Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah


Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) khususnya internet berkembang

sedemikian pesatnya serta memberikan dampak terhadap berbagai sendi


kehidupan manusia. Internet mampu membawa kita pada era globalisasi, suatu era
dimana sekat-sekat geografis suatu wilayah, atau negara menjadi terhilangkan.
Tidak hanya sekat geografis, sekat waktu-pun terhilangkan oleh Internet. Dimana
dan kapanpun kita dapat bekerja, berkomunikasi, berinteraksi, menciptakan dan
menyebarkan data, informasi, dan pengetahuan dengan sangat cepat dan akurat,
ke berbagai belahan dunia, asal terhubung dengan internet.
Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi kini telah mengubah cara
pandang dan bertindak masyarakat dalam menghabiskan waktu untuk bekerja dan
mengatasi segala permasalahannya. Muncul paradigma baru dalam masyarakat
yang mengekspresikan perubahan baru dalam aktifitas kehidupan masyarakat
sebagai dampak dari kemajuan TI. Pada sistem perdagangan dan ekonomi kini
muncul e-commerce, e-business, e-trading, dan e-shop. Pada sistem pemerintahan
muncul e-government, yang kemudian memunculkan bentuk-bentuk baru dalam
penyelenggaraan dan pelayanan pemerintahan, seperti: e-administration, e-society,
e-health, e-citizen, e-services, e-demokrasi, dan e-tendering atau e-procurement.
Pada sistem surat-menyurat muncul e-mail. Bentuk-bentuk perubahan di atas pada
dasarnya merubah aktifitas masyarakat dalam dunia nyata ke dalam aktifitas dunia

maya (aktifitas dalam dunia internet). Banyak lagi bentuk perubahan lainnya
terjadi dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat yang dibawa oleh kemajuan TI,
tidak terkecuali, dalam dunia pendidikan.
Dampak kemajuan TIK dalam dunia pendidikan sangatlah luar biasa.
Berbagai model pembelajaran dengan memanfaatkan komputer seperti: e-learning
(electronic learning), Computer Assisted Instruction (CAI), Computer Based
Instruction (CBI), dan e-teaching (electronic teaching) sangat mungkin
menghandle perkembangan dunia pendidikan. Model pembelajaran tersebut
memungkinkan guru dan peserta didik mencari bahan pembelajaran sendiri
langsung dari situs-situs di internet melalui komputer sebagai sarana belajar.
Dengan memahami cara menggunakan komputer, guru dan peserta didik dapat
mengakses bahan pelajaran melalui jaringan intranet dan internet, dan melalui CD
dapat mempelajari bahan pembelajaran secara interaktif dan menarik, tanpa harus
didampingi oleh seorang guru secara langsung. Dengan demikian Dunia
pendidikan termasuk yang sangat diuntungkan dari kemajuan TIK karena
memperoleh manfaat yang luar biasa. Mulai dari eksplorasi materi-materi
pembelajaran berkualitas seperti literatur, jurnal, dan buku, membangun forumforum diskusi ilmiah, sampai konsultasi/diskusi dengan para pakar di dunia,
semua itu dapat dengan mudah dilakukan dan tanpa mengalami sekat-sekat karena
setiap individu dapat melakukannya sendiri.
Bagi negara-negara maju, pendidikan berbasis TI bukan hal yang baru
lagi. Mereka telah terlebih dulu dan lebih maju dalam menerapkan berbagai teknik
dan model pendidikan berbasis TIK. Indonesia masih tergolong pemula dalam
menerapkan sistem ini. Namun sebagai pemula tentu kita punya kesempatan

