Anda di halaman 1dari 14

RESPIRASI GANONG

LAPORAN PRAKTIKUM
disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Fisiologi Tumbuhan
Dosen Pengampu:
Dr. H. Taufik Rahman, M.Pd
Dra. Hj. Sariwulan Diana, M.Si
Dr. Hj. Sri Anggraeni, M.Si
Hj. Tina Safaria, M.Si

oleh:
Kelompok 6
Kelas Pendidikan Biologi B 2013
Siti Amirah Makarim
Siti Barkatul Laely
Siti Komariah Agustina

1304946
1307117
1304395

Suci Novianti

1307223

Tira Tahnia

1306499

DEPARTEMEN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2016
A. JUDUL

Respirasi Ganong
B. WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN
Hari

: Rabu

Tanggal

: 01 Desember 2016

Tempat pelaksanaan

: Laboratorium Fisiologi

Waktu

: 09.30 12.00 WIB

C. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah yang ingin diselesaikan dalam
praktikum ini adalah bagaimana koefisien respirasi dan mengetahui jenis
substrat yang digunakan oleh sel tumbuhan pada saat respirasi?
D. TUJUAN
Tujuan yang diharapkan dalam praktikum ini adalah menentukan
koefisien respirasi dan mengetahui jenis substrat yang digunakan oleh sel
tumbuhan pada saat respirasi
E. HIPOTESIS
Koefisien respirasi ditentukan oleh jenis substrat yang digunakan
oleh sel tumbuhan pada proses respirasi.
F. DASAR TEORI
Proses respirasi merupakan reaksi oksidasi-reduksi, yaitu senyawa
dioksidasi menjadi CO2 dan O2 yang diserap direduksi menjadi H2O. Pati,
fruktan, sukrosa, atau gula yang lainnya, lemak, asam organik, bahkan
protein dapat bertindak sebagai substrat respirasi (Adyla, 2015).
Respirasi merupakan proses katabolisme atau penguraian senyawa
organik menjadi senyawa anorganik. Respirasi sebagai proses oksidasi
bahan organik yang terjadi didalam sel dan berlangsung secara aerobik
maupun anaerobik. Dalam respirasi aerob diperlukan oksigen dan
dihasilkan karbondioksida serta energi. Sedangkan dalam respirasi anaerob
dimana oksigen tidak atau kurang tersedia dan dihasilkan senyawa selain
karbondiokasida, seperti alkohol, asetaldehida atau asam asetat dan sedikit
energi (Adyla, 2015).

Karbohidrat merupakan substrat respirasi utama yang terdapat


dalam sel tumbuhan tinggi. Terdapat beberapa substrat respirasi yang
penting lainnya diantaranya adalah beberapa jenis gula seperti glukosa,
fruktosa, dan sukrosa; pati; asam organik; dan protein (digunakan pada
keadaan & spesies tertentu). Secara umum, respirasi karbohidrat dapat
dituliskan sebagai berikut:
C6H12O6 + O2

6CO2 + H2O + energy

Reaksi di atas merupakan persamaan rangkuman dari reaksi-reaksi


yang terjadi dalam proses respirasi. (Adyla, 2015)
Proses respirasi diawali dengan adanya penangkapan O2 dari
lingkungan. Demikian juga halnya dengan CO2 yang dihasilkan respirasi
akan berdifusi ke luar sel dan masuk ke dalam ruang antar sel. Hal ini
karena membran plasma dan protoplasma sel tumbuhan sangat permeabel
bagi kedua gas tersebut. Setelah mengambil O2 dari udara, O2 kemudian
digunakan dalam proses respirasi dengan beberapa tahapan, diantaranya
yaitu glikolisis, dekarboksilasi oksidatif, siklus krebs, dan transpor
elektron. Secara sederhana, proses respirasi dapat dijabarkan sebagai
berikut :
1. Glikolisis:
Glukosa 2 asam piruvat + 2 NADH + 2 ATP
2. Siklus Krebs
2 asetil piruvat 2 asetil KoA + 2 CO2 + 2 NADH + 2 ATP
2 asetil KoA

