Anda di halaman 1dari 96

Arus Minyak &

Oil Movement
by H. Amrizal, S.S.T

Tiada lelah mengabdi energi untuk negeri

Materi Arus Minyak


Perencanaan penerimaan crude
Perencanaan produksi

Perencanaan lifting
Supply Loss

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Materi Oil Movement


Penerimaan dan handling umpan

Penerimaan dan handling produk


Pelaksana proses blending

Penyaluran/lifting produk
Pengelolaan limbah
Pengelolaan dermaga

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

1. Materi Arus Minyak


1.1 Perencanaan penerimaan crude
1.2 Perencanaan produksi

1.3 Perencanaan lifting


1.4 Supply Loss

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Bisnis Pertamina
Pengolahan

Hulu

Impor Crude

Crude

Pemasaran

Floating Storage

Depot
Kilang

Impor BBM

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Kilang Pertamina
KAPASITAS KILANG EFFEKTIF :1,057.30 MBSD
Kapasitas Operasi (terpakai)

: 965.26 MBCD

BONTANG

RU - VII-KASIM
Kap. Efektif : 9.5 MBCD
Kap. Terpakai : 9.16 MBCD

B. PAPAN

UP I P. BRANDAN
Kap. Efektif : 4.50 MBCD
Kap. Terpakai : 2.42 MBCD

MUSI

(Tutup 2007)
RU II DUMAI / S. PAKNING
Kap. Efektif : 176.00 MBCD
Kap. Terpakai : 169.43 MBCD
RU III - MUSI
Kap. Efektif
: 125.50 MBCD
Kap. Terpakai : 97.80 MBCD

RU - VI BALONGAN
Kap. Efektif

CEPU
Kap. Efektif : 3.8 MBCD
Kap. Terpakai : 2.8 MBCD

: 125.00 MBCD

Kap. Terpakai : 112.14 MBCD

RU V - BALIKPAPAN
Kap. Efektif

: 265.00 MBCD

Kap. Terpakai : 230.45 MBCD

RU IV - CILACAP
Kap. Efektif : 348.00 MBCD
Kap. Terpakai : 341.04 MBCD

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Arus Minyak Indonesia


Entitlement KKKS
300.000 b/d

*) 7 Sisters dan
Afiliasi/Kroninya

Hasil Refinery
900.000 b/d
Kebutuhan BBM
1,6 Juta b/d

Ent. Negara:
430.000 b/d

*) 7 Sisters dan
860.000 b/d Afiliasi/Kroninya

Pertamina
130.000 b/d

Minyak Mentah
800.000 b/d

Sumber: Materi Presentasi Faisal Yusra

*) 7 Sisters dan
Afiliasi/Kroninya

Bahan Bakar Minyak


700.000 b/d

*) 7 Sisters dan
Afiliasi/Kroninya
Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Alur Pengadaan Crude

STOCK CRUDE ON HAND YANG


TERSEDIA DI TANKI

KETERSEDIAAN
DOMESTIC CRUDE DAN
ALOKASINYA

RENCANA
PENGOLAHAN

PENGADAAN
SPOT CRUDE

KETERSEDIAAN IMPORT CRUDE


(TERM CONTRACT)

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Faktor dasar pemilihan crude


1. Harga crude, termasuk biaya pengadaan
(landed price basis)
2. Komposisi product yields dan komposisi
hidrocarbon, pada crude assay
3. Harga produk hasil pengolahan
4. Ketersediaan (Availability)
5. Refinery configuration (susunan) dan
constraint (kompleksitas, kondisi tanki dan
dermaga)
Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Siapa yang melakukan perencanaan?


Unit

Pusat/Korporat

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Refinery Planning & Optimization (RPO)

RPO
Refinery Planning

Perencanaan

Supply Chain &


Distribution

Penjadwalan

Badget &
Performance

Pelaporan

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

BAHAN
BAKU

RPO

REN & EKON

Crude &
Intermedia

KILANG

Kehandalan
Jadual Stop

QUALITY
CONTROL
Kualitas Produk
(on/off spec)

PRODUK

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Ditentukan berdasarkan:
Perencanaan tahunan (RK) - Alokasi crude
Perencanaan bulanan (STS) - RCC meeting
GRTMPS (Generalized Refinery, Transportation,
Marketting, Planning System)
Crude Master Program
Product Master Program
LPG Master Program
Intermedia Meeting

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Tugas dan Fungsi Utama RPO


Merencanakan dan mengatur pengolahan/operasi Kilang
untuk mendapatkan refinery margin yang maksimum,
meliputi:
Jenis, waktu dan jumlah crude yang diolah
Pola operasi kilang
Jenis, waktu dan jumlah penyaluran produk
Mencari terobosan agar side product bisa menjadi final
product yang laku di pasar dengan nilai jual yang lebih
baik.
Mencari terobosan alternatif crude lain selain SLC/DCO
(harga murah, spec sama)
Pelaporan (margin)
Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Peran RPO
Garis besar peran RPO:
1. Merencanakan pengolahan & produksi, berdasarkan
suplai crude permintaan, kondisi kilang serta rencana
perbaikan.
2. Mengatur operasional pengolahan & produksi
berdasarkan ketersediaan crude, rencana lifting, serta
kapasitas tanki.
3. Optimasi perencanaan maupun operasional pola
pengolahan & produksi untuk memaksimalkan produk2
valuable, sehingga diperoleh margin yang optimal.
4. Evaluasi terhadap perencanaan pengembangan produk
baru beserta spesifikasi-nya, baik atas permintaan
konsumen maupun dari potensi serta kemampuan kilang.