berharga untuk belajar banyak atas keberhasilan dan kegagalan negara-negara


maju yang telah menerapkannya sehingga penerapan pendidikan berbasis TIK di
Indonesia menjadi lebih terarah. Sebagai pemula, Pemerintah Indonesia sudah
termasuk cepat dalam menanggapi kebutuhan dunia pendidikan terhadap TI.
Sebagai contoh, pada pendidikan tinggi (kampus), ketersediaan internet kini
semakin meluas, mulai tersedia teknologi video conference, yang semuanya itu
memberikan penguatan pada proses belajar mengajar dikampus. Demikian juga
pada pendidikan dasar, menengah dan kejuruan, Pemerintah telah membangun
situs pembelajaran e-dukasi.net, penyediaan jardiknas (meski masih belum
menyeluruh) adalah wujud nyata langkah pemerintah dalam membangun eeducation pada dunia pendidikan di tanah air, demikian pula peluncuran e-book,
serta pengembangan e-library pada berbagai perpustakaan pemerintah maupun
perguruan tinggi. Semua hal tersebut tidak lain adalah upaya pemerintah untuk
mendorong kemajuan TIK dalam pendidikan kita agar pendidikan di Indonesia
dapat lebih cepat mengejar ketertinggalannya dari Negara-negara lain.
Paparan makalah berikut ini mencoba untuk memberikan berbagai aspek
tentang pendidikan berbasis TIK, dimulai dari hal yang mendasar yakni
pengertian, kemudian dilanjutkan dengan model pendidikan berbasis TIK, media
TIK dalam pembelajaran, Komponen utama sistem pendidikan berbasis TIK,
laboratorium virtual, strategi penerapan pendidikan berbasis TIK, dan paling akhir
akan ditutup dengan suatu simpulan.

I. Pendidikan Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi


Pendidikan berbasis TIK adalah suatu sistem pendidikan dimana proses
belajar-mengajar berlangsung dengan memanfaatkan sarana teknologi informasi
dan komunikasi (TIK). Dalam sistem ini interaksi antara pengajar dan peserta
didik tidak harus saling bertatap muka (bertemu) secara fisik seperti halnya dalam
sistem pembelajaran konvensional, namun mereka bertemu dalam ruang teknologi
informasi (internet) dengan memanfaatkan suatu media yang disebut komputer.
Dalam konteks pembelajaran berbasis TIK ini terjadi pergeseran pola interaksi
antara guru dan siswa, dimana pada pembelajaran konvensional guru berperan
sebagai sumber belajar yang berkewajiban mentransfer pengetahuan, sedangkan
pada pembelajaran berbasis TIK guru berperan sebagai fasilitator dan motivator
belajar bagi peserta didiknya. Hal-hal fisik menyangkut materi pembelajaran,
buku, dalam sistem pembelajaran konvensional, pada pendidikan berbasis TIK
berubah menjadi bentuk informasi digital. Dengan perubahan tersebut, maka
mereka tidak harus bertatap muka secara fisik, maka cara mengajar guru dan cara
belajar peserta didik juga harus berubah. Pendidikan berbasis TIK akan mengubah
perilaku guru dan peserta didik dalam menyelenggarakan proses belajar mengajar.
Guru dan peserta didik harus sama-sama menguasai instrumen teknologi
informasi yang digunakan didalam pembelajaran sehingga proses belajar
mengajar dapat berlangsung.
Mencermati difinisi di atas, maka tantangan dalam implementasi
pembelajaran berbasis TIK akan terasa sangat berat. Disamping karena harus
mengubah cara maupun proses belajar mengajar guru dan peserta didik, investasi
berupa penyediaan insfrastruktur TIK yang memadai juga menjadi masalah

tersendiri. Atas kondisi tersebut maka pendidikan berbasis TIK kemudian


mengambil bentuk-bentuk yang lebih sederhana untuk mengurangi beban
prasyarat implementasi pendidikan berbasis TIK tersebut, seperti menggunakan
jaringan intranet (intranet adalah jaringan komputer lokal yang merupakan bentuk
miniatur dari internet) dan menggunakan media CD-ROM. Proses pembelajaran
pada jaringan lokal intranet memiliki karakteristik hampir sama dengan proses
pembelajaran pada jaringan internet, hanya saja dilakukan dalam satu ruangan
atau dalam satu gedung atau dalam area yang terbatas. Pada sistem berbasis CDROM, materi pembelajaran dibawa oleh murid dalam bentuk CD-ROM,
kemudian dipelajari pada komputer masing-masing.
Satu hal yang harus diingat, apapun bentuk yang diambil dari pendidikan
berbasis TIK, harus tetap mengacu pada tujuan utama yakni memperbaiki secara
signifikan kualitas belajar dan pembelajaran dan juga meningkatkan literasi
teknologi informasi.

