Anda di halaman 1dari 27

Pintu Guru Yang Tersembunyi

Bismillaahirrahmaanirrahim
Inilah suatu pasal pada menyatakan pintu guru yang
tersembunyi yang tiada diajarkan kepada orang-orang yang
belum belajar tentang Ilmu Tauhid atau Sifat 20 (dua puluh),
sebab buku ini berisi perihal orang-orang mengenal diri atau
tata cara mengenal Allah pencipta Alam dan segala isinya
supaya sempurna segala amal ibadahnya.
Adapun di dalam tulang kepala itu Otak
Di dalam Otak itu Maal Hayat atau Air Hidup
Di dalam Maal Hayat itu Akal
Di dalam Akal itu Budi
Di dalam Budi itu Roh
Di dalam Roh itu Mani
Di dalam Mani itu Rasa
Di dalam Rasa itu Nikmat
Di dalam Nikmat itu Nurullah
Di dalam Nur Muhammad
Firman Allah AWWALU TAJLI ZATTULLAH TAALA BISIFATIHI
Artinya : Mula-mula timbul Zat Allah Taala kepada Sifatnya
AWWALU TAJLI SIFATULLAH TAALA BIASMA IHI
Artinya : Mula-mula timbul Sifat Allah Taala kepada namanya
AWWALU TAJLI ASMADULLAHI TAALA BIAP ALIHI
Artinya : Mula-mula timbul nama Allah taala kepada
perbuatannya
AWWALU TAJLI AF ALULLAHI TAALA BIINSAN KAMILUM
BIASMAI.

Artinya : Mula-mula timbul perbuatan Allah Taala kepada


Insan yang Kamil yakni Muhammad RasulNya
QOLAH NABIYI SAW : AWALUMAA KHALAKALLAHU TAALA
NURI
Artinya : Berkata Nabi SAW, yang mula-mula dijadikan Allah
Taala Cahayaku, baharu Cahaya sekalian Alam
QALAN NABIYI SAW : AWWALU MAA KHALAKALLAHUTAALA
RUHI"
Artinya : Yang mula-mula dijadikan Allah Taala Rohku,
baharu roh sekalian alam
QOLAN NABIYI SAW : AWWALU MAA KHALAKALAHU TAALA
QOBLI
Artinya : Yang mula-mula dijadikan Allah Taala Hatiku, bahru
hati sekalian alam
QOLAN NABIYI SAW : AWWALU MAA KHALAKALLAHUTAALA
AKLI
Artinya : Yang mula-mula dijadikan Allah Taala Akalku,
baharu akal sekalian alam
QOLAN NABIYI SAW : ANA MINNURILAHI WA ANA MINNURIL
ALAM
Artinya : Aku cahaya Allah dan Aku juga menerangi Alam
HADIST : "AWALUDDIN MARIFATULLAH
Artinya : Awal-awal agama adalah mengenal Allah
Sebelum mengenal Allah terlebih dahulu kita disuruh
mengenal diri, seperti Hadist : "MANARA PANAP SAHU

PADADARA PARABBAHU
Artinya : Barang siapa mengenal dirinya, mengenal ia akan
Tuhannya
MAN ARA PANAPSAHU PAKDRA PARABBAHU LAYA RIPU
NAPSAHU"
Artinya : Barang siapa mengenal Tuhannya, niscaya tiada
dikenalnya lagi dirinya
"MAN ARA PANAPSAHU BILFANA PAKADARA PARABBAHU BIL
BAQA
Artinya : Maka barang siapa mengenal dirinya binasa,
niscaya dikenalnya Tuhannya kekal
"KHALAK TUKA YA MUHAMMAD WAKHALAK TUKA ASY YA ILA
ZALIK"
Artinya : Aku jadikan Engkau karena Aku dan Aku jadikan
Alam dengan segala isinya karena Engkau Ya Muhammad
Firman Allah : AL INSAN SIRRU WA ANA SIRRUHU
Artinya : Insan itu RahasiakKu dan Aku Rahasia Insan
WA AMBATNAL ABRU RABBUN AU ZAHIRU RABBUN ABBUN
Artinya : Adapun bathin hamba itu Tuhan dan Zahir dan
Tuhan itu hamba
LAHIN HUWA WALAHIN GHAIRUH
Artinya : Tiada ia tetap dan tiada ia lain dari ia
Firman Allah Taala didalam Al-quran : FAHUWA MAAKUM
AINAMA KUNTUM
Artinya : Di mana saja Engkau berada (pergi) Aku serta kamu

"HUWAL AWWALU WAL AKHIRU WALBATHINU WAZZAHIRU


Artinya : Ia jua Tuhan yang awal tiada permulaannya, dan Ia
jua Tuhan yang akhir tiada kesesudahannya, Ia jua bathin
dan Ia jua Zahir
Dalam pandangan Marifat kita kepada Zat Allah Taala itu,
LAISA KAMIS LIHI SYAIUN" tiada seumpamanya bagi sesuatu,
dan bukan bertempat.
Adapun Marifat kita atau pengenalan kita akan diri diperikan
AF 'ALULLAH, adapun Marifat kita akan AF ALULLAH, LAHAU
LAWALA KUWWATA ILLAH BILLAHHILALI YILAZIM.
Artinya : Datang daripada Allah dan kembalinya kepada Allah
jua segala sesuatu, sesuai dengan hadist Nabi yang berbunyi
demikian : MUTU ANTAL KABLAL MAUTU. Artinya : Matikan
diri kamu sebelum mati kamu.
Adapun mati ini ada dua mana, maka apa bila Roh bercerai
dengan jasad itu mati hisi namanya, atau mati yang
sebenarnya. Adapun mati yang dimaksud hadis Nabi yang di
atas tadi, adalah mati Manawi, artinya mati dalam
pengenalan mata hati.
Mahasuci Allah Subhanahu wataala Tuhan Rabbilizzati dari
upayamu, wujudmu, supaya Aku terang sempurna, upaya
Allah dan kuat Allah, dan wujudnya Allah BILLAHI
LAYARILLAH tiada yang mempunyai dan menyembah Allah
hanya Allah.
Bagitu sekalian Aribbillah mengerjakan ibadat kepada Allah
Taala. Adapun yang bernama Rahasia itu Sirrullah.

