Anda di halaman 1dari 32

JOURNAL READING

TOPIK : XEROPTHALMIA

Penulis :
Fransiska Kartika
030.11.108

Pembimbing :
dr. H. Liliek Isyoto Yahmo, Sp.M

KEPANITERAAN KLINIK DEPARTEMEN ILMU


KESEHATAN MATA
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR. KARDINAH
TEGAL
PERIODE 19 Desember 2016 21 Desember 2017
PROGRAM STUDI PROFESI DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TRISAKTI
LEMBAR PERSETUJUAN
1

Journal reading dengan topik :


XEROPTHALMIA

Telah diterima dan disetujui oleh pembimbing sebagai syarat


untuk menyelesaikan kepaniteraan klinik Departemen Ilmu Kesehatan Mata
di Rumah Sakit Umum Daerah Kardinah Tegal
periode 19 Desember 2016 21 Januari 2017

Pada hari ........ tanggal ..

Jakarta, ...... Januari 2017


Pembimbing,

(dr. Liliek Istoyo Yahmo, Sp.M)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan YME, karena atas berkatNya penulis dapat menyelesaikan tugas referat dalam kepaniteraan klinik Ilmu
Kesehatan Mata RSUD DR. Kardinah Tegal mengenai Xeropthalmia.

Terimakasih kepada pembimbing, dr. H. Liliek Isyoto Yahmo, Sp.M yang


telah membimbing saya dalam banyak hal dalam menjalani kepaniteraan klinik
Ilmu Penyakit Mata.
Penulis menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna, mengingat
terbatasnya kemampuan dan waktu yang ada. Oleh karena itu penulis
mengharapkan saran dan kritik yang kiranya dapat membangun. Besar harapan
penulis agar referat ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Akhir kata penulis mohon maaf karena masih terdapat banyak kekurangan
dalam penulisan referat ini.

Jakarta, Januari 2017


Penulis,

Fransiska Kartika
03011108

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.................................................................................................i
LEMBAR PERSETUJUAN....................................................................................ii
KATA PENGANTAR.............................................................................................iii
DAFTAR ISI...........................................................................................................iv
BAB 1

TINJAUAN PUSTAKA: Xeropthalmia...............................................1


1.1 Definisi..........................................................................................1
1.2 Etiologi..........................................................................................1
1.3 Epidemiologi.................................................................................2
1.4 Faktor risiko..................................................................................2
1.5 Tanda dan gejala............................................................................4
1.6 Diagnosis.......................................................................................8
1.7 Patogenesis..................................................................................12
1.8 Patofisiologi................................................................................13
1.9 Gambaran histopatologi..............................................................14
1.10 Penatalaksanaan..........................................................................15
1.11 Komplikasi..................................................................................17
1.12 Prognosis.....................................................................................18

BAB 2

JOURNAL READING........................................................................19

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................27

BAB 1
TINJAUAN PUSTAKA: Xeropthalmia

1.1 Definisi
Xerophtalmia adalah kelainan pada mata akibat kekurangan vitamin A.
Pada keadaan ini termasuk terjadinya kelainan anatomi bola mata dan
gangguan fungsi sel retina yang dapat berakibat kebutaan. Xerophtalmia
berasal dari bahasa Latin

mata kering, karena terjadi kekeringan pada

selaput lendir (konjungtiva) dan selaput bening (kornea) mata.1


1.2 Etiologi
Penyebab terjadinya xerophthalmia adalah karena kurangnya vitamin
A. Kekurangan vitamin A dapat terjadi pada semua umur akan tetapi
kekurangan yang disertai dengan kelainan terutama terdapat pada anak berusia
6 bulan sampai 4 tahun.2
Faktor-faktor yang menjadi penyebab tingginya kasus xerophthalmia
di Indonesia adalah:1
1. Konsumsi makanan yang tidak mengandung cukup vitamin A atau
Pro Vitamin A untuk jangka waktu yang lama.
2. Bayi tidak diberikan ASI eksklusif.
3. Menu tidak seimbang (kurang mengandung lemak, protein,
Zn/seng atau zat gizi lainnya) yang diperlukan untuk penyerapan
Vitamin A dalam tubuh.
4. Adanya gangguan penyerapan Vitamin A atau Pro Vitamin A
seperti pada penyakit-penyakit antara lain, diare kronik, KEP
(kekurangan energi protein) dan lain-lain.
5. Adanya kerusakan hati seperti pada kwashiorkor dan hepatitis
kronis, menyebabkan gangguan pembentukan RBP (Retinol
Binding Protein) dan pre-albumin yang penting dalam penyerapan
Vitamin A.
1

1.3 Epidemiologi
Kurang Vitamin A (KVA) masih merupakan masalah yang tersebar di
seluruh dunia terutama di negara berkembang seperti Indonesia dan dapat
terjadi pada semua umur terutama pada masa pertumbuhan. Hasil survei
menunjukkan kasus defisiensi vitamin A subklinis masih tinggi yang
ditunjukkan lebih dari 50 persen balita mempunyai kadar retinol serum < 20
mcg/dl. Data terbaru menunjukkan masih ditemukan kasus xeropthalmia 0,13
persen dan indeks retinol serum 14,6 persen, serta terjadi penurunan cakupan
suplementasi vitamin A secara nasional.3
Adanya krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak pertengahan
tahun 1997, dimana terjadi peningkatan kasus gizi buruk di berbagai daerah
mengakibatkan masalah KVA muncul kembali. Sampai saat ini masalah KVA
di Indonesia masih membutuhkan perhatian yang serius. Data laporan baik
dari SP2TP (Sistem Pencatatan dan Pelaporan Tingkat Puskesmas) maupun
data dari survei tidak mendukung, karena selama ini kasus xeroftalmia tidak
dilaporkan secara khusus dan dianggap sudah bukan menjadi prioritas masalah
kesehatan di Indonesia.4
1.4 Faktor Risiko
Faktor resiko terjadinya xeroftalmia dapat dipengaruhi oleh tiga faktor berikut
(Depkes RI, 2007):1
1. Faktor Sosial budaya dan lingkungan dan pelayanan kesehatan
a. Ketersediaan pangan sumber vitamin A
b. Pola makan dan cara makan
c. Adanya paceklik atau rawan pangan
d. Adanya tabu atau pantangan terhadap makanan tertentu terutama yang
merupakan sumber Vit A.
e. Cakupan imunisasi, angka kesakitan dan angka kematian karena
penyakit campak dan diare
f. Sarana pelayanan kesehatan yang sulit dijangkau