II.

Model Sistem Pembelajaran Berbasis TIK


Ada 2 model sistem pembelajaran berbasis TIK, yaitu pembelajaran

yang tidak sinkron (Asynchronous learning) dan pembelajaran yang sinkron


(Synchronous learning).

A. Pembelajaran Tidak Sinkron


Pada model tidak sinkron, proses pembelajaran berlangsung dimana
antara pengajar dan peserta pembelajaran dilakukan pada waktu yang berbeda.

Seorang peserta dapat mengambil materi pembelajaran pada waktu yang berbeda
dengan pengajar memberikan materi pembelajaran.
Untuk saat ini, pembelajaran tidak sinkron lebih banyak digunakan,
karena: pertama, peserta tidak harus terikat dengan waktu, peserta dapat
mengambil materi pembelajaran kapan dan dimana saja, kedua, relatif lebih
mudah dan lebih sederhana dalam implementasinya, dan terakhir, dari kebutuhan
sumber daya terutama infrastruktur internet relatif lebih murah. Kekurangan
model pembelajaran ini adalah interaksi dua arah yang bersifat real time antara
pengajar dan peserta pembelajaran tidak dapat diselenggarakan, namun demikian,
meski tidak bersifat real time, model pembelajaran ini dapat dilengkapi dengan
fasilitas forum, untuk menjaga interaktifitas antara peserta didik dan pengajar,
atau antara peserta didik dengan peserta didik lainnya, dalam mendiskusikan
berbagai topik materi pembelajaran.

B. Pembelajaran Sinkron
Pada model sinkron, proses pembelajaran dilakukan secara bersamaan,
terjadi interaksi dua arah antara pengajar dan peserta pembelajaran. Model ini
mirip dengan proses pembelajaran konvensional di kelas, oleh karena itu model
pembelajaran sinkron sering disebut virtual classroom. Interaksi dua arah yang
bersifat real time antara pengajar dan peserta pembelajaran dapat dilakukan
dengan menggunakan teknologi teleconference dan chatting.
Sesungguhnya model pembelajaran sinkron pada internet adalah bentuk
paling ideal dari pendidikan berbasis TIK, karena dengan model ini seorang
pengajar bisa menjelaskan materi pembelajaran dengan peserta didik yang

tersebar di seluruh dunia. Akan tetapi model ini membutuhkan sumber daya yang
sangat besar, terutama penyediaan infrastruktur internet dengan bandwidth
berkapasitas tinggi. Namun demikian keterbatasan tersebut untuk saat ini dapat
diatasi dengan memanfaatkan jaringan lokal intranet sebagai alternatif pilihan

III. Media Pembelajaran Berbasis TIK


Pada pembelajaran berbasis TIK tdak dapat dipisahkan dari peran
teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sebagai media dalam pembelajaran.
Beberapa media yang dapat digunakan dalam pembelajaran berbasis TIK, adalah:

a. Internet
Internet adalah media sesungguhnya dalam pendidikan berbasis TIK, karena dari
perkembangan internet kemudian muncul model-model e-learning, distance
learning, web base learning, dan istilah pendidikan berbasis TIK lainnya. Internet
merupakan jaringan komputer global yang mempermudah, mempercepat akses
dan distribusi informasi dan pengetahuan (materi pembelajaran) sehingga materi
dalam proses belajar mengajar selalu dapat diperbaharui. Sudah seharusnya dalam
penerapan pendidikan berbasis TIK tersedia akses internet. Namun demikian
untuk menunjang pelaksanaan program pembelajaran berbasis TIK ini perlu
disiapkan sumber daya manusia melalui program pelatihan e-learning.
b. Intranet
Intranet menjadi alternatif penting sebagai media pendidikan berbasis TIK,
ketika terjadi kendala dalam penyediaan infrastruktur internet. Karakteristik

intranet hampir sama dengan internet, hanya saja untuk area lokal saja (dalam
suatu kelas, sekolah, gedung, atau antar gedung). Model-model pembelajaran
sinkron dan tidak sinkron dapat dengan mudah dan lebih murah dijalankan pada
intranet.