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Peran RPO (lanjutan)


5. Fungsi kontrol terhadap tingkat kepuasan
pelanggan, serta sebagai koordinator
tindak lanjut adanya keluhan pelanggan.
6. Melakukan monitoring serta evaluasi data
operasional harian, mingguan, bulanan
maupun tahunan.
7. Penyediaan data untuk pengambilan
keputusan

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Peran Perencanaan & Keekonomian dalam


Era Pertamina Baru
1.Menangkap keinginan pasar, memformulasi,
mengkoordinasi, serta menyusun RTL dalam
suatu Rencana Kerja.
2.Sebagai koodinator minor kehandalan operasi,
untuk menjamin pelaksanaan Rencana Kerja.
3.Menyusun suatu perencanaan pengolahan
maupun produksi yang mempunyai nilai
ekonomis tinggi, dengan tetap memperhatikan
keinginan pasar.

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Peran Perencanaan & Keekonomian dalam


Era Pertamina Baru
4. Mengoptimalkan supply chain management
antar RUs, untuk memaksimalkan produk
valuable korporat, sehingga diperoleh profit
maksimal dengan tetap menjamin kontinuitas
suplai.
5. Melakukan optimasi pola produksi, sebagai
upaya pengembangan produk berdasarkan
informasi pasar maupun potensi unit kilang.
6. Melihat secara korporat potensi-potensi yang
ada di RUs untuk dioptimalkan secara
korporat.
Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Tujuan perencanaan pengolahan dan


optimalisasi pengolahan
1. Pengolahan crude dan produksi BBM/NBM
dengan margin maksimum
2. Pengaturan Penerimaan Crude, LSWR, HOMC
dan Penyaluran Produk BBM/NBM
3. Peningkatan nilai jual intermedia menjadi final
product
4. Optimasi pengolahan unti produksi dan
mencari alternatif crude baru

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Perencanaan Pengolahan
Perencanaan pengolahan dan produksi terdiri
atas:

Perencanaan Jangka Panjang (RK tahunan)


Perencanaan Jangka Pendek (STS bulanan)
dengan mempertimbangkan:
1.
2.
3.
4.

Rencana Stop Unit


Kehandalan Unit operasi
Alokasi Minyak Mentah
Penyaluran Produk

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Review STS
Penjabaran Rencana Kerja tahunan, baik arus minyak
maupun rencana stop kilang (time frame bulanan)
Mengakomodir kondisi bisnis terbaru (alokasi crude
dan kebutuhan pasar)
Mengakomodir performance unit kilang terbaru
(deviasi terhadap RK)

STS merupakan penjabaran strategi untuk mencapai


target pengolahan dan produksi tahunan
Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Perencanaan Bahan Baku/Raw Material


1.
2.
3.
4.
5.

CRUDE
LSWR
HVGO
NAPHTHA
INTERMEDIA LAINNYA
LSWR
CRUDE
INTERMEDIA

LSWR
HVGO
NAPHTHA
DLL

R
E
F
I
N
E
R
Y

PRODUCTS

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Rencana Stop Unit


Adalah untuk:
1. Turn Around atau Overhaul
2. Change of Catalyst (COC)
3. Cleaning & Retube HE
4. Steam Air Decoking (SAD) pada
unit Delayed Coking Uniy (DCU)

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Kehandalan Unit operasi


1. End of Run (EOR) Catalyst
2. Fouling atau korosi HE
3. Kehandalan pompa &
kompresor
4. dll

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Alokasi Minyak Mentah


1. Alokasi Minyak Mentah Pertamina
2. Rencana Arus Minyak Koorporat
3. Perkiraan Harga Minyak Mentah

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Penerimaan
Dalam Perencanaan Penerimaan Raw Material
berupa Crude dan Intermedia (LSWR, HOMC) baik
jumlah maupun waktunya mengacu pada :

1. Hasil Rapat RCC (Optimasi Hilir)


2. Master Program Crude
3. 10 Harian/mingguan Supply Crude

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Realisasi Pengolahan
Realisasi pengolahan di unit operasi mengacu pada :
1. STS (bulanan) / RK (tahunan)
2. Ketersediaan stock crude dan prediksi jadual
kedatangan crude
3. Ketersediaan umpan HVU (LSWR), dan jadwal
kedatangan LSWR ex Spk dan atau RUs
4. Kondisi Unit Operasi dan ketersediaan ullage saat itu

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Materi Arus Minyak


Perencanaan penerimaan crude
Perencanaan produksi

Perencanaan lifting
Supply Loss

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Rencana produksi
Pasar Pertamina adalah :
1. Berdasarkan Cuptive market untuk PSO
2. Mencari sendiri untuk industri dan BBM Non
Subsidi, serta industri petrokimia
Sebagai Public Service Obligation (PSO),
Pertamina merencanakan produksi
berdasarkan permintaan dari Direktorat
Marketing & Trading sesuai dengan
alokasi/kuota BBM yang sudah ditentukan
Pemerintah per bulan atau pertahunnya
berdasarkan populasi masyarakat suatu daerah
Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Rencana Pengolahan & Produksi


