Anda di halaman 1dari 18

ANALISIS STRUKTUR MORFOLOGI RUMAH ADAT BUGIS

NAMA : ZATRIANI
NIM : D51112006

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS HASANUDDIN


GOWA
2012

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa
memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Khususnya
kepada penulis yang telah berhasil menyelesaikan laporan ini.
Penulis selaku mahasiswa yang mengikuti program sarjana
pada

program

studi

arsitektur,

diberikan

tugas

khusus

untuk

menyelesaikan tugas mata kuliah Bahasa indonesia. Sebagai salah


satu persyaratn untuk melengkapi tugas yang dimaksudkan, maka
penulis menyusun makalh yang berjudul Analisis struktur morfologi
Rumah Adat Bugis.
Makalah ini diharapkan mampu memberikan penjelasan dan
deskripsi mengenai bagaimana struktur morfologi Rumah Adat Bugis.
Sesungguhnya, segala sesuatu yang sempurna hanyalah
milik Tuhan Yang Maha Rsa, maka penulis sadar bahwa makalah ini
masih jauh dari sasaran dan kesempurnaan yang diharapkan sehingga
respon yang positif dan kritik yang membangun dapat diberikan kepada
penulis agar lebih baik kedepannya.

Gowa, Desember 2012

Penyusun

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR.........................................................................................2
DAFTAR ISI......................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN....................................................................................4
A.
B.
C.
D.

Latar belakang.......................................................................................4
Rumusan masalah.................................................................................6
Manfaat penelitian.................................................................................6
Tujuan penelitian...................................................................................6

BAB II ISI..........................................................................................................7
A.
B.
C.
D.

Pola penataan........................................................................................7
Bentuk .................................................................................................11
Kesatuan .............................................................................................12
Keseimbangan ....................................................................................16

BAB III PENUTUP .........................................................................................19


A. Kesimpulan .........................................................................................19
B. Saran ..................................................................................................19
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................20
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Arsitektur adalah seni dan ilmu dalam merancang bangunan. Dalam
artian yang lebih luas, arsitektur merupakan segala sesuatu yang mencakup
perancangan dan pembangunan keseluruhan lingkungan binaan, mulai level
makro yaitu perencanaan kota, perkotaan, lansekap, hingga ke level mikro
yaitu desain bangunan, desain perabot dan desain produk.
Jenis-jenis arsitektur menurut Bruce, sebagai berikut :
1. Arsitektur rakyat merupakan karya arsitektur yang berkembang di
masyarakat atas dasar keadaan lingkungan.
2. Arsitektur vernakuler merupakan arsitektur yang dikembangkan oleh
seseorang atas dasar pengalamannya.
3. Arsitektur spiritual merupakan arsitektur yang dikembangkan atas
dasar nilai-nilai keagamaan.
4. Arsitektur monumental merupakan

arsitektur

yang

mampu

mengingatkan pada peristiwa agung dan megah.


5. Arsitektur utilitas merupakan arsitektur yang berfungsi sebagai
pelayanan umum dalam lingkup luas.
6. Arsitektur tradisional merupakan arsitektur yang dibuat dengan cara
yang sama secara turun-temurun.
Dari jenis-jenis arsitektur di atas, salah satunya adalah arsitektur
tradisional. Contoh arsitektur tradisional adalah Arsitektur Tradisional Bugis
yang berada di daerah Sulawesi Selatan. Hasil dari perkembangan Arsitektur
Tradisional Bugis yaitu rumah panggung kayu atau biasa disebut Rumah Adat
Bugis.

Rumah Adat Bugis mewakili sebuah tradisi yang bertahan lama bagi
masyarakat Sulawesi Selatan. Bentuk dasar rumah tersebut adalah sebuah
kerangka kayu di mana tiang menahan lantai dan atap. Rumah Adat Bugis
mencerminkan sebuah estetika tersendiri yang menjadikannya objek budaya
materil yang indah (Robinson, 2005 : 271-272).
Namun, rumah-rumah di Sulawesi Selatan lebih dari sekadar tempat
berteduh bagi penghuninya. Bagi masyarakat Bugis, rumah merupakan ruang
sakral di mana orang dilahirkan, menikah, dan meninggal, serta menjadi
tempat berlangsungnya kegiatan-kegiatan sosial.
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertarik mengangkat
untuk membahasnya dengan judul Analisis struktur morfologi Rumah Adat
Bugis.

