Anda di halaman 1dari 29

DAFTAR ISI

A. PROFIL BALAI BESAR WILAYAH SUNGAI BENGAWAN SOLO .......................... 1


a.

Sejarah Singkat BBWS Bengawan Solo...................................................................... 1

b.

Kedudukan, Tugas dan Fungsi .................................................................................... 4

c.

Visi & Misi ................................................................................................................ 5

B. GAMBARAN UMUM WILAYAH SUNGAI BENGAWAN SOLO ............................. 5


a.

Wilayah Administratif ................................................................................................ 5

b.

Kondisi Topografi ...................................................................................................... 6

c.

Kondisi Geologi dan Geomorfologi ............................................................................ 6

d.

Kondisi Meteorologi dan Hidrologi ............................................................................ 8

C. POTRET KEBUTUHAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR KE DEPAN........ 10


a.

Kondisi Sungai ......................................................................................................... 10

b.

Fasilitas Pengendalian Banjir Yang Ada ................................................................... 11

c.

Kondisi Genangan Banjir.......................................................................................... 12

d.

Muara Sungai Bengawan Solo .................................................................................. 13

D. POLA DAN RENCANA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WS BENGAWAN


SOLO ................................................................................................................................. 14
a.

Latar Belakang ......................................................................................................... 14

b.

Permasalahan ........................................................................................................... 15
ASPEK KONSERVASI SDA ................................................................................... 15

a.

Kerusakan DAS ........................................................................................................ 15

b.

Sedimentasi waduk ................................................................................................... 15

c.

Degradasi dan erosi dasar sungai .............................................................................. 15

d.

Intrusi air laut ........................................................................................................... 15


ASPEK PENDAYAGUNAAN SDA ........................................................................ 15

Krisis air/kekeringan........................................................................................................ 15
ASPEK PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR .................................................... 15
a.

Bencana banjir .......................................................................................................... 15

b.

Degradasi dan erosi dasar sungai .............................................................................. 15

c.

Pencemaran sungai ................................................................................................... 15

d.

Abrasi pantai (Gresik, Lamongan dan Tuban) ........................................................... 15


ASPEK SISTEM INFORMASI SDA ....................................................................... 15
i

a.

Data/informasi sulit untuk didapatkan/tidak mudah diakses ...................................... 15

b.

Data/informasi belum lengkap/belum tersedia .......................................................... 15


ASPEK PERAN SERTA MASYARAKAT .............................................................. 15

Dalam pengambilan keputusan terkait dengan pengelolaan .............................................. 15


SDA, peran masyarakat masih kurang.............................................................................. 15
c. Rencana Induk pengembangan dan pengelolaan SDA Wilayah Sungai Bengawan Solo
(Master Plan Th 1974) ..................................................................................................... 15
d.

Pola Pengelolaan SDA.............................................................................................. 15

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................... 25

ii

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1
Tabel 1.2
Tabel 1.3
Tabel 1.4

Kondisi Geologi dan Geomorfologi.


Ringkasan Kondisi Geologi dan Geomorfologi...
Stasiun Hujan Existing.
Panjang Tanggul disepanjang sungai utama

7
8
9
12

iii

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1
Gambar 1.2
Gambar 1.3
Gambar 1.4
Gambar 1.5
Gambar 1.6
Gambar 1.7
Gambar 1.8
Gambar 1.9
Gambar
1.10
Gambar
1.11
Gambar
1.12
Gambar
1.13
Gambar
1.14
Gambar
1.15
Gambar
1.16

Peta Renca Solo Vallei Werken.


Rencana Pengembangan Sumber Daya Air dalam Master Plan OTCA
1974
Peta Lokasi Wilayah Sungai Bengawan Solo
Karakteristik Curah Hujan Rata-rata Bulanan Sub DAS Bengawan Solo
Hulu, Hilir dan Sub DAS Kali Madiun.
Karakteristik Curah Hujan Rata-rata Bulanan DAS Kali Grindulu, DAS
Kali Lamong dan DAS Pantura.
Potret Genangan Banjir Hotel Merdeka
Muara Sungai Bengawan Solo dilihat dari Google Maps.
Skema Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Bengawan Solo
(Dengan Waduk Jipang)
Skema Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Bengawan Solo
(Tanpa Waduk Jipang)..
Skema Pengelolaan SDA Bengawan Solo Hulu TA 2010-2014..