c. Mobile Phone / Handphone


Pembelajaran berbasis TIK juga dapat dilakukan dengan menggunakan
media telpon seluler (handphone), karena kemajuan teknologi telpon seluler maka
seseorang bisa mengakses materi pembelajaran, mengikuti proses pembelajaran
melalui telpon seluler. Pembelajaran dengan berbasis telepon seluler populer
disebut M-learning (mobile-learning). Dengan model m-learning, maka
pembelajaran dapat dilakukan di mana saja dan kapan sana dengan mudah dan
praktis karena media yang digunakan sangat mobile.

d. CD-ROM/Flash Disk
Media CD-ROM atau flash disk dapat menjadi pilihan apabila koneksi
jaringan internet/intranet tidak tersedia. Materi pembelajaran disimpan dalam
media CD-ROM atau Flash Disk, kemudian dibuka dan dipelajari pada suatu
komputer.

Pemanfaatan

media

CD-ROM/flash

disk

merupakan

bentuk

pembelajaran berbasis TIK yang paling sederhana dan paling murah.

IV. Komponen Utama dalam Pembelajaran Berbasis TIK


Ada 2 komponen utama dalam pembelajaran berbasis TIK, yaitu
Learning Management System (LMS), dan Learning Content (LC).

A. Learning Management System (LMS)

LMS merupakan suatu sistem komputer yang dapat diibaratkan sebagai


staff administrasi yang akan mengatur penyelenggaraan proses pembelajaran.
Berikut adalah beberapa fungsi dari LMS:
a. Mengelola materi pembelajaran
Setiap mata pelajaran akan memiliki materi pembelajaran. Setiap materi
pembelajaran akan dikelompokkan berdasarkan kelas (seperti kelas 1, 2, 3)
dan juga semester. Pada setiap semester, materi pembelajaran akan
dikelompokkan berdasarkan pertemuan pertama, kedua, ketiga, dan
seterusnya. Setiap materi pembelajaran kemudian dapat mengalami
perubahan atas dasar pergantian kurikulum.
b. Registrasi dan Persetujuan
Fungsi ini bermanfaat dalam membatasi mereka yang berhak mengikuti
pelajaran dengan mereka yang tidak berhak. Hal ini disebabkan bahwa
setiap pelajaran memiliki struktur dan tingkatan, dan untuk mempelajarinya
perlu prasyarat. Untuk itulah pentingnya registrasi dan persetujuan.
c. Merekam aktifitas belajar mengajar
Peran ini untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: berapa lama,
kapan mulai, kapan berakhir proses belajar mengajar (mengakses materi
pembelajaran), siapa saja yang hadir, proses diskusi (tanya jawab) yang
terjadi, dan memberikan peringatan kepada peserta. Hal ini penting untuk
penilaian proses pembelajaran.