B. Rumusan masalah
Berdasarkan judul makalah, rumusan masalah yang menjadi fokus
dalam pembahasan kali ini adalah Bagaimana struktur morfologi dari Adat
Bugis sebagai

hasil dari

perkembangan arsitektur tradisional Bugis di

daerah Sulawesi Selatan.


C. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui
struktur

morfologi

dari

rumah

panggung

kayu

sebagai

hasil

perkembangan arsitektur tradisional Bugis di ddaerah Sulawesi Selatan.

dari

D. Manfaat
1. Untuk mengetahui bentuk dari Rumah Adat Bugis Sulawesi Selatan.
2. Untuk memperkaya hazanah ilmu pengetahuan di bidang arsitektur,
terutama mengenai arsitektur tradisional Bugis, Sulawesi Selatan.
3. Dapat dijadikan sebagai bahan informasi dalam melakukan penelitian
lebih lanjut.

BAB II
PEMBAHASAN
Rumah adalah kebudayaan fisik, yang dalam konteks tradisional
merupakan bentuk ungkapan yang berkaitan erat dengan kepribadian
masyarakatnya, contohnya rumah adat Bugis. Ungkapan fisiknya sangat
dipengaruhi oleh faktor sosio-kulural dan lingkungan di mana ia tumbuh dan
berkembang. Perbedaan wilayah dan latar budaya akan menyebabkan
perbedaan pula dalam ungkapan arsitekturalnya. Adapun struktur morfologi
dari rumah adat Bugis, sebagai berikut :
A. Pola penataan
Arsitektur Rumah Adat Bugis umumnya tidak bersekat-sekat. Bentuk
denah yang umum adalah rumah yang tertutup, tanpa serambi yang terbuka.
Tangga depan biasanya di pinggir. Di depan tangga tersedia tempat air untuk
mencuci kaki. Selain itu, rumah Adat Bugis umumnya memilki ruang
pengantar yang berupa lantai panggung di depan pintu masuk, yang

dinamakan
tempat

tamping,

tersebut

biasaya

difungsikan

sebagai ruang tunggu bagi para


tamu

sebelum

dipersilahkan

masuk oleh tuan rumah.


Rumah
bugis
juga

dapat

digolongkan menurut fungsinya. Secara vertikal dapat dikelompokkan


menjadi tiga bagian, antara lain :
1. Rakaeng/botting langi (bagian atas rumah, di bawah atap), terdiri dari
loteng dan atap rumah yang dipaki untuk menyimpan padi dan
persediaan pangan lain, serta benda-benda pusaka.
2. Ale kawa, terletak antara lantai dan loteng (bagian tengah), di mana
orang tinggal dan dibagi-bagi menjadi ruang-ruang khusus, seperti
ruang tamu, ruang maka, dan ruang tidur.
3. Awa bola, terletak di bagian bawah antara lantai dengan tanah. Tempat
tersebut dipakai untuk menyimpan alat-alat pertanian dan hewan
ternak.

Sedangkan penataan secara horisontal, pembagian ruang yang dalam istilah


Bugis disebut lontang, dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian sebagai
berikut :
1. Lontang risaliweng (ruang depan), sifat ruang ini semi private,
berfungsi sebagai tempat menerima tamu, tempat tidur tamu, tempat
bermusyawarah, tempat menyimpah benih dan tempat membaringkan
mayat sebelum dikebumikan. Ruang ini adalah ruang tempat
berkomunikasi dengan orang luar yang sudah diizinkan untuk masuk.
Sebelum memasuki ruang ini orang luar diterima lebih dahulu di ruang
transisi (lamping)
2. Rontang retengngah (ruang tengah), sifatnya private, berfungsi untuk
tempat tidur kepala keluarga dan anak-anak yang belum dewasa,
tempat makan, melahirkan,. Pada ruang ini sifat kekeluargaan dan
kegiatan informal dalam keluarga amat menonjol.

3. Lontang rilaleng (ruang dalam), sifatnya sangat private, berfungsi


sebagai tempat tidur anak gadis atau nenek/kakek. Angota keluarga ini
dianggap sebagai orang yang perlu dilindungi.

Keterangan :
1.
2.
3.
4.

