Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH

REGENERASI
Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Struktur Perkembangan Hewan
yang dibimbing oleh Dra. Amy Tenzer, M.Si..

Offering-H 2015
Kelompok 7
1. Athiyah Laila
2. Lirofiatillah
3. Shohib Manzili

150342603234
150342601222
150342607634

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU ALAM
JURUSAN BIOLOGI
DESEMBER 2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah
melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul Regenerasi Hewan. Makalah ini dibuat
dalam rangka memenuhi tugas mata Struktur Perkembangan Hewan 2. Meskipun

terdapat beberapa hambatan dalam proses pengerjaan makalah ini, tetapi kami
berhasil menyelesaikannya dengan tepat waktu.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu Amy Tenzer selaku dosen mata kuliah Struktur Perkembangan Hewan 2
2. Kedua orang tua kami yang telah memberikan dukungan moril dan spiritual,
3. Seluruh teman seperjuangan Biologi kelas H tahun 2015, yang banyak
membantu dan memberi masukan dalam pengerjakan makalah ini, dan
4. semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.
Sesuai dengan pepatah Tak ada gading yang tak retak penulisan makalah
ini pin jauh dari kata semperuna, penulis berharap adanya masukan yang
bersifat membangun sehingga makalah ini dapat lebih sempurna. Penulis
juga berharap agar makalah ini nantinya dapat berguna bagi semua
kalangan.

Malang, 2 Desember 2016

Penulis

Daftar isi
Cover......................................................................................................

Kata Pengantar......................................................................................

Daftar isi.................................................................................................

BAB I . PENDAHULUAN....................................................................

Latar Belakang..........................................................................

Rumusan Masalah.....................................................................

Tujuan........................................................................................

BAB II. PEMBAHASAN......................................................................

1. Macam Macam Regenerasi................................................. 6


2. Mekanisme Proses Regenerasi pada Hewan ...................... 8
3. Faktor yang mempengaruhi regenerasi............................... 24
Kesimpulan ........................................................................................... 26
Daftar Pustaka ...................................................................................... 27

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap hewan mempunyai kemampuan hidup yang bervariasi antara
makhluk yang satu dengan yang lainnya.Salah satu contoh adalah regenerasi dari
organ. Regenerasi merupakan proses yang begitu penting artinya bagi kehidupan
makhluk hidup. Tanpa regenerasi maka tubuh organisme tak akan ada yang
sempurna. Dalam tubuh makhluk hidup terdapat kemampuan untuk melakukan
regenerasi pada tingkat sel atau jaringan sedangkan pada hewan tertentu mampu
melakukan regenerasi pada tingkat organ. Proses regenerasi yang efektif adalah
pada masa embrio hingga masa bayi, setelah dewasa kemampuan regenerasi ini
terbatas pada sel atau jaringan tertentu saja. Namun tidak demikian dengan bangsa
avertebrata dan reptilia tertentu, kemampuan untuk memperbaiki dirinya sangat
menakjubkan hingga dia mencapai dewasa.
Daya regenerasi tak sama pada berbagai organisme. Ada yang tinggi dan ada
yang rendah sekali dayanya. Daya regenerasi yang tinggi terdapat pada
Coelenterata, Platyhelminthes, Annelida, Crustacea, dan Urodela. Aves dan
Mammalia paling rendah dayanya, biasanya terbatas kepada penyembuhan luka,
bagian tubuh yang terlepas tak dapat ditumbuhkan kembali. Dalam melakukan
regenerasi banyak faktor yang mempengaruhi, Regenerasi bila ditinjau lebih
lanjut, ternyata terdiri dari berbagai kegiatan, mulai dari pemulihan kerusakan
yang parah akibat hilangnya bagian tubuh utama. Misalnya penggantian anggota
bagian badan sampai pada penggantian kerusakan kecil yang terjadi dalam proses
biasa. Regenerasi dapat juga berbentuk sebagai poliferasi dan diferensiasi sel-sel
lapisan marginal. Regenerasi dapat terjadi pada beberapa hewan misalnya
planaria, ekor ikan, katak, salamander, cicak dll. Regenerasi ini perlu untuk
dipelajari agar kita dapat mengetahui mengenai proses yang terjadi selama
regenerasi pada hewan tertentu.
B. Rumusan Masalah
1. Apa saja macam-macam regenerasi?
2. Bagaimana mekanisme proses regenerasi?
3. Apa saja faktor yang memicu terjadinya regenerasi?
C. Tujuan
4