1
3

Skema Pengelolaan SDA Kali Madiun TA 2010-2014

19

Skema Pengelolaan SDA Bengawan Solo Hilir (Dengan Waduk


Jipang)..
Skema Pengelolaan SDA Bengawan Solo Hilir (Tanpa Waduk
Jipang)..
Pola Konservasi SDA WS Bengawan Solo.

20

Pola Pendayagunaan SDA WS Bengawan Solo.

23

Pola Pengendalian Daya Rusak Air WS Bengawan Solo

24

5
10
10
12
14
17
18
19

21
22

iv

A. PROFIL BALAI BESAR WILAYAH SUNGAI BENGAWAN SOLO


a. Sejarah Singkat BBWS Bengawan Solo
Sungai Bengawan Solo merupakan sungai terbesar di Pulau Jawa, dan mengalirkan
air dari daerah aliran sungai (DAS) seluas 16,100 km2, mulai dari Pegunungan Sewu
di sebelah barat-selatan Surakarta, ke laut Jawa di utara Surabaya melalui alur
sepanjang 600 km.

Gambar 1.1 Peta Renca Solo Vallei Werken

Pembangunan infrastruktur SDA di WS Bengawan Solo telah dimulai pada abad


ke-18 oleh Pemerintah Kolonial Belanda melalui pembangunan kanal Solo Vallei
Werken dan sudetan Bengawan Solo dari Plangwot - Sidayu Lawas, namun terhenti
karena alasan biaya.
Pada Tahun 1880 guna menghindari sedimentasi di Pelabuhan Tanjung Perak,
muara Sungai Bengawan Solo dialihkan dari Selat Madura ke Ujung Pangkah. Untuk
keperluan irigasi, Pemerintah Belanda membangun Waduk Pacal (1935) di Kabupaten
Bojonegoro dan Waduk Prijetan (1916) di Kabupaten Lamongan.
Setelah banjir besar pada tahun 1966 yang menenggelamkan sebagian besar Kota
Solo, Pemerintah mulai menangani pembangunan infrastruktur pengendali banjir
Bengawan Solo. Dengan bantuan teknis Pemerintah Jepang (OTCA) pada tahun 1974,
dirumuskan Master Plan Pengembangan Wilayah Sungai Bengawan Solo.
Untuk mengendalikan banjir dan mendukung pengembangan wilayah, Master Plan
WS Bengawan Solo (1974), antara lain merekomendasikan pem-bangunan 4 waduk
serbaguna, yakni : (i) Waduk Wonogiri, (ii) Waduk Jipang, (iii) Waduk Bendo dan
(iv) Waduk Badegan.

Master Plan juga mereko-mendasikan 25 lokasi waduk-waduk irigasi di anak-anak


sungai Bengawan Solo yang potensial untuk dibangun.
Disamping itu, Master Plan merekomendasikan pekerjaan perbaikan dan
pengaturan sungai Bengawan Solo Hulu ruas Nguter - Jurug, Kali Madiun ruas Catur
Kwadungan dan Bengawan Solo Hilir ruas Cepu Tanjung Kepolo.
Waduk Serbaguna Wonogiri yang telah dibangun pada Tahun 1978-1981 telah
berfungsi untuk pengendali banjir di wilayah Bengawan Solo Hulu, terutama untuk
melindungi Kota Solo, serta penyediaan air irigasi seluas 30.000 Ha di wilayah
kabupaten-kabupaten Wonogiri, Sukoharjo, Klaten, Karanganyar dan Sragen. Waduk
Wonogiri juga memberikan manfaat PLTA (12,4 MW), perikanan dan pariwisata.