Tamping
Lontang risaliweng
Lontang retengngah
Lontang rilaleng

Penempatan pintu dan jendela


Dinding terbuat dari kayu yang disusun secara vertikal. Salah satu
bukaan yang terdapat pada dinding depan ialah pintu (babang/tange).
Fungsinya adalah untuk jalan keluar dan masuk rumah. Tempat pintu
biasanya selalu diletakkan pada bilangan ukuran genap, misalnya ukuran
rumah 7 (tujuh depa) maka pintu harus diletakkan pada depa yang ke 6

(enam) atau ke 4 (empat) diukur dari kanan rumah. Karena menurut


masyarakat Bugis, bila penempatan pintu ini tidak tepat pada bilangan genap,
dapat menyebabkan rumah mudah untuk dimasuki pencuri atau penjahat.
Jendela (tellongeng), fungsinya adalah bukaan pada dinding yang
sengaja dibuat untuk melihat keluar rumah dan juga berfungsi sebagai
ventilasi udara ke dalam ruangan. Peletakannya biasanya pada dinding
diantara dua tiang. Pada bagian bawahnya biasanya diberi tali atau
penghalang. Untuk memperindah biasanya ditambahkan hiasan berupa
ukiran sebagai hiasan atau terali dari kayu dengan jumlah bilangan ganjil.
Jumlah terali dapat menunjukkan status penghuninya. Jika jumlah terali 3-5
menunjukan rakyat biasa dan jika 7-9 menunjukkan rumah bangsawan.
B. Bentuk
Bentuk (Form) dalam arsitektur, banyak mengacuh pada bentukbentuk geometri seperti : Segi empat, segi tiga, bundar, dan lain-lain. Bentuk
dalam arsitektur adalah suatu elemen yang tertuju langsung terhadap mata.
Bedanya (matter) adalah suatu elemen, yang tetuju pada jiwa dan akal budi
manusia.
Rumah tradisional Bugis atau dalam bahasa Bugis disebut Bola Ugi
adalah rumah panggung yang terbuat dari kayu, berbentuk segi empat
panjang dengan tiang-tiang yang tinggi menopang lantai dan atap berbentuk
pelana. Di jaman dahulu, badan rumah merupakan ruangan besar tanpa

10

sekat-sekat (kamar). Pola ruang terbentuk oleh baris tiang yang memikul
lantai rumah.
Tiang rumah biasanya berjumlah 20 buah (5 tiang x 4 baris); 30 buah
( 6 tiang x 5 baris); dan 42 buah (7 tiang x 6 baris), yang terakhir ini adalah
jumlah tiang untuk rumah raja atau bangsawan. Jumlah tiang menunjukkan
status sosial pemilik rumah. Semakin banyak tiangnya, semakin tinggi status
sosial pemiliknya.
C. Kesatuan
Rumah orang Bugis terdiri dari beberapa bagian yang berbeda
diantaranya adalah Awa Bola, Ale Bola, dan Rakkeang. Konstruksi ini bagi
orang Bugis memiliki nilai mitis. Dan bila didekati dalam konsep struktural
rumah tradisional Bugis, maka secara struktural fungsional dipahami sebagai
berikut:

Pandangan

kosmologis

suku

Bugis

mengganggap

bahwa

makrokosmos (alam raya) ini bersusun tiga tingkat yaitu: Boting langi (dunia
atas), Ale Kawa (dunia tengah), dan Uri liyu (dunia bawah), dan segala pusat
dari ketiga bagian alam ini adalah Boting langi (langit tertinggi) tempat
Dewata SeuwaE (Tuhan Yang Maha Kuasa) bersemayam. Pandangan ini
diwujudkan

dalam

bangunan

rumahnya

yang

dipandang

sebagai

mikrokosmos. Oleh karena itu pula, rumah tempat tinggal orang Bugis dibagi

11

pula atas tiga tingkatan. Dengan struktur bangunan terdiri dari lima bagian
yang dibuat dengan cara lepas-pasang (knock down), yaitu:
1. Rangka utama, terdiri atas :
a. Aliri artinya tiang, berfungsi memikul beban lantai, dinding, dan atap
rumah. Profil tiang biasanya bundar, persegi delapan, bersegi sepuluh,
bersegi dua belas, dan bersegi empat, bahannya dari kayu bitti atau
kayu sappu. Aliri memakai alas, semacam pondasi umpak, dari batu
kali yang dibentuk seperti kubus. Di jaman dahulu, aliri tidak memakai
alas tetapi tertanam langsung di tanah
b. Arateng yakni balok induk bawah yang berfungsi memikul beban lantai
badan rumah dan mengikat bagian tengah tiang-tiang yang berbaris
searah dengan panjang badan rumah.
c. Bareq yakni balok induk atas yang berfungsi memikul beban lantai
rakkeang dan mengikat puncak atas aliri yang berbaris searah panjang
badan rumah (bareq sejajar dengan arateng).
d. Pattoloq riawa adalah balok induk di bawah arateng yang berfungsi
mengikat bagian tengah tiang yang berbaris searah lebar badan
rumah.
e. Pattoloq riase adalah balok induk di bawah bareq yang berfungsi
mengikat bagian atas tiang-tiang yang berbaris searah lebar badan
rumah.
2. Konstruksi atap
Penampakan bangunan tersusun dari tiga bagian sesuai dengan
fungsinya. Bagian atas (rakeang) baik untuk rumah bangsawan (Sao raja)

