Anda di halaman 1dari 7

TUGAS RESUME PERPAJAKAN

KUP
Nama : Agustina Eka Harjanti (03)
PASAL 1, berisi tentang definisi dari :
Pajak

Kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau
badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-undang, dengan tidak
mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan
negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Wajib Pajak

Orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan
pemungut pajak yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
Sekumpulan orang dan atau modal yang merupakan kesatuan baik yang
melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi PT,
Perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara atau
badan usaha milik daerah dengan nama dan bentuk apapun, firma, kongsi,
koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi
massa, massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga
dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk
usaha tetap.

Badan

Pengusaha

Orang pribadi atau badan dalam bentuk apapun yang dalam kegiatan
usaha atau pekerjaannya menghasilkan barang, mengimpor barang,
mengekspor barang, melakukan usaha perdagangan, memanfaatkan
barang tidak berwujud dari luar daerah pabean, melakukan usaha jasa
atau memanfaatkan jasa dari luar daerah pabean.

PKP

Pengusaha yang melakukan penyerahan BKP dan atau penyerahan JKP


yang dikenai Pajak berdasarkan UU PPN.
Nomor yang diberikan kepada WP sebagai sarana dalam administrasi
perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas
WP dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya.
Surat yang oleh WP digunakan untuk melaporkan penghitungan dan atau
pembayaran pajak, objek pajak dan atau bukan objek pajak, dan atau
harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan.

NPWP

Surat
Pemberitahuan

Masa Pajak

Jangka waktu yang menjadi dasar bagi WP untuk menghitung, menyetor


dan melaporkan pajak yang terutang dalam suatu jangka waktu tertentu
sebagaimana ditentukan oleh UU Perpajakan.

Surat
Pajak

Setoran Bukti pembayaran atau penyetoran pajak yang telah dilakukan dengan
menggunakan formulir atau telah dilakukan dengan cara lain ke kas
negara melalui tempat pembayaran yang ditunjuk oleh Menteri
Keuangan.

PASAL 2

Setiap WP yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai


dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan wajib
mendaftarkan diri pada kantor Dirjend Pajak yang wilayah kerjanya meliputi
tempat tinggal atau tempat kedudukan WP dan kepadanya diberikan NPWP.
Subjek Pajak adalah pihak yang mempunyai potensi membayar pajak. Subjek
Pajak membayar pajak ketika mempunyai Objek Pajak. Subjek Pajak ini
diwajibkan mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP. NPWP Orang
Pribadi dapat dilihat dari sumber penghasilan :
a. Pekerjaan yang berupa gaji.
b. Usaha yang berupa laba.
c. Barang Modal / Investasi yang berupa bunga, deviden,sewa, dan royalti
d. Pekerjaan Bebas yang berupa fee
e. Lain-lain.
Batasan yang tidak melihat NPWP yaitu dari Usaha dan Pekerja Bebas.
Orang Pribadi yang memiliki usaha, pembuatan NPWPnya pada saat pertama
kali usahanya itu dibuka. Sedangkan karyawan membuat NPWP dilihat dari
PTKPnya terlebih dahulu.
NPWP bisa dicabut jika penghasilannya tidak ada atau tidak mempunyai
syarat objektif.
Wajib Pajak sebagai pengusaha yang usahanya sudah melebihi 4,8 Milyar,
maka harus mengenakan PPN ke customernya dan hal tersebut sudah
termasuk Pengusaha Kena Pajak.
Wajib Pajak / PKP yang tidak melaksanakan kewajibannya, maka Dirjend
Pajak akan menerbitkan NPWP dan atau mengukuhkan PKP secara jabatan.
Penghapusan NPWP dilakukan oleh Dirjend Pajak apabila :
a. Sudah tidak memenuhi syarat subjektif dan atau objektif sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
b. WP badan dilikuidasi karena penghentian atau penggabungan usaha.
c. WP bentuk usaha tetap menghentikan kegiatan usahanya di Indonesia.
d. Dianggap perlu oleh Dirjend Pajak karena sudah tidak memenuhi
persyaratan subjektif dan atau objektif sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan.

