Anda di halaman 1dari 5

a.

KEBERSIHAN
Setelah melakukan pengamatan pada lingkungan kerja di PT. Alakasa Extrusindo,
dapat dikatakan sanitasi di tempat tersebut kurang baik. Kebersihan di dalam perusahaan
seperti dinding, lantai, dan atap kurang baik. Daerah kerja tampak bersih dari sampah, tetapi
banyak sekali debu. Selain itu, debu juga dapat dilihat pada beberapa area kerja bahkan
beberapa alat atau mesin kerja. Keadaan tersebut memang tidak dijumpai pada tiap area kerja
seperti area kerja dimana dilakukan pembuatan cetakan baja untuk mencetak Billet, keadaan
tersebut terlihat jelas pada area kerja dimana dilakukan proses Ekstusion dan Aging Furnace,
Anodazing terutama Powder Coating. Tidak tampak tempat sampah di setiap ruangan. Selain
itu juga ditemukan kotoran binatang di salah satu area kerja yang belum dibersihkan. Di luar
ruangan kerja tidak terdapat wastafel untuk mencuci tangan, terdapat 3 toilet umum yang
lantai, dinding, kloset jongkoknya sudah berlumut dan terdapat banyak sampah. Pada toilet
tidak ditemukan adanya sabun maupun tisu. Pengamatan yang dilakukan di ruang Locker
juga didapatkan keadaan yang tidak jauh berbeda dengan area kerja. Ruangan dimana pekerja
beristirahat dan makan didapatkan keadaan yang tidak begitu bersih, di ruangan tersebut
didapatkan beberapa baju pekerja tergantung kurang rapih dan debu juga masih terlihat.
Pencahayaan di lingkungan kerja PT. Alakasa Extrusindo merupakan pencahayaan
campuran, dimana digunakan pencahayaan alami dan buatan pada satu area kerja, dari hasil
pengamatan terlihat pencahayaan di area kerja minimal, penerangan pada siang hari hanya
mengandalkan cahaya matahari dan lampu hanya dinyalakan pada sore hari jika sudah gelap.
Pada pengamatan yang dilakukan pada siang haripun terlihat beberapa area kerja seperti
ruang Powder Coating sudah terlihat gelap. Dari pengamatan ventilasi di lingkungan kerja
didapatkan hasil bahwa ventilasi dibeberapa area kerja didapatkan dari jendela-jendela besar
di atap dan dinding atas area kerja yang cukup membantu pertukarang udara di area kerja,
tetapi didapatkan juga beberapa area kerja yang memiliki ventilasi yang minimal, seperti
kipas angin, dan jendela-jendela kecil seperti di ruang powder coating sehingga tidak terjadi
pertukaran udara yang cukup baik, mengingat di ruang tersebut didapatkan faktor bahaya
fisik seperti debu sebagai hasil sampingan proses kerja. Bahkan pada beberapa ruangan tidak
terdapat jendela, sehingga pertukaran udara hanya melalui pintu yang terdapat di depan,
samping dan belakang lingkungan kerja.

Berdasarkan informasi dari narasumber, penyediaan kebutuhan air untuk proses


produksi, PT. Alakasa Extrusindo Industri menggunakan air PAM dan air dari sumur bor.
Sedangkan untuk minum air didapat dari air galon yang bersegel merk Aqua.
Untuk masalah sanitasi makanan bagi para pekerja di PT. Alakasa Extrusindo, hal ini
berkaitan dengan tempat makan atau kantin. Dalam kunjungan ini, menurut informasi yang
didapat bahwa perusahaan tidak menyediakan makanan secara langsung dari perusahaan.
Perusahaan juga tidak menyediakan kantin untuk para pekerja. Kegiatan makan dilakukan di
ruang Locker yang berada di dalam beberapa ruang kerja sehingga ruangan tersebut
berkontak dan berhubungan langsung dengan proses kerja yang telah dilakukan pada waktu
kerja. Para pekerja diberi jatah uang untuk makan di luar lingkungan kerja dan banyak
pekerja yang membawa bekal dari rumah untuk makan siang.

