Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNIK PELEDAKAN (PTP-153)


ZERO OXYGEN BALANCE

Disusun Oleh :

ANDY YANOTTAMA
F1D114008

PRODI TEKNIK PERTAMBANGAN


JURUSAN TEKNIK KEBUMIAN
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS JAMBI
2016

LEMBAR PENGESAHAN
Laporan praktikum Teknik Peledakan dengan Judul ZERO OXYGEN
BALANCE yang disusun oleh ANDY YANOTTAMA, NIM : F1D114008 telah
disahkan oleh Dosen Pembimbing dan Asisten Praktikum pada Tanggal 11
Oktober 2016.

Disetujui:

Asisten Praktikum I,

Asisten Praktikum II,

Nadya Farah Kamilia

Miftahul Janna

NIM. F1D113018

NIM. F1D114016

Diketahui:
Dosen Pembimbing,

Widowati, S.T., M.T.


NIDK. 2014010720120012018305

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam suatu reaksi peledakan, ada beberapa hal yang
perlu diperhatikan agar bahan peledak yang digunakan efektif
dan dampak lingkungan yang ditimbulkan minimum. Salah
satunya adalah keseimbangan oksigen dalam reaksi.
Keseimbangan oksigen dalam reaksi peledakan perlu
diperhitungkan agar gas beracun yang ditimbulkan oleh reaksi
peledakan tersebut sangat kecil dan agar bahan peledak yang
digunakan

itu

efisien.

Maksudnya,

energi

yang

dihasilkan

maksimum dan dampak lingkungan atau gas beracun minimum.


Dalam pembuatan bahan peledak perlu diperhatikan komposisi
dari unsur-unsur yang digunakan. Bahan peledak umumnya
terdiri dari unsur-unsur fuel dan dan unsur-unsur oxidizer.
Unsur fuel kaya akan karbon (C) dan hidrogen (H). Dalam
pembuatan bahan peledak, harus diperhitungkan dengan teliti
komposisi dari bahan peledak dan prosentase dari setiap bahan
peledak. Sehingga gas yang dihasilkan tidak menimbulkan gas
beracun yang sangat berbahaya bagi lingkungan. Dengan
demikian perlu diperhatikan kesetimbangan reaksi yang terjadi
dari bahan peledak yang digunakan dengan metoda Zero
Oxygen Balance.
1.2. Tujuan
1. Mengetahui reaksi dan produksi hasil peledakan.
2. Mengenal komposisi bahan peledak kimia, terutama
ANFO.
3. Mengenal

gas-gas

peledakan.
4. Membuat campuran

yang

dapat

Amonia

ditimbulkan

Nitrat

dan

pada

Fuel

Oil

sehingga membentuk ANFO yang tepat pada zero


oxygen balance.

BAB II
DASAR TEORI
2.1

Zero Oxygen Balance


Bahan peledak komersil merupakan suatu rakitan yang

terdiri dari bahan-bahan berbentuk


campuran dari

keduanya, yang

padat atau cair

atau

apabila terkena suatu aksi

misalnya panas, berbenturan, gesekan dan sebagainya, dapat


bereaksi dengan kecepatan tinggi, membentuk gas dan
menimbulkan efek panasserta tekanan yang sangat tinggi.
Secara umum bahan peledak merupakan campuran dari
senyawa-senyawa yang mengandung 4 unsur dasar/utama
yaitu : C, H, N, dan O. Untuk
kekuatan tertentu

menghasilkan

pengaruh

kadang-kadang ditambahkan unsur-unsur

yaitu : Al, Ca, Na, Mg, dan sebagainya.


Zero oxygen balance adalah kesetimbangan jumlah
oksigen yang tepat dalam suatu campuran bahan peledak
sehingga

seluruh

reaksi

menghasilkan

hidrogen

menjadi

hidrogen dioksida (H2O), carbon menjadi CO2 dan nitrogen


menjadi N2 bebas, sehingga dalam hasil reaksinya hanya
ketiga unsur tersebut yang terbentuk.
Untuk menghasilkan energi (heat of explosion) yang
masimum, bahan peledak saat meledak harus bereaksi secara
sempurna.

