Anda di halaman 1dari 16

REFLEKSI KASUS

DERMATOLOGI DAN VENEREOLOGI

PIODERMA PADA ANAK

Oleh :
Amy Shientiarizki
H1A 011 007

Pembimbing:
dr. Farida Hartati, M. Sc, Sp.KK
DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA
BAGIAN/SMF ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PATUT PATUH PATJU
GERUNG LOMBOK BARAT
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM
2017

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat dan
rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan kasus ini tepat pada waktunya.
Laporan kasus yang berjudul Pioderma pada Anak ini disusun dalam
rangka mengikuti Kepaniteraan Klinik Madya di Bagian/SMF Ilmu Kesehatan
Kulit dan Kelamin RSUD Patuh Patut Patju Gerung Lombok Barat.
Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah banyak memberikan bimbingan
kepada penulis.
1. dr. Farida Hartati, M.Sc, Sp.KK, selaku pembimbing sekaligus Ketua SMF
Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Patuh Patut Patju Gerung
Lombok Barat
2. dr. Yunita Hapsari, M.Sc, Sp.KK, selaku Koordinator Pendidikan Bagian
3.
4.
5.
6.

Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin


dr. I Wayan Hendrawan, M. Biomed, Sp.KK, selaku supervisor
dr. Dedianto Hidajat, Sp.KK, selaku supervisor
dr. I.G.A.A. Ratna Medikawati, M.Biomed, Sp.KK, selaku supervisor
Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah
memberikan bantuan kepada penulis
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan kasus ini masih banyak

kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat
penulis harapkan demi kesempurnaan laporan kasus ini.
Semoga laporan kasus ini dapat memberikan manfaat dan tambahan
pengetahuan khususnya kepada penulis dan kepada pembaca dalam menjalankan
praktek sehari-hari sebagai dokter. Terima kasih.
Mataram, Januari 2017

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................2
BAB I.......................................................................................................................4
PENDAHULUAN...................................................................................................4
BAB II......................................................................................................................5
LAPORAN KASUS.................................................................................................5
BAB III..................................................................................................................10
PEMBAHASAN....................................................................................................10
BAB IV..................................................................................................................16
KESIMPULAN......................................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................17

PIODERMA PADA ANAK


LAPORAN KASUS
3

Amy Shientiarizki
Bagian/SMF Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin
Fakultas Kedokteran Universitas Mataram Rumah Sakit Umum Daerah
Patut Patuh Patju Kabupaten Lombok Barat NTB
BAB I
PENDAHULUAN
Pioderma merupakan penyakit yang sering dijumpai. Pioderma adalah
penyakit kulit yang disebabkan oleh Staphylococcus, Streptococcus, atau oleh
kedua-duanya.1 Penyakit ini dapat mengenai semua usia, baik anak-anak maupun
dewasa. Beberapa faktor predisposisi untuk Pioderma 1, yaitu : (1) hygiene yang
kurang, (2) menurunnya daya tahan tubuh misalnya kekuarangan gizi, penyakit
kronik, neoplasma ganas, dan diabetes mellitus, (3) telah memiliki penyakit lain di
kulit, misalnya terjadi kerusakan di epidermis, hal ini mengakibatkan fungsi kulit
sebagai pelindung terganggu sehingga memudahkan terjadinya infeksi.
Pioderma dibagi menjadi 2 bentuk, yaitu pioderma primer dan pioderma
sekunder.1 Pioderma primer ialah infeksi yang terjadi pada kulit yang normal,
biasanya disebabkan oleh satu macam mikroorganisme 1, dan lesi terbatas pada
epidermis.2 Contohnya adalah (1) impetigo non bulosa, (2) impetigo bulosa, (3)
ektima, (4) folikulitis, (5) furunkel, (6) karbunkel.2
Pioderma sekunder ialah infeksi yang terjadi pada kulit yang telah
memiliki penyakit kulit lain.1 Biasanya gambaran klinis tidak khas dan mengikuti
penyakit kulit yang telah ada. Dijelaskan lebih lanjut bahwa pioderma sekunder
mengenai epidermis dan dermis.2
Berbagai faktor risiko pencetus dapat mempengaruhi terjadinya Pioderma
pada Anak. Oleh sebab itu, diperlukan hal-hal yang diketahui dapat menyebabkan
pioderma pada anak. Selanjutnya, pada laporan kasus ini akan dijelaskan tentang
faktor pemicu terjadinya pioderma pada anak.