Mempertimbangkan:
1. Ketersediaan bahan baku
2. Kehandalan kilang
3. Objective Thruput BBM
4. Objective Thruput LPG
5. Harga Produk Crude/BBM/NBM
Dibicarakan dan direncanakan dalam:
1. Rapat master Program BBM
2. Rapat master Program LPG
Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Rencana Pengolahan & Produksi


Berdasarkan Rapat RCC (Refinery Crude Committee)
Di RU II rencana pengolahan di tuangkan dalam RPH
(Rencana Pengolahan Harian) yang didasarkan pada STS
bulan berjalan

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Rencana Penimbunan Produk


Gas
Premium/Pertalite/
Pertamax/Pertamax Plus/
Pertamax Turbo/Pertamax
Racing
Avtur/Kerosene
Solar/Bio Solar/
Pertadex/Dexlite
Minyak Bakar/
NBBM/Lube Oil
Intermedia
Petrokimia

Kilang

Produk

Storage
Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Produk Lain dari Kilang RU II

Refinery Fuel Oil : Bahan bakar boiler/ketel uap penghasil


steam
Solphy-2
: solven (pelarut), pembersih komponen
mesin pesawat udara
Smooth Fluid : Bahan penunjang drilling (pengeboran)
dengan tingkat sulfur yang rendah
Pertadex
: Bahan akar motor diesel yang mempunyai
CN 58, low sulfur, hight performance
Pertamax
: Bahan bakar motor gasoline yang
menggunakan spark plug
UCO
: Umpan untuk kilang Lube Base Oil Patra SK

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Rencana Penimbunan Produk


Diatur beradasarkan jenis minyak
Disalurkan sesuai tanki/tempat penampungan/
storage yang telah ditentukan/ditetapkan
Rencana penyaluran ke storage diatur dalam
Rencana Penyaluran Produk (RPP) atau untuk
RU II dikenal dengan nama Instruksi Penyaluran
Hasil-Hasil Produksi (IPHM)

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Rencana Penimbunan Produk


Contoh IPHM
Rencana
penyaluran
produk &
blending,
serta
pengaturan
pengolahan

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Pengaturan & Realisasi


1. Order harian ke Unit Operasi berdasarkan
STS, dan kehandalan kilang
2. Eksekusi di Unit Operasi
3. Monitoring jumlah (yield) dan kualitas
4. Penyaluran
5. Evaluasi realisasi terhadap target

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Materi Arus Minyak


Perencanaan penerimaan crude
Perencanaan produksi

Perencanaan lifting
Supply Loss

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Perencanaan Lifting (= Pengangkatan)


Produk yang sudah diproduksi di Kilang dan ditampung di
tangki harus dikeluarkan karena terkait keterbatasan
jumlah tangki penampung & kontinuitas produksi.
Penyaluran produk dikenal dengan istilah lifting
(pengangkatan), yang disalurkan melalui beberapa alat
transportasi:
1. Kapal
2. Mobil tangki (Tank Car)/Bridger
3. Truk/kontainer
4. Pipeline/transfer line
Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Moda Transprotasi penyaluran


No Sarana
1 Kapal
2 Mobil tangki
(Tank Car)/
Bridger
3 Truk/kontainer
4

Produk
Semua produk
Aspal, LPG, BBG, Avtur,
BBM, Solphy, dll

Keterangan

Tergantung
jenis produksi
Berupa padatan (Lilin/wax, dari masingmasing kilang
sulfur, coke, dll)
Pipeline/transfer BBM
line

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Administrasi penyaluran
STS
Diperoleh
jumlah
produksi

RCC
Master
Program
Hadir:
1. OO
2. ISC
3. M&T
4. MOR
5. S&D
6. Pengolahan
7. Perkapalan

Alokasi
Crude

Rencana
Pengapalan/
Lifting

- DO
- SO
- KN
- PO

Memo rencana
pengapalan/
penyaluran:
1. 10 harian
2. Mingguan
3. Harian

System
mySAP

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Penyaluran
(Kapal, Tank Car, Pipe Line, Truck/Kontainer)
Penyaluran dilakukan pada produk yang sudah on
spec (batching) berdasar :
1. Rencana Penyaluran BBM/NBM (berdasarkan
MP)
2. Surat Permintaan Transfer (Bon Permintaan
LPG & Gas Products Reg I, Dokumen Instruksi
Pengapalan, Fax lifting Mingguan dari S&D)
3. Alokasi Indent untuk green coke, solphy

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Perintah penyaluran
Setelah terbit DO/PO dari mySAP, Fungsi RPO melalui
Bagian SC&D mengeluarkan perintah muat atau
bongkar, output-nya berupa order (perintah)
penyaluran:
Jenis Perintah
Loading Order (LO)

Order

Moda Transportasi
Muat crude/produk ke
kapal

Discharging Order (DO) Penerimaan/bongkar


crude/produk dari kapal

Instruksi Penyaluran
Minyak (IPM)

Penyaluran produk via


mobil tangki atau pipa
Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Rencana Pengapalan
Order penyaluran yang dikeluarkan ditujukan ke Bagian terkait
seperti:
1. Oil Movement Bagian yang melakukan eksekusi
penyaluran/penerimaan
2. Laboratorium Bagian yang bertugas melakukan
pemeriksaan kualitas minyak yang akan
dikeluarkan atau diterima
3. Marine
Bagian yang melakukan penyandaran kapal
4. Finance
Bagian yang melakukan kalkulasi jumlah/
kuantitas minyak yang disalurkan
(menerbitkan Bill of lading) atau
quantity of discharge