g. Kurang tersedianya air bersih dan kesehatan sanitasi lingkungan


h. Keadaan darurat antara lain bencana alam, perang dan kerusuhan
2. Faktor Keluarga
a. Pendidikan orang tua yang rendah akan berisiko lebih tinggi
kemungkinan anaknya menderita KVA karena pendidikan yang rendah
biasanya disertai dengan keadaan sosial ekonomi dan pengetahuan gizi
yang kurang.
b. Penghasilan keluarga yang rendah akan lebih berisiko mengalami
KVA. Walaupun demikian besarnya penghasilan keluarga tidak
menjamin anaknya tidak mengalami KVA, karena harus diimbangi
dengan pengetahuan gizi yang cukup sehingga dapat memberikan
makanan kaya vitamin A.
c. Jumlah anak dalam keluarga jika semakin banyak anak semakin
kurang perhatian orang tua dalam mengasuh anaknya.
d. Pola asuh anak yang mengarah pada kurangnya perhatian keluarga
terhadap pertumbuhan dan

perkembangan anak seperti pasangan

suami istri (pasutri) yang bekerja dan perceraian.


3. Faktor individu
a. Anak dengan Berat Badan Lahir Rendah (BB < 2,5 kg).
b. Anak yang tidak mendapat ASI Eksklusif dan tidak diberi ASI sampai
usia 2 tahun.
c. Anak yang tidak mendapat MP-ASI yang cukup baik kualitas maupun
kuantitas
d. Anak kurang gizi atau dibawah garis merah (BGM) dalam KMS.
e. Anak yang menderita penyakit infeksi (campak, diare, Tuberkulosis
(TBC), Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), pneumonia dan
kecacingan.
f. Frekuensi kunjungan ke posyandu, puskesmas atau pelayanan
kesehatan (untuk mendapatkan kapsul vitamin A dan imunisasi).

1.5 Tanda dan Gejala


Xeroftalmia biasanya merupakan akibat dari KVA yang progresif. KVA
dapat menyebabkan kelainan sistemik yang mempengaruhi jaringan epitel dari
organ-organ seluruh tubuh, termasuk paru-paru, usus, mata dan organ lain,
akan tetapi gambaran yang karakteristik langsung terlihat pada mata. Kelainan
kulit umumnya terlihat pada tungkai bawah bagian depan dan lengan atas
bagian belakang, kulit tampak kering dan bersisik seperti sisik ikan. Kelainan
ini selain disebabkan karena KVA dapat juga disebabkan karena kekurangan
asam lemak essensial, kurang vitamin golongan B atau Kurang Energi Protein
(KEP) tingkat berat atau gizi buruk.4
Gejala klinis KVA pada mata akan timbul bila tubuh mengalami KVA
yang telah berlangsung lama. Gejala tersebut akan lebih cepat timbul bila anak
menderita penyakit campak, diare, ISPA dan penyakit infeksi lainnya. Tandatanda dan gejala klinis KVA pada mata menurut klasifikasi WHO/USAID
UNICEF/HKI/ IVACG, 1996 sebagai berikut: 1
1. XN

: Rabun senja (hemeralopia, nyctalopia)

Gambar 1. Rabun senja


Tanda-tanda:
- Rabun senja terjadi akibat gangguan pada sel batang retina.

- Pada keadaan ringan, sel batang retina sulit beradaptasi di ruang yang
remang-remang setelah lama berada di cahaya terang
- Penglihatan menurun pada senja hari, dimana penderita tak dapat melihat
di lingkungan yang kurang cahaya, sehingga disebut rabun senja.
Untuk mendeteksi apakah anak menderita rabun senja denga cara :
a) Bila anak sudah dapat berjalan, anak tersebut akan membentur/
menabrak
benda didepannya, karena tidak dapat melihat.
b) Bila anak belum dapat berjalan, agak sulit untuk mengatakan anak
tersebut rabun senja. Dalam keadaan ini biasanya anak diam memojok bila
didudukkan ditempat kurang cahaya.
2. XIA

: Xerosis konjungtiva

Gambar 2. Xerosis konjungtiva


Tanda-tanda :
- Selaput lendir bola mata tampak kurang mengkilat atau terlihat sedikit
kering, berkeriput, dan berpigmentasi dengan permukaan kasar dan kusam.
- Orang tua sering mengeluh mata anak tampak kering atau berubah warna
kecoklatan.
3. XIB

: Xerosis konjungtiva disertai bercak bitot

Gambar 3. Xerosis konjungtiva disertai bercak bitot


Tanda-tanda :
- Tanda-tanda xerosis kojungtiva (X1A) ditambah bercak bitot yaitu
bercak putih seperti busa sabun atau keju terutama di daerah celah mata
sisi luar.
- Bercak ini merupakan penumpukan keratin dan sel epitel yang
merupakan tanda khas pada penderita xeroftalmia, sehingga dipakai
sebagai kriteria penentuan prevalensi kurang vitamin A dalam masyarakat.
Dalam keadaan berat :
- Tampak kekeringan meliputi seluruh permukaan konjungtiva.
- Konjungtiva tampak menebal, berlipat-lipat dan berkerut.
- Orang tua mengeluh mata anaknya tampak bersisik
4. X2

: Xerosis kornea

Gambar 4. Xerosis kornea


Tanda-tanda :
- Kekeringan pada konjungtiva berlanjut sampai kornea.
- Kornea tampak suram dan kering dengan permukaan tampak kasar.
- Keadaan umum anak biasanya buruk (gizi buruk dan menderita, penyakit
infeksi dan sistemik lain)
6

5. X3

: Keratomalasia dan ulkus kornea

Gambar 5. X3A

X3B

Tanda-tanda :
- Kornea melunak seperti bubur dan dapat terjadi ulkus.
- Tahap X3A : bila kelainan mengenai kurang dari 1/3 permukaan kornea.
- Tahap X3B : Bila kelainan mengenai semua atau lebih dari 1/3
permukaan kornea.
- Keadaan umum penderita sangat buruk.
- Pada tahap ini dapat terjadi perforasi kornea (kornea pecah)
Keratomalasia dan tukak kornea dapat berakhir dengan perforasi dan
prolaps jaringan isi bola mata dan membentuk cacat tetap yang dapat
menyebabkan kebutaan. Keadaan umum yang cepat memburuk dapat
mengakibatkan keratomalasia dan ulkus kornea tanpa harus melalui tahaptahap awal xeroftalmia.
6. XS

: Jaringan parut kornea (sikatriks/scar)

Gambar 6. Jaringan parut kornea (sikatriks/scar)


Kornea mata tampak menjadi putih atau bola mata tampak mengecil. Bila
luka pada kornea telah sembuh akan meninggalkan bekas berupa sikatrik

atau jaringan parut. Penderita menjadi buta yang sudah tidak dapat
disembuhkan walaupun dengan operasi cangkok kornea.