BAB II
LAPORAN KASUS

I.

II.

Identitas Pasien
Nama Pasien

: By. KG

Usia

: 12 bulan

Jenis Kelamin

: Perempuan

Alamat

: Rumak Timur

Suku

: Sasak

Agama

: Islam

Tanggal Pemeriksaan

: 3 Januari 2017

No RM

: 62 57 20

Heteroanamnesis
A. Keluhan Utama
Betol berisi nanah di sekitar wajah.
B. Riwayat Penyakit Sekarang
Ibu pasien datang dengan keluhan muncul bentol berisi nanah pada
sekitar wajah anaknya semenjak kurang lebih satu minggu yang
lalu. Bentol bermunculan disekitar wajah, leher, dan kepala pasien.
Ibu pasien juga mengakui bahwa bentol tersebut awalnya satu buah
namun lama-kelamaan muncul di tempat lain, bentol tersebut
berwarna merah namun lambat laun terisi oleh nanah. Nanah
tampak berwarna kuning dan gatal (ibu pasien mengaku bahwa
anaknya kerap menggaruk bagian wajah dan rewel).
Pasien telah menggunakan obat untuk mengatasi bentol berisi
nanah dan gatal tersebut namun tidak membaik. Pasien mengaku
mandi 3 kali sehari dengan air panas untuk mengurangi rasa gatal.

Ibu pasien tidak mengeluhkan adanya demam, batuk, ataupun pilek


sebelumnya pada anak.
C. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien belum pernah mengalami keluhan serupa.
D. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak terdapat keluhan serupa di keluarga. Riwayat asma (+) kakak
pasien.
E. Riwayat Alergi
Riwayat alergi obat disangkal oleh ibu pasien. Riwayat alergi
makanan juga disangkal.
F. Riwayat Pengobatan
Pasien telah diberikan obat-obatan berupa salep dan sirup yang
didapat dari praktek Bidan di dekat rumah pasien. Ibu dan Bapak
pasien lupa nama obat dan tidak membawa obat.
G. Riwayat Pribadi dan Sosial
Pasien merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Pasien masih
ASI hingga saat ini dan sudah mulai MP-ASI semenjak usia 6
bulan. Ibu pasien juga sudah memberikan pasien susu formula
semenjak usia 10 bulan.
III.

Pemeriksaan Fisik
A. Status Generalis
Keadaan Umum

: Baik

Kesadaran

: Compos Mentis

GCS

: E4V5M6

Vital sign :
-

Nadi
RR

:102x/menit
: 24x/menit
6

Temperatur : 36,40 C

B. Status Dermatologis

Gambar 1. wajah : lesi pustul, eritema, berbatas jelas dengan bentuk bulat ukuran
lentikular, teraba lunak, jumlah multiple, susunan single hingga berkelompok.

Gambar 2. Dahi dan kepala : lesi pustule, eritema, berbatas jelas dengan
bentuk bulat ukuran lentikular, teraba lunak, jumlah multiple, susunan single.

Gambar 3. Leher : lesi papul, eritema, berbatas jelas dengan bentuk bulat
ukuran lentikular, teraba lunak, jumlah multiple, susunan single.

IV.

Diagnosis Banding
1. Folikulitis
2. Furunkel
3. Impetigo non bulosa

V.

Planning Pemeriksaan Penunjang


1. Pewarnaan gram
2. Pemeriksaan laboratorium darah : leukositosis

VI.

Diagnosis Kerja
Folikulitis

VII.

Tatalaksana
- Amoxicilin drop
- Mupirocin 2%

VIII. Prognosis
Qua ad vitam

: bonam

Qua ad sanationam

: bonam

Qua ad fungsionam

: bonam

Qua ad kosmetikum

: dubia ad bonam

BAB III
PEMBAHASAN

Diagnosis secara umum pada pasien ini adalah Pioderma. Pioderma ialah
penyakit kulit yang disebabkan oleh Staphylococcus, Streptococcus, atau oleh
kedua-duanya. Kadang juga disebabkan oleh bakteri gram negative seperi
pseudomonas namun itu jarang terjadi dan efeknya biasanya lebih parah. Secara
epidemiologi penyakit ini berhubungan erat dengan keadaan sosial ekonomi.
Tidak ada ras tertentu yang cenderung terkena pioderma. Pioderma dapat
menyerang laki-laki maupun perempuan pada semua usia.
Terdapat 2 bentuk pioderma secara umum, yaitu pioderma superfisialis
dan pioderma profunda. Pasa pasien ini penulis mengarah kepada pioderma
superfisialis karena dari ukk tampak kelainan terbatas pada epidermis. Penulis
mengajukan tiga diagnosis banding, yaitu folikulitis, furunkel, dan impetigo non
bulosa. Berikut perbedaan dari ketiga diagnosis banding tersebut :
Jenis