d. Melakukan evaluasi
Merupakan fungsi LMS untuk melakukan evaluasi terhadap proses belajar
mengajar menyangkut: mengukur kemajuan peserta antara sebelum
melakukan pembelajaran dengan sesudah pembelajaran, mengukur seberapa
jauh pemahaman peserta terhadap materi, dan atas dasar hasil evaluasi
kemudian memberikan saran ke peserta untuk mengulang kembali beberapa
materi pembelajaran yang dianggap kurang. Aspek evaluasi lain yang bisa
dilakukan adalah mengukur kepuasan atau persepsi peserta terhadap materi
pembelajaran terutama dalam hal penyajian materi.
e. Media komunikasi
LMS dapat menjadi media komunikasi, menyampaikan pengumuman,
meningkatkan interaktifitas antara pengajar, peserta didik, dan pihak
administrator.
f. Pelaporan
Merupakan muara akhir dari fungsi-fungsi LMS di atas yaitu untuk
pembuatan pelaporan otomatis dan transparan menyangkut hasil dan proses
belajar mengajar. Pembuatan laporan dapat dibuat berdasarkan hak-hak
akses dari komponen sekolah. Sebagai contoh pelaporan untuk pimpinan
(pihak atasan), pengajar, peserta didik bahkan mungkin orang tua dapat
mengakses dengan fasilitas yang berbeda-beda.

B. Learning Content
Learning content adalah materi pembelajaran itu sendiri, yang akan
disajikan kepada peserta didik. Isi materi harus dibuat oleh mereka yang punya

kompetensi dibidangnya dalam hal ini adalah guru mata pelajaran, tidak peduli
apakah mereka memahami banyak tentang TI atau tidak. Setelah isi materi selesai
dibuat baru kemudian dibuatkan versi elektroniknya oleh para pengembang
content (content developers) sehingga bisa dimasukkan ke LMS.
Penyajian content harus mengandung daya tarik sehingga peserta
memiliki minat untuk membaca (mempelajari), mengandung unsur-unsur animasi,
suara, video, interaktif, dan simulasi, namun demikian harus tetap memperhatikan
bandwidth dari internet atau intranet sehingga tidak terlalu lambat tampil saat
dipelajari oleh peserta. Dalam mempelajari materi, peserta harus memiliki kontrol
terhadap penyajian materi, dapat melompat dari satu topik ke topik yang lainnya.
Fasilitas forum, chatting, dan video conference dapat digunakan untuk menjaga
interaktifitas.

V.

Virtual Laboratory
Virtual lab merupakan salah satu learning content yang berwujud piranti

lunak komputer yang dirancang agar seseorang dapat melakukan aktifitas-aktifitas


experiments seperti halnya mereka melakukan experiments di laboratorium
sebenarnya. Ada 2 komponen penting dalam virtual lab, yaitu: simulasi dan
animasi. Simulasi bertujuan menggambarkan lingkungan nyata dalam suatu
sistem. Melalui simulasi peserta dapat melakukan percobaan dengan cara
penggantian nilai parameter-parameter, sehingga menimbulkan perilaku berbeda
terhadap percobaan yang dilakukan. Perilaku-perilaku berbeda tersebut kemudian
ditampilkan melalui animasi. Hasil-hasil percobaan juga secara otomatis dapat
direkam oleh sistem dan pada akhirnya dapat diambil sebagai pelaporan.

Virtual lab paling ideal dijalankan di internet, sehingga peserta dapat


melakukan percobaan darimana dan kapan saja. Namun demikian dapat juga
dijalankan dalam lingkungan intranet atau komputer standalone. Dengan virtual
lab gedung maupun alat lab fisik diubah menjadi komputer dan piranti lunak
virtual lab.

VI. Strategi Pengembangan Pendidikan Berbasis TIK


Pada bagian ini, penulis mencoba untuk memberikan pandangan sebagai
suatu strategi dalam pengembangan pendidikan berbasis TIK. Strategi menjadi
suatu yang sangat penting disini agar pengembangan pendidikan berbasis TIK
memiliki tahapan-tahapan yang jelas, terarah, dan terukur, sehingga investasi
(anggaran) besar yang dihabiskan dalam penyelenggaraan pendidikan, dapat
mencapai hasil yang optimal.
Arah pengembangan pendidikan berbasis TIK harus tertuang dalam
suatu grand design (blue print). Pada grand design tersebut setidak-tidaknya
menyentuh atau mengatur secara jelas mengenai hal-hal berikut ini;

1. Menentukan model pembelajaran berbasis TIK yang akan diselenggarakan.


Setidaknya ada 3 model pendidikan berbasis TIK yang dapat dikembangkan,
yaitu: pertama, model pembelajaran sinkron dan tidak sinkron berbasis
internet, kedua, model pembelajaran sinkron dan tidak sinkron berbasis
intranet,

dan

terakhir,

model

pembelajaran

tidak

sinkron

dengan

memanfaatkan CD-ROM/Flash Disk. Model-model tersebut dibuat atas dasar

ketersediaan anggaran dan kesiapan sekolah dalam melakukan pembelajaran


berbasis TIK.