7. XF

: Fundus xeroftalmia

Gambar 7. Fundus xeroftalmia


Dengan opthalmoscope pada fundus tampak gambar seperti cendol.

XN, XIA, XIB, X2 biasanya dapat sembuh kembali normal dengan


pengobatan yang baik. Pada stadium X2 merupakan keadaan gawat darurat
yang harus segera diobati karena dalam beberapa hari bias berubah menjadi
X3. X3A dan X3B bila diobati dapat sembuh tetapi dengan meninggalkan
cacat yang bahkan dapat menyebabkan kebutaan total bila lesi (kelainan) pada
kornea cukup luas sehingga menutupi seluruh kornea (optic zone cornea).1

1.6 Penegakan Diagnosis


Diagnosis xeroftalmia ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan khusus. Pemeksisaan laboratorium dapat digunakan

untuk mendukung diagnose kekurangan vitamin A, bila secara klinis tidak


ditemukan

tanda-tanda

khas

KVA,

namun

hasil

pemeriksaan

lain

menunjukkan bahwa anak tersebut risiko tinggi untuk menderita KVA.


Pemeriksaan laboratorium lain dapat dilakukan untuk mengetahui penyakit
lain yang dapat memperparah seperti pada penderita malaria, TBC, Pneumonia
dan gangguan funsi hati.1

1. Anamnesis
Anamnesis dilakukan untuk mengetahui faktor risiko tinggi yang
menyebabkan anak rentan menderita xeroftalmia. Secara lengkapnya,
anamnesis yang perlu ditanyakan kepada penderita atau keluarga penderita
adalah sebagai berikut:
a. Identitas penderita dan orang tua
1) Nama
2) Umur
3) Jenis kelamin
4) Jumlah saudara dalam keluarga
5) Jumlah saudara balita dalam keluarga
6) Anak ke berapa
7) Berat Lahir : Normal/BBLR
8) Nama ayah/ibu
9) Alamat/tempat tinggal
10) Pendidikan
11) Pekerjaan
12) Status Perkawinan
b. Keluhan Penderita
1) Keluhan Utama: Ibu mengeluh anaknya tidak bisa melihat pada
sore hari (rabun senja) atau ada kelainan pada matanya. Kadang-

kadang keluhan utama tidak berhubungan dengan kelainan pada


mata seperti demam.
2) Keluhan Tambahan: Tanyakan keluhan lain pada mata tersebut dan
kapan terjadinya. Lalu upaya apa yang telah dilakukan untuk
pengobatannya.
c. Riwayat penyakit yang diderita sebelumnya
1) Apakah pernah menderita Campak dalam waktu < 3 bulan?
2) Apakah anak sering menderita diare dan atau ISPA?
3) Apakah anak pernah menderita Pneumonia?
4) Apakah anak pernah menderita infeksi cacingan?
5) Apakah anak pernah menderita Tuberkulosis?
d. Kontak dengan pelayanan kesehatan
Tanyakan apakah anak ditimbang secara teratur mendapatkan
imunisasi, mendapat suplementasi kapsul vitamin A dosis tinggi dan
memeriksakan kesehatan baik di posyandu atau puskesmas (cek dalam
buku KIA/KMS anak).
e. Riwayat pola makan anak
1) Apakah anak mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan?
2) Apakah anak mendapatkan MP-ASI setelah umur 6 bulan?
Sebutkan jenis dan frekuensi pemberiannya
3) Bagaimana cara memberikan makan kepada anak: Sendiri /
Disuapi.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mengetahui tanda-tanda atau
gejala klinis dan menentukan diagnosis serta pengobatannya, terdiri dari
pemeriksaan umum dan pemeriksaan khusus atau pemeriksaan mata.
Pemeriksaan umum dilakukan untuk mengetahui adanya penyakitpenyakit yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan timbulnya
xeroftalmia seperti gizi buruk, penyakit infeksi, dan kelainan fungsi hati.

10

Pemeriksaan mata untuk melihat tanda Xeroftalmia dengan menggunakan


senter yang terang (loop).1

Pemeriksaan umum meliputi pengukuran berat badan dan tinggi


badan (Antropometri) dan penilaian Status gizi untuk mengetahui apakah
anak menderita gizi kurang atau gizi buruk. Sedangkan pemeriksaan
khusus dilakukan dengan cara memeriksa adanya tanda-tanda xeroftalmia
seperti kulit kering atau bersisik. Pemeriksaan mata digunakan untuk
melihat tanda Xeroftalmia dengan menggunakan senter yang terang (loop).
Pada pemeriksaan mata perlu diperhatikan hal-hal berikut: 4
a. Apakah ada tanda kekeringan pada konjungtiva (X1A)
b. Apakah ada bercak bitot (X1B)
c. Apakah ada tanda-tanda xerosis kornea (X2)
d. Apakah ada tanda-tanda ulkus kornea dan keratomalasia (X3A/X3B)
e. Apakah ada tanda-tanda sikatriks akibat xeroftalmia (XS)
f. Apakah ada gambaran seperti cendol pada fundus oculi dengan
opthalmoscope (XF)
3. Pemeriksaan penunjang
a. Serum retinol merupakan pengukuran yang mahal tetapi langsung
menggunakan cairan kromatografi kinerja tinggi. Nilai kurang dari 0,7
mg/L pada anak-anak usia 12 tahun dianggap rendah.
b. Pada penelitian serum retinol binding protein (RBP) lebih mudah
untuk dilakukan dan lebih murah dibandingkan serum retinol, karena
RBP adalah protein dan dapat dideteksi oleh tes imunologi. RBP juga
senyawa yang lebih stabil dari retinol sehubungan dengan cahaya dan
suhu. Namun, tingkat keakuratan RBP kurang akurat, karena
dipengaruhi oleh konsentrasi proein serum dan karena jenis RBP tidak
dapat dibedakan
c. Uji adaptasi gelap.5
11