Folikulitis

Furunkel

Impetigo non bulosa

superfisialis
Lokasi

scalp

(anak-anak), daerah

dagu,

ekstremitas, yang

bokong (dewasa)

berambut daerah wajah terutama


sering di sekitar hidung dan

mengalami
gesekan,

mulut
oklusif,

berkeringat,
misalnya

leher,

wajah, aksila, dan


bokong
UKK

pustule kecil dome- nodus eritematosa lesi awal berupa vesikel


shaped

mudah awalnya

keras, atau pustule berdinding

pecah, pada folikel nyeri tekan, dapat tipis yang mudah pecah
rambut
multiple

biasanya membesar 1-3 cm, membentuk krusta tebal


setelah
hari
fluktuasi,

beberapa kekuningan
terdapat colour),

(honey
lesi

dapat

bila melebar 1-2 cm disertai

pecah keluar pus

lesi satelit disekitarnya

10

Manifestasi rasa gatal dan panas

gatal dan rasa tidak

klinis

nyaman dapat terjadi


Tabel 1. Perbedaan dari diagnosis banding
Selanjutnya terdapat beberapa faktor resiko sehingga pasien dapat terkena

Pioderma, penulis pembagi menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor internal meliputi :
1. Status gizi
Status gizi erat kaitannya dengan system imun dimana bila terjadi
penurunan terhadap daya imunitas maka pasien mudah terjangkit berbagai
infeksi, termasuk infeksi bakteri.1,2,3
Usia
: 1 tahun 15 hari
Panjang badan : 81,5 cm
BB
: 8500 gram
Penilaian status gizi untuk anak < 2 tahun menggunakan table BB/PB
sehingga pada pasien diperoleh6 :

Grafik 1. Status gizi BB/PB

11

Tabel 2. Status Gizi


Dari hasil di atas didapatkan status gizi pasien terletak di antara <-3 SD
sampai <-2 SD maka masuk dalam kategori gizi kurang.
2. Kebiasaan pasien
Saat ini secara psikologis fungsi kognitis menurut Piaget, usia 01,5 tahun balita masih menggunakan mulut sebagai alat utama.5 Jadi, pada
usia tersebut semua aktifitas akan dipusatkan kepada mulut. Pada pasien
tampak apapun yang dia lakukan (misalnya memegang pulpen, memegang
makanan, pun bermain) ia akan memasukkan benda-benda tersebut ke
dalam mulutnya tanpa memperhatikan kebersihan.
Faktor eksternal, yaitu faktor resiko keluarga baik dari segi lingkungan, sosial,
dan ekonomi.
1. Keadaan Lingkungan
Keluarga By. KG tinggal di Rumbak Timur, Kecamatan Kediri,
Lombok Barat. Tempat tinggal tersebut merupakan tempat tinggal orang
tuanya sendiri sejak mulai menikah dengan ukuran bangunan 11 x 8 m
dan menghadap ke arah barat. Bangunan rumah ini beratapkan genteng,
memiliki plavon dengan lantai terbuat dari keramik. Rumah berdinding
tembok bata yang sudah dplester dan di cat dengan warna merah muda.
Rumah ini terdiri atas 2 buah kamar, 1 ruang tamu menjadi satu dengan
ruang keluarga, 1 dapur menjadi satu dengan ruang makan, 1 ruang
gudang, dan teras di bagian depan. Kamar mandi pasien dan tempat cuci
piring berada diluar rumah.

