purwanto. 2002. Pemeriksaan Laboratorium Pada Penderita Demam Berdarah Dengue. Artikel.
Mediaa Litbang Kesehatan XII:1.
World Health Organization. 1999. Demam Berdarah Dengue Diagnosis, Pengobatan, Pencegahan
dan Pengendalian Ed 2. Jakarta: EGC
Rezeki H, Sri. Etc. 2004. Tatalaksana Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Edisi ke 3. Jakarta:
Departemen Kesehatan.
Rajapakse, S. 2009. Dengue Shock. Journal of Emergencies, Trauma, and Shock.