d. Sitologi impresi konjungtiva. Dari pemeriksaan sitologi konjungtiva


didapatkan keberadaan sel goblet dan sel-sel epitel abnormal yang
mengalami keratinisasi.5
e. Uji Schirmer. Untuk menilai kualitas air mata, menilai kecepatan
sekresi air mata dengan memakai kertas filter Whatman 41 bergaris
5mm-30mm dan salah satu ujungnya berlekuk berjarak 5 mm dari
ujung kertas.5
f. Pada anak-anak, film radiografi dari tulang panjang berguna saat
evaluasi untuk melihat pertumbuhan tulang dan untuk deposisi
berlebihan tulang peiosteal.6
g. Kadar albumin <2,5 mcg/dl, tetapi kadar albumin tidak bisa mengukur
secara langsung kadar vitamin A.6
h. Uji fungsi evaluasi elektrolit harus dilakukan untuk mengevaluasi
status gizi dan volum elektrolit.6
1.7 Patogenesis
Vitamin A merupakan body regulators dan berhubungan erat dengan
proses-proses metabolisme. Fungsi yang berhubungan dengan penglihatan
dijelaskan melalui mekanisme Rods yang ada di retina yang sensitif terhadap
cahaya dengan intensitas yang rendah, sedang Cones untuk cahaya dengan
intensitas yang tinggi dan untuk menangkap cahaya berwarna. Pigment yang
sensitif terhadap cahaya dari Rods disebut sebagai Rhodopsin, yang
merupakan kombinasi dari Retinal dan protein opsin.7
Sel reseptor pada retina, yaitu sel kerucut (sel konus) yang berisi
pigmen lembayung dan sel batang (sel basilus) yang berisi pigmen ungu akan
terurai pigmennya bila terkena sinar, terutama pigmen ungu yang terdapat
pada sel batang. Pigmen ungu yang terdapat pada sel basilus disebut
rodopsin, yaitu suatu senyawa protein dan vitamin A. Apabila terkena sinar,
misalnya sinar matahari, maka rodopsin akan terurai menjadi protein dan
vitamin A.8
Fungsi vitamin A bagi mata terutama pada proses penglihatan dimana
vitamin A berperan dalam membantu proses adaptasi dari tempat yang terang
ke tempat yang gelap. Selain itu vitamin A berguna bagi sel-sel epitel

12

termasuk sel-sel epitel pada selaput lendir mata untuk proses metabolisme.
Efek lain dari vitamin A pada penglihatan yang berpengaruh secara tidak
langsung ialah pada epitel kornea dan konjungtiva.3
Pada keadaan defisiensi vitamin A, epitel menjadi kering dan terjadi
keratinisasi seperti tampak pada gambaran xerophthalmia. Kelainan tersebut
bermula setelah terjadinya proses metaplasi sel-sel epitel, sehingga kelenjar
tidak memproduksi cairan yang dapat menyebabkan terjadinya kekeringan
pada mata, disebut xerosis konjungtiva. Bila kondisi ini berlanjut akan terjadi
yang disebut bercak Bitot (Bitot Spot). Xeroftalmia merupakan mata kering
yang terjadi pada selaput lendir (konjungtiva) dan kornea (selaput bening)
mata. Xeroftalmia yang tidak segera diobati dapat menyebabkan kebutaan.7
1.8 Patofisiologi
Terjadinya defisiensi vitamin A berkaitan dengan berbagai faktor
dalam hubungan yang komplek seperti halnya dengan masalah kekurangan
kalori protein (KKP). Makanan yang rendah dalam vitamin A biasanya juga
rendah dalam protein, lemak dan hubungannya antar hal-hal ini merupakan
faktor penting dalam terjadinya defisiensi vitamin A. Setelah dicerna, vitamin
pro A dilepaskan dari protein dalam lambung. Ester retinil ini kemudian
dihidrolisis untuk retinol dalam usus kecil, karena retinol lebih efisien
diserap. Karotenoid yang dibelah di mukosa usus menjadi molekul
retinaldehid, yang kemudian diubah menjadi retinol dan kemudian
diesterifikasi untuk menjadi ester retinil. Ester retinil dari retinoid dan asal
karotenoid diangkut melalui misel dalam drainase limfatik dari usus ke dalam
darah dan kemudian ke hati sebagai komponen dari kilomikron. Di dalam
tubuh, 50-80% dari vitamin A disimpan di hati, dimana ia terikat pada RBP
selular. Vitamin A yang tersisa disimpan ke dalam jaringan adiposa, paruparu, dan ginjal sebagai ester retinil, paling sering sebagai retinyl palmitate.6
Retinyl palmitate kemudian berjalan melalui sistem limfatik ke hati
untuk disimpan. Dengan adanya kebutuhan metabolik untuk vitamin A,
retinyl palmitate dihidrolisis dan retinol yang dibentuk kembali mengalami