Gambar 1.2 Rencana Pengembangan Sumber Daya Air dalam Master Plan OTCA 1974

b. Kedudukan, Tugas dan Fungsi


Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 21/PRT/M/2010
Tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) di
Lingkungan Ditjen Sumber Daya Air, maka berikut ini akan diuraikan Kedudukan,
Tugas pokok dan Fungsi BBWS Bengawan Solo adalah sebagai berikut:
1. Kedudukan:
Balai Besar Wilayah Sungai berada di bawah dan bertanggung jawab kepada
Direktur Jenderal Sumber Daya Air.
Balai Besar dipimpin oleh seorang Kepala.
2. Tugas:
Balai Besar Wilayah Sungai mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan sumber
daya air di wilayah sungai yang meliputi perencanaan, pelaksanaan konstruksi,
operasi dan pemeliharaan dalam rangka konservasi dan pendayagunaan sumber
daya air dan pengendalian daya rusak air pada sungai danau, waduk, bendungan
dan tampungan air lainnya, irigasi, air tanah, air baku, rawa, tambak dan pantai.
3. Fungsi:
Penyusunan pola dan rencana pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai;
Penyusunan rencana dan program, studi kelayakan dan perencanaan
teknis/desain/pengembangan sumber daya air;
Persiapan, penyusunan rencana dan dokumen pengadaan barang dan jasa;
Pelaksanaan pengadaan barang dan jasa serta penetapan pemenang selaku Unit
Layanan Pengadaan (ULP)
Pengendalian dan pengawasan konstruksi pelaksanaan pembangunan sumber
daya air;
Penyusunan rencana dan pelaksanaan pengelolaan kawasan lindung sumber air
pada wilayah sungai;
Pengelolaan sumber daya air yang meliputi konservasi dan pendayagunaan
sumber daya air serta pengendalian daya rusak air pada wilayah sungai;
Pengelolaan sistem hidrologi;
Pengelolaan sistem informasi sumber daya air;
Pelaksanaan operasi dan pemeliharaan sumber daya air pada wilayah sungai;
Pelaksanaan bimbingan teknis pengelolaan sumber daya air yang menjadi
kewenangan provinsi dan kabupaten/kota;
Penyiapan rekomendasi teknis dalam pemberian ijin atas penyediaan,
peruntukan, penggunaan dan pengusahaan sumber daya air pada wilayah sungai;
Fasilitasi kegiatan Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air pada wilayah
sungai;
Pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air;
Pelaksanaan penyusunan laporan akuntansi keuangan dan akuntansi barang
milik negara selaku Unit Akuntansi Wilayah;
Pelaksanaan pemungutan, penerimaan dan penggunaan biaya jasa pengelolaan
sumber daya air (BJPSDA) sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan; dan
Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga balai serta koordinasi
dengan instansi terkait.
4

c. Visi & Misi


Untuk dapat mewujudkan visi, Terwujudnya pengelolaan sumber daya air yang
berkelanjutan sebagai landasan kesejahteraan masyarakat Wilayah Sungai Bengawan
Solo, maka Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo mempunyai misi sebagai
berikut:
1. Konservasi SDA secara berkelanjutan;
2. Pendayagunaan SDA yang adil untuk pemenuhan berbagai kebutuhan
masyarakat yang memenuhi syarat-syarat kualitas dan kuantitas;
3. Pengndalian daya rusak air;
4. Pemberdayaan dan peningkatan partisipasi masyarakat, swasta dan pemerintah
dalam pengelolaan dan pembangunan SDA;
5. Peningkatan keterbukaan dan ketersediaan data serta informasi dalam
pembangunan SDA.
B. GAMBARAN UMUM WILAYAH SUNGAI BENGAWAN SOLO
a.

Wilayah Administratif

WS Bengawan Solo terletak di Propinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, pada
11018' BT sampai 11245' BT dan 649' LS sampai 808' LS, beriklim tropis dengan
suhu udara dan kelembaban yang tinggi.