1. Mengetahui macam-macam regenerasi.


2. Mengetahui mekanisme proses regenerasi.
3. Mengetahui faktor yang memicu terjadinya regenerasi

BAB II
PEMBAHASAN
A. Macam-Macam Regenerasi
Menurut Balinsky (1981), suatu organisme khususnya hewan memiliki
kemampuan untuk memperbaiki struktur atau jaringan yang mengalami kerusakan
akibat kecelakaan yang tidak disengaja karena kondisi natural atau kerusakan
yang disengaja oleh manusia untuk keperluan penelitian atau experimen.
Hilangnya bagian tubuh yang terjadi ini setiap saat dapat muncul kembali, dan
dalam kasus proses memperbaiki diri ini sebut sebagai regenerasi. Setiap larva
dan hewan dewasa mempunyai kemampuan untuk menumbuhkan kembali bagian
tubuh mereka yang secara kebetulan hilang atau rusak terpisah. Kemampuan
setiap hewan dalam melakukan regenerasi berbeda-beda.
Hewan avertebrata mempunyai kemampuan regenerasi yang lebih tinggi
daripada hewan vertebrata (Majumdar, 1985). Hewan avertebrata seperti cacing
tanah, udang, ikan, salamander dan kadal tidak mempunyai daya regenerasi yang
dapat meregenerasi seluruh organisme, melainkan hanya sebagian dari organ atau
jaringan organisme tersebut (Kimball, 1992). Tahap dari perkembangan yang
menarik perhatian adalah pergantian dari tubuh yang hilang. Tersusun dari
regenerasi jumlah struktur baru organisme tersebut (Wilis, 1983).
Telah dikemukakan bahwa pada Mammalia (Vertebrata) daya regenerasi
sangat rendah dan terbatas pada tingkat jaringan yaitu tulang, tulang rawan, otot,
saraf, jaringan ikat dan juga beberapa kelenjar. Tulang merupakan jaringan yang
paling mudah mengadakan regenerasi terutama kalau terjadi patah tulang. Mulamula darah membeku di tempat patahan (fraktur), disusul dengan hancurnya
matrix tulang dan osteosit di tempat itu mati. Periosteum dan endosteum sekitar
patahan bereaksi dengan terjadinya proliferasi fibroblast. Hasilnya akan terjadi
penumpukan sel-sel di celah patahan. Tulang rawan hialin akan tumbuh di tempat
itu, kemudian terjadi osifikasi. Trabekula akan terbentuk di celah patahan, yang
menghubungkan kedua ujung patahan disebut kalus. Osifikasi berjalan terus
sampai celah terisi kembali dengan bahan tulang. Jika kerusakan tulang itu besar
maka sel fibroblast di tempat patahan akan membentuk (Fmipa UNY, 2009)

Menurut Gilbert (2010) Regenerasi yang sebenarnya terjadi di semua spesies dan
dapat terjadi dalam empat cara utama:
1. Stem sel dimediasi regenerasi.
Sel induk memungkinkan organisme untuk tumbuh kembali menjadi
organ-organ tertentu dan jaringan yang di memiliki sebelumnya telah
hilang; contoh termasuk pertumbuhan kembali poros rambut dari sel induk
folikel rambut dan terus-menerus terbentuknya penggantian sel-sel darah
dari hematopoietik yang ada di sel induk sumsum tulang.
2. Epimorphosis.
Pada beberapa spesies, struktur dewasa bisa menjalani diferensiasi untuk
membentuk struktur baru. epimorphosis tersebut adalah karakteristik dari
cacing pipih regenerasi planaria
3. Morphallaxis.
Regenerasi terjadi melalui pembentukan kembali dari jaringan yang ada,
dan ada sedikit pertumbuhan. Yang baru regenerasi seperti terlihat di
Hydra (cnidarian a).
4. Regenerasi konpensatori
Sel membelah namun mempertahankan fungsi. Sel-sel baru tidak datang
dari sel induk, juga tidak berasal dari deferensiasi dari sel-sel dewasa.
Setiap sel menghasilkan sel mirip dengan dirinya sendiri; tidak ada massa
sel yang mengalami deferensiasi dengan membentuk jaringan dengan
fungsi yang baru. Jenis regenerasi adalah karakteristik dari hati mamalia.

B. Mekanisme Proses Regenerasi pada Hewan


1. Regenerasi pada Planaria
Planaria merupakan cacing yang hidup bebas pada air tawar,
dan termasuk pada golongan filum platyhelmintes. Planaria ini merupakan
kelompok hewan yang memiliki simetri bilateral. Hewan ini memiliki tiga
lapisan sel yaitu ektoderm, mesodrem dan endodrem, namun tidak
7

mempunyai cleom atau segmen. Pada bagain kepala terdapat mata namun
planaria tidak mempunyai sistem sirkulasi atau sistem respirasi (Slack,
2006). Planaria menunjukan daya regenerasi yang kuat, bila cacing
tersebut mengalami luka baik secara alami maupun secara buatan, bagian
tubuh manapun yang mengalami kerusakan akan diganti dengan yang
baru. Individu cacing yang di potong-potong akan menghasilkan cacingcacing kecil yang utuh (Soeminto, 2000).
Planaria merupakan organisme

yang

dapat

melakukan

pergantian sel terus menerus dan dapat tumbuh atau menyusut setiap hari
tergantung pada pasokan pangan. Ada populasi sel yang disebut neoblasts
yang kecil dengan inti besar dan ditandai dengan ekspresi dari
ATPdependent RNA helikase mirip dengan protein Drosophila vasa.Vasa
homolognya umumnya terkait dengan pengembangan-sel germinal dan
karena itu dengan totipotency perkembangan. Planaria telah lama dikenal
sebagai organisme dengan

kapasitas regeneratif tinggi. Jika dipotong

setengah, setengah anterior akan menumbuhkan ekor baru wilayah dari


permukaan dipotong posterior, sementara setengah posterior akan
menumbuhkan kepala daerah baru dari yang permukaan anterior dipotong
(Slack, 2006)

Gambar 1. Regenerasi Planaria.


Sumber: Slack, 2006

Gambar 2. Regenerasi Planaria.