13

perjalanan melalui aliran darah, yang melekat pada retinol binding protein
(RBP) untuk jaringan tempat yang membutuhkan. Penyimpanan zat didalam
tubuh yang memadai berupa Zn dan protein diperlukan untuk pembentukan
RBP, tanpa RBP, vitamin A tidak dapat diangkut ke jaringan target.6
Pigmen ungu yang terdapat pada sel basilus disebut rodopsin, yaitu
suatu senyawa protein dan vitamin A. Apabila terkena sinar, misalnya sinar
matahari, maka rodopsin akan terurai menjadi protein dan vitamin A.
Pembentukan kembali pigmen terjadi dalam keadaan gelap. Untuk
pembentukan kembali memerlukan waktu yang disebut adaptasi gelap
(disebut juga adaptasi rodopsin). Pada waktu adaptasi, mata sulit untuk
melihat. Pigmen lembayung dari sel konus merupakan senyawa iodopsin
yang merupakan gabungan antara retinin dan opsin. Ada tiga macam sel
konus, yaitu sel yang peka terhadap warna merah, hijau, dan biru. Dengan
ketiga macam sel konus tersebut mata dapat menangkap spektrum warna.
Kerusakan salah satu sel konus akan menyebabkan buta warna.7
Efek lain dari vitamin A pada penglihatan yang berpengaruh secara
tidak langsung ialah pada epitel kornea dan konjungtiva. Pada keadaan
defisiensi, epitel menjadi kering dan terjadi keratinisasi seperti tampak pada
gambaran Xerophthalmia. Xeroftalmia merupakan mata kering yang terjadi
pada selaput lendir (konjungtiva) dan kornea (selaput bening) mata.
Xeroftalmia yang tidak segera diobati dapat menyebabkan kebutaan.
Xeroftalmia terjadi akibat kurangnya konsumsi vitamin A pada bayi, anakanak, ibu hamil, dan menyusui.7
1.9 Gambaran Histopatologi

14

Gambar 9. Gambaran histopatologi Xerophthalmia.9

1.10 Penatalaksanaan
A. Jadwal dan Dosis pemberian kapsul vitamin A pada anak penderita
Xeroftalmia:1

15

Tabel 5. Jadwal dan dosis pemberian kapsul vitamin A.1


B. Pemberian Obat Mata
Obat tetes/ salep mata antibiotik tanpa kortikosteroid (tetrasiklin 1%,
Kloramfenikol 0.25-1% dan gentamisin 0.3%) diberikan pada penderita
X2,X3A,X3B dengan dosis 4 x 1 tetes/hari dan berikan juga tetes mata
atropin 1% 3 x 1 tetes/hari. Pengobatan dilakukan sekurang-kurangnya 7
hari sampai semua gejala pada mata menghilang. Mata yang terganggu
harus ditutup dengan kasa selama 3-5 hari hingga peradangan dan iritasi
mereda. Gunakan kasa yang telah dicelupkan kedalam larutan Nacl 0,26 dan
gantilah kasa setiap kali dilakukan pengobatan. Lakukan tindakan
pemeriksaan dan pengobatan dengan sangat berhati-hati. Selalu mencuci
tangan pada saat mengobati mata untuk menghindari infeksi sekunder,
Segera rujuk ke dokter spesialis mata untuk mendapat pengobatan lebih
lanjut.1

C. Terapi Gizi Medis


1) Energi
Pada kasus gizi buruk, diberikan bertahap mengikuti fase
stabilisasi, transisi dan rehabilitasi, yaitu 80-100 kalori/kg BB, 150
kalori/ kg BB dan 200 kalori/ kg BB.
2) Protein
Protein diberikan tinggi, mengingat peranannya dalam
pembentukan Retinol Binding Protein dan Rodopsin. Pada gizi
buruk diberikan bertahap yaitu: 1 - 1,5 gram/ kg BB / hari ; 2 - 3
gram/ kg BB / hari dan 3 - 4 gram/ kg BB / hari.
3) Lemak
16

Lemak diberikan cukup agar penyerapan vitamin A optimal.


Pemberian minyak kelapa yang kaya akan asam lemak rantai
sedang (MCT=Medium Chain Tryglycerides). Penggunaan minyak
kelapa sawit yang berwarna merah dianjurkan, tetapi rasanya
kurang enak.
4) Vitamin A
Diberikan tinggi untuk mengoreksi defisiensi. Sumber
vitamin A yaitu ikan, hati, susu, telur terutama kuning telur,
sayuran hijau (bayam, daun singkong, daun katuk, kangkung), buah
berwarna merah, kuning, jingga (pepaya, mangga dan pisang raja ),
waluh kuning, ubi jalar kuning, Jagung kuning.
5) Bentuk Makanan
Mengingat kemungkinan kondisi sel epitel saluran cerna juga
telah mengalami gangguan, maka bentuk makanan diupayakan
mudah cerna.

D. Pengobatan penyakit infeksi atau sistemik yang menyertai


Anak-anak yang menderita xeroftalmia biasanya disertai penyakit
berat antara lain: infeksi saluran nafas, pnemonia, campak, cacingan,
tuberkulosis (TBC), diare dan mungkin dehidrasi. Untuk semua kasus ini
diberikan terapi disesuaikan dengan penyakit yang diderita.

E. Pemantauan dan Respon Pengobatan dengan kapsul vitamin A


XN

: Reaksi pengobatan terlihat dalam 1-2 hari setelah

diberikan kapsul vitamin A


XIA & XIB

: Tampak perbaikan dalam 2-3 hari, dan gejala-

gejala menghilang dalam waktu 2 minggu


X2

: Tampak perbaikan dalam 2-5 hari, dan gejala-

gejala menghilang dalam waktu 2-3 minggu


17

X3A & X3B

: Penyembuhan lama dan meninggalkan cacat

mata. Pada tahap ini penderita harus berkonsultasi ke dokter spesialis


mata Rumah Sakit/BKMM agar tidak terjadi kebutaan
6. Rujukan
1) Anak segera dirujuk ke puskesmas bila ditemukan tanda-tanda kelainan XN,
X1A, X1B, X2.
2) Anak segera dirujuk ke dokter Rumah Sakit/ Spesialis Mata/BKMM bila
ditemukan tanda-tanda kelainan mata X3A, X3B, XS.
1.11 Komplikasi
Pada awal perjalanan xeroftalmia, penglihatan sedikit terganggu. Pada
kasus lanjut dapat timbul ulkus kornea, penipisan kornea dan perforasi.
Sesekali dapat terjadi infeksi bakteri sekunder dan berakibat jaringan parut
serta vaskularisasi pada kornea yang memperberat penurunan penglihatan.10
1.12 Prognosis
Jika pasien masih tahap xerosis kornea (X2), pengobatan yang tepat
dapat menyembuhkan sepenuhnya dalam beberapa minggu. Penyembuhan
sempurna biasanya terjadi dengan pengobatan setiap hari. Gejala dan tanda
KVA biasanya menghilang dalam waktu 1 minggu setelah pemberian
vitamin A dihentikan. Lesi pada mata akan mengancam penglihatan (25%
benar-benar buta, dan sisanya sebagian buta). Mortalitas pada kasus-kasus
yang berat mencapai 50% atau lebih karena sering disertai oleh malnutrisi
yang berat.2

