Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN KASUS

OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK

Pembimbing :

dr. Zulrafli, Sp.THT-KL

Disusun oleh :
Yuni Inri Yanti

112016056

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT TELINGA HIDUNG TENGGOROK,


KEPALA DAN LEHER (THT KL)
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
RUMAH SAKIT BAYUKARTA KARAWANG
Periode 26 November 2016 s/d 31 Desember 2016

KEPANITERAAN KLINIK
STATUS ILMU PENYAKIT THT
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
SMF PENYAKIT THT
RUMAH SAKIT BAYUKARTA
Nama Mahasiswa

: Yuni Inri Yanti (112016056)

Dokter Pembimbing

: dr. Zulrafli, Sp.THT-KL.

Tanda Tangan :
...............................

I. IDENTITAS PASIEN
Nama lengkap

: Ny. C

Jenis kelamin : Perempuan

Tempat/tanggal lahir : Karawang, 11 Agustus 1960

Agama

: Islam

Umur

: 56 tahun

Pendidikan

: SLTA

Pekerjaan

: Swasta

Suku Bangsa : Jawa

Alamat

: Sindang Karya, Karawang

Status

: Sudah Menikah

II. ANAMNESIS
Diambil dari

: Autoanamnesis

Tanggal

: 20 Desember 2016

Pukul

: 17.20 WIB

KELUHAN UTAMA
Keluar cairan dari telinga kiri sejak 2 minggu yang lalu.

KELUHAN TAMBAHAN

.
2

Telinga kiri nyeri, pusing sampai muntah, telinga kanan dan kiri ada rasa gatal.

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Pasien datang ke poliklinik THT RS Bayukarta dengan keluhan Sejak 2 minggu yang
lalu telinga sebelah kiri mengeluarkan cairan lengket berwarna putih tapi tidak disertai darah,
cairan keluar setiap hari. Tidak ada riwayat demam tinggi, tidak gelisah dan dapat tidur tenang.
Sebelum ke poli THT RS Bayukarta pasien pernah berobat ke puskesmas, dan diberi obat,
namun tidak ada perubahan.
Pada saat ini pasien tidak pilek, batuk ataupun demam. Pasien tidak mengalami mimisan.
Nafsu makan pasien tidak mengalami penurunan. Tidak ditemukan sakit menelan pada pasien.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


Pasien tidak mempunyai riwayat darah tinggi, kencing manis, maupun penyakit jantung.
Pasien juga mengatakan tidak memiliki riwayat asma, riwayat alergi makanan maupun obat.

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


Di dalam keluarga pasien tidak ada yang memiliki gejala serupa seperti yang dialami pasien.

RIWAYAT PENGOBATAN
Pasien sudah mengkonsumsi obat untuk mengatasi keluhannya namun tidak membaik.

RIWAYAT ALERGI
Pasien tidak mempunyai riwayat alergi makanan dan obat-obatan.

RIWAYAT KEBIASAAN
Pasien sering mengkonsumsi makanan berminyak dan minuman yang dingin.

III.

PEMERIKSAAN FISIK
3

STATUS GENERALIS
Keadaan umum : tampak sakit ringan
Kesadaran

: kompos mentis

STATUS THT
TELINGA
KANAN
Bentuk daun telinga
Kelainan kongenital
Radang, tumor
Nyeri tekan tragus
Penarikan daun telinga
Kelainan pre-, infra-,
retroaurikuler
Region mastoid
Liang telinga

Membran timpani

KIRI

Normotia
Tidak tampak
Tidak tampak
Tidak ada
Nyeri (-)
Fistel (-),lesi (-), abses (-)

Normotia
Tidak tampak
Tidak tampak
Tidak ada
Nyeri (-)
Fistel (-),lesi (-), abses (-)

tanda randang (-),


Nyeri (-), radang (-)
Lapang, mukosa tenang,

tanda randang (-),


Nyeri (-), radang (-)
Lapang, mukosa tenang,

serumen minimal, sekret (-),

serumen minimal, sekret (+),

benjolan (-), udem (-)

benjolan (-), udem (-)


Reflek cahaya (-), membran

Reflek cahaya (+)

timpani perforasi sentral

Tes Penala
Rinne
Weber
Scwabach
Penala yang dipakai
Kesan : -

KANAN
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

KIRI
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

HIDUNG

Bentuk

: simetris, bengkak (-), massa (-), tumor(-),


luka (-)

Tanda peradangan

: tidak tampak

Daerah sinus frontalis dan maksilaris

: radang (-), edema (-), nyeri tekan (-)

Vestibulum

: lapang, mukosa tenang, lesi (-), massa


4

(-), nyeri (-)

Cavum nasi

: lapang, mukosa tenang, sekret (+)


bening, lesi (-), massa (-), benda asing(-),
passase udara (+)

Konka inferior kanan/kiri

: eutrofi, mukosa tenang, lesi (-)

Meatus nasi inferior kanan/kiri

: lapang, sekret (+), obstruksi (-)

Konka medius kanan/kiri

: tidak tampak

Meatus nasi medius kanan/kiri

: tidak tampak

Septum nasi

: deviasi (-), udem (-)

Rinofaring

Koana

: tidak dilakukan

Septum nasi posterior

: tidak dilakukan

Muara tuba eustachius

: tidak dilakukan

Tuba eustachius

: tidak dilakukan

Torus tubarius

Post nasal drip

: tidak dilakukan
: tidak dilakukan

Pemeriksaan Transluminasi

Sinus frontalis kanan, grade

: tidak dilakukan

Sinus frontalis kiri, grade

: tidak dilakukan

Sinus maksilaris kanan, grade

: tidak dilakukan

Sinus maksilaris kiri, grade

: tidak dilakukan

TENGGOROK
Faring

Dinding faring

: hiperemis(+), eksudat (+),edema (-), massa (-), granul (-)

Arcus

: simetris

Tonsil

: T1 T1, hiperemis, detritus (-), kripta melebar(-)