Adapun kita bertubuh akan Muhammad Bathin dan Zahir


bertubuh akan Roh. Adapun jadi nyawa itu bertubuh kanan
Idhafi Kadim (terdahulu), maka tiada lagi kita kenang tubuh
dan zahir dan bathin itu, akan bernama Rahasia Ia Allah, Sir
namanya kepada kita, karena rahasia itu Nur. Adapun
sebenar-benarnya Sifatullahitaala kepada kita inilah
RahasiaNya yang dibicarakan Rahasia yang sebenarnya
RahasiaNya yang kita ketahui.
Adapun jalan hakikat yang sebenarnya yang mengata Allahu
Akbar waktu kita sembahyang itu, ialah Zat, Sifat, Asma,
Afal, Kudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, itu nama Rahasia Allah
Taala namanya kepada kita, itulah yang mengata Allahu
Akbar tiada hati lagi, karena yang bernama Zat, Sifat, Asma,
Afal, Kudrat Iradat, Ilmu, Hayat itu nama Rahasia Allah Taala
namanya kepada kita.
Batin dan zahir kita akan memerintah diri, adapun diri kita
tadi ialah Roh. Roh tadilah yang menerima perintah rahasia,
maka berlakulah berbagai-bagai bunyi dan kelakuan di dalam
sembahyang. Semua itu adalah perintah rahasia, maka
perintah rahasia inilah Sirrullah. Karena Rahasia inilah kita
dapat melihat Allah dan menyembah Allah serta hidup
berbagai-bagai, itulah rahasia Allah kepada kita.
Firman Allah MAN ARA PANAPSAHU PAKADARA
PARABBAHU
Artinya : Maka barang siapa mengenal dirinya, mengenal ia
akan Tuhannya.
Maka mengetahui ia akan asal Nabi Allah Adam, nasarnya Air,

Api, Angin, Tanah. 4 (empat) inilah yang dijadikan Allah, maka


turun kepada kita seperti Firman Allah Taala, kita disuruh
mengetahui :
Adapun
Adapun
Adapun
Adapun

tanah itu Tubuh kita


Api itu Darah kita
Air itu Air Liur kita
Angin itu Nafas kita.

Maka berdiri syariat, adapun kejadian air itu Tarikat, kejadian


api itu Hakikat, dan kejadian Angin itu Marifat. Baginilah kita
atau cara kita mengenal diri namanya.
Adapun tatkala kita tidur itu, adalah perintah Rahasia Allah,
maka dari itu janganlah lagi kita kenang dan janganlah kita
berkehendak atau panjang angan-angan dan jangan lagi
diingat diri kita ini, karena tiada hayat lagi di waktu kita tidur
itu, itu adalah Rahasia Allah.
Adapun perintah segala hati pada tengah-tengah hati
berbagai bagai, adapun tempat rahasia itu di dalam jantung.
Maka jikalau tiada rahasia Allah itu, tiadalah bathin dan zahir
ini berkehendak, karena pada hakekatnya rahasia Allah itulah
menjadi kehendak segala manusia dan binatang. Akan tetapi
awas, jagalah hukum syara (syariat) yang difardhukan pada
kita, maka dari tiliklah dan perhatikan bersunguh-sungguh
perkara yang tersebut di atas.
Maka barang siapa menilik sesuatu tiada melihat ia akan
Allah di dalamnya, maka tiliknya itu batil atau syirik, karena
ia tiada melihat akan Allah Taala.

Berkata Saidina Abu Bakar Siddik r.a :



Artinya : Tiada aku melihat akan sesuatu melainkan Allah
yang aku lihat Allah Taala terlebih dahulu.
Kata Umar Ibnu Khattab r.a :
MAA RAAITU SYAIAN ILLA WARAAITULLAHU MAAHU
Artinya : Tiada aku lihat sesuatu melainkan aku lihat Allah
kemudiannya.
Kata Usman Ibnu Affan r.a :

Artinya : Tiada aku melihat sesuatu melainkan yang aku lihat
Allah besertanya.
Kata Ali Ibnu Abi Talib r.a :

Artinya : Tiada Ku lihat sesuatu kecuali Allah yang kulihat di
dalamnya.
Maka perkataan para sahabat itu agar berbeda, akan tetapi
maknanya bersamaan.
Firman Allah di dalam Al-Quraan yang berbunyi :
WAHUWA MAAKU AINAMA KUNTUM
Artinya : Ada hak Tuhan kamu
Firman Allah Taala :
WAHI AMPUSIKUM APALA TUBSIRUN
Artinya : Ada Tuhan kamu di dalam diri kamu, mengapa
tidakkah kamu lihat akan Aku kata Allah, padalah Aku terlebih
hampir dari padamu matamu yang putih dengan hitamnya,

terlebih hampir lagi Aku dengan kamu.