18

BAB 2
JOURNAL READING

Prevalensi dan Penentu Xerophthalmia pada Anak-anak


di Pedesaan

Vijender K Agrawal1, Pooja Agrawal 2


1 Rohilkhand Medical College, Bareilly, UP, India
2 Sri Guru Ram Rai Institute of Health & Medical Sciences, Dehradun,
Uttarakhand, India

19

Correspondence to: Vijender K Agrawal (vijenderagrawal@yahoo.co.in)


DOI: 10.5455/ijmsph.2013.2.94-97 Received Date: 07.09.2012 Accepted Date:
26.09.2012

Abstrak
Latar belakang : Kekurangan vitamin A (KVA) dikenal sebagai penyebab utama
kebutaan di antara anak anak di India .
Tujuan & Sasaran penelitian : Penelitian potong silang ini bertujuan untuk
mengetahui prevalensi penderita KVA pada anak-anak di pedesaan.
Bahan dan Metode penelitian : Penelitian potong silang ini dilakukan pada anak
( 0-15 tahun) di wilayah pedesaan dan dipilih sampel secara acak dari desa di
bawah pusat kesehatan primer. Dari 844, sebanyak 802 anak berpartisipasi dalam
penelitian. Xeropthalmia ditentukan oleh klasifikasi dari WHO untuk menemukan
prevalensi.
Hasil : Secara keseluruhan prevalensi xerophthalmia adalah 5,4 %. Hanya
manifestasi lebih ringan dari xerophthalmia yaitu rabun senja dan Bitots spot.
Tidak ada satu pun kasus keterlibatan aktif kornea terlihat. Prevalensi Bitots spot
adalah 0,9 % pada anak dengan usia di bawah 6 tahun dan 3,3 % pada anak-anak
di atas 6 tahun. Prevalensi xerophthalmia secara signifikan terdapat pada anakanak yang lebih tua. Prevalensi lebih tinggi ( tidak signifikan ) terjadi pada anak
laki-laki, status sosial ekonomi yang rendah serta berada dalam keluarga besar.
Secara keseluruhan prevalensi anemia ditemukan 11.8 % dalam populasi
penelitian.Secara signifikan prevalensi tinggi xerophthalmia terdapat pada anakanak penderita anemia.
Kesimpulan: Kehadiran manifestasi lebih ringan dari xerophthalmia dan 0,9 %
prevalensi Bitots spot pada anak di bawah usia 6 tahun dalam penelitian ini
menunjukkan penurunan kejadian kejadian KVA (tetapi masih menjadi masalah
20

kesehatan masyarakat karena

prevalensinya lebih dari 0,5 % ) dan 3,3 %

prevalensi pada anak-anak di atas 6 tahun menunjukkan bahwa selain memperkuat


cakupan program profilaksis untuk meningkatkan vitamin A , pendidikan
kesehatan sangat diperlukan untuk diversifikasi makanan dengan untuk
menyertakan sayuran dan buah-buahan dalam diet untuk keberlangsungan jangka
panjang peningkatkan status vitamin A pada anak-anak dari semua kelompok
umur.

Kata kunci: Prevalensi; Anak-anak Pedesaan; Xerophthalmia


Pendahuluan
Vitamin a diperlukan dalam jumlah kecil oleh manusia untuk fungsi normal dari
sistem visual dan pemeliharaan integritas selular epitel. Kekurangan vitamin A
(KVA) dapat terjadi pada umur berapapun namun , ini adalah sebuah kecacatan
dan berpotensi fatal bagi anak-anak di bawah usia 6 tahun. Prevalensi Bitots spot
mungkin tertinggi di kelompok usia sekolah tetapi kemunculannya mungkin
merupakan cerminan jauh sebelum riwayat KVA saat ini. Berbagai studi telah
menunjukkan bahwa KVA menyebabkan tidak hanya kebutaan tapi juga memiliki
pengaruh besar morbiditas secara umum, pertumbuhan dan kematian. KVA
dianggap sebagai salah satu masalah kesehatan masyarakat jika prevalensi dari
Bitots spot pada anak usia di bawah 6 tahun sebesar 0.5% atau lebih. Program
profilaksis dengan vitamin A dimulai di India pada tahun 1970 dengan tujuan
mencegah kebutaan karena kekurangan vitamin A . Data terlengkap dan terbaru
menunjukkan bahwa hanya 30% anak-anak yang telah mendapat dosis vitamin A.
Prevalensi Bitots spot (berdasarkan kumpulan data NNMB dari tujuh negara)
adalah 1,8 , masing-masing 0,7 dan 0,7 , selama survei yang dilaksanakan di
1975-1979 , 1988-1990 dan tahun 1996-1997. Studi individu dilakukan antara
tahun 1950 sampai saat ini mengungkapkan bahwa prevalensi kekurangan vitamin
A adalah 4% selama periode hingga tahun 1980. Ada beberapa studi tentang
remaja yang dilakukan di India Selatan, yang mengindikasikan kekurangan
21

vitamin A sebagai 0,8 % sampai dengan 1 %. Sangat sedikit penelitian pada KVA
yang

