Anda di halaman 1dari 8

Tata Laksana Pelayanan di Instalasi Gawat Darurat.

PELAYANAN PENDAFTARAN PASIEN.

Pasien datang ketempat penerimaan gawat darurat. Tempat pendaftaran pasien


sebelum jam 07.00-14.00 di loket 1 Poliklinik, sedangkan jam 14.00-07.00
pendaftaran pasien di IGD. Pasien ditolong terlebih dulu, baru kemudian
dilakukan penyelesaian administrasinya.

Setelah mendapat pelayanan yang cukup, ada beberapa kemungkinan dari


setiap pasien :
Pasien boleh langsung pulang
Pasien dirujuk/dikirm ke rumah sakit lain
Pasien harus dirawat

Pasien yang sudah diseleksi dan membawa surat pengantar untuk dirawat dapat
langsung dibawa ke ruangan perawatan sambil menunggu tempat tidur kosong
dari ruang perawatan.
Jika pasien sudah sadar dan dapat diwawancarai, Petugas pendaftaran
mendatangi pasien/keluarga untuk mendapatkan identitas selengkapnya.
Bagian pendaftaran mengecek data identitas kebagian rekam medis untuk
mengetahui apakah pasien pernah dirawat/berobat ke rumah sakit.
Bagi pasien yang pernah berobat/dirawat maka rekam medisnya segera dikirim
ke ruang perawatan yang bersangkutan dan tetap memakai nomor yang
dimilikinya.
Bagi pasien yang pernah dirawat/berobat ke rumah sakit maka diberikan nomor
rekam medis.
Petugas pendaftaran harus selalu memberitahukan ruang perawatan sementara
mengenai situasi tempat tidur di ruang perawatan.
SISTEM KOMUNIKASI.

Komunikasi sangat berperan penting dalam penaggulangan penderita gawat


darurat time saving is life limb saving. Selain itu kondisi kegawat daruratan
yang mungkin terjadi sehari hari atau bencana tertentu dapat menimbulkan
korban individu atau korban massal.

Komunikasi sebagai subsitem penunjang penaggulangan penderita gawat


darurat perlu untuk menjamin kelancaran dan kecepatan. Komunikasi Instalasi
Gawat Darurat RS. . siap 24 jam menggunakan sarana komunikasi intern dan
extern.
Intern dengan ext. xxx
Extern dengan hotline xxxxxxxxx.

PELAYANAN TRIASE.
Triase adalah sistem seleksi pasien untuk pengelompokkan korban dalam
menentukan tingkat kegawatan serta prioritas dan kecepatan penanganan serta
pemindahan. Pasien diseleksi berdasarkan tingkat kegawatdaruratannya dengan
kategori :

1. Pasien gawat darurat.


Pasien yang tiba tiba berada dalam keadaan gawat atau akan menjadi gawat
dan terancam nyawanya serta anggota badannya (akan menjadi cacat) bila tidak
mendapat pertolongan secepatnya.

2. Pasien gawat tidak darurat.


Pasien berada dalam keadaan gawat tetapi tidak memerlukan tindakan darurat,
misalnya penyakit kanker stadium lanjut.

3. Pasien darurat tidak gawat.


Pasien akibat musibah yang datang tiba tiba, tetapi tidak mengancam nyawa
dan anggota badannya, misalnya luka sayat dangkal.

4. Pasien tidak gawat tidak darurat.


Misalnya pasien dengan ulcus tropium, TBC kulit, dll.

5. Kecelakaan.
Suatu kejadian dimana terjadi interaksi berbagai faktor yang datangnya
mendadak, tidak dikehendaki sehingga menimbulkna cidera (fisik, mental,
sosial).

6. Cidera.
Masalah kesehatan yang didapat / dialami sebagai akibat kecelakaan.

7. Bencana.
Peristiwa / rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam dan atau manusia
yang mengakibatkan korban dan penderitaan manusia, kerugian, harta benda,
kerusakan lingkungan, kerusakan sarana dan prasarana umum, serta
menimbulkan gangguan terhadap tata kehidupan dan penghidupan masyarakat
serta pembangunan nasional yang memerlukan pertolongan dan bantuan.