Kemudian dari itu hendaklah kita ketahui benar-benar akan
diri ini mengapa kita ini menjadi hidup, melihat, mendengar,
berkata-kata, kuasa memilih baik dan jahat, cuba renungkan
sejenak, siapakah yang berbuat di balik kekuasaan kita ini.
Maka di sini kita kembalikan saja kepada pasal rahasia yang
telah lalu, sebutannya pasti kita bertemu dengan Allah atau
Miraj dengan Dia.
Maka barang siapa tiada mengetahui perkara ini, tiada
sempurna hidupnya dunia dan akhirat dan jikalau dia
beramal apa saja semua amalannya itu syirik, maka dari itu
hendaklah kita ketahui benar-benar apa asalnya yang
menjadi nyawa dan roh itu.
Yang menjadi Nyawa dan Roh itu ialah ZADTULLAHITAALA
daripada Ilmunya dan Roh sekalian alam.
Seperti sabda nabi kita ANA ABUL BASYARI
Artinya : Aku Bapak segala Roh dan Bapak segala Tubuh
Bermula sebenarnya Roh, tatkala di dalam tubuh, Nyawa
namanya, tatkala ia berkehendak, Hati namanya, tatkala ia
kuasa memperbuat, Akal namanya, maka kesemuanya itu
adalah Rahasia Allah Taala kepada kita. Maka barang siapa
tiada tahu perjalanan ini, maka tiada sempurna hidupnya
dunia dan akhirat.
Hidup ada nyawa itulah Muhammad dinamai akan dia
bayang-bayang Ianya yang empunya bayang-bayang dan

Idhofi, akan tetapi daripada Nur jua, karena tiada diterima


oleh akal kalau bayang-bayang itu maujud sendirinya, kalau
ada yang empunya bayang-bayang ialah Allah Taala
sendirinya.
Demi Allah dan Rasulullah Islam dan Kafir, jikalau tiada tahu
atau tiada percaya akan kejadian Nur itu perjalanan Roh,
maka menjadi kafir lagi munafik. Karena apabila tiada tahu
mengenal diri dan tiada tahu/tiada dapat membedakan
antara Khalik dan Makhluk, maka amalan orang tersebut itu
Syirik.
Peganglah nasihat seorang Al Arifbillah yang berbunyi
demikian :
LATUHADDISUN NAASIBIMA LAMTUSLIHU AKWALAHUM
ATURIDDUN AYYUKAZ ZIBULLAHAWARASULIH
Artinya : Jangan kamu ajarkan akan manusia, akan ilmu yang
tiada sampai akal mereka itu, adalah kamu itu nanti
didustakannya oleh mereka itu Allah dan Rasulnya, maka
orang itu kafir.
Jadi garis besarnya, apabila seseorang umpamanya, tiada
biasa belajar Ilmu Usuluddin atau Sifat `20 (dua puluh) tiada
boleh diajarkan akan Ilmu Rahasia yang tersebut di dalam
buku ini.

Nur Yang Hidup


BISMILLAAHIN NURI NURUNALA NURIN
Inilah risalah singkat menjelaskan tentang martabat 7 (tujuh). Karena Martabat 7
(tujuh) itulah tahkiknya faham Marifat atau sempuna bagi Aulia Allah yang
semuanya mempunyai keramat besar dalam sejarah Mazhab Ahlul Sunnah
Waljamaah yang 4 (empat).
Adapun yang mula-mula menyusun martabat 7 (tujuh) itu ialah SYEH AHMAD
KUSASI BIN MUHAMMAD AL MADANI WALI KUTUB RABBANI RIJALUL SHAID yang
masyur itu. Kemudian diteruskan lagi oleh murid-muridnya yang bernama SYEH
ABDURRAUB, SYEH MUHAMMAD SEMAN dan lain-lainnya yang semuanya berderajat
Wali Kutubburrabbani.
Adapun marabat 7 (tujuh) itu adalah berdasakan hukum AKLI dan NAKLI, untuk
memahami Rahasia kebesaran Nabi kita Muhammad SAW yang sebenar-benarnya
karena himpunan segala rahasia Allah itu adalah terhimpun pada Wujud diri Nabi
kita yang bernama Muhammad dan kezahiran Nabi kita itu menurut kezahiran
manusia biasa dengan beribu berbapak dan sebagainya.
Adapun arti martabat itu ialah tingkatan kezahiran rahasia Allah Taala dan
bersusun:
1.

Martabat AHDIAH

2.

Martabat WAHDAH

3.

Martabat WAHIDIYAH

4.

Martabat ALAM ARWAH

5.

Martabat ALAM MISAL

6.

Martabat ALAM ZASAM

7.

Martabat ALAM INSYAN.

PENJELASAN SATU PERSATU


1. MARTABAT AHDIAH
Martabat Ahdiah bermakna Keesaan dan hukumnya LAA TAAIN. Artinya : Tiada ada
sesuatu wujud yang terdahulu adanya, oleh karena itu hanya dinamakan AL HAQ
artinya : Keesaan Kesempurnaan Semata-mata.
Seperti Hadis Nabi SAW WAKA HALLAHUWALA SYIUM MAAHU
Artinya : Adalah Allah itu Maha Esa dan tiada ada lainnya sertanya.
Maka martabat Ahdiah itu bukanlah bermakna bahwa ada sesuatu wujud yang
terdahulu adanya daripada Nur Muhammad atau wujud yang maujud adanya Nur
Muhammad, tetapi adalah untuk menolak adanya Itikad yang menetapkan bahwa
ada lagi suatu wujud yang mengujudkan Nur Muhammad. Jadi jelasnya martabat 7
yani Martabat Ahdiah itu adalah bermakna pengakuan kepada Ke Esaan, Kebesaran
dan Kesempurnaan Nur Muhammad itu semata-mata. Oleh karena itu Martabat
yang sebenar-benarnya adalah 6 (enam) saja. Dan bukan 7 (tujuh), sejalan dengan
ayat FII SIT TATIAIYA MIN SUMMASTAWAALAL ARSII artinya :Kesempurnaan
kejadian semesta alam adalah di dalam 6 (enam) masa.
Kemudian sempurnalah kebesaran Allah pada kejadian ARASY yang Maha Besar itu,
menurut hadis sahih bahwa masa yang terakhir yakni kejadian sempurnalah
kejadian Nabi Adam",dengan ditempatkan di atas muka bumi.
Adapun hakikat ARASY yang sebenarnya menurut faham Marifat yang tahkik adalah
terkandung pada isyarat-isyarat huruf Nabi Adam itu sendiri, ialah Alif dan Dal itu
mengisyaratkan kepada AHMAD dan MIM itu mengisyaratkan pada
MUHAMMAD.
Oleh karena itu pada hakikatnya kezahiran Nabi Adam itu adalah menjadi Wasilah
Jaani menjadi jalan bagi kezahiran kebesaran Nabi kita yang bernama Muhammad
itu sendiri.