12

maupun rumah rakyat biasa (Bola), terdiri dari loteng dan atap. Atap
berbentuk prisma, memakai tutup bubungan yang disebut Timpak Laja.
Timpak laja memiliki bentuk yang berbeda antara sao raja dan bola.
Bagian ini diibaratkan sebagai kepala bangunan. Pada sao raja terdapat
timpak laja yang bertingkat-tingkat antara tiga sampai lima. Timpak laja
yang bertingkat lima menandakan rumah tersebut kepunyaan bangsawan
tinggi. Timpak laja bertingkat empat, adalah milik bangsawan yang
memegang kekuasaan dan jabatan-jabatan tertentu. Bagi bangsawan
yang tidak memiliki jabatan pemerintahan timpak lajanya hanya bertingkat
tiga. Rakyat biasa yang diklasifikasikan ke dalam kelompok to maradeka
dapat juga memakai timpak laja pada atap rumahnya, tetapi hanya
dibenarkan membuat maksimal dua tingkatan timpak laja.
Rangka atap terdiri dari :
a. Sudduq yaitu tiang tengah yang berfungsi memikul aju-lekke.
b. Aju-lekke yaitu balok puncak bubungan yang berfungsi memikul
ajute.
c. Aju-te yakni balok miring yang bersandar pada aju-lekke, berfungsi
sebagai kuda-kuda atap.
d. Pateppo bareqkapu adalah balok pengikat ujung-ujung barakapu
dan berfungsi sebagai tumpuan aju-te.
e. Bahan penutup atap tradisional adalah ijuk, bambu, nipa dan
ilalang, sedang bahan baru adalah seng gelombang, sirap dan
genteng.
3. Konstruksi lantai

13

Konstruksi lantai badan rumah adalah tunebbaq, balok-balok


kayu berukuran 5/7 cm atau 6/8 cm. Konstruksi lantai rakkeang disebut
bareqkapu, berukuran sama dengan ukuran tunebbaq. Bahan lantai
biasanya dari bambu atau papan. Lantai dari bambu disebut salima,
bambu dibelah dan diraut dengan ukuran sebesar 3-4 cm lalu diikat
rotan dengan jarak 1-1,5 cm. Lantai dari papan disebut katabang terdiri
dari papan selebar 15-20 cm dipasang dengan cara dipaku pada balok
tunebbaq. Pada rumah jaman dahulu, papan katabang dipasang
dengan jarak 1-1,5 cm, sekarang papan biasa rapat tanpa jarak. Pada
bagian ruang tertentu, papan lantai diberi jarak, seperti ruang makan
dan tempat memandikan jenazah.
4. Konstruksi dinding
Konstruksi renring (dinding) adalah rangka dinding yang terdiri
dari balok berdiri (vertikal) dan balok berbaring (horizontal), bahannya
dari bambu atau balok kayu. Balok berdiri disebut tau-tau renring
sedang balok berbaring disebut paletteang. Tau-tau renring umumnya
berukuran 4/6 cm atau 5/7 cm sedang paleteang berukuran 5/10 cm
atau 6/12 cm.
Dinding dari kayu disebut renring pepeng artinya dinding papan.
Di jaman dahulu, Saoraja dan rumah-rumah bangsawan menggunakan
dinding dari kayu cenrana sedang orang biasa memakai dinding dari
bambu atau kayu dari jenis lain.
5. Tangga

14

Konstruksi tangga terdiri dari indoq addeng (induk tangga),


umumnya berukuran 4/25 cm, anaq addeng (anak tangga) berukuran
3/20 cm atau 3/25 cm dan accucureng (susuran tangga). Rumah biasa
memakai dua induk tangga dengan anak tangga 3 sampai 9 buah. Dari
segi penempatannya, tangga dibedakan atas dua macam, yakni
tangga depan dan tangga belakang. Induk tangga tidak boleh sama
panjang, induk tangga disebelah kiri (pada waktu naik ke rumah) harus
lebih panjang. Jumlah anak tangga harus selalu ganjil.