5

Uvula

: di tengah,tidak memanjang (-), edema (-), deviasi (-)

Gigi

: tidak lengkap, karies (+)

Oral hygene

: kurang, tidak terlalu terawat, agak berbau

Lain-lain

:-

Laring

Epiglottis

: tidak dilakukan

Plica vocalis

: tidak dilakukan

Arytenoid

: tidak dilakukan

Ventricular band

: tidak dilakukan

Pita suara

: tidak dilakukan

Rima glottis

: tidak dilakukan

Cincin trakea

: tidak dilakukan

Sinus piriformis

: tidak dilakukan

Pembesaran KGB Leher: massa (-), benjolan (-), hematom (-), udem (-)

IV.RESUME
Pasien datang ke poliklinik THT RS Bayukarta dengan keluhan Sejak 2 minggu yang
lalu telinga sebelah kiri mengeluarkan cairan lengket berwarna putih tapi tidak disertai darah,
cairan keluar setiap hari. Tidak ada riwayat demam tinggi, tidak gelisah dan dapat tidur tenang.
Sebelum ke poli THT RS Bayukarta pasien pernah berobat ke puskesmas, dan diberi obat,
namun tidak ada perubahan.
Pada saat ini pasien tidak pilek, batuk ataupun demam. Pasien tidak mengalami mimisan.
Nafsu makan pasien tidak mengalami penurunan. Tidak ditemukan sakit menelan pada pasien.
Pasien tidak memiliki riwayat hipertensi, diabetes mellitus, penyakit jantung, penyakit asma atau
riwayat alergi makanan dan obat. Pada pemeriksaan telinga di dapatkan sekret di telinga kiri,
refleks cahaya negatif di telinga kiri dan membran timpani perforasi sentral, didapatkan juga
tonsil kanan dan kiri hiperemis, tetapi tidak tampak adanya perbesaran tonsil. Tonsil ukuran T16

T1, tidak ada kripta ataupun detritus. Pada pemeriksaan hidung dan telinga tidak ditemukan
adanya kelainan.

V.

DIFFERENTIAL DIAGNOSIS
Otitis Media Supuratif Kronia Tipe Aman

VI.

WORKING DIAGNOS
Otitis Media Supuratif Kronia Tipe Bahaya

VII. PEMERIKSAAN PENUNJANG YANG DIANJURKAN

Audiometri
Foto Rontgen Mastoid (Posisi Shuller)

VIII. PENATALAKSANAAN
Larutan H202 3% diberikan untuk 3-5 hari
Setelah sekret berkurang diberikan tetes telinga yang mengandung antibiotik dan
kortikosteroid selama1-2 minggu.
Jika sudah tenang diberikan antibiotika oral Ampicilin atau Eritromisin bila pasien
alergi terhadap Penicillin. Jika dicurigai resisten maka diberikan ampicilin asam
klavulanat. Namun cara pemilihan antibiotika yang paling baik ialah berdasarkan
kultur kuman penyebab dan uji resistensi.
Bila sekret telah kering, tetapi perforasi masih ada setelah diobservasi selama 2 bulan
maka dilakukan miringoplasti atau timpanoplasti.

IX.

PROGNOSIS
Quo ad vitam
Quo ad functionam
Quo ad sanationam

X.

: ad Bonam
: ad Bonam
: ad Bonam

EDUKASI

Hindari air masuk ke telinga ketika mandi


Hindari aktivitas yang berhubungan dengan air yang memungkinkan air masuk ke

telinga seperti berenang


Jangan membersihkan telinga sendiri dengan cotton bud
Nutrisi yang cukup dan seimbang untuk mencegah penyakit ISPA
Istirahat yang cukup dan minum obat yang teratur.

TINJAUAN PUSTAKA
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) atau yang biasa disebut congek adalah radang
kronis telinga tengah dengan adanya lubang (perforasi) pada gendang telinga (membran timpani)
dan riwayat keluarnya cairan (sekret) dari telinga (otorea) lebih dari 2 bulan, baik terus menerus
atau hilang timbul. Sekret mungkin serous, mukous, atau purulen.1
8

Otitis media supuratif kronik merupakan penyakit THT yang paling banyak ditemukan di
negara sedang berkembang. Secara umum, insiden OMSK dipengaruhi oleh ras dan faktor
sosioekonomi. Prevalensi OMSK di Indonesia adalah 3,8% dan termasuk dalam klasifikasi tinggi
dibandingkan dengan beberapa negara lain. Berdasarkan Survei Nasional Kesehatan Indera
Penglihatan dan Pendengaran oleh Departemen Kesehatan R.I tahun 1994-1996, angka kesakitan
(morbiditas) Telinga, Hidung, dan Tenggorok (THT) di Indonesia sebesar 38,6% dengan
prevalensi morbiditas tertinggi pada kasus telinga dan gangguan pendengaran yaitu sebesar
38,6% dan prevalensi otitis media supuratif kronis antara 2,1-5,2%.1
OMSK dapat terbagi atas 2, yaitu otitis media supuratif kronik tubotimpani dan otitis
media supuratif kronik atikoantral. OMSK atikoantral merupakan bentuk yang paling berbahaya
karena sifatnya yang dapat mendestruksi jaringan sekitar sehingga dapat menimbulkan
komplikasi yang lebih berat.

PEMBAHASAN
Definisi
Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba
eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid.
Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) atau yang biasa disebut congek adalah radang
kronis telinga tengah dengan adanya lubang (perforasi) pada gendang telinga (membran timpani)
dan riwayat keluarnya cairan (sekret) dari telinga (otorea) lebih dari 2 bulan, baik terus menerus
atau hilang timbul. Sekret mungkin serous, mukous, atau purulen.2
Otitis Media Akut (OMA) dengan perforasi membran timpani dapat menjadi otitis media
supuratif kronis apabila prosesnya sudah lebih dari 2 bulan. Beberapa faktor yang menyebabkan
OMA menjadi OMSK, antara lain: terapi yang terlambat diberikan, terapi yang tidak adekuat,
virulensi kuman yang tinggi, daya tahan tubuh pasien yang rendah (gizi kurang), dan higiene
yang buruk.
Anatomi Telinga Tengah
Telinga tengah terdiri atas: membran timpani, kavum timpani, processus mastoideus, dan
9

tuba eustachius.
1.