Perintah muat/bongkar tersebut disebutkan juga


dalam IPHM
Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Rencana Pengapalan
Contoh IPHM

Rencana
penyaluran
produk
ke/dari kapal
(rencana
pengapalan)

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Materi Arus Minyak


Perencanaan penerimaan crude
Perencanaan produksi

Perencanaan lifting
Supply Loss

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Skema Pengiriman Crude & Produk dari Produsen sampai ke Tangki


Pengolahan Pertamina
Loading Port

B/L

Tangki Dit.P

R1

SFAL

Diawasi Surveyor
*B/L
SFAL
SFBD
A/R

= Bill of Lading
= Ship Figure After Loading
= Ship Figure Before Discharge
= Actual Received

Sumber: Tim Analisis Loss 2015

SFBD
R2

R4

R3

A/R

Loading Master

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

1. Actual Receipt (A/R) adalah kuantitas Minyak Mentah


atau Produk yang diterima oleh tanki penerima secara
aktual.
2. Bill of Lading (B/L) adalah dokumen berharga yang
mencantumkan kuantitas berdasarkan Certificate of
Quantity Loaded dan tujuan pengiriman yang dibuat
oleh pengirim untuk setiap jenis muatan kapal yang
ditandatangani oleh Nakhoda Kapal guna diserahkan
kepada penerima.
3. Loading Master adalah pejabat yang mewakili
perusahaan dan bertanggung jawab atas kelancaran
kegiatan bongkar-muat, kualitas dan kuantitas serta
administrasi dalam penerimaan minyak mentah atau
produk di pelabuhan bongkar/muat atau di Floating
Storage.
Sumber: Pedoman Penanganan & Pengawasan Susut MM & Produk
Pertamina A-001/2007

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

4. R-1 adalah selisih antara angka B/L (angka darat)


dengan angka kapal setelah muat (ships figure after
loading) di pelabuhan muat. (max 0,2 %)
5. R-2 adalah selisih antara angka kapal sesudah muat
(Ships Figure After Loading) di pelabuhan muat dengan
angka kapal sebelum bongkar (Ships Figure Before
Discharged) di pelabuhan bongkar. (max 1,5 %)
6. R-3 adalah selisih antara angka kapal (Ships Figure
Before Discharged) dengan angka penerimaan aktual di
tanki darat (actual receipt). (max 0,2 %)
7. R-4 adalah selisih antara angka B/L dengan angka
penerimaan aktual di pelabuhan bongkar (actual
receipt) berdasarkan angka penerimaan aktual di tangki
darat. (max 0,2%)
Sumber: Pedoman Penanganan & Pengawasan Susut MM & Produk
Pertamina A-001/2007

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

8. Ships Figure After Discharge (SFAD) adalah kuantitas


minyak mentah atau produk berdasarkan perhitungan
diatas kapal sesudah bongkar.
9. Ships Figure After Loading (SFAL) adalah kuantitas
minyak mentah dan produk berdasarkan perhitungan
diatas kapal setelah pemuatan.
10. Ships Figure Before Discharge (SFBD) adalah kuantitas
minyak mentah atau produk berdcasarkan perhitungan
diatas kapal sebelum bongkar.
11. Susut adalah selisih kurang kuantitas serah-terima
minyak mentah atau produk karena kegiatan
pemindahan dari satu tempat ke tempat lainnya.
Sumber: Pedoman Penanganan & Pengawasan Susut MM & Produk
Pertamina A-001/2007

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

12. Susut Angkutan Air adalah selisih kurang kuantitas


minyak mentah atau produk karena kegiatan
pemindahan dari satu tempat ke tempat lain
menggunakan alat angkutan air (laut dan sungai).
13. Susut Angkutan Darat adalah selisih kurang kuantitas
minyak mentah atau produk karena pemindahan dari
satu tempat ke tempat lain menggunakan angkutan
darat.
14. Susut Kilang adalah selisih kurang kuantitas baik minyak
mentah, intermedia maupun produk yang ada di Kilang
karena pemindahan dari satu tempat ke tempat lain
akibat operasional kilang yang tergambar dalam
laporan MQAR (monthly of quantity accounting report).
Sumber: Pedoman Penanganan & Pengawasan Susut MM & Produk
Pertamina A-001/2007

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

15. Susut Penyimpanan dan Penanganan (storage &


handling) adalah selisih kurang antara jumlah
persediaan minyak mentah, intermedia dan produk di
tanki timbun menurut angka pembukuan dengan angka
pengukuran fisik.
16. Susut Serah Melalui Pipa adalah susut kurang kuantitas
minyak mentah atau produk karena kegiatan
pemindahan dari satu tempat ke tempat lain melalui
pipa

Sumber: Pedoman Penanganan & Pengawasan Susut MM & Produk


Pertamina A-001/2007

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Materi Oil Movement


Penerimaan dan handling umpan

Penerimaan dan handling produk


Pelaksana proses blending

Penyaluran/lifting produk
Pengelolaan limbah
Pengelolaan dermaga

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Overview Oil Movement


Pergerakan arus minyak di Pertamina khususnya dalam
proses pengolahan minyak bumi hingga menjadi
produk berada dalam wewenang dan pengawasan satu
Bagian yang bernama Oil Movement (OM).
Di Pertamina, nama Bagian Oil Movement telah melalui
beberapa kali perubahan:
- TIM Tanki Instalasi & Movement
- ITP Instalasi Tangki & Pengapalan
- OM Oil Movement
Di Unit Pengolahan lain awalnya ada yang bernama
Terminal, tetapi saat ini semuanya menjadi OM.
Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Tugas & Fungsi Oil Movement Secara Umum

Penerimaan Crude Oil.