Untuk

itu

bahan

peledak

komersial

dibuat

berdasarkan prinsip zero oxygen balance, atinya dalam bahan


peledak terdapat oksigen dalam jumlah yang tepat sehingga
selama reaksi seluruh H akan membentuk H2O, C membentuk
CO2 dan N membentuk gas N2 bebas.

Ketiga jenis gas tersebut (H2O, CO2, N2) disebut


smoke,

tidak

beracun.

Sebaliknya

jika

reaksinya

tidak

sempurna akan terbentuk gas beracun (fumes) seperti CO, NO


dan NO2. Contoh campuran yang zero oxygen balance :
Jika jumlah oksigen kurang (negative oxygen balanced)
maka

akan

terbentuk

CO

(beracu,

tidak

berbau,

tidak

berwarna), dan jika kelebihan jumlah oksigen (positive oxygen


balanced) akan terbentuk gas beracun NO. Pedoman untuk
perhitungan

komposisi

bahan

peledak

berdasarkan

zero

oxygen balanced (ZOB) ialah sebagai berikut :


1) Jika dalam bahan peledak hanya terdapat unsure C, H, O dan N.
2) Jika dalam campuran bahan peledak terdapat unsur tambahan (Na, Ca,
Al dan sebagainya) yang memiliki afinitas terdapat oksigen,
Pada suatu proses peledakan akan terbentuk gas-gas akibat terjadinya
reaksi kimiawi dari bahan peledak antara lain :
a) Gas H2O, CO2, N2 disebut SMOKE (asap), gas yang dihasilkan adalah
bentuk gas tidak beracun.
b) Gas CO, NO, NO2 disebut FUMES, gas yang dihasilkan adalah bentuk
gas yang sangat beracun.
Karakteristik gas hasil peledakan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1) ZOB (zero oxygen balance), terjadi kesetimbangan rekasi kimiawi
sehingga semua gas bereaksi dan terbentuk smoke. Contoh :
2NH4NO3 + CH2
5H2O + CO2 + N2
(AN)

(FO)

(SMOKE)

2) Deficient Oxygen Balance (Negative/Minus Oxygen Balance), tidak


terjadi kesetimbangan reaksi yang mengakibatkan hasil reaksi kekurangan
Oksigen, sehingga terbentuk gas fumes. Contoh :
2NH4NO3 + CH2
5H2O + CO + N2
(AN)

(FO)

(FUMES)

3) Excessive Oxygen Balance (Positive/Surplus Oxygen Balace),


tidak terjadi kesetimbangan reaksi yang mengakibatkan hasil reaksi kelebi
han Oksigen, sehingga terbentuk gas fumes. Contoh :

5NH4NO3 + CH2
(AN)

11H20 + CO2 + 9N2 + 2NO

(FO)

(FUMES)

Tabel 2.1
Bahan-bahan yang dapat digunakan sebagai bahan dasar
dan campuran bahan peledak
No

2.2

Nama Bahan

Fungsi

Nitroglicerin (NG)

Explosive Base (EB)

Trinitrotoluene (TNT)

EB

Dinitrotoluene (DNT)

EB

Ethylene glycol dinitrate

EB,Antifreeze

Nitrocellulose

EB,gelatine agent

Nitrostarch

EB,nonheadache expl

Amonium Nitrate (AN)

EB,Oxygen Carrier (OC)

Potassium Chlorate

EB,OC

Potassium Perchlorate

EB,OC

10

Pentaerythritol Tetranitrate (PETN)

EB(Caps&Det.Fuse)

11

Sodium Nitrate

OC, reduce Freeze point

12

Potassium Nitrate

OC

13

Wood pulp

Absorbent,combustible

14

Fuel Oil (FO)