Membran Timpani
Membran timpani dibentuk dari dinding lateral kavum timpani dan memisahkan liang

telinga luar dari kavum timpani. Membran ini memiliki panjang vertikal rata-rata 9-10 mm,
diameter antero-posterior kira-kira 8-9 mm, dan ketebalannya rata-rata 0,1 mm .Letak membran
timpani tidak tegak lurus terhadap liang telinga akan tetapi miring yang arahnya dari belakang
luar ke muka dalam dan membuat sudut 450 dari dataran sagital dan horizontal. Membran timpani
berbentuk kerucut, dimana bagian puncak dari kerucut menonjol ke arah kavum timpani yang
dinamakan umbo. Dari umbo ke muka bawah tampak refleks cahaya (cone of ligt).
Membran timpani mempunyai tiga lapisan yaitu :1
a)

Stratum kutaneum (lapisan epitel) berasal dari liang telinga.

b)

Stratum mukosum (lapisan mukosa) berasal dari kavum timpani.

c)

Stratum fibrosum (lamina propria) yang letaknya antara stratum kutaneum dan
mukosum.

Secara Anatomis membran timpani dibagi dalam 2 bagian :


a.

Pars tensa
Bagian terbesar dari membran timpani yang merupakan permukaan yang tegang dan

bergetar, sekelilingnya menebal dan melekat pada anulus fibrosus pada sulkus timpanikus bagian
tulang dari tulang temporal.
Pars flaksida atau membran Shrapnell.

Letaknya di bagian atas muka dan lebih tipis dari pars tensa. Pars flaksida dibatasi oleh 2
lipatan yaitu :
Plika maleolaris anterior (lipatan muka).
Plika maleolaris posterior (lipatan belakang).
Membran timpani terletak dalam saluran yang dibentuk oleh tulang dinamakan sulkus
timpanikus. Akan tetapi bagian atas muka tidak terdapat sulkus ini dan bagian ini disebut
incisura timpanika (rivini). Permukaan luar dari membran timpani disarafi oleh cabang nervus
10

aurikulo temporalis dari nervus mandibula dan nervus vagus. Permukaan dalam disarafi oleh
nervus timpani cabang dari nervus glossofaringeal.
Aliran darah membrana timpani berasal dari permukaan luar dan dalam. Pembuluhpembuluh epidermal berasal dari aurikula yang merupakan cabang dari arteri maksilaris interna.
Permukaan mukosa telinga tengah didarahi oleh arteri timpani anterior cabang dari arteri
maksilaris interna dan oleh stylomastoid cabang dari arteri aurikula posterior.
2.

Kavum Timpani
Kavum timpani terletak di dalam pars petrosa dari tulang temporal, bentuknya bikonkaf,

atau seperti kotak korek api. Diameter antero-posterior atau vertikal 15 mm, sedangkan diameter
transversal 2-6 mm. Kavum timpani mempunyai 6 dinding yaitu : bagian atap, lantai, dinding
lateral, medial, anterior, dan posterior.
Kavum timpani terdiri dari :1,5
a.

Tulang-tulang pendengaran, terbagi atas: malleus (hammer/martil), inkus

b.

(anvil/landasan), stapes (stirrup/pelana)


Otot, terdiri atas: otot tensor timpani (muskulus tensor timpani) dan otot stapedius

(muskulus stapedius).
c.
Saraf korda timpani.
d.
Saraf pleksus timpanikus.
3.

Processus mastoideus
Rongga mastoid berbentuk seperti bersisi tiga dengan puncak mengarah ke kaudal. Atap

mastoid adalah fosa kranii media. Dinding medial adalah dinding lateral fosa kranii posterior.
Sinus sigmoid terletak di bawah duramater pada daerah ini. Pada dinding anterior mastoid
terdapat aditus ad antrum.
4.

Tuba eustachius.
Tuba eustachius disebut juga tuba auditori atau tuba faringotimpani berbentuk seperti huruf

S. Tuba ini merupakan saluran yang menghubungkan kavum timpani dengan nasofaring. Pada
orang dewasa panjang tuba sekitar 36 mm berjalan ke bawah, depan dan medial dari telinga
tengah dan pada anak dibawah 9 bulan adalah 17,5 mm.
Tuba terdiri dari 2 bagian yaitu :
11

a.

Bagian tulang terdapat pada bagian belakang dan pendek (1/3 bagian).

b.

Bagian tulang rawan terdapat pada bagian depan dan panjang (2/3 bagian).

Gambar 1. Anatomi Telinga.


Epidemiologi
Otitis media supuratif kronik merupakan penyakit THT yang paling banyak ditemukan di
negara sedang berkembang. Secara umum insiden OMSK dipengaruhi oleh ras dan faktor
sosioekonomi. Misalnya, OMSK lebih sering dijumpai pada orang Eskimo dan Indian Amerika,
anak-anak aborigin Australia dan orang kulit hitam di Afrika Selatan. Walaupun demikian, lebih
dari 90% beban dunia akibat OMSK ini dipikul oleh negara-negara di Asia Tenggara, daerah
Pasifik Barat, Afrika, dan beberapa daerah minoritas di Pasifik. Kehidupan sosial ekonomi yang
rendah, lingkungan kumuh, dan status kesehatan serta gizi yang jelek merupakan faktor yang
menjadi dasar untuk meningkatnya prevalensi OMSK pada negara yang sedang berkembang.3
Survei prevalensi di seluruh dunia menunjukkan bahwa beban dunia akibat OMSK
melibatkan 65330 juta orang dengan telinga berair, dimana 60% di antaranya (39200 juta)
menderita kurangnya pendengaran yang signifikan. Secara umum, prevalensi OMSK di
Indonesia adalah 3,8% dan termasuk dalam klasifikasi tinggi dalam tingkatan klasifikasi
insidensi. Pasien OMSK meliputi 25% dari pasien-pasien yang berobat di poliklinik THT rumah
sakit di Indonesia. Berdasarkan Survei Nasional Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran
oleh Departemen Kesehatan R.I tahun 1994-1996, angka kesakitan (morbiditas) Telinga, Hidung,
12