4 CO2 + 6 NADH + 2 FADH2

3. Rantai transpor elektron:


10 NADH + 5O2 10 NAD+ + 10 H2O + 30 ATP
2 FADH2

O2

2 FAD + 2 H2O + 4 ATP

Jadi, total energi yang dihasilkan dari proses respirasi adalah 38 ATP
(Danang, 2008).
Respirasi merupakan rangkaian dari 50 atau lebih reaksi
komponen, masing-masing dikatalisis oleh enzim yang berbeda. Respirasi
merupakan oksidasi (dengan produk yang sama seperti pembakaran) yang
berlangsung di medium air dengan Ph mendekati netral, pada suhu sedang

dan tanpa asap. Pemecahan bertahap dan berjenjang molekul besar


merupakan cara untuk mengubah energi menjadi ATP. Lebih lanjut, sejalan
dengan berlangsungnya pemecahan, kerangka karbon-antara disediakan
untuk menghasilkan berbagai produk esensial lainnya dari tumbuhan.
Produk ini meliputi asam amino untuk protein, nukleotida untuk asam
nukleat, dan prazat karbon untuk pigmen porfirin (seperti klorofil dan
sitokrom). Tentu saja bila senyawa tersebut terbentuk, pengubahan substrat
awal respirasi menjadi CO2 dan H2O tidaklah lengkap. Biasanya hanya
beberapa substrat respirasi yang dioksidasi seluruhnya menjadi CO 2 dan
H2O (proses katabolik/penguraian), sedangkan sisanya digunakan dalam
proses sintesis (anabolisme/pembentukan) terutama di dalam sel yang
sedang tumbuh. Energi yang ditangkap dari proses oksidasi sempurna
beberapa senyawa dapat digunakan untuk mensintesis molekul lain yang
dibutuhkan untuk pertumbuhan. Bila tumbuhan sedang tumbuh, laju
respirasi meningkat sebagai akibat dari permintaan pertumbuhan, tapi
beberapa senyawa yang hilang dialihkan ke dalam reksi sintesis dan tidak
pernah muncul sebagai CO2 (Adyla, 2015).
Suatu indeks untuk dapat menilai substrat yang digunakan dalam
respirasi adalah koefisien respirasi degan singkatan KR atau RQ
(Respiration quetiont) yang diperoleh dari RQ = Evolusi CO2 (mol/
konsumsi O2 mol) Harga RQ = 1 untuk oksidasi karbohidrat, kurang dari 1
(0,7 0,8) untuk lipid dan mendekati satu untuk protein. Untuk lipid,
hanya demikian adalah akibat senyawa ini lebih tereduksi dari karbohidrat
yakni jumlah H lebih banyak dari O dalam molekulnya (Adyla, 2015).
Berbagai

faktor

lingkungan

dapat

mempengaruhi

laju

respirasi,

diantaranya adalah sebagai berikut :


1. Ketersediaan substrat
Respirai bergantung pada ketersediaan substrat. Tumbuhan
yang kandungan pati, fruktan, atau gulanya rendah, melakukan
respirasi pada laju yang rendah. Tumbuhan yang kahat gula sering
melakukan respirasi lebih cepat bila gula disediakan. Bahkan laju
respirasi daun sering lebih cepat segera setelah matahari tenggelam,

saat kandungan gula tinggi dibandingkan dengan ketika matahari


terbit, saat kandungan gulanya lebih rendah.
2. Ketersediaan oksigen
Ketersediaan oksigen akan mempengaruhi laju respirasi,
namun besarnya pengaruh tersebut berbeda bagi masing-masing
spesies dan bahkan berbeda antara organ pada tumbuhan yang sama.
Fluktuasi normal kandungan oksigen di udara tidak banyak
mempengaruhi laju respirasi, karena jumlah oksigen yang dibutuhkan
tumbuhan untuk berespirasi jauh lebih rendah dari oksigen yang
tersedia di udara.
3. Suhu
Pengaruh faktor suhu bagi laju respirasi tumbuhan sangat
terkait dengan faktor Q10, dimana umumnya laju reaksi respirasi akan
meningkat untuk setiap kenaikan suhu sebesar 10oC, namun hal ini
tergantung pada masing-masing spesies. Bagi sebagian besar bagian
tumbuhan dan spesies tumbuhan, Q10 respirasi biasanya 2,0 sampai 2,5
pada suhu antara 5 dan 25C. Bila suhu meningkat lebih jauh sampai
30 atau 35C, laju respirasi tetap meningkat, tapi lebih lambat, jadi
Q10 mulai menurun.
4. Jenis dan Umur Tumbuhan
Masing-masing