PASAL 3

Fungsi Surat Pemberitahuan bagi WP Penghasilan adalah sebagai sarana


untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah Pajak
yang sebenarnya terutang dan untuk melaporkan tentang :
a. Pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri dan
atau melalui pemotongan atau pemungutan pihak lain dalam 1 Tahun
Pajak.
b. Penghasilan yang merupakan objek pajak dan atau bukan objek pajak.
c. Harta dan kewajiban
d. Pembayaran dari pemotong atau pemungut tentang pemotongan atau
pemungutan pajak orang pribadi atau badan lain dalam 1 Masa Pajak
sesuai UU Perpajakan.
Bagi PKP, fungsinya adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan
mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah PPN dan PPNBM yang
sebenarnya terutang
Bagi pemotong atau pemungut pajak, fungsinya adalah sebagai sarana untuk
melaporkan dan mempertanggungjawabkan pajak yang dipotong atau
dipungut dan disetorkannya.
Kewajiban penyampaian Surat Pemberitahuan oleh pemotong atau pemungut
pajak dilakukan untuk setiap Masa Pajak dan pengisian SPT tersebut harus
benar, lengkap dan jelas.
Batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan adalah :
a. Untuk Surat Pemberitahuan Masa, paling lama 20 hari setelah akhir Masa
Pajak
b. Untuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan WP OP, paling
lama 3 bulan setelah akhir Tahun Pajak
c. Untuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak
badan, paling lama 4 bulan setelah akhir Tahun Pajak.
WP dapat memperpanjang jangka waktu penyampaian Surat Pemberitahuan
Pajak Penghasilan paling lama 2 bulan dengan cara menyampaikan
pemberitahuan secara tertulis kepada Dirjend Pajak.

PASAL 4
WP wajib mengisi dan menyampaikan Surat Pemberitahuan dengan benar,
lengkap, jelas, dan menandatanganinya. Surat Pemberitahuan WP badan harus
ditandatangani oleh pengurus atau direksi. Dalam hal WP menunjuk seorang
kuasa dengan surat kuasa khusus untuk mengisi dan menandatangani Surat
Pemberitahuan, surat kuasa khusus tersebut harus dilampirkan pada Surat
Pemberitahuan.
PASAL 5

Untuk menyampaikan Surat Pemberitahuan, Dirjen Pajak dalam hal tertentu


dapat menentukan tempat lain bukan tempat sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 3 ayat 1
PASAL 6
Surat Pemberitahuan yang disampaikan langsung oleh WP ke kantor Dirjen
Pajak harus diberi tanggal penerimaan oleh pejabat yang ditunjuk dan kepada
WP diberikan bukti penerimaan.
Penyampaian Surat Pemberitahuan dapat dikirimkan melalui pos dengan
tanda bukti pengirim surat atau dengan disampaikan secara elektronik.
PASAL 7
Apabila Surat Pemberitahuan tidak disampaikan dalam jangka waktu yang
telah ditetapkan oleh Dirjen Pajak, maka akan dikenai sanksi administrasi
berupa denda sebesar Rp 500.000 untuk Surat Pemberitahuan Masa Pajak
Pertambahan Nilai, Rp 100.000 untuk Surat Pemberitahuan Masa lainnya,
dan Rp 1.000.000 untuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan
Wajib Pajak badan serta Rp 100.000 untuk Surat Pemberitahuab Tahunan
Pajak Penghasilan WP OP.
Pengenaan sanksi administrasi berupa denda tidak dilakukan terhadap :
a. WP OP yang telah meninggal dunia,
b. WP OP yang sudah tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas,
c. WO OP yang berstatus sebagai WNA yang tidak lagi di Indonesia,
d. BUT yang tidak melakukan kegiatan lagi di Indonesia,
e. WP badan yang tidak melakukan kegiatan usaha lagi tetapi belum
dibubarkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku,
f. Bendahara yang tidak melakukan pembayaran lagi,
g. WP yang terkena bencana,
h. WP lain yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri
Keuangan.

PASAL 8

Terhadap kekeliruan dalam pengisian Surat Pemberitahuan yang dibuat oleh


WP, WP masih berhak untuk melakukan pembetulan atas kemauan sendiri
dengan syarat Dirjen Pajak belum mulai melakukan tindakan pemeriksaan.