memisahkan kelompok anak sekolah dnegan anak prasekolah. Untuk

memperkirakan prevalensi KVA pada anak-anak di semua kelompok usia


penelitian ini dilakukan di antara anak-anak usia 0-15 tahun di wilayah pedesaan
dengan penekanan diletakkan pada faktor biososial.
Bahan dan Metode
Penelitian potong silang ini dilakukan secara daerah pedesaan Bareilly. Desa-desa
dipilih dengan metode sampel secara acak di bawah pusat kesehatan primer.
Populasi studi terdiri semua anak usia 0-15 tahun yang tinggal di daerah pedesaan
yaitu 844 orang. Dari jumlah ini, 42 orang tidak dapat diikutsertakan karena
berbagai alasan; karenanya penelitian dilakukan dengan subjek sebanyak 802
orang anak. Survei rumah ke rumah dilakukan dan diperoleh informasi sebagai
sebuah kerangka penelitian. Dari orangtua juga diminta informasi mengenai rabun
senja. Riwayat itu telah diterima hanya jika jawaban secara keseluruhan adalah ya
dan pasti. Metode serta tata pemeriksaan standar mata dipakai untuk mendeteksi
xerophthalmia.
Pemeriksaan mata dilakukan dengan bantuan sebuah senter di tempat yang
pencahayaannya normal oleh dokter. Klasifikasi WHO mengenai xerophthalmia
yang dijadikan acuan penelitian . WHO telah menyatakan bahwa a xerosis
konjungtiva (X1A) tidak dianjurkan untuk diagnosis masyarakat. Karena
rekomendasi ini, xerosis konjungtiva (X1A) hanya bila disertai dengan Bitots
spot (X1B) dimasukkan dalam tanda-tanda klinis yang positif dari xerophthalmia
dalam data yang disajikan di sini. Status sosial ekonomi dari subyek penelitian
diperkirakan dalam sosial ekonomi. skala Kuppuswamy.
Estimasi Hemoglobin dari semua anak dilakukan dan batas bawah yaitu 11 g/dl
untuk anak di bawah 6 tahun dan 12 g/dl untuk anak-anak di atas 6 tahun
dianggap sebagai diagnosis anemia.8 Anak-anak menderita xerophthalmia
diberikan 200.000 IU Vitamin A secara oral selama 2 hari. Analisis statistik
dilakukan dengan uji dan odds ratio chi-square dengan angka kepercayaan 95%.
22

Hasil
Tabel 1 menggambarkan prevalensi xerophthalmia menurut umur. Prevalensi
secara keseluruhan dari xerophthalmia ditemukan 5,4%. Hanya manifestasi lebih
ringan dari xerophthalmia yaitu rabun senja dan Bitots spot yang diamati. Tidak
satu pun kasus keterlibatan aktif kornea terlihat. Prevalensi xerophthalmia
ditemukan meningkat dengan bertambahnya usia, angka tertinggi pada kelompok
umur tahun 13-15 (11,6%). Peningkatan kejadian dengan bertambahnya usia
diikuti oleh semua manifestasi dari xerophthalmia. Meskipun prevalensi
xerophthalmia adalah 5.4%, semua prevalensi tanda dan gejala adalah 4,4%
sebagaimana 8 subjek penelitian memiliki lebih dari satu tanda / gejala. Prevalensi
Bitots spot adalah 0,9% pada anak di bawah usia 6 tahun dan 3,3% pada anakanak di atas usia 6 tahun. Peningkatan prevalensi xerophthalmia seiring dengan
peningkatan kelompok usia ditemukan signifikan secara statistik.
Tabel 2 menggambarkan prevalensi xerophthalmia menurut faktor sosiodemografis. Prevalensi lebih tinggi dari xerophthalmia diamati terjadi pada anak
laki-laki, status sosial ekonomi rendah dan anak-anak dengan jumlah anggota
keluarga dari 5 dan seterusnya, namun perbedaan tidak ditemukan signifikan.

23

Prevalensi keseluruhan anemia ditemukan 11,8% pada populasi penelitian.


Prevalensi tinggi xerophthalmia diamati pada anak-anak yang menderita anemia
(Tabel 3). Perkiraan odds rasio dan interval kepercayaan 95% dikonfirmasi
dengan hubungan yang signifikan antara xerophthalmia dan anemia.
Pembahasan
Kekurangan vitamin A diakui sebagai penyebab utama kebutaan dan masalah
kesehatan masyarakat yang penting di antara anak-anak di India sejak lama.
Meskipun banyak penelitian telah dilakukan untuk menilai prevalensi
xerophthalmia di berbagai bagian negara tetapi sangat sedikit penelitian yang
menyertakan anak-anak dari semua kelompok umur. Penelitian ini mengamati
5,4% prevalensi xerophthalmia pada anak usia 0-15 tahun. Studi sebelumnya yang
dilakukan telah melaporkan prevalensi xerophthalmia di kisaran 1,1% sampai
22,3% pada kelompok penduduk yang berbeda dan di berbagai bagian negara itu.
Penelitian tersebut, dilakukan di daerah pedesaan dekat Nagpur di India tengah,
telah diperkirakan 16,8% prevalensi xerophthalmia, yang jauh lebih tinggi dari
apa yang telah kami amati. Penurunan prevalensi mungkin karena program
profilaksis Vitamin A. Prevalensi Bitots spot ini (0,9%) pada anak di bawah usia 6
tahun dalam penelitian ini adalah lebih dekat dengan prevalensi yang diamati oleh
NNMB (0,7%

pengumpulan data dari tujuh negara) pada 1996-1997 dan

menunjukkan bahwa prevalensi KVA telah menurun selama bertahun-tahun tetapi


masih merupakan masalah kesehatan masyarakat karena prevalensi lebih dari
pedoman WHO (0,5% pada anak-anak prasekolah).
Kehadiran manifestasi lebih ringan dari xerophthalmia menunjukkan bahwa
prevalensi KVA sedang menurun. Dalam penelitian ini, prevalensi lebih tinggi
secara signifikan dari KVA ditemukan pada kelompok usia yang lebih tua.
Temuan serupa10,14 juga dilaporkan oleh peneliti lain. Asosiasi diamati antara
berbagai faktor sosio-demografis (status sosial-ekonomi lebih rendah dan ukuran
keluarga besar) dan xerophthalmia juga didukung oleh hasil penelitian
sebelumnya.10,11 Dalam penelitian saat ini, prevalensi xerophthalmia ditemukan

24

lebih banyak pada anak-anak penderita anemia. Ini mungkin karena anemia
dikaitkan dengan rendahnya asupan nutrisi ditambah anemia umumnya dikaitkan
dengan berbagai infeksi yang selanjutnya memicu atau memperburuk kekurangan
vitamin A.
Kesimpulan
Kehadiran manifestasi lebih ringan dari xerophthalmia dan 0,9% prevalensi
Bitots spot ini pada anak di bawah usia 6 tahun dalam penelitian ini menunjukkan
penurunan kejadian KVA (tetapi masih merupakan masalah kesehatan
masyarakat) dan prevalensi 3,3% pada anak-anak di atas usia 6 tahun
menunjukkan bahwa selain dari penambahan vitamin A, program profilaksis yang
mencakup anak-anak prasekolah saja, pendidikan kesehatan diperlukan untuk
diversifikasi makanan untuk menyertakan sayuran dan buah-buahan dalam diet
untuk keberlanjutan jangka panjang dalam meningkatkan status vitamin A dari
anak-anak sekolah. Pendekatan seperti ini akan meningkatkan asupan vitamin A
dan zat gizi mikro lainnya secara seimbang.