spesies

tumbuhan

memiliki

perbedaan

metabolisme, dengan demikian kebutuhan tumbuhan untuk berespirasi


akan berbeda pada masing-masing spesies. Tumbuhan muda
menunjukkan laju respirasi yang lebih tinggi dibanding tumbuhan
yang tua. Demikian pula pada organ tumbuhan yang sedang dalam
masa pertumbuhan.
Perbedaan laju respirasi pada setiap jenis kecambah juga
didasarkan dari kandungan substrat respirasi, seperti karbohidrat,
protein, dan lemak yang berbeda-beda setiap jenis. Laju respirasi
kacang hijau lebih tinggi dari jagung ini dikarenakan kacang
kacangan mengandung pati dan rendah akan kandungan lemak atau

minyak dimana lemak banyak mengandung hydrogen dan rendah akan


oksigen sehingga proses respirasi lebih sedikit (Adyla, 2015).
Tumbuhan kacangan kacangan yang mengandung pati
sebagai cadangan makanan menunjukan nilai RQ sekitar 1,0 tapi, biji
berbagai tumbuhan lebbih banyak mengandung lemak atau minyak
yang kaya hydrogen dan rendah kandungan oksigen. Koefisien
respirasi pada tanaman Jagung lebih rendah dari pada tanaman
Kacang hijau, biasa disebabkan oleh perkecambahan yang kurang baik
atau umur kecambah yang belum cukup umur sehingga pembentukan
substrat, patinya rendah disebabkan umur kecembah. Ini sesuai
dengan respirasi tergantung pada ketersediaan substrat, tanaman yang
kelaparan , yang kandungan pati, fruktosa atau gulanya rendah.
Tumbuhan sehat gula sering melakukan respirasi lebih cepat bila gula
disediakan (Adyla, 2015).
Biji Kacang Hijau (Phaseolus radiatus)
Klasifikasi
Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom

: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh

Super Divisi

: Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas

: Rosidae

Ordo

: Fabales

Famili

: Fabaceae (suku polong-polongan)

Genus

: Phaseolus

Spesies

: Phaseolus radiatus L.

G. METODE KERJA
1

Alat dan Bahan


a

Alat
Seperangkat alat respirasi ganong

Bahan

Tabel 1. Bahan Praktikum


No.
1.
2.
3.
4.
5.

Nama Bahan
Alumunium foil
Larutan NaCl
Kristal KOH
Kertas saring
Kecambah

Jumlah
secukupnya
80 ml
secukupnya
secukupnya
secukupnya

Cara Kerja
Bagan 1. Cara Kerja Pengamatan Respirasi Ganong
Kertas saring diletakkan pada dasar labu, kemudian diberi beberapa ml
air
Kecambah dimasukkan di atas kertas saring tersebut
Dinding labu ditutup dengan alumunium foil/ kertas karbon
Tabung respirometer dengan larutan NaCl secukupnya melalui ujung
tabung yang lain. Permukaan larutan NaCl pada tabung respirometer
diusahakan berada di bagian bawah skala, tidak melebihi batas skala
pada bagian atasnya (bagian dekat labu respirometer)

labu respirometer ditutup sehingga hubungan dengan udara luar


terputus
Permukaan larutan NaCl pada awal percobaan dicatat. percobaan
dibiarkan berjalan selama 30 menit.
Dicatat kembali permukaan larutan sekarang, dimasukkan kristal KOH
ke dalam tabung melalui tabung samping.
Didiamkan selama 30 menit dan dicatat kembali perubahan skala yang
terjadi

H. HASIL PENGAMATAN
Tabel 1. Koefisien Reaksi dan Jenis Substrat pada Respirasi Kecambah
Kacang Hijau
Kelompok
1
2
3
4
5
6

V1 (ml)
0,25
2,8
1,3
0,5
0,4
0,25

V2 (ml)
1
3,8
0,6
2,5
0,5
0,35

Koefisien Respirasi (KR)


0,8
0,57
0,32
1,25
0,56
0,58

Jenis Substrat
Protein
Lemak
Lemak
Asam organik
Lemak
Lemak

7
0
0,5
1
8
0,5
1
0,33
Keterangan : V1 = volume NaCl sebelum diberi KOH
V2 = volume NaCl setelah diberi KOH

Karbohidrat
Lemak

Tabel 2. Hasil Pengukuran menggunakan Alat Respirasi Ganong


0 menit setelah diberi
larutan NaCl

30 menit setelah diberi


larutan NaCl

30 menit setelah diberi


Kristal NaOH

Dokumentasi Kelompok 6,
2016
Keterangan :
belum ada perubahan

Dokumentasi Kelompok 6,
2016
Keterangan :
larutan naik 5 strip

Dokumentasi Kelompok 6,
2016
Keterangan :
larutan naik 7 strip

I. PEMBAHASAN
Dalam praktikum kali ini kami akan membahas mengenai respirasi,
yang dalam hal ini akan dibahas mengenai respirasi aerob. Seperti yang
kita ketahui bahwa selain melakukan fotosintesis, tumbuhan juga
melakukan

respirasi.

