Anda di halaman 1dari 9

Ironi Sosial Ekonomi dan Kesehatan Masyarakat

Sebuah Catatan Perjalanan di Negeri Penghasil Batu Bara,


Kabupaten Kutai Timur
Oleh: Lafi Munira
Banjarmasin, 18 Januari 2017
Menuju Kabupaten Kutai Timur

Gambar 1. Peta Kabupaten Kutai Timur


Sumber: wikipedia.com
Perjalanan saya dimulai dari Kota Banjarmasin menuju Kota
Balikpapan. Bandara Sepinggan kali itu terlihat lebih menarik karena
banyak perubahan arsitektur hingga menjadi luas dan ciamik bila
dibandingkan dengan tampilan bandara tersebut pada tahun 2011 kala
pertama kali saya ke Balikpapan. Setibanya di Bandara Sepinggan saya
mencari meeting point tempat dimana beberapa peneliti yang terdiri
dari perawat dan sarjana kesehatan masyarakat berkumpul untuk
berangkat bersama menuju Kabupaten Kutai Timur.
Perjalanan darat dari Balikpapan menuju Kabupaten Kutai Timur
membutuhkan waktu selama 10 jam. Tekstur jalanan yang dilewati bisa
dikatakan mulus melewati Kota Samarinda dan sungai Mahakam.
Ketika sudah memasuki wilayah gunung menangis yang sudah
termasuk lingkungan Kabupaten Kutai Timur tekstur jalanan berbatu-

batu

dan

berkelok-kelok

kecepatannya.

Mengapa

sehingga
daerah

mobil

tersebut

elf

pun

disebut

mengurangi

dengan

nama

gunung menangis?, konon masyarakat menamainya seperti itu


dikarenakan daerah tersebut rawan longsor dan tekstur jalan tidak
bagus ditambah dengan banyaknya angka kecelakaan di daerah
tersebut serta tidak ada penerangan lampu jalanan, kala itu akhir
tahun 2015. Pukul 21.00 wita tiba lah kami di Ibukota Kabupaten Kutai
Timur, yakni Sangatta.

Sangatta yang kaya dan masyarakat transmigran yang


miskin

Gambar 2. Tampilan Kota Sangatta


Sumber: Dokumentasi Peneliti
Ini adalah kali pertama saya menapakan kaki di tanah Sangatta,
tentu saja saya belum mengenal lebih dekat tempat ini. Kota ini tidak
begitu luas. Ketika di lapangan dan bercakap dengan para responden
penelitian saya baru mengetahui bahwa Sangatta merupakan negeri

penghasil bahan bakar minyak. Saya melewati pabrik pertamina yang


sangat luas dan ketat penjagaannya. Selain itu masyarakat pun
memberi tahu saya bahwa Sangatta juga merupakan Negeri penghasil
tambang batu bara.
Rupanya, orang-orang dari luar kota berlomba-lomba untuk hidup
dan tinggal di Sangatta agar mendapatkan pekerjaan yang besar
nominal gajinya. Pada suatu kesempatan saya melakukan sweeping ke
beberapa kecamatan, saya menemukan beberapa kejutan sekaligus
keprihatinan.
Pada saat mewawancarai seorang bapak seorang transmigran
dari Jawa yang sejak 20 tahun yang lalu bekerja di salah satu
perusahaan

tambang

batu

bara,

beliau

mengatakan

bahwa

pendapatan beliau sebesar 20 juta rupiah per bulan, ditambah dengan


fasilitas rumah, listrik dan PDAM yang dibiayai full oleh perusahaan pun
juga asuransi kesehatan swasta. Kedekatan antar masyarakat dalam
suatu komplek perumahan yang bagus-bagus tersebut bisa dibilang
kurang dekat. Semacam pergaulan lingkungan tetangga pada komplek
elit di Jakarta yang antar satu dengan yang lain saling tidak peduli dan
mengurusi hidup masing-masing, saling tidak tahu nama dan merasa
tidak kenal padahal tinggal di 1 RT yang sama. Miris.
Beda

halnya

ketika

saya

mewawancarai

masyarakat

para

pendatang dengan lokasi rumah-rumah yang tampilannya sederhana.