dan Tenggorok (THT) di Indonesia sebesar 38,6% dengan prevalensi morbiditas tertinggi pada
kasus telinga dan gangguan pendengaran yaitu sebesar 38,6% dan prevalensi otitis media
supuratif kronis antara 2,1-5,2%.4 Data poliklinik THT RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2006
menunjukkan pasien OMSK merupakan 26% dari seluruh kunjungan pasien.3
Klasifikasi
OMSK dapat dibagi atas 2 tipe, yaitu :
a)

Tipe tubotimpani (tipe jinak/tipe aman/tipe rhinogen)


Proses peradangan pada OMSK tipe tubotimpani hanya terbatas pada mukosa saja dan

biasanya tidak mengenai tulang. Tipe tubotimpani ditandai oleh adanya perforasi sentral atau
pars tensa dan gejala klinik yang bervariasi dari luas dan keparahan penyakit. Beberapa faktor
lain yang mempengaruhi keadaan ini terutama patensi tuba eustachius, infeksi saluran nafas atas,
pertahanan mukosa terhadap infeksi yang gagal pada pasien dengan daya tahan tubuh yang
rendah. Disamping itu campuran bakteri aerob dan anaerob, luas dan derajat perubahan mukosa,
serta migrasi sekunder dari epitel skuamosa juga berperan dalam perkembangan tipe ini. Sekret
mukoid kronis berhubungan dengan hiperplasia goblet sel, metaplasia dari mukosa telinga tengah
pada tipe respirasi dan mukosiliar yang jelek.
b) Tipe atikoantral (tipe ganas/tipe tidak aman/tipe tulang)
Pada tipe ini ditemukan adanya kolesteatom dan berbahaya. Perforasi tipe ini letaknya
marginal atau di atik yang lebih sering mengenai pars flaksida. Karakteristik utama dari tipe ini
adalah terbentuknya kantong retraksi yang berisi

tumpukan keratin sampai menghasilkan

kolesteatom.
Kolesteatom adalah suatu massa amorf, konsistensi seperti mentega, berwarna putih, terdiri
dari lapisan epitel bertatah yang telah mengalami nekrotik. Kolesteatom merupakan media yang
baik untuk pertumbuhan kuman, yang paling sering adalah proteus dan pseudomonas. Hal ini
akan memicu respon imun lokal sehingga akan mencetuskan pelepasan mediator inflamasi dan
sitokin. Sitokin yang dapat ditemui dalam matrik kolesteatom adalah interleukin-1, interleukin-6,
tumor necrosis factor-, dan transforming growth factor. Zat-zat ini dapat menstimulasi sel-sel
keratinosit matriks kolesteatom yang bersifat hiperproliferatif, destruktif, dan mampu
berangiogenesis. Massa kolesteatom ini dapat menekan dan mendesak organ sekitarnya serta
13

menimbulkan nekrosis terhadap tulang. Terjadinya proses nekrosis terhadap tulang diperhebat
oleh reaksi asam oleh pembusukan bakteri.1,3,5
Kolesteatom dapat dibagi atas 2 tipe yaitu:5
1.

Kongenital

2.

Didapat.
Kolesteatom didapat dapat terbagi atas:

Primary acquired cholesteatoma.


Kolesteatom yang terjadi tanpa didahului oleh perforasi membran timpani pada daerah
atik atau pars flasida.
Secondary acquired cholesteatoma.
Kolesteatoma yang terbentuk setelah terjadi perforasi membran timpani. Kolesteatom
terbentuk sebagai akibat dari masuknya epitel kulit dari liang telinga atau dari pinggir
perforasi membran timpani ke telinga tengah (teori migrasi) atau terjadi akibat metaplasia
mukosa kavum timpani karena iritasi infeksi yang berlansung lama (teori metaplasia)

Patogenesis
OMSK dimulai dari episode infeksi akut terlebih dahulu. Patofisiologi dari OMSK dimulai
dari adanya iritasi dan inflamasi dari mukosa telinga tengah yang disebabkan oleh multifaktorial,
diantaranya infeksi yang dapat disebabkan oleh virus atau bakteri, gangguan fungsi tuba, alergi,
kekebalan tubuh turun, lingkungan dan sosial ekonomi. Kemungkinan penyebab terpenting
mudahnya anak mendapat infeksi telinga tengah adalah struktur tuba pada anak yang berbeda
dengan dewasa dan kekebalan tubuh yang belum berkembang sempurna sehingga bila terjadi
infeksi jalan napas atas, maka lebih mudah terjadi infeksi telinga tengah berupa Otitis Media
Akut (OMA).1,3 Respon inflamasi yang timbul adalah berupa udem mukosa. Jika proses inflamasi
ini tetap berjalan, pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya ulkus dan merusak epitel.
Mekanisme pertahanan tubuh penderita dalam menghentikan infeksi biasanya menyebabkan
terdapatnya jaringan granulasi yang pada akhirnya dapat berkembang menjadi polip di ruang
telinga tengah. Jika lingkaran antara proses inflamasi, ulserasi, infeksi dan terbentuknya jaringan
granulasi ini berlanjut terus akan merusak jaringan sekitarnya.4
Sembuh/ normal
14

Gangguan
tuba

Fgs.tuba tetap terganggu, Infeksi


(-)

Tekanan
negatif

efusi

OME

telinga tengah
Tuba tetap terganggu

Perubahan tekanan tibatiba

+ ada infeksi

Alergi
Infeksi
Otitis Media Akut
(OMA)