Sumber
1. Sommer A. Vitamin A deficiency and its consequences: a field guide to
detection and control, 3rd ed. Geneva, World Health Organization, 1994.
2. Sommer A, Emran N, Tjakrasudjatma S. Clinical characteristics of vitamin A
responsive and nonresponsive Bitots spots. American Journal of Ophthalmology,
1980, 90:160171.
3. Rahamathullaji L, Underwood BA, Thulasiraj RD. Reduced mortality among
children in Southern India receiving a small weekly dose of vitamin A. New
England Journal of Medicine 1990, 323: 929-35
4. World Health Organization. Indicators for Assessing Vitamin A Deficiency and
their Application in Monitoring and Evaluation Intervention Programme. WHO,
Geneva, 1996, pp 5-14.

25

5. Indian Institute of Population Sciences, Mumbai. National Family Health


Survey II Data, 2000.
6. Singh P, Toteja G S. M Micronutrient Profile of Indian Children and Women:
Summary of Available Data for Iron and Vitamin A . Indian Pediatrics 2003;
40:477-479
7. Mahajan BK, Gupta MC. Textbook of Preventive and Social Medicine. Jaypee
Brothers. Medical publishers (P) Ltd., New Delhi, Second edition, 1995 : 134-5
8. K Park. Parks Textbook of Preventive and social medicine. 18th edition.
Jabalpur: Banarsidas Bhanot. .2005:4 50.
9. Garg S, Nayar S, Garg A, Sane S. Vitamin A deficiency in preschool children.
Indian Pediatrics 1984, 21 : 491-4
10. Sharma SK, Mathur GP, Mathur S, Singh YD. An epidemiological study of
hypovitaminosis A in preschool children of urban slums in Gorakhpur. Indian
Journal of Preventive and Social Medicine 1985, 16 (4) : 131-6
11. Katiyar GP, Jaiswal P, Reddy DCS, Agrawal KN. Biosocial determinants of
xerophthalmia in under-five children. Indian Journal of Preventive and Social
Medicine 1986, 17 (2) : 69-78
12. Kartha GP, Purohit CK. Prevalence of xerophthalmia an evaluation in the
context of ongoing National vitamin A supplementation programme in five
villages of Dholka taluka of Ahmedabad district. Indian Journal of Community
Medicine 1991, 16 (3) : 115-8
13. Sampathkumar V, Abel R. Xerophthalmia in rural South Indian children.
Indian Pediatrics 1993, 30: 246-8.
14. Fakhir S, Srivastava I, Ahmad P, Husan SS. Prevalence of xerophthalmia in
preschool children
in an urban slum. Indian Pediatrics 1993, 30 : 668-70
15. Chamani N, Sharma P, Meena N, Sharma U. Pattern of vitamin deficiencies
among the malnourished preschool children in ICDS blocks of Jaipur city. Indian
Journal of Maternal and child Health. 1994, 5 (4) : 109-11

26

16. Pal R, Sagar V. Antecedent risk factors of xerophthalmia among Indian rural
preschool children. Eye Contact Lens. 2008 ;34(2):106-8.

Cite this article as: Agrawal VK, Agrawal P. Prevalence and


determinants of Xerophthalmia in rural Children. Int J Med Sci
Public Health 2013; 2:94-97.
Source of Support: Nil
Conflict of interest: None declared

DAFTAR PUSTAKA
1. Depkes Kesehatan RI. 2003. Deteksi dan Tatalaksana Kasus Xeroftalmia:
Pedoman Bagi Tenaga Kesehatan. Jakarta.
2. Ilyas, Sidarta. 2014. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
3. Dwiyanti, H., Riyadi, H., Rimbawan, R., et al. 2013. Efek Pemberian Gula
Kelapa Yang Diperkaya Minyak Sawit Merah Terhadap Peningkatan Berat
Badan Dan Kadar Retinol Serum Tikus Defisien Vitamin A. Penelitian Gizi
Dan Makanan, 36(1), Pp.73-81.
4. Samosir, H., 2015. Hubungan Pengetahuan Bidan Tentang Vitamin A Dengan
Cakupan Pemberian Vitamin A Pada Ibu Nifas di BPS Wilayah Kerja
Puskesmas Tegal Sari Kecamatan Medan Denai Tahun 2013.
27

5. Garcia-Ferrer FJ, Schwab IR. 2007. Konjungtiva dalam Vaughan & Asbury
Oftalmologi Umum. Ed. 17. Jakarta. EGC. Hal 97-123
6. Ansstas, G. 2014. Vitamin A Deficiency Treatment & Management.
Attending Physician in Leukemia and Bone Marrow Transplant and Oncology,
Washington
University
School
of
Medicine.
Available
at
http://emedicine.medscape.com/article/126004-treatment (diakses pada Sabtu 7
Januari 2017).
7. Silva, M.A., Carvalho, C.A.D., Fonsca, P.C.D.A., Vieira, S.A., Ribeiro, A.Q.,
Priore, S.E. and Franceschini, S.D.C.C., 2015. Iron-deficiency anemia and
vitamin A deficiency prevalence and associated factors among children under
one year. Cadernos Sade Coletiva, 23(4), pp.362-367.
8. Kurihayashi, A.Y., Augusto, R.A., Escaldelai, F.M.D. and Martini, L.A., 2015.
Vitamin A and D status among child participants in a food supplementation
program. Cadernos de Sade Pblica, 31(3), pp.531-542.
9. WHO. 1995. Vitamin A Deficiency and Its Consequences. Available at
http://www.who.int/nutrition/publications/vad_consequences.pdf (diakses pada
Sabtu 7 Januari 2017).
10. Priscilia et al. 2012. Referat Xeroftalmia. Fakultas Kedokteran Universitas
Kristen Indonesia. Available at https://www.scribd.com/doc/98074258/ReferatXeroftalmia-Dr-Jannes (diakses pada Minggu 8 Januari 2017).

28