2. Merancang suatu skenario berjenjang atau bertahap dalam menerapkan


pendidikan berbasis TIK.
Sistem pendidikan ini tidak mungkin diterapkan secara serempak pada seluruh
sekolah, mengingat jumlah sekolah sangat banyak. Meski demikian, harus ada
suatu perencanaan dalam jangka waktu berapa tahun seluruh sekolah akan
terjangkau oleh sistem pendidikan ini. Skenario berjenjang yang dimaksud
disini adalah bertahap dalam hal jumlah sekolah dan berjenjang dalam
menerapkan model pendidikan yang digunakan. Dalam skenario berjenjang
terdapat hal-hal berikut yang harus diatur.

a. Skenario Bertahap dalam Pemilihan Sekolah


Karena penerapan pendidikan berbasis TIK tidak dapat secara
serempak dilakukan untuk seluruh sekolah, maka harus ada mekanisme
seleksi yang jelas dan bersifat kompetisi, dalam memilih sekolah.
Mekanisme ini penting karena: pertama, untuk mengetahui keseriusan dan
kesiapan sekolah, kedua, untuk mengetahui model pembelajaran yang
cocok untuk suatu sekolah. Mekanisme seleksi dapat dilakukan atas dasar
proposal self evaluation (evaluasi diri) dan atau proposal jenis lainnya
dari sekolah. Proposal ini berguna untuk mengetahui kesiapan dan
dukungan dari sekolah.

Setidak-tidaknya ada 4 dukungan yang dapat

diberikan sekolah terhadap pengembangan pendidikan ini, yaitu: dukungan

infrastruktur, dukungan pengembangan learning content, dukungan


penyiapan tenaga administrator TIK disekolah, dan dukungan percepatan
penguasaan TIK dikalangan pengajar (guru).

b. Skenario berjenjang dalam penerapan model pendidikan


Sekolah-sekolah yang terpilih dalam mekanisme seleksi di atas,
akan terkelompok ke dalam 3 model pendidikan (lihat poin 1 di atas).
Kelompok model 1 memiliki jumlah sekolah paling sedikit, kelompok
model 2 memiliki jumlah sekolah lebih banyak dari kelompok 1, dan
kelompok model 3 memiliki jumlah sekolah paling banyak. Pada suatu
periode tertentu (mungkin setiap 1 tahun) kelompok-kelompok tersebut
dinilai (dievaluasi). Sekolah yang memiliki kemajuan dalam pendidikan
berbasis TIK, kemudian diubah kelompokknya ke model yang lebih tinggi.

3. Pengembangan Fundamental Infrastructure. Komponen yang termasuk ke


dalam infrastruktur mendasar, antara lain:

a. Penyediaan media Internet/Intranet.


Permasalahan utama dalam penyediaan internet adalah memilih kanal
komunikasi dan kapasistas bandwidth. Pemilihan ini sangat terkait dengan
model pembelajaran yang diselenggarakan dan ketersediaan anggaran.
Pembelajaran yang menggunakan tele-conference tentu membutuhkan
kapasitas bandwidth yang lebih tinggi dan anggaran relatif besar. Untuk

intranet, semasih jangkauan area jaringan masih dalam satu sekolah, media
komunikasi dapat menggunakan sistem peng-kabel-an.

b. Pengembangan LMS.
LMS adalah staf administrasi-nya sistem pembelajaran berbasis TI, yang
akan mengelola jalannya proses belajar mengajar.