Otitis Media Supuratif


Kronik
(OMSK)

Sembuh sempurna

OMSK tipe benigna

Otitis media Efusi


(OME)

OMSK tipe maligna

Gambar 2. Patogenesis Otitis Media

Faktor Risiko
Terjadi OMSK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang pada anak, jarang
dimulai setelah dewasa. Faktor infeksi biasanya berasal dari nasofaring (adenoiditis, tonsilitis,
rinitis, sinusitis) dan mencapai telinga tengah melalui tuba eustachius. Fungsi tuba eustachius
yang abnormal merupakan faktor predisposisi yang dijumpai pada anak dengan palatoskisis dan
sindrom down. Adanya tuba patulous, menyebabkan refluk isi nasofaring yang merupakan faktor
insiden OMSK yang tinggi di Amerika Serikat. Faktor host yang berkaitan dengan insiden
OMSK yang relatif tinggi adalah defisiensi imun sistemik. Kelainan humoral, seperti
hipogammaglobulinemia dan cell-mediated (infeksi HIV) dapat timbul sebagai infeksi telinga
15

kronis.
Faktor-faktor risiko OMSK antara lain :1,3
1. Lingkungan.
Hubungan penderita OMSK dan faktor sosial ekonomi belum jelas, tetapi terdapat
hubungan erat antara penderita dengan OMSK dan sosio ekonomi, dimana kelompok sosio
ekonomi rendah memiliki insiden yang lebih tinggi. Tetapi sudah hampir dipastikan, bahwa hal
ini berhubungan dengan kesehatan secara umum, diet, dan tempat tinggal yang padat.
2. Genetik.
Faktor genetik masih diperdebatkan sampai saat ini, terutama apakah insiden OMSK
berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan sebagai faktor genetik. Sistem sel-sel
udara mastoid lebih kecil pada penderita otitis media, tapi belum diketahui apakah hal ini primer
atau sekunder.
3. Otitis media sebelumnya.
Secara umum dikatakan otitis media kronis merupakan kelanjutan dari otitis media akut
dan atau otitis media dengan efusi, tetapi tidak diketahui faktor apa yang menyebabkan satu
telinga dan berkembangnya penyakit ke arah keadaan kronis.
4. Infeksi
Proses infeksi pada otitis media supuratif kronis sering disebabkan oleh campuran
mikroorganisme aerobik dan anaerobik yang multiresisten terhadap standar yang ada saat ini.
Kuman penyebab yang sering dijumpai pada OMSK ialah Pseudomonas aeruginosa sekitar
50%, Proteus sp. 20% dan Staphylococcus aureus 25%.
Jenis bakteri yang ditemukan pada OMSK agak sedikit berbeda dengan kebanyakan infeksi
telinga lain, karena bakteri yang ditemukan pada OMSK pada umumnya berasal dari luar yang
masuk ke lubang perforasi tadi.
5. Infeksi saluran nafas atas.
Banyak penderita mengeluh sekret telinga sesudah terjadi infeksi saluran nafas atas. Infeksi
virus dapat mempengaruhi mukosa telinga tengah menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh
terhadap organisme yang secara normal berada dalam telinga tengah, sehingga memudahkan
pertumbuhan bakteri.
6. Autoimun.
16

Penderita dengan penyakit autoimun akan memiliki insidens lebih besar terhadap otitis
media kronis.
7. Alergi.
Penderita alergi mempunyai insiden otitis media kronis yang lebih tinggi dibanding yang
bukan alergi. Yang menarik adalah dijumpainya sebagian penderita yang alergi terhadap
antibiotik tetes telinga atau bakteri atau toksin-toksinnya, namun hal ini belum terbukti
kebenarannya.
8. Gangguan fungsi tuba eustachius.
Hal ini terjadi pada otitis kronis aktif, dimana tuba eustachius sering tersumbat oleh edema.
Beberapa faktor-faktor yang menyebabkan perforasi membran timpani menetap pada OMSK :1
a)

Infeksi yang menetap pada telinga tengah mastoid yang mengakibatkan produksi
sekret telinga purulen berlanjut.

b)

Berlanjutnya obstruksi tuba eustachius yang mengurangi penutupan spontan pada


perforasi.

c)

Beberapa perforasi yang besar mengalami penutupan spontan melalui mekanisme


migrasi epitel.

Pada pinggir perforasi, epitel skuamous dapat mengalami pertumbuhan yang cepat di atas sisi
medial dari membran timpani yang hal ini juga mencegah penutupan spontan dari perforasi.
Gejala Klinis
1.

Telinga berair (otorea)


Sekret bersifat purulen (kental, putih) atau mukoid (seperti air dan encer) tergantung
stadium peradangan. Sekret yang mukus dihasilkan oleh aktivitas kelenjar sekretorik
telinga tengah dan mastoid. Pada OMSK tipe ganas unsur mukoid dan sekret telinga tengah
berkurang atau hilang karena rusaknya lapisan mukosa secara luas. Suatu sekret yang encer
berair tanpa nyeri mengarah kemungkinan tuberkulosis.1,3

2.

Gangguan pendengaran
Ini tergantung dari derajat kerusakan tulang-tulang pendengaran. Biasanya dijumpai
tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran. Gangguan pendengaran mungkin
ringan sekalipun proses patologi sangat hebat, karena daerah yang sakit ataupun
17

kolesteatom dapat menghantar bunyi dengan efektif ke fenestra ovalis. Pada OMSK tipe
maligna biasanya didapat tuli konduktif berat karena putusnya rantai tulang pendengaran,
tetapi sering kali juga kolesteatom bertindak sebagai penghantar suara sehingga ambang
pendengaran yang didapat harus diinterpretasikan secara hati-hati.
Penurunan fungsi koklea biasanya terjadi perlahan-lahan dengan berulangnya infeksi
karena penetrasi toksin melalui jendela bulat (foramen rotundum) atau fistel labirin tanpa
terjadinya labirinitis supuratif. Bila terjadinya labirinitis supuratif akan terjadi tuli saraf
berat. Hantaran tulang dapat menggambarkan sisa fungsi koklea.
3.