Menyiapkan Dry Stock Crude Oil & umpan lainnya
untuk diolah di Refinery (unit proses).
Penerimaan berbagai produk stream dari unit produksi.
Melaksanakan pencampuran (Blending), baik produk,
dan fuel oil.
Melakukan pengapalan/penyaluran & penerimaan
produk.
Melakukan pemeliharaan dan cleaning tangki.
Pengendalian Losses Minyak akibat dari kebocoran,
drainage, down grade dan evaporation di tanki.
Pengendalian pencemaran.
Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Materi Oil Movement


Penerimaan dan handling umpan

Penerimaan dan handling produk


Pelaksana proses blending

Penyaluran/lifting produk
Pengelolaan limbah
Pengelolaan dermaga

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Overview Oil Movement


Produk dari Kilang dihasilkan dari umpan yang diolah di
masing-masing unit proses. Umpan yang dimasukkan
ke unit proses mulai dari primary porcess hingga
secondary process mesti melalui tahapan persiapan
agar setiap umpan yang diolah sesuai dengan
spesifikasi dan persyaratan lain yang mesti dipenuhi,
seperti:
Jumlah
Komposisi crude
Kandungan air
Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Overview Oil Movement


Untuk jumlah, OM harus memastikan jumlah minyak
yang ada di tanki cukup dan tersedia sesuai perintah
dari Fungsi RPO (sesuai RPH & IPHM).
Untuk komposisi crude, OM harus melaksanakan
pencampuran/blending crude (mix crude) harus sesuai
yang direkomendasikan oleh Engineering berdasarkan
karakteristik crude atau umpan yang lainnya.

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Overview Oil Movement


Untuk kandungan air, OM mesti menjaga dan
memastikan kandungan B&SW (Basic Sedimen &
Water)* dan kandungan air bebas (WC= water content)
tidak melebihi batas yang diperkenankan (max 0,5 %).
Tingginya kandungan air dapat mengganggu proses
pengolahan di kilang. Selain terhadap proses juga dapat
meimbulkan karat pada peralatan serta berpotensi
merusak spesifikasi produk (WC >).
BS&W, spesifikasi teknis dari kotran tertentu dalam minyak mentah. Kandungan air
dapat sangat bervariasi dari lapangan ke lapangan dan mungkin ada kemungkinan
terdapat kandungan air yang lebih besar karena adanya teknologi injeksi steam (uap
air) - Wikipedia
Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Sumber Crude & Intermedia


Sumber perolehan crude & intermedia sebagai umpan
kilang yang diterima oleh OM dapat berasal dari:
Crude domestik
Crude impor
Intermedia antar kilang
Intermedia impor
Supply dapat diterima melalui:
Kapal
Jalur pipa

Crude atau umpan intermedia yang diterima


dimasukkan ke dalam tangki yang sudah disiapkan dan
sesuai dengan peruntukannya.
Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Blending crude
Crude dan intermedia sebagai umpan kilang tidak selalu
tersedia cukup hanya dari satu jenis crude. Ada
beberapa alasan, yaitu:
1. Disesuaikan dengan karakteristik operasional kilang
(desain).
2. Perubahan pola operasional kilang.
3. Berkurangnya ketersediaan crude awal karena
berbagai alasan.
4. Mencari harga umpan yang lebih murah agar
diperoleh keuntungan (margin) yang lebih besar.
5. Terpaksa berpindah crude karena mempertahankan
operasional kilang agar tetap berproduksi.
Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Blending crude
Oleh sebab itu, untuk memenuhi jumlah umpan dan
sesuai dengan karakteristik kilang, dan alasan-alasan
maka umpan perlu diblending/dicampur menjadi mix
crude atau coctail crude.
Contoh untuk kilang Refinery Unit II:
Karakteristik awal kilang RU II adalah mengolah 85 %
sweet crude (crude yang mempunyai kandungan sulfur
rendah), yaitu SLC (Sumatera Light Crude) dan 15 %
DCO (Duri Crude Oil).

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Blending crude
Tetapi saat ini komposisinya sudah berubah, dimana SLC
tidak lagi dominan.
SLC 30 50 %
DCO 15 20 %
BUCO 30 50 %
Aseng 3 8 %
Doba 8 10 %
Mudi 10 15 %
Tergantung jumlah crude yang tersedia

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Blending crude
Selain crude untuk umpan di primary process, ada juga
intermedia untuk umpan di secondary process, seperti:
HVU (Height Vacuum Unit) LSWR (Low Sulfur
Waxy Residue)
HCU (Hydrocracking Unit) HVGO (Heavy Gas Oil)
dari HVU.
DCU (Delayed Cooking Unit) Vacuum
Bottom/Short Residue dari HVU.
DHDT (Dehydrotreating Unit) LCGO dari DCU.
NRU (Naphtha Rerun Unit) SR. Naphtha dari CDU.
PL-I (Platforming Unit) H. Naphtha dari NRU
PL-CCR Naphtha Threating dari NHDT
Amin Unit Gas dari HCU
Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Materi Oil Movement