Pembetulan Surat Pemberitahuan harus disampaikan paling lama 2 tahun


sebelum daluwarsa penetapan. Daluwarsa adalah jangka waktu 5 tahun
setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya masa pajak, bagian tahun
pajak atau tahun pajak.
Atas kekurangan pembayaran pajak sebagai akibat pembetulan yang
mengakibatkan utang pajak menjadi lebih besar, dikenai sanksi administrasi
sebesar 2% per bulan.
WP yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 selama
belum dilakukan penyidikan, sekalipun telah dilakukan pemeriksaan dan WP
telah mengungkapkan kesalahannya dan sekaligus telah melunasi jumlah
pajak yang terutang beserta sanksi denda 150% dari jumlah pajak yang
kurang bayar, maka tidak akan dilakukan penyidikan. Tapi, jika telah
dilakukan penyidikan, kesempatan untuk membetulkan sendiri sudah tertutup
bagi WP.
Meskipun Dirjen Pajak telah melakukan pemeriksaan tetapi belum
menerbitkan surat ketetapan pajak, kepada WP baik yang telah maupun yang
belum membetulkan SPT, masih diberikan kesempatan untuk
mengungkapkan ketidakbenaran pengisian SPT yang telah disampaikan
Pajak kurang bayar akibat dari pengungkapan ketidakbenaran pengisian Surat
Pemberitahuan beserta sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 50% dari
pajak yang kurang dibayar, harus dilunasi oleh WP sebelum laporan tersendiri
disampaikan.

PASAL 9

Batas waktu pembayaran dan penyetoran pajak yang terutang untuk suatu saat
atau masa pajak ditetapkan oleh Menteri Keuangan dengan batas waktu tidak
melampaui 15 hari setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa
Pajak.Keterlambatan dalam pembayaran dan penyetoran berakibat dikenai
sanksi administrasi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan.
Kekurangan pembayaran pajak yang terutang berdasarkan Surat
Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan harus dibayar lunas sebelum Surat
Pemberitahuan Pajak Penghasilan disampaikan.

PASAL 10

WP wajib membayar atau menyetor pajak yang terutang dengan


menggunakan Surat Setoran Pajak ke kas negara melalui tempat pembayaran
yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Adanya

tata cara pembayaran, penyetoran, dan pelaporan pajak, serta tata cara
mengangsur dan menunda pembayaran pajak diatur dengan atau berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan diharapkan dapat mempermudah pelaksanaan
pembayaran pajak dan administrasinya.
PASAL 11

Jika setelah diadakan penghitungan jumlah pajak yang sebenarnya terutang


dengan jumlah kredit pajak menunjukkan jumlah selisih lebih atau telah
dilakukan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang, WP berhak
untuk meminta kembali kelebihan pembayaran pajak, dengan catatan WP
tersebut tidak mempunyai utang pajak.

PASAL 12

Setiap WP wajib membayar pajak yang terutang sesuai dengan ketentuan


peraturan perundang-undangan perpajakan, dengan tidak menggantungkan
pada adanya surat ketetapan pajak.
WP yang telah menghitung dan membayar besarnya pajak yang terutang
secara benar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan, serta melaporkan dalam Surat Pemberitahuan, tidak perlu
diberikan surat ketetapan pajak atau pun Surat Tagihan Pajak
Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain, pajak yang
dihitung dan dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan yang bersangkutan tidak
benar, misal pembebanan biaya ternyata melebihi yang sebenarnya, Dirjen
Pajak menetapkan besarnya pajak yang terutang sebagaimana mestinya sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

PASAL 13

Dalam jangka waktu 5 tahun setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya
Masa Pajak, bagian tahun Pajak atau Tahun Pajak, Dirjen pajak dapat
menerbitkan Surat ketetapan Pajak Kurang Bayar dalam hal-hal berikut :
a. Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain pajak yang
terutang tidak atau kurang dibayar.
b. Apabila Surat Pemberitahuan tidak disampaikan dalam jangka waktu
sebagaimana yang ada di Pasal 3 ayat 3 dan setelah ditegur secara tertulis
tidak disampaikan pada waktunya sebagaimana ditentukan dalam Surat
teguran.
c. Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain mengenai
PPN dan PPnBM ternyata tidak seharusnya dikompensasikan selisih lebih
pajak atau tidak seharusnya dikenai tarif 0%

d. Apabila kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 atau Pasal 29


tidak dipenuhi sehingga tidak dapat diketahui besarnya pajak yang
terutang.
e. Apabila kepada WP diterbitkan NPWP dan atau dikukuhkan sebagai
PKPsecara jabatan.
Sanksi admnistrasi perpajakan dikenakan kepada WP karena melanggar
kewajiban perpajakan. Sanksi administrasi perpajakan tersebut berupa bunga
sebesar 2% per bulan yang dicantumkan dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang
Bayar. Sanksi administrasi berupa bunga, dihitung dari jumlah pajak yang
tidak atau kurang dibayar dan bagian dari bulan dihitung 1 bulan. Walaupun
Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar tersebut diterbitkan lebih dari 2 tahun
sejak berakhirnya Tahun Pajak, bunga dikenakan atas kekurangan tersebut
hanya untuk masa 2 tahun.