Otalgia (nyeri telinga)


Adanya nyeri tidak lazim dikeluhkan penderita OMSK dan bila ada merupakan suatu
tanda yang serius. Pada OMSK keluhan nyeri dapat karena terbendungnya drainase pus.
Nyeri dapat berarti adanya ancaman komplikasi akibat hambatan pengaliran sekret,
terpaparnya durameter atau dinding sinus lateralis, atau ancaman pembentukan abses otak.
Nyeri telinga mungkin ada tetapi mungkin oleh adanya otitis eksterna sekunder. Nyeri
merupakan tanda berkembang komplikasi OMSK seperti petrositis, subperiosteal abses,
atau trombosis sinus lateralis.

4.

Vertigo
Vertigo pada penderita OMSK merupakan gejala yang serius lainnya. Keluhan
vertigo seringkali merupakan tanda telah terjadinya fistel labirin akibat erosi dinding
labirin oleh kolesteatom. Pada penderita yang sensitif, keluhan vertigo dapat terjadi karena
perforasi besar membran timpani yang akan menyebabkan labirin lebih mudah terangsang
oleh perbedaan suhu. Penyebaran infeksi ke dalam labirin juga akan menyebabkan keluhan
vertigo. Vertigo juga bisa terjadi akibat komplikasi serebelum. Fistula merupakan temuan
yang serius, karena infeksi kemudian dapat berlanjut dari telinga tengah dan mastoid ke
telinga dalam sehingga timbul labirinitis dan dari sana mungkin berlanjut menjadi
meningitis. Uji fistula perlu dilakukan pada kasus OMSK dengan riwayat vertigo. Uji ini
memerlukan pemberian tekanan positif dan negatif pada membran timpani.

Tanda-tanda klinis OMSK tipe maligna :


a.

Adanya abses atau fistel retroaurikular

b.

Jaringan granulasi atau polip di liang telinga yang berasal dari kavum timpani.

c.

Pus yang selalu aktif atau berbau busuk (aroma kolesteatom)


18

d.

Foto rontgen mastoid adanya gambaran kolesteatom.

Gambar 3. Perforasi Membran Timpani.

Gambar 4. Otitis Media Supuratif Kronik.

Diagnosis
Diagnosis OMSK ditegakan dengan cara:
1.

Anamnesis (history-taking)
Penyakit telinga kronis ini biasanya terjadi perlahan-lahan dan penderita seringkali datang

dengan gejala-gejala penyakit yang sudah lengkap. Gejala yang paling sering dijumpai adalah
telinga berair. Pada tipe tubotimpani sekretnya lebih banyak dan seperti benang, tidak berbau
bususk, dan intermiten. Sedangkan pada tipe atikoantral sekretnya lebih sedikit, berbau busuk,
kadangkala disertai pembentukan jaringan granulasi atau polip, dan sekret yang keluar dapat
bercampur darah. Ada kalanya penderita datang dengan keluhan kurang pendengaran atau telinga
keluar darah.
2.

Pemeriksaan otoskopi
Pemeriksaan otoskopi akan menunjukan adanya dan letak perforasi. Dari perforasi dapat

dinilai kondisi mukosa telinga tengah.


19

3.

Pemeriksaan audiologi
Evaluasi audiometri dan pembuatan audiogram nada murni untuk menilai hantaran tulang

dan udara penting untuk mengevaluasi tingkat penurunan pendengaran dan untuk menentukan
gap udara dan tulang. Audiometri tutur berguna untuk menilai speech reception threshold pada
kasus dengan tujuan untuk memperbaiki pendengaran.
4.

Pemeriksaan radiologi
Pemeriksaan radiografi daerah mastoid pada penyakit telinga kronis memiliki nilai

diagnostik yang terbatas bila dibandingkan dengan manfaat otoskopi dan audiometri.
Pemeriksaan radiologi biasanya memperlihatkan mastoid yang tampak sklerotik dibandingkan
mastoid yang satunya atau yang normal. Erosi tulang yang berada di daerah atik memberi kesan
adanya kolesteatom. Proyeksi radiografi yang sekarang biasa digunakan adalah proyeksi schuller
dimana pada proyeksi ini akan memperlihatkan luasnya pneumatisasi mastoid dari arah lateral
dan atas.
Pada CT scan akan terlihat gambaran kerusakan tulang oleh kolesteatom, ada atau tidaknya
tulangtulang pendengaran dan beberapa kasus terlihat fistula pada kanalis semisirkularis
horizontal.1,3
5.

Pemeriksaan bakteriologi
Walaupun perkembangan dari OMSK merupakan kelanjutan dari mulainya infeksi akut,

bakteri yang ditemukan pada sekret yang kronis berbeda dengan yang ditemukan pada otitis
media supuratif akut. Bakteri yang sering dijumpai pada OMSK adalah Pseudomonas
aeruginosa, Staphylococcus aureus, dan Proteus sp. Sedangkan bakteri pada otitis media
supuratif akut adalah Streptococcus pneumonie dan H. influenza.9
Infeksi telinga biasanya masuk melalui tuba dan berasal dari hidung, sinus paranasal,
adenoid, atau faring. Dalam hal ini penyebab biasanya adalah pneumokokus, streptokokus atau
H. influenza. Akan tetapi, pada OMSK keadaan ini agak berbeda karena adanya perforasi
membran timpani maka infeksi lebih sering berasal dari luar yang masuk melalui perforasi tadi.
Penatalaksanaan
Pada waktu pengobatan haruslah dievaluasi faktor-faktor yang menyebabkan penyakit
menjadi kronis, perubahan-perubahan anatomi yang menghalangi penyembuhan serta
menganggu fungsi, dan proses infeksi yang terdapat di telinga. Bila didiagnosis kolesteatom,
maka mutlak harus dilakukan operasi, tetapi obat -obatan dapat digunakan untuk mengontrol
20

infeksi sebelum operasi.6


Prinsip pengobatan tergantung dari jenis penyakit dan luas infeksi, yang dapat dibagi atas:
konservatif dan operasi
A.