Sumber: Slack, 2006
Ada akumulasi sel-sel yang berdiferensiasi di bawah epitel
luka yang membentuk sebuah blastema. Blastema adalah istilah umum
untuk tunas regenerasi yang mengandung sel yang berkembang biak dan
terdeferensiasi. Sel-sel mengisi blastema planaria berasal dari Pembagian
sel di wilayah proksimal. Blastema membesar oleh Sel yang berkembang
dan berdeferensiasi selama beberapa hari untuk membentuk struktur
hilang. Bukti bahwa neoblasts menimbulkan regenerasi berasal dari dua
sumber. Pertama, BrdU pelabelan dari neoblasts sebelum amputasi
mengarah ke blastema yang mengandung banyak sel BrdU-label. Kedua,
kemampuan cacing untuk beregenerasi dihancurkan oleh X-iradiasi, yang
diikuti oleh menghilangnya neoblasts dengan cepat. Tidak ada produksi
lebih lanjut sel-sel baru dan cacing akan mati beberapa minggu kemudian.
Pada cacing tidak disinari, meskipun sebagian besar regenerasi terbentuk
dari neoblasts, ada juga bukti pengamatan yang cukup untuk beberapa
diferensiasi sel yang dekat dengan daerah yang dipotong, yang masuk
dalam blastema

tersebut. Tujuan dari sel dalam

membentuk suatu bagian baru

blastema untuk

dikenal dengan polaritas: yang akan

membentuk kepala atau ekor blastema (Slack, 2006)


Dalam beberapa spesies planaria sangat umum untuk potongan
segmen yang pendek, dari bagian tengah planaria akan membentuk
anterior blastemas pada kedua ujungnya dan beregenerasi menjadi sebuah
Janus berkepala bentuk bipolar. Dalam kasus tersebut posterior blastema
biasanya berasal dari anterior wilayah itu dan menyebabkan ia menjadi
blastema ekor (Slack, 2006)

Gambar 3. Regenerasi Planaria.


Sumber: Slack, 2006
Meskipun dalam beberapa peristiwa, didaerah yang berbeda
dari planaria bisa terbentuk planaria baru dengan cara autonomi, ini juga
menjadi bukti dari beberapa proses pensinyalan yang berkaitan dengan
regenerasi. Jika kepala kedua atau grafted (Pencangkokan) menutupi
kepala pertama dan kepala pertama akan hilang, regenerasi ini terjadi
karena ditekan oleh kehadiran organ kedua.

Gambar 4. Regenerasi Planaria.


Sumber: Slack, 2006
Jika kepala yang dicangkokkan ke daerah posterior postpharyngeal, maka
sepasang pharynxes baru bisa regenerasi dari persimpangan. Sifat dari
sinyal yang terlibat dalam interaksi ini saat ini tidak diketahui (Slack,
2006)

10

Gambar 5. Regenerasi Planaria.


Sumber: Slack, 2006
2. Regenerasi pada Salamander
Salamander hidup air atau darat sepanjang siklus hidupnya, fase larva
hidup di air dan pada saat dewasa hidup di terestrial dan berada di tempattempat yang lembab. Fertilisasi pada salamander merupakan fertilisasi secara
internal (Hickman et al, 2006)
Satu kaki salamander ini dipotong dekat pangkal lengan, kemudian
terjadilah proses berikut (Menurut Slack, 2006):
1. Darah mengalir menutupi permukaan luka, luka beku, membentuk scab
yang sifatnya melindungi.
2. Epitel kulit menyebar di permukaan luka, di bawah scab. Sel epitel itu
bergerak secara amoeboid. Butuh waktu dua hari agar kulit itu lengkap
menutupi luka. (Pada Invertebrata otot bawah kulit ikut berkerut untuk
mempercepat epitel menutup luka.)

Gambar 6. Proses Regenerasi pada


Salamander .
Sumber: Slack, 2006
3. Dedifferensiasi (sel terdiferensiasi sebagian atau penuh kembali ke tahap
perkembangan awal) sel-sel jaringan sekitar luka, sehingga menjadi
bersifat muda kembali dan pluripotent (sel-sel yang dapat berdiferensiasi
menjadi semua jenis sel dalam tubuh, namun tidak dapat membentuk suatu
organisme baru) .untuk membentuk berbagai jenis jaringan baru. Matriks
tulang dan tulang rawan melarut, sel-selnya lepas dan bersebar di bawah
epitel.

Serat

jaringan

ikat

juga

berdisintegrasi,

dan

sel-selnya

berdiferensiasi semuanya. Akhirnya, tak dapat lagi dibedakan mana sel


yang berasal dari tulang, tulang rawan, atau jaringan ikat. Disusul sel-sel

11

otot berdiferensiasi, serat myofibril hilang, inti membesar, sitoplasma


menyempit.
4. Pembentukan Blastema, yakni kuncup regenerasi pada permukaan bekas
luka. Scab mungkin sudah lepas pada waktu ini. Blastema berasal dari
penimbunan

sel-sel

dedifferensiasi.

Ada

juga

pendapat

yang

mengemukakan, bahwa blastema berasal juga dari sel-sel satelit


pengembara, yang selalu ada di berbagai jaringan, terutama di dinding
kapiler darah. Sel-sel pengembara ini nanti akan berproliferasi membentuk
blastema. Namun dengan memakai tracer radioaktif dapat kini diketahui,
bahwa sel-sel blastema berasal dari segala jenis jaringan yang
berdedifferensiasi sekitar amputasi.

Gambar 7 Proses Regenerasi


pada Salamander.
Sumber:
5. Proliferasi sel-sel dedifferensiasi Slack,
secara 2006
mitosis. Proliferasi ini serentak
dengan proses dediferensiasi, dan memuncak pada waktu blastema dalam
besarnya yang maskimal, dan waktu itu tak membelah lagi.
6. Redifferensiasi sel-sel dedifferensiasi, serentak dengan berhentinya
proliferasi sel-sel blastema itu. Akhirnya anggota badan yang diamptasi itu
akan tumbuh lagi sebesar semula, dengan struktur anatomis dan histologist
yang serupa dengan asalnya.