Penerimaan dan handling umpan

Penerimaan dan handling produk


Pelaksana proses blending

Penyaluran/lifting produk
Pengelolaan limbah
Pengelolaan dermaga

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Penerimaan dan handling produk


Produk (stream produk) yang dihasilkan dari kilang
disalurkan ke tangki yang sudah diperuntukkan untuk
masing-masing produk.
Tidak semua produk itu menjadi produk jadi dan tidak
semua produk jadi berasal dari satu produk saja.
Contoh produk Solar:
- Solar bisa langsung jadi begitu keluar dari pabrik
- Harus dicampur baru menjadi produk (LGO + HGO)
- Atau dari campuran Diesel HCU + HCGO + H. Kero
DHDT + Kerosene + LCGO
Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Penerimaan dan handling produk


Proses ini dinamakan inline blending untuk
mendapatkan nilai lebih dari masing-masing intermedia
tersebut yang kesemuanya dikerjakan oleh OM atas
dasar IPHM dari RPO.
Produk yang masuk ke tangki mesti dijaga ukurannya
setiap saat, jangan sampai penuh dan luber (melimpah).
Serta mesti dijaga kualitasnya sampai produk itu
disalurkan/dikapalkan bekerja sama dengan Bagian
Laboratorium selaku yang mempunyai otoritas
memeriksa mutu minyak.
Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Materi Oil Movement


Penerimaan dan handling umpan

Penerimaan dan handling produk


Pelaksana proses blending

Penyaluran/lifting produk
Pengelolaan limbah
Pengelolaan dermaga

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Pelaksana proses blending


Instruksi blending dan produk dari RPO dilaksanakan
oleh OM sesuai dengan perintah.
OM mesti menjamin jumlah yang diblending haruslah
sesuai untuk mendapatkan produk yang sesuai
spesifikasi.
Keselahan dalam pencampuran dapat berdampak pada
kerugian yang sangat besar. Karena untuk memperbaiki
kembali spesifikasi yang sudah terlanjur rusak (off
spect) membutuhkan waktu, biaya dan tenaga.
Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Materi Oil Movement


Penerimaan dan handling umpan

Penerimaan dan handling produk


Pelaksana proses blending

Penyaluran/lifting produk
Pengelolaan limbah
Pengelolaan dermaga

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Penyaluran/lifting produk
OM bertugas untuk menyalurkan produk sesuai dengan
order yang telah diberikan. Order dapat dalam bentuk:
Loading Order
Discharge Order
IPM
Ketiga ini dibuat secara system terkoneksi (system ROAS
= Refinery Oil Accounting System) yang dapat diakses
melalui jaringan internet sesuai distribusinya.
Berdasarkan order yang diberikan, OM langsung
bergerak aktif untuk menghubungi semua Bagian yang
terkait (Marine untuk menanyakan posisi kapal, Lab
untuk menanyakan kualitas produk, Finance untuk .
Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Penyaluran/lifting produk
Finance untuk membuat dokumen, dll).
Jika penyaluran via kapal, maka OM akan membuat izin
sandar dan menentukan dermaga/jetty mana yang akan
digunakan.
Dalama proses penyaluran, OM bertindak mewakili
Perusahaan untuk melakukan transaksi (custody
transfer) seperti berdiskusi dengan Pihak Kapal terkait
nominasi, kesiapan kapal, dsb.

Jika penyaluran melalui pipa (ker TBBM), maka OM


berhubungan dengan Pihak TBBM untuk koordinasi
penyaluran.
Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Flow Diagram Distribusi BBM dari Refinery Unit II


PERENCANAAN
PENGATURAN
PRODUKSI BBM RU II

PERENCANAAN
PENGATURAN
DISTRIBUSI BBM DIIKUTI
OLEH KANTOR PUSAT,
M&T/MOR, RUS, P&O,
ISC, SHIPPING

PIPA / MOBIL

KAPAL ALOKASI
MOR I

DEPOT DUMAI

DEPOT SIAK

PLN BELAWAN

INSTRUKSI
PENYALURAN
BELAWAN
BATAM

PROGRAM PELAYANAN
TRANSFER/PEMUATAN di
RU II DUMAI & SUNGAI
PAKNING

TANJUNG UBAN

TELUK KABUNG

TANJUNG GUREM

HARGA BBM YANG DIJUAL


DIPASARAN DITETAPKAN
OLEH PEMERINTAH
(KEMENTRIAN ESDM)
72

PULAU SANBU
KAPAL ALOKASI
S&D KANTOR
PUSAT

PENYALURAN BBM OLEH


PERTAMINA BERDASARKAN
KUOTA YANG DITETAPKAN
OLEH PEMERINTAH (PUSAT,
DAERAH/SETEMPAT)

Sumber: RU II

KIJANG

JAKARTA
NAD

Kontribusi Refinery Unit II


Kontribusi RU II terhadap Total Supply BBM Nasional cukup signifikan 18 %
RU II

RU III

RU IV

RU V

RU VI

Eksport - LSWR

NAD
BBM

30%
11%

SUMUT
BBM-Avtur-LPG

18%

SUMBAR
BBM-Avtur-LPG
RIAU
BBM Avtur - LPG

RU II
Dumai

KEP. RIAU
BBM

DKI-Avtur

73

Sumber: RU II

23%
18%

Process Flow Diagram Refinery Unit II


Hulu

Refinery Unit II

Marketing Operational Region

BANYU CRUDE
MUDI
CRUDE

MUDI
CRUDE

TBBM DUMAI

74

Sumber: RU II

Materi Oil Movement


Penerimaan dan handling umpan

Penerimaan dan handling produk


Pelaksana proses blending

Penyaluran/lifting produk
Pengelolaan limbah
Pengelolaan dermaga

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Pengelolaan limbah
Dalam proses pengolahan minyak bumi, terdapat
buangan dari kilang yang adakalanya dalam air terikut
minyak.
Buangan dari kilang dapat berasal dari air pendingin,
dan drain tanki. Semua buangan ini sebelum masuk ke
perairan diolah terlebih dahulu. Pengelolaan yang
dimaksud adalah memisahkan antar air dengan minyak.
Dimana minyaknya di pompakan ke tangki dan air yang
sudah bersih dibuang ke perairan