Gambar 1.3 Peta Lokasi Wilayah Sungai Bengawan Solo

Luas total wilayah sungai (WS) Bengawan Solo sekitar 20.125 km2, terdiri dari 4
(empat) Daerah Aliran Sungai (DAS), yaitu DAS Bengawan Solo dengan luas 16.100
km2, DAS Kali Grindulu dan Kali Lorog di Pacitan seluas 1.517 km2, DAS kecil di
kawasan pantai utara seluas 1.410 km2 dan DAS Kali Lamong seluas 720 km2.
WS Bengawan Solo secara administratif mencakup 17 (tujuh belas) kabupaten dan
3 (tiga) kota di wilayah Propinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Jawa Tengah : Kota Surakarta, Kab. Boyolali, Kab. Klaten, Kab. Sukoharjo, Kab.
Wonogiri, Kab. Karanganyar, Kab. Sragen, Kab. Blora dan Kab. Rembang.
Jawa Timur : Kab. Pacitan, Kab. Ponorogo, Kota Madiun, Kab. Madiun, Kab.
Magetan, Kab. Ngawi, Kab. Bojonegoro, Kab. Tuban, Kab. Lamongan, Kab. Gresik
dan Kota Surabaya.
b. Kondisi Topografi
Kondisi topografi WS Bengawan Solo relatif datar, sebagian besar daerahnya
berada di dataran rendah terutama sub DAS Bengawan Solo Hilir. Kemiringan dasar
sungai Bengawan Solo juga bervariasi mulai landai sampai curam.
Sungai Bengawan Solo merupakan sungai terpanjang di Pulau Jawa, mengalir dari
pegunungan Sewu di selatan Surakarta, ke Laut Jawa di utara Surabaya melalui alur
sepanjang 600 km. Anak-anak sungai pada sub DAS Bengawan Solo Hulu dan Kali
Madiun yang mengalirkan air dari lereng Gunung Merapi, Merbabu dan Lawu, banyak
membawa material sedimen dari hasil erosi pada lereng-lereng tersebut, sehingga
mengakibatkan sedimentasi yang tinggi di Sungai Bengawan Solo.
Sub DAS Bengawan Solo Hilir, dengan panjang alur sungai 300 km dan luas
6.273 km2 membentuk alur sungai yang lebar dengan kemiringan landai, melalui
dataran aluvial dan menjadi daerah yang sering digenangi banjir. Di dekat muara,
wilayahnya berawa dan luas yang disebut Rawa Jabung dan Bengawan Jero.
DAS Kali Grindulu dan Kali Lorog berada di sebelah selatan DAS Kali Madiun,
wilayahnya dikelilingi pegunungan Sewu dan Samudera Indonesia. Daerahnya curam,
sehingga sungai di wilayah ini memiliki kemiringan yang tinggi dan arus yang deras.
Kawasan pantai utara yang terletak di sebelah utara sub DAS Bengawan Solo Hilir
memiliki sekumpulan sungai-sungai kecil yang mengalir dalam wilayah sungai di
antara perbukitan di Rembang dan pantai utara Pulau Jawa.
c.

Kondisi Geologi dan Geomorfologi

Telah disebutkan dalam Rencana Induk (2001) Pengembangan dan Pengelolaan


SDA DAS Bengawan Solo bahwa zona geo-morfologi di wilayah studi dibagi menjadi
6 (enam) zona yang terletak memanjang dari Timur-Barat, sejajar dengan garis pantai
pulau Jawa yang secara berselang membentuk zona tertekan dan zona terangkat akibat
aktivitas tektonik, seperti disajikan pada tabel di bawah ini:

Tabel 1.1 Kondisi Geologi dan Geomorfologi

Zona Semarang-Rembang, Randublatung dan Solo (daerah rendah) terbentuk oleh


batuan dasar yang terdepresi, dan tertutup endapan muda pada masa Quarterner.
Gunung api tunggal terdapat di zona Semarang-Rembang dan Solo. Zona Rembang dan
Kendeng (perbukitan) terbentuk oleh terangkatnya batuan dasar pada masa Tertier (302 juta tahun yang lalu), sehingga, pada zona tersebut tersebar batuan sangat lunak dan
tertutup material lepas tipis.
Pegunungan di sebelah selatan membentuk topografi yang curam oleh
terangkatnya batuan dasar pada masa Tertier. Batuan dasar di wilayah ini relatif keras
dan keadaan bukit-bukit yang bergelombang terbentuk oleh erosi dalam jangka waktu
yang lama Pada batuan dasar tersebut. Batuan kapur yang terangkat pada masa Pliocene
menutup batuan dasar dari zona Rembang dan pegunungan bagian selatan. Secara garis
besar, zona geologi dan geo-morfologi diringkas dalam tabel di bawah ini:

Tabel 1.2 Ringkasan Kondisi Geologi dan Geomorfologi

d. Kondisi Meteorologi dan Hidrologi


WS Bengawan Solo merupakan daerah beriklim tropis. Musim kemarau terjadi
pada bulan Mei - Oktober, sedangkan musim hujan terjadi pada bulan Nopember April, dengan kelembaban rata-rata 80%, suhu bulanan rata-rata 26,7C, lama
penyinaran rata-rata bulanan 6,3 jam, kecepatan angin rata-rata bulanan 1,2 m/det.
Data klimatologi yang digunakan berasal dari 4 (empat) stasiun klimatologi
berikut:
1. Stasiun Surakarta, terdapat pada Sub DAS Bengawan Solo Hulu;
2. Stasiun Padangan, terdapat pada Sub DAS Bengawan Solo Hilir;
3. Stasiun Madiun, terdapat pada Sub DAS Madiun;
4. Stasiun Tulakan, terdapat pada DAS Grindulu.
Jumlah stasiun hujan existing yang terdapat di WS Bengawan Solo yang digunakan
sebagai dasar dalam perhitungan analisis hidrologi.

Tabel 1.3 Stasiun Hujan Existing

Gambar 1.4 Karakteristik Curah Hujan Rata-rata Bulanan Sub DAS Bengawan Solo Hulu, Hilir dan Sub DAS Kali Madiun

Gambar 1.5 Karakteristik Curah Hujan Rata-rata Bulanan DAS Kali Grindulu, DAS Kali Lamong dan DAS Pantura

C. POTRET KEBUTUHAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR KE DEPAN


a.

Kondisi Sungai

Meander yang cukup berat dan kemiringan dasar sungai yang kecil pada ruas
sungai sebelah hilir merupaka ciri dari Sungai Bengawan Solo. Pada ruas sungai antara
Jurug-Nguter di Bengawan Solo Hulu dan antara Kwadungan-Catur di Kali Madiun
10

telah dilakukan perbaikan pada tahun 1987 dan 1995. Di beberapa ruas sungai telah
dibangun sudetan (short-cut channels), dimana pada bagian yang lain masih merupakan
sungai alami dengan beberapa meander.
Kemiringan dasar Sungai Bengawan Solo sekitar 1/2.000 di bagian hulu, 1/3.000
pada bagian tengah dan sekitar 1/20.000 dibagian hilir sungai mulai dari Babat.
Kemiringan dasar Kali Madiun berkisar antara 1/2.200 sampai 1/1.250.
Kapasitas alur sungai rata-rata bervariasi sebagai berikut:
Sungai Bengawan Solo Hulu : 800 1,800 m3/s
Kali Madiun : 300 1,500 m3/s
Sungai Bengawan Solo Hilir : 1,450 1,800 m3/s
Kapasitas alur sungai rata-rata di ruas bagian hilir Sungai Bengawan Solo akan
meningkat menjadi 2,530 m3/det setelah selesainya Proyek Perbaikan Sungai
Bengawan Solo Hilir Tahap I. Angkutan sedimen rata-rata per tahun di Babat sekitar
36,8 juta ton seperti disampaikan pada studi hidrologi.
b. Fasilitas Pengendalian Banjir Yang Ada
Ada beberapa pekerjaan pengendalian banjir dan perbaikan sungai telah selesai
dilaksanakan di DAS Bengawan Solo sejak pemerintahan Belanda. Beberapa bangunan
sungai telah dibangun sejak saat itu. Proyek perbaikan sungai yang dilaksanakan dalam
dua dekade terakhir telah menambah jumlah bangunan sungai tersebut.
Fasilitas pengendalian banjir yang terutama dalam Wilayah Sungai Bengawan Solo
adalah Bendungan Serbaguna Wonogiri yang terletak sekitar 55 km disebelah hulu
Kota Surakarta. Bendungan tersebut selesai dibangun pada tahun 1982 yang berfungsi
sebagai pengendalian banjir mencakup DTA seluas 1.350 km2. Waduk tersebut
mempunyai kapasitas tampungan sebesar 220 juta m3 untuk mereduksi puncak banjir
sebesar 4.000 m3/det menjadi 400 m3/det.
Fasilitas pengendalian banjir yang ada di dalam wilayah studi berupa tanggul,
dinding parapet, pintu air, pelindung tebing, krib (groynes) dan stasiun pompa. Hampir
seluruh bangunan tersebut operasional dan pemeliharaannya dibawah BBWS
Bengawan Solo Panjang tanggul yang berada disepanjang sungai utama dirangkum
dalam tabel di bawah.

