Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

LATAR BELAKANG
Miopia adalah salah satu dari tiga gangguan refraksi yang umum

terdeteksi, dimana dua lainnya adalah hipermetropia dan astigmatisme. Gangguan


refraksi terjadi ketika sinar cahaya yang masuk ke mata tidak difokuskan di retina.
Pada miopia, sinar cahaya yang masuk ke mata jatuh di depan retina dan sebagai
akibatnya muncul keluhan gangguan penglihatan jarak jauh. Hal ini disebabkan
karena terjadi perubahan panjang bola mata yang tidak normal (George & Joseph,
2014).
Miopia adalah kelainan mata yang paling umum di seluruh dunia.
Prevalensi miopia adalah 0,12% - 3,8% di Afrika, 24% - 27,8% di Eropa, 30% di
Jepang, 40% di Mesir, 30% di Amerika Serikat. Diperkirakan 49.300.000 dari
anak dibawah 15 tahun memiliki gangguan refraksi dan merupakan penyebab
paling umum dari kebutaan reversibel di India (George & Joseph, 2014).
Nilai prevalensi di Negara-negara Asia Timur dan Asia Selatan secara
umum memiliki jumlah yang lebih tinggi dibandingkan dengan Negara lain.
Penelitian terbaru mengenai prevalensi miopia di China menunjukan terdapat
16,2% anak usia sekolah dengan usia antara 5-15 tahun di daerah pedesaan
penderita miopia. Berhubungan dengan itu, nilai prevalensi miopia dilaporkan
lebih tinggi pada anak dengan usia yang sama di daerah perkotaan yaitu China
Selatan seperti, 38,1% di Guangzhou dan 36,7% di Hong Kong. Prevalensi miopia
pada anak usia 7-17 tahun sangat rendah di berbagai Negara di Asia Timur
seperti, daerah perdesaan Mongolian 5,8%. Pada anak usia 5-15 tahun di Nepal
terdapat 1,2% penderita miopia (Foster & Jiang, 2014).
Di Indonesia, gangguan penglihatan akibat kelainan refraksi dengan
prevalensi sebesar 22,1%, merupakan masalah yang harus segera ditangani.
Sekitar 10% dari 66 juta anak usia sekolah (5-19 tahun) menderita kelainan
refraksi. Tetapi, sampai saat ini angka pemakaian kaca mata koreksi masih sangat
rendah yaitu sekitar 12,5% dari prevalensi tersebut. Apabila kondisi ini tidak

ditangani maka akan berdampak negatif pada perkembangan kecerdasan anak dan
proses pembelajaran di sekolah. Akibatnya dalam jangka panjang hal ini akan
mempengaruhi produktivitas dan mutu angkatan kerja (usia 15-55 tahun) yang
diperkirakan sekitar 95 juta orang (Suhardjo & Hartono, 2007).
Miopia merupakan salah satu dari lima besar penyebab kebutaan, sehingga
pengaruh sosial ekonominya patut dipertimbangkan. Penyebab miopia belum
diketahui dengan pasti, namun diduga berhubungan dengan faktor genetik dan
lingkungan. Beberapa faktor resiko yang berperan dalam terjadinya miopia
diantaranya adalah aktivitas melihat dekat, seperti membaca, menulis atau
pekerjaan lain yang memerlukan penglihatan dekat. Tingkat pendidikan dan sosio
ekonomi berpengaruh pada insiden miopia dimana aktivitas melihat dekat sering
dikerjakan (Dandona & Dandona, 2001).
Studi prevalensi berbasis populasi menunjukkan peningkatan prevalensi
miopia di Singapura dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi, tempat tinggal
yang lebih baik, pendapatan bulanan individu yang lebih tinggi dan pekerjaan
yang berhubungan dengan aktivitas melihat dekat setelah disesuaikan pada usia.
Peluang lebih tinggi untuk menderita miopia juga ditemukan pada anak-anak
Korea dari keluarga berpenghasilan tinggi. Anak penderita miopia memiliki faktor
keturunan yang sangat signifikan pada keluarga dengan tingkat pendidikan yang
lebih tinggi, pendapatan orang tua yang lebih tinggi, dan pekerjaan professional
(Foster & Jiang, 2014).
Berdasarkan data di atas, prevalensi miopia pada anak Sekolah Dasar
dengan rentang usia 7-12 tahun menunjukan angka yang cukup tinggi. Hal
tersebut memiliki dampak negatif terhadap perkembangan suatu daerah,
dikarenakan progresivitas miopia yang dapat menjadi kebutaan merupakan
masalah yang serius.
Dalam Islam, faktor-faktor risiko penyebab miopia seperti membaca,
menulis, menggunakan komputer, bermain video game dan berbagai aktivitas
jarak dekat lainnya yang memiliki sifat kemudharatan sesuai dengan kaidah
dharar harus dihilangkan.

1.2

PERUMUSAN MASALAH
Miopia merupakan salah satu penyebab terbesar kebutaan dan memiliki

prevalensi yang cukup tinggi. Merujuk dari masalah miopia di Jakarta, terdapat
suatu penelitian yang dilakukan di sebuah sekolah di Jakarta Selatan, dimana
didapatkan hasil bahwa 47% dari 127 sampel menderita miopia (Sahat, 2006).
Data tersebut memperlihatkan tingginya prevalensi miopia pada usia dini, dimana
seharusnya tidak terjadi miopia dikarenakan dapat menyebabkan kebutaan. Hal
tersebut mendorong peneliti untuk melakukan penelitian mengenai prevalensi
miopia pada SDN Menteng 01 dan SDN Cempaka Baru 11 Pagi.
1.3

PERTANYAAN PENELITIAN
1. Bagaimana prevalensi miopia pada siswa/i SDN Menteng 01 dan siswa/i
SDN Cempaka Baru 11 Pagi?
2. Bagaimana prevalensi miopia pada siswa/i SDN Menteng 01 dan siswa/i
SDN Cempaka Baru 11 Pagi berdasarkan derajat miopia?
3. Bagaimana prevalensi miopia pada siswa/i SDN Menteng 01 dan siswa/i
SDN Cempaka Baru 11 Pagi berdasarkan jenis kelamin?
4. Bagaimana prevalensi miopia pada siswa/i SDN Menteng 01 dan siswa/i
SDN Cempaka Baru 11 Pagi berdasarkan kelas?
5. Bagaimana pandangan Islam tentang miopia?

1.4

TUJUAN PENELITIAN
1. Mengetahui prevalensi miopia pada siswa/i SDN Menteng 01 dan siswa/i
SDN Cempaka Baru 11 Pagi.
2. Mengetahui prevalensi miopia pada siswa/i SDN Menteng 01 dan siswa/i
SDN Cempaka Baru 11 Pagi berdasarkan derajat miopia.
3. Mengetahui prevalensi miopia pada siswa/i SDN Menteng 01 dan siswa/i
SDN Cempaka Baru 11 Pagi berdasarkan jenis kelamin.
4. Mengetahui prevalensi miopia pada siswa/i SDN Menteng 01 dan siswa/i
SDN Cempaka Baru 11 Pagi berdasarkan kelas.
5. Mengetahui pandangan Islam tentang miopia.

1.5

MANFAAT PENELITIAN

Manfaat Aplikatif
1. Sebagai panduan bagi pemerintah, LSM, atau puskesmas setempat untuk
penyusunan program pencegahan miopia pada anak usia dini.
2. Sebagai tolak ukur untuk melakukan pencegahan penurunan produktivitas
dan mutu angkatan kerja akibat miopia dari sekolah dasar terkait yang
berupa penyuluhan atau sejenisnya.