Fuel

15

Paraffine

Fuel

16

Chalk

Antiacid

Sifat Fisik Bahan Peledak


Sifat fisik bahan peledak merupakan suatu kenampakan nyata dari

sifat bahan peledak ketika menghadapi perubahan kondisi lingkungan


sekitarnya. Kenampakan nyata inilah yang harus diamati dan diketahui tandatandanya oleh seorang juru ledak untuk menjastifikasi suatu bahan peledak
yang rusak, rusak tapi masih bisa dipakai dan tidak rusak. Kualitasan peledak

umumnya akan menurun seiring dengan derajat kerusakannya, artinya pada


suatu bahan peledak yang rusak energi yamg dihasilkan akan berkurang.

a. Densitas
Densitas secara umum adalah angka yang menyatakan perbandingan
berat volume. Pernyataan densitas pada bahanpeledak dapat mengekspresikan
beberapa pengertian, yaitu :
1)

Densitas bahan peledak adalah berat bahan peledak


perunit volume dinyatak dalam satuan gr/cc.

2)

Densitas pengisian (loading density) adalah berat


bahan peledak per meter kolom lubang tembak (kg/m).

3)

Cartridge count atau stick count adal jumlah


catridge (bahan peledak berbentuk paste yang sudah dikemas).

Densitas bahan peledak berkisar antara0,6-1,7 gr/cc, sebagai contoh


densitas ANFO antara 0,8-0,85 gr/cc. Biasanya bahan peledak yang
mempunyai densitas tinggi akan menghasilkan kecepatan detonasi dan tekanan
yang tinggi. Bila diharapkan fragmentasi hasil peledakan berukuran kecil-kecil
diperlukan bahan peledak dengan densitas tinggi, bila sebaliknya digunakan
bahan peledak dengan massif atau keras, maka digunakan bahan peledak yang
mempunyai densitas tinggi, sebaliknya pada batuan berstruktur atau lunsk
dapat digunakan bahan peledak denagn densitas rendah.
b. Sensitifitas
Sensitifitas adalah sifat yang menunjukan tingkat kemudahan inisiasi
bahan peledak atau ukuran minimal booster yang diperlukan. Sifat sensitif
bahan peledak bervariasi tergantung pada komposisi kimia bahan peledak,
diameter, temperatur, tekanan ambient. Untuk menguji sensitifitas bahan
peledak dapat digunakan cara yang sederhana yang disebut air gap tesi, sebagai
berikut :
1) Siapkan 2 buah bahan peledak berbentiuk cartridge berdiameter
sama, misalnya D.

2) Dekatkan kedua bahan peledak tersebut hingg berajarak 1, 1 D,


kemudian gabungkan keduanya menggunakan selongsong terbuat
dari karton.
3) Pasang detonator No.8 atau detonating card 10 gr/m pada salah satu
bahan peledak (disebut donor), kemudian ledakan.
4) Apabila bahan peledak yang satunya lagi (disebut aseptor) turut
meledak, maka dikatakan bahwa bahan peledak tersebut sensitif,
sebaliknya bila tidak meledak berarti bahan peledak tersebut tidak
sensitif.
Bahan peledak ANFO tidak sensitif terhadap detonator No,8 dan untuk
meledakannya diperlukan primer (yitu booster yang sudah dilengkap detonator
No.8 atau detonating cord 10 gr/m) didalam lubang ledak. Oleh sebab itu
ANFO disebut bahan peledak peka (sensitif) terhadap primer atau peka primer.
c. Ketahanan terhadap air (water resistance)
Ketahanan bahan peledak terhadap air adalah ukuran kemampuan suatu
bahan peledak untuk melawan air disekitarnya tanpa kehilangan sensitifitas
atau efisiensi. Apabila suatu bahan peledak larut dalam air dalam waktu yang
pendek (mudah larut), berati bahan peledak tersebut dikategorikan mempunyai
ketahanan terhadap air yang buruk atau poor sebaliknya bila tidak larut
dalam air disebut sangat baik atau excellent. Contoh bahan peledak yang
mempunyai ketahanan terhadan air buruk adalah ANFO, sedangkan untuk
bahan peledak jenis emulsi, Watergel atau slurries dan bahan peledak
berbentuk cartridge sangat baik daya tahannya terhadap air. Apabila didalam
lubang ledak terdapat air dan akan digunakan ANFO sebagai bahan
peledaknya, umumnya digunakan selubung plastik khusus untuk membungkus
ANFO tersebut sebelum dimasukkan kedalam lubang ledak.
d. Karekteristik gas (fumes characteristics)
Detonasi bahan peledak akan menghasilkan fume, yitu gas-gas. Baik
yang tidak baik peracun (non-toxic) maupun yang mengandung racun (toxic).
Gas-gas hasil peledakan yang tidak beracun seperti uap air (H2O),