Otitis Media Supuratif Kronis Benigna

Otitis media supuratif kronik benigna tenang


Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan, dan dinasehatkan untuk jangan mengorek
telinga, air jangan masuk ke telinga sewaktu mandi, dilarang berenang dan segera berobat
bila menderita infeksi saluran nafas atas. Bila fasilitas memungkinkan sebaiknya dilakukan
operasi rekonstruksi (miringoplasti, timpanoplasti) untuk mencegah infeksi berulang serta
gangguan pendengaran.
Otitis media supuratif kronik benigna aktif
Prinsip pengobatan OMSK adalah :
1.

Membersihkan liang telinga dan kavum timpani (toilet telinga)


Tujuan toilet telinga adalah membuat lingkungan yang tidak sesuai untuk perkembangan
mikroorganisme, karena sekret telinga merupakan media yang baik bagi perkembangan
mikroorganisme.

Cara pembersihan liang telinga (toilet telinga):1


a)

Toilet telinga secara kering (dry mopping).


Telinga dibersihkan dengan kapas lidi steril, setelah dibersihkan dapat di beri antibiotik

berbentuk serbuk. Cara ini sebaiknya dilakukan di klinik atau dapat juga dilakukan oleh anggota
keluarga. Pembersihan liang telinga dapat dilakukan setiap hari sampai telinga kering.
b)

Toilet telinga secara basah (syringing).


Telinga disemprot dengan cairan untuk membuang debris dan nanah, kemudian dibersihkan

dengan kapas lidi steril dan diberi serbuk antibiotik. Meskipun cara ini sangat efektif untuk
membersihkan telinga tengah, tetapi dapat mengakibatkan penyebaran infeksi ke bagian lain dan
ke mastoid. Pemberian serbuk antibiotik dalam jangka panjang dapat menimbulkan reaksi
sensitifitas pada kulit. Dalam hal ini dapat diganti dengan serbuk antiseptik, misalnya asam boric
dengan iodine.
c)

Toilet telinga dengan pengisapan ( suction toilet)


Pembersihan dengan suction pada nanah dengan bantuan mikroskopis operasi adalah

metode yang paling populer saat ini. Setelah itu dilakukan pengangkatan mukosa yang
21

berproliferasi dan polipoid sehingga sumber infeksi dapat dihilangkan. Akibatnya terjadi
drainase yang baik dan resorbsi mukosa. Pada orang dewasa yang kooperatif cara ini dilakukan
tanpa anastesi tetapi pada anak-anak diperlukan anestesi. Pencucian telinga dengan H 2O2 3%
akan mencapai sasarannya bila dilakukan dengan displacement methode seperti yang
dianjurkan oleh Mawson dan Ludmann.
Pemberian antibiotika :4

2.
a.

Antibiotik topikal
Pemberian antibiotik secara topikal pada telinga dan sekret yang banyak tanpa dibersihkan

dulu adalah tidak efektif. Bila sekret berkurang atau tidak progresif lagi diberikan obat tetes yang
mengandung antibiotik dan kortikosteroid. Irigasi dianjurkan dengan garam faal agar lingkungan
bersifat asam yang merupakan media yang buruk untuk tumbuhnya kuman.
Mengingat pemberian obat topikal dimaksudkan agar masuk sampai telinga tengah, maka
tidak dianjurkan antibiotik yang ototoksik misalnya neomisin dan lamanya tidak lebih dari 1
minggu. Cara pemilihan antibiotik yang paling baik dengan berdasarkan kultur kuman penyebab
dan uji resistensi.
Antibiotika topikal yang dapat dipakai pada otitis media supuratif kronik adalah :
1. Polimiksin B atau polimiksin E
Obat ini bersifat bakterisid terhadap kuman gram negatif.
2. Neomisin
Obat bakterisid pada kuman gram positif dan negatif. Toksik terhadap ginjal dan telinga.
3. Kloramfenikol
Obat ini bersifat bakterisid terhadap basil gram positif dan negatif kecuali Pseudomonas
aeruginosa.
b.

Antibiotik sistemik.
Pemilihan antibiotik sistemik untuk OMSK juga sebaiknya berdasarkan kultur kuman

penyebab. Pemberian antibiotika tidak lebih dari 1 minggu dan harus disertai pembersihan sekret
profus. Bila terjadi kegagalan pengobatan, perlu diperhatikan faktor penyebab kegagalan yang
ada pada penderita tersebut.
Dengan melihat konsentrasi obat dan daya bunuhnya terhadap mikroba, antimikroba dapat
dibagi menjadi 2 golongan. Golongan pertama daya bunuhnya tergantung kadarnya. Makin
22

tinggi kadar obat, makin banyak kuman terbunuh, misalnya golongan aminoglikosida dan
kuinolon. Golongan kedua adalah antimikroba yang pada konsentrasi tertentu daya bunuhnya
paling baik. Peninggian dosis tidak menambah daya bunuh antimikroba golongan ini, misalnya
golongan beta laktam.
Untuk bakteri aerob dapat digunakan golongan kuinolon (siprofloksasin dan ofloksasin)
atau golongan sefalosforin generasi III (sefotaksim, seftazidin, dan seftriakson) yang juga efektif
untuk Pseudomonas, tetapi harus diberikan secara parenteral.
Untuk bakteri anaerob dapat digunakan metronidazol yang bersifat bakterisid. Pada OMSK
aktif dapat diberikan dengan dosis 400 mg per 8 jam selama 2 minggu atau 200 mg per 8 jam
selama 2-4 minggu.4
Otitis media supuratif kronik maligna.1,3,5

B.