Di dalam tafsir yang maItisar kebesaran Nabi kita yang bernama Muhammad itu
telah berwujud suatu sinar yang sangat menakjubkan pada nabi dan rasul-rasul
yang terdahulu dan bahkan kebesaran itulah yang telah menjadi MUJIZAD bagi
Nabi-nabi terdahulu, maka kebesaran itulah diisyaratkan dengan ANNUR di dalam
AL QURAN, dan ANNUR itu bukanlah bermakna cahaya, tetapi bermakna Keluasan,
Kesempurnaan yang tiada terbatas dan tiada terhingga.
2. MARTABAT WAHDAH
Adapun Martabat Wahdah bermakna wujud yang awal yang tiada ada permulaannya
dan hukumnya TAINUL AWWALU artinya : wujud yang terdahulu adanya daripada
segala wujud yang lainnya, lagi tiada ada permulaannya. Itulah yang dinamakan
HAIYUN AWWALU, HAIYUN AZALI, HAIYUN IZZATI, HAIYUN HAKIKI, yakni bersifat
HAIYUN yang sebenar-benarnya QADIM yang NAFSIAH, SALBIAH, MAANI dan
MANAWIAH, ZALAL, ZAMAL, QAHAR, KAMAL, itulah hakikat kebesaran Nabi kita itu
yang bernama Muhammad Rasulullah Sallahualaihi Wasallam.
Maka Kandungan nama Muhammad itulah yang dinamakan dengan Wahdah. Yang
menjadi jumlah dan himpunan AFAL, ASMA, SIFAT, ada pun ZAT hanyalah bagi
MALUM yakni Sendirinya.
ILLAH tidak lain, dan dinamakan HAWIYYATULALAMI artinya : Sumber segala
kejadian semesta alam ini, dan dinamakan HADRATUS SARIZ artinya : Kebesaran
yang dipandang pada tiap-tiap yang maujud pada alam ini, itulah yang diisyaratkan
dalam Al Quran NURUNALA NURIN artinya : Nur yang sangat dibesarkan pada
semesta alam ini, yakni Nur yang hidup dan maujud pada tiap yang hidup sekalian
alam ini atau Nur yang hidup dan menghidupkan.
Kebesaran hakikat Muhammad itulah yang sebenarnya dipuji dengan kalimah
ALHAMDU kerana kesempurnaan tajalli NUR MUHAMMAD itulah yang diisyaratkan
oleh kalimah ALHAMDU itu, yakni "ALIF" bermakna ALHAQ artinya KEESAAN,
KEBESARAN NUR MUHAMMAD, tajallinya ROH bagi kita. LAM LATIFUM artinya

Kesempurnaan Nur Muhammad, tajallinya NAFAS bagi kita, HA HAMIDUN artinya


Kesempurnaan Berkat Nur Muhammad, tajallinya HATI, AKAL, NAFSU, PENGLIHAT,
PENDENGAR, PENCIUM, PENGRASA dan sebagainya bagi kita. MIM" MAJIDUN
artinya Kesempurnaan Safaat Nur Muhammad, tajallinya bagi kita : IMAN, ISLAM,
ILMU, HIKMAH dan sebagainya. DAL" DARUSSALAMI artinya Kesempurnaan Nikmat
Nur Muhammad, tajallinya bagi kita : KULIT, BULU, DAGING, URAT, TULANG, OTAK,
SUMSUM.
Maka itu adalah tajallinya bagi diri yang bathin, adapun tajalli bagi diri yang zahir
adalah ALIF bagi kita, LAM dua tangan bagi kita, HA badan bagi kita, MIM
Pinggang bagi kita dan DAL dua kaki bagi kita. Itulah yang diesakan dengan
ASYAHADU yakni :
ALIF ALHAQ" artinya Yang diEsakan dan yang diBesarkan.
SYIN SYUHUDUL HAQ artinya Yang diakui bersifat Ketuhanan dengan sebenarbenarnya.
HA HADIYAN MUHDIYAN ILAL HAQ artinya Yang menjadi Petunjuk selain
menunjuki kepada jalan/Agama yang Hak.
DAL DAIYAN ILAL HAQ" artinya Selalu menyerukan atau yang selalu memberi
Peringatan kepada Agama yang Hak.
ALHAMDU bermana ALHAYATU MUHAMMADU artinya Kesempurnaan Tajalli Nur
Muhammad.
Fahamnya ialah ADAM adalah nama adab atau nama syariat atau nama hakikat,
atau nama kebesaran bagi kesempurnaan tajalli NUR MUHAMMAD. Dan MUHAMMAD
adalah nama keesaan yang menghimpunkan akan nama Adam dan nama Allah.
Pada bahasa atau ilmu bahasa Arab ADAM itu damirnya HU dan MUHAMMAD itu
damirnya HU dan ALLAH itu damirnya HU. Pada makna Syariat HU itu
bermakna Dia Seorang Laki-laki, dan pada makna Hakikat adalah jumlah yang
banyak rupa wujudnya, tetapi pada makna Hakikat HU itu adalah Esa tiada
berbilang-bilang. Itulah isyarat Al Quran HUWAL HAYYUN QAYYUM yang HAIYUN
awal tiada ada permulaannya WAHUWALALI YILAZIM yang bersifat denga sifat-