LMS cukup

dikembangkan satu untuk semua sekolah karena karakteristiknya sama,


sehingga LMS lebih tepat dikembangkan oleh pemerintah (instansi terkait)
kemudian didistribusikan ke setiap sekolah.

c. Pengembangan Learning Content dan Website Pembelajaran.


Learning content adalah isi materi pelajaran, sedangkan situs website
pembelajaran adalah tempat mem-publish learning content di internet
sehingga mudah terjangkau oleh sekolah-sekolah (sama dengan situs edukasi.net). Berbeda dengan materi pembelajaran konvensional yang
mungkin perubahan kurikulumnya terjadi dalam waktu 5 tahun, materi
pembelajaran pada pendidikan berbasis TIK harus selalu mengalami
pengayaan dan pembaharuan, karena disini salah satu ciri khas pendidikan
ini. Disamping dengan cara melakukan eksplorasi materi pembelajara di
internet, Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan untuk pengayaan dan
pengembangan learning content adalah meng-organize para guru yang
memiliki kompetensi di masing-masing bidang (mata pelajaran).

d. Penyiapan tools atau aplikasi komunikasi untuk mendukung proses


pembelajaran. Tools komunikasi melipui tools untuk tele-conference,
chatting, dan forum.

4. Pengembangan Virtual Laboratory.


Lab maya ini harus dikembangkan secara terus menerus baik dari segi kualitas
dan kapasitas. Sengaja penulis menaruh virtual lab sebagai poin tersendiri
disini (yang seharusnya bagian dari learning content), sebagai bentuk
penekanan khusus. Keberadaan virtual lab sangat penting bagi sekolahsekolah dan merupakan cara singkat membangun lab dengan biaya yang jauh
relatif lebih murah. Hampir semua mata pelajaran dapat dibuatkan virtual labnya. Virtual lab dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif
peserta terhadap materi pelajaran.

5. Percepatan penguasaan TIK dikalangan pengajar (guru).


Para pengajar harus menguasai TIK minimal TIK yang berkaitan dengan
proses pembelajaran. Bila pengajar tidak menguasai TIK, hampir dipastikan
pendidikan berbasis TIK tidak akan berjalan.

6. Penyediaan Administrator TIK disekolah.


Administrator TIK disetiap sekolah sangat dibutuhkan untuk maintenance
teknologi informasi di sekolah. Teknologi internet/intranet atau yang lainnya
sewaktu-waktu dapat mengalami permasalahan. Disinilah tugas dari seorang
administrator TIK.

7. Merancang skenario Evaluasi.


Evaluasi pelaksanaan sistem pendidikan berbasis TIK harus jelas dan terukur.
Evaluasi dapat dilakukan setidak-tidaknya dengan mengukur 2 hal berikut ini.
a. Mengukur kepuasan peserta ajar terhadap interaksi dan cara penyajian dari
komponen pembelajaran (LMS maupun materi pembelajaran)
b. Mengukur hasil pembelajaran berdasarkan tingkat penyerapan peserta
terhadap materi pembelajaran.
Evaluasi juga dapat mengukur tingkat penggunaan teknologi informasi dalam
kehidupan sehari-hari terhadap pengajar dan peserta ajar. Dari sini akan dapat
diketahui pengaruh sistem pendidikan berbasis TIK terhadap tingkat literasi
teknologi informasi dikalangan sekolah.

8. Merancang skenario Evaluasi.


Evaluasi pelaksanaan sistem pendidikan berbasis TIK harus jelas dan terukur.
Evaluasi dapat dilakukan setidak-tidaknya dengan mengukur 2 hal berikut ini.
a. Mengukur kepuasan peserta ajar terhadap interaksi dan cara
penyajian dari komponen pembelajaran (LMS maupun materi
pembelajaran)
b. Mengukur hasil pembelajaran berdasarkan tingkat penyerapan
peserta terhadap materi pembelajaran.
Evaluasi juga dapat dilakukan untuk mengukur tingkat penggunaan teknologi
informasi dalam kehidupan sehari-hari terhadap pengajar dan peserta ajar.