12

Gambar 8. Proses Regenerasi


pada Salamander
Sumber:
Slack, dari
2006satu jenis jaringan ke jaringan
Metaplasia berarti konversi
lain. epidermis hanya dapat menghasilkan epidermis dan bukan jaringan
internal. Sebaliknya, tulang rawan dapat mengisi tidak hanya tulang rawan,
tetapi juga semua jaringan ikat: dermis, tendon, ligamen. Selanjutnya,
dermis mudah dapat dikonversi ke tulang rawan. tiga garis keturunan
jaringan, epidermis, otot, dan jaringan ikat, meskipun metaplasia luas
dapat terjadi antara berbagai jenis jaringan ikat. Hal ini mirip dengan
situasi di tungkai berkembang di mana ada juga tiga garis keturunan: jenis
jaringan ikat yang berasal dari ekstremitas-tunas mesenkim, sel-sel otot
dari somit, dan jenis sel epidermis. (Slack, 2006)

Gambar 9. Metaplasia
Sumber: Slack, 2006
Perhatikan bahwa istilah "faktor neurotropik" normal, berarti
faktor

pertumbuhan

yang

diperlukan

untuk

pertumbuhan

atau

kelangsungan hidupneuron, sedangkan dalam konteks regenerasi itu berarti


sebuah kegiatan mitogenik (Merangsang pembelahan) yang berasal dari
neuron, yang diperlukan untuk pertumbuhanyang blastema. Faktor-faktor

13

neurotropik mungkin termasuk FGFs,yang melimpah di akson saraf dan


yang mitogenik untuk blastemas

terisolasi. Mereka mungkin juga

mencakup sebuah neuregulin sebelumnya disebut faktor pertumbuhan


glial. Neuregulins mirip dengan faktor pertumbuhan epidermal dan ligan
untuk reseptor tirosin kinase ErbB2. Hanya 22/18 subpopulasi blastemal
sel menanggapi neuregulin. (Slack, 2006)
Sebuah fakta yang luar biasa tentang efek neurotropik adalah
bahwa hal itu mungkin untuk membuat anggota badan yang tidak memiliki
hampir semua persarafan dan ini "Aneurogenic" anggota tubuh tidak
memerlukan faktor neurotropik untuk regenerasi. Salah satu cara untuk
membuat mereka adalah untuk menghapus neural tube

dari wilayah

batang saraf dan bergabung mengoperasikan embrio untuk lain di


parabiosis (sirkulasi darah bersama) untuk menjamin kelangsungan hidup
(Gambar. 19,7). Sebuah dahan kemudian akan tumbuh di daerah yang
dioperasikan di mana persarafan terbatas atau tidak ada. anggota badan ini
sebetulnya normal meskipun ada degenerasi otot pada tahap berikutnya.
Meskipun kurangnya saraf, mereka dapat regenerasi biasanya. Blastema
anggota badan aneurogenic tidak termasuk populasi 22/18 sel yang
merespon neuregulin. Sehingga Tampaknya bahwa dengan tidak adanya
sel-sel ini, sel-sel lainnya dapat membentuk menyelesaikan blastema
fungsional, tetapi jika 22/18 sel yang hadir kemudian tidak ada
protoplasma blastema dapat dibentuk tanpa faktor neurotropik. (Slack,
2006)

14

Gambar 10. Sumber : (Slack, 2006)


Ekstremitas regenerasi Aneurogenic. dahan tidak memiliki persarafan karena
penghapusan bagian dari tabung saraf dari embrio. Meskipun demikian,
meregenerasi normal

Gambar 11. Sumber: Slack, 2006


Regenerasi distal terjadi bahkan ketika permukaan dipotong adalah menghadap
proksimal, seperti yang ditunjukkan dalam percobaan klasik ini.
3. Regenerasi pada Katak
Kecebong dapat menumbuhkan kembali ekor, meningkatkan
kemungkinan jaringan spesies lain yang rusak bisa diset ulang setelah
cedera. Tidak seperti katak dewasa, kecebong memiliki kemampuan untuk
benar-benar tumbuh kembali secara lengkap jika terluka. Hewan yang
memiliki kemampuan untuk memperbaiki bagian tubuhnya yang rusak
disebut dengan daya

regenerasi. Regenerasi berlangsung selama

perkembangan pasca embrio melalui proses tumbuh dan diferensiasi pada


jaringan sekitar luka, sehingga permukaan luka tertutup epidermis serta
jaringan dibawahnya membentuk jaringan baru. Tanpa regenerasi maka
tubuh organisme tidak akan ada yang sempurna (Lukman, 2009).

15

Gambar:12. Regenerasi pada ekor kecebong


Sumber : http://abadiadelima.blogspot.co.id

Pertumbuhan mulai terjadi pada hari keenam setelah pemotongan.


Menurut Kimbal (1993), regenerasi melalui beberapa tahapan, yaitu :
1. Luka akan tertutup oleh darah yang mengalir, lalu membeku membentuk
scab yang bersifat sebagai pelindung.
2. Sel epitel bergerak secara amoeboid menyebar di bawah permukaan luka,
di bawah scab. Proses ini membutuhkan waktu selama dua hari, dimana
pada saat itu luka telah tertutup oleh kulit.
3. Diferensiasi sel-sel jaringan sekitar luka, sehingga menjadi bersifat muda
kembali dan pluripotent untuk membentuk berbagai jenis jaringan baru.
Matriks tulang dan tulang rawan akan melarut, sel-selnya lepas tersebar di
bawah epitel. Serat jaringan ikat juga berdisintegrasi dan semua sel-selnya
mengalami diferensiasi. Sehingga dapat dibedakan antara sel tulang,
tulang rawan, dan jaringan ikat. Setelah itu sel-sel otot akan
berdiferensiasi, serat miofibril hilang, inti membesar dan sitoplasma
menyempit.
4. Pembentukan kuncup regenerasi (blastema) pada permukaan bekas luka.
Pada saat ini scab mungkin sudah terlepas. Blastema berasal dari
penimbunan sel-sel diferensiasi, terutama di dinding kapiler darah. Pada
saatnya nanti, sel-sel ini akan berproliferasi membentuk blastema.
5. Proliferasi sel-sel berdiferensiasi secara mitosis, yang terjadi secara
serentak dengan proses dediferensiasi dan memuncak pada waktu blastema
mempunyai besar yang maksimal.
6. Rediferensiasi sel-sel dediferensiasi,