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Materi Oil Movement


Penerimaan dan handling umpan

Penerimaan dan handling produk


Pelaksana proses blending

Penyaluran/lifting produk
Pengelolaan limbah
Pengelolaan dermaga

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Pengelolaan dermaga
Penerimaan minyak mentah dan penyaluran produk
sebagian besar disalurkan melalui kapal, ini dikarenakan
jauhnya letak antara sumber dengan lokasi supply.
Agar penerimaan minyak mentah maupun
penerimaan/penyaluran produk berjalan dengan lancar,
maka dibutuhkan dermaga (jetty).
Di semua unit Pengolahan Pertamina, yang melakukan
pengelolaan dermaga adalah Bagian OM. Meliputi
semua fasilitas yang ada di atas dermaga. Mulai dari
penerimaan kapal hingga pelepasan kapal (selama kapal
sandar).
Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Pengelolaan dermaga
Untuk proses lepas sandar kapal dilakukan oleh Fungsi
Marine yang bekerja sama dengan Pihak
Kesyahbandaran.
Tetapi berbeda pelabuhan/dermaga yang di kelola oleh
MOR Direktorat MT. Dimana pelabuhan dihandle
sendiri oleh Fungsi Marine petugas di TBBM.

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Pola Penyaluran Produk

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Pertamina menangani distribusi BBM yang paling kompleks di dunia


Operational Area Marketing and Distribution in Indonesia

SABANG

: Refining Units

: Fuel Depot

: Fuel Distribution Line

: Back Loading Terminal

: Transit Terminal

: Ship to Ship

KRUENG RAYA
LHOK SEUMAWE

MEULABOH

P. NATUNA

UP. I - PKL. BRANDAN

TARAKAN

TAHUNA

LAB. DELI
SIBOLGA
BITUNG
UP. II - DUMAI

G. SITOLI

P. BATAM

TOBELO

TOLI - TOLI

SIAK
BONTANG

MOUTONG

SINTANG

P. SAMBU

SAMARINDA

PONTIANAK

TT. TLK.
KABUNG

JAMBI

DONGGALA

UP. III - PLAJU

PARIGI

CILIK RIWUT

MANOKWARI

LUWUK

NAMLEA

KENDARI

PARE - PARE

SERUI
BULA

BANGGAI

P. PISANG
BANJARMASIN

TT.
WAY AME

SANANA

KOLONDALE

PKL.BUN

BIAK

SORONG
POSO

PALOPO

BENGKULU

PABUHA

SUBUNG

BALIKPAPAN

SAMPIT

TERNATE

GORONTALO

NABIRE
MASOHI

JAYAPURA

FAK - FAK

KOLEKA
RAHA

KOTA BARU

PANJANG

BAU -BAU

TLK. SEMANGKA

UJ. PANDANG

UP.VI

PLUMPANG

SEMARANG

TG. GEREM/MERAK

UP. IV
CILACAP

KALBUT
MENENG

TT. TLK
MANGGIS

MERAUKE

MAUMERE

BADUNG

AMPENAN

IMPORT

KALABAHI

REO
BIMA

SAUMLAKI
ENDE
WAINGAPU

L. TUKA

DILI
ATAPUPU

KUPANG

IMPORT

DOBO

CAMPLONG
SURABAYA

TT.

TUAL

BALONGAN

4,509 unit SPBU


118 Depot (82 sea-fed depots, 18 in land and 18 major depot)
202 LPG Filing Stations
54 Aviations Depot
166 vessels (35 own, 117 chartered, 14 chartered LPG tanker)
1,272 km pipelines
81