D. Keseimbangan
Setiap bangunan bagian-bagiannya harus melalui garis imaginative
mengekspresikan

dalam

rencananya

suatu

keadaan

seimbang.

Ini

merupakan salah satu dasar keindahan. Suatu bangunan memiliki balance


yang baik akan kelihatan indah dan sejuk dipandang mata sehingga tercapai
perasaan yang menyenangkan. Sebaliknya bangunan yang tidak balance
akan menimbulkan gangguan dan ketegangan pada penglihatan.
Bahan bangunan utama yang banyak digunakan umumnya kayu.
Bahan bangunan yang biasanya digunakan : kayu bitti, amar, cendana,
tippulu, durian, nangka, besi, lontar, kelapa, batang enau, pinang, ilalang dan
ijuk.

15

Dinding dari anyaman bambu atau papan. Atap dari daun nipah, sirap
atau seng. Sistem struktur

menggunakan rumah panggung dengan

menggunakan tiang penyangga dan tidak menggunakan pondasi. Rumah


tradisional yang paling tua, tiang penyangganya langsung ditanam dalam
tanah. Tahap yang paling penting dalam sistem struktur bangunan adalah
pembuatan tiang. Pembuatan tiang dimulai dengan membuat posi bola (tiang
pusat rumah). Bila rumah terdiri dari dua petak maka letak tiang pusat ialah
pada baris kedua dari depan dan baris kedua dari samping kanan. Bila tiga
petak atau lebih maka letak tiang pusat adalah baris ketiga dari depan dan
baris kedua dari samping kanan.
Untuk menjaga keseimbangan dan keindahan, secara terinci ciri-ciri
struktur rumah orang bugis antara lain adalah :
1. Minimal memiliki empat petak atau 25 kolom (lima-lima) untuk sao-raja
dan tiga petak atau 16 kolom (untuk bola)
2. Bentuk kolom adalah bulat untuk bangsawan, segiempat dan
segidelapan untuk orang biasa.
3. Terdapat pusat rumah yang disebut di Pocci (posi bola) berupa tiang
yang paling penting dalam sebuah rumah, biasanya terbuat dari kayu
nangka atau durian; letaknya pada deretan kolom kedua dari depan,
dan kedua dari samping kanan.
4. Tangga diletakkan di depan atau belakang
5. Atap berbentuk segitiga sama kaki yang digunakan untuk menutup
bagian muka atau bagaian belakang rumah

16

6. Lantai (dapara/salima) menurut bentuknya bisa rata dan tidak rata.


Bahan yang digunakan adalah papan atau bamboo.
7. Dinding (renring/rinring) terbuat dari kulit kayu, daun rumbia, atau
bambu.
8. Jendela (tellongeng) jumlahnya tiga untuk rakyat biasa, tujuh untuk
bangsawan
9. Pintu (tange sumpang) diyakini jika salah meletakkan dapat tertimpa
bencana

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Rumah bugis juga dapat digolongkan menurut fungsinya. Secara
vertikal dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian, antara lain :
Rakaeng/botting langi, ale kawa, dan awa bola.
2. Penataan secara horisontal, pembagian ruang yang dalam istilah
Bugis disebut lontang, dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian
sebagai berikut : Lontang risaliweng (ruang depan), rontang
retengngah (ruang tengah)., dan lontang rilaleng (ruang dalam).
B. Saran
Rumah Adat Bugis merupakan salah satu warisan adat Bugis yang harus
dilestarikan oleh kita semua.

17

DAFTAR PUSTAKA
Busur, Khaerul.
.Pengantar Arsitektur .
. Makassar.Dikutip 12
Desember 2012 (http://www.slideshare.net/khaerulbusur/pengantararsitektur)
Dikutip dari Acuan Perancangan (Tugas Akhir) RUMAH SUSUN PADA PERMUKIMAN KUMUH DI
MAKASSAR. Tahun 2001/2002 Oleh : Muhammad, Ismail ST.)

http://id.wikipedia.org/wiki/Arsitektur

18