serentak

dengan

berhentinya

proliferasi sel-sel blastema tersebut. Sel-sel yang berasal dari parenkim


dapat menumbuhkan alat derivat mesodermal, jaringan saraf dan saluran
pencernaan. Sehingga bagian yang dipotong akan tumbuh lagi dengan
struktur anatomis dan histologis yang serupa dengan asalnya.

16

Berdasarkan Kimball (1993), dibutuhkan waktu dua hari untuk menutup


luka, setelah itu dilanjutkan dengan redeferensiasi sel-sel jaringan di
sekitar luka.
Menurut Singer dalam Browder (1984), bahwa proses-proses yang
terlibat dalam regenerasi anggota tubuh Cristurus cristatus, setelah
diamputasi meliputi hal-hal sebagai berikut :
a. Periode penyembuhan luka
Tahap penyembuhan luka ini diawali dari tepi luka dengan penyebaran
epidermis dari tepi luka yang akan menutupi permukaan yang terluka.
Penyebarannya dengan cara gerakan amoeboid sel-sel yang tidak
melibatkan pembelahan mitosis sel. Akan tetapi sekali penutupan
selesaikan sel-sel epidermis berproliferasi untuk menghasilkansel yang
berlapis-lapis dan membentuk sebuah tudung berbentuk kerucut pada
ujung anggota badan. Struktur tersebut dikenal dengan Apical epidermis
cap. Waktu penyembuhan luka relatif cepat, namun tergantung juga pada
ukuran hewan yng beregenerasi dan ukuran luka serta faktor-faktor
eksternal seperti suhu. Pada salamander proses penutupan luka setelah
anggota badan diamputasi berlangsung kira-kira satu atau dua hari.
b. Periode penghancuran jaringan (histolisis)
Setelah proses penutupan luka, proses lain yang sangat penting dalam
regenerasi

adalah

terjadinya

dediferensiasi

jaringan-jaringan

yang

berdekatan dengan permukaa luka, dediferensiasi didahului dengan


histolisis jaringan-jaringan didalam puntung secara besarbesaran. Jaringan
yang telah terdiferensiasi seperti otot, tulang rawa, tulang ikat, matriks,
interselulernya hancur dan melepaskan individu sel-sel mesenkhim yang
merupakan sel-sel awal dari jaringan yng telah berdiferensiasi tersebut.
c. Periode pembentukan blastema
Sel-sel mesenkhim yang dilepaskan selama diferensiasi tertimbun di
bawah epidermis, sel-selberproliferasi cepat dan menyebabkan epidermis
menjadi semakin menonjol. Masa sel-sel mesenkhim ini dinamakan
blastema regenerasi.
d. Diferensiasi dan morfogenesis

17

Jaringan pertama yang berdiferensiasi dari blastema adalah tulang rawan.


Mula-mula muncul pada ujung tulang sejati dan terjadipenambahan secara
progresif

pada

distal

bagianujungnya,

ketika

konstruksi

tulang

menjadisempurna rangka yang telah beregenerasiberubah menjadi tulang.


Berikutnya ototterbentuk disekitar tulang rawan. Sedangkan pembuluh
darah tidak jelas pada tahap konstruksi awal, serabut saraf yang terpotong
pada saat amputasi segera aksonnya tumbuh ke daerah luka dan
merekontruksi

pola-pola

persarafan.

Dibagian

luar

terjadi

perubahanperubahan bentuk puntung anggota yang semula menyerupai


kerucut, selanjutnya mulai memipih dorsoventral pada bagian ujungnya,
bagian pipih menunjukkan tanda-tanda jari awal yakni korpus atau tarsus
rudimen yang dinamakan plat kaki atau tangan. Selanjutnya pola-pola
pembentukan jari-jari yang progresif dimana segera jari-jari sederhana
muncul, terpisah satu sama lainnya. Akhirnya anggota tubuh sempurna
terbentuk dan berfungsi normal.
4. Regenerasi pada Cicak
Cicak adalah sebagai salah satu contoh dari makhluk hidup yang
mempunyai kemampuan dalam regenerasi organ. Cicak akan memutuskan
ekornya bila merasa dirinya dalam keadaan bahaya atau menghadapi
musuh. Ekor yang diputuskan tersebut akan tergantikan kembali melalui
proses regenerasi organ yang memerlukan waktu tertentu dalam proses
pembentukannya. Regenerasi adalah proses memperbaiki bagian yang
rusak kembali seperti semula. Cicak memiliki daya regenerasi yang
terdapat pada ekornya.
Daya regenerasi pada berbagai organisme tidak sama karena ada
yang daya regenerasi rendah dan tinggi. Vertebrata paling rendah daya
regenerasinya jika dibandingkan dengan avertebrata. Subfilum dari
vertebrata yang paling tinggi daya regenerasinya adalah urodela. Reptilia
daya regenerasinya hanya terbatas pada ekornya Setiap hewan mempunyai
kemampuan hidup yang bervariasi antara makhluk yang satu dengan yang
lainnya. Salah satu contoh adalah regenerasi dari organ. Regenerasi organ
dapat diartikan sebagai kemampuan tubuh suatu organisme untuk
18