Pengobatan yang tepat untuk OMSK maligna adalah operasi. Pengobatan konservatif
dengan medikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan.
Bila terdapat abses subperiosteal, maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum
kemudian dilakukan mastoidektomi. Ada beberapa jenis pembedahan atau teknik operasi yang
dapat dilakukan pada OMSK dengan mastoiditis kronis, baik tipe benigna atau maligna, antara
lain :
1.

Mastoidektomi sederhana (simple mastoidectomy)

2.

Mastoidektomi radikal

3.

Mastoidektomi radikal dengan modifikasi

4.

Miringoplasti

5.

Timpanoplasti

6.

Pendekatan ganda timpanoplasti (combined approach tympanoplasty)


Tujuan operasi adalah menghentikan infeksi secara permanen, memperbaiki membran

timpani yang perforasi, mencegah terjadinya komplikasi atau kerusakan pendengaran yang lebih
berat, serta memperbaiki pendengaran.

23

24

Gambar 5. Pedoman Tatalaksana OMSK4


Komplikasi
25

Paparella dan Shumrick (1980) membagi komplikasi OMSK dalam :1,3


A.

Komplikasi otologik
1.

Mastoiditis koalesen

2.

Petrositis

3.

Paresis fasialis

4.

Labirinitis

B.

Komplikasi intrakranial
1.

Abses ekstradural

2.

Trombosis sinus lateralis

3.

Abses subdural

4.

Meningitis

5.

Abses otak

6.

Hidrosefalus otitis

Cara penyebaran infeksi :


1.

Penyebaran hematogen

2.

Penyebaran melalui erosi tulang

3.

Penyebaran melalui jalan yang sudah ada.

Perjalanan komplikasi infeksi telinga tengah ke intra kranial harus melewati 3 macam lintasan :1,7
1.

Dari rongga telinga tengah ke selaput otak


Melalui jalan yang sudah ada, seperti garis fraktur tulang temporal, bagian tulang yang

lemah atau defek karena pembedahan, dapat memudahkan masuknya infeksi.


2.

Menembus selaput otak.


Dimulai begitu penyakit mencapai dura, menyebabkan pakimeningitis. Dura sangat resisten

terhadap penyebaran infeksi, akan menebal, hiperemi, dan lebih melekat ketulang. Jaringan
granulasi terbentuk pada dura yang terbuka dan ruang subdura yang berdekatan.
3.

Masuk ke jaringan otak.


Pembentukan abses biasanya terjadi pada daerah diantara ventrikel dan permukaan korteks

atau tengah lobus serebelum. Cara penyebaran infeksi ke jaringan otak ini dapat terjadi baik
akibat tromboflebitis atau perluasan infeksi ke ruang Virchow Robin yang berakhir di daerah
vaskular subkortek.

26

Prognosis
Pasien dengan OMSK memiliki prognosis yang baik apabila dilakukan kontrol yang baik
terhadap proses infeksinya. Pemulihan dari fungsi pendengaran bervariasi dan tergantung dari
penyebab. Hilangnya fungsi pendengaran oleh gangguan konduksi dapat dipulihkan melalui
prosedur pembedahan, walaupun hasilnya tidak sempurna.
Keterlambatan dalam penanganan karena sifat tidak acuh dari pasien dapat menimbulkan
kematian yang merupakan komplikasi lanjut OMSK yang tidak ditangani dengan segera.
Kematian akibat OMSK terjadi pada 18,6% pasien karena telah mengalami komplikasi
intrakranial yaitu meningitis.

KESIMPULAN
Infeksi kronis telinga tengah atau Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK) adalah keluarnya
sekret dari telinga tengah, menetap atau berulang dengan perforasi membrana timpani dan
biasanya diikuti oleh penurunan pendengaran dalam beberapa tingkatan.
Infeksi kronis telinga tengah cenderung disertai sekret purulen. Proses infeksi ini sering
disebabkan oleh campuran mikroorganisme aerobik dan anaerobik yang multiresisten terhadap
standar yang ada saat ini. Kuman penyebab yang sering di jumpai pada OMSK ialah
Pseudomonas aeruginosa sekitar 50%, Proteus sp. Sekitar 20% dan Staphylococcus aureus 25%.
Penyakit ini sangat mengganggu dan sering menyulitkan baik dokter maupun pasiennya
sendiri. Perjalanan penyakit yang panjang, virulensi kuman yang tinggi, terputusnya terapi,
terlambatnya

pengobatan

spesialis

THT

dan

sosioekonomi

yang

rendah

membuat

penatalaksanaan penyakit ini tetap menjadi problem di bidang THT.


DAFTAR PUSTAKA
1.

Djaafar ZA. Kelainan telinga tengah. Dalam : Soepardi EA, Iskandar N, Ed. Buku
ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher. Edisi ketujuh. Jakarta :
FKUI;2007.
27

2.

Aboet A. Radang telinga tengah menahun. Pidato pengukuhan guru besar tetap

bagian ilmu kesehatan hidung telinga tenggorok bedah kepala leher. FK USU; 2007.
3.
Paparella MM, Adams GL, Levine SC. Penyakit telinga tengah dan mastoid.
Dalam : Effendi H, Santoso L, Ed. BOIES buku ajar penyakit THT. Edisi ke-6. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC;1997.
4.
Luran R, Wadji F. Pemakaian antibiotika topikal pada otitis media supuratif kronis
5.

jinak aktif. Cermin dunia kedokteran No. 132; 2010.h. 41-42.


Nursiah S. Pola kuman aerob penyebab OMSK dan kepekaan terhadap beberapa
antibiotika di bagian THT FK USU/RSPU. H. Adam Malik Medan. Medan : FK USU;
2003.

6.

WHO. Chronic Suppurative Otitis Media: Burden Illnes and Management

Options. Geneva, 2004.


7.
Helmi. Komplikasi otitis media supuratif kronis dan mastoiditis. Dalam : Soepardi
EA, Iskandar N, Ed. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorokan kepala leher.
Edisi ke-6. Jakarta: FKUI;2007.

28