Karbondioksida (CO2), dan Nitrogen (N2), sedangkan yang beracun adalah


nitrogen monoksisda (NO), Nitrogen (NO2), dan karbon Monoksida (CO).
Pada peledakan di tanbang bawah tanah gas-gas tersebut perlu mendapat
perhatian khusus, yaitu dengan sistem ventilasi yang memadai sedangkn di
tambang terbuka kewaspadaan ditingkatkan bila gerakan angin yang rendah.
Diharapkan dari detonasi suatu bahan peledak komersial tidak
menghasilkan gas-gas beracun. Namun kenyataan dilapangan hal tersebut sulit
dihindari akibat beberapa faktor berikut ini :
1) Pencampuran ramuan bahan peledak yang meliputi unsur oksida dan
bahan bakar (fuel) tidak seimbanh sehingga tidak menacpai zero
oxygen balance.
2) Letak primer yang tidak tepat
3) Kurang tertutup karena pemasangan stemming kurang padat dan
kuat.
4) Adanya air dalam lubang ledak
5) Sistem waktu utnda (delay time system) tidak tepat dan,
6) Kemungkinan adanya reaksi antara bahan peledak dengan batuan
(sulfida atau karbonat)
2.3

Agen Peledakan (Blasting Agent)


Agen peledakan adalah campuran bahan-bahan kimia yang tidak

diklasaifikasikan sebagai bahan peledak, dimana campuran tersebut terdiri dari


bahan bakar (fuel) dan oksida. Pada udara terbuka agen peledakan tersebut
tidak dapat diledakan oleh detonator (blasting capsule) nomor 8. Agen
peledakan disebut juga dengan juga dengan nama nitrocarbonitrate, karena
kandungan utamanya nitrat sebagai oksidator yang diambil amonium nitrat
(NH4NO3) dan karbon sebagai bahan bakar. Kadang-kadang ditambah bahan
kimia lain, baik yang bukan bahan peledak, misalnya alumunium atau
ferrosillcon, maupun sebagai bahan peledak yaitu TNT dan membentuk bahan
peledak baru.
a) Amonium nitrat (AN)

Amonium nitrat (NH4NO3) merupakan bahan dasar yang berperan


sebagai penyuplai oksida pada bahan peledak. Berwarna putih seperti garam
dengan titik lebur sekitar 169,60 C. Amonium nitrat adalah zat penyokong
proses pembakaran yang sangat kuat, namun ia sendiri bukan zat yang
mudah terbakar dan pula zat yang berperan sebagai bahan bakar sehingga
pada kondisi biasa tidak dapat dibakar. Sebagai penyuplai oksigen, maka
apabila suatu zat yang mudah terbakar dicampur dengan AN akan
memperkuat intensitas proses pembakaran dibanding dengan bila zat yang
mudah terbakar tadi dibakar pada kondisi udara normal. Udara normal atau
armosfer hanya mengandung oksigen 21%, sedangkan AN mencapai 60%.
Bahan lain yang serupa dengan AN dan sering dipakai oleh tambang kecil
adalah potassium nitart (KNO3).
Amonium nitrat tidak digolongkan kedalam bahan peledak. Namun bila
dicampur atau diselubungi oleh hanya beberapa persen saja zat-zat yang
mudah terbakar, misalnya bahan bakar minyak solar, serbuk batubara atau
serbuk gergaji, maka akan memeliki sifat sifat bahan peledak denag
sensitifitas rendah, Walaupun banyak tipe-tipe AN yang dapat digunakan
sebagai agen peledakan, misalnya pupuk urea, namun AN yang sangat baik
adalah yang terbentuk butiran dengan porositas tinggi, sehingga dapat
membentuk komposisi tipe ANFO.
b) ANFO
ANFO adalah singkatan dari amonium nitrat (AN) sebagai zat
pengoksida dan fuel oil (FO) sebagi bahan bakar. Setiap bahan bakar
berunsur karbon, baik berbentuk serbuk maupun cair, dapat digunakan
sebagai pencanmpur dengan segala keuntungan dan kerugiannya.
Bila menggunakan serbuk batubara sebagai bahan bakar, maka
diperlukan preparasi terlebih dahulu agar diperoleh serbuk batubara dengan
ukuran seragam. Beberapa kelemahan menggunakan serbuk batubara
sebagai bahan bakar, yaitu :
-