menggantikan bagian tubuh yang rusak baik yang disengaja ataupun yang
tidak disengaja (karena kecelakaan) dengan bagian tubuh yang baru
dengan bentuk yang sama persis dengan sebelumnya. Ekor cicak memiliki
bentuk yang panjang dan lunak yang memungkinkan untuk bisa
memendek dan menumpul. Ekor akan mengalami regenerasi bila ekor
tersebut putus dalam usaha perlindungan diri dari predator.
Regenerasi tersebut diikuti oleh suatu proses, yaitu autotomi.
Autotomi adalah proses adaptasi yang khusus membantu hewan
melepaskan diri dari serangan musuh. Jadi, autotomi merupakan
perwujudan dari mutilasi diri. Jika cicak akan dimangsa oleh predator,
maka cicak akan segera memutuskan ekornya untuk menyelamatkan diri.
Ekor yang putus tersebut dapat tumbuh lagi tetapi tidak sama seperti
semula (Balinsky, 1976). Pembelahan yang cepat, dari sel-sel yang belum
khusus menjadi sel yang lebih kompleks. Proses ini melibatkan
morfogenesis dan diferensiasi. Cicak akan melepaskan ekornya bila
ditangkap pada bagian ekornya. Cicak kemudian meregenerasi ekor baru
pada tepi lainnya pada waktu senggang. Dalam stadium-stadium
permulaan dari regenerasi tidak ada sel-sel dewasa sehingga tidak ada
penghambatan pembelahan sel. Sel-sel pada permukaan depan mempunyai
laju metabolik yang tinggi daripada permukaan di tepi belakang.
Menurut Balinsky (1976), regenerasi cicak terjadi pada ekor
Mekanisme anatomi diselesaikan dengan melukai bagian distal ekor atau
memberikan tekanan yang menyebabkan hewan tidak nyaman sehingga
ekor terputus di bagian distal. Regenerasi kemudian akan dilakukan cicak
untuk membentuk ekor yang baru meskipun terdapat perbedaan antara
ekor yang baru dibentuk dengan ekor yang semula. Pembentukan struktur
kolumna vertebrae pada ekor hasil regenerasi disederhanakan sehingga
berbeda dari ekor yang normal.
Tahap pertama dari perbaikan kerusakan ekor cicak adalah sel
epidermis dari bagian luka menyebar diseluruh luka dan sesegera mungkin
menutupi permukaan luka. Selama beberapa hari penutupan luka dari sel
epidermis ini menjadi tudung epidermis apikal. Sel-sel yang banyak

19

terkumpul di bawah epidermis.

Semua jaringan di bawah tudung

mengadakan dediferensiasi dan regenerasi membentuk sel kerucut yang


disebut blastema regenerasi atau tunas regenerasi. Blastema tersebut
tumbuh dengan cepat, di mana pada saat pertama berbentuk kerucut, tetapi
kemudian pada akhirnya menjadi flattened dorsoventral.

Kemudian

setelah periode proliferasi, sel blastema mengadakan dediferensiasi dan


memperbaiki ekornya. Bagian yang terpotong inilah yang disuplai darah
dan dapat beregenerasi (Kalthoff, 1996).
Proses regenerasi pada reptil berbeda dengan pada hewan golongan
amfibi. Regenerasi tidak berasal dari proliferasi atau perbanyakan sel-sel
blastema. Regenerasi pada reptil diketahui bahwa ekor yang terbentuk setelah
autotomi menghasikan hasil dengan catatan khusus karena baik secara struktur
maupun cara regenerasinya berbeda (Balinsky, 1976).

Gambar: 13. Hasil Regenerasi Ekor Cicak


Sumber : www.skitcafe.co.id
Secara eksperimental pada ekor cicak yang telah dipotong, ternyata
hasil regenerasinya tidak sama dengan semula. Pertambahan panjang tidak
sama dengan ekor yang dipotong. Ekor baru tidak mengandung notochord
dan vertebrae yang baru hanya terdiri dari ruas-ruas tulang rawan. Ruasruas ini hanya meliputi batang syaraf (medula spinalis), jumlah ruas itu
pun tidak lengkap seperti semula. Proses perbaikan pertama pada
regenerasi ekor cicak adalah penyembuhan luka dengan cara penumbuhan
kulit di atas luka tersebut. Kemudian terlihat tunas-tunas sel yang belum
berdiferensiasi. Tunas ini menyerupai tunas anggota tubuh yang sedang
berkembang. Semakin lama, sel-sel dari anggota tubuh yang sedang

20

beregenerasi diatur dan berdiferensiasi menjadi otot, tulang dan jaringan


lainnya yang menjadikan ekor fungsional.
Proses regenerasi secara mendasar ini tidak ada perusakan jaringan
otot, akibatnya tidak ada pelepasan sel-sel otot. Sumber utama sel-sel
untuk beregenerasi adalah berasal dari ependima dan dari berbagai macam
jaringan ikat yang menyusun septum otot, dermis, jaringan lemak,
periosteum dan mungkin juga osteosit vertebrae. Sumber sel untuk
regenerasi pada reptile berasal dari beberapa sumber yaitu ependima dan
berbagai jaringan ikat (Manylov, 1994).
5. Regenerasi pada Sirip Ekor Ikan
Regenerasi pada sirip ikan digolongkan sebagai regenerasi
epimorfik. Tipe regenerasi ini ditandai dengan pembentukan epidermis
penutup luka, pembentukan blastema pluripoten, diferensiasi blastema,
sintesis dan deposisi matriks ekstra seluler dan pertumbuhan serta restorasi
morfologi (Lukman, 2009).
Sirip ikan zebra terdiri atas lima bagan yaitu sirip anal, punggung,
dada, perut, dan ekor (Poss et al., 2003). Sirip-sirip tersebut memiliki
bentuk yang relative sederhana dengan struktur hampir simetris, tersusun
atas beberapa jari-jari sirip yang beruas dan bercabang. Di antara jari-jari
terdapat jaringan ikat yang berisi fibroblast, scleroblast (osteoblast),
jaringan syaraf, dan pembuluh darah (Lee et al., 2005).