sifat kesempurnaan lagi maha besar. HUWAR RAHMANURRAHIM yang bersifat


Rahman dan Rahim. HUWARABBUL ABSIL KARIM yang memiliki Arasy yang Maha
Mulia, Arasy itu ada nama kemuliaan Diri Nabi Kita itu yang sebenar-benarnya,
tetapi juga menjadi nama Majazi bagi sesuatu tempat atau suatu alam Ghaib yang
dimuliakan adanya, sama halnya seperti JIBRIL, MIKAIL, IZRAFIL, ISMAIL, NUHAIL,
SURAIL.
Menurut tafsir yang meItibar semuanya dengan bahasa Suryani atau bahasa Arab
di zaman Pura, yang bernama ABDULLAH maka yang ABDULLAH itu adalah Nabi
kita yang bernama MUHAMMAD itu sendiri.
Maka oleh karena itu di dalam ayat ISRA Nabi kita itu bernama ABDULLAH
menunjukkan nama MUHAMMAD itu adalah juga Penghulu sekalian malaikat dan
kebesaran nama MUHAMMAD itulah yang sebenar-benarnya yang diisyaratkan oleh
Al Quran dengan huruf-huruf yang tidak dapat ditentukan atau dihinggakan
namanya, karena bersangatan luas kandungannya mulai dari ALIF, LAM sampai NUR
ada 29 tempat. Jadi semuanya nama-nama yang mulia, di langit dan di bumi itu
adalah nama kemuliaan dan kesempurnaan tajalli NUR MUHAMMAD itu sematamata, dan menjadi nama Majazi pada tiap-tiap Wujud yang dimuliakan pada alam
ini.
Itulah isyarat Al Quran WAHUAL LAZI PISSAMA ILLAHUW WAFIL ANDHI ILLAHUN
dan dialah yang sebenar-benarnya memiliki sifat-sifat Ketuhanan yakni sifat
kesempurnaan yang ada di langit dan sifat-sifat kesempurnaan yang ada di bumi,
dan ayat LAHUL ASMAUL HUSNA artinya hanyalah dia yang sebenar-benarnya
memiliki nama-nama yang mulia dan yang terpuji yang telah maujud pada semesta
alam ini.
Tetapi karena adab Syariat dihukumkan yang haram, haram yang najis, najis
seperti anjing dan babi dan sebagainya yang tidak layak kecuali bagi MA'LUM pada
majlis mengajar dan belajar, yang boleh membicarakan masalah tersebut di atas.
Yang ke 3 (tiga) berkata ASY SYEH BURHANUDDIN ARRUMI pernah berkata yang
maksudnya bahwa hakikat kebesaran Nur Muhammad itu menghimpunkan 4

(empat) macam alam, dan hakikat alam itu hanya 4 (empat) macam saja
himpunannya iaitu :
1.

Alam HASUT ialah alam yang terhampar langit dan bumi dan segala isinya
dan bagi kita HASUT itu ialah seluruh Jasad, Kulit, Daging, Otak, Sumsum, Urat,
Tulang.

2.

Alam MALAKUT ialah alam ghaib bagi malaikat-malaikat, dan bagi kita
malakut itu ialah Hati, Akal, Nafsu, Nafas, Penglihat, Pendengar, Pencium,
Pengrasa dan sebagainya.

3.

Alam JABARUT ialah alam ghaib bagi Arasy, Kursi, Luh Mahfus, Syurga,
Neraka dan sebagainya dan bagi kita Alam Jabarut itu ialah Roh, Ilmu, Hikmah,
Fadilat, Hasanah dan sebagainya, dari pada segala sifat yang mulia dan terpuji.

4.

Alam LAHUT ialah alam ghaib bagi kebesaran Nur Muhammad dan bagi kita
alam Lahut itu ialah Bathin tempat Rahasia, Iman, Islam, Tauhid dan Marifat,
maka ke 4 (empat) macam alam itu adalah semuanya wujud kesempurnaan
tajalli Nur Muhammad, dan 4 (empat) macam alam itu lagi terhimpun kepada
kebenaran wujud diri Rasulullah yang bernama INSANUL KAMIL. Dan menjadi
berkah dan FAIDURRABBANI yakni kelebihan yang harus bagi tiap-tiap Mumin
yang ahli Tahkik, karena mereka itu adalah WADA SYATUL AMBIYA yakni
mewarisi kebenaran bathin nabi-nabi dan rasul-rasul dan mumin yang tahkik
itulah yang dinamakan Aulia Allah, tetapi mumin itu tiada mengetahui bahwa
dirinya adalah Aulia yang sebenarnya.

Pendapat AL HALAD dan IBNU ARABI bahwa kedua walikutub itu pernah berkata
yang maksudnya bahwa Muhammad itu ada dua rupa, yakni ada dua rupa dia atau
ada dua Mana :
1.

Muhammad yang bermakna QADIM AZALI, itulah diri Muhammad yang


pertama, yang tidak ada AL MAUTU/mati padanya selama-lamanya, jelasnya
bahwa Muhammad diri yang pertama kita itu. Itulah yang awal NAFAS yang
akhir SALBIAH, yang zahir MAANI dan yang bathin MANAWIYAH.

2.