Preparasi membuat bahan peledak ANFO menjadi mahal.

Tingkat homogenitas campuran antar serbuk batubara denagn AN


sulit dicapai.

Sensitif kurang

Debu serbuk batubara berbahaya terhadap pernafasan pada saat


dilakukan pencampuran.

Komposisi bahan bakar yang tepat, yaitu 5,7% atau 6%,dapat


memaksimumkan kekutan bahan peledak dan meminimumkan fumes.
Artinya pada komposisi ANFO yang tepat dengan AN = 94,3% dan FO =
5,75% akn diperoleh zero oxygen balance. Kelebihan FO disebut dengan
overfuelled akan menghasilkan FO atau underfuelled akan menambah
jumlah NO2.
Tabel 2.2 jumlah kebutuhan FO untuk memperoleh ANFO
Bahan Bakar (FO)
ANFO,kg

AN,kg
kg

liter

10

0.57

0.71

9.43

20

1,14

1.43

18.86

30

1.71

2.14

28.29

40

2.28

2.85

37.72

50

2.85

3.56

47.15

70

3.99

4.99

66.01

80

4.56

5.70

75.44

100

5.70

7.13

94.30

200

11.40

14.25

186.60

300

17.10

21.38

282.90

400

22.80

28.50

377.20

500

28.50

35.63

471.50

1000

57.00

71.25

943.00

BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum Teknik Peledakan dilaksanakan pada Sabtu, 5
Novermber 2016, yang bertempat di Laboratorium Energi,
Material dan Rekayasa dan juga di laksanakan di halaman
Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Jambi.
3.2. Alat dan Bahan
Alat :
1. Alat Tulis
2. Gelas Beker
3. Gelas ukur
4. Corong
5. Pipet tetes
6. Ember kecil
Bahan :
1. Pupuk urea 1 kg
2. Minyak Solar 1 Liter
3.3. Prosedur Kerja
1. Dimasukkan pupuk urea ke dalam gelas beker hingga
takaran tertentu.
2. Dicatat Volume pupuk urea (dalam mililiter) sebagai
campuran Amonium Nitrat.
3. Dimasukkan pupuk urea yang telah diukur tersebut ke
dalam ember kecil.
4. Dilakukan perhitungan untuk mendapatkan jumlah total
ANFO dan jumlah Fuel Oil yang dibutuhkan agar terjadi
kesetimbangan oxygen balance.
5. Dimasukkan minyak solar sebagai Fuel Oil ke dalam
gelas ukur dengan takaran yang didapatkan dari
perhitungan.

6. Dimasukkan minyak solar yang telah diukur kedalam


ember kecil.
7. Dicampurkan pupuk urea dan minyak solar hingga
merata.