11

Tabel 1.4 Panjang Tanggul disepanjang sungai utama

c.

Kondisi Genangan Banjir

Banjir besar di Sungai Bengawan Solo Hulu pernah terjadi pada tahun 1966 dan
banjir besar di Sungai Bengawan Solo Hilir pada tahun 2007. Puncak banjir pada tahun
1966 diperkirakan sebesar 4.000 m3/det di Wonogiri, 2.000 m3/det di Surakarta dan
1.850 m3/det di Ngawi. Luas daerah genangan banjir di sebelah hulu Kota Surakarta
sekitar 18.000 ha dan di Sragen sekitar 10.000 ha. Hampir seluruh daerah Surakarta
tergenang banjir termasuk daerah perkotaan. Tinggi genangan yang terjadi di Kota
Surakarta mencapai 1 sampai 2 m dan korban meninggal sebanyak 90 orang.

Gambar 1.6 Potret Genangan Banjir Hotel Merdeka

12

Sedangkan puncak banjir pada tahun 2007 di Bengawan Solo Hilir adalah sebagai
berikut:
1. Pengamatan TMA Karangnongko Kabupaten Ngawi terjadi puncak banjir pada
tanggal 28 Desember 2007 dengan elevasi puncak + 31.80 (Siaga III elevasi
+30.00) terjadi mulai jam 11.00 WIB
2. Pengamatan TMA Bojonegoro Kabupaten Bojonegoro terjadi puncak banjir pada
tanggal 29 Desember 2007 dengan elevasi puncak + 16.22 (Siaga III elevasi
+15.00) terjadi mulai jam 23.00 WIB
3. Pengamatan TMA Babat terjadi puncak banjir pada tanggal 31 Desember 2007
dengan elevasi puncak + 08.61 (Siaga III elevasi +07.50) terjadi mulai jam 23.00
WIB
4. Pengamatan TMA Plangwot (Laren) terjadi puncak banjir pada tanggal 31
Desember 2007 dengan elevasi puncak + 06.31 (Siaga III elevasi +04.00) terjadi
mulai jam 20.00 WIB
5. Pengamatan TMA Karanggeneng (Kuluran) terjadi puncak banjir pada tanggal 31
Desember 2007 dengan elevasi puncak + 04.92 (Siaga III elevasi +04.00) terjadi
mulai jam 20.00 WIB
6. Pengamatan TMA Kuro terjadi puncak banjir pada tanggal 31 Desember 2007
dengan elevasi puncak + 02.71 (Siaga III elevasi +02.00) terjadi mulai jam 21.00
WIB
Hasil analisa debit banjir yang terjadi pada tanggal 30 Desember 2007 di Kabupaten
Bojonegoro dengan kala ulang 60 tahun
d.