Dari sini akan dapat diketahui pengaruh sistem pendidikan berbasis TIK
terhadap tingkat literasi teknologi informasi dikalangan sekolah.
Selain evaluasi yang berkaitan dengan proses belajar mengajar di atas,
evaluasi juga dapat dilakukan atas dasar dukungan-dukungan sekolah yang
ditulis diproposal dengan kenyataan yang telah terrealisasi.

9. Pembentukkan Divisi Pendidikan Berbasis TIK. Sebagai wujud keseriusan


pemerintah

dalam mengembangkan

pendidikan

berbasis TIK, maka

pemerintah (instansi terkait) harus membentuk divisi pusat pengembangan


pendidikan berbasis TIK atau devisi e-edukasi baik ditingkat provinsi maupun
kabupaten/kota.

VII.

Simpulan
Pengembangan pendidikan berbasis TIK perlu menjadi pemikiran serius

berbagai pihak, serta perlu strategi terstruktur dengan tahapan yang terarah pasti
menuju kepada upaya peningkatan kualitas pendidikan yang berkesetaraan global
sehingga pendidikan kita tidak semakin terpuruk di antara kemajuan pendidikan di
dunia yang sudah berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi.
Harus ada skenario berjenjang dalam penerapan model pendidikan
berbasis TIK yang didasari atas kemampuan sekolah dalam menyerap dan
mengimplementasikan teknologi informasi dan komunikasi.
Perlu adanya regulasi pemerintah yang mendorong iklim sekolah, guru,
karyawan, siswa agar mampu mengubah paradigma pembelajaran konvensional
yang mutlak mengandalkan guru, menjadi pembelajaran modern yang

menempatkan guru sebagai fasilitator dan motivator belajar, dan kemajuan


teknologi informasi dan komunikasi sebagai sarana belajar.
Secara bertahap sekolah yang terlibat dalam pendidikan berbasis TIK
harus meningkat dalam pemanfaatan TIK untuk pembelajaran,
Perlu komitmen kuat guru, sekolah yang kuat, yang dapat dilihat dari
dukungan infrastruktur, dukungan learning content, dukungan percepatan
penguasaan TIK dikalangan pengajar, dan dukungan staff administrator dari
sekolah.
Perlu dibentuk infrastruktur pendukung seperti divisi pusat pendidikan
berbasis TIK, baik pada tingkat provinsi, kabupaten, serta administrator di
sekolah, untuk mengorganisasikan penerapan sistem pendidikan berbasis TIK

VIII. Kepustakaan
Antonius Aditya Hartanto dan Onno W. Purbo, (2002).E-Learning berbasis PHP
dan MySQL, Penerbit Elex Media Komputindo, Jakarta,
Bailey, D.H. (1996), Constructivism and Multimedia: Theory and Application:
Inovation and Transformation. Journal of Instruction Media.
Budi Rahardjo, (2003) Proses e-Learning di Perguruan Tinggi, Seminar &
Workshop, ITB.
___________, Internet Untuk Pendidikan, http://budi.insan.com, 2001.
Criswell, E.L. (1989). The Design of Computer-Based Instruction. New York:
Mac Millan.

Rusman, (2000), Eksistensi Komputer dan Internet dalam Dunia Pendidikan,


Jurnal Pendidikan FIP.
_________ (2004), Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Pendidikan. Jurnal
Edutech. Vol 3, No 1 Februari 2004. ISSN. 0852-1190
_________. (2007), Implementasi Model Pembelajaran Berbasis Komputer untuk
Meningkatkan Kompetensi Siswa di SMK, Jurnal Teknodik-Pustekom
Jakarta.
_________, (2009) Manajemen Kurikulum:Seri Manajemen Sekolah Bermutu.
Jakarta. Rajawali Pers. PT. RajaGrafindo Persada.
.