21

Gambar: Regenerasi sirip ekor pada ikan zebra (Poss et al., 2003)
Keterangan: A. Pemotongan sirip ekor ikan zebra.
B. keadaan sirip ekor pasca pemotongan.
C. Regenerasi sirip ekor; dpa:day post amputation= beberapa
hari pasca pemotongan.
D. Struktur ekor ikan zebra saat proses regenerasi.
Regenerasi sirip dapat dibagi dalam tiga tahap (Poss et al., 2003)
yaiuu: 1. Penyembuhan luka; 2. Pembentukan blastema dan; 3.
Perkembangan regenerative. Sirip ekor ikan zebra akan mengalami sedikit
pendarahan atau peradangan setelah pemotongan. Dalam 1 sampai 3 jam
setelah dipotong, lapisan tipis epidermis bermigrasi untuk menutupi luka.
Respon ini tidak melibatkan proliferasi sel (Poleo et al., 2001; Nechiporuk
& Keating, 2002). Lapisan epidermis bertambah selama 12-18 jam sedikit
demi sedikit. Proses ini didominasi oleh peristiwa migrasi, bukan oleh
proliferasi sel. B catenin diduga berfungsi untuk memelihara interaksi selsel ini memudahkan migrasi (Poss et al., 2003). Peristiwa pembentukan
blastema dan disorganisasi jaringan mesnkim terjadi pada 8-24 jam. Luka
epidermis menebal setelah 12 jam, jaringan mesenkim diantara jari-jari
semu mengalami disorganisasi dan sel bermigrasi kearah distal. Blastema
merupakan massa sel mesenkim yang proliferative, dibentuk pada bagian
distal dari bidang pemotongan. Sementara itu di bagian bawah epidermis
terdapat selapis sel epitel kubus yang diduga memiliki peranan penting
dalam pengaturan pembentukan tunas apical epidermis yang tersusun atas
lapisan epidermis dan mesenkim blastema (Poss et al., 2003).
Perubahan dari pembentukan blastema ke perkembangan generative
ditandai dengan beberapa perubahan penting pada aspek morfologi dan
molecular. Masa peralihan ini terjadi kira-kira 4 hari setelah pemotongan
22

pada suhu 250C dan 2 hari setelah pemotongan pada suhu 330 C.
mesenkim pada regenerat terdiri dari sel-sel, skleroblast dan fibroblast
(Johnson & Wetson, 1995). Siklus sel blastema merupakan kejadian
kinetic yang berubah selama peralihan dari pembentukan blastema ke
perkembangan regenerative (Nechiporuk & Keating,. 2002; Poss et al.,
2002). Pemanjangan G2 terjadi selama lebih dari 6 jam pada saat
pembentukan blastema, sedangkan untuk perkembangan regenerative
hanya dibutuhkan waktu 1 jam. Perbedaan waktu ini menunjukkan bahwa
siklus sel blastma selama perkembangan regenerative lebih pendek
daripada selama pembentukan blastema (Poss et al., 2003).
Pada awal perkembangan regenerative, blastema sirip dibai menjadi
dua wilayah yaitu blastema distal (DB) dan blastema proksimal (PB).
Masing-masing zona bastema ini memiliki karakteristik selular dan
molecular yang berbeda. Berdasarkan karakteristik selular, DB terdiri dari
sel-sel yang membelah secara aktif. Mendekati proksimalke PB terdapat
daerah yang disebut zona diferensiasi yang terdiri dari sel-sel mesenim
yang bediferensiasi dan skleroblast (Nechiporuk & Keating., 2002).

C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Regenerasi


Secara harfiah, regenerasi dapat diartikan sebagai
pergantian bagian yang hilang atau rusak dari suatu
individu. Dengan demikian diharapkan bahwa kehilangan
atau rusaknya sebagian tubuh akan memberikan stimulus
kepada tubuh untuk menata kembali sistem tubuhnya yang
hilang atau rusak tersebut sehingga hewan tersebut
menjadi satu individu yang lengkap kembali. Dengan
demikian, kehadiran luka dapat menstimulus terjadinya
regenerasi (surjono, 2001).
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Regenrasi

23

Menurut Sudarwati (1990 : 59 ) regenerasi dipengaruhi oleh beberapa


faktor antara lain :
1. Suhu:

Tingkat

regenerasi

dikendalikan

sampai

batas

tertentu oleh suhu. Jika suhu sangat rendah, proses


regenerasi tidak baik terjadi atau menjadi lebih lambat.
Peningkatan

suhu

pada

batas

tertentu

mempercepat

regenerasi. Namun suhu terlalu tinggi dapat mematikan


bagi

seluruh

proses

regenerasi.