Muhammad yang bermakna Abdullah Insanul Kamil itulah diri Muhammad


yang kedua, nama yang harus baginya, bersifat manusia biasa yang berlaku
padanya SUNNATU INSANIAH, KULLU NAFSIN ZA IKATUL MAUT

Dalam pada waktu itu wajib kita mengitikadkan bahwa jasad nabi kita itu adalah
QADIM IDHOFI, yaitu tidak rusak selama-lamanya dikandung bumi. Seperti hadis
sahih AL BUKHARI/riwayat BUKHARI : INNALLAHA AZZA WAJALLA HARRAMAALAL
ARDHI AIYA KULLA AZSADAL AMBIYA artinya : Bahwasanya Allah Taala yang maha
tinggi telah mengharamkan akan bumi, bahwa bumi itu bisa menghancurkan akan
jasad para nabi-nabi.Maka tahkiknya faham kedua walikutub itu, supaya kita jangan
terlihat dengan faham Nasrani, dengan Yahudi dan sebagainya. Maka kita tetapkan
dahulu faham kita ialah :
1.

Bahwa pada hukum adab, Nabi kita Muhammad yang Muhammad itu adalah
manusia biasa seperti kita, hanyalah dilebihkan ia dengan kerasulan.

2.

Bahwa tiap-tiap manusia itu sendirinya baik pada hukum akal dan pada
hukum nakli, ada mempunyai dua macam diri yakni diri pertama atau diri
hakiki ialah Rohani, dan diri yang kedua yaitu diri Majazi ialah Jasmani, dan diri
yang kedua atau diri jasmani itu karena kemuliaan bagi Rasulullah dinamakan
INSANUL KAMIL.

3.

Bahwa diri Hakiki yang bermakna Rohani itulah yang bernama Muhammad.
Itulah yang Qadim Azali, Qadim Izzati, Qadim Hakiki, itulah makna yang
dirahasiakan yang menjadi keesaan segala sifat kesempurnaan yang 99
(sembilan puluh sembilan) itu. Jalannya kebesaran wujud Roh Nabi kita itulah
yang diisyaratkan oleh kalimah HUALLAH jadi makna Muhammad itu
Tahkiknya adalah AINUL HAYATI yakni wujud sifat yang hidup dan yang
menghidupkan. Maka itulah yang diisyaratkan dengan kalimah LA ILAHA
ILLALLAH dan yang dibenarkan dengan kalimah ALLAHU AKBAR dan yang
dipuji dengan SUBBHANALLAH WALHAMDULILLAH" dan sebagainya lagi. Itulah
yang dipuji dengan ALHAQ QULHAQ oleh seluruh malaikat-malaikat
MUKARRABIN menurut tafsir yang meitibar.

4.

Bahwa diri Majazi yang bermakna Jasmani, itulah yang bernama Insanul
Kamil. Itulah Muhammad majazi, yakni Muhammad yang kedua yang
menempuh ALMAUTU pada adab, tetapi jasad Nabi itu adalah Qadim Idhofi.
Jasad Nabi kita itulah diisyaratkan oleh ayat AL QURAN PADABA RAKALLHU
AHNAUL KHORIKIM" artinya : Maha Sempurnalah Sifat Allah pada Kezahiran
Wujud yang sebaik-baik rupa kejadian itu. Dan diisyaratkan Hadis Qudsi

ZAHIRU RABBI WAL BATHINU ABDI artinya : Kezahiran sifat kesempurnaan


Allah itu adalah maujud pada hakikat kesempurnaan seorang hamba yang
bernama Muhammad Rasulullah itu. Yakni maujud dengan rupa Insanul Kamil,
maka rupa wujud Insanul Kamil itulah yang diisyaratkan oleh AL QURAN
dengan AMFUSAKUM artinya : Wujud Diri Kamu Sendiri, yakni WAFI
AMFUSIKUM AFALA TUBSIRUN artinya : Dan yang diri kami berupa wujud insan
itu apakah tidak kamu pikirkan. Yakni yang menjadi diri hakiki atau diri
pertama pada insan itu.
Pada hakikatnya adalah kebenaran dan kesempurnaan Roh Nabi kita yang bernama
Muhammad itu semata-mata, dan diri kedua itupun tidak lain karena itulah
dinamakan insan yakni yang kedua, atau rupa Muhammad yang nyata, yang nasut,
maka kebenaran Roh Nabi kita yang bernama Muhammad itulah yang diisyaratkan
oleh Al Quran ALLAHU NURUSSAMA WATIWAL ARDHI artinya : Kebenaran Nur
Allah itu ialah Maujud di langit dan di bumi. Dan ayat seterusnya NURUN ALA
NURIN artinya : Nur yang hidup dan yang menghidupkan atas tiap-tiap wujud yang
hidup pada alam ini, itulah isyarat perkataan 4 (empat) sahabat besar itu yang
berbunyi demikian :
Berkata Saidina Abu Bakar Siddik r.a :

Artinya : Tidak aku lihat pada wujud sesuatu dan hanyalah aku lihat kebenaran
Allah semata-mata dahulunya.
Kata Umar Ibnu Khattab r.a :
MAA RAAITU SYAIAN ILLA WARAAITULLAHU MAAHU
Artinya : Tidak aku lihat pada wujud sesuatu dan hanyalah aku lihat kebenaran
Allah Taala semata-mata kemudiannya.
Kata Usman Ibnu Affan r.a :

Artinya : Tidak aku lihat pada wujud sesuatu hanyalah aku lihat kebesaran Allah
Taala semata-mata besertanya.