BAB IV
HASIL
6.1. Tabel Hasil Perbandingan Amonium Nitrat dan Fuel Oil
- Jumlah takaran Amonium Nitrat
= 250 ml
- Densitas Amonium Nitrat
= 1,725 gr/cm3
- Densitas solar
= 0,85 Kg/L
- Perbandingan AN & FO (dalam %)
= 94,5 : 5,5
No
1
2
3

Keterangan
Amonium Nitrat
Fuel Oil
Total ANFO

Jumlah
431,25
29,5284
456,3492

6.2. Perhitungan
Diketahui : Jumlah Amonium Nitrat = 250 ml
Densitas AN

= 1,725 gr/cm3

Sensitas Solar

= 0,85 Kg/L

Jawab :
a) Berat Amonium Nitrat (AN)
AN = VAN Densitas AN
= 250 cm3 1,725 gr/cm3
= 431,25 gr
b) Berat Total ANFO
94,5
100 ANFO = AN
94,5

100
ANFO =
=

ANFO = 431,25 gr

431,25 gr 100
94,5
43125 gr
94,5

= 456,3492 gr
c) Berat Fuel Oil (FO)

Satuan
gram
mililiter
gram

FO =
=

5,5
ANFO
100
5,5
456,3492 gr
100

= 25,0992 gr
d) Volume Fuel Oil (FO)
VFO =
=

FO
Densitas Solar

25,0992 gr
0,85 gr /ml

= 29,5284 ml

BAB V

PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini yaitu mengenai Zero Oxygen Balance, yang
dimana zero oxygen balance merupakan kesetimbangan jumlah
oksigen yang tepat dalam suatu campuran bahan peledak
sehingga

seluruh

reaksi

menghasilkan

hidrogen

menjadi

hidrogen dioksida (H2O), carbon menjadi CO2 dan nitrogen


menjadi N2 bebas, sehingga dalam hasil reaksinya hanya ketiga
unsur tersebut yang terbentuk. Secara umum bahan peledak
merupakan campuran dari senyawa-senyawa yang mengandung
4 unsur dasar/utama yaitu : C, H, N, dan O. Pada setiap
pemuatan bahan peledak haruslah berdasarkan prinsip dari zero
oxygen balance agar saat proses peledakan terjadi reaksi yang
sempurna dan menghasilkan energi yang maksimum.
Kegiatan yang dilakukan pada praktikum ini yaitu pembuatan bahan
peledak dengan mencampurkan antara Amonium Nitrat (AN) yang pada
praktikum ini diasumsikan menggunakan pupuk urea dan Fuel Oil (FO) di
asumsikan menggunakan bahan bakar solar. Pada pencampuran bahan peledak
tersebut, dibutuhkan urea (AN) dengan volume 250 ml dan solar (FO) yang
dibutuhkan yaitu sesuai pada persentase berdasarkan perhitungan yang dilakukan
untuk zero oxygen balance. Dari hasil perhitungan tersebut diharapkan nantinya
akan mendapatkan perbandingan kesetimbangan senyawa kimia agar diperoleh
zero oxygen balanced. Artinya dengan mencampurkan dua senyawa kimia
peledakan maka tidak terjadi minus oxygen balanced atau pun surplus oxygen
balanced. Minus oxygen balanced akan menyebabkan munculnya senyawa lain
yang bersifat beracun seperti karbon monoksida CO. sedangkan surplus oxygen
balanced artinya akan menghasilkan senyawa yang berbahaya atau beracun sama
halnya dengan minus oxygen balanced namun senyawa yang beracun ini biasanya
berupa Nitrogen monoksida (NO).
Perbandingan yang digunakan pada pencampuran bahan peledak tersebut
adalah 94,5 ( AN ) : 5,5 ( FO). Perbandingan ini lah yang harus kita gunakan
untuk mencapai produk bahan peledak ANFO yang bersifat zero oxygen balanced.

Pada perhitungan yang dilakukan untuk pencampuran bahan peledak tersebut agar
tercapai zero oxygen balance, kita harus mengkonversikan terlebih dahulu ke
dalam satuan massa (kg) dan selain itu, untuk fuel oil dalam hal ini adalah solar,
kita harus mengkonversikan satuannya juga dengan factor densitas dari solar itu
sendiri. Adapun besar densitas solar yang di peroleh berdasarkan literatur adalah
sebesar 0,85 kg/l.
Ada beberapa factor yang menyebabkan pada praktikum ini bahwa solar
menjadi bahan kimia yang tepat untuk dilakukan pencampuran dalam pembuatan
bahan peledak yang bersifat zero oxygen balanced. Factor-faktor tersebut antara
lain :
1. Solar