12

Lokasi rumah terletak 20 m dari jalan. Batas rumah pasien di


bagian depan adalah pekarangan rumah tangga, sebelah kanan adalah
pekarangan rumah tetangga, di sebelah kiri berbatasan tembok pekarangan
rumah tetangga, dan sebelah belakang berbatasan dengan rumah tetangga.
Kamar pertama merupakan kamar tidur Tn. H (Ayah) beserta Ny.
G (Ibu), An. S dan By. KG, berukuran 4 m x 2,5 m, dengan 1 buah jendela
kaca yang jarang dibuka namun selalu membuka kordennya sehingga
kamar tetap dimasuki sinar matahari. Di ruangan tersebut, terdapat sebuah
tempat tidur dengan kasur yang terbuat dari kapuk. Dapur rumah pasien
terletak di samping ruang tengah, berukuran 3 m x 2 m, terdapat beberapa
ventilasi. Ny. N memasak menggunakan kompor gas. Untuk keperluan
minum, biasanya air yang digunakan adalah air galon. Kebutuhan
memasak dan mandi dan mencuci berasal dari air PDAM.
Denah Rumah Keluarga By. KG

5
3

Ket:
1.
2.
3.
4.

Kamar tidur orang tua dan pasien


Ruang keluarga dan ruang TV
Kamar nenek
Ruang makan yang menjadi satu dengan dapur

13

5.
6.
7.
8.
9.

Gudang
Teras depan
Teras belakang
Kamar mandi
Tempat cuci piring

2. Sosial Ekonomi
Tn. H bekerja sebagai pedagang kios dengan penghasilan bersih
kurang lebih sebesar Rp. 1.500.000,- s/d 2.000.000 ,- perbulan. Keluarga
mengaku penghasilan yang ada sekarang cukup untuk kebutuhan rumah
tangga. Untuk sarana transportasi Tn. H menggunakan sepeda motor untuk
bepergian. Dan untuk Ny. G sarana transportasi menggunakan ojek atau
terkadang diantar jemput oleh suaminya.
Ibu pasien biasanya mencuci peralatan bekas memasak dan alat-alat
rumah tangga lainnya di luar rumahnya. Dan ibu pasien biasanya hanya
mencuci biasa dot pasien dan apabila direndam, hanya menggunakan air
hangat saja. Serta ibu memiliki kebiasaan yang jarang cuci tangan
menggunakan sabun setiap kali mempersiapkan makanan atau menyuapi
pasien saat makan, ibu pasien hanya sekedar membasahi tangannya
dengan air saja.

Penatalaksanaan pada pasien ini ada dua yaitu non medikamentosa dan
medikamentosa.
1.
Non medikamentosa1,2

Edukasi agar pasien banyak minum susu dan makan teratur.


Makanan yang diberikan bergizi seperti bubur, sayuran, hati ayam,
dan buah-buahan

Menjaga higienitas untuk seluruh keluarga. Melatih agar cuci


tangan secara teratur

14

Membuka jendela agar sinar matahari dapat masuk di kamar dan


ruangan di rumah

2.

Medikamentosa1,2

Antibiotic topical dioleskan 2-3 kali sehari selama 7-10 hari.


Antibiotic seperti Mupirocin 2%

Antibiotic sistemik yaitu Amoksisilin drop 25 mg/kgBB/hari


terbagi dalam 3 dosis selama 5-7 hari.
BAB IV
KESIMPULAN

Dilaporkan satu kasus pioderma pada anak perempuan berusia 12 bulan.


Terdapat dua faktor yang mempengaruhi terjadinya pioderma, yaitu faktor internal
dan eksternal. Faktor internal yaitu, status gizi kurang dan higienitas yang rendah.
Faktor eksternal yaitu, keadaan lingkungan rumah dan sosio-ekonomi keluarga.
Untuk dapat mengurangi hal tersebut, KIE sangat diperlukan agar pasien dapat
mengatasi faktor resiko tersebut dan agar tidak terjadi rekurensi..

15

DAFTAR PUSTAKA

1. Djuanda, Adhi. dkk. 2010. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi VI.

Jakarta: Badan Penerbit FKUI


2. PERDOSKI.

2014.

Panduan

Layanan

Klinis

Dokter

Spesialis

Dermatologi dan Venerologi. Jakarta.


3. Depari I. Lila, dkk. 2016. Relation between Risk Factors of Pioderma and

Pioderma Incidence. Universitas Padjadjaran, Bandung. Di unduh :


journal.fk.unpad.ac.id/index.php/amj/article/download/867/797. Di akses : 5 Januari
2017.
4. Siregar, R. S., Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit, Ed 2., EGC :

Jakarta, 2008.
5. Dian. 2016. Perkembangan Jiwa Anak. RS Mutiara Sukma Provinsi Nusa

Tenggara Barat.
6. Kemenkes. 2011. Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak.

Direktorat Jenderal Kemenkes RI. Jakarta.

16