Mereka adalah para pendatang dari luar Sangatta yang datang ke
Sangatta dengan harapan bisa mendapatkan pekerjaan yang baik di
perusahaan pertambangan batu bara ataupun migas. Mereka bekerja

serabutan, ada yang menjadi kuli bangunan, satpam, ada juga yang
pengangguran. Mereka berkata ternyata Sangatta tidak seindah apa
yang mereka bayangkan sebelum meninggalkan asal domisili mereka
sebelumnya. Mereka mengontrak rumah, dan harus bekerja keras
untuk mendapatkan biaya untuk bayar kontrakan rumah dan biaya
hidup sehari-hari. Masyarakat di daerah perumahan yang saling
berdekatan tersebut merupakan multi etnik, ada yang dari Jawa, NTT,
Kalimantan Selatan, dan lain-lain. Pada akhirnya mereka hanya bisa
pasrah tinggal di Sangatta selamanya, karena mereka tidak punya
uang yang cukup untuk keluar dari Sangatta menuju kampung halaman
mereka. Biaiya hidup di Sangatta bisa dikatakan tinggi, biaya
transportasi dari Sangatta menuju Samarinda ataupun Balikpapan bisa
membuat isi dompet jebol. Lain halnya bagi mereka yang bekerja di
pertambangan batu bara dan migas, bagi mereka, dalam waktu 1
bulan mereka harus refreshing ke Samarinda atau Balikpapan dengan
mobil pribadi, ah kesenjangan. Mereka yang menganggap dirinya
miskin ini ternyata lebih hangat kedekatannya dengan peneliti dan
antara satu tetangga dengan tetangga yang lain saling kenal dan
saling berkomunikasi satu sama lain.

Kondisi Kesehatan Masyarakat


Pada saat saya dan rekan perawat sweeping ke rumah-rumah
warga, ternyata kami menemukan bahwa banyak dari masyarakat
yang kami kunjungi mempunyai riwayat Positif Hepatitis B, dan mereka
tidak faham bahwa Hepatitis B bisa menular dengan kontak wadah

makanan (Piring makan, gelas, sendok) saat mencuci piring. Ketika


kami menemukan kasus HepatitIs B pada suatu rumah tangga, kami
mengambil sampel darah semua anggota keluarga. Penyakit menular
ini dianggap menjadi suatu hal yang biasa saja.
Pola pencarian pengobatan pun berbeda-beda tergantung status
ekonomi warga. Bagi yang bekerja di pertambangan mereka lebih
memilih untuk berobat ke rumah sakit swasta tanpa menggunakan
asuransi jaminan kesehatan. Sedangkan bagi warga yang hidupnya
sederhana lebih memilih berobat ke puskesmas dengan berjalan kaki
sejauh 4 KM karena mereka tidak mempunyai motor dan di Sangatta
tidak ada angkutan umum.
Fenomena kesehatan masyarakat di daerah pertambangan ini
adalah efek BLASTING, blasting merupakan upaya peledakan dan
pengeboran batu bara yang efeknya bisa dirasakan getarannya hingga
puluhan kilometer dan terdengar suaranya yang mampu membuat
kebisingan. Ketika saya mewawancarai responden, mereka mengaku
sering merasakan getaran tersebut beberapa kali dalam seminggu,
selama beberapa menit, sensasinya menurut mereka seperti sedang
gempa bumi. Dari form kuesioner yang saya baca, blasting dapat
mengakibatkan kelumpuhan permanen pada masyarakat jika terpapar
terus-menerus, hingga mengalami ketulian.

Sebuah kisah perjalanan menuju kecamatan Bengalon

Gambar 3. Kebakaran Hutan


Sumber: Dokumentasi Peneliti
Kecamatan Bengalon merupakan salah satu kecamatan yang
berada

di

Kabupaten

Kutai

Timur.