merupakan

bahan

bakar

yang

cukup

murah

apabila

dibandingkan dengan bahan bakar minyak lainnya seperti premium,


pertalite ataupun pertamax,
2. Solar memiliki densitas yang cukup besar (tinggi), sehingga akan
diperoleh volume yang kecil yang dapat mengantisipasi kelebihan
volume dibandingkan bahan bakar lain, selain itu reaksi kimia yang
dihasilkan dengan AN tidak bersifat destruktif terhadap proses reaksi
kimia lainnya,
3. Karena memiliki densitas yang tinggi, maka solar tidak dapat menyatu
dengan senyawa AN dan solar hanya menyelimuti senyawa AN itu
sendiri sehingga tidak akan mempengaruhi kualitas dari senyawa AN
itu sendiri

6.1. Kesimpulan

BAB VI
PENUTUP

Berdasarkan tujuan dan praktikum yang telah dilaksanakan, maka dapat


disimpulkan bahwa
1. Reaksi dan produksi hasil peledakan dapat kita tentukan
dengan melihat apakah reaksi kimia bahan peledak ini
akan menghasilkan zero oxygen balance, minus ataupun
surplus dengan melihat senyawa kimia yang dihasilkannya
2. Komposisi bahan peledak kimia, terutama ANFO terdiri dari
2 bahan utama yaitu AN yang merupakan ammonium nitrat
dan FO yang merupakan fueloil
3. Gas-gas yang dapat ditimbulkan pada peledakan dapat
bersifat smokes seperti C02, H20 dan N2 bebas, ataupun
bersifat fumes yang beracun seperti CO dan NO
4. Campuran Amonium Nitrat dan Fuel Oil untuk total ANFO
seberat 456,3492 gr yaitu AN seberat 431,25 gr dengan FO sebanyak
29,5284 ml
6.2. Saran
1. Praktikan terlebih dahulu harus memahami materi yang
akan dipraktikumkan agar kegiatan praktikum berjalan
dengan lancar.
2. Selain itu praktikan juga harus aktif dalam kegiatan
praktikum agar memperoleh hasil yang diharapkan.

DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin, Arief. 2011. Kajian Penerapan Manajemen Risiko Keselamatan dan
Kesehatan Kerja Lingkungan (K3L) pada Proses Blasting di Area
Pertambangan Batubara PT. Cipta Kridatama Jobsite Mahakam Sumber
Jaya Kalimantan Timur. Universitas Sebelas Maret : Surakarta.
Juner, Angga. 2011. Bahan Peledak. http: // angghajuner. blogspot. co. id/ 2011/
10/ bahan-peledak.html. (Diakses pada 7 November 2016)
Koesnaryo. S., 1988, Bahan Peledak dan Metode Peledakan, Fakultas Tambang
UPN Veteran Yogyakarta.
Permadhi, Agung. 2012. Zero Oxygen Balance. https: // www. scribd. com/ doc/
112070056/Zero-Oxygen-Balance. (Diakses pada 7 November 2016)
Wijaya, Afri. 2013. Bahan Peledak. http://documentslide.com/documents/bab-3-4fix.html. (Diakses pada 7 November 2016)

LAMPIRAN DOKUMENTASI
A. Alat dan Bahan

Gambar 1. Gelas Ukur

Gambar 3. Gelas Beker

Gambar 2. Pipet tetes

Gambar 4. Ember

Gambar 5. Urea

Gambar 6. Solar

B. Skema Kerja Praktikum

Gambar 9. Perhitungan perbandingan


AN dengan FO

Gambar 10. Pengukuran AN

Gambar 11. Urea (Amonium Nitrat)


Sebanyak 250 ml / 431,25 gr

Gambar 12. Penetesan Solar (FO)

Gambar 13. Pengukuran Solar (FO)

Gambar 14. Solar (Fuel Oil)


Sebanyak 29,5284 ml / 25,0992 gr

Gambar 15. Penuangan/Pencampuran


FO ke AN

Gambar 16. Total

Anda mungkin juga menyukai