Pada

dasarnya

respirasi

merupakan

proses

penguraian senyawa organik menjadi senyawa anorganik dengan


menghasilkan energi. Secara umum, proses respirasi dapat dilihat dari
reaksi di bawah ini:
C6H12O6 (aq) + 6O2 (g) 6CO2 (g) + 6H2O (l) + E
Dari persamaan di atas diperoleh bahwa substrat yang diuraikan
adalah senyawa karbohidrat yang merupakan hasil dari proses fotosintesis.

Perlu ditekankan juga bahwa substrat yang diuraikan dalam proses


respirasi tidak hanya karbohidrat saja, melainkan dapat berupa protein,
lemak, atau asam organik. Untuk mengetahui jenis substrat yang
digunakan oleh sel tumbuhan pada proses respirasi, maka dilakukan
percobaan dengan menggunakan alat yang disebut Respirometer Ganong.
Respirometer Ganong adalah alat yang dapat digunakan untuk menentukan
angka respirasi (RQ = Respiratory Quotient) secara kuantitatif dalam suatu
peristiwa pernapasan. Harga RQ merupakan harga perbandingan CO2 yang
dihasilkan dalam penapasan dengan O2 yang digunakan dalam pernapasan
tersebut.
Dalam praktikum kali ini, digunakan kecambah kacang hijau
karena tumbuhan ini merupakan suatu organisme yang walaupun ia masih
belum berkembang dengan sempurna tetapi sudah bisa melakukan
pernapasan, hal ini terbukti dari hasil percobaan yang telah diamati dimana
kecambah sebagai bahan percobaan mampu melakukan respirasi.
Digunakan pula alat yang disebut respirometer, alat ini berfungsi untuk
mengukur jumlah oksigen yang diperlukan dalam respirasi. Langkah awal
dalam praktikum ini yakni kertas saring dimasukkan ke dalam dasar labu
dan dibasahi dengan air. Hal ini dilakukan agar kondisi dalam labu lembab
dan disesuaikan dengan keadaan lingkungan kecambah sehingga aktifitas
metabolisme

kecambah

terus

berlangsung.

Kemudian

kecambah

diletakkan diatas kertas saring tadi sampai labu terisi penuh agar aktifitas
respirasi mudah diamati. Kecambah yang dimasukkan tadi diusahakan
tidak sampai patah. Setelah labu terisi penuh, labu ditutup oleh alumunium
foil agar tidak terjadi proses fotosintesis sehingga hanya proses respirasi
yang teramati. Tabung respirometer diisi dengan larutan NaCl bukan
aquades. Ini desebabkan karena larutan NaCl memiliki nilai fiskositas
yang lebih tinggi dari air sehingga tidak menempel pada dinding tabung
sama dengan air raksa. 10 menit setelah penambahan NaCL, diberi pula
penambahan KOH bertujuan untuk mengikat CO2 hasil respirasi
kecambah. Dengan begitu jumlah volume udara yang diserap atau
dikeluarkan oleh tumbuhan dapat teramati dengan baik.

Pada percobaan yang dilakukan oleh kelompok kami, ditemukan


kenaikan larutan NaCl setinggi 5 strip yang menandakan bahwa adanya
sejumlah oksigen yang diambil dari ruang tabung dan sejumlah
karbondioksida yang dikeluarkan. Namun jumlah oksigen yang diserap
lebih banyak dibandingkan jumlah karbondioksida yang diserap, sehingga
larutan NaCl dalam tabung mengalami kenaikan. Hal yang sama terjadi
ketika ditambahkan KOH, larutan kembali naik sebanyak 7 strip. Sehingga
rumus untuk penentuan koefisien respirasi adalah rumus positif yaitu
KR=V2/(V1+V2). Dari perhitungan diperoleh koefisien respirasi sebesar
0,58 yang berarti bahwa substrat yang dirombak untuk memperoleh energi
adalah lemak. Untuk memperoleh sejumlah energi dari lemak, terlebih
dahulu subtrat tersebut harus dipecah menjadi asam lemak dan gliserol.
Asam lemak dan gliserol langsung masuk pada daur krebs dan transport
elektron yang pada akhirnya menbentuk sejumlah ATP.
Respirasi