Muara Sungai Bengawan Solo

Untuk mengatasi masalah sedimentasi yang terjadi di Selat Madura, pemerintah


Belanda telah membuat sudetan sungai kearah utara melalui daerah rawa menuju Laut
Jawa, menghubungkan Sungai Bengawan Solo dengan laut disebelah timur
perkampungan nelayan Ujung Pangkah pada tahun 1890-an. Sampai saat ini arah
(aligment) saluran tersebut masih tetap seperti kondisi awal dikarenakan oleh material
lempung padat yang terdapat di daerah rawa tersebut, tetapi telah terjadi perubahan di
muara sungai.
Pada sekitar tahun 1922, telah terjadi perubahan muara sepanjang 9 km kearah
utara sepanjang saluran memotong endapan pasir dangkal sampai ke garis pantai. Pada
tahun 2000, di muara telah terbentuk tiga alur kearah samping, dan tidak terjadi
perubahan pada saluran utama yang akhirnya tertutup. Ketika salah satu alur kearah
samping berubah menjadi lebih panjang dari yang lainnya, ada kecenderungan akan
tertutup akibat peningkatan endapan sedimen. Pada saat yang bersamaan, alur yang lain
menjadi besar karena ada tambahan debit yang masuk. Muara tersebut telah
berkembang membentuk beberapa alur melalui proses yang sama dan berulang seperti
di atas.
Proses tersebut di atas merupakan proses yang normal dimana terjadi gerusan dan
endapan pada dasar sungai dan tidak terpengaruh oleh perubahan akibat proses yang
terjadi di pantai. Tidak terjadi endapan pasir di muara sehingga tidak akan terjadi
penyumbatan muara yang dapat menyebabkan banjir.
Studi mengenai teknik pantai dalam studi CDMP menyimpulkan bahwa tidak akan
terjadi pergerakan muara kearah utara, tetapi akan melebar kearah timur dan barat dan
dengan volume angkutan sedimen pada kondisi saat ini, maka Selat Madura akan
tertutup dalam waktu 200 tahun.
13

Gambar 1.7 Muara Sungai Bengawan Solo dilihat dari Google Maps

D. POLA DAN RENCANA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WS


BENGAWAN SOLO
a.

Latar Belakang

Di masa lalu Bengawan Solo mempunyai peranan yang sangat penting sebagai
prasarana transportasi penghubung daerah pedalaman (bagian hulu) dan pelabuhan di
Pantura Gresik (bagian hilir), sehingga berkembang desa-desa penambangan yang
merupakan cikalbakal permukiman di sepanjang Sungai Bengawan Solo.
Sungai Bengawan Solo menjadi sumber air baku yang sangat penting bagi
masyarakat untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Curah hujan tahunan rata-rata di WS
Bengawan Solo sebesar 2.100 mm, namun distribusinya sangat tidak menguntungkan,
umumnya 80% turun pada musim hujan (Oktober - April). Dengan terjadinya fenomena
perubahan iklim global (global climate change), distribusi dan intensitas curah hujan
tersebut menjadi lebih ekstrem.
Selain menjadi sumber air untuk memenuhi berbagai kebutuhan, baik untuk
keperluan rumah tangga, industri, perkotaan, maupun pertanian, hampir setiap tahun
sungai Bengawan Solo menimbulkan bencana banjir yang sangat merugikan
masyarakat.