Dalam pelaksanaan pelayanan di IGD diberlakukan kategori kasus emergency


dan false emergency. Dalam hal ini yang termasuk pasien emergency adalah :
kasus Prioritas 1 (P1) yaitu pasien gawat darurat, prioritas 2 (P20 yaitu pasien
gawat tidak darurat dan/atau pasien darurat tidak gawat. Sedangkan yang
termasuk pasien false emergency adalah kasus Prioritas 3 (P3) yaitu pasien tidak
gawat tidak darurat dan kasus prioritas 0 (P0) yaitu pasien yang datang dalam
keadaan sudah meninggal dunia (death on arrival)

Kartu kode warna triase dapat digunakan sebagai cara pengklasifikasian dalam
triase setelah diperoleh informasi akurat tentang keadaan pasien.

Kartu warna yang digunakan adalah :

1. MERAH : Korban yang membutuhkan stabilisasi, misalnya :


Syok oleh berbagai kausa
Gangguan pernafasan
Trauma kepala dengan pupil anisokor
Perdarahan eksternal masif
Gangguan jantung yang mengacam

Luka bakar >50% atau luka bakar di daerah terbakar


Semua pasien tersebut diatas disalurkan ke ruang resusitasi.

2. KUNING : Korban yang memerlukan pengawasan ketat tetapi perawatan dapat


ditunda sementara, misalnya :
Korban dengan risiko syok (korban dengan gangguan jantung, trauma
abdomen berat)
Fraktur multiple
Fraktur femur / pelvis
Luka bakar luas
Gangguan kesadaran / trauma kepala
Korban dengan status tidak jelas
Semua pasien tersebut diatas disalurkan ke ruang tindakan bedah.

3. HIJAU : Kelompok korban yang tidak memerlukan pengobatan atau pemberian


pengobatan dapat ditunda, misalnya :
Fraktur minor
Luka minor, luka bakar minor, atau tanpa luka
Pasien dengan kecelakaan disalurkan ke ruang tindakan bedah.

4. HITAM : Korban yang telah meninggal dunia


Pasien yang meninggal dunia disalurkan ke kamar jenazah.

TRANSPORTASI PASIEN.
Transportasi merupakan salah satu bagian penting dalam pelayanan gawat
darurat. Melalui transportasi kita dapat membantu penanganan penderita gawat
darurat. Dalam memberikan pelayanan transpotasi kepada penderita gawat
darurat, perlu diperhatikan beberapa petujuk dibawah ini :
1. Persiapan alat
a. Ambulans
b. Kursi roda.

c. Brankard.
d. Alat alat penunjang hidup yang diperlukan.

2. Cara kerja
a. Ketempat pemeriksaan x ray, diantar minimal 1 orang perawat.
b. Ke ruang perawatan, diantar minimal oleh 1 orang perawat.
c. Ke ICU / Kamar Bedah. Bila ada masalah ABC (gangguan jalan nafas dan
sirkulasi), pasien diantar minimal 2 orang petugas termasuk dokter dan ventilasi
harus tetap diperthankan dalam perjalanan.
d. Ke Rumah Sakit lain :
Bila tidak ada masalah ABC, pasien boleh tidak diantar petugas dan membawa
surat rujukan.
Bila ada masalah ABC, pasien harus diantar 1 orang perawat dengan membawa
surat rujukan dan memakai ambulans.

PELAYANAN FALSE EMERGENCY.


Pasien tidak akut dan gawat adalah pasien yang mengalami sakit lama, tidak
mengancam nyawa (false emergency). Langkah langkah dalam memberikan
pelayanan false emergency adalah sebagai berikut :
1. Pelayanan diberikan terlebih dahulu kepada pasien yang mengalami penyakit
akut dan gawat True Emergency bukan berdasarkan urutan kedatangan pasien.
2. Kasus-kasus yang tidak tergolong akut dan gawat False Emergency akan
mendapatkan pelayanan setelah kasus gawat darurat terlayani.
3. Pada jam kerja (07.00-14.00) setiap hari Senin Jumat, kasus-kasus
false emergency akan dialihkan ke poliklinik, atau
4. Dokter poliklinik dimintakan bantuannya untuk melayani pasien false
emergency di IGD bila Dokter IGD sedang menangani pasien true emergency.

PELAYANAN VISUM ET REPERTUM.