Gambar . Air minum pekerja di lingkungan kerja yang banyak debu.


b. PETUGAS HIGIENE INDUSTRI
Berdasarkan hasil pengamatan secara langsung, tidak terdapat peraturan yang
mengharuskan bagi seluruh tenaga kerja untuk melakukan cuci tangan sebelum dan setelah.
Tidak ditapatkan poster-poster mengenai kebersihan dan hygiene walaupun terdapat beberapa
poster dan penanda mengenai alat keselamatan diri. Pada beberapa area kerja juga memang tidak
terlihat wastafel ataupun tempat khusus bagi pekerja untuk mencuci tangan. Selain itu, tenaga

kebersihan (cleaning sevice) disini berasal dari luar atau menggunakan jasa cleaning service
khusus untuk membersihkan tempat kerja. Tetapi saat pengamatan tidak terlihat petugas sedang
membersihkan area kerja.
c. PENGOLAHAN LIMBAH
1) Pengolahan Limbah Cair
Limbah cair yang dihasilkan oleh PT. Alakasa Extrusindo dari beberapa proses
kerja dikumpulkan menjadi satu, dimana nantinya akan di proses agar dapat dibuang.
Secara singkat, pengolahan limbah cair dilakukan dengan cara semua limbah cair
setiap departemen dimasukkan ke bak penampungan. Selanjutnya, dikumpulkan
semuanya ke dalam suatu bak dan dilakukan penetralisasi dan koagulasi
menggunakan mixer dan zat koagulan, lalu dilakukan filter press sehingga
menghasilkan limbah yang jernih dan pH netral dilihat menggunakan indikator yang
telah tersedia. Perusahaan tidak menjelaskan secara spesifik mengenai proses
pengolahan limbah cair lebih lanjut, tetapi dikatakan bahwa produksi hasil limbah ini
dikumpulkan dalam beberapa waktu untuk kemudian dibuang. Produksi terbanyak
limbah cair ini didapatkan dari prosess Aging Furnace dimana proses yang telah
disebutkan diatas merupakan proses yang dilakukan pada cairan Chromating agent
( asam kuat) dan cairan pembilas dari proses kerja tersebut.
Berdasarkan hasil pengamatan secara langsung, tempat pengolahan limbah
cair PT. Alakasa Extrusindo berada di tempat terbuka dalam area perusahaan. Tempat
pengolahan limbah mengeluarkan bau yang menyebar di sekitar area tersebut. Air
hasil pengolahan limbah yang dilakukan dibuang ke selokan sekitar area PT. Alakasa
Extrusindo.

Penampung
an

Penetralan

Koagulasi

Proses
Penyaringa
n (Filter)

Jernih

Gambar . Alur pengolahan limbah cair


2) Pengolahan Limbah Padat
Limbah padat yang dihasilkan adalah alumunium yang rusak, tidak sesuai standard an
reject setelah dilakukan prosses kerja ekstusion, aging furnace, anodizing sampai powder
coating. Limbah tersebut melalui proses Remelt sebagai langkah daur ulang dan pembuatan
bahan baku Billet kembali, sehingga tidak didapatkan limbah padan dan bahkan didapatkan
kembali tambahan bahan baku dari proses kerja. Proses kerja tersebut dilakukan demi
mengefisiensikan penggunaakn sumberdaya alam (bahan baku) dan mengeliminasi produksi
limbah dari PT Alakasa Extrusindo.
Selain itu juga didapatkan limbah baja dari proses Ekstusion. Dari keterangan yang
didapatkan dari beberapa pekerja limbah tersebut biasa dikumpulkan dan diproses oleh pihak
ketiga sehingga tidak terdapat penumpukan limbah, dan proses pengolahan untuk limbah pada
yang satu ini juga tidak dilakuka langsunng oleh perusahaan.
3) Pengolahan Limbah Gas
Pada pegamatan langsung didapatkan data bahwa hampir semua limbah gas yang dihasil
kan dari proses kerja di PT. Alakasa Extrusindo adalah gas buangan hasil pembakaran. Menurut
keterangan seorang pekerja gas yang terbentuk kebanyakan adalah C0 2 dan beberapa hasil
pembakaran atau faktor kimia lain seperti gas CO dan fume, limbah tersebut juga mengandung
asap yang berwarna putih.
Limbah tersebut langsung disalurkan kecerobong asap dan dibuang ke udara. Cerobong
asap terdapat pada setiap alat pembakaran di area kerja. Menurut keterangan pekerja didalam

cerobong sudah terdapat filter untuk asap tersebut. Selain proses tersebut tidak ada proses
lainnya yang dilakukan baik langsung oleh perusahaan maupun oleh pihak ketiga seperti yang
dilakukan pada limbah cair dan pata yang dihasilkan dari proses kerja.