14

b. Permasalahan
ASPEK KONSERVASI SDA
a. Kerusakan DAS
b. Sedimentasi waduk
c. Degradasi dan erosi dasar sungai
d. Intrusi air laut
ASPEK PENDAYAGUNAAN SDA
Krisis air/kekeringan
ASPEK PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR
a. Bencana banjir
b. Degradasi dan erosi dasar sungai
c. Pencemaran sungai
d. Abrasi pantai (Gresik, Lamongan dan Tuban)
ASPEK SISTEM INFORMASI SDA
a. Data/informasi sulit untuk didapatkan/tidak mudah diakses
b. Data/informasi belum lengkap/belum tersedia
ASPEK PERAN SERTA MASYARAKAT
Dalam pengambilan keputusan terkait dengan pengelolaan
SDA, peran masyarakat masih kurang
c. Rencana Induk pengembangan dan pengelolaan SDA Wilayah Sungai
Bengawan Solo (Master Plan Th 1974)
Realisasi :
1. Bendungan serbaguna Wonogiri
2. Bendungan Irigasi Nekuk, Pondok, Sangiran dan Gondang
(Kedung Brubus dan Gonggang)
3. Perbaikan Sungai Bengawan Solo Hulu (USRIP)
4. Perbaikan Sungai Kali Madiun (MRUF)
5. Perbaikan Sungai Bengawan Solo Hilir (LSRIP)
6. Modifikasi / rehabilitasi beberapa bangunan seperti :
bendungan irigasi, modifikasi bendung, waduk-waduk lapangan/embung,
perbaikan pada beberapa anak-anak sungai, floodway, dll
d. Pola Pengelolaan SDA
Pola merupakan kerangka dasar, arahan, strategi dan kebijakan dari Pengelolaan
Sumber Daya Air serta amanat untuk wajib Pola yang tercantum pada UU Sumber Daya
Air No. 7 Tahun 2004 dan Keputusan Menteri PU No. 266/KPTS/M/2010 tentang Surat
Keputusan Pola.
Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Bengawan Solo disusun dengan acuan:
(1) Mater Plan Pengembangan Wilayah Sungai Bengawan Solo (1974)
(2) Rencana Induk (2001) Pengembangan dan Pengelolaan Sumber Daya Air WS
Bengawan Solo yang disusun dari CDMP (Comprehensive Development and
Management Plan)
(3) Matriks Kesepakatan Antar Pemerintahan dalam rangka Penanganan Banjir
DAS Bengawan Solo (2008)
Substansi Pola Pengelolaan SDA ini telah disepakati bersama Tim Koordinasi
Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA) Wilayah Sungai Bengawan Solo.

15

Dalam Pola Pengelolaan SDA diusulkan pembangunan Waduk Serbaguna Jipang


yang berlokasi di sebelah hulu Kota Cepu guna pengendalian banjir Bengawan Solo
Hilir dan penyediaan air baku untuk berbagai kebutuhan masyarakat di Kabu-paten
Blora, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik.
Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Bengawan Solo Program 20102014 direncanakan dengan 2 (dua) alternatif, yaitu:
o Alternatif 1: Dengan Waduk Serbaguna Jipang
o Alternatif 2: Tanpa Waduk Serbaguna Jipang
Alternatif I:
Pembangunan Waduk Serbaguna Jipang dengan tampungan total sebesar 800 juta
m3 akan sangat efektif untuk pengendalian banjir Bengawan Solo Hilir, namun
konsekuensinya sangat besar terutama dalam aspek pembebasan lahan seluas
13.000 Ha dan pemindahan penduduk sebanyak 84.000 orang, yang
pembangunannya memerlukan waktu 15 tahun.
Alternatif II:
Tanpa Waduk Serbaguna Jipang, masyarakat harus dapat menerima kenyataan
banjir Bengawan Solo Hilir akan berulang setiap tahun, sehingga perlu
disosialisasikan perilaku living harmony with floods, khususnya untuk
masyarakat yang tinggal di wilayah banjir routine Bengawan Solo Hilir.

16

Gambar 1.8 Skema Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Bengawan Solo (Dengan Waduk Jipang)

17

Gambar 1.9 Skema Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Bengawan Solo (Tanpa Waduk Jipang)

18

Gambar 1.10 Skema Pengelolaan SDA Bengawan Solo Hulu TA 2010-2014 Gambar 1.11 Skema Pengelolaan SDA Kali Madiun TA 2010-2014
19

Gambar 1.12 Skema Pengelolaan SDA Bengawan Solo Hilir (Dengan Waduk Jipang)
20

Gambar 1.13 Skema Pengelolaan SDA Bengawan Solo Hilir (Tanpa Waduk Jipang)
21

Gambar 1.14 Pola Konservasi SDA WS Bengawan Solo


22

Gambar 1.15 Pola Pendayagunaan SDA WS Bengawan Solo


23

Gambar 1.16 Pola Pengendalian Daya Rusak Air WS Bengawan Solo


24

DAFTAR PUSTAKA

Anonym. 2012. Profil Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Bengawan Solo Tahun
2012. Surakarta: BBWS Bengawan Solo.

25