Sepanjang

perjalanan

kami

disuguhkan pemandangan galian batu bara yang sangat dalam


sekaligus

kebakaran

hutan.

Saat itu

saya

berfikir

kenapa

ada

kebakaran hutan dimana-mana.

Gambar 4. Bekas Galian Tambang Batu Bara


Sumber: Dokumentasi Peneliti
Asumsi pribadi saya sendiri mungkin ada hubungannya hutan
dibakar dengan lahan baru untuk pengeboran tambang batu bara yang

masih sangat luas. Jalanan menuju Kecamatan Bengalon bisa dikatakan


mulus, teraspal dengan baik, namun tidak ada lampu penerangan
jalan, perjalanan dari Sangatta menuju Bengalon membutuhkan waktu
sekitar 3 jam dengan menggunakan mobil. Pada kecamatan ini tidak
terdapat perumahan elit layaknya di Sangatta, yang ada hanya rumahrumah sederhana yang saling berdekatan.

Sepaso Timur RT 15 yang terisolir, Kami Ingin Sekolah Papa..


Saya ditugaskan kala itu untuk sweeping ke daerah Sepaso
Timur, RT 15, wilayah ini masih bagian dari Kecamatan Bengalon. Saat
perjalanan menuju ke Sepaso Timur, mobil yang membawa kami
tersesat di dalam hutan yang kanan kirinya terbakar dan asap dimanamana. Wajar kalau saya panik, pak supir bilang berdoalah karena kalau
sampai hujan turun, kemungkinan mobil ga bisa jalan karena jalananya
bukan aspal, melainkan tanah merah yang berlumpur. Kami berputarputar mencari arah jalan yang benar, hingga pada akhirnya kami
menemukan jajaran tanaman sawit dan sampailah kami setelah 3 jam
mencari RT 15 ini.

Gambar 5. Kebun Sawit


Sumber: Dokumentasi Peneliti
Tibalah kami di permukiman warga dengan tampilan rumah kayu
yang sangat sederhana. Anak-anak kecil berkerumunan, ya hanya ada
anak-anak saja saat kami kesana, ketika kami tanyakan dimana
orangtua mereka, mereka menjawab bahwa orang tua mereka sedang
ke ladang sawit. Kami menunggu sampai sore hingga orang tua mereka
datang. Tak satu pun dari anak-anak tersebut yang bersekolah, ya
mereka tidak sekolah. Kami tidak menemukan adanya sekolah dasar
didaerah tersebut, pun tidak ada faslitas kesehatan primer. Mereka
bermain-main di tanah tanpa menggunakan alas kaki.
Ketika orang tua mereka pulang dari ladang sawit kami mulai
bercakap dengan mereka. Sepaso Timur, RT 15 ini merupakan
pemukiman homogen etnik NTT, mereka cenderung tertutup, butuh
sekitar setengah jam kami membaur dengan mereka hingga mereka
mau bercakap dengan kami. Anak-anak mereka yang telah remaja pun
tidak sekolah sedari kecil, mereka yang remaja ikut berkebun sawit

bersama orang tuanya, karena dapat menambah penghasilan keluarga.


Mereka digaji satu juta rupiah per orang.
Selain aksesibilitas menuju puskesmas dan sekolah yang jauh,
anak-anak di komunitas tersebut semuanya menderita kecacingan.
Mereka sempat meminta kepada kami apakah ada obat cacing. Mereka
bercerita bahwa feses anak-anaknya ada cacingnya, begitupun dengan
orang

tuanya.

Secara

personal

hygiene

memang

tidak

bersih

sepanjang saya mengamati responden.


Akhirnya yang kami khawatirkan tiba juga, hujan deras datang
dan mobil yang membawa kami hampir masuk jurang. Disaat genting
seperti itu saya masih memikirkan mereka, adakah pemerintah
menengok sejenak ke tempat ini?.

Beri Nilai