lemak

yang

dilakukan

oleh

kecambah

tersebut

disebabkan cadangan karbohidrat pada tumbuhan telah habis untuk proses


respirasi sebelumnya. Setelah lemak habis dirombak maka substrat yang
akan dirombak berikutnya adalah protein dan yang terakhir adalah asam
organik. Urutan perombakan ini bukan tanpa alasan. Urutan sumber
substrat yang dirombak berdasarkan besar kecilnya molekul dan dan
tingkat energi yang diperlukan untuk merombak molekul tersebut.
Semakin besar suatu molekul maka akan dirombak paling belakang. Meski
pada kenyataan yang sebenarnya tidak semua kecambah menggunakan
lemak sebagai sumber energi, tetapi dimungkinkan ada sejumlah kecil
kecambah yang masih menggunakan karbohidrat (dibuktikan oleh
kelompok 7), protein (dibuktikan oleh kelompok 1) dan ada pula yang
menggunakan asam organik (dibuktikan oleh kelompok 4) sebagai substrat
respirasi. Akan tetapi pada praktikum kali ini sebagian besar kecambah
menggunakan lemak sebagai sumber energi (dibuktikan oleh hasil
pengamatan dari kelompok 2, 3, 5, 6, dan 8) dengan perolehan nilai
koefisien respirasinya kurang dari 0,7 menggunakan rumus positif. Hal

tersebut bukan merupakan kesalahan namun lebih kepada kurangnya


variasi data yang diperoleh.
J. JAWABAN PERTANYAAN
1. Dari hasil percobaan saudara rumus KR mana yang saudara gunakan?
Jawab: Rumus yang digunakan adalah KR = V2/(V1+V2) karena V1
naik dan V2 naik.
2. Apa yang dimaksud dengan V1, V2, V1 + V2, atau V2 - V1?
Jawab: V1 adalah jumlah O2 yang digunakan oleh tumbuhan
V2 adalah jumlah CO2 yang diikat oleh KOH
V1 dan V2 adalah volume O2 atau CO2 yang diserap atau
dikeluarkan oleh tumbuhan
V1 + V2 digunakan jika jumlah O2 yang digunakan lebih
banyak dibandingkan CO2
V2 - V1 digunakan jika jumlah CO2 yang digunakan lebih
banyak dibandingkan O2
3. Mengapa dalam percobaan tersebut menggunakan larutan NaCl atau
larutan Hg?
Jawab: Larutan NaCl atau Hg memiliki nilai fiskositas yang lebih
tinggi daripada larutan-larutan yang lainnya sehingga tidak akan
menempel pada tabung respirometer (Ganong).
4. Dari hasil KR yang saudara dapat, substrat respirasi apa yang
digunakan oleh tumbuhan tersebut?
Jawab: Berdasarkan nilai perhitungan KR dapat disimpulkan substrat
yang digunakan dalam respirasi kecambah tersbut adalah lemak karena
nilai KR yang didapat adalah 0,58 (Substrat lemak jika KR<0,7).
5. Sebutkan macam-macam substrat respirasi tumbuhan beserta nilai KRnya ?
Jawab : Macam-macam substrat yang direspirasi yaitu:

Lemak, jika KR<0,7

Protein, jika KR 0,8-0,9

Karbohidrat, jika KR=1

Asam organik, jika KR>1

K. PENUTUP
1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan kelompok
6-B maka kita bisa menyimpulkan bahwa jenis substrat respirasi
kecambah kacang hijau yang digunakan adalah lemak hal ini
dikarenakan nilai KR yang didapatkan adalah 0,58. Nilai KR yang
didapat termasuk kedalam golongan lemak, karena KR lemak <0,7.
2. Saran
Untuk

praktikum

selanjutnya

diharapkan

tidak

hanya

menggunakan kecambah kacang hijau, lebih baik menambah ragam


kecambah yang digunakan, supaya hasil yang didapatkan dari diskusi
kelas lebih beragam dan lebih lengkap.

DAFTAR PUSTAKA
Adyla. (2015). Dasar Teori Respirasi Genong. [Online]. Tersedia:
https://www.scribd.com/doc/91633233/Dasar-Teori-Respirasi-Ganong [04
Desember 2016]
Danang. (2008). Fotosintesis dan Respirasi. [Online]. Tersedia:
www.indoskripsi.com [04 Desember 2016]