Kata Ali Ibnu Abi Talib r.a :



Artinya : Tidak Aku lihat pada wujud sesuatu hanyalah aku lihat kebesaran Allah
Taala semata-mata maujud padanya.
Itulah isyarat ayat Al Quran WAKULIL HAMDULILLAH SAYURIIKUM AAYAA TIHI FAA
HIRU NAHA artinya : Dan ucapkanlah puji bagi Allah karena sangat nampak bagi
kamu pada wujud diri kamu itu sendiri, akan tanda-tanda kebesaran Allah Taala,
supaya kamu dapat mengenalnya.
Dari itu dengan sabda Nabi Muhammad SAW MAM TALABAL MAULA BISHAIRI
NAFSIHI FAKAD DALLAH DALALAM BAIDA artinya : Barang siapa mengenal Allah
Taala di luar dari pada mengenal hakikat dirinya sendiri., maka sesungguhnya
adalah ia sesat yang bersangat sesat. Karena hakikat diri yang sebenarnya, baik
rohani dan jasmani tidak lain melainkan adalah wujud kesempurnaan tajalli NUR
MUHAMMAD itu semata-mata. Maka apa-apa nama segala yang maujud pada alam
ini, baik pada alam yang nyata dan alam yang ghaib adalah semuanya nama Majazi
bagi kesempurnaan tajalli NUR MUHAMMAD.
Adapun makna Syahadat yang tahkikut tahkik ASYHADUALLA ILAHA
ILLALLAH naik saksi aku bahwasanya Rohku dan Jasadku tidak lain,
melainkan wujud kesempurnaan tajalli NUR MUHAMMAD sematamata. WA ASYHADUANNA MUHAMMADARRASULULLAH dan naik saksi
Aku bahwa hanya MUHAMMAD RASULULLAH itu tiada lain, melainkan
wujud kebenaran tajalli NUR MUHAMMAD yang sebenar-benarnya.
Maka kesempurnaan musyahadah, murakabah dan mukafahah, yakni keesaan pada
diri adalah pada keluar masuknya nafas, karena faham tahkik, tidak ada lagi LAA
tetapi hanya ILLAH yakni tidak lain NAFSI ILLAHU tidak lain DIRIKU. Melainkan
wujud kebesaran NUR MUHAMMAD semata mata.
Wallahu'alam.

Kejadian Insan
PENGENALAN DIRI
Dalam rahim Bapak 40 hari
Mada, Madi, Mani, Manikam
Pusat, Jantung, Watsulbi, Muntarait, Otak
Dalam Otak ada Lemak, Dalam Lemak ada Minyak, Dalam Minyak ada Nur, Dalam
Nur ada Nur Akal, Dalam Nur Akal ada Hizabbannur, Dalam Hizabbannur Hidayamul
Amanah Allah SWT.

PENYAKSIAN DI ALAM ROH


ALAS TUBIRABBIKUM : .....

Benarkah Aku Tuhan Engkau

KALU BALA : .................

Benar Engkau Tuhan kami

SHAHIDNA : ............

Menyaksikan

SUSUNAN DALAM RAHIM BAPAK


Di Otak : 7 hari
Di Rulang Belakang : 7 hari
Di Watsulbi Muntarait : 7 hari
Di Tulang Data : 7 hari
Di Pusat : 7 hari
Di Kalam

: 7 hari

Jumlah = 42 hari
Dalam Rahim Ibu 9 Bulan + 9 hari / 7 Bulan + 7 hari, Titik NOKTAH.
1 hari : HU
3 hari : ALLAH
7 hari : INNALLAH (hanya Allah)
4 bulan + 4 hari : TURABBUNNUR (Tanah Nur)
7 bulan + 7 hari : SUBHANALLAH (Maha Suci Allah)
8 bulan + 8 hari : ALHAMDULILLAH (Puji Bagi Allah)
9 bulan + 9 hari : INNA ANNA AMANNA (Sesungguhnya Aku beriman/Pembawa
Amanah Allah SWT)
Ujud artinya Ada, Mustahil Tiada, Mana yang Mustahil.
Adalah Akwan Agiyar kita. Wajib Allah Taala ada.
Tidak sah Marifatnya, bila tidak mengetahui asal kejadian Diri kita ini.
Itifak/Mufakat.
Seluruh Arifbillah.
Adapun mengenal diri itu mengetahui daripada asal Nabi Adam A.S. Asalnya Nabi
Allah Adam itu nasarnya Air, Api, Angin, Tanah, maka turunlah kepada kita :
Tanah itu = Tubuh kita hurufnya
Angin itu = Nafas kita hurufnya
Api itu = Darah kita hurufnya
Air itu = Rasa kita hurufnya

Maka itulah kita ketahui arti mengenal diri namanya.


Adapun kejadiannya Tanah bernama Syariat = Tubuh kepada kita
Adapun kejadiannya Angin bernama Tarikat = Laku kepada kita
Adapun kejadiannya Api bernama Hakikat = Hati kepada kita
Adapun kejadiannya Air bernama Marifat = Rasa kepada kita
Itulah mengenal diri namanya.
Syariat umpama Kaki
Tarikat umpama Tangan
Hakikat umpama Tubuh
Marifat umpama Kepala
Adapun yang bernama Diri Terdiri itu Rahasia namanya
Adapun yang bernama Diri Tajalli itu Roh namanya
Adapun yang bernama Diri Terperi itu Hati namanya
Adapun yang bernama Diri Diperikan itu Tubuh namanya
Mengenal Adam Menurut :

Syariat : adalah ia Manusia yang Pertama

Tarikat : adalah ia Hakikat yang Muncul

Hakikat : adalah ia Asma Allah

Marifat : adalah Hanya Allah (ILLallah)

