Anda di halaman 1dari 2

Pencegahan Oroantral Fistula

Secara umum, tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah agar tidak terjadi
oroantral fistula adalah dengan tindakan sebagai berikut:
a. Melakukan foto rontgen terlebih dahulu sebelum tindakan pencabutan gigi untuk
mengetahui posisi akar gigi posterior rahang atas yang letaknya dekat dengan antrum
dan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyakit periapikal pada jaringan sekitar
ujung akar gigi.
b. Melakukan tes tiup dan kumur setelah pencabutan untuk mendeteksi apakah terjadi
kecelakaan terbukanya antrum atau tidak, sehingga bila terjadi dapat segera diketahui
dan dilakukan perawatan dengan cepat dan benar serta komplikasi yang lebih parah
dapat dihindari.
c. Pengontrolan tekanan yang diberikan pada instrument dan tindakan yang selalu
berhati-hati mutlak dilakukan operator sehingga terjadinya oroantral fistula dapat
terhindari.
d. Jangan mengaplikasikan tang pada gigi atau akar gigi posterior atas kecuali bila
panjang gigi atau akar gigi yang terlihat cukup besar baik ke dalam arah palatal dan
bukal, sehingga ujung tang dapat diaplikasikan dengan pandangan langsung.
e. Tinggalkan 1/3 apeks akar palatal gigi molar atas bila tertinggal selama pencabutan
dengan tang kecuali bila ada indikasi positif untuk mengeluarkannya.
f. Jangan mencoba mencabut akar gigi atas yang patah dengan menggunakan instrument
ke dalam soket. Bila diindikasikan pencabutan, buatlah flap mukoperiosteal yang
besar dan buang tulang secukupnya sehingga elevator dapat dimasukkan di atas
permukaan akar gigi yang patah.
(Sulastra, 2009; Howe, 1997)
Sumber:
Sulastra, I Wayan. Oroantral fistula Sebagai Salah Satu Komplikasi Pencabutan dan
Perawatannya. Surabaya : Jurnal PDGI Vol. 58 No.1. 2009.
Howe, G. L. Pencabutan gigi geligi. Jakarta: EGC. 1997; p. 89-90.