Visum Et Repertum adalah laporan tertulis yang dibuat oleh dokter atau
permintaan tertulis dari pihak yang berwajib mengenai apa yang dilihat /
diperiksa berdasarkan keilmuan dan sumpah dokter untuk kepentingan
peradilan.

Langkah langkah dalam memberikan pelayanan visum et repertum


adalah sebagai berikut :
1. Penyidik (Polisi) membawa Surat Permintaan tertulis dari pihak yang berwajib
(Kepolisian) untuk pembuatan Visum Et Repertum.
2. Identifikasi identitas pasien, apakah sesuai dengan subyek pada permintaan
Visum Et Repertum.
3. Dokter membuat Visum Et Repertum secara objektif berdasarkan pemeriksaan
saat ini atau dari catatan pada Rekam Medik jika kejadiaannya sudah lampau.
4. Visum Et Repertum diserahkan kepada penyidik (Polisi) yang memintanya.
Pasien atau keluarga pasien tidak berhak meminta atau melihatnya.

Pelayanan DOA (Death on arrival).


DOA (Death on arrival) merupakan kejadian kematian pada saat pasien sampai di
IGD. Pasien yang datang dalam keadaan DOA langsung disalurkan / ditempatkan
di kamar jenazah.
Syarat pengambilan jenazah :
1. Pengambil jenazah menyerahkan foto copy bukti diri yang syah kepada
petugas.
2. Pengambil jenazah menyerahkan Surat Pengambilan Jenazah kepada petugas.
Jika jenazah berada di kamar jenazah maksimal 4 jam, lebih dari itu jenazah
langsung dikirim ke RSUD .

Sistem Informasi Pelayanan Pra Rumah Sakit.


IGD RS. . diklasifikasikan sebagai Instalasi Pelayanan Gawat Darurat kelas II,
karena telah memiliki dokter spesialis empat besar yang siap dipanggil (on
call), dokter umum yang siaga ditempat (on site) 24 jam yang memiliki
kualifikasi pelayanan GELS (General Emergency Life Support) dan mampu
memberikan resusitasi dan stabilisasi ABC serta memiliki alat transportasi untuk
rujukan dan komunikasi yang siap 24 jam.

Sarana Penunjang pelayanan :


1. Penunjang medis : Pelayanan Radiologi, laboratorium, farmasi
2. Penunjang non medis : Telepon dan ambulans.

Ada 4 hal yang wajib diinformasikan ketika petugas IGD melayani pasien gawat
darurat via telepon :
1. Nama pasien
2. Alamat pasien
3. Kondisi saat itu
4. Nomor telepon

Sebelum petugas IGD menjemput pasien yang meminta ambulans, petugas IGD
wajib memberitahukan keadaan pasien saat itu. Adapun informasi pelayanan pra
rumah sakit diberikan adalah dengan tata laksana sebagai berikut :
1. Jika keadaan pasien baik, petugas yang berada di mobil ambulans tidak
menginformasikan apapun kepada petugas IGD di rumah sakit.
2. Jika keadaan pasien darurat, petugas yang berada di mobil ambulans
menginformasikan keadaan pasien saat itu kepada petugas IGD di rumah sakit
dengan menggunakan sarana telekomunikasi handphone.

Sistem Rujukan.
Rujukan pasien dari RS . hanya dapat dilakukan oleh dokter spesialis yang
kompeten atau setidaknya atas persetujuan salah satu dokter spesialis 4 besar
(bedah, penyakit dalam, anak, dan kebidanan). Dokter jaga IGD sebelum
melakukan rujukan pasien harus mengkorfirmasikan pasien tsb kepada dokter
spesialis yang sesuai dengan penyakit pasien. Adapun bentuk rujukan yaitu :

1. Alih Rawat.
Alih rawat dapat dilakukan pada keadaan :
Tidak ada dokter spesialis yang kompeten
Trauma kapitis dengan kemungkinan perdarahan intra kapitis
Permintaan pasien
Dugaan kasus SARS, flu burung,flu babi

2. Pemeriksaan Diagnostik.
a. CT scan

b. Pemeriksaan penunjang lain yang dianggap perlu, yang tidak dapat dilakukan
di RS .

3. Spesimen.
a. Darah
b. Urin
c. Jaringan
d. Mukus / sekret.

Anda mungkin juga menyukai