POLA PENYALURAN PRODUK

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

MARKETING

& TRADING REGION I SUMBAGUT I COVERAGE AREA

Working Area

Sumatera Utara
Kantor Region : 1
Terminal BBM : 5

NAD
Kantor Sales : 1
Terminal BBM : 5

Kep. Riau
Kantor Sales : 1
Terminal BBM : 5

Sumatera Barat
Kartor Sales
:1
Terminal BBM : 1

Sumber: Marketing Operation Region I Sumbagut, Dumai Expo 2014

Riau
Kantor Sales : 1
Terminal BBM: 3

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

MARKETING

& TRADING REGION I SUMBAGUT I POLA SUPPLY BBM


SABANG
LHOKSEUMAWE

KRUENG RAYA
MEDAN GROUP
SIMELUE

MEULABOH

IMPOR
NATUNA

KISARAN
P. SIANTAR

RU II & DEPOT DUMAI


P. SAMBU

SIBOLGA

GN. SITOLI

TG. UBAN
SIAK
KABIL
TEMBILAHAN

KIJANG

TELUK KABUNG

LEGENDA

KILANG/REFINERY UNIT
INSTALASI/
T. BBM
REGULAR SUPPLY

CILACAP

Sumber: Marketing Operation Region I Sumbagut, Dumai Expo 2014

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

MARKETING

& TRADING REGION I SUMBAGUT I SUPPLY & DISTRIBUSI BBM


AVTUR
AVIGAS

DPPU

PREMIUM
SOLAR
PERTAMAX

AIRLINERS

KONSUMEN UMUM

SPBU
PREMIUM
SOLAR

KONSUMEN & NELAYAN

APMS/SPDN/
MOBIL
TANKI

PIPA
INSTALASI/DEPOT
KILANG PERTAMINA/
IMPORT

SOLAR
M.BAKAR

AGEN INDUSTRI
INDUSTRI/PLN
KEROSENE

AMT

PREMIUM
SOLAR
AVTUR

PANGKALAN
TNI/POLRI

PIPA

INDUSTRI/PLN
TANKER

SOLAR

BUNKER SERVICE

SPBB

Sumber: Marketing Operation Region I Sumbagut, Dumai Expo 2014

KAPAL LAUT

KAPAL MOTOR SPEED BOAT

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

86

KESIAPAN
SARFAS
BBMNPSO
NON PERTAMINA
SUBSIDI
PERATURAN PERUNDANGAN MIGAS
I KESIAPAN
SARFAS
PERTAMINA

Keterangan:
Outlet Pertamax
SPBU Tersedia Solar Non Subsidi

Sumber: Marketing Operation Region I Sumbagut, Dumai Expo 2014

FRM REG II
Dokumen H. Amrizal, S.S.T

MARKETING

& TRADING REGION I SUMBAGUT I POLA SUPPLY LPG

MGL

KUTA LHOKSEUMAWE
ZPP

HULAJ
U

Depot Pangkalan Susu


GAS

IGL

DEPOT
TANDEM

WDS/
WD
DMI
CTS
GAL

CTM

TN/SM
MSW
J
SMC
NIJA
SW L

PMI

SMM
S
TG

BBPT

RMJ

NASANGG
A

KILANG
DUMAI
CAHAYA RIAU

PKSG
SIGI

RSS

SIG

ABM
K

SPM

DEPOT
TJ. UBAN

SJA
SRM

GCS
G

MAS
RBK
M
MAS

ABBP

PRIZACO
PUTRA
SINDO

Sumber: Marketing Operation Region I Sumbagut, Dumai Expo 2014

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

MARKETING

& TRADING REGION I SUMBAGUT I POLA DISTRIBUSI LPG

Modern outlet

Retailer / Toko

SPPEK

Sub Agen

Kilang Pertamina
Agen

Kilang Swasta

LPG FP Pertamina

Rumah
Tangga

Komersil

Industry

Import
SPPBE

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

MARKETING

& TRADING REGION I SUMBAGUT I KONVERSI LPG


NAD Telah terdistribusi
: 902.555 paket - On
Progress
RIAU Telah
terdistribusi :
1.111.366
paket. Close
2011

Kepri Telah
terdistribusi :
298.221 paket .
Close 2011

SUMUT Telah
terdistribusi :
2.594.163
paket.Close 2012

SUMBAR
Estimasi :
971.420
Belum
Progress

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

MARKETING

Depot

& TRADING REGION I SUMBAGUT I MONITORING SAFETY LPG

SPPBE

Agen

Pangkalan

Rumah Tangga &


Usaha Mikro

Monitoring &
Pembinaan:

Monitoring &
Pembinaan:

Monitoring &
Pembinaan:

Tabung
Bocor

Tabung
Bocor

Tabung Bocor

Tabung
Rusak/Afkir

Tabung Ilegal

Tabung
Rusak/Afkir
Tabung Ilegal

Sosialisasi
Berkala &
Koordinasi
dengan Aparat
Terkait

Pengoplosan

Tabung
Ilegal
Pengoplosan

Monitoring

= Monitoring, Pembinaan, Sosialisasi

Dokumen H. Amrizal, S.S.T

Selesai

91

MENGAPA PERLU
KEEKONOMIAN ?
Perubahan hubungan bisnis Pertamina dengan
pemerintah
Ketersediaan Crude
Tuntutan peningkatan kualitas produk

PERUBAHAN HUBUNGAN BISNIS


Semula COST & FEE
Sekarang OPTIMUM MARGIN

Diperlukan OPTIMASI

GRTMPS
Tool yang membantu kalkulasi perencanaan
secara kompleks, menyangkut pemilihan
pengolahan crude dan perencanaan produksi
dengan mengakomodir utilisasi unit kilang.
Model yang dipakai :
Model individual Refinery Unit
Model Global

KETERSEDIAAN CRUDE
Kebutuhan dunia akan minyak mentah terus meningkat dengan
rata-rata peningkatan sebesar 2.07% per tahunnya (high case) atau
1.01% per tahun (low case).
Ketersediaan minyak mentah dunia sebagian besar berasal dari
kawasan Timur Tengah yang berjenis Sour Crude, yang didominasi
dari Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, dan Iraq
Produsen minyak mentah jenis Sweet yang besar adalah dari
kawasan West African, yang sebagian besar berasal dari Nigeria
dan Angola.
Untuk memenuhi kebutuhan operasi kilang, Pertamina setiap
tahunnya harus mengimpor minyak mentah dari kawasan Timur
Tengah dan kawasan lainnya.