Pada

larva

Planaria

misalnya, regenerasi tidak mungkin di 3 oC. Regenerasi


yang paling cepat di 29.7oC. Sebuah suhu 32oC ke atas
terbukti mematikan bagi proses regenerasi pada hewan ini
secara keseluruhan.
2. Pasokan oksigen: jumlah pasokan oksigen mempengaruhi
tingkat regenerasi. Dalam koloni hydroid, panjang blastema
regenerasi meningkat dengan bertambahnya konsentrasi
oksigen.
3. Sistem saraf: saraf sistem memiliki peran yang penting
dalam mengontrol proses regenerasi. Pada amfibi, tahap
awal regenerasi tidak dapat melanjutkan normal tanpa
adanya pasokan saraf yang memadai ke daerah luka.
Pengaruh

sistem

saraf

pada

regenerasi

juga

telah

ditunjukkan dalam Annelida. Pada cacing tanah, misalnya


jika kabel saraf dipotong agak jauh dari tingkat di mana
amputasi dilakukan, regenerasi tidak akan ada terjadi pada
permukaan yang potong. Hal ini telah membuktikan bahwa
pemotongan ujung saraf melepaskan beberapa regenerasi
mempromosikan zat kimia yang disebut agen trofik. Agenagen trofik akan merangsang proses regenerasi.
4. Makanan: tingkat regenerasi akan cepat jika memperhatikan aspek
makanan. Makanan yang cukup dapat membantu mempercepat proses
regenerasi.
5. Umur: kekuatan regenerasi biasanya berkurang dengan
bertambahnya usia.

24

Faktor-Faktor Penghambat Regenerasi


Menurut
Adnan
(2007)
Faktor-faktor

penghambat

regenerasi sel, yaitu :


1. Pemasukan nutrisi essensial (AAE) rendah, karena
pemanasan suhu yang
tinggi sekitar 90o
2. Pemasukan toxin tinggi yang merusak sel, sumber-sumber
toxin antara
lain:
a.

External
- Zat aditif (perasa, pewarna, pengawet,

pengembang, pengenyal)
- Polusi udara, air , pestisida, kaporit
- Obat-obatan
b.
Internal, kerak dan pembusukan yang tinggi
3. Stress (ketegangan mental), menimbulkan kerusakan sel
dan
menghambat regenerasi

KESIMPULAN
1. Macam regenerasi itu ada 4 yaitu: Regenerasi konpensatori,
Morphallaxis, Epimorphosis, Stem sel dimediasi regenerasi.
2. Mekanisme Regenerasi pada setiap spesies itu berbeda,
tergantung dari faktor internal dari spesies itu sendiri
3. Faktor yang mempengaruhi regenerasi itu antara lain:
Suhu, Pasokan oksigen, Sistem saraf, Makanan, Umur:

25

DAFTAR PUSTAKA
Adnan, 2007. Perkembangan Hewan. Makasssar:Jurusan Biologi
FMIPA UNM
Balinsky, B.I. 1976. An Introduction Embryology 4 th ed, W.B. saunders Co.
Philadelphia, London.
Browder, L.W. 1984. Developmental biology, 2th ed. London: W.B. Saunders.
Delima,
A.
2014.
Laporan
Praktikum
Regenerasi
Kecebong,
(online),
(http://abadiadelima.blogspot.co.id/2014/04/regenerasi-kecebong.html)
diakses 30 November 2016.
Johnson, L.S., & Wetson A.J. 1995. Temperature-Sensitive Mutations That Cause
Stage-Specific Defects in Zebrafish Fin Regeneration. Genetic 141: 15831595.
Gilbert, S.F., 2010. Developmental Biology 9ed. Sinauer Associates, Inc.
Massachusetts.
Hickman, C.P., Robert, L.S., Keen, S.L., Larson, A., IAnson, H., Eisenhour, D.J.
2006. Integrated Principle of Zoology Fourteenth Edition. New York:
McGraw-Hill Higher Education
Jurusan Pendidikan Biologi. 2009. Materi E-learning Reproduksi dan Embriologi
Hewan. Yogyakarta: FMIPA UNY
Kalthoff, Klaus. 1996. Analysis of Biological Development. New York: Mc
Graww-Hill.
Kimball, John W. 1992. Biology. Addison-Wesley Publishing Company, Inc., New
York.
Lee, Y., Grill, S., Sanchez, A., Ryan, M.M.,& Poss, K.D. 2005. Fgf signaling
instructs position-dependent growth rate during zebrafish regeneration.
Development 132 5173-5183.

26

Lukman, A. 2009. Mekanisme Regenerasi Anggota Tubuh Hewan. Biospecies,


Vol. 2 No. 2, Juni 2009, hlm 43 47.
Manylov, O.G.1994. Regeneration in Gastrotricha I Light Microscopical Observation

on The

Regeneration in Turbanella sp. Russia: St.Petersburg State University.


Majumdar, N. N. 1985. Text Book of Vertebrae Embriology. Mc Graw-Hill
Publishing Company Limited, New Delhi.
Nechiporuk, A., & Keating, M.T. 2002. A proliferation gradient between proximal
and msxb-expressing distal blastema directs zebrafish fin regeneration.
Development 129: 2607-2617
Poleo, G., Brown, C.W., Laforest, L., & Akimenko, M.A. 2001. Cell proliferation
and Movement During early Fin Regeneration In Zebrafish. Developmental
Dynamics 221: 380-390
Poss, K.D., Nechiporuk & Keating, M.T. 2003. Tales of Regeneration in
Zebrafish. Developmental Dynamics 226: 202-210.
Poss, K.D., Nechiporuk, A.M., Johnson, S.L., Keating, M.T. 2002. Mps1 defines a
proximal blastemal proliferative compartment essential for zebrafish fin
regeneration. Development Biology 222: 347-358
Slack, J. M. W. 2006. Essential Developmental Biology Second Edition. United
Kingdom: Blackwell
Sudarwati, 1990. Struktur Hewan. Bandung : Jurusan Biologi
FMIPA ITB
Surjono, T. W. 2001. Perkembangan Hewan. Jakarta. Pusat
Penerbitan
Universitas Terbuka
Willis, S. 1983. Biology. Holt Rinehart & Winston Inc, USA.

27