ASYHADU adalah bagi kita Lidah


ALLA adalah bagi kita Badan
ILLAHA adalah bagi kita Hati
ILLALLAH adalah bagi kita Roh
HUWA adalah bagi kita Rahasia (Air)
Adapun yang sebenar-benar Diri ialah Nyawa/Roh
Adapun yang sebenar-benar Nyawa/Roh adalah Muhammad

Adapun yang sebenar-benar Muhammad adalah Allah


Adapun yang sebenar-benar Allah adalah segala Sifat Allah Taala
Adapun yang sebenar-benar Sifat Allah Taala adalah Zadtullahitaala
Adapun Sifat Allah Taala adalah wujud Allah Taala yang kata mempunyai Wujud
dan hakikat daripada segala yang ada, besar maupun kecil. Bagaimanapun juga
pada pandangan lahir maupun bathin adalah sebenar-benarnya termasuk satu sifat
yang sempurna, tidak bertulang, berdaging, berdarah, atau berkulit. Pada yakin kita
maka yang berbagai sifat dan warna adalah Hanya satu, menurut yakin Marifat
kita.
Adapun yang bernama Wujud Hakiki yaitu Zadtullahitaala. Wujud Hakiki itu
mustahil pada pandangan awam, wujud majazi itu tidak ada pada pandangan wujud
hakiki.
Wujud Am (umum) itu meliputi pada alam, dan nyata pada Muhammad.
Adapun yang sebenar-benarnya Manusia yaitu Muhammad
Adapun sebenar-benarnya Muhammad yaitu Allah
Dan sebenar-benarnya Allah yaitu Zadtullah
Maka itulah sebabnya kita manusia dilebihkan Allah Taala dari pada semesta
sekalian alam ini, karena asalnya kejadian sekalian itu daripada Muhammad.

Nama-Nama Roh
ROH BANYAK MEMPUNYAI NAMA DAN TINGKATAN :
1.

Kalau diri manusia masih merupakan satu titik, Roh Nabati namanya.

2.

Kalau ia segumpal darah, Roh Jamadi namanya.

3.

Kalau ia segumpal daging, Roh Wajdi namanya.

4.

Kalau ia bergerak, Roh Hayati namanya.

5.

Kalau ia dilahirkan, Roh Hayawani namanya.

6.

Kalau ia menyusu, Roh Nafsani namanya.

7.

Kalau ia berbicara, Roh Insani namanya.

8.

Kalau ia mempunyai akal, Roh Nurani namanya.

9.

Kalau ia sampai umur, Roh Ruhani namanya.

10. Kalau ia setengah umur, Roh Rahmani namanya.


11. Kalau ia berumur 40 tahun, Roh Jamali namanya.
12. Kalau ia sudah tua, Roh Kulli namanya.
13. Kalau

ia

mati

(mengenal

perkataan

manawi

dari

pada

mati), Roh

Manawiah namanya.
14. Kalau ia di dalam kubur, Roh Rabbani namanya.
15. Kalau ia bangun dari kubur, Roh Illahiyah namanya.
16. Mengenal salah satu dari itu, Roh Ruhul Arwah namanya.
Segala galanya ini dengan perintah dari RUHUL QUTUB. Dan bernama ROH
IDHAFI dan
AAMI.

bernama ROH

ULWI dan

bernama WUJUD

IDHAFI dan WUJUD

Kenyataan Insan
PERKATAAN NUR

PERKATAAN ROH

Aku yang Awal

Dia yang Awal

Aku yang Akhir

Dia yang Akhir

Aku yang Zahir

Dia yang Zahir

Aku yang Bathin

Dia yang Bathin

BILA MANA KITA MENGATA ALLAH ITU ADALAH MUHAMMAD


BILA MANA MUHAMMAD MENGATA ALLAH ITU ADALAH TUHAN KITA

NASAR ZAHIR

NASAR BATHIN

Api

Nufus

Angin

Ampas

Air

Tanufus

Tanah

Nafas

KENYATAAN YANG SEBENARNYA

1. Kenyataan Tubuh pekerjaan Hati


Kenyataan Hati pekerjaan Roh
Kenyataan Roh pekerjaan Nur
2. Kenyataan Nur pekerjaan Kutub
Kenyataan Kutub pekerjaan Hati
Kenyataan Hati pekerjaan Tubuh
3. Kenyataan Tubuh pekerjaan Hati
Kenyataan Hati pekerjaan Roh
INSAN
Berjasadkan Rohani
Bernyawakan Nurani
Rahasia Idhafi
NABI
Berjasadkan Nurani
Bernyawakan Idhafi
Rahasia Rabbani

Zikir-Zikir Tajalli
ZIKIR-ZIKIR TAJALLI YANG HANYA DIBACA DI DALAM HATI SAJA
Caranya :
Sekali atau tiga kali, dan nafas ditarik dengan HUU kemudian ditahan dan lidah
dilekukkan di lelangit. Kemudian baca di dalam hati :
INNI BIHAKKI MUHAMMADIN ALHAQ QULHAQ, artinya YAHU sesungguhnya
diriku adalah kebesaran wujud NUR MUHAMMAD yang sebenar-benarnya
atau
INNI BIHAKKI ZATUL BUKTI KHALISUL MUTLAK, artinya bahwa sesungguhnya
diriku adalah wujud kebesaran NUR MUHAMMAD semata-mata yang Maha Suci lagi Esa
tiada ada yang lainnya bersertanya
atau
LAA MAUJUDUN ILLA NURUL HAK KUL HAK, artinya Tiada lain wujudku melainkan
wujud kebenaran NUR MUHAMMAD yang sebesar-besarnya

Maka pilihlah yang mana dalam yang tiga ini yang dirasa mudah, dan tatkala keluar
nafas bacalah dalam hati ALLAHU AKBAR.